I Chanbaek You fanfic event present

Steal My Heart

.

Chanyeol x Baekhyun

.

.

Matahari telah menyapu bersih langit malam menggantinya dengan cahaya yang begitu menyilaukan mata. Pagi menjelang, memberikan semangat bagi setiap insan. Membangunkan jiwa pemalas yang masih bergelung dalam tebalnya selimut.

"Selamat pagi!" Ucap pria berparas tampan sekaligus cantik itu.

Mata sipitnya mengerjap, menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya. Setiap orang yang lewat di depannya pasti akan disapanya, walau tak kenal sekalipun. Baekhyunㅡnama pria itu, tapi teman-temannya kerap kali memanggilnya Bobohu. Aneh seperti tingkahnya.

"Selamat pagi nenek tua." Senyum di bibirnya mengembang.

"Hey Bobohu, sudah kukatakan itu tidak sopan," todong nenek itu dengan selang air di tangannya.

"Tapi apa aku salah?"

"Ah emm benar juga, aku kan sudah tua." Nenek itu mengurungkan niatnya untuk menyemprot Baekhyun dengan air.

Baekhyun berlari mendekati pagar dimana tempat nenek itu berdiri. Kemudian dia meraih kepala nenek itu dan mengecup keningnya.

"Nah, jadi panggil aku Baekhyun jangan Bobohu. Mengerti nenek tua?" Baekhyun tertawa lepas sambil berlari menjauhi nenek.

"BAEKHYUNNN KEMBALI!"

Teriakan nenek itu malah terkesan lucu bagi Baekhyun, dia sering sekali menggoda nenek yang tinggal di samping rumahnya itu. Di sepanjang jalan, Baekhyun masih saja terus tersenyum sambil sesekali bersiul. Rambut dark brown berponinya menghambur tertiup angin. Hari ini adalah jadwalnya untuk berenang melepas penat sehari-hari.

Di depannya, seorang ibu sedang menunggu lalu lalang kendaraan yang tak henti melaju dengan kecepatan tinggi, membuatnya tak bisa menyeberang jalan. Belum lagi tas belanjaan yang penuh dengan sayur dan buah segar yang sedang dibawanya.

"Nyonya mau menyeberang?" Baekhyun berdiri di samping ibu tadi.

"Iya, tapi tidak ada jalur zebra cross di sekitar sini."

Tanpa basa-basi lagi, Baekhyun mengambil alih tas belanjaan dari tangan si ibu. Dan ibu itu menggandeng tangan Baekhyun yang bebas. Mereka berdua berjalan beriringan sembari melihat kanan kiri memastikan tidak ada kendaraan yang melintas.

"Terima kasih nak.." Ibu itu menggantungkan kalimatnya.

"Siapa namamu?" Lanjutnya.

"Aku Baekhyun." Jawab Baekhyun dengan lantang.

"Terima kasih nak Baekhyun, ibu pulang dulu."

Belum sempat Baekhyun menjawab tetapi ibu itu sudah menghilang dari hadapannya. Baekhyun melanjutkan langkahnya menuju ke kolam renang kota.

.

.

"Bobohu akhirnya kau datang juga." Ujar temannya, Jongdae.

"Ada sedikit kendala tadi, ayo berenang!"

Baekhyun terlihat antusias, dia melepas pakaian menyisakan underwear renangnya. Kemudian tanpa aba-aba dia terjun memecah ketenangan air kolam. Mengayunkan kaki dan tangannya bergantian, meliukkan badannya seperti lumba-lumba. Sesekali kepalanya naik ke permukaan untuk menambah pasokan oksigen. Hanya beberapa orang saja yang datang kemari, karena ini masih pukul tujuh, masih terlalu pagi untuk berenang. Untung saja Baekhyun berhasil memaksa Jongdae menemaninya. Jadi sewaktu-waktu bila kolam ditutup ada yang memberitahunya, memang benar jika Baekhyun tidak mengenal waktu.

"Joongg bleebb bleeb." Baekhyun berteriak meminta pertolongan Jongdae.

