LUNA

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

ABO dynamics

.

.

.

Keluar dari area karantina, mereka dapat melihat bahwa keadaan yang sesungguhnya tak seperti yang diatur oleh penyelenggara. Selama beberapa minggu mereka dihadapkan pada panas terik musim kering, sementara nyatanya, musim yang berlangsung adalah semi. Tapi, kota K-01 yang megah tak memiliki pemandangan musim semi yang indah seperti di masa lalu. Tak ada bunga-bunga bermekaran, tak ada pohon-pohon yang hijau di sisi jalan. Hanya ada gedung-gedung pencakar langit, dan iklan-iklan yang menyampaikan salam bahagia atas berlangsungnya musim yang dinanti-nanti.

"Hei."

Di truk, yang masih terjaga hanyalah Namjoon dan Jimin. Sisanya, tidur karena kelelahan. Alpha jangkung itu memanggil Jimin yang duduk di seberangnya, bosan karena terus diam. Ketika Jimin menoleh, Namjoon berkata.

"Apa kau... merasa ada sesuatu yang hilang begitu karantina ini dinyatakan selesai?"

Jimin melihat Yoongi yang bersandar di bahunya sekilas, lalu melempar jauh pandangannya pada gedung-gedung yang dilewati. "Ada, tapi entah."

"Mereka hebat. Sengaja satu bagian dari kota dibiarkan apa adanya dengan pohon dan tanah terbentang luas untuk dijadikan sebagai area karantina. Sedang, sebagian lagi terlalu moderen hingga rasanya membosankan. Kupikir setelah masuk ke tempat itu, aku sadar kalau separuh dari diriku memang binatang. Secara alamiah akan merasa lebih nyaman ketika bersentuhan dengan alam. Ketika kita kembali, separuh diriku itu seperti tenggelam dan aku menjadi serupa manusia," tutur Namjoon.

Mendengarnya, Jimin turut berpikir. Memang, sebagian diri dari kaum werewolf adalah binatang. Sebagian diri mereka menginginkan kebebasan, hidup di alam luas. Tapi di masa kini, keinginan itu ditekan. Tuntutan modernisasi membuat werewolf menjelma manusia. Tujuan karantina pun sebenarnya agar werewolf tak meninggalkan jati dirinya. Jimin pernah dengar dari ayahnya suatu kali, bahwa di negeri lain, manusia yang mendominasi. Kaum werewolf tak lagi banyak berdaya. Di negeri K justru sebaliknya. Maka karantina ini sebetulnya untuk membuat pasukan-pasukan yang kuat seandainya suatu hari nanti ada pemberontakan dari kaum manusia yang tak lagi mau hidup berdampingan—dengan pemimpin yang sebagian besarnya berasal dari kaum werewolf. Jimin memang ingin jadi manusia. Ingin lepas dari aturan pack yang menurutnya terlalu mengikat dan kolot. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, bukankah tanpa ada rasa inginpun, selama ini dirinya, atau werewolf lain, secara tak sadar sudah menjadi manusia? Hidup, bekerja, memimpin pemerintahan, berpolitik. Itu tak ada dalam catatan serigala. Tapi werewolf masa kini melakukannya.

Kekuasaan diperebutkan. Negeri K yang katanya damai pun sebetulnya hanya doktrin supaya masing-masing pihak tak saling menyinggung. Hanya saja, ditilik dari sisi lain, segala apa yang menjadi program pemerintah yang mesti dijalankan memiliki tujuan tersembunyi. Ya, Jimin tahu. Orang-orang yang telah dikarantina diikat, suatu saat, dirinya mungkin akan dipanggil untuk menjadi bagian dari bala tentara yang turun ke jalan untuk memaksa manusia tunduk sepenuhnya pada werewolf yang berkuasa.

"Jimin."

"Hm?"

"Aku suka serangga-serangga kecil di pohon."

