Perhatian: berhubung besok saya udah UTS dan nggak mau ada beban, hari ini saya selesaikan saja Y dan Z barengan dan langsung saya update. Maaf saya terlalu ngebut _(:'3/

Ini lanjutan dari I - Ice Cream, tapi dari sudut pandang Eve c': galau mau judulnya Youth atau Yearn, akhirnya milih yang ini c:

disclaimer: check chapter 1 c:


Y – Yearn
Summary: Setelah kita dewasa nanti, masa lalu biasanya menjadi sesuatu yang terakhir muncul dalam ingatan kita. Terutama setelah menikah. Namun hari ini berbeda bagi seorang Eve Kim.
World: AU
Genre: Romance/Angst
Words: 916

Eve: Code Empress
Chung: Deadly Chaser

Add: Lunatic Psyker

.

.

.

Setelah kita dewasa nanti, masa lalu biasanya menjadi sesuatu yang terakhir muncul dalam ingatan kita. Terutama setelah menikah. Banyak yang harus dipikirkan—terutama bagi seorang wanita sepertinya—seperti tentang urusan rumah tangga dan menghukum suami yang lebih senang bersantai daripada bekerja. Toh, lagipula dia tipe perempuan yang tidak suka melihat ke belakang. Baginya, masa lalu ya masa lalu. Tidak ada gunanya menengok ke belakang dan menyesali apa yang sudah terlanjur terjadi.

Hari ini berbeda bagi seorang Eve Kim. Dia tengah membersihkan rumahnya berhubung suaminya sedang tidak di rumah untuk membuat usahanya sia-sia. Baru saja dia membuka pintu untuk menyambut tamu yang barusan mengetuk pintunya. Sekalian untuk membersihkan halaman yang mulai ditumbuhi dengan rumput-rumput liar.

Dia membuka pintunya, melongok ke segala arah ketika tidak menemukan siapapun di depan rumahnya. Saat itulah dia menemukan sebuah buku bersampul cokelat di depan pintunya. Wanita berambut perak itu memungut buku itu, menepuk sampul yang sedikit kotor oleh debu di musim semi. Buku ini terlihat begitu terawat, hingga Eve bertanya-tanya kenapa buku sebagus ini ada di depan rumahnya.

Dia memutuskan untuk menunda pekerjaan di halaman dan menelpon Ophelia—pelayan pribadi Eve ketika sebelum menikah dengan keluarga Kim—untuk datang dan menyelesaikan tugasnya. Mengakhiri pembicaraan secepat mungkin, Eve langsung bergegas dan kembali ke ruang tamu dimana ia meletakkan buku itu. Perasaannya agak campur aduk ketika menyentuh tekstur lembut dari sampul cokelat buku tersebut, seolah perasaan dari pemiliknya ikut tersalur dari benda itu. Dan akhirnya dia membukanya.

Jujur saja, Eve sama sekali tidak menduga akan melihat sebuah foto yang tidak lama ia lihat sebelumnya—dia dan Chung Seiker.

Eve mengingat Chung Seiker, sahabat terbaiknya di masa SMA. Awalnya dia tidak terlalu tertarik padanya; dia hanya mengenal Chung sebagai saingan karena nilai akademiknya yang cukup tinggi. Dia juga cukup populer dan memiliki banyak teman—berbeda jauh dengan Eve, yang lebih memilih menyendiri—sehingga banyak orang yang menyebut-nyebut tentang Chung Seiker.

Eve juga tidak memiliki niat untuk mengenal orang semacam itu. Namun ketika Chung datang kepadanya, membawa sebuah kamera digital (sampai sekarang dia masih bingung bagaimana para OSIS tidak menyita benda itu) sambil tersenyum lebar.

"Apa kau keberatan jika aku mengambil fotomu?" Laki-laki berambut pirang itu bertanya. Tanpa menunggu jawaban Eve, dia melanjutkan, "Temanku menginginkan fotomu untuk halaman depan koran sekolah!"

"Tentu saja." Dia hanya menjawab dengan ringan. Hanya sebuah foto, tetapi Eve bisa melihat mata birunya yang sebiru laut berteriak penuh kebahagiaan.

