Youngjae kembali terbangun hari ini, ia meluruskan kedua tangan dan kakinya dan menikmati udara segar pagi hari. Ia tidur cukup lelap dan rasanya seperti mimpi ia bertemu dengan Daehyun, Daehyun berpakaian seperti pelayan dan hanya melayani Youngjae saja,dan tindakan heroiknya pantas diberi pujian dengan sebuah ciuman. Ciuman lembut untuk bibir tebal dan lembab miliknya... Tidak, jelas sekali ia tidak bermimpi sama sekali, Youngjae benar-benar menciumnya dan berlari sekuat tenaga dan menyembunyikan dirinya dalam rumah. Pipi Youngjae menjadi merah mengingat kejadian kemarin malam dan ia berteriak kencang kedalam bantal-nya.
"Bagaimana aku bisa...", Youngjae mengeluarkan wajahnya dan tidak percaya dengan apa yang ia telah lakukan.
Daehyun : [Hei, kenapa kau meninggalkanku setelah mencium-ku?]
Daehyun : [Aku tidak bisa menemukanmu, apa kau pulang ke rumahmu dengan selamat?]
Daehyun : [Aku tidak tahan kalau kau terus mengabaikan pesan-ku, tapi hari ini kau ku-maafkan]
Youngjae mengerang membaca tiga pesan teks beruntun dari Daehyun, ia terlalu senang sampai-sampai lupa dengan ponsel-nya, malahan ia langsung membawa tidur segalanya. Ia tidak boleh terus mengabaikan pesan Daehyun, apa lagi sudah membuatnya menderita karena menunggu.
Youngjae: [Aku sampai dirumah dengan selamat, sekarang aku mau bersiap pergi ke sekolah]
Tidak ada jawaban, Youngjae menanti-nantikan jawaban instan tapi ponsel-nya tidak bergeming. Mengingat kalau Daehyun bekerja pada malam hari sampai subuh, sudah pasti ia kelelahan dan sedang tidur. Ia memutuskan untuk segera bergerak untuk bersiap dan ponselnya terus bersamanya, konsol-gamenya kini digantikan dengan dua buah power-bank agar menjaga ponsel-nya tidak kehabisan batrai.
.
"Yo, Jongup!", Youngjae menepuk bahu Jongup dan Jongup berbalik
"Oh, hai Jae...", Jongup membalas sapaan-nya, wajahnya tidak seceria biasanya dan ada yang salah dengan gerak-gerik tubuhnya.
"Kau kenapa? Cara jalanmu aneh", komentar Youngjae, "...masa sih..kau dan Zelo.."
"Ya, memang gara-gara Junhong", Jongup memutar matanya
"JONG UP PIIEEE", Junhong datang dan hendak melompat memeluk Jongup, tapi Jongup menghindar dan Junhong hanya memeluk angin. "Eeeeiii..."
"Kalian berdua memang tidak bisa kalau tidak bersentuhan yah", Youngjae menyipitkan matanya
"Junhong yang tidak bisa diam, aku sih biasa saja!", jawab Jongup, kembali mengerang memegangi ke dua bokongnya yang juga berdampak sampai keujung kakinya.
"Kau seharusnya diam dirumah saja kalau masih sulit berjalan", mimik wajah Junhong berubah menjadi khawatir
"Memangnya aku jadi seperti ini gara-gara siapa", ketus Jongup.
Junhong memutar matanya dan mengangkat tubuh Jongup dengan kedua lengannya, "Ya! Turunkan aku!"
"Aku sedang bertanggung jawab karena ulahku", jawab Junhong, tetap memegang Jongup dengan erat walaupun Jongup meronta-ronta, "Kalau kau terus bergerak nanti bisa lebih parah dari yang kemarin~~"
"Memangnya kemarin kalian ngapain?", Youngjae memutuskan untuk bertanya karena tidak tahan dengan imajinasinya saja.
Jongup dan Junhong bertukar pandangan sejenak, lalu Junhong angkat suara, "Kemarin aku melompat ke arahnya, Jongup tidak siap jadi kami terjatuh di tangga rumahnya dan Jongup cidera, maafkan aku Jongupieee", Junhong mencoba mengecup Jongup dan Jongup menolaknya, ia masih kesal.
"Oh..kupikir kalian habis... ah, lupakan", Youngjae menghapus pikiran negatifnya.
.
Setelah cukup keras usaha Jongup agar terlepas dari genggaman Junhong, mereka akhirnya lebih tenang setelah Junhong menyerah dan melepaskan Jongup. Youngjae hanya bisa memandangi pasangan yang berjalan di depannya dan mulai membayangkan Daehyun mengenakan seragam sekolah dan berjalan disampingnya saat ini. Youngjae segera menggelengkan kepalanya karena tahu hal itu mustahil.
