Kembang api bersaut sautan di lamgit Roma malam harinya. Tanda jika hari besar sudah berada di depan mata mereka. Pernak pernik perayaan Diva sudah mulai terpajangpajang di toko toko. Besok adalah hari besarnya Naruto.

Para Juri misterius kabarnya sudah tiba di Roma. Mereka akan menampakan diri mereka di depan publik keesokan harinya ketika pengumuman, sama seperti yang terjadi di tahun tahun yang lalu.

"Naru-chan gugup?" Hinata menatap Naruto yang sedang memandangi luar jendela. Menonton indahnya kilauan kembang api dimalam hari. Naruto tidak menjawab, itu artinya dia memang gugup. Perjuangannya selama ini akan di pertaruhkan besok. Bahkan cara bangsat pun ia lakukan agar menang.

"Jangan cemas. Naru-chan hanya perlu duduk manis. Karena kemenangan sudah pasti berpihak padamu." Sialnya Naruto sangat menyukai kata kata Hinata yang satu ini. Senyumannya mengembang seketika.

"Hinata. Kau membuatku jadi gemas padamu." Naruto menarik gemas pipi wanita itu.

"S-sakit Naru-chan." Ringisnya.

Naruto hanya terkekeh.

Tak lama kemudian bell kamar hotelnya berbunyi. Hinata bergegas untuk memeriksa siapa gerangan yang datang.

"Oh Sasuke-kun?." Hinata menatap terkejut puda di hadapannya. Ingat, tidak ada satupun yang tahu alamat hotel Naruto saat ini. Lalu bagaimana pria ini bisa menemukannya?

"Aku melacak ponsel Naruto." Sautnya seolah menjawab pertanyaan tersembunyi Hinata.

"Errr. Masuklah, Naruto ada di dalam."

Tentu saja Sasuke langsung masuk dan menemui pujaan hatinya.

Naruto yang masih asik memandangi langit luar sontak terkejut karena tiba tiba saja tangan kokoh memeluk dan melingkari pinggangnya.

"Astaga." Pekiknya dan langsung menengok kebelakang. "Sasukeee."

"Aku merindukanmu." Bisik Sasuke sembari menciumi tengkuk Naruto.

"Geli." Naruto terkikik. "Salahmu sendiri yang tidak menghubungiku bertahun tahun."

"Aku menunggumu menghubungiku."

"Kau tahu itu tidak akan terjadi."

"Kenapa susah sekali."

"Apa?"

"Mendapatkanmu."

Naruto hanya menyunggingkan senyuman. "Mungkin karena aku itu spesies wanita langka yang jarang sekali ada." jawab Naruto pongah. Sasuke hanya mendengus mendemgarnya.

Kembali pada kegiatan awalnya mencium kasar dan menghisap tengkuk Naruto.

"Jangan sampai ada bekas. Atau kau ku bunuh. Pastikan kulitku tetap mulus." sontak Sasuke langsung berhenti. Ia lupa jika besok adalah hari yang di tunggu tunggu oleh Naruto.

"Hn."

"Kau melacak ponselku Sasuke?"

"Hn. Karena kau tidak mau memberitahukannya."

"Bangsat."

"Aku akan menemanimu besok. Di hari besarmu."

"Hm. Neji juga."

"Tch."

"Jangan lupa Sas. Kalau Neji juga calon tunanganku."

"Aku akan benar benar menyediakan peti mati untuk Neji jika kau memilihnya."

Naruto tertawa renyah mendengarkan ucapan Sasuke. Sasuke yang cemburu adalah hal yang Naruto suka.

"Naruto. Kau harus memilihku." Pelukan Sasuke semakin erat wajahnya ia tenggelamkan di bahu Naruto. Naruto hanya diam tak bergeming. Senyum yang sulit di artikan menghiasi wajah cantiknya.

Jam 3 dini hari. Udara masih terasa begitu dingin. Namun jika kalian berada disekita Naruto kalian akan bisa merasakan suhu yang panas. Ya panas api semangat.

Naruto menepuk kedua pundak Hinata penuh bangga. Wanita ini selalu berhasil membuatnya merasa puas atas hasil kerjanya.