Mobil-mobil itu masuk ke kompleks gedung pemerintah pusat. Bangunan-bangunan yang kokoh berdiri mengelilingi. Lapangan luas di depan gedung utama menjadi tempat mereka berhenti. Yang diangkut di truk satu persatu bangun dari tidurnya. Mereka diminta untuk turun. Namjoon jadi yang pertama, dia melompat, habis mendarat dia tengadah melihat ke sekeliling.

"Ayo," katanya. Dia membantu Seokjin untuk turun. "Kita sudah sampai."

Setelah Seokjin turun dari truk, Hoseok dan Jungkook menyusul. Taehyung masih di dalam. Dia menunggu Jimin dan Yoongi untuk turun bersama-sama.

"Yoongi. Nanti naik ke punggungku lagi."

"Biar aku saja. Kau turunlah dulu. Kau juga terluka, jangan lupakan itu."

Jimin sudah mengulurkan tangan, hendak memapah Yoongi seperti ketika mereka dijemput dari area karantina. Tapi kala itu Taehyung ikut menawarkan diri untuk memapah. Yoongi hanya terdiam bingung. Dia inginnya jalan sendiri, tapi keadaannya tak memungkinkan. Jimin mau membantu, tapi Yoongi kasihan juga padanya. Sebab benar apa yang Taehyung katakan, Jimin terluka. Harusnya dia tak dibebankan apa-apa.

"Okay..." Alpha abu itu akhirnya setuju. Dia sempat membelai pipi Yoongi sekilas sebelum menyampirkan kantungnya dan melompat turun dari truk. Tapi seperti yang lain, dia tak lantas pergi. Dia mau menunggu sampai dua yang di dalam sana keluar.

"Mana tanganmu?"

Taehyung menaruh lengan Yoongi melintang sampai ke pundak kanannya. Dia memegang pinggang Yoongi dengan erat supaya omega itu tak jatuh. Yoongi meringis. Kakinya nyeri. Tiap langkah yang dia ambil, nyeri itu semakin terasa berdenyut-denyut. Dengan susah payah dia keluar dari truk. Melompat tak mungkin. Yoongi terpaksa membungkuk supaya Jimin bisa menangkapnya dari bawah.

"Aku selalu jadi yang paling menyusahkan dalam kelompok ini. Sejak awal, bahkan sampai akhir," gumamnya di pelukan Jimin.

Seokjin menggeleng-geleng. "Sudahlah, apa perlu aku memarahimu supaya kau tak mengatakan itu?"

Ketika Yoongi tertawa sambil meringis, yang lain ikut tertawa juga. Dia pun naik ke punggung Taehyung yang sudah bersiap untuk menggendong. Sakitnya memang masih ada, tentu, tapi sedikit berkurang ketika melihat kawan-kawannya. Yoongi merasa kalau mereka adalah sebagian dari obat yang dapat menyembuhkannya.

Di pintu masuk gedung utama, seorang lelaki jangkung berdiri gagah. Dia tersenyum ramah pada mereka.

"Selamat datang, mulai hari ini sampai closing ceremony selesai, kalian adalah tanggung jawabku. Kenalkan, namaku Sejin," katanya.

-o0o-

LUNA

-o0o-

Begitu datang, mereka diminta untuk melakukan medical check-up. Kesehatan mereka diperiksa. Yang luka diobati. Saat itu pula, Sejin memberitahukan bahwa sampai closing ceremony selesai, mereka diberi kamar untuk tinggal. Masing-masing mendapat satu. Selain kamar, mereka juga bisa menikmati fasilitas lainnya yang ada di kompleks pemerintahan itu. Yoongi dan Jimin jadi dua yang harus tinggal di Rumah sakit untuk dirawat (selain itu Jimin memang harus dioperasi segera). Mereka tak bisa mengikuti kawan-kawannya yang diperbolehkan langsung menempati kamar setelah pemeriksaan selesai.

