Title : Klan Xuè ( Huang Zi Tao is Xuè Zi Tao )

Part 24

Author : Titan18

Genre : Family - Friendship - Crime – Romance - Angst

Cast : Huang Zi Tao / Xuè Zi Tao - other EXO Member, etc.

Disclaimer : All cast belong to them Management ! i owned the story

Warning : BOYS LOVE!

Last Chapter :

Tao Berdamai dengan Kakak yang pernah dicintainya –bersatu dengan Wu Yi Fan dan menyelamatkan salah satu anggota keluarganya Zhang Yi Xing.

Sedikit demi sedikit keping Kepercayaan yang dikumpulkannya semakin menumpuk, hanya saja entah kenapa ada perasaan yang mengganjalnya. Sebuah perasaan yang diyakininya bahwa hal ini berkaitan dengan Klan Xue sendiri, hidup sejak kecil dan menghabiskan hidupnya didalam kukungan Xue membuatnya sadar bahwa segala hal tak akan berakhir sempurna.

Pamannya Huang Shi Hoo berhutang banyak hal padanya, dan Ayahnya pasti akan turun tangan –Tuan besar Xue eh?!

Karena firasatnya pastilah benar, cepat atau lambat Ayahnya akan bertindak. Dan hal itu bukan hal yang baik, secara tidak langsung Jiro telah memperingatinya.

'Kepercayaan ya?' monolognya sendiri, kemudian Tao kembali menggeleng dan tersenyum pahit.

'Apa maksud Jiro gege bahwa akan ada penghianatan pada akhirnya? Siapa yang berhianat? Kris kah? Member EXOnya yang lain? Key? Oh tidak –namja JUNG itu tak akan berani menghianatiku, tapi Baba?'

DEG.

Wu Yi Fan.

Kedua kalinya Zi Tao merasa ketakutannya hari ini, Pertama hanya karena emosi ingin membunuhnya, Dan kedua karena –Kris.

Jika Ayahnya berhasil menyingkirkan Jiro dari perasaannya bagaimana dengan Wu Yi Fan? Ayahnya tak akan segan-segan bertindak jika sudah waktunya.

"Sial, kepalaku sakit lagi" gumamnya tiba-tiba.

Mungkin nanti, sekarang pikirkan bagaimana caranya mengobrak-abrik kekuasaan Huang Shi Hoo –bajingan itu. Lagi pula, Xue Jiro sudah menyadarkannya –dan Zi Tao bukan tak mengerti bahwa apa yang dikatakan kakaknya benar.

Mungkin –Mungkin saja, Wu Yi Fan dan kesepuluh namja lainnya telah menempati setiap sudut berharga dihatinya. Tao merenung –ingatannya kembali kemasa lalunya.

"Jangan jadikan balas dendam itu sarana untuk melampiaskan emosi karena masa lalu" kata-kata itu tiba-tiba terlontar dari bibir Tao tanpa sadar –mengingat sebuah kalimat yang pernah dibacanya pada surat kecil itu dulu.

"Perubahan itu menyenangkan, hanya saja luka dan memori masa lalu membuatku takut Mama... takut untuk kehilangan salah satu orang yang berharga bagiku lagi"

Senyuman tulus terpatri di bibirnya, "Mama... aku mungkin saja sudah memaafkan atas apa yang telah terjadi dulu, hanya saja aku tak yakin memaafkan orang yang sama yang kini mengancam Keluarga baruku"

Hatinya meragu, keputusan apa yang akan dibuatnya? Membalas Huang Shi Hoo yang adalah Pamannya? Kakak ibunya? –Orang yang menghianati Ibunya.

Xue Jiro –

"Ahhh... apa yang dimaksud Jiro gege adalah penghiatan Mama? Hm..." Bukankah lebih bagus seperti ini, karena kisah mereka baru saja dimulai.

KX

Author tidak menerima berbagai jenis Flame dalam Kotak Review Nanti ne ^^

.

.

Tidak Suka ? Jangan Baca!

That's Simple Point

.

.

.

.

Last Warning : Chapter dibawah ini sepertinya akan sangat membosankan, errr /deep bow/ author memohon maaf apabila akan membuat kalian bosan dan kecewa /kabur/ /bye kiss/

Seoul—Seouth Korea.

"Kau Dokter, dan Kau akan menyembuhkanku Kyuhyun Hyung"

HENING

Cho Kyuhyun tersenyum kecut saat ocehan panjangnya dibalas dengan sebuah kalimat mematikan seperti itu, Henry terpaksa harus membekap mulutnya menahan tawa. Iris obsidian milik Tao melebar mencari-cari kehadiran sosok pemuda paling tampan menurut versi dirinya sendiri,

"Dimana gege?".

Tak ada yang menjawab, mungkin saja mereka terlalu enggan bertanya siapakah gerangan yang dimaksudkan gege oleh mahluk manis itu.

"Henry, dimana gege? Kris gege..."

Henry Lau menarik napasnya, "Bersama Jiro gege, Aaron gege dan Suho Hyung".

ooOoo

Suasana hening dan canggung yang sebelumnya melingkupi ketiga pemuda-pemuda tampan itu pecah saat Jiro tiba dengan raut wajah yang tak terbaca,

"Aaron, aku akan kembali ke Markas Xue" sahutan itu membuat tautan kening sang anak keempat dalam Klan Xue bertautan. Bukankah kakaknya yang ngotot sekali ingin bertemu Xue Zi Tao sebelumnya, akan tetapi seolah mengerti suasana—pemuda tampan itu hanya diam.

Kris sangat menyadari tatapan tajam dan aura yang seolah mengintimidasinya oleh salah satu orang Klan Xue itu.

Hatinya yang masih panas dengan kejadian yang terjadi beberapa saat lalu didalam kamar Tao membuatnya bersikap dingin tak perduli, hal ini membuat Suho dan Aaron merinding sendiri.

Wu Yi Fan dan Xue Jiro, kedua orang itu seolah menanamkan aroma permusuhan yang sangat kental.

Sret.

Sebuah lengan menjulur kearahnya, Aaron hampir melotot saat melihat kakaknya memberikan tangannya dengan gerakan menjabat kearah Wu Yi Fan.

"Wu Yi Fan" nada menusuk itu cukup membuat Kris memandang Jiro.

Jiro memaksakan dirinya untuk tak menonjok wajah sok mahluk datar dihadapannya ini jika tak ingat bahwa lelaki itulah yang sedang digilai adiknya.

"Kita belum berkenalan secara formal selama ini—

Suho menarik napasnya, jangan-jangan orang ini akan mengucapkan kalimat sakral yang ditakutinya saat ini.

Aku Xue Jiro, kakak kandung Xue Zi Tao" lanjut Jiro tenang, pemuda itu menurunkan tangannya saat Wu Yi Fan sama sekali tak memiliki tanda-tanda membalas jabatannya.

TENG!

Saat itulah Wu Yi Fan merasa dirinya bagaikan disiram air dingin dengan puluhan es yang membuat tubuhnya membeku. Khayalannya saja atau selingan dentangan bel bertalu-talu dipikirannya yang kosong.

Butuh setengah menit di kehidupan nyata untuk menyadarkan Kris bahwa sosok sialan yang sedari dulu memasuki blacklist dalam kehidupan cintanya itu berdiri tanpa rasa bersalah tepat dihadapannya.

BUGHHH...

Kecepatan tangan Yi Fan benar-benar diluar prediksi mereka dan memukul tepat diwajah tampan Xue Jiro, terlalu bertenaga hingga bunyi debuman membuat Kim Joonmyeon merasa jantungnya berhenti berdetak.

Aaron menganga dengan wajah bodohnya.

Tubuh Jiro yang masih sanggup menahan gerakan gravitasi hingga tak terbanting akibat pukulan itu bergeser tiga langkah, pipinya berwarna lebih gelap dengan ujung bibir tampak sobek—berdarah.

