Disclaimer: Saint Seiya dan sebagainya adalah kepemilikan Masami Kurumada. Tulisan ini hanya dibuat berdasarkan kesenangan akan Saint Seiya semata dan tidak menghasilkan uang sepeser pun.

Chapter 25

Sejak Persephone mengutuk Minthe menjadi sebuah tanaman, Hades makin mengurung diri. Yang dilakukannya hanya membaca buku di perpustakaan. Selebihnya ia selalu ada di dalam kamar. Shok karena pertama kali kehilangan orang pertama yang ia cintai teramat besar hingga ia tak sanggup untuk bicara kepada siapapun. Setiap kali ia hendak membuka mulutnya, Hades tak tahu lagi harus berkata apa.

Setelah mengutuk Minthe, Persephone nampak senang—terpancar dari wajah putihnya. Hades hanya diam melihat tingkah laku istrinya. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa wanita itu senang. Hades tak tahu apakah istrinya itu senang karena bisa membuatnya menderita ataukah senang lantaran salah satu selingkuhannya sudah lenyap. Yang manapun pilihannya, Hades hanya bisa menghela nafas. Ia sadar jika dirinya tak bisa melawan Persephone, istrinya sendiri, padahal ia lebih kuat dan lebih superior serta lebih berkuasa dari wanita itu—namun ia tak bisa apa-apa.

Pria itu menghela nafas tak kentara. Di tangan pucatnya tergenggam sebuah kotak berwarna merah marun—sebuah kalung. Hades hendak meminta maaf pada istrinya atas apa yang sudah terjadi. Dia tahu bahwa sudah terlambat untuk meminta maaf, namun tak ada salahnya mencoba daripada terus melihat wajah cemberut sang istri.

Hades berhenti di depan pintu kamar Persephone. Wanita itu lari ke kamarnya sendiri setelah memergoki suaminya selingkuh. Tangan Hades berjalan ke pintu, hendak mengetuk namun urung. Sudah berapa hari setelah kejadian itu? Enam hari? Satu minggu lebih? Apa waktu sepanjang itu cukup untuk membuat pikiran istrinya tenang?

Lebih baik ia membuka pintu perlahan dan menghampiri istrinya dengan cara yang sama pula. Takutnya Persephone akan bertindak kekanak-kanakan jika Hades mengetuk pintunya.

Laki-laki itu membuka pintu nyaris tanpa suara, seperti hantu. Mata hijaunya mengintip ke dalam ruangan, mencari Persephone.

Hades menghela nafas dalam hati. Ia belum menyiapkan kata-kata permintaan maaf. Bagaimana ia akan memulai proposal maafnya?

Gerakan pintu mendadak berhenti. Walau pintu tersebut hanya terbuka sangat sedikit, Hades sudah menghentikannya. Tatapan matanya kini berubah datar seperti biasanya. Dia menutup pintu kamar itu sama seperti ketika membukanya dan berjalan pergi.

Wajahnya datar, begitu datar.

Dan hampa emosi.

Hades berhenti di depan tempat sampah. Ia melihat kotak kalung yang ia bawa untuk Persephone. Tanpa menunggu, Hades langsung membuang kotak itu ke tempat sampah bersama dengan rasa perih di hatinya.


"Kau yakin semua akan baik-baik saja?" Hyoga melihati Shun yang sedang berduaan di kamar dari balik rumput. Ia menyeruput cokelat panas dan memasang teropong di matanya. Seiya yang memakai jaket tebal ala Eskimo ada di sebelah Hyoga, sedang mengunyah keripik kentang yang mereka bawa.

"Kurasa." Jawab Seiya yang menyipitkan mata karena jarak mereka yang jauh. "Mereka berdua nampak bahagia."

"Aku tahu itu." Hyoga melihat Shun lekat-lekat. "Aku takut Shun hanya menganggapnya sebagai pelarian."

