CHAPTER 25
Becareful With Witch Girl
Cuaca kota Namwoon sangat cerah sekali, sampai cerahnya sehingga membuat dua orang pria bersemangat saling berlomba satu sama lain, entah berlomba untuk apa akupun tidak mengetahuinya dengan pasti.
Saat makan malam
"Ini untukmu".
Senghyun memberikan steak yang sudah dipotong-potong terlebih dulu olehnya, Yunho yang duduk disebelahku melirik tidak senang, ia juga memotong-motong bagian stiknya dan diberikannya padaku.
"Kau ini saja" ujarnya sambil mengembalikan piring stik dari senghyun.
Besoknya saat aku membantu halmony mencabuti akar ginseng, Yunho dan senghyun hyung kembali mencari muka.
"Ini aku bawakan minum untukmu".
Hyung memberikan minuman buah untukku
"Jae kan kau kan lebih senang dengan ini, campuran sayur dan buah".
Yunho memberikan jus mixed sayur dan buah padaku.
"Wah kalian ini baik sekali bawa minuman untuk Halmoni". Ujar halmoni.
"Bukan untuk Halmoni ini untuk jaejoong" kata Yunho
"Terus untukku mana?"
"Hei berikan minuman itu untuk halmoni" seru Yunho pada senghyun hyung.
"Tidak bisa, minuman ini untuk Jae, berikan saja minumanmu itu"
"Yah!"
Mereka berdua lalu berhadapan saling berdecak pinggang.
"Ah benar-benar mengesalkan cucu-cucuku itu, datang kesini hanya untuk bertarung mencari muka padamu…dasar cucu durhaka" sahut halmoni kesal.
"Maafkan aku"
"Untung saja ginsengnya sudah siap, besok kau ke rumah orantuanya Yunho, mereka sudah setuju untuk mengijinkanmu menginap beberapa hari".
"Benarkah?"
Bukan main gembiranya hatiku mendengar kabar itu, akhirnya impian untuk mendekati orangtua Yunho dapat terkabul.
Halmoni lalu melihat Yunho dan senghyun yang sedang beradu mulut itu.
"Lebih baik kau ucapkan selamat tinggal pada cucu-cucuku itu, supaya rumah ini tenang lagi".
"Baiklah".
"Huh…akhirnya para pengacau akan pergi dari rumah ini…aku bisa tenang"
"Halmoni terimakasih atas semua"
"Yah jangan senang dulu, bukan berarti aku sedih kau pergi, aku ini senang, sangat senang". Kata halmoni pura-pura.
Sebenarnya aku bisa melihat raut sedih diwajahnya, walaupun kelihatannya ia membenciku namun ia sangat perhatian padaku dan sangat menyayangi anakku.
.
.
.
Malamnya Senghyun Hyung meneleponku.
"Kau mau pesan apa untuk nanti malam?" tanyanya.
Yunho yang memperhatikanku langsung merebut telepon dariku dan menutupnya.
"Kalau kau mau sesuatu tinggal bilang padaku, tidak usah menyuruh orang lain, kasihan".
Aku tersenyum dengan sifatnya yang kekanakan tersebut.
"Hei kau ini sudah punya anak, sebentar lagi akan punya dua, apa kau tidak malu berebut hal yang tidak penting seperti itu"
"Aku tidak bisa tenang kelihatannya ia berniat merebutmu dariku.
"Kau ini, selalu berburuk sangka, dia itu sedang mengalami hal yang berat, kita harus membantunya".
"Ya ya ya membantunya untuk merebutmu…terimakasih"
"Aku mencintaimu Jung Yunho"
"Aku tahu"
"Kau besok harus pulang"
"Kenapa?"
"Aku akan pindah ke rumah orangtuamu"
"Apa?"
"Halmony berusaha membuatku masuk ke rumah orangtuamu, pekerjaanku disini sudah selesai, aku hanya harus berurusan dengan orangtuamu kali ini".
"Kau tahu apa yang kau lakukan kan?"
"Iya".
"Jae, kau akan tersiksa disana"
"Yunho hanya ini cara satu-satunya, aku harus memasuki kehidupan mereka, dengan begitu mereka aku bahwa aku bersungguh-sungguh atas putra mereka dan cucu-cucu mereka"
"Jika kau disana aku tidak bisa menemuimu"
"Aku tahu"
"Aku akan merindukanmu dan Binnie"
"Aku tahu"
"Aku akan tersiksa"
"Yunho bersabarlah, kelak balasannya akan setimpal dengan pengorbanan kita"
"Baiklah…tapi kalau terjadi apa-apa kau harus beritahu aku"
"Iya"
Yunho meraih kepalaku dan mencium keningku.
