WARNING! This fanfiction contains BDSM and dirty talks. Rated: M (25+)
(Sebelumnya, di Roughest Desire...)
"Gugurkan. Kalau kau hamil, gugurkan."
"Oppa, apa kau gila?! Tentu saja aku tidak akan menggugurkan bayiku kalau nanti ternyata aku hamil! Itu berarti kita akan menjadi pembunuh!"
"Listen. Aku tidak akan mengakui bahwa aku ayah dari anak itu. Jadi, lebih baik kau gugurkan ketika kau mengetahui bahwa kau hamil, sebelum perutmu membesar. Camkan itu."
Jiwoo berteriak, "Oppa, you monster!"
Namjoon membalasnya tanpa menghadap Jiwoo. "Yes, you can call me monster."
ROUGHEST DESIRE
Chapter 25: Master and Servant
Seumur hidupnya, Seokjin belum pernah merasa sebahagia ini. Berlibur selama satu minggu di Maldives ternyata berdampak positif pada banyak aspek di kehidupannya. Pertama, Yoonjin—anak semata wayangnya—sudah kembali menjadi Yoonjin yang aktif dan ceria. Kedua, keluarga kecilnya kembali harmonis. Ketiga, akhirnya ia memahami kekalutan yang selama ini berkecamuk di otaknya.
Bahwa sebenarnya ia tertarik pada Namjoon karena satu hal.
Namjoon mengingatkannya pada Hyosang, entah kenapa.
Sedangkan Hyosang hanyalah seseorang di masa lalu Seokjin yang seharusnya tidak perlu ikut berputar lagi di poros kehidupannya.
Keempat, akhirnyaSeokjin menyadari bahwa sebenarnya dirinya sudah jatuh lama sekali terhadap Yoongi.
Seokjin tersenyum bahagia. Rasanya semua hal sudah kembali di dalam kontrol. Di jalur yang seharusnya. Seokjin menyukai ini. Hidupnya seharusnya seperti ini sejak dulu. Bahagia bersama Yoongi dan Yoonjin, tanpa perlu ada Namjoon.
Ya, seharusnya seperti itu. Seperti pepatah bilang, penyesalan selalu datang terakhir.
Ω
Hari ini Seokjin menjemput Yoonjin lagi di playgroup-nya. Hampir setiap hari Seokjin menyempatkan untuk menjemput anak semata wayangnya itu, karena ia sadar sekarang, bahwa hartanya yang paling berharga adalah keluarga. Ibu dan anak itu akan menghabiskan siang bersama, seperti lunch atau sekedar jalan-jalan. Setelah itu Seokjin akan mengantar Yoonjin ke rumah, lalu ia kembali ke BHI untuk lanjut bekerja.
Untuk makan siang kali ini, Seokjin memilih restoran jjajangmyeon favorit Yoonjin karena ia merengek ingin makan itu sejak dua hari yang lalu.
"Sayang, celemotan, tuh..!", kekeh Seokjin sambil membersihkan sudut bibir Yoonjin dengan tisu.
"Hehe..! Habisnya, enak banget, sih, eomma!", seru Yoonjin sambil menyengir polos. Cengiran gummy smile yang mengingatkan Seokjin pada ayahnya Yoonjin. Ah, rasanya Seokjin ingin cepat-cepat pulang dan bertemu Yoongi..
"Iya.. Tapi makannya pelan-pelan, dong.", kata Seokjin sambil tersenyum.
"Neeeng!", kata Yoonjin seraya kembali menyeruput mie favoritnya.
Ngomong-ngomong ayahnya Yoonjin, Seokjin jadi teringat sesuatu, "Eh, iya. Yoonjin ingat tidak minggu depan ada apa?"
"Um? Ada apa, eomma?"
"Itu, loh.. Appa."
"Appa..? Oh, iya! Ulang tahun appa!", seru Yoonjin semangat. "Kok Yoonjin bisa sampai lupa, sih!"
