ONLY MINE

.

.

Park Chanyeol adalah seorang CEO di Park Enterprise, ia juga seorang pimpinan mafia sangat kejam dan berhati dingin yang hanya menginginkan kekuasaan dan uang lebih. Ia sangat cerdik dan teliti dalam mengamati orang-orangnya, satu kali kesalahan dan kau pasti akan dipecat. Tapi semua berubah saat seorang laki-laki mungil berambut brunet tidak sengaja menubruk seorang Park Chanyeol. Setelahnya Chanyeol sadar kalau ia membutuhkan satu hal lagi dalam hidupnya— yakni Byun Baekhyun.

.

.

Original Story

By applepie12

www asianfanfics com/story/view/1126743/only-mine-angst-fluff-baekyeol-kaisoo-chanbaek-baekyeol00mafia

(ganti spasi dengan titik)

..

.

PART 22

SWEET SKINSHIP

.

.

Baekhyun jatuh tertidur di sofa kulit tepat setelah kepalanya terjatuh di lengan sofa. Chanyeol hanya menghela nafas pelan sambil mengamati Baekhyun yang mendengkur lembut dengan jemarinya mencengkeram imut. Chanyeol tidak bisa menyangkal untuk tidak membayangkan Baekhyun layaknya seperti seorang bayi—bahkan kaos rajutnya pun terlihat kebesaran di tubuh mungilnya yang mana membuatnya makin terkesan mungil.

Setelah dipikir-pikir, kaos rajut ini bukan seperti pakaian yang biasanya suka dipakai oleh Baekhyun. Karena penasaran, Chanyeol mendekat ke arah dada Baekhyun dan menghirup aroma pakaian itu disana. Ternyata dugaannya benar karena aroma pada pakaian itu bukanlah aroma Baekhyun yang biasanya—yakni aroma buah. Bahkan kaos itu beraroma parfum manly pria. Baekhyun tidak akan... tidak mungkin melakukan itu kan?

Tiba-tiba berbagai macam dugaan bermunculan di pikiran Chanyeol saat ia kembali menegakkan tubuhnya.

Baekhyun tidak mempunyai cinta yang lain kan? Sudah dua tahun berlalu, jadi kemungkinan itu bisa saja terjadi! Tapi kenapa ia disini kalau ia akan meninggalkanku? Di...dia masih mencintaiku kan? Kenapa juga aku harus memikirkannya? Baekhyun bukanlah siapa-siapaku lagi.

"Ch...Chanyeol mmmph." Baekhyun mengigau pelan, membuyarkan lamunan Chanyeol yang langsung mendekatkan telinganya mencoba mendengar apa yang dikatakan Baekhyun.

"Mafkan aku." Baekhyun berbisik pelan.

Apakah ia masih sangat berarti untukku? Tidak, ia tidak lagi sepert itu. A...aku sudah tidak mencintainya lagi.

"Aku mencintaimu." Baekhyun bergumam pelan lagi.

Apa aku masih mempunyai perasaan padanya?

Chanyeol menatap intens pada laki-laki di depannya. Ia merasa sangat bingung, apakah ia mampu mnyakiti hati Baekhyun seperti rencananya? Karena jujur saat ini ia bingung haruskah ia menyakitinya atau malah menjaganya.

"Tidak...ummph, aku tidak mau." Baekhyun bergerak gelisah dengan air mata yang menetes di pipinya, bahkan matanya masih terpejam. Chanyeol hanya mengernyitkan alisnya, apa yang sebenarnya terjadi pada si brunet?

"Tidak mau membantu. A...aku mencintai..." dan tiba-tiba Baekhyun duduk terbangun dengan nafas terburu. Ia juga nampak kebingungan karena terbangun dari tidurnya, si brunet lalu menggosok matanya dan menemukan Chanyeol yang duduk di sampingnya dengan pakaian yang masih basah.

"Ch... Tuan Park, bergantilah pakaian." Baekhyun bergumam sambil menguap.

"Aku baik." Chanyeol berkata bersikukuh sambil menyisir ke belakang rambutnya.

"Aissh... sangat kekanakan." Baekhyun menggerutu pelan dan kemudian meloncat dari selimut hangat yang tadi diberikan Chanyeol sebelum mendorong tubuh Chanyeol ke lantai atas.

"Baekhyun, apa kau lupa kalau aku bosmu?" Chanyeol memprotes.

"Iya, iya si tuan serius." Baekhyun menggerutu sambil terus mendorong Chanyeol ke atas sampai Chanyeol berhenti di satu tangga dan menyandarkan tubuhnya pada tangan Baekhyun yang mendorongnya.

"Hei pindahkan tubuhmu, kau sangat beraat." Baekhyun mengkomplain sambil mendorong tubuh yang malah bersandar padanya.

"Yah Park Chanyeol, aku serius! Aku bisa saja jatuh." Baekhyun berteriak sambil menggerutu saat ia hampir terpeleset.

"Baiklah." Chanyeol menyerah dan menegakkan tubuhnya sedangkah Baekhyun menghela nafas lega setelah hampir jatuh dari tangga.

"Sekarang pergi mandi air hangat dan bergantilah." Baekhyun memerintanya sambil menunjuk ke arah kamar Chanyeol.

"Aku tidak mau." Chanyeol mengerang dan masih berdiri di sana.

Baekhyun benar-benar ingin menjauh dari Chanyeol, jadi nantinya ia tidak akan begitu sakit hati saat meninggalkannya lagi. Tapi Chanyeol disini malah jelas membuatnya sulit untuk melakukan hal itu.

"Please." Baekhyun menghela nafas memohon, ia pasti akan terlalu dekat dengan Chanyeol lagi kalau ia tidak mulai membatasi diri dari sekarang. Ia tidak menyadari saat satu tetes air mata jatuh ke pipinya, memikirkan dirinya yang akan meninggalkan Chanyeol lagi membuat hatinya sakit.

