A/N: sedikit peringatan! Dalam chapter 26 ini akan terjadi sedikit adegan yang sebenarnya tidak layak untuk Fic ber-Rate T, sekian terima kasih.


Second Life

Disclaimer: Naruto & Highschool DxD is not Mine

Second Life is Mine

Kreator : Azriel Longinius

Rate : T – semi M

Pairing : Naruto x Akeno x Harem (Harem itu tetanggaku)?

Genre : Adventure, Action, Romance, Comedy (meskipun garing), Fantasy, dan sedikit Drama (mungkin).

Warning : OOC, OC, NEW DIMENSION, TYPO, SKS (sistem kebut sehari), Character NARUTO from Fanfic 'Son Of the Oracle'.

Summary : Di pindahkan ke Dimensi lain di karenakan kalah dalam peperangan besar. 8 'Monster' mengorbankan nyawanya untuk mengirim jiwa inangnya untuk hidup kembali.

Azriel present...

.

.

.

Chapter 26: Memories of Past Lives

.

"Haku..." suara Naruto bergetar saat menyebut nama itu.

Nama dari sosok yang pernah di cintainya. Nama dari sosok yang sudah pernah melindunginya. Nama dari sosok yang dulu pernah hidup dengannya, mengisi hari-harinya yang kelam akan pembunuhan. Dan satu-satunya nama dari sosok yang pernah membuatnya merasakan 'hidup' yang sebenarnya.

Namun. Sekarang nama itu hanya menjadi kenangan. Masa lalu. Di hidupnya. Karena pemilik nama itu sekarang telah terjerat takdir terlarang, takdir dari kehidupan dan kematian. Takdir yang membawa kehancuran, sekaligus perdamaian. Takdir yang sudah di tulis oleh tuhan beribu-ribu tahun lalu, dan sekarang akan terjadi kembali.

"jadi..." sosok gadis yang kini memiliki dua sayap berwarna hitam dengan selaput berwarna ungu yang menghubungkan tulang-tulang sayap itu, menggantung kalimatnya.

"jadi... kau yang menjadi lawan dalam takdir yang ku jalani, kalau begitu sayang sekali." Gadis itu menyeringai, matanya yang bersinar ungu memancarkan sebuah tatapan penuh dengan nafsu membunuh.

"Haku..." Naruto kembali menyebut nama itu.

Gadis yang kini terbang itu mengangkat sedikit kedua alisnya, "ohh, kau tahu namaku. Tak pernah ku duga, perkenalkan namaku Haku Yuki, pemilik dari Black Dragon yang baru dan sekaligus sosok yang akan membunuhmu."

Hening sejenak.

"kenapa..."

Mata Haku menyipit mendengar ucapan Naruto yang terdengar lirih.

"kenapa... kenapa kau sangat kejam Kami-sama? Kenapa kau memberi takdir yang sangat berat ini padaku? Lebih baik aku tidak hidup saat peperangan itu terjadi, lebih baik aku mati saat itu. Dibandingkan harus membunuh dengan alasan takdir yang sudah tertulis, aku... aku lebih baik mati saat itu." Naruto menunduk.

"meskipun takdir mengatakan kalau aku harus membunuhmu, mungkin itu tidak akan terjadi." Naruto mendongak dan menatap Haku dengan tatapan sedih.

Haku mendengus, "heh, kalau kau tidak ingin membunuhku, maka aku yang akan membunuhmu." Haku merengtangkan tangan kanannya, lalu muncullah sebuah tongkat lancip seperti duri berwarna hitam. Dengan itu, Haku langsung melesat dengan kecepatan penuh ke arah Naruto. namun Naruto tak beranjak sedikit pun dari tempatnya, dia menutup kedua matanya.

JLEEBB

Duri yang pakai senjata oleh Haku, sukses menembus perut Naruto. Haku tersenyum ala psycho ke arah Naruto yang masih menunduk dan menutup matanya. Darah mulai merembes dari kedua sudut bibir Naruto, namun pemuda itu malah tersenyum.

