Tales Of Darkness And Light

By : Razux

.

.

.

.

Disclaimer : Gakuen alice belong to Higuchi Tachibana


Chapter XXV

"T-Terima kasih.." Ujar salah satu prajurit kota Lixir yang diobati Mikan terbata-bata.

"Sama-sama." Balas Mikan sambil tersenyum.

Melihat senyum Mikan itu, wajah prajurit itu memerah, begitu juga dengan semua orang yang ada di sekitarnya dalam aula besar itu.

Para prajurit dan juga penduduk kota yang terluka memenuhi aula di kediaman Narumi yang kini telah menjadi tempat penampungan bagi mereka yang terluka akibat serangan prajurit kerajaan Theoden semalam.

Para penyihir serta tim medis kota Lixir dan juga bala bantuan yang datang berusaha keras mengobati mereka yang terluka, begitu juga dengan Mikan.

"Mikan! Kemarilah! Bantu aku menyembuhkan luka orang ini." Panggil Hotaru yang ada di ujung ruangan ini tiba-tiba dengan wajah tanpa ekspresi.

"Baik!" balas Mikan dan berlari ke arah Hotaru.

Mata para prajurit dan juga penduduk kota yang ada di sekitar Mikan terus menatap dan mengikutinya yang berlari ke arah Hotaru.

Mereka sama sekali tidak tahu, siapa itu Mikan. Tapi senyum yang memesona serta sihirnya penyembuhnya yang begitu luar biasa telah berhasil membuatnya menjadi pusat perhatian dalam aula yang besar ini.

"Tutup luka tusukan di perut pria ini." Perintah Hotaru saat Mikan telah berada di sampingnya dan juga seorang penduduk kota yang tidak sadarkan diri.

Mikan sebenarnya sangat takut melihat luka tersebut. Namun, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia langsung mengangkat tangannya dan membacakan mantra sihir. Lingkaran sihir berwarna putih muncul di depannya dan cahaya hangat keluar menyembuhkan luka penduduk kota itu.

Semua yang ada di sana sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun. Mereka hanya menatap dengan pandangan tidak percaya akan sihir Mikan itu tidak peduli berapa kali mereka melihatnya.

Hotaru yang berada di samping Mikan juga tidak mengatakan sepatah katapun. Sihir penyembuh Mikan memang mirip dengan sihir penyembuh keluarganya. Namun, dia tahu, sihir Mikan dan sihir penyembuh keluarganya berbeda. Dan itu semua hanya menambah teka-teki akan siapa Mikan itu sebenarnya.

"Sudah, Hotaru." Senyum Mikan sambil menatap Hotaru begitu dia selesai menyembuhkan penduduk kota itu.

Hotaru mengangguk kepalanya "Bagus."

Tiba-tiba pintu aula ini terbuka lebar. Mikan dan Hotaru segera menolehkan kepala menatap pintu yang terbuka itu. Mereka melihat Ruka dan Misaki berjalan masuk.

Semua penyihir dan tim medis yang ada di sana segera membungkukkan kepala mereka memberi hormat.

"Ruka! Kak Misaki!" panggil Mikan dan berlari ke arah mereka.

"Mikan-chan." Balas Misaki gembira sambil memeluk Mikan.

"Rapat kalian sudah selesai? Di mana Natsume?" tanya Mikan cepat.

"Natsume masih di dalam ruang rapat bersama Raja Kazumi, Kak Sakurano, Kak Tsubasa dan Narumi. Mereka masih membahas sesuatu." Jawab Ruka sambil tersenyum.

"Membahas sesuatu? Memangnya apa yang sedang mereka bahas lagi?" tanya Mikan binggung.

Ruka dan Misaki sama sekali tidak mengatakan apapun. Tapi, mereka tahu sekali apa yang sedang dibahas atau lebih tepatnya diminta mereka dari Natsume dalam ruang rapat itu.

Kazumi, Sakurano, Tsubasa dan Narumi ingin meminta bantuan Natsume dalam perang yang sedang berkecamuk ini. Setelah Kazumi, Sakurano dan Narumi melihat kekuatan Natsume itu, mereka menginginkannya bergabung dengan mereka.

Tsubasa yang mengetahui niat mereka itu dengan penuh semangat membantu mereka untuk membujuk Natsume bergabung. Natsume memang telah menolak tawaran yang diberikannya dulu. Namun itu tidak berarti dia telah menyerah untuk membujuk Natsume bergabung dengan mereka.

Tsubasa sudah mendengar dari Kazumi dan Ruka apa yang dilakukan Natsume semalam sebelum mereka tiba. Dia hanya dengan seorang diri saja berhasil menahan dan memukul mundur prajurit Theoden yang begitu banyak. Natsume memang tidak mengakui apa yang dilakukannya, dia terus mengatakan mereka mundur karena menyadari bala bantuan yang tiba. Itu mungkin memang benar. Tapi, semua orang juga tahu, alasan lain kenapa pasukan Theoden bisa mundur adalah karena mereka juga takut pada Natsume.

"Apapun yang dibahas mereka itu tidak ada kaitannya denganmu, bodoh." Ujar Hotaru yang berjalan mendekati mereka dengan wajah tanpa ekspresi tiba-tiba.

"Hotaru!" seru Mikan dengan wajah cemberut.

Ruka dan Misaki tertawa begitu melihat sikap Mikan itu.

"MIKAN-CHAN!" teriak seseorang tiba-tiba.

Mikan, Ruka, Hotaru, Misaki dan semua yang ada di aula itu segera menolehkan wajah mereka menatap sumber suara itu. Mereka semua melihat Tsubasa berdiri sambil tersenyum lebar menatap mereka.

"Kak Tsubasa!" panggil Mikan sambil tersenyum dan berlari ke arah Tsubasa.

Tsubasa yang melihat Mikan berlari ke arahnya segera membuka kedua tangannya selebar mungkin untuk memeluk Mikan. Namun, tiba-tiba sebuah tangan menarik kerah belakang bajunya dan melemparkannya ke belakang.

"S-Siapa.." Ujar Tsubasa kesal, namun begitu dia melihat sepasang mata berwarna merah darah yang menatapnya dengan tajam, dia langsung terdiam.

"Aku akan segera membunuhmu, jika kau berani menyentuhnya lagi, bayangan." Ancam Natsume dingin.

"Jangan begitu, Natsume. Bagiku Mikan itu bagaikan adik permepuanku, tahu? Tidak salahkan seorang kakak memeluk adiknya sendiri?" balas Tsubasa sambil menyengir lebar.

Natsume sama sekali tidak membalas ucapan Tsubasa, dia berjalan masuk ke dalam aula itu.

"Natsume!" panggil Mikan begitu melihat Natsume yang berjalan ke arahnya sambil membuka kedua tangannya untuk memeluknya.

Natsume sama sekali tidak mengatakan apapun, dia membiarkan Mikan memeluknya dengan erat.

"Natsume! Natsume! Dengar ya? Aku sudah bisa sihir penyembuh dengan menggunakan lingkaran sihir!" tawa Mikan gembira sambil menatap Natsume.

"Hn. Baguslah kalau begitu. Jangan pernah kau lupakan itu, idiot." Balas Natsume cuek.

"Baik." Balas Mikan dan kembali membenamkan kepalanya dalam dada Natsume. Dia sama sekali tidak mengoreksi panggilan Natsume itu lagi karena dia sudah terlalu senang dengan pujian yang didapatkannya.

"Mikan. Bukankah kau tadi tersenyum lebar dan berlari ke arahku? Kenapa setelah melihat Natsume, kau seperti melupakanku?" tanya Tsubasa dengan wajah sedih yang sengaja dibuatnya untuk menggoda Mikan.

Mendengar pertanyaan Tsubasa, Mikan segera menolehkan wajahnya menatap Tsubasa dengan wajah memerah "B-Bukan seperti itu… A-Aku hanya ingin segera memberitahu Natsume bahwa aku sudah menguas.."

"Iya. Aku mengerti. Kau tidak perlu menjelaskan itu padaku. Aku tidak marah kalau kau lebih suka memeluk Natsume dari pada memelukku." Potong Tsubasa sambil trsenyum jahil.

Mikan benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi, dia segera melepaskan tangannya yang memeluk Natsume dengan wajah yang merah padam.

"Sudah cukup Tsubasa! Jangan menggoda Mikan lagi. Jagalah sikapmu itu sebagai Raja Arathron." Ujar Misaki yang berjalan mendekati Tsubasa sambil memukul pundaknya.

"Aku tahu, Misaki. Hanya saja, aku suka sekali menggoda Mikan seperti ini." Tawa Tsubasa sambil menatap Mikan.

Misaki hanya bisa mengeleng kepala melihat sikap Tsubasa. Hotaru tetap saja cuek, Ruka hanya bisa tersenyum tipis, sedangkan Natsume hanya terus menatap Mikan dengan mata merahnya sebab dia sebenarnya tidak suka Mikan melepaskan pelukkannya.


Ioran berjalan memasuki kediaman Narumi dengan wajah tanpa ekspresi. Semalam, saat dia mengetahui siapa Natsume dan Mikan sebenarnya, dia benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia terlalu terkejut dengan kenyataan yang begitu mengejutkan itu.

"Ioran…" Panggil seseorang tiba-tiba.

Ioran segera menolehkan kepalanya menatap sumber suara itu dan dia melihat Kazumi dan Narumi berdiri di kejauhan menatapnya.

Ioran segera menundukkan kepalanya memberi hormat pada mereka dan berjalan mendekati mereka.

"Apakah kau datang untuk menemui Natsume dan Mikan?" tanya Kazumi.

Ioran mengangguk kepalanya. Dia memang datang kemari untuk menemui Natsume dan Mikan walau dia sebenarnya juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika mereka bertemu.

"Kurasa kau akan menemukan mereka ada di aula sekarang." Ujar Kazumi lagi.

"Terima kasih, Yang Mulia." Balas Ioran sambil menundukkan kepalanya.

Saat Ioran mengangkat wajahnya, dia melihat bisa melihat ekspresi penuh kekecewaan di wajah Kazumi dan Narumi.

"M-Maaf jika aku tidak sopan Yang Mulia. Apakah ada yang mengangu anda? Mengapa anda kelihatan sangat kecewa?" tanya Ioran memberanikan dirinya.

Mendengar pertanyaan Ioran itu, Kazumi dan Narumi menghela napasnya.

"Natsume menolak tawaran yang kami berikan padanya." Jawab Kazumi pelan.

"Tawaran?" tanya Ioran binggung.

"Yang Mulia Raja Kazumi dan Pange.. Oh, maaf. Maksudku Yang Mulia Raja Tsubasa menawarkan jabatan jendral kepada Natsume dalam perang ini." Jawab Narumi pelan.

"APA!" seru Ioran terkejut.

"Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi perang ini sekarang, Ioran. Pasukan Theoden yang sedang bermarkas di luar kota ini sedang menunggu meriam sihir mereka tiba. Aku benar-benar tidak tahu cara untuk mempertahan kota ini jika mereka menggunakan meriam sihir berkekuatan dahsyat itu." Ujar Kazumi pelan.

Ioran segera menatap Kazumi begitu mendengar ucapannya itu.

"Satu-satunya cara untuk mempertahankan kota ini adalah menyerang pasukan Theoden yang berada di luar kota sebelum meriam itu tiba. Tapi, kondisi pasukan kita tidak memungkinkan kita melakukan itu. Dan juga, semangat perang pasukan kita sangat rendah sekarang. Tidak ada seorangpun yang berpikir mampu mengalahkan serangan meriam sihir itu."

Ioran mengerti sekali maksud ucapan Kazumi itu. Meriam sihir pasukan Theoden yang sedang ramai dibicarakan itu benar-benar telah berhasil membuat semua yang ada kehilangan harapan untuk mempertahankan kota mereka.

"Aku bermaksud menggunakan Natume untuk membangkitkan semangat pasukan kita," lanjut Kazumi lagi "Kau sudah melihat dengan mata kepalamu sendiri kekuatan Natsume itu' kan, Ioran? Meski masih sangat muda, Natsume sangat kuat. Luar biasa kuat hingga aku sendiri sulit mempercayainya. Dia hanya seorang diri saja mampu menakuti dan memukul mundur beribu prajurit Theoden. Prajurit kita pasti akan lebih percaya diri jika jendral mereka adalah dia."

Ioran terdiam mendengar penjelasan Kazumi itu. Kazumi dan yang lainnya meminta bantuan Natsume dalam perang ini? Apa yang dikatakan mereka memang tidak salah, tapi mereka yang tidak tahu siapa dan makhluk apa Natsume itu sebenarnya meminta Natsume memihak mereka?

"Namun, sayang dia menolaknya tidak peduli apa yang aku dan Tsubasa tawarkan padanya." Ujar Kazumi sambil menghela napasnya.

Ioran tetap tidak mengatakan sepatah katapun. Kepalanya sangat pusing. Dia benar-benar tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukannya.

"Aku sudah tidak mau rakyat tidak berdosa yang mati lagi. Sudah cukup. Sudah terlalu banyak darah mereka yang mengalir.." Tambah Kazumi pelan dengan penuh kesedihan.

Mendengar ucapan Kazumi itu, Ioran akhirnya berhasil membuat keputusan. Dia tidak peduli lagi, dia tidak peduli lagi siapa Natsume itu sebenarnya. Apa yang dikatakan Kazumi benar, sudah terlalu banyak darah yang mengalir dalam perang ini.

"Serahkan saja padaku Yang Mulia. Aku akan membuat Natsume menerima jabatan itu." Ujar Ioran dengan wajah penuh keyakinan.


"Bagaimana kau bisa tahu, jika informasi yang kami terima tentang ketibaan pasukan Theoden itu palsu, Kak Tsubasa?" tanya Ruka bingung saat dia, Natsume, Mikan, Hotaru dan Misaki berada dalam salah satu ruang tamu di kediaman Narumi, sang walikota Lixir.

Tsubasa tersenyum mendengar pertanyan Ruka itu "Karena aku punya informan tersembunyi, Ruka."

"Informan tersembunyi?" tanya Ruka semakin bingung.

"Iya. Informanku itu mengirimkan surat padaku tentang rencana Mihara. Karena itulah aku dan semua bala bantuan bisa tiba tepat waktunya." Jelas Tsubasa penuh kebanggaan.

"Seharusnya kau bisa tiba lebih awal lagi di kota ini sebelum pasukan Theoden dan si jendral sadistis itu tiba di kota ini, bayangan." Ujar Hotaru tiba-tiba dengan wajah tanpa ekspresi.

"Hei.. Hotaru. Setidaknya berterima kasihlah padaku yang datang tepat waktunya dari pada tidak datang sama sekali. Dan juga, hormati aku sedikit, setidaknya aku ini sekarang adalah Raja kerajaan Arthron, tahu?" balas Tsubasa sambil menghela napas.

Hotaru sama sekali tidak mempedulikan ucapan Tsubasa itu, dia menolehkan wajahnya ke arah lain. Ruka hanya menggeleng kepalanya sedangkan Misaki hanya bisa menepuk pundak Tsubasa seolah berkata itulah sifat dari Hotaru sang Putri kerajaan Orthanc yang terkenal itu.

Tsubasa membalikkan wajahnya menatap Natsume dan Mikan yang dari tadi diam membisu. Hal pertama yang dilihatnya adalah senyum lebar Mikan yang penuh kegembiraan menatapnya.

"Mikan.. Apa maksud senyummu itu? Apakah kau begitu senang melihatku seperti ini?" tanya Tsubasa pelan dengan penuh kesedihan.

Mikan menggeleng kepalanya sambil tersenyum "Bukan seperti itu, Kak Tsubasa. Aku hanya senang karena sudah lama aku tidak melihat adegan seperti ini. Benarkan, Natsume?"

Natsume sama sekali tidak menjawab pertanyaan Mikan itu, dia tetap saja cuek.

Tsubasa hanya bisa menghela napas melihat sikap Mikan dan Natsume yang tidak berubah sama sekali. Namun, tiba-tiba dia merasakan perbedaan antara Natsume dan Mikan yang ada di depannya sekarang dan dulu. Tangan Natsume menggenggam tangan Mikan dengan erat dan kelihatan sama sekali tidak mau melepakannya. Mikan sama sekali tidak kelihatan tergangu, dia malah membalas genggaman tangan Natsume dengan sama eratnya.

"Natsume… Tidakkah kau gembira bertemu lagi dengan Kak Tsubasa?" tanya Mikan lagi.

Natsume tetap tidak menjawab pertanyaan Mikan.

"Natsume! Jangan seperti itu!" Seru Mikan cemberut sambil mengangkat wajahnya menyentuh pipi Natsume.

"Hn." Balas Natsume cuek.

Tsubasa benar-benar bisa melihat perbedaannya sekarang. Natsume yang dulu pasti akan segera melepaskan tangan Mikan dari pipinya sekarang. Namun, Natsume yang sekarang sama sekali tidak melakukan itu.

"R-Ruka, Hotaru. Apakah ini hanya khayalanku saja? Apakah hubungan Natsume dan Mikan telah naik satu tingkat lebih tinggi?" tanya Tsubasa bingung.

Ruka hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Tsubasa itu.

"Bukankah kau bisa melihatnya sendiri, bodoh." Jawab Hotaru dengan wajah tanpa ekspresi.

"Hotaru, aku hanya ingin kepasti…" Balas Tsubasa. Namun sebelum dia menyelesaikan ucapannya itu, pintu ruang tamu ini terbuka dan Ioran berjalan masuk.

Ioran segera menolehkan wajahnya menatap Natsume dan Mikan.

"Natsume, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu." Ujar Ioran tenang.


"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Natsume dingin pada Ioran di dalam salah satu kamar dalam kediaman Narumi.

Natsume sebenarnya sudah bisa memperkirakan apa yang ingin dibicarakan Ioran, karena itulah dia tidak menolaknya dan memilih berbicara di dalam kamar ini yang dia tahu tidak akan ada seorangpun yang dapat mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.

Ioran mengangkat wajahnya menatap mata merah darah Natsume dan menelan ludahnya "Aku ingin kau menerima tawaran dari Yang Mulia Raja Kazumi."

Natsume sama sekali tidak menyangka akan mendengar ucapan itu dari mulut Ioran. Dia berpikir yang ingin dibicarakan Ioran adalah bagaimana mungkin dia bisa hidup di dunia ini.

"Aku menolak." Jawab Natsume singkat sambil membalikkan badanya dan berjalan menjauh untuk keluar dari kamar tersebut.

"Mikan." Ujar Ioran tiba-tiba.

Langkah kaki Natsume segera terhenti begitu mendengar Ioran menyebut nama itu. Dia menolehkan wajahnya menatap Ioran.

"Aku akan menceritakan pada Mikan siapa kau dan dia sebenarnya."

Kemarahan memenuhi Natsume, dengan kecepatan yang luar biasa dia bergerak ke arah Ioran dan mencengkeram lehernya. Kedua mata merah darahnya menatap Ioran dengan penuh kemarahan.

"Mikan tidak tahu apa-apa, bukan? Dan kau tidak ingin dia tahu' kan? Aku tidak akan menceritakan apa yang aku ketahui jika kau bersedia membantu kami." Ujar Ioran berusaha tetap tenang.

"Beraninya kau mengancamku." Ujar Natsume dingin.

"Terserah apa katamu."

"Aku akan membunuhmu." Ancam Natsume penuh kemarahan.

"Terserah. Tapi, ingat Natsume, jika kau membunuhku sekarang, semua orang pasti akan langsung tahu, termasuk Mikan. Dan jika aku keluar dari kamar ini aku akan langsung memberitahunya. Kau tidak mau itu terjadikan?"

Natsume tidak mengatakan apapun. Dia mencekik leher Ioran dengan kuat.

Ioran sebenarnya sangat takut sekarang. Dia tahu, ancaman Natsume itu bukan main-main. Dia mulai kehabisan napas.

"K-Kau boleh membunuhku setelah perang ini selesai, Natsume" Ujarnya tersendat-sendat.

Mendengar ucapan Ioran itu. Natsume melepaskan cengkraman leher Ioran.

Ioran yang badannya lemas segera terjatuh ke bawah dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dia mengangkat kepalanya menatap Natsume.

"Aku tidak akan menceritakan pada Mikan dan siapapun apa yang aku ketahui. Dan setelah perang ini selesai, aku tidak akan keberatan untuk kau. bunuh."

Natsume tidak mengatakan sepatah katapun lagi. Dia hanya menatap Ioran dengan penuh kemarahan dan kebencian. Dia tidak ingin terlibat dalam perang ini, tapi dia lebih tidak ingin lagi Mikan mengetahui siapa mereka sebenarnya.

"Aku pasti akan membunuhmu setelah ini semua berakhir." Ujar Natsume dengan dingin dan berjalan keluar dari kamar tersebut meninggalkan Ioran sendirian.

Ioran yang melihat Natsume berjalan meninggalkannya hanya bisa menghela napas.

"Semoga apa yang aku lakukan sekarang tidak salah, Kaoru, Izumi, Yuka..." Ujarnya pelan.


"Jangan senyum seperti itu terus, Tsubasa. Sangat mengerikan tahu?" ujar Misaki sambil menggeleng kepalanya melihat senyum Tsubasa.

Tsubasa membalikkan wajahnya menatap Misaki "Aku hanya terlalu senang saja, Misaki. Sebab, akhirnya Natsume menerima tawaran kami."

