Fifty Shades of Darker
HAEHYUK
.
FIFTY SHADES OF DARKER
© E. L. James
REMAKE
senavensta
Genre: Romance/Drama
Cast:
Lee Hyukjae
Lee Donghae
Kim Jongkook Lee Sungmin
Cho Kyuhyun Kim Hyuna
Ahn Chilhyun(Kangta) Kwon Boa
Hangeng Kim Heechul
Kim Taeyeon Tiffany Hwang
Kim Youngwoon Kim Jungmo
Jang Hyunseung Kim Ryeowook
Jessica Jung Park Jungsoo
Shin Donghee Choi Siwon
Taylor Martini Gail Jones
Choi Minho Kim Jaekyung
yang lain nyusul
.
Warn: Remake, BL/Boys Love, OOC, Typo(s).
Perubahan nama keluarga (marga) dan tempat, lokasi gedung, langsung didalam cerita, sengaja gak aku tulis dicast satu-satu karena nanti kepenuhan hahaha
Yang tidak suka hal-hal berbau remake, gak perlu maksain diri buat baca(?).
Daftar istilah ada dibagian paling akhir –kalo ada(?).
.
Wanna RnR?
.
.
Fifty Shades of Darker
.
"Aku menyukai versi permintaan maafmu," Donghae mengambil napas di rambut Hyukjae.
"Dan aku menyukai permintaan maafmu juga," balas Hyukjae sambil tertawa, kemudian meringkuk di dada Donghae.
"Apa kau sudah selesai?"
"Ya Tuhan, Hyukiie, kau ingin lagi?"
"Tidak! Maksudku pekerjaanmu."
"Aku akan menyelesaikan itu sekitar setengah jam lagi. Aku mendengar pesanmu di pesan suaraku."
"Dari kemarin."
"Kau terdengar sangat khawatir."
Hyukjae segera memeluk Donghae erat.
"Ya. Ini tidak seperti biasanya, kau tidak langsung merespon."
Donghae mencium rambut Hyukjae.
"Cake-mu seharusnya sudah siap dalam waktu setengah jam," gumam Hyukjae sambil tersenyum pada Donghae dan turun dari pangkuannya.
"Aku tidak sabar ingin mencicipinya. Baunya sangat enak waktu di panggangan, bahkan sangat menggugah selera."
Hyukjae tersenyum malu-malu pada Donghae, merasa sedikit malu, dan Donghae seperti mencerminkan ekspresi Hyukjae.
Astaga, apakah mereka benar-benar begitu berbeda? Mungkin itu merupakan kenangan Donghae yang dulu mengenai memanggang roti.
Membungkuk kebawah, Hyukjae menanamkan ciuman cepat di sudut bibir Donghae dan berjalan kembali ke dapur.
.
Semua sudah siap ketika Hyukjae mendengar Donghae keluar dari ruang kerjanya, dan Hyukjae menyalakan satu lilin emas di cake itu.
Donghae memberi Hyukjae senyum yang sangat lebar saat ia berjalan ke arahnya, dengan lembut Hyukjae menyanyikan lagu Happy Birthday untuknya.
Lalu Donghae membungkuk dan meniupnya, sambil menutup matanya.
"Aku sudah membuat suatu harapan," katanya saat membuka matanya lagi, dan untuk beberapa alasan melihat penampilannya itu membuat muka Hyukjae memerah.
"Frostingnya masih lembek. Aku harap kau menyukainya."
"Aku tak sabar untuk mencicipinya, Hyukjae," bisik Donghae, dan dia membuat suara yang begitu kasar.
Hyukjae memotong kue itu untuk mereka masing masing satu irisan, dan mereka memotongnya lagi dengan garpu kue kecil.
"Mmm," Donghae mengerang memberikan penghargaan.
"Inilah sebabnya mengapa aku ingin menikah denganmu."
Dan Hyukjae tertawa lega.
Donghae menyukai kuenya.
.
Fifty Shades Darker
.
"Siap bertemu dengan keluargaku?" tanya Donghae ketika ia mematikan mesin R8.
Mereka parkir di jalan masuk kediaman orangtua Donghae.
"Ya. Apakah kau akan memberitahu mereka?"
"Tentu saja. Aku tak sabar untuk melihat reaksi mereka," balas Donghae sambil tersenyum nakal kearah Hyukjae dan keluar mobil.
Saat ini jam tujuh lewat tiga puluh, dan meskipun malam ini terasa hangat, tapi ada angin malam yang dingin bertiup dari arah teluk.
Hyukjae menarik jas disekelilingnya ketika ia melangkah keluar dari mobil. Ia mengenakan kemeja koktail warna hijau zamrud yang ia temukan tadi pagi ketika ia mengaduk-aduk seluruh lemari. Pakaiannya cocok memakai sabuk.
Donghae meraih tangan Hyukjae, dan mereka menuju ke pintu depan.
Kangta membuka lebar-lebar pintu sebelum Donghae berhasil mengetuk pintu.
"Donghae, halo. Selamat ulang tahun, Nak," Kangta mengambil uluran tangan Donghae dan menariknya ke pelukan singkat, membuatnya terkejut.
"Er… terima kasih, Dad."
"Hyukiie, sangat senang melihatmu lagi," ucap Kangta kemudian memeluk Hyukjae juga, dan mereka akhirnya masuk ke dalam rumah.
Sebelum mereka menginjakkan kaki di ruang tamu, Sungmin datang dengan cepat, turun menyusuri lorong ke arah Hyukjae dan Donghae. Dia tampak sangat marah.
"Kalian berdua! Aku ingin berbicara denganmu," geram Sungmin seperti dengan dirinya sendiri. Seakan bersuara kau-sebaiknya- tidak-membuat-kekacauan-dengan-ku.
Hyukjae melirik dengan gelisah pada Donghae, yang mengangkat bahu dan memutuskan untuk menyenangkannya saat mereka mengikutinya ke ruang makan, meninggalkan Kangta yang kebingungan pada ambang pintu ruang tamu.
Sungmin menutup pintu dan berbalik kearah Hyukjae.
"Apa-apaan ini?" desisnya dan melambaikan selembar kertas pada Hyukjae.
Benar-benar bingung, Hyukjae mengambil itu dari Sungmin dan membaca dengan cepat.
Bibirnya seketika kering.
Itu berisikan tanggapan email Hyukjae dari Donghae, mendiskusikan kontrak itu.
Semua warna mengalir keluar dari wajah Hyukjae saat darahnya berubah menjadi es dan ketakutan melalui seluruh tubuhnya.
Secara naluriah ia melangkah ke antara Sungmin dan Donghae.
"Apa itu?" gumam Donghae, nadanya waspada.
Hyukjae mengabaikan Donghae. Ia hanya masih tidak percaya Sungmin melakukan hal itu.
"Sungmin! Ini tidak ada hubungannya denganmu," geram Hyukjae melotot sengit pada Sungmin, kemarahan menggantikan ketakutannya.
Terkejut dengan tanggapan Hyukjae, Sungmin berkedip padanya, mata coklatnya melebar.
"Aku tidak bisa menahan keputusasaan keluar dari suaraku."
"Hyukkie, ada apa ini?" kata Donghae lagi, nadanya lebih mengancam.
"Donghae, maukah kau pergi sebentar, please?" pinta Hyukjae padanya.
"Tidak. Tunjukkan padaku," gumam Donghae sambil mengulurkan tangannya, dan Hyukjae tahu dia tak bisa di debat, bahkan suaranya dingin dan keras.
Dengan enggan Hyukjae memberikan e-mail itu.
"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Sungmin, mengabaikan Donghae. Dia tampak begitu khawatir.
Hyukjae memerah saat segudang gambaran erotis melayang cepat di pikirannya.
"Itu bukan urusanmu, Sungmin," Hyukjae tak bisa nahan nada putus asa keluar dari suaranya.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Donghae, kepalanya miring ke satu sisi, wajahnya tanpa ekspresi, namun suaranya seperti kelembutan yang begitu mengancam.
