The Faults in Byun Baekhyun

Author: blehmeh

Translator: berryinlove

Desclaimer: Cerita ini milik blehmeh berry hanya menerjemahkan

Original Link: (spasi ganti titik) asianfanfics com/story/view/833300/the-faults-in-byun-baekhyun-angst-romcom-baekhyun-chanyeol-baekyeol-chanbaek-sliceeoflife/18

Cast: Chanyeol; Baekhyun; EXO's member; Other

Pairing: Chanbaek; Other

Genre: Romcom; Angst; Slice of Life

Rate: M

Warning: BL; banyak umpatan-umpatan dan sex talk

Note: Do not copy or re-publish. Do like, comment, and review~ ^^

.

ooo

.

Baca review! Penting!

.

160717

.

.

.

Chanyeol terus membicarakannya.

"Dia itu idiot." Dia mendengar Chanyeol berbicara. "Mengapa pula …" Dia. Selalu dia di mata Chanyeol.

Kyungsoo merasakan kecemburuan bangkit dalam dirinya, membuatnya merasa sesperti dapat menghancurkan apa pun di tangannya. Dia hampir meledak.

Baekhyun Baekhyun Baekhyun. Itu membuatnya gila!

Seharusnya ini menjadi waktu mereka bersama, bukan waktu Chanyeol untuk membicarakan teman sekamar yang hampir dia lihat 24 jam sehari.

"Kau tahu dia benci sakit, 'kan?" Aku tidak tahu. Aku tidak mau tahu.

"… Terkadang aku berharap mereka telah salah mengira kasurnya dengan kasurku." Kenapa? Akankah kau melakukannya juga untuk ku?

"Aku berharap aku dapat menggantikannya …" Aku berharap aku dapat menggantikannya Aku berharap aku dapat menggantikannya Aku berharap aku dapat menggantikannya.

TIDAK—

Prang. Dia merasakan basah di lengan dan perih di tangan, tapi dia tak peduli. Yang dia pikirkan hanyalah Chanyeol dan Baekhyun dan Chanyeol dan Baekhyunn dan—

"Hentikan."

"Huh?"

"Hentikan."

"… Kyungsoo, kau berdarah!" Dia merasakan Chanyeol bergerak pergi dari penglihatannya, kemudian kembali, dan merasakan tangan lembut di lengannya, dengan hati-hati membersihkan. Dia mendengar Chanyeol menanyakannya pertanyaan dan memarahinya, tapi dia tidak terlalu memperhatikan. Yang dia pikrikan hanyalah Apa yang terjadi?

Dia tak pernah sangat marah sampai meledak sebelumnya, bahkan tidak ketika ayahnya yang alkoholik mulai memukuli ibunya yang seorang prostitusi. Jadi mengapa? Mengapa itu terjadi?

Tapi saat dia merasakan Chanyeol memegang dan mencereweti layaknya yang ibu sungguhan seharusnya lakukan padanya, dia sadar bahwa jawabannya sudah ada di sana sejak lama.

Dia mencintai Chanyeol.

Dia pikir itu hanya cinta monyet, atau paling tidak, langkah awal dari cinta, tapi situasi di sini dan apa yang telah dia lakukan pada dirinya sendiri tadi telah membuktikan bahwa tepat saat ini perasaaanya lebih dari itu.

Lebih, lebih dari itu.

Dia mencintai Chanyeol, sangat sangat mencintainya sampai membayangkan Chanyeol dengan orang lain menyakitinya. Dia mencintai Chanyeol, sangat sangat mencintainya sampai bersama Chanyeol membuatnya senang sampai sakit. Dia mencintai Chanyeol, sangat sangat mencintainya sampai sakit.

Cinta menyakitkan.

.

.

Tapi cinta juga menyenangkan, menggetarkan hati, dan memberikannya emosi riang yang belum pernah dirasakan dengan sangat instan sebelumnya.

Dan dia mencintai Chanyeol, karena Chanyeol adalah Chanyeol.

Saat dia melihat Chanyeol dengan termangu, melihatnya mengusap lengan dan mencoba mengambil gelas dari kulitnya, dia tahu bahwa inilah mengapa dia mencintainya.

Dia melihat ekspresi konsentrasi tetapi tampan Chanyeol, lidah sedikit mencuat keluar sambil menggunakan jari nan hati-hati untuk mengambil gelas di kulitnya, dan dia tahu inilah mengapa dia mencintainya.

Chanyeol itu peduli, imut, serius tapi jahil, dan memiliki semacam keluguan dalam dirinya yang Kyungsoo selalu inginkan di dalam dirinya.

"Ayo ke perawat." Chanyeol menyaranakan, menyadarkannya dari lamunan. "Aku benar-benar tidak mempercayai keterampilan ku."

"Tidak." Kyungsoo berkata. Dia tidak ingin pergi ke perawat. Dai ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Chanyeol.

Karena dia mencintai Chanyol.

Dia menatap yang lebih tinggi.

Dia mencintainya.

Dia melihat mata coklat besar indah Chanyeol.

Dia mencintai lelaki ini.

Dia mencintai Park Chanyeol.

Dan dia akan mengatakannya padanya.

"Aku mencintai mu, Chanyeol." Kata-kata itu keluar, sangat lancar dan dengan kemauan sampai Kyungsoo bertanya-tanya apakah dia memang selalu ingin mengatakannya.

Dia tidak tahu apa yang akan Chanyeol katakan. Sebagian darinya mengira Chanyeol menyukainya juga, bagian lainnya tahu bahwa Chanyeol tidak menganggapnya seperti itu, dan pada akhirnya membuatnya sangat bingung sampai dia ingin menusuk sesuatu.

Tapi ketika Chanyeol balas mengatakannya, Kyungsoo sangat senang sampai bahkan kata-kata pun tak dapat menjelaskan kebahagiannnya.

Dia ingin memegang tangan Chanyeol dan tak akan pernah melepasnya.

