"Sayang sekali Karui tidak bisa bergabung dengan kita. Padahal dia sangat suka es krim! Aku akan meneleponnya saat kita sampai di kedai es krim agar dia menyesal tidak ikut kita. Hahaha," Ino tertawa lepas memikirkan rencana jahatnya untuk Karui. Sementara Hinata hanya terkikik geli.

Saat mereka sedang tertawa, sebuah suara mengagetkan mereka berdua.

"GRRAAAAH!"

"KYAAAAA!"

KONOHA VILLAGE SEASON 2 : ARCH ZOMBIE

Chapter 5. Penyerangan di Konoha

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Drama/Mysteri

Rating : T

Warning : AU/OOC/ Typo/DeathChara/DLDR!

Pair : NaruHina, SasuHina dan GaaHina.

Pair ending : NARUHINA

.

.

.

Tap

Tap

Tap

Naruto dan Sasuke berlari menuju sumber teriakan tersebut. Tak jauh dari sana mereka berdua melihat Ino dan Hinata yang memasang tampang kesal. Sementara di dekatnya ada Sakura yang tertawa terbahak-bahak.

"Hahaahhahaha! Aku tidak percaya kalian benar-benar ketakutan dengan tipuanku," ucap Sakura di selingi tawanya yang lepas. Gadis bersurai pinky itu baru saja mengagetkan Hinata dan Ino dengan meraung tepat di belakang mereka.

"Astaga, Sakura! Akan ku hajar kau!" Ino berusaha menangkap gadis itu sementara Hinata hanya tertawa melihat kedua temannya itu. Mereka tampak bahagia.

Naruto dan Sasuke pun hanya bisa mematung dari kejauhan.

"Dasar," umpat Naruto. "Mengagetkan saja!"

Mereka berdua pun berbalik untuk melanjutkan perjalanan pulang. Baru saja beberapa langkah terdengar suara teriakan dari ketiga gadis itu.

Naruto dan Sasuke berhenti melangkah. Mereka berdua saling menatap seakan pikiran mereka sama. Haruskah mereka berbalik atau itu hanya teriakan iseng seperti sebelumnya?

"Hoi! Dasar orang gila! Jangan ganggu perempuan!" terdengar suara teriakan seorang pria. Disusul dengan suara geraman.

"Graaaah!"

"I-ITU ZOMBIE!" teriak Ino.

Sasuke dan Naruto akhirnya berbalik dan melihat seorang pria bercucuran darah berjalan terpincang mendekati Ino, Sakura dan Hinata.

"Zombie apanya, bodoh! Dia paling orang gila yang mencoba bunuh diri. Lihat tangannya. Dia pasti menggigit tangannya sendiri!" ujar pria berambut hitam itu.

"Di sana ada lagi!" Hinata menunjuk ke perempatan jalan. Orang yang berpenampilan layaknya mayat hidup itu berlari cukup cepat menuju mereka bertiga.

"Cepat pergi dari sana!" teriak Naruto.

.

KVs2

.

"Apa maksudmu, Sai? Zombie itu hanya mitos," ucap Yamato sambil menahan tawa. Ia tak percaya Sai sepolos ini. Bisa-bisanya ia tertipu oleh ucapan anak kecil berumur 5 tahun. Begitulah pikiran Yamato. Tentu saja Yamato tahu betul apa itu zombie. Semacam mayat hidup yang memakan sesama manusia. Tapi itu hanya ada di film ataupun cerita fantasi.

Sai bersikeras untuk memeriksa keadaan di jalan yang dilalui Sai tadi. Minato pun mengutus Yamato untuk pergi bersama Sai. Sementara Inari di tinggalkan di ruangan Minato.

"Lebih cepat, Yamato-san!"

Sai berlari di depan Yamato dengan tergesa-gesa. Sementara Yamato hanya berjalan cepat membuntuti Sai. Seandainya bukan perintah Minato, mungkin saat ini Yamato akan berpura-pura sakit perut agar tak ikut terlibat ucapan konyol dari Sai.

"Kau bawa senjata kan?" tanya Sai lagi.

"Kau benar-benar menganggap Zombie itu ada?" tanya Yamato sambil menghela nafas. "Mungkin mereka hanya melakukan parade Zombie untuk latihan haloween," lanjutnya.

"Aku tidak tahu apakah mereka Zombie atau bukan! Yang pasti mereka bukan orang normal. Mereka menggigit ibu Inari dan membuatnya berubah menjadi seperti mereka!"