Sungmin memerah.
"Itu ada di saku sebuah jaket, yang aku asumsikan adalah milikmu, yang aku temukan di belakang pintu kamar Hyukkie."
Dihadapkan dengan tatapan membakar abu-abu Donghae, sikap membaja Sungmin mengendur sedikit, tapi ia tampaknya pulih kembali dan cemberut pada Donghae.
Sungmin seperti rambu-rambu dari permusuhan dengan kemeja ketat merah terang. Dia tampak megah. Tapi apa sih yang dia cari dari pakaian Hyukjae? Itu biasanya tidak terjadi.
"Apakah kau mengatakan ini pada orang lain?" tanya Donghae seperti sarung tangan sutra.
"Tidak! Tentu saja tidak," bentak Sungmin, tersinggung.
Donghae mengangguk dan kelihatan santai. Dia berbalik dan menuju perapian. Tanpa bicara Sungmin dan Hyukjae menyaksikan dia mengambil pemantik dari perapian, menyalakan api untuk e-mail itu, dan melepaskannya, membiarkannya mengapung terbakar perlahan-lahan ke dalam perapian sampai tidak ada lagi.
Keheningan di ruang itu menyesakkan nafas.
"Bahkan Kyuhyun sekalipun?" tanya Hyukjae, mengalihkan perhatiannya kembali ke Sungmin.
"Tidak seorang pun," kata Sungmin tegas, dan untuk pertama kalinya ia terlihat bingung dan terluka.
"Aku hanya ingin tahu kau baik-baik saja, Hyukkie," bisik Sungmin.
"Aku baik-baik, Sungmin. Lebih dari baik. Tolonglah, Donghae dan aku baik saja, benar-benar baik, ini adalah berita lama. Silakan mengabaikannya."
"Abaikan saja?" kata Sungmin cepat.
"Bagaimana aku bisa mengabaikan itu? Apa yang ia telah lakukan untukmu?" lanjut Sungmin, mata coklatnya begitu penuh perhatian sepenuh hati.
"Dia tidak melakukan apa-apa padaku, Sungmin. Jujur, aku baik."
Sungmin berkedip pada Hyukjae.
"Sungguh?" tanya Sungmin.
Donghae membungkuskan lengannya di sekitar Hyukjae dan menarik agar Hyukjae dekat, tak melepaskan pandangannya dari Sungmin.
"Hyukkie telah menyetujui untuk menjadi istriku, Sungmin," katanya pelan.
"Istri!" cicit Sungmin, matanya melebar tak percaya.
"Kami akan menikah. Kami akan mengumumkan pertunangan kami malam ini," kata Donghae.
"Oh!" Sungmin ternganga pada Hyukjae. Dia tertegun.
"Aku meninggalkanmu sendirian selama enam belas hari, dan ini yang terjadi? Ini sangat mendadak. Jadi kemarin, ketika aku berkata–" Sungmin menatap ke arah Hyukjae, hilang. "Di bagian mana isi e-mail itu yang sesuai dengan semua ini?"
"Tidak ada, Sungmin. Lupakan saja, tolonglah. Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Jangan lakukan ini. Jangan merusak pesta ini dan malam kami," bisik Hyukjae.
Sungmin berkedip dan tiba-tiba matanya bersinar dengan air mata.
"Tidak. Tentu saja aku tidak akan melakukannya. Kau baik-baik saja?" tanya Sungmin entah yang keberapa kali, ingin kepastian.
"Aku belum pernah lebih bahagia dari ini," bisik Hyukjae.
Sungmin maju kedepan dan meraih tangan Hyukjae walaupun lengan Donghae masih mengelilingi tubuh Hyukjae.
"Kau benar-benar baik-baik saja?" tanya Sungmin penuh harap.
"Ya," balas Hyukjae sambil tersenyum padanya, sukacitanya kembali.
Sungmin kembali tenang. Dia tersenyum pada Hyukjae, kebahagian Hyukjae tercermin kembali pada dirinya.
Hyukjae melangkah keluar dari pelukan Donghae, dan Sungmin memeluknya tiba-tiba.
"Oh, Hyukkie! Aku sangat khawatir ketika aku membaca ini. Aku tak tahu harus berpikir apa. Maukah kau menjelaskannya padaku?" bisik Sungmin.
"Suatu hari nanti, tidak sekarang."
"Bagus. Aku tak akan memberitahu pada siapapun. Aku sangat mencintaimu, Hyukkie, seperti saudaraku sendiri. Aku hanya berpikir… Aku tak tahu harus berpikir apa. Maafkan aku. Jika kau bahagia, maka aku bahagia."
Kemudian Sungmin melihat langsung pada Donghae dan mengulangi permintaan maafnya.
Donghae mengangguk padanya, matanya masih sangat dingin, dan ekspresinya tidak berubah. Tampaknya masih marah.
"Aku benar-benar minta maaf. Kau benar, itu bukan urusanku," bisik Sungmin pada Hyukjae.
Ada ketukan di pintu yang mengejutkan Sungmin dan Hyukjae sehingga terpisah. Boa memunculkan kepalanya.
"Semuanya baik-baik saja, sayang?" tanyanya pada Donghae.
"Semuanya baik-baik saja, Mrs. Kwon," kata Sungmin segera.
"Baik, Mom," kata Donghae.
"Bagus," Boa masuk.
"Jadi kau tak akan keberatan jika aku memberikan putraku pelukan ulang tahun," gumam Boa berseri-seri pada Sungmin dan Hyukjae.
Boa kemudian memeluk Donghae erat dan suasana mencair segera.
"Selamat ulang tahun, Sayang," katanya lembut, menutup matanya dalam pelukannya.
"Aku sangat senang kau masih bersama kami."
"Mom, aku baik-baik saja," balas Donghae tersenyum ke arahnya.
Boa akhirnya menarik diri, melihat Donghae lekat-lekat, dan menyeringai.
"Aku sangat bahagia untukmu," katanya dan membelai wajah Donghae.
Donghae menyeringai pada Boa, senyum ribuan megawatt miliknya.
"Nah, anak-anak, jika kalian semua telah selesai dengan tête-à-tête (percakap pribadi), ada kerumunan orang di sini untuk memeriksa bahwa kau benar-benar masih utuh, Donghae, dan mengucapkan selamat ulang tahun."
"Aku akan segera ke sana."
Boa melirik cemas pada Hyukjae dan Sungmin dan tampaknya diyakinkan oleh senyum Hyukjae. Dia mengedipkan mata pada Hyukjae saat ia memegang pintu terbuka untuk mereka.
Donghae mengulurkan tangannya pada Hyukjae dan Hyukjae menerimanya.
"Donghae, aku benar-benar minta maaf," kata Sungmin dengan rendah hati.
Sungmin yang rendah hati adalah sesuatu yang pantas untuk dilihat.
Donghae mengangguk padanya, dan mereka mengikuti Donghae keluar.
.
Fifty Shades Darker
.
Di lorong, Hyukjae memandang cemas ke arah Donghae.
"Apakah ibumu tahu tentang kita?"
"Ya."
"Oh."
Dan untuk berpikir malam mereka bisa saja terpuruk oleh Lee Sungmin yang ulet. Hyukjae bergidik membayangkan konsekuensi dari gaya hidup Donghae yang terungkap kepada semua orang.
"Well, itu adalah awalan yang menarik untuk memulai malam ini," gumam Hyukjae tersenyum manis pada Donghae.
Donghae melirik ke arah Hyukjae, dan itu kembali, tatapan gelinya.
"Seperti biasa, Tuan Lee, Kau memiliki bakat untuk meremehkan," Donghae mengangkat tangan Hyukjae ke bibirnya dan mencium buku-buku jarinya ketika mereka berdua berjalan ke ruang tamu untuk tepukan tangan seluruh ruangan yang tiba-tiba, spontan, dan memekakkan telinga.
