Author by : Itami Shinjiru
Disclaimer of : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody" dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson and The Olympians
Notes : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.
Warnings : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara
Main Pairs : NaruPara
Slight Pairs : KuraDeme, MinaKushi, ShikaTema, KakaPaku, ObiRin & NagaKonan
Genres : Fantasy, Adventure, Friendship, Action, Romance
Author's Note :
.
.
.
Akhirnya.
JUMPA KEMBALI DI CHAPTER TERAKHIR, READERS!
Pepatah mengatakan seorang penulis takkan berarti tanpa pembaca, jadi saya haturkan terimakasih yang sebanyak-banyak dan setulus-tulusnya pada tiap golongan dan lapisan masyarakat –BUAGH, yang telah setia membaca fic ini, baik itu slient reader atau sebagai-sebagainya! Saya tidak berarti tanpa kalian semua! I just say: You are great. Berkat kalian-lah fic ini dapat terus bergerilya hingga final chapternya, pertempuran pamungkas antara tiga tokoh utama baik protagonis dan antagonis, mempertaruhkan nasib dunia beserta isinya.
Apakah cerita ini happy ending atau malah sebaliknya? Akankah ada death chara lagi?
Don't think, just read! And there are big surprise waiting for you all!
Enjoy read the last chapter of this fic!
-Itami Shinjiru-
.
.
.
.
.
.
.
.
Perang Dunia Naga Keempat telah memasuki tahap akhir ...
.
Ardhalea sang Paradox beserta pengendara sejatinya,Uzumaki Naruto, telah bertatap muka dengan elemen terjahat dari yang terjahat ...
.
Ragu dan bimbang telah sirna. Sebuah keputusan kan akhiri segalanya ...
.
Apakah kebajikan dan kearifan kan selamanya menang melawan kejahatan dan keserakahan?
.
Dan jika demikian, akankah ada batas?
.
Oh, dunia tlah bergejolak sejak lama ...
.
Karena terombang-ambing diantara dua kekuatan yang terus bersaing menjadi penguasa haluan ...
.
Sekarang. Atau tidak selamanya ...
.
PARADOX
パラドックス
The Final Chapter:
Something Behind the Wings
.
.
.
.
JIKA ADA YANG LEBIH BURUK daripada gunung berapi yang meletus diiringi gempa bumi tektonik dahsyat, topan dan kilat yang tak henti-henti, dan jatuhan meteorit langsung dari angkasa, itu adalah Laramidia.
Begitu lusinan batu-batu langit sebesar bus berwarna hitam keabu-abuan berbentuk acak dan berpermukaan pori-pori seperti spons meluncur dari angkasa, menembus awan gelap yang mencambuk daratan dengan kilatan-kilatan beraneka warna yang dapat menggosongkan gedung dengan kobaran lidah api, aku tahu kiamat kecil-kecilan akan segera dimulai.
Tonjolan-tonjolan merekah dan tumbuh, dari puluhan berkembang menjadi ratusan meter, menghiasi sekeliling pohon raksasa Shinjuu. Letupan lava bersuhu ribuan derajat muncrat dari puncak gunung, bagaikan kembang api abadi yang disulut tiba-tiba, menjatuhkan lapili dan bom vulkanik ke sembarang arah. Setidaknya delapan tornado, angin berkecepatan ratusan kilometer perjam berbentuk seperti contong es krim yang dipilin, dengan warna hitam legam, menyedot apa saja yang ada di tanah seperti vacuum cleaner super, melontarkan hampir semua benda ke langit. Tornado biasanya hanya menyebabkan kerusakan di sekitar jalurnya saja –yang berarti jauh lebih sempit daripada topan atau angin hurikan, tapi yang ini beda. Bahkan dari jarak beberapa ratus meter pun, suara raungan mereka begitu luar biasa, mengalirkan energi angin yang begitu hebat ke segala arah dan menggores semua yang ada. Aku dan Ardhalea nyaris tidak bisa maju.
Kening Laramidia berkerut, yang mengingatkanku saat masih bersekolah di akademi ketika berusaha keras mencari pintasan untuk memperoleh jawaban saat ulangan matematika. Mungkin dia sedang mengkalkulasikan kecepatan angin, volume lava, atau apa?
"Melepaskan kekuatan alam sedemikian besar seperti ini...bahkan lebih hebat daripada teknik Tenpenchin milik Datara," keluh Ardhalea, menutupi matanya dengan punggung tangan. "Dia takkan bisa menahannya begitu lama."
"Kecuali kalau ayah dan ibuku berpihak padaku, hmm?" Balas Laramidia terkekeh. Mengagumkan mengingat desiran angin di sekeliling kami begitu kencang, tapi dia masih bisa mendengar suara kami. "Aku akan lumatkan kalian jadi butiran-butiran!"
Ia menghentakkan kaki kirinya. Tanah terbelah, dan ratusan galon cairan cokelat pekat membuncah dari retakan, mengguyur ke arah kami dengan begitu deras dan berisik seperti banjir bandang. Tapi dari bau dan penampilannya...itu bukan air.
"Lahar dingin," desisku. Ardhalea mengangguk. Ribuan liter lahar dingin mengejar kami dalam bentuk gelombang raksasa yang lebih dari cukup untuk menelan sebuah rumah.
"Kau ingat pembelajaran pertama kita, Naruto?" Selidik Ardhalea.
"Terbang? Kita akan disambar petir di langit!" Tukasku. Dia menggeleng.
"Sesuatu soal selancar."
Aku melongo, tapi kemudian mengangguk. "Oh...iya. Aku ingat soal itu. Itu bisa dipraktekkan di benda cair juga?"
"Selama itu bukan sepenuhnya air," balas Ardhalea tenang. "Caranya sama, tapi sedikit tambahkan chakra api dan air pada kasus ini. Mulai!" Dia melakukan selancar perdana tanpa memberi aba-aba, langsung melompat begitu gelombang pertama setinggi tiga meter menerjang, dan berhasil berdiri dan berseluncur diatas lahar dingin semudah atlit seluncur es profesional. Aku mengikutinya, dan tidak sesulit bayanganku.
Laramidia bertepuk tangan lima kali. "Gila kalian. Kukira hanya aku satu-satunya di dunia yang menguasai teknik ini!" Dia berseru dan turut berselancar juga, menghunus Taiyotsuki no Tsurugi, anggar, dan sayap tulangnya mencuatkan dua belas pedang tulang, masing-masing sepanjang setengah meter.
Aku menembakkan Goudama kuning Pyrus sepuluh kali, berusaha mati-matian mengenai Laramidia, tapi dia gesit minta ampun. Ledakan itu hanya dianggap angin lalu, dan dia meluncur ke arahku dengan kecepatan jetski. Menghunus anggarnya, aku menahannya dengan Nunboko no Tsurugi yang masih berwujud pedang obsidian hitam. Memanfaatkan jarak, aku menembakkan Goudama hijau. Laramidia segera dibelit lusinan akar hidup yang menyerap chakranya, mengangkatnya tinggi dari deruan lahar dingin dan meremasnya, tapi pedang-pedang di sayapnya menyayat akar-akar tersebut secepat akar itu tumbuh. Kubalas dengan Goudama merah, yang membuat tiang akar setinggi sepuluh meter itu langsung terbakar, tapi Laramidia memadamkannya dengan lahar dingin dan turun, membentuk tiga tornado lahar dingin yang siap menghunjamku.
DRAAKK! Ardhalea menaungiku dengan golem berbentuk naga. Tiga pusaran lahar dingin menghantam cangkangnya dan tidak menimbulkan kerusakan apapun, tapi Laramidia menghancurkan golem itu dengan sekali sabet dengan Taiyotsuki no Tsurugi. Aku melakukan handseal Doton secepat yang kubisa, membuat cekungan yang lebar dan dalam di bawah kami. Seluruh lahar dingin terisap bagai digelontor masuk ke toilet, dan Laramidia berubah ke bentuk naganya. Ia menganga lebar sekali sampai-sampai pembatas rahang atas-bawahnya sobek, dan mengumpulkan cahaya putih berpinggir merah.
"Itu mirip Ryuudama," tukas Hermes. "Hati-hati! Gunakan saja kecepatanku!"
"Lebih baik menghindar daripada bertahan," saran Pyrus. "Lari saja ketika dia menembak. Mungkin takkan beda dengan Juubi."
Begitu cahaya bulat terkumpul cukup, Laramidia menutup mulutnya. Pipinya berkeriut dan mengembang, dan dia membuka mulut hanya dua detik kemudian, melepaskan energi yang begitu hebat seperti tembakan laser, hanya saja seribu kali lebih kuat. Sebelum aku sempat berbuat apa-apa, Ardhalea merengsek ke depanku dan menahan kanon cahaya itu dengan pedangnya, membuatnya terdorong beberapa puluh meter ke belakang dalam posisi bertahan.
Dia akhirnya bisa mempertahankan posisi, tapi Laramidia justru makin bernafsu menyerang. Kumanfaatkan kesempatan itu untuk terbang secepatnya ke samping, membentuk Rasenshuriken, tapi begitu jutsu elemen angin itu sudah siap, Laramidia mengalihkan serangannya ke arahku.
Masa bodoh, kulakukan sesuatu yang sama dengan yang dilakukan Ardhalea –menahan semburan energi itu dengan pedangku. Tapi aku tidak sekuat perkiraanku, dan malah terdorong cepat ke belakang, sedangkan sinar-sinar itu memecah sebagian, melukai lengan, perut, dan bahuku. Kulempar Rasenshuriken tegak lurus ke langit, menembus awan, dan menahan pedangku dengan dua tangan. Untunglah Laramidia mulai kehabisan energi, dan semburan laser gila-gilaan itu mengecil hingga hilang samasekali. Sebelum ia sempat membuat kami kerepotan lagi, Ardhalea mencincang ke depan, memotong lima kuku panjang nan tajamnya sekaligus dan menendangnya hingga merengsek membentur sebuah pohon.
Aku terbang dengan kekuatan Hermes ke langit, dan kembali dengan sebuah cakram biru raksasa di tangan.
"Rasenshuriken takkan hilang sebelum mengenai target," ucapku. "Dan targetku bukanlah langit!"
Kulempar jurus itu. Laramidia membuka 'mulut' dadanya, menampakkan gigi-gigi runcing seperti kait yang menyembul. Gerakan yang tidak asing, dia bermaksud menyerap chakra dari Rasenshuriken.
"Cih. Aku takkan jatuh ke perangkap yang sama dua kali," gumamku sendiri. Kulempar sebilah Hiraishin Kunai tepat pada sasaran, langsung ke inti angin Rasenshuriken, dan melakukan handseal cepat.
Jutsu itu berpindah lagi ke tanganku, keseluruhan kekuatannya tertarik kembali sebelum sempat diisap sedikitpun. Dan...Hiraishin Kunai-nya masih disana. Aku melakukan Shunshin sekali lagi, dan dalam waktu kurang dari sedetik, piringan chakra bertepi tajam ini mulai mengiris leher Laramidia dari jarak yang begitu dekat hingga mustahil dihindari, memborbardir sel-sel tubuhnya dengan jutaan jarum angin yang menghasilkan efek mengerikan. Beberapa armornya terburai lepas dan Laramidia terempas menubruk batang Shinjuu dengan hantaman chakra Rasenshuriken yang ikut mencacah batangnya.
"Hajar dia dengan membabi-buta!" Pekik Styx. "Jangan sisakan celah bagi musuh untuk menyerang! Kau pikir kekuatan kami perlu diisi ulang, he? Chakra dari delapan naga dewa masih banyak! Kau baru menggunakan sepersepuluhnya, tahu!"
Aku tertawa kecil. "Sengaja kusimpan untuk yang beginian. Apa menurutmu itu strategi buruk?"
"Dalam beberapa hal, iya," balas Styx tak sabar. "Sudahlah, bicarakan itu setelah kita menang nanti."
"Apiku, Naruto," desak Droconos jengah, "aku sudah mengumpulkan banyak chakra selama enam belas tahun terkurung di altar. Jangan disia-siakan!"
Aku mengangguk. Menangkupkan kedua tangan, dan dari sana, melejit cepat panah api berwarna ungu muda dengan sedikit semburat merah jambu, langsung berkobar melalap batang bawah Shinjuu, melingkar membentuk cincin, dan berusaha menghanguskan bagian terluar pohon sialan itu.
Tahu-tahu, Laramidia melesat dari tempatnya semula, menggeram marah. Ia mewujud menjadi manusia bersayap dan berusaha menerjangku, tidak mulus karena anggarnya ditepis oleh pedang Ardhalea. Mereka mendarat di pokok Shinjuu dengan posisi vertikal, layaknya bertarung di dinding. Menyabet dan menusuk, bertarung gila-gilaan ditengah kericuhan alam. Bencana alam Laramidia agak mereda –barangkali karena dia tidak mau melukai Shinjuu, tapi dengan adanya aku disana, sama saja.
Kusalurkan kekuatan dari ketujuh naga dewa yang ada dalam tubuhku. Aku tidak bisa menyalurkan serta kekuatan Paradox –terlalu kuat dan rumit, tapi berhasil kusalurkan tujuh Etatheon ke Pedang Rikudo. Pedang hitam tajam sewarna obsidian itu diselimuti aura-aura hebat yang memancarkan energi murni, berdenyar dengan banyaknya kekuatan yang menyelubunginya, membuatnya bertambah kuat seratus kali lipat.
Terbang dengan kecepatan Beleriphon, aku menebas sekuat-kuatnya ke arah Shinjuu.
"TUMBANG!" Aku berteriak seperti orang gila.
BAAAATTSSS!
.
.
.
Berita baiknya, tebasan superku mengenai Shinjuu. Berita buruknya, cuma setengah bagian batangnya yang teriris, dan dia tidak sampai tumbang. Hanya oleng sampai miring beberapa puluh meter. Walhasil, itu cukup untuk membuat Laramidia marah besar seperti ibu-ibu yang menyadari lauk paling enaknya telah dicuri selama seminggu berturut-turut oleh seekor kucing jalanan nakal. Dan kucing jalanan nakal itu adalah ... aku.
"Aku akan mengganyangmu, Uzumaki," gerungnya.
TRAK!
Ardhalea menyerang dari samping, tapi tidak sukses. Dia hanya menggores sayap kiri Laramidia, semata-mata membuatnya lebih waspada. Aku tahu batas kekuatan pedang ini hanya sampai kira-kira lima menit lagi, itupun maksimal. Jadi kuputuskan untuk bertarung dua lawan satu, memanfaatkan jumlah kali ini.
"HI-YAH!" Aku membabat ke samping dengan Nunboko no Tsurugi. Sepertiga diameter Shinjuu teriris lagi segampang pisau memotong seledri, tapi kali ini di bagian yang sedikit lebih tinggi ke atas daripada yang tadi, jadi tidak tumbang. Kuputuskan untuk mengabaikan itu dan melempar Goudama merah dan kuning ke arah Laramidia, ledakan dan kobaran api muncul bersamaan.
Aku mendarat di batang Shinjuu secara vertikal. Tepat ketika Laramidia memancarkan tatapan membunuh ke arahku, kekuatan Etatheon yang menyelubungi pedangku lenyap.
"Maaf," desah Deavvara. "Cuma sampai situ kita bisa sinkronkan."
"Tak apa," kilahku, meski aku tidak begitu optimis bisa bertahan sepuluh menit ke depan tanpa diubah jadi daging cincang seberat enam puluh kilo.
TRANK!
Laramidia menubrukkan Taiyotsuki no Tsurugi ke arah pedangku dengan kekuatan hebat. Aku serasa ditabrak pesawat jet, tapi Ardhalea menebas ke samping, membuat goresan sepanjang sepuluh meter dan sedalam dua meter di kulit batang Shinjuu. Dia mencincang ke arah Laramidia, yang menghindar dengan menjadikan anggarnya sebagai semacam pole seperti pemain balet. Kakinya nyaris menendangku kalau saja tidak kutangkis dengan pedangku, tapi dia menjepit tanganku dengan kaki yang satunya dan memuntirku tujuh ratus dua puluh derajat hingga jatuh dari pokok Shinjuu.
Tinju Ardhalea meremukkan kulit Shinjuu seluas lapangan tenis, tapi Laramidia hanya mengelak. Aku menyadarinya begitu berhasil mendapatkan pijakan –dan juga pedangku, kembali. Area pertarungan kami sekarang adalah Pohon Dewa Shinjuu ini sendiri. Kekuatan Laramidia terlampau besar –selain kekuatan fisiknya- untuk bisa digunakan menyerang kami berdua tanpa ada resiko ikut melukai Shinjuu juga, alat utama untuk mengaktifkan Mugen Tsukuyomi. Semakin Shinjuu cedera, semakin lama waktu yang dibutuhkan bunga di puncaknya untuk mekar.
Laramidia dalam posisi bertahan. Dia hanya menyerang dengan fisik atau jutsu kecil-kecilan. Kami berjumlah dua, masing-masing sangat kuat (ehem). Seharusnya kami bisa memanfaatkan ini. Satu akan mengalihkan Laramidia guna memfokuskannya pada pertempuran medan sempit, yang satunya akan membabat Shinjuu dari akarnya –menebangnya sebelum bunganya mekar. Rencana yang cukup simpel, tapi jika kami berhasil, dunia akan terselamatkan.
Kuperkirakan kami tidak punya waktu banyak.
"Kalian memikirkan rencana yang sama denganku, kan?" Aku memastikan ketujuh Etatheon dalam tubuhku mendengar.
"Begitulah," jawab Parthenon, "tidak buruk, tapi kita harus cepat. Gunakan Pita Glepnir-ku. Itu tidak hanya bisa membelit, tepiannya setajam pedang. Kau bisa memotong mulai dari akarnya."
"Apiku lagi," susul Droconos.
Tepat saat itu, aku merasakan kedatangan dua pemilik chakra yang kuat ... dan masing-masing punya unsur serupa dalam beberapa bagian tubuhnya. Lubang dimensi terbuka seperti isapan kain, dan muncullah Obito dan Kakashi-sensei –dalam keadaan yang kira-kira sama berantakannya. Melupakan sejenak rencana awal, aku melesat ke arah Kakashi-sensei.
Rambut perak jegraknya berantakan. Ikat kepala 'Ryuu'-nya tergores. Seluruh tubuhnya bersimbah peluh, dengan masker yang seperempat sobek, rompi yang bersilang tanda X, mungkin setelah ditebas sesuatu yang tajam. Pakaiannya berantakan, koyak disana-sini, dan sepertinya dia kehabisan senjata. Tas kecil di pinggang belakangnya sudah kosong samasekali, dan sekarang dia hanya memegang sebatang kunai patah.
