.
Chapter 26 – Day of Promise
.
Sebuah ruangan dengan semburat merah tua bercampur keunguan yang berasal dari cat dinding di ruangan itu. Di balik tirai penghalang kamar mandi, terlihat siluet tubuh seksi Yohime yang baru keluar dari bak mandinya. Yohime membuka tirai kamar mandinya dan berjalan melewati Hakuya yang bersandar di samping kamar mandinya, menuju Ji Min yang menunggu di dekat lemari baju yang ada di samping ranjangnya dengan hanya mengenakan handuk yang melilit bawah pusar dan dadanya.
Tentu saja tak satupun dari mereka yang bicara atau protes soal ini, Hakuya tak bisa melihatnya meski ia telanjang bulat jadi tak masalah baginya keluar dari kamar mandi dengan santainya. Saat mengeringkan rambut Yohime, Ji Min melihat tanda lahir di punggung Yohime dimana terdapat tanda empat ekor naga dengan warna yang berbeda.
Putih
Biru
Hijau
Kuning
Ke-4 naga itu mengelilingi tanda naga perak dan harimau yang berada di kedua sisi burung Suzaku yang berada di tengah.
Setelah Yohime memakai bajunya selagi Ji Min membantu menata rambutnya, Hakuya dan Ji Min beranjak setelah Yohime siap. Hari ini Yohime dan Yona berulang tahun yang ke-16 tahun dan mereka berdua harus menghadiri perjamuan untuk perayaan ulang tahun mereka berdua.
Yohime terlihat anggun dan dewasa dengan kimono pink keunguan bermotif Sakura dengan Haori yang sama dengan Yona, rambutnya yang lurus dikepang satu ke depan dari bagian leher ke bawah sementara setengahnya ia biarkan lurus dengan jepit rambut moonlight flower. Raja Il bahkan menangis sehingga Yohime tertawa dan menyodorkan sapu tangannya. Mengenai apa yang terjadi di antara mereka berdua semalam, baik Hakuya maupun Yohime bisa bersikap seolah tak terjadi apapun.
Dengan alasan kalau ia merasa kurang sehat, Yohime lebih dulu kembali ke kamarnya bersama Hakuya dan Ji Min. Setelah Yohime mengganti bajunya, Ji Min menyerahkan sebuah dokumen pada Yohime.
"sesuai kecurigaan anda, Yohime-sama... Kan Soo Jin Shogun merencanakan pemberontakan".
Ji Min merupakan agen ganda di kastil Hiryuu, ia tak hanya berperan sebagai asisten dokter istana dan perawat pribadi Yohime, tapi dia juga menjadi mata-mata Yohime untuk mencari informasi. Ji Min memberikan laporan pada Yohime bahwa ia menyusup sebagai dayang ke kastil Saika dan mendapat informasi bahwa Kan Soo Jin kerap melakukan pertemuan rahasia di daerah perbatasan. Setelah ia menyamar sebagai pedagang, ia mengetahui bahwa Li Hazara kerap datang ke Kouka dan menemui Kan Soo Jin. Ji Min mulai menyelidiki itu semua setelah Yohime memintanya menjadi agen ganda, karena Yohime curiga melihat gerak-gerik Kan Soo Jin ditambah keanehan yang ia temukan dari laporan keuangan suku api.
"ayahanda memang orang yang sangat baik dan itu tak salah, tapi kebaikannya disalahgunakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya".
"saya sudah memasukkan Kan Soo Jin dalam daftar orang-orang yang mencurigakan yang akan anda periksa begitu anda diberi kuasa penuh oleh raja Il, tapi apa Li Hazara perlu dimasukkan dalam daftar hitam?" tanya Ji Min.
"masukkan saja dia dalam daftar orang yang harus diwaspadai, sebab kita tak bisa seenaknya mengusik petinggi dari kerajaan lain kecuali jika ia mengambil tindakan kriminal serius yang bisa membuat kita bisa meminta kepalanya seperti jika ia membantu Kan Soo Jin melakukan pemberontakan".
"apa yang harus kita lakukan jika itu terjadi?" tanya Hakuya.
"tanyakan apa yang membuatnya melakukan pemberontakan, jika ternyata ia lakukan ini hanya karena ambisi pribadi semata dan membahayakan kerajaan Kouka, sebelum ia mengambil alih kerajaan Kouka, maka jangan ragu..." ujar Yohime menatap keluar jendela sebelum beralih menatap Hakuya dan Ji Min dengan sorot mata yang tajam "bunuh dia".
"sesuai keinginan anda, Hime-sama" ujar Hakuya dan Ji Min berlutut di hadapan Yohime.
Saat Yohime mengizinkan mereka berdua pergi, setelah Ji Min keluar dari kamarnya, Hakuya diam di tempatnya.
