.

.

L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)

Naruto Belong Masashi Kishimoto

Rated M-MA

Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri

LAST CHAPTER

.

.

Mencintai seseorang itu tidak harus memiliki. Tapi apa kalian bisa bertahan menahan rasanya sakit karena tidak bisa bersama dengan orang yang dicintai? Jiraiya selalu mencintai Nadeshiko, ibu kandung Sakura. Namun cintanya tidak pernah terbalas. Dengan senyuman ikhlas, Jiraiya selalu memantau Nadeshiko dari kejauhan, tersenyum saat melihat wanita itu bahagia bersama laki-laki pilihannya, dan bersedih saat ternyata anak yang dikandung oleh wanita itu bukanlah anak dari suami sahnya, melainkan dari… adiknya sendiri.

Adik kakak menyukai wanita yang sama, kejadian nista yang terjadi saat suami Nadeshiko pergi ke luar kota dalam jangka waktu yang lama membuat Asuma mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mungkin karena keberuntungan berada di pihak Nadeshiko, Sakura lahir dengan warna rambut dan mata yang sama dengan dirinya, sehinggga tidak ada kecurigaan sama sekali dari sang suami. Namun apa daya bagi Jiraiya yang tidak dapat mendekati Nadeshiko dengan percaya diri. Tidak seperti Asuma yang bisa terang-terangan menggendong Sakura saat kecil dan menutupi semua perbuatan kotor mereka dengan senyum ramahnya. Jiraiya lebih memilih untuk melindungi mereka dari jauh.

Dan sekarang.

Di sinilah Jiraiya berada.

"Sedang apa kau? Kabuto?" tanya Jiraiya ketika dia membuka pintu yang dari tadi ia pandangi.

"Ji-Jiraiya?! Kau sendiri?"

"Aku hanya ingin mencari seseorang yang seharusnya berada di garis depan apabila terjadi kericuhan, namun orang itu malah tidak muncul sama sekali," ujar Jiraiya sambil mendekati sosok Kabuto yang menjauh dari beberapa panel.

"Ternyata orang itu sedang asyik berlindung di sini, eh?"

"Heh, kau salah. Justru Asuma menyuruhku untuk tetap berada di sini," ujar Kabuto dengan tangan yang merogoh saku belakangnya. Mengambil pistol yang berada di saku belakang dan pelan-pelan ia tekan kokangnya.

"Dengan alasan?"

Kabuto tidak menjawab, saat Jiraiya lengah, Kabuto langsung menembak ke arah Jiraiya. Namun ternyata Jiraiya tidak sebodoh yang dia pikir. Jangan lupa, pengalaman Jiraiya dalam bertarung sudah sangat senior. Saat Kabuto menembak, Jiraiya langsung menunduk sekaligus mengait kursi dengan kakinya lalu menendangnya ke arah Kabuto.

Kursi itu melayang dan menubruk tubuh Kabuto.

"Ukh!"

Namun hantaman seperti itu tidak membuat Kabuto melemah. Kabuto berguling dan berlindung di balik pilar. Jiraiya dengan santai menghampiri pilar tersebut.

"Kau tahu tidak akan menang melawanku," ujar Jiraiya, "mau tahu alasanku yang saat ini ingin membunuhmu?" Tidak ada jawaban dari Kabuto. "Karena kaulah yang membuat Nadeshiko tidak bisa tenang di alamnya," lanjut Jiraiya sambil membuka sebuah tirai.

Sreeeeet.

Mata Jiraiya memilu ketika melihat sosok wanita berambut pink yang sedang terbaring dengan beberapa peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Kabuto yang merasa panikkarena kemampuan berkelahinya nihil berusaha untuk kabur. Namun Jiraiya langsung mengejarnya dan menahan tubuh Kabuto kemudian membantingnya ke sembarang arah.

"I-ini perintah Asuma! Bukan kemauanku!"

"Tapi tetap saja kau yang menjalaninya," ucap Jiraiya dengan wajah tenang namun terkesan dingin.

Kabuto beranjak dan menembakkan pistol beberapa kali pada Jiraiya. Banyak yang meleset karena pada dasarnya Kabuto bukan tipe petarung, dia hanyalah penjaga jasad Nadeshiko yang diawetkan. Jiraiya menghindar, menghindar, dan menghindar dari tembakan Kabuto. Sampai pada tembakkan terakhir dan peluru terakhir tepat menggores pipi Jiraiya.

Jiraiya menghapus darah yang keluar lalu ia segera mencengkeram kerah baju Kabuto, "Katakan, bagaimana cara menon-aktifkan alat-alat itu."

"Cih, kaupikir aku akan mengatakannya begitu saja? Mau dengar? Bagaimana Asuma bercinta dengan tubuhnya yang sudah tidak bernyawa itu? Begitu juga denganku—"

BUAGH!

BUAGH!

BUAGH!

Hantaman demi hantaman diterima oleh Kabuto, wajahnya kini lebam, kacamatanya pun pecah. Namun Kabuto merasa dirinya ingin lagi memprovokasi Jiraiya, "He-hehe-he… bunuhlah aku, kau tidak akan pernah tahu bagaimana cara mematikan semua alat itu."

"Tidak perlu, aku akan memaksa melepas semua alat ini." Jiraiya melangkahkan kakinya meninggalkan sosok kabuto yang terkulai di lantai.

Kabuto menyeringai licik saat Jiraiya mengabaikannya, dikeluarkan sebuah remote dari saku celananya dan ditekan tombol sambil berkata, "Kena kau!"

Klik!

Whhoooosssss!

Kabuto menutup hidung begitu ada asap muncul dari beberapa sela lantai. Jiraiya yang lengah tidak mengerti mengandung apa asap itu.

"Uhuk!"

Kabuto mematikan lagi asap tersebut dan berjalan ke arah Jiraiya yang kini tengah berlutut di lantai.

"Asap melumpuhkan otot-otot tubuh apabila kita menghisapnya," jelas Kabuto yang mengambil satu besi panjang dan diayuhkan pada punggung Jiraiya. "Dan ini balasanku!"

BUAGH!

.

.

Selama beberapa saat, dua lelaki berambut kuning terang itu hanya berdiri di sana—saling menatap dengan tatapan benci. Lelaki yang memiliki tanda lahir berupa tiga garis di masing-masing pipinya masih mencengkeram pergelangan tangan lelaki yang lebih tua darinya itu.

"Lepaskan tanganku, Anak Bodoh! Kau sudah membuang waktuku untuk membunuh anak tidak berguna itu!" ujar sang lelaki yang lebih tua, Minato, sambil berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Naruto. Namun, Naruto menahannya sedemikian rupa hingga untuk sementara, Minato memilih tidak bergerak.

"Justru karena itu aku menahanmu."

"Heeeh! Lucu! Sekarang kau mau melindunginya? Bukankah kau membencinya? Dia musuhmu, 'kan? Seharusnya kau senang kalau dia mati sekarang!" ujar Minato memprovokasi. Di tengah perkataannya, Minato bahkan terkekeh.

Naruto mengabaikan semua ucapan ayahnya untuk melihat ke arah saudara kembarnya yang sudah terkapar dalam posisi telungkup. Pemuda berambut hitam itu nampak tidak berdaya dan ini membuat Naruto iba. Bagaimanapun, Naruto sempat mengetahui bahwa Menma dengan sengaja tidak memperpanjang pertarungannya dengan Sasuke demi Sakura.

Perhatian Naruto pada Menma terlihat bagaikan kelengahannya sesaat. Tentu keadaan ini tidak begitu saja disia-siakan oleh Minato. Pria itu mengambil pistol kecil dari belakang sakunya dan dengan cepat mengarahkannya ke Naruto yang masih terdiam.

DOR!

"AKH!"

Ternyata, Naruto tidak selengah yang dipikirkan Minato. Pemuda itu berhasil menangkap tangan Minato yang memegang pistol dan kemudian menekan pergelangan tangannya keras-keras hingga tangan Minato tertekuk ke dalam dan melepaskan pistolnya.

Kesakitan yang dirasakan oleh Minato seolah mematikan semua nalarnya. Kini, ia yang tidak begitu bisa bertarung hanya bergerak berdasarkan naluri dan insting. Lalu, instingnya memerintahkannya untuk memusatkan tenaga pada tangan kirinya yang memegang pisau. Digerakkanya tangan itu secara vertikal, dari atas ke bawah sekuat tenaga. Tindakan itu berhasil menimbulkan luka di lengan kanan bawah Naruto.

Naruto tersentak dan melepaskan tangannya dari Minato dan kemudian meloncat ke belakang. Dengan tangan kirinya, Naruto menyentuh luka yang tidak terlalu dalam itu.

"Aha … hahahaha!" Minato tertawa keras tanpa sebab yang jelas. Ia kemudian menunduk untuk mengambil pistolnya yang semula terjatuh. "Kalian tamat, Bocah!"

Naruto masih memandang tanpa gentar ke arah Minato. Namun, Naruto pun dibuat terkejut saat mendadak Minato malah menggerakkan tangannya yang memegang pistol ke arah Menma.

"Kau duluan!"

"BRENGSEK!" Dengan cepat Naruto berlari untuk menerjang Minato. Ia melayang dengan gerakan untuk menangkap Minato.

DOR! DOR!

"AAKH!"

Usaha Naruto bukannya sia-sia. Meski satu tembakan berhasil menyerempet pundak Menma, tembakan lainnya hanya melayang dan kemudian menembus tembok di belakang Menma.

Naruto yang masih dalam keadaan telungkup di atas Minato kemudian mendengar suara benda digerakkan dan …

SRET!

… ia bisa merasakan moncong pistol yang menempel tepat di dahinya.