"Yoonjin main sama Cookie—boneka Kumamon Yoonjin—melulu, sih, jadi lupa sama appa.."
"Nggak, kok, eomma. Yoonjin nggak lupa minggu depan ulang tahun appa!"
"Hihihi, iya.. iya.. Nah, Yoonjin mau ngasih surprise nggak, buat appa?"
Mata Yoonjin berbinar. "MAU!", seru Yoonjin dengan sangat keras sekali, hingga semua orang di restoran itu melihat ke arah mereka. Seokjin hanya bisa tertawa pelan sambil menunduk meminta maaf pada para pelanggan di sana. Anaknya itu memang ajaib. Padahal Seokjin dan Yoongi termasuk tipe pendiam yang sangat kalem (apalagi Yoongi), sedangkan anaknya itu selalu meledak-ledak kelebihan energi.
Ah, Seokjin lupa kalau semasa kecilnya ia juga seperti Yoonjin. Seokjin mulai menjadi pendiam sejak ia ditinggalkan Hyosang. Sudahlah, pria itu sudah tidak penting lagi, benak Seokjin.
"Eomma punya rencana.. Bagaimana kalau kita kejutkan appa dengan membuat pesta kecil-kecilan di rumah?"
"Pesta..?"
"Um. Kita siapkan sendiri hiasan, kue, dan segala perlengkapan lainnya. Besok kita ke mall untuk membeli kado appa. Setuju?"
"Asyik! Call! Sekalian beli boneka Kumamon yang baru, ya, eomma! Soalnya Cookie kasihan kesepian sendirian terus.."
Seokjin tersenyum geli sambil mengusap-usap kepala Yoonjin. "Iya, sayang, iya.."
Ω
[Besoknya..]
Seokjin berjanji akan menjemput Yoonjin sepulang sekolah nanti. Mereka akan langsung pergi ke mall mencari kado untuk pria favorit mereka berdua, Yoongi. Saat jam menunjukkan pukul 11.30 siang, Seokjin bersiap-siap untuk pergi. Ia melintasi kafetaria BigHit Institute, dan di sana ia berpapasan dengan Jungkook, Taehyung, dan Jimin. Nayeon sedang tidak masuk hari ini karena sakit.
"Selamat siang, Seokjin ssaem.", sapa Jungkook ramah.
"Siang, ssaem..", kata dua laki-laki di samping Jungkook.
"Siang, semuanya. Mau makan siang, ya?", balas Seokjin ramah.
"Ne. Kalau ssaem mau ke mana? Tidak makan siang?", tanya Jungkook.
Taehyung dan Jimin saling melirik satu sama lain, heran Jungkook bisa mengobrol sesantai itu dengan Seokjin.
"Ini ssaem baru mau menjemput Yoonjin dan makan siang bersama. Oh, iya, Yoonjin suka menanyakan Kookie eonni, loh. Kapan Kookie mau main ke rumah lagi?"
"Hehe, siap, nanti kalau sudah selesai sidang saya akan main ke rumah ssaem."
"Oh, iya, sebentar lagi sidang, ya? Ssaem sampai lupa.. Semangat terus, ne, Kookie. Dan kalian berdua, kalian juga sidang tahun ini, kan?"
"Haha, iya, ssaem!", seru Taehyung kikuk. "Kalau Jimin, sih, tidak tahu, tuh.."
"Ya!", Jimin memukul belakang kepala Taehyung dengan map yang sedari tadi dibawanya. "Ini memangnya apaan? Bungkus permen? Ini tuh skripsi, tahu!", seru Jimin sambil menunjukkan mapnya yang penuh dengan kertas.
Seokjin tertawa geli. "Baiklah, semangat terus, ya anak-anak. Ssaem pamit dulu."
Jungkook, Taehyung, dan Jimin menunduk memberi salam lalu Seokjin pun pergi meninggalkan mereka.