"A…aku tau. Aku akan pergi mandi dan berganti pakaian. Jangan menangis lagi." Chanyeol tiba-tiba berkata sambil menghapus air mata di pipi si brunet, ia mengira dirinyalah yang membuat Baekhyun sedih sampai menangis lagi.

"Baiklah." Baekhyun menjawabnya dan menyeka air matanya saat Chanyeol memintanya untuk tidak menangis lagi. Setelah ia memasuki kamarnya, Baekhyun hanya mampu tersenyum kecut sebelum berbisik,

"Bodoh. Apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak ada disini?"

Paling tidak Naeyeon akan merawatmu. Keluarganya juga nampak sekuat dirimu. Mungkin kau akan aman walaupun kau tetap berada di dunia mafia, karena kau bersama mereka.

Baekhyun mengerang lesu saat perutnya berbunyi makin keras. Ia ingin makan masakan Chanyeol.

.

.

.

Setelah Chanyeol keluar dari kamar mandi, dia menemukan Baekhyun yang tengah duduk di kasurnya memegang kaos besar dan celana santai.

"Ini pakailah." Baekhyun berkata sambil memberikan pakaian itu pada Chanyeol

"Kau akan melihatku berganti?" Chanyeol bertanya sambil menyeringai pada Baekhyun yang tiba-tiba blank dan bergegas lari keluar dari sana.

Setelah Chanyeol berganti, ia lalu membuka pintu kamarnya dan mendapati Baekhyun yang berdiri di depannya dengan jari yang tengah sibuk memilin ujung kaosnya. Benar, kebiasaan lamanya. Sangat menggemaskan.

"Ada yang kau perlukan?" Chanyeol dengan cepat menanyainya dan tidak lama setelah pertanyaannya terlontar, tiba-tiba perut Baekhyun berbunyi keroncongan.

"Baiklah, aku akan memesan makanan." Chanyeol berkata tanpa menunggu jawaban si brunet dan berniat mengambil ponselnya. Tapi sebuah tarikan di ujung kaosnya menghentikan langkahnya.

"Ma…maukah kau memasak?" Baekhyun bertanya sambil masih menarik kaosnya.

Jika saja orang lain yang meminta hal itu padanya, Chanyeol hanya akan mendecih dan tidak menanggapinya—well, tak seorangpun yang berani meminta hal itu padanya, kecuali si brunet di depannya ini.

"Umm." Chanyeol berpura-pura berfikir sejenak karena ia tau apa yang akan Baekhyun lakukan setelahnya.

"Please….." Baekhyun memohon dengan tatapan puppynya yang mana membuat Chanyeol selalu jatuh untuk kesekian kalinya.

"Baiklah." Chanyeol menggerutu berpura-pura kesal.

Baekhyun lalu membuntuti Chanyeol ke dapur untuk membuat nasi goreng dan telur. Baekhyun merasa tidak enak saat ia tidak melakukan apapun untuk membantu, jadi dia mulai mengiris wortel. Sedangkan Chanyeol memotong sosis sebelum memasukkannya ke dalam teflon dan menuangkan saus kedalamnya.

Baekhyun terlihat sangat fokus pada pekerjaannya, tapi tiap potongan wortelnya nampak sangat acak dan tidak sama bentuk dan ukurannya. Ia lalu menghela nafas dan mencoba untuk memotong wortel lebih baik, tapi hasilnya masih saja tetap sama.

Chanyeol lalu berbalik dan membantunya. Chanyeol meletakkan jarinya diatas jari lentik Baekhyun, satu tangannya memegang wortel yang akan dipotong sambil mengarahkan Baekhyun untuk memotong wortelnya. Dada Chanyeol menempel pada punggung Baekhyun—tanpa jarak diantaranya, detak jantung mereka berirama sinkron tapi mereka terlalu folus untuk memotong wortel sampai keduanya lupa akan hal itu.

Baekhyun memeletkan lidahnya terlalu berkonsentrasi pada pekerjaannya, tiba-tiba saja mereka merasakan sengatan getaran listrik saat kedua jari mereka terus saja saling bersentuhan. Chanyeol juga mencoba untuk fokus, tapi rambut Baekhyun sungguh menggodanya. Oh, juga aroma buah dan madu yang menguar darinya.

Setelah mereka selesai, Chanyeol memasukkan wortelnya dalam panci kecil berisi air untuk membuat sup. Ia lalu menambahkan jagung, tomat dan kentang. Nasi gorengnya sudah hampir matang, Chanyeol lalu mengaduknya beberapa kali sebelum memindahkan teflon itu dari kompor dan meletakkan nasinya ke dua piring. Ia mengambil dua sendok dan memanggil Baekhyun untuk mendekat.

Karena terlalu semangat, Baekhyun mengambil sesendok nasi goreng dan langsung memasukkan ke mulutnya—ia langsung menyesalinya saat itu juga. Ia menggumamkan kata-kata tidak jelas, sementara Chanyeol menertawainya. Ia lalu meminta Baekhyun untuk memuntahkan makananya, tapi ditolak oleh si mungil. Ia masih saja terus bergumam tidak jelas dan meloncat-loncat di tempatnya sampai panas makanannya reda dan perlahan ia mengunyahnya.

Mereka lalu makan dengan tenang sampai akhirnya piring keduanya habis. Supnya juga sudah matang, merekapun langsung menghabisinya. Baekhyun berniat masuk ke kamarnya sebelum dicegah oleh Chanyeol.

"Baekhyun, bersihkan dapur."

Menghela nafas, Baekhyun menuruti perintah Chanyeol dan membawa cucian piring kotor ke dalam wastafel dan merendamnya dalam air dan sabun. Chanyeol akan beranjak dari tempatnya saat Baekhyun menghentikannya dengan merentangkan tangan basahnya yang penuh busa di hadapan Chanyeol.