Entah berapa banyak orang di sini.
Hyukjae memindai ruangan dengan cepat: semua keluarga Lee, Hyunseung dengan Hyuna, Dr. Siwon dan istrinya, Hyukjae asumsikan. Ada Mac dari kapal, seorang pria yang tinggi dan tampan Afro Amerika, Hyukjae ingat pernah melihat dia di kantor Donghae saat pertama kali Hyukjae bertemu Donghae - teman judes Hyuna, Jessica, dua perempuan Hyukjae tidak mengenali sama sekali, dan… Mrs. Hwang.
Pelayan muncul dengan nampan sampanye. Dia mengenakan gaun hitam berpotongan rendah, tidak ada kuncir tapi ciput, memerah dan mengibaskan bulu matanya pada Donghae.
Tepuk tangan berhenti, dan Donghae meremas tangan Hyukjae karena semua mata berpaling kepadanya dengan harapan.
"Terima kasih, semua orang. Sepertinya aku akan memerlukan salah satu dari ini," Donghae mengambil dua minuman dari nampan dan memberinya senyum singkat.
Dan sepertinya pelayan itu akan mati atau pingsan.
Donghae menyerahkan segelas kepada Hyukjae.
Donghae mengangkat gelasnya ke seluruh ruangan, dan segera semua orang melonjak maju. Pemimpin majunya orang-orang disana adalah wanita jahat dalam pakaian hitam. Apakah dia pernah memakai warna lain?
"Donghae, aku sangat khawatir," gumam Tiffany memberinya pelukan dan ciuman singkat di kedua pipi.
Donghae tidak membiarkan Hyukjae pergi meskipun faktanya Hyukjae mencoba untuk membebaskan tangan dari genggaman Donghae.
"Aku baik-baik saja, Tiffany," gumam Donghae dingin.
"Kenapa kau tidak meneleponku?" mohon Tiffany putus asa, matanya mencari mata Donghae.
"Aku sibuk."
"Bukankah kau mendapatkan pesan dariku?"
Donghae bergeser tak nyaman dan menarik Hyukjae lebih dekat, meletakkan lengannya di sekitar Hyukjae. Wajahnya tetap tanpa ekspresi saat ia memperhatikan Tiffany.
Tiffany tak bisa lagi mengabaikan Hyukjae, jadi ia mengangguk sopan ke arahnya.
"Hyukkie," gumamnya.
"Kau tampak manis, sayang."
"Tiffany," balas Hyukjae menggumam. "Terima kasih."
Hyukjae menangkap mata Boa. Ia mengernyit, menonton mereka bertiga.
"Tiffany, aku harus membuat pengumuman," kata Donghae, sambil menatap Tiffany dengan tenang. Mata coklat-gelapnya berawan.
"Tentu saja," balas Tiffany sambil tersenyum palsu dan melangkah mundur.
"Semua orang," panggil Donghae.
Dia menunggu sejenak sampai dengungan di ruangan menghilang dan semua mata tertuju padanya sekali lagi.
"Terima kasih atas kedatangannya hari ini. Aku harus mengatakan aku mengharapkan makan malam keluarga yang tenang, jadi ini adalah kejutan yang menyenangkan," Donghae menatap tajam pada Hyuna, yang sedang menyeringai. Dan memberi Donghae lambaian kecil.
Donghae menggelengkan kepalanya putus asa dan melanjutkan.
"Ros dan aku," jelas Donghae sambil menunjuk pada wanita berambut merah berdiri di dekatnya dengan seorang wanita pirang, "kami mengalami peristiwa buruk kemarin."
Wanita itu menyeringai dan mengangkat gelasnya pada Donghae.
Donghae mengangguk ke arahnya.
"Jadi aku sangat senang berada di sini hari ini untuk berbagi dengan kalian semua berita yang sangat bagus. Pria manis ini," jelas Donghae melirik ke arah Hyukjae, "Tuan Lee Hyukjae, telah menyetujui untuk menjadi pendamping hidupku, dan aku ingin anda semua menjadi yang pertama tahu."
Ada suara terperangah bersamaan karena keheranan, sorakan aneh, dan kemudian tepuk tangan! Astaga, hal itu benar-benar terjadi.
Hyukjae memerah sewarna kemeja Sungmin.
Donghae menggenggam dagu Hyukjae, mengangkat bibir penuh itu ke bibirnya, dan mencium dengan cepat.
"Kau akan segera menjadi milikku."
"Aku sudah milikmu," bisik Hyukjae.
"Secara hukum," bisik Donghae pada Hyukjae dan memberinya senyuman nakal.
Jessica, yang berdiri di samping Hyuna, terlihat kecewa, pelayan tadi tampak seperti dia makan sesuatu yang menjijikkan dan pahit.
Saat Hyukjae melirik cemas di sekitar kerumunan yang berkumpul, ia menangkap pandangan Tiffany. Mulut wanita itu terbuka. Dia terpana, ngeri bahkan, dan Hyukjae tak bisa menahan perasaan kecil tapi intens dari kepuasan untuk melihat kekagetan itu. Dan apa yang sebenarnya yang Tiffany lakukan di sini?
Kangta dan Boa menyela pikiran tak kenal belas kasihan Hyukjae, dan segera Hyukjae dipeluk dan dicium dan diedarkan sana sini ke semua anggota keluarga Donghae.
.
Fifty Shades Darker
.
"Oh, Hyukkie! Aku sangat senang kau akan menjadi keluarga," sembur Boa.
"Perubahan Donghae. Dia bahagia. Aku sangat berterima kasih kepadamu."
Hyukjae memerah, malu dengan kegembiraan Boa tapi diam-diam senang juga.
"Di mana cincinnya?" seru Hyuna sambil memeluk Hyukjae.
"Um…" gumam Hyukjae, ia bahkan tidak berpikir tentang cincin.
Hyukjae melirik cemas ke arah Donghae.
"Kita akan memilih cincin bersama-sama," geram Donghae pada Hyuna.
"Oh, jangan melihat ku seperti itu, Lee!" tegur Hyuna, kemudian membungkus lengannya di sekeliling Donghae.
"Aku sangat senang untukmu, Donghae," katanya.
Hyuna satu-satunya orang yang Hyukjae tahu yang tak terintimidasi oleh pandangan marah Donghae.
Itu membuat Hyukjae gemetar. Well, itu pastinya karena sudah terbiasa.
"Kapan kau akan menikah? Apakah kau sudah menetapkan tanggalnya?" tanya Hyuna menatap Donghae dengan berseri-seri.
Donghae menggeleng, kegusarannya terlihat jelas.
"Tidak tahu, dan kami belum memutuskan. Hyukkie dan aku perlu waktu untuk membahas semua itu," katanya kesal.
"Kuharap kau memiliki pernikahan besar disini," seru Hyuna antusias, mengabaikan nada hati-hati Donghae.
"Kami mungkin akan terbang ke Vegas besok," geram Donghae padanya, dan dibalas dengan cemberut khas Hyuna.
Memutar matanya, Donghae berputar ke Kyuhyun, yang memberinya pelukan erat kedua kalinya dalam beberapa hari ini.
"Pekerjaan bagus," gumam Kyuhyun sambil menepuk punggung Donghae.
Tanggapan dari seluruh ruangan begitu banyak, dan dalam beberapa menit Hyukjae mendapati dirinya kembali di samping Donghae dengan Dr. Siwon.
Tiffany tampaknya telah menghilang, dan pelayan dengan cemberut mengisi gelas sampanye.
Disamping Dr. Siwon ada seorang wanita muda yang mencolok dengan rambut panjang gelap, hampir hitam, belahan dada, dan mata hazel yang indah.
"Donghae," kata Siwon, mengulurkan tangannya.
Donghae menjabatnya dengan senang hati.