"ada apa? wajahmu seolah ingin bertanya sesuatu padaku".
"apa kau akan terus menyembunyikan kebenaran itu dari Yona-sama?".
Yohime melipat tangan dan berbalik, mendongak menatap Hakuya "...aku sudah berjanji pada mendiang ibunda untuk melindungi adikku, apa kau ingin memprotes caraku melindunginya?".
"bukan hanya kau yang punya janji untuk melindungi adikmu, karena itulah aku mengerti apa yang kau rasakan" ujar Hakuya menghela napas sambil menutup mata, membuka matanya dan menatap Yohime "tapi aku juga punya janji untuk melindungimu... menurutmu, apa kau benar-benar bisa menyembunyikan kebenaran itu selamanya dari Yona-sama? cepat atau lambat, Yona-sama akan mengetahui kebenarannya jika ia menjadi ratu dan melihat kebenaran yang disembunyikan oleh keluarga kerajaan... di atas segalanya, dia adik kandungmu, adik kembar yang satu rahim denganmu, dia juga berhak mengetahui kebenarannya".
"simpan semua saran dan nasehatmu, kau mungkin benar tapi aku tak peduli, karena aku takkan mendengarkanmu saat ini..." ujar Yohime memiringkan kepala sambil menatap sinis Hakuya "apa kau pantas bicara begitu padaku di saat kau juga melakukan hal yang sama denganku? Kata-kata yang kau ucapkan barusan, memang kau tujukan padaku atau sebenarnya ingin kau tujukan pada dirimu sendiri?".
Melihat Hakuya terdiam sambil memalingkan wajahnya, Yohime menundukkan kepala sambil menutup mata sesaat, menghela napas sebelum memegang kedua bahu Hakuya, menyandarkan Hakuya ke dinding. Yohime memeluk Hakuya erat, sorot matanya terlihat begitu tenang dan dalam. Saat ia menempelkan telinganya ke dada Hakuya, terdengar jelas detak jantung Hakuya dan terasa kehangatannya seperti biasa.
"maafkan aku...".
"untuk apa?".
"meski kau melukaiku, tak seharusnya aku menyinggung luka lamamu...".
Hakuya sengaja melukai Yohime semalam agar Yohime menjauh darinya sebab ia sendiri tak sanggup melakukannya, karena itu ia menerima perlakuan Yohime yang dingin dan tajam tapi Yohime tetap berada di sampingnya dan memeluknya, sehingga Hakuya balas memeluknya.
"seharusnya akulah yang minta maaf...".
Yohime menggelengkan kepala, mendongak dan tersenyum "pada akhirnya, aku tak bisa marah padamu dalam waktu yang lama".
Hakuya menghela napas dan menyandarkan wajahnya ke bahu Yohime "aku tak pernah bisa menang berdebat darimu".
"Hakuya, menurutmu kenapa seseorang mengkhianati orang lain?".
"aku tak tahu apa alasan orang-orang saling membenci dan mengkhianati tapi aku akan selalu berusaha menepati janjiku padamu... aku tidak akan mengkhianatimu" ujar Hakuya membuka kain yang membungkus sebuah belati di hadapan Yohime, menyodorkan belati itu ke hadapan Yohime "tapi jika kau merasa aku mengkhianatimu, jangan ragu... kau boleh menusukku atau membunuhku".
"kenapa kau bisa memintaku melakukan hal itu?".
"karena aku tak keberatan mati di tanganmu" ujar Hakuya memegang wajah Yohime "Ji Min memberitahuku, katanya kau mimpi buruk lagi?".
"bukan mimpi yang biasa... ini lebih mengerikan..." ujar Yohime memberitahu apa yang dia lihat dalam mimpinya, dimana ia melihat Hakuya menghilang dari hadapannya tiba-tiba. Saat ia menemukan Hakuya, Hakuya tergeletak berlumuran darah dalam keadaan dirantai. Di tengah kegelapan, sebelum ia menangis sambil memeluk erat Hakuya, ia melihat dengan jelas darah segar mengucur dari mulut, kepala, serta beberapa luka tebasan di tubuhnya.
"tak peduli berapa kali aku memanggil namamu dan berusaha membangunkanmu... kau sama sekali tak meresponku..." ujar Yohime menundukkan kepala.
Yohime terkejut saat Hakuya memeluknya. Seperti biasa, sambil menyeka air mata Yohime, Hakuya mengadu dahi sambil menutup mata, menenangkan Yohime "tenanglah, Hime... itu semua hanya mimpi, aku masih ada disini...".
Yohime menyeka air matanya, melingkarkan kedua tangannya memeluk Hakuya erat sambil bersandar di pelukan Hakuya "...kau takkan mati, kan?".
