Who is she? she is, Luhan.
Baby Aery HHS
-Big Event HunHan INDONESIA-
Main cast : Luhan, Sehun.
Genre : Hurt, Comfrot, Romance.
Rate : M 17+.
Warning : Genderswitch, Mature content, Dirty talk, Typo.
Length : Chapter.
.
.
.
.
.
"Kelainan rahim yang nona Luhan miliki bisa mengakibatkan dia mudah mengalami keguguran. Itulah kenapa dia sering mengalami kontraksi dini di awal kandungan seperti sakit perut yang nona Luhan alamai, dan kelainan ini cendrung membuat wanita sulit untuk mengandung. Mungkin ini adalah kesempatan emas yang Tuhan berikan untuk bisa mendapatkan keturunannya sendiri, karena jika kandungan nona Luhan mengalami keguguran bisa saja dia tidak akan lagi hamil seperti sekrang. Kau harus sangat menjaganya karena kandungannya sudah dalam kondisi sangat lemah. Kita terlambat mengetahuinya hingga tidak bisa mencegah hal ini di minggu pertama kandungan."
Sekelebat penjelasan Soorin menyelinap di benak Sehun, seperti sebuah alarm yang diatur otaknya untuk dapat selalu mengingat itu semua. Kondisi Luhan dan anaknya tidak baik sekarang, terlebih anaknya kini berada dalam keadaan yang hanya bisa diselamatkan Tuhan. Di dalam hati dia berdoa, mengharap belas kasih kecil dari besarnya kekuasaan Tuhan untuk bisa membuat anaknya yang mungkin masih berbentuk segumpal darah bertahan di dalam sana. Tumbuh dengan baik sampai saatnya lahir nanti.
Jari-jari putih Luhan yang terkulai lemas Sehun genggam. Punggung tangan kekasihnya yang masih terbaring tidak sadarkan diri dia cium dengan berbagai perasaan yang bersarang di dalam hatinya. Semua rasa itu tidak terungkapkan, namun semua itu cukup mampu mengukir gurat sendu di wajah tampan Sehun dan meredupkan kebahagiaan yang seharusnya dia rasakan sebagai calon ayah dari anak yang dinantikannya.
Pergerakan kecil Sehun rasakan dalam genggamannya. Jari-jari Luhan yang terbalut hangatnya telapak tangan Sehun bergerak, mengiringi terbukanya mata rusa yang sudah lebih dari satu jam terpejam. Tidak ada kata yang keluar saat pandangannya yang masih mengabur menangkap suasana asing disekitarnya, karena hanya dari mencium wangi yang ada Luhan sudah dapat mengerti jika kini dia ada di dalam rumah sakit.
"Bagaimana perutmu? Sudah lebih baik?"
Suara serak itu membuat Luhan menolehkan kepalanya kearah kanan, dan dia melihat Sehun yang duduk di kursi dengan terus menggenggam tangannya. Ada segores kesedihan yang terpancar di mata Sehun dan Luhan mulai menerka alasan dibalik kesedihan itu.
"Aku tidak bisa terus membiarkanmu lolos. Jadi aku membawamu ke rumah sakit, tidak peduli suka ataupun tidak."
Luhan tersenyum karena kalimat hiburan sederhana yang Sehun katakan, walau Luhan tau Sehun sedang tidak memiliki ketertarikan untuk bercanda. "Apa yang dokter katakan? Apa buruk?" Penuh keingintahuan Luhan bertanya secara langsung, dan pertanyaan itu dapat membuat wajah Sehun semakin terlihat menyedihkan.
"Luhan."
"Apa aku hamil?"
Sehun terkejut untuk sesaat ketika Luhan melontarkan pertanyaan lainnya atau mungkin meminta kepastian dari tebakan asalnya. Sebelumnya Sehun pikir untuk tidak memberitahu Luhan terlebih dulu tentang kondisinya tapi sepertinya Luhan lebih peka terhadap keadaan yang sedang terjadi. "Ya, kau hamil." Tidak memiliki keyakinan untuk berbohong Sehun pun menjawab, mengangguk dengan senyuman. "Kau sudah mengetahuinya?"
"Tidak, itu hanya sebuah naluri. Aku merasakan ada yang hidup di dalam perutku."
Naluri seorang ibu.. Luhan telah merasakan itu dan apa yang akan terjadi saat dia mengetahui semuanya?
Sebisa mungkin Sehun menahan perih di hatinya. Dia kembali mengukir senyuman palsu namun Luhan tidak terlalu bodoh untuk tidak melihat airmata yang coba Sehun lenyapkan. "Tapi kau tidak terlihat bahagia, Sehun." Satu tangannya yang bebas menjangkau pipi Sehun, mengelusnya di sana dengan lembut. "Apa hal buruk yang dokter katakan?"
"Luhan." Sehun meraih tangan Luhan, menggeggam keduanya di dalam tangan besarnya. "Aku ingin kita bisa menikah secepatnya. Apa kau akan mengabulkan keinginanku?"
"Sehun."
"Aku ingin bisa menjagamu, menemanimu dan merawatmu dengan nyaman. Aku ingin ada di sampingmu selama yang aku mampu. Biarkan aku melakukan itu, aku mohon."
Luhan terdiam, membeku di dalam pikirannya. Dia tidak meragukan kesungguhan Sehun, hanya saja bagaimana pria itu menatap dirinya dengan dalam, seperti akan hancur jika dia menolak, seolah memberitahu Luhan seberapa buruknya kondisi dia saat ini.
.
.
Selepas hari itu Luhan dengan berat hati harus menerima saran Soorin untuk menggunakan kursi roda sampai mungkin kandungannya menginjak usia empat bulan, karena saat usia itu kandungannya sudah sedikit kuat dan bisa memungkinkannya untuk diperbolehkan kembali berjalan. Awalnya terasa sulit bagi Luhan menerima penjelasan Soorin tentang kondisi rahimnya yang berbeda, dan Luhan pikir wanita manapun tidak akan bahagia jika berada di kondisi seperti ini, tapi apa yang bisa dia lakukan untuk merubah garis Tuhan? Luhan pikir seberapa keras dia menangis semuanya akan tetap sama. Hanya bagaimana kita memainkan garis itu agar berada di titik baik seperti yang diharapkan. Dan Luhan amat mensyukuri keberadaan Sehun yang selalu menemani, memperhatikan, mendukung juga memberi dukungan di tengah keterpurukannya walau dia tau jika perasaan pria itu tidak berbeda jauh dari dirinya, atau bahkan Sehun lebih tertekan karena tanggung jawabnya yang besar, namun hal baik yang Luhan terima dari situasi ini adalah cinta tanpa pamrih yang Sehun berikan..
.
.
