Haruna Monogatari
Disclaimer :
Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi
(And the Picture)
Warn. : OC, Alur mengikuti anime KnB, Typo(s), dll.
RnR?
Latihan rutin terus berjalan. Sejauh ini semua berjalan dengan lancar. Para pemain juga berkembang dengan pesat. Latihan mereka terlihat lebih menyenangkan semenjak Haruna bergabung dengan mereka. Tapi, ada yang membuat Akashi khawatir.
"Akashi, Midorima, bisakah kalian mengambil data pemain string pertama di meja Kantoku?" Nijimura mengelap keringatnya.
"Hai." Jawab Akashi dan Midorima.
"Aku ikut!" Haruna berlari menuju Akashi dan Midorima.
"Bukankah kau masih memiliki pekerjaan di sini?" Tanya Akashi.
"Tidak… Seijuro tidak mau aku temani ya?" Haruna berbalik.
"Bukan begitu." Akashi menggandeng tangan Haruna. "Ayo." Haruna pun mengikuti mereka dengan wajah memerah.
Saat mereka keluar, mereka melihat Momoi sedang berbincang dengan dua manager lainnya sambil membawa keranjang yang berisi handuk. Tapi salah satu dari mereka tidak sadar kalau handuknya akan terjatuh. Akashi pun melepaskan gandengan tangannya pada Haruna dan menahan handuk-handuk itu agar tidak jatuh.
"Hati-hati." Ucap Akashi dengan lembut. "Terima kasih banyak. Kau sudah sangat membantu tim, aku sangat menghargainya." Akashi tersenyum dan membuat Haruna kesal. "Ayo Haruna, Midorima." Midorima mengikuti Akashi, sedangkan Haruna masih berdiri di situ.
"Haruna?" Panggil Akashi.
"Seijuro no baka!" Gumam Haruna lalu dia mengekor di belakang Midorima.
"Akhir-akhir ini kau sering melamun nodayo, Akashi." Ucap Midorima.
"Hm? Ah… begitulah."
"Apakah mengenai kejuaraan nasional?"
"Walaupun kita menang, ada beberapa hal yang membahayakan. Jika memikirkan satu atau dua tahun kedepan, situasi ini tidak bisa disebut stabil."
"Apa tidak cukup dengan mengembangkan kemampuan kita masing-masing nodayo?"
"Kemampuan bermain kita saat ini tidak menjadi masalah. Tapi semua terlalu monoton. Aku meninginkan sesuatu… misalnya pemain keenam yang bisa mengubah alur pertandingan. Pemain seperti itu. Aku sudah mengatakannya pada Haruna dan saat ini Haruna sedang melakukan pengamatan pada anggota string kedua dan ketiga, tapi dia masih belum menemukannya." Ucap Akashi.
"Pemain keenam ya?" Gumam Midorima.
"Baka." Gumam Haruna yang didengar oleh Akashi dan Midorima.
"Hm? Siapa?" Tanya Akashi.
"Hmph!" Haruna mengalihkan wajahnya keluar jendela.
'Seenaknya saja menunjukkan wajah seperti itu pada gadis lain! Aku kan tidak menyukainya… are? Apa aku cemburu? Gawat! Bagaimana kalau Seijuro dan Midorima tau kalau aku sedang cemburu?'
"Kau sepertinya sedang kesal, apa karna kau tidak suka saat aku membantu manager-san itu?" Tanya Akashi.
"T-tidak!" Jawab Haruna.
"Kau manis sekali kalau sedang cemburu seperti ini." Akashi tersenyum nakal.
"A-a-a-aku tidak cemburu! Apa maksudmu?! Baka!" Haruna malah semakin salah tingkah.
"Aku tau kalian punya hubungan special, tapi kita punya tugas yang harus kita lakukan nodayo!" Tegur Midorima.
"Urusai yo! Midorima no baka!"
"Nandato?! Berani sekali kau mengatakan hal itu pada orang yang lebih pintar darimu nodayo!"
"HAAAAH?! Jelas-jelas kau lebih bodoh dariku dasar peringkat tiga!" Muncul siku di wajah Haruna.
