Minho memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana jeansnya. Sembari menggigit bibirnya ia pegang lengan kirinya dibagian atas, menekannya sedikit untuk menghentikan pendarahan. Beruntung, tulangnya tidak patah walaupun dia terjatuh cukup keras sebelum akhirnya terlempar dari motornya dan terguling.
Minho melihat lengannya lagi. Jaketnya terkoyak dan darah merembes dari sela-sela jarinya. Sial! Dia hanya ingin mendorong Kyuhyun sedikit tapi dirinya yang malah terluka. Cukup parah hingga ia tak mampu menggerakkan lengannya.
Kepalanya ia tolehkan kebelakang. Kebetulan ia berhenti ditaman yang ada lapangan basket dan sedang diadakan pertandingan. Membuatnya bisa memberikan alasan pada Kyuhyun agar tak menaruh curiga padanya. Walaupun dia harus mati-matian menahan rasa sakit dan ringisannya.
Minho membuka tutup botol air mineral dengan giginya lalu membuka jaketnya dengan hati-hati. Ringisan kembali keluar dari bibirnya saat ia menyiramkan air itu ke lukanya. Air yang semula berwarna bening itu berubah merah mengaliri lengannya. Kapas yang basah oleh alkohol ia tempelkan, membuat giginya mengerat dan sedikit menggigit pipi bagian dalamnya. Pelipisnya telah basah oleh keringat.
Ia melihat lukanya, cukup dalam. Entah ia menghantam apa hingga bisa begitu, ia tidak ingat. Pelan-pelan meneteskan obat merah lalu membalutnya dengan kain kassa yang sempat ia beli tadi.
Setelah sakitnya mereda ia berdiri dan membuang jaketnya ke tempat sampah. Ia berhenti sejenak didepan motornya. Beberapa goresan yang sangat kentara tercetak disana. Lukanya bisa ia tutupi dengan lengan panjang. Tapi bagaimana dengan motornya? Harus ia kemanakan motornya? Pasti ayahnya akan bertanya. Begitupun dengan Kyuhyun.
Minho mendecak. Masa bodoh. Ia bisa pikirkan itu nanti setelah motornya menjadi bagus lagi dan tidak meninggalkan jejak.
.
.
.
Suara ribut yang didominasi kaum hawa itu memenuhi ruangan. Antrian panjang terlihat. Dari remaja sampai dewasa ada, rela berdiri lama demi bisa melihat wajah sang idola lebih dekat, mendapat tanda tangan dan berjabat jika beruntung.
Salah satu yang terlihat mencolok adalah seorang pria cantik yang berdandan dengan nyentrik. Kaca mata hitam bertengger dihidungnya dan kipas kecil berbaterai berputar didepan lehernya sebagai usaha mengusir rasa panas. Didepannya ada anak laki-laki berumur sekitar enam tahun memegang poster besar dan selembar photocard. Kakinya tak berhenti untuk berjingkat-jingkat karena rasa antusias dan tidak sabarnya. Dia adalah satu-satunya fans anak-anak disini. Siapapun yang melihatnya pasti ingin mencubit pipinya yang bulat itu.
"Eomma~ kapan antrian ini akan bergerak? Kenapa lama sekali?" Keluh anak laki-laki yang berpotongan rambut seperti jamur itu.
"Diamlah Kyunnie. Kau pikir eomma menikmatinya?"
Kim Heechul menengok antrian didepannya. Masih ada sekitar dua puluh orang. Rasanya ia ingin berteriak untuk menyuruh agar lebih cepat. Tapi mungkin dia akan diserang semua orang jika berbuat demikian.
"Eomma~ apa aku nanti bisa berfoto?"
"Tentu saja tidak."
"Bisakah eomma berbicara pada mereka? Mungkin saja boleh karena aku anak kecil."
"Tidak bisa Kyunnie. Itu memakan waktu lama. Kau tidak lihat sepanjang apa antrian dibelakang kita?" Heechul memberikan alasan. Dia ingin cepat-cepat pergi.
Kyuhyun hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Mereka pelit, gerutunya. Sembari menunggu gilirannya ia menyanyikan jingle es krim itu dengan antusias. Dia sungguh ingin berfoto bersama Siwon lalu menunjukkannya pada teman-teman satu kelas, pasti akan sangat keren. Tapi bagaimana caranya? Apa dia harus menangis atau melakukan aegyo didepannya? Tapi itu sangat menjijikkan. Dia tidak suka melakukannya. Terlebih para noona pasti akan memekik lebih keras daripada sekarang.
Heechul memasukkan kipas kecilnya kedalam tas saat hanya ada beberapa orang didepannya. Anak laki-lakinya semakin bersemangat, melompat-lompat. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kyuhyun yang lebih suka berdiam diri dirumah dan menghabiskan waktunya bermain game, tak tertarik dengan yang lain termasuk kartun tiba-tiba merengek ingin menghadiri acara fansign sesaat setelah melihat iklan ice cream di televisi dimana Choi Siwon menjadi bintangnya. Sebagai ibu, dia hanya mengabulkan permintaan kecil itu setelah menolaknya mentah-mentah.
"Halo. Siapa namamu?" Sapa Siwon dengan memajukan badannya dan menatap kebawah.
Kyuhyun mendongak menatap ibunya dengan puppy eyes-nya pertama kali, minta digendong. Meja didepannya terlalu tinggi untuknya, menghalangi pandangannya dari Siwon.
Kyuhyun terbengong sebentar, masih tidak percaya kalau pria idamannya tepat didepan matanya. Sangat tampan sekali. Perlahan rona merah menenuhi pipinya.