"KYAAAA!"

"TOLONG!"

"SIAPAPUN TOLONG AKUU!"

Teriakan itu terdengar tak jauh dari ruas jalan yang dilalui Sai dan Yamato. Mereka pun mendekati sumber suara dan menemukan seorang gadis yang sedang kesakitan. Kaki kanannya sedang digigit oleh seseorang.

"Hei! Apa yang kau lakukan!" bentak Yamato sambil berjalan mendekati gadis itu. Tapi Sai segera menahan langkah Yamato.

"Jangan mendekat! Gadis itu sebentar lagi akan berubah seperti orang yang menggigitnya!"

"Yang benar saja! Gadis itu kesakitan!" Yamato mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya pada orang yang menggigit itu.

"Cepat lepaskan gadis itu atau aku akan menembakmu!" ancam Yamato.

Craaasshh!

Terdengar suara robekan kulit dan daging yang berasal dari kaki gadis itu. Disusul dengan jeritan kesakitan.

"AAAAAAAKKHH!"

DOR!

Yamato menembakkan peluru peringatan ke udara. Namun orang itu tak gentar sama sekali. Ia mengunyah daging itu bagaikan makanan lezat. Setelah menelannya, ia kembali menarik gadis itu yang berusaha untuk merangkak menjauh.

DOR!

Yamato menembak tangan orang tersebut. Peluru itu bersarang tepat di lengannya. Ia menggeram dengan mulut penuh darah. Gadis itu pun mengambil kesempatan itu untuk meloloskan diri.

Namun saat sedang merangkak, tiba-tiba saja gadis itu kejang-kejang.

"Astaga! Sai, cepat tolong gadis itu! Aku akan menangkap orang sialan itu!"

Sai kembali menghalangi langkah Yamato. "Tidak!"

"Kita harus menolongnya! Cepat bawa dia ke rumah sakit dan aku akan membawanya ke kantor polisi!"

"Sudah terlambat!... lihat itu!" Sai menunjuk gadis yang kini memuntahkan darah dari mulutnya. Yamato membelalak.

"Kenapa dia muntah darah?"

"Perhatikan matanya!"

Matanya yang semula berwarna putih dengan manik biru kini perlahan-lahan berubah menjadi merah dengan manik hitam.

"GRAAAHH!" orang yang ditembak Yamato kini berdiri dan berlari ke arah Yamato dan Sai. Begitu juga dengan gadis yang baru saja memuntahkan darah itu. Mereka berdua kini mengincar Sai dan Yamato untuk menjadi santapan mereka selanjutnya.

"CEPAT LARI!"

Kedua pria itu pun bertolak dari sana mereka terus berlari menyusuri jalan. Setibanya di perempatan mereka belok ke arah kanan. Disana mereka berhenti berlari.

"GRAAAHHHH!"

Hampir saja jantung Yamato melompat dari tempatnya. Tepat di depannya sekarang ada banyak orang yang sama seperti kedua orang yang mengejar mereka. Mereka ada banyak, bahkan Yamato tidak sempat menghitung berapa jumlahnya.

"KE-KENAPA MEREKA ADA BANYAK SEKALI?!"

"Penyebaran virus ini sangat cepat. Sepertinya mereka menularkannya melalui gigitan. Apapun yang terjadi jangan sampai terkena gigitannya!" ucap Sai yang kini memasang kuda-kuda dan bersiap melawan mereka.

"Kau gila?! Mereka ada banyak! Dan aku hanya punya pistol!"

"GRAAAAH!"

Kedua orang yang mengejar Sai akhirnya tiba. Mereka kini dikelilingi oleh para zombie.

"Sial!"

DOR!

DOR!

DOR!

Suara tembakan bertubi-tubi terdengar di sepanjang jalan yang dilalui Yamato dan Sai. Yamato menembak beberapa Zombie yang menghalangi jalan mereka. Tetapi ia hanya menembak bagian kaki atau lengan zombie tersebut karena mungkin saja orang-orang ini akan sembuh. Yamato tak mau menjadi seorang pembunuh.

Sementara Sai mengayunkan kayu berukuran cukup panjang untuk menyingkirkan zombie-zombie yang mengikuti mereka dari belakang.

.

KVs2

.

DUAAKHH!

Sasuke menendang orang itu hingga ia terpelanting cukup jauh. Namun suara debuman itu tampaknya mengundang zombie lain yang ada di sekitarnya mendekat ke arah mereka.