"Kau hari ini tampak ceria, Youngjae", komentar Jongup
"Nah... perasaanmu saja", jawab Youngjae, tapi senyuman masih menempel pada wajahnya.
'Jae..Youngjae.. JaeJae... masa sih', Junhong menoleh dan memperhatikan wajah Youngjae, saat ditanya ada apa Junhong hanya membuang muka seperti tidak ada apa-apa.
.
Daehyun baru mulai sadar setelah matahari sudah lama berada di atas, tangannya meraba-raba mencari ponselnya dan mengintip dengan sebelah mata. Setelah melihat ada notifikasi, ia segera bangkit duduk dan membuka pesan dari orang yang ia tunggu-tunggu. Ia tidak pernah merasa seriang ini sebelumnya, entah kenapa hanya Yoo Youngjae satu-satunya yang membuat dirinya menjadi anak labil kasmaran.
Zelo yang sering mengunjunginya pun mengakui kalau ia sudah berubah, berubah kearah yang lebih baik tentunya. Tentu saja karena Daehyun sudah menerima perubahan dan tidak tinggal didalam keterpurukkan, dan ia sadar kalau ia tidak bergerak, ia tidak akan bertemu Youngjae yang membuat hari-harinya lebih indah dari yang sudah-sudah.
"Hei", Youngjae datang mengenakan pakaian lengkap dan lehernya ditutupi kain untuk memblokade angin malam. Ini pertama kalinya ia mengunjungi Daehyun setelah insiden terakhir.
"Jae, senang melihatmu disini", Daehyun menyapa dengan ceria
"A-Aku datang hanya untuk membeli kok...", Youngjae mengambil satu dua buah barang, disela-sela Daehyun meminta bayaran dari Youngjae, ia menggenggam tangan Youngjae untuk beberapa detik dan merasakan dinginnya suhu tubuh Youngjae. Ia jadi merasa kurang nyaman kalau Youngjae harus kedinginan hanya untuk melihatnya, juga senang.
Malam selanjutnya dan seterusnya Youngjae terus datang, seperti memastikan kalau Daehyun baik-baik saja. Dan Daehyun akan selalu menggenggam tangan Youngjae untuk waktu singkat, waktu yang cukup untuk mengisi kembali motivasi bekerjanya. Disiang hari mereka terus bertukar pesan teks dan dimalam hari Youngjae datang memberi kunjungan singkat
.
Daehyun : [Selamat pagiiii...]
Mulut Youngjae jatuh membaca pesan teks dari Daehyun, setelah sekolah usai dan Youngjae hendak tidur siang dan Daehyun baru terbangun. Ia memang tidak pernah menetapkan waktu kapan ia akan bangun tapi hari ini ia tidur terlalu lama, [Berapa lama kau tidur, memangnya kau koala?]
Daehyun tercengir membaca balasan Youngjae, [Koala terdengar imut. Ngomong-ngomong aku lapar]
Youngjae bangkit dari tempat tidurnya, [Kau belum makan? Makan siang yang disebut Sarapan apa yang kau inginkan?]
Daehyun berpikir sejenak, [Yeah, dan aku sedang ingin Ayam... tapi aku belum menerima gaji]
"Baiklah, ayam!"
.
Youngjae mengganti pakaiannya dan segera pergi ke restoran fastfood terdekat, ia memesan se-ember ayam dan langsung menuju Apartment Daehyun. Youngjae kembali ragu didepan pintu Daehyun, ia memang selalu menemui Daehyun ditempat kerja, tapi ini pertama kalinya ia mengunjungi apartment Daehyun dengan Daehyun 100% waras. Ia tidak sadar pintu Daehyun sudah terbuka dan ia masih membeku dengan pose hendak-mengetuk.
"Apa kau akan mengetuk kepalaku?", tanya Daehyun dan Youngjae terloncat, kegaduhan di ember pun terdengar, "Wow!? Kau benar-benar membawakanku ayam!? Terima kasih JaeJae!"
"Err.. ya.. aku Cuma mau memberikannya padamu", seember ayam berpindah tangan ke Daehyun
Youngjae hampir akan melangkah pergi tapi Daehyun menahannya dan menariknya masuk kedalam rumahnya.
"Duduklah dimana pun yang kau suka", kata Daehyun tapi rumahnya tidak memberikan tempat untuk duduk sama sekali, jadi Youngjae sedikit merapikan barang-barang yang berserakan sebelum ia menemukan ruang untuk duduk.
.
Saat Daehyun membuka ember ayam, Youngjae merasa agak sungkan karena ia membeli terlalu banyak. Tapi siapa yang mengira setengah jam kemudian ember itu kosong dan Daehyun memakan semuanya sendirian, untuk tubuh yang kurus, ia punya cukup besar nafsu makan.