"Siwon. Kibum," kemudian Donghae mencium wanita berambut gelap di pipinya. Dia mungil dan cantik.
"Senang kau masih bersama kami, Donghae. Hidupku akan sangat membosankan dan miskin tanpamu."
Donghae menyeringai.
"Siwon!" tegur Kibum, membuat Donghae geli.
"Kibum, ini Hyukjae, tunanganku. Hyukkie, ini adalah istri Siwon."
"Senang bertemu dengan seseorang yang akhirnya merebut hati Donghae," balas Kibum tersenyum ramah pada Hyukjae.
"Terima kasih," gumam Hyukjae, malu lagi.
"Itu adalah salah satu googly yang kau lemparkan disana, Donghae," Dr. Siwon menggelengkan kepalanya dengan kegelian tak percaya.
Donghae mengerutkan kening padanya.
"Siwon… kau dan metafora kriketmu," gumam Kibum memutar matanya.
Selama beberapa menit, mereka berbasa-basi. Kibum adalah seorang ibu yang tinggal di rumah dengan dua anak laki-lakinya. Hyukjae menyimpulkan bahwa dia adalah alasan mengapa Dr. Siwon berpraktek di Amerika Serikat.
"Dia baik, Donghae, merespon dengan baik terhadap pengobatan. Beberapa minggu lagi dan kita dapat mempertimbangkan program rawat jalan," jelas Dr. Siwon dan suara Donghae rendah, tapi Hyukjae tidak tahan untuk mengabaikannya, dengan agak kasar mengabaikan pembicaraan Kibum.
"Jadi sekarang bermain-main dan popok saat ini…"
"Itu pasti banyak menyita waktumu."
Hyukjae merona, mengalihkan perhatiannya kembali ke Kibum, yang tertawa manis. Hyukjae tahu Donghae dan Siwon membahas Taeyeon.
"Tanyakan padanya sesuatu untukku," bisik Donghae.
"Jadi apa pekerjaanmu, Hyukjae?"
"Hyukkie saja, please. Aku bekerja di penerbitan."
Donghae dan Dr. Siwon menurunkan suara mereka lebih rendah, itu benar-benar membuat frustasi. Tapi mereka berhenti ketika Kibum dan Hyukjae didatangi dengan dua wanita yang tidak Hyukjae kenal sebelumnya, Ros dan pirang ceria yang Donghae perkenalkan sebagai pasangannya, Gwen.
Ros menawan, dan Hyukjae segera menemukan mereka tinggal hampir berseberangan dengan Galleria Foret. Dia penuh pujian untuk keterampilan Donghae sebagai pilot. Kemarin adalah pertama kalinya dia naik Charlie Tango, dan dia bilang dia tidak akan ragu untuk naik lagi. Dia salah satu dari sedikit wanita yang Hyukjae temui yang tidak terpesona oleh Donghae, yah, alasannya sudah jelas.
Gwen suka tertawa cekikikan dengan rasa humor, dan Donghae tampaknya luar biasa nyaman dengan mereka berdua. Dia kenal mereka dengan baik. Mereka tidak membicarakan pekerjaan, tapi Hyukjae bisa mengatakan bahwa Ros adalah salah satu wanita cerdas yang dapat dengan mudah mengikuti pembicaraannya. Dia juga memiliki suara tertawa serak karena terlalu banyak merokok.
Boa menyela tenggang percakapan santai mereka untuk menginformasikan semua orang bahwa makan malam disajikan dengan gaya prasmanan di dapur keluarga Lee.
.
Fifty Shades Darker
.
Perlahan-lahan para tamu menuju ke dapur di belakang rumah.
Hyuna mencegat Hyukjae di lorong. Dalam gaun babydoll kembang pink pucat dan sepatu hak tinggi, dia menjulang di atas Hyukjae seperti peri pohon Natal.
Dia memegang dua gelas koktail.
"Hyukkie-oppa," desisnya penuh konspirasi.
Hyukjae melirik Donghae, yang melepaskan Hyukjae dengan tatapan keberuntungan-terbaik-Hyukjae-tahu-dia-tidak-masuk-akal-untuk-diatasi, dan Hyukjae menyelinap ke ruang makan dengan Hyuna.
"Ini," kata Hyuna nakal.
"Ini adalah salah satu lemon Martini terbaik ayahku, jauh lebih nikmat daripada sampanye," jelas Hyuna memberi Hyukjae segelas dan menonton dengan cemas sementara Hyukjae menyesap dengan ragu-ragu.
"Hmm… lezat. Tapi keras."
"Hyukkie-oppa, aku butuh beberapa saran. Dan aku tak bisa bertanya pada Jessica, dia begitu menghakimi tentang segala hal," cerita Hyuna sambil memutar matanya kemudian nyengir.
"Dia begitu iri padamu. Aku pikir dia berharap suatu hari bahwa dia dan Donghae mungkin bisa bersama-sama," tawa Hyuna meledak karena keanehan itu, dan Hyukjae gemetar dalam hati.
Itu adalah sesuatu yang Hyukjae harus hadapi sepanjang waktu, banyak orang yang menginginkan pria miliknya.
Hyukjae mendorong pikiran yang tak diinginkan itu dari kepalanya dan mengalihkan diri dengan masalah sekarang. Ia menyesap martininya.
"Aku akan mencoba membantu. Ceritakanlah."
"Seperti yang kau ketahui, Hyunseung dan aku bertemu baru-baru ini, terima kasih kepadamu," jelas Hyuna sambil berseri-seri pada Hyukjae.
"Ya."
"Oppa! Dia tak mau berkencan denganku," Hyuna merengut.
"Dengar, itu terdengar salah. Dia tak ingin berkencan karena saudaranya berpacaran dengan kakak laki-lakiku. Kau tahu, dia pikir itu sejenis incest. Tapi aku tahu dia suka padaku. Apa yang bisa aku lakukan?"
"Oh, aku paham," gumam Hyukjae, berusaha untuk memberi diri sendiri sedikit waktu. Apa yang bisa Hyukjae katakan?
"Bisakah kau setuju untuk menjadi teman dan memberinya sedikit waktu? Maksudku kau baru saja bertemu dengannya."
Hyuna mengangkat alisnya dan Hyukjae memerah.
"Dengar, aku tahu aku belum lama bertemu Donghae tetapi…" gumam Hyukjae cemberut padanya tak yakin apa yang ingin ia katakan.
"Hyuna, ini adalah sesuatu yang kau dan Hyunseung harus atasi bersama-sama. Aku akan menyarankan rute persahabatan."
Hyuna menyeringai.
"Kau telah belajar tatapan itu dari Donghae."
Hyukjae memerah.
"Jika kau ingin nasihat, tanyakan Sungmin. Dia mungkin memiliki beberapa wawasan tentang bagaimana perasaan saudaranya."
"Kau pikir begitu?" tanya Hyuna.
"Ya," jawab Hyukjae tersenyum menyemangati.
"Keren. Terima kasih, Hyukkie," balas Hyuna memberi Hyukjae pelukan lagi dan berlari tergesa-gesa karena bersemangat dan mengesankan, mengingat tingginya tumit sepatu itu, ke pintu, tak diragukan lagi akan mengganggu Sungmin.
Hyukjae menyesap martininya, dan ia akan mengikuti Sungmin ketika langkahnya terhenti.
.
Fifty Shades Darker
.
"Hyukjae," ejek wanita itu.
Hyukjae mengerahkan seluruh kepercayaan dirinya, yang sedikit kabur dari dua gelas sampanye dan koktail mematikan yang ia pegang di tangannya.
"Tiffany," bisik Hyukjae, dengan suara kecil, tapi stabil meskipun bibirnya terasa kering.
"Aku akan menawarkan ucapan selamat sepenuh hatiku, tapi kurasa itu jadi tidak pantas." Mata biru dinginnya menusuk menatap dengan dingin mata Hyukjae, penuh dengan kebencian.
