[ MATURE CONTENT, READ AT YOUR OWN RISK ]
.
.
.
Akhir-akhir ini Seokjin makin sebal pada Namjoon. Bukan dalam arti buruk, kekasihnya itu tidak berbuat salah atau membuat Seokjin sakit hati, tidak sama sekali. Namjoon pun masih menepati janji untuk tak lagi menyapa rekan-rekan wanitanya dengan kerling menggoda, atau mengecup pipi mereka sebagai tanda keakraban. Namjoon justru kian kalem, tak banyak melirik kiri kanan dan rajin menelepon Seokjin. Lebih dari enam kali sehari, jika ingin dihitung. Juga dengan tekun memperlihatkan catatan nilai kuliah dan jadwal latihan pilatesnya pada Seokjin tanpa diminta. Bila dulu Seokjin selalu menjadi pihak pertama yang mengundang obrolan lewat video—mengingat jarak Los Angeles dan Seoul terpaut belasan jam, maka kini Namjoon-lah yang getol mengajak bertatap virtual.
Pemuda itu melaporkan detil kegiatannya bak mahasiswa tingkat akhir yang teladan, termasuk memberitahu kapan dan dimana persisnya pemotretan dilakukan, menjabarkan tema serta kostum yang hendak dikenakan, dengan siapa dirinya dipasangkan, sekaligus bertanya apakah Seokjin mengijinkan atau tidak. Tak pelak, tingkahnya membuat Seokjin harus ekstra hati-hati dalam melontarkan pendapat. Satu gelengan sekilas dari koki tampan tersebut bisa berujung penolakan Namjoon terhadap pekerjaan yang disodorkan. Selektif, sangat pemilih. Seolah ingin meyakinkan bahwa dirinya benar-benar berniat memperbaiki hubungan mereka yang sempat renggang akibat peristiwa setahun lalu.
Siapa suruh ikut pesta pasca-acara di sebuah stasiun televisi, terjebak di permainan konyol MC setempat dan dengan bodohnya menuruti tantangan mencium salah satu artis yang ditunjuk? Namjoon baru menyadari ketololannya setelah foto ciuman tersebut beredar di media cetak dan viral di jejaring sosial. Konsekuensinya, tentu saja, diacuhkan oleh lelaki yang sudah dua tahun menjadi penyejuk hati Namjoon. Lelaki berwajah menawan yang bekerja di restoran berbintang langganan orangtuanya, lajang berperangai ketus yang sangat sukar ditaklukkan, terutama oleh Namjoon yang kala itu masih berstatus siswa SMA.
Butuh sekitar dua bulan untuk meyakinkan sang kekasih agar kembali padanya, meminta maaf berulang kali, menunggu hingga Seokjin bersedia menatap wajahnya lagi, tak membantah ketika dijejali kekecewaan, juga rela disuruh menanti semalaman di depan rumah Seokjin karena Namjoon sungguh-sungguh menyesal.
Sejatinya Seokjin cuma terbawa emosi, tapi yang bersangkutan benar-benar berdiri sampai pagi. Toh Namjoon mengaku kapok, trauma nyaris diputus oleh pacar membekas kuat di ingatannya. Tak ada lagi mondar-mandir iseng selesai syuting atau berkeliaran usai pertunjukan busana, tak ada lagi protes saat manajernya menegur supaya lebih disiplin, juga langsung menyanggupi segala hal yang disarankan Seokjin. Salah satunya, mengambil tawaran kontrak ekslusif sebuah agensi di luar negeri, meski artinya mereka terpaksa berjauhan karena Namjoon harus bolak-balik ke berbagai negara.
"Aku mendapat banyak sekali cokelat dan gula-gula dari perusahaan yang memakaiku sebagai bintang iklan. Akan segera kukirimkan ke Korea lewat kurir."
"Memangnya tidak meleleh?"
"Ada caranya kok."