Ada waktu tujuh hari sampai closing ceremony digelar. Yoongi yang dirawat tak benar-benar kesepian sebab kawannya sering datang berkunjung. Hanya saja, tak pernah ada dari mereka yang berdiam di ruang rawatnya sampai malam habis, sebab itu tak diijinkan. Mereka diminta beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuh, supaya ketika hari penutupan tiba, semua berada dalam kondisi prima. Walau Yoongi paham, tapi keheningan malam itu membuatnya jadi rindu pada kawan-kawannya. Rasanya ingin ada yang menemaninya bercengkrama, atau sekadar bercanda. Yang paling membuatnya rindu adalah Jimin. Alpha itu tak bertemu dengannya sejak dia juga dirawat menjelang operasi. Yoongi dengar kabar kalau kemarin operasi Jimin sudah dilaksanakan. Tapi tak tahu juga bagaimana kabar alpha itu. Tempat mereka terpisah. Dia hanya berharap kalau Jimin baik-baik saja.

Ketika sedang melamun, tiba-tiba pintunya terbuka. Dari tempatnya berbaring dia bisa melihat seorang lelaki jangkung masuk ke kamar. Dekat dengan ranjang Yoongi lelaki itu menyilang tangan. Dia menggelengkan kepala sembari mendecak. "Makananmu tak kau sentuh? Kalau perawat yang sekarang datang kemari, mungkin kau akan dia marahi."

"Aku tak berselera," sahut Yoongi.

"Kau ini baru keluar dari karantina, masih harus memperbaiki gizi. Jangan menolak kalau diberi makan."

Yoongi hanya tersenyum masam, agak malas sebetulnya. Dia tak mau diganggu siapa-siapa. Maka dari itu, kedatangan Sejin pun tak disambut antusias. "Nanti kalau sudah lapar pun aku akan makan, Tuan Sejin. Jangan khawatir."

"Kau ingin cepat pulang?"

"...iya." Itulah yang bisa dia jadikan jawaban. Yoongi memang rindu dengan keluarganya, tapi yang jadi beban di pikirannya saat ini adalah Jimin, bukan yang lain. Sebab, dia yakin ayah-ibunya baik-baik saja di K-09.

"Sebentar lagi kalian akan pulang. Sabar saja. Ngomong-ngomong, kau seperti tak minat pada acara lusa?"

Yoongi melirik, tapi dia tak memberikan senyum lagi seperti tadi. Dia diam. Sejin benar. Dia adalah bagian dari kelompok pemenang. Predikat itu hanya tinggal diresmikan lusa nanti. Seharusnya Yoongi senang, tapi melihat keadaannya yang seperti ini, rasanya senang itu cukup jauh dari jangkauan. Walau kakinya sudah mulai membaik, tapi Dokter bilang dia mesti duduk di kursi roda untuk sementara waktu. Bahkan di acara penutupan lusa, dia harus menggunakan itu.

Ada yang membuka pintu lagi. Awalnya Yoongi kira itu perawat, atau salah satu kawannya yang hendak membesuk. Nyatanya, yang berdiri di ambang pintu adalah seseorang yang selalu dinantikan kedatangannya.

"Oh, hei Jimin. Kau sudah boleh keluar?"

"Buat apa pula aku di sana lama-lama?"

"Bagaimana keadaanmu sekarang?"

"Baik."

"Kau punya tamu." Sejin mundur sedikit supaya badannya tak menghalangi Jimin untuk mendekati ranjang Yoongi.

Dia nampak sedikit berbeda dengan rambut yang jatuh lurus menutupi dahi. Tapi bukan itu saja, perban yang kemarin-kemarin menutupi sebelah matanya telah berganti menjadi sebuah eyepatch. Yoongi mau menyebut nama alpha itu, tapi lidahnya kelu. Dia tak sangka kalau Jimin akan datang.

"Beritahu dia untuk memakan makanannya, sampai habis. Aku pergi dulu."

"Ya."

Sejin keluar kamar sehabis menepuk-nepuk pundak Jimin. Dari ujung ranjang, Jimin pindah ke samping. Dia duduk di tepian pelan-pelan. Sebelah mata abunya menatap Yoongi. Omega itu menelisik orang yang menatapnya. Gelenyar di dada tiba-tiba menjalar ngilu.

"Hai."