"Kau mendapat peringkat dua hanya karna kau beruntung saja nanodayo! Selanjutnya aku pasti ada di atasmu!"
"Coba saja kalau bisa! Kono baka megane!"
"Baka kinpatsu ga!"
"Hentikan kalian berdua!" Tegur Akashi.
"Kalian berdua membuatku kesal! Aku akan kembali ke gym!" Haruna berbalik dan berlari meninggalkan mereka.
"Haruna!" Akashi berusaha memanggil Haruna.
"Aku tidak percaya kau menyukai gadis seperti dia nodayo!" Midorima masih terlihat kesal.
"Dia adalah Haruna, dan karna itu aku menyukainya." Ucap Akashi.
"Aku tidak mengerti."
.
Latihan pun selesai dan semua anak kelas satu sedang membereskan lapangan. Haruko yang sudah selesai dari klub memasak pun datang ke gym untuk menunggu Haruna dan Akashi agar mereka bisa pulang bersama.
"Bagaimana latihan hari ini?" Tanya Haruko saat dia duduk di bench lapangan.
"Seperti biasa. Tapi mereka berkembang dengan cepat." Jawab Haruna.
"Ne.. ne! Apa kau dengan rumor itu?" Haruna dan Haruko mendengar beberapa manager berbincang.
"Iya, aku dengar! Mereka bilang saat klub basket selesai latihan dan sekolah sudah sepi, terdengar suara seseorang sedang bermain basket di gedung GYM sebelah, padahal sudah tidak ada siapapun di sana!"
"Wuuaahhh… kowai! Aku jadi takut saat membereskan barang-barang sendiri."
"Aku juga." Para manager itu membicarakan rumor yang sedang beredar. Setelah mendengar pembicaraan mereka, Haruna dan Haruko pun saling pandang.
"Ne Haruko… Hantu itu tidak ada kan ya?" Haruna sedikit tersenyum aneh dengan wajahnya yang memucat.
"Eheheheh… apa yang kau katakan Haruna? Tentu saja mereka tidak ada." Haruko juga memasang wajah yang sama dengan Haruna.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Akashi mengambil minuman.
"Ti-tidak… K-kami tidak sedang membicarakan soal hantu… benar kan Haruko?"
"Iya, Haruna benar."
"Haruna-san…" Panggil salah satu manager.
"Hai?" Haruna menoleh dan wajahnya kembali normal.
"Aku ingin minta tolong, bisakah kau membantu kami membawa handuk-handuk ini ke ruang laundry? Kami harus mencuci semua handuk hari ini."
"Eh?! Ru-ruang laundry?"
"Hum! Tolong ya, Haruna-san." Manager itu pun pergi meninggalkan Haruna.
"T-t-tunggu!" Haruna berdiri lalu menoleh ke arah Haruko dan Akashi. "Ruang laundry itu melewati gedung GYM sebelah kan?" Wajah Haruna kembali memucat. "Sei… temani aku…"
"Ruang laundry kan dekat, pergilah sendiri." Akashi berjalan menuju lapangan untuk membereskan beberapa peralatan.
"Ne… Haruko…"
"Aku akan membantumu, Seijuro-kun!" Haruko berlari menyusul Akashi.
"BAKA IMOUTO!" Haruna lalu menatap tumpukan handuk yang ada di dalam keranjang.
'Bagaimana ini? Ini kan sudah gelap, latihan sudah selesai dan beberapa anggota sudah pulang… Haahh… apakah aku harus membawa ini? Mereka sudah pergi duluan, dan aku harus pergi sendiri. Memang sih dekat, tapi ruangan itu melewati gedung GYM sebelah… bagaimana ini? bagaimana ini?'
Haruna menelan ludahnya lalu mengangkat keranjang itu perlahan. Dia pun memberanikan diri untuk berjalan menuju ruang laundry itu.
'Tidak ada apa-apa… tidak ada apa-apa… tenang Haruna, tidak ada apa-apa…'
Haruna sudah dekat dengan gedung GYM sebelah, lalu terdengar suara seseorang berlari sambil mendribble bola. Haruna pun langsung merinding.
'HIIHHHH! Apa itu?! Suara apa itu?!'
