Opening music.
Fantastic Future – Yukari Tamura
00000
Arc 7 Fight for those i love
Lecture 25. Battle at Sada
Miyuki berusaha dengan penuh keringat menyelamatkan nyawa Naruto yang terancam bahaya.'Dasar idiot! Apa yang kau pikir kau lakukan!' Miyuki di menangis ketika terus berusaha menyembuhkan luka Naruto.
'Jika kau tida kembali pada kami... Aku tidak akan memaafkanmu! Jadi tolonglah kembali Naruto!' Miyuki berusaha dengan tangisan karena denyut nadi Naruto semakin melemah
Miyuki terus berusaha menyelamatkan nyawa Naruto yangdi ujung tombak dan berdoa jika pria yang ia cintai dapat selamat.
Jauh di dalam bawah sadar Naruto. Naruto menatap sebuah tempat dimana di kelilingi cahaya. "Dimana aku" Naruto mulai bangun dan menatap sekeliling dimana dari ujung ke ujung semua hanya sebuah cahaya kuning.
"Kau sudah sadar ya"
Suara baru datang membuat Naruto siaga. Saat Naruto sepenuhnya berdiri terlihat seorang pria tampan berusia 30 tahunan berambut pirang dengan pakaian biru dilapisi rompi hijau dan mengenakan jubah putih. "Dan siapa anda"
Naruto berusaha sopan pada pria itu. "Aku adalah hokage 4. Dan jua aku secara teknis adalahayahmu Naruto..."
Sejujurnya aku tidak bisa mengatakan apapun antara bingung mengenai fakta jika orang mati berbicara di depanku dan bingung mengenai dimana aku sekarang. "Bisa jelaskan padaku apa maksudmu dengan secara teknis?"
Minato Namikaze menatap kearah Naruto dengan wajah serius. "Aku mengetahui semuanya melalui ingatanmu... Aku tahu jika kau sebenarnya adalah orang asing dari dunia lain. Tapi karena kau berada di tubuh putraku maka itu tidak merubah fakta jika kau adalah putraku" Minato tersenyum pada Naruto.
Naruto kemudian mendesah dan melipat tangan. "Sangat tidak sopan sekali anak muda. Jika kau mengetahui siapa aku, pasti kau mengetahui secara teknis berapa usiaku.. Benarkan?"
Minato mulai berkeringat dengan senyum gugup. "Y...yah..begitulah"
Naruto hanya mendesah lalu menatap minato. "Bisa jelaskan padaku kita dimana dan apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kita berada di ruang terpisah alam bawah sadarmu yang paling dalam"
Untuk beberapa saat Naruto tetap diam. "Jadi apa yang ingin kau katakan"
Minato kemudian menatap dengan wajah rumit. "Bagaimana aku harus menjelaskannya..." Minato sedikit bingung namun Naruto juga memiliki beberapa pertanyaan yang sebenarnya mengganggunya.
"Bisa jelaskan padaku mengenai kenapa kau membuat anakmu menjadi wadah monster?"
"Mengenai hal itu... anda mungkin kecewa pada saya benarkan Sanderson?"
Aku sedikit marah jika memanggil namaku dari dunia lama "oi... jika kau ingin mengajak berkelahi mari kita selesaikan sekarang"
"ha..ha..ha.. maafkan aku, hanya saja aku masih tidak bisa percaya jika anakku adalah orang dari dunia lain"
Aku menghela nafas sebentar. "Bisa langsung jawab pertanyaanku"
Minato mengangguk lalu kembali menatap Naruto dengan wajah serius. "Begini, ketika itu penyerangan di desa terjadi..."
Minato menjelaskan jika penyerangan itu di akibatkan karena kelahiran diriku dan juga penyerangan pria bertopeng misterius. Dari penjelasan seperti ini Naruto mengambil kesimpulan jika ini semua sebuah perencanaan dari jauh hari oleh pria itu.
Namun yang mengganggu pikirannya adalah kenapa pria itu langsung pergi meninggalkan lokasi jika memang berniat menyerang desa. Minato hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu mengenai pertanyaan itu.
Juga mengenai kenapa Naruto menjadi wadah untuk monster, minato memberi jawaban jika sebenarya ia percaya dan yakin jika Naruto mampu mengendalikan kekuatan itu.
"Hah... sangat merepotkan sekali"
Minato tertawa kecil lalu menatap kearah Naruto yang masih membuat wajah lelah. "Begitulah sebenarnya yang akan kau hadapi"
"Jadi apa ada lagi yang ingin kau katakan?"
Minato mendesah ketika menatap Naruto. "Tidak ada... padahal aku berharap aku bisa menyapa anakku namun aku tidak menduga jika orang lain yang lebih tua adalah anakku"
"Setidaknya aku tetap anakmu secara teknis"
Setelah itu mereka berdua saling tertawa satu sama lain untuk beberapa saat hingga akhirnya Naruto membuka topik baru untuk di bicarakan. "Bisa beritahu aku apa yang kau ketahui tentang pria bertopeng ini lebih jauh?"
"Aku tidak tahu lebih detil, tapi yang aku duga adalah pria itu aku sangat yakin jika ia adalah Madara Uchiha"
"Madara Uchiha?"
"Ini tidak masuk akal.. seharusnya dia sudah mati 140 tahun lalu"
Minato mengangguk pada Naruto mengenai pendapat ini dan mulai membahas mengenai kemungkinan siapa dia. Namun percuma semua mengarah ke jelan buntu dan tidak memiliki penyelesaian sama sekali.
"Aku punya pertanyaa lain untukmu"
Minato kemudian menatap Naruto dengan wajah santai. "Tentu apa yang ingin kau tanyakan"
"Mengenai roh pemanggil dari klan uzumaki"
Minato langsung melebarkan mata terkejut dan menatapkku dengan wajah terkejut. "Bagaimana bisa kau mendapatkannya?"
"Saat ujian chuunin seseorang memberikannya padaku dan aku berakhir mengacaukannya. Jadi bagaimana kau bisa membantuku?"
Minato berpikir sebentar. "Jika aku tidak salah kau harus membuat kertas pemanggilan baru dengan bentu yang sama dan menyalurkan energimu ke kertas itu"
"Ha?! Hanya sesimpel itu!"
Minato menganggukkan kepala dan menatap Naruto dengan Heran. Hal yang bisa Naruto lakukan adalah mendesah karena tidak menduga solusi untuk permasalahannya.
"Aku rasa ini waktuku untuk pergi" Minato menatap tangannya yang perlahan menghilang. Dengan senyuman Minato menatap Naruto sekali lagi. "Paling tidak aku masih senang bisa bertemu denganmu... Sanderson" saat itu juga minato menghilang dengan pecahan cahaya.
"Berisik!" Naruto memperotes dengan kesal pada Minato yang masih bisa memberikan senyuman mengejek pada Naruto.
Lalu Naruto teringat sebenarnya apa yang ingin ia tanyakan. "sialan! Aku lupa untuk bertanya bagaimana caranya ia bisa berkomunikasi padaku padahal ia sudah mati!"
"Sudahlah.. tidak ada gunanya aku pikirkan, sekarang bagaimana caraku untuk keluar dari sini" Naruto menatap sekeliling dimana ia masih terperangkap di ruangan ini.
Lalu berpikir sebentar mengenai kondisinya saat ini. "Mungkin aku perlu untuk berkonsentrasi... mungkin saja"
Aku berkonsentrasi dan berpikir jika diriku sudah di alam kesadaran. Namun ketika aku membuka mata hal yang tidak aku sangka terjadi. "Apa-apaan ini" aku berpikir ketika melihat diriku di depan kandang hewan raksaksa ini lagi.