Beberapa zombie mulai bermunculan di jalan itu. Naruto dan yang lainnya pun segera berlari menjauh. Mereka menyusuri jalan menuju rumah Naruto dan Sasuke. Naruto berlari di depan untuk bersiaga jika ada zombie di jalan itu, sementara Sasuke berlari paling akhir untuk berjaga dengan kejaran zombie di belakang mereka.

"Tunggu dulu, sebenarnya kita akan berlindung kemana?" tanya Naruto.

"Kita pergi ke bangunan yang cukup kuat!" usul Sakura.

"Tapi kemana?"

"Mansion Hyuuga!" ucap Hinata. "disana di lindungi oleh tembok tinggi dan pagar yang kuat," lanjut Hinata.

"Benar juga sih," gumam Naruto. "Tapi masalahnya kan Mansion Hyuuga ada di jalan penuh Zombie tadi!"

"Kemana saja dulu! Aku... hah... tidak kuat...hah...hah.. aku ingin istirahat!" teriak Ino dengan nafas tersenggal-senggal.

"Kesini!" ajak Sakura sambil memasuki sebuah bangunan.

"A-apa? Bahkan bangunan ini lebih mengkhawatirkan di banding zombie-zombie itu, Sakura!" protes Ino.

"Setidaknya kita bisa istirahat untuk memikirkan rencana selanjutnya! Lagi pula tempat ini punya tiga lantai. Dan yang paling penting tempat ini gelap. Mungkin mereka akan kesulitan mencari kita!"

Tap

Tap

Tap

Mereka berenam berlari menaiki dua kali undakan tangga untuk tiba di lantai 3. Disana merupakan atap dari bangunan tua tersebut. Mereka pun menutup pintu atap tersebut dengan barang-barang yang mereka temukan di atap bangunan itu seperti kursi, kayu dan sebagainya.

Sakura, Ino dan Hinata terduduk lemas di lantai. Sungguh ini lebih melelahkan dari pada olahraga bersama Guy-Sensei. Padahal mereka hanya berlari beberapa ratus meter. Mungkin karena panik, mereka menjadi lebih lelah.

Sasuke berdiri disisi bangunan untuk melihat ke bawah. Ada banyak zombie berlalu lalang di jalan itu. Benar dugaan Sakura. Mereka semua tidak menemukan kita diatas sini.

"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Naruto yang berdiri di samping Sasuke. Mereka berdua menatap Desa Konoha dengan tatapan nanar. Dari atas sini mereka bisa melihat sebagian desa Konoha yang dipenuhi oleh orang-orang berlumuran darah. Entah sudah berapa banyak orang yang terkena virus ini.

"Benar-benar mengerikan," celetuk pria yang dari tadi berlari bersama mereka. Naruto dan Sasuke yang baru saja menyadari adanya pria itu pun kompak menatapnya.

"Apa? Aku juga tidak tahu apa-apa!" sanggahnya. Sungguh ia mengerti tatapan dua orang itu. Mereka pasti meminta penjelasannya tentang kejadian ini.

"Kau sungguh tak tahu mulanya?" tanya Sasuke. Ia menggeleng.

"Aku baru saja tiba dari pusat kota! Kalau begini caranya aku pasti akan di omeli ibuku karena pulang telat!" keluhnya sambil mengacak rambutnya yang terurai sebahu.

Ucapan pria itu membuat Sasuke teringat akan sesuatu. Bagaimana kabar sanak saudara mereka yang ada di Konoha? Apakah mereka juga menjadi korban virus itu?

"Semuanya, cepat hubungi keluarga masing-masing dan tanyakan bagaimana keadaan mereka!" titah Sasuke. Pemuda itu juga mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Itachi.

Sakura, Hinata dan Ino juga bersamaan mengeluarkan ponsel mereka untuk menelepon keluarga masing-masing.

.

KVs2

.

Minato menatap Inari yang kini duduk resah di sofa. Anak kecil itu ketakutan. Minato pun duduk di sebelahnya dan mencoba menenangkannya. Ia menceritakan sebuah cerita tentang pahlawan yang menyelamatkan dunia.

"Apa aku juga bisa menjadi pahlawan seperti itu, Ojii-san?" mata Inari berbinar setelah menceritakan keberhasilan seorang pahlawan itu. Minato mengangguk menanggapi pertanyaan Inari. Ia mengusap puncak kepala Inari.

