FADE IN TO SERIES (REMAKE)
Series 3 - Fade Into Always
ChanSoo Version
.
.
Original Story By. Kate Dawes
.
.
Cast :
Park Chanyeol
Do Kyungsoo (GS)
Xi Luhan (GS)
Kim Suho
Kim Kai
.
.
Genre :
Romance
.
.
Bab 1
.
.++
Chanyeol memanggilku "gadis impian."
Apa yang harus kukatakan setelah dia memanggilku begitu? Aku yakin, aku tak tahu, karena aku tak bisa mengatakan apa-apa pada saat ini meskipun aku mau. Sekonyong-konyong tangisku meledak. Itu terjadi secara tiba-tiba.
Melalui isak tangisku, aku bisa mendengarnya berkata, "Ijinkan aku datang untuk menemuimu."
Aku berhasil mengatakan "Oke," dan Chanyeol bilang dia sedang dalam perjalanan.
Aku keluar untuk melihat apakah Luhan masih disini, untuk memberitahunya bahwa Chanyeol akan datang dan aku senang mengetahui bahwa dia telah pergi. Aku benar-benar ingin tempat ini untuk diriku sendiri bukannya terkurung di kamar tidurku.
Apa yang harus kukatakan padanya? Apa yang akan ia katakan padaku? Pikiranku berpacu dengan segala kemungkinan. Haruskah aku mengatakan pada Chanyeol kalau aku jatuh cinta padanya? Apakah ini terlalu cepat, dan apakah ini akan membuatnya takut?
Aku duduk di sofa dan membolak-balik skenarionya lagi. Membaca dialog dua pemain utamanya seperti mendengarkan mereka bicara. Itulah betapa pandainya Chanyeol sebagai penulis. Dan aku benar-benar bisa mengerti mengapa dia sangat menyukainya. Dia terlahir untuk melakukan ini.
Ada beberapa adegan diseluruh skenarionya yang membuatku bertanya-tanya apakah itu berdasarkan pada kisah nyata atau dari pembicaraan seseorang, atau ia hanya mengarangnya. Jika itu benar-benar nyata, hatiku akan hancur untuk dirinya. Bahkan jika tidak nyata sekalipun, tulisan itu masih berasal dari pikirannya, jadi di suatu tempat yang jauh didalam jiwanya—atau mungkin tidak begitu dalam—berdiamlah semua rasa sakit ini. Tapi juga ada keinginan yang kuat untuk memadamkan api dari masa lalunya dan memindahkan ke suatu tempat yang sama indahnya seperti cerita yang ia sulap pada setiap lembarannya.
Untuk sepersekian detik kupikir mungkin Luhan yang ada didepan pintu, tapi kemudian aku ingat pernah memberikan Chanyeol kunci beberapa hari yang lalu. Pada awalnya ia menolak, Chanyeol mengatakan ia merasa seperti telah melanggar semacam ruang pribadi yang seharusnya kumiliki sendiri, dan ia tidak ingin sekedar datang dan pergi sesuka hatinya, tapi aku mengatakan padanya itulah apa yang aku inginkan.
Pintu terbuka dan karena ia berbalik untuk menutupnya, aku berdiri dari sofa dan berjalan ke arahnya. Mungkin terlalu cepat. Sepertinya terlalu bersemangat.
Chanyeol berbalik dan membawaku kedalam pelukannya. Dia hanya mencoba memelukku, tapi aku memaksa wajahku mendekat ke wajahnya dan menciumnya dengan penuh gairah. Dia menyambut cumbuanku dengan antusiasme yang sama, dan kami berdiri sambil berciuman selama dua menit.
Ketika semuanya mulai melambat dia mengatakan, "Ayo kita duduk. Aku ingin memberitahumu tentang semuanya."
Aku menggelengkan kepalaku. "Jangan. Jangan sekarang."
Aku meraih tangannya dan mulai berjalan menuju tangga, naik ke kamarku, lalu aku menutup pintu di belakang kami, melangkah kearah Chanyeol dan mendorong dadanya, membuatnya jatuh ke belakang ke tempat tidur.
"Diam," kataku, naik ke tempat tidur dan duduk mengangkanginya.
Aku menarik kemejanya keatas, mengungkapkan perut dan dadanya, dan menjilatnya—mulai dari perutnya, naik ke atas, menyapukan lidahku di sekeliling masing-masing putingnya. Aku menyelipkan satu tangan di belakang punggungnya dan turun di bawah ikat pinggangnya, ke celananya, menangkup pantatnya. Jika dia punya masalah denganku karena aku memaksa memegang kendali atas dirinya, dia tidak memberikan petunjuk sedikitpun.
Aku ingin menjelajahi dirinya. Mengambilnya sebagai milikku. Memilikinya sama seperti cara dia setiap kali memilikiku.