"Jimin." Yoongi yang disapa lalu menyebut nama itu. Jimin ditarik ke dalam pelukannya. Yoongi menghambur. Nama itu akhirnya dapat dia rapalkan juga. Dia mengeratkan pelukannya selama beberapa saat, sampai rasa yang meluap itu puas dia lampiaskan. Setelah melepaskan pelukannya, Yoongi mundur sedikit untuk melihat wajah alpha itu. "Bagaimana keadaanmu?"

"Baik. Kau sendiri?"

"Kau... bisa melihat lagi, kan?"

"Yoongi, kau belum menjawab pertanyaanku."

Yoongi tertawa dengan sedikit haru. Dia memegang bahu Jimin dan bersandar di dada alpha-nya. "Iya, sudah membaik. Dan Jimin, kau juga belum menjawab pertanyaanku."

"Ya, aku bisa. Kau akan terkejut kalau melihat ini."

"Ini apa?"

Yoongi mengangkat kepala. Saat itu, Jimin menutup mata dan melepas eyepatch-nya. Lalu saat dua mata itu terbuka, Yoongi melihat warna yang berbeda.

"Aku mungkin akan mengenakan lensa untuk menutupi ini nantinya."

"Matamu..." Yoongi menatap takjub.

"Yang kiri ini diganti dengan yang warnanya kuning. Waktu aku berkaca, kuningnya terlihat menyala-nyala. Aku tak begitu suka. Dan lagi... kalau terkena udara, mataku akan berair."

Ketika Jimin berkedip lambat, dari sudur mata kirinya jatuh setetes air asin. Wajah Jimin tanpa ekspresi. Air mata itu mungkin saja memang karena efek operasi. Tapi Yoongi merasa sedih melihat alpha-nya menangis, walau dia tahu itu tak beralasan apa-apa. Lantas, dia pun menyeka jejak air mata Jimin dengan ibu jarinya, lalu memasangkan lagi eyepatch yang semula ditanggalkan.

"Tidak boleh kena udara lama-lama." Jimin menyunggingkan senyum, mendengus dengan senada tawa di dalam napas.

"Kau masih dalam masa pemulihan."

Jimin menarik sedikit eyepatch-nya supaya tepat menutupi mata dengan benar. Ketika dia lihat Yoongi, omega itu tengah menatapnya sambil mengelim senyum yang entah sedih, kasihan, atau apa.

Ditanya kenapa, Yoongi hanya menggeleng. "Kupikir... warnanya indah. Seperti warna bunga liar di musim semi."

"Kau suka?"

Yoongi terkekeh. "Kau jadi aneh. Matamu beda warna. Satu abu, satu kuning." Dia berniat mengejek. "Orang-orang akan menoleh dua kali saat berpapasan denganmu."

"Kau benar."

Mereka mengembuskan napas. Jari-jari kurus Yoongi memainkan tangan alpha-nya.

"Jimin."

"Hm?" Jimin menjawab dengan gumaman ketika Yoongi memanggil. Omega itu tertunduk. Jimin membelai wajahnya supaya Yoongi mau mengangkat kepala sedikit lebih tinggi. "Apa?"

"Jimin. Lusa... semua ini akan benar-benar berakhir."

"Ya."

"Di benakku selalu muncul pertanyaan yang sama tentang kata-katamu waktu itu. Aku tak paham kenapa... aku masih saja tak yakin?" Dia bicara di hadapan Jimin, tapi pertanyaan itu ditujukan pada dirinya sendiri.

Jimin membungkuk. Dia tatap Yoongi lamat-lamat. Rasanya dia tak suka melihat keraguan di mata sekelam malam Yoongi yang selalu teduh. Jimin menyapukan anak-anak rambut Yoongi yang ujungnya mengenai mata. Dia genggam tangan omega-nya lantas mencium kening itu. "Apa yang membuatmu tak yakin?"

Yoongi sedikit memalingkan wajah. Dia sendiri bingung. Tapi rasa ragu itu selalu ada, apalagi lusa adalah hari terakhir mereka bersama di K-01 ini. Dia takut esoknya lagi, dan seterusnya, keinginan Jimin yang jadi keinginannya juga itu tak pernah terwujud.