"Aku tak perlu juga, tidak butuh ucapan selamatmu, Tiffany. Aku terkejut dan kecewa melihatmu di sini."
Tiffany melengkungan alis, sepertinya terkesan.
"Aku tidak pernah berpikir kau sebagai musuh yang layak, Hyukjae. Tapi kau mengejutkanku di setiap kesempatan."
"Aku bahkan tak pernah memikirkanmu sama sekali," bohong Hyukjae, dengan dingin.
Oh, Donghae akan bangga pada itu.
"Sekarang aku permisi, aku memiliki hal-hal yang jauh lebih baik untuk dilakukan daripada membuang-buang waktuku denganmu."
"Tidak begitu cepat, tuan manis," desis wanita itu, bersandar di pintu, secara efektif menghalangi jalan.
"Apa yang kau lakukan, setuju untuk menikahi Donghae? Jika kau berpikir selama satu menit kau bisa membuatnya bahagia, kau sangat keliru."
"Apa yang aku setujui tentang hubunganku dengan Donghae bukan urusanmu," balas Hyukjae tersenyum dengan kemanisan sarkatis.
Tiffany mengabaikan Hyukjae.
"Dia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tidak mungkin kau bisa puaskan," kata wanita itu dengan jahat.
"Apa yang kau ketahui tentang kebutuhannya?" bentak Hyukjae tak tahan.
Hyukjae merasa kemarahannya menyala dengan terang, terbakar dalam dirinya saat lonjakan adrenalin mengaliri tubuhnya.
Berani-beraninya wanita jalang sialan ini mengajariku?
"Kau bukan apa-apa selain penganiaya anak yang sakit, dan jika hal itu terserah aku, aku akan melemparkanmu ke dalam lingkaran neraka ketujuh dan berjalan pergi sambil tersenyum. Sekarang jangan halangi jalanku atau apakah aku harus memaksamu?"
"Kau membuat kesalahan besar di sini, manis," balas Tiffany sambil menggoyangkan jarinya yang panjang, kurus, halus terawatnya pada Hyukjae.
"Beraninya kau menilai gaya hidup kami? Kau tak tahu apa-apa, dan kau tak paham dengan urusan apa yang sebenarnya sedang kau hadapi. Dan jika kau berpikir dia akan bahagia dengan perempuan matre pemalu sepertimu–" Sudah cukup!
Hyukjae menyiramkan sisa lemon martininya didada Tiffany, membuatnya basah kuyup. Persetan dengan pernyataan lelaki harus sabar pada wanita atau sejenisnya, Hyukjae sudah tidak peduli dengan hal bodoh itu lagi.
"Jangan berani-berani kau memberitahuku urusan apa yang sedang aku hadapi!" teriak Hyukjae padanya.
"Kapan kau mau belajar? Ini urusan bukan urusanmu!" gertaknya sekali lagi.
Tiffany melongo pada Hyukjae, dilanda kengerian, menyeka minuman lengket dari dadanya. Sepertinya dia akan menyerang Hyukjae, tapi dia tiba-tiba terdorong ke depan saat pintu terbuka.
Donghae berdiri di ambang pintu.
Hanya dibutuhkan sepersekian nanodetik baginya untuk menilai situasi dan Hyukjae pucat dan gemetar, sementara Tiffany basah dan marah.
Wajah cantiknya menjadi gelap dan berubah dengan kemarahan ketika Donghae datang untuk berdiri di antara mereka.
"Apa yang kau lakukan, Tiffany?" kata Donghae, suaranya dingin dan bercampur dengan ancaman.
Tiffany berkedip ke arahnya.
"Dia tidak tepat untukmu, Donghae," bisik wanita itu.
"Apa?" teriak Donghae, mengejutkan mereka berdua.
Hyukjae tak bisa melihat wajah Donghae, tapi seluruh tubuhnya sudah menegang, dan dia memancarkan permusuhan.
"Bagaimana kau bisa tahu apa yang tepat untukku?"
"Kau memiliki kebutuhan, Donghae," kata Tiffany, suaranya lebih lembut.
"Aku sudah bilang sebelumnya, ini bukan urusanmu, sialan," Donghae meraung.
Donghae yang sangat marah telah memunculkan kepalanya yang tidak terlalu jelek. Orang-orang akan mendengarnya.
"Apa-apaan ini?" tanya Donghae berhenti sebentar, melotot pada Tiffany.
"Apa kau pikir itu dirimu? Kau? Kau pikir dirimu yang tepat untukku?" Suara Donghae lembut tapi nadanya mengalirkan penghinaan, dan tiba-tiba Hyukjae tidak ingin berada di sini.
Hyukjae tak ingin menyaksikan pertemuan intim ini. Ia mengganggu. Tapi ia terjebak, anggota badannya tak mau bergerak.
Tiffany menelan ludah dan tampaknya menarik dirinya jadi tegak. Sikapnya berubah halus, menjadi lebih berwibawa, dan dia melangkah ke arah Donghae.
"Aku adalah hal terbaik yang pernah terjadi padamu," desisnya angkuh pada Donghae.
"Lihatlah dirimu sekarang. Salah satu pengusaha terkaya paling sukses di Seoul, penuh kontrol, penuh kendali. Kau tak butuh apapun. Kau adalah penguasa dari alam semestamu."
Donghae melangkah mundur seolah-olah dia telah dipukul dan menganga dengan marah tak percaya pada Tiffany.
"Kau menyukainya, Donghae, jangan coba-coba menipu diri sendiri. Kau berada di jalan penghancuran diri sendiri dan aku menyelamatkanmu dari itu, menyelamatkanmu dari kehidupan di balik jeruji besi. Percayalah, sayang, itu dimana kau akan berakhir. Aku mengajarimu segalanya yang kau tahu, semua yang kau butuhkan."
Donghae memucat, menatap Tiffany dengan ngeri. Ketika ia bicara, suaranya rendah dan ragu.
"Kau mengajariku bagaimana berhubungan seks, Tiffany. Tapi itu kosong, seperti dirimu. Tidak heran suamimu meninggalkanmu."
Rasa pahit naik di mulut Hyukjae. Seharusnya ia tidak berada di sini. Tapi ia membeku di tempat, terpesona karena Donghae dan Tiffany mengeluarkan isi perut mereka satu sama lain.
"Kau tidak pernah sekalipun memelukku," bisik Donghae.
"Kau tidak pernah bilang kau mencintaiku," gumam Donghae menyipitkan matanya.
"Cinta hanya diperuntukkan bagi orang bodoh, Donghae."
"Keluar dari rumahku," bentak Boa keras, yang marah dan mengejutkan mereka bertiga.
Tiga kepala berayun cepat ke tempat Boa berdiri di ambang ruangan. Dia memelototi Tiffany, yang pucat di bawahnya kulit coklat pantai St. Tropez miliknya.
Waktu sepertinya ditangguhkan saat mereka secara bersamaan mengambil napas terengah-engah yang dalam, dan Boa masuk ke dalam ruangan. Mata berapi dengan kemarahan, tidak pernah meninggalkan tatapannya pada Tiffany, sampai dia berdiri di depannya.
Mata Tiffany melebar dengan ketakutan, dan Boa menampar keras wajahnya, suara dari dampak tamparan itu menggema dari dinding ruang makan.
"Jauhkan kaki kotormu dari anakku, kau pelacur, dan keluar dari rumahku. Sekarang!" desis Boa dengan gigi terkatup.
Tiffany mencengkeram pipinya sendiri yang memerah dan menatap ngeri sejenak, terkejut dan berkedip pada Boa. Lalu ia bergegas keluar dari ruangan, tak mau repot-repot untuk menutup pintu di belakangnya.
Boa berputar perlahan-lahan untuk menghadapi Donghae dan keheningan tegang mengendap seperti selimut tebal diatas mereka saat Donghae dan Boa saling menatap.
Setelah beberapa saat, Boa bicara.