"Ya ampun!" Seru Kurama ketika dia dan Demetra mendarat di dekat kami. "Apa yang terjadi di dimensi yang satunya lagi?"
"Jangan khawatirkan aku," kilah Kakashi-sensei cepat. Ia bangun, tapi hanya sedetik sebelum lututnya bergetar dan ambruk lagi. Aku memegang pundaknya, menyalurkan chakra penyembuh Ardhalea dan Parthenon bersamaan.
"Naruto?" Ucap Kakashi-sensei bingung. Aku mengangguk santai.
"Kedelapan Etatheon menggabungkan kekuatan mereka dengan kekuatanku," terangku singkat. "Aku bisa mengendalikan mereka. Shakujo dan yang lainnya juga ... tapi kita hanya punya waktu maksimal lima belas menit sebelum kelopak bunga Shinjuu yang masih kuncup itu mekar," desahku.
"Ya, ya, ya ... kau sudah melampaui ayah dan gurumu ini, Naruto," Jiraya-sensei tiba-tiba mendarat, berkelotakan dengan sandal bakiaknya dan terkekeh seolah tidak ada kejadian apa-apa di sekitar situ. "Naga-naga elemen itu sudah kami bereskan. Kelima Kage dan Jendral Mifune kemungkinan besar tidak bisa datang kemari dalam waktu dekat meskipun mereka sudah mulai disembuhkan, tapi medan perang ini akan sangat tidak seimbang. Kita terdiri dari puluhan –ribuan jika dihitung bersama keseluruhan Pasukan Aliansi Dracovetth, melawan dua musuh."
"Yang teramat kuat dan jahat," imbuhku. Kakashi-sensei bangkit lagi.
"Obito!" Teriaknya. Pria berambut raven yang berdiri hanya dua belas meter di depan kami hanya mendengus kesal.
"Pembelaan hampa macam apa lagi yang akan kau katakan padaku? Kukatakan untuk yang terakhir kalinya, Kakashi ..."
.
.
.
"...tidak akan ada kata-kata yang berguna sekarang ..."
"Aku tidak membunuh Rin," Kakashi-sensei bergeming. "Aku berani bersumpah."
Obito memelototkan mata kanannya, Mangekyo Sharingan-nya menarik keluar sesuatu dari dimensi lain. Sebuah pedang, lengkap dengan sarungnya. Ia menangkapnya dengan tangan kanan dan menarik keluar sebuah katana berwarna ungu muda dengan denyar abu-abu, panjangnya kira-kira satu seperempat meter dan gagangnya dilapisi perban tebal berwarna hitam.
"Hoshino Tsurugi ... dibuat dari kristal Batu Dolomite," desis Obito. "Cuma setingkat dibawah berlian, kau tahu. Biar kita saksikan reka ulang yang telah lama kunanti-nantikan. Hari ini juga ... bersamaan dengan terwujudnya Mugen Tsukuyomi ... akan kuambil kembali mataku langsung dari rongga tulang seseorang yang pernah kuanggap sebagai teman!"
"Masa, ah," gerutu Deavvara sinis. "Hunuskan padanya Rinsei Rinne no Tsurugi, Naruto! Pedangku itu bahkan bisa disandingkan dengan berlian! Diatas langit selalu ada langit, bodoh!"
Aku menghunus Uliran Samsara. Senjata itu berdenyar dengan warna hijau pucat mengancam seperti kabut racun yang siap mencekik siapa saja yang berada dalam jangkauannya.
Obito mendecih. "Tch, pergi, Uzumaki! Ini pertarunganku dengan Kakashi!"
Aku maju selangkah, tapi Kakashi-sensei mencegat. "Aku tidak begitu paham, tapi dia benar," bisiknya. "Kau urusi Shinjuu dan Laramidia. Pengendara harus tetap bertarung bersama naganya, Naruto. Utuh tidaknya dunia ini tergantung pada kalian."
"Tapi sensei, siapa Rin itu sebenarnya? Kalian memperebutkan lonceng atau apa, sih?" Desakku.
(*dalam pelafalan Jepang, bunyi lonceng sering disebut rin).
Kakashi-sensei terdiam sejenak, membuatku menyesal sudah menanyakan itu. Barangkali ini semacam topik yang peka, sensitif dan sama-sama menyinggung perasaan mereka berdua. Tapi tolonglah, bukan berarti aku suka mencampuri urusan orang lain, tapi...
"Nohara Rin," ucap Kakashi-sensei tersendat, "dia teman satu timku dengan Obito, tergabung dalam Tim Tujuh. Dan guru sekaligus pelatih dari Tim Tujuh waktu itu adalah ayahmu, Namikaze Minato. Ketika Perang Dunia Naga ketiga berkecamuk ... kami bertugas di Iwagakure. Minato-sensei terpaksa berpisah dengan kami demi mengurusi medan perang yang lebih kacau dan rumit. Kala itu ... Rin diculik ..."
"...aku dan Obito bertengkar hebat," lanjutnya, "mementingkan misi atau teman. Kami berpisah, dan Obito menemukan tempat dimana Rin diculik. Waktu itu aku sempat menolongnya dengan mengorbankan satu mata, tapi ketika kami berhasil menyelamatkan Rin ... markas musuh diledakkan dengan sengaja. Aku nyaris tertimpa batu, tapi Obito mendorongku keluar area tumbukan. Separuh tubuhnya hancur ... dan Obito memberikan Sharingan-nya pada diriku untuk menggantikan mataku yang terluka. Semua orang mengira dia sudah mati, termasuk Rin ..."
Kata-kata Kakashi-sensei terputus di tengah. Aku bimbang, tapi anehnya, Obito bersedia melanjutkan.
"Nyatanya tidak. Aku diselamatkan oleh Uchiha Madara ... dan dia menawariku sesuatu. Sesuatu yang pada akhirnya takkan bisa kutolak."
"Dan ternyata Madara dimanfaatkan Laramidia," tabrakku, memojokkan, "dan kau tetap berada di jalanmu yang sekarang?" Geramku.
Obito mengedikkan bahu. "Ha! Bagiku tak masalah siapapun yang berusaha membangkitkan Mugen Tsukuyomi. Yang penting, tujuan kami sama. Aku tidak peduli harus bekerjasama dengan siapa, jika saja jutsu itu benar-benar bisa diaktifkan!"
"Tapi bagaimana jika Laramidia juga hanya memanfaatkanmu?" Tudingku. "Bagaimana jika kau diperalat olehnya? Laramidia telah hidup ratusan kali lebih lama daripada kau! Jauh bahkan sebelum Rikudo Sennin lahir! Apa yang akan kau lakukan jika Laramidia akhirnya memperlakukanmu seperti Madara? Menusukmu dari belakang? Berkhianat? Sungguh, aku tidak bisa membedakan siapa mengkhianati siapa disini sekarang! Kalian berdua benar-benar naif dan hipokrit!" Makiku habis-habisan.
Obito tertawa ringan. "Jika? Kau landaskan semua hal menyangkut masa depan dunia gila ini dengan dalih jika? Dengarkan aku, Naruto. Aku pasti akan kembali ke Konoha, kembali memihak Tim Tujuh dan menjadi sahabat Kakashi selamanya serta meninggalkan Madara jauh-jauh kalau saja aku tidak menyaksikan dengan satu-satunya mataku waktu itu bagaimana Kakashi membunuh Rin!"
Aku berjengit. Kakashi-sensei membunuh rekan setimnya? Rasanya itu sama anehnya dengan mendengar bahwa harimau lebih suka makan lobak.
"Itu tidak mungkin," belaku, "benar kan, Kakashi-sensei?"
"T-tentu," ucapnya tergagap. "Itu benar, Obito. Bukan aku yang melakukannya! Aku hendak menebas musuh di depan dengan Chidori ketika dia tiba-tiba berlari ke depanku dan menyerahkan dirinya sukarela gugur untuk keberhasilan misi! Untuk keselamatan desa! Untukmu!"
"OMONG KOSONG!" Bentak Obito seraya mengibas pedangnya ke depan. Angin kencang berembus menerjang kami. "KAU MELANGGAR JANJIMU!"
"Aku berusaha!" Kakashi-sensei mencoba tetap tenang, tapi rasanya pasti sulit sekali. "Aku mengatakan yang sebenar-benarnya! Rin berencana ditangkap, disandera tidak lain dan tidak bukan adalah untuk dijadikan Jinchuuriki Isobu! Satu-satunya Kaum Kolosal yang belum terbenam kembali ke Bumi setelah puluhan dekade berlalu! Iwagakure telah berencana menghancurkan Konoha untuk itu. Jika Rin sampai berhasil dijadikan Jinchuuriki dan aku membawanya pulang ke desa, Konoha akan porak-poranda begitu pihak musuh menonaktifkan segelnya!"
Obito menggeram, seolah tidak mau agrumennya dibantah dengan lancar. "Kau sendiri langsung pingsan di tempat begitu tragedi itu selesai!"
"Mangekyo Sharingan-mu bangkit!" Kilah Kakashi-sensei. "Siapapun yang bukan murni Klan Uchiha tidak akan bisa menahan kebangkitan Mangekyo Sharingan!"
Obito menepuk dahi pelan. "Pembicaraan tak berguna ini tak berbuntut," desahnya. "Sebaiknya kuselesaikan sekarang."
BRUK!
Sosok Laramidia muncul dari balik debu. Kusadari dia baru terjun bebas ratusan meter dari Shinjuu langsung ke tanah. Aku heran apakah di kakinya mungkin ada per, atau semacam shockbreaker seperti sepeda downhill, tapi ia tampak sedikit kewalahan.
"Habisi mereka, Obito," titah Laramidia santai, "rampas apa yang menjadi milikmu dan dapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan!"
"Berhenti-menghasut-ORANG-LAIN!" Mendadak Ardhalea –entah bagaimana- sudah berada di belakang mereka berdua dan mengayunkan pedang. Hanya sekelebat, tapi mataku menangkap bahwa pedangnya berubah –setidaknya warnanya. Pedang berwarna emas-perunggu tersebut telah berubah warna menjadi perak, berdenyar putih terang penuh energi seperti tesla ray, sebelum dihantamkan ke tanah dan mengakibatkan ledakan yang setara dengan sepuluh dus dinamit.
"Dik!" Deavvara mengaum dari dalam diriku. "Pertimbangkan resikonya, hei! Jangan gunakan kekuatan murni itu terlalu lama! Kau sendiri menasihatiku panjang lebar tentang itu emm ... sekitar delapan ratus sembilan puluh tujuh tahun lalu!"
Ardhalea tidak menggubris. Seluruh pedang dan sayapnya kini bersinar dengan aura putih keperakan yang menakjubkan. Bahkan berada tidak begitu dekat darinya saja, aku sudah bisa merasakan seperti sedang dipanggang dalam matahari.
"Ardhalea, Deavvara, dan Laramidia bisa disetarakan kekuatannya," jelas Pyrus. "Hanya saja Paradox dan Ortodox mempunyai chakra luar biasa dari buah Shinjuu berkat ibu mereka, sedangkan Laramidia memiliki kekuatan alam langsung berkat Horus dan Haumea."
"Hei, Deavvara. Sebaiknya kau keluar dan membantu adikmu," usul Styx. "Tiga lawan dua akan lebih asyik. Kami akan disini membantu Naruto."
"Ini kesempatan bertarung bersama," imbuh Beleriphon, "kalau aku jadi kau, aku tak akan sia-siakan."
.
"Kalian cerewet," gerutu sebuah suara yang tak asing –Deavvara sudah mewujud menjadi manusia setengah naga di sebelah kananku. Aku terperanjat karena kaget.
"Secepat itu?"
Dia melirikku tajam. "Ada masalah?"
"Tidak, sih."
"Baguslah. Konsentrasi pada yang di depan. Ardhalea! Jika kau bersikeras, aku juga takkan ragu mengeluarkannya!" Gerung Deavvara. Sayap hitam dan sabit perunggunya kini berdenyar dengan energi hitam keabu-abuan. Tampaknya punya efek negatif sih, tapi aku selalu tahu soal 'Jangan lihat siapa yang mengatakan, tapi apa yang dikatakan'. Kurasa itu tak ada bedanya dengan 'Jangan curigai apa kekuatan yang ada, tapi lihat niat baik dibaliknya'.
"Kakak," bisik Ardhalea. "Apa yang kau lakukan?" Sentaknya kemudian.
Deavvara menyeringai jahil khas kakak laki-laki. "Bertarung bersamamu. Apa lagi, sih?"
"Cukup bicaranya," gusar Laramidia. "MATI!"
Ia menghunus anggarnya. Hanya sekedar menghunus saja sudah membuat angin puyuh mendatar menerjang kami bertiga. Sayap punggung kami berkibar-kibar, tapi pijakan masih tetap kokoh. Obito menghilang ke dimensinya dan muncul dua detik kemudian tepat di samping kiriku, membawa pedang Batu Dolomite-nya dan mengibas penuh amarah padaku.
Aku bersalto untuk menghindar, yang berhasil mengelak dari sabetan pedang Obito, tapi tidak oleh tinjuan angin. Aku terpental sepuluh meter ke belakang dan menancapkan pedangku ke tanah untuk bertahan dari angin. Kukepakkan sayap dengan kekuatan Hermes dan pedangku beradu dengan pedang Obito, memercikkan bunga api. Dia menghilang ke dimensinya lagi.
"Gah!" Seru Deavvara, mulai jengah. "Makan ini!" Dia mengacungkan sabitnya yang sekarang sudah berwarna sehitam malam, dan kekuatannya beraksi: menyerap angin yang berpusing di sekitar kami, terus, terus hingga habis seluruhnya seolah tersedot ke lubang hitam. Laramidia membuat gerakan tipu pada Ardhalea dan merengsek maju, menikam Deavvara, tapi lawannya lebih cerdik. Ia menerobos lewat tanah, muncul kembali di belakang, dan mengayunkan sabitnya.
TRANK!
Separuh sayap kiri Laramidia terpotong oleh sabit. Ia mengelak dari serangan berikutnya dan melemparkan pedang-pedang tulang ke sembarang arah. Kami bertiga menangkisnya dengan lihai dan bersama-sama menyerang, tapi begitu kami sudah dekat, Laramidia langsung mewujud menjadi naga dan menangkis pedang Ardhalea dengan giginya, sabit Deavvara dengan cakar tajam di kaki depan kirinya, dan aku ... dipukulnya dengan ekornya.
Tubuhku terpental jauh hingga membentur sebuah tebing. Yah, tadinya kukira itu tebing sampai dinding tebal berwarna ungu-hitam itu mendesis marah. Dinding itu ternyata Manda, ular besar nan cerewet kepunyaan Orochimaru. Pemiliknya sekarang turun dan memeriksaku.
Ia melakukan handseal –lebih banyak daripada yang bisa kuhitung, mungkin sekitar empat puluh, sebelum kemudian menepukkan tangan kanannya ke tangan kananku. Sensasi dingin langsung terasa.
"Apa ini? Pengobatan punggung instan?"
"Serum Kebenaran," desisnya licik. "Kabuto yang menemukan, dan ini efektif. Tempelkan tangan kananmu ke tubuh seseorang yang ingin kau ketahui kebenaran atau rahasianya. Hanya bekerja satu kali," jelasnya singkat.
"Kami yakin kau memerlukan ini," tambah Kabuto. "Tadinya ingin kugunakan pada Madara kalau-kalau dia masih hidup, tapi ... ya sudahlah. Kami juga cukup tahu diri bahwa Laramidia adalah manu-eh, makhluk hidup yang level bertarungnya tinggi diatas kami. Kami percayakan ini padamu, Naruto."
Aku mengamati tangan kananku. Tidak ada yang berubah, sih. Serum Kebenaran?
.
.
.
Ah, ini pasti berguna.
Aku mengangguk dan meroket dengan kecepatan Hermes, menghunus Shakujo dan Nunboko no Tsurugi sekaligus. Kakiku menjepit Rinsei Rinne no Tsurugi, yang segera kujatuhkan pada Deavvara.
"Sepuluh menit sebelum Shinjuu mekar!" Raung Laramidia puas. Pertarungan mereka bertiga seimbang, yang artinya sama saja gawat. Mau tak mau aku harus mengelakkan mereka dan mengurusi pohon sialan itu. Melesat dengan kecepatan lima ratus kilometer perjam (aku tidak berani melebihi itu, maaf saja) dan menusukkan pangkal tongkat Shakujo ke tengah-tengah batang raksasa Shinjuu.
Lubang selebar enam meter tampak menembus Shinjuu sampai langit dibaliknya terlihat. Itu sangat lebar, tapi tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan keseluruhan volume batangnya. Aku terengah-engah. Aku harus menebang pohon pembawa kiamat ini segera!
Kukumpulkan api dari ketujuh Etatheon yang tersisa –termasuk milik Ardhalea, dan kuhembuskan dari tangan kanan –tujuh semburan busi api raksasa berbeda warna, yang langsung membakar bagian tengah batang Shinjuu dengan cepat. Kulit pohon menjadi hitam gosong dalam waktu seperenam menit, dan mulai mengelupas. Aku terus menyembur, sedangkan sayapku mengipasi api agar tumbuh lebih besar dan membakar lebih cepat, tapi mendadak sebuah lubang dimensi terbuka di depanku dan sebuah tangan terjulur keluar mencekik leherku.
Obito menghunuskan pedang. Ujungnya nyaris menyentuh leherku.
"Kau kuat," desak Obito. "Kenapa sia-siakan itu dengan bergabung bersama aliansi bodoh ini?"
"Seharusnya aku yang mengatakan itu," balasku dengan suara tercekik. Kupukul sisi tubuhnya dengan Shakujo dan Obito mendarat vertikal di batang Shinjuu, menghembuskan bola api beruntun. Aku tidak menggubris dan terjun ke bawah, ke arah pertarungan Ardhalea-Deavvara lawan Laramidia.
Laramidia lumayan kewalahan –sesuai dugaanku, apalagi ketika aku bergabung. Tapi tujuanku bukan itu.
"Kalian berdua," bisikku ditengah-tengah adu pedang, "kunci dia, secepatnya."
"Rencana bagus?" Selidik Deavvara.
"Iya."
Tanpa aba-aba, mereka melakukannya.
Aku memusatkan konsentrasi pada Parthenon, mengeluarkan Pita Glepnir dari tanah dan menjerat lawan.
Laramidia –tahu tidak bisa bebas untuk waktu dekat, mencincang ke depan dengan anggar dan pedang matahari-bulan bersamaan, tapi Ardhalea dan Deavvara lebih menguasai keadaan. Ardhalea menangkis Taiyotsuki no Tsurugi dengan pedangnya dan menguncinya. Deavvara menangkis anggar dengan sabitnya dan menguncinya pula, tapi sebelah tangan Ardhalea yang bebas menghunus belatinya ke pinggang Laramidia. Tangan Deavvara yang satu lagi menghunus Uliran Samsara ke lehernya.