Ω
Selepas kepergian Seokjin, Jungkook, Taehyung, dan Jimin duduk di bangku favorit mereka lalu mulai bergosip.
"Ya, aku baru ingat, dua hari yang lalu aku melihat kejadian seru, loh!", seru Taehyung.
"Kejadian apa?", tanya Jimin.
"Waktu kita ke Octa, kau sedang sibuk di lantai dansa, sedangkan aku sedang duduk-duduk di bar. Tiba-tiba ada seorang pria yang marah-marah pada bartender. Mungkin karena pria itu sudah minum terlalu banyak. Tapi akhirnya bartender itu menyerah dan memberikan orang itu alkohol lagi. Setelahnya, orang itu mengoceh sangat keras, 'Jinseok.. Jinseok..' katanya. Aku penasaran sehingga aku dekati orang itu. Dan ternyata orang itu Kim Namjoon!"
"Whoa.. daebak! Yang dia panggil itu maksudnya Seokjin ssaem, kah? Memangnya apa yang terjadi di antara mereka?"
DEG!
Taehyung lupa kalau yang tahu soal affair Seokjin dan Namjoon hanya dirinya dan Jungkook saja. Karena terlalu bersemangat, Taehyung sampai lupa dan akhirnya keceplosan. Dengan hati-hati Taehyung melirik Jungkook yang ternyata sudah melempar tatapan tidak suka padanya.
"A-ah, itu.. aku curiga saja, sih. Soalnya waktu itu aku pernah melihat Seokjin ssaem dan Kim Namjoon mengobrol."
"Ya ampun, Tae, kita juga pernah kali kalau mengobrol doang, mah.", kata Jimin malas. "Kau kenapa, Kook?"
Jungkook yang sedari tadi menatap Taehyung sinis pun terhenyak. "Jadi, kalian habis dari Octa?"
GLEK!
Double jackpot untuk Taehyung. Tadi ia hampir kelepasan tentang masalah Seokjin dan Namjoon. Sekarang ia juga ketahuan sudah pergi ke club tanpa sepengetahuan Jungkook.
"Ah.. itu, babe.. Jimin meminta ditemani ke Octa karena beberapa minggu ini Sana tidak bisa dihubungi. Jimin uring-uringan, jadi aku menemani dia, begitu.."
"Kenapa kau tidak bilang padaku?", kata Jungkook tidak suka.
"Karena aku tahu kamu tidak suka aku keseringan pergi ke club.. Maafkan aku, baby.."
"Ups, aku tidak ikut-ikutan ya, masalah rumah tangga ini. Aku cabut dulu mau pesan makanan, kalian mau apa? Pasta dan pizza? Aku yang traktir kok. Yasudah, adios!". Dengan itu Jimin pun melesat pergi ke arah counter makanan sambil membawa dompetnya.
"Sayang.. I'm so sorry, okay? Aku tidak macam-macam, kok.. Aku cuma minum long island ice tea saja, sumpah!", seru Taehyung heboh sambil membentuk V sign.
Jungkook yang tadinya malas menghadap Taehyung pun akhirnya menatap kekasihnya tepat di mata. "Tae.."
"Yes, honey?"
"Pertama, aku tidak pernah melarangmu untuk pergi ke club. Aku seorang wanita yang terbuka dan aku tidak suka mengekang siapapun, karena aku juga tidak ingin diperlakukan seperti itu. Aku meminta kamu untuk tidak terlalu sering clubbing agar skripsimu cepat selesai. Kedua, aku tidak masalah kalau kamu ke club kemarin lusa, apalagi dengan alasan menemani Jimin yang sedang sedih. Tapi, aku marah karena kamu tidak mengabariku. Ketiga, kamu hampir keceplosan soal Seokjin ssaem."
"Ya, ya, baby.. Aku tahu aku salah. Maafkan aku, please?"
Jungkook membuang nafas berat. "Entahlah, Tae.. Aku capek. Kelas kita sudah selesai, kan? Aku mau pulang duluan."
