Disclaimer: Seperti biasa aku tidak memiliki apa-apa kecuali fanfic ini.

Genre: Friendship/Romance

Rating: M

Warning: Typo dan OOC (Ini OOC tingkat serius) yang jelas pasti ada, juga umur yang dirubah. Waspada Daddy kink.

+Gula Gula+

"Hiroka-san, sepertinya aku harus pergi, sudah jam makan siang." Kata Joonmyun. Dia melirik dari jam tangannya, ke monitor kantor, lalu ke jam dinding.

"Tapi jam makan siang baru mulai sepuluh menit lagi." Kata Hiroka, tangan gadis asing itu masih mengganggu di bahu Joonmyun.

Demi Byeol, Yorkshire Terrier-nya yang manis! Kemana perginya Jongdae saat Joonmyun butuh bantuannya untuk kabur dari perempuan ini?

"Aku harus pergi," Joonmyun berusaha mengarang alasan, "lebih cepat. Ya, aku harus pergi lebih cepat."

"Kenapa?"

"Aku ada janji dengan seseorang."

"Aku ikut." Kata Hiroka.

Joonmyun dengan cepat berdiri, mengambil ponselnya, tasnya, novelnya, semua barang pribadinya, dan berdiri meninggalkan perempuan itu, "Tidak, jangan ikut. Jangan ikuti aku."

Joonmyun sedikit berlari ke lift dan mengurung diri disana sebelum Hiroka menyusulnya. Dia menghela napas, Joonmyun suka kantornya, semua kesibukannya, tekanannya, kefrustasian Yongseon, kopi instannya, dan jam lemburnya. Yang dia tidak sukai cuma seseorang bernama Hiroka yang terus menerus mengikutinya, mendekatinya, menganggu dokumennya, dan paling parah mengambil barang barangnya.

Joonmyun berpikir lagi apa yang dia tinggalkan di mejanya. Semua laci terkunci, komputer sudah di-password dengan nama osehoon -yang Joonmyun yakin Hiroka tidak akan kepikiran, tasnya-ponselnya-novelnya ada padanya, mejanya bersih.

Kecuali dari pulpen merah jambu pucat yang dipinjamnya dari Yongseon.

"Ya ampun, padahal pulpen itu enak dipakai."

"Pulpen pink-ku?"

Joonmyun menoleh ke kanan saat mendengar suara Yongseon, Yongseon tersenyum dengan cantik padanya.

"Aku meninggalkannya di meja, dengan si turis asing." Kata Joonmyun.

"Ah," Yongseon akhirnya mengerti kenapa dari tadi muka Joonmyun tidak enak, "aku masih punya lagi yang seperti itu, ada banyak warna. Tenang saja."

"Aku jadi tidak enak padamu kalau dia mengambilnya."

Lift terbuka dan banyak orang turun, lalu Jongdae dengan malas-malasan naik, membuat mereka bertiga saja yang ada di lift.

"Halo, geng homo." Sapa Jongdae.

Yongseon tertawa, "Nama menjijikan apa itu, Jongdae?"

"Tapi itu kenyataan, Nona." Kata Jongdae.

"Kau lihat si turis asing di luar?" Tanya Joonmyun.

"Aku lihat dia masuk lift lain. Apa dia mengejarmu?"

"Mungkin." Kata Joonmyun.

"Pasti." Kata Yongseon.

"Apa kita punya cukup waktu untuk kabur ke luar kantor? Pengap sekali rasanya di gedung ini." Keluh Jongdae, sepertinya dia baru bertemu pekerjaan berat yang membosankan.

"Mobilku?" Tanya Joonmyun, Yongseon mengangguk.

"Tapi aku tidak akan kembali ke kantor lagi siang ini." Kata Joonmyun.

"Wah, belajar membolos dari siapa si murid teladan ini?" Goda Jongdae.

"Temannya pacarmu, mungkin." Kata Joonmyun.

Joonmyun tahu Jongdae sadar kalau Joonmyun tahu Jongdae dan Kyungsoo itu pacaran, tapi Joonmyun tidak tahu apa Jongdae sadar dia dan Sehun juga ada sesuatu, apa Yongseon juga sadar tentangnya dan Sehun. Joonmyun belum pernah memikirkan hal seperti ini sebelumnya.

Jadi mereka memenuhi Volvo Joonmyun dan melaju menuju resto langganan.

"Oh, iya, Joonmyun. Byeollie bilang album Block B-nya ada padamu." Kata Yongseon.

"Iya, ada di mobilku yang lain. Mau kau ambil?" Tawar Joonmyun.

"Iya, nanti di apartemen, ya."

"Ok, Nona."

Yongseon tertawa kecil saat sadar dua temannya sedang senang memanggilnya nona hari ini.

Siangnya, setelah kedua temannya kembali ke kantor dan Joonmyun kabur dengan mobilnya, ponsel Joonmyun bergetar.

Pesan dari Jinah, kakak Jongin yang temannya Sehun, isinya terimakasih atas sarannya. Joonmyun membacanya sekilas dan memutuskan akan membalasnya nanti.

Nanti saja, seperti mengambil album Block B milik Byeollie, nanti saja.

Jujur saja, Joonmyun agak agak bosan dan agak agak kesal dengan Hiroka. Semoga dia dipindah tugaskan lagi dalam waktu dekat!

Joonmyun butuh sesuatu yang segar untuk hari yang menyebalkan ini, dia butuh sesuatu yang manisnya pas!

"Hai, Baby."