DRAK!
Saat itulah aku menjeblak dari tanah tepat di depan Laramidia yang terkunci dalam posisi berdiri, menghunus Hiraishin Kunai ke wajahnya.
Laramidia yang tersudut segera membuka mulut. Letupan lava mengalir dari sana dan langsung membakarku.
"Naruto!" Pekik Deavvara.
BOOFF!
"B-bunshin?!" Gusar Laramidia. Ia bergerak-gerak berusaha memberontak, tapi Pita Glepnir masih memancangkan tubuhnya ke tanah. Haumea tidak berbuat apa-apa kali ini, dan Horus juga tidak memanggil petir yang memanggang dua bersaudara sampai jadi arang.
Aku yang asli muncul dari belakang Laramidia, tidak menghunus apa-apa kecuali tangan kananku, yang kusentuhkan ke pundaknya. Sekelebat memori melewati pengelihatanku seperti sedang menyaksikan kereta yang melintasi stasiun begitu saja, tapi anehnya, aku bisa mengingat semuanya dengan baik. Beginikah Serum Kebenaran bekerja?
Refleks mengambil alih. Kuambil Hiraishin Kunai yang masih setengah melayang di udara dengan jari tengah dan memutarnya sekali di tangan sebelum kutebas Laramidia menggunakan senjata itu –tepat di tengkuknya. Darah muncrat membasahi ujung senjataku dan sebagian pakaiannya. Ardhalea dan Deavvara melepas kuncian dan menjauh bersamaku.
Separuh leher Laramidia teriris (mengingatkanku pada batang Shinjuu) tapi dia terlihat baik-baik saja, selain bertambah marah, sih.
"AAAAAAAAAAAANNNNGGGGHH!" Dia meraung, berusaha membebaskan diri dari ikatan Pita Glepnir. Obito mendadak muncul di depannya dan menikam ke belakang dengan pedangnya, memutus pita-pita hijau itu dengan pedangnya.
"Kristal Dolomite," cetus Deavvara, "itu memang kelemahan Pita Glepnir."
Aku melirik tengah-tengah pokok Shinjuu. Api sudah padam. Aku mengasumsikan Obito telah menyedot semua apinya ke dimensi lain (seharusnya dia kecapekan!). Tapi tidak masalah. Aku sudah memperoleh apa yang ingin kuperoleh. Aku baru akan mengatakannya ketika tiba-tiba rantai abu-abu dengan aura ungu mendadak keluar dari dalam tanah, mengikatku, Ardhalea, dan Deavvara.
"Jangan ini lagi!" Seru Deavvara kecewa. "Sialan kau!"
"Kau pernah terikat Rantai Mazou sebelumnya?" Tanya Ardhalea.
"Sekali, saat kekuatan Etatheon berusaha digabung paksa ke Gedomazou sebelum Juubi bangkit," gerutu Deavvara sebal. Aku mendengus. Jadi begini rasanya diikat Rantai Mazou? Rantai ini tidak terlihat besar, tapi rasanya seolah seekor gajah baru mendarat di punggungku selepas bungee jumping. Sendi-sendiku serasa lepas dan pandanganku mulai tidak fokus. Kepala dan anggota gerak berdenyut-denyut seolah jantung sedang berusaha berlipat ganda. Tapi aku harus sampaikan visi yang kulihat.
"Uchiha Obito," panggilku susah payah. Dia menatapku sinis seperti biasanya, dengan ekspresi cemberut permanen.
Aku tersenyum kecil.
"Bukan Kakashi-sensei ... yang membunuh ... Rin ..."
.
.
.
"Tapi makhluk yang ada di sebelahmu itu."
Obito mendecih muak. "Ucapan macam apapun takkan bisa mempengaruhiku, bocah tengik!" Sambarnya kemudian menyerang dengan pedang. Sabetan pertama menghasilkan aliran udara tajam yang mirip Kaze Kiri no Jutsu, dan aku pasti sudah terluka kalau saja Goudama hijau Pyrus tidak tiba-tiba mencelat keluar dari tempatnya dan menumbuhkan hutan kecil sebagai sasaran depan.
"Kami masih bisa menyerang," desis Beleriphon di kepalaku, "itu keuntungan yang tidak diketahui musuh. Katakan saja apa yang harus kami lakukan," sambungnya patuh.
Diamlah dulu, kataku dalam hati. Itulah satu-satunya yang harus kalian lakukan untuk membantuku saat ini.
Obito melirik Laramidia.
"Kita apakan mereka? Gunakan kekuatan dua bersaudara untuk memulihkan Shinjuu dan membuat Mugen Tsukuyomi lebih lancar dan sempurna?"
Laramidia mengangguk pelan. "Usul yang bagus. Lakukan sesukamu."
Satu-satunya yang kupikirkan setelah mendengar pembicaraan mereka adalah chakra kami akan diserap. Makin lemah seiring waktu sementara rantai yang membelenggu kami makin kuat. Satu-satunya yang bisa dilakukan tinggal cara itu, tapi takkan berhasil kalau-kalau ada manusia –atau naga, yang memotong pembicaraan tiba-tiba.
"Laramidia!" Panggilku. "Kau yakin tidak mau bertarung bersamaku sekali lagi?!"
Dia mengibas tangan acuh. "Untuk apa? Toh pada akhirnya kau juga akan mati."
"Dengan diisap chakranya sampai kering?" Balasku. "Itu akan memakan waktu berhari-hari, bodoh. Etatheon punya chakra yang luar biasa banyak. Kau tidak bisa sandingkan mereka bahkan dengan sepuluh Wivereslavia," kataku, mulai persuasif. Aku melirik Ardhalea dan mengedipkan mata tanpa terlihat oleh mereka berdua.
"Dia mulai pintar bermain kata," Obito menudingku. "Sebaiknya kubereskan Kakashi."
"Tidak kok," jawabku santai. "Membujuk? Yang benar saja. Diplomasi bukan keahlianku sejak awal. Aku lebih suka langsung –bak-bik-buk tanpa banyak bicara. Jadi ini serius. Bertarunglah denganku dan kita buktikan siapa yang lebih kuat, Keturunan Ketiga!"
"Kau akan menyesal mengatakan itu," tabrak Laramidia. Dia mengacungkan anggarnya. Untuk sesaat kukira aku telah mendapat perhatian penuh darinya. Rantai ini akan segera lepas dan aku akan punya kesempatan untuk membeberkan semua-muanya pada Obito, kebenaran mutlak yang kuperoleh dari Laramidia semudah menjuput jeruk dari tangkainya.
Tapi ternyata tidak segampang itu. "Aku akan menunggu," desis Laramidia.
Aku mengedikkan bahu. "Sampai aku lemah? Ohoho, jadi kau hanya berani melawanku saat aku lemah. Kenapa? Kau takut aku mencincang rambut pirangmu itu?"
Hei, sepertinya kemampuan mengejek Hermes sudah bercampur dalam darahku. Abaikan yang itu.
Laramidia terdiam. Susah membaca apa yang dirasakannya dari ekspresi wajah aneh berusia jutaan tahun itu, tapi sepertinya dia menimbang-nimbang. "Kupikir kau tahu segalanya," desakku, "kupikir kau tahu semua seni pedang dan segala tetek-bengek perpedangan, beladiri dan semuanya. Apa dengan semua pengetahuan plus pengalaman jutaan kali unjuk gigi di medan perang masih belum cukup menghadapiku? Apa aku sehebat itu, ya?"
Dia mengertakkan gigi. "Tentu saja aku tahu semuanya, bocah ingusan," geramnya. "Tanyai aku teknik tikaman. Sabetan, sayatan. Cara menumbangkan lawan dalam lima detik. Seribu tahun tak cukup bagimu untuk bisa menguasai semuanya!"
"Dan sejarah dunia?" Sahutku. Pembicaraan ini mulai mengarah ke tempat yang kuinginkan. "Apa kau mengetahui seluk-beluknya? Semua kejadian dengan detail dari awal sampai akhir? Maaf saja, aku meragukan semua itu."
Sosok beriris emas di depanku mengepalkan tangan. Dia pasti begitu gemas sampai-sampai kulihat sekeliling tanah tempatnya berpijak jadi retak-retak dan mengeluarkan lava.
"Tanyakan apapun padaku," katanya penuh penekanan.
"Sungguh?" Aku berusaha masih memainkan drama. "Karena aku ragu."
"Tidak ada keraguan!" Bentak Laramidia.
"Masa sih," aku bersikeras.
Dia mengangguk cepat.
"Aku tidak percaya kau mengetahui semua kejadian dunia! Dunia ini kan sudah ada sebelum kau ada?"
"Berisik!" Serunya, mulai termakan emosi. "Buktikan saja atau kulebur kau!"
"Lebih baik aku dilebur saja."
"Bertanyalah tentang apapun!"
"Aku takut kau tidak bisa menjawab."
"Ulat brengsek tidak berguna!" Dia membanting anggarnya ke tanah. Wajahnya memerah menahan marah.
"Siapa yang memerintahkan penyegelan Isobu ke Jinchuuriki bernama Rin pada Perang Dunia Naga Ketiga, Laramidia Pinarralla?"
"AKU, tentu saja! Kau pikir Dracovetth-Dracovetth Kirigakure cukup cerdas dan cukup paham mengenali pemimpin mereka yang tewas dan kugantikan –dengan tubuh samaran untuk menuntaskan tugas itu?! Isobu adalah satu-satunya Kaum Kolosal yang belum terbenam lagi ke tanah, dan aku berusaha memanfaatkan agar momen itu tak pernah terjadi! Sebab itulah kuperintahkan Kirigakure untuk mencari Jinchuuriki –yang sengaja kutargetkan pada Rin! Semua itu sudah terencana di kepalaku dari awal, bodoh!"
Ups, keceplosan, kataku dalam hati. Aku ingin sekali tertawa sih, tapi kutahan-tahan saja.
Aku melirik Obito. Uchiha bermuka aneh itu seakan baru mendengar gajah mengeong. Wajahnya bingung dan keruh.
Sepasang sayap Laramidia menengang, baru sadar kalau dia telah terpancing. Aku mesem-mesem sendiri menyaksikan dua makhluk jahat ini saling pandang, saling menyalahkan juga, barangkali. Yah, tunggu saja untuk tinju dua arah yang mengasyikkan. Deavvara menundukkan kepala dan tertawa tertahan. Mungkin dia suka caraku mengadu domba keduanya. Ardhalea memutar bola mata malas.
"Jadi kau...?" Tuding Obito. Telunjuknya bergetar.
"JADI-KAU-MEMBUNUH-RIN?!"
"Dasar bodoh," balas Laramidia, berusaha santai, "kau sendiri bilang Kakashi yang membu-"
"Secara tidak langsung," potong Obito, "kau-lah yang melakukan ini. Kalau saja kau tidak menghabisi pemimpin Kirigakure sekaligus menggantikannya, ini semua tidak akan terjadi!"
Laramidia memutar bola mata. "Ayolah. Aku sudah bekerjasama dengan Madara waktu itu. Dia saja yang kurang peka pada keadaan. Pada akhirnya aku bisa memanfaatkannya seluas-luasnya. Dan sekarang tinggal giliranmu saja. Untuk apa aku punya manusia di sisiku –kalau pada akhirnya aku akan mengendalikan Mugen Tsukuyomi sendirian?"
Obito mengeratkan pegangannya pada gagang pedangnya.
"SEHARUSNYA RIN MASIH HIDUP!"
"Dan seharusnya kau hidup bahagia di Konoha!" Imbuhku. Tidak digubris sih, tapi biarlah. "Kau lihat kan? Pernyataan langsung dari Laramidia bahwa dia akhir-akhirnya juga akan memanfaatkanmu! Baik Madara, Zetsu, atau siapapun! Semua orang itu hanyalah batu pijakan demi pijakan yang akan mengantarkannya ke tujuannya sendiri!" Aku memprovokasi.
"Tidak," gerung Obito. "Kuambilalih kendali Mugen Tsukuyomi dan akan kubunuh kau."
Laramidia tertawa enteng. "Membunuhku lebih sulit daripada menerima kenyataan bahwa pacarmu sudah mati, tolol."
"Kita buktikan saja!"
.
.
.
Bukan maksudku meremehkan, tapi kuperkirakan kemampuan Obito kira-kira dua sampai tiga tingkat lebih rendah dariku soal pertarungan pedang. Dan Laramidia kira-kira dua sampai empat kali lebih mahir dariku soal itu. Jadi yah ... jika kau mengadu keduanya dalam amarah, aku tahu siapa yang akan mengalahkan siapa untuk tiga menit ke depan.
Obito menghunus ke depan. Laramidia memendam diri ke tanah kemudian muncul tepat di belakang lawan, menebas dengan gerakan memutar, tapi anggarnya hanya menembus tubuh Obito.
Oya, dia juga punya teknik itu. Kurasa pertarungan ini akan lebih lama.
"Jangan terus-terusan menghindar!" Seru Laramidia setelah beberapa kali serangannya menembus tubuh lawan. "Semua Uchiha itu pengecut ya?!"
"Setidaknya bebaskan kami dulu," gerutu Deavvara sambil meronta-ronta. Aku juga berusaha berontak, tapi sia-sia. Rantai ini lebih kuat daripada penampilannya. Selagi kami berusaha membebaskan diri, Obito bertarung sengit dengan Laramidia.
Pedang Dolomite-nya beradu dengan anggar, kemudian berganti dengan Taiyotsuki no Tsurugi. Laramidia menyerang dengan beringas, Obito menghindar dengan gesit. Sejauh ini pertarungan mereka berada dalam wilayah abu-abu antara menang dan kalah. Yang kumaksud 'sejauh ini' adalah kira-kira tiga menit.
Kurama dan Demetra mendarat di dekat kami. Nagaku langsung menggigit Rantai Mazou yang membelengguku, tapi kemudian dia mundur.
"Rantai apaan ini?!" Keluhnya. "Seperti main gigit dengan seekor kaum kolosal!"
"Ini Rantai Mazou," desisku, "sama seperti saat ketujuh Etatheon dihisap kekuatannya demi membangkitkan Juubi. Masa kau lupa, sih!" Cercaku.
"Seingatku rantainya tidak terpancang ke tanah –dan lebih besar," kilah Kurama. "Oke, yang jelas aku tidak ikut campur. Aku tidak bisa mematahkan rantai sialan ini."
BLAR!
Laramidia menyambar sebidang tanah dengan tongkat petir. Obito masih berdiri diatas bebatuan yang berasap, menandakan kalau dia bahkan sudah menggunakan jutsu –silakan-pukul-aku-kalau-bisa- andalannya. Ia mendecih dan melempar lusinan shuriken raksasa. Laramidia mengaum dan menumbuhkan dinding lava, melelehkan semua senjata berbentuk bintang itu sebelum sempat melukainya. Ia mengubah dinding lava menjadi cambuk dan berusaha melukai Obito, tapi lagi-lagi cambuk itu hanya menembusnya.
"Jutsu Kamui-mu punya interval!" Pekik Laramidia memrotes. "Kau cuma bisa menggunakan itu maksimal lima menit dengan berturut-turut! Aku hanya perlu menyerangmu bertubi-tubi tanpa henti selama lebih dari lima menit!"
"Itu sebagian faktanya," gumam Obito, meskipun dia tampaknya tidak begitu yakin. Laramidia menyerbu. Entah bagaimana, anggarnya tiba-tiba memanjang, yang langsung menggores bahu kanan lawan. Darah mengalir dari luka, membasahi anggar pembawa maut itu, yang segera memendek ke ukuran semula. Laramidia menyeringai licik.
"Kau pikir senjata semacam ini kaku, hah?" Gertaknya. Ia melirikku, seolah mengingatkan kejadian ketika anggarnya menusukku, berbelok seolah benda tajam itu terbuat dari selang air.
Dia lengah.
Mengabaikan luka, Obito langsung melakukan jutsu teleportasi, berpindah dengan instan ke belakang Laramidia dan tanpa jeda yang cukup langsung mengayunkan pedang sekuat-kuatnya.
JRRAASSS!
Suara penderitaan mulai mengaum.
Pedang Batu Dolomite Obito berhasil memutus lengan kiri Laramidia –dalam wujud manusia, darah membasahi tanah, potongan tangannya yang sedang memegang Taiyotsuki no Tsurugi jatuh begitu saja seperti lengan boneka kain perca. Darah terus mengucur dari luka, Laramidia ambruk ke tanah dengan mengumpat.
Obito mengangkat pedangnya yang berlumuran darah. "Sebaiknya kuselesaikan sekarang."
"Kurang ajar," desis Laramidia. "Kau pikir –bahkan kalau kepalaku putus pun aku masih bisa hidup!"
Uchiha itu mendengus. "Kau kedengarannya kurang yakin. Mungkin akan sangat bagus kalau kubuktikan."
Ia menghunjamkan pedangnya.
.
.
TRAKK
.
Kali ini hanya membentur armor leher yang sangat kokoh. Laramidia berdiri menjulang setinggi rumah di depannya, menyeringai, menyembulkan gigi-gigi seperti silet berantakan sepanjang mulut. Laramidia menerjang, menumbukkan rahang kokohnya untuk menghancurkan Obito, namun targetnya berhasil mengelak selagi ia kembali menyabet pedangnya, yang bahkan tidak bisa menggores sisik keras di rahang atas naga penanda kehancuran itu.
Ekornya mendesing, menghunjam ke bawah. Obito menghindar dengan cepat, tapi sepakan kaki depan kiri Laramidia berhasil mengenainya, membuatnya terpelanting jauh dan jatuh cukup keras.
"Uchiha selalu mengecewakan," gerutu Laramidia sinis. "Mereka mengedepankan individualisme."
"Simpan itu untuk nanti," tukas Obito sambil berusaha berdiri. Ia ambruk lagi. Bilur ungu tampak di lututnya. Tamparan kaki tadi bahkan cukup untuk membuatnya patah tulang.
Laramidia memantikkan cahaya putih di mulutnya.
"Tamat sudah kau, Uchiha Obito!"
Sekelebat bayangan terlihat oleh mataku, menarik Obito secepatnya dari hembusan api. Api berwarna putih dengan semburat ungu membakar secepat mesin roket yang ditembakkan, memijarkan batu-batu hingga merah membara dan melepuhkan tanah. Sosok itu menggotong Obito dan melemparkannya keluar dari jarak serang api, tapi kaki kirinya terkena api Laramidia –yang pasti luar biasa sakit. Sialnya, aku mengenali sosok itu.