Aku berjalan menuju kandang dan melihat siapa penghuni di dalamnya. "Oi... kau di dalam?" aku memanggil dengan keras ketika menatap sang rubah.
Rubah berekor sembilan tetap diam dan mengacuhkan Naruto untuk sementara. "Yo mother fker" Naruto menghinanya ketika berada di wajah Rubah besar itu.
"Apa yang kau inginkan manusia" suara berat datang membalas Naruto.
Naruto hanya mengangkat bahu dan tidur di kepala sang rubah "Tidak ada... mungkin karena aku terlalu bosan" Naruto berterus terang dengan santai.
"Kenapa kau bisa sangat santai dengan aura pembunuhku"
Rubah itu menatap ke arah Naruto dengan penasaran. Naruto hanya mendesah pada sang rubah idiot ini. "Aku yakin kau lebih mengenalku dari pada yang lain.. dan aku yakin jika kau tahu jawabannya"
"Aku adalah pembunuh dari dunia lain dan dengan semua pengalaman yang aku miliki mengahdapi makhluk sepertimu bukanlah sebuah perkara baru bagiku"
Rubah itu semakin penasaran ketika menatap Naruto yang masih santai berbaring di kepala sang rubah. Lalu Rubah itu memilih untuk memejamkan mata dan tidak mau memikirkan apapun. "Kau tahu... aku selalu penasaran siapa sebenarnya kau"
"Hump.. apa itu sebuah perintah"
Naruto hanya menggelengkan kepala dan kembali menikmati waktu santainya. Namun rubah itu ketika melihat ekspresi Naruto membuatnya terpaksa berbicara. "Aku kira kau sudah mencari tahu mengenai diriku.. jadi untuk apa aku memberitahukanmu"
"Itu mungkin benar juga... lebih baik aku tidak mengambil peduli"
Naruto memilih untuk tertidur di kepala Rubah itu. Untuk apa takut di bunuh olehnya, ini adalah alam bawah sadar jadi semua yang ada disini hanyalah proyeksi dari pikiran Naruto.
"Oi... apa kau setiap hari tertidur saja disini?"
Jawaban yang di terima adalah diam dari sang rubah. "hah.. berarti itu adalah jawaban dengan iya" Naruto menganggukkan kepala dan kembali diam untuk sementara.
Entah kenapa secara tiba-tiba mata Naruto menjadi bercahaya dan kesadaran pun datang menuju diri Naruto dengan sendirinya. Dan anehnya adalah kenapa semua ini terasa seperti di paksa untuk bangun.
"Ugh!" Naruto perlahan membuka mata dan menyesauaikan cahaya di sekitarnya. "Dimana aku" Naruto menatap semua arah dan terlihat jika Naruto berada di tenda perawatan.
'heh.. seperti biasanya... kau selalu memaksakan diri, Shironeko' Naruto mengelus kepala Miyuki yang tertidur di sebelah Naruto dengan menggunakan tangan kiri sebagai bantal.
Naruto terseyum melihat wajah polos Miyuki saat tertidur. Lalu kembali mengelus kepala Miyuki menggunakan tangan kanan dengan sangat lembut. "Maaf ya jika membuatmu khawatir"
Naruto kembali membuat wajah serius mengenai situasi kemarin dimana Tiara di bawa dengan paksa oleh orang yang seharusnya sudah mati di konoha. "Tetap saja.. dia adalah lawan yang berbahaya, jika aku langsung berhadapan dengannya sudah pasti aku yang akan mati"
Naruto berpikir mengenai strategi untuk mengalahkan lawan tanpa membuat dirinya terbunuh. 'percumana saja... kami berdua sangat berbeda level. Aku tahu itu dari pengalamanku' Naruto terus berpikir dengan keras mengingat dirinya cepat atau lambat akan berhadapan dengan pria itu lagi.
'setidaknya aku membutuhkan istirahat selama 1 hari lagi' Naruto menatap tangan kanannya yang masih terasa kaku walau sudah berusaha untuk di gerakkan dengan normal. "uhm" Naruto menatap kearah Miyuki yang sudah terbangun dari tidurnya.
Ketika miyuki mengusap mata dan melihat kearah Naruto yang sudah terbangun dengan terkejut Miyuki melebarkan mata dan meneteskan Air mata. "Yo... selamat pagi"
(sfx memeluk)
"Dasar laki-laki bodoh!"
Miyuki memeluk Naruto dengan menangis lega. Naruto hanya bisa mengelus kepala Miyuki dengan lembut. "Maafkan aku karena membuatmu khawatir" Naruto terus berusaha membuat Miyuki tenang.
Miyuki kemudian mengangkat kepala dan menatap kearah Naruto dengan senyuman. "Tidak masalah.. kali ini aku memaafkanmu, tapi aku mohon jangan membuat kami khawatir lagi"
"Jadi bisa beritahu aku berapa lama aku pingsan?"
Miyuki menghapus air mata dari pipinya dan menatap kearah Naruto. "Sekitar 9 jam... Naruto beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi"
Naruto mulai menjelaskan mengenai situasi dimana Tiara di culik dan mengenai pria yang seharusnya mati di konoha saat bertarung dengan Naruto saat itu. Miyuki mulai membuat wajah khawatir ketika penjelasan Naruto selesai.
"Jadi bagaimana? Jujur, aku tidak ingin membiarkan Tiara disana berada dalam bahaya. Dan aku akan menyelamatkannya jika itu di perlukan" Miyuki membuat wajah serius mengenai situasi.
Naruto ikut membuat wajah serius dan segera berusaha untuk bangkit ketika merasa jika tubuhnya mampu untuk bangun. "Naruto tunggu dulu! Jangan terlalu terburu-buru!" Miyuki berusaha untuk membantu Naruto yang sedikit kesulitan.
Namun ketika Naruto berhasil berdiri dengan pakaian masih mengenakan baju kaos dengan celana hitam segera menuju lemari pakaian. "Miyuki sekarang saatnya kita untuk membalas mereka!"
Naruto mengambil baju militer berwarna hitam dengan garis-garis merah di pundak menandakan jika ia berpangkat tinggi. "Naruto... itu!"
Miyuki terkejut ketika melihat garis merah di pundak baju Naruto. "Aku belum memberitahukanmu ya? Sekarang ini aku adalah Letnan kolonel dari regu penyerang. Miyuki Tsuburaya mulai saat ini kita party member Tiara akan menjadi regu penyerang 14"
Naruto berdiri dengan gagah ditambah dengan baju militer barunya menambah nilai ke tampanannya. "Hai!" Miyuki menyipitkan alis dan menjawab dengan serius.
Mereka berdua kemudian keluar dari tenda dan melihat suasana masih siang (11.00) banyak kelompok tentara melihat seragam Naruto mulai terkejut.
"Pak!" tentara memberi hormat ketika Naruto memasuki tenda komando. Naruto hanya membalas dengan mengangguk.
"Miyuki kau tunggu disini"
Miyuki menuruti perintah dan segera menunggu di depan pintu masuk tenda. Naruto masuk menuju pimpinan dari pasukan penyerbu. "Permisi"
"Ah... Darling" Putina menjawab dengan senyuman ceria. Lalu putina memeluk Naruto dengan erat. "Aku sangat khawatir padamu darling... apa kau baik-baik saja"
"hah... untuk saat ini aku masih baik-baik saja" lalu Naruto menatap Putina dengan wajah serius karena mengenai kondisi saat ini.