.

.

.

.

"Aku mencintai mu, Chanyeol."

Ini dia. Ini adalah sesuatu yang telah dia tunggu, atau lebih seperti, yang dia impikan, untuk waktu yang sangat lama.

Dan dia merasakan kata-kata itu keluar dari bibirnya. Dia harus balas mengatakannya.

"Kyungsoo … A-aku juga mencintai mu." Chanyeol membalas. Dan di situlah seharusnya berakhir. Di situlah seharusnya telah berakhir. Dengan Chanyeol dan Kyungsoo yang sangat mencintai satu sama lain sampai tak ada yang penting di dunia.

Tapi tidak.

Karena Chanyeol merasa seakan dia belum cukup berkata.

Dan tangan yang mengait dengannya terasa berbeda. Asing. Aneh.

Salah.

"T-tapi bukan yang seperti itu." Chanyeol menceploskan. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Mengapa dia melakukan ini? Mengapa dia menolak mimpi yang selalu muncul di pikirannya, tujuan yang selalu dikemukakan? Lelaki yang dia pikir sangat dicintai sampai dia bahkan tidak akan kabur dari kesempatan ini? "Aku i-ingin kita tetap berteman. Hanya s-sebagai teman."

Apa yang dia katakan?! Mengapa dia membiarkan mimpinya—tujuannya—pergi?

Dia menarik tangannya dari tangan Kyungsoo, memegang tangannya di tangan yang lain, sekan takut … dan dia dapat merasakan jantungnya sakit karena meihat ekspresi sakit hati di wajah Kyungsoo. Tapi dia telah merasa terperangkap di genggaman Kyungsoo.

"M-maaf. Aku minta maaf." Chanyeol mengulang sambil keluar dari tempat duduknya, tersandung ke belakang sebelum berbalik dan berlari, keluar dari kamarnya. Jauh dari Kyungsoo.

Mengapa dia berlari pergi dari mimpinya?

Mengapa dia melakukannya?

Mengapa, ketika Kyungsoo mengungkapkan, dia merasa seperti beban langit telah jatuh padanya bukannya merasa seperti terbang ke surga, ketika tiga kata tersebut keluar dari bibir taksirannya?

.

.

.

.

.

.

.

.

(Mengapa, ketika Kyungsoo mengungkapkan dan Chanyeol balas mengungkapkan, satu-satunya yang berada di pikirannya adalah Baekhyun, Baekhyun, Baekhyun?)

.

.

.

.

.

.

.

.

Itu bukan sekedar fase, 'kan?

.

.

.

.

.

.

.

.

Itu bukan sebuah fase.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ketika Baekhyun tiba kembali, dia merasa penuh kemenangan.

Dia telah menyeret mereka ke kantor rektor, yang telah ditampilkan buktinya, dan beberapa diskors dan kebanyakan di keluarkan.

Pidato yang telah diberikan sebelumnya hanya untuk mempermalukan bajingan-bajingan itu. Hukuman sebenarnya adalah mengirim bukti itu ke orangtua tegas mereka dan memberikan mereka riwayat nan buruk.

Bagus, dia telah balas dendam.

Rektor bahagia Baekhyun telah mengutarkan penindasan, dan memanggilnya berani dan pintar pada saat yang sama karena telah berpikir mengenai hal tersebut dengan sangat baik. Dia tersenyum, memainkan laki-laki manis lugu yang bukanlah dirinya, dan memastikan rektor tersebut cukup melihat sisinya untuk lebih melihat rendah pada yang mengerjainya.

Seluruh prosesnya memakan beberapa jam, ada sekitar empatbelas sampai limabelas orang yang harus diurusi, yang juga memakan porsi besar energinya, tapi pada akhirnya semua terbayar.

Semuanya terbayar untuk mendapatkan perasaan puas yang berada di perutnya.

Ketika dia berjalan keluar, Kris menunggunya di sana.

"Bagaimana?" Dia bertanya. Dan Baekhyun mengeluarkan senyuman tertahan.

"Baik seperti yang direncankan." Dia membalas saat Kris tersenyum lega. "Terima kasih telah membantu. Aku tidak bisa menyelesaikannya tanpa kau atau orang lain yang membantu ku hari ini."

"Tak masalah." Kris membalas. "Lagipula, kau telah membantu kami semua sebelumnya." Mereka melakukan tos tinju.

"Bagaimana pertemuannya? Pertemuan dengan Joonmyun." Kris merona bahagia.

"Baik. Kami harus menjadi rekan karena tidak terlalu tahu orang lain di sana." Baekhyun dapat melihatnya bersinar akan apa yang terlihat seperti efek dari cinta, dan sebagian dari dirinya iri pada hal tersebut.

Tapi dia mengingatkan diri sendiri, cinta tidak ada.

Saat dia tiba di kamarnya, dia melihat Chanyeol duduk di sana di atas kasur, menatap spacr. Sejujurnya, Baekhyun belum pernah melihat seseorang setermenung itu. Dan melihatnya pada Chanyeol terlihat dengan khususnya lucu. Dia meledak tertawa. Dia benar-benar tertawa.

"Seseorang terlihat bodoh." Dia berkata sambil mengganti pakaian, siap-siap makan malam. Chanyeol tidak membalas, dan bertingkah seakan dia tidak sadar.

"Makan malam." Baekhyun mengatakan sambil berbalik untuk melihat teman sekamarnya. Tak ada respon.

"Aku mengatakan makan malam." Baekhyun mengulang dengan tak sabar, jari-jari menekan kuping Chanyeol sambil mulai menyeret yang lebih tinggi keluar pintu.

"Ow ow ow ow ow!" Chanyeol berseru, mencoba menahan tapi Baekhyun telah mencapai batas; dia tidak akan menerima omong kosong Chanyeol lagi.

Dia menyeret Chanyeol keluar untuk makan malam, tanpa ampun menggantung di kuping yang lebih tinggi.