Kaki kirinya tiba-tiba saja kram dan tidak bisa digerakkan. Baekhyun melupakan satu hal yang harusnya dilakukan sebelum berenang, pemanasan. Dia merutuki kesalahan fatalnya itu. Baekhyun merasakan sentuhan lengan seseorang yang melingkar tepat di perutnya. Bukan Jongdae, tetapi pria yang tengah dikaguminya selama dua tahun ini. Garis wajahnya yang nyaris sempurna sungguh mempesona.

"Terima kasih." Pria itu menaikkan Baekhyun ke tepi kolam.

Dia tidak menjawab, hanya mengulas senyum namun senyuman itu mampu menghipnotis Baekhyun. Membuat Baekhyun salah tingkah sendiri, rasa-rasanya pipinya memanas dan degup jantungnya mulai tidak terkendali. Dia membuatku gila, batin Baekhyun.

Melalui tatapan demi tatapan, Baekhyun menyukai pria itu. Dua tahun bukan waktu yang terbilang singkat untuk memendam perasaan, terlebih lagi orang itu sering Baekhyun temui dan tidak pernah berbincang sepatah kata pun. Dasar pengecut.

Jongdae menepuk bahu Baekhyun, "Kita pulang sekarang, makalahku belum selesai."

Baekhyun dibantu Jongdae melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sepuluh menit berselang, Jongdae keluar dari kamar mandi. Sementara Baekhyun malah asyik memainkan busa di tubuhnya. Jongdae sibuk melihat benda yang melingkar di tangannya, sudah sejam, dia mengira mungkin Baekhyun sudah keluar terlebih dahulu. Jadi, Jongdae memutuskan keluar dari area renang dan kembali ke rumah.

Greekk

Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan pria bertubuh jangkung. Baekhyun membelalakkan matanya melihat ada orang lain di dalam kamar mandi yang sedang dipakainya. Seketika itu juga Baekhyun menutup kemaluannya karena dia masih belum terbalut kain sehelai pun.

"K..kau?"

"Kenapa tidak dikunci?" Pria itu malah mengunci pintu itu dan mendekati Baekhyun.

"Ngg..itu aku lupa."

Baekhyun melangkah mundur saat pria itu melangkah mendekatinya. Punggung Baekhyun menyentuh dinding membuatnya menghentikan langkah. Pria itu menyandarkan tangannya ke dinding berniat mengunci pergerakkan Baekhyun. Keduanya bersitatap cukup lama, tanpa satu kedipan pun.

"Aku Chanyeol." bisiknya pelan.

Nafasnya membelai lembut telinga Baekhyun, membuat pemiliknya merasa kegelian. Darah Baekhyun berdesir saat jemari Chanyeol hendak meraih tengkuknya, menciptakan sensasi aneh dalam diri Baekhyun.

"Ak..ku tahu itu."

"Ya benar kau sering memperhatikanku selama dua tahun belakangan ini kan?" Sudut bibir Chanyeol terangkat membentuk sebuah senyuman.

"Bagaimana kau tahu?"

"Aku juga punya mata bodoh."

"Hm..mau apa kau?" Baekhyun mendorong dada Chanyeol agar menjauh darinya.

"Aku mau kau."

Baekhyun memandangi tubuh Chanyeol, dan tanpa sadar ia mengucap 'uuh' dengan nada menggoda. Hal itu membuat Chanyeol tersenyum miring dan menampilkan seringainya. Baekhyun paham benar apa yang dikatakan oleh Chanyeol tadi.

"Tapi aku tidak mengenalmu, hanya sering menatapmu dari kejauhan dan dan..." Perkataan Baekhyun tiba-tiba terputus ketika Chanyeol mendaratkan sebuah kecupan di bibir tipisnya.

"Cerewet sekali." Chanyeol terkikik pelan, melihat wajah Baekhyun yang merah padam.

"Berikan nomormu." Lanjutnya sembari mengulurkan ponselnya ke Baekhyun.

