Her Husband, The Lost Soul

Author note...

Jahahaha kacau isi chapter ini, aku ngga saranin buat baca... aku bikin chapter ini lagi stres dan cape karena ngurusin masalah temen aku. Aku ampe disebut pelakor sama temen aku sendiri gara-gara bukber sama temen cowok aku, padahal mereka udah putus... padahal mereka berdua tahu siapa cowok yang aku suka tapi temen aku yang cewek kayanya khilaf ampe manggil aku pelakor..

Aku stres ampe sakit gara-gara kurang tidur mikirin masalah mereka. Menurut kalian logis ngga sih aku ngerusak hubungan temen deket aku, di saat aku lagi sayang sama cowok yang bisa ngebuat aku lebih baik ? dan cowok yang aku suka udah bikin aku kelewat nyaman dibanding sama temen-temen aku.

Aku udah berkali-kali pengen nangis, tapi orang-orang di sekitar aku bilang "Tahan ampe buka puasa." , "Udah biarin aja jangan diambil pusing.", "Jangan nangis toh kamu ngga salah." Bahkan malem-malem aku nelepon Nee-chan (Author Secret Passion, bukan romeo juliet) Cuma buat curhat masalah itu.

Yaudah selamat baca, jangan kecewa kalo ini banyak kurang... aku juga manusia ada saatnya aku cape dan nyerah... btw dua atau satu chapter lagi fanfic ini beres... aku udah nyiapin fic baru kok, kalem aelah...


Chapter sebelumnya

"Kau benar-benar menyayanginya ruapanya. Aku harap kau tidak menyakitinya seperti yang dulu aku lakukan." Naruto menyatukan kedua tangannya di depan tubuhnya lalu menundukan kedua tubuhnya seperti orang frustrasi. "Dia adikku sekarang, jika kau menyakitinya aku yang akan menghajarmu pertama kali."

"Dan aku akan gila jika terjadi sesuatu yang berbahaya pada Hinata sekarang." Balas Sasuke yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu emergency room sambil melongokkan kepalanya dari sebuah kaca bundar pada pintu.

"Astaga ! kau benar-benar gila !" pekik Naruto sambil mengacak rambut jabrignya dengan gemas.

.

.

.

Sasuke pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa manusia bisa hidup tanpa makan dan minum selama tiga hari. Tapi tanpa tidur, manusia akan mati. Sayang sekali kenyataan mengatakan Sasuke adalah iblis, lebih dari lima ratus tahun dia hidup tanpa tidur.

Sasuke menatap wajahnya pada pantulan cermin, setelah beberapa kali membersihkan wajahnya dengan air, penampilannya sedikit terlihat manusiawi. Meskipun kaus polo dan mantel yang dikenakannya terlihat benar-benar kusut.

Nyaris empat puluh delapan jam Sasuke berdiri di depan kamar rawat Hinata tanpa memejamkan matanya. Setelah dua jam lebih berada di emergency room, dokter memindahkan Hinata ke ruang rawat. Namun tiga jam kemudian kondisi Hinata kembali memburuk, suhu tubuhnya hampir mencapai 40 derajat celsius.

Sasuke tidak diperkenankan untuk masuk, karena itu akan menghambat pekerjaan para dokter yang merawat Hinata. Mikoto dan Hiashi bergantian untuk menemani Sasuke. Sasuke masih keukeuh dengan pendiriannya, dia menolak setiap orang yang mengajaknya untuk pulang ke mansion dan membiarkan salah satu anggota keluarga memantau keadaan Hinata.

Sasuke tahu jika sesuatu yang paling buruk terjadi pada Hinata, dia harus siap kehilangan salah satu atau bahkan kedua buah hatinya, karena mereka tidak akan mungkin bertahan saat baru berusia lima bulan dalam kandungan. Tapi jika ia kehilangan Hinata, ia siap melakukan upacara pemberian jiwa.

HER DEVIL HUSBAND

Warning : OOC, TYPOS, CRACKED- PAIR, etc

Rate : M

Disclaimer : Naruto © Belonging Masashi Kishimoto

DON'T LIKE DON'T FLAME

DON'T LIKE DON'T FLAME

DON'T LIKE DON'T FLAME

READ AND REVIEW PLEASE (0.0)

Coba baca lagi deh siapa tau jadi suka ^.^ *author maksa*

.

.

.

23

.

.

.

Setengah jam yang lalu Sasuke sudah diizinkan untuk melihat keadaan Hinata. Berbagai alat kesehatan menempel pada tubuh istrinya, dokter mengatakan jika Hinata terkena tipus. Namun karena kekebalan tubuh Hinata yang lemah dan sedang menandung, penyakit itu menyerang tubuh Hinata dengan membabi-buta. Beruntunglah itu tidak berdampak apapun pada kedua janin dalam tubuh Hinata. Dokter juga memberitahu jika kedua janin dalam tubuh Hinata adalah laki-laki.