Ketika mereka tiba, Chanyeol duduk di sebelah Jongin dengan termangu, termenung sekali lagi. Dasar aneh. Baekhyun berpikir sendiri sambil mendudukkan dirinya di sebelah Kris dan Chen. Aku tidak tahu apa yang Kyungsoo lihat dalam diri—

Kyungsoo? Di mana dia?

Baekhyun memicingkan mata curiga sambil melihat Jongin menoel Chanyeol yang tidak responsif. Biasanya, Chanyeol yang paling responsif.

Anehnya.

.

.

.

.

Sesuatu terjadi di antara Baekhyun dan Chanyeol.

Jongin tahu itu.

Bahkan hal tersebut tidak dimulai dari mimpinya akan mereka pada Tahun Baru. Itu dimulai jauh sebelum itu.

Itu seperti kapan pun mereka don in the dumps, mreka selalu down in the dumps bersama pada waktu yang sama. Dan kapan pun merea down in the dumps atau bertingkah aneh, mereka selalu menghindari satu sama lain.

Mereka selalu mengklaim mereka membenci satu sama lain, dan sejujurnya mereka bahkan bertingkah seperti itu, dan tetap mereka memiliki aura aneh akan keintiman di sekitar masing-masing.

Aneh.

Dan sekarang, saat makan malam, Jongin dapat melihat Chanyeol bertingkah aneh, dan dia dapat melihat Baekhyun terus-terusan melirik Chanyeol.

Kali ini berbeda.

Kali ini Baekhyun setidak berpetenjuk sepertinya.

Dan walaupun dia telah mencoba untuk berbicara pada Chanyeol, mengganggunya, atau hanya mencoba mendapatkan respon darinya, Chanyeol bertingkah seperti dia tidak ada sama sekali.

Dia menyerah, tapi itu karena dia memiliki rencana.

Dia tahu Baekhyun dapat memecahkannya.

Dan jika dia melakukannya, maka Jonggin mengkonfirmasi pada dirinya sendiri bahwa ada sesuatu yang terjadi pada mereka.

Dia menunggu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah makan malam, Baehyun menemukan Chanyeol sekali lagi di dunianya sendiri di kasur, berbaring di sana dan menatap langit-lalngit.

Awalnya, dia tidak mengatakan apa pun, tapi setelah satu jam Chanyeol tetap di tempat yang sama, di posisi yang sama, dia bingung dan tidak dapat mentoleransinya lagi.

"Yeol." Dia memanggil, tapi Chanyeol tidak responsif. Atau lebih seperti, dia diabaikan saat Chanyeol berbalik dan berbaring menyamping, punggung menghadap dirinya.

Sedikit jengkel, tapi masih dalam mood yang bagus karena kejadian hari ini, dia berjinjit ke sisi lain di mana Chanyeol menghadap, dan menemukan mata teman sekamarnya tertutup.

Mengabaikan ku sekarang, hei? Baekhyun berpikir, merasa jengkel sambil membungkuk di depan wajah Chanyeol sampai wajah mereka berjarak beberapa inci.

Dia mengguakan waktu ini untuk mengapresiasi tampang Chanyeol.

Bulu matanya sebenarnya cukup panjang, dan rambut hitamnya di sisir ke atas dahinya memberikan tampang yang tak terpungkiri lugu tetapi seksi. Bibirnya sedikit terbuka, dan sangat kissable, dan Baekhyun dapat merasakan jantungnya berpacu.

Tapi dia mengabaikannya. Itu bukan apa-apa. Itu sama sekali bukan apa-apa.

Dia melihat Chanyeol mengerutkan alis dan mengerenyit, dan god dammit itu menggemaskan.

Dia tidak ingin merasa seperti ini, maupun berpikir seperti ini akan siapa pun.

Jadi dia mengalihkan dirinya sendiri dengan mengganggu Chanyeol.

Senyuman jahil menggerayang di bibirnya, tangannya terangkat sambil dengan hati-hati menaruh jarinya di kuping Chanyeol, tapi tidak menyentuhnya, kemudian, ketika siap, dia menarik nafas dalam—

—dan tersenyum.

"Yeol." Dia bernafas di atas wajah Chanyol, yang matanya membuka dengan segera, akan menjauh ke belakang dengan kasar, tapi Baekhyun telah memprediksinya. Jarinya mengapit di kuping Chanyeol dan tangan lainnya melakukan yang sama di kuping lainnya, dan saat Chanyeol bergerak kebelakang, Baekhyun juga bergerak ke belakang.

Dia menarik Chanyeol dengan tekanan yang kuat sampai Chanyeol tidak memiliki pilihan lain selain jatuh ke depan. Ekspresi jelek di wajah Chanyeol tak ternilai, dan Baekhyun tertawa sambil keduanya tumbang.

Bugh.

Ruangannya hening saat Chanyeol di atas Baekhyun, menjebak yang lebih kecil dengan tubuh dan tangannya. Mereka menatap satu sama lain, mata keduanya lebar dan dengan hasrat dalam mereka, dan mereka tetap seperti itu untuk siapa yang tahu lamanya.

Baekhyun berpikir betapa dekatnya Chanyeol dengannya, dan betapa dekatnya dia untuk memutus jarak di antara mereka sambil melihat bulu mata Chanyeol berkedip, lidahnya menjilat bibir dengan gugup, dan alisnya bergerak ke bawah dalam konsentrasi.

Dan yang Baekhyun pikirkan adalah dia ingin menciumnya dia ingin menciumnya dia ingin mencimnya—

Apa yang dia lakukan?

Jantung berdegup, Baekhyun tiba-tiba takut. Tidak, tidak, dia tidak ingin mencium Chanyeol. Chanyeol tidak terlihat menarik.

Dia melihat Chanyeol berkedip, tapi sebelum dia dapat melihat apakah Chanyeol akan mendekat dan memutus jarak atau duduk dan menambah jarak, Baekhyun panik.

