Pairing : Kaisoo

Warning : Yaoi. OOC. OC. Lime. Lemon. Bahasa kasar. GS (untuk beberapa cast).

Rating : M

Summary : Kyungsoo terpaksa menyamar menjadi kakak perempuannya yang baru saja meninggal untuk mendapatkan dana asuransi kesehatan yang dimiliki kakaknya. /Kaisoo/ and other pair.

A/N : Fic ini milik Nymous senpai selaku author originally-nya, Je Ra Cuma mengubah castnya dan sedikit meng-edit aja ( Je Ra tidak berniat merubah banyak karena terlalu suka sama seluruh isi fic ini ) dan Je Ra sudah mendapatkan izin untuk me-republish fic yang berjudul Bite ini ke Versinya Kaisoo jadi bagi Readers yang mugkin sudah pernah baca fic 'Bite' yang aslinya, Je Ra tegaskan ini bukan Plagiat ne ^^.


Chapter 25

"Turn me into a vampire…,"

Kalimat itu serasa menggema di udara. Dan Kyungsoo terlalu lelah untuk menyahut penolakan Kai mengenai keputusannya itu dan akhirnya memilih untuk tidur.

"Kyungsoo? Apa kau sadar dengan yang kau ucapkan?"

"…"

-Skip Time-

Gemeritik ranting-ranting yang dilahap api unggun di dalam goa yang tengah ditempati oleh sepasang pemuda berbeda warna kulit malam itu terdengar memantul disetiap dinding tempat goa tersebut. Malam sudah semakin larut dan hujan deras nampaknya belum mau berhenti.

Sesosok pria dengan ekspresi wajah kaku yang tengah duduk sambil lengan kanannya bertumpu pada salah satu lututnya itu juga tidak henti-hentinya menatap jauh pada semak belukar diujung sana –dedaunan yang memisahkannya dengan hujan lebat di luar– dan ia pun sesekali melirik pada pemuda yang tengah tidur lelap di sisinya.

Tatapan kalut dari mata yang dingin itu berubah lembut ketika ia mengalihkan perhatiannya pada sosok yang ia cintai. Menjadi sendu tapi juga penuh kasih sayang. Diusapnya lembut surai pemuda yang bergelung di balik kemejanya yang kusut itu, celana jeansnya juga hanya di pasang asal-asalan.

Kai agak kesulitan memasang kembali seluruh pakaian kekasihnya yang dalam keadaan tengah tertidur pulas itu. Meski sudah cukup 'kelelahan' tapi kekasihnya ini tetap saja masih bisa melayangkan tinju dan tendangan ketika dia tidur. Benar-benar hal yang selalu membuat Kai mawas diri tiap seranjang dengannya. Takut kalau-kalau ketika dia membiarkan dirinya tertidur di samping bocah ini besok ia akan mendapati dirinya berada di lantai –habis ditendang dari atas kasur.

Tapi toh ia tidak mungkin membenci pemuda yang begitu dicintainya itu hanya karena satu kebiasaan buruknya yang tidak seberapa itu. Bukankah cinta memang harus saling berbagi dan menerima pasangan apa adanya?

Tapi sayangnya masalah gaya tidur Kyungsoo yang kurang bagus dan tidak disukai Kai itu bukanlah masalah yang perlu ia pusingkan sekarang. Pernyataan Kyungsoo malam inilah yang membuat Kai bingung untuk memikirkan masa depan mereka berdua mulai hari ini.

Kai memijit keningnya yang berkerut dalam. Entah mengapa ia merasa pusing hanya dengan mengingat kembali apa yang dikatakan Kyungsoo sebelum terkapar lelap seperti sekarang.

"Turn me into a vampire…,"

'Turn me into a vampire?' A vampire?!' tidakkah itu terdengar sangat gila untuk diucapkan oleh manusia –orang satu-satunya yang menjadi alasan Kai untuk tidak pernah membunuh siapapun lagi itu? Pemuda yang rela menjadi 'makanan utama'nya hanya karena tidak ingin melihat Kai membunuh manusia? Sekarang ia ingin jadi vampire?! Jadi penghisap darah sepertinya?! Oh God!

Jika Kyungsoo menjadi vampire Kai tidak akan bisa meminta 'makan' pada Kyungsoo lagi, otomatis mereka berdua akan berburu bersama. Apa menurut Kai itu masuk akal? Kyungsoo tidak akan pernah membunuh siapapun dan Kai juga tidak akan pernah membiarkan tangan Kyungsoo berlumuran darah! Tidak akan pernah!

ARGH! Damn it!

Apa yang harus Kai lakukan sekarang? Bocah ini…kalau bocah ini sudah berkata jadi maka jadilah! Akh! Lagaknya sudah seperti Tuhan saja! Dan Kai mutlak harus menurutinya.

Oke, tenang…Kai harus berpikir jernih. Ia tidak boleh kalut…pikirkan jalan keluarnya, pikirkan, pikirkan!

"Mmmnngg…,"

Kai tertegun sesaat mendengar suara Kyungsoo dan langsung menoleh pada pemuda itu. Kyungsoo bergerak meringkuk dan memeluk tubuhnya. Menekuknya sedemikian rupa seperti bentuk janin –menandakan ia kedinginan.