"aku tidak akan mengelak."

Senyuman Haku terganti dengan wajah herannya.

"aku tidak akan mengelak, jika kau menyerangku. Aku bahkan rela mati, jika kau berniat ingin membunuhku." Naruto tersenyum darah ke arah Haku.

"bunuhlah aku jika kau menginginkannya, aku tidak akan mengelak atau menghindar. Karena... aku masih tetap mencintaimu."

CRASHH

Haku semakin memperdalam tusukannya walau senjata sudah menembus perut Naruto.

"kau pernah merasakan hal seperti ini, saat kau melindungiku. Aku berterima kasih padamu, sangat berterima kasih." Naruto masih tetap setia tersenyum ke arah Haku yang sedang menatapnya dengan eskpresi keras.

Namun, ekspresi kerasnya tak bertahan lama saat instingnya merasakan sebuah serangan yang menuju ke arahnya. Dengan segera, Haku melepaskan genggamannya dari senjata yang menusuk Naruto dan segera menjaga jarak dengan terbang kembali.

Sebuah sayatan pedang berwarna emas, berhasil di hindari oleh Haku tepat waktu. Kini datanglah sosok pemuda bersurai putih keperakan dengan iris berwarna crimson, berdiri dengan pedang berwarna emas di tangan kanannya, menghadap sosok Haku yang terbang tepat di atasnya.

Mata crimson pemuda itu bersinar, menandakan kalau dia sedang marah.

"ternyata dugaanku benar, kau mendatangi tempat dimana kau merasakan kekuatan dari Licht." Ekspresi di wajah pemuda itu mengeras.

Haku menyeringai, "naga di dalam tubuhku berkata bahwa kau adalah satu-satunya makhluk ciptaan-Nya, yang berhasil memotong ekor Black Dragon. Sebenarnya aku ingin menguji kekuatanmu, tapi sayang sekali, waktuku menampakkan diri sudah selesai. Aku akan pergi dari sini, namun aku akan memberikan sedikit hadiah dari pertemuan kita." Haku menjetikkan jari di tangan kanannya. Kemudian muncullah puluhan pintu dimensi di sekeliling Haku, dan dari sana keluarlah berbagai monster raksasa dengan armor besi yang melapisi tubuh mereka.

"selamat menikmati hadiahmu, Azriel-san." Tubuh Haku pun menghilang, meninggalkan Azriel yang kini sedang di kepung oleh puluhan monster yang ukuran tubuh empat kali lipat dari ukuran tubuh Azriel.

Namun bagi Azriel, menghadapi monster seperti ini bukanlah sesuatu yang susah. Kekhawatirannya sekarang hanya tertuju pada pemuda pirang yang kini sedang berdiri mematung, darah meluncur dengan deras dari perutnya yang masih tertancapi oleh senjata Haku. Tapi pemuda yang kini di khawatirkan tak bergerak sedikit pun.

"Naruto, kau tidak apa-apa?" Azriel menoleh kebelakang untuk melihat keadaan Naruto. dan yang di dapati oleh Azriel hanyalah raut wajah penuh penyesalan dan kesedihan, membuat Azriel terkejut setengah hidup.

Kedua manik violet kini tengah di landa banjir bandang yang entah datangnya dari mana. Pemuda itu menangis. Menghiraukan rasa sakit yang berada di perutnya. Wajahnya mulai memucat karena kehabisan darah, namun dia masih tak menggerakkan tubuhnya

"Naruto-kun..."

"hiks, Naruto-kun..."

"mou... Naruto-kun..."

"sayonara, Naruto-kun..."

kini hanya terdapat gambaran-gambaran ekspresi Haku di kepalanya. Di mulai saat Haku memanggil namanya dengan tersenyum, saat Haku menangis, saat Haku cemberut, dan saat Haku tersenyum penuh darah karena gadis itu berhasil melindunginya.