Kyuhyun menampilkan senyum manisnya walaupun masih terkesan malu-malu. "Cho Kyuhyun imnida. Dua hari yang lalu aku berulang tahun yang keenam."
"Jinjjayo? Woahh selamat ulang tahun untukmu." Siwon menggerakkan hidung Kyuhyun dengan gemas.
Senyum Siwon makin lebar hingga menampilkan lesung pipinya yang dalam. Sudah sejak tadi ia mengamati Kyuhyun, si anak manis itu. Bagaimana kepalanya yang menyembul disela antrian untuk melihatnya lalu akan tersenyum lebar dan kembali bersembunyi jika ia balas menatapnya. Berkali-kali seperti itu, terkadang akan berlari kebelakang ibunya, memegang bagian baju ibunya dan mengintipnya malu-malu. Ia merasa gemas, ingin memeluknya, menciumi pipi gembilnya dan membenamkan wajah diperut kecilnya. Dan ketika jarak mereka sedekat ini, ia bisa melihat mata Kyuhyun yang indah, jernih. Menariknya untuk tak melepas pandangan, menyuruhnya untuk selalu menatapnya. Ia bertaruh, Kyuhyun akan sangat menawan saat remaja nanti.
"Aku suka es krim yang rasa coklat." Ujar Kyuhyun sambil memberikan photocard miliknya untuk ditanda tangani.
"Itu juga rasa favoritku." Siwon membubuhkan tanda tangannya.
"Jika aku sudah besar, aku ingin menikah denganmu. Maukah kau melamarku nanti?" Heechul dengan cepat membekap mulut anaknya, mencegah Kyuhyun mengeluarkan kalimat aneh lainnya.
Gerakan pena Siwon terhenti. Ia memandang Kyuhyun yang sedang memarahi ibunya dengan gaya lucu kemudian memandangnya lagi dan mengerjap polos. "Hyung mau, kan?"
Siwon tanpa sadar menganggukkan kepala. "Ya. Tentu saja."
"Janji?"
"Janji." Siwon mengaitkan jari kelingking mereka.
"Saranghae."
"Nado saranghae Kyuhyunnie." Siwon menyerahkan kembali photocard milik Kyuhyun.
"Sampai jumpa."
Dan hal yang selanjutnya terjadi membuat Heechul shock hingga menganga lebar. Riuh sorakan gemas memenuhi ruangan. Kyuhyun yang tersenyum dan Siwon yang mematung.
...
"Apa yang terjadi noona?" Tanya Hyukjae dengan penasaran tingkat tinggi.
"Kyuhyun mencium bibir Siwon." Heechul mengeluarkan satu lembar foto yang menjadi satu-satunya bukti. Foto yang diambil oleh salah satu fans lalu ia cetak.
Donghae menggeleng takjub. "Daebak. Ternyata Kyuhyun sangat agresif."
"Kyuhyun dulu sangat manis, tapi kenapa sekarang seperti setan?" Komentar Ryeowook.
"Kau sangat konyol. Hanya karena kejadian yang tak berarti kau menjodohkan mereka." Hangeng menanggapi.
Heechul menatap suaminya dengan mata berkilat. Dan seperti biasa, Ryeowook memilih kabur mencari jarak yang aman sebelum Heechul menyadari apa yang telah ia katakan. "Apa? Kau menyebutku konyol?"
Hangeng menelan ludahnya susah payah. "Maksudku itu hanya janji untuk menyenangkan anak kecil. Bahkan aku yakin mereka tidak mengingatnya."
"Otak mereka tak mengingat, tapi hati mereka yang mengingat. Hampir dua belas tahun berlalu tapi tetap saja Kyuhyun mencintai Siwon. Ini takdir. Mereka berjodoh." Kukuh Heechul.
"Tapi noona, sepertinya Kyuhyun tak mengingatnya?" Ucap Eunhyuk ragu. Sejauh yang ia tahu Kyuhyun itu fans berat Jung Yunho dan tidak ada tanda-tanda kalau ia fans Siwon.
"Dia menghanguskan semua yang berhubungan dengan Siwon karena patah hati, Siwon sudah menikah dan punya anak."
Hangeng mengangguk sekali. Ia ingat kejadian itu. Awal mula Kyuhyun menjadi seperti Heechul, sifat manisnya menguap tak bersisa. Kembali menjadi Kyuhyun yang gila games dan mulai bertindak seenaknya walaupun sifat manjanya masih melekat, itupun kalau ada yang dia mau. Dia baru tahu penyebabnya karena itu. Hangeng hanya tahu jika anak bungsunya mengagumi seorang aktor tapi tak mengetahui lebih jauh soal itu.
Hangeng mendecak. "Tapi tetap saja konyol."
Mata Heechul menyipit, memberi peringatan pada suaminya. "Kau sudah merestuinya. Kau tak bisa menariknya lagi."
.
.
.
"Bukankah kau bilang kita tidak boleh bertemu dulu?"
"Aku tidak bilang kalau aku tidak boleh menemuimu." Ucap Kyuhyun tak acuh sembari memakan sarapannya.
Siwon hanya membiarkan hal itu berlalu begitu saja, tak bertanya lebih jauh. Toh dia sangat paham perangai Kyuhyun. Hanya saja dia tak menyangka mereka akan bertemu secepat ini, hanya berselang satu hari setelah Kyuhyun mengucapkan ultimatum itu. Belum mencapai 100 jam.
"Ibu dan ayahmu sudah pergi ke Jepang, kan?"
"Karena itulah aku sarapan disini."
"Kyu hyung disini saja terus bersama Suho." Suho melahap satu sendok penuh yang disuapkan Kyuhyun.