"Gaun yang luar biasa." Pujinya.

Hinata yang di beri pujian tersenyum malu. Ia merasa gembira sekali mendapatkan pujian dari Naruto. Rasanya ia akan meledak.

"Mari kita coba."

Hinata mengangguk dan dengan segera menggiring Naruto menuju ruang ganti.

Sasuke terbangun dari tidurnya. Meraba sisi kananya yang kosong dengan mata yang masih terpejam. Dimana wanita itu pikirnya. Namun seketika ia teringat sesuatu

一hari besar Naruto.

Sasuke menatap jam di atas mejanya yang masih menunjuk pukul 6 pagi dan ia langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membereskan diri.

"Nii-san." Hinata memanggil kakaknya yang baru saja tiba di Roma dan langsung menuju hotel tempat Hinata menginap.

"Di mana Naruto?" Tanyanya.

"Naru-chan sedang bersiap di ruang hias." Jawabnya pada sang kakak sembari memberikan gestur mempersilahkan masuk.

Naruto masih menatap pantulan dirinya dengan tatapan datar. Tidak ada ekspresi apapun di wajah cantiknya yang sudah di poles make up. Bukan karena dia pesimis namun ada pikiran lain yang membuat ia begini.

Entah kenapa wajah pria yang ia benci hadir di dalam mimpinya. Pria yang sudah mencampakan dirinya dan ibunya. Pikirannya berkecamuk membayangkan wajah tersiksa pria itu. Hal itu semakin membuatnya geram pada jalang yang bernama Sarah itu.

Hari ini adalah klimaks dari rencananya. Naruto bersumpah selain membuat wanita itu menderita Naruto akan membuat wanita itu merasa malu, sangat malu. Kartu AS ada di tangan Naruto. Naruto hanya tinggal menunggu waktu untuk membuka kartu itu.

Naruto menarik nafas dalam kemudian menghembuskan perlahan. Naruto kembali memasang topeng topengnya. Menutup rapat bad personality nya.

"Naruto." Suara familiar itu menggelitik telinga Naruto. Membuat ia mendongan dan mendapati pria bermata lavender di belakangnya.

"Hay Neji. Sudah sampai?"

Neji mengangguk sambil mengelus pucuk kepala Naruto.

"Kau tahu, Sasuke selalu mengatakan jika ia akan membuatkan peti mati untukmu." Naruto terkekeh geli ketika mendapati reaksi Neji yang yaa bisa kalian bayangkan. Ekspresi ngeri.

"Itulah sebabnya kau harus nemilihnya, Naruto. Berhenti menjahilinya." Neji menghela nafas. Ia kelewat paham dengan karakter Naruto yang suka melihat Sasuke ketika cemburu.

Belakangan ini hubungan Naruto dan Neji semakin akrab. Neji sudah menganggap Naruto seperti adiknya begitupun sebaliknya.

Kenapa hubungan mereka membaik? Jawabannya, entahlah. Terjadi begitu saja. Namun tidak bisa di pungkiri jika Kaguya berperan besar di sini.

"Ehem."

Deheman dari orang kelewat familiar membuat Neji tersentak dan sontak menarik tangannya dari pucuk kepala Naruto.

"Oh Sasuke? Sudah bangun?" Naruto sedikit melirik pria yang mulai berjalan mendekatinya.

"Sudah siap?" Tanyanya dan mengabaikan Neji.

"Ayolah Sasuke. Aku tidak berniat menjadi tukang tikung." Neji protes karena temannyanya ini sudah beberapa kali mendiaminya.

"Naruto berhenti menjahilinya dan membuatku susah." Neji mendengus dan Naruto tertawa terbahak bahak sedanhkan Sasuke bingung.

"Wanita kurang ajar ini.. dia senang sekali mengerjaimu sambil membawa bawa namaku." Neji menunjuk Naruto lancang. "Jika terus terusan begini aku sendiri yang akan masuk kedalam peti mati buatan ku." Tawa Naruto semakin keras.

Selain wajah cemburu Sasuke Naruto juga senang melihat wajah cemas, takut dan kesal Neji. Bagi Naruto itu sangat sesuatu sekali.