"Kakashi-sensei!" Aku berteriak dan berlari, tapi lupa kalau Rantai Mazou masih membelengguku. Kakashi-sensei berusaha bangkit dan walau dengan susah payah, ia merebut Taiyotsuki no Tsurugi dari lengan kiri Laramidia yang putus dan menghantamkannya ke rantaiku. Herannya –sekaligus untungnya, rantai Ardhalea dan Deavvara ikut hancur juga.
Kekuatanku menggelegak kembali. Pita Glepnir keluar dari kedua tanganku dan segera membebat kaki kiri Kakashi-sensei, dengan cepat memadamkan apinya. Aku agak enggan, tapi akhirnya kubebat juga bahu Obito yang terluka. Ia masih menatap Kakashi-sensei dengan sedikit syok.
.
"K-kenapa kau menye-lamatkanku?" Tanyanya terbata-bata.
Kakashi-sensei membalas dengan retihan napas. Peluhnya bercucuran, tapi akhirnya ia kuasa menatap kawan lamanya.
"Karena kau temanku."
Obito bangkit dengan susah payah. "Itu saja?"
"Kurang lebih, ya," balas Kakashi-sensei sambil tersenyum. "Orang yang melanggar peraturan adalah sampah. Tapi orang yang mengabaikan temannya sendiri lebih buruk dari sampah. Kan?"
Obito tercenung, seolah dia baru saja mengalami deja vu. Kepalanya menunduk menekuni tanah.
"Aku salah," bisiknya. "Semua ini ternyata ..." dia tidak melanjutkan kata-katanya. "Aku begitu gampang dibodohi."
Kakashi-sensei mengedikkan bahu rileks. "Itu memang sifatmu dari dulu kan?"
Obito tertawa kecil. "Aku memang bodoh."
"Aku memang egois," balas Kakashi-sensei. Tanpa kusadari, sebentuk senyum tipis terbentuk di bibirku. Dua teman yang berdamai setelah sekian lama tak bertemu dan berbeda ideologi hidup. Sungguh mengharukan, hanya saja setting untuk 'drama' ini sebenarnya tidak tepat samasekali.
"LIMA MENIT!" Raung Laramidia. "DAN SEMUANYA AKAN TAMAT!"
"Tidak kalau aku ada disini, putri bandit," tukasku. Aku menghunus Nunboko no Tsurugi. Bilahnya berkilau mengerikan seolah menanggapi semangatku. "Lima belas lawan satu. Kau akan kalah lima belas kali lebih cepat!"
"Ha!" Tanggapnya. "Kau naif. Kedua Wivereslavia dan dua manusia tak berguna itu tidak masuk hitungan!"
"Hei!" Protes Kurama. Aku mencegahnya bertindak lebih lanjut.
"Kita bertiga," Ardhalea memutuskan. "Tak ada masalah. Kakashi, Obito. Kurama, Demetra ... mundurlah. Peringati semua aliansi termasuk tim Naruto untuk tidak dekat-dekat. Akan ada sesuatu yang besar disini."
Kurama mengangguk. Obito naik ke Demetra dan Kurama mengangkat Kakashi-sensei yang pincang ke punggungnya.
"Kau butuh keberuntungan, Naruto," ucapnya seraya mengepakkan sayap, terbang menjauh. Meninggalkanku sendiri bersama Ardhalea, Deavvara, dan Laramidia.
Kupikir ini akan gampang. Ardhalea dan Deavvara di sisiku, dan Etatheon sisanya berada dalam diriku, kekuatan mereka mengalir dalam darahku. Aku memegang Nunboko no Tsurugi dan Shakujo, dua senjata terkuat Rikudo Sennin, dan aku bisa berubah menjadi setengah-naga atau menjadi naga sepenuhnya. Apa yang mesti kukhawatirkan?
Tapi memperjuangkan kedamaian dunia butuh kekuatan ekstra dan ekstrem, bahkan ketika kau mengira semuanya sudah akan selesai sebentar lagi.
Bumi menggelegak, dan dari bebatuan, muncullah sosok naga berkaki empat dengan ekor seperti sarang lebah berduri, sayap kukuh dengan kulit sewarna tanah, dan tanduk melengkung tajam di alis. Awan menggulung ke bawah disertai sambaran kilat, dan membentuk sosok seekor naga berbentuk ular. Jenggot dan kumisnya berkibar seiring angin, dan bulu-bulu sayapnya menghipnotisku. Tanduknya berkilat seperti aluminium yang baru digosok.
Horus dan Haumea. Menurutku sinonimnya sih, kesialan dan kemalangan.
.
"Laramidia Pinarralla!" Cetus Haumea dengan suara mendecit. Aku harus menutup telingaku lagi. Tanah selalu saja bergetar dan berderak ketika sang Naga Bumi sedang berbicara.
"Kemana saja engkau selama ini, Nak?" Susul Horus. "Engkau begitu ... ah, sukar menjelaskannya."
"Me-nge-jut-kan," ralat Laramidia sendiri sambil mengasah kuku ke sebuah batu besar. "Kuharap Ayah dan Bunda sudah tahu soal semua yang seharusnya kusampaikan."
"Hi'iaka dan Niaka," desis Horus. "Yah. Entah kenapa Keturunan Ketiga kita begitu rapuh, Ibunda. Mungkin saja ... ini yang dikhawatirkan Shinjuu."
"Madara sudah mati!" Aku berteriak. Terserah ah, tapi aku tidak tahan untuk tidak menyela pembicaraan mereka. "Horus, Haumea! Anak kalian ingin menghancurkan kenyataan di dunia dengan genjutsu tak terbatas! Terlebih, Sang Paradoks sudah ada disini!" Aku menuding Ardhalea. "Kenapa tidak kalian biarkan bulan mengorbit lagi meneruskan perjalanannya?! Ini semua rencana gila!"
"Omong kosong," balas Laramidia. "Ayahanda dan Ibunda akan membantuku, kan?"
Naga Langit dan Naga Bumi berpandangan beberapa detik. Mereka jadi semakin terlihat seperti orangtua sungguhan saja. Oke, ralat. Mereka memang orangtua.
.
.
"Larik kelima Ramalan Besar Shinjuu," pungkas Haumea. Horus mengangguk. Aku mengernyitkan dahi.
"Dan Yang Tunggal, bakti ayah dan ibu tak terlupa olehnya..." lafal Haumea. Sekujur tubuhku merinding.
Yang Tunggal?
Laramidia telah membunuh Hi'iaka dan Niaka, kakak dan adiknya. Mereka tadinya tiga bersaudara, tapi dua telah tiada. Laramidia ... adalah anak tunggal sekarang, setidaknya di Keturunan Ketiga. Bakti ayah dan ibu? Apa ... itu ada kaitannya dengan Horus dan Haumea?
Deavvara mendecitkan sabitnya. "Ini semakin membuatku bingung saja!"
"Apa yang dimulai dengan kontrak, harus diakhiri dengan kontrak juga ..." desis Horus ngeri. Ia mengangkat ekornya ke langit. Sebentuk udara meluncur dan melesat menuju pasukan aliansi, dengan gampangnya merenggut seorang Dracovetth dari naganya dan langsung masuk ke mulut raksasa Horus. Haumea melakukan hal yang sama dengan bumi –diperintahkannya tanah untuk menelan seorang prajurit, langsung dilahapnya begitu saja.
Tubuh mereka berubah.
Horus menciut menjadi seorang pria dengan penampilan seperti kakek-kakek, hanya saja di wajahnya tidak ada kerutan samasekali. Jenggotnya berwarna kebiruan, tumbuh hingga sepanjang pusar, tapi rambut kepalanya hanya tumbuh di bagian belakang. Kepala bagian depannya plontos bebas rambut, tapi tanduk rusanya tumbuh disitu. Dia memakai pakaian tempur lengkap dengan sebilah pedang sepanjang hampir dua meter. Sebentuk sayap berwarna biru langit tumbuh di punggungnya.
Haumea juga berubah menjadi manusia –dengan pakaian gaun cokelat gelap dihiasi ornamen ranting, batu, dan dedaunan. Dia memiliki rambut sepanjang tengah punggung yang berwarna cokelat gelap dan bersenjatakan sebuah godam besar yang seolah terbuat dari asteroid. Sayap berwarna kekuningan tumbuh di punggungnya, dan tanduk alisnya kini berpindah ke kepalanya. Aku sudah melihat beragam wujud manusia-setengah-naga sebelumnya, tapi aku baru tahu para naga tertentu bisa mendapatkannya dengan cara memakan manusia.
Laramidia mewujud menjadi manusia. Tiga lawan tiga, tapi sekarang optimisme-ku mulai menurun. Melawan mereka bertiga sama saja melawan langit dan bumi –kekuatan alam murni yang begitu kuat dan tangguh, tak lekang oleh waktu dan tak lapuk oleh kehancuran chakra. Apa yang mesti kami lakukan?
"Ayo mulai," desis Laramidia sambil menjilat pucuk anggarnya. "Bangsa Naga murni ... melawan blasteran naga-manusia. Kita buktikan siapa yang lebih layak menempati planet ini dan memiliki serta mengendalikan kenyataan!"
Kami berenam merengsek maju kompak.
.
.
.
.
.
.
Deavvara bahkan tidak bisa menangkis pedang Horus tanpa terdorong sepuluh meter ke belakang. Ia lebih seperti berusaha menahan truk yang sedang ngebut daripada menangkis serangan. Ardhalea berkelit dari godam mematikan Haumea, yang langsung menjeblak-jeblakkan tanah seolah kulit bumi terbuat dari papan tripleks. Laramidia jadi tidak begitu mengesankan, tapi kekuatannya tetap sangat hebat. Aku menghunus pedangku, yang ditangkalnya dengan satu tangan yang memegang Taiyotsuki no Tsurugi.
Haumea menyemburkan api. Aku berhasil menghindar tepat waktu dari kuncian Laramidia dan api itu meleset mengenai sebuah tiang batu. Tiang batu yang mestinya cukup untuk membuat penyok sebuah kapal baja itu hancur terurai menjadi debu. Mirip Jinton, tapi bedanya debu-debu ini lebih besar dan lebih kasat mata –seperti pasir. Aku tidak mau jadi seperti itu.
Deavvara menikam Horus. Sosoknya segera berdenyar dan hilang menjadi awan, mewujud kembali di belakangnya dan mengayunkan pedang. Deavvara akhirnya mengeluarkan senjata pamungkasnya –Uliran Samsara. Senjata itu cukup untuk menahan serangan Horus dengan bergeser 'hanya' lima meter. Mereka berdua terbang ke langit dan melakukan pertarungan sengit disana, mengaduk-aduk atmosfer.
Ardhalea dan aku bertarung dalam tim.
Hanya satu yang kupikirkan dalam otakku: menyabet, berguling, menikam, menebas, maju, menghunus, melompat, dan terbang. Itu sepaket refleks dan tindakan yang kubutuhkan untuk bertahan hidup empat menit ke depan. Ardhalea menebas godam Haumea selagi musuhnya menumbuhkan duri-duri tanah. Aku meratakan semuanya dengan Doton dan menggulingkan kristal ke arah Laramidia, tapi dia menghancurkannya dengan Taiyotsuki no Tsurugi. Deavvara jatuh berdebum ke tanah setelah nyaris luput dari sambaran petir, dan dari langit, hujan sederas air terjun mengguyur kami. Air mendadak membeludak dari tanah seolah seratus pipa sedang bocor beramai-ramai.
Banjir. Deavvara menusukkan sabitnya ke tanah dan gunungan pasir besi keluar dari tanah, berusaha membentengi kami dari hunjaman air. Ledakan Bakuton C2 di udara yang memekakkan telinga dan rembesan lava memaksa kami keluar, dan pertarungan satu lawan satu dimulai lagi. Aku berusaha menyerang dengan beringas, mengikuti saran Styx untuk tidak memberi lawan celah untuk balas menyerang, tapi rasanya sulit sekali. Laramidia menghunus tungkaiku. Aku tidak bisa mengelak, walau hanya goresan yang kuterima.
Ardhalea bersalto tiga kali di udara demi menghindari panah-panah batu Haumea, yang ternyata berfungsi seperti misil. Ia menebas dan menghancurkan semuanya dengan sayapnya, namun Haumea menarik kakinya hingga terantai ke batu. Haumea memukul lawan dengan godamnya, tapi berhasil dihalau oleh Deavvara dengan Uliran Samsara. Ia mengoyak gaun Haumea dengan sabitnya dan menendang sang Naga Bumi hingga terjungkal ke belakang. Di belakang mereka berdua, Horus menembakkan api biru cerah. Aku memaksa menembakkan selusin Goudama Pyrus, tapi api Horus tidak ada habis-habisnya. Aku akhirnya meminjam kekuatan Etatheon untuk membentuk tsunami besar di dataran kosong, menghanyutkan ketiga musuh sekaligus. Laramidia pertama muncul, berdiri dan berlari diatas air. Aku menepis anggarnya dengan Nunboko no Tsurugi sampai-sampai dia kehilangan keseimbangan, dan kuperintahkan arus air untuk menenggelamkannya. Tepat sedetik setelah itu, Haumea muncul dengan tembakan tinju batu. Deavvara melindungiku dengan menghunus Uliran Samsara, mengakibatkan angin tebal yang berbentuk kerucut seperti bor hingga melenyapkan semua ancaman. Laramidia dan Horus berikutnya –muncul bersamaan dan menembakkan api, berpadu diantara keduanya, mendidihkan air dan membuat uap. Api itu melaju cepat ke arah kami, tapi demi menghemat chakra, kuarahkan gelombang pada mereka berdua. Biarlah seluruh air yang kubuat ini dididihkan, yang penting kami selamat. Kususul dengan hantaman bertubi-tubi angin puting beliung, tapi langit adalah kekuasaan Horus. Ia dengan gampangnya membuyarkan semua puting beliung yang kubuat, menggantinya dengan serangan petir ganda yang memanggang apa saja yang dikenainya. Kami bertiga sibuk berkelit dan menghindar, selagi Haumea dan Laramidia menyatukan semburan –pertanda yang benar-benar kurang bagus. Aku menembakkan Goudama kuning Pyrus, tapi Horus dengan sigap menepisnya semudah menampar bola voli. Ia segera pergi dari jalur selagi api sebesar bus meluncur ke arah kami.
Deavvara dan Ardhalea berpandangan sesaat, kemudian mengangguk.
Mereka buru-buru berdiri di depanku, saling menyatukan senjata.
Yang terakhir kulihat adalah ... bayangan siluet mereka berdua, berdiri menentang api dan menyilangkan senjata.
Aku memejamkan mata. Kurasakan hawa panas di sekelilingku –terutama depan. Air terasa hangat. Hembusan angin panas menerpaku. Aku terlalu takut untuk membuka mata. Aku terlalu takut melihat kalau-kalau memang ada hal yang tidak pernah ingin kulihat selamanya.
.
.
.
Syukurlah aku tidak melihatnya. Ardhalea dan Deavvara menyilangkan pedang dan sabit mereka, dan tepat di depan persilangan dua senjata emas-perunggu itu, sebuah perisai lingkaran berdiameter dua meter berpola Yin Yang yang dikelilingi huruf kanji hologram yang melambangkan lima elemen utama. Dia bagian teratas lingkaran, hologram huruf kanji 'Ryuu' –naga, tampak berpendar paling terang.
"Perisai Myoton Omyoton," cetus Horus. "Aku takjub kalian mengembangkannya sampai sejauh itu."
"Jatuhkan gunung," tantang Deavvara dengan napas ngos-ngosan, "dan kau akan mendapati kami bertiga tetap utuh."
Ardhalea menengok ke belakang. "Kau baik-baik saja?" Bisiknya.
Aku mengangguk pelan, masih agak terkejut.
"Cih. Pengendara sendiri dipedulikan, rekan seperjuangan berabad-abad diabaikan," ledek Parthenon. Suaranya menggema sampai ke luar, dan aku yakin Ardhalea mampu mendengarnya.
"Tapi kali ini tidak akan berhasil," ancam Laramidia. "Kita lakukan itu, Ayahanda, Ibunda."
Horus dan Haumea berdiri di samping Laramidia. Mereka mengangkat tangan kanan mereka sejajar dengan bahu ke depan. Busi memercik dan membentuk api berwarna abu-abu.
"Gawat," retih Deavvara. "Aku masih kelelahan, Dik! Jutsu se-ekstrem ini tidak bisa bertahan lebih lama lagi!"
"Kita jarang berlatih bersama," sambung Ardhalea sambil mengatur napas. "Mereka akan melakukan-"
"龍素:大型玉要破壊 !"
Ryooton: Goukahakai
(Elemen Naga: Api Pembinasa)
BLLAAAAAAASSSSSS!
.
Api berwarna merah, kuning, oranye, dan biru lazim dijumpai sehari-hari. Abu-abu? Lebih terlihat seperti asap abnormal daripada api. Tapi jangan sekali-kali remehkan yang ini, terutama jika dia dihembuskan dari tiga naga paling gila sepanjang sejarah dunia. Bayangkan dicelupkan ke tanur didih membara bersuhu seribu derajat Celcius. Sekarang lipatgandakan rasa sakitnya sepuluh kali. Namun kau masih tidak bisa membandingkan rasa itu dengan kesakitan hebat yang kualami saat seluruh tubuhku disulut Goukahakai, mendekati pun tidak. Aku tidak bisa membayangkan andai tubuhku tidak diselubungi kekuatan Etatheon, sekarang pasti aku sudah lenyap menjadi debu.
Begitu api padam, kulihat Ardhalea dan Deavvara melindungi diri dengan perisai mereka masing-masing –medan gaya berwarna putih dan hitam, tapi tidak berdampak banyak. Sayap mereka berdua hangus, meskipun milik Deavvara tidak ada bedanya karena sudah hitam. Pakaian mereka dikotori jelaga, dan beberapa kulit mereka agak melepuh. Herannya, aku sedikit lebih baik, tapi rasanya seluruh sendiku mencair.
"Naruto," pekik Ardhalea tertahan. "Mendekatlah pada kami."
Aku merangkak. Begitu jarak kami sudah cukup dekat, Ardhalea menyentuhkan ujung tumpul pedangnya ke punggungku. Kekuatan menjalari ragaku, kembali menegakkan otot-ototku. Deavvara melakukan hal yang sama dengan sabitnya. Sayapku kembali tegak, pandanganku kembali cerah.
"Tapi ... bagaimana dengan kalian?" Selidikku ragu.