"Belum bisa. Ayahmu belum juga memboyongku." Sindir Kyuhyun. Siwon tidak kunjung meminta peralihan tanggung jawab dari ayah dan ibunya kepada Siwon atas dirinya. Seharusnya Kyuhyun tidak berharap terlalu banyak pada Siwon. Mengingat pria itu tidak melakukan apa-apa. Selalu saja dirinya. Jika Kyuhyun tidak cinta bisa dipastikan pria itu sudah ia tinggalkan.
"Tidak usah. Dia hanya akan menghabiskan isi kulkas kita, Suho~ya." Sahut Minho. Kyuhyun hanya mendelik padanya.
Kyuhyun mencebik. "Seperti kau tidak saja. Dirumah saja kau berlagak diet, diluar kau seperti monster makanan."
"Tinggal saja disini untuk sementara. Kau kan hanya sendirian dirumah." Ucap Siwon memutuskan perdebatan antara 'ibu' dan anak itu.
"Tidak sekalian untuk selamanya saja?"
Siwon memilih bungkam. Jika ditanggapi bukan tidak mungkin akan menjadi perdebatan yang panjang. Sejak datang pagi ini Kyuhyun selalu menggunakan nada sinis jika berbicara padanya. Raut wajahnya juga tampak kesal, hanya berbeda pada Suho. Minhopun ikut terkena. Dan dia paham akan penyebabnya. Tapi mewujudkan apa yang diinginkan kekasih kecilnya bukanlah perkara yang mudah. Alasan utamanya saja belum terselesaikan. Dia berharap Kyuhyun punya kesabaran yang berlebih.
"Ternyata kau tidak se-gentle seperti yang ada didramamu."
Siwon menurunkan sendok berisi makanan didepan mulutnya. Ia kemudian menghela nafas. "Kyu~"
Kyuhyun beralih memperhatikan Minho yang pagi-pagi sudah sangat rapi. "Hei kodok, kau mau kemana? Bukankah kelasmu libur?"
"Aku ada urusan."
Kyuhyun melemparkan tatapan curiganya. Hidungnya mengendus-endus bau parfum yang berlebih. Bukan milik Siwon.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kau ingin kencan, kan?! Astaga ini masih terlalu pagi Minho~ya."
"Dengan bocah yang bernama Taemong itu?" Tanya Siwon terkejut.
"Namanya Taemin, Dad." Koreksi Minho.
"Jadi benar kau akan kencan?!"
Minho menutup kedua telinganya. Teriakan Kyuhyun sangat tidak manusiawi. "Aku tidak bilang begitu."
Kyuhyun mendecak. "Kau payah. Ayah anak sama saja."
"Tutup mulutmu. Urus saja ujianmu yang tinggal satu minggu lagi." Minho mengambil tasnya lalu berdiri dan pergi setelah berpamitan. Tidak mau mendengar lebih banyak lagi pertanyaan lain yang akan terlontar dari mulut Kyuhyun.
Kyuhyun memandang punggung Minho yang perlahan menjauh. Untuk sedetik matanya menyiratkan rasa kecewa. Dia kesini bukan hanya untuk makan tapi juga memastikan sesuatu. Hal yang ia dapatkan malah sesuatu yang coba ia singkirkan jauh-jauh.
"Kau akan ujian? Kenapa tidak memberitahuku?"
"Yang ujian kan aku. Untuk apa aku memberitahumu? Membuang waktu saja."
"Kurangilah bermain games. Dan tambahlah waktu belajar."
"Aku hanya butuh waktu 30 menit untuk mengerjakan semua soal-soal memuakkan itu."
Siwon bernafas dengan pelan dan panjang. Sepertinya dia juga harus menebalkan kesabarannya untuk menghadapi Kyuhyun yang dalam mode grumpy. Masalah sepele bisa jadi besar. Jadi lebih baik diam saja.
.
.
.
Hentakan sepatu yang menyentuh lantai itu bergema disepanjang koridor. Kyuhyun bersandar ditembok dengan tangan bersedekap. Dia mengecek jam diponselnya lalu menengok keberbagai arah, terutama pintu lift dan pintu kaca yang terletak lima meter dibelakangnya.
"Aiisshhh." Kyuhyun mengacak rambutnya yang sudah berantakan. "Kemana sih Siwon hyung?"
Kyuhyun sudah bertanya pada resepsionis, memastikan Siwon tidak punya jadwal apapun. Dia harus melemparkan tatapan intimidasi dan beberapa ancaman untuk mendapatkan hal itu. Tapi kenapa Siwon tidak ada dikantor? Tidak mungkin Kibum menculiknya karena si muka dua itu sudah mengundurkan diri dari agensi.
Bola matanya bergulir ke arah lift ketika mendengar bunyi ting. Kakinya berjalan menghampiri. Masuk kedalam lift, melewati Siwon yang sudah memasang senyum menawannya. Tangannya menggandeng lengan pria disampingnya, mencegahnya untuk keluar. Ia sempat menjulurkan lidahnya, mengejek Siwon yang memandangnya sebelum pintu lift tertutup.
Siwon tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. "Dasar anak itu."
Rasa gengsi Kyuhyun kembali ketingkat yang paling tinggi. Padahal sebelumnya anak itu sudah terang-terangan kepadanya. Ia bisa menghitung berapa kali mereka kontak fisik dalam sehari. Terakhir saat mereka making out itu. Hampir seminggu yang lalu.
"Aku ingin meremukkan wajahnya sekali lagi." Walaupun hanya untuk menggodanya, tidak dipungkiri ada rasa cemburu yang menelusup.
"Kupikir akan ada yang melakukannya untukmu." Sahut Shindong.
Siwon menaikkan alisnya. "Maksudmu?"
"Kau tahu bagaimana beringasnya si kucing betina itu jika cemburu. Mereka kembali bersama. Dan kebetulan Jaejoong sedang berada disini."