"Cuh" Jiro membiarkan saat perih terasa hingga air liurnya yang diludahkan berwarna merah pekat, rasa besi yang berkarat dalam rongga mulutnya membuatnya mendecih lagi.

Cukup Sakit—Jiro memandang wajah beringas dengan ekspresi geram milik Wu Yi Fan dengan sebuah seringaian khas Xue saat pemuda itu terlihat ingin membunuhnya saat itu juga.

"Kau... Kau mencintai adikmu sendiri" geraman itu membuat Suho tersadar dan menahan bahu Kris yang ingin sekali lagi memusnahkan pemuda Xue itu.

Masih dengan tenang Jiro mengangkat sudut bibirnya—tersenyum mengejek—pada kekasih adiknya. Aaron menyodorkan sapu tangannya yang diterima Jiro untuk membersihkan sudut bibirnya.

"Salam perkenalan yang menyenangkan, Yi Fan" ucapan itu sanggup membuat Kris meremas kepalan tangannya.

Emosi yang bercampur aduk membuatnya merasa Gila.

Sebelum Kris ingin memusnahkan orang itu dengan mengacuhkan halangan tak kasat mata yang dilakukan Suho sahabatnya, Jiro memandangnya dengan tatapan tak kalah tajam dan –

BRAKK...

Kris tersungkur jatuh dengan memegangi perutnya yang kebas dan keram, tepat uluhatinya merasakan perih luar biasa saat Pemuda Xue itu menendang titik itu. Pemuda itu mendecih saat punggungnya yang menabrak dinding dibelakangnya juga cukup sakit.

Keduanya kembali berpandangan penuh arti.

Kesakitan itu bukan apa-apa bagi orang-orang dengan kemampuan Khusus bagi keduanya sendiri.

SRET

Juluran tangan itu diarahkan padanya, dengan setengah hati Kris menyambut bantuan Jiro dan berdiri tegak.

"Apa kau sungguh tidak tahu soal ini?" pertanyaan Jiro itu dimengerti dengan baik oleh Kris.

Jiro—Kakak Zi Tao.

"Dammit"

Xue Jiro tertawa saat mendengar umpatan itu, Wu Yi Fan tidak tahu apa-apa.

Merasa ditertawakan Kris mendecih lirih, perasaan ketakutannya sebelum ini menguap begitu saja.

"Aku akan merebutnya darimu" ucap Kris dingin.

Jiro mengangguk-angguk, "Sejak awal dia memilihmu, kau sudah tahu. berterima kasihlah padaku untuk mengakui hal ini sebelum kau salah paham semakin dalam" sahutnya.

Wu Yi Fan tahu Xue Jiro benar, kecemburuannya tidak beralasan—Klan Xue pun tak akan diam saja jika hubungan itu terjalin.

Paham sekali maksud Kakak Zi Tao itu padanya.

Jiro menatap serius Kris, "Hal seperti ini— Menyerahkan adikku padamu adalah hal terakhir yang akan kulakukan dimuka bumi. Jangan mengecewakanku Yi Fan"

Wu Yi Fan mengangguk dan tersenyum mantap—Jiro sedikit terpana dan menyadari bahwa pemuda didepannya ini memang memiliki sesuatu khusus yang membuatnya berbeda dengan semua orang yang pernah ditemuinya—mencintai Tao dengan tulus.

Congratulation Wu Yi Fan, kau memenangkan dengan mutlak hati panda kesayanganmu itu.

"Aku pergi" seru Jiro berbalik, Aaron menatap Kris bingung sebelum ikut berlari mengejar kakaknya—masalah Henry anak itu bisa disini bersama Tao. Rasa penasaran yang menderanya harus dituntaskan secepat mungkin.

Kim Joonmyeon menarik napasnya yang panjang-pendek, "Aku pikir aku bisa saja terserang gangguan pernapasan beberapa saat lalu" serunya memecahkan keheningan di beranda rumah itu.

Kris mengacuhkannya dan masih memandangi mobil mewah yang sudah berlalu dari lingkungan itu, tersenyum tipis begitu menyadari—Xue Jiro pasti mengawasinya melalui kaca spion kemudi itu.

"Kris"

"Kris"

"Cih, Wu Yi Fan" bentak Suho tak tahan.

"Bersyukur Joonmyeon-ah, dia masih hidup saat ini... jika dia tak segera pergi mungkin saja aku sudah membunuhnya." Sahut Kris datar.

Xue Jiro, Cih~ untung saja tak ada pertumpahan darah diantara keduanya.

Suho melotot sekali lagi, "Yak, kau gila?"

"Sudahlah Suho, aku hanya bercanda... walaupun sekali Ya! Aku ingin membunuhnya, lagi pula aku tahu dia juga ingin membunuhku" ujar Kris, pemuda itu tak sanggup menutupi rasa cemburunya.

Ya, Wu Yi Fan benar. Jika bukan karena Tao, mungkin saja salah satu dari mereka akan berakhir dengan salah satu terluka parah atau terberatnya mati. Cinta itu bukan permainan, dan kedua pemuda itu tahu hal itu.

Lagipula, tanpa sepengatahuan Kris Wu dan Kim Joonmyeon itu—Xue Jiro tak berhenti mengumpatkan nama Wu Yi Fan dalam mobilnya. Mengingat wajahnya yang tampan saja Jiro jadi sangat geram terlebih warna biru keunguan khas memar mulai nampak jelas, sebenarnya Jiro ingin membalas pukulan itu ditempat yang sama—tapi pemikiran itu luntur saat Wajah Tao membayang dipikirannya.

Hell, Adik tersayangnya itu bisa saja membunuhnya karena melukai wajah tampan kekasih adiknya saat itu terjadi.

ooOoo

Tepat saat Henry menyelasaikan jawabannya, pintu kamar kembali berderit saat handlenya terbuka.

Kriett...

"Gege" Tao memekik bahagia saat sosok Yi Fan berjalan memasuki kamar itu dibelakang Suho.

Kim Joonmyeon memandangi Maknae EXO M itu dengan heran, "Ada apa dengan moodnya? Bisa begitu cerah setelah hampir membuat kita semua jantungan" bisiknya pada Chen.

"Entahlah Hyung, sejak kami masuk juga anak itu tak berhenti tersenyum dengan indahnya bahkan mengabaikan Kyuhyun hyung yang berulang kali menasehatinya" jawab Chen seadanya.

Wu Yi Fan tak sanggup menahan kedutan bibirnya yang melebar saat Tao dengan polosnya merentangkan tangannya dari arah tempat tidur, seolah meminta dirinya untuk memeluk tubuh ramping itu.

Melihat kesungguhan didalam bola mata itu membuatnya mendesah tanpa disadari yang lainnya, 'Seharusnya aku tak boleh secemburu itu dan menyimpulkan hal yang tidak-tidak pada Tao'

GREP...

"Peach" gumam Kris begitu berhasil merengkuh tubuh itu, suhu badan Zi Tao yang normal membuatnya bersyukur tanpa kata. Betapa ketakutan menggorogotinya saat sosok itu berbaring tak berdaya, dan melihat senyum cantik hingga pandangan bahagia Zi Tao saja sanggup mengisi kekelaman dirinya.

Kris mengelus rambut merah itu dengan lembut begitu melepaskan pelukannya, bagaimanapun juga kondisi saat ini tidak tepat untuk menunjukan keiintiman mereka berdua pada yang lain.

Huang Zi Tao—Maknae EXO M serta calon pewaris Klan Xue itu mengernyit saat Kris hendak bangkit dari kasurnya.

"Gege, tetap disini" protesnya pelan, Kris menurutinya dengan sempurna. Kyuhyun mendelik disamping ranjang Tao saat Wu Yi Fan duduk santai dengan tangannya melingkari pinggang Tao yang masih bersandar.

'Sok sekali' batin sang Dokter.

Kim Jongin, Oh Sehun, Park Chanyeol, Kim Jongdae, serta Kim Joonmyeon—bahkan Henry dan Key merasa mereka seolah diabaikan begitu saja.

