Aiyaiyai! Menembus chapter 25 dan menembus 100.000 kata plus 400 review! I love you sooo much, reader, reviewer!

Disclaimer: I don't have Naruto and Naruto belongs to Masashi Kishimoto.


Kantor Hokage, Konoha.

Mengelilingi meja besar tersebut, banyak orang dengan perawakan dan pakaian serta wajah yang berbeda ada di ruangan besar itu. Mereka memiliki ciri pakaian yang berbeda. Ada yang seperti memakai gamis, hingga memakai kaos oblong.

Sebuah kilatan muncul dari belakang kerumunan. "Maaf menunggu." yap itu Naruto. Dia muncul lalu membenarkan jubahnya yang agak miring.

"Tuan Hokage.." gumam seorang perempuan dengan pakaian yang menunjukkan ciri khas Iwagakure. Perempuan itu seperti sepantaran Naruto tetapi mungkin dia lebih tua sedikit. Dia Kurotsuchi dari Iwagakure.

"T-tuan H-Hokage.." kali ini seorang lelaki berambut putih pendek dengan kacamata yang berbicara kepadanya. Dia terlihat seperti versi lelakinya Hinata. Dia Choujuurou dari Kirigakure

"Ah! Tuan Hokage.." sekarang adalah lelaki dengan kulit hitam dan rambut krem. Secara mental dia adalah orang yang pemalas dan mesum seperti Kakashi, dia Darui dari Kumogakure.

"Tuan Hokage.." suara yang berbeda terus menyambutnya. Semuanya berbicara dengan nada berterimakasih atau setidaknya mereka membungkuk.

Naruto hanya menggaruk kepalanya. Ia benci formalitas. "H-hei! Ada apa dengan sikap kalian yang membungkuk terus-terusan? Kalian tidak perlu membungkuk. Memangnya apa yang sudah aku lakukan?" Naruto memang tidak pernah mengerti.

Semua orang yang hadir disitu tidak mengerti sikap Hokage yang bisa dibilang asal-asalan. Mereka kembali berdiri tegak dengan pemikiran sendiri-sendiri. "Oh! Dimana sopan santunku! Tenzou!" Naruto memanggil Tenzou alias Kakatua dan ia datang tak lama kemudian. "Beri mereka tempat duduk, tolong."

Tenzou mengangguk. Mereka bingung, tapi beberapa diantaranya diam biasa saja. "Mokuton!" jadilah beberapa tempat duduk yang terbuat dari kayu. Tahu tugasnya selesai, dia langsung pergi kembali menghilang.

Ah iya, Tenzou si Mokuton. Aku ingat dia. Darui ingat dia. Karena, dialah yang menyelamatkannya dari Sengoku no Hakaba setelah selesai perang.

Tentu Konoha penuh ninja dengan kekuatan yang luar biasa hebatnya. Kurotsuchi berpikir dengan pujian untuk Konoha. Iwa memang hebat, tapi ia harus menyadarinya bahwa Konoha beberapa langkah lebih maju darinya.

Hokage menggerakkan tangannya, menyuruh setiap orang untuk duduk ditempat yang telah disediakan. "Um.. Yah aku minta maaf sebelumnya, tetapi aku rasa aku perlu mengumpulkan kalian semuanya untuk beberapa hal."

Mereka semua mengangguk. Mereka sadar Hokage sangat baik, bahkan terlalu baik. Para pemimpin ini belum menemui Hokage untuk izin mengungsi, ternyata Hokage bahkan langsung membuatkan pengungsian di luar Konoha.

Tazuna berada ditengah-tengah kumpulan perwakilan dari tiap desa dan negara. Dia sendiri malu kepada dirinya sendiri. Nami no Kuni bergantung sekitar 70 persen dari kebutuhannya kepada Mizu no Kuni. Jadi dia tidak ada pilihan lain selain ikut meninggalkan Nami no Kuni dan menuju Konoha ketika ia mendengar berita Mizu no Kuni diinvasi.

Dia sempat dikontak Kakashi via jaringan Ne. Dia sempat berpikir untuk membangun kamp pengungsian ketika ia sampai, namun itu berbalik kenyataan bahwa ternyata Hokage hanya menyuruh Tenzou untuk langsung membuat bangunan bagi pengungsi.

Anak ini.. Tidak pernah sekalipun lupa, pikir si Tazuna. Ia ingat sekali peristiwa yang bertahun lalu.

Dan oh kita juga melihat banyak wajah yang tidak asing. Oboro dipilih mewakili negara Samurai yang juga ternyata diinvasi Orochimaru. Ada juga Shizuka dari Nadeshikogakure, Shion dari Oni no Kuni dan beberapa perwakilan.