"Kau saudara yang baik, Naruto," ujar Minato sambil terkekeh, "kau mau mengorbankan dirimu untuk mati lebih dahulu menggantikan Menma."

Naruto tidak meluapkan emosinya dalam wujud kata-kata. Hanya matanya yang berbicara dalam suatu pandangan dipenuhi murka.

"Nah, selamat tinggal…!"

Minato terhenyak saat ada sesuatu mengenai tangannya. Sesuatu itu memang tidak menyakitkan dan tidak telak, tapi cukup untuk mengalihkan perhatiannya sesaat. Dari posisinya yang setengah duduk, Minato melirik ke arah Menma yang entah sejak kapan sudah kembali duduk dan bersandar pada tembok—dengan sebelah tangan yang memegang pundaknya yang terluka. Dalam genggaman tangannya yang lain, terdapat batu-batuan dari tembok yang sedikit rusak akibat pertarungan-pertarungan sebelumnya.

"Kau…. Lagi-lagi kauuuu!" teriak Minato.

"Haaah … haah…." Sambil menahan rasa sakitnya, sekali lagi Menma melempar batu dalam genggamannya. Kali ini lemparan itu lebih cepat dari sebelumnya dan mengenai pelipis kiri Minato.

"Ugh!"

Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Naruto. Ia mengambil pistol dan pisau dalam genggaman Minato. Secepat kilat, Naruto bangkit berdiri. Ia kemudian membuang pisau Minato ke sembarang arah dan kini ia mengarahkan ujung pistol kecil itu ke arah Minato.

"Naru…."

Ucapan Menma terhenti oleh suara teriakan serta empat bunyi tembakan yang berturut-turut dilepaskan oleh Naruto. Dua tembakannya menembus kaki Minato dengan sengaja dan dua yang lainnya ia biarkan menembus lantai. Setelah mencoba menembak untuk kelima kalinya, Naruto yakin bahwa pelurunya sudah habis dan ia segera membuang pistol itu jauh-jauh.

"AAAGHH! ANAK SIALAN! BERANINYA KAU … BERANINYA KAAAUU!" geram Minato sambil menyeret tubuhnya ke belakang. Kakinya menyerukan sakit yang luar biasa. Tangan Minato bergerak menyentuh kakinya saat ia sudah dalam posisi bersandar pada sebuah tembok. "Darah … darah…. Aku terluka…."

Minato terus meracau saat melihat tangannya diselubungi warna merah gelap. Wajah pria itu memucat. Dan hal ini menghilangkan sorot amarah di mata Naruto. Ia yang sekarang hanya bisa memandang pria yang merupakan ayahnya itu dengan tatapan … kasihan.

Minato menjadi seperti ini karena rasa cintanya pada Kushina—istrinya. Atau itulah anggapan yang terlihat. Namun, Naruto tahu hal sebenarnya yang menggerakkan Minato melakukan semua kegilaan untuk membalas dendam ini.

"Menyerah sajalah. Kau sudah tidak bisa apa-apa." Naruto menasihati dengan nada yang cenderung meremehkan. Ya—meskipun ia bisa merasa simpati, tetap saja Naruto sudah kehilangan rasa penghargaannya pada sang ayah sejak bertahun-tahun yang lalu. Ia tidak lagi bisa melihat Minato sebagai orang yang diidolakan ataupun disayanginya. Minato saat ini, bagi Naruto, hanyalah orang asing yang hendak membunuhnya dan saudaranya.

"Kau … kau…." Mata Minato melotot. Tangannya gemetar oleh rasa amarah. Napasnya tersengal. Ia bahkan sempat terbatuk-batuk beberapa kali. Namun, mata itu belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan segera menyerah. Tangannya bergerak dari bagian paha yang digenangi darah, beranjak ke arah kaus kakinya.

Naruto melihat itu langsung menjadi waspada. Dan benar saja, tak lama, beberapa benda melayang ke arahnya.

"Cih!" Naruto menghindar dari dua buah pisau yang dilontarkan Minato. Lalu…

DOOR! DOOOR! DOOORR!

Tiga buah tembakan terdengar memekakkan telinga.

Pisau yang dilemparkan Minato memang tidak menimbulkan luka apa-apa bagi Naruto karena bisa dibilang lemparan itu sama sekali tidak akurat. Berbeda dengan tiga buah tembakan membabi buta yang kemudian dilepaskan oleh pistol cadangan Minato.

Dua di antaranya memang meleset dan hanya menyerempet rambut Naruto tapi satu tembakan berhasil mengenai pinggir perutnya, memuncratkan darah yang tidak terlalu banyak dari sana.

DOORR!

Satu lagi, tembakan itu kali ini dihindari dengan sempurna oleh Naruto yang sudah berlari ke arah Minato. Ia merogoh tubuh bagian belakangnya dan kali ini mengeluarkan pistol miliknya sendiri.

DOOORR!

Tembakan lain dilepaskan Minato saat melihat Naruto berlari mendekat ke arahnya. Kali ini, peluru berhasil menembus paha Naruto. Langkah Naruto terhenti dan ia pun mengerang sesaat. Namun, tidak ada yang bisa mengalahkan tekad Naruto. Ia tetap berjalan ke arah Minato meski ia harus menyeret sebelah kakinya.

Begitu ia sudah tepat di depan Minato, ia pun mengarahkan moncong pistolnya ke arah kepala Minato. Minato pun melakukan hal yang sama—mengarahkan pistolnya yang tinggal berisi satu peluru ke arah kepala Naruto. Keduanya hanya saling memandang sebelum Naruto membuka percakapan.

"Padahal kau tidak harus mati … Ayah." Naruto mengucapkan kata-kata terakhir itu dengan jijik.

Minato menyeringai. "Kau terlalu percaya diri, Nak. Kau yang akan mati terlebih dahulu!"

Klik.

Melihat kondisi saudara dan ayahnya yang sedang bertarung membuat Menma sampai pada satu konklusi. Naruto yang akan menang. Naruto akan menghabisi ayahnya. Naruto akan membuat pria itu kehilangan nyawa. Bagaimanapun, Minato tidak terlatih untuk bertarung sebagaimana halnya dengan Naruto. Apalagi, kondisi memang tidak memungkinkan Minato untuk menang.

Peluru di pistol Minato tersisa satu. Berbeda dengan Naruto. Jika Naruto melepaskan tembakan asal yang memancing Minato menembakkan peluru terakhirnya, Naruto kemudian akan menghindar dari tembakan itu dan tinggal melepaskan peluru lain ke arah Minato. Demikian skenario yang terbayang dalam benak Menma.

Ayahnya akan mati.

Seharusnya Menma tidak merasakan apa-apa. Toh pria itu sudah berniat membunuhnya. Tapi tidak bisa. Ia tidak bisa menyingkirkan ketakutan bahwa ia akan kehilangan pria yang sudah membesarkannya selama ini.

Masa lalu menguasai kesadaran Menma. Senyum lembut Minato, kata-katanya yang hangat, tepukan di kepalanya untuk memberikan semangat … semua pernah ia terima dari Minato. Meski Minato kini sudah menjadi iblis sekalipun, bagi Menma … Minato tetap ayahnya. Dan ia tidak mau ayahnya tewas.

"NARUTOOO! HENTIKAAN!" teriak Menma tepat sebelum masing-masing melepaskan tembakan.

Naruto menoleh ke arah Menma dan saat itu satu tembakan dari Minato mengenai tangannya yang memegang pistol.

"AARGH!" Naruto mengerang dan otomatis melepaskan pistol dari tangannya. Pistol itu terjatuh di dekat Minato dan pria itu segera menyambarnya.

"Haha … HAHAHAHHAHAH! Sudah kubilang, 'kan, Nak? Kau terlalu percaya diri! Kau tidak tahu bahwa keberuntungan masih memihakku!" Minato tertawa-tawa dengan pistol Naruto yang sudah dipegang di tangannya.

"AYAH! KAU JUGA HENTIKAN!" teriak Menma dengan energi yang entah dari mana ia dapatkan—mengingat tubuhnya sudah begitu payah.

"BERISIIIKK!" balas Minato sambil susah payah berdiri. Luka di kakinya akibat Naruto membuatnya nyaris merosot kembali, tapi ia tidak mneyerah hingga ia bisa berdiri meski harus bersandar pada tembok di belakangnya. Kini kedua tangannya terangkat ke arah Naruto. "Memang kau yang harus kuhabisi lebih dahulu, Naruto. Kau juga salah satu penyebab ibumu meninggal!"

Naruto menghela napas.

"Salah," ujar Naruto, "kaulah yang menyebabkan ibu meninggal! Kau tahu dan sadar! Tapi kau tidak mau mengakuinya!"

"A … pa…?"

"Jika kau tidak terlibat dalam permainan saham yang kotor itu, tentu ibu tidak akan jatuh sakit, bukan? Kau juga tidak perlu kehilangan respek dariku," jawab Naruto terdengar santai. Sebelah tangannya kini seolah berusaha menutupi luka tembakan di tangannya yang lain. Darah terus mengucur hingga menghujam lantai. "Kau … penyebab utama ibu meninggal!" tuduh Naruto akhirnya. "Kau yang menghancurkan semuanya!"

Minato terbelalak mendengar ucapan Naruto. Saat itulah, terbayang di matanya, sosok Kushina yang tersenyum ke arahnya. Senyum yang Minato rindukan. Namun kemudian, senyum itu lenyap dan berubah menjadi air mata. Tidak selesai sampai di sana, bayangan Kushina itu kini tampak mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Ti … dak! Aku tidak…." Tangan Minato perlahan turun. Namun, saat Naruto hendak bergerak ke arahnya, Minato kembali berteriak, "JANGAN MENDEKAT!"