"Komandan Putina. Saya meminta sebuah permintaan"
Lalu Naruto menjelaskan keadaan, mengenai musuh yang menculik Tiara dan permintaan untuk menyelamatkannya dengan regu tempur tersendiri.
Putina juga bertanya apakah Naruto mengetahui dimana letak musuh. Maka Naruto menjawab dengan pasti. Berkat sebuah teknik dimana pengindraan jarak jauh, Naruto dapat mendeteksi mana dan chakra Tiara dalam jangkauan 80 km.
"Tiara berada di markas musuh dan aku sangat yakin sekali jika itu pusat kendali mereka"
Naruto kemudian mengambil peta yang sudah di perbanyak jumlahnya sebelum perang di mulai. "Ini posisi kita... dan aku yakin jika HQ musuh berada dikota kecil ini. Namun aku juga merasakan pasukan tidak di kenal di kota ini"
Naruto menunjukkan kota di dekat laut dimana Tiara berada adalah kota A Coruña, Spainia. Dan posisi musuh dalam jumlah besar berada di Oleiros dan juga Sada.
Putina berpikir sebentar dan menatap kearah Naruto. "Apa kau bisa memberitahukan berapa jumlah mereka?"
Naruto memejamkan mata dan berkonsentrasi untuk menghitung kemungkinan jumlah musuh. "Sekitar 300 ribu total di kota Oleiros dan di Sada berjumlah dua ribu"
Putine memegang dagu dan berpikir sejenak untuk sekian kalinya. "Bisa beritahukan berapa jauh jarak kota itu"
"Sekitar 1 jam jika menggunakan darat jika menggunakan laut mungkin sekitar 15 menit"
"Letnan Kolonel Naruto Uzumaki, anda mendapat ijinku untuk bergerak dan serang musuh disana. Dengar, misi utama kita semua disini adalah menghancurkan musuh dan mengambil alih Spania. Jadi dalam misi kali ini kalian akan aku beri angkatan laut sebagai bala bantuan. Sekarang bubar"
"Yes maam" Naruto memberi hormat dan bergerak menuju keluar dari tenda.
Ketika berada di luar tenda Miyuki sedang berdiri menunggu. "Miyuki ayo berangkat. Kita mendapat ijin"
Miyuki tersenyum dan menganggukkan kepala. Misi ini melibatkan Party member Tiara minus Tiara dan Servant miliknya. Untuk bala bantuan regu Naruto akan di tolong oleh Angkatan laut dan mereka tidak akan bergerak melalui darat karena beresiko.
Saat mereka berjalan menuju lokasi tim, Miyuki tetap diam dan terus diam memikirkan bagaimana mereka menyelamatkan teman mereka. Pemikiran seperti itu tidak jauh berbeda dengan apa yang Naruto pikirkan saat ini.
Saat mereka sampai di tenda dimana tim menunggu Naruto tanpa membuang waktu mulai menjelaskan situasi dari awal hingga akhir penjelasan. Noel, Miyuki, dan Satsuki sepakat untuk maju ke garis depan.
"Hump... akhirnya aku bisa menggunakan kekuatanku" Satsuki melipat tangan sambil tersenyum.
"Setiap orang yang melawan Naruto-sama adalah musuhku"
Untuk koyuki sendiri. Koyuki berada di kamp medis dimana masih membutuhkan banyak tenaga medis tambahan. "Baiklah.. ayo kita berangkat!'
"OW!" mereka bertiga langsung mengangkat tangan ke udara dan membalas dengan semangat.
00000000000
Perjalanan mereka berjalan mulus hingga saat ini. Tim Tiara dari kesatuan penyerang yang di pimpin oleh Letnan kolonel Naruto akan mendarat di pantai kota kedil Sada setelah kapal tempur yang berjumlah 10 unit membombardir kota.
"Shironeko, apa kau baik-baik saja"
Naruto menatap Miyuki yang memandang lautan dengan wajah khawatir. Miyuki kemudian menatap kearah Naruto yang berdiri di sampingnya.
"Aku hanya memikirkan apakah Tiara akan baik-baik saja"
Naruto menatap teman masa kecilnya yang terus membuat wajah khawatir dan membuat Naruto ikut mengkhawatirkan bagaimana kondisi Tiara saat ini.
"Jangan takut.. aku yakin Tiara baik-baik saja, sekarang kita harus fokus terhadap pasukan musuh nanti. Mengerti Shironeko" Naruto menepuk kepala Miyuki dan mengelusnya.
Miyuki tersenyum dan menganggukkan kepala. "Ya... kau benar sekali"
Di lokasi markas persembunyian musuh
"hump... ini masih tidak cukup"
Pria itu menatap kearah Tiara yang sudah terengah-engah dan tidak bisa berbicara dengan benar. Pria itu melipat tangan dan berpikir sebentar. "mungkin aku perlu beberapa hal lain untuk menyelesaikan upacara pembangkitannya"
Setelah itu dia pergi menuju ke gudang dimana mencari sebuah benda. "Dengan ini mungkin bisa..."
Pria itu kemudian menuju Tiara yang masih diikat di sebuah alat bersinar dimana setiap detiknya energi chakra dan mana Tiara di hisap secara paksa. "Demi Devine Wisdom" pria itu menuju Tiara dan memasangkan benda yang ada di tangannya.
Benda itu adalah sebuah helm yang di desain untuk menyerap semua kenangan dan energi lainnya dari otak pengguna.
"Kenangan indah adalah sebuah energi yang hebat, jadi Tiara ojou sebaiknya katakan selamat tinggal pada kenanganmu"
Tiara membuka mata sedikit dan saat itu juga kembali jatuh dalam ke hampaan ketika alat itu berhasil di nyalakan. Tiara pingsan untuk sementara dan tidak bisa bangun.
"ini hebat! Ini sangat hebat!" pria itu tertawa ketika melihat di sebuah tabung terpisah mulai bersinar terang akibat aliran energi yang sangat besar datang dari Tiara.
"Ini adalah hari dimana kebangkitan Devine Wisdom dimulai!"
Pria itu terus tertawa ketika tabung itu mulai bersinar terang dan di dalam tabung itu tercipta sesuatu. Sebuah benda seperti buah berwarna merah bersinar dengan terang.
Lalu ketika buah itu berhenti bersinar Pria itu menatap kearah Tiara. "oh.. kau sudah sadar, Re=vive nomor 15?"
Tiara terbangun dengan mata tidak memiliki cahaya. "Dengar, aku adalah tuanmu. Sekarang kau adalah bawahanku apa kau dengar"
Tiara mengangkat wajah dan melihat kearah Pria itu dengan mata tidak memiliki sinar. "Yes. Master" Tiara melepaskan diri dari ikatan dan berlutut di depan pria itu.
"Dengar.. aku ingin kau membunuh pria bernama Naruto Uzumaki dan semua teman-temannya. Ingat, semuanya adalah musuhmu. Dan musuh harus di bunuh"
"Yes master" Tiara berdiri dan berjalan keluar dari ruangan menuju medan tempur dimana Tiara bisa mencari musuhnya.
Pria itu menatap tiara yang pergi kemudian tertawa. "Nah... apakah kau bisa membunuhnya, Naruto Uzumaki"
Bersama Naruto.
"Uh!" Naruto langsung merasakan tanda bahaya ketika mereka sampai di dekat kota Sada. Miyuki menyadari jika Naruto bertingkah aneh secara tiba-tiba.
"Ada musuh berbahaya datang.. aku bisa merasakannya"
Miyuki menganggukkan kepala dan kembali menatap pantai dari kapal perang.
Kapten kapal ketika melihat kota Sada segera melihat melalui teropongnya. "Semuanya arahkan meriam dan tembak!"