"Siapapun yang merasakan sakit hati yang mendalam tidak akan sembuh semudah itu." Hyoga menyeruput cokelat panasnya. Gelembung salju yang menelpel di hidungnya ia tiup dengan sebal.

Seiya masih melihati Shun. Si Andromeda sedang tertawa melihat film lucu bersama si June. "Melupakan kekasih yang pergi dengan pria lain itu tidak mudah."

Hyoga menghela nafas dan membenarkan apa yang dikatakan Seiya. Terkadang omongan nocah super hiperaktif itu ada benarnya juga. "Ya. Apalagi dia tahu siapa pria itu."

"Kau benar, Hyoga." Seiya menyeruput minumannya.

Mereka jua tak menyangka bahwa orang yang merebut calon kekasih Shun adalah Hades, sang Dewa Underworld itu. Tak menyangkanya karena mereka tahu Hades tak bisa mencintai dan tak tahu arti kata cinta. Hades yang mereka kenal adalah Hades yang angkuh, masa bodoh dan kejam. Mana mungkin dia bisa mendapatkan wanita anggun nan inosen seperti Kore. Tapi kenyataan bicara sebaliknya.

Kini Kore menyandang gelar Ratu Underworld. Kenyataan itu begitu mengejutkan sehingga tak dapat dipercaya.


Hades berjalan ke depan rak buku, mencari-cari buku yang belum ia baca. Tiba-tiba pandangan matanya langsung gelap. Laki-laki itu mendengar tawa seorang wanita di belakang.

"Tebak siapa?"

Hades menghela nafas dengan diam. Betapa bodohnya...

Ketika Hades tidak menjawab, Persephone memiringkan kepala. Dia heran. Tangan mungilnya lari dari mata Hades.

"Kenapa? Ada yang aneh? Kenapa kau diam saja?"

Hades berbalik badan lalu memandang istrinya dengan diam. Dia nampak senang.

Ya, sangat senang.

"Kenapa? Ada yang aneh pada wajahku?"

Hades kembali menghela nafas dan duduk bersandar di kursi malas. Ia membuka buku yang ada di meja dan membacanya. Istrinya membungkuk dan melihati wajah Hades, tak sabaran. "Kau ingin bilang apa tadi?"

"Tidak." Hanya itu jawabannya.

Persephone menggoyang-goyangkan tangan Hades. Tingkahnya seperti seorang anak kecil. "Ayolah! Kau ingin bilang apa tadi? Beri tahu aku!"

Dia menghela nafas lagi. Istrinya terlalu gembira. Tentu saja. Wanita mana yang tidak senang akan kehadiran pria tampan berambut pirang dan bermata biru di ranjangnya? Ketika melihat hal itu, ekspresi Hades hanya datar. Dia tak tahu harus memasang mimik wajah yang seperti apa dan juga tak tahu harus berlaku seperti apa karena ia tak pernah melihat seseorang yang ia cintai bersama dengan orang lain. Hades tak punya orang yang ia cintai.

Kecuali ibunya, tentu.

Ketika melihat mereka berdua saja di ranjang itu, kata-kata yang terukir dalam hati Hades hanya,

"Oh."

Hanya itu. Hanya sebuah 'oh' simpel tak bernada, tapi melekat erat.

"Bisakah kau diam?!" Hades menarik tangannya dari Persephone. Ia benci wanita yang cerewet.

Hades menarik nafas lega dalam diam karena Persephone langsung membungkam bibir setelah ia bentak. Bibir pria itu tertarik ke atas sedikit, tersenyum antara ada dan tiada. Begini baru bagus. Akhirnya ia bisa membaca dengan tenang.

"Buku itu lebih penting dari segala-galanya?" cemooh Persephone. Hades berhenti membaca dan melihatnya sebentar lalu menjawab dengan nada datar.

"Tidak, tapi buku ini lebih penting darimu."

Tamparan Persephone berhasil Hades cegah dengan cara memegang tangannya.

"Lepas." Ucap wanita itu, berusaha menarik tangannya.