"Pertama-tama kita singkirkan Laramidia," bisik Ardhalea. "Kemudian kami berdua akan melindungimu dari Horus dan Haumea, sementara kau akan memanjat sampai puncak Shinjuu untuk menghentikan malapetaka terbesar yang akan ada," dia menuding langit.
Kami terlalu sibuk bertarung sampai mengabaikan apa yang ada tepat diatas kami.
Bulan telah berubah warna dari perak (sebenarnya sih hitam, soalnya saat itu masih gerhana) menjadi kemerahan. Kusadari bahwa pucuk bunga raksasa Shinjuu mulai mekar. Mungkin baru beberapa sentimeter, tapi akan terus bertambah hingga Mugen Tsukuyomi benar-benar terlepas. Jika itu terjadi, maka kami harus benar-benar mengkhawatirkan keselamatan dunia beserta isinya.
"Etatheon," panggil Deavvara. "Kalian siap untuk menyelamatkan dunia?" Katanya lirih tapi dengan penuh penekanan.
Hening.
"Kau bergurau," seperti biasa, Hermes paling awal menjawab, "sudah kunanti-nantikan momen ini."
"Seharusnya aku menyikat gigi lebih dulu," Styx menyusul. "Atau menggosok tanduk juga boleh."
"Aku terlalu siap," tabrak Beleriphon.
"Ini akan sangat seru sekali," imbuh Droconos. "Ayo lakukan."
"Demi Gliese, aku sudi melakukan apapun yang diperintahkan Naruto asal itu untuk menghentikan genjutsu gila-gilaan ini," itu pasti suara Pyrus.
"Mereka tidak tahu siapa yang mereka lawan," pungkas Parthenon.
Kami merengsek maju. Ketiga naga tua di depan kami mengembangkan sayap dan melakukan jutsu skala besar lagi. Untungnya bukan api lagi, sih.
"龍素: 素光水電磁波 !"
Ryooton: Bakusui Dejinha
(Elemen Naga: Dentuman Gelombang Air)
BAAAARRR!
BAAAAARRRRR!
Aku pernah dengar soal air terjun terbesar di Kumogakure yang terjun dari tebing setinggi delapan ratus meter. Kujamin debit air di sana kalah jauh kalau dibandingkan jurus edan elemen air tunggal tingkat-dewa ini. Miliaran galon air muncul begitu saja dari tanah padat seolah di bawah kami benar-benar ada samudera dan sumbatnya bocor. Tsunami setinggi sedikitnya tiga puluh meter terbentuk dalam tiga detik, membayangi tanah, siap meremukkan dan menghanyutkan benda seberat apapun dan memutarnya dalam pusingan air yang memuakkan.
"Kecepatan Hermes!" Seruku. Sayapku bersinar keemasan dan aku melaju secepat roket. Ketika dinding air hampir menyentuh wajahku, aku mengubah kode perintah.
"Jinton Beleriphon dan Goudama Pyrus!"
Lapisan Jinton melindungiku. Empat Goudama berputar-putar di punggungku seperti baling-baling helikopter. Aku menghunus Shakujo ke depan dan berseru lagi, "Segel Styx!" Dan Shakujo berpendar kuning keemasan, membuat laju di air pun serasa melayang di udara, sangat mudah. Aku menembus tsunami-tsunami dengan enteng dan keluar dari sisi baliknya. Horus dan Haumea menghadang dengan pedang dan godam mereka.
"Api Droconos!"
Sekujur tubuhku dilapisi api ungu. Senjata mereka berdua mental ketika mengenaiku, bahkan berbalik terbakar. "Pita Glepnir Parthenon!" Aku berseru sekali lagi, dan pita ajaib itu keluar dari lenganku. Membebat mereka dengan erat, aku memutar keduanya beberapa kali di udara sebelum kulempar keduanya, menghasilkan gaya sentripetal yang begitu besar yang mengarah langsung ke ... Deavvara, yang menyeringai bak orang gila.
Sabit di tangan kanannya, Uliran Samsara di tangan kirinya.
"MAAF-SOAL-INI-!" Teriaknya seraya menghantamkan dua senjata itu ke depan, tepat mengenai dua buyut naga sedunia, menjatuhkan mereka ke dalam pusaran air mereka sendiri. Aku berfokus ke depan, dan Ardhalea datang tepat waktu dari atas. Laramidia melesat, menyerang dengan Taiyotsuki no Tsurugi.
Aku membentuk Rasengan. Lebih besar dan lebih besar lagi, sekuat tenaga kucampurkan chakra dari Tujuh Berlian Paradox dan sedikit kekuatan Ortodox yang masih tersisa di tubuhku. Ardhalea membantu pembentukan Rasengan-ku dengan mendekatkan tangan kanannya ke tangan kananku, turut menyumbangkan bagian besar chakra.
"Jangan salah," celetuknya. "Ini juga Elemen Naga."
Rasenganku membesar hingga dua kali lipat bola basket. Alih-alih biru atau hijau, bola spiral angin ini berdesing hebat dengan warna putih keperakan dengan sedikit semburat hitam-hitam mengelilingi bagian dalamnya. Di intinya, tampak nukleus berwarna biru cerah dengan bagian luar berwarna hijau. Daripada Rasengan, sekarang jutsu ini lebih mirip atom yang diperbesar miliaran kali lipat.
Bodohnya –atau untungnya, Laramidia terus maju.
Aku mempercepat kepakan sayap. Rasengan super ini menggerung di tanganku seolah tak sabar mencincang-cincang korbannya.
"龍素:螺旋原子転生 !"
Ryooton: Rasengenshi Tensei
(Elemen Naga: Rasengan Atom Universal)
Tidak ada suara yang bisa menggambarkan jutsu hebat ini ketika berdentuman dengan Taiyotsuki no Tsurugi.
Pedang itu hanya bertahan empat detik sebelum retakan pertama terlihat, pas di tengah-tengah bilahnya yang berlengkung-lengkung seperti keris. Laramidia membelalakkan mata terkejut, tapi tidak ada waktu.
.
KRAK
.
TRAK
.
.
Pedang pembawa sial itu akhirnya pecah menjadi puluhan keping dengan suara yang nyaring. Rasenganku belum selesai –ukurannya bahkan tidak berkurang samasekali, dan tanpa membuang waktu kuhantamkan itu ke diafragma Laramidia. Anggarnya terlepas dari tangannya. Ia berputar-putar di udara ratusan kali sebelum menabrak tanah, digilas dengan luar biasa cepat oleh cabikan atom dan angin yang bersatu. Aura perak-hitam dengan sedikit goresan biru-hijau berdentum di udara, membuat kawah besar di tanah.
Aku agak sangsi dia sudah mati, tapi itu bukan masalah. Aku mengalihkan kecepatan dan manuver ke puncak Shinjuu secepat mungkin diikuti Ardhalea dan Deavvara.
Pemandangan indah yang mengerikan. Langit hitam kelam dibaluri oleh guratan-guratan hijau muda seperti aurora, hanya saja rasanya lebih menakutkan alih-alih indah. Bulan memerah, dan jika kami tidak berbuat apa-apa, tinggal hitung mundur saja sebelum dia diliputi lingkaran-lingkaran dan tomoe-tomoe menakutkan yang akan membawa petaka ke seluruh makhluk.
Bunga raksasa Shinjuu yang bertengger di puncak pohon raksasa itu sudah mulai mekar. Kelopak bunganya yang berwarna merah darah –yang masing-masing kelopak berukuran selebar lapangan kasti, mulai membuka seolah ada tombol yang mengatur di bawahnya. Cahaya merah merekah dari dalam, menggapai langit. Mahkota bunga mulai mengembang. Deavvara dan Ardhalea melecutkan panah Yin Yang ke mahkota-mahkota raksasa tersebut, yang meledakkan mereka menjadi berkeping-keping untuk membuka jalan masuk langsung ke intisari bunga Shinjuu.
Akhirnya kami sampai. Berdiri empat kilometer diatas tanah, berpijak di bunga paling raksasa yang tumbuh di 'pohon' terbesar yang pernah dilihat dunia. Aku mengeluarkan Nunboko no Tsurugi dari sarungnya. Mata pedang sepanjang satu setengah meter lebih itu berdenyar karena energi, berkilat hitam mengerikan dengan aura kemerahan karena memantulkan cahaya bulan di angkasa.
Ardhalea menyodorkan pedang perunggu-emasnya. "Kita bertiga akan menyatukan senjata. Kemungkinan hanya itulah yang cukup kuat untuk menghentikan Shinjuu ... cukup dengan menusuknya tepat di pusat lingkaran konsentrisnya."
Deavvara dan Ardhalea melakukan fusi dengan pedangku. Pedang dan sabit mereka mendekat, dan seolah terbuat dari air, ketiganya bergabung menjadi satu, membentuk sebuah pedang sepanjang 1,8 meter –termasuk gagangnya. Pedang ini mempunyai dua mata, dan ujungnya runcing seperti pedang kavaleri kuno berwarna tripel –setengah matanya berwarna perunggu, setengahnya lagi berwarna perak. Garis hitam obsidian tebal tampak di tengah-tengah mata pedang. Gagangnya sendiri berlapis kulit berwarna hitam dan pelindungnya berwarna seperti kayu jati yang difernis.
"Ini akan jauh lebih kuat daripada Taiyotsuki no Tsurugi," desis Deavvara. "Mungkin sebaiknya kunamakan pedang itu Ootsutsuki no Tsurugi!"
Aku mengangkat pedang ini tinggi-tinggi. Kelopak yang menyelubungi mata mulai terbuka –pertanda bahwa Mugen Tsukuyomi tinggal menghitung mundur kurang dari dua puluh untuk aktif. Pusat lingkaran berwarna hitam dengan latar belakang merah darah itu akhirnya terlihat.
Satu tusukan, pikirku. Dan segalanya akan berakhir.
.
.
.
Baru saja kupikir kalau ini masalah sepele, ketika Horus dan Haumea mendadak muncul di sisi kanan dan kiriku, masing-masing menumbuhkan sebilah pedang kecil sepanjang setengah meter langsung dari tulang mereka. Aku berusaha menghindar, tapi ternyata membran mata Shinjuu lengket seperti permen karet. Kakiku terbenam beberapa senti dan tidak bisa digerakkan samasekali selagi kedua naga ini mendekat ...
JRAASSSS!
JRAASSSS!
.
.
.
Tubuhku menegang, kemudian merinding hebat, bergetar. Keringat dinginku bercucuran.
"A-Ardhalea...?!"
"D-Deavvara!"
Aku celingukan ke kanan-kiri. Haumea menusuk diafragma Ardhalea –lagi, dan Horus menusuk diafragma Deavvara. Kedua Ootsutsuki bersaudara ini ... melindungiku?
"KALIAN BERDUA GILA?!" Sentakku keras-keras sampai-sampai kedua bahuku bergetar. Mataku berkaca-kaca. Bahkan Horus dan Haumea sekalipun tampak terkejut.
Deavvara meludahkan darah. "Rasa sakitnya hanya segini ternyata," decihnya meremehkan dengan suara berani yang dibuat-buat. "Ha! Aku sungguh tidak menyana-nyana kalau ternyata kekuatan sang Naga Langit hanya seperti ini saja! –Uhk!"
Ardhalea menoleh padaku. "Naruto ... jangan berhenti. Kami yang akan menahan rasa sakitnya. Kau ... harus ... menghenti-kan-"
Ia memuntahkan darah. Mataku berkaca-kaca. Kami-sama ... jangan katakan kalau aku harus melihat mereka mati!
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak.
Aku tidak mengarungi separuh dunia hanya untuk dikalahkan.
Aku tidak bertarung dan mengasah kemampuan selama berbulan-bulan hanya untuk ditaklukkan.
Aku tidak mengenal begitu banyak teman hanya untuk diabaikan.
Aku tidak mempelajari berbagai pengetahuan dan praktik hanya untuk dihancurkan.
Aku tidak berjuang bersama teman-teman dan naga-naga dari berbagai penjuru dunia hanya untuk dipermalukan.
Aku tidak bertemu Ardhalea dan Deavvara hanya untuk melihat mereka disia-siakan.
.
.
.
.
.
.
.
Tapi dunia selamat dengan mengorbankan mereka berdua masih lebih baik daripada kehilangan segalanya.
.
Kugenggam erat-erat gagang Ootsutsuki no Tsurugi –atau terserah deh kau mau menyebutnya apa. Kuangkat tinggi-tinggi dan kupusatkan seluruh kekuatan yang ada dalam jiwa dan ragaku ke pedang itu. Kuhunjamkan bilah mematikan itu tepat ke pusat lingkaran konsentris bunga Shinjuu sambil meraung bak orang gila –lebih gila, malah.
.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Jleb
.
.
.
.
.
.
.
.
PEDANG ITU MENANCAP LUAR BIASA dalam, terbenam hingga ke gagangnya.
Aku menunggu beberapa detik dengan tegang.
Tidak ada yang terjadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
CRAK
.
.
.
Sebentuk retakan terlihat. Darah mengalir dari sana, dan retakan itu makin panjang dan lebar, berpusat di tusukan pedangku, makin lama menjalar makin luas hingga akhirnya seluruh bola mata Shinjuu yang luasnya mungkin sama dengan lapangan sepakbola itu mengeluarkan jutaan liter darah merah mengerikan. Aku tidak yakin apakah ini pohon, hewan, naga, atau diantara ketiganya, sebab setelah itu terdengar suara raungan yang begitu mengerikan dan begitu kerasnya sampai-sampai ledakan gunung berapi yang hancur pun akan terdengar seperti percakapan biasa.
Horus dan Haumea melepaskan tusukan mereka dan terbang menjauh. Aku menangkap Ardhalea dan Deavvara tepat waktu ketika mereka ambruk. Kelopak-kelopak Shinjuu mulai layu, meretak seperti tanah di musim kering yang keterlaluan panasnya. Pohon setinggi gunung ini mulai mengering dari atas. Akarnya melapuk dan memutuskan jangkarnya ke tanah satu persatu. Shinjuu mulai oleng diiringi banjir darah, membentuk air terjun tertinggi di dunia yang lebih tinggi dari apapun yang pernah dibuat manusia.
Kubelit diafragma mereka dengan Pita Glepnir, dan dengan sisa-sisa kekuatanku dan Etatheon, aku terbang, lebih tepatnya setengah meluncur cepat ke bawah. Aku membentuk tiga bunshin dalam perjalananku, mengeluarkan lengan tambahan, dan mengumpulkan chakra angin banyak-banyak. Pohon itu sudah tinggal memerlukan sedikit sentuhan lagi untuk tumbang, tapi aku tidak berencana membiarkannya tumbang dalam keadaan utuh –selain luka gores melintang yang parah, bekas gosong kebakaran, dan lubang.
"Makan ini, pohon sialan!"
.
"為風: 大型巨大遁螺旋手裏剣!"
Fuuton: Cho Oodama Rasenshuriken
(Elemen Angin: Putaran Spiral Shuriken Raksasa)
.
Selepas itu, kubiarkan jutsu kelas-S itu melaksanakan tugasnya sendiri. Mencincang Shinjuu tepat di tengahnya dengan borbardiran miliaran jarum elemen angin yang mengelupasi kulitnya dan menghancurleburkan kambiumnya (kalau dia punya kambium). Potongan-potongan kayu seperti bekas buatan perkakas yang tidak terpakai berjumlah jutaan membuncah ke angkasa selagi Shinjuu terbelah menjadi dua dan tumbang dengan suara dan getaran yang luar biasa hebatnya. Aku mendaratkan Ardhalea dan Deavvara, mengkonsentrasikan chakra sisa ke Pita Glepnir untuk penyembuhan cepat.
Keduanya terbatuk-batuk, kemudian perlahan membuka mata. Tim Paradox tidak sabar untuk mendekat. Sorak-sorai riuh penuh kemenangan terdengar dari seberang, Pasukan Aliansi Dracovetth Lima Negara Besar telah mencicip kemenangan. Shinjuu telah tumbang. Meskipun tidak begitu mulus, Mugen Tsukuyomi berhasil digagalkan total. Dan ... bulan telah mulai menyingkir dari matahari, untuk pertama kalinya sejak entah berapa jam berlalu, manusia dan naga melihat kembali sang surya dengan sinarnya yang menebar kehangatan, seolah mengucapkan beribu selamat kepada kami atas kemenangan kami dalam Perang Dunia Naga Keempat –walau baru sebagian yang kelihatan, sih. Mungkin fenomena 'matahari sabit' ini akan jadi perbincangan seru di khalayak umum selama beberapa bulan ke depan.
.
Sekarang, dan untuk selamanya.
.
.
"Baiklah," desah Horus, kembali ke bentuk naganya yang meraksasa, diikuti Haumea.
Mereka tersenyum tipis nan simpul. "Engkau berhasil, Uzumaki Naruto, Draco P ke ... eh, entah ke berapa. Duh! Ingatan hamba begitu buruk!"
"Janganlah menyalahkan diri sendiri, Ibunda," hibur Horus. "Tak penting keberapa, kau telah berhasil. Selain daripada itu, mungkin kami juga akan melakukan sesuatu hal pada anak kami. Dan mohon maaf soal yang tadi. Kami tidak kuasa melakukan apa-apa kecuali melaksanakan perbuatan sesuai yang diperintahkan ramalan," cerocosnya panjang lebar.
"Tolong," pinta Hinata dengan suara memelas. "Jangan bicara lagi," katanya padaku. Yah, tidak ada alasan selain mereka semua juga tidak kuasa menahan efek yang ditimbulkan kekuatan superdahsyat Horus dan Haumea. Mendengar suaranya saja sudah membuatku serasa diparut-parut, apalagi mereka! Hei, kenapa aku jadi sombong begini?
Perutku mulas.
Enam cahaya berbeda warna keluar dari dadaku semudah mereka masuk. Cahaya itu berputar-putar dan akhirnya mewujud kembali menjadi naga –Pyrus, Styx, Hermes, Parthenon, Beleriphon, dan Droconos. Mereka meraung gembira, saling meninju cakar satu sama lain dan menggaetkan ekor.
"Tak kusangka," bisik Parthenon. Matanya berkaca-kaca. "Kita ... kita berhasil."
"Begitulah," jawab Hermes malas. "Hei, Naruto. Kecepatanku membantu, kan?"
Aku mengangguk sekenanya. "Lebih dari sekedar membantu."
"Semuanya berguna," Droconos menengahi. "Ardhalea, Deavvara. Kalian baik-baik saja kan? Kuharap cukup baik untuk minum beberapa jus buah dan daging panggang sebelum kita mengurusi lanskap sekitar yang luar biasa berantakannya."
Deavvara berdiri tertatih-tatih. "Hei, aku cukup kuat untuk melemparmu sejauh lima ratus meter."
