…..~*~Black Rosette~*~…..
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story
Scene 25: Fight for You
POV : Rukia & Normal
(..)
(..)
(..)
Perlahan cahaya temaram mengantarkan kesadaran kembali padaku. Mataku mengerjap dan menemukan warna abu-abu di atas sana. Lampu berwarna kuning sendu, berpijar dari samping kiriku—terletak di atas meja kayu di samping ranjang. Butuh beberapa detik untuk memproses semua ini. Aku—tertidur di atas ranjang berseprai hitam—di sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar tidur. Tetapi tanpa jendela yang bertengger di dinding. Tempat ini terisolasi, kecuali ventilasi udara di atas sana. Ini di bawah tanah?
Aku memutuskan turun dari ranjang, sambil terus bertanya-tanya akan keberadaanku. Ichigo membawaku ke Kyoto malam itu, kami pergi bersama Renji dan yang lainnya, lalu aku jatuh tertidur—tunggu! Apa ini Kyoto?
Pintu ruangan terbuka perlahan, menjawab pertanyaan yang baru saja kupertanyakan. Ichigo, muncul dari balik sana dengan langkah gontai. Dia memakai baju serba hitam—seragam lamanya. Lalu, dia tersenyum padaku, tanpa kusadari sebelumnya. "Sudah bangun?"
Aku mengangguk perlahan dan melihat ke sekeliling ruangan, meneliti. "Ini dimana?"
"Markas pusat SSF di Kyoto. Sekarang kau ada di kamarku—salah satu tempat peristirahatan bagi para anggota utama. Setiap orang memiliki kamarnya masing-masing, dan bertempat di bagian paling bawah kantor utama."
"Di bawah tanah?" Itu menjelaskan mengapa tidak ada jendela di dinding. "Wow."
Mataku masih meneliti kamar Ichigo, yang terlihat seperti sebuah asrama sekolah. Tidak ada barang yang terlihat aneh dan berlebih, hanya ranjang, lemari, meja tanpa vas bunga ataupun pigura foto, dan sebuah gitar. Sebelah tanganku bergerak menuju kepalaku, merasakan perban di kening masih terlilit rapi, namun rasa sakitnya sudah menghilang. Kepalaku tidak berdenyut lagi, itu pertanda bagus.
"Masih terasa sakit?" Ichigo sudah berdiri di depanku, ikut mengulurkan tangannya dan meneliti lukaku. Wajahnya terlihat serius, masih sama seperti malam kemarin.
Aku menggeleng sebagai jawabannya, dan mendapati wajah Ichigo tersenyum lega padaku. Dia terlalu lama mengkerutkan alisnya, sehingga membuatku lupa akan wajah polosnya. Sisi lainnya yang membuat dadaku tergelitik geli.
"Kenapa kau tersenyum?" tanyanya, mengembalikan wajah lamanya kembali—kerutan permanennya.
"Kau…terlihat manis, beberapa detik yang lalu," gumamku menahan senyum.
Dan itu berhasil membuat matanya menatapku tajam, semakin mengkerut. "A—manis?" tanyanya tidak percaya, dengan nada suara hampir melengking tinggi.
Aku menyeringai geli, setengah ingin semakin menggodanya. "Saat kau tersenyum, kau terlihat seperti bocah kecil yang baru saja diberi permen."
"Tidak lucu, Rukia!"
Tawaku tidak bisa kutahan, saat wajahnya semakin terlihat masam. Pria ini benar-benar mudah terpancing kata-kataku. Apa dia pernah seperti ini sebelumnya? Di hadapan gadis lain? Tiba-tiba pikiran buruk itu mengisi benak kosongku. Apakah Ichigo pernah menunjukkan senyum itu pada gadis lain, selain diriku?
"Dan sekarang kau menatapku, seakan-akan akulah yang aneh disini," gerutunya sambil mendengus kesal.
Mataku mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya tersadar sepenuhnya. Tapi, kata-kataku tidak bisa terucapkan saat ini, tertahan pada mulutku yang membentuk huruf 'o' kecil. Apa aku boleh menanyakan hal semacam itu padanya?
"Rukia?"
"Hah? Ya?"
"Kau melamunkan hal apa lagi?" tanya Ichigo, menunduk hingga menyamai wajahku. Kini jaraknya hanya beberapa senti saja dariku, bahkan napasnya terasa menyapu kedua pipiku. Hangat. "Aizen?"
Aku kembali bergidik mendengar nama itu, merasakan rasa takut menjalar dari kaki hingga melilit leherku. Ichigo ikut tersentak melihatku, dengan mata sedikit terbelalak. Tidak seharusnya dia berekspresi seperti itu, jika bukan karenaku.
"Tidak apa, aku ada di sini," gumamnya, mengecup hidung dan keningku, dan kemudian memelukku erat. "Bersandarlah padaku."
Tanpa perlu menunggu ucapan itu terucap untuk kedua kalinya, tubuhku langsung mengikuti kata-katanya. Kedua tanganku memeluknya seerat mungkin, merasakan suhu tubuhnya di balik baju yang menutupi permukaan kulitnya. Hidungku menghirup aromanya—maskulin yang bercampur citrus manis. Aku tidak mau melepaskannya.
"Berapa lama aku tertidur?" tanyaku ingin tahu, menarik perhatiannya kembali padaku.
"Sekitar sembilan atau sepuluh jam. Kau tidur seperti orang mati."
Seburuk itukah aku tertidur? Tidak lucu!
Ichigo melepaskan pelukannya untuk melihatku lebih jelas, dan mengubah raut wajahnya dengan cepat. Dia tersenyum geli melihatku. "Jangan memasang wajah seperti itu! Kau semakin meyakinkanku bahwa tidurmu benar-benar buruk."
"Kau benar-benar menyebalkan!" desisku kesal. Dan perdebatan kami sebelumnya mulai muncul di benakku. Permasalahan yang membuatnya bersikap dingin padaku. "Dan tepati janjimu!"
Alisnya bertaut bingung, mempertanyakan sesuatu yang tidak tampak jelas pada wajahnya. "Janji apa?"
Sekarang dia terlihat pura-pura bodoh. "Kau berjanji akan menceritakan segalanya padaku."
Ichigo mendesah, sebelum akhirnya mengacak-acak rambutku dengan sebelah tangannya. "Itu nanti, setelah kau mengisi perutmu. Kau belum makan apapun sejak kemarin."
Ah ya, aku benar-benar merasa bodoh sekarang. Aku butuh mandi dan makan. Dan perutku berbunyi kemudian, tanpa bisa ditahan. Sial!
"Lihat?" goda Ichigo yang tersenyum puas menatapku. "Perutmu tidak bisa berbohong."