Menutup matanya, Naruto teringat kembali tentang memori-memori di kehidupan lamanya. Saat dirinya hidup berdampingan dengan Haku, saat dirinya merasakan apa itu yang namanya kasih sayang, cinta, dan perhatian.

"uhuk! Inilah saat-saat terakhirku menemanimu di kehidupan ini, namun! Aku akan menunggumu di kehidupan selanjutnya, aku akan terus menunggu kedatanganmu. Aku mencintaimu, sayonara... Naruto-kun."

Naruto membuka matanya. Kini iris violet menenangkan, telah tergantikan sepenuhnya dengan mata orange kemerah-merahan dengan pupil hitam vertikal yang menyala. Aura keemasan kini muncul di sekitar tubuh Naruto, permata di dadanya yang kini masih tertutupi oleh pakaiannya, bersinar terang. Naruto mendongak, dan menatap langit dengan ekspresi keras.

Goooaarrgghhh...

Dia meraung. Dia meraung dengan suara khas yang di keluarkan oleh naga, awan-awan yang tadi berkumpul di atasnya, kini telah menguar karena ketakutan. Pakaian yang di kenakannya, kini telah hancur berkeping-keping, menyisahkan sebuah celana hitam yang masih bertahan di tubuhnya. Di punggungnya, terdapat sepasang sayap berbulu emas yang terentang dengan lebarnya. Pemuda itu kemudian mencabut duri yang menembus perutnya, dan melemparnya sembarangan.

Naruto menatap tajam ke arah depan, [aku adalah naga yang menggenggam jalan takdir, naga yang menguasai langit, dan naga yang akan menerangi jalan kehidupan. Karena aku adalah Licht (cahaya), makhluk yang menjadi tangan kanan tuhan.]

Di pihak Issei

[dia telah kembali.]

Issei yang kini sedang dalam perjalanan pulang, menatap heran ke arah kristal berwarna hijau yang menyala di tangan kirinya. "apa maksudmu, Ddraig?"

Dalam alam bawah sadar Issei, terlihat Ddraig membukan matanya yang seluruhnya berwarna emerald. Tatapan di matanya menajam, pertanda kalau dia sedang serius. [naga langit terkuat, kini telah bangkit kembali.]

Issei menatap penuh heran ke arah permata berwarna hijau di punggung tangan kirinya, "naga langit terkuat? Bukannya, naga langit Cuma ada kau dan Albion?"

[kebenaran naga langit yang sebenarnya, hanya di ketahui oleh tuhan dan para naga saja. Ada beberapa naga yang tidak pernah mengeksiskan diri mereka ke dunia luar, dan mereka juga tidak pernah tertulis di dalam kitab.]

"jadi maksudmu, selain kau dan Albion, masih ada satu naga langit lagi?" tanya Issei.

[benar sekali, dan naga itu lebih kuat daripada aku maupun Albion.]

.

Unknown place

[dia telah kembali.]

Sebuah sayap terbentang berwarna biru, berkedip-kedip saat berbicara. Sang pemilik sayap itu, hanya melirik sayapnya dengan tatapan bingung. "apa maksudmu Albion?"

[naga langit terkuat telah kembali.]

"naga yang pernah kau ceritakan padaku dulu?"

[hm, kau masih ingat?]

Pemuda itu mendengus dari balik topeng putihnya, "heh, tentu saja aku masih ingat. Bagaimana aku bisa melupakan cerita menarik seperti itu? Jika aku melupakannya, aku tidak pantas menjadi wadahmu sekarang Albion."

.

Di sisi Naruto

Setelah pengucapan yang entah itu mantra atau sesumpah, kini Naruto menatap semua makhluk yang mengepungnya dengan delikan tajam khas mata naga. "kalian! Para Dragon Follower, pengikut sesat Black Dragon. Akan ku musnahkan!"

