AKATSUKI KELILING DUNIA

Chapter 26. Mexico (2)

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Humor/Adventure

Rating : K+

Summary : Akatsuki mendapatkan hadiah keliling dunia secara gratis bersama Naruto si tourguide ceroboh dan Sasuke si pilot dadakan./ "Aku adalah penggemar beratmu! Tolong angkat aku sebagai muridmu!"/"Jangan berlebihan begitu, tapi karyaku memang tidak ada duanya sih! HAHHAHA"/"YAAA! KALIAN PASTI SILUMAN! JANGAN SENTUH AKUU! AKU MASIH PERJAKAA!"

.

.

.

Akatsuki cs kini tengah mempertaruhkan nyawa mereka untuk sampai di dasar tebing. Hanya dengan bermodal tenaga dan bebatuan yang ada, mereka kini sudah hampir setengah perjalanan.

Brussshh!

Beberapa batu kerikil berjatuhan menimpa wajah Pein.

"Sialaan! Woi Tobi, turun yang benar! Jangan buat bebatuan itu jatuh!" omel Pein yang berada tepat di bawah Tobi.

"Maaf senpai, Tobi tidak sengaja."

"Ya ampun, kakiku kraaam! Kumohon siapapun gendong aku, un!" pekik Deidara.

"Jangan buat alasan yang tidak-tidak, bodoh!" bentak Sasori.

"Senpai, Tobi ingin pipis."

"ASTAGA KENAPA KAU SELALU INGIN BUANG AIR DI SAAT YANG TIDAK TEPAT?!" teriak Pein.

"Hoi, jangan berisik, kalau kalian terus berisik, batuan disini bisa longsor!" bentak Jiraiya. Akatsuki pun menutup mulut mereka seketika. Setelah beberapa lama, kaki Deidara mulai mengalami keram.

"Haduuh! Kakiku keram sungguhan, un! Aku tidak kuat lagi!"

"Berisik kau Deidara! Apa pun alasannya tidak akan ada yang mau menggendongmu!" tandas Hidan.

"Tobi mau! Ayo kemari Senpai, naiklah ke punggung Tobi!"

"Tidak mau, un! Punggungmu tidak meyakinkan!"

"Eh, ngomong-ngomong itu apa ya?" tanya Naruto sambil melihat ke arah kiri. Terlihat dari kejauhan sebuah benda yang melesat dari atas tebing menuju ke bawah dengan bantuan tali.

"Oh, itu kereta gantung!" ucap Jiraiya santai.

"Kereta gantung untuk apa?" tanya Naruto lagi.

"Tentu saja untuk mengangkut orang-orang menuju ke ngarai."

"Huapaa? Lantas kenapa kita tidak naik kereta gantung! Astagaa aku merasa dejavuu!" pekik Naruto yang tiba-tiba teringat kesialannya saat mendaki tembok besar China.

"Ah, kalau kita naik kereta gantung, kita akan melewatkan sesuatu!" Jiraiya menanggapi dengan santai pekikan Naruto.

"Apa? Memangnya ada apa di sebelah sini, hah?"

"Kalau kalian naik kereta gantung, kalian hanya akan berwisata. Tapi jika kalian lewat sini, maka kalian akan membangkitkan jiwa pria kalian!" jelas Jiraiya. Naruto hanya bisa mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti dengan maksud Jiraiya.

"Kenapa tiba-tiba aku merasa bersemangat ya?" gumam Pein saat feelingnya tiba-tiba terasa baik.

"AKHIRNYA SAMPAAAII!" teriak Konan dan Sakura yang kini sudah bisa menapak tanah dengan bebas. Mereka bisa turun lebih cepat berkat bantuan tali.

Deidara yang melihat tali tersebut pun segera merayap ke pinggir untuk menggapai tali. Namun perjalanannya terhalang oleh Sasuke yang sedang turun di samping Deidara.

"Hoi minggir, Sasuke, un!"

"Apa otakmu geser, hah? Turun itu ke bawah bukan ke samping!" omel Sasuke yang melihat Deidara malah merayap ke samping.

"Aku mau pakai tali itu, un!"

"Laki-laki sejati tidak turun pakai tali, Dei!" celetuk Pein.

"Persetan dengan laki-laki! Kakiku keram dan kuku-kuku cantikku rusak gara-gara batu ini!" rutuk Deidara sambil menyabotase perjalanan Sasuke, ia merayap melewati punggung bungsu Uchiha itu.