Hades hanya melihati Persephone dengan tatapan blank. Pelan-pelan, ia melepaskan tangan Persephone dan kembali membaca. Keceriaan wanita itu mulai memudar.

"Nymph bodoh itu masih ada di pikiranmu rupanya."

Hening.

"Jawab aku, Hades!" Persephone menggebrak meja dengan keras, namun tidak juga membuat Hades tergugah untuk menjawab. Hades hanya diam.

"Oh..." hina Persephone. "Pura-pura tidak mendengar rupanya."

Hades meremas bukunya. Bisakah wanita ini tidak mengganggu acara membacanya sekali saja?

"Jawab aku!" pinta Persephone. "Kau lebih mementingkan dia daripada aku, kan?! Ketika kuajak kau bicara, dia selalu ada di pikiranmu! Di manapun dan kapanpun dia yang selalu ada di pikiran licikmu itu! Bukan aku, kan?! Bukan aku, kan, yang ada di pikiranmu?!"

Brengsek. Perempuan ini sudah membuka lebar-lebar luka hati Hades yang mati-matian ia pendam. Pria itu kembali ingat hari terakhirnya bersama Minthe. Memori-memori kenangan tentang Minthe pun kembali berputar dalam ingatan Hades.

"Kau tidak menjawab karena itu benar, kan?! Kau sama saja dengan saudara-saudaramu itu! Kalian semua memang gigolo! "

Hades langsung membanting bukunya ke meja, membuat Persephone menjerit kaget. Wajah Hades begitu kejam.

"Diam."

"Nah, kau memang memikirkannya!" ulang Persephone. "Aku adalah istrimu, Hades! Kau tak pernah sedikitpun memikirkan aku, tapi kau memikirkan wanita asing itu! Aku adalah seorang dewi dan dia... dia hanya seorang Nymph!"

Persephone langsung menerima tamparan Hades bulat-bulat. Perempuan itu menjerit kesakitan dan tersungkur ke belakang. Dipegangnya pipi kiri yang panas dan makin deraslah air matanya.

Mimik wajah Hades masih tetap, tapi pandangan matanya yang hampa emosi kini berubah jijik pada Persephone. Perempuan itu menangis tersedu-sedu dan berteriak serak, "Kenapa kau selalu melakukan ini padaku?! Apa salahku?! Apa...?!"

Jika seseorang bertanya kepada Hades seberapa benci ia pada istrinya, maka Hades akan menjawab 'sangat benci'. Begitu benci sampai ia tak bisa mengukurnya lagi.

"Kuberitahu padamu, Persephone." Nada suara Hades begitu dingin. Karena takut, Persephone mendongak ke atas, melihat suaminya.

"Orang yang pertama kali memperkenalkan aku pada cinta adalah kau." Hades memejamkan matanya sebentar lalu membukanya. Dia kembali duduk dan membaca, "Namun, yang mengajarkan aku arti cinta itu adalah Minthe."

Persephone menggigit bibirnya dan menampar pipi Hades.

"Itulah yang tak kusuka darimu! Kenapa harus wanita lain?! Kau tak pernah mengerti apa yang kumau dan tak pernah memperlakukanku dengan lembut! Kau sebenarnya menginginkan apa—istri atau binatang buas?!"

Hades langsung berdiri dan melirik Persephone dari ujung matanya. Pandangan mata Hades begitu kejam.

"Inilah yang harus kita bicarakan, Persephone." Hades langsung mendorong Persephone ke tembok dan memojokkannya. "Apa sebenarnya maumu?"

Persephone tak bisa menahan air matanya lagi. Hades begitu menakutkan...

Bukannya bersimpatik dan melepaskan istrinya, Hades malah menyeringai kejam. "Tak pernah mengerti apa yang kau mau, eh? Kau saja yang bisu karena tak bisa bicara apa yang kau mau. Bicara padaku, dan aku akan memberikan semuanya padamu, Persephone."

"Hentikan...!"