Rasanya dia lelah dengan pikirannya. Yoongi memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang.

"Kenapa?"

"Aku juga tak tahu kenapa." Yoongi memegang keningnya sendiri. "Aku hanya takut..."

Takut kau pergi dan kita sama akhirnya dengan karantina ini. Begitu kalimat yang tak terucapkan olehnya.

Jimin menurunkan tangan Yoongi yang semula menutupi sebagian wajah itu.

"Yoongi," panggilnya. Dia membungkuk, bibir tebalnya mengecup kelopak mata Yoongi dengan sayang. "Should I kiss you?"

Yoongi memejamkan mata ketika Jimin mendekat dan meraih bibirnya. Daging kenyal itu saling menempel, bersentuhan dengan lumatan yang pelan-pelan, penuh perasaan. Mereka saling mengecap apa yang ada di dalam mulut (lain dari itu, mengecap rasa yang ingin disampaikan). Awalnya biasa, tapi kemudian ciuman itu seperti sesuatu yang bisa menyulut api. Ada gejolak, Yoongi merasa. Dia jadi emosional dan ingin menangis. Masih sambil berciuman, air matanya meleleh. Mereka melepaskan ciuman panjangnya untuk mengisi udara di paru-paru. Jimin mengelus wajah Yoongi yang sedang kesusahan bernapas dan terisak. Matanya merah berair, pipinya basah.

Jimin mengadukan dahinya ke dahi Yoongi dengan perlahan. Dia menatap omega itu tanpa ada jarak. Mata Yoongi tertutup, bulu matanya rapat. Dia berusaha berhenti menangis dengan menggigit bibirnya sendiri. Jimin hentikan itu dengan memberi kecupan singkat di bibir Yoongi.

"Jimin... aku tahu alasan mengapa aku begini takutnya pada hari esok dan janjimu itu."

"Apa?"

"Ini karena aku... mencintaimu."

Jimin terenyak.

Yoongi menngunakan dua tangannya untuk menghapus lelehan air asin itu. "Aku mencintaimu, Jimin..."

Dia mencintai Jimin, benar-benar. Dia ingin alpha itu tahu, sebab tak ada lagi yang perlu disembunyikan di antara mereka yang sudah jadi sepasang.

"Yoongi..."

Gelenyar itu terasa kuat, makin kuat lagi ketika Yoongi merangkul untuk minta dipeluk.

"Aku mencintaimu, Jimin."

-o0o-

LUNA

-o0o-

Yoongi tertidur pulas, baru bangun ketika telinganya menangkap suara kucuran air. Ternyata, Jimin sedang menuang air minum.

"Oh, kau sudah bangun? Selamat pagi," sapa alpha itu.

Baru saja Yoongi hendak memanggil, pintunya dibuka. Jimin membalik badan. Di ambang pintu ada Sejin. Jimin dan lelaki itu bicara. Hanya saja, percakapan mereka tak terdengar ke telinga Yoongi. Sejin bicara dengan suara yang sangat pelan, dan dari Jimin tak terdengar apa-apa. Jimin sempat meliriknya sekilas. Tapi dari wajah itu, Yoongi merasa pesan yang disampaikan orang di depan pintu bukanlah sesuatu yang baik. Jimin kemudian keluar, pintu ditutup. Saat itulah Yoongi baru benar-benar bangun mendudukkan diri di atas ranjang. Dia terus memandang ke sana, ke pintu yang tak lagi menampakkan apa-apa. Yoongi memikirkan apa yang membuat Jimin berwajah tak mengenakkan seperti itu. Perasaannya memburuk. Tapi belum mau dia akui. Selewat nyeri yang mengiris membuatnya memegang dadanya sendiri. Dia tak tahu apa-apa, dan tak mau juga merasa seperti ini.