"Kook! Jungkook!", Taehyung hendak memegang tangan Jungkook, tapi Jungkook bergerak dengan sangat cepat (mungkin saking emosinya), sehingga Taehyung tidak sempat menahan gadis itu. Taehyung bisa saja sebenarnya mengejar Jungkook, tapi ia tahu kalau pacarnya selalu membutuhkan waktu sendiri dulu kalau sedang bertengkar.
Jimin kembali dengan seloyang pizza dan tiga cola cider jadi kebingungan karena hanya melihat Taehyung di meja mereka. "Kookie ke mana?"
"Pulang.", jawab Taehyung seadanya.
"Whoa, dia semarah itu kepadamu?"
"Hhh.. Entahlah, mate. Padahal aku sudah jelaskan kalau aku tidak macam-macam. Tapi dia tetap marah padaku. Mungkin dia sedang lelah dengan deadline skripsi. Ah, dia juga cerita banyak sekali yang harus dia revisi. Mungkin karena itu.."
"Hm.. Ya sudahlah, Tae. Sekarang makan dulu. Nanti juga Jungkook pasti baik sendiri kalau mood-nya sudah bagus."
"Mm.. Kau benar. Semoga saja."
Ω
Pukul 11.40, masuk mobil.
Pukul 12.00, sampai di playgroup Yoonjin.
Pukul 12.40, sampai di Migliore, makan siang.
Pukul 14.00, mulai belanja pakaian (kado untuk Yoongi), boneka Kumamon, dan peralatan pesta.
Pukul 16.00, pulang, menidurkan Yoonjin, beres-beres rumah.
Pukul 17.30, menyiapkan makan malam.
Pukul 22.00, xxx bersama Yoongi.
Seokjin tersenyum kecil melihat jadwal yang sudah ia tulis di notebook-nya. Ya, semuanya sempurna. Seokjin sudah mengincar setelan Burberry terbaru untuk Yoongi dan toko penjual boneka yang ada boneka Kumamonnya. Ia juga sudah melihat-lihat toko peralatan kue yang ada di mall Migliore. Ia sudah mencatat harus membeli apa saja untuk membuat blueberry cheesecake kesukaan Yoongi. Jadwal hari ini sangat sempurna.. Namun, rencana tinggal rencana, karena saat hendak masuk ke mobilnya, seseorang datang menarik tangan Seokjin dan membawanya menjauh dari mobilnya.
Seokjin mencoba berontak tapi orang itu mencengkeram tangannya kuat sekali. Ia ingin berteriak tapi percuma, di sini tidak ada penjaga. Bahkan CCTV pun tidak ada, karena ini parkiran khusus keluarga dan pejabat BigHit Institute. Mereka menginginkan privasi sehingga tidak ada pemasangan kamera pengawas sama sekali.
"Ah! Lepaskan! Siap— Namjoon..?"
Seokjin tertegun ketika orang itu menoleh dan memperlihatkan wajahnya. Itu Namjoon. Dan wajahnya nampak sangat tidak senang.
Namjoon menarik paksa Seokjin ke dalam mobilnya. Secepat kilat ia langsung masuk ke dalam mobil lalu mengendarainya seperti kesetanan.
"Namjoon, kau mau membawaku ke mana?! Cepat berhenti!"
"Pasang sabuk pengaman kalau kau masih mau hidup dan bertemu anakmu.", geram Namjoon.
Seokjin sadar. Namjoon murka. Namjoon pasti emosi karena ia tidak memberi tahu perihal liburannya ke Maldives.
Itu saja sudah membuat Namjoon sebegitu marahnya, bagaimana kalau Seokjin mengatakan kalau ia ingin mengakhiri hubungannya dengan Namjoon?