Naruto pun bergeming di tempatnya. Ia mengawasi Minato yang tampak terpukul. Mata pria itu kehilangan sorot kejamnya. Namun, sorot kejam itu kini digantikan ketakutan.

"Kushi … na…. Kushina! Katakan! Bukan aku yang membunuhmu, 'kan?!" teriak Minato ke arah Naruto. "Tidak, tidak! Jangan mendekat! Aku mencintaimu, Kushina! Aku tidak mungkin membunuhmu!"

Minato mengangkat tangannya dengan gemetar dan kemudian menembakkan pistolnya ke … arah belakang Naruto—di mana sebenarnya tidak terdapat apa pun di sana. Hanya udara kosong tak berwujud.

Naruto yang melihat itu tampak mengernyitkan alis. Ia kemudian menoleh ke belakang, memastikan bahwa memang tidak ada seorang pun di belakangnya. Tanpa sadar, Naruto pun menoleh ke arah Menma yang juga memiliki tatapan kebingungan tersebut di kedua matanya.

"Tidak … maafkan aku, Kushina! Tidak! Tadi itu … tidak! Aku tidak berusaha membunuhmu! Tidak! Aku tidak sengaja! Percayalah!" racau Minato terus menerus. Air mata nyaris meluncur jatuh dari kedua matanya. Keringat dingin tampak semakin deras mengucur dari arah pelipisnya. "Maafkan aku! Aku … aku akan melakukan hal yang sama! Baik … baik, 'kan? Kau senang, 'kan?"

Naruto langsung membulatkan matanya saat melihat Minato kini menggerakkan tangannya ke arah pelipisnya sendiri. Menma yang juga melihat situasi itu langsung sadar apa yang akan terjadi. Ia pun dengan susah payah mencoba bangkit dari tempatnya duduk.

"AYAAAAHH!" teriak Menma sambil berusaha berlari.

"Tunggu aku, Kushina…."

"TIDAAAKK! Ukh!" Baru beberapa langkah Menma berlari, ia kemudian jatuh tersungkur. Dagunya bahkan menghantam lantai keras di bawah. Belum sempat ia mengangkat kepalanya, saat itulah….

DOOOORRR!

Begitu kedua sapphire Menma terbuka, yang pertama ia lihat adalah sosok Minato yang sudah melorot jatuh dan … Naruto yang terdiam terpaku—seolah ia tidak bisa percaya dengan apa yang baru dia lihat. Mata Menma seketika berkaca-kaca dan mulutnya menganga. Selama beberapa detik lamanya, tidak ada yang bisa bersuara ataupun melakukan apa-apa.

Akhirnya, Menma menundukkan kepala. Masih dalam keadaan menelungkup, pemuda berambut hitam itu mengepalkan tangannya dan menghantam lantai di bawahnya.

"Sial! Sial! SIAALL!" geram Menma dengan kepala yang tidak juga mau menengadah.

Sampai suara Naruto terdengar berada di dekatnya.

"Ayah sangat mencintai ibu," gumam Naruto sambil menarik tangan Menma untuk membantu pemuda itu berdiri, "tapi penyesalannyakarena telah membiarkan ibu meninggal jauh lebih kuat dibanding rasa cintanya. Karena itulah…."

Naruto membiarkan kalimatnya tergantung tidak selesai. Perlahan-lahan, ia kemudian memapah Menma untuk keluar dari ruangan itu. Sekilas, Menma menoleh ke belakang—ke arah ayahnya yang sudah tidak bernyawa. Tapi kemudian, perhatiannya ia arahkan pada Naruto.

Tanpa bisa berpikir, Menma hanya bisa berujar, "Bagaimana bisa kaudatang ke sini…?"

"Oh, aku menggunakan motor boat dan menjalankannya dengan kecepatan maksimum. Untung aku belum terlambat ya?"

"Bukan itu…," ujar Menma dengan suara pelan nyaris berbisik, "kenapa kaudatang?"

Naruto terdiam seolah ia sedang memikirkan jawaban yang tepat. Setelah beberapa saat waktu berlalu, akhirnya Naruto menarik napas panjang dan mengembuskannya.

"Aku … ingin bicara denganmu. Kali ini dalam posisi sebagai saudara, bukan musuh." Naruto tertawa kecil. "Tapi syukurlah aku datang. Karena dengan itu, aku berhasil menyelamatkanmu. Yah, walau kau juga sempat menyelematkanku. Kita impas." Naruto mengakhiri kalimatnya dengan tawa renyah.

Menma terbelalak—terperangah.

"Bagaimanapun, kalau kau meninggal, aku juga akan merasakan sakitnya," ujar Naruto perlahan, "bukankah katanya anak kembar itu dihubungkan oleh tali tak terlihat?"

Setelah mendengar jawaban Naruto, Menma tidak bisa lagi berkata apa-apa dan hanya bisa menunduk. Kedua pemuda kembar itu berjalan perlahan dan tertarih-tatih untuk mencari pintu yang kemudian akan mengantarkan mereka ke lembaran baru dari hidup mereka.

Tanpa perlu lagi … melihat ke arah belakang.

.

.

"Hah… hah… hah…"

Bruk.

Tsunade menjatuhkan dirinya dengan sengaja ke tanah. Merasa lelah karena baru saja dia mengalahkan berpuluh-puluh orang yang akan menyerbu mereka. Karena tidak mau ada yang mengganggu pertarungan murid-muridnya, makanya Tsunade rela mengalahkan mereka sendirian.

"Sial, lelah juga, sudah lama tidak olahraga begini."

Tsunade melihat ke atas langit, cahaya matahari yang menyengat membuatnya mengernyitkan mata. Tanpa pikir panjang Tsunade bangkit dan segera menyusul yang lain. Saat Tsunade sampai pada lobby utama, dia melihat sosok Naruto dan Naruto yang lainnya sedang berusaha berjalan.

"Naruto? Naruto?" ucap Tsunade bingung.

"Tsunade-sensei, maaf yah tadi aku tidak membantumu, dan untung saja aku tidak membantumu. Kalau aku membantumu mungkin Menma sudah mati," ujar Naruto.

"Menma? Ah! Kalian mirip!"

"Kami saudara kembar," ucap Naruto.

"Sebentar, rasanya aku membawa peralatan medis standar, biar kuperban luka-lukanya," ujar Tsunae yang merogoh beberapa kantung yang menempel di pahanya.

Tanpa harus bertanya, Tsunade sedikit mengetahui situasi mereka. Mata Tsunade melirik pada mayat pria berambut pirang yang berada cukup jauh di belakang mereka, benar-benar sosok yang sama seperti Naruto. Tanpa mengucapkan apa-apa Tsunade membalut luka-luka Menma dengan perban. Hanya saja, satu yang Tsunade pikir… kenapa… di saat seseorang mempunya keluarga yang utuh, mereka malah menjadi musuh?

Dunia itu memang kejam.

Tidak.

Manusialah yang bodoh.

.

.

"KYAAAAAAAAAAA!"

BRUUUK!

Karin terpental jauh dan menubruk beberapa pajangan yang ada di ruangan itu. Kurenai memegang kendali di pertarungan ini, namun bukan berarti Karin kalah total, karena saat ini Kurenai sudah ngos-ngos-an dengan darah yang keluar dari mulut juga pelipisnya. Sebelah lengannya pun berhasil tertembak oleh Karin.

Tendangan keras dari Kurenai tadi cukup membuat tenaga Karin terkuras banyak. Kurenai tidak memberi ampun, dia menghampiri Karin dan kembali mengangkat tubuh gadis itu lalu dilemparkannya ke sembarang arah.

BRAAK!

"AAKKHH!"

Dengan senyum sinisnya, Kurenai mendekati Karin. Dengan senyuman yang sinis, Kurenai menginjak perut Karin memakai high heels-nya.

"Kyaaaaaaaaaaaa! Aaaaaaaaaaaaaaahhhhh!" jerit Karin.

Mendengar jeritan Karin yang kesakitan membuat perhatian Shikamaru terbagi dua antara pertarungannya dengan Deidara dan kondisi Karin. Jarak mereka tidak terlalu jauh dan Shikamaru bisa melihat bagaimana kondisi Karin saat ini. Melihat Kurenai yang mengangkat belatinya dan akan menusukannya pada kepala Karin, Shikamaru berlari menuju Kurenai sekuat tenaganya. Dan itu diluar prediksi Deidara.

"Mati kaauuu!" jerit Kurenai.

CRAAAS!

.

.

"Paman Asuma…"

"Aku tidak menyangka kau bisa tumbuh menjadi secantik ibumu, Sakura."

"Kenapa Paman melakukan ini semua?" tanya Sakura pilu.

"Mungkin lebih tepatnya, kau ingin tahu jati dirimu yang sebenarnya, kan?"

Sakura terdiam, sedangkan Orochimaru dan Hinata hanya saling tukar pandangan. Sakura mengeratkan katana-nya dan mengatur napasnya agar tidak terdengar rapuh.

"Apa benar aku anak kandungmu?" tanya Sakura dengan rasa takut yang menyelimuti hatinya.

Asuma kembali meniupkan asap rokok ke udara, "Ya, aku adalah ayah biologismu."

Entah kenapa, hati Sakura terasa sangat ngilu, "Apa… ibu selingkuh?"

"Tidak, ibumu tidak selingkuh, Nadeshiko wanita yang sangat baik dan lembut. Sampai-sampai dia percaya pada kebohonganku," jawab Asuma dengan santai.

Sakura masih diam dan tidak menjawab sepatah kata pun. Kali ini dia membiarkan Asuma yang berbicara sepenuhnya.