Dia berhenti sejenak dan mendengarnya sekali lagi.
'Suaranya memang seperti seseorang sedang bermain basket. Mungkin hanya anggota string kedua atau ketiga yang masih tinggal untuk latihan. Aku diberitau oleh Kantoku yang bertanggung jawab di string ketiga kalau ada anggota yang melakukan latihan tambahan.'
Haruna pun melangkah menuju pintu GYM yang sedikit terbuka.
"Pintunya tidak dikunci? Itu artinya masih ada orang di dalam kan?" Haruna membuka pintu itu lalu melangkah masuk.
'A-are? Ti-tidak ada siapapun? J-jangan-jangan…'
Haruna lalu keluar dari GYM dengan cepat lalu menutup pintu GYM dengan keras.
"Are? Yorisato-san?" Terdengar suara seseorang di sebelahnya.
"EH?! EH?!" Tubuh Haruna kaku seketika karna dia tidak melihat siapapun di sekitarnya. "KYYYYAAAAAAAA!" Haruna berteriak sangat keras. Orang-orang ada di GYM sebelah sampai bisa mendengar teriakan Haruna.
"Haruna!" Akashi pun panik dan berlari keluar untuk menyusul Haruna.
Sedangkan Haruna…
Setelah berteriak tadi dia menjatuhkan semua handuk yang dia bawa dan dia terbaring tak sadarkan diri di tanah.
"Are? Are? Yorisato-san?!" Orang yang memanggil Haruna tadi pun berencana ingin membantu Haruna, tapi dia mengurungkan niatnya karna mendengar suara Akashi.
"Haruna! Haruna!" Akashi berlari menghampiri Haruna. Setelah melihat Akashi, orang tadi bersembunyi agar Akashi tidak melihatnya. "Haruna! Apa yang terjadi?! Haruna!" Akashi berusaha membangunkan Haruna. Karna Haruna tidak bangun juga, Akashi akhirnya menggendong Haruna menuju GYM utama.
"Haruna!" Haruko dan yang lain menghampiri Akashi dan Haruna.
"Apa yang terjadi nodayo?" Tanya Midorima.
"Kenapa dia pingsan?!" Tanya Aomine.
"Siapkan matras!" Akashi meminta Haruko untuk menyiapkan matras.
"Hai!" Haruko segera menyiapkan matras untuk Haruna. Setelah itu Haruna dibaringkan di matras itu.
"Haruna! Haruna!" Akashi masih berusaha membangunkan Haruna. "Apa yang terjadi?!"
"J-jangan-jangan Haruna… dia bertemu dengan hantu itu!" Ucap Haruko.
"Jangan bercanda Haruko!" Akashi sedikit kesal.
"Aku tidak bercanda! Sudah banyak orang yang mengalaminya, gedung GYM sebelah ada hantunya!" Haruko juga kesal karna Akashi tidak percaya pada ucapannya. Lalu terdengar suara lenguhan dari Haruna. Mata Haruna pun terbuka perlahan.
"EH?!" Haruna terkejut dan langsung mendudukkan diri. "T-t-tadi… tadi aku… dia…" Haruna panik dan air matanya sudah menggenang.
"Tenang, Haruna. Sudah tidak ada apa-apa." Akashi berusaha menenangkan Haruna.
"T-t-tadi itu…" Tubuhnya gemetar dan dia langsung memeluk Akashi yang ada di sampingnya. "K-kowai…"
"Tenanglah. Sekarang sudah aman." Akashi mengusap kepala Haruna.
"Hantu apa yang dilihat oleh Haruna? Aku akan ke sana." Aomine berjalan menuju GYM sebelah sambil membawa bola basket.
"T-tunggu Aomine-kun!" Haruko berusaha menghentikan Aomine.
"Ada apa? Kau juga ingin ikut?" Aomine menoleh.
"T-tidak!"
"Ya sudah kalau begitu." Aomine pun melanjutkan perjalanannya. "Hantu? Jangan bercanda! Jika memang ada akan aku ajak dia one-on-one." Gumamnya sambil berjalan.