Tangannya tersimpan di dalam saku celana kain yang dikenakannya saat tengah memperhatikan Soorin yang sedang menyuntikkan sesuatu ke dalam nadi lengan Luhan. Sehun tidak tau apa jenis obat itu tapi Soorin bilang itu akan baik untuk kandungan Luhan.
"Sudah."
Luhan bernapas lega setelah melewati sesi perawatan dari Soorin. Lengannya ia tekuk dan matanya menatap kepada Soorin yang tersenyum tipis. "Apa aku masih harus disuntik setelah ini?"
"Tentu, setidaknya satu minggu satu kali." Soorin merapikan alat medis yang digunakannya lalu berdiri dari sofa yang didudukinya bersama Luhan.
Memiliki pasien 'Istimewa' seperti Luhan membuatnya harus mengalah ketika wanita ini menolak untuk dirawat inap di rumah sakit, sehingga dia yang mengekori keinginan Luhan untuk datang ke rumah setiap ada jadwal pemeriksaan, bahkan satu suster menetap di sini untuk mengawasi dan bisa memberikan pertolongan sigap jika terjadi sesuatu yang buruk pada kandungan Luhan.
"Baik, aku harus pulang mengingat sekarang sudah jam delapan malam."
"Woo bin, tolong antarkan dokter Soorin."
"Baik nona."
Keduanya pergi dari ruangan yang cukup luas itu setelah sebelumnya Soorin membungkuk kepada Luhan, menyisakan Sehun, Luhan bersama Chanyeol yang sudah siap dengan kursi roda di sampingnya.
"Chanyeol bantu aku ke kemar."
"Tidak perlu, biar aku saja."
Chanyeol memundurkan langkah saat Sehun dengan sigap mengangkat Luhan, dan membawa wanita itu menuju kamar tanpa menggunakan kursi roda. Setengah mendesah Chanyeol mengedikkan bahu lalu mendorong kursi roda itu, mengikuti mereka dari belakang.
.
.
"Terima kasih." Luhan berucap saat di tepian ranjang yang empuk Sehun menurunkannya. Sedikit menyamankan duduknya Luhan menatap Sehun yang berdiri di depannya. "Kau sudah akan pulang?"
"Ya, aku sudah harus pulang." Sedikit menyesal tapi dia memang harus kembali ke apartemen, karena memang Sehun tidak menginap di rumah Luhan. Tidak untuk saat ini.
"Aku ingin mengikutimu kemanapun kau tinggal, Sehun. Tapi aku sedang tidak bisa melakukan itu. Apa aku akan melukai harga dirimu jika memintamu tinggal di rumah ku?"
Sehun menggeleng dan berlutut di depan Luhan. "Tidak, Lu. Hanya ada beberapa hal yang harus diselesaikan dan semua pekerjaanku ada di sana. Seperti sebelumnya, aku akan datang pagi-pagi sekali ke sini sebelum berangkat mengurus semuanya."
"Tidak, Sehun. Aku tidak ingin itu. Aku mau tidur bersamamu, setiap hari."
"Luhan."
"Lakukan itu demi aku dan anakmu." Perutnya yang masih terlihat rata Luhan tepuk. "Dia menangis setiap malam karena ketakutan di dalam sana." Memasang wajah memohon yang terkesan menggemaskan bagi Sehun yang melihatnya.
"Aku pikir seekor rusa kecil yang menangis, bukan bayi kecil."
"Dia bukan bayi kecil tapi rusa yang lebih kecil."
Keduanya terkekeh geli dan Sehun pun kembali berdiri. "Baik, aku akan tinggal, tapi tunggu semua pekerjaanku selesai. Bagaimana? Aku hanya tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu."
"Berapa lama?"
"Dua hari. Aku jamin semuanya akan selesai dan aku bisa menemanimu setiap malam."
"Setuju." Luhan tersenyum lebar, merasa puas dengan kesepakatan yang mereka buat walau dia harus bersabar menunggu dua kali dua puluh empat jam. Dia harap dua hari tidak akan berubah menjadi dua tahun.
.
.
Restoran, rumah Luhan, apartemen menjadi tiga tujuan Sehun setiap hari. Setidaknya Sehun bersyukur karena ada Dongshil yang mengurus segala keperluan untuk pabrik, seperti mencari mesin, menyeleksi pekerja professional, dan semua yang diperlukan untuk bisa meng-oprasikan kembali pabrik itu. Beruntung Dongshil menerima ajakan bekerjasamanya sehingga pikiran Sehun tidak perlu terpecah belah untuk semua hal yang merumitkan. Untuk saat ini dia hanya perlu memantau semuanya dengan baik, tanpa terlewatkan sedikitpun.
"Selamat datang tuan." Sena membungkuk kepada Sehun saat Sehun datang ke rumah Luhan.
Tepat, ini adalah hari pertama dia akan mulai tinggal di rumah besar Luhan. Secara pribadi Sehun merasa tidak nyaman. Orang mungkin akan berpikir jika dia pria tidak tau malu dan hanya menginginkan kekayaan Luhan, tapi dia merasa tidak tega jika melihat bagaimana kondisi Luhan terlebih dia pun kadang didera khawatir setiap malam, sehingga mungkin ini adalah jalan baiknya.
Tutup telingamu dan tutup matamu. Itu adalah apa yang akan Sehun lakukan karena apa yang dia lakukan bukan untuk orang yang membencinya tapi untuk Luhan dan anaknya.
"Sehun." Luhan menyambut kedatangan Sehun dengan riang saat melihat pria itu memasuki kamarnya. Hari yang dia tunggu tiba dan Luhan merasa bahagia.
"Kau sudah minum obatmu?" Tanpa kecanggungan pada Sena yang berdiri di sebelah ranjang Luhan, Sehun memberi kecupan pada bibir Luhan.
"Sudah. Apa ada yang kau butuhkan? Apa kau sudah makan?"
Melihat keantusiasan di wajah Luhan membuat Sehun terkekeh kecil. Wanita ini terlihat ingin melayaninya dengan baik walau kondisinya tidak memungkinkan. "Tidak ada dan aku sudah makan." Pandangan Sehun bergulir kepada Sena yang terdiam, menyaksikan dengan pipinya yang merona, dia mungkin sedang berhanyal sekarang. "Sena."
"Hah? Ah, ya tuan."
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kau mau melihatku berciuman dengan Luhan?"
"Apa?" Sena terkejut dan segera menggerakan tangannya kekanan dan kekiri, tanda membantah. Sehun terlihat hanya sedang menjahilinya tapi ucapan itu membuatnya teringat pada adegan malam itu dan itu behasil membuatnya gugup. "No-nona Luhan akan bersiap mandi dan aku hanya ditugaskan menemaninya tapi aku akan keluar sekarang." Terburu-buru dia pun keluar dan menutup pintu kamar Luhan dengan cukup pelan.
"Mandi?" Penuh ketertarikan Sehun menatap Luhan yang mengangkat satu alisnya. "Itu hal yang mudah, aku akan memandikanmu."