"Di…dimana kamar mandinya?" tanyaku keras, sambil berusaha meredakan rasa panas di kedua pipiku.
"Sebelah sana," jawab Ichigo, memalingkan kepalanya ke samping sebagai penunjuknya. Pintu di samping tempat tidur. Tentu saja, Rukia!
Tanpa pikir panjang aku segera berlari ke kamar mandi—menutup pintunya serapat mungkin. Suara tawanya terdengar menggema dari balik pintu. Sesuatu yang jarang terjadi, mendengarnya sedikit lebih rileks. Salah satu hal yang kusuka darinya. Tawa lepasnya, yang seakan ikut mengangkat beban di dadaku, menghilangkan rasa beratnya. Otot-otot di wajahku juga tertarik karenanya, membiarkan mulutku tertarik ke dua arah—tersenyum.
Kupandang refleksi wajahku di cermin, sementara membuka kran air di wastafel dan membiarkan airnya mengalir ke kedua tanganku. Wajahku terlihat mengerikan, dengan kedua kantung mata yang hampir setebal lebam parah, bibir kering, rambut mencuat di beberapa sisi, sementara sisi lainnya seperti terkena tumpahan minyak goreng. Apa Ichigo menyadari hal ini?
'Bernapas, Rukia! Bernapas!' ucapku berulang kali dalam hati, mengingatkan diriku untuk menarik napas secara normal. Kubasuh wajahku dengan air dingin di telapak tanganku. Rasanya segar dan menggigil, menggelitik. Aku membutuhkan sesuatu yang lebih dari ini, yang bisa membuat tubuhku lebih nyaman dan menenangkan otot-otot kaku di sekujur punggungku. Air panas, itu bisa membantu sepenuhnya. Segera kulepaskan baju dan celana jeans yang melekat lengket pada kulitku, membiarkan air dari pancuran shower mengeluarkan uap panasnya. Kubiarkan rasa ini mengalir, menjadikan waktu pribadiku di bawah pancuran shower memenuhi otakku. Dan menyingkirkan rasa penat yang merayap sebelumnya. Masalah yang terlalu rumit untuk dihadapi seorang diri.
(..)
Setelah selesai melakukan ritualku di kamar mandi hampir satu jam lamanya, Ichigo langsung mengajakku ke sebuah kantin di lantai atas markas SSF. Aku memilih untuk memakai T-shirt berwarna gading polos dan celana jeans biru muda yang berada di tas koper milikku—yang berhasil 'diselamatkan' Ichigo sejak kepergian kami ke Benua Eropa. Dan sekarang dia meninggalkanku seorang diri di sini, dimana setiap pasang mata menatapku penuh tanya, terlalu dekat. Mereka menganggapku seperti hewan eksotis dari hutan tropis, dan aku tidak suka itu. Hanya Yumichika yang kukenal di tempat ini, yang sekarang duduk tepat di sebelah kananku. Dia tidak mempedulikan orang-orang itu, memilih memakan makanan di nampannya dengan anggun dan berkelas—ciri khas dirinya.
"Jadi dia adalah 'putri' nya?" tanya seorang wanita cantik, dengan rambut terindah yang pernah kulihat. Rambut panjang bergelombang seperti ombak di lautan lepas, berwarna kuning terang—menyerupai blond caramel. Dan tubuhnya, seperti Angels Victoria's Secret dengan aset berlebih di bagian dada—terlihat jelas dari kemeja putih yang dikenakannya, dengan dua kancing teratas dibiarkan terbuka lebar.
"Jangan memelototinya, Matsumoto! Kau masih memiliki pekerjaan penting sekarang!" Seorang bocah menasihati wanita itu. Bocah laki-laki berambut putih mencuat, seperti es dingin yang juga terlihat dari kedua mata tajamnya. Dia menggerutu tidak jelas kepada wanita itu—Matsumoto. "Sekarang, kembalilah ke tempatmu!"
"Eh? Tapi sekarang masih waktu makan siang," sanggah Matsumoto, mengerucutkan bibirnya—menggoda. Sepertinya bocah itu tidak terpengaruh rayuannya, yang semakin menajamkan tatapannya. Bahkan, aku hampir bisa melihat urat nadi di pelipisnya yang menegang.
"Jangan membantah! Kau memberikan semua tugas-tugasmu kepada Shuuhei!"
"Ahh—itu tidak masalah, Hitsugaya-taicho," ucap seorang pria tinggi, memiliki luka sayatan panjang di mata kanannya. Dia berdiri di samping Matsumoto, terlihat tidak mempermasalahkan sikap dingin bocah itu—Hitsugaya—yang dipanggilnya 'ketua'. Bocah itu, ketua?
"Hei, ceritakan kepadaku, gadis mungil! Apa saja yang sudah Ichigo lakukan padamu?" tanya Matsumoto yang sudah berdiri semakin dekat, tepat di samping kiriku. Dirinya benar-benar menakutiku.
"Eh?"
"Dia terlalu kaku, kau tahu? Kami bertaruh bahwa dia itu masih berada di batas 'normal', ya walaupun sebagian lainnya tidak sependapat. Sangat disayangkan pria langka sepertinya menghindari wanita untuk seumur hidupnya dan lebih memilih jalur 'tidak biasa'. Kau sudah lihat tubuh kekarnya? Bagaimana dengan dekapannya?"
"Matsumoto!"
Wajahku semakin memerah mendengar kata-kata Matsumoto-san. Dia terlalu berlebihan dan terus terang mengungkapkan pikirannya. Sementara Hitsugaya memarahinya lagi, tanganku mengusap-usap pipiku agar panasnya segera menghilang.
"Jadi, Ichigo sudah—"
"Jangan ikut-ikutan, Yumichika!" bisikku kesal, hampir meneriakinya. Dia benar-benar merasa puas, menatapku dengan senyuman yang tidak biasa—terlalu lebar untuk wajah tirus lancipnya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Suara berat itu spontan membuat ruangan menjadi hening seketika. Perhatian orang-orang teralihkan, pada sosok besar yang baru memasuki ruang kantin. Pria tinggi mengerikan dengan penutup mata di mata kanannya, menyeringai lebar seperti pembunuh utama di film serial thriller akhir minggu. Sepatu bootsnya menggesek lantai di bawahnya dengan nyaring, memberikan aura ancaman yang pekat kepada setiap orang. Rambutnya mencuat ke beberapa arah, seperti anggota band beraliran hard-rock metal. Dan dia menuju…ke arahku?
"Kau," tegurnya, menatapku tajam. Tubuhku sedikit bergidik karenanya. "Yang dibawa Ichigo?"
