Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin – XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang(Flashback) mengenang kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia. Dan sebenernya cast nya tetep kok, cuma disetiap chapter akan muncul cast baru, itu bukan pemain(?) tetap. Yeah istilahnya cameo gitu. Hehe.
.
.
-e)(o-
.
.
Side Story – LuMin.
Luhan termenung dikamar rawat sebuah rumah sakit – rumah sakit mental yang mirip rumah sakit jiwa karena Luhan memang terlihat gila yang membuat dia harus dikurung pada ruangan bertralis.
Ini adalah satu minggu setelah kejadian itu, kilasan dimana dia bercinta dengan seseorang muncul bak potongan kisah dalam film yang kasetnya rusak. Luhan tidak melihat dengan jelas, hanya saja jeritannya terdengar meraung ditelinga seperti singa mengaung menunjukan kegagahan sebagai raja hutan.
JANGAN!
APPOH!
AH AH.
Luhan menutup telinganya untuk supaya dia tidak mendengar jeritan itu.
"Aku tidak menginginkan melihat wajah wanita murahan yang mau menyerahkan mahkotanya pada lelaki beristeri demi sebuah ambisi" Luhan memerintahkan untuk menggunakan lilin di kamar yang akan dia gunakan malam ini bersama Im Yoona, juga beberapa minuman beralkohol supaya dia tidak terlalu mengingat apa yang akan dia lakukan, karena dengan minuman beralkohol dia akan mabuk kan.
"Lalu bagaimana jika gadis itu datang tuan"
"Suruh saja masuk, dan katakan aku menunggu didalam"
"Baik tuan"
Pelayan pergi untuk menyiapkan apa yang Luhan perintahkan. Dia pergi menuju kamar mandi umum di lorong dekat kamarnya untuk mencuci wajah dan menjernihkan pikiran.
"Baik Luhan, hanya sampai gadis itu hamil dan melahirkan, setelahnya beres" Luhan meyakinkan diri sambil memandangi pantulan dirinya dengan wajah di cermin besar itu. "Kau tidak perlu bercerai dengan Baekhyun tapi bisa memberikan cucu bagi orangtuamu. Itu mudah"
Sialan. Itu tidaklah mudah seperti dalam bayangannya. Bahkan untuk membuka pintu kamar hotel yang secara khusus di siapkan untuknya pun terasa begitu berat, Luhan merasakan tangannya bergetar dia dilanda panas dingin seperti seorang penyayi pertama kali menaiki atas panggung.
"Tuan Lu"
"Bawakan minuman berkadar alkohol tinggi. Nyalakan penerangan menggunakan lilin, dan pastikan dia segera datang" suaranya menggema keras membuat pelayan yang membawa satu set pakaian tidur untuk Luhan terbirit segera pergi, meninggalkan Luhan yang kemudian berlari menuju balkon mencari udara segar.
Menenangkan pikiran yang terasa kacau balau bak kota kedatangan topan. Baru ketika pelayan datang lagi, mengatakan kalau yang di butuhkan Luhan telah selesai ia di giring masuk ke kamar. Masih diambang pintu ia mengamati seraya menarik nafas sedalam dan segera dibuang secara perlahan.
"Baik Luhan, dengan begini kau tidak akan melihat apapun dan kau hanya perlu menunggu hasilnya" katanya bersama dengan edaran mata ke seluruh penjuru ruangan dimana semuanya gelap gulita, hanya terdapat satu kursi di lengkap meja serta beberapa botol minuman yang dipesan.
Luhan butuh ketenangan, hanya dengan ini dia akan kehilangan kesadaran dan tidak akan terlalu mengingat apa yang akan dia lakukan. Luhan kau bisa!
.
.
Bayi kecil yang belum genap berumur lima tahun. Miris sekali melihatnya, badannya terlampau kecil untuk anak seusianya, hampir lima tahun. Seharusnya diusia itu dia sudah aktif berlari, berjalan, atau setidaknya berbicara.
Bahkan untuk mengenali sekitar dia belum mampu, ketika belaian dari tangan ekstra besar menyapa pipi kecilnya dia hanya bisa menyambut dengan gelak tawa kecil yang terasa melelahkan. Tawa bayi biasanya menyenangkan tapi tawanya terasa melelahkan, engahan nafasnya terasa menderu menyebabkan keringat membasahi diri.
Kalau tertawa sudah terasa melelahkan dia akan menangis, pun itu terlihat menguras tenaga. Sehingga kesehariannya hanya berbaring di ranjang kecil penuh peralatan kesehatan, untuk menyalurkan asupan makanan, mengontrol darah, detak jantung dan segala tetek bengek kesehatan yang terlihat menyakitkan.
Rambutnya mengalami kerontokan akibat banyaknya bahan kimia obat yang memasuki tubuhnya, seakan mengerti setiap seseorang memasuki ruangannya dia akan menyambut dengan senyuman malaikat beberapa detik. Setelah itu dia hanya akan memandang langit-langit tanpa tahu apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang yang datang.
.
.
"Chogiyeo"
Terdengar pintu dibuka dan disusul suara kecil bernada ragu, sedang memegang gelas berisi minuman yang menemaninya menunggu Luhan menolehkan kepala untuk melihat yang datang, tidak terlihat jelas, tapi tidak akan salah tebak bagi Luhan yang memang menunggu seorang gadis yang akan menjadi teman tidurnya malam ini.