"Hyukkie, sebelum aku menyerahkan dia padamu, apakah kau keberatan memberiku satu atau dua menit saja sendirian dengan putraku?" tanyanya, dengan suara tenang, serak, tapi begitu kuat.
"Tentu saja," bisik Hyukjae, dan keluar secepat yang ia bisa, melirik cemas ke atas bahunya. Tapi tak satu pun dari mereka melihat saat Hyukjae pergi.
Boa dan Donghae terus saling menatap, komunikasi tak terucapkan mereka mendengung dengan keras.
.
Fifty Shades Darker
.
Di lorong, Hyukjae sejenak kehilangan arah. Hatinya bergemuruh dan darahnya berpacu melalui pembuluh darah. Ia merasa panik dan keluar dari kedalaman dirinya.
Semua itu terasa berat dan sekarang Boa tahu.
Hyukjae tidak bisa memikirkan apa yang Boa akan katakan kepada Donghae dan Hyukjae tahu itu salah, Hyukjae tahu, tapi Hyukjae bersandar di pintu mencoba untuk mendengarkan.
"Berapa lama, Donghae?" tanya Boa, suaranya lembut.
Hyukjae nyaris tidak bisa mendengarnya. Ia tak bisa mendengar jawaban Donghae.
"Berapa umurmu? Katakan padaku. Berapa umurmu saat ini semua dimulai?" desak Boa.
Sekali lagi Hyukjae tidak bisa mendengar Donghae.
"Semuanya baik-baik saja, Hyukkie?" Ros menyela acara mengupingnya.
"Ya. Baik. Terima kasih. Aku…"
Ros tersenyum.
"Aku hanya akan mengambil dompetku. Aku butuh rokok."
Untuk sesaat, Hyukjae merenungkan untuk bergabung dengannya.
"Aku mau pergi ke kamar mandi."
.
Hyukjae melompat naik dua anak tangga sekaligus ke lantai dua, lalu naik ke ketiga. Hanya ada satu tempat yang ia inginkan.
Ia membuka pintu ke kamar tidur Donghae waktu anak-anak dan menutup pintunya di belakang, menarik napas panjang.
Menuju tempat tidur Donghae, Hyukjae naik ke atasnya dan menatap langit-langit putih polos. Astaga. Itu pasti, tanpa diragukan lagi, salah satu konfrontasi paling menyiksa yang pernah Hyukjae alami, dan sekarang Hyukjae merasa mati rasa.
Boa yang malang, mendengar semua percakapan tadi.
Hyukjae mencengkeram salah satu bantal Donghae.
Boa telah mendengar bahwa Donghae dan Tiffany berselingkuh tapi bukan hal yang terjadi sebenarnya. Syukurlah.
Hyukjae berdiri dengan gemetar, menendang sepatunya sendiri agar terbuka, berjalan ke meja Donghae, dan memeriksa papan tempelan pin di atasnya.
Foto-foto dari Donghae muda semua masih ada, lebih pedih daripada sebelumnya melihatnya karena Hyukjae mengingat tontonan yang baru saja ia saksikan antara Donghae dan Mrs. Hwang.
Dan di sudut ada foto hitam dan putih kecil, ada ibu biologisnya, si pelacur pecandu.
Hyukjae menghidupkan lampu meja dan memfokuskan cahaya pada foto itu. Ia bahkan tidak tahu namanya.
Wanita itu terlihat begitu mirip seperti Donghae tapi lebih muda dan lebih sedih dan semua yang Hyukjae rasakan, melihat wajah penuh kesedihannya, adalah kasih sayang.
Hyukjae mencoba untuk melihat kesamaan antara wajah ibu Donghae dan wajahnya sendiri. Ia menyipitkan mata ke gambar itu, melihatnya dengan benar, benar-benar dekat, dan tidak melihat kemiripan sama sekali.
Kecuali mungkin warna rambutnya dulu, tapi sepertinya milik ibu Donghae lebih terang dari Hyukjae.
Hyukjae tak tahu berapa lama ia sudah berada di kamar Donghae. Si tampan itu pasti akan berpikir bahwa Hyukjae telah melarikan diri.
Hyukjae memutar mata saat ia merenungkan reaksi berlebihan Donghae.
.
Fifty Shades Darker
.
Hyukjae bertemu dengan Donghae saat ia memanjat tangga ke lantai dua, mencari Hyukjae. Wajahnya tegang dan lelah, tak seperti Fifty.
Ketika Hyukjae berdiri di bordes, Donghae berhenti di tangga atas sehingga mereka sejajar.
"Hai," katanya hati-hati.
"Hai," jawab Hyukjae hati-hati.
"Aku khawatir–"
"Aku tahu," Hyukjae menyela Donghae.
"Maafkan aku. Aku tak bisa menghadapi keramaian itu. Aku hanya harus pergi, kau tahu. Untuk berpikir," jelas Hyukjae kemudian meraih ke depan, membelai wajah Donghae.
Tampan didepannya menutup matanya dan menyandarkan wajahnya ke tangan Hyukjae.
"Dan kau pikir kau akan melakukannya di kamarku?"
"Ya."
Donghae meraih tangan Hyukjae dan menariknya ke dalam pelukannya, dan Hyukjae dengan rela masuk ke dalam pelukan itu, tempat favoritnya di seluruh dunia.
Donghae harum seperti cucian segar, bodywash, dan ia memiliki aroma yang paling menenangkan dan membangkitkan gairah di planet ini.
Dia menghirup nafas dengan hidungnya di puncak kepala Hyukjae.
"Aku minta maaf kau harus menanggung semua itu."
"Ini bukan salahmu, Donghae. Mengapa dia di sini?"
Donghae menatap ke arah Hyukjae, dan mulutnya berputar minta maaf.
"Dia seorang teman keluargaku."
Hyukjae mencoba untuk tidak bereaksi.
"Tapi kurasa tidak lagi. Bagaimana dengan ibumu tadi?"
"Ibu cukup marah besar padaku sekarang. Aku benar-benar senang kau di sini, dan bahwa kita berada di tengah-tengah pesta. Kalau tidak, aku mungkin akan menghirup napas terakhirku."
"Seburuk itukah?"
Donghae lekas mengangguk, matanya serius, dan Hyukjae merasakan kebingungan Donghae.
"Bisakah kau menyalahkannya?"
"Tidak."
"Bisakah kita duduk?" tanya Hyukjae.
"Tentu. Di sini?"
Hyukjae mengangguk dan mereka berdua duduk di atas tangga.
"Jadi, bagaimana perasaanmu?" tanya Hyukjae lagi, cemas menggenggam tangan Donghae dan menatap sedih wajahnya, serius.
Donghae mendesah sebentar sebelum menjawab.
"Aku merasa terbebaskan," jawab Donghae seadanya sambil mengangkat bahu, kemudian berseri-seri, sebuah senyuman cerah dan riang khas Donghae, dan kelelahan serta ketegangan yang hadir beberapa waktu lalu telah lenyap sekarang.
"Sungguh?" Hyukjae ikut berseri-seri juga.
"Hubungan bisnis kami putus. Selesai."
Hyukjae mengerutkan kening mendengar hal itu.
"Apakah kau akan melikuidasi bisnis salon itu?"
Dia mendengus sebentar sebelum menjawab dengan nada yang cukup ada peringatan di dalamnya.
"Aku tidak sedendam itu, Hyukjae. Aku akan menghadiahkan salon itu padanya. Aku akan bicara dengan pengacaraku Senin. Aku berutang sebanyak itu padanya"
Hyukjae melengkungkan alis ke arah Donghae.
"Tidak ada lagi Mrs. Tiffany?"
Mulut Donghae berputar geli mendengar pertanyaan polos Hyukjae dan ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada."
Hyukjae menyeringai, "Aku menyesal kau kehilangan teman."
Donghae mengangkat bahu kemudian menyeringai, "Benarkah kau menyesal?"