Kai menghela nafas dan kemudian memperbaiki letak kemeja Kyungsoo yang ia jadikan selimut. Ia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu goa tempat mereka berada. Disingkapnya sedikit semak belukar yang menutupi pintu masuk tempat tersebut dan ia pun melihat hujan tidaklah terlalu deras lagi bahkan menit berikutnya tetesan-tetesan dari langit itu pun akhirnya berhenti.

.

.

.

"Setelah hujan reda mereka pasti akan keluar dari tempat persembunyiannya,dan saat itulah kita akan menangkap mereka!" seru Jino paling menggebu diantara kelompoknya.

Sehun nampak tengah sibuk menghabisi kuku ibu jari tangannya dengan tatapan kesal. Bisa-bisanya ia lagi-lagi…dipermalukan!

"Kemana Chen? Kita akan membutuhkan dia setelah hujan ini reda." Celetuk Jimin sambil melirik ke sana kemari dan akhirnya cuma mendapati Minjoo yang tengah menggelengkan kepalanya pelan –sebagai jawaban bahwa anggota pelacak mereka itu tidak tengah berada di markas sekarang.

"Cih, kemana perginya manusia setengah anjing itu?"

"Untuk saat ini lebih baik kita memikirkan strategi bagaimana cara menemukan lokasi Kai dan pria itu jika Chen dan peliharaannya tidak kembali sebelum hujan reda. Kita tidak bisa membuang waktu untuk menunggu mereka, Kai dan pria itu pasti akan lebih dulu kabur jika kita berlama-lama." Minjoo membenahi.

"Cukup," Sehun merentangkan telapak tangannya –memberi tanda 'stop' pada rekan-rekannya itu.

Jimin, Minjoo dan Jino pun menoleh serempak dengan wajah bingung.

"Kita hentikan ini,' bibir sepucat kulitnya itu berhenti sesaat kemudian melanjutkan kalimatnya, "Untuk sekarang, kita hentikan dulu pengejaran ini."

"SEHUN! TAPI––,"

"Aku punya rencana lain," tandas sang pemuda yang berpakaian serba hitam itu lalu memasang tampang seperti seorang yang licik. Sangat licik.

.

.

.

-It's Morning-

Suara merdu khas dari hutan membangunkan seorang pemuda berparas manis. Ia bangkit dari kasurnya yang empuk dan merenggangkan badan dengan begitu khidmat.

Ia melirik ke arah jendela besarnya yang disekat dua kain hitam besar hingga hanya menyisakan berkas-berkas kecil cahaya matahari yang bersikeras menyeruak masuk menerangi kamarnya.

Kyungsoo tidak begitu ambil pusing dengan kondisi kamarnya yang gelap begitu. Ia sudah tau mengapa harus seperti itu dan sudah lebih dari biasa mengalaminya.

Pandangannya pun sekarang tertuju pada pemuda yang tengah tertidur dengan dengkuran pelan di sisinya. Tubuh itu tidur terlentang dengan satu lengan yang menutupi matanya. Hanya menyisakan bibir tipisnya untuk diekspos oleh sang kekasih. Kyungsoo tersenyum.

"Kyungsoo!"

"Oy, kau tidak perlu berteriak seperti di hutan begitu 'kan? Tinggal masuk saja!"

"Kyungsoo apa kau ada di dalam?!"

"O-oi…kau mendengarku tidak sih?"

Suara-suara berisik dari luar membuat dahi Kyungsoo mengeryit. "Baekhyun?" gumamnya dan langsung melompat dari atas kasurnya untuk segera berlari ke jendela yang menghadap ke pekarangan depan tapi langkahnya terhenti –bukan karena seseorang memegangi tangannya atau Kai tiba-tiba bangun dan menahannya (seperti biasanya) – tapi…ini lebih ke masalah yang lebih 'sewajarnya', yaitu dia.., "Aw… Sshhh… sakit..," keluhnya sambil memegangi pinggul belakangnya meski sebenarnya bagian yang sakit adalah –erm– bokongnya.

Oke lupakan masalah itu. Kyungsoo langsung menuju ke arah jendela dan menyingkap sedikit tirai yang menutupinya –sedikit– yah sangat sedikit, dengan cara yang seminim mungkin yang bisa menyebabkan cahaya matahari masuk dan membuat kekasihnya yang masih tidur itu hangus terbakar.

Ketika Kyungsoo mengintip dari lantai dua wajahnya langsung terkejut. Horor dan syok melihat dua sosok pemuda yang tengah bermandikan cahaya mentari pagi di pekarangan depan rumahnya! Buru-buru ia menutup tirai dan segera berlari ke bawah.

"Kau bisa mencium baunya 'kan? Katakan kalau dia ada di dalam!" seru Baekhyun pada pemuda berambut coklat disampingnya.

"Ha-aa, dia ada di dalam, mendekat pula lagi," tukas pemuda itu tersenyum sambil turun dari tunggangannya –seekor anjing ukuran besar.

"Mendekat?"

"HUWAAAHH! BAEKHYUNNN! MENJAUH DARIINYAAAA!" teriak Kyungsoo yang keluar dari rumahnya dan berlari uring-uringan seperti orang gila ke arah sahabatnya. Segera setelah ia menghampiri kedua pemuda itu, Kyungsoo langsung merentangkan badannya di antara kedua orang tersebut. "Kau! Mau apa kau disini?!" bentak Kyungsoo panik.