Lain waktu Namjoon mengirim beberapa setel mantel dan sepaket sweater berhias empat garis di lengan kiri, pesanan khusus dari merek dagang favorit Seokjin. Hadiah valentine, katanya. Pura-pura tak memperdulikan fakta bila paket tersebut dikirim bulan Oktober. Deretan foto tentang kesehariannya dipamerkan di kolom chat. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Pemuda itu bahkan tak malu merekam video selesai mandi, hanya demi memperlihatkan pada Seokjin bahwa tidak ada orang lain di apartemen yang sedang ditempati.
"Tidak perlu video segala, Namjoonie. Aku percaya padamu."
"Bukan masalah, sekalian menonton pemandangan gratis. Tidak sembarang orang bisa melihat Kim Namjoon bertelanjang dada seperti ini."
"Shush!"
"Aku kangen padamu, hyungnim."
"Aku juga."
Pernyataan sederhana darinya begitu berarti bagi Namjoon. Sebab, dua hari setelahnya, Seokjin tiba-tiba menerima sebuah boneka koala yang tersembunyi dalam sekardus kelopak bunga. Dibungkus cantik, berlabel sebuah kartu ucapan dalam tulisan hangul yang acak-acakan.
- cium bonekanya sebelum tidur, anggap saja itu Namjoonmu -
Dasar sialan.
Segala sikap manis nan romantis itulah yang sekarang menjadi poin pergolakan batin Seokjin. Sebal karena dirinya kembali jatuh cinta seperti layaknya seorang remaja, juga kesal karena sisi egonya bertambah posesif, sangat defensif, dan mulai protektif.
Tidak percaya?
Ambil contoh saat si pelaku pulang ke Korea seminggu kemudian. Hampir sebulan tak melihat Namjoon yang menjalani pengambilan gambar di Paris, Seokjin harus tercengang saat menjemputnya di bandara bersama Jungkook, adik tiri Namjoon yang selalu senang diajak kemana-mana. Tidak, Seokjin tidak mempermasalahkan kehadirannya, toh Jungkook sukarela menawarkan diri untuk mengemudikan mobil meski nyatanya belum punya SIM resmi. Membajak sistem, seloroh bocah bongsor bermata besar tersebut, calon kriminal yang patut dikhawatirkan.
Tapi yang menjadi perhatian Seokjin justru sosok kekasihnya sendiri.
Pemuda jangkung di awal dua puluhan itu menjulang dengan satu tangan terangkat, mencoba menandakan posisi kedatangan di pintu keluar, tampak cukup mencolok akibat tubuh yang tinggi dan proporsional. Kepalanya seperti mencuat di tengah kerumunan dengan topi beserta kacamata hitam.
Dan ketika jarak mereka hanya tinggal beberapa meter, Seokjin tak mampu menahan diri untuk tidak terkejut. Tidak saat Namjoon melesat menyambar pundaknya dan memeluk sekuat tenaga hingga Seokjin terangkat dari tempatnya berdiri. Jungkook hanya menggeleng-geleng maklum, menyeret koper sambil menepuk bahu Namjoon, mengisyaratkan jika mereka bertiga masih berada di bandara, sekaligus menyambar dua batang cokelat yang baru saja disodorkan kakaknya.
"Aku dapat dari pramugari."
"Jelalatan lagi?"
"Servis penumpang, hyungnim,astaga."
Saat Namjoon melepaskan pelukan dan mengekornya menuju mobil. Seokjin tak buang waktu untuk kembali meneliti perawakan Namjoon. Mulai dari rambutnya yang dipangkas rapi dan dicat warna pirang, tulang pipi dan bentuk rahang yang kian tajam, otot lengannya yang terbentuk, berpadu serasi dengan tubuh yang makin ramping dan atletis. Sukses membuat Seokjin berpikir tentang apa saja yang dilakukan Namjoon saat berjauhan dengannya. Pasti ada sesuatu yang dicampurkan pencipta semesta dalam udara yang menguar di Amerika.