"Wasseo" terhuyung-huyung Luhan bangkit setelah meletakan gelas yang sudah kosong di teguk habis.
"Nuguseyo"
Sebuah pertanyaan yang terdengar menggelikan mengusik telinga, serta gerakan mundur yang tentu saja langsung membuat tubuhnya menabrak pintu. "Aku sudah menunggumu sejak lama, kau tahu aku benci menunggu" nafasnya yang berbau alkohol menerpa wajah sang gadis secara besar, Luhan sengaja melakukannya, berkata dengan suara rendah dan menyemburkan nafasnya.
"Sepertinya aku salah tempat, maaf kau salah orang"
"Kau dibayar dengan mahal lalu akan pergi? Kau pikir kau sedang berurusan dengan siapa hah?!"
"Anda mabuk, tuan anda…
"DIAM!" bentak Luhan dengan suara keras, menghentikan ucapan yang sarat akan ketakutan, terbukti dari tangan yang ada dalam genggaman Luhan terasa bergetar mulai membasah.
"Ayo selesaikan malam ini kemudian lupakan. Setelah ini jangan pernah temui aku atau muncul dihadapanku" yang lebih tinggi menarik tubuh sang gadis, mendorongnya hingga ketempat tidur, Luhan mengikuti. Dia tidak butuh pemanasan, Luhan tidak butuh kenikmatan karena yang menguasai pikirannya hanya, lakukan, tuntaskan, lupakan.
Luhan menggeleng keras, merasa dadanya sesak dan tidak kuat ketika mengingat malam itu. sudah persis orang gila, Luhan butuh obat penenang untuk menenangkan hati, pikiran dan juga tubuhnya terus dilanda gemetar ingin menceburkan diri kedalam kolam es supaya membeku.
"Luhan" lalu panggilan dari balik pintu trails memecah segala imajinasinya – Byun Baekhyun. Wanita yang menguasai setengah hatinya saat ini. Setengah, hanya setengah dia menguasai hatinya karena setengah lagi Luhan merasakan kebencian, Luhan sekarang merasa membenci sekaligus mencintainya. Baekhyun yang membuat dirinya seperti ini.
Menjadi gila dan diluputi perasaan bersalah mendalam serta trauma besar seakan yang mengalami pelecehan seksual adalah dirinya oleh para brandalan bernama preman.
"Gwaenchana"
Baekhyun datang seperti malaikat, membisikan kalimat untuk menenangkan berserta pelukan hangat yang membuat dirinya merasa diterima.
"Semua akan baik-baik saja" lagi kata Baekhyun. "Jadi, kembalilah dan bersikap selayaknya Luhan. Aku sudah membereskan semua masalah"
"Aku tidak bisa-…
"Kau bisa, karena kau adalah Luhan"
.
.
a Fanfiction
by
Moonbabee
.
.
Minseok bahkan tidak terlihat merintih atau meringis saat beling-beling kecil di ambil dari kakinya. Terhitung sudah limabelas hari, Luhan memutuskan keluar dari rumah sakit namun membawa seorang dokter untuk kalau siapa tahu dibutuhkan.
Ketika pulang terus menuju kamar dimana Minseok di tempatkan, ia dikagetkan dengan ruangan antah brantah kacau balau. Pecahan barang-barang dan jejak darah mengering terlihat dimana-mana, dan yang membuat karya bersembunyi di sudut celah antara ruangan dan lemari.
Sampai Luhan datang menemukan, genangan darah sudah seperti danau, Minseok terduduk bersama jiwanya yang kosong mengiris hati Luhan. Saat Luhan mendekat dan mengangkatnya untuk diobati, tubuh lemasnya lunglai begitu saja di dadanya. Luhan membawa Minseok pada ruangan lain di samping kamar yang digunakan Minseok.
Disana harus dibersihkan, dibereskan dan dibuang barang-barang berbahayanya. Sebisa mungkin tidak ada benda yang mudah pecah, termasuk piring dan gelas.
"Setelah ini kau harus makan, dokter akan memeriksamu setelah itu."
Minseok masih diam. Masih membatu dalam posisinya tidak peduli apapun. Pakaian sudah di ganti. Pakaian penuh darahnya akan segera dibakar, menggunakan baju hangat Minseok ditinggalkan sendiri oleh Luhan yang akan mengambil makanan untuk Minseok.
Lima belas hari terakhir Minseok tidak makan apapun, wajahnya pucat pasi dengan lingkaran hitam melingkar di matanya. Kemungkinan yang akan terjadi Minseok akan terserang demam, disebabkan oleh duduk dilantai berhari-hari, kehilangan darah dari luka-luka juga mentalnya yang pasti terganggu.
Luhan sadar betul dengan itu.
Sekarang yang harus ia lakukan adalah, menyembuhkan luka fisik Minseok.
Ketika dia kembali membawa nampan isi makanan, ia menemukan Minseok tertidur, Luhan yakin kalau dia tertidur karena nafasnya teratur terdengar satu dua satu dua.