"Ketua, kau menakutinya," ucap Yumichika santai, sama sekali tidak takut dengan orang di depanku ini. Tidak seperti beberapa orang yang memilih menghabiskan makanan mereka dalam diam, selain Matsumoto-san, Shuuhei-san, juga Hitsugaya.
Pria besar itu menyeringai lagi, kali ini lebih lebar, hingga kerutan di sudut mulutnya tertarik kuat. "Heh? Jadi kau adalah tanggung jawab Ichigo saat ini?"
"Jangan menatapnya seperti itu, Kenpachi!" Tiba-tiba Ichigo datang dari belakang pria besar itu, berjalan santai dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku jeans nya. "Tatapanmu bisa membuat anak-anak lari sambil menangis meraung-raung. Begitu pula dengan si mungil di depanmu."
Dia mengejekku?! "Kau—"
"Menarik!" ucap pria itu—Kenpachi—menatapku dan Ichigo bergantian. "Asalkan kau menyelesaikan misi bodoh ini, kau bisa kembali ke dalam tim?"
"Itu tergantung," jawab Ichigo cuek dan memilih untuk berdiri di sebelahku—lagi-lagi bersikap protektif. "Apapun perintah yang diberikan atasan kepadaku."
"Aku tidak peduli dengan semua omong kosong mereka! Kau masih memiliki hutang besar padaku, Ichigo! Kau belum menyelesaikan beberapa pertarungan yang tertunda!"
"Jangan memulai, kapten!" gertak Ichigo dan menekankan kata 'kapten' hampir seperti menyindir. "Bisakah kau melupakan pertarungan tidak penting itu? Kau masih memiliki satu regu penuh yang menunggu perintah dan tugas darimu! Bersikaplah lebih bertanggung jawab!"
"Mengalahlah Ichigo, kau tidak bisa memenangkan perdebatan ini," saran Yumichika, yang sedang mengelap mulutnya dengan tisu bersih. Makanannya sudah habis tak bersisa. "Ikuti saja apa yang kapten inginkan."
"Dia benar!" Kenpachi tersenyum lebar, kali ini lebih mengerikan dan terlihat seperti sebuah kemenangan baginya. "Bertarung denganku sebagai seorang laki-laki dan selesaikan semuanya!"
"Kau terlalu gegabah," ucap Hitsugaya, sama sekali tidak takut dengan tatapan Kenpachi padanya. "Ichigo masih menjalankan misinya, jadi berhentilah mengganggunya dengan masalah pribadi kalian. Selesaikan saat misinya sudah berhasil."
"Taicho benar!" tambah Matsumoto, yang kini berdiri di sebelah Ichigo dan merangkul tangannya. Apa? "Dan aku yakin kau masih ada urusan yang tertunda dengan putri kecilmu."
Ichigo terbelalak karena Matsumoto, entah karena pelukannya atau kata-katanya. "Apa—"
"Matsumoto! Kembali ke tempatmu!" Lagi-lagi Hitsugaya memarahinya.
"Ayolah, taicho! Sekarang ini masih jam isti—"
"Sekarang sudah lebih lima menit! Kembali dan selesaikan berkas-berkasmu," potong Hitsugaya, yang sudah berjalan ke arah pintu keluar bersama Shuuhei di belakangnya. "Aku masih memiliki dokumen di mejaku, jadi segera kerjakan sekarang!"
Matsumoto melepaskan rangkulannya pada Ichigo dan berjalan malas mengikuti taicho kecilnya itu. Entah bagaimana caranya, bocah kecil seperti dirinya bisa bekerja di tempat seperti ini. Apa karena IQ yang melebihi rata-rata?
"Jadi, Ichigo," ucap Kenpachi yang sekarang menjadi sumber keributan di tempat ini. "Kau memiliki waktu luang sekarang? Bagaimana kalau kau membayar semuanya—"
"Rukia, ayo kita pergi!" Tiba-tiba Ichigo menarikku dari dudukku dan menyeretku paksa. Langkahku gontai dan hampir tersandung kakiku sendiri. Kulirik nampan makananku yang masih menyisakan beberapa potong wortel dan daging panggangku. Tidak!
"Ichigo! Kau mau kemana?!" Suara Kenpachi terdengar menggema di belakang, yang dihiraukan Ichigo saat membuka pintu dengan sebelah tangan dan hampir berlari di sepanjang lorong, hingga mencapai pintu lift dan menekan tombolnya berulang kali.
"Ada apa denganmu? Aku belum menghabiskan makananku!" protesku kesal, berusaha melepaskan cengkramannya, tapi tidak berhasil. Dia terlalu kuat.
"Dia tidak akan melepaskanku hingga aku setuju bertarung dengannya," gerutu Ichigo, memandang pintu lift dengan gelisah, seakan-akan matanya memiliki sinar laser untuk membolongi pintu besinya.
Mataku menatapnya bingung, dan berusaha berpikir apa yang membuatnya takut dengan sosok Kenpachi—selain tubuh besar dan wajah sangarnya. Ichigo tidak pernah terlihat sekalut ini, apalagi bila berhadapan dengan orang yang menantang dirinya. Dia lebih mirip seperti 'preman jalanan' di hari-hari sebelumnya.
Pintu lift terbuka dengan dentingan nyaring dan Ichigo kembali menarikku. Lagi-lagi dia menekan tombol secepat mungkin, sampai pintunya menutup rapat di depan wajahnya. Suara musik instrumental terdengar di latar belakang, berusaha mencairkan ketegangan di dalam sini. Bach?
"Mengapa dia tidak akan melepaskanmu?" tanyaku memulai pembicaraan, terasa gugup karena tangannya masih memegang tanganku erat.
Ichigo mendesah, dan melirikku perlahan. Tatapannya masih tegang, namun sudah lebih tenang sekarang. "Kenpachi haus akan pertarungan dan tantangan. Dia adalah tipe orang yang terlalu berbahaya untuk dianggap sebagai lawan, karena dia tidak akan melepaskan targetnya hingga dirinya merasa puas. Itu salah satu alasan bahwa SSF menariknya sebagai anggota dan menjadi ketua dalam timku!"
"Tidak ada yang lebih buruk dari itu," gumamku miris.
"Jangan memperburuk keadaan," balas Ichigo, mengerang kesal. "Sebisa mungkin aku ingin menjauh darinya, sebelum dia mematahkan seluruh tulang di tubuhku!"
Dan pintu lift berdenting lagi, terbuka perlahan di depan kami. Ichigo kembali menarikku dan berjalan lebih lambat—menyusuri lorong beton yang kukenal. Ini jalan menuju tempat peristirahatannya. "Kau pernah menang darinya?"