Dokter kembali menyuruh Sasuke keluar dari ruang rawat, ia mengatakan jika waktu besuk sudah selesai. Sasuke merasa heran dengan dokter berambut putih yang merawat Hinata, mengapa dia selalu menyuruhnya untuk menjauh ?

Lorong rumah sakit masih sepi saat Sasuke berjalan menuju loket untuk mengurusi penebusan obat dan administrasi lain. Sasuke masih merasakan jiwa dan perasaan Hinata, namun jiwa Hinata seolah sedang tertidur, Sasuke tidak dapat melakukan komunikasi dengan jiwa Hinata.

Di samping loket terdapat sebuah taman yang tertutup timbunan salju, entah petugas rumah sakit Konoha sedang malas membersihkan taman itu atau mereka memang sudah meliburkan petugas kebersihan menjelang tahun baru. Seharusnya tahun baru kali ini Sasuke rayakan penuh kebahagiaan bersama Hinata dan kedua calon putranya, tapi sayang sekali dia harus menikmati tahun baru di rumah sakit. Sasuke yakin Hinata tidak akan diizinkan pulang oleh dokter berambut putih itu untuk beberapa hari yang akan datang.

Sasuke memutuskan untuk mampir sebentar, dia duduk di sebuah bangku besi bergaya vintage yang tidak terlalu jauh dari loket pemabayaran.

"Sepertinya gen laki-laki dalam keluarga kita benar-benar kuat." Ujar Itachi yang tiba-tiba duduk di samping Sasuke sambil membawa segelas cappucino di tangannya.

Sasuke menoleh, "Berharaplah kau punya keponakan bulan April nanti."

"Kau jangan terlalu..."

Sret...

Ucapan Itachi terhenti saat sebuah kunai melesat tepat kearahnya, Itachi berhasil menghindarinya, namun sayang sekali cappucino di tangannya menjadi korban. Sasuke dan Itachi mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang melempar kunai itu.

Ini sudah bukan masa ninja ataupun samurai, dan itu bukan sembarang kunai, itu death scythe milik anak buah Orochimaru.

"Aaaaah Sasuke-kun!" suara manja lembek itu tiba-tiba terdengar dari belakang Sasuke.

"Kau berurusan dengan pencurian jiwa ?" tanya Itachi dengan waspada, ia yakin ada orang lain selain Orochimaru berada di dekatnya. Beberapa detik kemudian sebuah kunai kembali melesat mengarah pada Sasuke, dengan sigap Itachi menangkisnya dan melempar kembali kunai itu ke tempatnya.

"Sudahlah kau tidak perlu bersembunyi lagi, Kabuto." Ujar Orochimaru yang tiba-tiba sudah berdiri lima angkah di depan Sasuke. Kabuto keluar dari balik air mancur sambil tetap mengacungkan kunainya.

"Ya ampun ! karena pekerjaan anak baru di divisi umum tidak benar, aku jadi harus turun tangan sendiri mengurusi ini." Orochimaru menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kesal, "Tapi, setidaknya aku bisa bertemu dengan mu, Sasuke-kun !" Orochimaru mendekati Sasuke hendak memeluknya namun dengan gerakan sederhana Sasuke berhasil menghindarinya, hingga Orochimaru tersungkur memeluk salju.

"Ano... sensei, kita harus segera menyelesaikan masalah ini." ujar Kabuto sambil membaca buku catatan kecil di tangannya.

"Masalah ?" tanya Itachi dan Sasuke bersamaan.

"Uzumaki Karin, dijadwalkan untuk mati malam ini tapi tak ada satu pun dari shinigami yang menemukan jasadnya, tapi kami merasakan jika jiwanya masih hidup disekitar tempat ini. karena kalian berada disini, aku yakin kalian ada hubungannya dengan masalah ini." jelas Kabuto.

"Sudahlah jangan banyak berbicara, lebih baik kita segeram melakukan tarian di atas rasa sakit." Orochimaru dengan cepat bergerak menyerang Sasuke dengan kusanaginya, "Dance macabre." Desis Orochimaru sambil terus mengayunkan kusanaginya.

"Hey ! tidak bisakah kau memberikan kesempatan otouto ku untuk menjelaskan ?!" Itachi segera menjauhkan Orochimaru dari Sasuke dengan sayapnya.

"Aaaaah Sasuke-kun... kau masih beringas seperti dulu..." Orochimaru menggoyang-gorangkan bokongnya dengan anggun.