Disanalah Luhan merasakan kakinya melemah, lemas tidak bisa menopang berat tubuhnya dan harus meletakan nampan di atas tempat tidur. Airmata turun tanpa bisa dicegah. Merangkak, ia mendekat pada Minseok, memandangi wajah bayi anak itu yang terlihat begitu lelah serta mengantuk. Luhan ingin menyentuh pipinya, mencubit atau mencium sayang seperti yang biasa dia lalukan ketika akan pergi setelah berjumpa. Luhan suka, sangat menyukai Minseok karena keceriaan dan betapa menyengkannya dirinya. Tapi sekarang? Luhan menghancurkan semuanya, menghancurkan masa depan Minseok hanya dalam waktu satu malam.
"APPAAAAAAA~~~"
Luhan merasakan pundaknya diremas dengan keras oleh kedua tangan gempal gadis dibawahnya, jeritannya menggema memenuhi ruangan saat Luhan menembus liang surga miliknya yang terasa sangat kecil dan sempit, Luhan bahkan merasa kalau lubang vagina ini terlalu kecil untuk ukuran gadis dua puluh tahun.
Dibawah sana kakinya menghentak, menimbulkan bunyi gedebuk keras tabrakan antara kaki dan kasur, sesuatu yang basah terasa mengalir keluar, Luhan tidak mengerti tapi dia terus bergerak, menghujam lubang dibawah sana hingga keduanya menyesuaikan.
Jeritan sakit dan terus memanggil ayahnya berhenti perlahan, sekarang hanya isak dan desah yang terdengar ditelinga Luhan. Gerakannya semakin cepat, menggenjot dengan tempo gila menyerbu pada orgasme, keduanya klimaks besama.
Tubuh Luhan tumbang setelah itu. Baru ketika matahari terlihat menggoda di pagi pada jam hampir menunjuk angka sembilan, Luhan bersama pusing dan mual terbangun. Membuka kelopak indahnya untuk menemukan tumpahan darah yang lumayan banyak mengotori sprei.
Ia mendesah, apa semalam terlalu brutal? Luhan tidak begitu mengingat karena mabuk, tapi bukan berarti dia tidak dengar. Telinganya berkerja normal bahkan bagaimana dia menyebut nama ayahnya saat Luhan merobek selaput daranya, dia ingat dengan jelas.
Hiks. Hiks … "Appa"
Ia terperangah, kepalanya menoleh cepat.
Tubuh gempal, rambut kecoklatan, suara bayi dan… matanya jatuh untuk melihat sebuah gelang berbandul rusa kecil.
"Tidak mungkin" Luhan menggeleng keras, tangannya terulur untuk menyibak rambut brantakan yang menutupu sang gadis.
"Mianhae Minseok-ah"
Bahkan sejuta kali dia menggumam kata itu, semua tidak akan berubah, kembali seperti semula atau setidaknya memutar waktu.
Menolak rencana Baekhyun atau … atau bagaimana? Pun dia tidak punya solusi. Sekarang nasi sudah menjadi bubur.
.
.
"Menikahlah dengan Minseok"
"Mwo"
"Jika kau ingin masalah selesai, menikahlah dengan Minseok"
"Permainan apa lagi ini Baek? Menikah? Kau pikir aku gila dia bahkan baru berusia empat belas tahun"
Luhan naik pitam, emosinya meledak tidak bisa ditahan, beberapa hari kepalanya serasa mau pecah. Minaeok tidak bisa ditenangkan oleh apapun, yang dia mau hanya pulang untuk bertemu orangtuanya. Dia mogok makan, jika tidak dipaksa sesuap saja tidak akan ada yang masuk kedalam mulutnya. Lampu harus menyala sepanjang hari juga harus ada yang mengawasinya ketika tidur, jika tidak dia akan berteriak.
Luhan tidak menyalahkan, ia tahu kalau Minseok pasti akan mengalami hal ini, karena Luhan juga kan. Tapi mendengarnya setiap hari membuanya tidak bisa berfikir, sekarang masalah baru akan muncul, bukannya memberi keturunan sekaligus cucu bagi orangtuanya, Luhan malah terancam masuk penjara karena melakukan seksual dengan bocah dibawah umur.
Lalu sekarang? Menikah? Bukan masalah jika yang akan dinikahinya adalah gadis bernama Im Yoona yang memiliki usia dua puluh tahun, tapi ini Minseok, bocah yang bahkan masih duduk di sekolah dasar.
"Lalu mau bagaimana? Kau harus membuat tindakan. Jika kau ingin mengendalikan Minseok maka kau harus secara utuh menguasainya, sekarang cara satu-satunya adalah menikahinya. Dia sudah menjadi milikmu sejak itu."
Baekhyun menerima map pemberian pelayannya. "Ini surat pengajuan pernikahan" Luhan menilik sebentar. "Ini laporan kematian atas nama Kim Minseok, aku sudah membuat hasil outopsi, ini"
"Kim Minseok ditemukan meninggal di kamar asrama setelah melakukan hubungan badan, ia mengalami tekanan kemudian meninggal dalam keadaan tanpa busana… Kim Minseok… kau gila" Luhan menghempaskan kertas tersebut. Tidak melanjutkan membaca karena terpancing emosi.