Luhan hanya mendecih geli dan menatap Sehun penuh antisipasi.
.
.
Di bawah aliran air hangat yang keluar dari Shower Luhan berdiri, sudah tanpa sehelai kain menutupi tubuhnya. Begitupula dengan Sehun. Berniat hanya memandikan Luhan tapi berakhir dengan dirinya juga yang terperangkap di sana. Sembari tersenyum tubuh sempurna Luhan yang dibalut kulit putih, lembut Sehun telusuri penggunakan Spons berbusa sabun di tangannya. Semua bagian Sehun gosok dengan baik, penuh kehati-hatian ketika berada di area sensitive Luhan. Dia hanya tidak ingin jika Luhan mendesah dan menghancurkan dirinya yang sudah susah payah dia tahan. Alram di otaknya hanya terus berteriak mengingatkan Sehun jika dia belum boleh menyetubuhi Luhan.
Setelah melewati situasi di sebuah lembah godaan. Sehun membantu Luhan mengambil pakaian, memakaikannya juga dan mengeringkan rambut panjang Luhan menggunakan handuk tebal, dirinya pun sudah memakai celana pendek dengan kaus pendek. Sejak tadi Luhan hanya terdiam, matanya mengarah pada wajah Sehun yang terlihat serius dengan apa yang tengah dilakukan. Menyadari jika Luhan memperhatikannya membuat Sehun balik menatap, masih dengan kedua tangannya di sisi kepala Luhan.
"Kenapa?"
"Kau menahan sesuatu."
Sehun memasang wajah terkejut yang samar. Dia sudah mati-matian menyembunyikan rasa ingin 'itu' tapi kenapa Luhan berhasil mengetahuinya? "Kau bicara apa, Lu? Menahan apa?" Pura-pura tidak mengerti Sehun kembali mengusak rambut basah Luhan.
"Maaf, aku tidak bisa melayanimu." Luhan merasakan gerakan kecil dari handuk di kepalanya terhenti. Dia memandang menyesal pada Sehun yang hanya menghela napas singkat.
"Itu bukan hal penting. Keselamatan anak kita dan kesehatanmu adalah yang terpenting sekarang."
"Itu membuatku sedih."
Sehun mengusap pipi kanan Luhan menggunakan jempolnya. Dia tersenyum, seolah ingin mematahkan kesedihan Luhan. "Aku bisa menunggu. Kau tidak perlu cemas."
"Tapi hanya sekedar ciuman kecil itu tidak masalahkan?"
"Kau cukup mengatakan jika ingin aku cium. Tentu itu tidak masalah." Menyambut keinginan Luhan, Sehun merunduk dan menyatukan bibir mereka.
Luhan memejamkan mata, memegang kedua sisi pinggang Sehun saat tangan Sehun menekan tengkuknya untuk semakin merapat. Keduanya berbalas lumatan licin penuh saliva dengan gerakan kepala berlawanan yang semakin memperdalam ciuman basah mereka. Saat dirasakan napas mulai semakin memberat Sehun memutus kontak keintiman mereka, mencium kening Luhan dan membawa Luhan kedalam dekapannya. Dari sana Luhan bisa mendengar detak jantung Sehun yang menggila dan itu tidak berbeda jauh dengan dirinya.
.
.
"Nona, lihat siapa yang datang." Chanyeol muncul dengan senyuman lebarnya.
Sedikit terkejut Luhan terpekik karena sekarang ada Kyungsoo bersama Baekhyun yang sedang berlari menghampirinya. Sehun tersenyum melihat kedua wanita itu saling memeluk Luhan dan dia pun memutuskan untuk keluar dari kamar Luhan, memberikan kesempatan tiga wanita itu untuk menghabiskan waktu dengan nyaman.
"Terima kasih sudah membawa Kyungsoo bersama Baekhyun. Luhan terlihat kebosanan karena harus terkurung di rumah."
Di bawah sorotan matahari sore Sehun berjalan bersama Chanyeol di halaman belakang. Dua pria tampan itu berjalan seirama sebelum Chanyeol menghentikan langkah, diikuti pula oleh Sehun yang kini berhadapan dengannya. "Maafkan aku."
"Untuk?"
"Karena sudah berpikir kau akan meninggalkan nona Luhan lagi."
Ucapan Chanyeol terarah pada kejadian saat dia menghilang. Sehun mengerti itu. "Hanya ada situasi yang tidak bisa aku jelaskan di sini, dan saat itu aku hanya membutuhkan waktu."
"Apa itu terkait dengan nona Luhan?"
"Tidak ada di dalam hidupku yang tidak terkait dengan Luhan. Wanita itu seluruh hal yang ada di hidupku." Melanjutkan langkah Sehun pun berjalan lebih dulu dari Chanyeol yang masih terdiam.
"Kau seharusnya tidak menutupi apapun dari Luhan jika memang dia semua hal yang ada di hidupmu."
Mendengar itu mampu menghentikan langkah Sehun sejenak. Dia menelan baik-baik kalimat Chanyeol sebelum menyambung langkahnya kembali.
.
.
"Kapan kau akan menikah?"
Luhan merasa sedang dikerumuni ribuan Zombie berita sekarang, padahal di depannya hanya ada dua wanita cantik dengan setelan kantornya yang cukup terlihat menarik, tidak compang-campeng seperti Zombie di Tv. Tapi kecerewetan yang dilandasi rasa penasaran membuat kedua wanita ini seperti seorang reporter magang.
"Mungkin dua minggu dari sekarang. Saat kandunganku berusia tiga bulan."
"Itu terdengar baik. Akhirnya salah satu dari kita akan ada yang menikah." Kyungsoo tersenyum hangat, penuh ketulusan.
"Aku dan Kyungsoo akan membantu apapun yang bisa kami bantu, Lu."
"Benar." Kyungsoo mengangguk setuju pada ucapan Baekhyun, namun senyuman tipis yang beberapa detik lalu terukir kini menghilang dari wajahnya, tergantikan raut wajah yang sendu. "Aku iri padamu. Sampai sekarang Kai bahkan belum melamarku."
Nada suara miris amat tersirat dalam kalimat Kyungsoo dan itu mengundang Baekhyun untuk menepuk pundak kecilnya. "Jangan bicara seperti itu. Suatu saat Kai pasti akan mengajakmu menikah. Karena jika Kai menikahi wanita lain aku berjanji akan menghancurkan pesta pernikahannya." Tangan Baekhyun terkepal, seperti menunjukan jika ucapannya bukan sebuah main-main.
"Yang Baekhyun katakan benar, Kai itu hanya mencintaimu kau jangan mengkhawatirkan sisi playboy-nya itu." Luhan ikut menimpali. "Kau tau Sehun, kan? Dulu dia lebih parah dari Kai."