"...kalau sudah selesai makan, aku bisa pergi kan?", Youngjae berdiri, tidak nyaman dengan suasana kaku setelah suara Daehyun makan usai.
"Hei, kenapa terburu-buru sekali", Daehyun mengerutkan wajahnya dan Youngjae kembali duduk diam. "Jadi, bagaimana sekolahmu hari ini?"
"Tidak ada yang spesial", tidak ada karena Youngjae hanya fokus pada ponselnya, menunggu pesan dari pria di hadapannya.
Daehyun menganggukkan kepalanya, "Aku ingin melihat sekolahmu, boleh kah?"
Youngjae mengedipkan matanya beberapa kali, sudah pasti Daehyun tahu dengan sekolahnya karena ia pernah datang menemui Zelo. Tapi Youngjae tidak menolak tawarannya, lebih baik kalau mereka berjalan keluar dari pada tidak tahu harus melakukan apa dirumah.
.
Daehyun terdiam sesaat sebelum masuk wilayah sekolah, sepertinya ia ingat kalau Zelo bersekolah di SMA tersebut tapi tidak pernah mengingat wajah Youngjae sebelumnya, tentu saja karena ciuman mabuknya ia baru sadar akan keberadaan Youngjae.
Youngjae mengantarnya berkeliling sekolah dan memberikan waktu untuk Daehyun yang menangkap semua ruangan, sudah pasti ia masih ingin bersekolah, terlihat sekali cara Daehyun menghela nafas ada rasa penyesalan. Youngjae menunjukkan tempat duduknya dan Daehyun mencobanya, mencoba melihat dari perspektif Youngjae, dan tempat terakhir adalah tempat Youngjae menghabiskan waktunya saat membolos. Youngjae dan Daehyun duduk berdampingan dan melihat ke langit bersama.
"Apa kau tidak punya pacar?", tanya Daehyun tengah lamunannya
Youngjae terkejut, bagaimana bisa ia baru menanyakan hal itu setelah dua kali menyerangnya, sebenarnya apa sih yang ada dipikirannya, "Tidak, yah karena aku cupu dan hanya bermain game jadi aku tidak punya pacar"
"Pfft", Daehyun tercengir, "Kau terlalu tampan untuk menjadi anak cupu, aku bahkan tidak bisa membayangkannya. Tidak perlu merendah Jae"
.
Youngjae tidak merendah tapi tidak menjawab kembali karena senang dipuji Daehyun. Daehyun bangkit begitu pula dengan Youngjae, sepertinya kencan mereka akan segera berakhir.
"Karena aku berhenti dipertengahan SMP, jadi kau berada ditingkat yang lebih tinggi", ucap Daehyun tersenyum, "Jadi aku harus memanggilmu...Hyung? Sunbae? Youngjae-Sunbae tidak terdengar buruk"
"Youngjae saja, Daehyun", kata Youngjae.
Youngjae tidak mengerti kenapa Daehyun berdiri agak jauh darinya dan tersenyum malu, angin sepoi-sepoi mengibas rambut mereka dan daun-daun berguguran memberikan efek dramatis, Youngjae merasa ia sedang berada didalam sebuah drama, tentunya dia senang bukan drama di televisi melainkan di panggung kehidupannya.
"Youngjae-Sunbaenim", Daehyun memulai dan Youngjae hanya diam mendengarkan, "...aku memang tidak benar-benar mengenal Sunbae, tapi hatiku berdegup kencang setiap kali melihatmu. Aku rasa, aku jatuh cinta padamu"
Pipi Youngjae menjadi merah, begitu pula pipi Daehyun. Daehyun sebaiknya tidak bercanda dengan Youngjae karena Youngjae benar-benar sudah jatuh hati padanya, "Sunbae, jadikan aku pacarmu"
"Dae..", Daehyun melangkah maju dan meletakkan satu jarinya dibibir Youngjae, "Sssh.. jangan terburu-buru memberi jawaban Sunbae, aku akan memberimu waktu sampai kau juga jatuh cinta padaku, jadi simpan saja jawabanmu"
.
Youngjae tidak memberikan jawaban apa pun seperti yang Daehyun inginkan, mereka berdua kembali terdiam canggung dan berjalan meninggalkan sekolah. Sesampai diluar gerbang sekolah, Daehyun memutuskan untuk melepaskan Youngjae untuk hari ini.
"Sampai bertemu lagi JaeJae", Daehyun menghilangkan gelar formalitas dan masih tersenyum ke arah Youngjae, "Aku menciummu dua kali dan kau baru membalas satu, aku akan menantikan pembalasanmu lagi"
Youngjae merasa pipinya terbakar, dan matanya terus memandang ke arah Daehyun yang semakin jauh dan menghilang diantara orang-orang. "Aku rasa aku sudah jatuh cinta padamu...", bisik Youngjae.
END
Chilla: doble update bwt malming... :*