Misaki hanya bisa menghela napas mendengar ucapan Tsubasa itu. Ruka hanya tersenyum sedangkan Hotaru tetap diam tanpa ekspresi. Namun, di dalam hati mereka, mereka juga sebenarnya sangat senang karena Natsume menerima tawaran mereka dan bersedia untuk bergabung dengan mereka.

Mereka sama sekali tidak percaya saat mengetahui Ioran berhasil membuat Natsume setuju untuk bergabung dengan mereka. Mereka semua tahu, Ioran telah melakukan sesuatu sehingga Natsume menerima tawaran mereka itu. Dan dilihat dari ekspresi wajah Natsume saat mengatakan dia bersedia menerima tawaran itu, mereka juga tahu, apa yang dilakukan Ioran itu jelas bukan sesuatu yang menyenangkannya.

Mereka semua telah bertanya pada Ioran apa yang dilakukannya hingga Natsume bersedia membantu mereka. Tapi, Ioran menolak untuk menjawabnya. Dia hanya tersenyum dan mengatakan dia tidak melakukan apa-apa yang semua orang tahu adalah kebohongan besar.

Ruka dan Hotaru memang tidak tahu apa yang sesungguhnya dilakukan Ioran sehingga dia bersedia membantu mereka. Tapi mereka berdua tahu, apapun yang dilakukan Ioran, itu ada hubungannya dengan Mikan. Natsume hanya bisa mengubah pendiriannya yang tidak tergoyahkan dan kehilangan wajah tanpa ekspresinya itu jika menyangkut Mikan.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku harus berterima kasih pada Ioran sebesar-besarnya." Tawa Tsubasa. Dia benar-benar senang, dia merasa akhirnya mereka memiliki sedikit harapan dalam memangkan perang ini sekarang dengan bergabungnya Natsume.

"Sudah cukup, Tsubasa. Sebaiknya kita segera ke ruang rapat saja, jangan membuat kami semua terlambat karena kamu seorang." Ujar Misaki sambil menghela napas sambil mendorong punggung Tsubasa.

"Iya. Kau benar Misaki." Senyum Tsubasa lebar.


"Kalian terlambat." Ujar Kazumi dingin begitu melihat Ruka, Hotaru, Tsubasa dan Misaki memasuki ruang rapat tersebut.

"Tanya saja, Raja bayangan bodoh itu." Ujar Hotaru dingin dengan wajah tanpa ekspresi.

"Maafkan kami, itu semua gara-gara Tsubasa." Balas Misaki sambil menundukkan kepalanya meminta maaf.

"Hei! Kenapa semua orang menyalahkan aku!" Protes Tsubasa kesal.

Hotaru menolehkan wajahnya pada Tsubasa "Tanyakan saja pada dirimu sendiri, bodoh."

Ruka hanya bisa tersenyum kecil melihat sikap teman-temannya itu, walau kondisi mereka sudah seperti ini, mereka tetap saja bisa bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi dia tahu, memang inilah yang paling dibutuhkan mereka sekarang.

"Kapan kalian mau memulai rapatnya. Aku tidak mau menghabiskan waktuku di sini hanya untuk bersama kalian." Ujar Natsume yang duduk di ujung meja rapat dengan wajah tanpa ekspresi.

Semua terdiam dan membalikkan wajah mereka menatap Natsume. Meskipun dia diam dan berwajah tanpa ekspresi, Ruka, Hotaru, Tsubasa, Kazumi, Sakurano, Ioran, Narumi, Misaki dan beberapa komandan pasukan Lixir serta komandan bantuan dari bala bantuan tahu dengan jelas. Dia sedang kesal dan marah.

Tsubasa yang melihat Natsume seperti itu berusaha untuk meredakan kemarah Natsume. Dia berjalan ke sampingnya dan menepuk pundaknya "Tidak perlu khawatir, Natsume. Aku mengerti kalau kau lebih memilih menghabiskan waktu bersama Mikan. Setelah rapat ini selesai, ayo kita mencari Mikan, kita habiskan waktu bersama."

"Bodoh." Ujar Hotaru pelan dengan wajah tanpa ekspresi.

Kemarahan Natsume mencapai puncaknya. Dia bangkit dari tempat duduknya menghadap Tsubasa dan meninju pipinya "Mengapa kami berdua harus menghabiskan waktu bersamamu, bayangan sialan."

Ioran, Narumi, dan semua komandan pasukan Lixir serta bala bantuan hanya bisa terbengong melihat sikap Natsume yang berani memukul Tsubasa sang Raja Arathorn. Ruka, Misaki, Kazumi dan Sakurano hanya bisa menggeleng kepalanya melihat sikap Tsubasa yang sama sekali tidak berubah walau dia adalah seorang Raja sekarang, sedangkan Hotaru, dia tetap berwajah tanpa ekspresi.


"Kurasa sudah banyak yang tahu, tapi aku akan memperkenalkannya sekali lagi. Aku dan Tsubasa telah memutuskan untuk mengangkat Natsume sebagai salah satu jenderal dalam perang menghadapi kerajaan Theoden." Ujar Kazumi memperkenalkan Natsume pada semua yang ada di dalm ruang rapat tersebut.

Semua komandan yang ada di ruangan tersebut segera menolehkan wajah mereka menatap Natsume yang duduk di ujung meja rapat tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tidak ada seorangpun yang mengucapkan satu kata keberatan pada keputusan Kazumi dan Tsubasa untuk mengangkat Natsume yang masih begitu muda untuk menjadi seorang jenderal. Semua komandan kota Lixir sebagian besar telah melihat dengan kepala mata mereka sendiri betapa kuatnya Natsume semalam. Para komandan pasukan Arathorn meski tidak pernah melihat, mereka telah mengetahui betapa kuatnya Natsume itu jauh sebelumnya, sebab mereka tahu, Natsume adalah prajurit yang berhasil mengalahkan komandan Theoden dalam perang di kota Radiata yang ramai dibicarakan di Arathorn. Sedangkan komandan Edoras yang tidak pernah melihat dan baru mendengar tetap tidak keberatan karena mereka tahu, Raja mereka tidak akan mungkin mengambil suatu keputusan tanpa suatu kepastian.

"Karena tidak ada yang keberatan. Aku akan melanjutka rapat ini," lanjut Kazumi "Kita akan menyerang pasukan Theoden besok malam. Kita tidak bisa menunggu waktu meriam sihir mereka tiba lusa malam."

Tidak ada seorangpun yang mengatakan sepatah katapun sampai Natsume membuka mulutnya "Dari mana kalian tahu meriam sihir itu akan tiba lusa malam?"

"Dari sumber terpecayaku." Jawab Tsubasa yang dari tadi menyentuh pipinya yang dipukul Natume di samping Kazumi.

"Apakah informasi itu benar-benar bisa dipercaya?" tanya Natsume lagi.

"Natsume, aku bisa kemari bersama bala bantuan tanpa tertipu imformasi penyerangan Mihara ke kota ini adalah berkat bantuan sumberku tersebut. Percayalah padaku." Jelas Tsubasa.

Natsume sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun lagi, dia membuang wajahnya dengan cuek.

"Kak Tsubasa, aku memang sudah mendengar tentang meriam sihir itu, tapi aku dan sebagian besar yang ada di sini sebenarnya masih binggung. Apa meriam sihir itu sebenarnya? Siapa yang menciptakannya dan bagaimana kerajaan Theodn bisa memiliki senjata itu?" tanya Ruka tiba-tiba.

Mendengar pertanyaan Ruka, wajah Kazumi dan Tsubasa berubah menjadi serius. Mereka juga tidak tahu, bagaimana menjawabnya, sebab mereka sama sekali tidak tahu apa dan dari mana datangnya senjata itu.

Ruangan itu menjadi senyap sampai akhirnya seseorang membuka mulutnya.

"Meriam sihir itu adalah senjata sihir kuno yang diciptakan oleh para penyihir pada jaman dulu untuk satu tujuan. Senjata sihir itu sejak dulu telah tersegel dengan rapat di ruang bawah tanah istana Theoden."

Semua yang ada di sana segera menolehkan wajah mereka menatap sumber suara tersebut dan mereka sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya saat melihat siapa yang sedang berbicara itu.

Natsume.

"Senjata itu sangat besar. Panjangnya ada sekitar dua puluh meter dan lebarnya ada sekitar sepuluh meter dan terbuat dari besi hitam yang sudah tidak dapat ditemukan lagi di dunia ini sekarang. Senjata itu menggunakan serangan sihir dari para penyihir yang disimpan dalam intinya dan ditembakkan sebagai pelurunya."

Semua benar-benar terkejut mendengar penjelasan Natsume mengenai senjata sihir tersebut.

"D-Dari mana kau tahu itu, Natsume?" tanya Tsubasa terbata-bata penuh kebingungan. Apa yang dikatakan Natsume mengenai ciri-ciri meriam sihir itu memang benar. Namun, Tsubasa seratus persen yakin, Natsume sama sekali tidak pernah melihat meriam sihir itu. Dari mana dia tahu itu? Terlebih lagi, Informasi yang diketahui Natsume tentang siapa pembuat dan di mana senjata itu berada selama ini jelas-jelas sangat mengejutkannya, sebab informan tersembunyinya saja tidak mengetahuinya.

Walau tidak melihat, Natsume bisa merasakan dengan jelas perasaan terkejut bercampur bingung dari semua yang ada di ruangan itu. Namun dia sama sekali tidak mempedulikannya, dia kembali melanjutkan ucapannya "Semakin banyak serangan sihir yang dihimpun, semakin besar kekuatan yang dihasilkan. Namun, senjata itu juga memiliki kelemahan fatal. Senjata itu memerlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan tembakan kedua setelah tembakkan pertama."

"NATSUME!" teriak Kazumi tiba-tiba menghentikan penjelasan Natsume.

Natsume mengangkat wajahnya menatap semua yang ada di ruangan ini yang menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

"S-Siapa kau sebenarnya, Natsume?" tanya Kazumi terbata-bata.

Kazumi, Tsubasa, Misaki, Sakurano, Narumi dan semua yang ada di sana benar-benar bingung sekarang. Siapa Natsume itu sebenarnya? Bagaimana dia bisa tahu semua itu? Apa yang diketahuinya itu bukanlah sesuatu yang bisa diketahui oleh orang biasa. Hanya ada satu kemungkinan bagaimana Natsume bisa mengetahui semua itu, yaitu Natsume sesungguhnya berasal dari kerajaan Theoden. Dan dia pasti bukanlah orang sembarangan karena bisa mengetahui tentang meriam sihir yang menjadi senjata pemungkas kerajaan Theoden sedetail itu.