"Hah?" Chen hanya melongo –baru kali ini ia melihat sifat asli kekasih Kai ini. Padahal tiap bertemu dengan kelompoknya dia selalu berwajah dingin. Rupanya dia ini aslinya berisik ya?

"Dan wo––wo, woow…ka-kau…bagaimana bisa kau…ka-kau…," ujar Kyungsoo berantakan sambil bergaya pantonim –menunjuk Chen dan langit (matahari) bergantian. "Kau…,"

"Aku bukan vampire, kalau itu pertanyaan sulit terucap yang membuatmu harus gagap begini," tukas Chen santai.

"HEEHH?! La-Lalu kau ini apa?!"

"Aku manusia setengah anjing. Bisa berubah menjadi anjing tapi yang jelas bukan werewolf. Aku dan vampire hanya punya satu kesamaan yaitu umur kami panjang, tahun ini aku genap tujuh ratus tahun. Aku tidak suka darah manusia tapi lebih suka dagingnya. Hehe." Perkenalan Chen yang 'biasa' itu sukses membuat wajah Kyungsoo membiru dan memasang wajah ingin muntah. Jadi…cerita soal korban Kai dulu yang dikoyak binatang buas itu…mungkinkah…? Urrgh!

"O-Oi…jangan pasang wajah begitu! Apa wajahku sejelek itu?" pekik Chen saat tiba-tiba Kyungsoo membuat gerakan akan muntah.

"Kyungsoo?" seru Baekhyun yang jadi ikutan panik.

-pik-

Kyungsoo segera kembali menatap Chen, "Kau? Kenapa kau bersama Baekhyun?!" tanyanya dan lalu berbalik memegangi kedua pundak sahabatnya, "Nah, Baekhyun kau tidak apa-apa 'kan? Kenapa kau bisa bersama dia? Kau bisa dimakan olehnya nanti!"

"Aku memang sudah 'memakannya', kok." Celetuk Chen yang sontak membuat Kyungsoo berbalik dan menghardiknya.

"KAU BILANG APA?!"

"Bercanda..weekk…kau ini emosian sekali, sih? Heran deh, kok bisa Kai suka sama tipe yang seperti ini?" kilah Chen memasang tampang mengejek.

Wajah Kyungsoo memerah kesal. Apa maksudnya itu?

Karena tidak ingin Kyungsoo terus-terusan salah paham dan dijahili Chen, Baekhyun pun menjelaskan alasannya bersama Chen, dan memberitahu Kyungsoo kalau Chen ternyata selama ini ada di pihak Kai.

Tidak semudah itu membuat Kyungsoo percaya, tapi setelah Baekhyun mengungkit-ungkit kembali peran Chen selama ini memang cukup meyakinkan, Kyungsoo pun mengangguk mengiyakan.

"Jadi kau tidak akan kembali ke markas para kelompok vampire itu?" tanya Kyungsoo.

"Mereka tidak bodoh. Dalam waktu kurang dari sehari mereka pasti akan menyadari kalau aku membelot."

"Jadi sekarang kau akan kemana?"

"Hahh, itu bukan masalah yang begitu sulit, aku bisa membaur dengan warga desa tanpa perlu takut gosong saat hari terang dan tidak perlu bertingkah aneh hingga membuat para warga desa yang sensitif itu mencurigaiku."

"Lalu anjingmu itu?" tanya Kyungsoo lagi menatap anjing raksasa di belakangan Chen –kalau dilihat baik-baik anjing besar itu tidak terlihat begitu menyeramkan juga rupanya.

"Ia bisa menjaga diri di hutan selama aku berinteraksi dengan warga desa."

"…" Baekhyun nampak diam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. Namun segera ia singkirkan dan lalu mengajak Kyungsoo kembali ke dalam rumahnya. Chen pun pamitan.

"Chanyeol bagaimana?" tanya Kyungsoo ketika Baekhyun menyediakan sarapan untuknya.

Bakhyun menundukkan wajahnya, ia tidak ingin membicarakan orang itu sekarang –hal itu hanya akan membuatnya ingat tentang kejadian semalam. Ketika dokter muda itu secara tidak langsung menyatakan perasaannya pada Baekhyun, "Aku tidak tau. Mungkin dia sudah kembali ke kota semalam. Kau tau 'kan bagaimana sibuknya dia." Ujar Baekhyun dingin.

"Hmm..hm," gumam Kyungsoo sambil melahap sarapannya. Ia juga tidak mau ambil pusing. Dokter mesum itu tidak ada, artinya Kyungsoo bisa sedikit tenang.

.

.

.

Nyaris seminggu anggota kelompok Sehun sama sekali tidak menunjukkan batang hidung mereka. Bahkan tidak ada laporan apapun dari warga desa mengenai hal-hal yang berhubungan dengan vampire.

Hidup Kyungsoo juga tenang-tenang saja dan berjalan dengan biasa selama sepekan terakhir ini. Tapi…

'Turn me into a vampire..,'

Kalimat itu jelas tidak menguap ke udara begitu saja.