Naruto melesat cepat ke arah depan, meninggalkan Azriel yang kini hanya mematung dengan wajah sedikit terkejut. Saat sudah berada tepat di depan salah satu monster yang berada di barisan paling depan, mengangkat tangan kanannya yang kini memiliki cakar berwarna hitam.

CRAAKK

Dengan sekali ayunan dari tangan kanannya. Naruto berhasil merobek baju zirah monster di depannya, bahkan cakarannya sampai merobek semua selaput daging perut monster itu. Lima sayatan yang di hasilkan oleh Naruto, kini mengeluarkan darah berwarna hijau dari perut monster yang menjadi korbannya.

Karena masih berada di depan monster yang saat ini limbung. Darah hijau sedikit terciprat ke arah wajah Naruto yang kini masih mengeras liar, mata yang hampir sama dengan milik Kurama, masih setia menginvasi ke kiri dan ke kanan demi mencari korban berikutnya. Namun, sebelum menemukan korban yang pas, salah satu monster yang berada di sisi kiri Naruto mengangkat senjatanya.

BLARR

Seenjata monster itu sukses memukul daerah dimana Naruto berada. Debu mengepul di area itu, namun tidak ada silueet apapun di dalam debu yang mengepul itu.

"kalian, mencariku?"

Suara yang terdengar sangat berat itu menggema bagai sangkakala. Semua monster kini menoleh ke asal suara dengan gerakan sangat lamban di karenakan faktor baju zirah mereka, kini sosok Naruto terbang di tengah-tengah puluhan monster itu dengan sayap emas yang berkibar.

"waktunya kalian, mati!"

Naruto tebang melesat menuju salah satu monster yang memiliki satu tanduk di atas moncongnya.

TAP

Naruto mendarat tepat di atas kepala monster yang terlapisi oleh helm besi yang menjadi pelindung kepalanya. Naruto mengangkat kembali tangan kanannya yang penuh dengan cakar, dan kini ia arahkan ke mata kanan yang terlihat dari luar.

CRASHH

Tanpa segan-segan, Naruto mencabut mata besar milik monster itu. Sang monsterpun hanya bisa meraung kesakitan akan perbuatan Naruto, sang pemuda bersayap emas itu meremas mata besar di tangan kanannya sampai hancur.

DEG!

Naruto menoleh kebelakang karena insting bertarungnya merasakan akan adanya serangan. Dan benar saja, salah satu rekan monster itu berniat memukulnya dari belakang dengan sebuah kapak besar dengan warna putih keperakan khas besi tempa. Sebelum menjadi daging penyet, Naruto langsung melompat ke arah kanan dengan kecepatan penuh. Sang monster yang berniat memukul Naruto, kini telah sukses memukul kepala dari monster bermata satu.

Monster bermata satu yang karena satu matanya telah di hancurkan oleh Naruto, kini hanya bisa terkapar dengan kepala yang tertancap sebuah kapak besar milik rekannya. Naruto yang masih dalam loncatan extream, menghentikan gerakannya dengan mengepakkan salah satu sayap emasnya. Dalam posisi yang hanya dua meter dari tanah, Naruto kembali melesat ke arah monster yang berniat menyerangnya tadi dengan terbang.

Sebelum sampai tepat di depan sasarannya. Naruto sudah terlebih dahulu menyiapkan cakar di tangan kanannya yang kini telah di lapisi aura emas di sekelilingnya, dan saat tepat berada di depan monster itu, Naruto mengarahkan dengan cepat cakarnya ke rahang bawah sang monster.

Wajah Naruto harus kembali terciprat oleh darah hijau yang di keluarkan dari daging monter yang menjadi korbannya. Dengan rahang monster yang terbuka, terlihat jelas kalau tangan kanan Naruto sampai menembus juga rahang atas sang monster. Naruto mencabut kembali tangan kanannya yang sukses menembus sepasang rahang raksasa dari sesosok monster, merasa kalau usahanya berkian terlalu lama, kini Naruto mengangkat tangan kanannya ke atas.