"Apa?" seringai Hades makin lebar. "Kau bicara apa?"

Persephone menelan ludah dan membentak. "Hentikan semua ini! Tidakkah kau tahu aku takut padamu...!?"

"Tidak. Aku tak mengerti."

"Itulah yang aku tak suka darimu! Kau terlalu keji! Kau terlalu bengis sampai kau tak tahu penderitaan istrimu sendiri!"

"Nah, itulah masalahnya, dasar anak labil!" balas Hades. Dia menujuk istrinya dengan kasar. "Kau tak pernah berkata apapun padaku! Setiap kutanya 'ada apa' kau selalu menjawab 'tidak ada'! Itu yang kau bilang 'tak tahu penderitaanku'?!"

"Siapa yang kau bilang anak labil?!" Persephone berhenti sejenak untuk menghapus air mata. "Kau yang tiba-tiba menjauh dariku! Aku tak tahu apa salahku dan tiba-tiba kau bertingkah dingin padaku!"

Raut wajah Hades makin suram dan penuh amarah. "Dengar, bocah. Apa kau dulu mencintaiku? Tidak! Kau menyayangiku? Tidak! Apakah kau peduli padaku? Tidak! Untuk apa aku mengejar cinta dari seseorang yang bahkan membenciku sampai ke liang kuburnya?! Kau sendiri sudah punya laki-laki itu di ranjangmu!"

Persephone menarik nafas terkejut. Ia kaget karena baru pertama kali kepergok sedang berduaan dengan Adonis. Persephone, ada saja alasan yang dipakai, menunjuk Hades dengan frustasi. "Jika kau dulu mencintaiku, kenapa kau tidak berjuang mendapatkan cintaku?!"

"Apakah kau juga berjuang mendapatkan benda yang kau katakan cinta itu, bocah?!" Hades balik membentak. Ia membiarkan Persephone mengarahkannya ke percakapan lain. Laki-laki itu mudah saja bagi Hades untuk dilenyapkan. "Dan semua ini salah siapa?!"

"Ini semua salahmu!" tunjuk Persephone dengan seluruh egonya.

"Ini salah kita berdua, bodoh!" jawab Hades. "Sekarang berhenti membentak! Kita bicarakan masalah ini baik-baik!"

Persephone diam membisu, sesekali ia sesenggukan. Hades menjauh dari istrinya. Walaupun mereka berdua ngos-ngosan karena saling membentak, Hades pulih berkali-kali lipat dari Persephone. Laki-laki itu naik ranjang.

"Kemari, Persephone."

Lantaran takut diapa-apakan, perempuan itu masih berdiri bak patung di sana. Ia melihat Hades dengan ketidakpercayaan, menganalisanya apakah pria itu akan menamparnya atau tidak.

"Kemari."

Mendengar nada suara Hades yang lebih tegas, Persephone langsung mendekat. Dia tidak naik ranjang, melainkan duduk di pinggirnya. Punggung kecilnya menjadi tontonan bagi Hades.

"Bagaimana kita bisa bicara jika kau memunggungiku, anak sialan!"

Persephone berjengit takut dan bergegas naik ranjang dan duduk di sebelah Hades. Kedua tangannya yang terlipat dengan rapi di atas lutut sesekali bergerak-gerak, tanda ia takut dan juga gugup. Persephone tidak berani melihat suaminya.

"Apa yang kau mau?"

Persephone diam membisu, masih memainkan jemarinya. Hades menunggu lama tapi tak ada satupun kalimat keluar dari bibir Persephone.

"Apa kau tuli? Jawab aku! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?!"

"Aku mendengarmu! Jangan membentak!" air mata Persephone mulai deras. Hades melarikan tangan untuk menyapu rambut acak-acakannya, frustasi.

"Inilah yang aku tak suka dari kalian, wanita! Bukannya menjawab, malah menangis!"

Hades menghela nafas lelah ketika tahu Persephone tidak berhenti, malah makin kencang menangis. "Persephone, berhenti menangis."