Kai tidak henti-hentinya berusaha untuk mengubah keputusan kekasihnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Kyungsoo nanti akan memiliki tatapan dingin setelah membunuh banyak nyawa untuk memenuhi rasa laparnya. iris yang begitu cerah dan hidup itu…sungguh Kai takkan sanggup melihatnya redup dan memancarkan sorot tanpa belas kasih ketika rasa lapar menguasainya. Kyungsoo akan menderita. Stres dan tertekan. Kai bahkan bisa membayangkan kalau Kyungsoo akan terus melakukan usaha bunuh diri di tahun-tahun awalnya menjadi vampire akibat tekanan yang harus diterimanya tiap kali ia mencabut nyawa seorang manusia untuk ia hisap darahnya.

Tidak..tidak.., Kyungsoo tidak berpikir sedangkal itu. Kai yakin ia tidak akan sampai berpikir untuk bunuh diri sebesar apapun masalahnya.

Tapi…sesuatu satu hal yang pasti, jika Kyungsoo tetap akan menjadi vampire.

Yaitu Kyungsoo, tidak akan sama lagi seperti Kyungsoo yang dulu.

"Keputusanku sudah bulat!" pekik Kyungsoo sambil menggenggam seprai kasurnya erat. Manik birunya menatap lekat-lekat manik hitam di depannya.

"Kau tidak bisa egois begitu. Bagaimana dengan Baekhyun? Kau pikir dia akan membiarkanmu begitu saja?"

"Aku sudah bicara dengan Baekhyun." Tandas Kyungsoo menoreh tatapan tak percaya dari Kai. "Dia tidak berkata apa-apa…," gumam Kyungsoo lagi sambil menatap gundukan sprai yang tengah diremasnya, "Setelah mendengarku berkata seperti itu, Baekhyun langsung pergi begitu saja."

Kai masih tidak percaya mendengar perkataan Kyungsoo. Begitu saja? Si rambut merah overprotektif itu hanya bertingkah begitu saja?

Rasanya…sesuatu yang buruk akan terjadi.

0l=======*Turn Me Into A Vampire*=======l0

Mimpi buruk Kai kian menjadi. Ia tau pasti akan terjadi hal yang tidak begitu bagus. Baekhyun pergi begitu saja setelah Kyungsoo berkata akan menjadi vampire? Hah! Mustahil! Dia pasti punya rencana. Dan semua itu akhirnya terbukti ketika esok harinya sang bocah merah datang kembali ke kediaman mereka dengan mengikut sertakan 'mahluk-mahluk merah' lainnya.

Sejak petang turun di awal musim panas tahun itu, suasana di ruang tamu kediaman milik Kyungsoo entah mengapa justru terasa dingin. Bukan salah perapian yang nyalanya tidak begitu besar. Tapi ini semata-mata karena tiga pasang mata yang tengah menatap lekat-lekat –dengan tatapan menelanjangi– pada sepasang suami-istri –coret– sepasang kekasih yang tengah duduk di satu sofa panjang –dengan lagak seperti narapidana siap hardik di meja hijau– di hadapan mereka bertiga.

"Kyungsoo bodoh!" teriak satu-satunya wanita di ruangan itu sambil menunjuk kearah Kyungsoo dengan gemas. "Ka-Kau..Kau bisa-bisanya memilih untuk menjadi mahluk penghisap darah dan AGH! GOD! Dengan Kai?!" pekiknya lagi kemudian memasang pose akan menangis saat pandangannya beralih pada Kai yang tengah duduk di samping Kyungsoo itu, "Kaiii…uh, aku tidak pernah menyangka kau seorang vampire…dan buruknya lagi jatuh cinta pada seorang pria…malangnya nasibku."

"Ini tidak akan mudah Kyungsoo." Gumam Baekhyun –yang tengah duduk di sisi kiri sofa sambil melipat kaki dan juga tangannya.

"Aku tidak sanggup." Ringis Krystal, "Bagaimana bisa kau seenaknya melakukan hal ini?! Kyungsoo, kalau sampai paman Insung tau soal ini, aku jamin kau akan di depak keluar dari kediamanmu ini!" ancam Krystal yang malam itu mengenakan gaun merah kebanggaannya.

Kyungsoo berdiri dari tempatnya –memasang wajah tidak terima. "Jangan membawa-bawa nama..ay––akh Insung di sini! Aku bukan lagi bagian dari keluarganya dan dia tidak berhak melemparku keluar dari rumahku sendiri. Ini…," Kyungsoo menunjuk ke arah lantai, "Adalah rumahku! Dan dia tidak punya hak sama sekali untuk mengusirku setelah apa yang telah aku lakukan untuk mengisi pundi-pundi uang mereka sejauh ini!" tandasnya.

"Cukup, hentikan itu. Kau pendek bermuka wanita!" akhirnya yang tertua dari tiga bersaudara di ruangan itu ambil suara. Ia kemudian ikut berdiri dari tempatnya. Posisinya yang berada di tengah-tengah antara Krystal dan Baekhyun membuat ia bisa langsung berhadapan dengan Kyungsoo.

Kai mulai memasang wajah tidak suka dengan situasi ini. Dia tidak lupa ingatan kalau pemuda berambut merah yang satu ini pernah menjadi dalang penyekapannya di ruang bawah tanah dalam usahanya untuk memisahkan dia dengan Kyungsoo. Dan Kyungsoo pun jelas tidak lupa juga mengenai hal itu –terlihat dari bagaimana Kyungsoo menatap kakak sepupunya dengan tatapan benci bahkan sebelum pemuda bernama Tao itu bersuara.