"Kami yang sebenarnya seharusnya datang kepada anda tuan." kata Kurotsuchi membalas pernyataan Naruto yang dikatakan saat gugup.

"Ah?"

Tazuna mengangkat bahunya setuju. "Itu benar."

"Tuan, apa yang anda lakukan adalah sesuatu yang sangat berlebihan. Kami datang mencari pengungsian. Dan kami tidak sempat berpikiran bahwa anda akan melakukannya sejauh ini. Maksudku, kami belum menemui anda dan anda bahkan terlihat belum menyetujui kehadiran kami, tetapi kami seolah diperlakukan seperti raja." lanjut Darui. Semua orang selain Hokage mengangguk.

"Tidak apa Darui. Aku tahu kalian mencari pengungsian disini. Ini setidaknya yang masih bisa aku lakukan untuk Aliansi." balas Naruto.

"Tapi ini sungguh berlebihan. Kami bisa saja mendirikan tenda untuk sementara, tuan." ia membalas lagi. Sedikit naif memang Darui, tetapi yah ia mencoba mempertahankan kehormatan Kumo.

Hokage tertawa kecil untuk sesaat. "Haha, ini Aliansi, Darui. Semua sederajat dan sama dan akan mendapat perlakuan yang sama meski bukan rakyat Konoha, percayalah!" responnya sedikit menyeringai ke arah perwakilan Kumo.

Sekarang aku mengerti kenapa kakek dan Kage lain menghormatinya, pikir perwakilan dari Iwagakure. Ia tersenyum singkat, begitu juga perwakilan lain.

Darui menghela napasnya dan harus mengakui dia tidak bisa menolak pemberian Hokage saat ini, karena ia tidak punya pilihan lain selain tinggal di Konoha demi kelangsungan rakyat Kumo.

"T-tuan, Kiri j-juga menyampaikan rasa terima kasihnya juga kepada anda." terdengar seperti Hinata, Choujuurou bergabung dalam konversasi.

"Kiri dan Konoha berteman sejak lama sejak perang saudar berakhir, dan Kiri sudah banyak melakukan banyak hal untuk Konoha, mungkin sekarang saatnya Konoha membalasnya." kata Hokage ini dengan santun.

Choujuurou tidak bisa berkata apa-apa selain tersenyum mendengar sang Hokage begitu baik. Aku harap nona Mei ada disini dan melihat kebaikannya, pikirnya sedikit sedih. Tunggu! Memangnya Mei kemana sekarang?! Apa ini termasuk yang ada disurat kalau Mizukage bahkan berlutut?

"Jadi tuan, apa yang anda ingin sampaikan?" balas lelaki botak dengan tato disekitar wajahnya. Dia adalah Oboro, seorang samurai.

Naruto melihat ke para perwakilan. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan desa kalian? Apakah ini ada hubungannya dengan Orochimaru?" tanyanya tajam.

Darui meremas leher belakangnya sendiri, sedangkan Kurotsuchi mengepalkan tangannya. Shizuka dan Shion malah menoleh menjauh dan memilih tidak mengambil tatapan apapun ke arah Naruto. Naruto tahu saat ini bahwa Orochimaru memang serius dan sudah bergerak.

Naruto kemudian menolehkan kepalanya ke arah pria yang cukup tinggi didepannya. "Kau pasti Hoshigakure, kan?" tanyanya. "Dan kau dari Takigakure, Kusagakure, Amegakure, Yugakure. Apa aku benar?" ia bertanya secara beruntun ke utusan empat desa kecil lainnya.

"Benar." balas mereka berlima bersamaan.

"Mungkin kalian akan menjawab pertanyaanku?" ia bertanya sedikit dingin. Naruto memilih menghindari bertanya ke arah Choujuurou, Darui dan Kurotsuchi.

Kelima orang itu menelan ludahnya. Sepertinya ia terlalu takut untuk mengatakannya. Sepertinya memang sesuatu yang buruk sudah terjadi.

Naruto sudah bisa menangkap atmosfirnya, seperti ia bisa mengerti apa yang sudah dan sebenarnya terjadi. Gigi Naruto yang saling bergesekan mulai membuat suara yang mengerinyit dan tangannya mengepal dengan keras. Perlahan matanya ingin berubah merah tetapi ia mencoba menenangkan dirinya untuk saat ini.

"Nak, tenangkan dirimu. Kita tidak perlu masuk ke mode Bijuu karena hanya kemarahanmu kepada Ular itu." suara Bijuu terkuat mulai terngiang dikepalanya. Kurama juga sebenarnya kesal dan lebih kesal kepada Orochimaru dibandingkan Madara.