(sfx ledakan meriam arteleri)
Kapal berang menembaki kota dengan shell daya ledak tinggi hingga menciptakan api dan berbagai macam ledakan disana dan disini. Tembakan dari kapal perang terus terjadi hingga beberapa saat. Musuh berlarian kesana dan kemari berusaha mencari tempat perlindungan.
"Semua unit disini Kapten. Musuh sudah habis. Hentikan tembakan"
Kapal tempur lainnya berhenti menembak dan bersiaga. Naruto dan tim kemudian menaiki kapal dimana mereka akan mendarat di pantai.
Saat mereka terus bergerak menuju pantai, Naruto sesekali melirik kearah kota dimana habis di lahap api. 'Ini seharusnya lebih mudah' Naruto berpikir sambil membiarkan tim mendayung menuju pantai.
Saat mereka sampai di pantai semuanya terlihat tenang untuk sementara. "Semuanya tetap siaga"
"Hai!"
Naruto berjalan paling pertama menuju perkotaan dimana seharusnya ada musuh yang berjaga. "Awas!" Naruto langsung melompat kearah tiga gadis yang hampir terkena jebakan pedang.
"Kalian tidak apa-apa"
Naruto berhasil menghancurkan pedang yang nyaris membunuh ketiga gadis. "Tidak apa-apa, terima kasih untuk itu" Satsuki memberi jawaban dengan menghilangkan beberapa noda di bajunya.
"Hump... aku rasa jebakan sederhana tidak bisa menjebak kalian ya?"
Suara baru datang membuat kami waspada. Dan ketika kami melihat siapa itu kami semua terkejut, namun yang paling terkejut adalah Satsuki.
"Kau!" Satsuki mulai menggeram marah.
"Itachi Uchiha" Naruto menyebutkan nama pria itu dengan waspada namun satu sisi tidak percaya jika mereka akan berhadapan di stage pertempuran ini.
"Naruto, Noel. Kalian pergi. Kami akan menghadang mereka" Miyuki memberi perintah ketika melihat dua pria dari Akatsuki akan menjadi lawan.
"Kami mengandalkan kalian" Naruto segera pergi menjauh ketika melihat mereka berdua bersiap menghadapi dua naggota akatsuki.
Satsuki menatap Itachi dengan mata serius. "Tidak aku sangka jika aku akan berhadapan denganmu, Nii-sama"
Itachi memejamkan mata dan menciptakan sharingan 3 dan menatap wajah Satsuki dengan wajah dingin. "Adik bodohku, aku lihat kau tidak memiliki perubahan sedikitpun"
Satsuki tersenyum kecil. "Heh... berarti kau buta jika tidak bisa melihat berapa jauh aku berkembang Nii-san"
Kisame Hishigaki menatap kearah Miyuki dengan senyuman buas. "heh.. gadis kecil, apa kau akan menjadi lawanku?"
Miyuki memberi senyuman percaya diri. "Maafkan aku, tapi harus aku katakan wajahmu sangat jelek sekali"
Kisame berkedut kesal ketika dihina oleh Miyuki. "heh.. itachi, aku akan menghabisi gadis kecil ini. Kau silahkan selesaikan urusan keluargamu"
Itachi tidak memberikan balasan selain diam dan terus menatap wajah Satsuki. "Jangan remehkan lawanmu"
Namun Kisame sudah bergerak maju tanpa memperhatikan Itachi sedikitpun. Itachi kemudian menatap wajah Satsuki yang masih memberi wajah serius. "Apa kau sudah cukup kebencian di dalam hatimu, adik kecilku"
"Kau pasti tahu jika kau tidak akan bisa menandingi sharinganku jika kau tidak memiliki kebencian yang kuat"
Namun Satsuki hanya tersenyum geli pada Itachi. "nii-sama, kau melewatkan satu hal. Aku tidak membutuhkan sharingan untuk melawanmu sedikitpun. Dan juga tanpa sharingan aku bisa menandingi dirimu yang masih di bawahku, jadi jangan terlalu percaya diri. Nii-sama"
Saat itu juga Satsuki membuat senyuman dan merentangkan tangannya ke depan. "Dewi perang beri aku kekuatanmu di kedua tanganku"
Itachi melebarkan mata ketika melihat apa yang ia lihat saat ini. 'ini... teknik dari Mages' itachi masih melebarkan mata ketika menyaksikan Satsuki mencipatakan senjata di kedua tangannya.
Dengan senyuman Satsuki memandang Itachi yang terkejut. "Ada apa Nii-sama... apa kau terkejut? Aku selama ini tidak menghabiskan waktuku dengan menjadi pembalas dendam bodoh yang tidak mengasah kemampuanku. Sekarang aku paham betul apa arti kekuatan. Kekuatan akan datang dengan berapa besarnya perasaan kasih sayang dan cinta yang kau punya. Dan ini adalah bukti jika rasa cintaku pada temanku sangat besar..."
Satsuki kemudian mengarahkan senjatanya ke Itachi. "... dan sekarang Nii-sama. Kau harus menjadi saksi jika aku bukan dirimu dan aku adalah diriku sendiri"
Itachi memejamkan mata dan menjadikan matanya menjadi bentuk aneh di pandangan Satsuki. "Baiklah jika itu keinginanmu" Itachi kemudian bersiap untuk menyerang menggunakan teknik miliknya.
Lalu entah bagaimana itachi bergerak dengan sangat cepat dan bahkan tidak bisa di prediksi oleh manusia biasa. Namun Satsk teta diam dengan senyuman. "Bullet pain" satsuki menembakkan Musket di belakang tubuh satsuki yang ternyata Itachi berusaha menyerang dari belakang.
Itachi langsung terkena tembakan dan mengambil langkah mundur. "Bagaimana" itachi menatap Satsuki yang terdiam dengan senyuman di wajahnya.
"Kau terlalu gampang di prediksi Nii-sama"
Itachi kemudian maju menyerang menggunakan teknik ilusi. "Genjutsu" itachi bergumam pelan dan membuat tubuh itachi pecah dan menjadi burung gagak.
Satsuki lalu melihat sekeliling dimana semuanya adalah rekaman dimana satsuki di bunuh berulang kali. Setelah mengalami di bunuh berulang kali. Satsuki berusaha bangkit setelah terbaring.
"Tidak buruk" Satsuki bergumam dengan mengusap darah dari mulutnya. Lalu Satsuki memejamkan mata dan menciptakan rune di sekeliling tubuh.
"Dewi pelindung, jadilah penjagaku, dari kelamnya malam, bersama dan kalahkan lawanku." Lalu satsuki membuat ledakan energi setelah rune mulai membesar menyebabkan teknik ilusi Itachi menjadi hilang.
"bagaimana bisa?" itachi mulai heran bagaimana bisa adik perempuannya mematahkan teknik genjutsu mangekyou sharingan tingkat atas.
"Nii-sama. Aku sudah mengatakan padamu. Aku bukanlah Satsuki yang dulu dimana hanya berusaha mencari cara untuk mengalahkanmu. Sekarang aku memiliki teman-temanku dan aku bisa menjadi kuat tanpa harus terjebak dalam kebencian"
"Lalu apa tujuanmu"
Dengan mata menata langsung kearah Itachi, Satsuki menyipitkan alis. "Aku ingin menjadi pelindung bagi orang yang aku cintai. Dan karena itu aku perlu mengalahkanmu, Nii-sama"
Itachi memejamkan mata dan masih membuat ekspresi datar. "lantas bagaimana dengan dendam klan? Apa kau mengatakan kau akan melupakan klanmu?"