"Tuan Park, bisakah kau tinggal disini dulu?" Baekhyun menanyainya, ia tidak mau sendirian di dapur dimana bisa saja ada pembunuh yang muncul dan…

"Kenapa? Aku sibuk." Chanyeol menjawabnya sambil menguap dan menepuk lengan si brunet lalu melangkah ke lantai atas.

.

.

.

Baekhyun menghela nafas dalam sebelum ia memberanikan diri dan meneruskan pekerjaannya untuk mencuci piring. Beberapa kali ia mengintip ke belakang dan meneguk ludah kasar melihat ke arah ruang tengah dan lorong yang gelap.

Baekhyun tengah mengeringkan beberapa peralatan di sana saat beban berat menumpu pada lengannya. Ia langsung membeku di tempat dengan bibir yang bergetar.

Chanyeol lalu menoleh kesamping dan melihat wajah Baekhyun yang nampak tegang ketakutan dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Hey puppy penakut." Chanyeol menggodanya dan Baekhyun tersadar dari ketakutannya.

"Ya Tuhan, kau menakutiku!" Baekhyun memprotesnya beberapa saat setelahnya.

"Menggemaskan." Chanyeol menggumam dan Baekhyun merona merah muda sebelum teringat kembali perkataan Nayeon.

"Tuan Park, tolong tetaplah professional. Kita hanya pekerja dan bosnya, ya hanya itu." Baekhyun berkata dengan menekan rasa sakit di dalam hatinya.

"Kalau kau ingin tetap seperti itu, maka dengan senang hati aku akan menyanggupinya tuan Byun." Chanyeol menggodanya lagi sambil menukikkan alisnya.

"Terima kasih tuan Park." Baekhyun bergumam sebelum melanjutkan pekerjaannya untuk mengeringkan piring.

Chanyeol lalu duduk di sana dan mulai mengecek beberapa lembar kertas.

"Baekhyun, ini daftar pekerjaan yang harus kau lakukan besok." Chanyeol berkata sebelum meletakkan kertas itu dan berjalan ke lantai atas tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Kalau kau ingin bermain seperti ini, maka aku akan menuruti permainanmu.

.

.

.

Baekhyun duduk di ranjangnya masih dengan kertas berisi daftar pekerjaannya besok di tangannya.

Suara deringan ponsel memecahkan lamunan Baekhyun—ia langsung menjawabnya dengan cepat.

"Ha…halo?" Baekhyun tetap menanyai si penelfon, walau ia tau kalau ini adalah ponsel pemberian Nayeon.

"Aku akan datang ke mansion besok." Nayeon memberitahunya.

"Chanyeol tidak akan ada di rumah." Baekhyun menjawabnya dengan bingung.

"Aku tau, itulah kenapa aku datang kesana. Kau berjanji untuk membantuku kan Baekhyun?" Nayeon menanyainya—lebih tepatnya mengingatkan.

"Baiklah. Sampai jumpa." Baekhyun mencoba mengatakannya dengan sesopan mungkin sebelum menutup telepon, ia tidak ingin menyakiti hati gadis itu.

Baekhyun menghela nafas lelah sebelum berbaring dan tak lama setelahnya matanya terpejam dan jatuh ke alam mimpinya.

.

.

Keesokan harinya, Baekhyun tidak menemukan Chanyeol karena ia bangun kesiangan dan Chanyeol nampaknya juga tidak membangunkannya.

Baekhyun membaca lagi daftar pekerjaannya dan mengernyit heran saat menemukan daftar pekerjaaan yang menurutnya aneh.

Bersihkan lantai dengan sikat gigi.

Kipasi kemeja yang sudah kering.

Susun buku berdasarkan urutan abjad judul dan tanggal terbit.

Sirami tanaman di taman dengan takaran cangkir 150ml air berulang-ulang.

Cuci mobil dengan handuk yang biasanya dipakai untuk membasuh wajah.

Dan saat Baekhyun membaca daftar terakhir, bola matanya hampir saja jatuh karena melotot tajam.

Buatlah jus mentimun.

Sambil menggembungkan pipinya, Baekhyun lalu menuju kamar mandi dan mencari sikat gigi bekas yang sudah tidak terpakai dan langung menuju dapur. Ia perlahan membersihkan lantai disana dengan sikat itu.

Setelah agak siang, Baekhyun mendengar bunyi bel dan menemukan Nayeon tengah berdiri di pintu dengan gaun biru awan terang yang pendek, kaca mata cukup besar, dan dompet Gucci di lengan kirinya.

"Halo nona Nayeon." Baekhyun menyapanya.

"Halo juga." Nayeon menjawab dan masuk ke dalam mansion dengan kunciran rambutnya yang bergerak keatas dan bawah seirama dengan langkah kakinya.

"Jadi, apa rencanamu Baekhyun?" Nayeon menanyainya setelah ia duduk di sofa.

"Aku belum memikirkannya." Baekhyun menggumam.

"Tidak apa. Jadi sebenarnya bagaimana kalian berdua bertemu?" Nayeon bertanya sambil mendekatkan dirinya pada Baekhyun.

"Umm… aku sebenarnya tidak sengaja menumpahkan kopi padanya dan dia pergi begitu saja." Baekhyun menjawabnya jujur.

"Menarik. Lalu apa yang terjadi setelahnya sampai kau dan Chanyeol oppa terus bertemu semenjak itu?" Nayeon bertanya, hari ini ia memakai lipstik merah terang di bibirnya.

"Ha… haruskah aku men…" Baekhyun akan memulainya.

"Kau mencintai Chanyeol kan? Kalau begitu jawab pertanyaanku." Nayeon berkata cukup tegas dan terkesan dingin, ia lalu menambahkan sedikit senyum simpul setelah ia menyadari nada bicaranya.