Hakuya tersenyum, menyelipkan jari tangannya ke sela jari Yohime "aku takkan mati... aku hanya akan mati jika kau mati...".
"berjanjilah padaku, Hakuya... siapapun di antara kita berdua yang bertahan hidup lebih lama, tak boleh menyusul yang mati lebih dulu dan harus tetap hidup apapun yang terjadi selama masih ada orang yang harus ia lindungi dan ia sayangi demi yang mati lebih dulu..." ujar Yohime memegang pipi Hakuya dan menutup mata perlahan "sampai tiba saatnya dimana kita bisa mendapat kebebasan kita berdua, tetaplah di sampingku... sampai kematian memisahkan kita...".
Hakuya menutup matanya perlahan "sesuai keinginanmu, Hime-sama".
Setelah Hakuya yang melarikan diri dari kamar raja Il sambil membopong Yohime dan tertusuk panah di punggungnya, Yohime mencabut anak panah yang menancap di punggungnya. Saat mereka berada di belokan menuju gerbang belakang kastil Hiryuu, salah satu prajurit yang ada di dekat situ mengarahkan tombaknya ke arah Yohime.
Saat Hakuya membentengi Yohime, Yohime terbelalak melihat tombak itu menembus tengah tubuh Hakuya "HAKUYA?!".
"Hime-sama, tiarap!?".
Saat Yohime mendekap Hakuya dan tiarap sesuai instruksi barusan, jarum menancap ke dahi prajurit yang roboh seketika itu.
Yohime menoleh ke belakang dan melihat orang yang memanah barusan "Ji Min?!".
Terdengar suara seseorang yang batuk di sebelahnya dan ia menemukan Hakuya muntah darah sehingga Yohime yang panik memegangi bahu Hakuya dengan mata berkaca-kaca "Hakuya!? Bertahanlah!?".
"hanya tergores..." sahut Hakuya memegangi lengan Yohime.
"dasar sembrono, ini namanya bukan tergores lagi!?" ujar Ji Min menahan pendarahan di tubuh Hakuya, namun menyadari suara prajurit lain mendekat, ia menarik tangan Yohime "ayo, cepat kemari?!".
Sambil bersembunyi di balik semak, setelah menjahit luka di tubuh Hakuya, Ji Min meminta Hakuya membawa Yohime kabur dari kastil. Ji Min sendiri akan tetap tinggal di kastil Hiryuu untuk sementara, ia meyakinkan Hakuya dan Yohime bahwa ia takkan dibunuh karena ia masih diperlukan oleh dokter istana. Saat seorang prajurit memergoki mereka, Hakuya menebas leher prajurit itu dan saat itulah Joo Doh memergoki mereka bertiga.
Joo Doh menyampaikan satu tawaran untuk Yohime jika Yohime ingin nyawanya dan Yona selamat, para pelayan yang berpihak padanya seperti Min Soo dan Ji Min juga akan dibiarkan hidup. Yohime harus menikah dengan Soo Won, sebagai gantinya Yona akan dibiarkan tetap hidup sedangkan Hakuya dan Haku akan dihukum dengan tuduhan menghabisi nyawa raja Il. Tentu saja hanya satu jawaban yang diberikan Yohime, Yohime menolaknya; ia lebih memilih memotong urat nadi lehernya sendiri jika ia sampai membiarkan Yona, Hakuya atau Haku mati.
"takkan kubiarkan itu terjadi" ujar Hakuya melingkarkan lengannya ke pinggul Yohime dan menebas Joo Doh sebelum berlari sambil menenteng Yohime, berlawanan arah dengan Ji Min yang lari ke arah lain setelah keduanya memutuskan berpencar.
"apa yang kau pikirkan? bisa-bisanya menentengku dalam keadaan terluka?!" protes Yohime yang dipanggul di bahu.
"tenang saja, kau itu ringan sekali, sampai kukira ada sayap yang tumbuh di punggungmu" ujar Hakuya, benar, ia merasa pusing dan lukanya terasa sakit, namun tak ia pedulikan karena yang penting saat ini baginya adalah keselamatan Yohime.
Betapa leganya Hakuya dan Yohime melihat adik mereka berdua selamat, tapi masalah belum selesai.