Mata Zi Tao—dengan lingkaran hitamnya yang semakin nampak akibat wajahnya yang terlihat pucat itu ikut menyipit saat bibirnya tersenyum begitu lebar, memandang mereka semua yang berada didalam ruangannya dengan aura kasih sayang yang dominan terasa mengental.

'Cantik' inner Key tanpa sadar.

Dengan lincah Huang Zi Tao mengamati putaran waktu yang menempel dinding kamar itu, dipikirannya masih menghitung waktu yang tersisa untuk mereka saat ini.

"Hyungdeul... dan Dongsaengku Kai, Sehunnie, Henry dan Key" ucapan lembut yang penuh maksud baik itu hampir membuat Key torlanjak karena namanya ikut dilontarkan.

Hatinya yang sebelumnya merasa resah seketika sirna karena remasan lembut Kris memenuhi ruas jarinya.

Henry mengerjapkan matanya, sosok Tao seolah berbeda. Dan Henry menyukainya—Zi Tao yang terlihat tulus dan begitu bersinar saat ini.

"Beberapa tahun yang lalu aku kehilangan sosok satu-satunya harta berharga milikku—Mama. Hidupku sebagai remaja yang tak biasa begitu sarat akan kehidupan kejam dan tak memiliki jiwa, terlalu kelam. Mama mati tepat didepan mataku—Aku akan membunuh semuanya, orang-orang yang sudah melakukan hal ini pada Ibuku. Aku akan membunuh mereka satu persatu—hal itu terus merekat dalam obsesiku.

Tapi apa? Kekuasaanku yang sempurna tak sanggup untuk menyelamatkan Mama, diriku yang diagungkan, diriku yang dipuja, tak segalanya dapat diraih seperti pemikiranku selama ini. Ada saatnya, hal terpenting dalam hidupku hilang begitu saja tanpa sanggup kuraih. Mama pergi, dan aku—hampir gila".

Keadaan kembali hening.

Henry Lau—remaja yang hidup dalam lingkungan yang sama akan tetapi berbeda pengawasan itu sadar diri, kehidupannya terlalu jauh dengan kata sempurna dibandingkan sepupunya itu—Tao benar, tak ada satupun dari mereka mengerti seperti apa kehidupan lampau Huang Zi Tao sebagai seorang Xue yang dimuliakan.

Tao menggenggam tangan Kris erat, menahan perasaannya sendiri. Tak ada satupun yang mencoba menyelanya, Kyuhyun menatapnya dengan sorot mata kesenduan.

"Dalam kehidupanku, hal-hal kotor seperti manipulasi hingga mengambil sebuah nyawa adalah hal kecil yang menjadi sarapan bagi orang-orang seperti ku. Tak ada yang bisa kau percayai, kecuali dirimu sendiri—hal itu yang terus ditanamkan dalam pikiran kami—saat kau mengharapkan lebih maka bersiaplah merasakan kekecewaan—dikhianati.

Keluarga bagiku adalah satu-satunya yang masih menempati akal sehatku yang terus tertanam sejak kecil. Keluargaku—Baba, Mama, Wu Zun gege, Calvin gege, Jiro gege, dan Aaron ge.

Kehidupanku yang lalu tak mengijinkan mahluk tanpa hati sepertiku untuk merasakan kasih sayang dan cinta—perasaan manusia. Tapi apa? Aku bukan malaikat pencabut nyawa yang dielu-elukan semua orang. Disini—

Huang Zi Tao menunjuk dirinya sendiri masih dengan senyuman tipis yang setia terpatri diwajahnya.

Aku manusia biasa. Aku menyayangi keluargaku, bahkan aku mempunyai Cinta pertama dalam lingkupan kecil itu"

Tao menyandarkan kepalanya pada bahu bidang Kris, matanya mengejap teringat sosok Xue Jiro—Cinta pertamanya—dan kembali tersenyum saat sosok Kris hinggap dalam kepalanya.

Tak ada yang bisa menghapus sejarah dalam hidupnya, termasuk percintaannya, Xue Jiro telah cukup membekas dalam ingatannya walaupun Wu Yi Fan memang bukan Cinta pertamanya, tapi salahkan dirinya berharap Wu Yi Fan akan menjadi Cinta terakhirnya :)

Chu~

Kecupan singkat melalui keningnya itu seolah memberitahukan secara tersirat bahwa Kris mengerti dirinya, membuat pernyataan bahwa pengakuannya itu tak membuat sosok tampan itu salah paham.

Ya Tuhan, betapa besarnya Cinta yang telah ditanamkannya untuk Wu Yi Fan.

Tao berdehem sebentar, pipinya seolah terbakar penuh dengan rona merah menjalar saat kehangatan yang disalurkan Kris tersampaikan padanya.

"Karena perasaan manusia itu, sosok Mama membawaku dalam sebuah dilema besar. Aku mempercayai mama, menyerahkan hidup dan matiku ditangannya. Dan ada saat dimana kepercayaanmu dibalas dengan penghianatan—

Tao Tersenyum kecut

Huang Shi Hoo—pamanku memanfaatkan ketidakberdayaan Mama untuk menjeratku dalam perangkapnya. Aku mengerti Mama menginginkan kebebasanku, aku tahu bagaimana tatapan sendunya padaku—meminta maaf karena membuatku terkurung dalam sangkar emas Xue. Membuatku tak hidup sebagaimana mimpinya sedari dulu—memanjakan buah hatinya. Aku sekarang mengerti kenapa Mama meminta bantuan pada Paman untuk menjebakku dan klan Xue—agar Pamanku itu mampu membuat ilusi seolah diriku menghilang dan membuat identitas baru terbebas dari ikatan Xue.

Pamanku justru menginginkan kematianku disaat yang sama, mengirimkan orang-orang pilihannya untuk menghancurkanku—dan Mama melindungiku disaat terakhir".

Tubuh Tao bergetar, bibirnya memberikan senyuman—tapi dua tetes air mata disudut matanya mengalir.

Tes –

Tes.

Wu Yi Fan tak malu lagi untuk memeluk sosok itu erat, dadanya berdetak cepat saat isakan lirih panda kesayangannya terdengar memilukan.

Tao menahan dirinya, tak ingin membuang waktu yang tersisa. Dengan pelan tangannya mengelus dada Kris, membuat pemuda tampan itu memberikannya ruang.

Dari lirikan matanya Tao dapat melihat tatapan tak percaya Henry padanya—sepupunya itu memang tak tahu menahu mengenai kenyataan itu.

"Aku gila gege..." gumam Tao lirih pada Kris tapi masih dapat didengar lainnya.

"Aku yang tak tahu apa-apa saat itu begitu histeris, tak sanggup mendengar kenyataan yang lebih daripada itu. aku yang dulu bahkan tak tahu bahwa Huang Shi Hoo lah yang berada dibelakang itu semua. Orang-orang yang menginginkan nyawaku hingga menyakiti mama—aku seolah dikejar dalam kehidupan yang tak nyata. Berhari-hari aku bermimpi yang sama—mengikuti bau darah mereka para pembunuh itu, aku membunuh mereka hingga terjadi pertumpahan darah dan pada akhirnya aku lupa siapa diriku sendiri.

Disaat bangun aku ketakutan, aku bahkan tak sanggup berpikir mana yang nyata dan mana yang bukan. Dalam kehidupanku dulu hingga remaja—pertama kali lah aku tahu seperti apa itu mimpi—dan mimpi buruk itu menjeratku dalam ketakutan yang tak wajar.

Aku takut sendirian, hingga tanpa sadar melangkah kekamar Mama. Jika aku kesal ataupun tak puas dengan hal-hal kecil dulu maka aku akan berlari dan mendiamkan diri ditempat mama, sangat hangat dan tenang. Dengan perlahan aku membaringkan diri diranjang dan saat itulah aku sadar bahwa sebuah surat terjatuh begitu aku menarik selimut dengan kasar—

Jangan memaafkan wanita sepertiku ini, aku akan membawa semua kesalahan ini bersamaku.