"Tapi Kai selalu membuatku kesal. Dia itu seperti tidak memiliki niatan untuk menikahiku.. dia hanya terus menggoda wanita yang berbeda setiap harinya."
"Ada yang membicarakan aku?"
Perhatian ketiga wanita itu tercuri oleh kehadiran sosok tak terduga yang menjadi topik obrolan mereka. Di tengah pintu sana berdiri Kai yang sedang menatap ketiganya dengan bingung, sementara Kyungsoo hanya menghela napas lalu menoleh kepada kedua sahabatnya. "Kalian tau? Aku bersumpah kalau kalian berdua lebih beruntung daripada aku."
Baekhyun tertawa geli, begitupula dengan Luhan yang menutup mulutnya menggunakan telapak tangan, mencoba menahan tawanya sendiri karena Luhan tidak mau menertawai nasib sial Kyungsoo.
"Ada apa kau di sini, Kai?" Merubah mimik wajahnya setenang mungkin Kyungsoo menghampiri Kai.
"Sehun memberitahuku kalau kekasihku ada di sini jadi aku sengaja datang untuk menjemputmu. Kau tidak keberatan kan nona Luhan?"
"Aku? Tentu saja tidak, Kai. Kau boleh membawanya pulang tapi tidak sekarang karena kami akan makan malam bersama."
"Oh, ok. Tidak masalah." Kai tersenyum lebar, merangkul bahu sempit Kyungsoo lalu berjalan bersama untuk keluar dari kamar Luhan.
"Bagaimana aku akan membawamu turun, Luhan? Haruskah aku menggendongmu seperti yang ada di drama-drama?"
"Ya, dan setelahnya kita terjatuh bersama."
Kedua tertawa geli dan Baekhyun pun segera membantu Luhan untuk beranjak dari ranjang, walau sebenarnya Luhan merasa itu amat berlebihan. Dia tidak sedang sakit, ingat!
.
.
"Bagaimana sidang lanjutan kakak-mu, Baek?" Luhan membuka obrolan di tengah makan malam istimewa baginya, karena sekarang mereka terihat seperti keluarga besar. Ada Chanyeol juga yang duduk di kursi sebelah Baekhyun.
"Keputusan akhirnya akan dilangsungkan minggu depan. Aku sangat cemas."
"Tenanglah, aku jamin kakak-mu akan bebas." Chanyeol mengusap sekilas punggung tangan Baekhyun lalu kembali menyuapkan sup ke dalam mulutnya.
"Kakak-mu hanya korban, tentu dia akan bebas, Baek. Aku yakin itu." Kyungsoo ikut bersuara dan Kai mengangguk di sampingnya.
"Kau memiliki kakak?"
Semua mata melirik kepada Sehun yang bertanya dengan wajah tidak mengerti pada arah obrolan mereka semua. Paham jika hanya dirinya yang terlihat seperti tidak tau apa-apa, Sehun pun hanya berdehem lalu kembali memakan makanannya.
"Luhan, aku pikir kekasihmu harus mulai bergaul sekarang. Tidak menutup diri seperti pangeran es."
Luhan hanya terkekeh tapi Sehun mendecak mendengar kalimat Chanyeol. "Yang aku tau hanya tentang Luhan, ok? Aku tidak peduli pada kalian semua."
"Ya, ya, ya.. kau bicara seperti kau tidak pernah meminta tolong saja. Kau lupa? Dulu kau sering meminta tolong kepadaku. 'Kai, tolong ini, itu." Kai mencibir malas dan itu membuat semuanya tertawa terkecuali Sehun yang mendengus sebal.
.
.
Pertemuan kecil itu berakhir pukul sembilan malam. Kyungsoo pulang bersama Kai, dan Luhan mengizinkan Chanyeol untuk mengantar Baekhyun. Sekarang tertinggal dirinya bersama Sehun yang sudah bersiap untuk menyelam pada alam mimpi.
"Apa hari ini menyenangkan?" Sehun menaruh jam tangan Rolex miliknya lalu berjalan menuju ranjang.
"Ya, sangat menyenangkan. Aku meminta Baekhyun dan Kyungsoo untuk sering datang mengunjungiku."
"Kau ingin mereka membolos kerja?"
"Tidak membolos, karena aku mengizinkannya."
Sisi kosong di samping Luhan, Sehun tempati. Mereka duduk beriringan, menyandar pada kepala ranjang. "Luhan."
"Hemmm.."
"Apa kau masih ingin bertemu Yifan?" Sehun menoleh pada Luhan yang juga sudah menghadap wajahnya.
"Aku bahkan masih mencari info tentangnya. Tapi aku tidak tau kenapa itu menjadi sulit. Tidak ada yang mau memberitahukan tentang Yifan padaku."
Sehun terdiam sejenak, menyelami kesedihan Luhan dan menggali pikirannya sendiri. Apa dia harus berkata jujur tentang surat yang Yifan berikan? Atau tetap diam, membiarkan Luhan hanya untuk mengerti jika dirinya tidak mengetahui apapun.
"Sehun." Mendapati kekasihnya melamun membuat Luhan melihat jika ada yang ingin Sehun sampaikan namun terganjal oleh keraguan. "Apa kau bertemu Yifan?" Luhan harap Sehun menjawab 'Iya' untuk tebakannya.
"Ya, aku bertemu Yifan."
.
.
Dengan tidak sabaran Luhan memutar roda kursi-nya menggunakan tangan, tidak memanfaatkan analog yang berada di bagian lengan, karena menurut Luhan itu terlalu lamban untuk menggerakan kursi rodanya. Jika tidak mengingat kalau dirinya sedang dalam kondisi rawan mungkin Luhan sudah berdiri untuk berlari, karena demi Tuhan! Dia ingin cepat bertemu Yifan.
"Sehun, cepatlah."
Sehun yang mendorong dari belakang mempercepat langkahnya sampai akhirnya mereka berada di depan pintu apartemen yang sudah tidak asing baginya.
"Kau yakin Yifan ada di sini? Sekretarisnya bilang Yifan sudah pindah."
"Itu hanya alasan, Luhan." Bell di depannya Sehun tekan berkali-kali, namun pintu tidak kunjung terbuka dan tidak ada sahutan apapun di dalam sana.
"Aku tau password apartemennya."
"Apa?"
"Tanggal lahirku."
Sehun menekan password seperti yang Luhan sebutkan, tapi hasilnya salah dan itu membuat Luhan mengkerutkan alisnya. "Apa sudah diganti?"
"Maaf, anda mencari siapa?" Seorang staff yang kebetulan berada di koridor sana menegur.
"Pemilik kamar apartemen ini. Apa dia sedang pergi?"
"Tuan Wu Yifan?"
"Ya, Wu Yifan." Luhan mengangguk cepat dan menatap penuh harap pada staff pria itu seolah seluruh kesempatannya terletak di sana.