...
Kyuhyun melepaskan tangannya. Wajahnya berubah masam dengan bibir mengerucut. Pria disampingnya, Yunho, menggiring Kyuhyun untuk duduk dicafe kantor dengan diam.
"Kenapa berbuat seperti itu jika hanya akan membuatmu kesal?" Yunho mendorong satu gelas bubble tea kehadapan Kyuhyun.
"It's my style." Kyuhyun meraih minumannya lalu mulai menyedotnya.
"Bersikaplah manis dan terang-terangan sesekali. Jangan bersikap seperti itu terus. Jika cemburu, katakanlah. Dia bisa saja kabur dan mencari orang lain yang bisa bersikap lebih manis daripada kau."
"Tidak mungkin. Siwon hyung itu sangat mencintaiku." Kyuhyun mengibaskan tangan kirinya.
Yunho hanya mampu menggelengkan kepalanya. Sudah merasa terbiasa dengan respon Kyuhyun.
"Tapi ngomong-ngomong kenapa kau kembali dengan Jaejoong hyung?"
Yunho tersenyum. "Sederhana. Aku mencintainya."
"Kenapa dia mau? Apa kau tidak takut dia kembali menyakitimu, hyung?"
"Kenapa kau kembali bersama Siwon hyung?"
"Kita membicarakan tentangmu bukan aku."
"Jawab saja."
Kyuhyun bergumam panjang. Pipinya yang perlahan memerah ia garuk dengan telunjuk. Tentu saja karena dia tidak mampu jika berpisah dengan Siwon. Karena dia mencintainya. Karena dia hanya ingin Siwon.
"Tapi kan Jae hyung sudah berkali-kali menolakmu. Sedangkankamimasihsalingmenginginkansatusamalain." Kyuhyun berujar cepat.
"Aku membawanya kerumah. Melamarnya dihadapan kedua orang tuaku."
Yunho mendecak mendapati Kyuhyun yang menatapnya dengan mata menyipit. Sangat tidak percaya Jaejoong menyerah begitu saja. "Baiklah baiklah. Aku menghamilinya."
Kyuhyun tersedak hebat. Seluruh wajahnya memerah. Tak disangkanya ternyata seorang Jung Yunho bisa bertindak gila juga. Tapi disisi lain ia ikut merasa bahagia. Perjuangan Yunho membuahkan hasil yang memuaskan. Sangat memuaskan malah.
"Sederhana sekali." Cibir Kyuhyun setelah batuknya reda.
"Otakku sudah buntu."
Kyuhyun memutar sedotan didalam gelas sambil menerawang keluar kafe. Kenapa bukan Jung Yunho saja sih yang dicintainya?! Kenapa harus pria berotak lamban itu? Diposisinya ini, kodratnya itu dikejar bukan mengejar.
Kyuhyun mulai menerima jika dia itu bottom. Tapi jika Siwon masih begitu juga, ia tak akan segan-segan mengubah posisi. Bagaimanapun ia juga punya alat untuk menusuk.
"Kau tidak perlu melalui hal yang sulit untuk bersama Siwon hyung. Tidak ada pihak yang menolak, kan?"
Kyuhyun hanya mengangguk, terkesan tidak serius. Yunho tidak tahu saja apa yang sudah dilaluinya. Saat ini ia butuh sesuatu yang nyata, jaminan kalau Siwon adalah miliknya sepenuhnya. Tangannya menelusup kebawah meja, menepuk-nepuk kecil perutnya. Ia sudah mendapatkan jawabannya. Hamil, ya? Hanya sesederhana itu, kan? Cara paling gampang untuk menyeret Siwon. Salah satu sudut bibirnya tertarik keatas.
"Kalau boleh memberikan saran-"
"Apa? Apa? Apa?" Kepala Kyuhyun makin condong kedepan. Ada binar harapan dimatanya.
"Berhenti bersikap menggemaskan jika kau tak ingin jadi istri keduaku." Lalu Yunho menggeram sakit, kakinya bagaikan patah jadi dua. Pelajaran yang ia dapat, jangan bermain-main dengan Cho Kyuhyun.
.
.
.
Kyuhyun mengetukkan jemarinya ke meja kantin sekolah dengan bertopang dagu. Memikirkan langkah-langkah yang harus ia ambil untuk menyeret Siwon ke altar. Setidaknya harus mendapatkan lamaran dari Siwon. Minho bisa diurus belakangan. Tak setuju, lempar paksa saja ke Kanada.
Tentu dia tidak meragukan cinta Siwon. Tapi bukankah lebih cepat lebih baik? Predikat ibu muda juga tidak begitu buruk.
Kyuhyun mendengus. Dia belum bisa melakukan rencananya karena Siwon malah pergi ke Jepang. Sungguh kejam. Dua hari lagi baru pulang. Entah apa yang dia lakukan disana. Awas saja jika dia syuting film atau apapun itu bersama gadis Jepang! Kepalanya akan ia gunduli dan diberi cap jika Siwon itu miliknya! Hanya miliknya!
"Kyu! Kyuhyun~ah!"
"Mwo?" Tanya Kyuhyun dengan nada santai. Tak menghiraukan Eunhyuk yang ada didepannya sudah berpeluh dan nafasnya putus-putus dengan tangan bertumpu dilutut.
"Min- Minho-"
"Pukul saja kepalanya jika dia masih saja menanggapi Sulli."
Eunhyuk menarik nafas panjang lalu berteriak. "Minho dipukul Seungyoon! Dia diseret ke gedung olahraga!"
Punggung Kyuhyun langsung tegak dengan mata yang membulat. "Sialan." Umpatnya lalu buru-buru berlari pergi.