Keesokan harinya, Eve tidak menemukan wajahnya berada di sampul depan koran sekolah. Dan baru ia sadari, memang fotonya tidak pernah berada di sampul depan sebelumnya, tidak peduli berapa banyak prestasi yang ia raih. Dia juga tidak berniat menjadi pusat perhatian, sungguh.

Sepertinya kehidupan normal yang sepi berakhir setelah hari itu. Chung Seiker menjadi semakin banyak berbincang dengannya. Awalnya percakapan mereka begitu pendek—terutama dari Eve, yang lebih menginginkan hidup sepinya kembali. Namun semakin lama, percakapan mereka terasa semakin panjang hingga satu haripun tidak cukup bagi mereka. Semakin lama dunia Eve semakin berkembang—bertemu dengan teman baru, datang ke tempat yang tidak pernah terpikir untuk ia kunjungi, dan merasakan perasaan baru.

Dia telah jatuh cinta pada Chung Seiker tanpa sepengetahuannya sendiri.

Tanpa sadar Eve terus mengganti setiap halaman, memandangi foto-foto sembari seluruh ingatan tentang cinta pertamanya mengalir seperti bendungan yang bocor. Mengingat bagaimana ia begitu ketakutan ketika merasakan perasaan yang sudah pasti tidak akan terbalas.

Hingga dia sampai di sebuah halaman, dimana dia berfoto dengan suaminya—Add Kim. Saat itu dia sungguh berharap Chung akan menolak keras perjodohan tersebut dan mengambilnya pergi—melarikan diri, hanya mereka berdua. Bahkan itu tidak terdengar buruk sampai sekarang.

Tidak. Chung hanya tersenyum seperti biasa. Bahkan seolah menyetujui dan menyelamati mereka akan perjodohan yang sama sekali Eve tidak inginkan. Dan saat itulah Eve tahu kalau dia harus menyerah dan melupakan perasaannya pada laki-laki berambut pirang itu.

Dia tahu perasaannya tentang laki-laki itu sama sekali tidak berkurang—semakin bertambah, malah. Setiap kali dia melihat Add, dia merasa Chung-lah yang seharusnya berada di sisinya, menemaninya di kala sulit dan sedih.

Eve terus membalik halamannya. Chung tidak pernah terlihat lagi di halaman selanjutnya. Bahkan hingga di akhir halaman. Hanya sepucuk surat tersisa di sana, terbengkala di sebuah halaman yang bahkan tidak terisi apapun.

Tangannya bergetar, Eve baru merasakannya. Jarinya menyentuh permukaan amplop putih yang tidak bernoda. Dibukanya amplop putih itu, menemukan sebuah kertas yang terlipat rapi.

Dia membuka sepucuk kertas itu, membaca dan meresapi setiap kalimat yang tertulis dengan rapi, yang ia kenal dengan tulisan dari Chung Seiker. Setiap kalimat yang tertulis membuat perasaannya kembali meluap, hingga ia merasakan matanya yang mulai buram dan pipinya yang basah.

Bahkan hingga bertahun-tahun ini, perasaannya pada Chung Seiker tidak pernah berubah. Walaupun dia tahu kalau dia telah bersama dengan orang lain dan Chung yang tidak akan kembali padanya lagi.

Perasaan yang telah terpupuk sejak dia muda telah berbunga dengan mekar, dan kini dia hanya bisa menyaksikan bunga yang mekar itu layu dengan perasaan yang pahit dalam hatinya.

.

.

.

Eve,

Jika kau membaca surat ini, berarti kau telah menemukan album yang kusimpan sejak pertama kali kita bertemu. Dan saat itulah, aku ingin mengatakan kalau aku selalu mencintaimu, bahkan hingga saat ini, bertahun-tahun setelah kau menikah dengan laki-laki itu.

Maafkan aku yang menjadi seorang pengecut karena tidak bisa menyatakan perasaanmu. Walaupun begitu, aku ingin kau selalu bahagia. Karena kebahagiaanmu adalah satu-satunya tujuan hidupku yang sudah tidak bermakna ini.

Oleh karena itu, aku akan menghilang selamanya dari hadapanmu. Aku berharap dengan ini, kau bisa berbahagia bersama Add selamanya.

Terima kasih atas tahun-tahun yang menyenangkan ini. Aku mencintaimu, Eve.

Chung Seiker.