"Aku melamar kerja di Park Enterprise dan ternyata dia adalah CEO disana." Baekhyun menjawabnya dengan memainkan jari-jari lentiknya.

"Benarkah? Dan dia tidak memecatmu?" Nayeon bertanya terdengar terkejut.

"Ya. Aku juga bingung karena saat itu aku melamar kerja untuk posisi yang lebih rendah, tapi aku malah mendapat pekerjaan sebagai sekretaris."

"Oh, mereka tidak akan melakukan kesalahan seperti itu. Kecuali kalau mereka memang disuruh Chanyeol oppa untuk melakukannya." Nayeon berkata pelan, terdengar bergumam untuk dirinya sendiri.

"Lalu apa yang kalian lakukan setelahnya? Bagaimana ceritanya sampai kau akhirnya tinggal disini?" Naeyeon meneruskan pertanyaannya, ia sangat ingin tau dan penasaran sekali.

"Ah… aku berencana tinggal bersama teman baikku, tapi kemudian Chanyeol memberitahuku tentang peraturan yang menyatakan kalau pekerja perusahaannya tidak boleh tinggal bersama. Itulah kenapa aku berakhir tinggal disini. Kami pergi ke taman bermain—" Baekhyun belum menyelesaikan perkataannya tapi disela oleh Nayeon yang terlihat sangat terkejut.

"Apa?! Taman bermain? Apa kau yakin? Chanyeol oppa benci—tidak-tidak dia sangat-sangat membenci tempat kekanakan dan tidak pernah pergi kesana sebelumnya." Nayeon berkata yakin.

"Benarkah? Dia membenci hal kekanakan?" Baekhyun menanyainya sambil mengernyit.

Lalu kenapa Chanyeol menyukaiku? Aku bahkan sangat kekanakan dan seperti anak kecil.

.

.

"Oke, kemana lagi kalian pergi?" Nayeon menyela pemikirannya.

"Tidak banyak tempat lain." Baekhyun menjawabnya.

"Apa kau tau kelemahan Chanyeol? Sesuatu yang pasti akan membuatnya menurutimu?" Nayeon bertanya sambil mengusap kukunya.

"Umm sebelum ia lupa ingatan, Chanyeol sangat lemah pada aegyo dan tatappan puppy eyes." Baekhyun berkata pelan sambil mengingat kembali kenangan mereka.

"Terimakasih Baekhyun kau mau membantuku. Aku akan menjaga Chanyeol dan juga mencintainya." Nayeon tersenyum dan beranjak dari tempatnya bersiap untuk pergi,

"Ba..baiklah." Baekhyun menjawabnya, walaupun ia ingin Chanyeol di sisinya, ia tidak ingin menjadi egois dan merusak kehidupannya.

Nayeon langsung berbalik dan saat itu juga senyum di wajahnya lenyap saat ia berjalan keluar mansion.

.

.

Baekhyun kembali melakukan pekerjaannya, tapi semua terasa lebih sulit untuk dikerjakan. Ia merasa sulit untuk fokus dan terus teringat kata-kata yang diucapkan oleh Nayeon sebelumnya.

Ia memutuskan untuk menjeda pekerjaannya dan memilih untuk berkeliling rumah. Semuanya yang ada disini akan hilang setelah ini—ia akan meninggalkan tempat ini untuk selamanya.

Baekhyun membawa jarinya untuk menyusuri perabotan disana dan mengingat tempat ini sebisa mungkin. Saat ia sampai di kamar Chanyeol, ia masuk dan berjalan kearah kasur dan mengambil Channie.

"Jagalah si bodoh itu untukku. Maaf karena aku tidak bisa membawamu, kalau aku membawamu mungkin dia akan sedih. A…aku mencintaimu." Baekhyun menggumamkan dan membisikkan kalimat terakhirnya untuk si bodoh itu.

Baekhyun terlalu malas untuk menyelesaikan daftar pekerjaanya, jadi ia mencoba melakukan sebisanya dan mengabaikan tugas terakhir yang harus ia lakukan.

Matahari juga telah terbenam saat Baekhyun duduk di sofa dengan Baekkie yang berbaring meringkuk membentuk bola di sela kakinya—tertidur. Ia sedang mengelus kepala si puppy saat pintu terbuka dan Chanyeol masuk rumah.

"Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" Chanyeol menanyainya dan Baekhyun hanya menjawabnya dengan gumaman.

"Dimana jus mentimunnya?" Chanyeol menanyainya lagi sambil menatap pemandangan kedua makhluk di depannya.

"Uh, aku tidak berhasil menemukan mentimunnya." Baekhyun menjawabnya dengan mengalihkan pandangannya ke penjuru mansion.

Chanyeol menyeringai karena ia memang meletakkan mentimunnya di konter dapur. Ia tidak ingin mempermalukan si brunet, jadi ia tetap diam dan mendekat kearah mereka untuk mengambil anak anjing itu dan memindahkan ke tempat tidurnya.

.

.

"Umm… selamat malam tuan Park, kalau anda tidak membutuhkan sesuatu." Baekhyun bergumam dan mencoba melarikan diri dengan berjalan cepat, tapi ia terhenti saat Chanyeol memanggilnya.

"Tunggu."

"Baekhyun apa kau mau minum?" Chanyeol menanyainya.

"Tidak, terimakasih." Baekhyun menjawabnya dan memutuskan untuk melanjutkan langkahnya sebelum akhirnya ia terhenti lagi.

Bagaimana kalau Chanyeol minum terlalu banyak dan akhirnya mabuk parah?

Sambil menghela nafas, ia lalu berjalan turun lagi sambil bergumam,

"Aku mau minum sedikit."

Chanyeol tersenyum lalu membuka dua kaleng beer saat mereka berdua duduk bersila di ruang tengah.

"Tuan Park, jangan minum terlalu banyak." Baekhyun memperingatinya sambil ia meneguk sedikit minumannya.