Setelah berhasil mendapatkan nomor Baekhyun, Chanyeol berlalu pergi meninggalkan kamar mandi. Sementara Baekhyun masih mematung memandangi punggung Chanyeol yang kian menghilang dari pandangannya.

"Dia atau aku yang gila?" rutuk Baekhyun seraya memegangi bibirnya.

.

.

"Usiamu sudah 25, apa kau tak malu dengan teman-temanmu? Mereka sudah berkeluarga sedangkan dirimu?"

"Aku masih mencari bu." Chanyeol menghela nafas.

"Ibu beri waktu sebulan, jika tidak ada hasil, maka ibu akan menikahkanmu dengan tetangga nenek."

"Hah? Maksud ibu si Bobohu Bobohu itu?" Tanya Chanyeol yang dijawab anggukan oleh ibunya, padahal dia sendiri tidak tahu seperti apa wajah dari Bobohu itu, karena selama ini Chanyeol hanya mendengar nama itu dari cerita neneknya.

Chanyeol berlalu pergi ke kamarnya, menghindar dari pembicaraan yang tak berujung ini. Dia menghempaskan tubuhnya ke ranjang, memandangi langit-langit kamarnya. Ingin sekali dia memiliki anak di usia ini tanpa harus memikirkan pernikahan. Tapi rasanya mustahil.

Chanyeol teringat akan suatu hal, lelaki manis yang ditemuinya di kolam renang tadi. Mata puppy, pipi tembam, serta bibir tipisnya yang terasa manis saat dikecap, ia membuat Chanyeol benar-benar gila. Chanyeol menjentikkan jarinya mendapatkan sebuah ide cemerlang. Chanyeol menghubungi nomor yang ia minta tadi.

"Berapa usiamu?" Kata Chanyeol saat panggilannya terhubung.

"Ya? Siapa ini?"

"Aku Chanyeol, berapa?"

"A..aku dua puluh, ada apa?

"Bagus, temui aku di alun-alun kota. Satu lagi siapa namamu?"

"Baekhyun, Byun Baekhyun."

Setelahnya Chanyeol memutus telepon secara sepihak. Ia melesat ke arah taman kota dengan scoopy nya. Pandangan Chanyeol mengitari seluruh penjuru alun-alun kota, tapi tak dilihatnya sosok Baekhyun di sana.

"Hey." Seseorang menepuk bahu Chanyeol, membuatnya harus membalikkan badan.

"Aku kira kau tidak datang." Pemuda di depannya berusah mendongak agar dapat memandang wajah Chanyeol seutuhnya.

"Baekhyun, aku mau membicarakan sesuatu." Chanyeol menarik Baekhyun ke sebuah bangku dan mendudukkannya.

"Apa ini masalah penting?" Baekhyun mengerjapkan mata yang malah membuat Chanyeol semakin gemas.

"Begini, aku ingin kau menjadi anakku." Mantap Chanyeol tanpa basa-basi sedikit pun.

"A..anak? Untuk apa?"

"Karena aku ingin memiliki anak, sebulan saja."

"Akan kupikirkan nanti."

"Aku butuh jawabanmu sekarang Byun Baekhyun." Baekhyun menunduk memainkan ujung kaus yang dikenakannya, ujung sepatu ketsnya ia hentakkan ke jalanan karena bingung menentukan jawaban.

"Atau anggap saja ini balas budi karena aku menolongmu tadi." Sambung Chanyeol.

"Ta..tapi kenapa harus aku?"

"Kau begitu manis."

"Hanya karena itu?"

"Ibu mau menikahkanku dengan orang yang tidak kukenal, di sisi lain aku ingin mempunyai anak tanpa harus repot memikirkan pernikahan. Hanya kau yang pantas untukku."

"Tapi aku tidak mengenalmu sama sekali."

"Aku tahu, maka dari itu aku ingin mengenalmu dengan cara seperti ini." Chanyeol membuang nafasnya.