"Woi! Apa-apan ini!" protes Sasuke. Sakura yang berada di bawah melihat Deidara yang melewati punggung Sasuke seakan sedang memeluk Sasuke dari belakang. Tak terima pujaan hatinya menjadi korban Deidara, gadis pinky itu pun menarik tali yang sebelumnya ia gunakan untuk turun. Ia menyeretnya ke samping Deidara yang sudah hampir melewati Sasuke. Melihat tali itu mendekat, Deidara pun meraihnya.

"Wah, terimakasih, un!"

"Rasakan ini! Jangan sentuh Sasuke-kuu!" teriak Sakura sambil menggoyangkan tali tersebut ke kiri dan ke kanan. Membuat Deidara ikut terombang-ambing.

"Waaa! Apa-apaan kau, sialan!" omel Deidara. Sakura menambah kekuatannya pada tali tersebut hingga Deidara pun terjatuh dari tali.

"HUAAAAA! TOLONG AKU, UNNN!"

Grep.

Layaknya super hero, Kakuzu meraih tangan Deidara dan memegangnya dengan kuat. Padahal ia sendiri pun hanya berpegangan pada batu.

"Kakuzu, un! You are my hero, un" ucap Deidara terharu.

"Bayarannya 2 juta dollar!" ucap Kakuzu santai.

"HUAPAA?! LEBIH BAIK AKU JATUH DARI PADA HARUS MEMBAYAR 2 JUTA DOLLAR, UN!" tandas Deidara. Dan detik itu juga Kakuzu melepaskan tangan Deidara. Pria kuning itu pun kembali melesat jatuh ke bawah.

"TERKUTUKLAH KAU, KAKUZU SIALAN, UN!" pekik Deidara sebelum ia jatuh ke semak-semak. Sementara Kakuzu hanya memasang wajah santai seakan tidak ada apa-apa. Orang-orang yang menonton hanya bisa bersweatdrop ria melihat kelakuan Kakuzu.

Akhirnya setelah bersusah payah, mereka semua pun berhasil mendarat di dasar tebing. Dengan lutut lemas dan kaki lecet, mereka terduduk di rumput sambil meregangkan otot-otot yang sedari tadi bekerja. Setelah di rasa cukup, Jiraiya kembali menggiring Akatsuki cs untuk melanjutkan perjalanan. Meskipun mereka sudah menuruni tebing, bukan berarti mereka sudah sampai di ngarai. Mereka harus menuruni hutan untuk sampai di tempat tujuan.

Hutan di Copper Canyon ini cukup unik, di setiap tempat yang ketinggiannya berbeda, lingkungan pun ikut berbeda karena perubahan iklim.

Sekarang mereka berada di hutan yang cukup tinggi, lingkungan di sini mirip seperti hutan tropis. Terdapat beberapa pohon pisang, jeruk, bahkan pohon avokad. Tapi sayangnya buah-buahan itu belum matang.

"Padahal lumayan untuk mengisi perut," ratap Zetsu yang sangat ingin melahap buah jeruk tersebut.

"Hei, cepatlah berjalan, perjalanan kita masih jauh!" titah Jiraiya.

Setelah beberapa lama berjalan, mereka pun merasakan perbedaan suhu dari sebelumnya. Hutan yang tadinya dikelilingi tumbuhan tropis, kini berganti menjadi berbagai macam pohon dan kaktus.

"Aneh sekali, kenapa ada hutan kaktus di tempat seperti ini," gumam Konan. Jiraiya pun menjelaskan bahwa Copper Canyon ini memang unik. Kita bisa merasakan 4 macam hutan di tempat yang berdekatan. Selain pepohonan yang beraneka ragam, hewannya pun tak kalah banyak jenisnya. Selagi yang lainnya mendengarkan penjelasan Jiraiya, Pein, Naruto dan Zetsu tampak berbincang di ujung barisan. Mereka sedang membicarakan Jiraiya yang sepertinya di kenal Pein. Tapi ia pun lupa-lupa ingat. "Dimana ya aku mengenalnya," gumam Pein sambil mengetuk-ketukkan jarinya di dahi, berharap kepalanya itu bisa berpikir lebih baik.

"Sudah lupakan saja. Yang penting kan dia bukan buronan," ucap Zetsu menanggapi.