"Ya," jawabnya singkat. "Sekali, mungkin…dua?"
"Karena itu dia begitu berambisi untuk bertarung lagi denganmu?" tebakku.
Ichigo mengangguk, sambil tersenyum simpul. "Karena aku satu-satunya orang yang berhasil mengalahkannya—di sepanjang sejarah SSF. Dan aku benar-benar menyesal karena itu."
Aku tersenyum begitu melihat wajahnya memberengut kesal. Ichigo masih manusia normal, dimana kekuatannya dikalahkan oleh sebuah ketakutan biasa. Ya, dia memang kuat sebagai seorang prajurit ataupun anggota utama SSF, tapi di balik semua itu Ichigo adalah Ichigo. Bukan terminator yang hanya menuruti perintah atasannya dan bergerak seirama tanpa tujuan.
Kami berjalan masuk kembali, ke dalam kamar Ichigo. Mengingat ini adalah kamarnya, membuatku merasa sedikit tidak nyaman dan sekaligus penasaran. Di dalam sini benar-benar tidak banyak barang yang mendominasi di atas meja ataupun lemari. Tidak ada yang bisa kulakukan selain tidur di atas ranjang yang empuk—menunggu tanda-tanda bahwa segalanya akan segera berakhir.
Ichigo berjalan ke arah lemarinya, mencari-cari sesuatu di antara baju-baju yang terlipat rapi di atas rak-rak kayu hitam. Aku memilih duduk di ranjangnya, menggoyang-goyangkan kakiku maju dan mundur. Di sini masih lebih nyaman dari di luar sana, tidak dingin ataupun panas dari minimnya ventilasi.
"Rukia, tangkap," ucap Ichigo yang melemparkan sesuatu dari tangannya. Spontan aku langsung mengulurkan tanganku dan menangkap benda yang dilemparnya. Ini…Pocky?
"Ichigo, darimana kau mendapat ini?" tanyaku bingung, meneliti Pocky Almond di tanganku.
"Adikku yang memberikannya padaku," jelasnya, masih menjelajahi lemarinya. "Dia bersikeras membawakan ini untukku, setiap kali aku kembali ke rumahku."
"Jadi…kau suka Pocky?" tanyaku hampir tertawa geli, tidak menyangka bahwa dirinya penggemar makanan manis dan— "Wow!"
Ichigo menaruh semua cemilannya di atas ranjang. Di sana masih ada Pocky Strawberry, Pocky Pumpkin, Pocky Banana, juga KitKat, Koara no Machi, Caramel Corn, Choco A~npan, Pretz! "Kenapa kau bisa menyimpan ini semua di dalam lemarimu?!"
"Jangan berteriak melengking seperti itu! Kau membuat telingaku sakit!" gerutu Ichigo, duduk di sampingku. "Itu untukmu."
"Semuanya?!" tanyaku, lagi-lagi melengkingkan suaraku. "Tapi—"
"Aku tidak suka makanan manis, Yuzu memasukkannya diam-diam ke dalam tasku," jelasnya. "Lagipula, kau belum menghabiskan makananmu tadi, bukan? Anggap saja ini sebagai gantinya."
"Begitu," gumamku, sambil memilih-milih apa yang akan kumakan lebih dulu. KitKat Rilakkuma!
Aku langsung membuka kemasannya perlahan—takut untuk merusak gambar manisnya—dan mengambil satu isinya. Begitu coklatnya masuk ke mulutku, rasanya— "Ahh~ Ini benar-benar manis!"
"Ya, terlihat jelas dari wajahmu."
"Jadi, Yuzu adalah adikmu?" tanyaku, berusaha memasukkan topik utama yang kupertanyakan sejak awal. Aku ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.
Ichigo terdiam sesaat, dan memperlihatkan senyum lembut di wajahnya. "Ya, dia adik perempuanku. Yuzu dan Karin, mereka kembar namun terlihat tak serupa."
"Lalu, mereka tahu tentang pekerjaanmu ini?" Sekarang aku mengambil Pocky Pumpkin, bertanya-tanya bagaimana rasanya di mulutku.
"Tidak, keluargaku sama sekali tidak mengetahui pekerjaanku di SSF. Peraturan di sini sangat ketat, lagipula ini demi keamanan masing-masing anggota."
Aku terbelalak terkejut, mendengar kenyataan yang sedikit pahit untuknya. "Kalau begitu, ceritakan padaku tentang keluargamu?"
"Hah?"
"Kau sudah berjanji sebelumnya, jadi ceritakan saja. Aku ingin mendengarnya," ucapku, sambil memasukkan Pocky ke dalam mulutku. Rasanya tidak terlalu buruk.
Ichigo mendesah, sebelum bersandar ke belakang hingga bahunya menyentuhku. "Tidak banyak yang menarik. Keluargaku tinggal di Inggris saat ini—ayah, ibu, juga kedua adikku. Ayahku bekerja sebagai dokter bedah di London, terlalu bersemangat akan pekerjaannya setiap pagi. Ibuku tinggal di rumah untuk mengurus kebutuhan rumah tangga, karena kondisi tubuhnya terlalu lemah untuk mencari pekerjaan tetap. Ibu adalah wanita terhebat yang pernah kutemui sepanjang hidupku, selalu tersenyum setiap saat aku pulang ke rumah. Lalu, Karin dan Yuzu berada di tahun kedua Junior High School. Mereka selalu meneleponku di akhir pekan, terutama Yuzu. Karin terlihat lebih dewasa dan kuat, sedikit tomboi dibandingkan Yuzu yang lebih feminin. Keluarga biasa pada umumnya, tidak ada yang spesial."
"Dan bagaimana dengan dirimu?"
"Aku?"
"Ya." Aku mengangguk dan meliriknya dari sudut mataku. Ichigo sedikit terlarut dalam cerita keluarga yang begitu dicintainya—terlihat dari pancaran matanya. "Kau, Kurosaki Ichigo."
"Apa yang ingin kau tanyakan tentang diriku?" tanyanya menggoda, tiba-tiba tidur di atas pangkuanku. Kepalanya sepenuhnya bersandar di atas pahaku. "Tanya saja."
Aku hampir tersedak Pocky terakhirku karenanya. Dan sekarang wajahku sedikit memerah panas. "Itu—tentang kau sebelum masuk ke dalam SSF."
Matanya terbuka dan menatapku dari bawah. Aku tidak menangkap emosi apapun darinya—hanya kekosongan dari masa lalu. "Kehidupanku terasa terlalu normal dibandingkan sekarang. Aku menyelesaikan pendidikan terakhirku di Karakura, sebelum ayah mendapat panggilan pekerjaan di London. Mereka sepenuhnya pindah ke Inggris, sementara aku lebih memilih tinggal di sini karena pekerjaanku ini. Sesekali aku mengunjungi London, saat ketua tidak memberikan misi apapun padaku—walaupun hanya beberapa hari."