Sebuah lingkaran sihir berwarna merah muncul tepat di atas telapak tangan kanan Naruto, dan dari dalam lingkaran sihir itu muncul sebuah ujung gagang berbentu kepala Licht. Tangan kanan Naruto langsung menggenggam erat tankai gagang berwarna emas itu, dengan sekali tarikan muncullah sebuah pedang dengan sisi tajam berwarna putih dan sisi lainnya berwarna hitam bercampur merah.

Mata orange Naruto melirik ke arah kanan saat melihat salah satu monster berjalan menuju ke arahnya dengan langka berat. Tanpa mengulur waktu lagi, Naruto segera melesat menuju monster itu. Melihat Naruto sudah berada dalam jangkauan serangannya, sang monster mengangkat palunya tinggi-tinggi dan menghantamkannya ke arah Naruto.

BLARR

Kembali debu-debu berterbangan menghiasi area pertarungan. Namun Naruto berhasil melewati serangan monster tersebut, dan kini pemuda itu berada di belakang monster itu dengan membawa sebuah kaki raksasa yang di genggamnya di tangan kirinya. Membuang potongan kaki itu, Naruto kembali mengalihkan pandangannya ke arah monster yang kini sedang jatuh karena kehilangan salah satu kakinya.

Naruto kembali melesat ke arah monster yang kini sedang berusaha berdiri itu. Dan saat berada di tengkuk sang monster, Naruto mengangkat tinggi-tinggi pedangnya.

"mati kau."

JLEBB

Tanpa rasa ragu, Naruto menancapkan pedangnya ke arah kepala belakang sang monster. Dan saat dia mencabut pedangnya kmbali, terlihat sebuah cairan berwarna hijau bercampur hitam yang kini menempel menghiasi pedangnya. Naruto menolehkan kepalanya ke arah belakang, hanya sekedar untuk melihat puluhan monster yang berjalan mendekat ke arahnya secara bersama-sama.

Naruto menggenggam erat gagang emas di tangan kanannya. Dan saat itu juga, aura keemasan mulai mengalir dari tangan kanan Naruto ke pedang yang di bawanya. Detik berikutnya, Naruto menebaskan pedang dengan aura emas itu ke arah puluhan monster yang berjalan ke arahnya. Monster-monster yang terkena shockwave berwarna emas horisontal yang di luncurkan oleh Naruto, tubuh mereka langsung menguar menjadi debu keemasan yang berterbangan ke langit.

"haha... hahaha... hahahaha...hahahahahaha... huahahahahahaha..." Naruto mulai tertawa seperti psycho.

"sial! Naruto mulai lepas kendali." Azriel yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat Naruto, mengumpat pada dirinya sendiri. 'sebelum Naruto berubah wujud menjadi naga seutuhnya, aku harus segera menghentikannya.' Batin Azriel menambahkan.

Mata crimson milik Azriel menyala, dan tubuhnya pun kini di liputi oleh aura putih keperakan. Bersamaan dengan itu, muncullah 12 sayap berwarna putih keemasan di punggung Azriel.

"maaf Naruto, aku harus melakukan ini. [Resist]." Azriel menembakkan aura yang berada di sekeliling tubuhnya tadi ke arah Naruto dengan tangan kirinya yang bebas. Naruto yang sibuk tertawa gila, tiba-tiba mulutnya tak lagi bersuara.

Tak ingin membuang kesempatan emas. Azriel segera melesat ke arah Naruto dengan sayapnya, setelah berada tepat di depan Naruto, Azriel meletakkan tangan kanannya di puncak kepala Naruto.

"maaf, tapi aku harus membuatmu pingsan." Ucap Azriel.

DEG!