"Lalu sekarang mau bagaimana? Aku melakukan sebisaku. Semua aku serahkan padamu"
Baekhyun melipat tangan di dada, menatap Luhan dengan sengit mengintimidasi. "Kau tidak punya cara lain kan, maka lakukan saja. Minseok akan dinyatakan meninggal, kalian menikah maka beres. Kau tidak perlu masuk bui dan melakukan ganti rugi"
Terdengar begitu mudah. Seperti membalikan telapak tangan, tapi semua tidak semudah itu. Menikah dengan Minseok setelah anak itu dinyatakan meninggal, bukankah artinya dia akan mendua, dan selama sisa hidupnya yang sepertinya masih sangat panjang, Luhan akan menabur garam pada lukanya sendiri.
Minseok bak luka, luka menganga yang membunuhnya. Bahkan ketika teman-temannya menawari melakukan one night stand Luhan menolak dengan alasan mereka rendahan, lalu sekarang? Luhanlah yang rendahan, menyetubuhi gadis belia, bukankah itu rendahan, bahkan lebih rendah dari binatang.
Luhan memasuki kamar Minseok malam hari setelah semua orang tertidur pulas. Malam ini Luhan yang akan mengawasi Minseok, anak ini diberikan obat tidur oleh dokter. Beberapa hari ini dia kekurangan istirahat juga asupan.
Untuk mengembalikan tenaga, maka dia harus diberi obat tidur. Luhan menghela nafas. Sekarang bagaimana? Menikahi Minseok bukan jalan yang benar mengingat dia terlalu muda jika disandingkan dengan Luhan, masa depan?
Luhan menghela lagi. Masa depan Minseok entah akan bagaimana. Dia sudah kehilangan mahkotanya sebagai wanita. Anak perempuan yang baru akan beranjak remaja.
"Andwe"
Luhan melompat kaget secara tidak sengaja karena igaoan Minseok, tubuhnya membentur tiang ranjang, dan malah membuat Minseok terbangun. Matanya membola melihat Luhan, seketika dia menangis lagi. Mulai meraung lagi.
"Jangan, jangan sentuh aku"
"Minseok ini aku. Lu…
Bisakah Luhan menenangkan Minseok dengan mengaku sebagai Luhan? Luhan yang sudah menghancurkan hidupnya. Luhan yang jahat? Luhan yang…
"Pergi aku tidak mau melihatmu michin saekkiya-…
PLAK.
Baik Luhan maupun Minseok sama-sama terbelalak. Terkaget akan apa yang baru saja terjadi. Bukan, Luhan bukan menampar Minseok karena dia mengolok Luhan, tapi karena Minseok berkata kasar. Minseok adalah seorang anak, tidak seharusnya seorang anak mengatakan hal tidak sopan meski itu memang pantas ia terima.
"Min-… aku… aku-
"Kau jahat" dengan gerakan secepat kilat, Minseok menerjang Luhan. Memukul membabi buta tubuhnya dengan sambil menangis hebat.
"KEUMANHAE!"
Sama halnya Minseok yang menangis, Luhan juga tidak kuasa, betapa dia menghancurkan anak sepolos Minseok yang begitu dia sayangi. Sekarang masa depannya hancur oleh Luhan. "Kita akan menikah"
"Gila… ahjussi gila kau GILAAAA"
"Ya aku gila karena kegilaan inilah kau terjebak disini. Dengar, kita akan menikah. Sekarang kembali tidur aku akan menjelaskannya besok kepadamu" Luhan mendorong Minseok, menyelimutinya tubuh Minseok, dia segera pergi"
Beginilah semua dimulai. Tanpa sadar Luhan mengatakan akan menikahi Minseok. Entah keputusan ini akan membawa penyesalan atau kebahagiaan. Sebagai seorang lelaki yang bisa di pegang adalah kata-katanya. Dan karena Luhan adalah laki-laki yang sudah mengucapkan perkataan semacam janji. Maka dia akan menepati.
Dia akan menikah dengan Minseok.
.
.
"Aku akan menikahi Minseok"
Baekhyun hanya mengintip dari balik buku yang sedang dia baca saat Luhan memasuki ruang kerjanya dengan wajah brantakan berbasuh air asin berasal dari mata. Membuat senyuman licik tidak kentara menyungging sebentar di bibir Baekhyun.
Segera melepaskan senyum jahatnya dia menghela nafas, meletakan kacamata baca serta buku diatas meja, setelah itu bangkit mendekati Luhan, memberikan pelukan ringan berkedok menenangkan. "Semua akan baik-baik saja"
Entahlah, mungkin akan baik-baik saja dalam versi Baekhyun, tidak dalam versi Luhan. Ini akan menjadi semakin mudah untukku. Sekali lagi senyuman setan menyungging di bibir ayu milik Baekhyun.
.
.
Musik mendentum dari arah ruang tamu saat Minseok sedang dirias di dalam ruangan yang sedikit lebih kecil dari ruangan dimana ia tidur. Wanita yang Minseok ketahui sebagai isteri Luhan datang lalu mengusir semua orang dengan gerakan jari.
Ia lalu mengambil alih alat dandan untuk disapukan di atas permukaan wajah bayi Minseok yang terdapat lemak menempel. Tidak berapa lama, wanita berwajah dingin masuk membawa sebuah kotak kecil.
"Ini adalah hadiah dariku" katanya.
Sebuah kalung berkilau berbandul Naga. "Selamat datang di kerajaan Lu" Baekhyun menatap pada cermin yang sama, disana mereka bertatap. Menyingkirkan rambut kecoklatan Minseok kebelakang, menunjukan kalung mahal berbandul agung yang dulu diberikan oleh ibu Luhan.