Pemuda itu terlihat sangat gagah dengan kemeja gelap berlengan tergulung, juga lingkaran syal yang melindungi leher dengan serasi. Tapi yang paling membuat Seokjin terpana adalah kaki Namjoon. Mengenakan bootsberkuda berpadu celana jins yang memeluk tungkai jenjangnya dengan sempurna, penampilan Namjoon sungguh mengagumkan. Ditambah gayanya menanggalkan syal yang terpampang bagai gerak lambat di adegan drama, tak memberi celah bagi Seokjin untuk berkedip.
Tampan sekali, ya Tuhan.
Pria itu bersyukur karena mobil yang ditumpanginya dilengkapi kaca tengah sebagai pembatas, bersyukur Jungkookyang mengemudi dan bukan Namjoon, juga bersyukur karena kaca tersebut kedap suara, sehingga Jungkooktidak terganggu maupun menoleh curiga saat Seokjin menarik kerah kemeja Namjoon, serta mencuri sebuah kecupan di bibirnya. Ringan, sekilas, namun tidak serta merta membuat keduanya duduk tenang di kursi penumpang.
Seokjin tak segera melepaskan pegangannya yang menguat, tanpa berkomentar apalagi banyak bicara. Yang dilakukannya hanyalah bergerak merapat, sesekali mengecup kulit di bagian bawah telinga Namjoon, membuat pemuda itu beringsut menunduk untuk menciumnya. Hangat, menuntut.
Pagutan yang sejatinya hanya sekadar pelepas rindu, berangsur intens saat lidah Namjoon turut berperan. Seokjin tak membantu keadaan menjadi lebih baik dengan menggigit bibir bawah pemuda itu penuh nafsu. Satu tangannya merengkuh tengkuk Namjoon, menariknya untuk memperdalam cumbuan mereka. Tangan lainnya menyusup ke balik kemeja, mengusap tulang selangka serta menelusuri dada berbekal jari-jarinya. Dirabanya setiap jengkal kulit dan otot perut Namjoon yang berlekuk padat, juga melepaskan bibirnya sekilas sebelum mengulang ciuman dengan lebih bernapsu.
Suara basah bibir yang bergelut, aroma khas tubuh Namjoon, dan sejumput kekhawatiran akan dipergoki Jungkook justru membuat Seokjin semakin tertantang. Lengan diturunkan dari dada Namjoon, membuat pemuda itu menggerung protes sambil menggigit telinga Seokjin. Gestur keberatan tersebut berubah menjadi lenguh samar tatkala Seokjin menaruh telapak tangan diantara paha Namjoon, ibu jari dimainkan di sekitar resleting.
Yang bersangkutan sigap merespon. Dikulumnya daun telinga Seokjin selagi sang koki meringis geli, menarik pelan resleting Namjoon serta menyelipkan telapak tangannya, sukses memaksa Namjoon mendesah rendah. Matanya melirik kemana Seokjin menggenggam, lalu menggeram lirih ketika jemari mulai bergerak. Lengan Namjoon memukul keras bantalan kursi, tinju terkepal erat. Sejenak berikutnya dihabiskan pemuda itu dengan mengatur napas yang tersengal. Pijatan Seokjin bergerak cepat dan tak memberinya kesempatan untuk sekedar menghirup oksigen. Ibu jari memutari ujung kemaluan, jari-jari lainnya menyentak naik turun bergantian. Tidak hanya diam, diraihnya lagi leher Namjoon, merasakan kembali kontur bibir tebalnya yang lembap. Mata berpendar ke samping selagi bercumbu, melirik bagian belakang kepala Jungkookyang masih sibuk menyetir, tak terganggu. Entah sengaja tak memperdulikan apa yang terjadi, atau hanya terlalu asyik bersenandung mengikuti alunan radio.
Decak kekasihnya mengingatkan Seokjin agar kembali fokus pada Namjoon yang berontak, tak memungkiri rasa ngilu bercampur nikmat karena kejantanannya dicengkeram terlalu erat.