"Yoda."

Chanyeol membeku dan seinstan itu, Baekhyun dapat mencium apel dan vanila. Sebelum dia sadar. Tangan besar telah mencubit hidungnya dengan sangat keras.

"Damn bunny." Chanyeol berkata keras sebelum tangannya yang bebas mengular di sekitar punggung yang lebih kecil dan dia mengangkatnya, kemudian sebelum Baekhyun dapat berkedip, Chanyeol telah meloncat kembali ke kasrunya dan berpura-pura tidak ada yang terjadi. Jantung Baekhyun tak terkontrol sambil duduk, dan tiba-tiba dia merasa lebih kesepian tanpa kehangatan badan Chanyeol.

Tapi saat terduduk, dia melihat Chanyeol sangat fokus pada ponselnya, dan cepat setelahnya dia sadar yang lebih tinggi melihat sesuatu karena suara muncul. Mendesah, dan setidaknya tahu bahwa yang lebih tinggi telah pulih ke tingkat tertentu, Baekhyun berjalan kembali ke kasunya, tujuannya untuk bertemu dengan Chen dan Jongin dan Tao dan Joonmyun telah terlupakan.

Setelah beberap saat, ketika mereka berada dalam keheningan nan nyaman, Chanyeol tiba-tiba berbicara.

Atau lebih tepatnya, bernyanyi.

"Who lives in a pineapple under the sea?"

Tanpa sadar, Baekhyun balik berseru.

"SPONGEBOB SQUAREPANTS!"

"…... and porous as he!"

"SPONGEBOB SQUAREPANTS!"

"… must be something ya wish."

"… SPONGEBOB SQUAREPANTS!"

"…... drop dead like a fish!"

"….. Harusnya 'flop like a fish'."

"Siapa yang peduli, selesaikan saja!"

"…. SPONGEBOB SQUAREPANTS!"

"Ready?"

"SPONGEBOB SQUAREPANTS SPONGEBOB SQUAREPANTS SPONGEBOB SQUAREPANTS"

"SPONGY BOB SQUAREPAAAAAAAAANTS AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA"

Baekhyun menyelsaikannya dengan siulan.

Ada kehenigan singkat, dan Baekhyun sadar Chanyeol tidak akan berbicara lagi, seperti membentuk ikatan Spongebob sebelumnya tak pernah terjadi dan Baekhyun telah membayangkannya.

Tapi Baekhyun tahu dia belum melakukan, karena membayangkan tidak akan membuatnya setidak puas ini.

"Pelajarilah lirikmu jika kau ingin menyanyikannya." Baekhyun menyuruh sambil melihat tugas musiknya.

"Malas. Omong-omong, panggil aku 'captain'."

"Hell no. Tidak kecuali jika kau pelajari liriknya."

"Tidak. Ajari aku."

"Tidak." Ada lebih banyak keheningan, dan kali ini, betahan lama.

Setelah sesaat, sambil mereka melakukan urusan mereka, Baekhyun mengeluarkan desahan frustasi.

"Damn. Mengarang lebih susah dari yang ku pikir." Chanyeol berhenti bermain game di ponselnya, dan melihat Baekhyun, yang memakai kacamata dan mulai menggaruk kulit di bawahnya, oleh karena itu menggerakkan kacamatanya ke atas ke bawah.

"Dibagian mana kau terhenti?" Ada jeda.

"Semua! God dammit!" Chanyeol tersenyum dan menaruh ponselnya.

"Kau memang pintar." Dia berkata sambil melihat mata Baekhyun menajam. "Biarkan ku bantu."

Yang lebih kecil terdiam, kemudian mengeluarkan kikikkan.

"Kau baru saja ingin aku mengajarimu lirik dan memanggilmu kapten, ya tidak?" Chanyeol memutar matasambil meninggalkan kasurnya dan ke kasur Baekhyun.

"Kau baru saja memecahkannya?" Chanyeol menyeringai sambil mencuri selimut yang lebih kecil dan kebanyakan ruang, membuat Baekhyun menariknya kembali dalam kekesalan, petunjuk terkecil akan senyuman menyinari bibirnya.

"Kau meledek intelejensi ku?"

"Sesuatu yang sudah pasti dan kau bertanya?"

"Fuck you." Baekhyun membalas sambil mendorong Chanyeol—benar-benar tanpa kasihan mendorongnya. Raksasa yang kaget, yang tidak menyangka Baekhyun menjadi sangat kasar dan tega, terkejut dan jatuh ke lantai, dan satu-satunya yang dapat dia dengar adalah tawaan Baekyun dan satu-satung yang dapat dia rasakan adalah sakit pudar dan rasa malu yang tajam.

"You bicth!" Chanyeol berteriak, kesal sambil berdiri dan menuju kasur Baekhyun lagi, kemudian merebut selimut itu.

"Berikan. Aku dingin." Baekhyun merebut kembali. Mereka melakukan ini untuk waktu yang lama, kemudian sadar bahwa hal tersebut tak bekerja.

"…." Keduanya bergeral mendekat pada satu sama lain dengan berbarengan sampai bahu, lengan, dan kaki mereka bersentuhan, dan baru sekarang selimut itu cukup dengan benar.

Baehyun tak bisa menghentikan detak jantungnya yang mempercepat.

"Haruskah aku membantu mu dulu atau kau membantuku?" Suara berat, kehabisan nafas Chanyeol bertanya, sangat dekat di leher Baekhyun. Yang lebih kecil susah benafas. Dan ketika dia bernafas, yang dapat dia cium hanyalah apel dan vanila.

"Bantu aku, duh!" Baekhyun membalas, seakan itu adalah pertanyaan terbodoh di kehidupan, yang menurutnya memang iya.

"Oke oke." Chanyeol berkata. "Kau anak kecil."