"Lihat mereka Kurama, perasaan negatif ini begitu kuat! Orochimaru sudah keterlaluan!" ya, Naruto bisa merasakan negatif semenjak dia mengendalikan Bijuu ekor sembilan itu. Naruto yang benar-benar kesal rasanya ingin melakukan tepukan tangan yang membentuk segel lalu pergi ke Otogakure dan membelek leher Sennin Ular itu.

Kurama juga kesal, tapi mau apa lagi. Dia tahu ini adalah perang, dan dalam perang apapun bisa terjadi. Kelicikan dan kesadisan bisa terjadi kapan saja. Tentu saja Naruto memang punya Rinnegan tapi apa dia benar-benar tahu apa rencana dan strategi bahkan Rinnegan dari Orochimaru? Sepertinya tidak.

"Iya nak. Aku sudah tahu itu. Kau selalu membicarakan soal Orochimaru semenjak ia memberitahu identitasnya. Tapi dengarkan ini, 'Kemenangan bisa didapatkan bahkan hanya dengan menggunakan kesabaran'." kata si rubah besar sambil menyeringai.

"Apa maksudmu? Apa saranmu adalah menyuruhku diam dan bersabar membiarkan lebih banyak nyawa melayang lagi?" katanya mendengus.

"Masih belum mengerti konsep perang, Naruto?"

Naruto kembali mendengus dan kemudian diam. Dia ternyata masih belum mengerti konsep perang seperti yang dibilang rubah ekor sembilan. "Berhenti menjadi bijak, kembali dirimu yang sebelumnya dan kembali tidur! Aku masih punya urusan yang harus diselesaikan. Percakapan ini akan dilanjutkan nanti, sampai jumpa."

Kyuubi menyeringai lebar mendengarnya. Sebuah kalimat simpel bisa mempengaruhinya, haha. Tapi kenapa ya konsep itu tidak berpengaruh kalau istrinya yang berbicara? Pukulan akan lebih efektif, haha.. Terserahlah. Kyuubi secara mental tertawa namun secara fisik, didalam tubuh Naruto hanya menyeringai lebar. Sebenarnya ia mengutip kata-kata Yondaime Hokage.

Konsep perang huh? Dasar pengutip, dengan pikiran tenang, Naruto kembali ke alam nyata. Naruto benar-benar belajar sabar sepertinya.

"Tuan Hokage!" teriak Darui. Darui sepertinya berusaha menyadarkannya dari konversasi alam bawah sadarnya.

Mata Naruto yang kehilangan fokus mulai kembali aktif mencari sumber suara. "H-huh? Maaf ada sedikit perbincangan sedikit didalam sini." ia menunjuk kepalanya, lebih tepat otaknya. Ia tertawa sedikit dan semua orang menghela napasnya lega. Mereka pikir sang Hokage marah karena 5 perwakilan tidak mau menjawab pertanyaannya.

"Mengenai pertanyaan tadi, aku rasa sebaiknya dilupakan saja. Aku tahu ini pasti ada hubungannya dengan Orochimaru. Aku tidak ingin memaksa kalian, tapi aku akan bertanya satu hal kepada kalian." seisi ruangan senyap. "Apa yang terjadi kepada Kage kalian?"


Tim Penyergap dan Pengejar, Hi no Kuni.

"Kiba, sebenarnya siapa yang sedang kejar?" tanya seorang perempuan dengan mata putih. Disekitar matanya terbentuk guratan urat yang mengelilingi matanya.

"Aku tidak tahu. Dia hanya memberitahu perawakannya saja. Tapi kan bisa saja perawakan itu hanya Henge." katanya sambil meloncat dari pohon ke pohon lainnya. Akamaru disampingnya hanya mengikutinya terus dan 8 anggota lainnya juga mengikuti Kiba.

"Jadi kita akan pergi ke arah Kiri tanpa tahu siapa target kita?" tanya Hinata balik. Seperti Neji, pikirannya sekarang semakin analitik. Ia sekarang mengerti mana yang tidak jelas mana yang jelas.

"Santai sedikit, Hinata. Perang bahkan belum mulai, dan orang ini memegang informasi dan mengetahui tempat dimana Daimyou diungsikan. Jika informasi ini sampai ke tangan Orochimaru bisa-bisa ia menyerang tempat itu dan merusak kestabilan Hi no Kuni." balasnya dan Akamaru menggonggong setuju.

Hinata menunduk dan wajahnya menggelap. "Kau kenapa Hinata? Rasanya semenjak kita keluar dari rumah dan ke markas divisi, kau sepertinya dingin-dingin saja." tanya Kiba dengan kekhawatiran besar diwajahnya.