"Mmmh, hyungnim..."
Seokjin menjumput dagunya, berbisik sensual, "Kata kunci?"
"Tidak, nnnh, tidak ingat."
"Ck, ck."
Pria yang lebih tua cekatan menunduk, memiringkan tubuh di kursi mobil seraya memposisikan wajah tepat di selangkangan Namjoon. Bibir menyunggingkan senyum jumawa kala mendapati sebentuk telapak tangan memegang kepalanya, menekan Seokjin yang beringsut melahap organ intim Namjoon tanpa keraguan. Ujung benda itu nyaris menghantam dinding tenggorokan akibat dorongan tangan sang pemuda yang tak sabar, beruntung Seokjin lebih cepat menahan pergerakannya meski harus terbatuk. Cukup lama tak melakukan ini, Seokjin agak kewalahan menuruti kemauan Namjoon yang minta dihisap menuju pangkal. Mungkin lupa jika ukurannya di atas rata-rata.
"Oh, damn, so good..." rutuk Namjoon, meremas rambut hitam Seokjin, tercekat, "Aku sudah menunggu berbulan-bulan demi melihatmu menjamu juniorku, hyungnim."
Lidah Seokjin menjilati batang kemaluannya dari bawah ke atas, gumam terlontar seksi, "Sering solo?"
"Dengan memandangi foto lehermu yang indah, tentu."
"Why, thanks."
Namjoon menyeringai sekilas, pun spontan membanting kepala ke sandaran kursi saat Seokjin mengulumnya, kuat. Membiarkan pucuk organ tersebut menelusuri dinding serta rongga mulutnya yang terasa bagaikan surga. Tendensi frustasinya setelah belasan minggu memuaskan diri dengan menatap potret-potret menggairahkan Seokjin, terbayar tuntas oleh seks oral kali ini. Lelakinya masih luar biasa, selalu sanggup memberi sensasi yang membuat benak Namjoon melayang-layang.
Bangga memergoki keadaan pemuda itu kacau akibat ulahnya, Seokjin memutuskan memakai jemari sebagai penuntasan. Dorongan untuk mencium Namjoon mendesak-desak sedari tadi.
Mulut digantikan oleh genggaman, lebih lembut serta menyentak perlahan. Namjoon mendesis sebelum melayani bibir yang datang membekap racaunya. Kejantanannya berdenyut, kian mengeras di pegangan. Sepatu bergesek ribut di karpet mobil dan Seokjin mengerti, dua jarinya melingkar mengapit ujung dan menekan kencang di satu titik. Begitu nikmat hingga Namjoon harus melepas ciuman mereka untuk mengumpat. Tubuhnya mengejang hebat, mata terpejam menahan erang nyaring, mendesahkan nama Seokjin saat klimaksnya datang. Membuncah hebat, menyemburkan spermanya di tangan Seokjin. Mengotori paha, pergelangan, dan lengan baju sang kekasih yang tampak tak keberatan. Malah memijat kemaluannya dengan sabar sampai Namjoon benar-benar selesai.
Terengah, Namjoon merebahkan punggungnya di sandaran dan Seokjin beringsut meraih ransel, merogoh tisu untuk membersihkan sisa sperma di perut Namjoon. Diusapnya hati-hati sambil terbahak ketika memergoki Namjoon ikut menarik selembar tisu, berniat menawarkan bantuan menyeka tangan Seokjin.
"Kemarikan lenganmu."
"Tak perlu, Namjoonie, bisa kulakukan sendiri," tolak Seokjin halus, sorot matanya berkilat jahil, "Atau kau mau kujilati sampai bersih?"
"...jangan memancingku, hyungnim."
.
.
.
.
.