"Lalu, bagaimana caranya kau menjelaskan tentang 'pekerjaanmu' ini? Kau berbohong?"
Ichigo tersenyum padaku dan memejamkan matanya kemudian. "Aku hanya bilang bahwa aku bekerja sebagai dokter hewan di tempat Chad, dan malam harinya mengajar kelas bahasa di kelas tambahan Universitas Tokyo."
Aku tidak tahu harus berkata apa. Haruskah aku merasa terpukau atau sebaliknya? "Ahh—itu…"
"Berlebihan?" tebak Ichigo. "Tidak juga. Karena memang sebelumnya aku bekerja di tempat Chad, sebelum aku bertemu Ginjou dan—"
Kata-katanya menggantung sampai di sana, dan Ichigo kembali termenung diam. Matanya masih terpejam, tapi aku yakin dia merasa sedih saat ini. Perasaanku yang mengatakannya dengan lantang. Apa karena kami selalu menghabiskan waktu bersama-sama, sehingga diriku terlalu peka dengan apa yang dirasakannya?
Chad, dia adalah pria bertubuh besar di tempat Ginjou, bukan? "Jadi…apa hubunganmu dengan Ginjou sebelum ini? Kalian menyebutnya X-Cution?"
"Ahh, begitulah. X-Cution adalah sebuah organisasi yang dibentuk Ginjou, sebelum akhirnya dia mengajakku bergabung dengannya. Kami bekerja untuk menolong orang-orang yang kesulitan, dalam bentuk jasa. Beberapa orang menyebut kami dengan sebutan 'polisi liar', 'petugas 911 Tokyo', ataupun 'superhero'."
"Seperti Taman Kanak-Kanak tempat Inoue bekerja," gumamku, lebih kepada diriku sendiri.
"Itu salah satunya," jelas Ichigo kemudian, tangannya menangkup tanganku dan memijat lembut punggung tanganku dengan ibu jarinya. "Perlahan, Ginjou mulai melupakan misi utamanya. Dia mengambil uang penghasilan dari dana sukarela orang-orang yang pernah kami tolong dan memakainya untuk dirinya sendiri—membeli minuman setiap harinya. Tidak ada yang tahu hal ini kecuali diriku, ya—inilah yang membuatku memilih untuk meninggalkan organisasi itu."
"Kau…tidak menjelaskannya pada teman-temanmu, tentang kebusukan Ginjou?" tanyaku ngeri. Ginjou orang yang berbahaya dan egois.
"Ucapanku tidak pernah didengar oleh mereka, karena Ginjou adalah pemimpinnya. Jadi, percuma saja aku menjelaskan semuanya pada Chad dan yang lainnya. Mereka terlalu memuja Ginjou."
Kini aku yang terdiam, entah apa yang harus kukatakan kepadanya. Ichigo menanggung semuanya sendiri, di saat teman-teman terbaiknya lebih memilih meninggalkannya. Bahkan, suaranya pun sama sekali tidak didengar oleh mereka.
"Lalu, pertanyaan berikutnya?" Ichigo memecah lamunanku, mengecup punggung tanganku lembut. " Tidak perlu berwajah seperti itu, semuanya sudah berlalu."
Wajahku kembali memerah, seperti tomat. "Bagaimana…kau bisa masuk ke dalam SSF?"
Ichigo tersenyum lebih lembut, memperlihatkan sedikit deretan gigi putihnya—menawan. "Semuanya karena Renji. Dia bekerja di tempat part-time ku saat aku masih sekolah di Karakura, juga partnerku di saat menghadapi para anggota geng jalanan yang menantangku bertarung. Renji melihat kemampuan bela diriku dan tiba-tiba saja mengajakku berlatih di tempat pelatihan SSF."
"Dan…kau menerimanya begitu saja?"
"Tentu. Karena akhirnya aku bisa memakai tinjuku untuk tujuan yang benar. Juga demi ibuku, aku sudah berjanji padanya untuk membela adik-adikku, juga menolong teman-temanku yang berada dalam kesusahan. Berkelahi seperti anjing liar tidak akan menyelesaikan masalah."
"Kau begitu menyayangi ibumu," gumamku berbisik. Aku berusaha membayangkan sosok lembutnya, di saat Ichigo berdiri di samping ibunya. Seandainya saja ibuku masih hidup, akankah aku bisa merasakan kelembutannya seperti yang Ichigo rasakan sekarang?
Ichigo hanya tersenyum menanggapi kata-kataku dan kembali mengecup punggung tanganku. Dia menangkupkan tanganku di pipinya, hingga aku bisa merasakan rasa hangatnya di sana. "Lagipula, aku tidak berambisi untuk menjadi salah satu anggota utama tim kesatuan SSF. Pelatihan awal SSF lebih menyerupai latihan militer dan proses eliminasi—yang bisa melatih fisik juga emosi labilku. Hanya saja, takdir membalikkan seluruh kehidupanku. Kyouraku-san mendengar keahlianku dari Renji. Si baboon bodoh itu membocorkan segalanya!"
"Bukankah itu bagus untukmu?" tanyaku bingung. "Seandainya saja kau tidak menerima tawarannya, mungkin kau tidak akan pernah bertemu denganku."
Ichigo tersentak di tempat dan langsung terbangun dari pembaringannya. Matanya menatapku tajam, membuat seluruh tubuhku bergidik. "Tentu saja tidak. Aku tidak akan melewatkan kesempatan itu, Rukia."
"Jadi kau percaya dengan takdir?"
Ichigo memajukan tubuhnya ke arahku dan mengecup bibirku dengan cepat. "Mungkin. Sejak awal segalanya sudah tersusun rapi, bukan? Seperti menulis jalan ceritanya di atas sebuah kertas. Kau dan aku—takdir atau apapun itu yang mengarahkan jalanku kepadamu. Seandainya saja aku tidak menerima tawaran SSF, jalanku tetap akan mengarah kembali kepadamu."
Kata-katanya membuat jantungku semakin berdegup kencang. Sebuah kehidupan yang kini terasa nyata di dalam jiwaku. Ichigo memercayai semuanya dan memberikan separuh kepercayaannya padaku. Dia menerima segala yang terjadi di sekelilingnya, dan bisa mengubahnya sesuai keinginannya. Jiwa bebas yang tidak terbelenggu oleh aturan. Sesuatu yang tidak kumiliki, hingga saat ini—berhadapan dengannya.