Ω
Mobil Namjoon terparkir sembarangan di area parkir apartemen mewahnya. Sebenarnya Seokjin sudah menebak bahwa Namjoon akan membawanya ke apartemen pria itu. Namjoon itu seperti sebuah open book, sangat mudah terbaca. Seokjin tahu persis apa yang akan terjadi nanti. Play Room lagi. Siksaan lagi. Hanya saja, Seokjin benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk bisa kabur dari jeratan Namjoon kali ini dan seterusnya.
Tadi di BigHit Institute, Namjoon menarik paksa dirinya hingga tasnya terjatuh di dekat mobil. Niat untuk menghubungi Yoongi atau polisi pun tidak bisa terlaksana karena ponselnya ada di dalam tas. Semua rontaan, makian, dan pukulannya tidak digubris Namjoon. Seokjin hendak kabur dari mobil, namun, baru saja Seokjin menyentuh kunci seatbelt-nya, Namjoon mengeluarkan sebuah sapu tangan dan dunia Seokjin menjadi gelap. Dan ia pun tidak ingat apa-apa lagi.
Ω
Ingatan terakhir Seokjin adalah area parkir apartemen Namjoon. Lalu Namjoon menutup mulutnya dengan sebuah sapu tangan..
Tiba-tiba saja Seokjin terbangun dan ia langsung megap-megap mencari udara. Unconscious mind-nya berpikir bahwa Namjoon masih mencekiknya, padahal itu sudah terjadi sekitar satu jam yang lalu.
Jadi, sekarang Seokjin ada di mana?
Ia mencoba bangun dari posisinya yang sangat tidak nyaman, tapi tangan dan kakinya terhalang sesuatu. Betapa terkejutnya Seokjin mendapati dirinya tidak lagi berbusana, melainkan menggunakan leather strap lingerie yang melilit setiap lekuk tubuhnya, menonjolkan payudaranya dan menjepit vaginanya. Bagian lehernya pun terasa kaku dan berat, Seokjin tebak ia juga sedang menggunakan lead bondage choker karena ia melihat tali yang menuntai dari leher sampai perutnya.
Rasanya Seokjin seperti sedang berada di dalam mimpi buruk. Ia berpakaian seperti seorang jalang untuk orang yang sangat tidak ingin untuk memiliki urusan apapun lagi. Dan sedang ada di mana ia sekarang ini? Oh, tidak, bukankah ini kursi spesial yang pernah Namjoon tunjukkan dulu padanya?
Ya, kursi yang sedang memenjara Seokjin bukanlah sebuah kursi biasa. Seokjin ingat betul sewaktu Namjoon pertama kali memperkenalkan Play Room padanya. Ada satu buah kursi yang berisi tali temali yang rumit. Kursi itu berlistrik. Dan ia sedang duduk di atas kursi itu sekarang.
Lalu, kemana perginya semua pakaiannya tadi? Bagaimana bisa Namjoon memasangkan sebuah lingerie super ketat yang terbuat dari kulit glossy ini? Rasanya sangat tidak nyaman, bagaimana lingerie itu membuat payudaranya semakin padat dan mencuat. Begitu pula vagina dan analnya yang merasa terjepit karena strap lingerie yang melewati garis vaginanya, tepat di bagian klitoris.
Dan lagi, perasaan aneh apa ini yang sedang Seokjin rasakan? Tubuhnya panas dan berkeringat. Kenapa.. rasanya.. Seokjin sangat bergairah?
"Sudah bangun, sayang?"
DEG!
Namjoon berada di pintu Play Room, berdiri dengan gaya yang sangat congkak. Ia berjalan mendekati Seokjin sambil melepas tali jubahnya sehingga memperlihatkan dadanya yang bidang. Seharusnya Seokjin takut—ia memang takut—tapi entah kenapa ia juga merasa lapar saat melihat dada Namjoon yang mengintip dari jubah sutera itu.
Bukan lapar karena ia belum makan. Tapi lapar karena hal lain. Dan Seokjin tahu bahwa ini tidak akan menjadi hal yang bagus.