Contoh kedua adalah apa yang terjadi hari ini. Pulang menemani Namjoon dari pemotretan di salah satu studio daerah Gangnam, Seokjin langsung melucuti pakaiannya begitu sampai di apartemen, lantas mandi dengan kening berkerut-kerut. Selagi menunggu Namjoon yang masih mengambil barang dari tempat parkir, Seokjin menghabiskan waktu dengan mendiamkan kepala di bawah pancuran. Besok pagi ada janji untuk mendiskusikan menu bersama chef utama, tidak lucu kalau dia tiba di pintu berhias ekspresi kusut.
Entah kenapa sifatnya jadi mudah uring-uringan sekarang.
Dituangnya shampoo lalu mulai menggosok rambut, wangi sitrus dan vanila bercampur menjadi satu dan Seokjin menghela napas panjang. Dahinya mengerenyit tak suka karena dia jadi seperti remaja puber yang mudah terpancing melakukan sesuatu tanpa berpikir.
Berkicau tak jelas, Seokjin membenturkan keningnya ke dinding kamar mandi.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan feromon pemuda itu? Mengapa Seokjin harus sedemikian posesif? Atau mungkin karena selama menjalin hubungan jarak jauh, Seokjin terlalu acuh hingga harus terperangah begitu mendapat kesempatan memperhatikan Namjoon lebih dekat?
Yang manapun, Seokjin tak tahu pasti. Yang jelas, dia tak bisa berbuat banyak dengan kapasitas otak yang mendadak kosong ketika Namjoon—berada di bawah cahaya lampudan sedang duduk manis menunggu tampilannya diatur oleh staf, tersenyum ke arahnya. Tidak lama, tapi cukup untuk membuat Seokjin memiringkan kepala penuh tanda tanya. Fotografer muda merangkap pengarah gaya andalan dari majalah mode yang memakai jasa Namjoon, Kim Taehyung, menyuruh kekasihnya berdiam di ruang ganti tanpa memperbolehkan Seokjin masuk. Tak lupa melempar cengir nakal pada koki canggung yang berkedip penasaran, lalu berbisik ke arah kru di sebelah untuk memanggil Namjoon keluar.
Seokjin nyaris menyemburkan kopi dingin yang dihirupnya sewaktu Namjoon melangkah masuk ke area sketsa. Rambut basah, lensa hazel terpasang di kedua mata. Tanpa alas kaki, berbalut kemeja putih nyaris transparan yang menampakkan otot-otot lengannya, dipadu celana hitam yang bukan main ketatnya. Segenap kru di studio sampai ikut tercengang selagi Taehyungmengangguk puas.
Seokjin, di lain pihak, sedang mati-matian manahan hasrat untuk menusuk fotografer berambut biru tersebut menggunakan gunting kertas yang tersimpan di tas. Apa maksudnya mendandani Namjoon seseksi itu? Lebih kesal lagi karena dirinya tak mampu memarahi siapapun. apalagi mengajukan protes. Yang bisa dilakukan Seokjin hanya menopang dagu di kursi sambil menelan ludah dan merapal mantra agar tidak tergoda. Terutama sewaktu Namjoon mulai bergaya, menyilangkan kaki panjangnya ke satu sisi, lalu berkacak pinggang acuh. Kepala sedikit menunduk seraya melempar sorot intimidatif ke arah kamera. Taehyung memberi aba-aba supaya Namjoon berpose lebih angkuh, lantas dituruti pemuda itu dengan mengangkat dagu agak tinggi, menurunkan satu tangannya di sisi tubuh, mengerling agak lama, kemudian menyeringai di hitungan ketiga.
Jika tak ingat bila dia bukan siapa-siapa di studio itu, Seokjin akan langsung menyeret Namjoon untuk dikunci di dalam kamar agar tak seorangpun bisa melihat sosoknya selain Seokjin. Kenapa semua mata memandang Namjoon dengan begitu tertarik? Kenapa mereka harus berdecak kagum pada bentuk tubuh dan kaki Namjoon? Kenapa orang-orang itu memperhatikan kekasihnya dengan sangat terpukau?