"Sekarang ijinkanlah aku berpamitan pada senghyun Hyung"
"Baiklah, ia juga akan sangat kehilanganmu"
Tok Tok Tok
Senghyun Hyung membuka pintuku untukku.
"Jae?"
"Boleh aku masuk?"
"Silahkan. Maaf berantakan"
"Kau sedang apa?"
"Melihat bintang"
Aku menuju beranda, melihat teropong bintang miliknya.
"Sedang melihat bintang apa?"
"Cassiopea".
Aku melihat dari lensa gugusan bintang yang berkelap kelip di langit yang gelap.
"Waah…indah sekali"
"Dulu kau suka sekali melihat bintang dari apartemenku"
"Iya, lalu setelah itu kau akan cerita panjang lebar tentang asal muasal terbentuknya rangkaian bintang-bintang itu"
"Aku merindukan masa itu"
"Aku juga"
"Aah masa itu saat kau energik sekali"
Ia lalu berbaring di beranda kayunya, melihat langit seperti biasanya.
"Hyung aku ingin berpamitan".
Ia bangkit, kaget.
"Apa?"
"Aku akan pergi"
"Pergi kemana?"
"Ke tempat orangtua Yunho"
"Kau yakin?"
"Iya, itu adalah tujuan utama aku datang kesini"
Ia melihat kearah langit.
"Kurasa aku akan kesepian mulai besok, tidak bisa melihat senyummu dan tawa moonbin lagi".
"Kita akan bertemu lagi".
"Apa saat itu kau akan jadi istri sepupuku?".
"Iya".
"Kau percaya diri sekali".
"Hanya itu yang membuatku tetap kuat sampai sekarang".
"Jae, tentang permintaanku kemarin aku bersungguh-sunguh". Ujar hyung, matanya menghunus tajam kemataku.
"Permintaan yang mana?"
"Aku akan menunggumu jika mereka tidak merestuimu".
Aku tersenyum.
"Baiklah".
oOoOo
Besoknya Aku berpamitan pada semua orang di perkebunan ini, tuan Lee sang koki, para pembantu dan sam putra angkat halmony, semuanya sedih atas kepergianku, halmoni sebelum melepasku memberikan kenang-kenangan padaku.
"Ini untukmu"
Ia memberikan kalung berlian dari dalam brangkasnya padaku.
"Ini untukku?"
"Hadiah atas kerja kerasmu selama ini"
"Halmoni"
"Ini diberikan turun temurun bagi para menantu dikeluarga kami"
Aku terharu air mataku hampir jatuh.
"Jangan senang dulu, kau pikir ini gratis?! Ini semua dari gajimu selama bekerja disini"
"Tapi gajiku tidak cukup untuk barang semahal ini"
"Nanti akn kusuruh Yunho membayar sisanya"
Aku tersenyum.
"Terimakasih banyak"
"Jaga Binnie, beri dia makan yang banyak, anak cucuku harus hidup dengan layak"
"Baiklah".
"Halmoni, Aku boleh datang kesini lagi kan?".
"Tidak boleh, kecuali kau ingin membantuku berkebun". Jawabnya dengan judes
"Baiklah".
Aku tidak melihat Hyung dideretan orang-orang yang mengantarkan kepergianku ketika aku masuk mobil, saat mobil berjalan pelan melewati perkebunan hpku berbunyi, pesan masuk dari Hyung.
Semoga sukses, aku akan menunggumu
"Siapa?"
"Hyung, ia mengucapkan selamat tinggal padaku"
"Oh"
.
.
.
"Kau yakin hanya ingin diantar sampai sini?"
"Iya"
"Appa".
Moonbin memeluk ayahnya dengan erat.
"Kau jaga umma untukku ya"
"Iya".
"Aku akan merindukanmu dan anak kita".
"Aku akan meneleponmu sebisaku".
"Aku mencintaimu".