"Aku membohonginya. Aku bilang padanya kalau suaminya meninggal saat pergi ke luar kota. Kebetulan dia memang pergi selama dua bulan. Karena depresi, aku selalu berada di samping Nadeshiko, sampai-sampai dia salah mengenaliku dengan suaminya. Akhirnya terjadilah hubungan intim kami," jelas Asuma.

Saat Asuma menceritakan hal itu, otak Orochimaru berjalan, sepertinya dia ingat ucapan Jiraiya dulu saat bilang suami Nadeshiko sempat dikabarkan meninggal.

"Tapi di luar dugaan, ternyata dia pulang. Dan akhirnya Nadeshiko memohon padaku agar tidak menceritakan hubungan kami pada suaminya. Akupun menyetujuinya, dengan syarat apabila dia mengandung anakku, dia harus merawatnya."

"Sialnya, saat kau lahir… dirimu malah sangat mirip dengan Nadeshiko, tidak ada mirip denganku sama sekali. Ditambah, suami Nadeshiko yang terkenal jenius dalam analisis itu bergabung dengan Uchiha. Memecahkan rekor saham. Itu adalah fenomenal besar… mereka berdua untung sangat banyak. Tapi mereka tidak memikirkan berapa ribu orang yang rugi besar akibat kesuksesan mereka."

Tanpa mereka sadari, Sasuke yang sudah sampai kini melangkahkan kakinya di depan ruangan Asuma dan mendengar cerita itu. Namun Sasuke tidak menunjukkan dirinya, dia tetap berdiri di balik pintu tersebut.

"Dengan wajah yang gembira, Nadeshiko, dia dan keluarga Uchiha tertawa gembira sambil merencanakan masa depan anak-anak mereka, heh… dia pikir itu anak siapa?" ucap Asuma sambil kembali mengisap rokoknya lalu mengembuskan kembali asapnya ke udara.

"Apa itu… alasan kalian membunuh orang tua kami?" tanya Sakura pilu.

Asuma terdiam, yang tadinya sempat tertawa merendahkan kini gigi-gigi Asuma menggertak, "Orangtua kaubilang? AKU AYAH KANDUNGMU! BUKAN DIA!"

"Seingatku kau cukup akur dengan mereka dulu! Kenapa?! Kenapa kau malah membunuh mereka!" bentak Sakura.

"Itu karena aku muak dengan kepalsuan dan kebohongan yang ditutupi. Aku… lebih memilih melihat Nadeshiko mati daripada harus dimiliki laki-laki lain. Itulah alasanku membunuh mereka," jawab Asuma.

"Lalu, apa alasanmu membunuh keluarga Uchiha? Brengsek!" ucap Sasuke yang menampakkan dirinya.

"Sasuke… kun?" ucap Sakura yang terkejut saat Sasuke menampakan dirinya.

"Heh! Uchiha… kalau itu kau bisa tanyakan langsung pada anaknya yang kini bergabung bersama kalian," jawab Asuma melirik Hinata.

"Hinata tidak ada hubungannya lagi dengan itu semua!" bela Sakura.

"Tapi membunuh Uchiha adalah usul dari Hiashi Hyuuga," ujar Asuma.

"Ayah? AYAH! Mana ayah?!" tanya Hinata yang baru menyadarinya.

"Jelas saja sudah kabur dari tadi, orang pengecut seperti dia mana berani menghadapi pertarungan," jawab Asuma yang melepaskan rokoknya, "Ah… sekadar informasi, dua teman kalian sekarat dibawah, ciri-cirinya adalah wanita berambut pirang dengan tanda di dahinya, dan laki-laki pengawal putri Hyuuga."

Orochimaru dan Hinata langsung tersentak.

"Tsunade…"

"Ka-Kakashi…?"

"Sensei," Sasuke melangkahkan kakinya sejajar dengan Orochimaru kemudian membunyikan kedua tangannya, "serahkan dia padaku dan Sakura."

"Sakura…" panggil Hinata ragu.

"Kalian coba lihat keadaan mereka yang di bawah," pinta Sakura.

Hinata menatap Orochimaru dan mengangguk. "Kami akan segera kembali," lanjut Hinata.

Saat Hinata dan Orochimaru meninggalkan tempat itu, Asuma membuang rokoknya dan mencabut katana dari sabuknya, "Setidaknya, Nadeshiko dan dirimu akan mati ditanganku, bukan di tangan orang lain."

"Kenapa harus membunuh Sakura? Kalau kau memang ayah kandung Sakura, kenapa kau tidak meminta maaf saja padanya dan menyesali perbuatanmu?" ucap Sasuke.

"Pembunuh bayaran berdarah dingin, kenapa menjadi pengiba? Lagipula… apa Sakura memaafkanku?" tanya Asuma sambil memandang pedangnya.

Dengan mata tajam Sakura menjawab, "Tidak."

Mengingat sudah banyak korban yang terjatuh akibat perbuatan Asuma, ditambah Neji dan orang-orang yang mati di gedung teater dulu. Sakura tidak akan pernah memaafkan orang ini, "Dan aku tidak pernah menganggapmu sebagai ayah."

"Bagus kalau begitu, itu membuatku jadi lebih gampang membunuhmu," ujar Asuma masih dengan menatap pedangnya.

Sasuke dengan cepat mengeluarkan phyton-nya dan menembak ke arah Asuma, namun peluru itu berhasil ditangkis oleh Asuma hanya memakai pedangnya. Dan pedang itu sama sekali tidak retak, hal itu membuat Sasuke dan Sakura yakin kalau musuh yang mereka ahdapi kali ini akan membahayakan nyawa mereka.

"Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu," ucap Sasuke pada Sakura.

Belum sempat Sakura menjawab, Sasuke sudah maju menyerang Asuma. Walaupun Asuma memakai pedang, namun dia cukup adil karena melihat Sasuke yang memakai tangan kosong menyerangnya. Dan Asuma meladeni Sasuke pun memakai tangan kosong. Pedang menggantung di pinggang kirinya, sedangkan kedua tangannya menangkis pukulan demi pukulan yang diberikan oleh Sasuke.

Saat Sasuke akan memukul wajah Asuma, dia menahan pukulan Sasuke kemudian memutar lengan Sasuke, namun Sasuke tidak lengah, dia memutarkan tubuhnya agar lengan yang diputar kebelakang itu tidak terjepit. Sasuke menjadikan dada Asuma menjadi tumpuan kakinya, dengan kekuatan yang dia pusatkan di ujung kaki, Sasuke menendang Asuma. Dan cukup efektif membuat Asuma terdorong.

"Heh… didikan Jiraiya memang berkualitas," puji Asuma.

Sasuke menyeringai. "Dan jangan lupakan didikan Orochimaru-sensei," ucap Sasuke yang langsung menembakkan phyton-nya pada Asuma.

DOR!

Tapi meleset.

Hanya lengan Asuma yang tergores peluru.

Saat itu giliran Sakura yang menyerang, tanpa ragu Sakura mengayuhkan katana pada Asuma. Saat serangan Sakura ditangkis, itulah tujuan Sakura, bukan niatnya untuk menyerang Asuma melalui tebasan pedang mereka, tapi Sakura berhasil membuat konsentrasi Asuma fokus padanya sementara Sasuke menendang leher Asuma dari belakang.

BUAAGH!

Asuma berhasil terjungkir, sementara Sasuke dan Sakura kembali berdiri bersampingan sambil menatap tajam pada Asuma.

"Refleks yang bagus," ucap Sakura.

"Berkat dirimu," balas Sasuke.

Asuma kembali berdiri dan menghapus darah yang keluar dari mulutnya. Dia tersenyum.

Membuat Sasuke dan Sakura bingung, senyuman yang Asuma tunjukan saat ini seolah senyuman menantikan sesuatu yang menarik. Saat senyuman itu berubah menjadi seringai, Sasuke dan Sakura memasang kuda-kuda. Tapi sosok Asuma tidak lagi terlihat di hadapan mereka, sampai…

DUAAK!

Sakura membulatkan matanya ketika dia melihat Sasuke… yang tadi berdiri di sampingnya kini terlempar jauh menubruk sebuah pintu sampai pintu itu terdobrak.

BRUAAK!

"Sasuke-kun!"

Ekor mata Sakura melihat Asuma akan menebaskan pedang pada dirinya, dengan cekatan Sakura menangkis serangan itu.

Traaang!

Sakura melihat tatapan Asuma kini seperti orang gila yang haus akan darah. Melihat Asuma melayangkan tangan kosongnya dan hendak memukul perut, Sakura segara menepis pedang Asuma kemudian melindungi perutnya memakai kedua tangannya. Sehingga pukulan Asuma hanya mengenai tangan Sakura.

Tapi tetap saja, pukulan itu bisa membuat tubuh Sakura lunglai. Sasuke muncul dari arah pintu yang rusak dengan membawa pedang yang ia temukan dari dalam.

"Dengan ini, kita imbang," ucap Sasuke.

Asuma menyeringai kemudian maju menyerang mereka berdua. Sasuke dan Sakura berinisiatif membagi dua posisi. Sasuke melompat ke sisi kanan, Sakura ke sisi kiri. Dan dengan waktu yang bersamaan mereka menyerang Asuma.

Traang!

Traang!

Traaang!

Tangkisan demi tangkisan terdengar di ruangan itu. Pukul atas, tengah, bawah. Tendang, tepis dan sengkatan mereka lakukan semua. Pertarungan yang imbang untuk mereka.

"Hahahaha, kalian masih amatir! Tidak akan bisa mengalahkanku!"

BUG!

"Aakh!"