Tao, pergilah keluar dan melihat dunia luar bukanlah sesuatu yang buruk.

Tapi kau harus memilih takdirmu. Meskipun sudah ditakdirkan namun kau memilih jalan itu, nasibmu bisa berubah. Meskipun tak ada hubungan darah, keluarga bisa dibentuk atas dasar cinta. Saat kau menemukannya, ingatlah Ibu maka kau tahu hal yang telah kau lakukan benar.

Carilah kebebasanmu sendiri Tao, Jangan jadikan balas dendam itu sarana untuk melampiaskan emosi karena masa lalu.

Hiduplah berbahagia, Ini keinginan terakhir dari seorang ibu yang hina ini.

Saat itulah aku sadar, kejanggalan hingga perencanaan membunuhku yang begitu sempurna itu memang direncanakan. Ya! Mama menghianati kepercayaanku dan Klan Xue, dan hal itu membuatnya lengah karena Pamanku ikut menghianati kepercayaan Mama padanya.

Tapi saat itu juga aku tersenyum, karena mama melakukan ini untukku. Dan aku tidak salah memberikan kepercayaanku padanya, aku menuruti saran mama dan menemukan keluarga baruku—Kalian.

Hidup tentram, menjadi diriku yang merasa kepedulian itu nyata—Mengingat Mama, dan aku sadar bahwa ini jalanku. Perubahan itu menyenangkan, aku menemukan diriku melupakan masa laluku—memaafkan dan melepaskan dendamku. Terima kasih" ucapnya tulus.

Kim Jongin tersentak saat Tao menahan senyum kearahnya, hal itu ikut membuat yang lain memandangnya intens.

"Kai... kau menangis?" pertanyaan tak percaya yang dilontarkan Chanyeol membuatnya buru-buru mengelap wajahnya yang tanpa sadar basah karena airmata.

"A-aku tidak—"

"Sepertinya ceritaku mengharukan ya.. Kkamjong" canda Tao mencairkan suasana itu, sayang sekali semuanya cukup sadar bahwa nada bicaranya terasa kaku.

"Peach..." sahut Kris, pemuda itu ikut menghapus wajah Zi Tao yang berlinang air mata disela senyuman mirisnya.

Tao menggeleng lagi saat Kris menyentuh wajahnya, "Aku tidak apa-apa gege, sungguh".

"Terima kasih karena berkat kalian aku tahu siapakah penyebab kematian mama, orang yang ingin membunuhku.. aku mungkin saja sudah memaafkan atas apa yang telah terjadi dulu, hanya saja aku tak yakin memaafkan orang yang sama yang kini mengancam Keluarga baruku"

Tao meremas surai rambutnya, sebuah senyuman simpul bertengger manis di wajahnya—Kris hampir tersedak melihat perubahan signifikan seperti itu.

Huang Zi Tao menyeringai saat menyadari Henry Lau menatapnya kalut,

"Nah sekarang dirimu bocah, berikan ponselmu padaku" sahutnya lembut, tatapan matanya yang penuh maksud itu membuat Henry menggeleng tanpa sadar.

"A-ku tidak ba-bawa ponsel"

Bekas airmata serta rona wajah pucatnya begitu kontras saat mata itu menyipit membuat nyali Henry menciut—menyadari Tao begitu menikmati ekspresi wajahnya saat ini.

"Benarkah?" Tanya Tao lagi—dengan nada main-main.

Wu Yi Fan menahan senyum geli, dia tahu kalau Henry berbohong—sekali kali melihat topeng penuh kepercayaan diri bocah itu sirna sangat menyenangkan.

"Y-ya, aishh gege kau menakutiku" sahutnya pasrah, tangannya ogah-ogahan merogoh kantong dan menyerahkan setengah hati.

'Dasar mood swing' batin Henry kesal.

HAP

Ponsel yang dilemparkan itu mendarat tepat dalam genggaman Zi Tao yang tak bergerak sedikitpun, setiap mata seluruh manusia didalam ruangan itu menanti apa yang akan dilakukan calon ketua klan itu.

Plip.

"Halo, Baba"

"Tao baby"

Tao menyamankan dirinya saat Kris menarik pinggangnya, membuat posisi keduanya semakin menempel.. keheningan dalam ruangan itu sanggup membuat mereka sedikit banyak mendengar percakapan itu, padahal Tao tak mengaktifkan mode speaker.

Volume penuh ponsel itu dibiarkan begitu saja oleh Tao, matanya memandang satu persatu membernya yang cukup berdiri sedikit tegang.

"Ya, ini aku" jawabnya biasa, tak ada emosi dalam percakapan itu. "Aku akan melakukan penawaran denganmu Baba" lanjutnya

"..."

"Bagaimana?"

Terdengar helaan napas di pihak sana, "Baiklah baby"

"Aku akan menghabisi Huang Shi Hoo dan seluruh pengikutnya—seperti prediksimu selama ini, asalkan kau berjanji satu hal padaku Baba..."

Semuanya menahan napas saat tawa khas seorang pria paruh baya yang dikenal sebagai Ketua Klan Xue mengalun lembut, "Kau ingin apa?—

Keselamatan Zhang Yi Xing? Tidak seharusnya kau melibatkan mereka didalam hal ini"

Tao diam tak menanggapi, dapat dirasakan pemuda tampan disampingnya menggeram kesal.

PLIP

Huang Zi Tao menekan tombol loudspeaker pada layar ponselnya, menaruh ponsel itu tepat ditengah ranjang.

"Henry, apa kau bersama gegemu ini?" pertanyaan yang terdengar sangat jelas itu membuat Henry menggigit bibirnya takut.

Belum sempat membalas ucapan Uncle Xue-nya, Ayah Zi Tao itu kembali terkekeh dan melanjutkan perkataannya.

"Apa kabar kalian semua? Member EXO hn? Ahh... Dr. Cho Kyuhyun dan Jung Kibum apa kalian membentuk aliansi khusus bersama anakku? Xue Zi Tao, kau cukup pandai memilih orang-orangmu"

Tao nyaris tertawa melihat bagaimana sorot terkejut seluruh orang didalam ruangan itu—walaupun Henry dan Kris tidak termasuk dalam hitungan.

"Terima kasih Tuan Xue, sebuah penghargaan yang luar biasa anda dapat mengenal kami dengan baik" itu sapaan Kim Joonmyeon.

Suho sang Leader—memberikan senyuman ramahnya seolah berhadapan langsung dengan seseorang yang tanpa sadar mengintimidasi mereka semua.

"Kau lihat?" gumam Tao nyaris berbisik, dan Kris Wu mendengarnya dan tersenyum mengangguk saja. Keduanya seolah berfantasi seperti apa raut wajah Ketua Xue saat ini. Good job Kim Joonmyeon, kau mampu membuat Ketua Klan Xue yang ditakuti bungkam beberapa detik. Kyuhyun mungkin satu-satunya diantara mereka yang telah bertemu langsung dengan Ayah Tao, tapi melihat keberanian Leader EXO mau tak mau matanya ikut menyipit kagum.

"Kim Joonmyeon—sang Leader EXO, kau terlalu merendah diri Nak—sepertinya benar apa kata Tao babyku, mengendalikanmu sama dengan mengendalikan seluruh member" jawab Ayah Tao sewajarnya.

Huang Zi Tao bersumpah ayahnya pasti menyeringai saat ini.

Kim Joonmyeon memang sedikit tersentak, wajahnya menyorot sang Maknae EXO M yang juga membalas tatapan matanya dengan sebuah senyuman kecil—seolah tak terpengaruh ucapan Ayahnya sendiri.

"Anda terlalu memuji, Ahh—apa benar kau berkata seperti itu Tao?"tanya Suho tidak langsung.

Tao mencibir sebentar, "Ya"

"Apa Tao tidak pernah memberi tahu hal itu padamu? Hemm " sela Tuan Xue, mencibir.