"Apa iya?" tanya Hinata balik pura-pura bodoh. Padahal didalam hatinya, aku akhirnya memasuki medan pertempuran. Apa perasaan ini? Aku merasa seperti akan kehilangan seseorang. Apa itu Kiba? Apa itu Akamaru? Ia bertanya dalam hatinya. Dia jelas khawatir soal Kiba.

Pandangan khawatir Kiba tiba-tiba berubah ketika penciumannya menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan. "Ah! Ketemu!"

Semua orang dikelompok itu berhenti ketika Hinata mengepalkan tangan dan diangkat tangannya ke udara. "A-apa kau menemukan sesuatu?"

Kiba mengendus begitu juga Akamaru. "Aku merasakan ada jejak baru. Tak jauh dari kita dan jaraknya mungkin sekitar 3 kilometer atau lebih. Dan arah jejak ini lurus dari rumah pengungsian Daimyou menuju Kiri, seperti yang dikatakan."

Hinata mengangguk. Matanya yang sempat kembali normal, kembali menunjukkan putih yang sesungguhnya. "Byakugan!" matanya mulai menyusuri jejak itu kembali. Sekitar 3 kilometer terus ia melihat dengan matanya.

"Bagaimana Hinata?" Kiba bertanya saat Hinata sedang serius, jadi tidak mendapatkan jawaban dari istrinya.

Tiba-tiba wajah Hinata terangkat sepenuhnya. "Itu dia!" Hinata sepertinya menemukan sosok yang mereka cari sekarang.

"Ketemu?"

Hinata menganggukkan kepalanya. "Ya. Satu orang dengan Tenketsu yang normal dan satu lagi orang dengan Tenketsu yang terpusat."

"Terpusat? Apa maksud anda.." kali ini yang menambahkan adalah salah satu anggota dari penyergapan itu.

Kiba dan Hinata mengangguk bersamaan. "Tidak salah lagi, Edo Tensei." kata Kiba memperjelas penglihatan Hinata. "Apa kau bisa melihat mereka sedang apa? Maksudku apa mereka sedang bertarung atau apa?"

"Aku tidak melihat pertarungan disini. Aku rasa mereka Edo Tensei itu sedang berbicara satu sama lain dan sedang merencanakan sesuatu." Hinata lalu mengerutkan kepalanya. "Kiba, apa penyusup di tempat Daimyou itu Edo Tensei atau bukan?"

Kiba menggelengkan kepalanya. Dia diberitahu bahwa peng-Henge itu bukan Edo Tensei, karena Henge mau bagaimana pun caranya, matanya akan tetap hitam dengan kornea kuning. "Bukan." lalu Kiba mencoba merubah topik. "Bisa kau beritahu ciri-ciri Edo Tensei ini?"

"Um.. Orang ini terlihat botak." katanya. Byakugan tidak bisa melihat lebih, karena jika aktif, yang bisa ia lihat hanyalah warna putih dan hitam.

"Itu saja yang bisa kau lihat?" Hinata mengangguk. Kiba mulai mengangkat tangannya lagi. "Ayo anak-anak, kita tidak boleh membuang waktu disini." kedelapan anggota itu mengangguk sedikit ragu namun langsung bergerak. Kiba menepuk pundak Hinata. "Ayo Hinata!"

"Oh, dan kau proksi, beritahu markas pusat tentang hal ini!" kata Kiba kepada seorang Yamanaka.

Aku punya perasaan buruk mengenai ini semua.


Tiga kilometer dari perbatasan Nami no Kuni dengan Hi no Kuni.

Divisi 03 setidaknya sudah sampai di front utamanya, front Kirigakure. Nami no Kuni berada diluar perbatasan Hi no Kuni, jadi tepat sekali untuk membuat basis diluar tempat yang akan jadi zona perang, sebentar lagi.

"Dengarkan aku. Kita akan membangun basis disini. Bagi semua yang memiliki kompetensi di elemen tanah silahkan bantu buatkan setidaknya bangunan sementara untuk bantuan dari divisi medis dan logistik." beberapa orang mengangguk, mendengar perkataan Kakashi. Sepertinya itu adalah orang yang hebat dalam elemen tanah.

"Lalu Sensor?"

Sekitar 25 orang mengangkat tangan dan dengan gagah menegaskan kehadirannya.

"Buatlah sistem persepsi disekitar basis kita sekarang. Beri perimeter setidaknya satu setengah kilometer dari bangunan paling luar dibasis ini, dan coba buat sistem persepsi ini terhubung ke pusat agar pusat Sensor di Konoha bisa memonitor basis kita." Kakashi berkata dengan santai namun serius.