Baekhyun sama sekali tidak membutuhkan benda itu, maka dengan senang hati dia memberikannya untuk Minseok, kuncinya menuju dunia yang dia impikan, untuk dirinya dan anaknya – Kim Jongin.
"Bereskan dia Soojung-ah"
Baekhyun berlalu.
"Kita hanya beda empat tahun, perkenalkan." Gadis bernama Soojung mengulurkan tangannya namun Minseok tidak menggubris. Dia hanya diam seraya memandangi pantulan dirinya di depan cermin.
"Arraseo, kau tidak mau berjabat tangan denganku. Aku tahu nona Kim" ia tersenyum remeh.
"Aku Jung Soojung, delapan belas tahun, aku sekolah di SMA Puteri Kongjoo tingkat dua" sapuan kuas wajah begitu lembut, menjejakan warna merah muda pada pipinya, sambil mendengarkan Minseok tetap diam. "Kau akan menikah, tersenyumlah sedikit supaya kau terlihat seperti wanita"
Itu lagu buatan Woo Zico, Minseok sangat mengenalinya karena sebelum mengajukan pada produser, Zico memperdengarkan karyanya kepada Minseok, menunjukan sekaligus meminta pendapat. Sekarang terputar secara serentak disemua stasiun televisi. Tapi kenapa suara yang terdengar suara wanita.
"Bintang baru. Mereka melakukan debut hari ini. Sembilan gadis cantik" seakan mengerti pemikirannya, Soojung berkata. "Kudengar kau adalah seorang trainee ya? Bukannya melakukan debut, kau malah akan menjadi penghangat ranjang suami orang"
Sepanjang jalan menuju altar, yang terngiang di telinga Minseok hanyalah perkataan wanita muda berwajah dingin bernama Jung Soojung. Sungguh terasa menyakitkan, belum lagi fakta jika dia gagal debut. Dari dua belas trainee pasti ada penggantinya kan? Dan rupanya mereka tetap mendebutkan Bintang baru, hatinya begitu sakit.
.
.
Hamalam belakang – 23 Juni XXXX(2013).
Adalah saksi bisu dimana pasangan Lu Min mengikat janji suci. Kisah cinta yang sedih yang berawal karena sebuah tragedi.
Luhan, meski hanya mengenakan setelan tidak resmi berwarna putih, dia tampak gagah berdiri menunggu calon mempelainya di depan altar. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, taman kosong yang jarang di kunjungi dibelakang rumah di sulap menjadi sangat cantik bernuansa putih bertabur merah yang berasal dari mawar yang di rontokan.
Para pelayan berkumpul di kursi untuk menyaksikan, di sisi kanan, Baekhyun duduk dibalik piano bersama seorang gadis yang Luhan kenali sebagai asisten Baekhyun. Ia akan menjadi wedding singer dan Baekhyun yang mengiringi dengan denting piano.
Pada saat jam berdenting dua kali, sosok itu datang, muncul seorang diri tanpa pengiring atau pengantar selayaknya mempelai wanita pada umumnya.
Kesalahan Luhan terhadap Minseok menjadi bertambah, meski dia masih seorang bocah yang belum memiliki impian pernikahan, tapi melihat betapa keadaan sekarang, hatinya pasti tersayat sakit.
Luhan sudah pernah menikah dan pernikahannya adalah royal wedding. Jika di bandingkan dengan sekarang, bahkan kalangan ekonomi lemah pun agaknya tidak semengenaskan ini. Minseok dan Luhan bahkan tidak mengenakan gaun pengantin, hanya stelan warna senada.
Terlampau sederhana untuk orang sederajat Luhan.
Ditariknya nafas sedalam mungkin dan mengeluarkan secara perlahan, Tahan dirimu Luhan. Kau boleh menangis, tapi jangan sekarang, kata hatinya. Tentu Luhan bisa menangis, dia memang harus menangis karena kesalahan serta dosanya, dia harus mohon ampun kan? Dan dia juga harus memani Minseok menangisi hidupnya yang terbalik menjadi semengerikan ini akibat dirinya.
"Itu Saeun immo, cantikan?" Jungsoo menunjuk wanita cantik dengan gaun indah yang berjalan di atas altar bersama seorang lelaki berumur yang merupakan ayahnya, kepada Minseok yang sedang sibuk menjilati permen rasa setroberi yang diberikan ayahnya. "Eomma aku mau kesana, berjalan dengan immo"
"Tidak boleh, kan nanti saja kalau Saeun immo dan Sungmin samchon sudah mengikat janji suci" ayahnya membisik seraya menarik tangan Minseok yang mengulur menunjuk karpet merah dimana wanita cantik bernama Kim Saeun sedang berjalan.
"Janji suci itu apa?"
"Janji suci itu, yang harus dilakukan saat seseorang menikah"
"Menikah? Seperti appa dan eomma?"
"Hmm, saat dewasa nanti, Minnie juga akan menikah"
"Apa, appa akan berjalan bersama Minnie seperti itu?"
Minseok menunjuk ayah dan Saeun yang hampir sampai. "Geurom. Nanti appa akan antar Minnie kepada calon suami Minnie, saat di altar"
Minseok menjatuhkan air mata tepat disaat dia sampai di hadapan Luhan dan lelaki itu menggenggam tangannya. Menuntunnya untuk menghadap kepada pastur yang sedang membuka buku kitab serta membacakan beberapa sumpah yang harus di ulang oleh Luhan dan Minseok.