"Kau benar-benar tidak mudah ditebak, tuan casanova."
"Tidak ada sebutan yang lebih baik dari itu?" godanya, menarikku dalam dekapannya. "Aku lebih suka dipanggil sebagai Prince Charming."
"Dengan rambut jingga terangmu? Jangan berharap!"
Wajahnya kembali memberengut, tidak menyetujui pendapatku. "Rasis!"
"Prince Charming berambut pirang, bodoh! Tidak ada pangeran yang memiliki rambut aneh sepertimu," ejekku, mengelak dari dekapan eratnya. "Dan berhenti bergerak! Kau menghancurkan makananku!"
"Makananmu?" tanyanya tidak percaya. "Aku yang memberikannya padamu, kau ingat, mademoiselle (1)?"
Segera kuambil seluruh cemilan di atas ranjang dan memeluknya dengan kedua tanganku. "Tapi sekarang ini menjadi milikku, monsieur la fraise (2)!"
Ichigo terbelalak ngeri, sepertinya mengerti sebutanku? "Kau…kau menyebutku apa?"
"La fraise!" ejaku mengalun seperti sebuah nyanyian Prancis. "Monsieur la fraise!"
Tiba-tiba Ichigo menerjangku dan menjatuhkanku ke atas ranjang. Sesuatu menggelitik pinggangku, bergerak cepat dan memberikan sensasi geli tanpa bisa kutahan. Tangannya? "Tidak—hentikan!"
"Ini akibatnya kau menyebutku dengan sebutan itu, petit diable (3)!"
Tawaku semakin menjadi, ketika Ichigo tidak berhenti menggelitiku. Aku tidak bisa menahannya, maupun menepis tangannya, selain menggulingkan tubuhku ke kiri dan ke kanan. Berusaha menghindarinya."Hentikan, bodoh!"
Air mataku menggenang di pelupuk mataku dan mulutku terlalu kram karena tawa yang tidak bisa kukontrol. Akhirnya Ichigo menghentikan tangannya dan mengecup rahangku jahil. "Aufgeben, liebling (4)."
"Aku…tidak mengerti," desahku lelah, masih berusaha mengontrol napasku.
"Artinya adalah ini," jawabnya, kemudian menciumku bibirku. Kali ini terasa lebih lembut dan memberikan seluruh perasaannya padaku. Tidak perlu kata-kata, tapi sebuah tindakan yang cukup meyakinkanku untuk tetap berada di sampingnya. Selama yang aku bisa untuk menggenggam tangannya erat.
(..)
(..)
(..)
Normal's POV
Kyoto, Japan—SSF Head-office
Semua anggota duduk di posisi masing-masing, mengitari meja bundar di tengah ruangan yang terasa lebih dingin daripada biasanya. Para anggota divisi sebelas memenuhi bagian sisi kiri, sementara anggota tambahan divisi lainnya di sisi kanan. Mereka terdiam dalam keheningan ganjil, setelah Ichigo berusaha menjelaskan situasi yang sudah dialami Rukia satu hari yang lalu. Sebuah pengkhianatan salah satu teman mereka—Kaien—menjadi topik utama pembahasan masalah Aizen. Target sudah ditentukan selanjutnya, yaitu mengincar keberadaan Kaien, berharap dirinya bisa membawa SSF langsung ke hadapan Aizen. Bukti-bukti kuat yang bisa diperoleh akan menjadi kado tambahan salah satu syarat menahan pria berbahaya se-Jepang itu.
Ichigo memainkan bolpen hitam di tangan kanannya, memutar-mutar di antara jari-jari panjangnya. Pikirannya terlarut ke dalam situasi beberapa jam yang lalu. Rukia tertidur di kamarnya karena terlalu lelah—di dalam pelukannya. Gadis itu masih terlampau rapuh untuk menghadapi sebagian kejadian yang menghadang di depan matanya. Walaupun tinggal sedikit lagi, besar kemungkinan Rukia bisa terancam bahaya yang mengancam jiwanya. Ichigo tidak mau membiarkan hal itu terjadi, bahkan hanya menyentuh ujung rambut Rukia sekalipun.
"Jadi, misi kita sekarang adalah mencari Kaien?" tanya Toshirou, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Nejibana," gumam Shuuhei. "Aku tidak menyangka ini akan terjadi."
"Begitu pula denganku," tambah Matsumoto, memilih duduk bersantai di kursi empuknya. "Dia seringkali membantuku dalam menyelesaikan misi. Berkhianat masih terasa aneh untukku."
"Dan dia masih ada di Jepang. Kemungkinan berada di dekat Aizen," ucap Yumichika berpendapat. "Kaien sudah menjadi anjing peliharaanya."
"Mau bertaruh? Sebentar lagi Aizen akan membuangnya seperti sampah tidak berguna," potong Ikkaku, yang duduk tepat di sebelah Yumichika. "Dia sungguh bodoh, untuk menerima tawaran busuk dari Aizen!"
"Seriuslah sedikit," tegur Ichigo, memelototi rekannya marah. "Kaien memang sudah meninggalkan SSF, tapi jangan berpikir sampai sejauh itu."
Toushirou mendesah lelah, berharap rapat ini segera berakhir untuknya. "Benar yang dikatakan Zangetsu, Kaien masih anggota penting untuk SSF. Dan, bagaimana cara memancing dirinya untuk segera keluar? Itu bukan hal yang mudah."
"Dobrak kantor Aizen sesegera mungkin!" saran Kenpachi, yang lansung mendapat perhatian tajam dari setiap pasang mata di sana. "Kalian terlalu lama untuk berpikir!"
"Jangan terlalu gegabah, taicho," saran Yumichika, berdecak kesal. "Bermain kasar bukan hal yang diutamakan di sini. Lagipula aku sangat tidak setuju."
"Benar apa yang dikatakannya," ucap seseorang dari balik pintu ruangan. Kegelapan ruangan samar-samar memperlihatkan sosoknya. Namun, suara anehnya sedikit membuat risih para anggota tim utama di sana. "Aku bisa membantu, kalau kalian mau."
"Mayuri," panggil Toushiro, seperti gerutuan sinis. "Memangnya, apa yang bisa kau lakukan?"
Mayuri—seorang ilmuwan terpenting SSF—berjalan menuju kursi utama di ruangan itu, yang masih kosong dan tidak diduduki siapapun. Seorang pria aneh dengan wajah yang menyerupai topeng, atau memang berfungsi seperti itu. Tidak ada yang pernah tahu bagaimana rupa aslinya, selain warna kulitnya yang putih dan sosoknya menyerupai seorang jigsaw (5). Dia duduk di sana, masih mengenakan jubah putih lab nya yang sedikit kebesaran, terdapat bercak noda aneh di sana sini. Yumichika yang duduk tepat di sebelahnya, sedikit beringsut menjauh karena mencium aroma tidak enak dari tubuhnya. Mungkin cairan aneh yang saling bercampur dan meledak di ruangan pribadinya.