Baekhyun menatap Chanyeol dengan yakin. Saraf di otaknya mampu terorganisir dengan cepat. Hati dan logikanya jadi tumpang tindih, bimbang membuat keputusan. Dengan cara ini, mungkin Baekhyun bisa lebih leluasa menambatkan hatinya pada Chanyeol. Atau malah membuat keduanya saling terjebak.

"Baiklah, hanya sebulan." Baekhyun mengumbar senyum menggemaskannya.

"Call me daddy, Bee."

"Daddy? Bee? Apa itu?" Tanyanya dengan wajah polos.

"Daddy panggilanmu padaku, Bee panggilanku untukmu. Bagaimana?"

"Setujuuu!" Ucap Baekhyun semangat dengan senyuman yang membuat matanya nyaris lenyap.

"Dad, mau es krim.." Baekhyun menunjuk penjual es krim di seberang sana.

"Dalam lima menit." Chanyeol berlari secepat mungkin karena hatinya sedang diselimuti kebahagiaan.

Bayangan sebulan penuh bersama Baekhyunㅡanak angkatnyaㅡpasti akan terasa menyenangkan. Setidaknya Chanyeol bisa melupakan masalah pernikahan yang sangat diimpi-impikan ibunya itu.

"Woah..cepat sekali." Baekhyun terkagum saat Chanyeol mengulurkan es krim strawberry padanya.

"Bagaimana daddy bisa tahu kalau aku suka strawberry?"

"Benarkah? aku kan cenayang." Keduanya tertawa mendengar penuturan Chanyeol.

Baekhyun menjilati es krimnya, membasahi kerongkongannya yang belum teraliri air sejak pagi kecuali air kolam yang sempat terminum saat berenang tadi. Sungguh menyegarkan apalagi di musim panas seperti sekarang.

"Daddy mau strawberry nya?"

Baekhyun mengarahkan suapannya ke Chanyeol. Perlahan Chanyeol menggigit sedikit demi sedikit strawberry itu hingga habis, menyisakan jari Baekhyun yang terkena bulir dari buah tersebut. Tak elak Chanyeol malah menjilat dan mengulum jari Baekhyun yang terasa manis bagai lollipop. Cukup lama, hingga membuat Baekhyun kehilangan separuh kesadarannya akibat sentuhan lidah Chanyeol. Ritme jantung Baekhyun mendadak dipercepat, menerima setiap perlakuannya yang mendebarkan.

"Dadh jangan melakukannya di tempat umum." Chanyeol melepaskan jari Baekhyun dari jeratan mulutnya.

"Lalu kau mau aku melakukannya dimana? Di ranjang begitu?" Jawaban Chanyeol yang terdengar frontal itu membuat pipi Baekhyun merona.

"Anggap saja ini caraku lebih mengenalmu, Strawbee,"

"Huh kau membuatku malu." Baekhyun segera menjatuhkan kepalanya di dada bidang Chanyeol menyembunyikan semburat merah yang menghiasi wajahnya.

Chanyeol mengusap rambut Baekhyun yang terkena terpaan angin. Mendekap tubuh mungilnya, menciptakan kenyamanan bagi keduanya. Tidak lupa Chanyeol juga mendaratkan sebuah kecupan ringan di puncak kepalanya.

"Bee, aku antar pulang. Ini sudah sore." Baekhyun mendongak menatap wajahnya, dari jarak dekat begini sungguh ketampanannya tidak bisa diragukan.

"Uhum ayo dad." Baekhyun mengangguk dan menggandeng Chanyeol meninggalkan keramaian alun-alun kota.

"Cepat naik." Ucap Chanyeol sambil menepuk jok belakang motornya.

Baekhyun menuruti Chanyeol, duduk sambil sesekali membenahi helm kebesaran yang dipakainya.

"Jika tidak berpegangangan, aku akan mengebut." Chanyeol mengulum senyum jahilnya.

"Ish bilang saja ingin kupeluk." Baekhyun melingkarkan tangannya di sekeliling perut Chanyeol sambil mengerucutkan bibirnya.