"Saudara Lu Han, bersediakah anda menjaga, mencintai, melindungi, hati dan badan isteri anda mulai dari sekarang hingga ajal menjemput"
Luhan menoleh kesamping, memerhatikan Minseok dari sana yang air mata tidak berhenti mengaliri pipi bayinya. "Ya, saya bersedia"
"Saudara Kim Minseok, bersediakah anda, menerima, hati, lindungan dan cinta dari suami anda, mulai dari sekarang hingga ajal menjemput?"
"Ya, saya bersedia"
Kau dan aku sendiri yang hidup di dunia yang sama
Kau dan aku yang menggunakan bahasa yang sama
Ini sangat beruntung, bahwa kita memiliki keberuntungan ini
Tidak ada situasi yang lebih baik
Nasib indah hari itu
Tiba-tiba terdengar bahagia, acara keberuntungan
Di antara beberapa miliar orang aku bertemu denganmu
Aku bisa memanggil namamu, aku bisa memegang tangan mu
Matahari bersinar pada ku, bersinar cemerlang, aku merasa sangat senang
Kamu memanggil nama ku, Kamu bersandar di bahu ku
Sinar matahari yang terus memegang tubuhmu dengan hangat, penuh perhatian, kamu mendapatkan sinar yang banyak, jadi beruntung cintaku
Sangat beruntung memiliki mu
Sangat beruntung menjadi cinta mu, milikku. Hmm~
Kau dan aku yang mencintai warna yang sama
Yang beruntung kamu dan aku yang juga suka film yang sama
Bahkan tidak ada kesempatan untuk berdebat
Aku bisa memanggil namamu, aku bisa memegang tangan Anda
Matahari bersinar pada ku, bersinar cemerlang, aku merasa sangat senang
Kamu memanggil nama ku, Kamu bersandar di bahu ku
Sinar matahari yang terus memegang tubuhmu dengan hangat, penuh perhatian, kamu mendapatkan sinar yang banyak, jadiberuntung cintaku
Dalam foto lama, tertawa manis mu
Indah keberuntungan mu dan keberuntungan ku
Aku pikir aku orang beruntung
So good! Cerita kita adalah seperti sebuah dongeng yang indah
Oh my god! Terdengar pop pop terbaik
Suara mu mencair ku seperti es krim
Ini terlihat seperti lukisan
Kamu adalah cinta pertama ku, cerita ku yang sempurna utama wanita
Aku ingin menjaga mu dalam hati ku, Kamu hanya bisa tersenyum ke arahku
Karena kamu adalah keinginan ku, aku akan menjadi yang lebih baik untuk mu
Kamu melihat ke dalam mata ku, itu yang indah, itu mempengaruhi detak jantung ku yang paling begitu beruntung cintaku
Sangat beruntung memiliki mu
Sangat beruntung menjadi cinta mu, milikku. Hmm~
Lonceng cupid berdentang diatas kepala keduanya, iringan lagi cinta berbunyi setelah janji suci di kumandangkan.
Setelah itu ciuman pernikahkan untuk di segerakan, Luhan dan Minseok berhadapan, bunga yang tergenggam dalam tangan Minseok jatuh terlepas, ia maju satu langkah mendekat kepada Luhan, lelaki yang secara resmi menjadi suaminya. Suami Kim Minseok.
Pria itu mendekat, tidak berapa lama, bibirnya jatuh menempel pada bibir Minseok. Mereka berdua memejamkan mata, sehingga tidak tahu kalau keduanya menitihkan air mata. Satu butir air mata mengalir dari mata Luhan dan Minseok, bertemu pada gumpalan tepat diatas pipi mereka yang menjadi satu.
Tubuh mereka telah bersatu, air mata telah menyatu, saliva sedang bersatu, sejak saat itu Kim Minseok telah mati, yang ada hanya isteri kedua Luhan yang bernama sama, Kim Minseok.
.
.
Minseok dan Luhan duduk berjauhan, Minseok sedang duduk melamun di tepian kolam sedangkan Luhan sedang memperhatikan, terlalu takut untuk mendekati karena Minseok terus saja diam, menurut dokter psikologi yang menanganinya dan Minseok, jika sedang terdiam lebih baik jangan di dekati, tunggu dia buka suara sendiri agar perasaannya yang brantakan menjadi tenang, makanya Luhan memilih diam, mengamati Minseok sambil berharap agar dia lekas bicara kepada Luhan, apa yang dia rasakan, apa yang dia inginkan juga bagaimana perasaannya setelah dia menikah.
Apapun, meski itu keluhan rasanya sedikit lebih baik ketimbang diam seribu bahasa yang malah membingungkan, bagaimana kalau sebenarnya Minseok diam karena menunggu Luhan memulai, atau Minseok diam karena memang ingin diam, kan Luhan menjadi serba salah
Saat ini rumah sedang kosong, hanya ada Luhan dan Minseok karena para pekerja sudah pulang selepas pernikahan, Luhan dan Minseok di berikan waktu sendiri, diberikan waktu berdua yang dimaksudkan untuk banyak berbicara dan berbagi keluh kesah, namun nyatanya malah hanya saling diam tidak ada yang membuka suara.