Suho melebarkan senyumnya, "Dia mungkin berpikir tidak ada gunanya memberitahuku. Anda mungkin tidak terlalu mengenalku Paman Xue, tapi apa yang dikatakan Tao benar adanya"

SHIT

Tao menganga kagum, Kim Joonmyeon sanggup membuat keempat dongsaengnya—Kai, Sehun, Chanyeol dan Chen tertawa seketika. Omong-omong itu benar sekali, mereka serempak kembali berpikir dan menyetujui pemikiran Tao—Mengendalikan Suho sama dengan mengendalikan mereka semua.

Karena hanya Suho lah orang yang mereka percaya untuk memahami mereka.

"Nah, Baba.. Dia bukan Boneka-ku, dia adalah Kakakku. Dan aku adik kesayangannya, jadi Baba tak perlu membuatnya berbalik menghianatiku—Aku Percaya padanya" sahut Tao tiba-tiba, bagaimanapun dirinya sangat gerah dengan permainan tarik ulur Ketua Klan Xue dan Ketua EXO itu.

Suho dengan senyum lebarnya tersenyum, sedikit mengangguk dan menyandarkan tubuhnya kearah dinding.

Kris memandang Leader EXO K dan Leader secara Official itu, "Kau hebat, Joonmyeon-ah"

"Terima Kasih, Yi Fan"

"Baba, Hentikan permainan ini. Aku akan kembali pada Klan Xue, aku janji."

"Baiklah, setelah kau menghancurkan Huang Shi Hoo kita akan bicarakan hal ini nanti"

Tao menarik napasnya pelan, "Ya, sampai jumpa Baba"

Plip.

Tut.. tut.. tut

"Apa maksudnya ini Peach?"

"Kalian harus mengetahui hal ini—Aku pergi dari Klan Xue bukan sebuah langkah kosong tanpa pemikiran matang, aku pergi untuk mencari ehm... kebahagianku.

Tapi tidak untuk Baba, aku menyembunyikan kebenaran surat Mama sendirian—dan Baba saat itu berpikir aku hanya menenangkan diri. Waktu empat tahun bukan waktu yang singkat, Baba harus segera menarik diriku kembali—aku Xue Zi Tao dan pewarisan Klan Xue harus segera dilaksanakan. Kalian pikir, jika Klan Xue sanggup menguasai seluruh Asia—bagaimana mungkin Peristiwa penyerangan padaku—dan kematian Mama tidak diketahui. Sejak beberapa tahun lalu, aku sudah menyadari Baba telah mendapatkan informasi itu cepat atau lambat.

Tapi Baba tidak bergerak, Baba menunggu waktu yang tepat dan terus menyembunyikan posisiku sebagai Klan Xue dengan baik. Suho Hyung, kau ingat saat aku pergi terburu-buru seharian dan mengatakan bertemu dengan temanku yang berasal dari China? Itu bohong, karena saat itu aku kembali ke Qingdao."

"Eh—kau pulang pergi Korea-Qingdao dalam waktu sehari?" kaget Chanyeol.

Tao tersenyum tipis dan mengangguk kecil, "Ya, saat itulah aku sadar bahwa Baba telah memberi ultimatum padaku untuk kembali~ yang artinya Kelompok yang memburuku sudah perlahan mengetahui keberadaanku saat itu. Aku mengikuti permainan Baba dengan baik, Baba ingin akulah yang menghabisi kelompok itu sendiri—membalas dendam mungkin."

"Jadi sejak awal Ayahmu mempermainkanmu, Tao?" Sehun membuka suaranya.

Huang Zi Tao menggeleng lembut, "Tebakanmu salah Sehunnie, Baba hanya memberi sedikit pengalaman untukku. Kejadian empat tahun lalu terlalu rumit, Semuanya—Baba dan para Gegeku tahu seperti apa ikatanku bersama Mama. Mungkin jika aku tahu aku yang akan terluka, oleh karena itu Baba membiarkanku untuk sadar dan mencaritahunya sendiri."

Berbanding terbalik dengan mereka semua, hanya Henry—Key dan Wu Yi Fan lah yang sedikit banyak mengerti jalan pemikiran mahluk manis bernama Zi Tao itu.

"Saat aku tahu bahwa Huang Shi Hoo lah bajingan itu, orang yang bermaksud membunuhku—aku begitu ingin melenyapkannya secepat mungkin. Bukan karena dendam, tapi karena aku tak ingin dia menyakitiku atau keluargaku lagi.

Tapi Bajingan itu merusak segalanya, bahkan mengambil Zhang Yi Xing dariku" geram Tao.

"Aku ingin membunuh Huang Shi Hoo karena dia menyakiti Lay gege—Keluargaku." Akhirnya, Huang Zi Tao mengakuinya. "But well, aku yakin Baba akhirnya sudah curiga dan mungkin sadar—bahwa tindakannya justru menjadi boomerang karena aku mengaikatkan Kalian dalam hal ini. Aku tahu cepat atau lambat sekembalinya diriku pada Klan Xue aku harus cerdik agar tak diketahui oleh Baba bahwa seluruh dendam masa lalu telah luntur terhapuskan, aku bergerak tanpa bawahan Klan Xue yang begitu dipercayai Ayah. Aku memilih orang-orangku sendiri, membiarkan mereka menciptakan persepsi baru—

Tapi semuanya tidak sempurna, Baba tahu aku tidak akan melepaskan kalian."

"Apa karena itu kau menelpon Ayahmu Tao? Apa hubungan ini dengan—Yixing" pertanyaan itu penuh nada kekhawatiran.

"Suho Hyung... jika sesuatu terjadi pada Yixing, kau pikir siapa yang akan merasa bersalah? Aku, Kau, Kris gege, semuanya. Bukan hanya aku yang menyusupkan mata-mata dalam Kelompok pamanku itu,

Tao melirik Key—

Tapi ada beberapa orang dibawah Kekuasaan Baba yang berasa disana, seperti kataku—Baba tak akan begitu saja membiarkan kelompok itu bertahun tahun bebas tanpa pengawasannya. Aku tidak tahu dia menempatkan siapa, tapi aku telah memberinya ketegasan mengenai Zhang Yi Xing—mata-mata Baba pasti akan mencoba mengulur waktu untuk melindungi Lay gege hingga kita berhasil membebaskannya" jawabnya sembari tersenyum.

"Nah Key~ kau berhutang banyak penjelasan padaku. Aku tidak ingin banyak membuang waktu dan berikan point terbaik yang kau punya mengenai situasi saat ini"

Key tersentak dan buru-buru mengalihkan tatapannya saat Suho ikut menatapnya tajam, "Kwon Jiyong—Kwon Mino adalah orang yang berbeda, bukan kembar tapi Kwon Mino adik kandung Ibu dari G Dragon—Kwon Yuri. Mino bergabung dengan Kelompok Huang Shi Hoo sejak berumur 7 Tahun saat itu, bahkan Huang Shi Hoo lah yang melatihnya khusus sejak kecil. Semua rekan resmi Huang Shi Hoo di Jepang maupun dunia hitam mengenal Kwon Mino sebagai anak kandung Huang Shi Hoo.

Huang Shi Hoo setelah membelot dari kehidupan Yakuza bersama sahabatnya yang masih berstatus Yakuza—berarti menghianati kelompok itu—membuat Aliansi baru dalam jajaran undercover pemerintahan Jepang, dan membuat Para petugas yang mengatasnamakan diri mereka bersih kesusahan dalam menangkap bukti mereka.

Sejak dua tahun terakhir kelompok yang didalangi Huang Shi Hoo semakin mengukuhkan Aliansi Kelompoknya. Aksi mereka yang ganas dan selalu meninggalkan jejak kekejaman secara langsung membuat nama aliansi itu dikenal lebar—sayang sekali Huang Shi Hoo yang ambisi itu berhasil dengan sempurna menutupi jejak namanya dibalik kesuksesan Huang Company di Jepang.