"Tuan Yifan baru satu jam lalu keluar."
"Kemana?"
"Saya tidak tau nona, tapi dia membawa koper."
"Koper?"
"Ya nona. Saya permisi."
Luhan menarik napasnya dan mengeluarkannya dengan lemas. Kemana Yifan pergi? Apa dia benar-benar tidak akan bisa lagi bertemu pria itu?
"Aku pikir aku tau kemana dia akan pergi."
Dengan mata berkaca-kaca Luhan mendongak, menatap Sehun penuh tanya.
"Jangan menangis seperti itu, Luhan. Kau bisa menemuinya jika tebakanku benar dan kita belum terlambat."
.
.
Membutuhkan perjalanan selama dua puluh tiga menit untuk sampai di Bandara, dan Sehun harap penerbangan ke Paris belum lepas landas. Itu hanya tebakannya dan jika beruntung Luhan akan bertemu dengan Yifan. Pandangan keduanya bergulir ke seluruh arah. Sehun melihat jadwal penerbangan yang tercantum pada monitor lalu tersenyum kecil karena mereka masih memiliki sisa waktu dua belas menit. Semoga keberuntungan memihak mereka sekarang.
"Kita mau kemana, Sehun? Kau yakin Yifan ada di sini?" Luhan mulai bertanya saat Sehun mendorong kuris rodanya.
"Aku harap seperti itu." Mata sipitnya menajam, membidik setiap sosok yang berada di tempat untuk mengunggu penerbangan, dan helaan napas keluar saat ia menangkap pria tinggi, mengenakan celana jeans, coat coklat sembari menggered koper berwarna putih. "Itu Yifan."
Pendengaran Luhan menangkap jelas gumaman Sehun. Dia dengan cepat mengedar pandangannya sampai jatuh pada sosok yang sama dengan yang Sehun tatap. "Yifan." Bibir kecilnya berbisik dan dia mulai membawa kursi rodanya untuk mendekat pada sosok yang belum melihat keberadaannya. "Yifan!"
Ditengah kebisingan bandara suara itu memasuki telinganya. Dengan tidak menduga, berharap kalau itu hanya halusinasi Yifan menoleh, namun kenyataannya sosok itu memang ada di depan matanya, duduk di atas kursi roda dengan mata merah berkaca-kaca.
Apa yang terjadi padamu, Lu?
Itu adalah kalimat yang rasanya ingin Yifan ucapkan. Dia tidak tau kenapa tiba-tiba Luhan berada di kondisi seperti ini dan itu cukup membuatnya khawatir, tapi bibirnya terlalu sulit untuk terbuka, bahkan seperti merekat satu sama lain.
"Kemana lagi kau akan menghindariku, Yifan?"
Sehun hanya melihat, menyaksikan dengan tenang dan membiarkan Luhan memeluk pinggang Yifan dan menyandarkan kepalanya pada perut pria itu.
"Luhan.." Suaranya tercekat, tapi Yifan segera memperbaikinya dengan menghela napas. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Mencarimu."
Jangan pernah mencariku.
"Jangan pergi Yifan, aku mohon."
"Untuk apa aku tinggal saat aku tidak memiliki alasan untuk terus tinggal? Tentu aku harus pergi Luhan." Pelukan Luhan dipinggangnya Yifan lepas dan dia mengambil satu langkah mundur. "Kau memilih pria itu dan tidak ada gunanya aku bertahan."
"Tapi aku menyayangimu. Tidak bisakah kita perbaiki hubungan kita? Bagiku kau sama pentingnya dengan Sehun, dan aku sangat merindukanmu. Aku ingin kita bisa menjalin hubungan baik seperti dulu."
"Tapi aku tidak. Bukan itu yang aku harapkan."
Luhan menatap kecewa atas jawaban Yifan. Airmata menetesi pipinya yang memerah, entah karena dingin atau karena gejolak hatinya yang menjerit.
"Kau tau jika aku selalu memiliki obsesi tinggi. Saat aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan pilihannya hanya dua, menghancurkannya atau meninggalkannya." Yifan menatap sesaat kepada Sehun lalu kembali menatap Luhan. "Jadi jangan mencegahku saat aku akan pergi karena jika itu terjadi pilihan yang tertinggal hanya ada satu."
"Tapi kau berjanji akan terus bersamaku, dan bagaimana bisa kita berakhir seperti ini?"
"Kau yang membuatnya berakhir seperti ini, Luhan. Bukan aku."
"Yifan, siapa dia?"
Seorang wanita tiba-tiba muncul dan sukses menyita perhatian Luhan pada sosok wanita berlesung pipi itu.
"Dia Luhan." Sedikit malas Yifan menjawab. "Dan kenalkan, ini Yixing, kekasihku."
"Kekasih?" Yixing mengulang terkejut namun setelah melihat tatapan Yifan, Yixing tersenyum kaku lalu mengangguk dengan tidak yakin. "Ya, aku ke-kasih Yifan. Senang berkenalan denganmu Luhan."
"Tolong jaga Yifan untukku."
"Apa? Men..jaganya?"
"Ayo kita pergi." Kesal pada wajah bodoh Yixing, Yifan pun menarik lengan wanita itu untuk menjauh.
Dan Yixing yang berjalan dengan kesusahan karena ditarik paksa Yifan mulai memberontak sampai tangannya terlepas dari genggaman Yifan. "Kau ini kenapa si? Aku kan masih ingin mengobrol dengan Luhan, lagipula apa maksudnya aku harus menjagamu?"
"Itulah alasan kenapa aku menarikmu, karena kau bodoh." Wajah Yifan masih mengeras, masih terlihat jika dia menyimpan berbagai perasaan. "Kau hampir membuat Luhan merasa tidak yakin jika kau adalah kekasihku."
"Aku memang bukan kekasihmu, kan?" Yixing dengan santai membalas, membela diri. "Jika kau ingin aku berpura-pura seharusnya kau memberitahuku lebih dulu."
"Kedatangan Luhan tidak aku duga."
"Dia sengaja mencarimu?" Yifan tidak menjawab dan itu artinya 'Iya'. Yixing menghela napas, tidak habis pikir pada sikap sahabatnya ini. "Seharusnya kau tidak bertindak seperti ini, dan kenapa harus mengatakan jika aku adalah kekasihmu?"
"Aku sudah terlihat menyedihkan di depan Luhan, setidaknya aku tidak ingin terlihat lebih menyedihkan saat akan pergi."
Yixing terdiam, nada ucapan Yifan terdengar penuh luka dan keputusasaan walau wajah itu masih menyiratkan keangkuhan. Cinta bertepuk sebelah tangan memang tidak pernah menyenangkan. Langkah mereka masih berjanjut, panggilan untuk jadwal penerbangan mereka sudah disuarakan, namun getaran pada ponselnya menghentikan langkah Yixing sejenak. "Hallo.. ah, ya. Aku ingat. Aku membeli apa yang kau pesan, jangan khawatir. Aku sedang di Bandara sekarang. Ya, aku tau."