Menekan diriku ke tubuhnya, aku merasakan dia semakin keras— celana dalamku dan celana jinsnya menjadi penghalang, tapi aku masih merasakan efeknya secara sepenuh dari apa yang kulakukan padanya. Dan selama ia tetap membiarkanku memiliki dia dengan caraku, itu tak akan lama sampai tak ada apapun diantara kami...
"Ini harus disingkirkan," kataku, mengangkat pantatku dan melepaskan sabuknya. Aku berpindah dari dirinya ke tempat tidur, menarik sepatunya lepas dan menarik celananya ke bawah— bersamaan dengan celana boxernya. Dia sepenuhnya keras dan aku tidak membuang waktu bergerak kembali ke atas tubuhnya, menarik celana dalamku lepas sebelum duduk mengangkanginya lagi.
Aku menekan mulutku ke mulutnya dan lidahku masuk ke dalam mulutnya. Aku menggoyangkan pinggulku, milikku yang sudah basah menggesek sepanjang miliknya yang keras. Aku perlahan-lahan masuk kedalam irama yang bisa membuatku orgasme dengan mudah, dan terus berulang. Menggodanya, meluncurkan kehangatanku naik dan turun sepanjang miliknya.
Aku duduk tegak dan menarik bajuku ke atas kepalaku, kemudian melepas bra-ku dan melemparnya ke samping. Aku membungkuk diatas wajahnya, payudaraku tepat di atas mulutnya siap diambil. Dan dia melakukannya. Lidah Chanyeol menyentuh salah satu dari putingku dan getaran kenikmatan menyengat sekujur tubuhku.
Chanyeol mengisap putingku, keras, berpindah-pindah dari yang satu ke yang lainnya. Dia menekan payudaraku dan aku melihat saat payudaraku membungkus wajahnya. Kadang-kadang aku benci memiliki payudara besar, tapi cara Chanyeol merespon milikku membuat semua rasa benci itu entah kenapa menjadi berharga.
Dia menjatuhkan kepalanya ke bantal. "Aku tidak bisa menunggu lagi."
Aku ingin menggodanya lagi, tapi kenyataannya aku juga tak bisa menunggu lagi. Aku meluncur di sepanjang kemaluannya sampai aku merasakan kepalanya menyentuh celahku. Chanyeol merasakan hal yang sama, dan menggerakkan pinggulnya, mendesakkan kepalanya terus memasuki diriku saat aku mendorong pantatku kearahnya dan membiarkannya meluncur masuk.
"F*ck, Kyungsoo," desis Chanyeol.
"Itulah yang sedang kau lakukan," kataku. "Kau bercinta dengan Kyungsoo."
Kata-kataku membuat dia semakin mendorong ke atas, kejantanannya di dalam diriku sampai pangkalnya. Aku menggerakkan pinggulku berputar-putar, memasukkan kejantanannya sedalam dan senyaman yang bisa kulakukan.
Aku suka membuatnya gila. Menonton bagiamana matanya menyipit. Bagiamana dia bernapas dengan mulut terbuka. Bagaimana cuping hidungnya melebar. Bagiamana dia melengkungkan punggungnya dan mendongakkan kepalanya saat ia mendorong memasuki diriku dari bawah.
Aku duduk tegak dan merasakan dia sedalam yang pernah kurasakan diatas dirinya. Chanyeol mengulurkan tangannya dan menangkup payudaraku, kemudian mencubit kedua putingku secara bersamaan dengan jempol dan ujung jarinya.
Aku bergoyang-goyang maju mundur diatas dirinya, kemudian menggerakkan kakiku hingga aku berjongkok di atasnya. Chanyeol menempatkan tangannya di bawah pahaku untuk menyanggaku...dan aku mulai naik turun di atas kejantanannya.
Ia melihat ke bawah tubuhnya dan melihatku bergeser naik dan turun di atas miliknya. Menyaksikan kejantanannya menghilang kedalam diriku. Melihatku membawa batang panjangnya masuk ke dalam tubuhku. Dia mengertakkan giginya, dan mendukungnya—keliarannya—Dan aku senang melihat efek yang kuberikan pada dirinya.
"Pelan-pelan," katanya dengan suara serak.
"Kau akan klimaks?"
"Ya. Pelan-pelan," katanya, suaranya lebih dalam, memerintah.
Tapi aku tidak memenuhi perintahnya. "Kau tidak bisa menyuruhku. Sekarang giliranku mengontrolmu. Sekali ini saja..."
Dan setelah itu ia melemparkan kepalanya kembali ke bantal, mendorong pinggulnya ke atas dengan kuat, dan menahan miliknya di sana. Aku merasa cairannya terpompa ke dalam diriku. Licin dan panas membuat pantulanku terasa menjadi lebih nikmat untukku, dan aku merasakan getaran pertama didalam diriku.
"Oh yeah," erangnya, merasakan miliku mengepal dan mencengkeram dirinya. "Ayo datanglah untukku."
"Aku datang..."
.
.
.++
TBC
Maaf Baru update ya ^^