Sampai siang hari, Jimin tak juga kembali. Dia bahkan tak datang ketika diminta menghadiri rapat dengan penyelenggara untuk persiapan closing ceremony esok hari. Alpha itu menghilang. Yoongi gusar. Dia sendiri hadir di rapat itu meski harus keluar dari Rumah sakit menggunakan kursi roda. Tapi kemana Jimin? Yoongi rasa, hanya Sejin yang tahu, sebab dia bersama Jimin tadi pagi. Yoongi ingin bertanya pada Sejin, tapi lelaki itu terlalu jauh untuk digapai. Sejin duduk bersama para dewan direksi.

"Yoongi, ada apa?" Hoseok yang duduk di sebelahnya berbisik.

Yoongi tahu pertanyaan Hoseok ditujukan untuk dua hal. Ada apa dengan dirinya yang tak berbaur, dan ada apa dengan Jimin yang tak terlihat.

Yoongi hanya menggeleng, jari-jarinya mengait atas perut.

"Yoongi, kau oke?" tanya beta itu sekali lagi.

"Aku baik-baik saja, Hoseok-ah. Kalau kau mau tanya kemana Jimin, aku tak tahu."

"Kenapa?"

Yoongi merengut. Dia pun tak tahu kenapa. Karena dirinyalah mate Jimin, semua orang mungkin berpikiran sama seperti Hoseok. Seolah-olah memang, hilangnya Jimin di rapat itu ada sangkut-pautnya dengan dia.

Mereka diberi jadwal, lalu dijelaskan mengenai apa-apa saja yang mesti dilakukan esok. Acara itu sangat penting. Tidak boleh ada kesalahan. Orang banyak melihat. Citra diri, citra kota, dan citra penyelenggara menjadi tanggung jawab bersama. Pemaparan itu mudah dicerna, tapi pikiran Yoongi bercabang. Makanya dia melamun, sedang kertas di atas meja ditatap, tapi tak dibaca.

Di akhir rapat mereka dibagikan sepaket dokumen dalam sebuah map. Itu surat-surat penting yang harus mereka pegang, tak boleh rusak ataupun hilang, sebab sudah dibubuhi stempel walikota dan penyelenggara. Stempel itu bukti otentik kalau dokumennya asli. Surat-surat itu adalah tanda bahwa merekalah si pemenang karantina musim ini dan mereka juga yang berhak mendapatkan hadiah berupa fasilitas lebih dan jaminan hidup dari pemerintah.

Karena Jimin tak ada, Yoongi memutuskan untuk membawa serta surat itu bersama dirinya dan akan diberikan pada Jimin setelah rapat selesai. Taehyung bilang, Jimin mungkin saja ada di kamarnya. Yoongi juga berpikiran sama, sebab Jimin tak akan tinggal lama di Rumah sakit jika operasinya sudah selesai. Akhirnya, dia memutuskan untuk mendatangi alpha itu bersama Taehyung.

Dan, benar saja, Jimin ada di kamarnya. Ketika didatangi, dia ada di ujung koridor, tengah berdiri menghadap kaca.

"Jimin." Yoongi mengulas senyum. Taehyung mendorong kursi rodanya semakin dekat pada alpha itu. Jimin menoleh, walau tak terlihat antusias. Yoongi menunjukkan satu dari dua map yang dia pegang. "Kau mungkin melupakan rapat. Hanya kau yang belum mengambil surat-surat penting yang harus kau pegang. Aku membawakannya—"

"Aku tak perlu ini."

Begitu disodorkan, map berisi kertas-kertas berstempel itu ditepis hingga isinya berhamburan jatuh. Yoongi terkesiap, begitu juga Taehyung. Sementara Yoongi menatap surat-surat di lantai, Taehyung berlutut untuk memungutnya.

"Jimin, kau ini kenapa?!" Taehyung bertanya dengan kesal. Dia berdiri dengan hentakan. Surat di tangannya sedikit teremat. Ketika melihat Jimin, alpha itu tengah memegangi kepalanya sendiri.

"Surat-surat itu tak ada gunanya." Jimin menjawab tanpa berbalik, dia tetap memunggungi dua orang itu. "Tinggalkan aku sendiri."

-o0o-

LUNA

CONTINUED