Para Sensor mengangguk, lalu Kakashi melanjutkan perintahnya lagi. "Adakah Yamanaka atau Nara disini?"

Beberapa orang berambut nanas dan berambut pirang mengangkat tangannya. "Hm, aku minta satu Nara dan satu Yamanaka."

"Biar aku wakilkan dari Nara." setelah banyak bisik membisik antar sesama Nara, seorang Nara berjalan mendekat ke Kakashi.

"Dan tentu aku akan mewakilkan Yamanaka." lelaki pirang dengan rambut ekor kuda berjalan santai melewati kerumunan pasukan menuju Kakashi.

Kakashi hanya mengerutkan dahinya. "Simpel saja, Nara akan membantuku dalam strategi dan mengatur proksi dalam pasukan, sedang kau Yamanaka, harus membuat kita terus terhubung dengan markas pusat di Konoha."

Kakashi lalu merogoh kantong belakangnya sambil melanjutkan berbicara, "kemudian aku mau ada Kekkai (AN: Kekkai itu semacam pelindung atau bahasa Inggrisnya, barrier) kamuflasi sederhana u tuk melindungi keberadaan basis ini. Itu tugas untuk yang hebat dalam Kekkai Ninjutsu."

Masih merogoh kantongnya, ia menaikkan satu jarinya. "Kalian bagi yang hebat dalam Fuuinjutsu, kerja kalian mudah saja." beberapa orang yang dilihat hebat dalam Fuuinjutsu menelen ludah mereka. "Buat segel sederhana untuk menetralisir kekuatan Edo Tensei, daannn buatlah beberapa segel gravitasi sederhana."

Mata Kakashi seketika berkedut saat merasakan sesuatu yang dicari tangannya, akhirnya ketemu. Ia mengeluarkan barang itu, dan itu jelas sekali.. Icha Icha Paradise! "Ah, oh ya aku ingin semuanya selesai dalam tiga jam dan kembali kemari untuk pembagian tim, bubar."

1.500 orang berloncatan. Beberapa berjalan santai dan langsung melakukan beberapa segel sederhana untuk membuat bangunan dari tanah. "Doton: Sekisei Kekkou no Jutsu!" bangunan sebesar rumah biasa keluar dari dalam tanah. Beberapa ada yang menggunakan, Doton: Dosankakkei no Jutsu untuk membuat tenda sederhana untuk Shinobi lain agar tidak mengahabiskan banyak tempat.

Sementara beberapa Shinobi lain membuat Kekkai. "Kekkai: Meisai Engai!" Shinobi itu menepuk tangannya lalu selubung transparan menyelubungi basis itu. Dan beberapa yang lain mencoba untuk membuat sistem persepsi standar.

"Kanchi Shisutemu no Jutsu!"

Berbagai suara Shinobi meneriakkan suaranya masing-masing untuk mempersiapkan basis untuk divisi untuk jarak jauh itu.

"Hm, hidup tidak bisa lebih baik lagi, hah?" gumam Kakashi sambil membaca potongan skrip Icha Icha tanpa merona wajahnya. "Hm?"


Rumah Sakit, Konoha.

"Sakuraaaa..." Naruto berjalan melewati koridor. Ia melihat banyak orang sedang menyibukkan diri dengan perkerjaannya masing-masing. Beberapa ia melihat bunga opium dibawa kesana kemari. Ia juga melihat beberapa kantung yang juga dibawa beberapa pekerja rumah sakit yang berisi Penicilin.

Naruto berjalan semakin dalam menuju koridor. Ia akhirnya berhenti disatu titik, ruang kepala rumah sakit Konoha, Namikaze Uzumaki Sakura.

Ia membuka pintu kayu tersebut. Pemandangan seperti biasa dimejanya, laporan bertumpuk dan seorang asisten, tetapi bukan Shizune.

Sakura yang sedang terlihat membicarakan sebuah dokumen, tidak membiarkan perhatiannya teralih begitu saja ke arah Naruto. Ia langsung melanjutkan pembicaraannya dengan asistennya dan menganggap Naruto sebagai angin lewat.

"Sakura! Bagaimana rumah sakit?" Naruto bertanya dalam nada kekanak-kanakan.

Asistennya membungkuk mengetahui ada sosok besar didekatnya. "Tuan Hokage."

Mata Sakura sedikit berkedut. "Sudah jangan pedulikan dia."

Naruto merasa dirinya tertusuk pisau besar. Asisten Sakura tertawa kecil mendengarnya. "Terlalu bersemangat, Sakura?"