"Ciss…" Aomine membuka pintu GYM dan ternyata memang tidak ada orang padahal dia mendengar suara bola sebelum membuka pintu.
'ARE…?! Yang benar saja! Tadi aku mendengar ada orang yang sedang latihan tapi suaranya hilang setelah aku membuka pintunya! Jangan-jangan memang ada hantu di sini?!"
"Ano…" Terdengar suara seseorang.
"HHHUUUUUAAAAAAA!" Aomine pun berteriak ketakutan. Dia berjongkok dan menggumamkan sesuatu dengan air mata di matanya.
"Aomine-kun?" Tanya orang itu.
"Eh?" Aomine berdiri. "Kau?"
"Aku Kuroko Tetsuya, anggota string ketiga."
"Syukurlah bukan hantu." Aomine bernafas lega.
"Hantu?"
"Akhir-akhir aku dengar kalau ada hantu di sini, ternyata kau hantunya ya?" Aomine menggaruk kepalanya.
"Aku hanya melakukan latihan tambahan saja." Jawab Murid yang bernama Kuroko.
"Kau membuat semua orang takut. Apa kau yang membuat Haruna pingsan?"
"Ah… Apa dia baik-baik saja?"
"Ya. Sudah ada Akashi yang menemaninya, jadi dia baik-baik saja."
"Aku harus minta maaf padanya."
"Tapi kau hebat ya! Bahkan anggota string pertama tidak ada yang melakukannya." Ucap Aomine.
"Itu karna aku sangat menyukai basket dan aku ingin mengasah kemampuanku agar aku bisa naik string dan ikut dalam pertandingan." Jawab Kuroko.
"Heehh… begitu ya?" Aomine sedikit berpikir "Yosh! Sudah kuputuskan!"
"Eh?"
"Aku akan berlatih setiap hari denganmu di sini. Dan suatu hari nanti kita akan berdiri di lapangan yang sama."
"Kau yakin?"
"Baka! Tidak ada orang jahat yang menyukai basket!"
.
.
Keesokan harinya…
"Ano… Yorisato-san?" Kuroko memanggil Haruna.
"Hm?" Haruna menoleh. "HUAA!" Haruna sedikit terkejut. "A-ada apa?"
"Aku ingin minta maaf soal kejadian kemarin."
"Kejadian kemarin?"
"Aku sudah membuat Yorisato-san ketakutan dan pingsan."
"Haah?!" Haruna berpikir sejenak. "Jangan-jangan kau…"
"Aku Kuroko Tetsuya, anggota string ketiga. Aku melakukan latihan tambahan dan malah beredar rumor kalau di GYM ada hantunya. Aku sudah membuatmu ketakutan. Aku minta maaf." Kuroko membungkuk.
"Syukurlah!" Haruna bernafas lega. "Aomine sempat mengatakannya padaku, syukurlah kalau itu benar. Maaf sudah membuatmu khawatir, Kuroko-kun." Haruna tersenyum.
"Kau tidak marah padaku?"
"Marah? Untuk apa?"
"Aku kan sudah membuatmu pingsan…"
"Tidak apa-apa, aku malah lega karna kau bukan hantu." Haruna tertawa kecil.
"Arigatou gozaimasu, Yorisato-san."
"Panggil saja aku Haruna. Mulai sekarang kau adalah temanku." Haruna tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Kau yakin?"
"Um!" Haruna mengangguk.
"Baiklah, Haruna-chan." Kuroko menjabat tangan Haruna.
"Yoroshiku ne, Tetsuya."
.
.
.
"Maafkan aku, Haruna-chan. Sepertinya aku akan berhenti bermain." Ucap Kuroko tiba-tiba saat dia berada di kelas bersama Haruna dan Haruko.
"HAAH?!" Haruna berdiri dan menggebrak meja tanpa sadar dan menjadi pusat perhatian seluruh kelas. "Apa yang kau katakan?!"
"Kenapa Kuroko-kun ingin berhenti? Bukankah Kuroko-kun menyukai basket?" Tanya Haruko.
"Sepertinya basket terlalu mustahil untukku."
"Jangan bercanda Tetsuya! Kenapa kau tiba-tiba…"
"Hari ini ada test untuk naik string, jika aku gagal lagi aku akan berhenti."