Di tengah jalan saat kabur, Hakuya menyadari ada yang mengikuti mereka sehingga ia meminta Haku untuk mengambil jalan yang berbeda dengannya sambil membawa Yohime bersamanya. Yona saat itu dalam kondisi yang tak bisa ditinggalkan, dan Yohime yang berusaha tetap tegar demi adiknya terpaksa mengikuti kemauan Hakuya, ikut bersama Haku demi melindungi Yona. Sebelum berpisah, Yohime memisahkan liontin Jade berukiran Suzaku dan naga yang ia dapat dari raja Il, liontin pengantin yang diserahkan pada mereka. Setelah menyematkan liontin Jade berukiran naga di leher Hakuya, Yohime mengecup bekas luka di pelupuk mata kanan Hakuya. Terakhir kalinya, sebelum ia pergi bersama Haku dan Yona, Yohime berbalik menatap Hakuya dengan mata berkaca-kaca dan menempelkan telapak tangan kanannya ke dadanya "kau harus kembali padaku, Hakuya?! Harus?!".
Hakuya hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
Saat Yohime, Yona dan Haku sudah tak terlihat, Hakuya tersenyum lega "maafkan aku... tapi aku tak ingin kalian ada di dekatku saat ini... karena aku tak ingin kalian melihatku dengan kondisi seperti ini...".
Hawa membunuh membuncah keluar dari tubuh Hakuya yang memancarkan sorot mata penuh nafsu membunuh saat senyumannya memudar, ia melirik ke belakang "keluar dari sana... aku sudah sengaja tinggal disini hanya untuk menahanmu, Shogun suku Langit, Han Joo Doh".
Dari balik semak, muncul Joo Doh yang memakai penutup wajah bersama para pasukannya, ia melihat sekeliling dan menyadari hanya Hakuya seorang yang berada di tempat ini.
"mana tiga orang yang seharusnya bersamamu?".
"kau pikir aku akan memberitahumu?".
"benar juga, itu pertanyaan bodoh..." ujar Joo Doh menundukkan kepala dan menghela napas sebelum menyuruh para pasukannya menangkap Hakuya.
Saat semua pasukannya dan dia sendiri berhasil dikalahkan Hakuya seorang, Joo Doh tersudut.
"aku bisa membunuhmu dengan mudah, tapi kau kubiarkan karena kau yang menjaga Yohime-sama sebelum aku menjadi pengawalnya. Kau yang juga pernah menjaganya seharusnya tahu bahwa selain Soo Won, masih ada satu orang lagi yang sanggup menjadi pemimpin untuk membuat kerajaan Kouka yang tinggal menunggu waktu kehancurannya tiba kembali menjadi kerajaan yang kuat" ujar Hakuya mengarahkan Guan Dao ke leher Joo Doh.
"kau benar, Yohime-sama memang sanggup menjadi ratu tapi sayangnya beliau tak memiliki waktu yang cukup. Itu sebabnya Soo Won-sama mempersuntingnya agar beliau bisa menjadi raja juga karena beliau membutuhkan Yohime-sama sebagai ratu".
"membuat Yohime-sama menjadi ratu dengan dia sebagai raja setelah dia membunuh Raja Il? Bagaimana bisa dia membunuh raja Il, ayah dari wanita yang ia persunting? jika Soo Won memang benar-benar mencintai Yohime, kenapa dia bisa membunuh raja Il?".
"tanyakan itu sendiri pada beliau nanti" ujar Joo Doh menjentikkan jarinya.
Pasukan bantuan tiba. Meski para prajurit pengejar dari kastil Hiryuu berhasil dikalahkan oleh Hakuya seorang pada awalnya, pada akhirnya Hakuya tertangkap. Setelah para prajurit kastil Hiryuu menahannya, menancapkan tombak mereka di sekitarnya sementara beberapa di antara mereka menahan tubuh Hakuya sambil mengikatnya, mereka membawa Hakuya ke kastil tapi saat Hakuya menyadari Soo Won berada di dekatnya, ia memutuskan tali yang mengikatnya dan berlari ke arah Soo Won dengan satu tujuan.
Untuk membunuhnya.
Sebelum Hakuya sempat menancapkan taringnya pada Soo Won, Joo Doh membentengi Soo Won dan menebas Hakuya dengan kedua pedangnya bersamaan dengan beberapa prajurit yang ada di belakang Hakuya; menusuknya dengan tombak mereka.
"tali saja tak cukup untuk mengekangnya, rupanya? rantai dia!?" perintah Keishuk sementara Joo Doh membawa Soo Won ke tempat yang aman.
Saat mereka berusaha merantai Hakuya, ada yang prajurit mendaratkan sepatunya di wajah dan kepala Hakuya. Meski salah satu prajurit kastil Hiryuu sengaja menginjak luka tusukan tombak di bahu Hakuya, Hakuya hanya menatap mereka dengan sorot mata yang tajam seolah bersiap menerkam mereka, ia menolak untuk menjerit dan memberikan kepuasan pada mereka sampai akhirnya salah satu prajurit memukul tengkuk lehernya, membuatnya tak sadarkan diri setelah mereka selesai merantainya.