"Mmmm." Chanyeol menggumam dan meneguk habis satu kaleng minumannya.

Saat ia berniat meneguk kaleng minuman yang kedua, Baekhyun terlebih dulu mengambilnya dan meminumnya cukup banyak.

"Kau belum menghabiskan milikmu dan kau malah mengambil punyaku?" Chanyeol menanyainya sambil menatap si brunet yang pipinya sudah mulai berubah warna menjadi merah muda.

"Ka…leng minummu terlihat lebih enak." Baekhyun menjawabnya.

Chanyeol merasakan perasaan aneh—perasaan hangat dan gemas lebih tepatnya saat Baekhyun mengambil kaleng minuman darinya untuk mencegahnya minum lebih banyak.

Ia lalu tersenyum saat teringat Baekhyun yang mabuk bergelayut manja padanya saat ia memperoleh pengakuan dari si mungil dua tahun yang lalu.

Setelah tiga botol kaleng beer, Baekhyun terlihat mulai sempoyongan dan tidak fokus. Ia meraih satu kaleng lagi karena ia ingin sekali melupakan kata-kata Nayeon siang tadi, dan bayangan Chanyeol bersama Nayeon di masa yang akan datang.

.

.

"Hei…hei cukup. Berhentilah minum." Chanyeol memerintahnya dan langsung mangambil kaleng dari tangan si brunet. Walaupun Chanyeol sudah menghabiskan kaleng minumannya yang ke lima, ia masih tetap segar dan tidak terpengaruh alkohol karena daya tahan tubuhnya pada minuman memang cukup tinggi.

"Mmmm berikan padaku!" Baekhyun berteriak dan mencoba meraih kalengnya. Tapi tentu saja ditepis oleh Chanyeol.

"Yah!" Baekhyun berteriak lagi dan mulai menangis.

"Be…berikan padaku!" Baekhyun terisak dan tersedak tangisnya, sementara Chanyeol hanya terkekeh melihat si puppy marah dan putus asa.

"Tidak Baek, kau mabuk." Chanyeol menolaknya dan makin menjauhkan kaleng minuman itu.

"Please…" Baekhyun memasang aegyonya dan Chanyeol membeku di tempatnya selama sekian detik sebelum menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak.

"Kau sungguh raksasa tinggi jahat dan bodoh." Baekhyun menggerutu masih berusaha mengambil minuman itu, ia menumpukan tubuhnya pada Chanyeol.

"Baekhyun, walaupun kau mabuk, aku tidak akan membiarkanmu memanggilku seperti itu." Chanyeol menjelaskan pada Baekhyun yang makin tidak seimbang di tempat duduknya.

Baekhyun lalu mencoba menegakkan tubuhnya dan duduk tepat di depan Chanyeol, ia lalu menarik dasi yang lebih tinggi sehingga tubuh Chanyeol ikut tertarik mendekat padanya sebelum ia menempelkan bibirnya pada si giant.

.

.

.

Chanyeol awalnya sangat terkejut, tapi tak lama setelahnya ia tetap memiringkan kepala untuk memberikan akses pada si brunet agar lebih mudah menciumnya. Dan saat ia mulai terlena, Baekhyun lalu mengambil kaleng minuman itu darinya dan langsung meminumnya saat itu juga.

Chanyeol hanya mampu duduk terdiam dan berkedip beberapa kali saat baekhyun meminum beer itu dengan tetesan minuman yang mengalir di leher mulusnya. Sementara wajah si brunet terlihat lebih merah dari sebelumnya, ia juga terus menggumamkan kata-kata tidak jelas.

"Baekhyun apakah kau menciumku hanya untuk mendapat kaleng beer itu?" Chanyeol menanyainya.

"Hehe mmm." Baekhyun menganggukkan kepalanya keatas dan bawah sambil tubuhnya bergoyang ke samping.

"Aisshh, hanya kau yang mampu mengelabuhiku berkali-kali." Chanyeol berkata sebal karena ia berhasil diperdayai oleh si brunet.

"Bodooooooooooooh….." Baekhyun melakukan sing song dan terkikik seperti bayi.

"Sekarang kau bertingkah seperti anak lima tahun?" Chanyeol bertanya sambil menekan pipi Baekhyun.

"Tidak, aku dua puluh tiga." Baekhyun menjawab dan menunjukkan dua jari dengan tangan kanan dan tiga jari dengan kaki kiri.

"Tidak, kurasa kau lima tahun." Chanyeol masih menggodanya dan Baekhyun mulai menggerutu memprotes karena dia bukanlah anak lima tahun tapi duapuluh tiga.

"Baekhyun kau ini anak lima tahun." Chanyeol menyeringai.

"Bukan, aku dua puluh tiga." Baekhyun menjawabnya.

"Lima tahun." - Chanyeol

"Dua puluh tiga."- Baekhyun

"Dua puluh tiga."- Chanyeol

"Bukan, aku lima tahun." Baekhyun berteriak sementara Chanyeol tertawa terbahak karenanya.

Baekhyun hanya memiringkan kepalanya imut karena bingung sebenarnya ia berumur berapa.

"Baiklah baiklah… kau lima tahun." Chanyeol menyetujuinya dan Baekhyun mengangguk masih kebingungan.

"Mau minum lagi?" Chanyeol menanyainya.

"Ya…ya!" Baekhyun berteriak dan bergulung di karpet lantai.

"Baiklah." Chanyeol menyetujuinya lagi dan berjalan kearah konter dapur untuk memblender beberapa mentimun.

"Ini hukumanmu karena menyebutku kejam." Chanyeol berbisik dan menuangkan jus itu kedalam kaleng beer yang sudah kosong.

"Horee beer! Minum lagi….." Baekhyun berteriak dan langsung mengambil kaleng yang diulurkan oleh Chanyeol.