"Dikurangi empat ratus sembilan puluh sembilan meter," imbuh Ardhalea sambil memutar bola mata.
"Hei!"
Kami tergelak, tertawa bersama untuk yang pertama kalinya setelah berbulan-bulan dihantui ketegangan. Syukurlah Horus dan Haumea sudah pergi, kalau tidak tawa mereka pasti mengubah kami jadi selembek bubur.
.
.
.
.
.
.
.
.
DHUUUUAAAARRRR!
Ledakan Bakuton C3 langsung menghentikan tawa dan sukacita kami. Seluruh manusia dan naga terlempar menjauh dari pusat ledakan, anginnya menyapu bebatuan dan menggulingkan sisanya. Aku berusaha keras berdiri selagi tulang-tulangku seperti terbuat dari kaca retak.
"Apa yang terjadi?!" Seru Obito.
Sakura menghunus pedang merah jambunya. "Kita ketinggalan yang itu."
.
.
.
Laramidia. Lagi-lagi.
Dia berdiri di dekat pusat ledakan, dengan wajah yang memerah menahan marah –yang sebentar lagi bocor.
"KALIAN PIKIR SEMUANYA SUDAH SELESAI, SAMPAH?!" Raungnya penuh murka. "Jurus seperti itu tidak cukup untuk membunuhku!"
Laramidia tampak berantakan, dan aku menantikan Horus dan Haumea muncul mendadak di belakangnya sembari menjewer kupingnya dan menyeretnya ke belakang, seperti lazimnya adegan anak nakal yang ketahuan orangtuanya dan pasti ujung-ujungnya dihukum. Tapi tidak ada yang terjadi.
Aku mengerang marah, meraih Nunboko no Tsurugi, dan merengsek maju, melawan Laramidia dengan anggarnya.
.
.
Tapi aku terlalu ceroboh sampai tidak memikirkan kalau Etatheon sudah tidak ada di tubuhku lagi.
.
Laramidia menikam dengan cepat, menjatuhkan pedangku dari peganganku. Kusadari kekuatanku sudah jauh menurun kecuali aku bisa menggunakan Sennin Modo. Aku tidak akan bisa mengimbanginya dengan begini, dan begitu aku berpikir begitu ...
Laramidia menusukkan anggarnya tepat ke dada kiriku, mengenai sesuatu yang jadi sumber dari segala sumber kehidupan dan pusat pengendalian dan pendistribusian chakra dan energi tubuh.
Darah menyembur. Aku meludah beberapa kali. Pandanganku kabur dalam sekejap. Tungkai dan lenganku mati rasa. Aku sesak napas dan ingatanku perlahan mulai samar.
.
.
.
.
.
"NARUTOOOOOOO...!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku bangun, memegang kepalaku yang sakit.
Dimana ini?
Aku berada di sebuah taman. Taman ini pasti tidak ada di Konohagakure, pasalnya aku belum pernah melihat taman seperti ini.
Semak bugenvil tumbuh di sampingku, dibawah naungan sebuah pohon ceiba yang subur dan rindang. Rumput halus melapisi tiap senti tanah, menjadikan jatuh dari sepeda pun pasti terasa menyenangkan. Batu-batu mulus berwarna hitam ditata rapi. Tiang-tiang lampu berwarna emas dan gading dan pagar besi berukir yang berkilau, udara sejuk bercampur aroma bunga yang begitu harum dan pemandangan yang indah barangkali membuat siapapun enggan beranjak dari tempat ini.
Aku memaksakan diri berdiri. Tak jauh di depanku terdapat sebuah sungai buatan. Bantarannya dilapisi batu-batu koral beraneka warna tapi senada, membuatnya terlihat alami plus ditambah tanaman air yang subur dan indah serta bebatuan sungai yang tertata apik. Air yang mengalir disana sejernih kaca tanpa polutan sedikitpun. Ikan koi dan emas berenang-renang santai di arus yang mengalir tenang. Beberapa sisi sungai ditumbuhi pohon-pohon cemara rindang.
Kupandang langit. Biru cerah bersih. Entah pukul berapa sekarang, karena matahari tidak tampak dimanapun. Kumpulan awan seperti kapas lembut berarak di langit, ditiup angin. Aku masih tidak punya gambaran bagaimana aku bisa berada disini. Akhirnya kususuri taman indah ini hingga menemukan seseorang yang sedang duduk di bangku taman panjang berwarna turqois. Perempuan. Aku baru akan menyapanya ketika dia memalingkan padangan ke arahku.
Rambut merahnya sepanjang pinggang dan dibiarkan tergerai. Dia memakai setelan hijau-putih seperti pakaian sehari-hari ibu rumah tangga. Sebuah jepit rambut minimalis disisipkan ke salah satu sisi rambutnya. Matanya yang berwarna abu-abu dan biru menatapku riang, berpadu dengan kulitnya yang putih langsat. Senyumnya tersungging lebar sekali.
"Sudah lama sekali ya ... Naruto?"
Aku tergagap.
"I-ibu?"
Wanita itu mengangguk pelan, kemudian menepuk kursinya. "Duduklah, Naruto-ku," ucapnya lembut.
Aku duduk. "Bagaimana ibu bisa ..."
"Minato dan aku menitipkan sedikit chakra kami ke ragamu saat penyegelan Droconos," jelasnya singkat. "Membuat kami bisa bertemu denganmu lagi walau hanya sekali-kali. Dan ibu rasa ini kesempatan yang bagus, hmm?"
Aku mencoba mengingat dunia nyata kembali. Rasanya sulit, walau sepertinya baru sepuluh menit aku berada di taman ini.
"Ibu melihatmu, tahu," katanya. Ada rasa bangga terselip dalam nada bicaranya. "Tidak kusangka bayi yang bahkan tidak sempat kurawat akhirnya menjadi manusia yang benar-benar berguna. Si Ardhalea itu ... dia menepati janjinya."
"Dia melindungiku hingga saat-saat terakhir," sambungku otomatis. "Sampai mengorbankan nyawa segala."
Ibuku mengangguk. "Ardhalea merasa begitu bersalah atas kematian kami. Sebenarnya menurutku itu tidak perlu, tapi ada baiknya juga. Dia menyamar menjadi Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina dengan begitu baik," cengirnya. "Oh, ibu sangat bangga padamu, Naruto! Kau menguasai jutsu ayahmu –Hiraishin no Jutsu dan bahkan menyempurnakan Rasengan, sesuatu yang tidak pernah Minato bisa lakukan. Kau berkenalan dengan banyak teman baru dan beradaptasi dengan beragam karakter dan iklim, menemukan Perpustakaan Besar Alexandriana, bertemu Oedipus, dan semuanya ... ibu tidak bisa membayangkan apa jadinya jika ibu –atau ayahmu, yang melakukan itu semua."
"Jangan terlalu memujiku," desisku sedikit tersipu. "Aku ... tewas dalam Perang Dunia Naga Keempat."
.
Sunyi.
.
.
.
"Benar kan, Bu?" Aku memastikan. Wajahnya keruh.
"Entahlah. Ibu berharap itu salah," ujarnya. "Kau ... akan menemukan suatu cara untuk kembali lagi."
"Barangkali."
"Eit, jangan bilang begitu. Kau harus kembali, Naruto. Dunia masih membutuhkanmu. Ardhalea masih membutuhkanmu."
Mukaku memerah. "Anu ... yang itu-"
"Tak apa," balas ibuku sambil mengibaskan tangan. "Kau klop dengannya, tahu!"
"Ibu!"
"Haha, maaf. Tapi jangan biarkan dia merasakan kesendirian lagi, Naruto. Dia telah mengalami banyak kesulitan. Akan sangat indah apabila ada yang mau bersanding dengannya menapaki kehidupan yang panjang, sekalipun itu manusia seutuhnya."
"Baiklah," jawabku akhirnya. "Lantas ... apa yang mesti kulakukan?"
"Kembalilah," desisnya. "Aku merestuimu untuk kembali. Waktu ibu sudah mencapai batasnya. Kembalilah ke dunia dan selamatkan beserta isinya. Kau masih dibutuhkan. Aku dan Minato cukup mengawasi dari kejauhan. Satu hal, Uzumaki Naruto. Sebagai orangtua ... i-ibu t-tidak bisa mengatakan apapun..." ia menangis haru.
"Aku ingin mengatakan ... banyak ... banyak sekali hal yang ingin kusampaikan padamu, Anakku. Aku ingin lebih lama berada di sisimu, bersama Minato dan yang lainnya ... kupikir ketika aku hamil, kita akan menjadi sebuah keluarga kecil yang punya kebahagiaan lengkap ... tapi aku mengerti itu tidak begitu mudah bisa terjadi, jadi ..."
Ia mendekapku, mengisi tubuh kosongku dengan energi kebahagiaan.
.
"Terimakasih telah lahir untuk kami ..." tangisnya.
"Maaf tidak sempat menyuapkan kasih sayang secara langsung padamu."
Aku balas memeluknya. Untuk pertama dan terakhir kalinya. Benar-benar ironis.
"Aku tidak menyesal," bisikku. "Kalian orangtua terbaik di dunia. Aku bersyukur aku adalah anak ibu!" Kataku sambil menyeringai.
.
.
.
.
Aku merasakan sentakan di dadaku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dunia berubah lagi. Kali ini, aku yakin sedang berada di sebuah kuil ... entah kenapa lingkungan sekitar terasa tidak begitu asing. Sepertinya aku sudah pernah kesini sebelumnya.
"Uzumaki Naruto," panggil sebuah suara. Aku memalingkan pandangan dan menyaksikan seorang pria berjenggot lebat, tumbuh sampai melebihi dadanya sampai pusar. Rambut abu-abunya yang panjang melambai ditiup angin yang merembes ke ruangan sederhana yang terbuat dari kayu dan bambu itu. Aku sendiri berada di dipan kayu yang empuk, dengan bantal berupa ... kayu berlumut tebal.
Iris matanya berwarna ungu cerah dengan pupil hitam legam, seperti perpaduan antara mata Ardhalea dan Deavvara. Dia memiliki sepasang tanduk di kepalanya yang mengarah ke tiga arah –depan, samping, dan belakang, berwarna tembaga. Sebuah sayap kulit berwarna kehijauan berpendar lemah, terlipat di punggungnya. Pria tua ini mengenakan toga berwarna perunggu dan memakai terompah kulit yang diikat dengan tali sampai ke betis. Model sandal yang begitu kuno. Di samping kursinya, bersandar sebuah pedang sepanjang dua meter, dengan sarung berukiran rumit dan gagang yang berwarna merah delima.
Sebuah sabit sepanjang satu setengah meter tergeletak diatas meja di dekat ranjangku.
Ia mengangkat bahu. Ekspresi wajahnya mengingatkanku pada Pertapa Genit –Jiraya-sensei.
"Sungguh kejutan yang tidak dinyana-nyana," kerlingnya jahil. "Hei, kau seharusnya kenal siapa aku."
"Seharusnya," aku membeo. "Oh ... kau ... Neredox?"
Pria tua ini mengelus janggutnya dan mengangguk. "Tepat. Nah, kau tahu alasanku memanggilmu kemari?"
"Memanggil?" Aku mengernyitkan dahi. "Oh, sebentar. Apa aku sudah ..."
"Mati?" Tabraknya. "Tch. Tidak. Setidaknya belum. Aku-lah yang akan membawamu kembali ke dunia fana-mu yang berharga. Setelah itu terserah kau. Sebelum itu terjadi, aku punya beberapa pesan yang harus kusampaikan. Pertama, mengenai Ramalan Besar Shinjuu ..."
Kepalaku linglung. "Aku muak dengan ramalan," akuku.
"Lengkapnya," desis Neredox misterius. "Jangan kira aku cuma sekedar pengembara ramalan tanpa hasil, bocah. Aku berhasil menemukan Ramalan Besar Shinjuu. Itu terletak di perut Varan, kan? Kita sedang berada di Pulau Oogata, kau tahu."
Nah. Pantas saja pemandangan sekitar terasa tak asing, tapi tanpa naga-naga super itu. "Bagaimana caranya kau mendapatkan itu?" Tanyaku. "Membalik Varan seperti kura-kura dan melihat tulisan di perutnya?"
Neredox menggeleng. "Aku mewujud menjadi naga dan membangunkannya. Saat itu tepat ketika beberapa benda langit di ruang angkasa terletak dalam posisi garis lurus. Matahari, Bumi, Bulan, Planet Jupiter, dan Planet Saturnus ..." dia mendesah kecewa. "Sayangnya, Naruto, aku tidak mengira kalau membangunkan Varan dari tidur panjangnya –hibernasi yang keterlaluan sampai beribu-ribu tahun, ternyata mengakibatkan siklus munculnya Kaum Naga Kolosal sekali tiap dua ratus tujuh puluh lima tahun. Aku-lah yang menyebabkan semua itu terjadi. Gara-gara ulahku, generasi-generasi sesudahku harus menghadapi tantangan kejutan seperti itu, ckckck," katanya sambil menggeleng-geleng kepala.
"Aku mafhum," tukasku. "Sekarang lanjutkan saja ceritamu."
Neredox mulai bersemangat lagi. Ia merogoh saku tersembunyi di bagian dalam toganya dan mengeluarkan segulung perkamen yang sudah lapuk dimakan usia dan menyerahkannya padaku. Aku membacanya setengah hati.
.
'Dari Langit dan Bumi keduanya bersatu'
'Yang keempat kan tetap lestari'
'Tugas engkau berdua akan tergantikan oleh teman Bumi'
'Yang Besar dan Yang Wibawa akan tersemat kembali lain waktu'
'Dan Yang Tunggal, bakti ayah dan ibu tak terlupa olehnya'
'Kegelapan sejati dimulai dari dua sahabat'
'Racun yang kelak kan menggantungkan nasib dunia'
'Delapan Drako akan selamatkan dunia'
'Dipimpin oleh seorang anak manusia'
'Yang menjadi belahan jiwa dari Sang Paradoks'
'Namun pada akhirnya dia akan gagal melindungi yang terpenting'
'Pada pertengahan tiga, adalah sumber masalah dunia'
'Pembawa dari kehancuran dan kedamaian adalah satu'
'Ada sesuatu yang disembunyikan dibalik sayap'
.
Aku mengerutkan dahi. Ramalan ini agak berbeda dari yang kudengar di mimpiku waktu itu. Mana yang benar?
Neredox rupanya bisa membaca ekspresiku. "Ini Ramalan Besar Shinjuu yang ditulis di perut Varan, Naruto. Buat apa kau meragukan kebenarannya? Ini satu-satunya yang valid –yang takkan kau temukan di penjuru planet manapun walau mencari sampai botak berjengger. Walau sebenarnya planet itu tidak ada penjurunya, sih."
"Tapi ini sedikit berbeda dari yang kudengar di mimpi!" Aku bersikeras.
Neredox memajukan dagunya. "Mimpi apa?"
"Kala aku pingsan saat berusaha melawan Madara dan Obito, sebelum kebangkitan Juubi," aku terpaksa bercerita. "Waktu itu aku bermimpi mendengar Shinjuu mengucapkannya, saat dia masih sangat kecil, seperti tunas, walaupun sudah setinggi rumah. Horus dan Haumea bahkan mendengarkannya. Waktu itu juga-lah Varan menetas."
Neredox menarik-narik janggutnya. "Ah, mimpi," tanggapnya. "Sungguh rasional. Mimpi itu tidak sepenuhnya lengkap, Naruto. Selalu ada potongan-potongan informasi yang terlewatkan, sekecil apapun itu. Hei, kau lebih percaya mimpi atau kenyataan, sih?"
Aku mendengus. "Apa ini bisa dikategorikan sebagai kenyataan?"
"Ha-ha," tawa Neredox canggung. "Boleh juga selera humor kau. Tapi aku menulis sendiri ramalan itu berdasarkan apa yang ada di perut naga besar itu."
"Serius?" Tanyaku.
"Dua rius malah."
"Lalu apa kau mengerti maksudnya?"
Neredox mengedikkan bahu. "Itu tugasmu. Kurasa kau juga bisa memecahkannya ... bersama putriku. Dia takkan sungkan melakukan apapun demi kau, kutebak."
Aku menampar pipiku sendiri. "Ampun, deh. Aku baru saja bertemu ibuku dan dia mengatakan hal yang sama. Yah, bisa jadi mimpi memang berbeda, termasuk Anda yang di mimpi kasatmata Ardhalea memiliki mata hijau dan tidak bertanduk dan tidak bersayap."
Neredox menyilangkan tangannya ke belakang kepalanya. "Artikan saja ... mertuamu merestui relasi kalian berdua."
.
AKU INGIN melempar seekor Rodrigues ke kepala Neredox sekarang juga. Hei, ada yang tahu dimana Nunboko no Tsurugi-ku?
"Hahahaha!" Tawa Neredox santai. "Bercanda. Tapi serius –eh, tiga rius, kalau kau mau ... tak apa. Kurasa Ardhalea begitu menyayangimu juga. Aku tidak pernah bisa melihatnya tumbuh dewasa, tapi kudengar dia telah begitu hebat. Tak ada salahnya putriku mencicipi kehidupan normal sedikit seperti Hagaromo yang menjadi Rikudo Sennin. Mungkin Deavvara juga akan senang, kan?"
Aku menggaruk kepala malas. "Jadi kau memanggilku hanya untuk membicarakan ramalan bodoh yang belum seratus persen dijamin keakuratannya dan memberitahu bahwa kau merestui hu... –relasiku dengan putrimu?"
"Kurang-lebih begitu," kata Neredox santai.
"Soal Ardhalea dan Deavvara ... mereka punya selisih kekuatan yang tidak terlalu kentara, tapi biar kuberitahukan ini padamu, Naruto."
"Sumber kekuatan utama Ardhalea adalah perasaannya ..."
"Dan sumber kekuatan utama Deavvara adalah fisiknya sendiri ..."
Aku mendesah. "Apa pentingnya?"
"Apa pentingnya?" Ulangnya dengan nada meninggi. Aku serasa menciut sesenti.
"Hmm. Ootsutsuki Ashura dan Ootsutsuki Indra. Mereka mirip dengan dua anak pertamaku. Ashura mirip Ardhalea, kekuatan terbesar mereka adalah perasaan mereka. Cinta, toleransi, dan semuanya. Indra mirip Deavvara. Mereka kuat secara fisik, raga, tubuh. Indra bahkan mengandalkan Dojutsunya. Mereka berdua adalah sistem berantai yang sampai kapanpun akan selalu ada ... mengisi kekosongan duniawi. Aku sudah tiada, Naruto. Dan aku akan memulihkan kembali lukamu seperti sediakala. Seluruh energi kehidupan yang terdapat dalam diriku akan kutransfer padamu. Dan mungkin juga ... itu akan berpengaruh pada sisi dirimu yang lain."