Ruka dan Hotaru hanya diam tidak mengatakan sepatah katapun. Mereka berdua sebenarnya sejak awal sudah tahu bahwa Natsume memiliki hubungan dengan Kerajaan Theoden. Reo yang dilawan mereka di hutan terlarang, jelas mengenal Natsume dan memanggilnya "Kucing hitam". Namun, mereka tidak pernah bertanya padanya karena mereka merasa Natsume tidak akan menyukai pertanyaan tersebut. Dan yang terpenting, mereka berdua juga tahu, Natsume menghindari Reo atau lebih tepatnya menghindari pasukan Theoden selama ini.

Ioran menatap Natsume dengan pandangan tidak percaya. Dia sebenarnya sama sekali tidak mengerti kenapa Natsume bisa mengetahui itu semua. Tapi, tiba-tiba dia seperti tersadar akan satu hal. Ekspresi tidak percaya dan binggungnya segera berubah menjadi ekspresi wajah sedih. Dia segera menundukkan kepalanya ke bawah tanpa berani mengangkatnya karena tidak mau ada yang menyadarinya.

"Siapa aku sebenarnya, tidak ada hubungan dengan kalian." Jawab Natsume dingin.

Natsume sebenarnya sama sekali tidak mau menjelaskan apa itu sebenarnya meriam sihir kepada mereka semua. Tapi, untuk memenangkan perang ini, mau tidak mau, dia harus menceritakan semua yang diketahuinya walaupun mereka akan semakin mencurigai jati dirinya sebenarnya. Keadaan di sekelilingnya terus berubah dan terus memaksanya memilih keputusan yang sama sekali tidak diinginkannya.

Kazumi kembali terdiam. Dia sama sekali tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Aku akan menceritakan pada kalian semua yang aku ketahui mengenai meriam sihir itu. Namun, jangan pernah bertanya dan mencari tahu, bagaimana aku bisa mengetahuinya." Lanjut Natsume lagi dengan tenang.


Seorang pria berusia sekitar dua puluh tahun berambut hitam panjang dan bermata violet menatap sekelilingnya dengan penuh kewaspadaan. Dia mengelurakan seekor burung merpati dari dalam tasnya dan melemparkannya ke atas langit malam.

"Semoga semuanya masih belum terlambat." Ujarnya pelan sambil melihat burung itu terbang menjauh.

"AKIRA!" Panggil seseorang dari kejauhan tiba-tiba.

Pria itu segera membalikkan badannya dan berlari ke sumber suara itu "IYA. AKU DATANG!"


"Lebih baik anda istirahat saja, Nona Mikan. Anda kelihatan sangat lelah sekarang." Ujar salah satu penyihir yang dari tadi menyembuhkan prajurit dan penduduk kota yang terluka pada Mikan.

Mikan mengangkat kepalanya menatap penyihir itu dan tersenyum lebar "Tidak apa-apa. Aku masih ingin membantu kalian. Dan juga, aku sedang menunggu Natsume."

Wajah penyihir itu dan semua yang melihat Mikan memerah begitu melihat senyum lebarnya itu. Penyihir itu mengangguk kepalanya dan membiarkan Mikan kembali membantu mengobati mereka yang terluka.

Mikan sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi dan sesungguhnya dia takut. Semalam saat untuk pertama kali melihat medan perang, dia sangat ketakutan. Dia hanya melihatnya beberapa detik saja meski semua itu tersimpan dengan baik dalam otaknya. Namun, kesibukkannya mengobati mereka yang terluka berhasil membuatnya melupakan itu.

Mikan tidak tahu apa itu perang, tapi dia yakin seratus persen dia membencinya.

"Nona.. " Panggil seseorang tiba-tiba.

Mikan menolehkan wajahnya menatap sumber suara tersebut dan dia melihat seorang wanita tua salah satu penduduk kota yang terluka melihatnya dengan penuh kekhawatiran.

"Iya ada yang bisa aku bantu?" tanya Mikan sambil tersenyum.

Wanita tua itu tersenyum "Nona, lebih baik anda beristirahat saja dulu. Anda telah membantu menyembuhkan kami semua sejak pagi. Dan lihatlah, kami semua sudah tidak apa-apa."

Mikan mengangkat kepalanya melihat sekelilingnya. Apa yang dikatakan wanita itu memang benar semua yang terluka di sini telah diobati.

"Baiklah. Tapi, aku tetap akan berada di sini, karena aku sedang menunggu Natsume. Dan jangan panggil aku nona, panggil aku Mikan" Balas Mikan sambil tersenyum dan duduk di samping wanita tua itu.

Mikan sama sekali tidak mengikuti rapat strategi itu karena dia tahu, dia tidak akan mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan juga dia lebih memilih mengobati mereka yang terluka.

Wanita tua itu tertawa kecil mendengar ucapan dan melihat sikap hangat Mikan itu "Baiklah, Mikan-chan."

Mikan tersenyum lebar mendengar wanita tua itu memanggil namanya.

"Natsume yang terus anda sebutkan dari tadi itu.. Apakah dia adalah kekasihmu, Mikan-chan?" tanya wanita tua itu sambil tersenyum.

"Kekasih?" tanya Mikan kembali dengan binggung.

Pertanyaan yang sama lagi dengan dulu. Pertanyaan yang sampai hari inipun tidak dapat dijawabnya.

"Nenek, boleh aku bertanya padamu? Kekasih itu sebenarnya apa? Hotaru mengatakan padaku kekasih adalah dua orang yang saling menyayangi dan mencintai. Aku menyayangi banyak orang dan aku rasa mereka juga menyayangiku, apakah itu artinya semua orang itu adalah kekasihku?"

Wanita tua itu kembali tertawa mendengar pertanyaan Mikan. Dia menolehkan wajahnya ke depan dengan mata menerawang dan menjelaskan pada Mikan dengan suara lembut "Kekasih adalah orang yang paling kau cintai dan kasihi. Orang yang bisa menjadi ayah, saudara maupun teman bagimu. Orang yang akan berada di sampingmu saat kau bahagia maupun menderita. Kekasih itu adalah belahan jiwamu."

"Apakah anda juga punya kekasih, nek?" tanya Mikan pelan saat melihat ekspresi damai di wajah wanita tua itu.

Wanita tua itu mengangguk kepalanya "Aku punya, Mikan-chan. Dia selalu ada untukku sejak aku masih kecil hingga aku tua. Dia adalah orang terpenting dan terberharga bagiku."

"Di mana dia? Bisakah anda mempertemukanku dengannya?"

"Aku tidak bisa mempertemukan kalian, Mikan-chan. Dia telah meninggal tiga tahun yang lalu."

Mikan terdiam sejenak mendengar jawaban wanita tua itu.

"M-Maaf..." Ujar Mikan pelan.

Wanita tua itu tersenyum kecil "Tidak perlu meminta maaf, Mikan-chan."

"Nenek, jika kekasihmu sudah tidak ada di sampingmu lagi, apakah anda tidak sedih?"

"Dia tidak pernah meninggalkanku, Mikan-chan. Sampai detik inipun dia selalu ada di sampingku."

"Eh! Di mana?" tanya Mikan terkejut.

Wanita itu tertawa pelan dan mengangkat kedua tangannya menunjuk dadanya "Dia ada di sini."

"Di sana?"

"Iya. Dia selalu ada di sini bersamaku, walau raganya tidak pernah di sampingku lagi, jiwanya akan selalu ada di sampingku hingga akhir hidupku."

Mikan memang sama sekali tidak mengerti semua yang dikatakan wanita itu. Namun, saat dia memikirkan kata-kata wanita tua itu. Wajah Natsumelah yang terbayang di dalam pikirannya.

Wanita itu tersenyum lembut dan menatap Mikan. Dia tahu Mikan tidak mengerti semua yang dikatakannya "Mikan-chan. Bagimu, Natsume itu apa?"

Mikan mengangkat wajahnya menatap wanita tua itu "B-Bagiku?"

"Iya. Bagimu?"

"Bagiku, Natsume adalah... Dia adalah orang yang selalu dingin, cuek dan memanggilku idiot," jawab Mikan sambil berpikir dan sebuah senyum mengembang di wajahnya " Tapi, dia sesungguhnya adalah orang yang sangat baik. Sejak aku membuka mataku, dia sudah ada disampingku. Mencarikan aku makanan saat aku lapar, memelukku saat aku ketakutan dan kedinginan, menghapus air mataku saat aku menangis. Kadang, dia tersenyum saat aku tertawa. Dan wajahnya saat tersenyum itu adalah sesuatu yang paling kusukai di dunia ini."

Wanita tua itu tersenyum melihat ekspresi bahagia Mikan saat menceritakan Natsume.

"Matanya berwarna merah indah. Dia sangat kuat, pintar dan dapat diandalkan, berbeda sekali denganku. Kadang aku berpikir, aku ini hanya bisa merepotkannya, tapi, dia sama sekali tidak pernah meninggalkanku." Lanjut Mikan sambil tersenyum lebar menatap wanita tua itu.

Senyum wanita tua itu masih tetap ada di wajahnya. Melihat ekspresi dan mendengar cara Mikan menjelaskan Natsume, dia tahu apa artinya keberadaan Natsume bagi Mikan.

"Kenapa anda terus tersenyum seperti itu, nek?" tanya Mikan tiba-tiba saat melihat senyum wanita tua itu.

"Karena aku seperti melihat diriku dan mendengar ceritaku sendiri..." Balas wanita tua itu lembut.

"Eh?" seru Mikan bingung.

"Natsume itu. Dia sangat penting dan berharga bagimu, bukan?"

Mikan mengangguk kepalanya sambil tersenyum "Iya. Kenapa anda bisa tahu?"

Wanita tua itu tertawa mendengar pertanyaan Mikan. Dia hanya bisa berpikir betapa polosnya gadis yang ada di depannya sekarang. Penjelasannya tadi sudah menjawab pertanyaannya, walau Mikan sendiri tidak menyadarinya.

"Kenapa anda tertawa, nek?" tanya Mikan bingung.

"Jawabannya sudah ada di hatimu, Mikan-chan. Kau pasti akan segera menemukan jawabannya." Jawab wanita tua itu lembut sambil tersenyum.


Natsume berjalan menuju aula tempat di mana Mikan berada dengan wajah cuek tanpa mempedulikan Ruka, Hotaru, Tsubasa dan Misaki yang ada di belakangnya.

Natsume segera meninggalkan ruang rapat itu setelah rapat strategi penyerangan mereka besok malam selesai. Dia sama sekali tidak mau berada di dalam ruangan itu lebih lama dan merasakan tatapan bingung penuh tanda tanya bercampur curiga dari semua yang ada di sana.

Natsume tahu, semua yang ada di ruangan rapat itu pasti sangat penasaran dan mencurigai siapa dirinya sebenarnya. Namun, dia juga tahu, mereka semua tidak bisa berbuat apa-apa untuk menemukan jawabannya. Dia hanya perlu mengakhiri perang ini secepatnya dan pergi dari kota ini bersama Mikan meninggalkan semua yang mengenal mereka sekarang.