Baekhyun meneguk habis minuman itu dan setelah habis, ia baru merasakan rasa minuman itu. Ia langsung memeletkan lidahnya dengan ekspresi wajah yang jijik pada minuman tadi.

"Awwwkkk! Rasanya tidak enak." Baekhyun memprotes dan mencoba merasakan lagi rasa yang masih tertinggal di mulutnya.

Chanyeol hanya tertawa terhibur saat Baekhyun menggerutu tidak jelas dan mencoba berjalan ke lantai atas dengan susah payah. Mengabaikan kekacauan kaleng minuman disana, Chanyeol lalu mengikuti si brunet yang sedang mabuk itu.

.

.

.

Baekhyun berjalan sempoyongan dan mengecek ruangan disana secara acak. Akhirnya ia sampai di kamar mandi. Ia lalu duduk di dekat jamban toilet dan hendak mengambil air disana—tapi sebelum itu terjadi, tubuhnya terlebih dahulu diangkat oleh seseorang.

Chanyeol lalu membawa Baekhyun ke kamarnya.

"Mmmmmmmmnapakaubawaakukekamarmuuuu." Baekhyun berkata tidak jelas sambil terkekeh saat Chanyeol menidurkannya di kasur.

Baekhyun lalu merangkak ke tepi kasur untuk menjauh dari si giant, tapi usahanya gagal saat Chanyeol menariknya kembali sambil bergumam,

"Kau tidur disini malam ini."

"Mmmpp tidaaa.." Baekhyun menggelengkan kepala dan mencoba memberontak dari Chanyeol.

Chanyeol hanya mendengus lalu mencengkeram erat pergelangan Baekhyun di atas kepala si mungil.

"Kau tidur disini. Titik." Chanyeol menegaskan dan Baekhyun mengangguk pelan sambil mempoutkan bibirnya.

Setelah Baekhyun menguap, Chanyeol lalu melepaskan cengkeraman tangannya dan beralih mengelus rambut si brunet dan memainkan bibirnya yang mengerucut.

"Kenapa kau sangat sulit?" Chanyeol bergumam saat Baekhyun mulai menutup dan membuka matanya perlahan karena rasa kantuknya.

"Mmm… pi…pipis." Baekhyun menggumam dan Chanyeol menghela nafas sebelum membantu yang lebih kecil menuju ke kamar mandi.

"Baiklah, disini. Kalau sudah selesai ketuk pintunya." Chanyeol memerintahnya dan menutup pintu sebelum ia bersandar santai di dekat pintu. Tapi setelah sepuluh menit berlalu Chanyeol memutuskan untuk mengecek si mungil.

Disana nampak Baekhyun yang tertidur di bathup setelah ia selesai buang air, bahkan celananya saja belum dinaikkan kembali.

Sambil mendengus pelan, Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dan meletakkan si mungil di konter toilet untuk membenarkan celananya sebelum menggendongnya kembali ke kamar.

"Bagaimana mungkin aku bisa membalas dendam saat yang kuinginkan adalah memeluk erat dirimu?" Chanyeol bergumam setelah menidurkan Baekhyun di kasurnya.

Baekhyun nampak menyetujui perkataannya dengan gumaman tidak jelas,

"beuehgjdfenar."Chanyeol hanya terkikik mendengar gumaman si mungil.

"Haruskah aku memaafkanmu lagi karena telah meninggalkanku? Haruskah aku menjadi bodoh lagi?" Chanyeol menanyainya.

"Mmmm." Baekhyun mengerang dan memejamkan matanya sambil meremas erat kaos Chanyeol sampai membuatnya kusut.

"Taukah kau seberapa sakitnya hatiku untuk berpura-pura membencimu?" Chanyeol melanjutkan pertanyaannya sambil menatap si mungil yang pipinya masih merona karena efek alkohol yang diminumnya.

"Kenapa kau kembali Baekhyun? Un…untuk meninggalkanku lagi atau tinggal bersamaku?" Chanyeol bertanya terbata sambil mengusap pelan pipi Baekhyun dengan ibu jarinya.

Chanyeol lalu mengusap rambut Baekhyun yang turun di dahinya dan mengusapkan ibu jarinya perlahan di alis si mungil.

.

.

.

Cahaya masuk ke dalam kamar dan menyadarkan si brunet yang tengah tidur di kasur itu. Perlahan mata mengantuknya terbuka dan ia pun mengusapnya malas.

Baekhyun mengerang kesal pada cahaya yang menerpanya, ia lalu tersadar kalau sekarang dirinya berada di kamar Chanyeol, tapi si tinggi tidak nampak dikamarnya. Kepalanya terasa sakit dan berdenyut-denyut—ia melihat segelas air dan pil di nakas. Ia lalu menelan obat itu dan meminum air putih disana, setelahnya ia berjalan terhuyung ke kamarnya. Ia masih merasakan pusing, tapi sudah lebih baikan.

Ia lalu berbaring di kasur dan mengerang pelan lalu memutuskan untuk tidur lagi.

Hampir siang saat Baekhyun mendengar suara tawa yang cukup keras berasal dari lantai bawah.

Memutuskan untuk mengecek apa yang terjadi, ia lalu berjinjit dan mengintip ke lantai bawah.

"Sehun, kau sangat imut tapi tentu saja Chanyeol oppa yang paling menggemaskan." Baekhyun mendengar kekehan feminim.

"Kris oppa, kenapa kau sangat kaku dan serius sepanjang waktu?" Baekhyun mendengar suara itu lagi saat ia makin mendekat ke lantai bawah. Akhirnya Baekhyun melihat Nayeon, Sehun, dan Kris juga punggung Chanyeol di ruang tengah mansion.

Ia lalu berjalan mendekat dan menatap mata Sehun yang nampak berbinar dan langsung berlari ke arahnya dan memeluknya sangat erat.