Merasakan tekanan kuat yang terasa di kepalanya. Naruto yang kaget membelalakkan matanya, detik berikutnya matanya menjadi sayu dan perlahan-lahan menutup. Sayap naga di punggungnya telah menghilang, dan kristal yang berada di dadanya kini tak lagi bersinar.

Azriel menangkap tubuh Naruto yang telah limbung karena pingsan. Pemuda bersurai perak itu, harus menolehkan kepalanya kebelakang untuk melihat siapa yang datang menghampirinya.

"apa kalian sudah selesai memusnahkan pasukan Dragon Follower ?" tanya Azriel yang di tujukan ke lima sosok yang menghampirinya.

"apa Naruto-kun baik-baik saja?" menghiraukan pertanyaan Azriel, Yuri malah balik bertanya.

Azriel melihat Naruto, "dia hampir saja lepas kendali, namun aku masih sempat menghentikannya. Pastinya kalian sosok naga, bisa merasakan kebangkitannya bukan?"

"tentu saja! Kalau tidak, ngapain kita semua tergesa-gesa menuju kemari. Baiklah, sudah cukup kau memeluk Naruto-kun. Serahkan dia kepadaku, biar aku yang akan membawanya." Yuri memaksa.

"huh, enak saja kau meminta membawa tubuh Naruto-kun, biar aku saja yang membawanya. Lagipula kau sebentar lagi pergi ke sekolah bukan?" Ophis menyahut.

"aku tidak mau kau yang membawa tubuh Naruto-kun, kau pasti ingin melakukan sesuatu saat Naruto-kun masih tertidur. Benarkan?" Yuri kini berteriak.

"i-itu tidak benar! A-aku ha-hanya ingin merasakan manisnya rasa bibir Naruto-kun, ups!" Ophis keceplosan.

"uwahh... dasar naga mesum..." Yuri kembali berteriak dengan menunjuk wajah Ophis yang memerah.

"lebih mending mesum, dari pada kau! Bro-con (brother complex)." Ophis kini ikut berteriak.

Menghiraukan dua gadis yang aslinya adalah naga. Azriel berjalan mendekati Argenta yang terdiam di samping kanan Sasuke, "aku serahkan Naruto padamu, aku ingin pulang dan tidur. Ahh... setelah menggunakan Resist, rasanya tubuhku langsung terkena encok semua." Azriel memberikan tubuh Naruto ke Argenta yang masih terdiam memproses omongannya.

Setelah hampir 20 detik, Argenta masih terbengong memproses omongan Azriel. Dan setelah itu, "ehh? Kenapa harus aku?" Argenta menoleh ke arah Azriel yang berjalan sambil melambaikan tangan kanannya.

Argenta beralih ke Sasuke, "oy pantat ayam, bawa teman kuningmu ini." Ucap Argenta dengan sedikit nada tajam.

Menghiraukan ucapan Argenta, Sasuke malah berjalan pergi dengan kedua tangan yang di masukkan ke saku celananya. "aku tidak mau tahu, sebentar lagi aku mau pergi ke sekolah. Dan aku akan meminta ijin atas ketidakmasukan Naruto hari ini." Sasuke meloncat pergi, meninggalkan Argenta yang hanya bisa menganga tidak percaya.

Melihat wajah tampan Naruto yang tengah terlelap damai, membuat rona merah tipis keluar di pipi Argenta. Menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan fantasi liar di otaknya, kemudian Argenta menghela nafasnya.

"mau bagaimana lagi."

*Second Life*

Setibanya di apartement Naruto. Argenta yang kini sedang membawa tubuh Naruto, berjalan ke kamar Naruto. tak ingin menghabiskan waktunya dengan menggendong tubuh Naruto yang tergolong berat, Argenta langsung membuang tubuh Naruto setelah berhasil masuk ke kamar pemuda itu.

Hening.