"Kau ini benar-benar berotak dangkal, ya? Tidak cukupkah kebodohan-kebodohan yang kau lakukan selama ini menghancurkan hidupmu secara perlahan? Sekarang kau memilih untuk menjadi seorang vampire? Otakmu benar-benar sudah tidak berada di tempatnya, Hah." Cercah Tao menatap hina adik sepupunya.

"Itu bukan urusanmu! Aku tidak peduli jika kau katai bodoh. Itu tidak akan mengubah apa-apa!"

Tao mendengus, "Ho? Jadi sekarang kau bertindak tanpa otak, begitu? Hah, bagus, kau benar-benar sudah tidak ada bedanya dengan binatang."

"Apa kau bilang?!" teriak Kyungsoo langsung menarik kerah baju Tao dengan tatapan murka.

Tao hanya menatap datar –bahkan terkesan dingin– pada adiknya itu. "Hidupmu tidak hanya untuk pria ini Kyungsoo." Lirih Tao. Dari sorot matanya yang dingin terlihat jelas ada luka di sana. Sedih jika anggota keluarganya akan berubah menjadi mahluk dingin penghisap darah layaknya pemuda hitam yang tengah duduk di sana itu.

Kyungsoo melepas cengkramannya dan mulai melembut, "Aku tetap akan bersama Kai," bujuknya.

"Apa kau yakin akan bahagia dengan itu?" tanya Tao.

Kyungsoo diam untuk sesaat, "Aku yakin…jika bersama dengan orang yang aku cintai…aku akan bahagia…itu pasti,"

Keheningan pun ikut menyelimuti kelompok kecil di ruangan tersebut.

Kyungsoo tidak sanggup menatap mata siapapun sekarang. Kai hanya akan diam –karena ia memintanya untuk begitu. Krystal akan menatapnya dengan tatapan tak percaya sambil menggelengkan kepala. Baekhyun juga tetap bisu tanpa berhenti memikirkan cara untuk mengantisipasi tiap perkembangan yang akan terjadi malam ini. Dan Tao…ugh, Kyungsoo tidak percaya bisa melihat 'kesedihan' yang ditujukan padanya dari sorot mata kakak sepupunya yang paling menyebalkan sejagat raya itu.

Lalu sekarang apa?

"Sudah pendek, bodoh, berwajah cewek, urakan, sekarang mau jadi vampire pula lagi? Ha ha ha kau hanya akan menambah catatan pelecehan yang akan kau alami jika kau jadi vampire berumur abadi." Celetuk Tao berusaha meringankan atmosfir di udara dengan gaya khasnya yang––nggak banget.

"Hah?! Apa?!" Kyungsoo terpancing dan kembali mendamprat pemuda berambut merah di depannya, "Kau harus ngaca dulu Tao-ge! Kau pikir dirimu tidak berwajah wanita apa? Lihat dirimu! Ngaca!" timpal Kyungsoo sambil menunjuk-nunjuk wajah kakak sepupunya dengan wajah manyun.

"Paling tidak aku bukan GAY!"

"Eeekk? Cuih, apanya? Aku pernah kok liat Tao-ge dicium cowok! Ngaku! Iya 'kan?!"

Wajah Tao memucat dan serasa tersendak ludahnya sendiri, "K-Kau bilang apa?" pekiknya dan langsung mencubit kedua pipi Kyungsoo dan menariknya kencang ke arah berlawanan, "Kau itu ngarang tidak karu-karuan, ya! HMMM!" jubitannya Tao pun kian dasyat.

Untuk beberapa detik Krystal, Baekhyun dan Kai hanya bisa melongo bodoh melihat perubahan drastis situasi pertemuan ini akibat ulah 'tak berbobot' kedua saudara yang masih sibuk saling mencubit pipi dihadapan mereka itu.

Dan Krystal pun akhirnya memilih untuk melerai mereka berdua.

Kai cuma bisa mendesah sambil memijit keningnya, sementara Baekhyun…pemuda merah itu sama sekali tidak merubah ekpresi seriusnya sejak tadi. Ekor matanya menatap Kai sekilas kemudian beralih ke perapian.

Ia masih harus memikirkan cara lain.

.

.

.

"Tidak ada hasil!" cibir Kyungsoo di depan teras rumahnya dengan bibir yang sengaja di manyunkan.

Ia dan Kai baru saja mengantar ketiga tamu mereka pulang.

Baik Krystal, Tao maupun Baekhyun, tidak satu pun diantara mereka yang berkata 'ya' untuk keputusan Kyungsoo itu. Tapi juga tidak berkata 'tidak' hingga membuat Kyungsoo jadi sedikit bingung. Meski begitu sebelum ketiga orang tersebut pergi, Kyungsoo sempat kembali mendeklarasikan kalau ia akan tetap menjadi vampire apapun yang terjadi. Secepatnya.

Dan sebelum pergi Baekhyun juga sempat memberitahu Kyungsoo kalau ia mungkin akan berkunjung lagi. Kyungsoo tidak begitu menggubris. Baguslah jika Baekhyun mau sering-sering berkunjung ke tempatnya. Asal tidak mengganggu keputusannya saja..

0l=======*Turn Me Into A Vampire*=======l0

"Ehh? Kenapa kau harus pergi?" cibir Kyungsoo tidak suka.

Saat ini pemuda berwajah manis itu tengah duduk bersila di atas ranjangnya bersama sang kekasih tercinta.