"Baekhyunnie aku sangat merindukanmu! Aku belum melihatmu berhari-hari." Sehun bergumam di rambut si brunet.

"Ommmph ter….lalu sesak." Baekhyun berkata dan suaranya teredam pelukan itu.

Setelah sedikit melepaskan Baekhyun, si mungil lalu memandang ke ruang tengah dengan semua tatapan mata yang tertuju padanya. Nayeon dengan rambutnya yang masih dikucir di kepalanya bagian atas dan berlipstik merah muda, Kris dengan seringaian tipisnya dan alis yang nampak mengernyit pada kedekatan Sehun dan Baekhyun. Sedangkan Chanyeol masih disana dengan tatapan penuh tanya dan decihan pada Sehun yang memeluk smurf'nya.

Perlahan Chanyeol berdiri dan berjalan mendekat pada dua orang yang tengah berpelukan.

"Baekhyun, apa kau sudah meminum pil yang ada di nakas?" Chanyeol bertanya sambil mengecek suhu badan si mungil dengan punggung tangannya di dahi Baekhyun.

Baekhyun merona karenanya, dan ia hanya mengangguk menjawabnya. Kris lalu muncul diantara mereka dan menatap intens pada si mungil.

"Apa kabarmu baik saja? Apa kau perlu bantuan untuk menyelesaikan soal?" Kris menanyainya dan mengusak rambut Baekhyun sampai terlihat lebih berantakan dari sebelumnya. Baekhyun hanya kebingungan sambil mengangguk dan menggelengkan kepala.

Ketiga laki-laki tinggi itu lalu saling menatap tajam pada masing-masing saat Nayeon berjalan mendekat dan mendorong Kris dan Sehun menjauh untuk mendekat pada Baekhyun.

"Bagaimana kabarmu Baekhyun ssi?" Nayeon tersenyum, tapi terlihat tidak tulus.

"Ba…baik. Terimakasih sudah menanyakan." Baekhyun berkata pelan.

Menatap kumpulan orang yang menatap padanya membuat Baekhyun merasa gugup, bayangkan saja tatapan mereka semua tertuju padanya—dan parahnya lagi saat perutnya berbunyi keras karena lapar.

Baekhyun merona parah saat Chanyeol berjalan kearah dapur sementara Kris mengambil apron, dan Sehun mengikuti mereka berdua seperti anak anjing yang kehilangan induknya sambil mengambil beberapa sayuran yang mungkin dibutuhkan.

.

.

Nayeon memberi kode pada Baekhyun untuk bicara berdua, kemudian keduanya duduk di kursi kulit.

"Baekhyun, aku butuh bantuanmu. Apa yang disukai Chanyeol?" Nayeon tiba-tiba bertanya padanya.

"Nama panggilan? Dan memainkan rambutnya?" Baekhyun menjawabnya dengan sangat pelan.

Sambil mereka mengobrol, Nayeon tidak lupa mengucapkan terima kasih padanya dan tersenyum sangat lebar saat membujuk Baekhyun untuk menjawab pertanyaannya. Ini membuat si brunet merasa sedikit lega kalau ia nanti berakhir untuk melepas Chanyeol.

Sehun lalu menarik Baekhyun kearah meja makan dimana makanan sudah disiapkan. Nasi, ayam asam manis, udang goreng, sayuran tumis, beberapa macam buah-buahan, daging, dan tomat panggang dengan sup kentang. Baekhyun lalu duduk disana dan mulai memakan makanan itu dari sedikit gigitan sampai ia tidak sabar lagi dan memenuhi mulutnya dengan makanan disana. Chanyeol, Sehun dan Kris hanya mengamatinya dan sesekali mengusap bibirnya yang belepotan.

Nayeon menyadari hal ini, ia lalu dengan sengaja memakan makanannya dengan sedikit berantakan dan membuat noda makanan di sekitar bibirnya. Tapi Chanyeol bahkan tidak sekalipun menoleh ke arahnya, sedangkan tiga manusia tinggi disana malah terus menatap setiap inci pergerakan Baekhyun.

Saat Baekhyun melihat bibir Nayeon, ia langsung mengambil sapu tangan dan mengusap noda di sekitarnya—yang mana membuat ketiga manusia tinggi disana terbakar cemburu. Baekhyun kembali melanjutkan makannya saat Nayeon menatapnya sambil mengulum pipi dalamnya.

.

.

Setelah sarapan di jam menjelang makan siang selesai, Baekhyun langsung menata peralatan disana yang kotor sementara tiga manusia tinggi di belakangnya bersiap menawari sabun dan kain lap kering.

Sehun berniat meletakkan tangannya diatas tangan Baekhyun, Kris terlebih dulu menggelitikinya dan Chanyeol berusaha keras untuk melingkarkan lengannya di bahu Baekhyun dengan Sehun yang terus menampik tangan Chanyeol.

Dalam kekacauan yang mereka lakukan, Kris memutuskan untuk mendekatkan wajahnya pada perpotongan leher Baekhyun sebelum Chanyeol menendang tulang keringnya. Mereka bertiga bersiap untuk saling menyerang saat Baekhyun akhirnya berbalik dan membeku di tempatnya.

"Apa kalian baik-baik saja?" Baekhyun bertanya khawatir sambil menatap ketiganya yang dengan canggung. Mereka menurunkan kepalan tangan mereka dan langsung saling merangkul masing-masing layaknya teman yang sangat akrab.

"Yaa kami baik-baik saja. Hanya pelukan persahabatan." Mereka menjawabnya dan saling mengangguk membenarkan. Sehun dan Kris terlihat terkejut dengan perhatian yang ditunjukkan oleh bos mereka pada si brunet—bukankah dia berusaha melupakannya.

.

.

"Oppa…" Nayeon memanggil dengan aegyo'nya dan menarik Chanyeol menjauh dari sana.

"What?" Chanyeol menanyainya dengan nada kesal.