Sakura melepaskan napasnya yang berat untuk sesaat. "Huh." ia membalikkan tubuhnya ke arah asistennya dan meminta asistennya untuk pergi sesaat. "Aku masih meminta persediaan stok darah dan beberapa tumbuhan herbal lain, oke?"

Asisten itu mengangguk, membungkuk, lalu pergi. "Oke, untuk apa kau disini?"

Naruto tersenyum tipis melihat kelakuan istrinya yang kadang terbakar semangatnya seperti Naruto. "Menikmati kehidupanmu sebagai ketua divisi?" tanyanya tertawa.

Sakura mengelus dahinya dan kembali mendesah. "Hm, begitulah. Persiapan medis harus tinggi dalam perang ini, harusnya kau tahu itu."

Sakura duduk dikursi berputarnya dan Naruto berjalan ke arahnya. "B-bagaimana kehamilanmu, apa semua kerja keras ini membuatmu terlalu lelah?"

Sakura menggelengkan kepalanya. "Jangan terlalu khawatir. Aku cukup berpengalaman dengan kehamilan orang lain. Sekarang dengan pengalaman, aku rasa dengan kehamilan sendiri, itu tidak jadi masalah."

Naruto mengangkat alisnya dan dahinya berkerut. "Apa kau yakin?"

Dahi Sakura bahkan lebih mengerut. "Kau sendiri yang memberiku posisi ini, Naruto. Bagaimana juga kau bisa berkata seperti itu setelah kau memberikanku posis yang besar seperti ini? Atau kau mencoba menggantikanku dengan orang lain?"

S-Sakura cepat sekali menangkap niatku, ia tergugup mendengar prediksi Sakura yang ternyata benar. "Uh.. Um.." Naruto memainkan jari jemarinya seperti Hinata dulu saat ia masih pemalu. Naruto mengerucutkan mulutnya.

Sakura menatapnya tajam. "Apa kau tidak percaya denganku?"

Naruto tidak tersenyum, ia terpojok oleh pertanyaan istrinya. "Ah? Oh? Tidak! Apa aku pernah bilang seprrti itu?"

"Mungkin kau akan bilang?" tanya Sakura masih menatapnya tajam.

"S-Sakura.."

"Apa sebenarnya aku untuk divisi ini? Hanya untuk pengimplementasian bahwa kau menyatakan aku akan menjadi kepala divisi medis di depan tetua?"

Mata Naruto membesar pupilnya. "Kau mendengar semuanya? Semuanya yang aku bicarakan dengan nenek di lobby tadi?" tanya Naruto dengan wajah yang tertunduk hingga 90 persen wajahnya menggelap total.

"Semuanya, detail dan jelas."

Naruto tidak menggerakkan kepalanya sama sekali. "Kalau begitu, kau mau memberikan posisi itu kepada nona Tsunade?"

Sakura diam dan Naruto diam. Kesenyapan menutupi suasana ruangan kepala rumah sakit di Konoha. Matahari cahayanya masuk sedikit melalui jendela dengan tirai plastik. Partikel debu kecil terlihat berterbangan disekitara tempat itu.

"Aku.."

"Naruto, bisakah? Aku hanya ingin melakukan ini."

"Ah?"

"Saat aku mengetahui aku akan mendapat posisi ini, aku senang. Setidaknya aku bisa dekat denganmu dengan posisi setinggi ini dan membuktikan bahwa aku bukan orang yang tidak berguna sama seperti dulu." katanya sambil menunduk.

"Jangan katakan itu!"

"A-apa?" Sakura terkaget dengan sikap Naruto yang tiba-tiba berubah. Naruto berkeringat namun dengan tangan yang mengepal.

"Jangan bilang kau tidak berguna! Kau menunjukkan dirimu sangat berguna saat perang kemarin!"

"Lalu bagaimana kalau sekarang? Aku juga harus menunjukkan bahwa aku berguna. Kau juga bilang di pertemuan sebelumnya, kalau ada aku kau pasti tenang. Apa itu semua hanya kebohongan belaka dan semua itu hanya untuk memberi bukti kepada tetua bahwa aku benar-benar masuk ke divisi medis? Dan juga aku adalah pilihan tepat, jika dibanding nona Tsunade yang sudah-"

"Ayolah Sakura! Aku mohon! Untuk masa depan kita! Untuk hidup anak kita!" ia menundukkan wajahnya tidak mau menghadapi wajah istrinya. "Perang ini dan niatmu untuk aborsi sudah cukup menakutiku."

"Tapi Naruto-"

"Aku harus mengakuinya, saat Shikamaru menyarankanku agar kau dimasukkan ke dalam divisi, dia berhasil mengesankanku dan meyakinkanku, tapi jika terus begini aku juga khawatir, Sakura! Kau tidak tahu, aku ingin sekali punya keluarga dan aku tidak mau semua itu hancur!"