Baru setengah perjalanan, Baekhyun merasakan kantuk menyerangnya membuat matanya tidak bisa lebih lama terjaga. Dia menyandarkan kepalanya di punggung Chanyeol, memejamkan matanya perlahan dan mulai tertidur. Namun, tiba-tiba Chanyeol mengerem motornya mendadak, menyebabkan Baekhyun terguncang dan kehilangan keseimbangan. Buru-buru Baekhyun mengeratkan tangannya di bagian tubuh Chanyeol agar tidak terhempas ke jalanan.

"Daddy, aku hampir saja terjengkang!" Baekhyun mengomel.

"Jangan meremasnya, kau membuatku ereksi." Nafas Chanyeol memburu.

"Singkirkan tanganmu, Bee." Baekhyun baru menyadari keberadaan tangannya menumpu di atas 'harta' Chanyeol.

"Ups aku tidak sengaja, maaf dad." Ucap Baekhyun sembari mengelus paha daddy nya berusaha membuat ereksi Chanyeol runtuh.

"Shh, itu malah membuatku ngh."

"Dad, aku salah lagi ya?" ucapnya polos.

Chanyeol menepikan motornya ketika menjumpai toilet umum. Ia meminta Baekhyun menunggunya sejenak, sedangkan ia harus menyelesaikan masalah keperjakaannya itu. Tidak mungkin dia meminta Baekhyun menggantikan kinerja tangannya di atas pedangnya sendiri. Apalagi melihat kepolosannya yang begitu menggemaskan, ia tidak sanggup.

"Lama sekali." Baekhyun mencebikkan bibirnya melihat Chanyeol yang berlari ke arahnya.

"Ini karenamu, awas saja jika kau mengulanginya maka kau yang harus bertanggung jawab." Baekhyun terkekeh pelan.

"Aku tidak takut dengan ancamanmu, Dad!"

.

.

Tiga minggu berlalu di antara Baekhyun dan Chanyeol. Pelukan serta ciuman bukan lagi hal yang tabu bagi mereka. Mereka memilih mengasingkan diri di vila milik Chanyeol. Hidup berdua tanpa gangguan siapa saja. Menutupi hubungan yang tengah mereka jalin. Menikmati kehidupan baru yang bisa terbilang sebentar. Ya, hanya sebulan.

Baekhyun membuka netranya mencoba menstabilkan dengan lingkungan sekitar. Dia mendapati Chanyeol yang masih terlelap di sampingnya. Tangannya tergerak untuk membangunkan pangeran tidurnya. Mengecupi setiap inci wajah pria tampan itu, membuat Chanyeol makin terusik dan terbangun dari tidurnya.

Pandangan Chanyeol tidak pernah lepas sedetik pun dari Baekhyun. Kadang Baekhyun sering menjahili Chanyeol, meremas kejantanannya saat masih terlelap, kemudian berlari meninggalkan Chanyeol yang mengerang akan perbuatan Baekhyun itu. Seiring berjalannya waktu, Baekhyun mulai terbiasa menggoda Chanyeol yang kini menjadi candu dalam kehidupannya.

"Dad, aku mau makan daddy boleh?" Netra Baekhyun berbinar menatap daddy-nya.

Chanyeol mendesahkan napasnya, dia sangat senang saat Baekhyun berlaku frontal seperti tadi. Tetapi Chanyeol tahu, ia memiliki batasan. Terkadang ia ingin melanggarnya tapi selalu gagal, mengingat status hubungannya dengan Baekhyun hanya sebatas itu. Wajah pias Chanyeol dapat terbaca jelas oleh Baekhyun.

"Aku tahu daddy juga menginginkannya, ini salah tapi aku akan tetap melakukannya."

Baekhyun berlutut di depan Chanyeol yang sedang duduk di atas ranjang king size nya. Jemari lentiknya mulai bergerilya di selangkangan Chanyeol, membuat pemiliknya mendesah tertahan. Meremas kejantanan Chanyeol berulang kali dari luar celana jeans yang dipakainya. Bulu kuduk Chanyeol dibuat meremang, menerima debaran membuncah di hatinya.