"Kau bisa menjadi pahlawan, siapapun berhak untuk menjadi pahlawan."

Kringg...kring...kringg...

Dering ponsel Minato menginterupsi percakapan mereka berdua. Setelah menekan salah satu tombol di ponselnya, Minato mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.

"Moshi-moshi, Minato-sama."

"Ya? Bagaimana, Yamato?"

"Apa yang dikatakan Sai dan anak itu benar! Ada puluhan- maksudku ratusan orang yang sudah terinfeksi penyakit itu. Mereka benar-benar mirip dengan zombie. Mereka memakan manusia!"

"APAA?!" Minato berdiri dari duduknya. Sungguh ini tidak masuk akal. Bagaimana bisa ada penyakit aneh seperti itu? Terlebih lagi sudah ratusan orang yang terinfeksi.

"Aku dan Sai sedang menuju kantor ANBU. Untuk saat ini, wilayah tengah Konoha masih aman, kami sudah memberitahu semua orang untuk tetap dirumah. Tapi wilayah timur Konoha sudah benar-benar parah."

"Cepat perintahkan para ANBU untuk menangkap mereka. Jangan sampai ada lagi yang terinfeksi penyakit itu. Perintahkan semua polisi untuk melindungi warga desa yang belum terinfeksi. Dan satu lagi, sebagian ANBU harus berjaga di perbatasan desa. Jangan sampai penyakit ini menyebar keluar desa!"

"Baik, akan aku laksanakan... apapun yang terjadi, jangan mendekat ke daerah timur desa!"

Sambungan telepon pun terputus. Minato menyuruh Inari untuk tetap berada di ruangannya, sementara ia pergi memberitahu semua staf yang ada di Kantor Kepala Desa tentang wabah penyakit yang menyerang desa bagian timur.

Mereka semua pun sangat panik dan memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Saat akan kembali ke ruangannya, Minato berpapasan dengan Danzou. Seorang penasehat kepala desa.

"Minato, apa kabar itu benar?" tanya lelaki tua yang berjalan menggunakan tongkat.

Minato mengangguk, "Yamato sudah mengkonfirmasi kebenarannya."

"Semenjak kau jadi kepala desa. Banyak hal yang terjadi. Jika sampai kabar ini mencuat keluar desa, kau tahu kan apa akibatnya?"

"Aku mengerti. Tapi jika tidak memungkinkan, aku akan meminta bantuan Hokage-Sama."

"Apa kau sudah gila? Jika Hokage tahu, kau akan dilengserkan dari jabatanmu karena tidak mampu melindungi desa!"

"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin warga desa selamat," ucap Minato sambil melanjutkan langkahnya menuju Inari yang ada di ruangannya.

Ceklek...

Pintu bercat cokelat itu terbuka. Menampilkan Inari yang kini berdiri di depan jendela. Setelah mendengar suara pintu, anak berambut hitam itu pun berbalik menatap Minato. "Kenapa mereka semua pergi?" tanya Inari. Yang ia maksud adalah para staf di kantor Hokage yang kini terlihat berhamburan keluar gedung.

"Sudah waktunya pulang." Minato mengulurkan tangannya untuk mengajak Inari, "ayo ikut aku. Aku akan menitipkanmu pada Kushina."

Minato menyusuri jalan menuju rumahnya bersama Inari dan ditemani seorang ANBU. Sepanjang jalan tampak sepi. Sepertinya para ANBU dan polisi sudah memberikan himbauan untuk masyarakat agar tetap berada di dalam rumah.

Setibanya di rumah bercat putih itu, Minato menerobos masuk.

Ceklek...ceklek..

Beberapa kali ia mencoba membuka pintu. Tapi pintu itu terkunci.

"KUSHINA! BUKA PINTUNYA, INI AKU!"

"..."

Tak ada jawaban dari dalam sana.

"Kushina?" Minato mengintip di balik jendela.

Kosong.

Tak ada siapapun di dalam sana. Pikiran Minato pun kembali pada pagi tadi. Kushina mengatakan bahwa ia akan pergi ke toko bunga untuk membeli vas bunga baru untuk mengganti vas bunga yang Naruto dan Minato pecahkan.

Minato merogoh ponselnya yang berada di saku celana. Ia menekan beberapa tombol untuk menelepon Kushina.

Tuuut...

Tuuutttt...

Tuuuuutttt...

.

KVs2

.