Kata kau, adik enam bulan ku. Baekhyun berpikir sendiri, sedikit kesal sambil mendorong kacamatanya yang jatuh.

"Apa yang tak kau mengerti?" Chanyeol bertanya kasar saat Baekhyun memicing pada lembar musik. Yang lebih kecil menggelengkan kepalanya.

"Pokoknya semua." Dia mendesah, menggaruk kepala. Chanyeol mengambil musik itu darinya dan menaruhnya di tengah.

"Kau bodoh." Chanyeol bergumam, dan Baekhyun memilki keinginan kuat untuk memukulnya, tapi menghentikan diri sendiri, mengatakan pada diri sendiri bahwa dia akan memukul Chanyeol ketika dia telah memakainya. "Menagapa kita tidak mulai di suatu bagian?"

"Dimulai dengan menambahkan backup vocal! Backup vocal!" Baekhyun menekan, merasa seperti anak-anak, tapi siapa yang tidak merasa seperti anak kecil di sekitar Chanyeol.

"… Sebenarnya aku berpikir lebih baik jika memulai harmoninya …" Chanyeol mulai, dan Baekhyun mendesah.

"Aku harus mengerjakan setidaknya dua harmoni selama seluruh lagu!" Dia mendesah lagi. "Ini semua salahmu, Park Chanyeol. Fuck you."

"…" Chanyeol bergerak keluar dari kasur, seakan mendadak membatalkan kontrak dengan Baekhyun, tapi Baekhyun menangkap lengan bajunya.

"Tunggu! Kau mau ke mana?"

"Ini semua salahku." Chanyeol mengedikkan bahu. "Jadi sepertinya aku akan berhenti ikut campur …"

"Berhenti!" Baekhyun merasa putus asa. "Fucker, kembali! Kau tidak bisa meninggalkanku sendiri untuk melakukan ini, lalu menyanyikan Spongebob Squarepants dengan lirik yang tidak benar!" Chanyeol terdiam. "Cepat! Aku tarik kembali kata-kata itu!" Ketika Chanyeol menolehkan kepala dan kembali, Baekhyun hampir menyesal ketika melihat seringai bodoh di wajah lelaki bodoh itu.

"Tepat sekali." Chanyeol tersenyum gila. "Kau membutuhkan ku, tak peduli kau mengakuinya atau tidak.

Baekhyun merengut, ingin mengupas senyuman bodoh dari wajah bodoh yoda itu dengan tangan kosongnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku bertanya-tanya apa kabarnya ih8puppies11… Sehun berpikir sendiri saat malam sambil menatap langit-langit gelap di kamarnya.

Sejujurnya, dia merasa sedikit tak enak karena mengerjai lelaki itu, yang jelas-jelas membutuhkan pertolongan LOLOLOLOLOL. Tapi apa yang Sehun akan lakukan? Langsung mengatakan bahwa itu hanya taksiran bESAR bodoh?

tIDAAAK.

Dia harus menyadarinya sendiri!

Dan Sehun tidak akan membantunya, walaupun dialah yang salah mengarahkan dan mengatakan bahwa itu sebuah fase. Lagipula siapa yang mempercayai itu? Sehun tahu candaannya sangat terlewat dramatis sampai tak ada yang percaya, tapi entah bagaimana idiot ini percaya.

Dia memiliki firasat ketika ih8puppies11 ini mengetahu mengenainya, Sehun akan mati.

Tapi sampai saat itu, Sehun akan tertawa pada lelaki ini.

Ih8puppies11 tidak tahu kapan pun Sehun merasa sedih atau marah, dia akan ke SheunSays dan membaca percakapan mereka, dan pada akhirnya seluruh dunia akan menyala bahagia dan seluruhnya baik. Sejujurnya, dia berhutang pada ih8puppies11.

Tapi ih8puppies11 juga berhutang padanya.

Bagaimana pun juga, ketika dia benar-benar membutuhkan bantuan, Sehun (atau lebih tepatnya, SheunSays), ada untuknya ketika dia tidak bisa menceritakan rahasia pada orang lain. Jadi itu baik! Iya kan?!

Iya.

Terkikik sendiri, Sehun berbalik di kasur dan menyamping, kemudian menutup mata, dan dalam sekejap dia jatuh tertidur.

Tao yang tak tidur mendengar kikikkan mengerikan itu, dan bergidik, berharap bahwa bukan dirinyalah yang Sehun pikirkan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dua hari kemudian, Baekhyun berbaring di kasurnya di posisi yang sama seperti Sehun, menatap langit-langit dala kegelapan. Dia tidak bisa tidur.

Besok ke-17.

Dan bukannya mengingat masa lalu dan membiarkannya menusuk luka yang tak pernah menutup, dia justru bertanya-tanya apa yang akan Chanyeol lakukan.

"Kalau begitu biarkan aku menggantikan malam-malam mabuk dan one night stands tak berharga itu." Kata-kata yang Chanyeol katakan hampir sebulan yang lalu ketika dia sedang mabuk, adalah sesuatu yang Baekhyun masih ingat jelas di pikirannya, dan kemungkinan akan selalu diingat di hatinya.

"Setiap bulan, Baekhyun, aku janji padamu."

Kau berjanji padaku? Akankah kau menepatinya?

Jangan, Baekhyun. Jangan meninggikan harapanmu.

Mengapa pula harapanmu tinggi? Sebenarnya apa itu Park Chanyeol? Siapa yang peduli apakah dia ada untuk mu atau tidak? Dia tidak penting bagimu. Kau tidak membutuhkannya.

Tapi tetap, saat dia memikirkan ini, dia dapat merasakan jantungnya mempercepat akan pemikiran apa yang mungkin mereka lakukan besook. Jantungnya berpacu, berdetak di dada dengan cukup pelan untuk mengingatkan bahwa besok mungkin, untuk pertama kalinya dalam enam tahun, akan menjadi baik.