Ingin rasanya berlari ke depan kamera untuk menuding satu persatu manusia di studio tersebut dan berkata sombong diiringi intonasi meninggi—"Dia pacarku!"
Seokjin merenggut rambutnya sendiri usai mematikan pancuran. Didengarnya derap langkah di luar ruangan pertanda Namjoon sudah datang. Cemberut, disambarnya handuk sambil mendesah malas. Tak pantas rasanya terus-terusan mengeluh seperti anak kecil, malah harusnya dia gembira karena kini Namjoon memiliki banyak penggemar. Dengan wajah terpampang di reklame, muncul di sampul media, serta berkali-kali tampil di televisi, kepopuleran Namjoon memang tak bisa dipungkiri.
Seokjin memakai celana dan menyampirkan handuk di pundak dengan gontai. Digesernya pintu kamar mandi, hanya untuk menemukan Namjoon yang sedang duduk di sofa, memainkan rubik sembari bersandar dan tertunduk serius, dagu berkerut dan bibir merengut lucu. Kostum sensual pemotretannya berganti dengan kaus lengan pendek dan cargo selutut, gaya santai yang keren. Seokjin tersenyum tipis. Pemandangan seperti ini tersaji bebas untuknya. Hanya untuknya, dan selama yang dia mau. Toh yang bersangkutan sama sekali tak mengeluh, malah suka jika Seokjin mulai bertingkah dan memanjakannya.
Sang pemilik rumah menggaruk pipi tembamnya yang bersemu, rasanya jadi agak besar kepala.
Rubik Namjoon jatuh ke lantai dan pemuda itu spontan membungkuk untuk mengambil. Sudut matanya menangkap tungkai mulus Seokjin yang bergerak mendekat dan memungut rubik itu sebelum bisa digapai oleh Namjoon. Ditimangnya bergantian di kedua tangan selagi Namjoon mengangkat kepala.
Seokjin yang baru selesai mandi, hanya memakai celana panjang dan bertelanjang dada adalah pemandangan yang sangat mengundang.
"Sudah tenang?" sindir Namjoon. Seokjin mendengus, melempar rubik itu ke pangkuan dengan malas dan berbalik memunggungi. Bingung, Namjoon buru-buru meralat sambil meraih tangannya, "Hei, hyungnim, tolong jangan marah, aku cuma bercanda."
Seokjin menoleh, pipi membesar.
"Taehyung bilang apa?" tukasnya, setengah malu setengah kesal. Namjoon terbahak pelan dan membimbing Seokjin supaya duduk di sebelahnya sebelum menjelaskan.
"Dia bilang aku harus lebih sering membawamu ke studio jika ada tawaran di Korea," Namjoon meringis, menaruh telunjuknya di depan bibir Seokjin agar tidak menyela, "Sepertinya dia suka padamu, hyungnim. Kau lihat sendiri bagaimana dia tertawa melihatmu menghalangi kamera dan menudingnya."
"Karena aku bodoh?"
"Bukan," balas Namjoon tergelak, "Dia hanya senang melihat orang panik."
Seokjin membuang muka dan Namjoon menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya terjulur, memutar dagu Seokjin kembali ke arahnya, "Dia tak bermaksud buruk kok, lagipula pemotretan hari ini batal dipakai untuk majalahnya, murni eksperimen dari Taehyung. Aku diminta datang lusa depan, tidak perlu menemani kalau restorannya sibuk."
Mata Seokjin mengerjap, "Eksperimen?"
Namjoon tersenyum penuh arti seraya menyeret ranselnya ke atas sofa, dirogohnya kantong paling belakang lalu menarik keluar selembar amplop coklat dengan logo studio yang familiar. Seokjin menerima meski melirik curiga, sementara Namjoon mengangkat bahu menganjurkan, "Buka saja."