"Hallo, Kaa-san?"

"Ino kenapa kau belum pulang juga? Sai belum kembali dan kau sama saja! Tidak ada yang membantu ibu di toko!"

"Kaa-san, apa kau baik-baik saja?"

"Apa maksudmu? Kaa-san tidak baik-baik saja! Ouhh kaki ini terasa sakit. Kaa-san sibuk sekali tadi! Untunglah sekarang toko sepi jadi Kaa-san bisa duduk istirahat."

"Kaa-san, cepat tutup pintu toko dan jangan kemana-mana!"

"Kau ini kenapa sih? Kalau Kaa-san kunci pintunya bagaimana pelanggan bisa masuk?"

"Aaah! Dengarkan saja apa kataku! Cepat kunci pintunya ada banyak Zombie berkeliaran di desa Konoha!"

"Dasar anak ini! Cepat pulang dan jangan bicara yang tidak-tidak!"

Sambungan terputus.

"Apa? Halo? Kaa-san? Apanya yang tidak-tidak! Kenapa malah ditutup sih?!"

Di sisi lain atap itu, Naruto hanya terdiam menatap teman-temannya. Mereka semua tampak berkutat dengan ponselnya masing-masing untuk menelepon keluarga mereka.

"Itachi pasti mematikan suara ponselnya," keluh Sasuke setelah mencoba beberapa kali menelpon tapi tak juga di angkat.

"Neji-Niisan juga begitu," sahut Hinata.

"Kau tidak menelepon, Naruto?" tanya Sasuke yang heran melihat Naruto terdiam.

"Eto..."

"..."

"Ponselku..."

"..."

"Habis pulsa."

Sasuke memasang wajah sweatdrop. Bisa-bisanya dia kehabisan pulsa saat sedang genting begini. Dasar bodoh.

Sasuke menyodorkan ponselnya. "Telepon sekarang," ucapnya.

Tuutt... 'Nomor yang anda tuju sedang sibuk'

Tuut...

Tuuutt... 'Nomor yang anda tuju tidak menjawab'

Naruto menyodorkan kembali ponsel hitam itu pada pemiliknya.

"Kenapa?" tanya Sasuke.

"Ayahku sibuk dan ibuku tidak mengangkat teleponku."

"Ayahmu pasti sudah tau tentang ke kacauan ini. Pasti sekarang dia sangat sibuk sekali."

Naruto kembali meminjam ponsel Sasuke. Kali ini untuk menghubungi Pein, Ketua Akatsuki.

.

KVs2

.

"Hoaaaam!"

"..."

"Zzzz..."

"..."

Tuk.

"Aduh!"

Pein mengusap dahinya yang memerah. Matanya yang semula sayu, kini kembali terbuka lebar berkat sebuah toyoran yang dilakukan Konan.

"Perhatikan, bodoh!" ucap Konan mengingatkan.

"Aishh! Mau memperhatikan pun aku tetap tidak mengerti. Jadi sebaiknya aku tidur 'kan," elak Pein dengan wajah kusut.

Drrrtttt...drrrttttt...

Ponsel yang berada di saku celana Pein bergetar beberapa kali. Pemuda berambut oranye itu pun merogoh ponselnya diam-diam untuk melihat siapa yang menelponnya.

'08123xxxx...'

"Siapa sih ini! Kenapa menelpon saat aku sedang ada kelas tambahan!" gerutu Pein kemudian mengabaikan telepon tersebut dan mematikan suara ponselnya.

.

.

.

Tring!

Sebuah bola lampu seakan tiba-tiba saja keluar dari atas kepala Pein. Ia punya sebuah ide cemerlang yang bisa menyelamatkan nasibnya dari kelas tambahan yang membosankan ini.

Pemuda berambut jingga itu pun berdiri sambil mengangkat satu tangannya. "Permisi, Ashuma-Sensei!"

"Oke, Pein silakan maju kedepan. Tumben sekali kau mau mengerjakan soal di depan," ucap Asuma-Sensei. Ia baru saja bertanya pada murid-murid apakah ada yang bersedia maju untuk mengerjakan soal?

"Apa? Bukan! Bukan! Aku mau izin mengangkat telepon dari keluargaku. Sepertinya ini penting," izin Pein. Ashuma tampak mengerutkan dahinya, curiga. Tapi ia akhirnya mengizinkannya juga.

Pein pun pergi keluar kelas dengan semangat. Ia mengecek ponselnya. Rupanya panggilan itu sudah berakhir.