Satsuki hanya tersenyum sebentar lalu jawaban berikutnya membuat Itachi terkejut. "Tentu saja aku akan memilih melupakan klanku. Ni-sama, aku yakin kau lebi tahu mengenai aku di klan. Bukan begit?"
Untuk sesaat Itachi hanya menjawab dengan menganggukan kepala. Lalu Satsuki kembali membuka suara.
"Mereka semua setiap saat memandangku dengan tatapan dingin dan mengatakan kenapa aku tidak bisa sepertmu. Kenapa aku terlahir sebagai perempuan lemah dan tidak memiliki bakat. Bahkan Otou-sama sendiri mengacuhkanku. Tapi aku masih marah padamu mengenai kau membunuh Okaa-sama"
"Begitu" itachi hanya memberi ekspresi seperti biasanya
Lalu Satsuki mempersiapkan senjatanya dan menatap Itachi. "aku akan bertarung bukan untuk dendam. Tapi aku bertarung demi mencari keadilan dan juga jawaban... aku selalu bertanya-tanya kenapa kau membunuuh klan Uchiha saja tapi kenapa kau tidak membunuh hokage sekalian. Dan karena itu Nii-sama. Aku akan mendapatkan jawaban dengan bertarung. Bersiaplah karena aku tidak akan menahan"
Itachi membuat senyuman kecil ketika melihat adik perempuannya tumbuh menjadi seorang Mages kuat seperti Naruto. 'Naruto-sensei, ternyata aku benar dengan meninggalkan adikku padamu. Aku sangat berterima kasih'
Lalu Itachi bersiap untuk serangan dari Satsuki. Satsuki maju dengan teknik kombatan jarak dekat yang di ajari senseinya selama dua tahun. Hal pertama adalah melompat dan menendang kepala Itachi, ketika Itachi menahan menggunakan kedua tangannya. Satsuki menyerang menggunakan Musket dan menembak kaki itachi.
"Ugh!" Itachi bergumam sakit ketika peluru sihir rasa sakit mengenai kaki itachi dan membuatnya berlutut. 'Gawat' itachi melihat Satsuki dengan tendangan menuju bahu itachi.
Itachi berusaha mengelak. "Kena kau" Satsuki tersenyum lalu membidik kearah tubuh bagian belakang itachi. "bullet of Pain" satsuki menembakkan 7 peluru ke punggung itachi yang mulanya berguling untuk menghindari tendangan Satsuki.
"uagk!" Itachi memuntahkan darah ketika peluru rasa sakit berjumlah 7 mengenai tubuh menyebabkan tubuh Itachi langsung melemah. 'ini luar biasa... tidak aku sangka jika adik perempuanku akan menjadi sangat kuat'
Dengan berusaha berdiri walau tubuh sudah merasakan sakit sangat luar biasa, itachi tidak bisa mengatakan aapun lagi selain tersenyum pada adik perempuannya yang sudah melampauinya "Baiklah, mari kita selesaikan ini" dengan mata masih membentuk pola sharingan sempurna.
Dengan sebuah teknik baru yang akan Itachi keluarkan. Satsuki bersiap di saat yang sama. Tubuh itachi kemudian keluar energi berwarna kuning kemerahan. "Susanoo"
Ledakan terjadi di posisi Satsuki saat itu juga. Dan miyuki masih bertarung dengan Kisame dengan sedikit kerepotan.
"oi.. gadis kecil, apa kau sudah kehabisan chakra?"
'sialan... tidak aku sangka jika pedang miliknya menyerap energi pengguna' Miyuki menatap pria hiu itu dengan mengumpat kesal. "Baiklah jika itu keinginanmu!" dengan wajah kesal Miyuki mau tidak mau mengeluarkan teknik andalan miliknya.
"Remington!" tangan kanan miyuki tercipta sebuah busur modern dari planet bumi (panah) dengan tali berwarna hijau.
"oh menarik sekali" Kisame tertarik dengan teknik yang Miyuki ciptakan. Lalu ketika kisame berusaha maju menyerang Miyuki dengan menebasnya secara langsung.
Miyuki langsung melompat tinggi lalu mengarahkan panah ke tubuh kisame. "Arrow killer!" Miyuki menyerang menggunakan anak panah dari energi berwarna hijau.
'Apa!" Kisame terkejut ketika melihat anak panah dari energi menuju dirinya. Dengan cepat kisame menggunakan Samehada untuk melindungi dirinya namun saat itu juga kesalahan terjadi.
Miyuki setelah mendarat segera menyerang lagi. "Arrow of Destruction!" panah berwarna merah mengarah kisame dengan kekuatan ledak tinggi. Saat kisame tidak menyadari jika panah menuju kearahnya, panah miyuki meledak di tubuh kisame dengan kekuatan tinggi.
(sfx ledakan)
"apa berhasil" miyuki menatap lokasi kisame terkena ledakan. Lalu terlihat kisame berbaring di tanah dengan baju/jubah sudah sepenuhnya hancur. Tubuh kisame juga di penuhi luka bakar akibat daya ledak tinggi dari anak panah.
"Kau sangat menarik, gadis kecil" kisame langsung berusaha membuat teknik baru, namun miyuki tidak memberi kesempatan.
"Tidak akan!" miyuki ketika di sebelah tubuh Kisame dengan cepat menyerang menggunakan anak panah lain. "Arrow of Killer" anak panah berwarna hijau dengan cepat mengenai tubuh Kisame dan secara telak Kisame kalah di tempat akibat panah menembus tubuhnya.
"Uahgk!" kisame memuntahkan darah lalu berbaring di tanah ketika panah pembunuh berhasil membuat luka serius di tubuh kisame.
Miyuki terengah-engah menatap kisame. "Jangan remehkan Mages" miyuki berusaha untuk berdiri dengan normal namun energinya sepenuhnya terpakai saat menggunakan panah spesial dari energinya.
Miyuki pun roboh ketika merasakan jika sudah tidak sanggup untuk berdiri lagi. Lalu menatap kearah posisi Satsuki dimana satsuki masih bertarung dengan Itachi. 'Sisanya aku serahkan padamu. Naruto' Miyuki jatuh pingsan karena kehabisan mana.
Posisi Satsuki.
"Jadi ini Susanoo dari klan uchiha?"
Satsuki terkagum melihat susanoo milik itachi yang berwarna kuning kemerahan. Lalu Satsuki menghindar dari serangan Susanoo yang berusaha menebas Satsuki
"menyebalkan!" satsuki bergumam ketika menghindari setiap serangan. "Bullet of Pain!" satsuki menembakkan sebanyak 30 peluru namun berhasil di tangkis oleh Itachi menggunakan perisai mutlak dari susanoo itu sendiri.
"percuma.. tidak ada yang bisa menembus pertahanan Susanoo" itachi mengomentari ketika melihat Satsuki menembaki susanoo.
"Berisik! Aku akan mengalahkanmu disini Nii-sama!" Satsuki melompat dari setiaps udut berusaha menghindari tebasan pedang api dari susanoo. Dengan pelatihan dari sensei selama dua tahun, satsuki mendapatkan kemampuan menghindari serangan dengan sangat baik.
"Bullet of Explode" Satsuki menembaki sebanyak 45 peluru peledak dan berhasil membuat wajah susanoo hancur untuk sementara.
"Kena kau!" Satsuki berusaha untuk menyerang lagi, namun susanoo sudah sepenuhnya pulih dan menyerang lagi. "Kyah!" satsuki terlempar ketika susanoo melempar tubuh Satsuki dengan keras.