"Aku juga"
Aku menciumnya sebelum kami naik taxi yang akan membawa kami ke rumah orangtuanya. Di genggamanku sekeranjang Ginseng untuk ayah yunho. Mobil Yunho terlihat menjauh, perjuangan baru dalam hidupku akan dimulai.
oOoOo
Di rumah keluarga Yunho
"Yoooboo…Jaejoong dan Moonbin sudah datang".
"Se—selamat malam Appanim" aku memberi salam pada pria yang dari tadi sibuk membaca Koran.
"Memangnya siapa appanimmu itu?"
"Yooboo".
"Sana salam pada kakekmu" kataku pada moonbin.
"Kakek selamat malam".
Moonbin memberi salam pada kakeknya, kali ini ayahnya Yunho menutup korannya dan memeluk cucunya, ayah yunho mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
"Kau sudah makan?"
"Belum". Jawab moonbin.
"Aku membawa Ginseng untuk Appanim…Silahkan diminum khasiatnya baik bagi kesehatan anda" ujarku.
Ia tidak melihat kearahku, ia malah sibuk bersayang-sayang dengan Binnie.
"Yoooboo…kau harus menerimanya…Jaejoong dan Omma-nim sudah jauh-jauh menanamnya untukmu" sahut ibunya Yunho membantuku.
"Aku tidak suka hal tradisional seperti itu, buang saja, baunya sungguh menyengat" katanya ketus.
"Yoooboo".
"Biinie kau mau makan dengan haboji?"
"Iya".
"Sayang siapkan makan ya". Ujar ayah Yunho pada istrinya.
"Baiklah".
Ayah Yunho pergi menggandeng Moonbin ke ruang makan, ginsengku digeletakkan begitu saja dilantai. Hatiku sungguh hancur.
"Ayo kau makanlah dulu, kau pasti lelah".
"Ah Iya, terimakasih".
Ibunya Yunho membawaku ke ruang makan, disana ayah Yunho hanya sibuk memperhatikan cucunya tanpa sedikitpun ingin melirik kearahku, untung saja ibunya Yunho bersikap baik padaku, ia menuangkan makanan padaku dan menyuruhku untuk tidak mengambil pusing tentang sikap ayahnya Yunho.
"Kalian akan tidur disini kan?" Tanya ibu Yunho kemudian.
"I—iya kalau diijinkan".
"Tentu saja kami akan menerima kalian dengan gembira, lagipula sudah lama tidak ada anak kecil dirumah ini, suamiku pasti senang sekali, bukan begitu sayang?" Tanya ibu Yunho pada suaminya.
"Ehm…Dengar kami sebenarnya tidak sepakat untuk mengijinkan kalian tinggal disini hanya karena kau kekasih anakku dan anaknya adalah cucuku, pembantuku sedang pulang, jika kau ingin tinggal disini gantikanlah ia".
"Yoobooo Jaejoong ini bukan dating untuk disuruh-suruh".
"Ah tidak apa-apa. Baiklah Appanim, saya akan berusaha semampu saya".
Dalam hati aku sedih, tidak neneknya Yunho atau Ayahnya, mengapa mereka semua memperlakukanku layaknya seorang pembantu.
.
.
.
Ibunya Yunho lalu mengantarkanku ke kamar kami.
"Kau harus sabar ya, perangainya memang seperti itu, Ia dan Yunho sama-sama punya sifat keras kepala, keduanya sulit untuk mengalah satu sama lain, kau harus paham itu"
"Iya tidak apa-apa"
"Kau tidak perlu khawatir, ia sangat menyanyangi Moonbin, lama-kelamaan ia juga akan sayang padamu"
"Iya"
Aku sedikit lega mendengar pernyataan tersebut, memang selama ada moonbin kami tidak akn diusir dari sini, setidaknya anakku dapat dijadikan umpan efektif.
.
Besoknya aku bangun subuh-subuh untuk menggantikan pembantu yang cuti sementara waktu, Ibunya Yunho memberi pengarahan apa-apa saja yang harus kulakukan di rumah ini, pertama-tama aku mencuci baju yang sudah bertumpuk di ruang cuci, setelah itu menyapu lantai satu, perutku kadang membuatku harus beristirahat sebentar untuk menenangkannya, apalagi aku sudah tidak bisa bermanja-manja dengan semua keinginan ngidamku.
"Mana sepatu golfku?" tanya ayah Yunho tiba-tiba padaku, ia sudah bersiap memakai kaos olahraganya serta menenteng tas golf.
"Sebentar".