Sayangnya kekasihnya itu baru saja mengatakan hal yang tidak ia sukai. Hal yang selama ini selalu menghantui perjalanan kisah mereka. Menjadi berkerikil dan nyaris beberapa kali membuat ia terpuruk.

Haahh….Lagi-lagi Kai bilang akan meninggalkan Kyungsoo.

"Kyungsoo," kata Kai lalu meletakkan kedua tangannya ke lengan kekasihnya –berusaha mendapat kembali perhatian pemuda yang sangat ia cintai itu sejenak agar ia bisa menyelesaikan kalimatnya, "Aku sudah pernah bilang padamu 'kan, kalau yang bisa 'mengubahmu' itu hanya vampire baru. Seseorang yang baru saja diubah menjadi vampire. Aku tidak bisa melakukan itu. Karena itulah aku harus pergi untuk mencari vampire baru itu lalu membawanya ke sini." Jelas Kai menatap lekat-lekat ke dalam iris mata Kyungsoo.

"Kenapa tidak membawaku saja?"

Kai menggeleng, "Terlalu berbahaya."

Kyungsoo kembali merajuk, dia tidak suka ditinggalkan begini. Tapi, jika Kai tidak mencari vampire baru itu, dia tidak akan bisa berubah menjadi vampire, itu artinya ia juga tidak akan bisa menemani Kai selamanya –seperti yang ia inginkan.

Butuh waktu beberapa menit dan sedikit kecupan hingga Kyungsoo akhirnya mengangguk mengiyakan.

Tangan Kyungsoo meremas kemeja kekasihnya, "Tapi kau harus janji tidak akan lama." Bisik Kyungsoo sebelum Kai merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.

"hm," gumam Kai, "Kalau begitu beri aku 'jamuan' yang bisa membuatku tidak sabar untuk cepat-cepat pulang,"

0l=======*Turn Me Into A Vampire*=======l0

"Pergi?" tanya Baekhyun dari arah dapur.

"Hm..," Kyungsoo yang berada di ruang makan hanya bergumam pelan. Lalu menelan sarapannya kemudian menjelaskan pada sahabatnya itu alasan Kai pergi kali ini.

Baekhyun cuma bisa mengangguk dengan wajah kurang berminat mendengar semua penjelasan Kyungsoo. Kai yang mencari vampire baru untuk dibawa pulang kemudian mengubah Kyungsoo.

Masalah ini entah mengapa makin lama terdengar begitu ringan untuk diperbincangkan. Membuat telinga Baekhyun panas dan menghancurkan mood-nya.

"Aku tetap tidak akan semudah itu membiarkanmu, Kyungsoo."

Kyungsoo yang baru saja akan menyeruput supnya pagi itu terhenti gerakannya mendengar pernyataan Baekhyun yang sangat amat tidak ingin ia dengar sekarang.

"Baekhyun…, keputusanku tidak akan beru––,"

"Aku tau, karena itulah aku akan melakukan hal lain untuk menggagalkannya."

"Baekhyun!"

"Keputusanku tidak akan berubah." Ujar si rambut merah mengulangi kalimat Kyungsoo.

"Baekhyun!" bentak Kyungsoo lagi kali ini dengan menggebrak meja –emosi.

Baekhyun terlihat menyeruput supnya dengan tenang seolah suara berisik dari gebrakan meja yang dilakukan Kyungsoo hanyalah seperti letupan gelembung sabun di telinganya.

"Kupikir kau akan mendukungku selama ini demi kebahagiaanku, kupikir kau sahabat yang seperti itu, Baekhyun..,"

"Aku hanya akan mendukungmu untuk kebaikanmu Kyungsoo, kebaikanmu."

"Persetan dengan kebaikan jika aku tidak bahagia!"

"Kai bukan satu-satunya hal yang akan membuatmu bahagia!"

"Bukan kau yang menentukan hal itu!" teriak Kyungsoo dan langsung meninggalkan meja makan. Berlari ke kamarnya dan membanting pintu dengan sangat keras.

Baekhyun menghentikan sarapannya.

Iris pemuda bersurai merah itu menatap lurus mangkuk sup Kyungsoo yang masih hangat –tak dihabiskan. Pikirannya melayang. Apa yang sebenarnya Kai lakukan pada Kyungsoo hingga ia bersikukuh untuk tetap bersama mahluk penghisap darah itu hingga sekarang? Ini tidak masuk akal jika mengingat pemuda yang tengah bermasalah ini adalah Kyungsoo.

Baekhyun tidak habis pikir…benar-benar dibuat bingung. Mungkinkah Kai mencuci otaknya? Ah tidak…sebenci-bencinya Baekhyun pada Kai, Baekhyun tetap yakin Kai tidak akan mungkin melakukan hal sekeji itu pada Kyungsoo. Mencuci otaknya dan memaksa Kyungsoo untuk mencintainya layaknya boneka.