Laki-laki itu langsung memeluk istri mudanya dan memangkunya. Diciumnya rambut lembut nan harum Persephone. Perempuan itu membelalakkan mata barang sebentar, kemudian membenamkan wajahnya di dada Hades—membuat bajunya basah di depan.

Hades tidak bisa berkata lembut dan memuja seseorang dengan kata-kata menawan. Dia sama sekali buta jika harus berhadapan dengan rayuan dan kalimat gombal untuk menyenangkan hati wanita. Maka dari itu, dia hanya diam membisu. Tak ada kata-kata meloncat dari bibir tipisnya ketika mengelus rambut Persephone. Dia hanya diam sambil menikmati tangisan istrinya.

Setelah bermenit-menit berselang, barulah tangisan Persephone mereda. Hades bisa bernafas lega dan mencium rambut istrinya lagi.

Persephone memandang baju suaminya yang basah. Perutnya terasa terbalik-balik. Persephone takut ditampar gara-gara membuat baju suaminya basah karena air mata.

"Maaf..."Dia mendengar Hades menghela nafas.

"Berhenti meminta maaf, Persephone."

"Tapi—"

"Berhenti meminta maaf!"

Persephone berjengit kaget, air matanya hendak keluar lagi. Hades menggaruk rambutnya. Dia menyesal karena telah membentak istrinya. "Maaf, Persephone."

Hades tak pernah mengerti kenapa ia begitu emosi ketika menghadapi istrinya. Ada saja perasaan yang menyulut kemarahannya untuk dilampiaskan ke Persephone. Dielusnya pipi mulus dewi muda itu dan diciumnya dengan hati-hati, seolah Persephone terbuat dari porselen.

Wajah Persephone kemudian memerah. Ia melihat Hades malu-malu.

"Ayo... jalan-jalan..."

Hades merasa salah dengar. "Apa?"

"Aku ingin jalan-jalan... denganmu..." kata-kata terakhirnya nyaris seperti bisikan.

Hades terdiam. Bukannya ketika Persephone berada di sini, di dunia sana sedang mengalami musim dingin? Sebuah musim yang kebanyakan orang memilih di dalam rumah, duduk di depan perapian. Musim dingin tak lebih dari kematian, yang ada hanyalah lingkungan penuh salju—tak ada pemandangan yang memukau. Pohon-pohon dipenuhi dengan butiran putih bernama salju dan rumput pun tertutupi akannya, begitu juga dengan bunga. Lalu jalan-jalan untuk melihat apa?

Laki-laki itu menarik nafas dalam hati. Ia baru ingat jika Persephone tak pernah tahu dunia sana ketika dirinya berada di Underworld.

"Sekarang bukan waktu yang tepat, Persephone."

Persephone memasang wajah inosen. "Kenapa?"

Hades mengutuk seleranya yang buruk. Bukan saja bodoh, cerewet dan labil, anak ini juga terlalu banyak bertanya!

"Dengar." Ucap Hades dengan nada khidmat. "Dunia sana sekarang sedang mengalami musim dingin. Kau tahu musim dingin? Musim dingin itu adalah kumpulan bulan-bulan yang penuh dengan udara dingin dan ketidakindahan. Banyak tanaman yang mati dan tidak berdaun. Lebih baik kau urungkan niatmu itu."

"Kau menjelaskannya padaku seolah aku bodoh."

Hades mendengus. "Kau memang bodoh."

Sedetik kemudian teriakan Hades terdengar di lorong, membuat Thanatos menjatuhkan roti yang digigitnya.


Seorang anak kecil yang mengenakan jaket bulu tebal tengah menyeruput cokelat panas yang baru ia beli. Ia tertawa senang karena cokelatnya manis seperti permen yang ia suka. Gadis kecil itu merogoh uang yang ia simpan di saku jaket dan tersenyum. Masih ada sisa uang untuk beli permen.