"Tidak," Hyukjae mengakui, merona.
"Ayo," Donghae berdiri dan menawarkan Hyukjae tangannya.
"Mari kita bergabung ke pesta untuk menghormati tamu kita. Aku bahkan mungkin mabuk."
"Apa kau sering mabuk?" tanya Hyukjae sambil meraih tangannya.
"Tidak sejak aku dulu remaja liar."
.
Fifty Shades Darker
.
Mereka berdua berjalan menuruni tangga.
"Apa kau sudah makan?" tanya Donghae.
"Belum."
"Well, kau harus makan. Dari tampilan dan bau Tiffany, itu adalah salah satu koktail mematikan ayahku yang kau lemparkan di atas dirinya," jelas Donghae menatap ke arah Hyukjae, mencoba dan gagal untuk menahan kegelian dari wajahnya.
"Donghae, a-aku…"
Donghae langsung menaikkan tangannya. Dia sedang tidak ingin berdebat, Hyukjae.
Kembali ke lorong, Donghae berhenti sejenak untuk membelai wajah Hyukjae, jari-jarinya menjelajahi rahang tegas Hyukjae.
"Aku berbaring selama beberapa jam dan menonton kau tidur," gumam Donghae.
"Aku mungkin telah menyayangimu saat itu," lanjutnya lembut.
Kemudian dia membungkuk dan mencium Hyukjae dengan lembut, dan Hyukjae meleleh di mana-mana, semua ketegangan dari satu jam terakhir atau lebih merembes keluar dari tubuhnya.
"Makanlah," bisik Donghae.
"Oke," Hyukjae menyetujuinya karena sekarang ia mungkin akan melakukan apa saja untuk calon suaminya.
Mengambil tangan Hyukjae, Donghae membawanya menuju dapur di mana pesta berlangsung dengan meriah.
.
Fifty Shades Darker
.
"Selamat malam," ujar Donghae tegas sambil menutup pintu dan menggelengkan kepalanya.
Dia kemudian segera menatap ke arah Hyukjae, dan matanya tiba-tiba cerah dengan kegembiraan.
"Hanya keluarga yang tinggal. Kupikir ibuku terlalu banyak minum."
Boa bernyanyi karaoke pada beberapa konsol game di ruang keluarga. Sungmin dan Hyuna bersaing tak mau kalah.
"Apakah kau menyalahkannya?" Hyukjae menyeringai pada Donghae, berusaha untuk menjaga suasana antara mereka agar tetap ringan, dan yah dia berhasil.
"Apa kau menyeringai padaku, Tuan Lee?"
"Ya."
"Hari ini cukup melelahkan."
"Donghae, akhir-akhir ini, setiap hari denganmu selalu melelahkan," balas Hyukjae dengan suara sinis.
Donghae menggelengkan kepala.
"Poin bagus yang kau buat dengan baik, Tuan Lee. Ayo, aku ingin menunjukkan sesuatu."
Mengambil tangan Hyukjae, Donghae membawanya melalui rumah ke dapur di mana Kangta, Hyunseung, dan Kyuhyun berbicara tentang Mariners, minum sisa koktail, dan makan sisa-sisa makanan.
"Pergi untuk berjalan-jalan?" goda Kyuhyun dengan nakal saat Donghae dan Hyukjae berjalan melalui pintu Prancis.
Donghae mengabaikan dirinya. Dan Kangta segera mengernyit ke Kyuhyun, menggelengkan kepalanya dalam teguran hening.
.
Fifty Shades Darker
.
Saat mereka berdua berjalan menaiki tangga ke halaman, mereka sama-sama melepas sepatu.
Bulan separuh bersinar terang melalui teluk. Begitu brilian, memancarkan segala sesuatu dalam berbagai nuansa abu-abu saat lampu-lampu Seoul berkerlip manis di kejauhan.
Lampu-lampu dari rumah perahu hidup, sebuah mercusuar bersinar lembut dalam pancaran dingin bulan.
"Donghae, aku ingin pergi ke gereja besok."
"Oh?"
"Aku berdoa agar kau kembali dengan selamat dan kau kembali. Setidaknya itu yang bisa kulakukan."
"Baiklah."
Mereka lanjut berjalan beriringan dalam keheningan santai untuk beberapa saat. Kemudian Hyukjae teringat sesuatu.
"Ke mana kau akan menempatkan foto dari Kangin?"
"Kupikir kita mungkin menempatkan foto-fotomu di rumah baru."
"Kau membelinya?"
Donghae berhenti untuk menatap Hyukjae, dan suaranya penuh perhatian.
"Ya. kupikir kau menyukainya."
"Iya. Kapan kau membelinya?"
"Kemarin pagi. Sekarang kita perlu memutuskan apa yang harus dilakukan dengan hal itu," gumam Donghae, lega.
"Jangan merobohkannya. Itu sebuah rumah yang indah. Hanya membutuhkan sedikit perawatan dengan kelembutan dan penuh kasih sayang."
Donghae melirik Hyukjae dan tersenyum.
"Oke. Aku akan berbicara dengan Kyuhyun. Dia kenal seorang arsitek yang baik, dia melakukan beberapa pekerjaan di tempatku di Jeju. Dia bisa melakukan renovasi."
Hyukjae mendengus, tiba-tiba teringat terakhir kali mereka menyeberangi rumput di bawah cahaya bulan ke rumah perahu.
Oh, mungkin itulah yang akan mereka lakukan sekarang.
Hyukjae menyeringai
"Apa?"
"Aku ingat terakhir kali kau membawaku ke rumah perahu."
Donghae terkekeh pelan.
"Oh, itu menyenangkan. Bahkan…" Donghae tiba-tiba berhenti dan mengangkat Hyukjae ke atas bahunya, dan Hyukjae reflek memukul punggung Donghae, meskipun tujuan mereka tidak terlalu jauh.
"Kau benar-benar marah, jika aku ingat dengan benar," Hyukjae terkesiap.
"Hyukjae, aku selalu benar-benar marah."
"Tidak, kau tidak begitu."
Donghae menampar pantat Hyukjae saat ia berhenti di luar pintu kayu. Dia menurunkan Hyukjae agar kembali berpijak ke tanah dan mengambil dagu Hyukjae.
"Tidak, tidak lagi."
Mencondongkan tubuhnya, Donghae mencium Hyukjae, kuat. Ketika ia menarik diri, Hyukjae terengah-engah dan hasrat berpacu di seluruh tubuhnya.
Donghae menatap ke arah Hyukjae, dan dalam terang cahaya dari lampu yang datang dari dalam rumah perahu, Hyukjae bisa melihat Donghae cemas.
Pria cemasnya, bukan seorang ksatria putih atau seorang ksatria gelap, tapi seorang pria biasa. Seorang pria tampan, pria yang tidak begitu kacau yang Hyukjae cintai.
Hyukjae menggapai dan membelai wajah Donghae, menjalankan jari melalui cambang dan di sepanjang rahang Donghae ke dagu, dan membiarkan jari telunjuknya menyentuh bibir tipis itu.
Donghae langsung rileks.
"Aku punya sesuatu untuk aku tunjukan padamu di sini," gumam Donghae dan membuka pintu.
Cahaya keras dari lampu fluorescent menerangi kapal motor mengesankan di lancaran dermaga, terombang-ambing dengan lembut di air yang gelap.
Ada barisan perahu di sampingnya.
"Ayo," Donghae mengambil tangan Hyukjae dan membawanya untuk menaiki tangga kayu.
Membuka pintu di atas, Donghae sedikit meminggir agar Hyukjae bisa masuk.
Mulut Hyukjae langsung ternganga lebar ketika melihat ruangan itu.
Loteng itu tak bisa lagi ia kenali. Ruangan penuh dengan bunga-bunga, ada bunga di mana-mana. Seseorang telah menciptakan kamar khusus pasangan malam pertama yang magis dengan bunga indah padang rumput liar dicampur dengan lampu-lampu bersinar lembut dan miniatur lentera yang bersinar lembut dan pucat di sekeliling ruangan.