Tapi dia masih takut. Akan semuanya, sangat dan banyak sampai dia tak dapat menjelaskannya.

Kau tidak membutuhkannya.

Jangan. Jangan bergantung lagi pada siapa pun. Mereka akan selalu menjatuhkan mu.

"Setiap bulan."

Baekhyun tahu di dalam hatinya, Chanyeol akan melupakan kata-kata yang telah ia katakan karena dia bodoh rendah dan tak tahu apa yang dia katakan ketika mabuk. Karena dia pemabuk bodoh.

Pemabuk bodoh yang terus membuat jantungnya terbang dengan penuh harapan.

Tidak ada yang akan melakukan itu padanya. Orang itu egois, ingin terlihat seperti pahlawan, tidak menepati janji mereka, dan kehidupan hanya bekerja seperti itu.

Jangan membuat dirimu sendiri senang. Itu tidak layak.

Itu tidak layak rasa sakit akan kekecewaan yang selalu, selalu datang setelahnya.

.

.

.

.

Hari ini adalah hari h.

Baekhyun menghabiskan seluruh hari dengan ada kelas. Dia bahkan tidak memiliki cukup waktu untuk makan siang dengan benar. Selama peristiwa ini setiap bulan, dia biasanya melakukan yang terbaik untuk menghindari orang-orang tanpa membuatnya terlihat mencurigakan, dan setidaknya sekali dalam beberapa bulan dia akan menghindari mereka dengan seluruhnya.

Ternyata hari Menghindari adalah hari ini.

Tidak ada yang menyadari sambil mereka melakukan hal mereka masing-masing ketika Bakehyun meninggalkan mereka dan tidak menghilang ke mana pun selama sarapan, makan siang, atau makan malam.

Selama ke-17, bahkan tanpa dia mencoba untuk atau mencoba untuk tidak, Baehyun selalu memikirkan masa lalunya.

Hal tersebut datang dengan sendirinya, dan emosi-emosi yang datang dengan mendadak dan sangat kuat mengganggu Baekhyun dari keseimbangannya menjadi baik-baik saja. Dia dapat menghabiskan seharian dengan jantungnya berdenyut sakit akan memori itu, pikirannya dihantui kejadian-kejadian akan masa lalunya beberapa tahun lalu. Menyakitkan, dan bahkan setelah lebih dari lima tahun, masa lalu itu masih datang layaknya gelombang pasang siap untuk mengganggu keseimbangan Baekhyun.

Baekhyun tahu dia adalah seseorang yang terjebak di masa lalu.

Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk melupakan hal tersebut. Dia terus-menerus merasa terjebak di dalam sumur yang sangat dalam sampai tak ada yang dapat melihatnya, dan bahkan ketika mencoba mencakar keluar, dia tak bisa, dan airnya masih naik dan naik dan dia tahu dia akan secepatnya tenggelam dia hanya tak bisa—

(dia tidak tahu bahwa sumur yang memenjarkannya di dalam adalah dinding yang dia bangun di sekitarnya sendiri, mentamengi semua rasa sakit yang mungkin mengenainya tetapi menjebak memori mengerikan akan masa lalu bersama dirinya.)

Hari ini, tanpa ragu, tidaklah berbeda.

Dia sudah merasa depresi. Ini adalah kebiasaan yang tak bisa dilepas.

Tepat seakan mencoba melupakan dan bersetubuh merupakan obat yang mungkin akan menyembuhkannya suatu hari (tapi dia tahu bahwa itu akan selalu menjadi solusi sementara—jalan keluar sementara)

Sudah, dia tahu Chanyeol tidak akan datang. Dia tahu Chanyeol tidak akan menepati janjinya.

Di dalam perpustakan kampus, ada suatu tempat yang dia takuti, karena sangat sunyi membuat kau berpikir—membuat kau mengingat. Tapi apa lagi yang dapat dia lakukan? Di mana-mana ada orang yang dia kenal, orang-orang akan berbicara padanya dan membuatnya merasa takut, takut mereka akan menyakitinya juga.

Pada tanggal 17, Baekhyun menjadi paranoid.

Dan dia merasa terisolasi, terblok dari semua orang dan semuanya dan merasa terjebak di dalam pikriannya sendiri, ketika memori yang dapat membuatnya melakukan apa pun agar lupa berlarian di pikirannya, lagi dan lagi dan lagi dan lagi.

Dan dia akan mencengkram kepalanya, memejam-ertakan matanya, dan berharap hal tersebut akan pergi.

Tapi tidak.

Itu tak pernah terjadi.

.

.

.

.

Dia ingin berteriak, memberi tahu semua orang untuk berhenti mencoba menghancurkan dindingnya, pergi dari dirinya.

Untuk menyelamatkannya.

Tapi dia tidak melakukan itu, karena pada akhirnya dia akan ditarik ke bawah oleh kaki oleh mentalitasnya bahwa dia harus menyimpan semuanya, menyimpan seluruhnya.

Dan dia melakukannya, dan merasa seperti akan meledak setiap waktu, tapi tak apa, karena sejak awal dia tidak seharusnya mempercayai orang, dan tidak seharusnya mengganggu orang-orang.

Tak apa.

.

.

.

.

Lebih buruk beberapa tahun yang lalu, ketika memorinya masih sangat segar di pikiran.

Setiap hari dia akan merasakan beban, masalah, dan emosi bergabung dan menumpuk dan menumpuk di tenggorokan, sampai tak bisa bernafas. Mungkin lebih mudah karena hal-hal yang dikhawatirkan lebih sedikit.

Tapi itu tadi, masa lalu itu menjadi lebih buruk semakin tahun beralalu, sampai dia merasa seperti tenggelam.

Akhir-akhir ini, tak tahu mengapa, tapi dia merasa lebih baik. Seakan air yang sangat ingin menariknya ke dalam entah mengapa menjadi tenang. Atau air itu telah dikeringkan oleh seseorang yang menginginkan dia hidup.