"Tapi kau juga akan hancur kalau aku tidak membantumu, lagi pula aku ini-"

"Jangan bilang kau cukup kuat! Aku tahu kau sangat kuat, tapi tolong sekarang, kau harus mundur Sakura. Biarkan nenek Tsunade mengambil posisimu. Kau hamil."

Wajah Sakura tersenyum sedikit. Naruto terdiam dan Sakura tersenyum. Ia merasakan keheningan, sesuatu pasti terjadi. Jadi sang Hokage mengangkat kepalanya. Ia melihat senyum termanis dan terindah yang pernah ada.

"Aku tahu aku hamil dan rasanya chakraku terbagi dua dengan Minashi." mata Naruto terbelalak lebar mendengar nama anaknya kelak.

"S-Sakura."

"Kita tidak bisa egois juga, kan? Nona Tsunade sudah melewati tiga perang besar, dan kau membuatnya untuk kembali merasakan pahitnya perang? Nama panggilan untuk 3 Sannin adalah kutukan, kehilangan Dan dan adiknya Nawaki saat perang adalah musibah. Kenapa juga kau mau memberikan posisi yang traumatis kepadanya? Orochimaru masih dianggap teman baginya bagaimana pun juga."

Naruto memikirkan apa yang dikatakan Sakura tadi. "Kesalahan Orochimaru adalah kesalahanku juga. Dia temanku, dulu dan sekarang sebenarnya aku masih menganggapnya teman. Seberubah apapunnya dia, dia tetap temanku. Jadi aku minta maaf, Naruto." kata-kata Tsunade masih terngiang tentang Orochimaru sebagai temannya.

"Aku lebih mengenal dia dari padamu. Mungkin kau hanya mengenalnya sebagai nenek, atau Godaime Hokage alias seniormu. Jauh didalam hatinya, dia kesal dan dia juga masih bermimpi soal apa yang dikatakan oleh tuan Jiraiya."

"Aku kalah.."

"?"

"Aku selalu kalah dalam berargumen denganmu."

Sakura kembali ternyum mendengarnya. "Tidak, tidak, kau menang dalam argumen sebelumnya soal niatku untuk aborsi dan kau berhasil meyakinkanku."

"Kalau begitu bisa kau mengalah untuk saat ini?" tanya Naruto kecut. Ia masih bersikeras ingin Sakura keluar dari ide bodohnya sebelumnya karena membawa namanya ke pertemuan tetua serta opsi Shikamaru yang membuatnya terpaksa harus memasukkannya ke divisi medis.

Sakura menaikkan alisnya sedikit. "Aku tidak akan mundur, Naruto. Dan aku tidak akan mengalah. Desa butuh segala usaha yang total agar bisa menang dalam perang ini dan-"

"Cukup hanya dengan diriku, Sakura. Perang ini akan aku menangkan sendiri. Aku akan datang disetiap medan pertempuran secara bersamaan. Dan aku pastikan desa tidak perlu mengeluarkan kekuatan total karena hanya aku yang akan mengeluarkan kekuatan total diperang ini."

Kedua rahang Sakura saling beradu. "Jangan bodoh! Kage sendiri tidak akan bisa menyelesaikan perang ini!"

"Lalu untuk apa ayahku dipanggil Konoha Kiiroi Senko?" Sakura mengepalkan tangannya, rasanya ingin menonjok Naruto diwajahnya. Tentu ia tahu kenapa 'mertua'nya dipanggil seperti itu. Jelas karena ia menghabisi pasukan Iwa dan Kumo hanya menggunakan Hiraishin.

"Kau bukan Namikaze Minato." gumam Sakura dalam nada yang sedikit kesal.

"Memang bukan, tetapi aku lebih hebat dari Namikaze Minato. Aku Namikaze Uzumaki Naruto, Rokudaime Hokage."

Sakura menghela napasnya dan atmosfer disekitarnya mulai melemah. "Masih bodoh dan ceroboh seperti dulu?"

Naruto malah tersenyum membalasnya. "Dan kau masih keras kepala seperti dulu."

"Siapa yang kau sebut keras kepala?"

Naruto mendengung dalam gumamannya. "Hm, mungkin sifatmu yang keras kepala akan Sasuke bisa mengingatkanmu?"

"Itu dulu."

Mungkin menggantinya dengan nenek bukan ide bagus, pikir Naruto sambil tersenyum. "..sebelum kau terpikat dengan karisma yang terpancar dari seorang Uzumaki, mungkin?"