Lagi-lagi perut Sasuke terkana pukulan Asuma.

"Sasuke-kun!" Sakura menggertak dan membalas perbuatan Asuma, dia melompat kebelakang Asuma sambil menebas pedangnya, tentu saja tebasan itu ditangkis oleh Asuma, namun Sakura mengandalkan keseimbangan tubuhnya dengan satu kaki saat dia berpijak di lantai, kemudian memutar tubuhnya dengan kencang dan kaki menendang ke belakang sedikit menuju atas. Sehingga tendangan Sakura tepat mengenai wajah Asuma.

Sasuke tersenyum bangga melihat wanita yang kini berada di hadapannya, rasa khawatir dan bangga jadi satu. Dulu Sakura yang tidak bisa apa-apa, kini seolah berubah menjadi sosok wanita tegar dan kuat.

.

.

"Ukh!"

"Baru segitu saja kau pingsan? Lemah sekali."

Suara dari seorang pengecut terdengar di telinga Jiraiya yang kini terikat tubuhnya.

"Sudah bangun? Tuan muda."

Dengan kesadarannya yang belum sempurna, Jiraiya memperhatikan Kabuto yang sedang memasang beberapa kabel dan juga mengetik sesuatu pada layar monitor.

"Sedang apa kau?" tanya Jiraiya lemas.

Kabuto tidak menjawab, dia tetap sibuk pada apa yang dia lakukan. Jiraiya merasa seluruh tubuhnya kesemutan, di sampingnya terlihat tubuh Nadeshiko yang masih tertancap beberapa peralatan medis. Perlahan kenangan manis terlintas di kepala Jiraiya.

Saat pertama kali dirinya bertemu dengan Nadeshiko. Jiraiya sangat ingat waktu itu dia dan Asuma bertengkar hebat. Adik-kakak tiri yang tidak akur, itulah mereka. Perkelahian adik-kakak yang menyebabkan para tetangga heboh, akhirnya Jiraiya memutuskan untuk pergi dari rumah dan melamun di taman. Tanpa dia sadari, gadis yang ternyata adalah tetangganya menghampiri dirinya. Dengan senyuman lembut gadis itu mengatakan, "Anak laki-laki memang suka berkelahi yah?"

Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Nadeshiko. Kemudian gadis itu ikut duduk di samping Jiraiya sambil melanjutkan kalimatnya, "Tapi, laki-laki yang kuat memang akan dapat membuat perempuannya merasa terlindungi nanti..."

Sejak saat itu, Jiraiya menyukai Nadeshiko, berkat gadis itu juga Jiraiya jadi sedikit akur kembali dengan Asuma. Dan tindakannya memperkenalkan Nadeshiko pada Asuma adalah tindakan yang paling Jiraiya sesali seumur hidupnya. Bagaikan terpukul palu di kepala Jiraiya dan Asuma saat pertama kali mendengar Nadeshiko dilamar oleh laki-laki kerabat dari ayahnya.

Namun melihat wajah Nadeshiko tersipu senang, Jiraiya hanya bisa mendukungnya. Wajah senyum, tangis, marah Nadeshiko terngiang di kepala Jiraiya. Tapi saat ini yang dia lihat adalah wajah datar Nadeshiko. Wanita itu tidak tersenyum, tidak marah, tidak sedih… bahkan tidak bernyawa.

Melihat jasad Nadeshiko yang tidak selayaknya berada di sini membulatkan tekad Jiraiya untuk membawanya pergi dari sini. Jiraiya mengambil pisau dari kantung belakang dan dipotongnya tali yang mengikat dirinya itu.

"Ha-hahaha-hahahaa! Kalian pikir, mentang-mentang kalian bisa bertarung kalian bisa menyuruhku seenaknya, hah?!" geram kabuto sambil menekan-nekan tombol.

Drrrrrd Graaak Graaak!

"Khukhukhukhuu~!" Tawa Kabuto seperti orang gila, kemudian dia menoleh pada Jiraiya sambil mengatakan, "Self destruction, activated."

Mata Jiraiya terbelalak, "BRENGSEEEK!"

BRUAAAK!

Jiraiya menghantam kepala Kabuto dengan sangat keras ke tombol-tombol dan beberapa kawat menembus wajahnya.

Jiraiya menoleh pada jasad Nadeshiko, dia melepaskan perlatan medis yang menempel, tidak tahu bagaimana caranya, dia asal melepaskannya saja. Begitu semua selesai Jiraiya menggendong jasad Nadeshiko. Tapi karena tubuhnya masih dalam keadaan pemulihan dari kesemutan, dirinya kini terjatuh ke lantai, begitu pula dengan jasad Nadeshiko.

.

.

Suara langkah lari dari anak tangga terdengar sangat keras. Sampai di lokasi, Hinata dan Orochimaru melihat Kakashi, Sasori, dan Hidan yang sudah berhasil mengalahkan seluruh pengawal yang kini ditumpuk tinggi jasad-jasadnya.

"Kakashi? Kau baik-baik saja?" tanya Hinata.

"Ya, kami berhasil mengalahkan mereka," jawab Kakashi sambil menunjuk jempolnya ke belakang, tempat mereka menumpukkan jasad musuh.

"Apa kalian bertemu Sakuya?" tanya Sasori.

"Tidak, kami langsung turun dan menuju ruangan ini, ehm… mana Tsunade-sensei?" tanya Hinata lagi.

"Kami tidak melihatnya dari tadi, kenapa?" jawab Hidan.

Mendengar jawaban Hidan cukup membuat Orochimaru bergerak cepat, dia melompati tiga anak tangga sekaligus. Dalam hatinya terus berdoa agar wanita yang dia cintai itu baik-baik saja. Hanya itu yang dia inginkan saat ini. Sampai Orochimaru tiba di lobby utama.

"Tsunade!" panggilnya dengan suara lantang.

Tsunade menoleh dengan wajah bingung. "Orochimaru? Kenapa ada di sini?"

Orochimaru menghampiri Tsunade dan mengecek tubuh Tsunade, merengkuh wajahnya dengan ekspresi cemas dan panik.

"Oro—"

Belum sempat berbicara, orochimaru langsung memeluk Tsunade dengan erat. Hal itu membuat sekitar mereka blushing seketika, baru pertama kali mereka melihat Orochimaru seperti ini.

"Pacar?" tanya Menma yang menunjuk kedua orang yang tengah berpelukan itu pada Naruto.

"Lebih dari itu, hehehe," jawab Naruto.

Drrrrrd Drrrrrd Drrrrrrd.

Tiba-tiba tubuh mereka bergoyang dan kehilangan keseimbangan. Saling melemparkan tatapan aneh satu sama lainlah yang kini mereka lakukan.

"Apa kalian merasakannya tadi?" tanya Tsunade.

"Gempa?" tanya Hinata yang sudah menyusul bersama Kakashi, Sasori dan Hidan.

"Tsunade? Orochimaru?" panggil suara yang berasal dari ruang tangga bawah tanah.

"Jiraiya…" Tsunade terbelalak ketika melihat Jiraiya menggendong tubuh seseorang yang sangat mereka kenali. "Di-Dia…"

"Ah… ibunya Sakura," ujar Menma yang membuat Naruto dan lainnya terkejut.

"Kau tahu?!" tanya Jiraiya.

"Ya, Asuma sengaja mengawetkannya untuk… ah lupakan," jawab Menma. "Laki-laki itu gila."

Mata Tsunade benar-benar pilu melihat Jiraiya yang kini mati-matian menyelamatkan jasad Nadeshiko. Jiraiya… benar-benar mencintai wanita itu.

"Kita harus segera keluar dari sini, orang bernama Kabuto mengaktifkan self-destruction system pada mansion ini," ujar Jiraiya.

"Tunggu! Kita harus menyusul Sakura dan Sasuke!" ujar Hinata.

"Ah, biar kususul mereka," ujar Naruto yang langsung bangkit.

"Kita susul mereka bersama! Asuma… dia sengaja membuatku terpisah dari Sasuke dan Sakura," ucap Orochimaru, "dia memberi tahu kami bahwa kau dan Kakashi dalam keadaan bahaya."

Hinata mengangguk saat Tsunade seolah bertanya 'apa itu benar' pada Hinata.

"Pintunya terkunci!" ucap Hidan yang mencoba untuk membuka pintu utama.

"Apa?!"

"Seluruh jendelanya juga, tidak ada yang bisa dibuka!" timpal Sasori yang membantu mengecek seluruh ruangan.

"Kabuto pasti mengunci semua ruangan ini," gumam Menma.

"Kalau begitu ayo kita susul Sakura, barangkali di atas ada jalan kleuar untuk keluar dari mansion ini," usul Naruto.

"Tidak ada, tidak ada jalan keluar di atas…," jawab Hinata, "tapi tidak tahu kalau di dalam ruangan Asuma."

"Baiklah, ayo kesana," ucap Naruto sambil menggendong Menma di belakangnya.

.

.

Mata Karin terbelalak lebar saat darah segar mengalir ke wajahnya, sebuah ujung tombak yang tajam tepat berada di hadapannya, menusuk leher wanita yang kini terkujur kaku. Tubuh wanita itu terjatuh dengan sedikit mengejang. Shikamaru mencabut tombaknya pada leher Kurenai, sedangkan Karin menatap bingung pada Shikamaru yang kini berwajah… datar.

Sedangkan di pihak lain, Deidara memanas melihat adegan itu. Adegan saat sosok wanita yang sangat dia hormati dan ia cintai terbunuh di hadapannya.

"Si…alan…" geram Deidara nyaris tak terdengar.

"SIALAAAAAANNN!"

Deidara berlari dan langsung menghajar Shikamaru.

"Ugh!"