Ruka, Hotaru, Tsubasa dan Misaki yang berada di belakang Natsume sama sekali tidak mengatakan atau bertanya apapun padanya. Mereka tahu, Natsume tidak akan menjawab pertanyaan mereka tidak peduli berapa kali mereka bertanya. Mereka semua memilih untuk mempercayai Natsume. Natsume mungkin memang memiliki hubungan dengan kerajaan Theoden, tapi mereka tahu, Natsume ada di pihak mereka.

Saat Natsume membuka pintu aula tempat Mikan berada, semua yang ada di dalam aula itu segera menolehkan wajah mereka menatap Natsume dan yang lainnya.

Natsume sama sekali tidak mempedulikan pandangan mereka yang menatapnya. Mata merahnya melihat ke sekeliling aula ini mencari sosok Mikan. Saat dia melihat Mikan tertidur di samping seorang wanita tua di ujung aula ini, dia segera berjalan medekatinya.

Natsume sebenarnya sama sekali tidak suka dengan kenyataan Mikan yang membantu mengobati para prajurit dan penduduk kota yang terluka. Tapi dia mengijinkannya melakukan itu, karena dia ingin Mikan menyibukkan dirinya dan melupakan kenyataan apa yang dilihatnya semalam. Dia takut pemandnagan perang yang dilihatnya akan terus menghantuinya dan membuatnya sedih.

Semua pasang mata yang ada di ruangan ini mengikuti Natsume. Semua orang yang ada di ruangan ini tahu dengan pasti siapa Natsume itu sebenarnya sekarang. Informasi mengenainya telah tersebar dengan cepat kepada semua yang ada di kota ini. Pemuda yang ada di depan mereka adalah pemuda yang berhasil memukul mundur pasukan Theoden sendirian dan juga jenderal baru dalam perang yang sedang berlangsung ini.

Wajah tampan tanpa ekspresi, mata merah darahnyanya serta aura aneh yang ada di sekeliling Natsume membuat semua yang ada di sana terpesona sekaligus takut. Hanya dengan sekali lihat, mereka tahu Natsume itu sangat kuat.

Wanita tua yang ada di samping Mikan mengangkat wajahnya menatap Natsume saat dia tiba di depannya dan Mikan.

"Selamat malam… Mikan-chan tertidur karena keleahan. Dia memintaku membangunkanya saat anda datang. Tapi melihat tidurnya yang begitu nyenyak, aku tidak berani membangunkanya." Ujar wanita tua itu lembut.

Natsume tidak mengatakan sepatah katapun, dia membungkuk ke bawah dan membopongnya tubuh Mikan dengan pelan.

Merasakan kehangatn badan Natsume yng membopongnya. Mikan tersenyum dan bergumam pelan "Natsume…"

Natsume tersenyum kecil mendengar Mikan memanggil namanya.

Wanita itu tersenyum saat melihat senyum kecil Natsume itu. Dia bisa melihat dengan jelas betapa lembutnya wajah dan mata merah darahnya itu saat menatap Mikan "Dia terus menceritakan anda padaku. Dia menceritakan padaku betapa penting dan berharganya anda baginya."

Natsume mengangkat wajahnya menatap wanita itu begitu mendengar ucapannya.

"Dia adalah gadis terhangat, terpolos dan terbaik yang penah aku temui seumur hidupku ini. Jangan pernah membuat dia bersedih…" Lanjut wanita tua itu.

Natsume tetap tidak mengatakan apapun. Dia menolehkan wajahnya menatap Mikan. Dia sama sekali tidak memperlukan seorangpun mengingatkan itu padanya. Dia tidak akan pernah membuat Mikan bersedih.

"Natsume.." Tawa Mikan dalam tidurnya lagi dan melingkarkan kedua tangannya pada leher Natsume.

Natsume kembali tersenyum dan dengan pelan dia menempelkan bibirnya pada kening Mikan.

Semua yang ada di sana hanya diam membisu melihat sikap serta senyum lembut di wajah tampan Natsume itu. Aura menakutkan di sekelilingnya menghilang. Dia dan Mikan terlihat begitu indah, damai dan sempurna sekali.

Wanita tua itu tersenyum. Dia merasa apa yang barusan dikatakannya pada Natsume sama sekali tidak diperlukan. Natsume pasti akan menjaga Mikan dan tidak akan pernah membiarkannya bersedih. Dia bisa melihat dengan jelas betapa mereka berdua saling menyayangi dan mencintai, meski Mikan masih belum menyadarinya.

Tsubasa dan Misaki hanya tersenyum melihat Natsume dan Mikan begitu juga dengan Ruka walau dia juga merasakan hatinya sakit.

"Lupakanlah dia. Tidak ada celah sekecil apapun dalam hubungan mereka berdua." Ujar Hotaru tiba-tiba dengan pelan di samping Ruka.

Ruka menolehkan wajahnya menatap Hotaru sambil tersenyum "Aku tahu, Hotaru. Aku hanya perlu waktu untuk melakukan itu.."


"Mikan-chan!" panggil Misaki sambil berjalan ke arah Mikan yang masih berada dalam aula mengobati mereka yang terluka.

Mikan yang mendengar suara Misaki menolehkan kepalanya. Dia melihat Misaki dan Hotaru berjalan ke arahnya.

"Ada apa, Hotaru, Kak Misaki?" tanya Mikan sambil tersenyum dan berlari mendekati mereka berdua.

"Kau belum makan siang bukan?" tanya Misaki kembali sambil menatap Mikan.

"Aku senang karena orang bodoh sepertimu akhirnya berguna juga. Tapi, jika kau sakit gara-gara kurang beristirahat, kau hanya akan menjadi beban saja." Ujar Hotaru tiba-tiba dengan wajah tanpa ekspresi.

"Terima kasih, kak Misaki, Hotaru. Tapi aku belum la..." Balas Mikan.

"Ini bukan masalah lapar atau tidak lagi. Kau perlu istirahat." Potong Misaki.

"Apa yang dikatakan Putri Misaki dan Putri Hotaru benar, Mikan-chan. Kau perlu beristirahat." Ujar salah seorang penduduk kota tiba-tiba.

Mikan mengangkat wajahnya menatap penduduk kota itu.

"Benar, Nona Mikan. Beristirahatlah." Tambah salah seorang prajurit kota Lixir yang terluka.

"Kami sudah tidak apa-apa berkat bantuanmu." Ujar salah satu penduduk kota lagi.

Mikan menatap semua prajurit dan penduduk kota yang ada di sana. Mereka semua tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun.

"Nona Mikan, beristirahatlah dulu. Setelah anda cukup beristirahat barulah kembali kemari. Kami semua akan menunggu anda." Ujar salah seorang tim medis sambil tersenyum.

Melihat semua orang memintanya untuk beristirahat. Mikan akhirnya menyerah dan memutuskan untuk beristrirahat.

"Baiklah..." Ujar Mikan pelan.

Misaki tersenyum lebar dan tanpa membuang waktu lagi, dia menarik Mikan keluar dari aula itu.

Hotaru hanya bisa melihat para prajurit dan penduduk kota yang terluka serta tim medis yang ada di dalam aula ini. Dia bisa melihat betapa mereka menyukai Mikan dengan jelas. Hanya dalam jangka waktu sesingkat ini saja, Mikan telah berhasil merebut hati mereka semua. Mikan benar-benar memiliki pesona yang sangat luar biasa, dia begitu mudah untuk dicintai dan begitu sulit untuk dibenci.

"Hotaru! Ayo cepat!" teriak Misaki dari luar aula tersebut.


"Kau perlu baju baru, Mikan-chan." Ujar Misaki tiba-tiba sambil menatap Mikan yang sedang makan tiba-tiba.

"Eh!" seru Mikan binggung.

"Bajumu itu kotor sekali. Meski kita berada di garis perang. Kau juga harus memperhatikan penampilanmu, Mikan-chan sebab bagaimanapun kau itu seorang wanita, tahu?" ujar Misaki lagi.

"Kurasa itu tidak perlu, Kak Misaki." Balas Mikan pelan.

"Benar. Buat apa menjaga penampilan di saat seperti ini." Ujar Hotaru dengan wajah tanpa ekspresi.

"Kalian berdua salah. Justru di saat ini, kita sebagai wanita harus menjaga penampilan kita. Terutama kamu Mikan-chan. Jika kau berpenampilan bersih dan cantik, semua yang melihatmu pasti akan lebih senang lagi. Di dalam garis perang yang dingin dan penuh luka, senyummu bisa menjadi obat penyembuh yang luar biasa ampuh." Jelas Misaki panjang lebar.

Hotaru sama sekali tidak mengatakan apapun. Apa yang dikatakan Misaki memang cukup dapat diterima. Tapi, itu hanya berlaku untuk Mikan bukan dia.

Mikan yang sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Misaki hanya bisa menatapnya dengan penuh kebingungan.

"Kau mengerti Mikan-chan?" tanya Misaki sambil menatap Mikan.

Mikan menggeleng kepalanya "Aku tidak mengerti, Kak Misaki. Tapi, boleh aku bertanya? Jika aku berpenampilan bersih dan cantik, apakah Natsume akan senang?"

Misaki terdiam sejenak begitu mendengar pertanyaan Mikan itu "Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Ehmm… Natsume akhir-akhir ini agak aneh. Terlebih lagi dua hari ini, dia kelihatan sangat kesal akan sesuatu. Karena itu, jika dengan berpakaian bersih dan cantik aku bisa membuatnya senang, aku akan melakukannya." Jawab Mikan polos.

Senyum mengembang di wajah Misaki mendengar jawaban Mikan. Dia hanya bisa merasa betapa manisnya Mikan itu "Mikan-chan. Bagimu Natsume itu apa?"

"Eh!" seru Mikan kebingungan. Lagi-lagi ada yang bertanya seperti itu padanya.

"Siapapun pemuda itu bagi si bodoh itu. Pemuda itu bukanlah seorang teman ataupun saudara." Ujar Hotaru tiba-tiba.

Mikan dan Misaki segera menolehkan wajah mereka menatap Hotaru yang tetap saja berwajah tanpa ekspresi.

"Jika tidak kau tidak akan mungkin menciumnya." Lanjut Hotaru lagi dan menambahkan kata "Dalam bentuk yang mengerikan seperti itu" dalam hatinya.

"EH! MENCIUMNYA!" teriak Misaki terkejut.

Mikan yang sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Hotaru menjadi sangat kebingungan. Mencium? Apa itu? Memangnya kapan dia melakukan itu pada Natsume?

Misaki menatap Mikan dengan pandangan tak percaya "Benarkah Mikan? Apakah kau benar-benar mencium Natsume?"

"Kak Misaki, aku tidak mengerti. Apa maksud ucapan Hotaru, aku mencium Natsume?"