Yifan menoleh saat Yixing mematikan ponselnya denga dengusan kesal. "Pacarmu?"
"Bukan. Dia Huang Zi Tao, sepupuku. Sungguh, aku kesal pada wanita itu.. rasanya aku ingin memasang bom di dalam mulut cerewetnya itu."
"Kau pikir kau tidak?"
"Apa maksudmu?" Yixing menatap tidak terima karena secara tidak langsung Yifan mengatainya cerewet. "Aku akan mengenalkanmu padanya. Kebetulan dia ada di Paris sekarang untuk liburan dan kau akan tau tingkat kecerewetan siapa yang lebih tinggi."
Mereka memasuki pesawat yang akan membawa mereka mengudara menuju Paris, masih dengan segala ocehan Yixing tentang sepupunya, tapi semua itu terdengar samar bagi Yifan karena pikirannya masih berkelut pada wajah sedih Luhan.
Pada akhirnya aku yang melangkah mundur, secara perlahan, secara hati-hati walau aku gagal untuk melakukannya secara diam-diam karena kau menemukanku. Selamat tinggal, Luhan. Aku akan melupakan jika aku pernah mencintaimu dan maafkan aku. –Yifan.
.
.
Luhan menatap keluar jendela mobil dengan lelehan airmata di pipi. Dia selalu benci perpisahan. Sudah terlalu banyak orang-orang yang pergi meninggalkannya, dan kenapa Yifan harus menjadi salah satunya? Pandanganya yang mengabur menangkap satu pesawat yang terbang, masih di atas langit yang rendah di depan sana. Apa ada Yifan di dalam pesawat itu? Isakan yang sejak tadi tertahan keluar bersama jatuhnya airmata yang lain. Kepergian Yifan membuat Luhan sadar bahwa di dunia ini tidak ada kebahagiaan yang sempurna.
Sehun menepikan mobilnya saat melihat tangis Luhan sudah tidak lagi terbendung, dan membawa Luhan kedalam pelukannya. Tidak ada kata yang ingin Sehun katakan karena apapun yang dia ucapkan dia tau itu tidak akan mampu mengurangi rasa kehilangan di hati Luhan. Hanya tempat yang ingin Sehun berikan, tempat yang dia sediakan untuk seluruh kesedihan Luhan.
.
.
Kesedihan masih amat tercermin di wajah cantik Luhan. Dia masih memikirkan Yifan walau dia tau ini akan membuat Sehun merasa tidak nyaman.
"Luhan." Kepalanya mendongak, menatap Sehun yang berdiri dengan sebuah amplop di tangan. Mengenyahkan segala keraguan amplop itu Sehun berikan kepada Luhan yang menatap bingung kepada dirinya. "Terimalah. Itu milikmu."
Amplop yang telah mengusam itu Luhan buka dan lipatan kertas di dalam sana dia ambil. Luhan tidak memiliki terkaan apapun mengenai apa isi surat itu, namun hanya dengan membaca kalimat awal Luhan sudah dapat mengetahuinya dan dia seperti dilempar pada masa lalu.
"Itu surat yang kau buang, tapi Yifan mengambilnya dan menyimpannya. Dia memberikan itu padaku saat kami bertemu."
Bayang-bayang wajah ayahnya kini muncul di mata Luhan, membuat tangannya begetar, dan seolah semua memori yang terkubur bangkit, berputar di dalam benaknya. Inilah alasannya membuang surat ini karena dia seperti akan terus menangis jika mengingat isi surat yang ayahnya tulis. Tapi siapa sangka, surat yang telah dia buang bertahun-tahun lalu justru kembali lagi ke dalam genggamannya.
"Maafkan aku untuk kejadian malam itu."
Airmata yang terjatuh Luhan usap dan dia kembali menatap Sehun yang sudah duduk di depannya –Di atas ranjang. "Apa yang kau ketahui?" Suaranya serak, bahkan lirih terdengar ketika bertanya.
"Semuanya.. Yifan memberitahuku semuanya. Kenapa kau tidak mengatakan apapun kepadaku, Luhan?"
"Tidak ada yang perlu aku beritahu karena semuanya sudah terjadi, Sehun."
"Semuanya terjadi karena aku."
"Ya, karena kau." Luhan mengangguk. Malam itu adalah malam terberatnya, malam kehancurannya dan Luhan tidak bisa melupakan bagaimana rangkaian malam kelabu itu terjadi. "Aku sangat ingin menyalahkanmu atas kematian ayah, tapi aku pikir itu adalah salahku karena telah menjadi wanita lemah. Penindasan, pengkhianatan, penyesalan semua ada karena aku hanya diam, tidak berani untuk bergerak ataupun melawan. Aku yang membiarkan semua itu terjadi bukan kau, Sehun. Karena aku yang mengarahkan kemana hidupku akan berjalan."
"Luhan."
"Pada titik itu aku hanya berpikir untuk berubah menjadi wanita yang lebih kuat, berkuasa agar tidak akan ada yang berani menindasku dan takut untuk mengkhianatiku, tapi lagi-lagi aku menyesalinya pada hari lain. Aku selalu mengambil alur yang salah, Sehun, seperti sebuah kompas rusak."
"Jangan berpikir seperti itu. Jika kau menyalahkan dirimu sendiri, lalu bagaimana denganku?" Sehun menghapus jejak airmata di pipi Luhan dan mengusap lembut di sana. "Hentikan semua ini, aku tidak ingin melihatmu sekacau ini. Kau masih memilikiku, kita saling memiliki."
Luhan mengangguk lalu tersenyum kepada Sehun. "Aku harap kita akan selamanya bersama."
"Tentu seperti itu. aku, kau dan anak kita." Sehun balas tersenyum dan mencium kening Luhan yang mulai terlihat tenang. "Tidurlah.. kau harus beristirahat dengan cukup." Penuh perhatian dia membantu Luhan untuk berbaring, menyelimuti tubuh ringkih itu dan memberikan ucapan selamat malam yang dibalas Luhan dengan kecupan.
.
.
Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Semua orang tentu memiliki impiannya sendiri tentang pernikahan. Tak terelak pula dengan Luhan. sejak dulu dia memimpikan pernikahannya akan diselenggarakan di geraja suci bersejarah seperti gereja Santa Maria. Sesuatu yang megah, dimana pianis dunia akan akan mengiringi langkahnya ketika berjalan di altar. Dibalut gaun panjang indah nan berat namun tak akan membuatnya lelah ketika mengenakannya karena tertutupi sebuah kebahagiaan.