"Kau tidak rindu tempat ini?", tanya Namjoon tepat di depan wajah Seokjin. "Terakhir kau kemari adalah satu bulan yang lalu."
"Ungh..", Seokjin dengan susah payah mengatur dirinya agar tidak terpengaruh dengan suara Namjoon yang entah kenapa terdengar 50 kali lebih seksi daripada biasanya.
Namjoon mencengkeram dagu Seokjin dengan kasar. "Buka matamu, jalang! Lihat mastermu! Kenapa kau selalu menghindariku? Dan kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau akan pergi berlibur dengan pria itu?!", Namjoon menampar wajah Seokjin, "Jawab, jalang murahan!"
"U-untuk ap-pah aku harusss mem-beritahu mu.. Ahh..", tidak bisa. Seokjin tidak bisa menahan lenguhannya lagi. Ia ingin disentuh Namjoon. Bahkan ia ingin ditampar lagi oleh Namjoon. Gila, ini gila. "Apa y-yang kau lakukanh padaku?"
Namjoon melepas dagu Seokjin lalu tertawa meremehkan. "Kau lihat meja di sana?"
Seokjin mengikuti arah pandang Namjoon. Walaupun saat ini matanya buram dan otaknya tidak bisa memproses hal dengan cepat, Seokjin yakin bahwa ia melihat beberapa buah jarum suntik dan beberapa botol yang berisi cairan. Pertanyaannya adalah, cairan apakah itu?
"Aku menyuntikkanmu sesuatu..", ucap Namjoon seraya melepas jubahnya, menyisakan tubuhnya dan ereksinya yang sudah dalam kondisi siap tempur. "Sesuatu.. yang akan kau sukai."
Ia menunduk lalu mencium bibir Seokjin yang sudah terbuka. Oh, tidak. Apakah Namjoon menyuntikkan obat perangsang? Jika obat perangsang yang diminum butuh waktu beberapa lama untuk bereaksi, obat perangsang yang disuntikkan punya efek lebih cepat dan lebih dahsyat. Dan Seokjin yakin sekali ia melihat beberapa botol mecurigakan itu sudah kosong. Namjoon pasti tidak hanya menggunakan satu botol saja, mengingat kondisi tubuhnya saat ini yang luar biasa horny.
Seokjin ingin sekali melawan, tapi tubuhnya berkata lain. Persetan obat perangsang yang Namjoon berikan padanya. Ia menangis karena hatinya sudah tidak berada dengan Namjoon lagi, dan lagi ia benar-benar diperlakukan seperti wanita murahan. Tapi ia juga sangat membutuhkan sentuhan Namjoon. Ia sangat malu pada dirinya sendiri. Ia juga merasa tidak enak karena masih saja mengkhianati Yoongi. Rasanya ia ingin mati saja.
Selagi bibirnya masih aktif mencium Seokjin, Namjoon memilin pucuk payudara Seokjin sambil memijat sisanya dengan kasar. Gerakan kecil saja sudah membuat Seokjin limbung, apalagi dengan godaan dahsyat seperti itu. Membuat bagian selatan Seokjin langsung dibanjiri cairan pelumas hingga pahanya.
Namjoon melepas ciumannya lalu menampar Seokjin. "Itu untuk menghindariku selama dua minggu."
Namjoon menamparnya lagi. "Itu untuk tidak memberitahuku bahwa kau akan pergi liburan."
Namjoon berjalan ke arah meja, mengambil sebuah benda kotak yang diyakini Seokjin adalah remot kontrol kursi listrik yang sedang ia duduki. Dan benar saja, sesaat setelah Namjoon menekan salah satu tombol, Seokjin merasa bagian bawahnya seperti tersengat sesuatu. Rasanya sakit namun geli. Akhirnya Seokjin hanya bisa mengerang nikmat saja seperti jalang yang haus belaian.
"Arrgh.. Ahm... No, sthaap..."