Sakura kembali menutupi wajahnya yang sedikit kaget dengan kalimat itu. "Itu satu karisma yang sulit ditolak."

Naruto sedikit tersenyum dan berjalan pelan menuju Sakura. Jaketnya ia lepas dan ia taruh disebuah gantungan berdiri. "Oh ayolah, aku mau ucapkan selamat sore kepada bayi kecilku, Sakura."

Sakura memutar posisi duduknya kepada Naruto yang berjalan hingga memutar ke sisi kanan mejanya. "Silahkan." Naruto berlutut dan mendekatkan kepalanya, lebih tepat, telinganya dengan perut Sakura.

"Ini sangat luar biasa." Naruto mendengar detakan kecil dari dalam perut Sakura. Entah itu detakan Jantung atau apapun.

Kunoichi pink itu mengelus rambut Naruto sesekali sambil membiarkan suami mendengarkan suara dari dalam rahimnya. "Apa yang kau dengar?"

"Hmm, aku mendengar ada seorang anak lelaki sedang berlari kepadaku dan meminta belajar Rasengan lalu dia mengecat monumen Hokage dan dia bilang dia memiliki mimpi menjadi Hokage dan melampaui ayahnya." katanya menyeringai lalu tertawa.

Sakura sedikit tertawa mendengarnya. Naruto benar-benar senang dengan keadaannya saat ini. Hidupnya sangat beruntung sekali dengan adanya Sakura dan calon anak disisinya. "Apa dia minta Ramen? Mungkin Ramen Miso?"

Naruto mendehem dan mengangguk, keduanya tertawa. "Mhm.. Tunggu!" Sakura mulai tertawa sendiri.

Apa dia sudah menyadarinya? Sakura mulai memikirkan apa reaksi Naruto berikutnya.

"Apa ini?! Aku mendengar dua detakan Jantung yang tidak sama?!" Naruto melihat ke arah istrinya dan istrinya hanya mengangkat jari telunjuk dan jari tengah, seperti menunjukkan sikap 'peace'. Tapi melihatnya, mata Naruto makin terbelalak lebar!

Sakura mengangguk dengan sikap lucunya. "Tidak hanya Minashi, Naruto. Dia akan mendapatkan saudara bersamaan dengan kelahirannya nanti!"


Cuutt! 25 selesai dan agak fluffy emang dan gajelas, sumpah! Maaf soal update yang terlambat, karena pertama, DeathCheater sibuk ujian, kedua, sibuk kerjaan, ketiga, sibuk ekskul, keempat, sibuk ngerjain fic baru! Oh yeah, Master of Kugutsu no Jutsu akan premier sebentar lagi. Dan buat yang nunggu Setengah & Setengah, jangan khawatir, akan diupdate minggu depan bareng sama fic ini dan premier!

Well sedikit informasi, di fic ini, cara Juubi, Madara, dan Tobi dikalahin akan sedikit berbeda di fic ini dengan manga aslinya karena manga aslinya enggak sesuai pemikiran author. Semua akan dijelaskan ketika cerita ini semakin kompleks, oke? ini demi mempertahankan plot dari cerita ini!

Kanchi Shisutemu no Jutsu (Sensing System Technique)

Kekkai: Meisai Engai (Camouflaging Dome)

Doton: Dosankakkei no Jutsu (Earth Release: Triangling Earth Technique)

Doton: Sekisei Kekkou no Jutsu (Earth Release: Stone Building Technique)

ekaaprilian: itu karena Nagato waktu edo tensei, ga punya tubuh lain buat disalurin kekuatan rikudounya, tapi kalo punya, berarti tiap tubuh hanya punya satu path. dan Nagato waktu itu ga punya, jadi semua kekuatan rikudou ada sama dia.

syidik n: diusahakan, mudah mudahan

pidaucy: yah telat nih, maap yak!

Madara Anggoro: yap yap, tenang ajah masbroh itu ada di bagian epik final!

Lemonmaniak: Waduh.. Author suka lemon *nosebleed, tapi gak punya keahlian nulis lemon, pilihan cuma wanita tsundere doang buat fic baru karena naruto bakal ooc, dan kalo tsunade atau mei, kayaknya ga mungkin cuy..

Oke deh, maafkan update yang tertunda, karena tunggu saja minggu depat ada update bareng sama fic Setengah & Setengah dan premier Master of Kugutsu no Jutsu. Ingat! Pairing masih belum ditentukan! Kalian tentukan di poll, antara NaruSaku, NaruTema, atau NaruIno! Kita ketemu minggu depan! Jangan lupa review, kalo gak review, beuh.. jahad beut.. *malah jadi alay

Keep cool, im out!