Namun Luhan harus melepas impiannya sendiri saat keadaan tidak memungkinkan dirinya untuk bisa berada di dalam posisi seperti itu. Pemberkatan tidak diadakan di gereja seperti yang dia inginkan, walau memang ada pianis yang akan mengiringinya nanti. Gaun panjang keluar dari daftar, digantikan gaun putih selutut walau gaun itupun takkalah indah dengan gaun pengantin pada umumnya. Hanya kerudung beningnya yang menjuntai lebih panjang, menjadi ekor dikala dia akan berjalan, dan itu semua dilakukan karena satu alasan. Anaknya.
Luhan tidak merasa keberatan, tidak sama sekali. Toh itu semua tidak mengurangi sedikitpun kebahagiaannya walau tak terpungkiri kalau terkadang dia merasa sedih. Tapi ini demi dirinya, demi Sehun dan anaknya, itu lebih berharga dari sekedar impian pernikahannya. Luhan rela melepas angan-angannya untuk terbang, karena dia tau akan ada ganti dari semua ini. Yaitu kehadiran sosok kecil yang kelak akan memanggilnya ibu. Dia tengah berjuang untuk itu, untuk kesempatan yang Tuhan beri.
Baekhyun memakaikan mahkota berbalut berlian bertahtakan satu batu safir di bagian tertinggi mahkota itu. Kalung berbandul bunga teratai pemberian Sehun pun menyampir pas di leher putih bersih Luhan. Sang pengantin yang sudah sangat terlihat sempurna berdiri menatap pantulan dirinya di cermin, mengamati untuk mencari cela kecil yang mungkin akan mengurangi kesempurnaannya.
"Sudah siap?" Kyungsoo muncul, masuk ke dalam kamar Luhan dengan membawa kursi roda yang sudah dia hias menggunakan bunga juga pita. Tidak ada yang boleh terlihat jelek hari ini, termasuk dengan kursi roda yang akan membantu Luhan nanti.
"Kau menghabiskan berapa lama untuk mehias itu, Soo?" Luhan mengangkat satu alisnya penasaran.
"Tidak lama, mungkin satu jam lebih."
"Kau sudah bekerja keras, tapi maaf usahamu harus sia-sia."
"Kenapa? Apa ada yang tidak kau suka?"
"Bukan seperti itu. Hiasannya sangat cantik, aku suka." Luhan mulai memakai sepatu heels setinggi tiga senti dengan bantuan Baekhyun. "Tapi aku tidak mau menduduki kuris roda itu untuk hari ini."
"Apa?"
"Luhan, kau jangan bercanda. Sehun akan marah nanti."
Kyungsoo dan Baekhyun sama-sama terkejut dan mencoba untuk membuat Luhan tidak melakukan itu.
"Ini adalah hari pernikahanku. Aku sudah mengkorbankan banyak hal, jadi jangan buat aku menjadi pengantin wanita yang menyedihkan, ok? Aku tidak lumpuh, aku bisa berjalan."
"Tapi kau dilarang berjalan."
"Aku akan berjalan dengan sangat, sangat, sangat hati-hati, tidak perlu khawatir." Luhan membantah apapun yang Baekhyun dan Kyungsoo katakan. Membuat dua sehabatnya menyerah pada keputusannya dan hanya bisa mengiringi Luhan untuk turun ke lantai dasar.
.
.
Halaman luas itu telah didekorasi. Didominan dengan nuansa putih dari kain yang menjuntai menyentuh rumput hijau. Dipadu oleh apiknya tatanan bunga berwarna-warni semakin mempercantik 'Gereja' milik mereka sendiri. Angin pagi masih amat terasa sejuk saat menerpa tamu yang sudah berdatangan –Hanya terhitung dari keluarga Sehun dan beberapa kolega bisnis yang hadir sebagai saksi, menghantar wangi alami bunga yang segar dan menenangkan.
Sehun sudah berdiri dengan sangat tampan, mengenakan setelan putih dengan tatanan rambut keatas, semakin membuatnya terlihat seperti seorang pangeran yang hidup di dalam kenyataan. Dia tersenyum tipis saat dentingan piano berbunyi, menandakan jika Luhan akan segera muncul di hadapannya. Dia merasa gugup sekarang, tangannya bahkan terasa dingin dan berkeringat.
Sembari mengapit lengan Chanyeol, Luhan mengambil langkah penuh kehati-hatian. Semua yang hadir mulai berdiri saat Luhan menginjak karpet merah yang tergelar panjang sampai menyentuh ujung meja dimana ada pendeta berdiri di baliknya. Baekhyun dan Kyungsoo yang mengekor di belakang, menaburkan kelopak bunga dengan senyuman yang juga tersemat lebar di bibir Luhan.
"Aku serahkan adikku kepadamu."
Sehun mendecih geli karena kalimat Chanyeol, namun dia tetap mengangguk dan mengambil tangan Luhan untuk dia genggam. Kini keduanya sudah berada di tempat yang sama, berdiri menatap pendeta yang sedang memulai pemberkatan. "Kenapa kau tidak menggunakan kursi roda?" Namun disela itu Sehun masih menyempatkan diri untuk berbisik kepada Luhan.
"Aku tidak ingin menjadi pengantin yang terlihat seperti penyakitan." Luhan balas berbisik dan Sehun hanya menatap penuh pengertian.
Pendeta membacakan iklar suci secara bergantian untuk kedua pasangan yang berada di depannya. Dan tanpa memiliki keraguan keduanya menjawab tegas, penuh keyakinan bahwa akan mengikuti isi janji yang pendeta itu sampaikan. Semua yang hadir mulai bertepuk tangan saat Sehun dan Luhan menandatangani surat pernikahan yang membuat mereka resmi sebagai suami istri di mata hukum.
Bagian pemasangan cincin dilewati penuh dengan senyuman, dan sebuah kecupan Sehun berikan di bibir Luhan yang membuat Baekhyun serta Kyungsoo menjerit kegirangan. Satu persatu para tamu memberikan ucapan selamat, sampai akhirnya tiba dimana Harry Edison bersama ibu Sehun berdiri dengan amat begitu serasi. Sejak dulu Luhan selalu iri akan kecocokan mereka.
Eunhwa menjadi yang pertama maju untuk memeluk Luhan. "Terima kasih telah memaafkan dan menerima Sehun." Dia berbisik, menahan tangisnya sendiri agar tidak tumpah. "Sejak dulu aku tau kau yang akan membuat Sehun berubah."
Luhan tersenyum dan belas memeluk Eunhwa. "Aku tidak bisa menghindarinya seberapapun aku mencobanya."
"Selamat untukmu."
Sehun menyambut tepukan Harry pada lengannya dengan senyuman tipis. Kedua pria tinggi itu saling balas menatap dan entah, Sehun seperti melihat kebahagiaan tulus Harry untuknya dan juga sebuah kebanggaan dan pengakuan. Ini pertama kalinya, sejak dulu Harry selalu menatapnya dengan sengit, jijik dan merendahakan namun kali ini tidak lagi terasa seperti itu.