Tak apa, dia dapat menahan sedikit lebih lama.

Hanya sedikit lebih lama.

.

.

.

.

Terkadang Baekhyun bertanya-tanya apakah hidup benar-benar pantas dihidupi.

Dia tidak tahu mengapa dia tidak mati saat dulu sekali.

Dia tidak mencoba untuk mati, tapi pada saat yang sama dia tidak mencoba untuk hidup. Karena apa untungnya? Orang-orang hanya ada, kemudian mereka mati, jadi tak ada gunanya untuk membuat yang terbaik akan hidup.

Dirinya beberapa tahun yang lalu akan percaya bahwa hidup itu penuh makna, bahwa hidup dapat membuat seseorang berubah menjadi orang yang lebih baik, bahwa hidup dapat membuat seseorang merubah orang lain menjadi orang yang lebih baik. Dia pikir, satu-satunya yang buruk di dunia ini, adalah kematian.

Tapi jelas kematian hanyalah pelarian yang mudah.

Baekhyun dulu ingin mati—ingin mati—beberapa tahun lalu ketika, dia berumur limabelas (dan bahkan mungkin sebelum itu) dan ketika dia masih percaya cinta dan keajaiban. Ketika dia percaya aturan baik dibandingkan iblis, ketika dia percaya cahaya mengalahkan kegelapan.

Dia ingin lari dari dunia yang memberikannya kesenangan kemudian membiarkan rasa sakit menolaknya seribu kali, dunia di mana yang dia inginkan hanyalah mati tapi dia dipaksa hidup, tempat yang tega menghancurkan mimpi dari laki-laki kecil yang mengandalkan seluruhnya pada hal tersebut.

Dia ingin mati, ingin membunuh dirinya sendiri, tapi lagi-lagi, di mana gunanya dalam mencoba?

Selain itu, berapa orang yang akan sakit?

Jadi dia hanya menyimpan seluruh derita pada dirinya sendiri, hanya membiarkan Baekhyun menelan semua rasa sakit dan menyimpannya di sebuah tempat di mana tak ada yang akan melihatnya, jadi dia bisa betingkah bahagia dan tersenyum dan tertawa dan tak akan pernah lagi mengkhawatirkan orang-orang melihat dirinya; jadi dia terkadang dapat sangat berpura-pura bahkwan dirinya sendiri lupa (tapi tak pernah sepenuhnya). Tidak, tidak layak menghabsikan waktu untuk mengkhawatirkan orang-orang.

Baekhyun tidak tahu mengapa, tapi pikiran-pikrian ini, pemikiran terdalam dan tergelap, yang muncul kapan pun bulannya tiba di 17. Dan dia sadar betapa menyedihkan dirinya, dan tahu saat dia baru saja mulai merasa baik, hari ini mengingatkannya bahwa dia tidak cukup baik untuk bahagia.

Tidak cukup baik untuk menjadi apa pun.

.

.

.

.

Ketika waktu makan malam, jantungnya sangat sakit dengan setiap denyut sehingga susah bernafas.

Dia tidak bisa menghindari siapa pun, karena Jongin menemukannya dan mengatakan untuk datang makan malam dengannya.

Semakin sulit dan sulit untuk berpura-pura, tapi Baekhyun masih mengatur untuk bertingkah normal sambil berjalan dengan Jongin menuju meja, menjaga senyum kecil terjebak di wajah, beku seperti dia berharap jantungnya akan beku.

Saat duduk, dia sulit melihat yang lain karena sangat konsentrasi untuk mencgah emosinya. Seseorang membuat lelucon di meja, tapi Baekhyun tidak dapat mengatakan siapa, dan saat orang-orang tertawa, dia merasa seperti mereka menertawai dirinya.

Berhentilah. Berhentilah berpikir seperti ini. Mereka di sana bukan untuk menyakitimu. Tak ada yang dapat menyakitimu, ingat?

Kau sudah memastikan pertahananmu tak dapat dipenetrasi. Tidak ada yang dapat melewatinya.

Bahkan radiasi gamma sekali pun.

Kepalanya berdenyut bersamaan dengan jantungnya, dan dengan setiap degup dia merasa isi perutnya berputar. Dia menjaga matanya di pangkuan, tertawa sesekali untuk menunjukkan pada orang-orang bahwa dia masih baik-baik saja (karena memang iya, dia selalu baik-baik saja), dan ketika merasakan kursi berderik di lantai, dia tahu dia hampir bisa mendesah lega.

Tapi dia masih berharap, masih berharap.

Seluruh keramaian meninggalkan pintu pada waktu yang sama, dan saat biasanya Baekhyun akan merasakan hal tersebut frustasi, pada setiap ke-17 dia akan berterima kasih. Tubuh mungilnya membiarkan dia teremas keluar dari tubuh besar, dan membuat alasan pada orang di meja bahwa dia ingin mengambil sesuatu untuk diminum sebelum kembali ke asrama dengan mereka. Mereka semua pergi bersama dengan kerumunan, dan menunggu sampai mereka menghilang dari penglihatannya, kemudian dia teremas keluar dari sana sendiri.

Udara segar lebih membangunkannya dari pikirian dalam, tapi yang dia lihat sekarang adalah club yang selalu dia kunjungi. Dia berjalan tertatih dari kerumunan, siap untuk berbalik di sudut, tapi sebelum dapat melangkahkan langkah lainnya, dia merasakan tangan kuat memegang pergelangannya.

"Kau tidak mengingat tantanganku lagi?" Sebuah suara berat, yang entah mengapa membuat jantungnya berdebar dalam harap, terkekek. "Sedikit membuat depresi, karena aku mengingatnya dengan jelas."

Ketika berbalik, dia bertemu dengan wajah Chanyeol. Untuk beberapa alasan, pikirannya sedikit jernih, dan beberapa perasaan memudar pergi. Tetapi hanya sedikit.