"Tetsuya…" Haruna sangat terkejut dan mendudukkan dirinya. "Dengarkan aku, Tetsuya. Menyerah tidak akan memberimu apapun. Kau selalu berjuang dan kau sangat menyukai basket! Bagaimana bisa orang yang berlatih lebih dari yang lain menyerah begitu saja?!"
"Tapi aku tidak mempunyai bakat…"
"Berbakat atau tidak itu tidak penting! Selama ini aku selalu bersemangat karna melihatmu berusaha sekuat tenagamu, kau sudah seperti motivasiku, Tetsuya."
"Motivasi? Bukankah itu Akashi-kun?"
"K-kalau dia berbeda. D-dia kan sahabatku…" Ucap Haruna lirih sambil malu-malu. "P-pokoknya, kau harus mempertimbangkan kembali sebelum mengambil keputusan untuk berhenti. Jujur saja, aku tidak ingin kau berhenti bermain. Aku percaya kau bisa meraih tujuanmu, Tetsuya." Haruna tersenyum manis.
"Meraih tujuanku?"
"Hum! Tentu saja! Karna kau adalah Kuroko Tetsuya!" Senyuman Haruna membuat Kuroko tersenyum tipis.
.
Setelah selesai latihan dan semua sudah selesai membereskan lapangan, semua berkumpul untuk mencari Aomine yang sudah menghilang sejak tadi.
"Apa dia sudah pulang ya?" Gumam Haruna sambil berpikir.
"Tas Aomine masih ada, dia tidak mungkin meninggalkan tasnya. Apa lagi, dia meninggalkan majalah Mai-chan kesayangannya itu." Jawab Akashi.
"Apa dia masih berlatih di gedung sebelah ya?" Gumam Haruna.
"Gedung sebelah? Maksud Na-chin gedung berhantu itu?" Tanya Murasakibara.
"Gedung itu tidak berhantu!" Bantah Haruna.
"Kita cari saja di sana nodayo." Midorima menaikkan kacamatanya.
.
"Itu dia!" Haruna menunjuk Aomine lalu mereka menghampiri Aomine.
"Aomine! Ternyata kau ada di sini ya?" Ucap Akashi.
"Ya. Gedung yang biasanya terlalu ramai jadi aku berlatih berdua di sini." Jawab Aomine.
"Berdua?" Akashi dan yang lain mengedarkan pandangan dan sedikit terkejut saat melihat Kuroko.
"Tetsuya!" Ucap Haruna. "Bagaimana? Kau berhasil?" Haruna menghampiri Kuroko dan sempat membuat Akashi kesal.
"Aku… gagal lagi…" Jawab Kuroko lirih dan membuat Haruna sedikit kecewa.
"Siapa dia Haruna?" Tanya Akashi.
"Ah! Dia Kuroko Tetsuya, teman sekelasku dan anggota tim basket di string ketiga." Jawab Haruna. "Tetsuya, ini Akashi Seijuro."
"Doumo." Ucap keduanya.
"Tetsuya mengikuti test naik string hari ini dan…" Raut wajah Harna terlihat sedih.
"Sepertinya aku sedikit tertarik dengannya." Akashi sedikit menyeringai.
"Eh?"
"Maaf, tapi bisakah kita berbicara sebentar?" Tanya Akashi.
"Hai." Jawab Kuroko.
"K-kalau begitu, kami akan keluar. Ayo Minna." Haruna menarik tangan Aomine dan Murasakibara, sedangkan Midorima menyusul.
"Aku akan ganti pakaian dulu." Aomine berlari menuju ruang klub.
"Aku pulang duluan ya, Mido-chin, Na-chin." Murasakibara meninggalkan Midorima dan Haruna.
"Um! Sampai jumpa, Mura." Haruna melambaikan tangan pada Murasakibara. "Apa ya yang mereka bicarakan?" Gumam Haruna.
"Akashi juga mengatakannya padamu kan?" Tanya Midorima.
"Tentang?"
"Dia menginginkan anggota keenam yang bisa mengatur alur pertandingan nodayo."