"Channie, kau sangat menggemaskan!" Nayeon melonjak dan memainkan rambut Chanyeol dengan jarinya.

"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol menggeram dan mencoba untuk menahan kemarahannya saat ia menyingkirkan tangan Nayeon dari rambutnya.

"Tapi Channie…" Nayeon mempoutkan bibirnya dengan lengan yang masih merangkul Chanyeol.

" . .itu." Chanyeol berkata tenang dengan suara rendahnya, dan nampaknya Nayeon paham dengan maksud nada itu saat ia perlahan melepaskan rangkulannya dan tidak mencoba untuk membuat Chanyeol makin marah.

Tidak ingin diganggu lagi, Chanyeol lalu memutuskan untuk mandi untuk menenangkan amarahnya.

"Aku bosan…" Sehun memprotes setelah mencuci bertiga.

"Apa kau ingin bermain petak umpet?" Baekhyun menyarankan.

"Ok!" Sehun menyetujuinya.

"Ayo kita buat ini makin menarik dengan memakai penutup mata." Kris tiba-tiba muncul dan mengusulkan.

"Siapa yang mau berjaga?" Baekhyun menanyai mereka.

.

.

.

"Gunting, Batu, Kertas!" ketiganya mengulurkan tangannya dan semuanya menampilkan sisi tangan yang sama. Nayeon hanya duduk di dapur sambil membenahi kuku-kukunya karena ia sama sekali tidak tertarik dengan permainan kekanakan.

Kris dan Sehun akhirnya mengeluarkan kode batu sedangkan Baekhyun gunting. Maka Baekhyunlah yang akan berjaga dan mencari mereka—dengan maa tertutup.

Sehun dengan pelan menutup mata Baekhyun, memastikan kembali kalau penutupnya tidak terlalu kencang dan nyaman sebelum ia menekan pipi si mungil yang mana langsung ditampik oleh Baekhyun. Sehun langsung saja melarikan diri setelahnya.

Awalnya BAekhyun mencoba untuk terbiasa dengan sekitarnya dan mulai berjalan dengan tangannya menggapai kedepan seperti zombie.

Saat Baekhyun hampir saja menubruk perabotan disana, Sehun atau Kris akan memberinya peringatan dan Baekhyun akan perlahan meraba benda di depannya.

Chanyeol kembali ke lantai bawah lebih tepatnya ke ruang tengah setelah ia selesai mandi, tak disangkanya ia menemukan tiga orang disana dengan posisi aneh.

Sehun yang berada di atas meja kaca sambil menyeimbangkan tubuhnya, sementara Kris tengah bersandar di daun pitu dengan kaca mata bertengger di pangkal hidungnya. Saat ia masuk lebih dalam, ia akhirnya menemukan Baekhyun yang berjalan menuju ke arahnya.

Sesaat setelah Baekhyun merasakan kain baju di tangannya, ia langsung tersenyum lebar sebelum memeluk orang itu dan berteriak,

"Kena kau."

Chanyeol perlahan melepas penutup matanya dan Baekhyun menanyainya,

"Kau Sehun atau Kris?"

Akhirnya kain penutup matanya jatuh dan Baekhyun berkedip menyesuaiikan cahaya yang masuk sebelum ia mendongak dan menemukan Chanyeol disana.

Menyadari pelukannya yang cukup erat, ia lalu melepaskan pelukan itu dan menjauh dari si giant. Chanyeol masih merasakan pelukan itu dan dalam hati ia tersenyum. Ia ingin pelukan erat si mungil di tubuhnya lagi.

"Baekhyun akan berjaga lagi." Chanyeol mengumumkan dan Baekhyun menggerutu padanya.

"Tapi kenapa?" Baekhyun memprotes.

"Karena aku ikut bermain." Chanyeol menjawabnya dan langsung menutup mata si mungil lagi.

.

.

Sambil menggerutu, Baekhyun berjalan dengan mata terpejam di sekitar situ dan mendengar kekehan pelan dari samping kirinya. Dengan cepat ia langsung menggapaikan tangannya dan mempout saat ia hanya berhasil meraih udara kosong.

Sebuah gesekan sesuatu yang lembut terasa di sekitar wajahnya dan selanjutnya ia mendengar seseorang berteriak,

"Yah Chanyeol! Tidak boleh ada kontak intim! Dan tidak boleh berciuman!"

Ia merasakan sebuah cubitan di pipi kirinya, dan lagi-lagi dia menggapai udara kosong lagi.

"Yah Sehun!" Baekhyun menggeram marah setelah ia mendengar kikikan kekanakan. Ia berusaha menampik orang itu, tapi tidak sengaja ia terjembab kakinya sendiri dan jatuh di karpet lantai.

"Oooof!" Baekhyun mengerang. Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar makin mendekat dan Baekhyun tersenyum puas sebelum melompat pada ketiga orang itu. Ia lalu menarik penutup matanya dan tersenyum senang.

"Yeaah… aku menang."

Bukannya mendengar gelak tawa dari ketiganya, mereka semua malah memarahinya untuk lebih berhati-hati dan mengomelinya.

Mereka menganggap dirinya seolah kaca dan memutuskan untuk tidak memainkan permainan ini lagi—yang mana si brunet langsung menanyai mereka alasannya.

Baekhyun merasa sangat bingung akan hal itu, ia lalu memutuskan untuk mengambil segelas jus jeruk dan mengobati kering tenggorokannya karena kelelahan

To Be Continued…

.

.

.

T/N

Selamat Siang Dearriss…

Kangen sama transfic ini nggak? Ehehe setelah nunggu dua minggu baru bisa up. RL aku padat banget dear dan baru sempet jamah ini.

Gimana chapter ini? Panjang kan? Fluffy kan? Chanbaek gemesiiin! Iya. :)))

Selamat weekend buat kalian semua^^

See you in the next parts…

.

.

.

#lovesign