"Masih belum" satsuki bangkit dan berusaha menyerang lagi. 'ini adalah tembakan terakhirku... aku harus menggunakan Extinction Ray.. jika tidak, pertarungan ini tidak akan habis' satsuki menatap susanoo yang masih utuh.
Satsuki kemudian menembaki susanoo menggunakan peluru peledak hingga menyebabkan kehancuran cukup fatal. 'ini kesempatanku' satsuki memandang jiak susanoo memperbaiki diri cukup lambat.
Satsuki kemudian merentangkan tangan kedepan dengan Musket menyatu dan membidik Susanoo. Lalu Satsuki memejamkan mata dan konsentrasi penuh terhadap mantra yang akan ia gunakan. 'Naruto.. lihat, aku akan melampaui dirimu dan akan menjadi satu-satunya di hatimu.
"Aku adalah penghancur, aku adalah pemburu, aku adalah pemusnah, setiap ciptaan dapat aku hancurkan, setiap dewa dapat aku kalahkan, tidak ada ciptaan di dunia ini aku tidak bisa kalahkan. Semuanya akan hancur dalam ketiadaan. Untuk setiap penghancur! Menjadilah ABU!..."
Rune di depan musket yang saling menyatu mulai membesar dan memiliki warna kuning kemerahan. "... lima elemen, penghancur ketiadaan! EXTENCTION RAY!" teriak Satsuki dan saat itu juga sebuah laser putih keluar dari musket yang saling menyatu menuju kearah susanoo.
"APA!" itachi melebarkan mata ketika melihat serangan itu.
(SFX ledakan)
Susanoo terkena serangan dan susanoo itu sepenuhnya melenyap menjadi abu. Ajaibnya Itachi tidak hancur jadi abu dan Itachi terbaring di tanah dengan mata terpejam dan tubuh di penuhi luka.
Satsuki kemudian terengah-engah dan perlahan mata mulai memudar. "Uhuk!' Satsuki memuntahkan darah dan di saat yang sama kulit satsuki berubah pucat seperti mayat. Satsuki kemudian memandang kearah Itachi dimana berhasil dikalahkan.
"Naruto.. aku menyerahkan semuanya padamu" Satsuki tersenyum lalu terbaring pingsan ketika energinya sepenuhnya hilang dan tidak bisa untuk melanjutkan lagi untuk bertarung maupun untuk bangun.
000000000
Naruto dan Noel masih terus berlari menuju pusat kota dimana pasukan musuh berusaha untuk kabur. Namun pandangan Naruto dan noel langsung terkejut ketika melihat ledakan besar datang dari kota. "Apa itu!" Naruto bergumam ketika melihat ledakan.
"Tidak aku mohon jangan.. uaaaaa!"
Sebuah teriakan datang dari balik asap bekas ledakan itu. Ssaat Naruto dan Miyuki diam dan menatap dengan serius siapa yang datang, alangkah terkejutnya mereka beruda. "Tiara!"
Mereka berud amemanggil di saat yang sama, namun mata Naruto langsung menyipit ketika melihat mata tiara yang tidak memiliki cahaya dan dengan pedang pengutuk di lumuri darah. Baju tiara dan wajah tiara juga memiliki noda darah.
"bunuh..Bunuh...Bunuh... tuanku katakan semuanya adalah musuh"
"Noel onee-san, sepertinya ada yang tidak beres pada tiara"
Noel menatap tiara yang berjalan menuju mereka berdua dan berpikir sebentar. "Naruto-sama, Tiara terkena teknik penghapus pikiran. Teknik dimana sang korban di hilangkan ingatannya dan menjadikan mereka sebagai boneka"
Naruto langsung melebarkan mata. "Penghilang ingatan! Apa itu artinya Tiara tidak tahu sama sekali tentang kita!"
"tenanglah Naruto-sama, setahu saya teknik ini hanya bersifat sementara. Sang korban akan mengalami penyegelan ingatan selama 24 jam dan mereka akan kehilangan sepenuhnya ingatan mereka setelah 24 jam. Melihat dari aksi tiara maka saya dapat menyimpulkan jika tiara masih beberapa jam terkena teknik ini"
Ketika Naruto menatap Tiara yang masih membuat wajah kosong, Naruto mengumpat. "sialan!"
"BUNUH!" Tiara melesat maju menuju mereka berdua.
Naruto dan noel berhasil menghindar dengan cepat. "Naruto sama, aku akan tangani ini" Noel kemudian menciptakan sebuah lonjakan energi dari tubuhnya. Tubuh noel kemudian di kelilingi energi merah. Dan rambut noel berubah menjadi merah begitu juga dengan ekor dan mata Noel.
"Demi transformasi level 3" noel kemudian melesat menuju tiara dengan kekuatan penuh. Noel pertama menendang tiara dan berusaha untuk membuat tiara diam. Saat Noe sudah di depan Tiara dengan kaki siap menendang wajah Tiara.
Entah bagaimana Tiara dapat bergerak sangat cepat dan bisa menghindari serangan Noel. "uahk!' Noel terlempar ketika tiara memukul Noel tepat di wajah dengan bagian tumpul dari pedang.
"Noel onee-san!" Naruto bertariak memanggil ketika melihat Noel terlempar cukup jauh. "Tiara sadarlah!"Naruto berusaha memanggil dengan harapan berhasil membuat Tiara tersadar.
Namun Tiara memandang wajah Naruto yang memanggil Tiara. Dengan wajah masih kosong Taira menatap wajah Naruto. "Taira!" Naruto berusaha untuk memanggil lagi.
'eh?" Naruto terkejut ketika melihat tiara melenyap dari posisi dan entah bagaimana berhasil menghajar tubuh Naruto dengan sangat kuat. "Bwahk!" Naruto memuntahkan darah ketika Tiara memukul pinggang Naruto dengan kekuatan yang sangat itnggi.
Naruto terlempar sekitar 50 meter dan menabrak beberapa gedung hingga hancur. Naruto berusaha untuk bangkit ketika menghapus darah dari mulutnya. "Aku rasa kau tidak akan bisa di ajak bicara ya?' naruto menatap Tiara yang masih memberikan wajah kosong.
'Tiara apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kekuatanmu melebihi yang aku kira selama ini'
Naruto kemudian bangkit dan memikirkan sebuah rencana tapi semuanya tidak membantu sama sekali jika di pikirkan. "dasar gadis berengsek!" aku mengumpat pada tiara.
'jika tiara masih bisa mengingat maka hal ini seharusnya berhasil'
Naruto menatap Tiara yang tiba-tiba berhenti dari berjalan menuju kearah Naruto. 'Apa berhasil?' Naruto sedikit bertanya-tanya lalu menatap secara teliti mengenai Tiara.
Tiara terdiam dengan tubuh bergetar. 'aha.. ini mungkin bekerja' Naruto tersenyum ketika melihat personalita Tiara tidak berubah sedikitpun.
"Oi.. berengsek, pelacur, dan bangsat! Lihat aku apa kau pikir aku adalah seseorang yang lemah!" Naruto bertariak pada Tiara yang terus bergetar.
Tubuh Tiara bergetar dan pipinya berubah kemerahan. "Oi.. bajingan apa kau dengar aku!"
Naruto tersenyum kememangan jika Tiara akan kembali seperti normal dengan sangat cepat jika hal ini berhasil. "Na...ru..to... lagi... hina... aku"
"Tiara!" Naruto langsung gembira ketika melihat Tiara perlahan menjadi dirinya walau tubuhnya bergetar.