"Soal itu ya? Dia memintaku mencarikan pemain seperti itu tapi aku belum menemukannya… tunggu! Jangan-jangan Tetsuya…"
"Kau juga memiliki pemikiran yang sama denganku nodayo. Tapi aku tidak mengerti kenapa Akashi memilih pemain seperti itu."
"Seijuro itu… memang sulit ditebak. Tapi aku mengerti apa yang ada di benaknya saat ini. Mungkin Tetsuya memang hanya pemain biasa, tapi Seijuro pasti melihat potensi lain dalam diri Tetsuya yang tidak kita sadari."
"Kau ini percaya sekali padanya nanodayo."
"Tentu saja! Aku kan selalu bersamanya sejak kecil dan akan selalu bersamanya!" Tanpa sadar Haruna mengucapkannya.
"Jika kau menyukainya, katakan saja. Dia juga sangat menyukaimu nodayo."
"A-a-a-apa yang kau katakan?!" Wajah Haruna memerah. Lalu pintu pun terbuka.
"Apakah dia anggota keenam yang kau inginkan?" Tanya Midorima.
"Kau mendengar semuanya ya?" Ucap Akashi lalu dia berjalan meninggalkan gym dan diikuti oleh Midorima dan Haruna.
"Apa menurutmu orang seperti dia akan berubah?" Tanya Midorima lagi.
"Apa maksdumu dengan orang seperti dia?!" Protes Haruna yang hanya dijawab helaan nafas Midorima.
"Entahlah…" Jawab Akashi. "Kemungkinan memang ada tapi meski aku sudah berbicara dengannya, aku tidak menganggapnya teman. Aku tidak harus melakukan ini dan itu." Ucap Akashi bernada dingin dan dengan ekspresi yang menyeramkan. "Aku hanya mengulurkan tali padanya. Apakah dia bisa memanjatnya atau tidak, tergantung padanya." Midorima dan Haruna terkejut melihat perubahan sikap Akashi.
'Kenapa? Dia tidak seperti dia yang biasanya. Tidak! Itu seperti bukan Seijuro. Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak nyaman begini ya?'
Haruna berhenti dan menatap Akashi.
"Ada apa Haruna?" Akashi berbalik.
"A-ahh! T-tidak ada…" Haruna memasang senyum palsu.
"Senyum palsumu sedikit menggangguku." Ucap Akashi.
"Eh? G-gomen…" Haruna menunduk.
"Ada apa?" Akashi menghampiri Haruna dan mengusap kepalanya. "Kau lelah? Kita akan pulang, jadi sabar sedikit ya." Akashi tersenyum lembut.
"Um." Haruna mengangguk dan hatinya pun lega saat melihat senyuman Akashi.
.
"Terima kasih sudah mengantarku, Seijuro, Midorima." Haruna tersenyum.
"Istirahatlah. Sampai jumpa." Akashi kembali tersenyum.
"Um. Sampai juma." Haruna melambaikan tangannya pada Akashi dan Midorima yang berjalan meninggalkan Haruna.
.
.
Keesokan harinya, Kuroko menghampiri Haruna yang sedang makan di kantin bersama calon Kiseki no Sedai.
"Haruna-chan, bisakah kita bicara sebentar?" Tanya Kuroko.
"Hmm? Tentang apa? Jika tentang basket aku sedang tidak mood." Ucap Haruna sambil mengunyah makan siangnya.
"Mattaku kau ini putri keluarga terhormat tapi kelakuanmu sama sekali tidak tidak terhormat nodayo!" Tegur Midorima.
"Urusai yo megane!"
"Kau ini!" Muncul siku di wajah Midorima.
"Baiklah. Kalau begitu, akan aku bicarakan nanti. Ini sangat penting jadi aku harus katakan padamu hari ini." Ucap Kuroko.
"Wakatta." Ucap Haruna lalu Kuroko meninggalkan mereka semua.
"Pudding coklatmu kelihatan enak ya, Haruna. Akan aku ambil…" Tiba-tiba Haizaki muncul di samping Haruna dan tangannya menjulur hendak mengambil pudding coklat milik Haruna. Seketika tangan Haruna menggenggam pergelangan tangan Haizaki dengan cepat dan kuat saat tangan Haizaki hampir menyentuh pudingnya. Aura kelam yang menyeramkan muncul di sekitar Haruna.