Wajah Hyukjae langsung berputar untuk menatap tampannya, dan Donghae menatapnya balik, ekspresinya tidak terbaca. Dia mengangkat bahu.
"Kau ingin hati dan bunga," gumam Donghae.
Hyukjae berkedip padanya, tidak begitu percaya apa yang ia lihat.
"Kau memiliki hatiku," jelas Donghae dan kemudian dia melambai ke sekeliling ruangan.
"Dan di sini adalah bunga-bunga," bisik Hyukjae, mencuri kalimatnya.
"Donghae, ini indah."
Hyukjae tidak bisa memikirkan apa lagi yang harus ia katakan. Dan tiba-tiba Donghae menarik tangannya, dia menarik Hyukjae ke dalam ruangan, dan sebelum Hyukjae tahu itu, Donghae berlutut dengan satu kaki di depannya.
Oke, Hyukjae menahan napas dengan pemandangan itu.
Dari dalam saku jaketnya sendiri, Donghae mengeluarkan sebuah cincin dan menatap ke arah Hyukjae, matanya terang coklat-tua dan terbuka, penuh emosi.
"Lee Hyukjae. Aku mencintaimu. Aku ingin mencintai, menyayangi, dan melindungimu selama sisa hidupku. Jadilah milikku. Selalu. Berbagi hidup denganku. Menikahlah denganku."
Hyukjae berkedip ke arah Donghae dan saat itu juga air matanya jatuh. Ia begitu mencintai Donghae, dan semua yang bisa Hyukjae katakan saat gelombang emosi memukulnya adalah…
"Ya."
Donghae menyeringai, lega, dan perlahan-lahan menyelipkan cincin di jari lentik Hyukjae. Itu indah, tetapi tetap sederhana, sebuah cincin platinum dengan ukiran yang Hyukjae tak tau dan tak mau tau apa maknanya. Begitu menakjubkan dalam kesederhanaanya.
"Oh, Donghae," Hyukjae bergabung dengan Donghae, berlutut, jari-jarinya menggenggam rambut Donghae saat Hyukjae menciumnya, menciumnya dengan sepenuh hati dan jiwa.
Hyukjae tahu dalam hati kalau ia akan selalu menjadi milik Donghae, dan Donghae akan selalu menjadi miliknya.
Mereka telah datang sejauh ini bersama-sama, mereka masih memiliki perjalanan jauh untuk ditempuh, tapi intinya mereka diciptakan untuk satu sama lain.
Mereka memang ditakdirkan bersama.
.
Fifty Shades Darker
.
Ujung rokok menyala dengan terang dalam kegelapan saat ia menghisapnya dengan dalam. Dia menyembulkan asap keluar dengan hembusan panjang, mengakhirinya dengan dua cincin asap yang kemudian memudar di depannya, pucat seperti hantu di bawah sinar bulan.
Dia bergeser di kursinya, bosan, dan meneguk dengan cepat bourbon murahan dari botol yang dibungkus dengan kertas cokelat lusuh sebelum menaruhnya kembali di antara pahanya.
Ia tak percaya kalau orang itu masih bisa selamat. Mulutnya berputar menjadi cibiran sinis.
Helikopter itu telah bergerak dengan buru-buru dan berani. Salah satu hal yang paling menggembirakan yang pernah ia lakukan dalam hidupnya. Tapi tidak berhasil. Dia memutar matanya dengan ironis.
"Siapa sangka anak seorang jalang itu benar-benar bisa menerbangkan benda keparat itu?"
Dia mendengus.
Orang itu telah meremehkan dia.
Itu telah menjadi hal yang biasa dalam hidupnya. Orang-orang terus-menerus meremehkan dirinya, yang hanya seorang pria dengan hobi membaca buku.
Persetan itu!
Seorang pria dengan memori fotografis yang membaca buku. Oh, hal-hal yang dia pelajari, hal-hal yang dia tahu. Ia mendengus lagi.
"Ya, tentang dirimu, Lee Donghae yang terhormat. Hal-hal yang aku tahu tentang dirimu."
Semua yang ia usahakan selama ini sudah kacau, kacau karena Lee Donghae dan pria manis jalangnya.
Pria itu mendengus ke arah rumah itu seolah-olah itu merupakan perwujudan segala sesuatu yang ia benci. Tapi tak ada yang bisa ia lakuan. Satu-satunya yang terjadi adalah seorang wanita pirang berpakaian hitam, tertatih-tatih menyusuri jalan sambil menangis sebelum ia naik ke CLK putih dan menghilang.
Pria itu terkekeh sedih, kemudian mengernyit. Mengingat kembali tiap perlakuan Donghae yang sok berkuasa itu padanya.
"Bajingan itu juga harus mendapatkan balasan yang setimpal."
Pria itu kembali lagi ke kursinya. Dia akan tinggal, menonton, dan menunggu.
Dia mengambil lagi sebatang Marlboro merahnya.
Kesempatan untuknya akan datang.
Kesempatannya akan segera datang.
.
Fifty Shades Darker
END
Sebelum aku curcol(?), aku mau bahas beberapa hal yang kayanya perlu kita(?) bahas dan kayanya juga banyak yg berpikiran sama hehehe.
Tolong saat end, Hyukjae dibikin nikah sama Donghae, atau Hyukjaenya hamil.
Maaf sebelumnya, itu bakalan seru juga sih kalo part nikah dan hamilnya Hyukjae ada di chapter ini, tapi ya gimana hehe. Nikah dan hamilnya nanti ada di Fifty Shades Freed. Kalaupun mau aku ubah jalan ceritanya kaya gitu, takutnya entar malah jadwal apdetnya lebih molor, ini aja udah molor huhu jadi maafkan aku.
Kok pengennya Hyukjae jadi cewe.
Maaf kalo aku ga jago bikin kalian bayangin Hyukjae disini itu cowo hahaha rumitnya bikin mau bunuh diri sih *elap ingus*
Chapter ini kok jenuh ya.
Aku sendiri juga kayanya kalo nemu ff kaya gini pasti pas baca banyak yang aku skip-skip. Hahaha, ngebosenin emang, lebih enak nonton jadi ga ngantuk, langsung ke inti-inti ceritanya juga jd lebih ringkas kan ya.
Lanjut ke Fifty Shades Freed-HaeHyuk ga?
Nah, ini dia wkwk. Kalau memang ada yg minat, tulis aja diripiu kalo pngen lanjut ke Freed. Nanti kalau banyak yang minat baru aku lanjutin.
.
Terimakasi buat yang sudah mau luangin waktu untuk baca dan menongolkan diri di kotak ripiu walaupun ga di setiap chapter hahaha. Semoga karena ini udah end pada mau numpahin kritikan dan sarannya buat aku di ripiu ya huhuhu.
Dan soal ending ini, gimanaaaa? Itu memang gantung darisana, bukan aku yang sengaja potong atau gimana wkwk.
Oiya, yang nanyain ffku yg lain… hahaha, sabar oke? Kkk~
.
Special Thanks To:
meigyuma, pepepsoy, jewel0404, mongihyuk, lovehyukkie19, amandhharu, haehyuk is real, sunxmoonhhs, elfishy09, isroie106, eunhaekz, sweetgalaxy, aaa, xiuxian13, meonk and deog, kimziefaelf, hhyukkiii, yunme, endah1146, dnetrash, nemonkey, dne1986, kyaa, taetaetrack, jaeme, cosmojewel, tangan haehyuk, haehyuk, cottonplushieee, bintangjatuh, yaoi readersssu, macchxto, leeteukssi, fff, fd97, yola1, yeojamee90, elfforever, kimi, ziayeoja, puppygirl, eunhaejunior55, hajeel.
.
Sampai ketemu lagi di lain cerita!