Senyuman terpatri di bibir tipis Baekhyun, seakan mendapat sinyal atas aksinya tadi. Dengan satu gerakan cepat, Baekhyun menanggalkan kancing serta zipper celana Chanyeol. Baekhyun tidak sepolos yang Chanyeol bayangkan, dia sudah dua puluh, matang untuk pemikiran seksual seperti ini.

"Ada monster di dalam." celetuk Baekhyun.

"Bisa bantu keluarkan hum? Rasanya sesak."

Chanyeol mencengkram dagu Baekhyun sembari sibuk menghisap dan mengigit bibir manisnya. Decapan khas terdengar dari aktivitas mereka berdua. Lidah Chanyeol mencoba menelusup ke mulut Baekhyun, menjelajahi isinya kemudian saling menautkan lidah satu sama lain. Membuat jalinan saliva yang entah milik siapa tertelan begitu saja. Baekhyun masih tetap menggoda keperjakaan Chanyeol, belum berniat mengeluarkannya dari sarang tempatnya bernaung. Nafas Chanyeol makin terdengar memburu menerpa kulit pipi Baekhyun. Baru kali ini mereka terlibat dalam hubungan seintens ini.

"Erghh bee."

Gesekan antara keduanya membuat mereka semakin bergairah. Tangan Baekhyun tampak lihai melucuti boxer dan celana dalam milik Chanyeol, memperlihatkan sesuatu yang menyembul dengan gagahnya. Baekhyun mendorong dada Chanyeol berniat menyudahi ciumannya karena pasokan oksigen tidak lagi memenuhi rongga dadanya. Tangan kecilnya beralih menggenggam milik Chanyeol, mengurutnya hingga terasa makin mengeras. Mulut Baekhyun perlahan melingkupi keperjakaan Chanyeol, mengulum kemudian melepasnya.

Permainan lidah Baekhyun, membuat kepala Chanyeol terantuk ke belakang, mendongak disertai desahan berkelanjutan yang keluar dari bibir ranumnya. Mulut Baekhyun yang terasa hangat seakan menarik milik Chanyeol masuk lebih dalam. Chanyeol menekan kepala Baekhyun saat titik kenikmatannya hampir terjangkau.

"Emhh." Baekhyun melepaskan tautannya, membuat Chanyeol sedikit kecewa padahal sebentar lagi Chanyeol sampai pada pelepasannya.

"Chan..." Chanyeol menggendong tubuh mungil Baekhyun, kemudian membanting tubuh itu ke kasur.

"Kau memanggilku apa tadi? Chan? Aku daddy mu ingat?"

"Baiklah kau mendapat hukuman karena salah menyebut panggilanku." lanjut Chanyeol.

"Arghh daddhh." Chanyeol memasukkan keperjakaannya ke hole Baekhyun yang masih kering tanpa permisi. Keperjakaan Chanyeol mengisi penuh hole Baekhyun.

"Jika sakit gigit bahuku." Sebelumnya Chanyeol dan Baekhyun belum pernah melakukan hal senista ini. Keduanya hanya mengikuti nalurinya sebagai seorang pria yang menuntut kepuasan batin satu sama lain.

Chanyeol menindih tubuh mungil Baekhyun di bawah kungkungannya. Melumat, menggigit, serta menghisap bibir Baekhyun tanpa henti menciptakan decapan yang mengisi ruang tersebut. Tangannya menelusup ke dalam kaus Baekhyun, memainkan nipple yang semakin menegang diikuti gerakan ringan di hole Baekhyun.

"Mmphh dadd." Baekhyun menggigit bahu Chanyeol, menyalurkan rasa sakit yang kini menjalar di bagian belakang tubuhnya.

Chanyeol menyesap kulit leher Baekhyun meninggalkan tanda kepemilikannya. Memberi Baekhyun kenikmatan yang berlipat ganda. Remasan kuat Baekhyun di rambut Chanyeol menandakan ia semakin menikmati permainan yang telah ia mulai. Sementara Chanyeol masih tetap menumbuk prostat Baekhyun dengan tempo yang relatif cepat, mencari titik kenikmatan Baekhyun hingga membuatnya mendesah keras.