Sekarang apa yang harus Luhan lakukan? Siapapun tolong beri tahu kepadanya. Atau siapapun bujuklah Minseok untuk buka suara.
Sayangnya tidak ada, Luhan harus berusaha sendiri. Tapi apa yang harus dia lakukan sekarang?
Minseok merindukan ayahnya, ibunya juga merindukan pelukan hangat serta usapan penuh kasih di kepala ketika dia merasa sedih atau gundah.
Minseok sedang dalam keadaan dimana dia butuh orangtuanya, keadaan dimana dia menangis meraung serta meminta maaf, entahlah dia tidak tahu apa yang membuatnya merasa demikian, yang ia tahu bahwa dia sudah melanggar banyak aturan, menjadi anak nakal yang sudah mencoreng nama baik keluarga.
Minseok tidak tahu pasti, tapi yang jelas dia telah melakukan sesuatu yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa, ditambah dia melakukannya bersama seorang lelaki beristeri yang umurnya sangat jauh diatas dirinya, bersama seseorang yang lebih tepat menjadi pamannya, sekarang dia malah menjadi suaminya dan Minseok menjadi isteri kedua.
Setelah ini apa yang akan terjadi? Apa ia dan Luhan akan sering melakukannya? Apa yang harus dia lakukan sebagai seorang isteri?
Ia tidak mau melakukan itu karena rasanya sakit, sangat amat sakit seakan tubuhnya dibelah dua, bekas kemarin saja belum hilang ia tidak sanggup jika harus melakukan itu lagi malam nanti bersama Luhan, tapi sebagai seorang isteri jika nantinya Luhan menginginkan bukankah dia harus mau, itu adalah salah satu kewajiban dirinya yang menyandang sebagai isteri, tapi dia tidak mau, nyeri menstruasi saja dia sampai demam, waktu dia melakukannya bersama Luhan kemarin dia baru selesai mentruasi jadi sakitnya bertambah.
Bagaimana sekarang?
Dan bagaimana jika ia hamil? Melahirkan?
Minseok dirundung ketakutan, dirinya bergetar seketika. Bukankah jika melakukan itu bisa membuat hamil, keluar anaknya. Seperti kata guru biologi yang beberapa waku memberikan rekayasa melahirkan untuk bahan ujian.
Tangannya turun ke perut, meraba prutnya yang masih gembul, apa disana sudah ada bayinya? Apa dia akan keluar? Tapi bahkan ia belum memiliki payudara yang digunakan untuk bayi menyusu, lalu bagaimana?
Pertanyaan itu memusingkan, kepalanya nyaris meledak. Pikiran itu terlalu membingungkan untuk otak bocahnya. Selama ini yang dia tahu hanya bermain-bermain dan bermain. Tidak pernah ia berfikir sejauh ini apalagi pernikahan dan kehidupan setelahnya, lagipula kenapa dia? Luhan begitu baik dan menjadi temannya sejak lima tahun ini, lalu kenapa tiba-tiba dia menjadi isterinya? Bukankah ini gila. Kenapa harus dia? Bocah yang tidak tahu apa-apa mengenai kehidupan rumah tangga.
Lagipula isteri Luhan itu sudah sangat cantik, Byun Baekhyun itu sangat cantik jika dibandingkan dengan dirinya, selain masih bocah dia juga gendut, pendek, tidak tahu apa-apa untuk banyak hal. Lalu kenapa? Kenapa harus dirinya? Kalau dia berniat mendua, bukankah tidak sulit baginya untuk mendapatkan yang lebih? Lebih dari dirinya atau lebih dari Baekhyun.
.
.
Sebenarnya apa yang dipikirkan kepala kecil itu?
Luhan penasaran setengah mati atas keterdiaman Minseok yang terasa melelahkan, bahkan Luhan yang mengamati saja lelah, apa Minseok tidak lelah yang melakukan. "Mi…
Tapi dia sangat ketakutan, meski hanya menyebutkan namanya. Sekarang ini nama Minseok jika keluar dari mulutnya serasa bagai cambuk panas yang akan menghajar tubuhnya.
Waktu terus bergulir, detik mulai berganti menit, menit berganti jam, dan jam berjalan begitu cepat, sampai langit menggelap dan bulan akan menggantikan sang surya, Minseok masih setia pada duduknya, tangannya terus terbenam dalam air tidak berberak barang sejengkal.
Okay, Luhan menyerah, sekarang meski dia akan merasakan cambuk tak kasat mata dia tidak peduli. Dia mulai mesara marah. Minseok tidak bisa di diamkan kalau tidak ada yang berani menarik Minseok maka sampai kapanpun mungkin dia akan tetap dalam posisinya.
Ia bisa sakit, dokter mengtakan Minseok sangat berpotensi sakit, dia tidak makan, tidak minum hanya diam maka Luhan harus bertindak.
"Kau akan…
Perkataannya tertelan, kepala Minseok lunglai di dada Luhan. Tubuh gempal itu melemas dalam gendongannya, suhu tubuhnya naik dan merambat menyetrum diri Luhan, fix Minseok jatuh sakit. Luhan sedang glagepan dan kepanikan, di pintu gerbang taman belakang seorang wanita cantik berdiri dengan senyuman menakutkan yang jahat.
Byun Baekhyun merasa senang dengan apa yang dia saksikan.