Dengan di dorong rasa penasaran, akhirnya Pein menelepon kembali nomor tersebut.

Tuuut...

Hanya menunggu beberapa detik, seseorang di seberang sana langsung mengangkat panggilan Pein.."Hoi, ketua! Kenapa kau lama sekali!"

Terdengar suara cempreng yang sangat Pein kenal.

"Yo, ada apa Naruto?"

"Ketua! Ada yang gawat di Konoha! Zombie mewabah di desa ini!"

"Dasar bocah ingusan! Kau meneleponku hanya untuk bicara yang tidak-tidak, hah? Apa kau tidak tahu kalau kau sudah mengganggu acara belajarku?" omel Pein sambil memakan makanan yang baru saja ia pesan di kantin. Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang sedang ia lakukan.

"Apanya yang tidak-tidak! Aku serius! Mereka semua mirip dengan Shizune-San!"

"Uhuk! Uhuk!" Pein tersedak mendengar penuturan Naruto. "APA KAU BILANG?!" pekik Pein begitu menghabiskan segelas lemon tea-nya.

"Aku, Sasuke dan yang lainnya sedang bersembunyi di atap gedung. Mereka semua berkeliaran banyak sekali. Tolong beritahu Itachi-Nii untuk tidak pulang ke Konoha!"

Tuutt...

Sambungan terputus.

Pein berlari menuju kelas Itachi. Tanpa permisi, ketua Akatsuki itu menerobos masuk dan memanggil Itachi serta Deidara dan Tobi yang memang berada di kelas itu.

Ia kemudian memerintahkan Itachi, Deidara dan Tobi untuk memanggil anggota yang lain sementara dirinya pergi ke ruang klub.

Ia membongkar sebuah peti berbentuk persegi panjang yang tersimpan di sudut ruang klub. Di dalam peti tersebut terdapat banyak barang milik anggota Akatsuki. Pein pun mengobrak abrik isi peti tersebut seakan ia sedang mencari sesuatu.

"Ketuaaaa! Terimakasih sudah menyelamatkanku dari Ibiki-senseiii!" teriak Kisame sambil menerobos masuk ke dalam ruang klub

Swiingg~

Sebuah mangkuk plastik terbang mendarat dengan mulus di dahi Kisame.

Duaaakk!

"WADAW!"

"Hah?" Pein, sang pelempar mangkuk pun berbalik ke belakang dan melihat Kisame yang sedang menggosok dahinya. Saking seriusnya mengobrak abrik peti itu, Pein melemparkan beberapa barang yang menghalangi pencariannya.

"Kemana peralatan kita?" tanya Pein yang mengabaikan ringisan Kisame.

"Maksudmu yang mana? Bukannya itu semua peralatan kita?" tanya Itachi. "Kau ini kenapa sih, Pein?" tambah Konan.

"Dengar! Zombie mewabah di desa Konoha. Kita harus kesana untuk menyelamatkan Naruto dan yang lainnya. Termasuk adikmu, Itachi."

"Zombie?"

"Iya, Zombie!"

"Tunggu dulu, Zombie katamu?" tanya Konan sekali lagi.

"Iya tentu saja zombie!"

"Pein, apa kau sudah gilaa? Tidak ada yang namanya zombie! Itu pasti hanya akal-akalanmu saja agar bisa bolos pelajaran tambahan kan?"

"Aku serius. Naruto bilang gejalanya mirip Shizune-san!"

"Apa yang dikatakan Naruto pasti benar. Kita harus ke Konoha!" ucap Itachi menginterupsi obrolan Pein dan Konan.

"Tapi kita tidak bisa kesana tanpa senjata! Dimana barang-barang pengusir hantu kita?" tanya Pein dengan wajah Panik.

"Bukannya kita menyimpannya di markas ke 2 (rumah Naruto) karena sekolah melarang kita menyimpan senjata tajam?" celetuk Deidara.

"Sial!" umpat Pein.

Itachi pun mengusulkan untuk pergi ke Konoha terlebih dahulu dan membawa senjata mereka untuk membasmi para zombie itu. Akatsuki pun setuju. Mereka hanya belum tahu, seberapa mengerikannya keadaan desa Konoha saat ini.

.

.

.

TBC

.

A/N : huhu, gomen ne... aku baru sempat update sekarang T.T

Chapter selanjutnya aku usahakan untuk update lebih cepat T.T