Dan Joonmyun menelepon Sehun begitu saja.

"Siang, Daddy. Di kantor?"

"Di luar. Di sekolah?"

"Bolos. Mau bertemu?"

"Tentu. Dimana?"

"Cafe seberang apartemenmu."

"Wah, aku malah belum pernah kesana."

"Makanya ayo kesini."

Joonmyun menyetir kilat ke arah apartemennya, sekalian menukar Volvo-nya dengan F-type.

Joonmyun bisa melihat Sehun dari kaca cafe yang lebar dan bersih. Bersama dengan seorang gadis yang menggenggam tangannya. Lalu Sehun lari keluar cafe.

"Oh Sehun."

Sehun lebih dari terkejut melihat Joonmyun ada disitu, dia tidak bicara apa apa dan tidak bisa menutupi pipinya yang memerah.

"Aku baru mau masuk." Kata Joonmyun.

Kemudian mereka berdiam-diaman di F-type.

"Tadi itu namanya Nari."

Joonmyun menyetir mengikuti jalan, "Apa kau menerimanya?"

"Tidak! Dia bukan pacarku."

"Kenapa? Kau tidak menyukainya? Bukannya dia cantik?"

"Tapi!"

Joonmyun menepi, "Apa kau sudah punya pacar?"

Mereka tidak pernah membahas ini sebelumnya, karena Sugaring sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan percintaan.

"Tidak."

"Punya orang yang kau sukai?"

Sehun menatap langsung ke mata Joonmyun dengan pandangan yang manis. Sungguh! Joonmyun tidak ingin menghalangi apapun keinginan anak ini, kalau dia ingin punya pacar itu adalah haknya.

"Kalau aku bilang aku menyukaimu bagaimana."

"Maksudku orang lain, Sehun." Orang lain yang lebih dekat dengannya, lebih sepikiran, segenerasi. Seseorang yang lebih muda dan lebih menyenangkan dari Joonmyun.

Sehun diam.

Joonmyun diam.

Mungkin selama ini Joonmyun membuat Sehun terkekang, membuatnya tidak bebas berteman dan mencoba berpacaran dengan seseorang, mungkin Joonmyun membuat Sehun terus menerus memikirkannya yang sebenarnya tidak terlalu penting dibanding dengan masa mudanya yang harus dinikmati, mungkin Joonmyun mengekang masa muda itu.

Mungkin Sehun sebenarnya tidak menyimpang, mungkin dia sebenarnya menyukai Nari. Kenapa pipinya harus memerah?

Joonmyun merasa tidak enak. Hari ini memang sangat menyebalkan.

"Joonmyun." Panggil Sehun, mata Sehun polos, mata anak kecil. Joonmyun merasa dia menghancurkan anak ini.

"Joonmyun, cium aku."

Ini tidak masalah, kan?

Joonmyun mengecup bibir Sehun dengan lembut, yang Sehun balas dengan manis. Joonmyun tidak habis pikir, setelah membuatnya merasa hari ini menyebalkan, ciuman Sehun masih sangat amat manis. Rasanya Joonmyun seperti ditarik ke masa dia SMA, polos, penuh percobaan, penuh dengan perasaan mirip penyesalan berbau spidol papan tulis. Tapi tanpa mantan kekasihnya, Sehun membuatnya seperti Sehun yang pertama, membuat Joonmyun merasa seperti pertama kali. Walaupun itu berarti mengorbankan kepolosan Sehun.

Yang terus berpikir sepanjang malam, itu Oh Sehun. Dia tidak menyukai Nari, tentu saja tidak, dia cuma kaget dan merasa tidak nyaman pada gadis yang sebenarnya tidak dekat dengannya itu. Dia jadi berpikir tentang Joonmyun. Kalau sekarang Sehun bilang dia suka pada Joonmyun itu rasa nyaman, kagum, nafsu, atau cinta yang sesungguhnya?

Sehun mengumpat untuk dirinya sendiri dalam hati, perasaan ini membuat dia jadi merasa kikuk bahkan hanya dengan memikirkan Joonmyun.

Tiba tiba ponselnya berdering.

"Hallo, Daddy."

"Baby, aku di depan rumahmu."

Dan mereka akhirnya berdiam-diaman di dalam F-type.

Ini sekali kalinya Joonmyun tidak fokus saat niat lembur.

"Sehunnie."

"Aku tidak menyukai Nari, serius! Aku tidak dekat dengannya! Aku tidak mengerti kenapa dia menyatakannya begitu."

Joonmyun tertawa, "Sehunnie, kau tidak perlu cerita soal Nari. Kalau kau tidak suka jangan dipikirkan."

"Orang dewasa mudah sekali bilang begitu. Coba kalian jadi aku." Kata Sehun.

Joonmyun merasa Sehun saat ini adalah Sehunnya yang kurang ajar, tidak berubah dan masih kurang ajar.

"Daddy, kau punya orang yang kau suka?"

Joonmyun tertawa, "Aku sudah lama tidak menyukai seseorang, sepertinya aku lupa rasanya."

"Ayolah, Daddy, mana mungkin lupa."

Memang bukan lupa, tapi tidak familiar dengan rasa itu, "Mungkin aku suka sekali, mungkin aku cuma suka, mungkin."

Mereka diam, Sehun bisa mati kikuk dengan kesal kalau begini, tapi dia tidak bisa menentukan apa yang ingin dibicarakan dengan Daddy, jadi Sehun menciumnya di bibir

+TBC+