Luhan akan menjadi sibuk, rupanyanya Dewi Fortuna memang maha baik kepadanya, memang melenceng dari rencana, tapi dengan begini Baekhyun akan mendapatkan jackpot. Lepas dari Luhan dan mendapatkan setengah dari harta gono-gini di meja hijau. Sekarang akan menjadi lebih dari kata mudah, gampang dan apapun itu yang menggambarkan kemudahan.
"Maafkan aku Luhan, aku tidak membencimu tapi kesalahanmu adalah kau mencintai dan menerima aku sebagai calon isterimu. Jika tidak, aku tidak akan kehilangan Jongdae-ku dan Jongin-ku tidak akan kehilangan marga Kim-nya. Nikmatilah isteri baru dan pewaris tidak berguna yang akan lahir dari bocah itu, setelah itu katakan selamat tinggal pada kehidupan konglomeratmu"
Baekhyun berbalik pergi, meninggalkan taman belakang indah yang menjadi saksi bisu janji suci cinta beda usia.
"Sampai berjumpa lagi Kim Baekhyun dan, selamat Datang Byun Baekhyun"
.
.
Karena dokter belum juga datang, Luhan mondar-mandir melakukan pertolongan pertama. Dia mengompres tangan Minseok yang sedingin es menggunakan air hangat menggati pakaian Minseok menggunakan pakaiannya supaya dia merasa hangat serta membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.
Minseok sudah memucat, bahkan bibirnya membiru. Melihat betapa mengerikannya Minseok yang serupa mayat hidup mau tak mau Luhan ketakutan, belum pernah seumur dia hidup melihat seseorang seperti ini, baru pertama kali ini dan semua karena dirinya.
Hatinya memanas, gila benar ini semua, apa dosanya sehingga hukuman tuhan begitu kejam. Perasaan dia selalu menaati orangtua dan berbuat baik, serta menjalankan dan menghindari larangan tuhan, lalu kenapa dia mendapatkan semacam neraka dunia.
Bukankah ini terlalu kejam.
Mendadak tubuh Luhan gemetar, kepanikan melanda dan pandangannya tidak fokus, bukan karena air mata yang menggenang dipelupak mata lantaran rasa bersalah yang begitu besar serta tekanan batin yang terasa begitu berat.
Melainkan karena gejala kepanikan yang dia alami pasca kejadian, Luhan belum sembuh benar dengan mentalnya, keluar dari rumah sakit adalah karena Luhan memaksa atau dipaksa atau apalah itu istilahnya. Ini agar dia bisa menyelesaikan masalah. Masalah yang tiba-tiba menjadi berbeda dari rencana, ya rencana. Karena pada awalnya Luhan berencana tidur dengan wanita dewasa.
Lalu yang dia temukan malah gadis belia bersimbah darah berkat ulahnya.
Tubuhnya terjungkang kebelakang, ia mulai merasa sesak, seruan serta maikan menggema ditelinga. Luhan butuh obat penenang, sial dia sudah seperti pecandu yang sedang sakau. Siapapun tolong.
Luhan mengerang membutuhkan pertolongan. Sudah sangat mirip dengan junkies kan.
"ARGH"
.
.
To Be Continue…
.
.
luxiuxiu (Guest) : Hehe, mian. Masalah bahagia, tunggu aja sampai selesai, kalao tiba-tiba bahagia kan malah aneh jadi…. Sabar ya, jangan nangis lagi.
Laras Sekar Kinanthi(Guest) : Karena …. Ya gitulah, Baekhyun punya banyak alasan buat dia jadi jahat.
Kiki2231 : Jangan nangissss.
ju hariring(Guest) : Eamang cerita kayak gini bisa berakhir sad ending? Hehe. Tunggu aja oke.
ABC-HS : Maunya juga gituuuuu~~~~ Keren kali ya kalo ini jadi drama, ntar ketemu idola aku (read : Kim Eunsook atau penulis The Moon That Embraces The Sun)
mayaeri16 : Duh kamu itu detail banget sih. Aku juga langsung heboh pas baca berita tentang NCT yang aka nada member Indonesianya makanya aku pake itu buat berita heboh perselingkuhan Luhan. Untuk yang panjang tentang ceritanya, mau diem aja deh, nanti dilihat aja akan gimana.
Park Eun Yeong : On the way. Kalo waktunya selese nanti juga selese kok. Aku juga kasian sebenernya, tapi mau gimana ya, kebutuhan cerita. Hu~~~ maapkeun aku.
XiLunara : Nanti ada masanya, siapa aja yang bakal dihukum dan akan bagaimana akhirnya. Hehe. Luhan lagi di China, baelsannya begitulah, ini udah mau the end kayaknya deh, berapa chapter lagi kayaknya.
Emvy551 : Eyy, nggak lah kan Minseok ibunya, masa suka, ntar ketuker kayak Me and My Dad lagi. Hehe.
nimuixkim90 : Mari cekik bersama, aku juga gregetan, tapi gimana ya, hehe. Jangan nangissssss. Luhan lagi di China dia lagi ,,,,,,, rahasia.
Bikuta-chann : Luhan lagi ke China, dia lagi …. Rahasia.
Nadhefuji : Luhan lagi di China, dia lagi….. rahasia. Udah gantung aja. Ikhlas kok aku.