"Stop?!", Namjoon berjalan menghampiri Seokjin dengan penuh emosi. "Kau pikir kau siapa bisa memerintahku, hah?!"
Namjoon menampar Seokjin lagi. Kali ini hingga sudut bibir Seokjin berdarah. "Setelah beberapa minggu tidak kusentuh, kau jadi lupa diri, hm..? Baiklah, mari kita buat permainan baru, Seokjin."
Seokjin menengadah menatap Namjoon yang dengan cekatan melepas tali temali yang tadi membuat dirinya menempel dengan kursi listrik itu. Setelah semua ikatan terlepas, tubuh Seokjin langsung terkulai jatuh di pelukan Namjoon. Ia tidak bisa berdiri, apalagi berjalan. Apapun yang disuntikkan Namjoon pasti membuat seluruh otot di tubuhnya lemas.
Namjoon mendongakkan wajah Seokjin hingga mereka berdua bertatapan mata. "You treat me like a dog.. Now, get down on my knees. Let's play the game. Its called master and servant.."
Ω
it's a lot
it's a lot like life
There's a new game
we like to play you see
a game with added reality
you treat me like a dog
get me down on my knees
we call it master and servant
.
domination's the name of the game
in bed or in life
they're both just the same
except in one you're fulfilled
at the end of the day
let's play master and servant
[Depeche Mode - Master and Servant]
Ω
TBC
finally aku punya keberanian bales review lagi (traumaku sudah hilang) haha. here's reply for reviews:
sopeeee: thank you so much for saying this is a very well-written story (sobs sobs) aku masih banyak kekurangan di sana dan di sini.. aku harap para reader mau ngasih tau dan membetulkan aku kalau aku salah dan kurang :D ini lanjutanya semoga suka :D
.
she3nn0: hihi namjoonnya ngeganggu banget yah? aku ilangin aja deh, ntar namjunnya sama aku aja/? hihi
.
sungkyurry: iyaa yoongi menderita banget yah :( sedih aku juga :(
.
laxyovrds: gemesnya kenapa? XD kick namjoon ke rumah aku ya? aku siap nampung kok :))
.
puppyyeol614: halooo orang sunda yah? sama dong XD jadinya kamu dukung yoonjin apa namjin nih? amin.. hayu atuh nonton bangtan XD iya nih aku mau merit, jadinya aku menghianati yoongi oppa (ga bisa ngejaga jari manis tetap kosong) bahahahahaha. pas ngetik chapter kemarin tetiba keputer lagu exo monstahhh jadi ya gitu deh terinspirasi haha. duh kamu merangkum ceritanya dengan begitu baik :))) ini udah lanjut ya :3
.
10113K: neol mangchyeo noeul kkeoya. ni mamsoge gagindoen chae, jugeodo yeongwonhi sallae. (Come here girl). You call me monster. ni mameuro deureogalkke! =))))
.
sriwahyunengsih59: umm siapa ya? aku suka bgt namjin, tapi aku suka yoonjin juga, gimana dong? :)
.
Clausy: iya jiwoo unnie aku bikin menderita di sini :( ini kelanjutannya semoga suka yaa
.
Nam0SuPD: semoga yoongi kuat selalu ya :) makasih udah suka cerita yang updatenya setaun sekali ini TT. karma sedang berjalan perlahan2 menuju namjoon kok, doamu terkabul :)
.
nacoco: rumah tangga yoonjin lagi baik2 aja nih, tapi gatau deh di chapter depan..? khihihihihihihihihihi
.
Park RinHyun-Uchiha: halooo. alhamdulillah calonkuh mengizinkan tapi bayar sendiri katanya haha. kalau sisi monster namjoon keluar jadi hawt gitu yak? hihihi
.
ayuya24: um.. gimana yaa hihi. kalau namjoon sama jiwoo nama shipnya apa ya? namwoo? XD
.
suryamahmimin: yoonjin sweet ya? :D sekarang dunia namjoon mulai jungkir balik hahahahaha :) -senyum jahat.