"Terserah. Aku lelah." Eunhyuk memilih duduk sambil mengibaskan kemeja bagian depannya. Berlari sejauh itu membuatnya kewalahan.
...
"Kau berlagak seperti pahlawan. Tapi dibalik itu, apa yang kau lakukan? Kau menusuknya dari belakang! Dasar berengsek!" Satu tinjuan kembali bersarang ke perut Minho, membuatnya terbatuk-batuk.
Eunhyuk dan Kyuhyun tiba di gedung olahraga, Eunhyuk tak bisa bersantai terlalu lama karena ini menyangkut nyawa sahabatnya. Mereka harus melewati kumpulan siswa yang mulai banyak berkumpul. Eunhyuk mengumpat, dimana para guru saat keadaan mencekam seperti ini?
"Seungyoon! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan dia!" Kyuhyun menarik lengan Seungyoon agar melepaskan cengkraman tangannya dikerah Minho.
Wajah Minho sudah terdapat banyak luka. Tubuhnya basah kuyup, tak berbeda dengan Seungyoon. Ia menduga Seungyoon yang menceburkan Minho ke kolam. Donghae juga terluka walaupun tidak parah, sedangkan Ryeowook lebih memilih bersembunyi dibalik punggung Yesung.
"Tidak! Dia harus membayar atas apa yang telah ia lakukan!"
Kyuhyun tidak tahu bocah kutu buku jika marah bisa semengerikan ini. Ia melirik teman-temannya yang sudah dipegangi teman satu grup Seungyoon, mencegah mereka untuk ikut campur. Merasa tidak ada cara lain, ia melayangkan tinju kepipi Seungyoon. Cengkraman itu lepas seketika.
Seungyoon memegangi pipi kanannya yang berdenyut. Memandang Kyuhyun tidak percaya. Begitu juga dengan yang lainnya. Kyuhyun tidak pernah seserius itu memukul seseorang. Mungkin lelaki pujaan seantero sekolah itu belum tahu akar masalahnya. Dia hanya ingin menolong sahabatnya saja.
Seungyoon bangkit dari duduknya. "Dia yang mencelakaimu selama ini. Dia sahabatmu bukan berarti kau mengampuninya dengan mudah begitu saja, Kyuhyun~ah." Ucapnya berusaha menjelaskan.
"Tutup mulutmu."
Seungyoon berkacak pinggang. "Apa yang membuatmu tidak percaya?" Tangan Minho ditariknya lalu lengan bajunya ia singkap keatas. "Lihat! Dia yang mendorongmu tempo hari! Jika belum cukup, aku masih punya bukti berupa foto-fotonya."
Minho meringis, cengkraman tangan Seungyoon membuat luka yang belum sembuh berdenyut nyeri. Dia lebih dari mampu menumbangkan Seungyoon jika anak itu tak membawa teman satu grupnya.
Kyuhyun segera melepaskan tangan Seungyoon. "Aku tahu."
"Kau tahu tapi selama ini diam saja? Apa yang kau pikirkan? Dia bisa saja membunuhmu! Dia pengkhianat!"
"Dia punya alasan untuk itu."
Seungyoon menghembuskan nafas kasar. Dia ingin membentak tapi tidak sanggup. Bagaimanapun Kyuhyun masihlah orang yang disukainya.
"Seungyoon~ah, aku menghargai apa yang telah kau lakukan. Terima kasih. Tapi bukan Minho. Aku tahu baik buruknya lebih dari siapapun."
Seungyoon membeku ditempatnya. Demi Tuhan! Kyuhyun tersenyum padanya untuk yang pertama kali! Teman satu grupnya hanya menggeleng prihatin. Monster Seungyoon menghilang dalam sekejap.
"Jadi benar Minho? Wow." Gumam Eunhyuk takjub.
"Kupikir bukan. Pasti ada sesuatu dibaliknya." Tukas Ryeowook. Dia kemudian berbalik pergi menyusul Kyuhyun dan Minho.
...
"Tidak ada gunanya badan besarmu ini." Kyuhyun menarik kasar lengan Minho, menghasilkan pekikan menyakitkan dari pemiliknya.
"Kau pikir aku bisa apa? Mereka mengeroyokku." Minho menarik tangannya. Kyuhyun benar-benar tidak berbakat merawat orang sakit jadi ia menyuruhnya untuk diam saja. Tapi Kyuhyun itu keras kepala. Dahinya tanpa aba-aba ditetesi alkohol. "Yak!"
"Baiklah baiklah. Aku akan diam saja." Kedua tangan Kyuhyun terangkat ke udara tanda menyerah. Mata besar Minho jika melotot sangat menyeramkan, benar-benar seperti akan keluar dari rongganya.
"Ngomong-ngomong aku belum mengatakan apapun. Jadi kenapa kau yakin sekali aku punya alasan kuat dibalik itu?"
"Telepati antara ibu dan anak mungkin?" Kyuhyun mengedikkan bahunya.
"Ciihhh menggelikan."
"Aku bersungguh-sungguh mengatakannya." Bibir Kyuhyun maju sedikit.
"Terserah. Aku tetap tidak akan mengijinkan kalian menikah cepat."
Kyuhyun mengoceh tak jelas tanpa suara. Lebih banyak memberikan sumpah serapah diikuti nama Minho. Ia menyesali tindakan yang dilakukannya akhir-akhir ini. Anggap saja sebagai penyuapan.
"Ouch." Minho memegangi kepala belakangnya. "Kenapa kau memukulku?"
"Karena menurutku bersikap baik padamu itu sia-sia."
Minho berdecak. Kyuhyun benar-benar setan dari neraka terdalam. "Key."