Shikamaru berhasil ditendang hingga terpental. Lalu, saat Deidara akan menusukkan bambu tajam pada Shikamaru…

"SHIKAAAAAAAA!"

… suara teriakan perempuan membuat gerakan Deidara terhenti. Begitu Deidara menoleh, dia melihat Ino dengan ekspresi terkejut sambil menutup mulutnya.

"Kakak…" gumam Ino pelan.

Deidara menatap Ino dengan frustrasi, kemudian kembali pada Shikamaru, lalu ke Ino lagi. Melihat ekspresi Deidara mendingin saat menatap Ino, Shikamaru langsung merasa tidak enak. Deidara mencabut pedang yang dari tadi dia simpan itu lalu…

JRAAASSSS!

"UAAAAAGGGHHHHHH!"

Deidara memotong lengan kiri Shikamaru. Karena rasa sakit yang luar biasa, Shikamaru tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak. Karin ingin sekali berdiri dan membantu Shikamaru, namun tenaganya benar-benar habis. Ketika itu, Deidara beranjak dan mengambil pistol kecil sari saku Shikamaru kemudian berjalan ke arah Ino.

"Aku akan membuatmu merasakan perasaan yang sama denganku—perasaan putus asa karena harus menyaksikan orang yang kaucintai mati di depan matamu, Shikamaru."

Ino tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat Deidara menebas lengan Shikamaru, dia bahkan membatu saat Deidara mulai menghampirinya dengan tatapan dingin. Siapa orang yang berada di hadapannya ini? Itulah pikiran Ino saat ini. Selangkah demi selangkah Deidara menghampiri Ino sambil mengokang pistol tersebut.

Mata Ino mulai berkaca-kaca sambil menatap kakaknya dengan ekspresi bingung, takut dan,pilu. Melihat langkah Deidara makin mendekat pada Ino, Shikamaru berusaha mengabaikan rasa sakitnya dan mecabut pedang yang tertancap di lantai kayu itu. Dengan satu tangan dan keseimbangan yang kacau, Shikamaru berusaha berdiri.

Sedangkan Deidara yang sudah mengokang pistolnya kini menodongkan pistol tersebut pada Ino sambil berteriak, "UAAAAAAHHHHHHH!"

Dan Ino menutup matanya… pasrah pada tindakan kakaknya yang diluar dugaan.

Zraaats!

DOR!

Suara tebasan dan tembakan muncul secara bersamaan. Ino membuka matanya pelan, dan kini melihat Shikamaru yang terjatuh di lantai setelah menebas punggung Deidara sekuat tenaganya, lalu menoleh ke arah Karin yang berhasil menembak perut Deidara dari kejauhan memakai sniper-nya. Dan entah kenapa Ino refleks membuka kedua tangannya dan memeluk tubuh Deidara yang terjatuh dalam pelukannya.

Bruuk!

Ino pun terjatuh karena lemas. Antara karena melihat pemandangan memilukan di hadapannya… atau karena jatuhnya Deidara.

"Hah… hah… hah… ukh!" Shikamaru mengatur napasnya di tempat, begitu pula dengan Karin yang membiarkan tubuhnya telentang di tempatnya.

Drrrrrrd Drrrrrrd Drrrrrrd.

Graaak Graaaak Graaak!

Karin melihat lampu yang menggantung di langit-langit bergoyang kencang, dia juga merasakan tubuhnya bergetar. Serpihan pasir dan batu-batu kecil mulai berjatuhan dari atap.

"Ada apa lagi ini…?" tanya Karin lemas.

.

.

"Hah… hah… hah…"

Terlihat Sasuke yang sudah sedikit babak belur karena di hajar habis-habisan oleh Asuma. Peran Sasuke di sini adalah menyerang sekaligus melindungi apabila Sakura diserang. Keadaan Asuma pun kini tidak sesehat tadi. Serangan Sasuke banyak mengenai organ vitalnya sehingga beberapa kali Asuma memuntahkan darah dari mulutnya.

Drrrrrrrrd Drrrrrrd Drrrrrrd.

Tubuh mereka terhuyung ketika getaran mansion itu terjadi lagi. Asuma bisa tahu ini adalah self-destruction yang dia pinta pada Kabuto agar memasangkannya. Merasa tidak punya waktu lagi, Asuma kembali menyerang, kali ini Asuma lebih fokus menyerang Sasuke.

Graaak Graaaak Graaaaak!

Langit-langit mulai runtuh, saat Sakura akan menolong Sasuke yang sedang terpojok. Melihat Sakura yang mendekat, Asuma pun menendang tepat di perut Sakura hingga Sakura terpental.

"Kyaaaaaaa!"

Bruugh!

"Aakh… aaakhhh!" rintih Sakura sambil memegangi perutnya. Ketakutannya membesar saat dia merasakan darah mengalir dari dalam kedua pahanya.

Melihat darah segar mengalir, Sakura merasa dirinya sesak, otaknya memanas dan hatinya nyeri. Bayinya telah keguguran. Wajahnya terlihat sangat shock, sementara itu Sasuke berhasil membuat Asuma terpojok akibat serangan bertubi-tubi. Serangan terakhir Sasuke memutar tubuhnya dan langsung menendang dada Asuma sehingga Asuma terjatuh.

Saat Asuma akan mencoba bangun, Sakura tiba-tiba datang dan langsung menancapkan pedangnya pada jantung Asuma. Sasuke terkejut atas aksi Sakura yang tiba-tiba. Posisi Asuma kini berada di bawah Sakura. Sakura berlutut dan menghimpit pinggang Asuma memakai kedua pahanya agar laki-laki itu tidak bisa bergerak.

Saat ini, Sakura yang tengah menancapkan pedang pada Asuma dengan tatapan pilu. Melihat ekspresi Sakura, Asuma mengingat pertama kali dia melihat ekspresi Nadeshiko saat tubuhnya dinodai oleh Asuma. Entah saat itu Nadeshiko sadar atau tidak, ekspresinya begitu pilu namun nama yang disebut selalu suaminya.

Melihat Sakura yang kini mengeluarkan ekspresi yang sama, Asuma tersenyum lembut. Dan itu membuat Sakura kaget, perlahan Asuma memegang pipi Sakura dan membelainya.

"Ma… afkan aku, A-anakku…"

Mendengar pernyataan itu, Sakura meneteskan butiran air mata yang deras. Bukannya melepaskan pedangnya, Sakura malah makin mengencangkan tusukan itu sambil memutar pedangnya.

"Uukkhh, HUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

CREEEP!

Tusukan terakhir membuat Sakura yakin atas matinya Asuma. Kini mata Asuma tak bernyawa, tubuh Asuma basah karena darah dan air mata dari anaknya… anak kandungnya sendiri.

DUAAARRR!

BRAAK! BRUUUG!

"SAKURAAAAA!"

BRUAAAAK!

Suara ledakan terjadi di ruangan itu, atap ruangan telah runtuh total sehingga langit pun bisa terlihat dari sana. Sakura yang berhasil didorong oleh Sasuke selamat dari reruntuhan yang mengakibatkan atap bolong, bahkan langit pun bisa terlihat dari situ. Pandangan Sakura mengeras ketika dia melihat sosok Sasuke yang terjepit batu besar karena menyelamatkannya.

Sakura beranjak dan berjalan ke arah Sasuke, namun tenaganya habis akibat pendarahan yang luar biasa, sampai…

Bruuuk!

Sakura tidak sadarkan diri.

.

.

Greeeek! Greeeeeeek!

Duaar!

Duaaar!

Beberapa ledakan terdengar, dan guncangan semakin kencang. Saat mereka yang naik sudah sampai lantai satu. Jiraiya melihat ada sebuah kamar terbuka bernuansa pink soft, sama seperti warna rambut Sakura dan dia pun menghentikan langkahnya. Orochimaru dan Tsunade yang menyadari bahwa Jiraiya berhenti melangkah juga ikut berhenti.

"Ada apa?" tanya Tsunade.

Jiraiya tidak menjawab, dia malah melangkahkan kakinya menujur kamar yang dari tadi ia pandangi dengan lembut.

"Jiraiya?!"

Jiraiya meletakkan jasad Nadeshiko di atas ranjang dan menggenggam tangan wanita itu.

"Aku… tidak ikut," ujar Jiraiya.

"Apa?!" sentak Orochimaru dan Tsunade.

"Jangan bercanda, ini tidak lucu!" ujar Tsunade.

Jiraiya kali ini tersenyum… tersenyum lembut pada Tsunade. "Lagi pula aku sudah lelah berlari...," ucapnya penuh makna, mengingat Jiraiya selalu lari dari perasaannya sendiri. Bahkan ketika dia sempat menyukai Tsunade, dia tidak berani mengatakannya, karena dia tidak ingin Tsunade merasa dirinya hanya dijadikan pelarian dari Nadeshiko. "Berlari dan melarikan diri... sudah cukup bagiku."

"Tidak…Jiraiya…"

BUAAK!

Sebuah tinju yang keras melayang di wajah Jiraiya.

"KAUPIKIR KAMI AKAN SENANG DENGAN KEPUTUSANMU? HAH?!" bentak Orochimaru sambil mencengkeram kerah Jiraiya.

Reaksi Orochimaru saat ini benar-benar membuat kedua rekannya kaget. Ini pertama kalinya Orochimaru sangat marah. Namun ekspresi Jiraiya tidak berubah, tatapannya yang tenang seolah menandakan Jiraiya memang telah siap untuk semua ini. Dan entah kenapa… air mata kini jatuh dengan sendirinya dari mata Tsunade. Air mata pedih namun seolah mengerti apa keinginan Jiraiya… laki-laki yang pernah ia cintai dulu.