.
KatYasha: huwaaa makasih udah bilang tiap chapter makin seru TT terharu akuuu. makasih juga ucapan selamatnya untuk pernikahanku :D kayaknya aku ga bisa nonton wings tour jkt deh hiks. semoga kamu bisa yaa :) titip salam untuk bangtan
.
Phcxxi: namjoon kabarnya sedang stres sekarang! hahahhaa
.
Kookiee92: kalau di real life aku juga dukung namjin 100%. tapi kalau di ff ini... gimana ya hm...
.
bxjkv: namjin akan tetap ada karena mereka tokoh utamanya :') haaa iya semoga kita semua bisa ketemu bangtan yaah amin
.
Guest: "im so happy that you're getting married soon!semoga lancar yaaaa! cepet update yaaa aku gasabar liat part namjinnyaa" - whuaa makasih banyak doanya amin amin.. ini siapa dong jgn pakai guest aja ayo kenalan! :) ini namjinnya udah muncul lagi ya hihi
.
xxdopegirl: amin makasih doanya for my wedding *tium basah* makasih banget udah mau nunggu ff yang apdetnya lama banget ini huhuhuhu
.
ChintyaRosita: thank u for reading and enjoying this story! :)
.
delkookie: makasih doanya yaa unchhh :* hehe iya nih.. tapi agak malu juga udah nikah masih ngestan bts. nanti pas aku dateng ke konser isinya kan kebanyakan anak smp dan sma :")
.
bxjkv: hebohnya jadi salah fokus ya ka? XD makasih banget doa-doanya loh.. aku terharu berat :') aku aminkan :') makasih juga udah ngefavoritin cerita ini TT seneng banget baca komen yang kayak begini jadi bikin makin semangat nulis :D
.
zielavienaz96: huwaaa semoga doa setiap harinya terkabul ya! :D
.
10113K: nyesek kenapa? XD umur dirahasiakan ah demi kepentingan popularitas/? (kutipan dari salah satu ff aku yang judulnya Yoongi's Complexities) hahahah (Sekalian promosi)
.
dewiaisyah: seneng ya yoonjin makin mesra? aku juga bahagia nulisnya :') makasih semangatnyaa *tium*
.
Min Yoo: kemarin udah yoonjin yang sweet2, sekarang namjin lagi yang rough hihihihihihihihiahahahaahhahahaha
.
UnknownBanget: halo hai! aku mau terimakasih banget sama kamu. karena komenmu menyadarkanku untuk tidak nulis asal-asalan. jujur aja beberapa chap kemarin tuh aku ngetiknya rusuh banget. karena aku ingin nyelesaiin semua ff aku barengan, aku jadi mikirnya "ah yang penting update" tanpa di revisi lebih lanjut lagi. karena kamu aku sadar banget kalau pemikiran seperti itu tuh salah banget untuk penulis, walaupun aku cuma penulis amatiran, tapi tetep aja itu itu ga boleh. dan sekarang aku mulai lebih pelan2 dan lebih teliti lagi untuk setiap scene yang aku ceritakan. aku juga pelan2 mulai rombak cerita ini dari chap 1! hihi. pokonya makasih banget ya kritik membangunnya. aku harap banyak reader lain juga yang komentar membangun kayak kamu :D
.
yaaaap selesai sudah sesi balas reviewnya. kayaknya panjangan balesan review daripada ceritanya ya? iya ngga sih? ngga ah ceritanya lumayan panjang juga kok. aku ngerjainnya 3 hari loh (bangga). semoga pada suka ya sama chapter ini..
makasih untuk semua dukungannya untuk cerita ini, untuk rl aku juga. maaf kalau orul2 jadwal updatenya ga jelas. sesungguhnya aku adalah makhluk yang kadar moodynya banyak banget. stay tune terus ya sama ff ini karena sebentar lagi akan tamat huahahahahahahahahaahha.
xoxo, orul2.