Ragu, Seokjin merobek segel dan mengeluarkan isinya, pun sontak memerah begitu mendapati apa yang tercetak di sana. Tumpukan tipis kertas glossy dengan punggung bidang Namjoon di lembar pertama. Diintipnya lembar kedua dan Seokjin berjengit tertahan. Sosok Namjoon mengenakan kemeja terbuka dengan bagian pribadi tertutup celana dalam, sepertinya diambil sewaktu pemuda itu mencoba mengaitkan kancing lengan dan melihat ke arah kamera dengan dahi terlipat.
"Ini..."
"Taehyung memotretku di ruang ganti," celetuk Namjoon, lugas, "Kalau aku tahu hasilnya akan dicetak dan diberikan padamu, pasti aku akan memasang ekspresi yang lebih bagus," ujarnya, meringis lagi. Seokjin berkedip-kedip, menaruh amplop tadi di pahanya dan melanjutkan ke lembar berikut. Foto-foto menakjubkan berderet mengisi pandangan.
Namjoon yang tengah mematut diri di depan cermin, tersenyum menyodorkan telapak tangan untuk menghalangi kamera. Namjoon yang berdiri condong di pintu kamar ganti, membetulkan tatanan rambut dengan serius. Namjoon yang melipat tangan, bertelanjang dada sambil melihat-lihat kaus yang akan dipakai, celana ketat mendekap kaki tanpa cela. Namjoon yang menengok keluar pintu ruangan, rambut tak tersisir ditambah mimik kebingungan. Namjoon yang mengacungkan dua jari ke kamera dan tertawa lebar, juga Namjoon yang membentuk tanda hati besar dengan sepuluh jari di depan muka.
Seokjin tak tahu dia harus merasa iri atau beruntung. Tapi kemampuan mengabadikan Namjoon yang tengah berganti baju dengan sudut secantik ini, memang cuma Taehyung yang bisa melakukannya.
"Apa fotonya jelek sekali, hyungnim?" Namjoon bertanya, cemas, "Kenapa diam saja?"
Seokjin menghela napas, dalam dan pelan. Dimasukkannya lembar-lembar tersebut kembali ke amplop dan mendongak menatap Namjoon sambil menggeleng kalem.
"Tidak kok, ini bagus," tukasnya lirih. Namjoon menunduk tak yakin.
"Benar?"
Gemas, Seokjin mencubit pipi kekasihnya lalu mengangguk mantap, "Tapi lebih baik kamu saja yang simpan," balasnya, menyerahkan amplop itu ke tangan Namjoon yang terpana tak paham.
"Kenapa?"
Seokjin tak segera menjawab, melainkan menumpu berat badan di kedua tangan dan beringsut menaiki pangkuan Namjoon. Tubuhnya mendarat di paha pemuda itu, berhadapan, serta menaruh kedua tangan melingkari bahu, tersenyum hangat.
"Aku sudah punya Kim Namjoon yang asli, lebih nyata dan lebih seksi dari hasil foto manapun," bisiknya, tepat di telinga. Dipandangnya Namjoon sambil mengelus rahangnya, lembut. Telunjuk beralih menyentuh lesung pipi yang melekuk samar, "Keberatan kalau aku ingin memilikimu sendirian?"
Berdecak terpesona, Namjoon beringsut merentangkan lengannya merengkuh pinggang Seokjin dan memeluk pria itu merapat. Kepalanya tertengadah, bergerak mengecupi kulit dagu dan lipatan leher yang masih lembap. Mungkin dia harus menghubungi manajernya demi memperpanjang liburan di Korea menjadi dua minggu lebih lama.
"Tidak, sama sekali tidak," gumamnya, mendesah bahagia, "Tolong miliki aku sepenuhnya."
Seokjin berjengit geli dan balas mendekap Namjoon dengan kekeh merdu.
"Menginap di sini, ya?"
"Syarat dan ketentuan berlaku," sanggah Namjoon, alis terangkat sebelah, "Kecuali hyungnim bersedia kutiduri."
"Ish..."
.
.
.