"Dasar bodoh." Ujar Hotaru pelan mendengar pertanyaan Mikan.

"Mencium itu adalah menempelkan bibirmu pada bibirnya. Apakah kau benar-benar melakukan itu?" jawab Misaki dan kembali menanyainya dengan penasaran.

Mikan ingat sekarang, dia memang menempelkan bibirnya pada bibir Natsume pada saat Natsume kehilangan dirinya di hutan kabut Islac.

"Kenapa? Apakah itu sesuatu yang salah?" tanya mikan lagi.

Misaki tersenyum "Itu bukan sesuatu yang salah. Tapi, itu hanya boleh kau lakukan kepada orang yang kau cintai dan mencintaimu saja. Kau hanya boleh melakukan itu pada Natsume seorang saja."

Mikan benar-benar kebingungan sekarang. Dia sama sekali tidak mengerti kalimat "Orang yang kau cintai dan mencintaimu". Cinta? Apakah itu bukan sayang? Apakah cinta dan sayang itu benar-benar berbeda?

"Percuma saja kau menjelaskan itu padanya, Kak Misaki. Otaknya yang bodoh itu tidak akan mengerti." Ujar Hotaru cuek.

Mikan tidak mengatakan apapun lagi, dia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia mencium Natsume yang kehilangan dirinya di hutan kabut Islac saat itu, karena di dalam hatinya dia merasa itulah satu-satunya hal yang bisa dilakukannya untuk menghentikan Natsume. Badannya bergerak dengan sendirinya saat itu. Dia sangat ketakutan saat itu, sebab dia tahu, dia akan kehilangan Natsume untuk selamanya jika dia membiarkan Natsume saat itu.

"Sudah cukup. Mikan, Hotaru, kalian sudah siap makan'kan?" tanya Misaki tiba-tiba menyadarkan Mikan dari lamunannya.

Mikan mengangkat kepalanya menatap Misaki dengan ekspresi terkejut.

"Ayo, kita ke kota. Aku akan memberimu misi paling penting hari ini, Mikan-chan." Senyum Misaki.


Mihara tersenyum penuh kegembiraan saat melihat semua meriam sihirnya telah tiba di pasukannya. Dia sama sekali tidak pernah menyangka meriam sihirnya itu bisa tiba lebih cepat dari pada dugaannya.

Mihara sama sekali tidak membuang waktunya lagi. Dia segera memerintahkan semua prajuritnya untuk menyiapkan senjata itu. Dia ingin menghancurkan kota Lixir secepatnya, dia akan membuat kota itu rata seperti tanahnya.

"Tidak akan aku biarkan siapapun yang berada di kota itu hidup."


Natsume, Ruka, Tsubasa, Ioran dan Narumi berjalan menyusuri jalan di kota Lixir menuju sebuah toko baju yang terletak di dalam kota Lixir. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Saat mereka memutuskan untuk beristirahat setelah selesai menyiapkan kelengkapan pasukan yang akan menyerang prajurit Theoden malam ini, mereka menerima pesan dari Mikan, Hotaru dan Misaki yang meminta mereka ke sebuah toko baju.

Natsume yang berjalan melewati jalan di kota Lixir hanya bisa bernapas lega. Mayat-mayat serta darah yang memenuhi kota ini sudah dibersihkan. Mikan tidak akan melihat pemandangan mengerikan itu lagi untuk kedua kalinya.

"Ini dia tokonya." Senyum Narumi yang mengantar mereka karena tidak ada yang tahu di mana letak toko itu saat mereka tiba di depan toko baju yang ada di dalam pesan Mikan, Hotaru dan Misaki.

"Toko baju. Apa yang sebenarnya direncanakan ketiga gadis itu?" Ujar Tsubasa bingung.

Saat mereka memasuki toko tersebut. Mereka melihat Hotaru, Misaki dan pemilik toko ini berdiri di depan sebuah kamar ganti.

"Percayalah padaku, Mikan-chan. Kamu sama sekali tidak kelihatan aneh." Ujar Misaki sambil tersenyum.

"Benar, Nona Mikan. Baju itu sangat cocok untuk anda. Aku sama sekali tidak pernah melihat ada yang secocok anda saat memakai baju itu." Ujar pemilik toko itu.

"Jangan membuang waktuku di sini, bodoh." Tambah Hotaru kesal dengan wajahnya yang tambah ekspresi.

"Tidak. Aku kelihatan sangat aneh dengan baju ini. Aku tidak mungkin bisa keluar dengan pakaian seperti ini." Balas Mikan yang ada di dalam ruang ganti itu.

"Apa yang terjadi, Misaki?" tanya Tsubasa penuh kebingungan.

Mendengar pertanyaan Tsubaa itu, Hotaru, Misaki dan pemilik toko itu segera menolehkan kepalanya ke belakang.

Misaki tersenyum lebar saat melihat mereka semua, terutama saat melihat Natsume "Pas sekali, Natsume. Kau akhirnya datang. Ada sesuatu yang ingin ditunjukkan Mikan-chan padamu?"

Natsume yang sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Misaki hanya bisa menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.

"Mikan-chan. Ayo, keluarlah. Jangan malu, Natsume sudah datang!" tawa Misaki gembira.

"N-Natsume…" Ujar Mikan yang ada di dalam ruang ganti itu terbata-bata.

"Iya. Karena itu cepatlah keluar!" tambah Misaki lagi.

"Tidak! Aku tidak mau!" balas Mikan lagi.

Natsume yang sudah kehilangan kesabarannya akhirnya memutuskan untuk membuka mulutnya "Aku tidak peduli apa yang sedang kalian rencanakan. Tapi, jika kau tidak mau keluar dari kamar ganti itu. Aku akan membakarnya."

Mendengar ancaman Natsume itu. Mikan terdiam dan tiba-tiba mereka mendengar pintu kamar ganti itu terbuka.

Yang mereka lihat pertama kali saat pintu itu terbuka adalah kepala Mikan. Dia menyulurkan kepalanya keluar dan menatap mereka semua.

"A-Aku.. Aku..." Ujarnya terbata-bata dengan wajah memerah.

Misaki tersenyum dan tanpa membuang waktu lagi, dia menarik Mikan keluar dari kamar ganti itu.

Mata semua yang ada di sana terbelalak saat melihat penampilan Mikan. Dia mengenakan sebuah gaun putih dengan gambar bunga sakura berwarna pink yang terlukis dengan indah memenuhi dada dan menjalal turun ke ujung gaun itu. Gaun putih itu tidak berlengan, sehingga bisa menunjukkan kulit Mikan yang putih bersih dengan jelas.

"Masih terlalu cepat untuk terkejut. Mikan-chan, putar tubuhmu." Perintah Misaki lagi.

Mikan hanya bisa mengigit bibir bawahnya dan memutar badannya sesuai perintah Misaki.

Semua yang melihatnya benar-benar sangat terpesona. Saat Mikan memutar badannya yang mengenakan gaun putih, semua yang di sana bisa melihat punggung Mikan yang dipenuhi dengan tanda lahir berbentuk sayap yang mengurung sebuah lingkaran sihir dengan jelas.

"Seksi, bukan?" tanya Misaki sambil tersenyum.

Wajah Mikan memerah mendengar pertanyaan Misaki itu, dia benar-benar malu sekarang. Selama ini, dia sama sekali tidak pernah mengenakan baju yang memperlihatkan kulitnya seperti ini. Baju yang dikenakannya dalam perayaan di kerajaan Rohirrim sama sekali tidak seperti ini.

"Iya. Kau cantik sekali, Mikan-chan." Puji Tsubasa sambil tersenyum.

"Benar. Kau cantik sekali, Mikan-chan." Tambah Ioran dan Narumi bersamaan.

Ruka sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Dia kehilangan suaranya. Mikan yang ada di depannya sungguh luar biasa cantik. Dia benar-benar sangat terpesona melihatnya.

Mikan mengangkat kepalanya menatap Natsume yang tidak mengatakan sepatah katapun. Dia bisa melihat mata merah darah Natsume menatap lurus ke arahnya. Dengan memberanikan dirinya, dia berjalan ke depan Natsume.

"N-Natsume… Bagaimana menurutmu? A-Apakah aku cantik? Kak Misaki mengatakan jika aku berpakaian cantik seperti ini, kau pasti akan s-senang?" tanya Mikan terbata-bata sambil menundukkan kepalanya ke bawah dengan wajah merah padam. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa dia merasa sangat malu.

Semua yang ada di sana kecuali Hotaru yang memang tidak berekspresi, Ruka yang masih terpesona dengan Mikan, Ioran yang menatap mereka dengan penuh kebingungan bercampur kesedihan, tersenyum lebar dan menunggu jawaban Natsume.

"Jelek." Jawab Natsume tiba-tiba.

Semua yang ada di sana sangat terkejut mendengar jawaban Natsume itu.

Mikan segera mengangkat wajahnya menatap Natsume dengan ekspresi terkejut. Dia tidak tahu mengapa, dia merasa sangat sedih dan kecewa saat mendengar jawaban Natsume itu.

Jelek. Bagi Natsume, dia jelek.

"Begitu ya…" Ujar Mikan pelan dan kembali menundukkan kepalanya.

"Hei Natsume! Mikan sama sekali tidak jelek." Ujar Tsubasa membela Mikan.

Natsume sama sekali tidak mempedulikan ucapan Tsubasa. Dia bisa melihat wajah sedih dan kecewa Mikan yang ada di depannya dengan jelas. Dengan pelan, Natsume mengangkat tangannya menyentuh pipi Mikan dengan lembut.

Merasakan kehangatan tangan Natsume, Mikan kembali mengangkat kepalanya menatap Natsume. Dia merasa hatinya bagaikan terhenti saat melihat mata merah Natsume yang menatapnya dengan lembut tanpa berkedip sekalipun.

"Jelek… Kau sangat jelek… Kau benar-benar jelek sekali, Mikan…" Ujar Natsume pelan sambil tersenyum lembut.

Mendengar ucapan dan melihat senyum Natsume itu, wajah Mikan kembali memerah dan dia tersenyum dengan sangat bahagia. Jelek. Benar, dia sangat jelek. Misinya telah berhasil, dia telah berhasil membuat Natsume kembali tersenyum.

"Dasar tidak jujur." Tawa Tsubasa begitu melihat sikap Natsume itu. Sedangkan Misaki, Narumi dan pemilik toko hanya tersenyum menyetujui ucapan Tsubasa.

Ruka hanya tersenyum kecil walau di dalam hati, dia berharap dialah yang membuat Mikan tersenyum seperti itu. Hotaru tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya menatap Ruka yang ada di sampingnya dengan kedua mata violetnya.