Hinata, Ino dan Kurama hanya ikut tertawa melihat ketiganya. Ino dan Kurama? Ia kesini bersama Neji.

"Kau sudah tampak sempurna." Sasuke mengecup punggung tangan Naruto lalu mencium keningnya setelahnya. "Kau hanya perlu berackting terkejut nantinya."

"Itu mudah." Naruto menarik senyumnya.

"Kau adalah pemain utama dalam sandiwara balas dendam kali ini." Nagato dan karin menghampiri Naruto.

"Aku tahu paman. Dan kalian tetap pada skenario yang aku buat." Ino, Hinata, Neji, Kurama, Karin, dan Nagato mengangguk paham.

"Bagaimana dengan dia?"

"Dia sudah kami tangani. Sekarang dia sudah berada di bangku penonton untuk menyaksikan." Terang Karin. "Dengan bantuan Kurama."

Hening...

Tidak ada sautan dari Naruto.

"SELAMAT PAGI DUNIA!! BERSIAPLAH DENGAN ACARA YANG BEGITU DI NANTIKAN-

-PENGUMUMAN DIVAAAA."

Tepuk tangan yang meriah menyambut pembukaan sang MC. Sorak sorakan dari penonton yang begitu menantikan pengumuman terdengar begitu heboh dan penuh semangat.

"PERSIAPKAN DIRI KALIAN... INILAH PARA KANDIDAT DIVAAA."

Dua wanita cantik bak bidadari keluar dari balik podium. Melambai kearah kamera dan penonton. Senyuman cantik tak luntur dari wajah mereka hingga langkah terhenti di kiri dan kanan MC.

"HARUNO SAKURA DAN NARUTO!!!"

Sorak sorakan semakin meriah setelah kemunculan mereka berdua.

"Dengan ini acara akan kita mulai." MC melirik sekilas kearah Sakura dan Naruto. "Mari kita panggilkan para juri rahasia yang akan menyebutkan nama kandidat yang akan menggunakan mahkota Diva berikutnya." Lampu sorot mengarah ke sisi panggung. Terdapat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dengan mahkota Diva yang bertengger di kepalanya. Sarah, Diva tahun tahun yang lalu.

"Inilah dia para juri kitaaaa." Suara drum bergemuruh dan tampak sosok sosok mengejutkan yang keluar dari balik podium.

Untuk kedua orang ini Naruto sama sekali tidak kaget. Namun untuk yang ketiga ini. Naruto begitu terkejut.

"Kakek. Kakek Orochimaru." Naruto bergumam pelan.

Pandangan Naruto dan Orochimaru bertemu. Orochimaru hanya mengedipkan sebelah matanya pada Naruto. Tidak ada satupun yang menyadari hal itu.

"Penyanyi legebdaris ternama Uchiha Madara, Kaguya Ootstutsuki, serta penyelenggara acara Tn. Orochimaru menjadi juri kita tahun ini..."

Oh sungguh. Naruto sama sekali tidak menduga. Dapat kita lihat wajah Sakura begitu tegang dan gugup bedahalnya dengan Naruto yang kelewat santai.

Kaguya memberikan isyarat pada MC untuk memberikan mereka mic dan menyerahkan acara pada mereka. MC mengangguk mengerti.

"Malam ini akan menjadi malam yang paling bersejarah." Kaguya menbuka suara. Membuat tepuk tangan dan keriuhan menghening seketika. Senyum terlukis di wajah cantik wanita tua yang masih terlihat sangat muda itu. "Kita akan mengetahui siapa pemilik mahkota Diva berikutnya."

Penonton begitu tegang menunggu siapa yang akan menjadi Diva. Masing masing penggemar dan sponsor berdoa, agar kandidat mereka yang akan menjadi Divanya.

Jika boleh jujur kandidat tahun inilah yang begitu sengit dan ketat. Namun tetap terlihat siapa yang paling unggul di sana.

"Kami sudah menilai.. kami sudah berdiskusi dan mempertimbanhkan.." Kali ini Madara yang mengambil alih suara. "Kami akan memilih-

-Naruto

-Uzumaki Naruto, sebagai Diva."

Bersambung...

Bentar lagi klimaks manteman

review?