"Hah?" Kyuhyun sedang tidak dalam menaruh perhatian karena kepalanya sibuk menyusun rencana lain.
"Aku mendorongmu karena Key. Dia dibelakangmu membawa entahlah aku tidak terlalu memperhatikan. Aku berasumsi itu semacam belati."
"Kenapa harus mendorongku? Akhirnya malah dirimu sendiri yang terluka." Kyuhyun membantu dengan menempelkan plester didahi Minho.
"Aku menganut paham biarkan diriku yang terluka asalkan orang yang kucintai baik-baik saja."
"Aku tidak punya rencana yang lebih bagus." Sahut Minho cepat-cepat karena melihat Kyuhyun yang memasang ekspresi hampir muntah. Minho tidak mengerti Kyuhyun sama sekali. Itu kan kalimat romantis, kenapa respon Kyuhyun begitu? Dasar aneh.
Minho tetap melaksanakan amanat ayahnya agar menjaga Kyuhyun dengan baik walaupun ia tahu ada bodyguard yang mengawasi selepas keluar dari lingkungan sekolah. Terkadang membuntutinya sampai rumah. Terutama jika ia pergi seorang diri. Tentu, karena dia juga tidak mau orang yang disukainya celaka.
Tangannya mengepal hingga ia merasakan kukunya menusuk terlalu dalam. Dia tidak berpikir sampai kesana. Key, sahabatnya sejak kecil. Satu-satunya tempatnya berbagi rahasia bisa tega menodai kepercayaannya. Ia ingin tahu alasan Key, tapi seolah tahu, anak itu menghilang.
"Kau baik-baik saja?" Kyuhyun menyentuh pundak Minho, bisa dirasakannya emosi yang berkumpul ditubuhnya.
"Menurutmu?" Tanya Minho sarkatis.
"Jangan gegabah. Dia bisa saja melukaimu juga tanpa berpikir dua kali."
Otot-otot Minho mulai mengendur. Mungkin memang sebaiknya ia menyerahkan semuanya pada Siwon. Tapi rasanya belum puas jika belum menghajarnya dengan tangan sendiri.
"Bagaimana kau bisa setenang itu? Kau tidak takut dia akan melakukan sesuatu padamu?"
"Memang aku harus bagaimana? Aku hanya perlu diam, toh semua orang sudah membereskannya untukku. Kenapa aku harus membuang tenaga dan pikiran? Buang waktu saja."
Minho mendengus. Kyuhyun berlagak seorang ratu saja. Plus tingkat kepercayaan dirinya sudah tak tertolong lagi.
.
.
.
Kyuhyun melangkah lesu disepanjang koridor agensi. Bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Yang benar saja! Gurunya tidak memberi ijin untuk menghilangkan adegan ciuman di drama musikalnya! Guru Jang bilang itu latihan untuknya karena setiap drama musikal itu pasti ada kissing scene. Kyuhyun merinding membayangkan dirinya berciuman dengan orang selain Siwon. Ia jadi berpikir ulang untuk menjadi aktor musikal.
Kyuhyun menghentikan langkah. Siwon berjalan kearahnya. Dia akan senang jika Siwon menyadari keberadaannya dan tidak terlihat asyik mengobrol dengan wanita cantik disampingnya. Menebar dimple kesayangannya. Tiba-tiba saja semangat dalam dirinya berkobar. Dia tidak akan mundur. Dia tidak akan kalah dengan Siwon. Dia bisa mencicipi bibir banyak wanita, bahkan lebih banyak daripada Siwon. Dia tidak mau masa mudanya hanya merasakan satu bibir saja. Pemikiran konyol memang, tapi setidaknya cita-citanya juga bisa diraih.
"Eoh, Baby!" Siwon tersenyum lebar. Setelah mengucapkan salam perpisahan sekenanya, ia melangkah cepat menghampiri kekasihnya.
Kyuhyun memalingkan wajah kesamping, berbalik lalu berjalan, membatalkan niat awalnya datang kesini.
Siwon meraih tangan Kyuhyun, membuat mereka berhadapan. "Kenapa pergi begitu?"
"Lepaskan!"
"Aku merindukanmu. Memang kau tidak?"
"Omong kosong." Kyuhyun ingin pergi tapi Siwon masih menahan tangannya.
"Ayo pergi kencan."
"Kenapa mengajakku? Ajak saja kekasihmu yang lain."
Siwon yang awalnya bingung kini mengerti dengan sikap Kyuhyun yang mendadak kesal. Wajah anak itu terlihat ingin sekali memakan orang. "Uri Baby cemburu eoh?"
Jika disituasi berbeda mungkin Kyuhyun akan terkikik, merasa lucu dengan alis tebal Siwon yang bergerak meliuk-liuk. Tapi saat ini ia ingin merontokkan bulu-bulu itu. Dan dia melakukannya, merenggut alis Siwon. "Mimpi saja kau!"
Siwon masih memegangi alisnya saat Kyuhyun pergi. Mungkin beberapa helainya tercabut. Kyuhyun yang cemburu bukanlah sesuatu yang bagus. Ia mengharapkan Kyuhyun yang akan merajuk manja padanya layaknya remaja pada umumnya. Namun ternyata ekspetasinya terlalu jauh.
Langkah Kyuhyun memelan saat hampir sampai dibelokan koridor. Matanya mencoba melirik kebelakang, mencuri pandang apa Siwon menyusulnya. Ia cepat-cepat merapat ketembok setelah berbelok. Mencari tempat yang pas untuk mengintip dengan leluasa.
Kakinya menghentak, membentur lantai dengan keras. Siwon lebih memilih berbicara dengan orang lain daripada mengejarnya! Sungguh tidak bisa dipercaya!