Orang tua ini menyimpan misteri. Kalau saja aku sedang tidak begitu malas, aku sudah menanyakan ratusan pertanyaan padanya. Tapi aku sedang tidak berselera, jadi aku mengiyakan saja.
"Lakukan apapun yang kau suka," bisikku.
Kami terdiam sesaat.
"Nah," katanya. "Selesai."
"Selesai? Kau belum melakukan apa-apa!"
"Sampaikan salamku pada Paradox dan Ortodox," cengirnya. "Sekarang waktunya kau pulang."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jantungku kembali berdetak. Paru-paruku kembali memproses udara untuk mendapatkan nitrogen dan oksigen. Denyut nadiku kembali, seiring dengan pikiranku yang mulai jernih kembali. Aku membuka mata dengan susah payah. Dadaku basah, tapi bukan karena darah, melainkan airmata.
Ardhalea memelukku, menangis habis-habisan. Sakura, Hinata, dan Temari mengelilingku, sedangkan yang lain berusaha keras melawan Laramidia –yang makin beringas setiap detik, memancarkan aura membunuh dari tiap inci gerakannya. Perhatiannya teralihkan ketika dia menyadari aku membuka mataku, dan tinju Susano'o Sasuke tepat mengenainya.
"Ugh. Ardhalea," ucapku lirih. "Hentikan, deh."
Mata obsidiannya kembali bercahaya. Bukannya melepaskan, dia malah berbalik memelukku erat-erat.
"Bagaimana bisa," isaknya, "kau benar-benar penuh kejutan. Kau ... kau sangat menyebalkan," lanjutnya sembari memoles pelan kepalaku.
"Kau cengeng sekali, sih," ledekku. Kujamin Ardhalea ingin menamparku, tapi kalaupun itu terjadi, aku tak perlu ambil repot. Aku berusaha bangkit lagi. Luka di dada kiriku sudah sembuh, entah kenapa dan bagaimana, tapi aku tidak mau tahu. Sekarang yang terpenting adalah menanggulangi ancaman yang sedari tadi –mungkin kemarin, tidak sirna-sirna juga.
Ardhalea memegang pundakku begitu aku berdiri. Dia menggeleng, "Takkan kubiarkan Laramidia melakukan apapun padamu."
Aku menghela napas.
"Aku akan mengatakan hal yang sama," bisikku lirih. Dia tertegun. "Tapi ... kita harus menyelesaikan ini."
Neredox tadi mengatakan bahwa sedikit energi kehidupannya akan merubah sisiku yang lain. Sempat terpikir di benakku bahwa sisi lain itu mungkin saja –besar kemungkinan, adalah ketika aku berubah menjadi naga. Tapi kutepis pikiran itu begitu menyadari tidak ada kekuatan Etatheon lagi yang tertinggal di tubuhku. Bahkan aku tidak tahu apa restu Ardhalea masih ada. Hei, apa sebaiknya kucoba saja, ya?
Aku berkonsentrasi, membayangkan bentuk nagaku.
.
.
.
Alih-alih naga emas, sekarang aku dibebani dengan potongan kecil berlian mejikuhibiniu. Wujud nagaku serupa, tidak beda jauh dengan yang sebelumnya, hanya saja di leherku sekarang melingkar Tujuh Berlian Paradox seperti kalung anjing. Sayapku berpendar dengan warna kuning keemasan terang, dan tidak seperti sebelumnya, sekarang gerakanku terasa sangat ringan. Tanpa ba-bi-bu lagi langsung kuserbu Laramidia.
Dia mengubah wujudnya menjadi naga, tapi nyaris tidak tepat waktu. Aku langsung menubruknya. Kami berdua berguling-guling di tanah berbatu, dan aku memosisikan diri diatasnya, memagut dengan rahang yang kubuka lebar-lebar. Film dokumenter biasanya memperlihatkan predator yang bisa membunuh mangsa dengan satu-dua kali gigitan keras di lehernya, dan aku ingin mencoba itu. Tapi aku bukan singa dan Laramidia bukan zebra.
Ia berkelit dari terkamanku, dan menendang perutku dengan kedua kaki belakang hingga aku terjungkal. Kuhindari sabetan ekornya dan berhasil menggigit ujung sayap kirinya, memuntir dan membantingnya ke arah yang berlawanan. Ekornya mendesing dan menjegal kakiku. Laramidia bangun dan meraung keras, tapi sebelum itu aku menubrukkan kepala ke lehernya. Ia mencakar lempengan emas di tengkukku, membantingku ke bawah dengan dagu mendarat lebih dulu. Ia menghunjamkan ekor kalajengkingnya, tapi aku menahannya ... dengan gigitan. Sekuat tenaga, dan –TAS! Satu dari dua mata pisau kalajengking itu patah. Aku menyemburnya dengan api, tapi Laramidia berhasil mengimbanginya dengan api juga.
Kami bertahan sekitar setengah menit sebelum sama-sama kehabisan napas. Bukan aku yang hebat, tapi Laramidia yang mulai payah.
Aku memaksa diriku ke ambang batas. Gelegak kekuatan Neredox mengalir seirama denyut jantungku. Aku menubruk Laramidia, bergulat seru dengan cakar, ekor, dan sayap kami masing-masing. Serpihan demi serpihan armor pelindung tubuh kami mulai terkoyak dan jatuh berurai ke tanah. Memukul dan mencincang. Raungan demi raungan menggerung mengisi udara, menggentarkan tiap langkah manusia dan naga di sekitar kami.
Laramidia mematuk ke bawah, tapi dia hanya membentur batu. Kugigit tengkuknya dan kubanting naga itu sekuat tenaga ke arah berlawanan, punggungnya membentur tanah. Laramidia berontak dan berusaha melepaskan diri, tapi tidak akan kubiarkan segampang itu. Alih-alih melepaskan gigitan, aku memperkuat cengkeraman rahangku, gigi-gigi hitam batu bara-ku menancap makin dalam ke dagingnya.
Laramidia membenturkanku ke sebuah batu besar hingga hancur. Kepalaku berdenyut-denyut dengan memuakkan, tapi aku tetap menggigit, sampai kurasakan sensasi asam di lidahku –darah Laramidia mengalir lewat luka gigitanku.
Barulah kulepaskan rahangku yang sudah ngilu, tepat ketika Laramidia menghunjamkan ekor mematikannya, menggores sayap kananku dan menerabas langsung menggores diafragmaku, merobek armor perut. Aku ambruk ke tanah, dan langsung saja kurasakan rasa nyeri tak terperi menjalari sekujur ragaku. Racun, mungkin?
Laramidia meregangkan lehernya, kemudian membuka mulut lebar-lebar, tepat ketika Ardhalea –dalam wujud naganya, menerjang tepat waktu, begitu cepat dan akurat sampai-sampai salah satu tanduk di kepala bagian belakangnya putus. Mereka berguling-guling di tanah dan tanpa memberi kesempatan, Ardhalea menghajar Laramidia dengan tebasan cakar kaki depan solo yang langsung merobek bibirnya, meretak hingga ke matanya. Laramidia meraung murka dan membalas menyerbu dengan ekor.
Ardhalea menamengi dirinya dengan ekornya sendiri –bunyi seperti dua baja tajam berongga yang dibenturkan dengan keras. Bunga api memercik. Ardhalea mengunci ekor Laramidia dan memuntirnya tujuh ratus dua puluh derajat, melompat tinggi-tinggi dan menggigit sayap bulu Laramidia, mengoyak separuh lebarnya dengan gigitan tunggal tapi Laramidia berhasil berontak dengan mencakar betis kaki belakang kanan dengan kaki depan kirinya. Ekornya yang bebas kini menampar pipi kiri Ardhalea, membuatnya limbung hingga menabrak sebuah pohon.
Laramidia mendesis. Ia mengumpulkan chakra di mulutnya yang terbuka lebar, tapi sebelum sempat ditembakkan, Hermes dan Beleriphon melesat bagai kilatan cahaya dari arah yang berlawanan, menyerempet punggung Laramidia. Begitu si bengis itu berbalik, Droconos eksis dari bebatuan dan menggigit ekornya, memutarnya tiga kali di udara dan dibantingkannya keras-keras ke batu. Sedetik setelah itu, Laramidia menyepaknya dengan kaki belakang, nyaris mencincangnya, tapi Styx menendangnya di bahunya, lantas berpindah ke depan dan menyeruduk dagunya hingga terjungkal.
Serangan bertubi-tubi. Styx menembakkan empat Goudama-nya sekaligus, membentuk ledakan air kemudian menumbuhkan belasan pohon tebal, yang terbakar seketika dengan suhu ratusan derajat dan hancur seperti dibubuhi dinamit dalam waktu beberapa detik saja. Deavvara menyerang terakhir, menghabisi Laramidia yang sudah acak-acakan dengan sabitnya hingga engsel rahangnya melonggar dan sobek. Beberapa gigi naga asimetris itu sampai tanggal dan gusinya berdarah –sementara Parthenon sibuk menyembuhkanku.
"Cukup," desisku. Aku berubah kembali menjadi wujud manusia.
"Kekuatanmu," sebuah suara berbisik di kepalaku. "Gunakan itu. Biarkan naluri dan instingmu mengambilalih."
Aku memfokuskan perhatian dan chakra ke tangan kananku. Sebuah bulatan abu-abu sebesar bola bisbol muncul dengan semburat hitam dan ungu yang mengitarinya seperti cincin.
Deavvara tergagap melihatnya. "Itu ... darimana kau mendapatkannya?"
"Kuceritakan nanti setelah kita menang," jawabku misterius. "Kau mengenalinya, hmm?"
"Sedikit," cicit Deavvara. Ia berpaling ke Ardhalea. "Kau tak apa, Dik?"
Ardhalea mengangguk, lantas berdiri.
"Etatheon, Delapan Naga Dewa," bisiknya. "Sekarang-lah saatnya."
.
.
.
Pyrus, Styx, Hermes, Parthenon, Beleriphon, Droconos, dan Deavvara dan Ardhalea, mengelilingiku. Paradox dan Ortodox memendarkan cahaya perak dan hitam bara, yang bergabung di bulatan kelabu milikku, membentuk simbol Yin Yang, tapi kemudian melebur menjadi jutsu yang biasa kugunakan.
"Rasengan?" Ucapku terkejut.
"Menyesuaikan diri dengan chakra," jelas Ardhalea singkat. "Sekarang aku tahu kenapa dia memilihmu."
Kemudian, enam Etatheon sisanya turut menyumbangkan kekuatan mereka dalam bentuk cahaya. Warna pelangi memasuki Rasengan anehku, mengubahnya menjadi sebesar bola sepak dan menyelimutinya dengan aura emas, perak, dan perunggu. Kedelapan sinar bersatu membentuk lingkaran pipih dan agak tipis yang berotasi mengelilingi Rasengan, seperti cincin yang mengelilingi sebuah planet.
"Apa ini?"
"Gabungan chakra seorang Draco P sejati dengan Etatheon yang benar-benar sempurna," ucap Pyrus takjub. "Demi Hyperion, aku tidak pernah menyangka akan menyaksikan ini."
"Delapan Cincin Naga Penjuru," terang Beleriphon (sok) cuek. "Melihat bentuk dan ukurannya yang tidak acak-acakan ... kita berhasil membuat fusi chakra terbaik yang pernah dilihat dunia –kecuali kalau ..."
BRAK!
.
.
"Aku muak melihat wajahmu," geram Hermes, "mendekatlah supaya kau bisa kucincang-cincang!"
Laramidia mengusap darah di mulutnya –sekarang dia mewujud jadi manusia lagi, tapi penampilannya lebih mirip gelandangan. Tangan kirinya memegang anggar, dan tangan kanannya ... memegang sebatang pohon.
Eh, itu bukan pohon.
.
Itu salah satu ujung akar Shinjuu.
Laramidia menutup mata dan sayapnya terkembang. Tanduk antelopnya bersinar. Angin berembus kencang dari tubuhnya. Pelan-pelan, sisa bonggol-bonggol Shinjuu yang belum musnah dan terurai, merasuk ke tubuhnya seperti disedot begitu saja, begitu pula dengan potongan bagian atasnya, yang sebenarnya sudah terpisah jadi dua karena Cho Oodama Rasenshuriken-ku tadi. Mestinya untuk mengisap dua potongan pohon setinggi masing-masing dua kilometer memakan waktu beberapa jam, tapi ini hanya sekejap saja.
Tubuh Laramidia kembali penuh dengan energi.
Mata emasnya menatap kosong ke depan.
.
.
.
"Jika aku tidak bisa memanfaatkan bulan ..."
.
.
.
"...maka dunia pun tidak akan boleh memanfaatkannya ..."
.
.
.
.
.
Sebuah sinar meluncur dari anggarnya. Cahaya kuning keemasan yang meroket langsung ke arah rembulan yang belum sepenuhnya menyingkir dari bayang-bayang sang surya. Aku punya firasat yang buruk tentang ini. Jika sinar itu sampai mengenai bulan ... yang akan terjadi barangkali bisa sama buruknya dengan Mugen Tsukuyomi itu sendiri ...
Tapi sekelebat bayangan menghalangi sinar itu dengan tubuhnya sendiri, mata merahnya bersinar berusaha menyedot sinar pembawa kehancuran itu ke dunia lain.
.
.
Itu Uchiha Obito.
.
"Obito!" Jerit Kakashi-sensei begitu menyadari apa yang dilakukan temannya. "Sinar itu mengandung chakra yang luar biasa masif –bahkan terlalu masif untuk bisa ditahan dengan Kamui, milikmu sekalipun!" Dia memperingatkan.
"Kau pikir masih menganggapku bocah lugu nan bodoh yang kemampuan apa-apanya dibawahmu?" Sindir Obito, tapi kali ini dengan nada jauh lebih bersahabat. Seulas senyum menghiasi wajah asimetrisnya.
"Untuk kucegah kehancuran lebih lanjut demi dunia ... tempat indah dimana Rin pernah hidup disini ..." gumamnya sembari menatap langit.
"Aku rela melakukan apapun, sekalipun itu berarti mati ... asal itu demi Rin."
Mata Kakashi-sensei berkaca-kaca. "Aku sudah kehilangan ayahku," gumamnya. "Dan Minato-sensei ... kemudian Rin ..."
"Gugur satu tumbuh seribu, Kakashi," balas Obito tenang. "Naruto dan yang lainnya ... semuanya begitu mempercayaimu. Aku tidak heran mengingat sifatmu yang seperti itu.
Tubuh Obito mulai meluruh ke dalam dimensinya sendiri, seperti sebuah gambar di kertas dua dimensi yang disobek-sobek dan meleleh.
"Kau menjalin persahabatan jauh lebih baik dariku," decih Obito iri. "Ketika kita sama-sama di akademi dan menjalani misi-misi bobrok bersama-sama ... aku selalu menganggapmu rivalku. Sainganku. Meskipun aku bukan tipe orang yang pantas dijadikan saingan ... dan kau selalu saja menang. Ada saatnya aku ingin menindasmu, tapi kesempatan itu tidak pernah datang."
"Sekarang aku akan mengalahkanmu, Kakashi. Dalam hal menyelamatkan dunia ... barangkali aku setingkat diatasmu. Tapi mengingat aku-lah salah satu dalang dibalik semua ini ... aku pantas menerima itu. Mati dengan hina sebagai penjahat yang membuai kegelapan ... dan kelak kau akan meninggal sebagai pahlawan yang membawa segudang keberanian dan kebaikan. Kurasa kita akan selalu dipandang demikian ..."
"Itu salah," potong Kakashi-sensei. "Apapun yang orang-orang katakan padamu di masa depan tentang Perang Dunia Naga Keempat, kau tetap sahabat terbaik dan terjujur yang pernah kukenal, Uchiha Obito."
Senyuman Obito makin lebar. Matanya turut berkaca-kaca.
"Bodohnya aku."
"Baru sadar kau."
.
"Hei, Obito ... boleh kukatakan sesuatu?"
"Katakan apapun."
"Aku khawatir kau bakal menendang pantatku."
"Kau tahu aku memang ingin menendang pantatmu."
"Obito ... sampaikan salamku pada Rin."
"Itu saja?"
Kakashi-sensei mengangguk. "Sampai jumpa ..."
.
.
.
"...kawan lama."
.
.
.
.
.
.
.
.
Giliranku.
Putaran dahsyat dari jutsu super delapan warna ini mengaburkan angin kencang ke segala arah, berdenyar penuh kekuatan dan daya dengan warna pelangi. Efeknya begitu kuat dan fantastis sampai-sampai udara sekitar terlihat seperti fatamorgana –kabur dan bergoyang-goyang seolah cuma hologram atau potongan proyektor. Sebentar saja, tanganku sudah mati rasa, tapi kupaksakan merengsek maju terus hingga cukup dekat ...
"Tidak!" Jerit Laramidia ketika melihat sinar Shinjuu-nya terisap masuk ke dimensi Kamui Obito dan binasa untuk selamanya. "TIDAK!"
Aku makin dekat.
Laramidia menyadarinya dan menghunus anggarnya, dan di tangan kanannya, lima elemen bercampur dengan cepat membentuk sebuah bola pejal yang sama-sama penuh energi, dan langsung saja dilemparnya itu ke arahku.
Memegang Delapan Cincin Naga Penjuru membuatku tidak bisa mengubah arah, tapi untungnya aku selalu membawa ini semenjak mendapatkannya. Kurogoh kantung belakangku dan kukeluarkan sebuah perkamen berwarna kuning pucat –perkamen yang kudapatkan dari Laramidia ketika kami bertarung diatas wujud naga-duplikatnya, sebelum Tiga Naga Perunggu dan naga-naga elemen dimusnahkan.
BOOFFF!
Bola lima elemen tersegel instan.
"MUSTAHIL!" Teriak Laramidia, terkejut bukan main. "Perkamen itu –kapan kau mengambilnya?!"
.
.
Tahu-tahu, aku sudah berada di belakangnya. Hiraishin no Jutsu.
"Kau sudah mencurangi kematian," geramku. "Sekarang kau akan merasakannya! Keburukan primordial terbawah dan tergelap ..."
.
.
.
.
.
.
.
"BINASA-LAH-ENG-KAU-UNTUK-SELAMANYA!"
.
.
.
.
.
"龍素: 権利龍環四隅 !"