Ioran yang melihat Natsume dan Mikan juga hanya bisa diam membisu. Dia sangat bingung sekarang. Apakah takdir yang meliputi Natsume dan Mikan itu benar? Mengapa itu kelihatan bagaikan sebuah kesalahan sekarang? Sekali lihat saja, dia sudah bisa melihat betapa mereka berdua saling menyayangi dan mencintai.

Tiba-tiba mereka mendengar teriakkan penuh kepanikkan dari luar toko.

"Apa yang terjadi?" tanya Misaki terkejut.

"Tidak tahu. Ayo kita keluar." Jawab Tsubasa cepat.

Mereka semua segera berlari keluar dari dalam toko itu. Mereka semua melihat para penduduk kota yang berlari dengan penuh kepanikkan. Dan saat mereka mendonggakkan kepala mereka menatap langit, mata mereka terbelalak karena terkejut. Di atas langit terdapat berpuluh-puluh bola listrik besar yang terbang ke arah kota ini.

"Tidak mungkin…" Ujar Tsubasa dan Misaki terkejut.

"Apa itu, Kak Tsubasa?" tanya Ruka panik.

"Tidak mungkin… Bukankah senjata itu baru akan tiba di sini besok." Ujar Tsubasa lagi, dia sama sekali tidak mendengar pertanyaan Ruka lagi.

"Apa itu, bayangan?" tanya Hotaru kesal melihat reaksi Tsubasa.

"Itu adalah peluru yang ditembakkan meriam sihir kerajaan Theoden." Jawab Natsume tiba-tiba dengan tenang.

"APA!" teriak Ruka, Ioran dan Narumi terkejut, sedangkan Hotaru hanya berusaha mempertahankan ekspresi kalemnya yang sudah hampir pecah.

"TSUBASA!" panggil seseorang tiba-tiba.

Mereka semua segera menolehkan kepala mereka menatap sumber suara tersebut. Mereka bisa melihat Kazumi dan Sakurano berlari ke arah mereka degan penuh kepanikkan.

"Tsubasa! Bukankah kau mengatakan meriam sihir ini baru akan tiba besok? Kenapa senjata ini sudah ada di sini sekarang?" tanya Kazumi.

"A-Aku tidak tahu… Aku sama sekali tidak menerima informasi dari Akira jika senjata itu akan tiba lebih cepat dari seharusnya…" Jawab Tsubasa pelan dengan wajah pucat pasi.

"Itu artinya, informasi yang kau dapatkan itu salah." Ujar Natsume tiba-tiba.

"DRUAR!"

Mereka semua bisa mendengar dengan jelas bunyi karas akibat hantaman meriam sihir itu yang telah berhasil mengenai kota Lixir ini. Kepanikkan penduduk kota yang ada semakin membesar. Teriakkan ketakutan dan suara tangis terdengar di mana-mana sekarang.

"Sebaiknya kita segera meninggalkan kota ini. Kota ini sama sekali tidak akan bisa bertahan lagi." tambah Natsume lagi dengan wajah tanpa ekspresi.

Mikan, Ruka, Hotaru dan yang lainnya segera menolehkan wajah mereka menatap Natsume. Mereka sama sekali tidak mengerti kenapa Natsume tetap saja bisa tenang di dalam keadaan yang sudah seperti ini.

Tidak ada seorangpun yang mengatakan sepatah katapun lagi. Tapi, meninggalkan kota ini? Mereka telah salah taktik, berapa banyak lagi orang yang akan meninggal. Dalam serangan meriam sihir ini, tidak mungkin semua penduduk kota bisa menyelamatkan diri mereka, dan lagi para perajurit dan penduduk kota yang masih terluka di aula kediaman Narumi. Mereka pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa.

"Mikan. Apapun yang terjadi jangan pernah menjauh dariku." Perintah Natsume tiba-tiba sambil mengenggam tangan Mikan yang dari tadi bingung karena tidak tahu apa yang tejadi.

Mendengar Natsume menyebut nama Mikan. Ioran tiba-tiba tersadar akan sesuatu. Jika ramalan itu tidak salah, jika apa yang ditulis dalam buku itu tidak salah, maka yang bisa menyelamatkan semuanya sekarang hanya satu orang yaitu Mikan.

Tanpa membuang waktu lagi, Ioran segera maju ke depan Mikan. Dia memegang kedua pundak Mikan dan menatapnya dengan penuh kepanikkan "Mikan… Dengar Mikan, aku mohon padamu, selamatkanlah semua yang ada di kota ini. Yang bisa menyelamatkan semua yang ada di sini dari senjata di dunia ini hanya kau seorang saja."

Ruka, Hotaru, Tsubasa, Misaki, Kazumi, Sakurano dan Narumi yang ada di sana sangat terkejut mendengar ucapan Ioran yang tidak masuk akal itu, termasuk Mikan.

Kemarahan memenuhi Natsume begitu mendengar permohonan ioran itu. Dia segera mengangkat tangannya dan mencengkeram leher Ioran dengan kuat "Beraninya kau! Jangan melibatkan Mikan dalam perang bodoh kalian! Ini tidak ada dalam perjanjian kita!"

Mikan yang sangat terkejut dengan sikap Natsume itu, segera mengangkat tangannya melepaskan tangan Natsume yang mencengkeram leher Ioran "Natsume! Hentikan!"

Natsume yang penuh kemarahan sama sekali tidak mau melepaskan leher Ioran. Ruka, Tsubasa dan Sakurano yang panik segera membantu Mikan melepaskan tangan Natsume.

Saat tangan Natsume terlepas. Ioran segera terjatuh ke bawah tanah dan bernapas terengah-engah. Namun, dia sama sekali tidak peduli, dia kembali mengangkat kepalanya menatap Mikan "Ku mohon, Mikan… Selamatkan semuanya."

Tidak ada seorangpun mengerti maksud ucapan Ioran itu. Mereka menatap Mikan dengan penuh kebingungan sekarang.

"A-Aku tidak punya kekuatan untuk melindungi semuanya, Ioran-san.." Balas Mikan pelan dengan penuh kebingungan.

"TIDAK! KAU SALAH! Kau punya kekuatan itu! Kau bisa menyelamatkan semuanya, Mikan!" Ujar Ioran lagi dan bangkit dari atas tanah.

"TUTUP MULUTMU!" teriak Natsume penuh kemarahan dan kembali mecengkeram leher Ioran. Dia ingin membunuhnya sekarang. Namun, sebelum dia melakukan itu, tangan Mikan telah menghentikannya.

"HENTIKAN NATSUME!" teriak Mikan.

Natsume segera melepaskan tangannya dan tanpa membuang waktu lagi, dia menarik tangan Mikan "Ayo, kita keluar dari kota ini."

Namun, Mikan sama sekali tidak mau bergerak. Natsume segera menolehkan wajahnya menatap Mikan yang kini menatapnya dengan lurus.

"Natsume… Benarkah aku bisa menyelamatkan semua yang ada di sini?" tanya Mikan pelan.

Mata Natsume terbelalak karena terkejut mendengar pertanyaan Mikan.

"Benar. Kau bisa Mikan. Kau bisa menyelamatkan semuanya." Ujar ioran tanpa mempedulikan Natsume.

"Natsume,bagaimana caraku untuk menyelamatkan semuanya?" tanya Mikan lagi.

"TIDAK! KAU TIDAK AKAN MELAKUKAN ITU! AKU TIDAK AKAN MENGIJINKANMU MELAKUKAN ITU!" teriak Natsume tiba-tiba penuh kemarahan.

Semua yang ada di sana sangat terkejut. Mereka sama sekali tidak pernah melihat Natsume seperti ini. Kedua mata merah darahnya yang bersinar penuh kemarahan berhasil membuat semua yang ada di sana merasa ketakutan. Namun, Mikan yang berdiri di depannya sama sekali tidak takut, kedua mata coklat madunya menatap Natsume dengan lurus.

"Aku ingin menyelamatkan mereka Natsume. Aku tidak ingin ada yang mati atau menangis lagi.." Balas Mikan pelan.

Kemarahan Natsume lenyap seketika begitu dia melihat wajah Mikan. Dia tahu, dia tidak akan mampu mengubah keputusan Mikan itu sekarang. Dia segera mengangkat tangannya dan memeluk Mikan dengan erat "Jangan Mikan. Jangan melakukan itu…"

Mikan mendorong badan Natsume dengan pelan sehingga pelukkannya terlepas. Dia mengangkat wajahnya menatap wajah Natsume "Aku ingin melindungi semua yang ada di sini Natsume…"

Natsume sama sekali tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya menatap wajah Mikan. Keputusan Mikan sudah bulat. Dengan pelan dia melepaskan pelukkannya dan menggengam tangan Mikan dengan erat "Ikutlah denganku."

"Terima kasih, Natsume." Senyum Mikan dan membiarkan Natsume menariknya sambil berlari ke arah taman yang terdapat di tengah kota Lixir ini.

"NATSUME! MIKAN! TUNGGU!" teriak Ruka dan yang lainnya mengejar Natsume dan Mikan.


"TEMBAK! TEMBAK! TERUS TEMBAK! HANCURKAN KOTA ITU SEHINGGA SAMA RATA DENGAN TANAHNYA!" teriak Mihara sambil tersenyum menyeringai.

Mihara bisa melihat peluru sihir yang sudah mulai menghancurkan kota Lixir. Tidak akan ada yang bisa melarikan diri lagi, tidak akan ada seorangpun yang bisa menghentikan peluru sihir yang sudah dilepaskan itu sekarang.

Mihara sangat senang. Dia memikirkan Natsume yang berhasil mengalahkannya kemarin. Dia pasti sangat ketakutan sekarang. Tidak peduli betapa kuatnya dia, dia pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa di hadapan meriam sihir ini.

Mihara hanya berdoa semoga Natsume selamat dalam serangan ini, sebab dia ingin membunuhnya dengan kedua tangannya sendiri untuk membalas hinaan yang diterimanya karena Natsume berhasil mengalahkannya.

"TEMBAK TERUS! JANGAN BERHENTI!"


Saat mereka tiba di tengah di taman yang terdapat dalam tengah-tengah kota Lixir ini. Natsume segera menuntun Mikan ke tengah lapangan. Mereka bisa melihat para penduduk kota yang berlari melewati mereka dengan penuh kepanikkan.

Ruka, Hotaru, Tsubasa dan yang lainnya yang tiba di samping mereka sama sekali tidak mengatakan apapun. Mereka hanya diam melihat apa yang hendak dilakukan Natsume dan Mikan.

"Natsume, apa yang harus aku lakukan?" tanya Mikan bingung.

Natsume menolehkan wajahnya menatap Mikan. Dia mengangkat tangan yang satu lagi menggenggam tangan Mikan, sehingga kedua tangannya menggenggam kedua tangan Mikan sekarang.

"Tutup matamu, Mikan." Perintah Natsume pelan.

Mikan segera menutup matanya menuruti perintah Natsume.