"Choi babo Won. Kuda menyebalkan. Kau benar-benar mengabaikanku, eoh? Jangan harap aku akan memberikan servis padamu lagi. Kau tidak akan bisa melakukan acara berkembang biak lagi, kuda! Kau dengar itu, hah?! Malaikat disampingku mengamini semua ucapanku!"
Siwon menahan tawanya yang akan menyembur keluar mendengar ucapan amburadul Kyuhyun. Dia berhasil mengejar dengan berlari tanpa suara. Memilih untuk berjalan dibelakang Kyuhyun sambil melepas mantel coklat mudanya.
Siwon menyampirkan mantelnya kebahu Kyuhyun setelah lelaki yang lebih muda itu menyelesaikan gerutuan sebagai ungkapan kesalnya. Sebelum Kyuhyun berbalik, kedua lengannya sudah lebih dulu melingkar kesekeliling bahu Kyuhyun, memeluknya dari belakang. Ah, berapa kali ia harus mengatakannya? Tubuh Kyuhyun sangat pas berada dipelukannya.
"Ayo pergi makan. Kau pasti lapar karena menungguku begitu lama."
Ugh. Kenapa pria yang berstatus kekasihnya ini bisa selalu menebak dengan tepat? Padahal dia sudah memastikan Shindong untuk tutup mulut. Kyuhyun memang sudah sampai dari tiga jam yang lalu. Ia menemani Minho latihan, disana ia disuguhi pemandangan Taemin yang mencoba untuk selalu menempeli Minho. Taemin ternyata sangat lucu. Mereka akan satu grup, itu yang didengarnya. Karena kemampuan vokal Minho dibawah rata-rata, anak itu mendapat posisi rapper. Tapi Kyuhyun berpendapat kalau Minho sebaiknya jadi aktor saja, dance Minho sangat kaku dan memaksanya untuk tertawa.
"Kau benar. Aku sangat ingin memakan sesuatu. Apa lenganmu ini sangat enak?"
Jika Kyuhyun tidak sedang bertransformasi menjadi ayam betina yang mengerami telur, sudah pasti pipi tembamnya saat ini dihujani ciuman dari Siwon. Betapa menggemaskannya kekasih kecilnya ini.
"Dia Soojung. Kau lupa padanya?"
"Justru karena dia Soojung."
"Apa yang kau khawatirkan? Kami tidak mempunyai hubungan apapun. Dia sudah punya Henry. Akupun sudah punya kau."
"Aku tetap tidak menyukainya."
Siwon merasakan Kyuhyun sepenuhnya bertumpu padanya, mulai merasa nyaman. Yang berarti adu argumen tidak akan berlangsung lama. Perbedaan tinggi badan mereka selalu disyukuri Siwon, ia bisa membenamkan hidungnya ke helaian rambut halus Kyuhyun sesuka hati, kali ini beraroma apel. "Kenapa?"
"Aku membencinya. Dia yang memilikimu lebih dulu daripada aku. Semua yang pertama darimu dimilikinya." Kyuhyun berujar lirih. Posisi mereka saat ini menguntungkannya, Siwon tidak perlu melihat wajahnya yang merah.
Siwon terkekeh tanpa suara, karena jika tidak, sudah pasti Kyuhyun menyikut perutnya. "Mulai sekarang dan seterusnya aku adalah milikmu. Semua bagian dari diriku adalah milikmu. Terutama hatiku. Apa semua itu belum cukup?"
Kyuhyun berbalik, memberikan pelukan erat dan menyembunyikan wajah ke ceruk leher Siwon. "Kau sudah mengatakannya. Kau tidak bisa memintanya kembali. Karena sampai kapanpun aku tidak akan melepasmu." Telunjuknya menusuk-nusuk dada Siwon dimana jantungnya berada.
Siwon meraih wajah Kyuhyun. Menatap mata indah didepannya, yang membuatnya terjatuh dan tak bisa menyelamatkan diri. Dan dia tak menginginkannya. Ia ingin selamanya mendekam didalam sana. Bibir sintal itu dikecupnya sekilas, "aku tak keberatan dengan hal itu. Karena aku akan melakukan hal yang sama padamu." Kyuhyun kembali dipeluknya.
"Kau sudah bersumpah. Dinding, pintu, jendela, lantai, semut, semuanya menjadi saksi. Tuhan juga. Kau benar-benar tidak bisa mundur."
Siwon menarik kepala Kyuhyun. Bibir yang mengerucut itu dikecupi, menghasilkan lengkungan manis. "Bagaimana aku bisa melepaskan si cantik, manis nan menggemaskan ini, hmm?"
"Aku tidak seperti itu!" Dada Siwon dipukul pelan sebelum ia gunakan untuk bersandar kembali.
"Tapi kenapa kalian bertemu?"
"Kami membicarakan tentang pengalihan hak asuh Minho."
"Kau bisa menggunakan pengacara." Sungut Kyuhyun.
"Kami sepakat untuk membicarakan secara kekeluargaan saja, tanpa melibatkan hukum. Hanya perjanjian biasa."
"Keluarga, eh?"
"Secara kekeluargaan, sayang. Lagipula dia kan ibu dari anak-anakku."
"Ugh. Tetap saja kau satu ruangan dengannya. Bahkan bicara berdua saja." Kyuhyun curiga mereka diruangan hanya berdua.
Siwon tertawa kecil. Sebesar itukah rasa curiga Kyuhyun? Hingga harus mengendus-endus bagian depan kemejanya, mendeteksi adanya bau parfum asing. Meneliti setiap inchi kalau-kalau ada bekas lipstick tertinggal.
"Ada bau aneh. Dia menempel padamu! Kau memang tidak bisa dipercaya. Kau berselingkuh." Kyuhyun memberikan tatapan tajam.