"Ahh dad eumhh,"

Baekhyun menekan kepala Chanyeol ke dadanya yang malah memberikan akses lebih luas untuk menyetubuhinya. Lidah Chanyeol bergerak teratur di nipple merah muda Baekhyun. Menggigit dan menghisapnya bergantian membuat Baekhyun sedikit menggelinjang. Hole Baekhyun juga semakin terbiasa dengan gerakan benda keras milik Chanyeol.

"Daddh ahh maafhh," Baekhyun meremas bahu Chanyeol, menorehkan sedikit luka akibat goresan kukunya.

Chanyeol merasa tidak tega melihat Baekhyun merasakan sakit yang menghujam arah selatannya. Demi mengurangi rasa sakit, Chanyeol mengalihkannya dengan ciuman lagi. Tentunya ciuman lembut, tidak menuntut, dan penuh perasaan. Baekhyun melingkarkan kakinya di pinggang Chanyeol mempermudah tumbukan yang terjadi di bawah sana.

"Emhh ahh ughh," Desahan panjang lepas begitu saja dari mulut Baekhyun setelah mendapati titik kenikmatannya disentuh milik Chanyeol.

Chanyeol mengubah posisi Baekhyun menjadi menungging di depannya, memperlihatkan betapa mulusnya tubuh Baekhyun. Benda kenyal yang tak tertutup sehelai kain itu, tidak luput dari perhatian Chanyeol. Meremas pantat Baekhyun yang berisi diiringi gerakan tangan seduktif Chanyeol di keperjakaan dan hole Baekhyun. Kedua insan yang baru merasakan indahnya bercinta dibuat mabuk kepayang, seakan enggan menyudahinya.

Dinding hole Baekhyun mengetat meremas milik Chanyeol yang semakin membesar di dalamnya, mengakibatkan denyut kedutan yang tak berkesudahan. Chanyeol mengeratkan pelukannya di pinggang Baekhyun, mencumbui tubuh Baekhyun yang tiada habisnya. Miliknya terhentak berkali-kali membentur sweetspot Baekhyun yang membuat keduanya melenguh keras.

"Nghh Bee mau pipis hhh," Chanyeol menggenggam milik Baekhyun yang lebih kecil dari miliknya itu, memberikan beberapa service yang begitu memabukkan. Hingga mereka sampai pada titik pelepasannya.

"Keluarkan bersama eum,"

Chanyeol menusukkan semakin dalam miliknya di hole Baekhyun, melepaskan cairan cintanya bersamaan dengan pelepasan Baekhyun yang mengalir di tangannya.

"Hangatt dad,"

Chanyeol melepaskan miliknya perlahan, memandangi Baekhyun yang terkulai lemas dengan mata sayu yang tertutup. Nafasnya masih memburu, masih berusaha memenuhi rongga dadanya dengan udara. Chanyeol membenahi posisi tidur Baekhyun, menyelimuti tubuh naked mereka dengan selimut tebal. Lengan Chanyeol dijadikan bantalan untuk Baekhyun yang mulai terlelap siang itu. Tidak lupa ciuman lembut terlontar oleh Chanyeol di kening dan bibir Baekhyun. Rona kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka.

.

.

Hari ini tepat sebulan, dimana Chanyeol dan Baekhyun harus berpisah, menyudahi hubungan yang telah terjalin erat di antara mereka.

"Aku akan merindukanmu Bee."

"Tidak mau! Daddy milikku, aku tidak mau berpisah,"

Chanyeol merasakan perih mendera hati kecilnya. Ia maupun Baekhyun tidak enak hati melepaskan hubungan itu. Bagi mereka itu bukan lagi hubungan antar anak dengan daddy nya, semua melebihi ekspektasi mereka. Dimana hati lebih dominan dari logika. Menyatukan dua hati yang saling memendam cinta kasih, kini harus berpisah begitu saja.