"Tenangkan pikiranmu. Pikirkanlah apa yang ingin kau lakukan sekarang. Rasakanlah kekuatan yang ada di dalam dirimu."

Mikan menuruti semua yang dikatakan Natsume. Dia memikirkan apa yang mau dilakukannya. Menlindungi semua yang ada di kota ini, melindungi Ruka, Hotaru dan yang lainnya, melindungi mereka yang terluka di aula kediaman Narumi. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu kekuatan di dalam hatinya. Kekuatan itu terasa sangat kuat sehingga menakutinya.

Natsume yang merasakan ketakutan dalam diri Mikan segera memperkuat genggaman tangannya "Tenanglah, Mikan. Kau tidak sendirian, aku ada di sini, aku selalu ada di sampingmu…."

Mendengar suara Natsume itu, Mikan sama sekali tidak merasa takut lagi. Dia membiarkan kekuatan itu menghampirinya. Natsume ada di sampingnya, Natsume akan selalu ada untuknya, tidak ada yang perlu ditakutkannya.

Sebuah lingkaran sihir besar berwarna putih tiba-tiba muncul di bawah kaki mereka semua dengan Mikan sebagai pusatnya.

Ruka, Hotaru dan yang lainnya hanya bisa menatap dengan penuh terkejut saat melihat badan Mikan tiba-tiba melayang.

Natsume terus menggenggam tangan Mikan seakan tidak mau melepakannya hingga dia tidak bisa mempertahankannya lagi. Dengan pelan dan penuh kesedihan dia melepaskan tangan Mikan. Mata merah darahnya terus menatap wajah Mikan. Sudah saatnya, dia tidak bisa menyembunyikan Mikan dari dunia ini lagi.

Lingkaran sihir putih besar di bawah Mikan tiba-tiba berputar. Suara dentingan lonceng tiba-tiba terdengar di mana-mana.

Para penduduk kota yang berusaha melarikan diri segera berhenti begitu melihat apa yang terjadi.

Cahaya yang sangat menyilaukan tiba-tiba muncul dan menyelimuti Mikan. Semua yang ada di sana kecuali Natsume segera menutup mata mereka karena cahaya yang sangat menyilaukan mata itu.

Saat cahaya itu sudah mulai meredup, semua yang ada di sana segera membuka mata mereka. Cahaya yang menyelimuti Mikan semakin meredup dan tiba-tiba dari dalam cahaya itu sepasang sayap berwarna putih bersih terbentang lebar.

Mata semua yang ada di sana terbelalak karena terkejut. Sepasang sayap besar berwarna putih tumbuh di belakan punggung Mikan. Semua yang ada di sana hanya punya satu kata untuk menggambarkannya, yaitu malaikat.

Natsume terus menatap Mikan. Dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejut bercampur terpesonanya saat melihat wujud asli Mikan yang ada di depannya sekarang. Dia cantik sekali. Dengan sayap putih besarnya itu, dia benar-benar seperti malaikat.

Namun, perasaan terkejut dan terpesonanya itu segera berubah menjadi perasaan sedih.

Jika Mikan adalah malaikat, maka dia adalah iblis. Mereka berdua adalah makhluk yang bertolak belakang. Hitam dan putih. Wujud asli mereka telah membuktikannya dengan jelas perbedaan mereka. Mikan adalah cahaya dan dia adalah kegelapan.

Mikan tiba-tiba membuka kedua kelopak matanya yang tertutup rapat itu dan membacakan sebuah mantra. Lingkaran sihir besar yang ada di bawahnya tiba-tiba membesar.

Lingkaran sihir itu membesar dengan kecepatan yang sangat luar biasa dan dalam waktu beberapa detik saja, lingkaran sihir itu telah membesar hingga menutupi seluruh kota ini. Lingakran sihir itu tiba-tiba bersinar dengan sangat terang dan sebuah dinding kasat mata tiba-tiba muncul membungkus seluruh kota Lixir.

Semua yang ada hanya bisa menatap dengan penuh rasa terkejut dan tidak percaya. Peluru meriam sihir yang terbang ke arah kota Lixi terhenti saat mengenai dinding kasat mata yang dibuat Mikan.

Peluru sihir itu tiba-tiba hancur dengan sendirinya. Namun, dinding sihir yang dibuat Mikan sama sekali tidak rusak. Dinding sihir itu tetap ada dan dengan kokoh melindung kota Lixir tidak peduli berapa banyak peluru meriam sihir itu.


"Apa itu?" Ujar Mihara terkejut saat melihat peluru meriam sihirnya hancur tepat di atas langit kota Lixir.

Mihara sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Ini pertama kalinya dia melihat sesuatu yang seperti ini. Dia dan semua pasukan Theoden bisa melihat dengan jelas sebuah dinding kasat mata yang melindungi kota Lixir dari peluru meriam sihir dengan kuat.

"Apa yang sesungguhnya terjadi." Ujarnya binggung.


Dinding kasat mata yang dibuat Mikan tetap berdiri kokoh hingga peluru meriam sihir terakhir hancur. Saat tidak ada lagi peluru sihir yang terbang ke arah kota Lixir, Mikan berhenti membacakan mantranya.

Lingkaran sihir yang ada dibawahnya berhenti berputar. Dengan pelan dia menutup matanya. Saat matanya tertutup sepenuhnya, sayap putih besar yang ada di belakangnya tiba-tiba menghilang.

Semua yang ada sangat terkejut saat melihat badan Mikan tiba-tiba jatuh ke bawah. Tanpa membuang waktu lagi, Natsume segera berlari menangkapnya.

Semua yang ada segera berlari ke arah Mikan.

"Mikan, kau tidak apa-apa?" tanya Natsume panik.

Dengan pelan dan lemas, Mikan membuka matanya "N-Natsume… A-Apa aku berhasil…"

Natsume mengangguk kepalanya dan mengelus pipi Mikan dengan lembut "Kau berhasil, Mikan. Kau sudah berhasil menyelamatkan semua yang ada di sini. Karena itu tenanglah, beristirahatlah."

Mikan tersenyum mendengar ucapan Natsume dan kembali menutup matanya. Dia telah berhasil. dia telah berhasil menyelamatkan semuanya.


Yes! Akhirnya sampai juga di chapter ini! Jujur saja, ini mungkin memang chapter ke 25, tapi bagiku, ini seperti chapter pertama loh? Sebab chapter inilah yang pertama kali terlintas di pikiranku dan akhirnya aku kembangkan sehingga menjadi fic ini ( lama amat ya? untuk mencapai chapter ini. Setelah berputar2 tak tentu arah dulu. Ha..ha..ha… ) kurasa sudah banyak yang bisa menebak sosok asli Mikan ini dari awalnya ( ha..ha..ha.. tidak tahu mengapa saat mengetik chapter ini, terutama pas adegan Mikan menunjukkan sosok aslinya, aku merasa geli sendiri loh! ha..ha..ha… ). Tapi, jangan kira siapa Natsume dan Mikan sesungguhnya akan terjawab dengan sejelas-jelasnya di chapter berikutnya ya? Masih belum ^^. Satu lagi! Akira Tonouchi akhirnya muncul ^^. Oh, iya, mungkin banyak yang merasa tokoh Sakurano sama sekali tidak ada gunanya kan? Aku merasa sekali loh, tapi tidak perlu khawatir. Aku akan berusaha untuk memberikan peran lebih banyak lagi padanya di chapter berikutnya -_-" ( pokoknya setelah fic ini tamat, aku tidak akan membuat fic dengan begitu banyaknya tokoh hingga aku sendiri bingung membagi perannya lagi ha..ha..ha.. -_-" ). Aku punya pertanyaan serius nih, Apakah caraku menulis fic ini terkesan cowok sekali? ( Temanku berkata padaku, kok kamu kayak cowok sih dalam menulis fic ini, terlalu banyak actionnya tuh walau dia tidak bisa mengesampingkan adegan romantisnya juga sih -_-" ) Penyakitku muncul lagi ya? Kayaknya akhir-akhir ini, chapternya jadi panjang sekali ya? padahal awal-awalnya hanya pendek-pendek saja ( Haih…. Aku memang tidak pandai membagi chapter -_-" tidak tahu ini bagus atau tidak lagi? ) Kata terakhir, aku akan mencoba update secepatnya lagi ^^

Icha Yukina Clyne : Ha..ha..ha.. Aku akan berusaha untuk menamatkannya deh ^^ alasan Natsume tidak mau ikut berperang memang ada, dan itu gimana ya aku menjelaskannya… pokoknya baca saja nanti. Benar. Shiki! Kita tunggu saja kemunculan Shiki sebentar lagi! Kau tidak bisa menebak wanita itu ya? ha..ha..ha… tenang saja, kemunculannya juga tidak lama lagi kok ^^ Bagaimana chapter ini menurutmu? Aneh tidak? Semoga kau menyukai NxM momentsnya ^^

Kazuki NightFlame47 : Benarkan seru? Terima kasih! Aku senang sekali! kurasa semua orang juga sudah tahu siapa NxM sekarang. Hanya saja penjelasannya belum ( ha..ha..ha.. ^^ )

Kuroichibhineko : Thx tu bantuannya seperti biasanya! ^^ sudah mulai mendapat plotnya ya! kalau begitu tunggu chapter berikutnya ya! Aku tidak sabar mengetik chapter ebrikutnya loh sebab aku tahu, chapter itu pasti akan sangat mengagetkan ^^ oh ya! bagaimana menurutmu chapter ini?

Yuuto Tamano : masalah kerja kayaknya sudah mulai wes nih! Buktinya aku sudah bisa curi-curi mengetik fic ini di kantor ( di hp sih dengan sembunyi-sembunyi supaya tidak ketahuan bos sih? nasehatku dariku "Jangan mencontoh sikap jelekku ini ya!" ^^ ) untuk masalah kesehatan, tidak perlu khawatir, aku tidak mau terkapar tidak bisa bergerak untuk kedua kalinya lagi. Bagaimana chapter ini? Aneh tidak? Atau biasa saja?

Daiyaki Aoi : terlaru romantic ya? Mungkin juga ya? Tapi, ini ku lakuakan karena…. Ya aku takut, aku mungkin tidak bisa menulis NxM momentsnya lagi nanti T_T Siapa NxM memang sudah mulai jelas, tapi masih belum-belum jelas banget kan? Karena itu tunggu dua chapter aau tiga chapter lagi ya ^^

Aimiera : Benarkah? Thx! Ceritaku ini bisa berkembang sejauh inii juga berkat bantuan semua yang memberiku saran dan dukungan ( Salah satunya adalah kamu! THX BGT YA! ) pertanyaan terakhirmu itu, aku hanya bisa mengatakan….. Tunggu saja waktunya tiba nanti ^^ ( mungkin kataku ini sudah basi ya? ha..ha..ha.. )