Ia berlari dengan gembira, namun ia berhenti setelah berlari beberapa meter. Mata bulatnya menangkap dua sosok manusia yang benar-benar aneh. Yang satunya sangat cantik dan satunya lagi begitu tampan namun berkulit seperti hantu. Anak kecil itu melongo melihati mereka berjalan di depannya. Mereka begitu mencolok sehingga amat mustahil untuk mengalihkan pandangan mata.

Persephone menangkupkan kedua tangan untuk menangkap salju yang turun. Gadis itu tertawa manis dan menutul benda putih aneh itu. Hades di sebelahnya hanya melihati tanpa bicara.

"Lihat! Lihat!" ujarnya sambil memperlihatkan benda putih kepada Hades. "Bukankah benda ini lucu? Apa namanya?"

Hades memandanginya sesaat dan bergumam. "Salju."

"Salju?" ulang Persephone dengan keluguan tiada akhir. "Nama yang lucu."

Ditiupnya salju mungil itu dan tertawalah dia. Hades hanya bisa menghela nafas sambil mengamati tingkah laku istri mudanya. Persephone menarik lengan bajunya, mencari perhatian.

"Hm?"

"Ayo kita ke rumah ibu."

Hades merasa ia dihantam oleh batu. Ke rumah Demeter? Yang benar saja!

"Ayo, ayo!" Persephone menggandeng tangan Hades.

"Untuk apa kita ke sana?" Hades tak ingin bertemu dengan Demeter. Hubungan mereka berdua bagai minyak dan air setelah kehidupan Persephone dibagi dua—antara Hades dan Demeter. Sikap Demeter selalu buruk padanya dan Hades tak suka itu. Ke rumah orang itu pastilah akan membawa malapetaka saja!

"Kita sudah keluar dan berjalan-jalan, jadi sekalian saja."

"Tapi..."

Hades tahu ia bisa menarik Persephone ke arah yang diinginkan—menjauh dari kediaman Demeter—namun badannya tak bisa bergerak. Mata hijaunya hanya melihati istrinya dari belakang, lalu kedua mata indah itu beranjak ke tangan mereka berdua yang saling terikat satu sama lain.

Tanpa Hades sadari, ia tesenyum.

Ia tak ingin melepas tangan lembut istrinya.


Persephone sudah pergi dari kehidupannya. Anak semata wayangnya sudah hilang lenyap. Gadis sucinya pergi ke tempat mengerikan dan menjijikkan bernama Underworld dan tak kan kembali selama enam bulan ke depan. Demeter meremas gagang kayu panci yang sedang ia panasi dengan penuh amarah.

Bagaimana Demeter bisa santai mengingat anak semata wayangnya itu sedang ada di tempat penuh maksiat. Pasti sekarang Persephone sedang diapa-apakan oleh si brengsek Hades itu! Demeter ingin sekali menyelamatkan Persephone dari dunia hitam itu, tapi ia tak bisa melakukannya.

"Ya, sebentar." Ucapnya ketika mendengar ada yang mengetuk pintu. Demeter mengecilkan api dan bergegas ke pintu. Rambut gandum panjangnya yang diikat melambai-lambai dengan indah.

Siapa yang kira-kira ada di balik pintu itu? Demeter heran karena jarang ada orang yang menemuinya. Demeter membuka pintu itu dan kaget bukan main melihat seorang wanita cantik berbalut pakaian tebal yang anggun. Syal peach menghalangi sebagian wajahnya, namun Demeter tahu siapa wanita itu.

"Kore?"

Persephone tersenyum dan memeluk ibunya. "Aku rindu pada ibu."

"Bagaimana kau bisa ada di sini, Kore?" Demeter mengelus rambut anaknya. "Bukankah kau bersama—Hades!" dia berteriak ketika tahu ada seseorang lagi di belakang anaknya.

Karena insting ibu, Demeter langsung memeluk anaknya dan menjauh dari Hades. "Mau apa kau di sini?! Pergi! Pergi!"

"Bu, Hades mengantarkan aku kemari."