Chanyeol mengangkat koper mereka ke dalam bagasi, sementara Baekhyun merajuk tidak ingin pulang. Ditatapnya wajah muram pria mungil di depannya, penuh kekecewaan yang mendalam. Chanyeol merangsek maju kemudian menangkup kedua pipi Baekhyun. Menyatukan bibir keduanya, saling melumat dan menuntut lebih hingga terlepas begitu saja.

"Daddy mencintaimu Bee," Hanya satu kalimat itu yang bisa terucap dari Chanyeol. Mereka melakukan pelukan hangat untuk terakhir kalinya. Berusaha mengubur dalam-dalam perasaan yang mereka miliki.

Dalam perjalanan pulang, tidak ada yang banyak bicara hanya terdengar deru mesin dan helaan napas berat. Mau tidak mau, ini semua harus berakhir walau sakit yang dirasa. Chanyeol membukakan pintu mobil.

"Sudah sampai turunlah Bee," Baekhyun merengut.

"Dad em maksudku Chanyeol, apa tidak bisa kita pertahankan hal ini?" Chanyeol menggeleng.

"Aku harus menikah dengan seseorang, aku telah berjanji pada ibuku,"

"Oh begitu ya," Baekhyun hendak melangkah keluar namun terhenti karena genggaman Chanyeol.

"Lepaskan!" seru Baekhyun menahan air di sudut matanya.

"Tidak," Mereka berpelukan sekali lagi, lebih erat seakan tidak akan pernah berpisah. Baekhyun mencengkram punggung Chanyeol, sedangkan Chanyeol mendekap tubuh mungil itu dengan erat. Biarlah kali ini keegoisan menggerogoti perasaan mereka.

"ChanyeolㅡBobohu!"

Panggilan seseorang membuyarkan momen mereka. Dua wanita paruh baya melangkah mendekati mereka.

"Ibu?"

"Nenek Tua?"

"Kalian sudah saling mengenal?"

"Hah? apa maksudnya?" tanya Chanyeol bingung.

"Ibu kan yang pernah kutolong dulu?" ucap Baekhyun.

"Memang, perkenalkan aku ibunya Chanyeol,"

"Lalu nenek?" Chanyeol semakin bingung.

"Aku nenekmu bodoh,"

"M-maksudku kau mengenal Baekhyun?"

"Dia Bobohu yang sering aku ceritakan,"

"A-apa?"

"Jadi aku akan menikah dengan Bobohu?" Tanya Chanyeol antusias.

"Seratus untukmu," ucap ibu dan nenek bersamaan.

Chanyeol langsung memberikan pelukan pada Baekhyun.

"Sebentar aku belum paham," kata Baekhyun polos.

"Kau ingat yang kukatakan dulu, ibu akan menikahkanku dengan seseorang yang ternyata tetangga nenek, Bobohu. Awalnya aku menolak karena aku tidak tahu jika itu adalah dirimu, tapi sekarang aku akan setuju untuk menikahimu, karena aku mencintaimu Byun Baekhyun."

"Aku juga mencintaimu Park Chanyeol."

"Bisa kita menikah sekarang?"

"Tentu saja!"

Mereka semua tertawa bahagia, tidak ada yang pernah menyangka bahwa suatu kebetulan akan menjadikan kebiasaan. Benar apa kata pepatah, Cinta tumbuh berdasar waktu dan kebiasaan. Bukan karena status dan nama orang. Kebahagiaan semata yang begitu sempurna menyatukan Chanyeol dan Baekhyun di atas ikatan janji suci sehidup semati. Ketahuilah jangan pernah melepaskan cinta, tetapi perjuangkanlah walau bagaimana pun hasil yang akan kita terima.

.

.

The End

.

Hello good people! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review ya ^^ Disamping menambah motivasi Author dalam menulis, event ini juga akan mengambil dua readers login sebagai pemenang Readers Tercyduk! Good luck!

.

This fanfic is belongs to the real author. Please give your best support to our writers who have work hard! Thankyou!