0l=======*Turn Me Into A Vampire*=======l0

Sebulan Kyungsoo menunggu kedatangan Kai. Dan selama itu ia harus terus-terusan bersitegang dengan Baekhyun yang masih tetap tidak mau menerima keputusannya. Nyaris saja ia frustasi setiap hari melihat Baekhyun begitu menderita. Membujuknya namun terus ia tolak bahkan ia bentak. Ia hanya ingin Bekhyun mengerti. Mengerti kalau Kyungsoo ingin bersama dengan orang yang dicintainya –selamanya! Pasangan mana di dunia ini yang tidak ingin bersama dengan kekasihnya selama-lamanya? Dan sayangnya Baekhyun tidak mengerti hal itu. Yang pemuda merah itu tau adalah hidupnya adalah sahabatnya –Kyungsoo– tidak ada yang lain. Semua untuk kebaikan Kyungsoo, yang terbaik untuknya dan semua agar Kyungsoo tidak tersakiti lalu bla bla bla.

Muak? Jelas Kyungsoo akan muak, tapi itu tidak mungkin ia lontarkan pada Baekhyun. Sahabatnya itu lebih dari 'sangat' berarti untuknya. Betapapun ia terus mengacuhkan penolakan Baekhyun, tapi Kyungsoo tetap akan berusaha untuk tidak lebih menyakiti pemuda itu.

.

.

"Kai sudah kembali," lirih Kyungsoo. "Dan itu tidak mencairkan suasana." Gumamnya lagi. Suara shower yang menghujani tubuhnya dalam bath tub membuat pikiran pemuda itu semakin semerawut tapi juga berusaha menarik benang merah disaat bersamaan.

Sekarang ada seorang vampire lain di rumah ini. Terkurung dalam jeruji besi yang telah Kai modifikasi untuk mengatasi kekuatan mahluk itu. Kabar buruk lainnya adalah vampire itu dalam keadaan sangat lapar. Dan Kyungsoo harus mati-matian menahan Baekhyun untuk tidak bertindak ceroboh mendatangi vampire itu –dengan tujuan untuk memusnahkannya– yang bisa saja berakhir dengan kematiannya sendiri.

Oke, Baekhyun tidak sebodoh itu, jadi Kyungsoo bisa sedikit legah.

TOK Tok Tok

"Apa kau masih lama di dalam sana?" panggil Kai dari luar kamar mandi. "Kau bisa sakit jika mandi terlalu lama malam-malam begini, Kyungsoo!" teriaknya lagi.

Kyungsoo hanya bisa mendengus kesal lalu kembali membersihkan tubuhnya –terutama dibagian 'belakang'. Soalnya dia baru saja 'melayani' kekasihnya itu setelah bepergian jauh dan membuat Kyungsoo harus membersihkan diri segera sebelum bertemu dengan 'penentu hidupnya' –si vampire baru yang tengah disekap di bawah sana.

Rasanya sangat deg-degan. Dan Kyungsoo jelas penuh keringat dingin sebelum ritual itu dimulai. Berkali-kali dengan suara gagap Kyungsoo bertanya pada Kai, "A-Apa rasanya akan sakit?" dan hanya dibalas dengusan kecil dari pria itu.

"Sedikit. Sedikit lebih sakit ketimbang aku yang melakukannya. Dan mungkin dia akan makan sedikit lebih banyak juga. Tapi jangan khawatir aku yang akan mengantisipasi hal itu."

-glup-

-glek-

Ugh!

Kyungsoo bisa merasakan jemarinya begitu dingin. Dan kakinya tidak berhenti gemetar saat menuruni tangga. Mahluk itu akan Kai bawa ke ruang tamu dengan kondisi di rantai dan dalam pengawasan ketat dari Kai. Kyungsoo sudah mempersiapkan diri dan mentalnya dengan baik. Tapi entah mengapa digigit oleh orang (vampire) selain Kai membuatnya sedikit merasa…ketakutan.

Berkali-kali ia meremas-remas jari-jarinya bergantian sambil menunggu Kai keluar dari ruang bawah tanah. Dan ketika suara gemerincing dari rantai mulai berdentum beraturan di lantai dipan miliknya, degup jantung Kyungsoo kian memompa semakin cepat.

"Namanya J-,"

"Aku tidak perlu tau namanya!" sergah Kyungsoo spontan memotong perkataan Kai dan lalu mengarahkan pandangannya pada pemuda berkulit pucat dengan mata mengkilat lapar dan gigi-gigi runcing yang nyaris meneteskan air liur di hadapannya itu.

-glup-

Taring-taring itu sebentar lagi akan menembus kulitnya. Sebentar lagi..

Meski pemuda berambut perak kebiruan itu leher tangan dan kakinya dirantai kuat dan dipegang erat oleh Kai, ketakutan yang menohok jantung Kyungsoo sama sekali tidak berkurang keintensitasnya.

Dan ia bahkan merasa mulai panik.

Ia akan berubah menjadi vampire setelah digigit oleh pemuda ini. Pemuda yang tampilannya seperti budak ini –entah darimana Kai mendapatkannya.

Kyungsoo tidak akan bisa makan daging panggang lagi, tidak akan melihat matahari pagi lagi dan tidak akan bisa menyesali apapun lagi. Ia tau Chanyeol memiliki serum yang bisa mengubahnya kembali menjadi manusia, tapi…memangnya pemuda yang jelas-jelas memiliki dendam dengan Kai dan dirinya itu akan mau membuatkannya serum itu lagi? Apalagi Baekhyun bilang bahan yang Chanyeol gunakan sangat mahal dan nyaris mustahil untuk mendapatkannya lagi.

Apa Kyungsoo akan….merelakan semuanya…?

Untuk Kai?

Hanya untuk seorang pria yang kini ada di hadapannya itu?