"Oi teme! Jika kau berani menyentuh pudding coklat kesukaanku, aku akan menambah porsi latihanmu hingga kau mati di lapangan." Ucap Haruna dengan suara berat dan menyeramkan.
"Sumimasen, Haruna-san." Ucap Haizaki sedikit kesal lalu meninggalkan mereka semua.
"Jangan mengancam yang tidak-tidak, Haruna." Tegur Akashi.
"Heehh? Memang kenapa? Meski aku bilang begitu, aku tidak akan benar-benar melakukannya!" Jawab Haruna.
"Kau ini." Akashi menghela nafas.
"Na-chin, jika kau tidak memakan telurmu, boleh aku memakannya?" Tanya Murasakibara.
"Um! Ini, ambilah." Haruna memberikan telur rebus miliknya pada Murasakibara sambil tersenyum.
"Kau pilih kasih sekali ya, Haruna." Ucap Aomine.
"Datte… Haizaki berusaha mengambil makanan kesukaanku, sedangkan Mura meminta makanan yang tidak begitu aku sukai." Jawab Haruna.
"Aku sudah selesai, aku akan kembali ke kelas nodayo. Bersama makhluk pirang ini membuatku kesal." Ucap Midorima.
"Nanda yo baka megane?! Cepat pergi sana!" Haruna juga ikut kesal.
"Kalian berdua selalu saja bertengkar! Midorima, kau harusnya mengalah pada seorang gadis! Haruna, kau seharusnya lebih menghargai laki-laki." Tegur Akashi.
"Untuk apa mengalah pada gadis seperti dia/untuk apa menghargai laki-laki seperti dia?!" Ucap Haruna dan Midorima bersamaan.
"Pppffttt… kalian kompak!" Ledek Aomine.
"URUSAI YO AHOMINE!" Ucap Haruna dan Midorima bersamaan lagi.
"Siapa yang Ahomine?!" Protes Aomine.
"Sudahlah! Aku pergi saja!" Midorima pun pergi meninggalkan mereka.
"Seharusnya dia lakukan itu sejak tadi! Koke atama!" Haruna berdiri. "Aku harus kembali. Tetsuya ingin membicarakan sesuatu padaku. Aku rasa itu tentang saran Seijuro kemarin."
"Baiklah. Kita juga harus kembali ke kelas." Ucap Akashi.
.
"Tetsuya… are? Kemana dia?" Haruna mencari Kuroko di kelas tapi dia tidak melihatnya.
"Haruna-chan?"
"HUUAAA!" Haruna terkejut. "Tetsuya!"
"Bisa kita bicara sekarang?" Tanya Kuroko datar.
"Baiklah." Haruna berjalan menuju bangkunya, dan Kuroko mengikutinya. "Katakan." Haruna duduk di bangkunya, dan Kuroko duduk di depan Haruna dengan menghadap Haruna.
"Kemarin, Akashi-kun bilang padaku kalau aku bisa memanfaatkan hawa keberadaanku yang tipis, aku akan menjadi pemain yang sangat hebat. Lalu aku bicara pada Aomine-kun dan aku berpikir untuk mengembangkan pass karna sejak awal memang aku tidak pandai menembak. Kalau Haruna-chan bagaimana?"
"Hmmm… pass kah? Mungkin yang dikatakan Seijuro benar. Jika kau menggunakan kekuranganmu itu di lapangan, mungkin kau akan menjadi pemain yang hebat. Tapi bagaimana ya?" Haruna berpikir cukup lama. "Jika kau bisa melakukan pass yang menghilang mungkin hebat."
"Aku bertanya serius, Haruna-chan."
"Eheheh gomen. Tapi aku benar-benar tidak mengerti! Otak Seijuro itu berada di level yang jauh berbeda denganku, tapi kau memang punya potensi."
"Pass yang menghilang kah?" Kuroko berpikir. "Arigatou gozaimasu, Haruna-chan."
"Haah?" Haruna hanya bisa bingung dengan kata terima kasih dari Kuroko.