"CEPAT ANGKAT TUBUH NADESHIKO DAN KITA KELUAR DARI BANGUNAN BRENGSEK INI!"

Jiraiya mengusap darah dari bibirnya, kemudian menatap Tsunade yang kini tengah menangis, pandangannya kembali pada Orochimaru yang masih menggeram kesal. "Aku menyayangi kalian."

Satu pukulan lagi akan mendarat pada wajah Jiraiya, namun lengan Orochimaru dihentikan oleh Tsunade. Orochimaru menoleh pada kekasihnya.

"Sudah~"

Hanya itu yang Tsunade ucapkan.

Orochimaru menggertak kesal dan melepaskan cengkeramannya pada kerah Jiraiya, kemudian Tsunade menggandeng tangan Orochimaru dengan erat. Bisa Orochimaru rasakan, tangan Tsunade gemetar karena menahan tangis agar suara tangisnya tidak meledak. Orochimaru memimpin langkah untuk meninggalkan Jiraiya. Sebelum mereka meningglakan ruangan itu…

"Orochimaru!" panggil Jiraiya dan melemparkan sesuatu padanya. Orochimaru menangkap benda yang merupakan jam unik berbentuk lingkaran, terdapat ukiran nama di dalamnya.

Oro X Tsuna X Jira / bestfriend forever

Jiraiya tersenyum bangga pada mereka, sedangkan Orochimaru membuang mukanya dan menarik Tsunade pergi dari situ. Terlintas kenangan saat Orochimaru protes pada Jiraiya yang mengukir nama mereka bertiga pada jamnya itu, karena dulu Orochimaru menganggap hal itu menggelikan. Dan sekarang untuk pertama kalinya… Orochimaru menahan rasa sakit hingga air mata pun memberontak untuk keluar.

Setelah kedua sahabatnya itu pergi, Jiraiya kembali menatap Nadeshiko kemudian memeluknya. "Setidaknya… aku bisa mati dengan memelukmu."

.

.

Gruuduukk! Gruduuk!

Beberapa bangunan sudah banyak yang runtuh. Sakuya yang kini masih mencari jalan keluar dari ruangannya sedikit bingung karena dari tadi dia terjebak oleh jebakan yang Tenten pasang. Saat Sakuya melompati batu besar di hadapannya, sebuah potongan bangunan jatuh dari atas dan menghantam kepalanya dengan keras.

"Akh!"

Saat itulah Sakuya kehilangan kesadarannya.

Sedangkan Kakashi, Hinata, Sasori dan Hidan baru saja tiba di ruangan Sakuya. Begitu melihat tubuh Sakuya…

"Sakuyaa!" panggil Sasori.

Sasori mengecek nadi Sakuya yang ternyata masih berdetak, kemudian Tsunade datang bersama Orochimaru.

"Sakuya?!" Tsunade menghampiri Sakuya dan memerika apa yang terjadi pada anak itu. "Kepalanya terbentur," ujar Tsunade saat melihat darah yang keluar dari kepala Sakuya. "Cepat bawa Sakuya dari sini, pelan-pelan jangan sampai tubuh Sakuya terjatuh."

"Baik," jawab Sasori.

.

.

Masih dalam kondisi memeluk tubuh Deidara, pandangan Ino mendatar. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini? Itulah yang Ino pikirkan, dia berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang sangat panjang. Merasa mansion makin rapuh, Karin mencoba sekuat tenaga menghampiri Shikamaru dan Ino.

"Ayo… kita keluar dari sini," ajak Karin.

"Ukh!" Shikamaru merintih ketika Karin mencoba membantunya berdiri.

Karin mengulurkan tangannya pada Ino, namun Ino hanya menatapnya hampa.

"Ino?!" tegur Shikamaru.

"Ah, maaf… aku melamun, aku—"

"Ukh… uhuuk!"

Suara Deidara memecahkan perhatian Ino pada Karin dan Shikamaru. "Kakak!"

Saat yang bersamaan, Karin merasakan tubuh Shikamaru yang benar-benar terasa berat. Saat dilihat, ternyata Shikamaru sudah tidak sadarkan diri. Melihat betapa banyaknya yang hilang dari tubuh Shikamaru, wajar saja saat ini Shikamaru tidak sadarkan diri.

BRAAAK! BRAAAKK!

Nasib tidak memihak pada mereka, karena beberapa potongan bangunan mulai menutupi ruangan tersebut.

"INOO!" tegur Karin yang kini memaksa Ino berdiri.

"Kalian dulu, aku akan membawa tubuh kakak, Karin pastikan Shikamaru bertemu Tsunade-sensei!"

"Kau… kau pasti menyusul,'kan?" tanya Karin.

Ino tersenyum pada Karin. "Iya, aku pasti menyusul."

Karin mengangguk dan mengumpulkan semua tenaganya untuk membawa Shikamaru dari ruangan itu. Saat Karin berhasil melangkah keluar, beberapa batu yang jatuh menutup pintu masuk ruangan tempat Ino berada.

"Inoo! Inooo!" jerit Karin.

Ino menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari sesuatu agar bisa membawa tubuh Deidara, namun dia tidak menemukan apapun.

"Ukh…"

"Kakak, bertahanlah… aku akan membawamu keluar dari sini."

Ino menyenderkan Deidara ke tembok dan membuka reruntuhan satu persatu yang menutupi jalan memandangi Ino dari belakang dengan tatapan lemah. Rasa sakit kembali menyerang Deidara sehingga dia mengernyitkan matanya. Napasnya masih tidak beraturan, darah terus keluar dari perutnya.

"Sebaiknya ... kau cepat pergi...," ujar menoleh pada kakaknya yang melanjutkan kalimatnya, "Lubang itu… cukup untukmu." Deidara kemudian menunjuk pada sela reruntuhan di samping Ino.

"Bicara apa kau, aku tidak akan meninggalkan kakakku," tolak Ino, masih dengan usahanya menyingkirkan batu-batu itu.

"Heh… kakak? Setelah… aku berniat membunuhmu…."

Ino menggelengkan kepalanya namun tidak menoleh pada Deidara. "Aku melihatnya... sorot matamu saat memandangku. Tanganmu juga bergetar saat itu. Kau... kau tidak benar-benar berniat membunuhku,'kan?"

"…"

"Aku ingat… dulu kau sangat cengeng," ujar Deidara dengan suara yang lemah, "saat kecil… kau selalu dijahili oleh… teman-temanmu… uhuk!"

"…" Ino tidak menyahut. Dia terus fokus membuka kembali reruntuhhan yang menutup jalan mereka, namun bukan berarti dia tidak mendengarkannya.

"Kalau waktu bisa terulang… aku tidak akan pernah mau datang ke Jepang… dan bertemu dua wanita… yang membuat… perasaanku berubah… padamu…"

Ino menahan tangisnya saat mendengar pengakuan Deidara. Akhirnya Ino memberanikan dirinya untuk menoleh pada Deidara. Saat itu, Ino merasa sosok Deidara sudah benar-benar kembali menjadi kakaknya yang dulu. Karena saat ini Deidara tengah tersenyum lembut pada Ino.

Dengan tenaga terakhir, Deidara mengucapkan, "Kau… adikku yang… paling…"

Tidak ada terusan kalimat yang keluar dari mulut Deidara. Walaupun matanya kini terbuka, namun tatapannya sudah kosong. Ino tahu betul kalau saat ini… kakaknya tersayang sudah tiada. Ino berlari dan memeluk tubuh Deidara. Memeriksa kedua mata Deidara, denyut nadi tangan dan leher. Semua tidak berfungsi.

Bibir terasa dikunci, Ino tidak bisa menjerit. Hatinya terlalu sakit saat mendengar pengakuan Deidara tadi. Yang hanya bisa Ino lakukan kini adalah menutup kedua mata Deidara. Air mata menolak untuk berhenti mengalir dari mata Ino. Dan wanita itu, memutuskan untuk duduk diam sambil memeluk tubuh tak bernyawa itu. Semua keinginannya untuk menemukan jalan keluar dari tempat itu padam seketika. ia sudah menemukan 'tempat'-nya. Tempat yang selama ini dicarinya, bersama kakaknya... satu-satunya keluarganya yang tersisa.

.

.

Saat perjalanan menuju mencari jalan keluar, Karin sekuat tenaga membopong tubuh Shikamaru. Tenaganya sudah benar-benar terkuras, sampai dia tidak sanggup lagi untuk berjalan dan akhirnya terjatuh. Namun sebelum menyentuh lantai, Karin merasa tubuhnya dipegangi oleh seseorang.

"Tsunade-sensei?" ucap Karin.

"Kau melakukannya dengan baik," puji Tsunade yang tanpa diberi tahu pun, ia sudah tahu bahwa Karin dan Shikamaru berhasil mengalahkan lawan mereka.

Orochimaru mengambil alih tubuh Shikamaru sedangkan Tsunade membantu Karin. Melihat Sakuya yang digendong oleh Sasori, Karin merasa lega. Sampai Hinata bertanya…

"Mana Ino?"

Karin terdiam. Walaupun tadi Ino mengatakan pasti akan menyusul mereka, entah kenapa dalam hati Karin, ia yakin kalau Ino tidak berniat seperti itu.

"Karin, mana Ino?" tanya Tsunade.

"Dia… akan menyusul," jawab Karin ragu.

GRAAAKKK!

DUAARRR!

"Kyaaaaaa!"

"Apa yang terjadi?!"