"Uzumaki Karin yang kalian maksud sudah mati lima bulan yang lalu ! jelas kalian tidak akan melihat jasadnya saat ini karena sudah berubah menjadi abu ! jika kalian ingin melihat abu jasad wanita rambut api itu, kalian bisa mendatangi krematorium Konoha. Bukannya asal menyerangku !" Sasuke menjelaskan tanpa menutupi rasa kesalnya.

"Kau pasti bercanda ?!" ujar Kabuto.

Brak !

Dengan gerakan cepat Sasuke melayangkan tendangannya pada kepala Kabuto, hingga tubuh Kabuto tersungkur menabrak pohon yang tertutup salju.

"Jangan asal bicara kau !" rahang Sasuke mengeras, urat disekitar kepalanya berkedut beberapa kali menandakan Sasuke sedang dalam mood yang benar-benar buruk. Itachi tidak berusaha untuk meredakan emosi Sasuke, ia membiakan adiknya melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Tidak akan ada manusia yang melihat apa yang mereka lakukan saat ini, karena Itachi sudah memasang pelindung.

"Apakah kau yakin dia sudah mati ? karena shinigami masih bisa melihat pergerakan jiwa wanita itu." ujar Orochimaru dengan serius.

"Tak bisakah sejak tadi kau berbicara seperti itu tanpa perlu menyerang adikku seperti orang bodoh ?" sindir Itachi.

"Bukankah iblis memiliki ikrar untuk tidak pernah berbohong ?" Sasuke mendudukan dirinya kembali di kursi besi, "Kau pikir aku bisa melakukan kontrak setelah menikah, hah ?!" Orochimaru terdiam dalam hati dia membenarkan ucapan Sasuke. "Yang perlu kau tahu, bukan aku yang terikat kontrak dengan wanita itu, tapi Sabaku !" lanjut Sasuke tanpa menguragi rasa jengkelnya.

"Kemungkinan Sabaku itu yang membunuh Uzumaki Karin untuk sebuah tujuan tertentu." Ujar Kabuto.

"Percampuran jiwa." Ujar Madara yang tiba-tiba muncul ditengah-tengah empat orang yang berpikir keras itu. "Kau tahu Sasuke, sekarang aku mengerti kenapa kau selalu mengalami hambatan untuk berkomunikasi dengan Hinata, Gaara sengaja melakukan sesuatu dengan itu tapi tidak sepenuhnya Gaara yang melakukannya, ada orang lain yang tidak ada hubungan dengan semua ini ikut campur."

"Bagaimana kakek bisa tahu ?" tanya Itachi.

"Aku hidup sudah lebih lama dari kalian, aku pernah melihat yang seperti ini sebelumnya." Madara duduk di samping Sasuke, "Gaara pasti pernah melakukan sesuatu hingga dia tergila-gila dengan jiwa istrimu."

Sasuke berpikir keras mengingat kembali kejadian terakhir sebelum Karin meninggal –hari terakhir Gaara di mansion Hyuuga-, jari Hinata terluka, tapi Hinata tidak mengingat kenapa jarinya bisa terluka.

Sasuke menggali ingatan Hinata, "Sial !" umpatnya saat melihat Gaara berhasil melukai jari Hinata dan memasukan racun ke dalam tubuh Hinata. Lalu Gaara menghirup darah Hinata yang menempel pada sapu tangan Gaara. "Sabaku sialan ! dia sudah mengecap jiwa Hinata." Sasuke segera berlari menuju ruangan Hinata, ia yakin pencampuran jiwa sudah dimulai.

Brak !

Sasuke membuka paksa pintu kamar rawat Hinata, tapi Hinata tidak berada di dalamnya. Sasuke bergegas keluar ruangan, disalah satu ujung ruangan Gaara tengah berjalan menuju ruangan Hinata. Gaara mengenakan mantel berwarna merah maroon dengan celana tebal berwarna hitam, di tangannya terdapat sebuket bunga mawar berwarna merah dengan sebuah mawar putih di tengahnya.

Dengan mengandalkan kekuatan iblisnya, kurang dari satu detik Gaara sudah tersungkur akibat pukulan yang Sasuke layangkan tepat pada wajahnya. Sasuke segera menarik mantel Gaara dan kembali melayangkan pukulan pada wajahnya. "Sialan ! berani-beraninya kau menaruh racun pada tubuh istriku !" Sasuke melayangkan tendangan pada tubuh Gaara tanpa memberinya kesempatan untuk melawan. "Cantik sekali permainanmu! Memanipulasi ngatan istriku, dan menanam racun yang merusak tubuh dengan perlahan agar kau tidak dituduh sebagai tersangka !"

Dari arah belakang, Madara, Itachi, Orochimaru, dan Kabuto berlari mendekati Sasuke. Itachi berusaha memisahkan Sasuke dari Gaara, sedangkan Madara memilih untuk masuk ke ruang perawatan Hinata.