Argenta terdiam melihat wajah polos Naruto saat tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka. Berjalan satu langkah untuk mendekati sang pemuda, kemudian gadis bersurai putih itu berjongkok dengan lutut sebagai tumpuannya. Terdiam kembali untuk melihat wajah Naruto, dan entah apa yang kini mendorongnya, gadis bersurai putih itu mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang pemuda yang kini terlelap.

CUP!

Tanpa rona apapun di wajahnya. Argenta berhasil mencuri sebuah ciuman dari bibir sang pemuda yang masih setia terlelap. Setelah kembali menjauhkan wajahnya, Argenta membuat sebuah senyuman manis di bibirnya yang berwarna merah merekah. Gadis itu kembali berdiri, dan kemudian berjalan pergi dari kamar itu tanpa suara apapun.

.

Naruto POV – in the maindscape

Aku perlahan-lahan membuka mataku. Yang pertama kali ku rasakan adalah gelap, di sini gelap, hanya ada sedikit cahaya dari beberapa obor di sekelilingku sekarang. aku bangkit dan memposisikan tubuhku untuk duduk di lantai ini, aku kembali mengedarkan pandanganku di tempat ini, dan memang tempat ini gelap.

Aku mengedarkan pandanganku ke seeluruh ruangan ini, dan baru ku sadar bahwa ada sebuah pintu kayu tertutup di belakangku. Aku berdiri dari tempatku terdiam ini, berjalan ke arah pintu itu dan tak lupa mengambil satu obor sebagai media peneranganku. Aku membuka pintu kayu itu tanpa menimbang-nimbang apa yang ada di dalam, aku terbelalak.

Sebuah pemandangan luar biasa terhidang di depanku. Sebuah langit berwarna emas denga awan-awan putih yang trlihat sangat lembut tertangkap oleh indra pengelihatanku, sebuah pemandangan dengan suasana damai yang terlihat sempurna, ini menakjubkan.

"kita bertemu lagi, anak muda!"

Sebuah suara yang terdengar sedikit familiar tertangkap oleh indra pendengaranku. Segera aku menginvasi ke segala arah untuk mencari sosok yang berbicara itu, dan mataku menangkap seorang lelaki berparas tampan bersurai kuning keemasan yang memakai baju zirah dengan sebuah syal berwarna abu-abu terlilit di lehernya.

"kau masih mengingatku?"

Lelaki tampan itu tersenyum penuh kelembutan ke arahku, "kalau tidak salah, kau Geraint bukan?" tanyaku karena masih tidak yakin.

Laki-laki itu mengangguk, "benar sekali, aku adalah Geraint pemilik Licht sebelum dirimu."

"aku... berada dimana sekarang?" aku mencoba memastikan kalau ini bukanlah surga.

"sebelum aku menjawab, masuklah dulu! Kau masih berada di luar." Geraint tersenyum ke arahku, dia pemuda yang tampan.

Tanpa di suruh dua kali, aku segera melangkah memasuki tempat ini. Entah apa namanya, namun dunia ini terasa menenangkan. "baiklah, karena aku sudah masuk, sekarang tolong jawab pertanyaanku."

Geraint kembali tersenyum kepadaku, "ayo ikuti aku, kita akan jalan-jalan sambil melakukan sesi tanya-jawab. Kau boleh memberikanku pertanyaan apapun yang tidak kau ketahui." Geraint berjalan meninggalkanku, namun aku juga berjalan membuntutinya.

Naruto POV end

"pertama-tama, dimana aku sekarang?" Naruto kembali mengutarakan pertanyaan pertamanya sebagai pembuka.

"di sini adalah tempat dimana alam bawah sadarmu berada, namun lebih dalam dari alam bawah sadar dimana Licht dan Kurama berada."

"bagaimana kau bisa memasuki tubuhku?"

"itu berawal saat kita bertemu, tanpa kau sadari aku sedikit menanamkan energiku saat kau memapahku dulu. Dan inilah hasilnya."