Ryooton: Hakke Ryuuwasumi
(Elemen Naga: Delapan Cincin Naga Penjuru)
KUBENTURKAN JUTSU ini ke diafragma Laramidia. Dia bahkan tidak sempat berkedip saat menyaksikan kekuatan penuh dari kedelapan Etatheon yang bercampur dengan chakra murni seorang anak manusia menggilas intisari kehidupannya menjadi repihan-repihan, memborbardir susunan organisme hingga ke organel-organel selnya. Tanganku seperti sedang dililit tambang yang ditarik oleh sepuluh pesumo, tapi kupaksakan mendorong jurus berbentuk planet bercincin itu lebih jauh, membuat Laramidia merengsek diiringi suara cahaya yang begitu keras.
Ledakan.
Hakke Ryuuwasumi menghasilkan citra ledakan cahaya yang begitu kuatnya sampai-sampai seakan matahari telah terpotong dan potongannya itu jatuh ke Bumi. Silau dengan denyar aura hitam-putih dan warna-warna pelangi yang mendesing-desing, aku menutup mata. Kehancuran hebat terjadi, tapi dalam skala kecil yang lebih terfokus ke satu makhluk hidup.
Satu menit kemudian, seluruh cahaya akhirnya pudar. Ledakan itu tidak menghasilkan asap samasekali, yang menurutku oke-oke saja. Beberapa detik kemudian, sebuah suara menggema dari langit dan bumi:
"Keturunan Ketiga terakhir ... telah tiada."
.
.
.
Seharusnya aku mendengar suara teriakan kemenangan dari ribuan mulut setelah itu. Tapi tidak –mungkin sebelum itu terjadi, pandanganku menggelap dan memudar. Seluruh tubuhku seperti diubah menjadi agar-agar, dan dunia berputar dalam kepalaku. Sakit luar biasa menguasai tangan kananku, dan hal terakhir yang kuingat adalah aku jatuh –hampir jatuh ke tanah dan dibopong oleh seseorang.
Beberapa helai rambut peraknya jatuh ke mukaku.
"Ardhalea ..." kataku lemas. "K-kita ... me-nang ...?"
Matanya berkaca-kaca. Ia tersenyum tipis, tapi tidak ada jawaban.
"Hei. Aku bertanya."
"Sssssstt," sahutnya. Kedua tangannya menggendongku dengan bridal style. "Istirahatlah, Pahlawanku. Terlelaplah."
Itu mungkin bukan hipnotis, tapi kusadari betapa lelahnya aku. Aku memejamkan mata, tidur di gendongannya. Melupakan semua kejadian di sekitar kami seolah tidak pernah ada.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Satu minggu kemudian
.
.
.
.
.
MENURUT PARTHENON, bunga tulip merah berarti 'aku percaya padamu' dan bunga lilac berarti 'persahabatan'.
Aku meletakkan dua jenis bunga itu, masing-masing empat tangkai, ke sebuah batu nisan di dekat jantung Kota Besar Rouran. Taman Makam Para Ratu.
"Sara," ucapku sambil mengelus batu nisannya yang bertabur sedikit lapisan emas dan beberapa batu mirah delima. "Terimakasih untuk petualangan mengasyikkan di kota ini," gumamku. "Kau akan selalu jadi ratu di hati Rouranian. Sekarang ... Pakura menggantikanmu. Orang kepercayaanmu. Aku yakin dia bisa memimpin Rouran jadi semakin baik –setidaknya setelah Anrokuzan tidak ada. Kau tidak keberatan, kan? Sama halnya dengan dirimu yang tidak keberatan harus meninggal demi keberhasilan perang."
"Kau orang yang berjiwa besar, Sara. Kuakui ... aku sempat bertenggang rasa padamu setelah kita bertemu, walau awalnya kuanggap kau ini ratu muda yang sok berkuasa. Tapi aku salah. Dan sekarang ... aku, mewakili semua Rouranian dan Lima Negara Besar ... cuma bisa mengucapkan terimakasih."
Aku tersenyum kecil. Makam Ryuuzetsu pasti sudah penuh dengan bunga sekarang –dia dimakamkan di pemakaman elit Kusagakure, demi menghormati keberaniannya mengorbankan nyawa. Aku berpindah dari makamnya ke makam Sara dalam waktu sedetik.
Kurogoh sakuku, kukeluarkan Hiraishin Kunai. Aku bertanya-tanya dimana Ardhalea sekarang.
Hmm ... sebenarnya tidak perlu, sih.
Aku menyeringai, kemudian melakukan Shunshin.
.
.
.
"Sudah kuduga," celetukku begitu sampai di tempat tujuan –Pulau Apocalypse. Ardhalea berdiri tegak dalam wujud naganya, memandangi batu nisan setinggi rumah. Kanji –A-r-t-e-m-i-s terukir ditengah-tengah batu, dasarnya dipenuhi bunga dengan harum yang campuraduk.
"Kau akan kemari tiap bulan?" Tanyaku. Ardhalea mengangguk tanpa menoleh.
"Dia salah satu kesalahan terbesarku," bisiknya. "Mungkin juga ... sekaligus keberhasilan terbesarku."
Aku terkekeh. "Yang itu lebih baik. Sudah berapa lama kau disini?"
"Dua jam."
Ia berbalik dan mewujud menjadi manusia –tak bertanduk dan tak bersayap.
"Ayo pulang," ajakku sambil menggamit tangannya. Aku menimang-nimang Hiraishin Kunai-ku dan melakukan Shunshin.
.
.
.
.
.
Kami tiba di beranda rumah. Rumahku di Konohagakure yang indah, damai, dan permai. Aku tidak puas-puasnya memandangi desa dari sini, aroma danau yang sejuk dan burung-burung air yang berkoar-koar mencari makanan. Gemerisik dedaunan saat ditiup angin, langit yang cerah bersih, dan Gunung Hokage dari kejauhan. Gunung Batuwara berdiri, menjulang tegak nan megah dari kejauhan (iya, gunung itu ternyata muncul kembali hanya sepuluh kilometer dari batas terluar Konoha. Hermes baru memberitahuku ketika kami pulang ke desa dan itupun cuma sekedar berucap; "Ohya, itu salah satu hal menakjubkan yang lupa kuberitahukan keberadaannya."). Tingginya yang sepuluh ribu meter terbenam tujuh ribu meter di tanah. Dia kini cuma setinggi gunung kebanyakan.
Ardhalea dan aku berjalan menuju tepi tebing berpagar yang mengarah langsung ke danau, memantulkan cahaya surya yang mulai terbenam.
"Ahh ... akhirnya bisa meluruskan kaki setelah berjuang mati-matian," cengirku. Dia mengangguk sekali dengan ekspresi datar.
.
.
Duh, kenapa jadi canggung begini? Aku berdehem dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Ardhalea."
"Iya?"
"Ada ... sesuatu yang masih mengganjalku."
"Soal apa?"
"Ramalan itu," aku menegaskan.
"'Dari Langit dan Bumi keduanya bersatu'. Itu adalah Horus dan Haumea. Naga Langit dan Naga Bumi."
Dia mengangguk mengerti. Aku melanjutkan.
"'Yang keempat kan tetap lestari', yang dimaksud adalah Keturunan Keempat dari Horus dan Haumea. Keturunan naga yang ada sekarang ini."
"Ya," jawab Ardhalea mengiyakan.
"'Tugas engkau berdua akan tergantikan oleh teman Bumi', itu cuma kiasan. Teman Bumi yang dimaksud adalah ..."
"Bulan," jawab Ardhalea. "Bulan menggantikan tugas keduanya selagi dia ada di langit."
"Benar. Dan 'Yang Besar dan Yang Wibawa akan tersemat kembali lain waktu' maksudnya pasti Kaum Kolosal dan Naga Gatpura. Mereka tersemat kembali lain waktu, kebangkitan Kaum Kolosal tiap 275 tahun dan Naga Gatpura."
"'Dan Yang Tunggal, bakti ayah dan ibu tak terlupa olehnya', itu sudah jelas Laramidia."
"'Kegelapan sejati dimulai dari dua sahabat', ucap Ardhalea. "Maksudnya adalah Hashirama dan Madara. Madara memulai kegelapan yang sudah dibuat Laramidia, dan awalnya mereka, dari Senju dan Uchiha, adalah sahabat. 'Racun yang kelak kan menggantungkan nasib dunia' itu adalah kegelapan yang dihasilkan Madara."
"'Delapan Drako akan selamatkan dunia'," kataku. "Sudah pasti Etatheon."
"'Dipimpin oleh seorang anak manusia' itu adalah kau," sambung Ardhalea. "'Yang menjadi belahan jiwa dari Sang Paradoks'," imbuhnya.
Entah perasaanku saja, atau pipi Ardhalea memang memerah begitu mengucapkan larik itu.
"'Namun pada akhirnya dia akan gagal melindungi yang terpenting' bisa jadi aku yang gagal melindungimu saat Deavvara ..."
"Bisa juga aku," bantahnya. "Yang gagal melindungi kedua orangtuamu. 'Dia' disini bisa bermakna ganda, Naruto."
Aku mengangguk, memutuskan mengabaikan. "'Pada pertengahan tiga, adalah sumber masalah dunia'. Laramidia adalah anak tengah dari Keturunan Ketiga –pertengahan tiga, dan dia adalah biang keladi musnahnya dunia," jelasku.
"'Pembawa dari kehancuran dan kedamaian adalah satu,' kata Ardhalea. Itu ... itu aku. Shinjuu sendiri bersuara di benakku saat berduel dengan Laramidia. Kata-katanya persis itu. Aku ... tidak paham maksudnya."
"Kalau kau tetap mati, dunia akan hancur," aku beragrumen. "Tapi kau hidup. Dan dunia memasuki masa damai. Naga dan manusia sudah seperti saudara sekarang. Tidak ada lagi perang antar-Dracovetth dan naga. Misi kita sudah terlaksana, Ardhalea," hiburku.
Dia mengangguk kecil.
Aku mengangkat alis sambil memegang dagu. "Tapi apa maksudnya dengan 'Ada sesuatu yang disembunyikan dibalik sayap'?" Aku akhirnya mengutarakan pertanyaanku. Aku menyadari kalau ada satu larik Ramalan Besar Shinjuu yang tidak klop dengan kejadian apapun dari awal sampai akhir, atau mungkikah itu justru belum terjadi? Kiasan? Makna ganda?
Hening.
"Ardhalea," panggilku lagi.
Ia menatapku tanpa ekspresi.
"Soal Tiga Peraturan Dracovetth," aku bergumam. "Kau ... waktu itu ... baru ... eh, seingatku waktu itu kau baru menyampaikan dua. Soal uang dan sake ..."
"Kau mau aku menyampaikan yang ketiga?" Tebak Ardhalea sambil mengangkat satu alisnya. Aku mengangguk canggung.
"Kenapa?"
"Ingin tahu saja."
"Tabunglah uang yang kau dapat dari misi. Jangan minum sake sebelum 20 tahun. Juga, jangan banyak minum, karena tidak baik untuk kesehatan ..."
Ia terdiam sejenak. Menggigit bibir, kemudian melanjutkan.
"Soal wanita ..."
"...yah, ibu juga seorang wanita, jadi kurang mengerti. Tapi, Naruto, karena dunia ini cuma ada laki-laki dan perempuan ... suatu hari nanti kau pasti akan tertarik. Jangan cari wanita yang aneh-aneh, ya. Carilah wanita ... seperti ... ibu..."
Ia meneguk ludah. "Puas sekarang?"
Aku tertawa kecil. Dialog-ku dengan ibu di taman bunga misterius mengingatkanku akan sesuatu.
"Masa bodoh dengan ramalan," cetusku. "Aku ... sudah menemukan sesuatu yang lebih penting."
"Apa?"
"Jangan pikirkan."
.
.
.
.
"Kurasa aku tahu apa yang dimaksud itu," cetus Ardhalea pelan. Mataku berbinar.
"Apa?"
Ia mendekat, mengeliminasi jarak diantara kami berdua. Jantungku berpacu. Ardhalea melingkarkan lengannya ke pundak dan punggungku. Mendekapku. Tubuhku sekaku batu. Ia menenggelamkan wajahnya ke bahu depanku.
Kami terdiam beberapa detik dalam posisi seperti itu sebelum aku balas memeluknya. Ia balas mendekapku lebih erat, saling membaui aroma tubuh masing-masing.
Ardhalea membentangkan sayap peraknya. Anehnya, kali ini sepasang tanduknya tidak tumbuh. Sayap perak itu mengembang dan menaungi kami berdua. Kepalanya bergeser ke kiriku. Safir biruku bertubrukan langsung dengan obsidian badainya. Pandangannya kali ini tidak sedingin atau sesinis ketika kami pertama kali bertemu. Terasa lebih akrab dan ... sensasi lain yang entah kenapa membuat otakku macet memikirkannya.
Sekarang ini aku tidak memikirkan apapun selain memandang parasnya yang menawan. Bagaimana bisa seorang naga mewujud begitu sempurna –nyaris terlalu sempurna menjadi seorang wanita? Ardhalea memang menakjubkan –dia bisa menjadi perempuan tangguh yang mampu membantai seratus monster dalam satu menit, tapi juga bisa menjadi wanita yang begitu alami tanpa berusaha mewujudkannya, sosok yang terlihat rapuh dan perlu dilindungi.
Aku refleks mendekatkan wajahku.
Bibir kami bertautan.
Tidak ada apapun yang bisa melukiskan apa yang sedang kualami sekarang. Sensasi yang begitu damai, hangat, dan menyenangkan ... begitu luar biasa sampai-sampai andaikan Kaum Naga Kolosal mendadak bangkit di pusat Konohagakure dan meluluhlantakkan seisi desa, aku takkan ambil pusing.
Ardhalea memijat tengkukku. Aku mengeratkan dekapanku. Sayapnya masih menaungi kami.
Sesuatu yang disembunyikan dibalik sayap.
Sekarang aku merasa teramat bodoh memikirkan itu.
.
.
.
Kami melepas bibir setelah ... emmm, entah berapa menit, sih. Waktu terasa berhenti.
"Nakal," Ardhalea merona. Aku tertawa kecil.
"Ayahku akan memarahiku kalau sampai tahu hal ini," gumamnya.
Aku tertawa makin keras. "Ayahmu takkan marah! Dia justru senang."
Ardhalea meninju bahuku. "Darimana kau tahu itu," decihnya. Dia terdengar sangat sebal, tapi mukanya memerah sampai ke rambut.
Aku mengedikkan bahu, mengangkat kedua tangan setinggi bahu. "Anggap saja ... aku pernah bertemu dengannya."
Untunglah dia tidak bertanya macam-macam lagi. Aku tersenyum kecil, menggamit tangannya dan berdua kami masuk rumah(ku). Membaca buku-buku lain koleksi ayahku. Menelaah tiap sudut rumah yang masih tak sepenuhnya terjamah ini.
"Kau akan menghadiri pesta perayaan kemenangan sore ini, kan?" Selidik Ardhalea sambil menelusuri punggung buku.
Aku mengangguk. "Kantor Hokage, kan?"
"Ya. Kuharap Kurama dan Demetra tidak berbuat kekacauan disana."
Aku terkekeh. "Jelas tidak."
"Kalau begitu sebaiknya kita pergi sekarang. Sudah pukul lima sore."
"Aku belum bersiap-sia-"
"Kau tidak perlu dipermak," tukasnya. "Ayo cepat."
.
.
.
Sebuah buku terjatuh di lantai. Aku merogohnya.
.
Legenda Dracovetth Bertekad Baja.
Oleh: Jiraya
.
Aku tersenyum lebar dan langsung memasukkan novel itu ke saku.
"Ayo cepat!"
Kuberlari ke beranda, mengunci pintu di belakangku, dan kami berdua menumbuhkan sayap. Terbang menembus kapas-kapas nan indah di angkasa sebiru safir, bermain dengan bangau dan camar. Terbang berputar-putar dengan sayap kebebasan (Ardhalea mengizinkanku tetap memilikinya dan itu keren sekali) dan melesat ke Kantor Hokage, dimana perayaan besar menyambut kami.
Itu adalah hari paling bahagia dalam hidupku.
Setidaknya aku berharap keadaan semacam ini akan berlangsung paling tidak beberapa dekade. Waktu senggang dimana aku dan Ardhalea bisa ...
.
BRAK!
"Baka Naruto!" Pekik Ardhalea. "Kau pikir aku memberimu kekuatan untuk menghancurkan tiang listrik, hah?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tamat
Author's Note (2):
Sudah saatnya, yah?
Baiklah.
Dengan ini, saya Itami Shinjiru –author dari fanfic Paradox –fandom Naruto, mengumumkan secara resmi bahwa fic ini telah tamat. Selesai. Rampung. Fin. Finish. Owari. Sayonara! Au revoir! Goodbye! Selamat tinggal!
.
.
.
PLAK!
Hehe, sori. Iya, fic ini memang sudah tamat, dua rius deh. Gimana endingnya, nih? Banyak yang ngusulin romance NaruPara, jadi sekalian saya puas-puasin di akhir chapter ini. Tapi masih ada SATU CHAPTER BONUS lagi, yaitu Behind the Scene.
Whoa, apaan tuh? Sesuai namanya, Behind the Scene ini menceritakan asal-usul nama tiap naga satu-persatu, dan yang paling kalian tunggu-tunggu: Kuis Truth or Dare yang diberlakukan bagi semua tokoh yang ada di fic ini, baik manusia maupun naga, baik yang diceritakan mati maupun yang masih hidup! Kirimkan pertanyaan dan jawaban kalian melalui kolom review atau kirim langsung ke grup facebook: Paradox Naruto Fanfiction Indonesia, dengan format pertanyaan-jawaban sebagai berikut:
1.) Karakter terfavorit beserta alasan singkatnya (boleh naga/Naruto characters).
2.) Karakter naga terfavorit –bebas, beserta alasan singkatnya.
3.) Karakter Etatheon terfavorit, beserta alasan singkatnya.
4.) Quotes terfavorit –boleh dari siapa saja yang penting ada di fic ini. BOLEH lebih dari satu.
5.) Scene adegan action terfavorit (pertarungan siapa dengan siapa, atau semacamnya).
6.) Pair favorit (boleh naga, boleh manusia, boleh yang tidak dicantumkan di main pair/slight pair atau yang menurut kalian cocok jadi pair).
7.) Pertanyaan Truth or Dare kalian! Pilih akan diajukan ke siapa (maksimal dua chara) dan terserah kalian mau suruh mereka melakukan apa.
.
Batas terakhir pengiriman TANGGAL 24 OKTOBER 2014 ! Ditunggu ya! Chapter spesial Behind the Scene, kalau tidak ada halangan, akan rilis tanggal 25 atau 26 Oktober 2014!
.
.
.
Thank you very much for read my fic, readers! Hope you'll success and see you again in chapter 27!
-Itami Shinjiru-