Kashimu—mereka menamakan diri mereka sebagai KASHIMU CLAN"

"Kashimu? Apa itu?" sela Chen.

"Kami Wa Watashitachi O Nikumu" jawab Key kalem.

"God Hate Us—itu artinya" sahut Kris.

"Hn, lanjutkan Key" perintah Tao.

"Kashimu Klan—kelompok itu benar-benar melebarkan sayap tanpa sanggup diendus pihak kepolisian karena terlindungnya bukti, keberadaan Klan baru itu juga cukup tersembunyi. Hingga saat ini hubungan mereka tidak dapat dibilang baik dikalangan dunia hitam walaupun kental permusuhan dan persaingan itu tetap ada. Baiknya lokasi Jepang yang dipilih membuat Yakuza semakin mengencangkan daerah kekuasaan mereka juga, aman hingga sekarang karena Klan Kashimu dapat dengan baik menyembunyikan taring mereka dengan sengaja menumbangkan target mereka di negara Asia lain.

Korea Selatan, Korea Utara dan dataran Tiongkok China lah yang menjadi target utama, sudah dikabarkan 40 anak berusia 5 hingga 7 tahun menghilang di setiap kota masing-masing kenegaraan dan dugaan yang tepat mereka dibawa dalam Klan Kashimu untuk dilatih sebagai pembunuh bayaran dimasa depan"

"Wow" komentar Kyuhyun takjub.

"Jadi—sejak lama Pamanku sudah mempersiapkan Aliansinya sendiri, apa Yui Neechan—err maksudku Kelompok Yakuza tidak mengetahui adanya penghianatan dalam kelompoknya?" Tanya Tao.

Key mengendikan bahu, "Aku rasa kecurigaan itu sudah ada, hanya saja Huang Shi Hoo dapat menutupnya rapi. Berdasarkan pengalaman bertempur mereka termasuk luar biasa dalam jarak dekat, berdarah dingin dan tak segan menghabiskan lawan dengan kejam.

Akan tetapi untuk jumlah kematangan, maka Klan Kashimu ini hanya memiliki 40% orang-orang hebat dan sisanya masih melakukan Latihan biasa" jelas Key lancar, ya bahkan salah satu dari beberapa bagian 40% itu mampu membuatnya babak belur seperti ini saat penyamarannya ketahuan.

Ah ya, penyamarannya ketahuan karena—

"Zhang Yi Xing—salah satu member kalian dalam keadaan kritis" ucap Key sembari melirik Suho yang memasang wajah stoicnya, Huang Zi Tao tak bereaksi apapun dan hanya menghela napasnya saja.

"Apa yang terjadi padanya Key?"

"Saat menyadari bahwa ada anggota kalian diculik dan dibawa kedalam markas oleh para anak buah Klan Kashimu aku terpaksa mendekati selnya, kondisinya berantakan—aku tak sanggup melihat kondisinya yang pucat dan penuh airmata ketakutan. Tapi tiba-tiba penjagaan semakin diperketat dan membuatku terpaksa kembali sebelum banyak yang curiga.

Satu jam—aku tidak tahu apa-apa hingga keributan terjadi meributkan Kondisi Zhang Yi Xing diributkan para penjaga,

Hening

Sepertinya ehem Zhang Yi Xing membuat beberapa penjaga kesal dengan sikapnya hingga membuat mereka sengaja menakutinya dengan berpura-pura menyakitinya dengan sebilah samurai."

Gulp

Key merasakan tubuhnya berkeringat dingin dicuaca yang begitu dingin ini.

"Ya Tuhan"

"Tidak mungkin"

"Lanjutkan" seruan dingin menusuk Suho membuat Key meringis.

"M-mereka memainkan benda itu dihadapan Yi Xing yang ketakutan, t-tubuhnya bergetar saat benda itu berada tepat didepan matanya—Yi Xing terkejut dan mengayunkan tangannya didepan dada dan Samurai itu begitu tepat mengiris kulit putih itu—

Kejadian begitu cepat dan tak terduga, aku tak menyangka dia bisa senekat itu. pergelangan tangannya teriris cukup dalam dan lebar, tebasan itu menyimpang dan mengenai perut bagian kirinya—darah mengalir sangat banyak. Segalanya berantakan saat Zhang Yi Xing tak sadarkan diri begitu saja, Aku bersumpah Tao—aku mencoba menyelamatkannya sebisaku akan tetapi kalah langkah saat Huang Shi Hoo datang dan begitu murka melihat tawanannya dalam keadaan sekarat seperti itu.

Saat seperti itu lah aku mencoba kabur hingga gegabah dan hampir ketahuan meninggalkan tempat itu. Aku yakin Huang Shi Hoo akan memburuku setelah ini, lebih daripada itu dia akan menyadari bahwa aku adalah mata-mata Tao" sahut Key panjang lebar.

"DAMN, kenapa kau tak menceritakan mengenai itu sejak bertemu" geram Suho

"A-ku menunggu waktu yang tepat, saat itu kalian—err maksudku Kau dan SHIT! Semuanya tak mudah untukku" seru Key tajam, pikiran serta gerak tubuhnya begitu kaku. Dirinya bahkan tak menyangka bahwa akan seperti ini.

Seandainya saja Tao tidak pingsan, pewaris Klan Xue itu yang menyuruhnya.

'Kalian semua menyebalkan, seandainya kalian lebih lama mengenal bagaimana sepak terjang dan Xue Zi Tao dan tugas yang diembankan padaku bahkan hampir membuatku mati. Seharusnya Xue Zi Tao tidak perlu pingsan' geram Key.

"Jangan salahkan Key" Tao membuka suaranya, pemuda manis itu menarik napasnya dengan wajah yang begitu datar.

"Bagaimana dengan keadaannya? Lay Hyung..." ringis Kai

"Ba-bagaimana jika dia tidak bisa disela—Plak—Aww yak Oh Sehun" protes Chen.

Suho memijit keningnya, dari ekspresinya saja cukup membuat Chen tak sanggup melanjutkan ucapannya. Tamparan sang Official Maknae Oh Sehun pada kepalanya diabaikan Chen, mungkin perkiraannya tadi tidak seharusnya diucapkan.

"Tidak" gumam Tao, "Zhang Yi Xing akan baik-baik saja" lanjutnya. Kris mengangguk saat melihat seringaian Zi Tao melebar.

"Aset terbaik tak akan terbunuh" Henry berseru pelan, suaranya terdengar sangat yakin.

Drrt... Drrt... Drrt...

Pekikan panggilan masuk dari nada dering yang berasal dari ponsel milik Henry membuat suasana menjadi pecah, berbanding terbalik dengan peningkatan euforia yang dirasakan Xue—Huang Zi Tao.

Plip.

"Zhang Yi Xing dalam kondisi kritis, membuat Huang Shi Hoo terpaksa menambahkan perawatan dan penjagaan yang ketat di markasnya. Paman kita sepertinya tidak menyadari catatan kesehatan Zhang Yi Xing yang sangat buruk, Dokter dari luar didatangkan. Didalam organisasi itu sudah terdapat 2 orang Klan Xue terbaik yang menjaga posisi Zhang Yi Xing hingga kalian mengambil alih, ditambah salah satu Dokter didalamnya akan membantu kalian nanti.

Sisanya, kau mengurusnya sendiri adikku tersayang"

Plip

Panggilan berakhir tanpa menunggu jawaban dari Huang Zi Tao, Kris yang mengangkat panggilan serta mengaktifkan mode loudspeaker pun butuh beberapa detik untuk mendapatkan kembali kesadarannya.

Huang Zi Tao memutar bola matanya, "Wu Zun gege" decihnya.

"Kalian dengar? Zhang Yi Xing bukan hanya aset bagi pamanku tapi merangkap sebagai alat yang digunakan Klan Xue untuk menjebakku. Oleh karena itu bersabarlah, mereka akan berusaha membuatnya aman hingga aku berada ditangan mereka" jelas Huang Zi Tao sabar, matanya ikut menyipit memperhatikan member lainnya.