"ohh begitu, apakah aku bisa sering datang kemari?"

"tidak bisa, kau hanya bisa beberapa kali datang kemari, dan setelah energi yang ku tanamkan di dalam tubuhmu habis, maka otomatis kau tidak bisa mendatangiku lagi."

"sebelumnya, aku tidak pernah tahu tentang keberadaan tempat ini. Apa kau yang menarikku?"

"benar sekali, aku tahu kau hampir saja lepas kendali saat pertama kali membangkitkan keberadaan Licht. Untuk itulah aku menarikmu kemari saat Azriel telah berhasil membuatmu pingsan, dan aku akan menjelaskan beberapa hal yang perlu kau ketahui."

"apa itu?"

"saat kau bertemu dengan wadah baru Black Dragon, maka seharusnya saat itu juga kekuatan Licht akan terpancing keluar. Namun hal itu berbeda dengan kebangkitan Licht saat berada di dirimu, kekuatan Licht terpancing saat kau mengingat kembali memorimu di kehidupan masa lalumu bukan? Memori tentang gadis yang saat ini menjadi wadah Black Dragon."

"ba-bagaimana kau tahu?"

"ingat! Aku saat ini berada di dalam tubuhmu, aku dapat dengan mudah mengetahui hal tersebut seperti aku menonton sebuah film."

"..."

"untuk yang kedua, 'kalau' saja saat itu kau memang lepas kendali, seharusnya Red Blood Dragon yang aku berikan padamu bisa mengekang kekuatan Licht yang belum stabil di dalam tubuhmu. Namun hal aneh kembali terjadi, pedang pembunuh naga terkuat tak bereaksi apapun meskipun kau hampir saja lepas kendali. Ini adalah salah satu kejadian yang tak bisa ku prediksikan sama sekali."

"pada dasarnya, kau menolak semua kekuatan Licht yang berada di dalam tubuhmu, namun kau bisa menerima kekuatan Dragon Slayer dari Red Blood Dragon. Aku sebagai orang yang pernah menjadi wadah dari Licht, hanya bisa berkata kalau itu aneh."

"aneh? Apa maksudmu?" Naruto menatap heran punggung Geraint.

Geraint berhenti berjalan, "secara teori dari semua pemilik naga, mereka akan lebih bersatu dengan kekuatan naga mereka di bandingkan dengan memakai pusaka pembunuh naga. Tapi hal itu tak terjadi padamu, kau membalik semua teori itu." Geraint berbalik dan menatap Naruto dengan tatapan tajam, "kenapa itu bisa terjadi?"

Apakah yang sebenarnya terjadi dengan Naruto? tunggu di Chapter berikutnya.

To be Continued

.

A/N: wah... akhirnya nih chapter kesadisan selesai juga, yah meskipun sedikit tapi lebih baik begitu kan? Bagaimana chapter ini menurut Reader tercinta sekalian?

Chapter kemaren dan sekarang seperti kagak ada kesan DxD-nya ya? Yah... bagaimana lagi, jika aku tidak menscene adegan di mana Narutonya tidak keluar, nanti malah alur yang sudah ku buat kagak bisa berhasil.

Namun santai saja, mulai chapter depan para pemain DxD-nya kembali kok. Dan nanti akan ku buat gokil, karena... itu masih rahasia. Hahahaha.

Masihkah ada yang kurang dari chapter ini menurut Reader tercinta sekalian? Aku sih sebagai Author merasa kalau chapter ini masih ada yang kurang, namun berulang kali aku mengoreksi tetap saja sama seperti yang berada di dalam khayalanku. Bisakah Reader merasakan ada kekurangan di chapter ini?

Yah baiklah, hari ini Cuma segini saja. Bila ada kesalahan pengetikan pada kalimat atau karakter, saya selaku Author Newbie meminta maaf sebesar-besarnya.

Sampai jumpa di chapter depan, Sayonara...

.

Azriel Log out.