Lalu Naruto dengan cepat menuju Tiara dan memeluknya. "tara.. aku sangat khawatir padamu"
Namun tiara tetap diam dalam pelukan Naruto. "Tolong.. jangan dekati aku"
Tiara berbicara dengan pelan hingga Naruto merasakan sebuah serangan dadakan dari Tiara. "Uhk!" Naruto terlempar lagi hingga menabrak gedung.
"Naruto sama!" Noel memanggil namun Noel juga tidak bisa bergerak karena tubuh Noel sudah tidak mampu untuk bergerak lagi.
Narto sendiri yang berusaha untuk berdiri mengalami kesulitan karena pukulan dari Tiara sangat kuat hingga menyebabkan tembok rumah hancur. Naruto mengusap darah dari mulut dan menatap Tiara sekali lagi. "Dasar wanita merepotkan"
Naruto maju menatap Tiara. "Tiara.. kau masih mengingatku benarkan!" Naruto perlahan menuju Tiara yang masih diam. Saat tiara masih terus diam Naruto terus melangkah menuju Tiara.
"Uahk!" Naruto memuntahkan darah ketika Tiara entah bagaimana bisa menusuk Naruto dengan pedangnya. Naruto hanya tersenyum lalu menatap wajah Taira yang tidak memiliki ekspresi.
"Kau tahu... uhuk... aku selalu ingat bagaimana ekspresimu ketika marah maupun ketika kau tersenyum..."
Naruto menyentuh tangan Tiara dan menggenggamnya. "Tiara... tolonglah kembali menjadi dirimu lagi... kau memiliki jutaan kenangan yang ingin kau kenang bukan begitu... jadi..."
Naruto terus menerima rasa sakit dari pedang tiara. Naruto menyentuh pipi Tiara dengan pelan dan membuat tiara menatap wajah Naruto yang tersenyu. "... ingatlah dirimu sendiri, dasar gadis berengsek" Naruto tersenyum pada Tiara. Lalu Naruto mengambil kesempatan dengan mentransfer segala energi yang ia miliki ke tubuh Tiara dengan keyakinan jika Tiara dapat mengingat lagi.
"Ingatlah!... ingatlah saat-saat dimana kita bersama-sama!" Naruto berteriak pada Tiara yang mulai mendapatkan sinar di matanya. "InGATLAH SEMUA ITU!" Naruto melemparkan semua energi yang ia miliki ke tiara.
Tiara melebarkan mata ketika dapat mengingat semua itu lagi. "Na..Ru...To..." Tiara mulai sadar dan tertegun akan semua itu. Dengan wajah shock Tiara menatap Naruto yang masih tersenyum.
Naruto akhirnya roboh ketika sudah kehabisan tenanga. Tiara menangkap tubuh naruto dalam pelukan dan diikuti air mata. "Terima kasih... kau berhasil membawaku kembali" Tiara tersenyum bahagia pada Naruto. Naruto hanya bisa tersenyum kembali dan akhirnya jatuh pingsan.
Tiara tersenyum lalu mendesah pada Naruto. "kau memang orang yang bodoh" Tiara mengusap air mata dari wajahnya dan duduk di tanah membiarkan kepala Naruto di pangkuannya.
"Naruto-sama anda berhasil" Noel menghela nafas lega dan tersenyum ketika situasi kembali normal.
Beberapa menit berlalu. (tepatnya 45 menit)
"hmmm' Naruto berusaha membuka mata dan melihat sekeliling.
Lalu hal pertama yang naruto lihat adalah wajah Tiara. Tiara kembali menjelaskan situasi dimana dia di tahan dan rencana jahat pria misterius itu. Setelah sepenuhnya bangun Naruto berpikir mengenai rencana untuk menyerang.
"Jadi apa kalian ada ide?" Naruto menatap dua gadis yang ikut berpikir.
"Naruto-sama, sebaiknya anda dan Tiara yang pergi. Saya harus memeriksa keadaan Miyuki danSatsuki. Seharusnya mereka menyusul kita namun mereka tidak kunjung datang. Jadi saya sarankan jika anda berdua bergerak dan saya akan meminta kapal tempur untuk menyerang lokasi musuh selama 4 menit, setelah itu kalian berdua dapat menyerang"
Naruto berpikir sebntar. Lalu mengangguk mengenai ide simpel itu. "Baiklah... aku mengandalkanmu Noel Onee-san"
Noel kemudian bergerak menuju lokasi Miyuki dan Satsuki sementara Naruto dan Tiara berjalan menuju kota dimana musuh berada. Berdasarkan kesimpulan pa yang Noel katakan adalah. Mereka berdua bisa menyerang musuh setelah bombardir dari kapal terhenti setelah 4 menit penyerangan.
Mereka berdua berjalan dengan santai menuju lokasi musuh. "Tiara bisa katakan padaku, sebenarnya kau ini apa"
Tiara mulai murung namun Tiara tidak memiliki alasan untuk mengelak setelah semua yang terjadi. "Sebenarnya, aku bukanlah manusia biasa"
"Apa maksudmu?"
"9 tahun lalu ketika ibuku di bunuh oleh Orochimaru, saat itu sebenarnya aku terbunuh"
Naruto melebarkan mata mengenai informasi ini. "Tapi bagaimana kau bisa hidup lagi"
"Ayahku saat itu terpukul mengenai kematianku, namun tanpa ayahku ketahui peneliti jahat dari kerajaan melakukan eksperimen untuk melakukan pembangkitan lagi dengan metode pengkloningan sebagai bahan uji coba..." taira memberi jeda sejenak sambil menatap langit
"... aku memang mati, namun otakku masih bekerja sehingga aku dapat merekam semua yang terjadi. Bahkan aku merasakan semua yang di rasakan oleh manusia kloningan diriku. Para peneliti jahat itu mengorbankan sebanyak 70 manusia untuk eksperimen. Hingga eksperimen terakhir mereka menggunakan energi dari sebuah sumber yang mereka tidak ketahui. Dan saat itu proyek Re=vive berhasil mereka jalankan dengan kebangkitan diriku seutuhnya"
Tiara mulai murung "Namun ketika aku bangkit dari tabung itu. Aku mengamuk dan menyebabkan semua peneliti terbunuh... setelah itu Otou-sama menyadari apa yang terjadi dan sempat terkejut jika aku masih hidup... otou-sama awalnya senang jika aku bisa hidup lagi, namun perlahan otou-sama semakin sedih ketika melihat diriku"
"Apa yang terjadi"
"Tubuhku memiliki sebuah sistem pertahanan otomatis dimana aku membunuh makhluk hidup yang memiliki sebuah perasaan tertentu padaku"
Tiara menjelaskan jika ia sudah membunuh banyak sekali manusia yang memiliki perasaan suka padanya menyebabkan Tiara sepenuhnya tidak ingin berinteraksi oleh siapapun. Namun tiara sangat tidak mengerti kenapa dengan Naruto dan tim, tiara tidak menyebabkan kematian apapun. Hal itu menambah rasa penasaran Naruto akan satu point.
"Dengar Tiara!" Naruto membuat Tiara mengalihkan padangannya pada Naruto sepenuhnya.
"Tidak peduli apapun itu yang terjadi. Aku akan berjanji padamu. Aku akan menghilangkan kutukan itu darimu dan membuatmu merasakan jatuh cinta pada pria yang kau sukai. Aku janji"
Tiara hanya tersenyum pada Naruto dengan senyuman keyakinan. "Aku akan menunggu sampai hal itu datang"
Naruto menganggukkan kepala dan mereka berdua kemudian berjalan lagi menuju lokasi musuh yang semakin dekat. Naruto kemudian melihat kota A Coruna yang di bombardir di setiap sudut.