AGH! Apa yang ia pikirkan? Sahabat, martabat dan bahkan keluarga sudah ia korbankan untuk pria ini, pengabdian seumur hidup rasanya bukan masalah yang begitu besar dibandingkan dengan semua pengorbanan yang telah ia lakukan selama ini! Sama sekali tidak sebanding!

"Baiklah..," ujar Kyungsoo berusaha memantapkan keputusannya sekali lagi sambil menegak ludah. Ia melirik sebentar ke belakang. Ia tau Baekhyun tengah berdiri di balik tembok itu dan perlahan, beberapa detik setelah Kyungsoo berkata 'baiklah' tadi, Baekhyun pun mulai keluar dari persembunyiannya dan berjalan mendekat –tapi agak menjauh dari pusat kegiatan itu.

Vampire itu menatap Baekhyun dengan pandangan lapar yang sama dengan yang ia tujukan pada Kyungsoo. Sepertinya dalam hati pemuda itu melompat dan jingkrak-jingkrak girang melihat dua santapan segar dan hangat berada di rumah ini. Di depan matanya. Iris mata pemuda itu lalu menoleh sesaat pada Kai –yah, mungkin nanti dia bisa bernego sedikit dengan 'kolega'nya itu untuk membagi jatah mereka. Tapi itu jika ia bisa mengendalikan diri. Karena ia sangat lapar malam ini, sangat lapar! Ia mungkin akan melahap kedua pemuda manis ini sekaligus! Yah! Sekaligus!

"Jangan lupa kalau aku akan membunuhmu setelah ini," bisik Kai pada vampire yang mulai terlihat liar di genggamannya itu.

Vampire berambut perak kebiruan itu bergidik dan menatap Kai ngeri. Kai hanya menatap dingin dengan iris mata yang sudah memerah menyala layaknya milik pemuda perak itu sendiri. Kai nampaknya benar-benar serius dan itu membuatnya merinding dan nyaris lupa dengan dua 'surga' pelepas dahaga di hadapannya itu. Terserahlah…yang penting saat ini adalah menghentikan siksaan terberatnya. Rasa laparnya.

Kai menatap Baekhyun kemudian Kyungsoo.

Janji untuk tidak membunuh siapapun otomatis dibatalkan. Mulai malam ini.

"Kau siap?" tanya Kai.

Dengan masih sedikit gemetar Kyungsoo pun mengangguk yakin, "Iya, lepaskan dia." Perintah Kyungsoo.

Perlahan Kai mulai melonggarkan rantai-rantai di tangannya tanpa melepas pandangannya sama sekali pada Kyungsoo. Vampire itu pun langsung melompat tanpa perlu diperintah sama sekali ke arah Kyungsoo yang tengah duduk rapi dan gugup di depan sana, mengunci leher Kyungsoo dalam benaknya.

Kyungsoo terkesiap dengan semua gerakan yang terjadi di dalam ruangan itu.

Entah mengapa segalanya jadi terlihat dalam mode slow motion.

Vampire itu dengan begitu bernafsu dan lapar berlari kearahnya dengan mata merah menyala. Rahangnya terbuka menunjukkan dereten gigi taringnya yang Kyungsoo hapal betul tajamnya seperti apa. Lalu wajah Kai yang tiba-tiba –dengan tidak biasanya– berubah terkejut menatap ke arah lain. Kyungsoo ikut bingung dan menoleh ke arah Kai menatap. Tubuh Baekhyun terlihat melompat ke hadapan Kyungsoo, langsung memeluk si vampire dan taring yang seharusnya menembus kulit Kyungsoo kini tertancap sempurna di leher Baekhyun.

Slow motion berhenti.

Yang ada di hadapan Kyungsoo kini adalah Kai yang terbelalak dan Baekhyun yang terkapar di lantai dengan vampire yang meraung-raung di diatasnya sambil terus menyedot tiap tetes darah dari leher sahabatnya itu. Mengguncang-guncangkannya sesekali bagai daging tak bernyawa dan terus menyedot bengis leher Baekhyun tanpa ampun.

Syok membuat Kyungsoo dan Kai mematung tak percaya. Hingga akhirnya gerakan Kai yang menarik paksa vampire itu dari tubuh Baekhyun menyadarkan Kyungsoo yang masih terus duduk tak bergeming dari tempatnya dengan mata membulat dan pucat.

Baekhyun tak bergerak sama sekali. Tubuhnya penuh darah dan mata itu menutup. Tidak satu pun diruangan itu mendengar pemuda berambut merah itu berteriak tadi.

Dia..

"BAEKKHHYUUUNNN!"

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

{Tanjungpinang, 20151108}


Note : Dio nya untuk sementara Je Ra simpan dulu di tempat yang sangat aman biar nggak diincar Sehun #plak XXD

Je Ra minta maaf kalau masih ada aja typo yang nggak ke edit dan membuat readers kurang nyaman saat membacanya. Je Ra akan berusaha untuk meminimalkan typo yg ada di fic ini n(_ _)n.

Terima kasih buat yang udah RnR, fav dan follow ^_^ Je Ra harap chap ini dan seterusnya masih ada yang berkenan untuk mereview dan semoga jumlahnya makin banyak agar Je Ra lebih semangat lagi ngelanjutin-nya \^.^/

Next chap : {20151112}

See you on next chap :)

XOXO