"Paman Sehun." Sesosok anak kecil berusia empat tahun dengan rambut pirangnya yang mengkilat menarik ujung kemeja Sehun. Dia adalah Axel Edison, anak dari Carey Edison. "Aku membeli ini untuk paman." Dengan caranya yang polos serta menggemaskan dia mengulurkan sebuah kotak kecil. "Mommy bilang itu jimat dan Acel membelinya."
Luhan terkekeh melihat Axel. Dia dengan sendirinya membayangkan akan seperti apa anaknya nanti. "Terima kasih sayang." Pipi gembil Axel segera merona saat Luhan mengusap lembut puncak kepalanya. Dia dengan malu-malu memundurkan langkah, berdiri di belakang kedua orang tuanya.
"Waw, kau hebat, Sehun. Bagaimana cara mendapatkan kembali boneka yang telah kau telantarkan?"
"Carey, sudahlah." Luie, istri Carey menyela dengan kesal saat suaminya menjadi perusak suasana dengan kalimatnya. Dia dengan cepas memberikan selamat, memeluk kedua pengantin lalu mengucapkan maaf atas ucapan kurang ajar suaminya itu.
Sehun mengangguk, dan Luhan pun tidak termakan perkataan Carey karena dia terlihat tidak peduli.
.
.
Malam harinya sebuah Garden Party diadakan, pengganti dari resepsi pernikahan. Luhan bersama Sehun yang mendorong kursi rodanya menemui para tamu yang berkapasitas dua ratus orang. Mereka menyapa dengan ramah dan terlihat sangat bahagia. Sebuah cake tinggi bertingkat tujuh, tersaji di atas meja dan bersama Sehun, Luhan memotong cake itu menggunakan pisau panjang, hanya untuk sebuah symbol perayaan.
Semakin malam suasana semakin redam. Jika sebelumnya mengalun melodi cepat permainan piano, maka sekarang terdengar dentingan lembut dari sang pianis yang membuat semua orang ikut hanyut dalam gerakan ringan yang disebut dansa.
Di kursinya Luhan menghela napas dengan sedih. Baekhyun berdansa bersama Chanyeol, Kyungsoo bersama Kai dan lain-lainnya bersama pasangan masing-masing, tapi dia sebagai seorang pengantin justru hanya bisa duduk untuk menyaksikan.
"Kenapa dengan wajah murung itu?" Menyadari perubahan Luhan, Sehun berlutut di depan Luhan.
"Aku sedih. Di hari pernikahanku, aku justru terduduk di kursi roda."
"Walau kau duduk di kursi roda kau tetap pengantin wanita tersempurna untukku."
"Sehun!"
Mendengar erangan kesal Luhan membuatnya tertawa, namun hanya beberapa detik karena setelahnya Sehun mengulurkan tangan di depan Luhan. "Nona Luhan, mau kah kau berdansa denganku?"
Luhan menatap waspasa kepada Sehun, takut jika dirinya hanya dikerjai. "Kau bercanda?"
"Aku tau alasan wajah murungmu itu dan aku tidak ingin melihat istriku merasa sedih di hari pertama pernikahan kami. Jadi, kau menerima atau menolakku nona Luhan?"
Wajah cerah penuh kebahagiaan itu kembali. Luhan mengangguk semangat dan meraih tangan Sehun yang segera membantunya untuk berdiri. Dengan senang tangannya melingkari leher Sehun, begitupun Sehun yang memeluk pinggang Luhan dengan rapat.
"Kau selalu tau apa yang aku inginkan, Sehun. Terima kasih karena sudah melakukan ini."
Sehun tertawa dan mencuri satu kecupan di bibir Luhan. "Apapun demi senyumanmu."
Keduanya bergerak seirama, mengikuti alunan piano yang semakin syahdu terdengar. Mereka saling menatap dan tersenyum dalam jarak begitu dekat, dan saat semua orang tidak lagi mereka pedulikan, bibir itu menyatu dengan mata yang terpejam. Lumatan lembut mereka bagi, diselingi kecupan-kecupan kecil yang menjadi pengganti kata cinta di dalam hati.
Semua orang memiliki mata untuk melihat hal itu, merekapun memiliki perasaan untuk dapat menerka betapa besar cinta yang mengurung keduanya. Sosok-sosok terdekat dari keduanya pun tersenyum hangat, dan menghujani mereka dengan berbagai doa.
Takdir telah lelah untuk memisahkan kalian. Sekarang hiduplah penuh kebahagiaan, bahkan sampai Tuhan tidak memiliki cara untuk memisahkan kalian. –Kyungsoo.
Si berengsek Oh Sehun. Kau memang berengsek karena sudah merebut wanita impianku. Jagalah dia dengan baik dan mungkin aku akan menyusulmu nanti bersama Kyungsoo. –Kai.
Kau pantas mendapatkan apapun yang kau inginkan nona Luhan. Semoga Tuhan membantu kalian untuk menjaga apa yang tengah kalian pertahankan. –Chanyeol.
Ayah dan ibumu akan tersenyum di atas sana, karena kau mendapatkan pria terbaik yang bersedia mati hanya untuk senyumanmu. Walau hal buruk menjadi awal bersatunya kalian tapi kalian dapat merubahnya untuk berakhir menjadi penuh kebahagiaan. –Baekhyun.
Jangan lagi lakukan hal bodoh. Jadilah suami dan seorang ayah sempurna untuk keluargamu. Teruslah hidup dengan menggenggam tangan Luhan, karena dari sanalah kebaikanmu berasal. –Eunhaw.
.
.
.
.
.
To be continue..
Chap 26 akhirnya up.. Tolong maafkan karena lama TT aku juga ga tau kenapa tapi lagi susah, jadi tolong maklumi ya TT
Ada yang tau apa itu Septate Uterus tapi ada juga yang ga tau.. buat yang ga tau Septate Uterus itu kelian rahim atau rahim yang tidak sempurna, detailnya bisa kalian cari di google lol tapi yang jelas efeknya seperti yang aku tulis di atas jadi udah cukup ngertikan sekarang^^
Maaf untuk chap ini aku ga bisa balas review kalian.. aku lagi drop jadi ni kepala lagi mules TT maafkan ya.. terima kasih untuk review kalian di chap sebelumnya. Buat yang follow dan favorit juga.
Setiap Author itu selalu inget sama orang-orang yang review di FF mereka, jadi sering-sering review ga Cuma di FF ku tapi juga di FF author lainnya. Nanti kalo ketek kalian kerasa gatel tandanya itu kalian lagi diobrolin sama para author hahaha
Ok, aku tunggu review kalian untuk chap ini. Semoga next chap bisa lebih cepet^^ jump! Jump! Jump! Jump! We Are HHS. See you.. Saranghae.. Gomawo..