'ini sudah 4 menit. Saatnya kami maju' Naruto melirik kearah Tiara dimana ledakan sudah berhenti. Naruto dan Tiara kemudian berjalan menuju lokasi dimana Tiara di tahan sebeumnya. Lalu mereka menemukan sebuah pintu masuk kedalam ruang bawah tanah dimana Tiara tadi di tahan.
Saat mereka di dalam ruangan bawah tanah terlihat sebuah labolatorium dimana sebuah buah misterius berada di dalam tabung. "apa kalian tertarik" suara baru datang dari dalam kegelapan.
Tiara dan Naruto bersiap ketika melihat pria dengan kemeja berwarna abu-abu dengan dasi hitam di lapisi jubah hitam dengan garis-garis merah. "itu adalah buah dewa. Shinju, buah yang memberikan kekuatan abadi pada mereka yang memekannya. Dan kami akan memiliki kekuatannya"
"Sayang sekali tapi itu tidak akan terjadi untuk saat ini" Naruto menciptakan pedang Saber
"hump... kau berniat bertarung melawanku ya?" pria itu kemudian menciptakan pedang pengutuk berwarna hitam.
"Tiara menyingkir... aku akan menyelesaikan dia"
Tiara menganggukkan kepala dan menyingkir mencari tempat aman. Pria itu ketika melihat tiara kemudian menatap kearah Naruto. "hump... kau memang menarik, kau bisa membuat dia mengingat semua kenangannya dalam waktu singkat"
"Berisik dan segera kita selesaikan ini"
"Mungkin kau benar" pria itu kemudian melesat kearah Naruto.
Adu pedang terjadi di antara keduanya. Naruto berusaha menebas pria itu dengan kekuatan yang ia miliki Namun pria itu menggunakan kesempatan dengan melakukan serangan balasan ketika perut naruto tidak terjaga.
Naruto terkena tusukan pedang namun tidak membuat waktu lama Naruto langsung mengambil sebuah pisau dari saku celana militernya dan menusuk pria itu. "uhuk!' pria itu memuntahkan darah begitu juga dengan Naruto.
Lalu mereka berdua mengepalkan tangan dan saling memukul di wajah satu sama lain dengan kekuatan yang sangat kuat. Keduanya terlempar hingga menyebabkan beberapa kehancuran di dinding. "uhuk.. ini lebih sulit dari yang aku duga" Naruto mengusap darah dari mulutnya.
Lalu menatap kearah lawan dengan wajah serius. Lalu melirik kearah Tiara yang berusaha untuk melakukan sesuatu ke buah itu. "Baiklah saatnya kita serius"
"hump... aku ragu mengenai hal itu" Pria itu mengatakan dengan memejamkan mata.
Naruto memanjangkan pedang saber lalu pedang tidak terlihat milik Naruto perlahan di kelilingi cahya kuning keemasan dan menampilkan wujud pedang Saber.
"Hiiiyah!" Naruto maju dengan kekuatan penuh. Pria itu juga maju di saat yang sama. Keduanya berlaga pedang dan berusaha satu sama lain untuk berlaga. "Kena kau!' Naruto melihat celah.
Namun naruto gagal dan menyebabkan dirinya hampir di tebas kembali. Lalu ketika pria itu berusaha menyerang. Naruto menangkis dan menyebabkan pedang Naruto terlempar.
Saat pria itu berusaha untuk menebas Naruto, naruto menundukkan kepala dan bersiap "Angin pembelah berikan kekuatan dengan segala keinginanku" Naruto menciptakan sebuah peluru angin menuju pria itu. Pria itu terkena tembakan peluru angin menyebabkan dia harus mundur.
Tiar menyaksikan pertarungan yang sudah mencapai jalan buntu mulai mempercepat apa yang ia akan lakukan. 'aku harus menanamkan mantra peledak di ruangan ini' tiara kemudian menciptakan kertas peledak dengan mantra.
Naruto di satu sisi sudah kehabisan mana dan chakra. Pandangan sudah buram dan tidak bisa berpikir lagi dengan lurus. "hah...hah...haha..." Naruto terngah-engah ketika melihat situasi yang tidak menguntungkan baginya.
"Kau sangat hebat. Aku akui itu, dan demi membalas semua penghormatanmu. Matilah" Pria itu berusaha menusukkan pedang kearah Naruto.
"Uah!" Naruto memuntahkan darah ketika pria itu sukses menusukkan pedang hingga menembus tubuh Naruto.
"Kau kalah!" Naruto tersenyum lalu mencengkram kedua tangan pria itu.
"Apa!"
Naruto tersenyum lalu memandang pria itu. "Pola ini lagi.. aku rasa kau tidak belajar sedikitpun" Pria itu melihat dimana Tiara menggunakan pedang pengutuk dan menusuk pria itu tepat di dada.
Naruto dengan cepat memukul dada pria itu dengan keras dimana paru-paru pria itu langsung remuk. Dan ketika pria itu terbaring dengan tidak bisa bergerak untuk sementara. Tiara menopang Tubuh Naruto. "Ayo kita pergi!" Tiara berujar dengan panik ketika mengatakan apa yang akan terjadi.
Mereka berdua kemudian berjalan keluar dari ruangan bawah tanah dimana mereka dapat melarikan diri. Bom itu hampir meledak dan keduanya juga sedikit lagi berhasil mencapai pintu keluar.
Lalu mereka berdua setelah berhasil keluar dari ruangan bawah tanah ledakan pun terjadi. (sfx ledakan) ledakan bawah tanah yang sangat kuat menyebabkan getaran hebat hingga seluruh ruangan bawah tanah itu rata di timpa oleh tanah di permukaan.
Beberapa menit setelah ledakan
"Akhirnya kita berhasi'" Naruto bersandar di bahu Tiara kemudian memandang langit. "mungkin aku akan mengambil cuti dari kegilaan ini"
Tiara kemudian menyandarkan kepalanya ke kepala Naruto lalu tersenyum kembali. "Cuti untuk tim kita, Naruto"
Naruto hanya tersenyum lalu menganggukkan kepala pada Tiara. "Tiara... aku ingin kau menghadapku dan memejamkan matamu."
"ada apa?"
Naruto hanya mendesah. "Hanya ikuti saja"
Tiara tidak tahu apa yang diinginkan Naruto lalu menuruti. Hingga beberapa saat tiara merasakan sebuah perasaan lembab di pipi kanannya. Saat itu juga Tiara membuka mata dan alangkah terkejutnya ketika melihat apa ini.
"Ini adalah hukuman karena bertindak ceroboh dengan membiarkan dirimu di tangkap" Naruto tersenyum ketika memberikan kecupan di pipi Tiara. Tiara hanya memerah dan diam bagai batu.
"Kau sangat imut sekali" Naruto kemudian tertawa ketika melihat ekspresi Tiara yang terdiam mebeku bagaikan patung. Lalu mereka berdua melihat Miyuki, Noel, Koyuki, satsuki datang dari kapal trasport di pantai.
"Kita akan pulang..." Naruto kemudian memejamkan mata dan jatuh dalam kegelapan.
"Naruto!" Tiara panik ketika naruto langsung memejamkan mata dan tidak bereaksi. "ini..." Tiara melihat luka di perut Naruto mulai menghitam tanda jika Naruto terkena serangan pedang pengutuk.
Naruto tidak bernafas dan tidak memiliki denyut nadi membuat satu tim langsung panik dan berusaha untuk melakukan sesuatu.
Namun Naruto sepenuhnya sudah tidak sadar dan tidak bisa mendengarkan apapun lagi.
0000000000000000
Next
Ending of World of Teacher I
Ending Tiara
