duh, saya padahal udah nggak sibuk tapi heran kenapa masih nggak bisa nulis.
nih, saya cuma nulis segini, masa? saya sedih :"(
udah banyak draft tapi nggak kelar-kelar. maafin saya kalau nanti saya bakal lama ngupdate NAMJINPEDIAnya ya?

hai, vktt10~ kamu bisaan aja deh, bikin saya malu aja. hehe
saya suka VMin kok, as brother tapi kalau kamu tanya suka mereka sebagai apa.
VMin tuh kayak partner in crime banget gitu. saya fnas beratnya 95line sih.

saya ini rada kuno sih kalau urusan OTP sebenernya. kalau saya percayanya si ini sama si anu, saya biasanya nggak suka di ganti-ganti couplenya
si ini tuh seme, si ini tuh uke, jangan diganti. tuh kuno banget, kan? keliatan banget kan tuanya, hahaha
tapi kayak yang saya bilang dulu, BTS tu pairingnya bisaan aja digimanain juga oke, kecuali NamJin ya, teteup. wkwkwk
jadi sekuno-kunonya saya sama urusan OTP, saya mah terima-terima aja sama OTP yang lain. nggak yang ngerusuhin OTP orang juga kok.
kalau kata temen saya, untukku OTPku, untukmu OTPmu, gitu. hehe

udah ah, langsung saja. maaf banget ini sedikit banget ceritanya.
ditunggu aja cerita lainnya, ya, luv!


"Namjoon... gwenchana?"

"Namjoon hyung, gwenchana?"

saat pertama kali matanya terbuka, hal yang pertama menyapa Namjoon adalah sosok Jimin, Taehyung dan Jungkook yang menatapnya dengan cemas. Namjoon memperhatikan sekelilingnya, dia sudah tidak di rumah sakit lagi. ini di dorm mereka, sebab ketiga adik bungsunya sudah memakai baju tidur mereka dan terlihat seperti habis mandi. sebab kaamar rumah sakit tak mungkin penuh Mario figure seperti ini.

"aku baik-baik saja," jawab Namjoon, pelan. kepalanya masih terasa pening. "apa semuanya berjalan lancar sampai akhir?" tanyanya.

ketiganya mengangguk bersamaan. "apa kau dengar ARMY berteriak menyebut-nyebut namamu, hyung?" tanya Taehyung.

Namjoon mengangguk saja. dia dengar itu saat dia akan di bawa ke rumah sakit.

"tidak apa-apa, hyung. kami sudah menyelesaikannya dengan baik. kau tidak perlu merasa bersalah," kata Jimin.

Namjoon menghela nafas. "berapa lama aku tidur?" tanyanya.

"sekarang sudah pukul dua pagi," jawab Jungkook.

Namjoon menatap ketiganya, lalu tersenyum kecil. "kalian belum tidur? tidurlah, kalian pasti lelah," katanya.

"sebentar lagi, hyung. Jin hyung sedang membuatkan bubur untukmu, kau belum makan, kan?" kata Jimin.

tepat setelah Jimin berkata seperti itu, pintu kamar itu terbuka. menampakkan sosok Hoseok dan Jin yang membawa nampan makanan.

"yah, kalian keluarlah. biarkan Namjoon beristirahat," kata Hoseok.

Jimin, Taehyung dan Jungkook mengangguk bersamaan. "lekas sembuh, hyung," gumam Jimin dan Jungkook.

"lekas sembuh, appa," kata Taehyung sambil tersenyum lebar, memamerkan senyum kotak kebanggannya.

Namjoon hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Taehyung. dia sempat mengangguk pada Hoseok yang melambaikan tangan padanya sebelum menutup pintu.

Jin meletakkan nampan makanan di atas meja nakas. sesekali terdengar helaan nafasnya, lembut.

Namjoon menatap lelaki yang wajahnya terlihat lelah itu dalam diam. dia tahu, kali ini wajah itu terlihat jauh lebih lelah dari biasanya karena ulahnya.