Chanyeol menggunakan ripped jeans dan hoodie tebal, dan juga menggunakan topi di kepalanya—seakan dia kan pergi ke suatu tempat. Dia tersenyum liar sambil tangannya meluncur ke bawah dan memegang tangan Baekhyun. "Jadi kita akan kemana hari ini?"

.

ooo

.

TERIMA KASIH YANG BANYAK BANGET UNTUK (sesuai abjad dan maaf kalau salah tulis):

4kimhyun, 9292, aeri48, Aisyah304, Alceena, amandaaura09, anonymous, aphroditears, aupaupchan, autumnkyu, ay, azrchanbaek, Azzuree, babybyun06, baek ca (spasi ganti titik), Baek13erry, baekbaek, Baekbooty, baekfrappe, baekhee2811, BaekheeByunnie, Baekhyun Cantik, baekkichan, baekpupie, baekvelvet, baepupie, barbiebaek, bbh0506, BC'baekbeecikifly, beecikifly, Boucheron Black, BTB, Bumbu-cimol, Byunae18, byuniepark, Byunsilb, cbaf, cbsforlyfe, CBZAAY, cchii, ceciliagata, Chaaphnx, chanb ee (ganti spasi dengan titik), ChanBMine, ChanBaekXing69, Chanbelong2baek, Chanlie, ChanlovesBaek, Chanpagne, chanxbaek614, chanxlatifaxbaek, chanyeolisbaekk, Chrysalis, CYBH, cycyyu, Cynta533, daebaektaeluv, daeri2124, desyansa6104, Dhea Park, dindaebak94, dindinxoxo94, Dini695, DLajeng, dooremi, Dwarfeu-B, dwi yuliantipcy (spasi ganti titik), elbetsyy, ehariutari, Eka915, Ereegtufe, estyn48, exocbxyasayy, flashbaek, flyingwithjoy, fwxing, Fyouth, GENDUT, girl404, Glowixhan, Guest, Hepiyeol, Hyera832, Hyun CB614, HyunAPark12, ieznha asmaulhaq (spasi ganti titik), Incandesene7, ikakaaaaaaa, Jung HaRa, kakarlak, KimKai69, kyukyu, littleloetlovi, Latifanh, LavenderCB, lilaramsya, LuckyDeer, luckymiaw12, mashedpotato, maybae506, mbsbtbujcc, Mikaela Clavem, mithamstk, momomay, monscbhs, Muh223, Nadivarahma6104, NLPCY, nolachanbeenuuuuut, oohseihan, osh pcy (spasi ganti tititk), PandaAnez, parkbaekhy, ParkBaeko, Park Beichan, ParkChera, parkLad, Peach94, pengen tahu jeltot, Prk. Ns, RahmaIndirawati, Queenpark, RatedMLovers614, rekmooi, Ricon65, saltybyun, seseoh, SexYeol, Shanyyy Park (spasi ganti titik), Shintaaulia23, Si imay (spasi ganti titik), sintaexolsintaexol9591, srzki, streetgirl, Sweatcold, Tia YJ Ship, tikayuan, tkxcxmrhmh, ukebaeknc, Ulpha Yeppeo619, white morning glory, woo jizii, XianLie92, yellowfishh14, yeoletbaek, yeolibeun, Yoon745, yousee, zarrazr, Zyumi.

JUGA BUAT YANG UDAH FAV, FOLLOW, DAN BACA!

.

T/N :

Straws!

Ini lanjutannya ya! Ada bebrapa hal yang mau berry omongin. Pertama, berry mohon nih sama kalian kalau REVIEW ATAU KOMEN JANGAN MENGANDUNG SPOILER, ok? Beberapa dari kalian pasti ada yang udah baca tfibb ver ing dan berry mohon jangan review atau komen yang ada spoilernya. Selain itu, berry mohon juga kalau mau REVIEW ATAU KOMEN JANGAN PAKE KATA-KATA KASAR. Sangat disayangkan ada yang review make kata-kata yang tidak baik malah bisa ngetrigger. (mana pas ultah berry :')) Berry sedih aja, untungnya berry tak pernah mengalami seperti itu, tapi haruslah diingat kita gak tau orang pernah mengalami apa aja jadi plis pikir-pikir dulu sebelum mau review. It's totally fine to be mad or hate or exasperated with me, but please say what you want to say nicely. Berry tahu kalau di internet kalian jadi anonimus dan deindividualisasi terjadi tapi kalian harus inget perkataan itu bisa mengganggu seseorang. Im not that offended. Tapi berry takut kalian mengatakan hal tersebut ke orang lain dan ternyata orang lain tersebut punya pengalaman buruk terkait hal tersebut dan perkataan kalian bisa mengakibatkan hal buruk terjadi. Mungkin kalian bisa aja mikir itu candaan, but honey, candaan itu bukan dimaksudkan untuk menyakiti orang lain. So think again before write something, okay? (maafkan berry ya kalau berry hapus reviewannya tolong dimaklumi)

Maafin berry juga kalau translateannya gak rapi, typo, kadang masih ada inggrisnya. Maaf banget.

Next, berry akan bikin CHAPTER Q&A. jadi kalian bisa tanyakan pertanyaan seputar TFIBB, blehmeh, mapun berry dengan format ^Q:

Contoh, contoh banget ini pertanyaan gaje XD:

^Q: berry, kenapa baekhyun benci sama chanyeol?

Maaf, bagi yang GAK PAKE FORMAT GAK BAKAL BERRY JAWAB. Dan yang kemarin review dan ada pertanyaan maaf banget nih tolong tanyain lagi pake format ya biar sekalian ^^

Dan EXO COMEBACK! SO EXCITED IM SO KOKOSHOOK AFTER WATCH THE TEASERS dan tentu saja aku udah liat yang baekhyun baepupie baekhyun's mullet is :') I love him sm.

Sekian. Thank you all. I love you.

Xoxo,

.

Berry