Jika Oh Sehun terbiasa mendengar kelamnya konspirasi didalam Industri Hiburan hingga para penjahat bertopeng yang menyebut diri mereka kekuatan mutlak Pemerintah, maka Konspirasi dan segala daya tipu kotor Undercover Black World—lah yang paling ditakutinya.

Walaupun rumit, sedikit banyak Sehun mengerti garis besar dalam kehidupan Huang Zi Tao.

Matanya bertubrukan dengan Wu Yi Fan, maknae itu seolah melihat Hyung naganya itu menatapnya penuh arti—peringatan kecil—yang membuatnya segera membekap mulut Kim Jongin yang seolah ingin mengeluarkan protesnya atas suasana yang begitu rumit ini.

FUCK! Terlambat.

"Tao-ya, jika begitu besar kekuasaan Klan Xue di Asia—kenapa kasus err Ibumu dapat terjadi?" pertanyaan tanpa disaring itu membuat Sehun melototi sang partner sejati Byun Baekhyun itu.

"Aku mempercayai Mamaku, dan saat peristiwa itu terjadi akulah yang terperdaya" Tersenyum, Huang Zi Tao tersenyum.

"T-tapi... peristiwa penculikan Zhang Yi Xing tidak seharusnya terjadi oleh Pamanmu. Apa memang sejak awal Klan Xue membiarkan hal itu?" gelisah Park Chanyeol, pemuda yang selalu terkenal akan banyolannya dalam grup idol EXO menatap Tao penuh tuntutan.

Huang Zi Tao mengangguk tipis, "Ya, karena dengan adanya ini—Aku bukan hanya membereskan pamanku, akan tetapi kembali ke Klan Xue dan segera melakukan penobatanku. Hal ini terjadi karena sudah waktunya"

"Berarti Victoria-ssi ikut membiarkan Lay diculik?" Ungkap Suho penasaran.

"Tidak—jiejie... Vic jiejie berada dipihakku, dan well Xue Jiro berada dipihakku"

"Tao—jangan bilang kalau kau..." Kyuhyun membekap mulutnya, menahan pernyataan yang sekilas melintas dalam otak jenius Cho.

"Kau tidak ingin kembali dalam Klan Xue" sambung Jung Kibum—Key.

Kau tidak ingin kembali dalam Klan Xue

Kau tidak ingin kembali dalam Klan Xue

Kau tidak ingin kembali dalam Klan Xue

DEG

Tangannya yang bebas bermain disurai lembut milik Tao berhenti, Kris Wu menyadari serumit apa keadaan mereka sekarang ini.

"Saat aku sadari, hal itu lah yang kuinginkan" jawab Tao pasrah, terima kasih kepada Xue Jiro yang berperan penting dalam hal ini. Membuat ego Xue dalam darahnya luntur, membuatnya mengakui perasaannya sendiri.

"Aku ingin Hidupku"

ooOOoo

.

.

.

.

.

Segala sesuatu itu mempunyai pola, bahkan benang kusut sekalipun—Leader of EXO, Suho.

.

.

.

.

.

ooOOoo

Pada waktu yang sama, didalam Xue's Mansion—Qingdao, China.

"Fuqin, Jiro dalam perjalanan kembali ke Qingdao—aku telah menyuruh mereka memanipulasi pesawatnya untuk berangkat menuju Hongkong. Penerbangan Mama telah disambut Uncle Lau dan ditemani Dr. Yagi Arisa untuk tetap memperhatikan kondisi kesehatan Mama." Xue Wu Zun berdehem sebentar, "Uncle Lau akan memastikan bahwa Jiro dan Mama tidak akan mendapatkan kontak dengan Tao"

Sang ketua Klan Xue menoleh dari pemandangan jendela ruang kerjanya yang sedikit terbuka, perbedaan cuaca di Qingdao yang tampak cerah sungguh berbanding dengan kondisi cuaca Seoul sana.

"Hn... bayi pandaku semakin pintar, benar-benar hampir mengelabui Ayahnya sendiri." Tuan Xue berjalan menuju sofa besarnya, Wu Zun meletakan ponselnya dan menuangkan segelas teh hijau kedalam cawan sang Ayah.

"Benar sekali Fuqin" balas Wu Zun tetap sopan

Tuan Xue tersenyum memperhatikan muka datar nan tampan yang diwariskan pada anak pertamanya itu, Xue Wu Zun sama sekali tak bergeming untuk membalas senyuman—tulus—ayahnya.

"Aku sudah memikirkan kemungkinan bahwa Bayi pandaku akan menginginkan sendiri hidupnya, tapi jika mendengar dugaan dan cerita sebenarnya dari Ibumu—Ah, aku masih harus begitu tertegun dengan ikatan Xue Zi Tao dengan Huang Zi Zi" serunya lancar.

"Kesadaran Zi Zi benar-benar diluar prediksiku, dan Xue Jiro—anak nakal itu. Wu Zun, jika rencana kita berhasil~ Apa menurutmu Tao akan kembali kedalam Klan Xue? Menjadi penerusku?"

Xue Wu Zun terdiam.

Tuan Xue tertawa, "Xue Zi Tao tidak seharusnya bermain tarik-ulur denganku".

"Ya, Fuqin" setuju Wu Zun.

"Begitu Huang Shi Hoo berhasil dihancurkan oleh Tao, segera jemput adikmu dan bawa kembali—Aku tidak ingin adanya hambatan"

"Baiklah Fuqin"

Ketua Klan Xue tertawa kecil, "Atas apa yang diperbuatkan Ibumu dahulu, aku masih sangat mencintainya hingga berusaha membuatnya tetap hidup. Kesalahannya tidak akan semudah itu dilupakan, menghianati Klan Xue—jangan pernah berharap bahwa aku akan bersuka rela membiarkan Ibumu bertemu Bayi Pandaku— Dosanya terlalu besar, seharusnya Huang Zi Zi sudah mati empat tahun lalu."

.

.

.

.

.

ooOOoo

.

.

.

.

.

Tao pernah berpikir seperti apakah kehidupannya kelak saat mencari kebahagiaan setelah Ibunya pergi dan membuka kesempatannya untuk menghilang dalam garis lingkar kekuasaan Klan Xue yang begitu legendaris.

Dan fakta keegoisan dirinya dengan begitu mudah terbaca dalam lingkupan orang-oraang yang disayanginya tadi.

Sekali saja, hanya sekali saja Xue Zi Tao ingin melepaskan dirinya dari Klan Xue. Apakah mendapatkan sendiri hidupnya itu Egois?!

Ya Tuhan.

Jika segala kerumitan ini berakhir dengan dirinya membuat seluruh sumber kebahagiannya (Member EXO) seperti ini, haruskah Tao berhenti memperjuangkan mereka? Apakah ini akhir dari kesempatannya?

"Gege..." Tao merapatkan tubuhnya yang duduk berdekatan di jok tengah mobil bersama pemuda tampan itu—Wu Yi Fan. Chen membawa mobil didepan dengan wajah seriusnya, sementara Kai disebelah kursi pengemudi mengadah wajahnya kearah luar, memandangi pepohonan yang begitu gelap dalam penerangan malam.

Awan begitu hitam pekat ditambah efek dingin udara luar menambah kesan yang begitu sunyi saat Bulan pun tak dapat terlihat sempurna, daun-daun yang begitu basah menunjukan hujan yang begitu deras pernah ikut merambati daerah yang sedang mereka lewati saat ini.

Kris yang sebelumnya berada dalam lamunannya tersentak saat merasakan tangan dingin Tao wajahnya.

"Apa kau kecewa?"

Demi Tuhan, Kris Wu merasakan perasaan tak suka mendapati sorot mata Tao begitu sendu menatapnya.

"Tidak peach" jawab Kris tegas.

Tao menundukan wajahnya, akhirnya Kris mengeluarkan suaranya sejak sepuluh menit dari waktu mereka bergegas pergi tadi.