"Sayang, kau yang memintaku mengganti parfum. Satu minggu yang lalu. Kau lupa?"
Kyuhyun memalingkan wajahnya untuk menutupi rasa malu. Pipinya menggembung. "Jinjja? Kau pasti mengada-ada."
Tangan besar Siwon menangkup pipi Kyuhyun. "Sungguh, ada apa denganmu? Kau akhir-akhir ini mudah sensitif. Seperti ibu hamil."
Kyuhyun memberi jarak diantara mereka. Tangan Siwon dituntun untuk menyentuh perut sang kekasih dengan malu-malu disertai rona merah dipipinya, sesekali mengusap. Kebingungan tercetak jelas diwajah Siwon. Apa maksudnya?
"Kau merasakannya?"
Siwon memilih menggelengkan kepala. Tidak mungkin kan dia menjawab kalau perut Kyuhyun membuncit lagi? Susah payah ia mendapatkan moment manis seperti ini.
Kyuhyun mencebik. "Kau sangat tidak perasa."
"Memang kenapa?" Siwon menarik tangannya. Kyuhyun tersenyum misterius, sangat kentara ingin mempermainkannya.
"Ada sesuatu disini." Kyuhyun menepuk perutnya pelan. Menikmati perubahan raut Siwon yang perlahan menjadi was was.
Kyuhyun mendekatkan bibirnya ketelinga Siwon dan berbisik, "disana ada anakku dan Yunho."
Bukannya meledak, Siwon malah memegangi pinggang Kyuhyun. "Kau tahu tidak? Kibum juga hamil, aku memikirkan itu anakku atau bukan."
Kyuhyun berdesis dengan bibir terkatup rapat. "Aku pernah berciuman dengan Yunho hyung. He's a good kisser. Lebih hebat darimu." Seringaian tercetak dibibirnya.
Kali ini kemarahan mulai merasuki Siwon. Kyuhyun beberapa kali latihan akting dengan Yunho. Di skrip dengan jelas tertulis ada adegan ciuman. Tidak mungkin Kyuhyun mempraktekan itu langsung diatas panggung, jadi ada kemungkinan Kyuhyun melakukan latihan. Mereka berdua belum pernah latihan bersama, kecuali dibawah hujan, itupun tak terduga. Kenapa ia baru memikirkan itu sekarang?
Tawa yang ditahan Kyuhyun akhirnya keluar. Menyenangkan sekali rasanya menggoda Siwon. Sudah lama sekali tidak melihat Siwon yang cemburu. "Sudahlah. Sampai kapan kita seperti ini? Aku butuh toilet."
Siwon menyentil dahi Kyuhyun setelah sadar jika ia dibohongi. Ucapan Kyuhyun tadi memang masuk akal. "Nakal."
Kyuhyun hanya terkekeh. "Tapi aku sungguh butuh toilet saat ini."
"Kita bisa ke toilet seperti ini." Siwon mulai berjalan mundur.
"Jangan konyol." Kyuhyun akhirnya terbebas setelah meronta dan menginjak kaki Siwon.
"Apa perlu kuantar?" Siwon mempunyai kadar kekhawatiran berlebih jika Kyuhyun berkeliaran sendirian. "Ke ruanganku saja. Sekalian kita melakukan hal menyenangkan disana. Kita buktikan kalau aku lebih hebat dari si wajah alien." Siwon menaik turunkan alisnya disertai senyum lebar. Siapapun juga tahu itu adalah ekspresi yang paling mencurigakan.
Kyuhyun menepis tangan Siwon yang ingin meraih tangannya. "Mati saja kau! Dasar Ahjussi mesum!" Kyuhyun melempar mantel ke wajah Siwon lalu buru-buru kabur menuju toilet.
Tawa kecil Siwon terhenti, berganti dengan kening yang mengerut. Tapi kemudian menggelengkan kepala saat ingatan masa lalu terlintas. Soojung sering ketoilet ketika hamil Suho dulu. Ah itu tidak mungkin. Dia kan belum menyumbangkan apa-apa.
.
.
.
Kyuhyun baru saja selesai menaikkan resleting celananya ketika pintu salah satu toilet menjeplak terbuka dengan kasar. Belum sempat bereaksi, tangannya sudah ditarik. Tubuhnya didorong hingga punggungnya membentur tembok dengan keras. Tenggorokannya terasa sakit hanya sekedar untuk menelan ludah karena lehernya ditahan menggunakan lengan, rasanya seperti tercekik.
"Key..." Bisik Kyuhyun.
"Halo Cho Kyuhyun." Sapa Key disertai seringaian.
"Aaakkkkkk" Kyuhyun memekik pelan kala tangannya ditahan ketembok, tepat disiku. Tadinya ia berniat memberikan tinjuan, tapi Key dengan cepat menyadarinya.
"Kau tidak suka basa basi ya?" Key mengeluarkan sebilah belati. "Menambah satu tanda disini sepertinya tidak masalah. Iya 'kan?" Senjatanya diarahkan kepipi Kyuhyun, bermain-main. Senyumnya melebar, ia sangat menyukai bagaimana tatapan ketakutan itu meningkat tiap detik. Kelingkingnya mengusap pelipis si anak berkulit pucat yang mulai basah. "Dingin."
Sudah ia dapatkan, tepat didepan mata. Ia tak akan membuang waktu jika tahu mendapatkan Kyuhyun semudah ini. Ia sudah tidak sabar ingin melihat wajah didepannya ini menampakkan kesakitan luar biasa. Kesakitan yang melebihi sakit hatinya.
.
.
.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
THANKSEU THANKSEU THANKSEU :*