.
Sepulang latihan, calon Kiseki no Sedai tidak sengaja berkumpul di gerbang sekolah.
"Are? Kalian semua ada di sini?" Tanya Haruna.
"Kebetulan sekali ya!" Ucap Aomine senang.
"Ah! Karna semua ada di sini, bagaimana kalau kita mampir ke konbini dan makan es krim bersama?" Haruna terlihat antusias.
"Itu ide yang bagus, Na-chin!" Murasakibara juga terlihat antusias.
"Haruko-chan juga harus ikut!" Momoi menarik tangan Haruko.
"Eh? Apa boleh?" Tanya Haruko.
"Tentu saja!" Jawab Momoi sambil tersenyum.
"Sesekali makan es krim tidak buruk." Ucap Akashi.
"Yosh! Ayo kita berangkat!" Haruna mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum. Dan mereka pun pergi bersama untuk makan es krim.
"Seijuro pulang terlambat tidak apa-apa kan?" Tanya Haruna saat mereka dalam perjalanan.
"Jika bersamamu, tidak masalah." Akashi tersenyum.
"Tentu saja! Jika Masaomi-san tau kau bersamaku, dia tidak akan marah." Wajah Haruna sedikit merona.
"Kau manis sekali, Haruna. Aku sangat menyukaimu." Akashi mengusap kepala Haruna.
"Heeh? a-a-apa yang…" Wajah Haruna memerah dan dia tidak bisa berkata-kata.
"Haaaahh… Seijuro-kun dan Haruna selalu saja berduaan, bahkan saat semua sedang bersama-sama." Haruko menggoda Akashi dan Haruna.
"Urusai yo Haruko!" Haruna memalingkan wajahnya.
"Kau sendiri terlalu asik dengan teman-temanmu sampai tidak ada laki-laki yang kau sukai. Sesekali cobalah untuk menyukai anak laki-laki." Akashi berbalik menggoda Haruko.
"N-nani yo?!" Haruko ikut malu.
"Ahahahaha Haruko-chan dan Haruna-chan benar-benar manis jika sedang malu!" Momoi tertawa.
"Haruko memang terlihat manis tapi Haruna sama sekali tidak terlihat manis nodayo!" Protes Midorima.
"Nandato?! Koke atama!" Haruna kesal.
"Hmph!" Midorima hanya memalingkan wajahnya sambil menaikkan kacamatanya.
"KAAUUU!" Muncul tiga siku di wajah Haruna. "Pulang saja sana! Aku tidak rela jika kau ikut bersama kami dasar lumut!"
"Aku ikut karna berpikir itu bukan ide yang buruk nanodayo! Jangan kau pikir aku ikut karna aku mengikuti perkataanmu!"
"Itu sama saja, tsundere megane!"
"Itu alasan yang berbeda nodayo! Dan jangan menyebutku tsundere kalau kau sendiri juga tsundere!"
"HAAHHH?! Aku bukan tsundere!"
"Kau tsundere!"
"Bukan! Itu kau!"
"Kau!"
"Kau!"
"Haahh… mereka berdua ini selalu saja bertengkar." Haruko menepuk jidatnya.
.
.
.
TBC
Akhirnyaaa Hana bisa update lagii :D
Maafkan Hana yang update begitu lama, Hana sudah berusaha semaksimal mungkin supaya bisa update hari ini :D
Saatnya balas review :
Neca-san : Ini sudah update :D maaf ya kalo lama
Rara-san : terima kasih banyak ucapan selamatnya :D Hana bakal usahain next chapter update cepat
ShiroiAn-san : sabar yah, beberapa chapter kedepan isinya flashback pas di Teiko :D dan maaf sekali kalau Hana updatenya lama, Hana usahakan update cepat kok
Yuuki-san : Kalau itu masih rahasia :p kalau pengen tau ikuti terus fic ini sampai selesai ya :D
Fallyn-san : Iyaa bener banget! Beberapa chapter kedepan emang isinya flashback Teiko dan kayaknya emang bakal panjang, sabar dulu ya :D
Yosh! Sampai jumpa di chapter berikutnya :D bye bye