Getaran yang terjadi semakin kencang. Dengan cepat mereka langsung menaiki anak tangga. Saat sudah sampai di ruangan Asuma, mereka semua terkejut melihat keadaan yang ada di dalamnya. Sakura yang pingsan dengan darah yang keluar dari kedua pahanya, Sasuke yang tidak sadarkan diri akibat tertimpa reruntuhan batu, serta Asuma yang sudah tewas dengan pedang yang tertancap di dadanya.

"Sakuraa! Sasukee!" jerit Naruto dan Karin.

Sasuke yang bisa membangun kesadarannya kini tidak merasakan apa-apa pada kedua kakinya. Dia melihat sosok Naruto di hadapannya.

"Sasuke! Sadar!"

"Na…ruto…" Saat kesadarannya berhasil sempurna, Sasuke melihat sosok Sakura yang tergeletak tak sadarkan diri dengan Karin yang berusaha memanggil terus namanya. "Sakura… dia…."

"Tenang, kita akan geser batu-batu ini, Hidan, Kakashi-sensei! Bantu aku!"

Secara bersamaan, mereka mengangkat batu besar itu dan dilemparkan ke sembarang arah.

"Aaarrgghhhh!" rintih Sasuke.

Saat Naruto melihat keadaan kaki Sasuke, wajahnya memucat. Kaki Sasuke kini hancur akibat tindihan batu tersebut.

"Sa-Sakura…!"

DUUAAAARRRRRRR!

"Kyaaaaaaaaaa!"

"Huaaaaa!"

Keadaan mansion makin tidak stabil, beberapa tembok sudah ada yang runtuh. Kalau mereka tidak cepat-cepat keluar, mereka akan ikut mati akan ledakan mansion ini. Tapi dimana jalan keluarnya? Mereka tidak menemukannya satu pun. Putus asa menyelimuti mereka sampai mereka mendengar suara… suara berisik dari arah atas seperti putaran baling-baling besar yang sangat jelas dan semakin mendekat.

"SASUKEEEE!"

Dan suara itu… suara yang memanggil mereka dari helikopter yang datang.

"Itachii?!"

Terlihat Itachi seperti berbicara lagi dengan seseorang di sana. Setelah itu helikopternya sedikit merendah mendekati tempat mereka. Itachi menurunkan tali berbentuk tangga untuk mereka agar bisa naik ke helikopter tersebut.

"Kakashi angkat Sakura!" ucap Hinata.

Sasori menaiki tangga tersebut sambil menggendong Sakuya, kemudian disusul oleh Menma, Hidan, Orochimaru yang mengangkat Shikamaru, Tsunade yang membantu Karin, Naruto dengan Sasuke yang merangkulnya dari belakang agar Naruto mudah mengangkatnya. Saat Kakashi akan membawa Sakura naik, dia melihat Hinata yang berlari ke dalam salah satu ruangan yang terbuka.

"Hinata?!"

"Sebentar, kau duluan saja, aku ingin mengambil sesuatu."

Kakashi menoleh ke atas, menatap Orochimaru dengan tatapan penuh permintaan. Mengerti akan tatapan itu, Orochimaru kembali ke bawah dan mengambil alih tubuh Sakura, kemudian Orochimaru kembali menaiki helikopter tersebut.

"Ino?! Mana Ino?" tanya Naruto.

"Cepaaatt! Kuperkirakan mansion ini akan meledak 30 detik lagi!" ucap Gaara yang mengendarai helikopter tersebut.

"HINATAA! KAKASHI-SENSEEEEII!" jerit Karin.

Hinata dengan cepat membongkar laci-laci yang terdapat di sana. Keadaan makin menegang, dan getaran mansion semakin mengencang.

.

.

Kini Ino yang masih memeluk Deidara hanya bisa tersenyum pilu.

"Maaf… aku tidak bisa menyusul kalian," gumam Ino pelan sambil mempererat pelukannya pada Deidara, saat ini selain ingin bersama kakaknya, yanga da di dalam pikiran Ino adalah… Shikamaru. Betapa wanita itu mencintai sosok Shikamaru. Awal pertemuan mereka, pengalaman pertama saat mereka bercinta, dan canda tawa terlintas dalam benak Ino.

"Maaf… Shikamaru."

DUAARRRRR! DUAARRRRR! DUAARRR! DUAARRRR!

.

.

"HAH?!" Tiba-tiba Shikamaru membuka matanya, seolah mendengar suara Ino tadi.

Saat ini semuanya telah berkumpul di dalam helikopter. Sakura dan Sakuya masih tidak sadarkan diri. Sasuke terbaring dalam keadaan kakinya yang hancur, Karin mendapatkan perawatan khusus dari Tsunade.

Shikamaru berusaha bangkit, kini dia sadar bahwa ia telah kehilangan sebelah tangannya. Keadaannya sudah dibalut perban. Saat Shikamaru menoleh ke arah mansion yang sudah terbakar dan dia tidak menemukan sosok Ino. Shikamaru menggulingkan dirinya sehingga jatuh dari tempat dirinya tertidur tadi.

"Shikamaru!" Naruto berusaha menolong laki-lki yang kini merangkak ke arah pintu.

"Tidak! Jangan sentuh aku!" tolak Shikamaru yang masih berusaha merangkak.

Saat Karin yang akan mencegahnya, Orochimaru menahan lengan Karin dan sedikit menggelengkan kepalanya. Tidak peduli pada semua pandangan yang tertuju pada dirinya, Shikamaru kini berhasil mencapai pintu. Masih dalam keadaan tengkurap Shikamaru menatap pedih pada mansion yang kini terbakar.

"Ukh~!"

Wajah Ino masih terbayang di benaknya. Tubuhnya gemetar karena berusaha menahan suara tangisnya. Dia menundukkan wajahnya lengannya yang tinggal sebelah itu ia gunakan untuk menjambak rambutnya sendiri.

Tidak ada yang berkata satu kata pun di dalam helikopter tersebut, hanya air mata dan suara isakan tangis yang keluar dari para wanita.

"Aku pikir kau tidak akan menyusul kami," ujar Naruto pada Kakashi.

"Aku sempat berpikir waktunya tidak akan cukup, tapi saat yang tepat Hinata menemukan apa yang ia cari, maka tanpa pikir panjang aku mengangkat tubuhnya dan melompat dari mansion itu," jawab Kakashi.

"Bagaimana kalau kaujatuh?" ucap Tsunade.

"Tidak akan, aku yakin Gaara akan merendahkan helikopter ini agar aku bisa menggapai talinya seperti tadi," jawab Kakashi yang percaya akan kejeniusan Gaara.

"Tsunade, Jiraiya…?" tanya Itachi ragu.

Tsunade tidak menjawab, dia hanya memandang ke arah jam pemberian Jiraiya yang kini digenggam erat olehnya. Shikamaru masih dengan rasa sedihnya, berharap suatu saat nanti dia akan mengerti kenapa Ino melakukan semua ini padanya, kenapa wanita yang ia cintai rela meninggalkan dirinya sendiri.

Saat ini, mereka hanya bisa merebahkan diri mereka di dalam heli. Pergi dalam keadaan sempurna dan lengkap, pulang dengan berkurangnya anggota tim. Mereka berharap ini benar-benar akan menjadi yang terakhir.

Sudah cukup dengan semua masalah pembalasan dendam ini.

Mereka…sudah sangat lelah dengan semua hal tersebut…


A/N : Akhirnya Love sudah sampai pada chapter terakhir.

Aku bener-bener ngucapin terima kasih yah untuk kalian semua.

Untuk para silent reader. Makasih udah mau sempet mampir dan baca fict ini aku mewakili Raffa mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya sama kalian.

Untuk para reviewer, maaf aku ngga bales-balesin review kalian satu-satu. Ngga ada kata lagi selain terima kasih sedalam-dalamnya udah nemenin aku sampai sejauh ini. Terima kasih udah selalu ngasih dukungan buat aku, saat aku down dan putus asa kalian berusaha bangkitin aku lagi mealui facebook, twitter juga PM FFN.

Yang aku yakin, inilah yang pasti Raffa ucapin… "YO! Makasih udah menemani kami sampai fict ini tamat, jangan bosan mengikuti fict kami selanjutnya yaa."

Yaa atau semacem itu dengan nadanya yang bersemangat :"D

Untuk Suu terima kasih banyak banget, kamu udah bantu aku lebih dari cukup dalam perjuangan bikin fict ini. Kamu bener-bener berjasa. Aku ngga tau harus ucapin apa lagi ke kamu selain makasih sedalam-dalamnya :") and thank you for always by my side and take my hand when I was down. You're the best :") seriously, ngga tau deh gimana aku jadinya kalo ngga ada kamu :")

Makasih juga untuk isty yang sering nerima keluhan aku tentang repotnya bikin fict ini sendirian :"D maaf yah sering dicurhatin malem-malem :"D

Sekali lagi Terima kasih banyak untuk warga FFN khususnya FNI.

Sebelumnya aku mau kasih tau sesuatu, dulu Raffa pernah bilang kalau fict ini istimewa, dia bisa ngerasain yang namanya keluarga dunia maya lewat fict ini. Dan sekarang aku ngerasain itu… fict ini bener-bener istimewa untuk aku, dan jujur… aku bahkan nangis saat sadar kalau fict ini udah tamat :"( berkat fict ini, aku bisa deket sama Raffa dan kalian :") begitu banyak kenangan yang terukir di fict ini :") bagaimana dengan kalian? Hehehee

Dan akan ada epilogue untuk fict ini, untuk terakhir kalinya di fict ini. Aku ingin minta bantuan kalian, mau? aku pengen kalau kalian review nanti, tolong tulis kesan-kesan tentang fict ini di kotak review :"D itu pun kalau ngga keberatan :"D

Okay?

Sampai jumpa di epilogue.

Regards

V3Yagami.