"Lebih baik tanyakan pada Urahara-san," saran Shuuhei terburu-buru. "Itu lebih—"
"Jangan percayakan pada orang serampangan itu!" gertak Mayuri kesal, menggebrak meja kayu dengan kedua tangannya. "Kalian lebih mempercayai hacker yang hanya bisa bermalas-malasan dan hampir menghancurkan gedung utama ini? Cih!"
"Kau juga hampir meledakan lantai atas kantor tempo hari," gumam Matsumoto berbisik, berharap Mayuri tidak mendengarnya. Namun telinga tajamnya mampu menangkap suara berbisik dari jarak beberapa kaki sekalipun. Kini Mayuri terlihat geram.
"Itu untuk keperluan percobaan utama!" Dan ilmuwan pemarah itu kembali duduk pada kursinya. "Aku bisa mengandalkan satelit utama untuk mencari kecoak pengkhianat itu! Semudah menemukan tikus dalam got."
Ichigo menatap tidak percaya pada Mayuri, mendengar perandaian kata yang tidak jelas dari orang gila itu. "Kalau itu yang kau yakini, kenapa tidak?"
"Ichigo!" rengek Yumichika, tidak menyetujui. "Jangan memulai—"
"Lihat! Satu suara dari pemeran utama kita!" ucap Mayuri girang, memperlihatkan deretan gigi rapinya seperti domino bersusun.
"Aku tidak peduli, asalkan aku bisa menghancurkan Aizen secepat mungkin," ucap Kenpachi, sebuah persetujuan demi mendapatkan kepuasan tersendiri.
"Dua suara!" Kedua jari Mayuri teracungkan, menunggu orang ketiga memberikan pendapatnya.
"Aku mengikuti apa yang taicho tentukan." Sekarang Ikkaku yang berpendapat.
"Tiga!"
"Ini tidak adil! Kira dan Tetsuzaemon belum sampai ke Kyoto!" sanggah Matsumoto, lebih memilih sebagai pihak kontranya.
"Kehilangan dua suara kupikir tidak masalah—"
Suara mesin berderu bunyi dan layar komputer besar menyala terdengar lantang. Para anggota SSF spontan melirik layar besar di depan ruangan, yang kini memperlihatkan gambar jernih dari seseorang yang memakai topi hijau-putih. Dan wajah Mayuri berubah pucat bercampur kekesalan yang begitu kental, hampir melempar kursi ke arah layar komputer.
"Halo semua~ Hisashiburi!" salam Urahara bersemangat dari balik kipas tangannya.
"Apa yang kau lakukan di sini!" teriak Mayuri tidak tertahankan, menunjuk Urahara dengan jari telunjuknya.
"Ahh~ Ayolah, aku kemari ingin bicara dengan Ichigo-kun," jawab Urahara santai. Nada suaranya berhasil membuat Ichigo memberengut ngeri.
"Haruskah menyabotase komputer di ruang rapat utama SSF?" tanya Toushirou, yang kini emosinya hampir menyamai Mayuri.
Urahara mengerjap beberapa saat, sebelum akhirnya tersenyum semakin lebar. "Bagian sekretaris lobby depan yang mengatakan kalian sedang rapat malam ini. Karena ini kebutuhan mendesak, jadi—"
"Baiklah, apa yang ingin kau katakan, Urahara," potong Toushirou semakin tidak sabaran. "Sebaiknya cepat selesaikan."
Urahara masih tersenyum, tapi pandangan matanya terlihat lebih serius daripada sifatnya. Hal ini sedikit membuat Ichigo tegang, begitu pria aneh itu menatap dirinya. "Aku ingin bicara berdua saja dengan Zangetsu, bolehkah?"
Para peserta rapat terdiam tanpa kata, masing-masing larut dalam pikirannya masing-masing. Toushirou yang pertama kali bangkit dari duduknya, menggumamkan sesuatu sambil berlalu pergi ke arah pintu keluar. Matsumoto mengikutinya di belakang, begitu pula Hisagi dan para anggota divisi sebelas. Mayuri masih mematung di depan layar komputer, entah apa yang harus dilakukannya sekarang ini.
"Kau boleh melanjutkan tugasmu, Mayuri. Aku tidak masalah kalau bagianku diambil olehmu," ujar Urahara langsung, walaupun menatap enggan pada sosok saingannya itu.
Mayuri hanya terdiam dan tersenyum lebar yang mengandung banyak arti. Ichigo sedikit bergidik melihat ilmuwan itu, yang tertawa kecil sambil berjalan ke luar ruangan. Sumber keributan sudah menghilang dari ruangan gelap itu, menyisakan Ichigo dan Urahara yang masih terdiam—menunggu Ichigo bereaksi.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Ichigo akhirnya, kembali duduk di kursinya, bersandar nyaman.
Urahara berdeham melegakan tenggorokannya, dan menyingkirkan kipas lipatnya yang menghalangi wajahnya. Ichigo sedikit terkejut melihat raut wajah Urahara yang berubah serius. Jarang sekali pria-yang-terlalu-santai itu menunjukkan keseriusannya di hadapan anggota lainnya. Kecuali bila menyangkut masalah serius, dalam hal ini adalah misinya.
"Ada apa?"
"Bisakah kau merahasiakan hal ini? Terutama dari Rukia-san?" tanya Urahara.
Ichigo merasakan sesuatu yang tiba-tiba mengganjal di dadanya. Sesuatu yang tidak beres dan jauh dari jangkauannya. "Tentu, bila itu yang seharusnya."
"Ini mengenai Hisana juga Byakuya," jawab Urahara, seperti sebuah pernyataan sanksi hukuman berat untuk anggota utama SSF itu. "Mereka menghilang dari Switzerland."
Mata Ichigo terbelalak lebar, dengan napasnya yang tercekat tiba-tiba di tenggorokannya. "Apa—"
"Karena itu, aku ingin kau merahasiakan hal ini dari Rukia-san, juga para anggota divisi lainnya. Melihat apa yang terjadi pada Kaien, tidak kecil kemungkinan masih ada anggota yang memihak Aizen."