"makan dulu, Namjoon-ah. setelah itu kau bisa tidur lagi," kata Jin, lembut.

Namjoon mengangguk. duduk dia dari tidurnya lalu perlahan menyandarkan tubuhnya pada kepala tempat tidur. "Jin, aku baik-baik saja," katanya.

Jin mengambil duduk ditepian tempat tidur, di dekat Namjoon. ditatapnya lelaki itu. diulurkannya tangannya pada kening Namjoon, memastikan suhu tubuh leader kesayangannya itu benar-benar tak panas lagi. "kau membuatku khawatir, Namjoon. kau membuat kami khawatir. lagi," katanya. Jin meraih mangkuk yang berisi bubur.

"maafkan aku," kata Namjoon.

Jin menyuapkan sendokan pertama pada Namjoon. "selama kau baik-baik saja, Namjoon," sahutnya.

Namjoon tersenyum. Jin, kekasihnya itu, selalu seperti ini. seberapa marah pun Jin pada Namjoon yang tidak pernah memperhatikan tubuhnya sendiri, dia akan selalu berkata seperti itu. selama Namjoon baik-baik saja, maka Jin tidak akan marah berlama-lama. Jin berkali-kali mengatakan pada Namjoon betapa lelahnya dia mengkhawatirkan Namjoon yang selalu saja sakit dan cidera. Namjoon tahu Jin tidak sungguh-sungguh lelah, Jin itu menyayanginya setengah mati, Namjoon tahu. kekasihnya itu hanya terlalu khawatir, itu saja.

dan Namjoon senang melihat Jin sebegitu mengkhawatirkannya.

"berhentilah memaksakan dirimu, Namjoon. tubuhmu butuh istirahat. jika kau tidak menyayangi dirimu sendiri, siapa yang akan melakukannya," kata Jin.

"kau," sahut Namjoon. Jin lalu menatapnya, Namjoon tersenyum. "kau akan menyayangiku, kan?"

Jin menghela nafas. disuapkannya satu sendok bubur terakhir pada Namjoon. "pabboya," gumam Jin.

Namjoon tersenyum saja. "kemarilah," perintahnya.

Jin menatapnya lagi sebelum berpindah duduk disamping kekasihnya itu. Namjoon meraih tubuh Jin untuk bersandar pada dada lebarnya. "Namjoon..."

"aku tidak akan melakukannya lagi. aku berjanji," kata Namjoon.

Jin menghela nafas. dipeluknya pinggang Namjoon, disandarkannya kepalanya nyaman pada dada kekasihnya itu. "jangan membuatku khawatir lagi, Namjoon. jangan membuat kami khawatir lagi. jangan membuat ARMY khawatir lagi."

Namjoon mengecup pucuk kepala Jin lembut. "aku tidak akan membuat kalian khawatir lagi. maafkan aku."

Jin mengangguk, seperti selalu. dia akan selalu percaya setiap kali Namjoon berkata seperti itu meski dia tahu, hal seperti ini bisa saja terulang lagi. sebab Namjoon butuh kepercayaan darinya. "istirahatlah, Namjoon-ah," katanya.

"kau akan di sini bersamaku, kan?" tanya Namjoon.

Jin melepaskan pelukannya pada Namjoon. dikecupnya bibir lelaki itu sebelum mengangguk lagi. "aku sudah meminta Yoongi untuk pindah tidur malam ini. aku akan menemanimu."

"lalu dia tidur dimana?" tanya Namjoon, perlahan dia membaringkan tubuhnya lagi. dipeluknya tubuh Jin yang ikut berbaring disampingnya.

"bersama Jimin," jawab Jin.

"oh, aku harap mereka benar-benar beristirahat," kata Namjoon.

Jin tertawa pelan. "mereka kelelahan, Namjoon. kau tenang saja."

Namjoon menjawabnya dengan gumaman. "selamat malam, Jin. aku mencintaimu." bisiknya. dikecupnya leher Jin lembut.

Jin tersenyum. "hn, selamat malam, Namjoon. aku pun mencintaimu."