"Lalu kenapa gege mengabaikanku sejak tadi, aku pikir... aku pikir gege marah karena aku bersikeras memaksa keadaan untuk pergi menemui Huang Shi Hoo seperti kesepakatan awal"

Tao salah, bukan hal itu yang menjadi pemikiran sang Wu hingga membuatnya mengabaikan malaikat manisnya seperti ini. Ayolah, setelah terlambat mengetahui perasaannya sampai hampir kehilangan sosok disebelahnya ini—apa Kris Wu a.k.a Wu Yi Fan mempunyai setitik alasan yang membuatnya bersikap tidak peduli? Damn.

Dengan masih memakai kemeja Chanyeol, Kris Wu merasakan sedikit basah di dadanya tempat Zi Tao menyembunyikan wajahnya.

Tao menangis.

"A-ku... gege jangan" sela Tao dengan suara sedikit teredam, wajahnya tak mau beranjak dari permukaan dada Kris saat pemuda itu seolah ingin memaksa keduanya berpandangan lagi.

Chen meringis saat melihat keduanya dari piasan kaca spion, Kris tetap mencoba menarik Tao.

"Jangan seperti ini Tao, aku tak suka kau menangis" sahut Kris putus asa, tak tahu lagi langkah apa yang harus diambilnya selain memeluk malaikatnya saat ini.

Mereka memang tidak membahas mengenai satu hal, selain keselamatan Zhang Yi Xing. Tapi Kris, Suho bahkan Kai dan Chen saat ini berpura-pura tak memedulikan keeksistensi Tao lantaran berusaha tak ingin membuat Zi Tao terbebani dengan kenyataan,

Xue Zi Tao harus kembali dalam Klan Xue.

Setelah semua ini?

Mereka—termasuk Kris mungkin saja tak bermaksud membuat Tao sedih. Akan tetapi bagaimana dengan perasaan malaikat itu sendiri?

"Aku takut gege, bagaimana jika saat ini berakhir dan aku harus meninggalkanmu dan semuanya?" suaranya bahkan begitu bergetar.

Kai membius pikirannya sendiri, seolah membuat dirinya tidak berpikir sedikitpun mengenai ungkapan Tao itu.

Pertanyaan yang begitu konyol jika sekilas keduanya sadari, Kris dan Tao. Yifan dan Zitao :')

"Aku tak akan melepaskanmu" balas Kris mantap.

Tao memejamkan matanya, menikmati lagi kehangatan yang diberikan Kris dalam pelukan itu. Apa sanggup dirinya sendiri melawan Ayahnya yang berkuasa itu?

"Ne gege, jika aku memintamu membunuhku bukankah itu akan menjadi akhir yang indah?"

CKIT...

BRUGH

"Ada apa Hyung? Kenapa berhenti" suara penasaran milih Oh sehun terdengar melalui pantauan headset ditelinga Chen, mobil yang dikendarai yang lain terpaksa ikut menghentikan mobil mereka.

Mengabaikan lonjakan hingga roda mobil yang bergesekan tiba-tiba dengan jalanan yang basah, Chen yang menginjak rem tanpa kesadaran penuhnya hingga Kai yang terlonjak didalam pengamanan seatbeltnya.

Kris memaksa wajah Tao mendongak hingga keduanya bertatapan sengit.

"Jika gege membunuhku aku akan bahagia, Ayah dan Paman akan menyadari bahwa mereka Kalah" mantap Tao—sekali lagi.

Pandangan tajam Kris padanya membuatnya Tao tahu pemikirannya memang bodoh, "Aku tak mungkin membunuh diriku sendiri gege, aku tak akan sanggup."

Saat itulah Tao sadar bahwa dirinya memang seorang Manusia—sifat pengecut itu ada.

TBC

=D

=D

Upz...

Kidding alias bercanda doang kkk~

Pinch

Pinch

"Awww gege" rengek Tao tanpa sadar, bibirnya mencibir sembari memegang hidungnya yang dicubit gemas oleh Kris.

Pemuda itu tertawa melihat mata sembab Tao dan roman wajah itu, sungguh menakjubkan. Bagaimana bisa justru Kris merasa gemas dan ingin tertawa melihat bagaimana seriusnya Zi Tao tadi hingga degupan kekagetan kedua member lainnya yang tak mampu berkutik.

"Peach... Kebahagian itu bukan didapat dengan cara bagaimana kita dapat mencarinya tapi kau harus melindungi orang-orang yang telah menciptakan kebahagiaan bagimu" ucap Kris sabar, memainkan rambut Zi Tao perlahan.

"Begitupun kita... Kau sumber kebahagianku Zi Tao, aku tidak mungkin membunuh kebahagianku sendiri. Kita hadapi ini bersama, lindungi kebahagianmu sendiri Tao"

Kris tersenyum saat melihat Tao mengangguk, "Kita lanjutkan perjalanan, lakukan sesuai rencana yang telah kita susun".

"Aku juga mencintaimu Wu Yi Fan" bisik Tao lirih—dan Kris menyeringai bahagia mendengarnya.

To Be Continued

Bonus Quote for this chapter from uri Panda's feeling in KX :

Aku tidak ingin menjadi spesial, aku hanya ingin menjadi manusia biasa, dengan pemikiran biasa dan mendapat hidup yang juga biasa. Tidak ada monumen yang dibangun untukku atau untuk namaku yang dikemudian hari akan dilupakan— Xue Zi Tao, The Reaper of Xue Clan.

Tapi disatu sisi lain aku telah berhasil menciptakan diriku sebagaimana orang biasa lainnya hidup. Aku mencintai yang lain, para member, penggemar dengan sepenuh jiwa dan ragaku, dan bagiku itu semua terasa cukup— Huang Zi Tao, Maknae EXO M.

Sekali lagi maaf atas bertebaran typo(s) hingga keterlambatan update, Author sudah memutuskan bahwa di chapter depan nanti adalah chapter terpanjang dan merangkap sebagai chapter terakhir. Oleh karena itu memohon para readers sekalian setidaknya mereview hingga sedikit memberikan masukan sedikit tambahan untuk end chapternya akan seperti apa.

Author memang sudah menyediakannya sejak awal FF ini dibuat, akan tetapi mungkin dengan tambahan masukan dari segala perhatian para readers akan author usahakan FF ini berakhir bahagia atau tidak bahagia dan setimpal dengan semua pertimbangan karakter tokoh untuk story 'Klan Xue'.

Okay then... last wish for the next last chap :D mind to gimme some reviews? Fast response for fast update maybe take for two weeks time... last response update maybe over than one month.

Officially missing TAORIS moment

Mirarose86 – Huang Zi Mei – Zaireen o zi o – wulandari apple – rossadila17 – ChaaChulie247 – ochaken – Dandeliona96 – datekazukio – NiarHyunbin – Baby's Kristao – Xyln – IsnaWYHZ – Juniel Is A Vampire Hybrid – junghyema – hwangpark106 – Aulchan12 – hzitaoiie – babypeace – sayahaura – BabyMinga – Haru3173 – elGuest dewdew90 – kim yeon hee – unique fire – rizkyamel63 – riririfa – Ira Fazira – pinkbaby – peachpetals – ItaVi – zakurafrezee – lolamoet – L – krisTaoPanda01 – mevy-chan – Andhani – doramifaseul – ega – Thyrami246 – euronggie – YulietaCindy1 – BubbleePororo – pertiiwiie – Maple Fujoshi2309 – jungkookie jeon – Zillian Huang – fanny – chinderella cindy – GalaxyHailang – AmeChan95 – Zaireen oksismi – Edogawa Kimiko – Cindy Han – widhya. syafitry – jungkookie jeon – love official couple EXO – yuehuang99yahoo. com

Big ThankKisseu buat reviewer, dan yang sudah mengfavoritkan-memfollow FF KX Titan18 jeongmal gomawoyo.

See you soon :')

-Titan18-