"Jangan membelanya, Kore! Ibu tahu kau diancam, kan? Jangan khawatir, Ibu ada di sini. Kau bisa bicara yang sebenarnya."

Persephone melepas pelukan ibunya. "Bu, aku tidak diancam olehnya. Sungguh. Kami kemari karena kebetulan saja."

Setelah mendengar penjelasan anaknya, mimik wajah Demeter berubah sedih. "Oh, begitu rupanya..."

Untuk mencerahkan suasana yang suram, Persephone masuk ke dalam rumah diikuti Hades. mulanya Demeter enggan untuk membuka pintu untuk pria itu, akan tetapi melihat anaknya yang nampak senang, akhirnya Demeter menyerah.

"Ibu, airnya sudah matang. Kumatikan, ya?" Persephone mematikan api lalu melepas mantelnya. Hades hanya diam dan duduk di sofa setelah melepas mantel tebalnya. Demeter menutup pintu dan mendekati mereka berdua.

"Kalian ingin minum apa?" tanya wanita itu dengan canggung.

"Tidak usah, Bu. Hanya saja..." Persephone tersenyum lelah. "Kami berdua jalan kemari tadi. Boleh aku tidur...?"

Mata Demeter membelalak. "Jalan?! Jalan kaki?! Astaga, Kore!"

"Anakmu baik-baik saja, Demeter. Jika dia mati, pasti kau akan tahu."

"Kau makhluk terkutuk!"

"Bu... aku istirahat dulu." Persephone naik tangga. "Kore, sayang?" panggil Demeter.

Persephone melihat ibunya yang berwajah khawatir. "Perlu bantuan? Ibu bisa menuntunmu jika kau mau. Ibu takut kau jatuh di tengah jalan." Hades memutar mata mendengar kata-kata itu.

Anak semata wayangnya tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan beranjak pergi. Demeter jadi heran sendiri. Sejak kapan Kore mulai tidak menjawab pertanyaannya? Lamunannya dibuyarkan ketika tahu ke mana Hades pergi.

"Kenapa kau naik tangga?!"

Hades berhenti dan melihat Demeter dari balik bahu. "Tidur."

Mulut Demeter terbuka, hendak melarang, tapi suaranya tidak keluar. Kore anaknya sudah punya suami dan merupakan hal yang wajar jika mereka...

Demeter memprediksi bahwa dirinya tak kan bisa tidur nyenyak hari ini.


Baru Persephone memejamkan mata, pintu kamarnya diketuk. Wanita itu menggerutu dan menendang selimut. Pasti itu ibunya! Sudah dibilang ia tak perlu apa-apa, malah kemari! Sambil menggerutu, Persephone membuka pintu kamar. Ia sudah siap dengan segala alasan.

"Boleh aku tidur?" sosok Hades mengagetkannya. Tanpa basa-basi dibukanya pintu.

"Kupikir kau ibu." Ucap Persephone dengan nada mengantuk.

"Hmph." Hanya itu yang Hades katakan.

Istrinya menguap dan kembali naik ranjang. Tanpa berselimut, dia langsung tertidur pulas, membuat Hades heran setengah mati. Mata hijau Hades mengamati wajah Persephone dengan seksama.

Tangan Hades memegang dadanya. Hangat. Ada sesuatu yang hangat di dada Hades dan kini menyebar ke seluruh tubuhnya. Cinta?

Perlahan tapi pasti, jemari Hades memegang tangan lentik istrinya. Diraba dan dielusnya tangan lembut itu sambil melihat wajah Persephone yang tertidur. Dengan lembut, bibir Hades bersarang di dahi dewi musim semi.

Aku akan selalu di sisimu, Persephone... Janji Hades pada dirinya sendiri.

Selalu.

Maaf, baru update soalnya minggu ini full uas, jd g sempet update. Ngotot belajar grammar, tapi soalnya abc-an. G jadi stres, deh. Mukakaka! Sekali lagi, maaf untuk keterlambatan update!