Aku masuk keruang sepatu, disana terdapat banyak ratusan sepatu berjejer, aku ambil saja sepatu besar untuk olahraga.
"Maaf apa yang ini?".
"Bukan yang ini yang warna coklat".
Aku bergegas kedalam lemari lagi dan mencari sepatu golf berwarna cokelat.
"Yang ini?".
"Bukan yang ini, yang ada motif binatang dibelakangnya".
"Ah baiklah"
Aku mencari lagi di dalam lemari, setelah lama mencari sepertinya aku menemukan apa yang ayahnya Yunho inginkan.
"Apakah yang ini?".
"Iya".
"Aku akan ajak Moonbin ya".
"Ah iya, silahkan".
"Omma, moonbin berangkat ya". Sahutnya sambil mencium pipiku
"Iya, hati-hati".
"Janganlupa bereskan kamarku ya, pastikan lantainya kau pel, aku alergi kotor".
"Baiklah Appa-nim".
Ayah Yunho dan cucunya lalu pergi meninggalkanku, aku miris melihat anakku digandengannya.
HIk…HIk…kenapa Moonbin dianggap seperti pangeran tapi aku seperti pembantu, apa memang nasibku sejelek ini. Hik…hik
Karena sedih selesai membereskan pekerjaanku aku segera mengirim menelepon Yunho.
"Yunho aku rindu padamu"
"Bagaimana kabar kalian?, ayahku tidak menyiksamu kan?"
"Tidak, ia hanya menyuruhku bekerja".
"Kau pulanglah, aku tidak senang kau menderita terus".
"Tidak bisa, ia sangat senang moonbin bersamanya, aku tidak bisa memisahkannya dengan binnie". Kataku beralasan.
"Aku khawatir padamu dan janin kita".
"Aku tidak apa-apa".
"Kau yakin?".
"Iya".
"Apa itu anakku Yunho?" Tanya ibunya Yunho dari belakangku tiba-tiba.
"Aaah iya Ommonim…kau mau bicara dengannya?".
"Iya".
"Yunho ibumu…".
Tut tut tut tut
"Maaf ia menutup teleponnya" kataku dengan tidak enak ibunya Yunho.
"Ah iya tidak apa-apa, mungkin ia masih marah soal ayahnya".
Ibunya Yunho pergi dengan rasa kecewa, kupikir masalah orangtua dan anak akan gampang diatasi namun melihat wajah ibunya Yunho yang sedih pastinya tembok penghalang diantara mereka sangat tinggi.
Sementara itu di kantor Yunho
Yunho menutup telepon dengan cepat karena ia mendengar suara ibunya, ia memang tidak punya masalah dengan ibunya namun karena ayahnya memusuhinya ia pun jadi segan untuk berkomunikasi dengan ibunya lagi.
"Tuan, pegawai barunya sudah datang" ujar staffnya.
"Suruh dia masuk"
"Baiklah"
Seorang perempuan cantik tinggi semampai masuk ke ruang kerja Yunho dengan setelan yang seksi, roknya sangat tinggi sampai memperlihatkan bentuk kakinya yang panjang.
"Mrs. Hyuna?" uajr Yunho sambil mengulurkan tangannya, wanita itu membalas uluran tangannya.
"Selamat Siang, aku Hyuna".
"Silahkan duduk".
"Terimakasih".
Yunho membuka kertas keterangan kerja milik wanita tersebut.
"Jadi kau sudah berpengalaman dalam merancang busana…selama 10 tahun…wow berarti kau merancang baju sejak usia 15 tahun?"
"Iya, ibuku punya batik, aku yang merancangnya dan beliau menjahitkannya untukku".
"Punya pengalaman dengan aksesoris?".
"Iya aku juga bisa merancangnya".
"Baguslah…kami punya proyek untuk sebuah store di daerah Gangnam yang ditujukan untuk remaja yang dinamis, untuk penjelasan lebih lanjut kau bisa Tanya pada Mrs. Jenny di bagian Desain".
"Iya".
"Baiklah, kalau begitu selamat datang di kantor kami, mohon kerjasamanya".
"Iya, sama-sama".
Yunho menjabat tangan wanita didepannya lagi namun baru melepaskannya agak lama, entah mengapa mata gadis itu seakan menghipnotisnya.
oOoOo
FF My Number 1 Enemy (Remake) UPDATE…cekidot