"Aku akan pastikan, kau akan mengalami penderitaan yang lebih menyakitkan daripada yang kau berikan pada istriku !" Itachi dengan sigap menahan tangan kanan Sasuke yang hendak melayangkan pukulan wajah Gaara. "Apa-apaan kau aniki ?!" mata Sasuke yang sudah berubah menjadi merah, menatap nyalang pada Itachi.

"Kau akan membuat kekacauan jika menyiksanya disini, jika kau membunuhnya disini kita tidak akan tahu dimana keberadaan Hinata." Jelas Itachi sambil melepaskan tangan Sasuke.

Sasuke hanya bisa pasrah, ia masih sempat melayangkan sebuah tendangan pada perut Gaara sebelum melangkah menjauh.

Gaara berusaha untuk mendudukan diri, Orochimaru menghampiri Gaara. "Sabaku no Gaara, aku yakin kau terlibat kematian Uzumaki Karin yang dijadwalkan terjadi hari ini."

Gaara meludahkan darah, "Cih! Wanita itu sudahku bunuh berbulan-bulan yang lalu, dan kalian dewa kematian baru menyadarinya saat ini. lambat sekali cara kerja kalian."

Orochimaru segera melayangkan kusanaginya pada leher Gaara, "Berani-beraninya kau menghina dewa kematian!"

"Sensei ! kau tidak boleh membunuhnya, dia tidak ada dalam daftar!" Kabuto masih setia memaca buku catatan kecil di tangannya.

"Persetan dengan daftar! Siapapun yang menghina shinigami harus mati saat itu juga!"

"Sasuke !" panggil Madara dari dalam pintu ruang rawat Hinata, "Bukan Gaara yang menculik istrimu." Sasuke segera mendekati Madara dan memperhatikan sesuatu yang berada di tangannya.

"Sebuah bulu angsa, ah bukan itu bulu tenshi..." ujar Kabuto.

"Aku tidak peduli dia malaikat atau bahkan tuhan sekali pun ! sekali saja dia berani mengusik hidupku maka tidak akan aku ampuni." Gigi Sasuke gemelatuk menahan kesal.

Itachi menggiring Gaara untuk mendekati Sasuke, "Jelaskan maksudmu mencampur jiwa Hinata dengan jiwa Karin ?"

"Tujuanku hanya untuk mendapatkan jiwa Hinata, bukankah kalian hanya terikat kontrak dengan hatinya ? jadi bukan masalah jika aku berusaha mengambil jiwa Hinata." Ujar Gaara dengan terbata-bata karena rasa sakit yang mendera organ dalamnya. Sasuke menyerang Gaara dengan sepenuh tenaga, bahkan dia hampir mengeluarkan aura iblisnya.

Sasuke hendak melayangkan kembali pukulannya namun segera ia tahan saat merasakan hati Hinata memanggilnya.

'Sasu... Sasu-kun... a-aku... berada dimana aku ?'

'...' suara Hinata terdengar ketakutan.

'Sasu... dimana kau...'

'Aku akan segera menyelamatkanmu...' Sasuke sudah bisa mengetahui posisi Hinata, tanpa mengatakan apapun ia langsung membentangkan sayapnya dan terbang meninggalkan rumah sakit.

HER DEVIL HUSBAND

Sasuke tiba disebuah gedung tua yang berada di dekat demaga yang sudah lama tidak digunakan. Dia merasakan jiwa Hinata berada di dekatnya, namun ia tidak menemukan raga Hinata. Beberapa saat kemudian Gaara, Itachi, Madara, Orochimaru dan Kabuto menyusul Sasuke.

"Sasuke... Sasuke-kun..." suara Hinata terdengar dari atap gedung tua itu.

"Kenapa suara istrimu terdengar menjijikan seperti itu ?" tanya Orochimaru.

"Itu bukan suara istriku, itu suara wanita rambut api yang jiwanya akan kau ambil malam ini." jawab Sasuke sambil membentangkan sayapnya.

"Boleh aku ikut bermain ?" tawar Gaara sambil menggulung mantelnya dan mengeluarkan bentuk iblisnya.

"Aku tidak akan membiarkan kau mengecap jiwa istriku lagi !"

"Apakah kau sanggup melawan seorang malaikat yang hampir setingkat dengan Kami-sama ?" sindir Gaara.

"Cih, hanya kali ini. Setelah itu aku akan benar-benar membunuhmu dengan tanganku sendiri !" Sasuke dan Gaara pun bergerak menuju atap gedung. Keduanya terdiam saat melihat seseorang yang berdiri di belakang Hinata dengan sayap putih yang terbentang hampir menutupi lebar gedung.

"Selamat datang, Sasuke-sama... Sabaku-san..." ujarnya dengan tawa ringan yang menyakitkan.

TBC