"Lalu, apa yang harus kulakukan?!" gertak Ichigo, berusaha menekan emosinya yang kini bertambah banyak. "Apa yang akan dilakukan SSF? Mengamankan saksi penting seharusnya menjadi perhatian utama seluruh divisi! Bagaimana kalau mereka ditangkap oleh orang-orang Aizen, atau mungkin—"
"Yoruichi sedang menyelidiki hal ini," potong Urahara. "Kami menemukan jejak mencurigakan di rumah Byakuya, tapi kau tidak perlu khawatir. Kemungkinan Byakuya dan Hisana masih bertahan hidup di luar sana adalah di atas delapan puluh persen. Aku yakin hal itu."
"Ketua tahu akan hal ini?" Sebelah tangan Ichigo memijit pelipisnya yang mulai berdenyut.
"Ya, dia tahu. Ketua yang mengutus Yoruichi juga Soi Fong untuk menyelusuri Eropa Utara dan Barat."
"Soi Fong, pasukan khusus?" tanya Ichigo, namun tidak ada keterkejutan lebih di raut wajahnya. "Apa kau yakin mereka baik-baik saja?"
"Byakuya sedikit memberikan petunjuk untukku," jelas Urahara, memberikan sedikit harapan. "Aku percaya dia mengambil keputusan yang tepat untuk Hisana, sebelum para Espada menyakiti istrinya. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah menjaga Rukia-san. Kami di sini akan berusaha melakukan semampu yang kami bisa."
Ichigo mendesah lagi, sedikit menggeram sambil menutup matanya rapat-rapat. Berharap ini semua adalah mimpi buruk untuknya, sebelum terbangun dari tidur panjangnya.
"Baiklah," jawab Ichigo terpaksa. "Kabari aku saat kau menemukan perkembangan mengenai keberadaan mereka."
"Tentu saja," ucap Urahara tersenyum simpul. "Kalau begitu, aku pergi sekarang. Aku harus terus memantau pencarian melalui satelit 24 jam."
Dan layar komputer berubah hitam sepenuhnya, memberikan kegelapan pekat di sekitar Ichigo. Dirinya kembali merasa terpuruk, tidak bisa melakukan apapun, tidak berdaya sama sekali. Ichigo membenci hal itu sepenuhnya, di saat kekuatannya tidak bisa melindungi apapun yang berharga baginya. Termasuk gadis mungilnya—Rukia. Selama dia masih bisa mengepalkan tinjunya, Rukia tidak akan pernah dibiarkan menjauh darinya. Ya—kini dirinya bertekad kuat untuk tetap membuat gadis itu tersenyum, membahagiakannya apapun yang terjadi.
~*~(to be continued…)~*~
(..)
(..)
(..)
Author's note:
Dictionary's here:
(1) Mademoiselle: bahasa Prancis yang berarti nona
(2) Monsieur: bahasa Prancis yang berarti tuan
La fraise : bahasa Prancis yang berarti buah strawberry
(3) Petit diable: bahasa Prancis yang berarti little devil
(4) Aufgeben: bahasa Jerman yang berarti menyerah (give up)
Liebling: bahasa Jerman yang berarti darling
(5) jigsaw: tokoh fiksi yang muncul dalam film Saw.
Scene 25 is here! Semoga aku updatenya ga kelamaan ya...and hope all the reader like this chapter. Maaf mengecewakan kalian karena Hisana tiba-tiba menghilang. Dan chapter ini lebih banyak membahas perdebatan juga percakapan karakter baru. Yup, Toushirou, Matsumoto, Hisagi dan Mayuri ada di sini! Awalnya tidak berniat memunculkan Mayuri, tapi karakter unik satu ini sedikit menarik perhatianku. Sedikit hiburan saat chapternya mulai kembali serius.
Di atas dibahas soal Ichigo yang mengajar kelas bahasa, and it's true! Di fic ini Ichigo menguasai beberapa bahasa selain Jepang, dan bahasa utama yang paling dikuasainya adalah Bahasa Jerman ^^...just some trivia~
Ok, aku memilih memasukkan cemilan manis Jepang yang dijual di berbagai negara, termasuk di sini. Pocky! Kalian bisa mencarinya di supermarket/minimarket terdekat, kok. Walaupun yang Rukia makan itu (Pocky Pumpkin) belum pernah aku lihat dijual di sini sebelumnya. Dan KitKat Rilakkuma! Ga sengaja aku lihat gambarnya di internet dan langsung kepincet sama kemasannya ^^ Ada yang pernah coba?
Oya, hubungan Ichigo dan Rangiku hanya sebatas teman, kok. Rangiku melihat Ichigo lebih kepada sosok adik atau junior nya, ga lebih ^^ Rangiku salah satu yang percaya (di dalam SSF) kalau Ichigo itu masih normal, alias tidak gay.
Perdebatan Ichigo dan Rukia mengenai 'takdir' dan semacamnya di atas, diambil dari Movie ketiga Bleach. Yup! It's Fade to Black!
Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
IchiRuki4ever: Terima kasih untuk reviewnya! Ini sudah kulanjut, semoga kamu suka ya...
darries: Makasih untuk reviewnya! Ow, kurang menjelaskan ya percakapan Chad dan Jackie? Gomen TAT... Tapi singkatnya tuh mereka ga mau denger penjelasan Ichigo, malah lebih memihak Ginjou yang terbukti bersalah, seperti yang ada di manga nya kok ^^ Iya nih, Hisana belum sadar juga, dan sekarang dia menghilang sama Byakuya..hehe... Yup, hubungan Ichiruki semakin jelas sekarang :D Ini sudah kuupdate, semoga kamu suka ya...
An lee: Terima kasih untuk reviewnya! Hihihi...ini sudah kuupdate, terima kasih ya untuk semangatnya ^^ Salam kenal juga!
Snow: Terima kasih untuk reviewnya! Hihihhi...Ichigo di sini memang terlalu protektif, syukurlah kamu suka ^^
MR. KRabs: Makasih untuk reviewnya! Yup, sekarang mereka pindah ke Kyoto..hehe.. Byakuya dan Hisana masih belum bisa dimunculin dan mereka menghilang tiba-tiba..gomen ne TAT... Aizen akan segera bergerak kok, lagi nunggu waktu yang tepat. Nanti dia bakal muncul di dua chapter lagi. Soal pernikahan Aizen dan Rukia bakal terungkap di chapter selanjutnya..hehe.. you're welcome~
Thanks for my playlist (jika mau mendengarkan selama membaca fic ini ^^;) :
Gabrielle Aplin: The Power of Love, Home
Imagine Dragons: Radioactive, Bleeding Out, Demon, Ready Aim Fire
Florence and the Machine: Breath of Life
Macklemore and Ryan Lewis feat Ray Dalton: Can't Hold Us
Lee Hi: Rose
Block B: Very Good
Tae Yang: Ringa Linga
POP ETC: Speak Up
Of course these songs not belong to me! XD