"Tentu saja, mana mungkin ayahku memperkerjakan buronan," sahut Naruto.

Tak lama kemudian terdengar sayup-sayup suara gemuruh air. Seperti aliran sungai yang deras, lebih tepatnya seperti air terjun.

"Kita hampir sampai?" tanya Hidan yang sudah kelelahan. Sesekali ia menyeka keringatnya yang sudah membanjiri dahinya. Ia kadang heran dengan Kakuzu, kenapa bisa dia bertahan dengan penutup kepala dan masker di cuaca yang gersang begini? Apa jangan-jangan di dalam maskernya itu ada semacam AC atau kipas angin?

"Kenapa kau lihat-lihat?" tegur Kakuzu begitu memergoki Hidan yang sedang menatapnya.

"Ti-tidak!" bantah Hidan. Di belakang mereka Tobi ikut nimbrung, "Cie...ciee... Hidan senpai ketahuan curi-curi pandang, cie..ciee!"

"Jangan bicara yang tidak-tidak, kampret! Aku bukan maho! Itu dilarang dalam ajaran Dewa Jashin!"

"Tapi Tobi lihat kalau Senpai menatap Kakuzu-senpai dengan tatapan penuh gairah, hingga berkeringat begitu," balas Tobi sambil memasang wajah berpikir.

"ITU KARENA AKU MEMANG SEDANG GERAH, SIALAN!"

"Hei sabarlah, setelah tiba di air terjun, aku akan membuat ketertarikan menyimpangmu kembali lurus," ucap Jiraiya sambil memegang bahu Hidan dengan senyum percaya diri layaknya seorang pendeta yang akan memurnikan pengikutnya.

"TERKUTUKLAH KALIAN! AKU TIDAK MAHOO!"

"Stttt! Jangan berisik!" bisik Jiraiya tepat di depan wajah Hidan. "Kalau kau berisik, maka para penghuni air terjun akan kabur."

"Bukannya itu bagus?"

"Bagus apanya! Aku ini datang jauh-jauh kemari hanya untuk melihat para penghuni air terjun, tahu!" omel Jiraiya, "Nah, kita sudah sampai. Silahkan kalian beristirahat disini."

Mereka berhenti di sebuah padang rumput dimana tak jauh dari sana terlihat aliran ngarai yang tampak berkilauan karena pantulan sinar matahari. Suara gemuruh air terjun pun terdengar begitu dekat dengan mereka. Tapi mereka hanya bisa melihat puncak air terjunnya saja dari sana. Kubangan air yang menjadi tempat jatuhnya air tersebut tidak terlihat karena tertutup pepohonan dan semak belukar.

"Baiklah, siapa yang mau ikut denganku untuk membangkitkan jiwa laki-laki kalian? Hanya 4 orang yang boleh ikut!" tanya Jiraiya. Akatsuki saling pandang sebelum mereka semua menggeleng. Mereka terlalu lelah untuk mengikuti permainan Jiraiya yang kemungkinan akan menguras tenaga lagi seperti menuruni tebing tadi.

Melihat reaksi Akatsuki yang ogah-ogahan, Jiraiya pun kembali menghasut mereka dan memutuskan dengan seenaknya.

"Kau rambut oranye, ikut aku!"

"Apa? Tidak terimakasih, aku disini saja," sahut Pein, "siapa tahu Konan mau berenang, hehehe," gumamnya pelan hampir tak terdengar.

"Tidak ada alasan, kau akan menyesal jika tidak ikut! Kau juga rambut pirang, ikut aku!" Jiraiya menunjuk Naruto.

"Kuso! Kenapa aku juga harus ikut," gerutu Naruto.

"Kau rambut panjang, dan kau hasrat menyimpang, ikut aku!" ucap Jiraiya sambil menunjuk Itachi lalu menunjuk Hidan.

"SUDAH KUBILANG AKU TIDAK MAHO!"

.

.

Dengan langkah ogah-ogahan mereka membuntuti Jiraiya menyusuri jala setapak. Di sisi kiri mereka terdapat semak-semak tinggi yang menghalangi pemandangan mereka untuk melihat aliran ngarai. Hingga akhirnya mereka pun tiba di dekat air terjun. Sayup-sayup terdengar suara beberapa orang yang tampak mengobrol sambil sesekali tertawa nyaring. Pein, Naruto, Itachi dan Hidan pun mengernyitkan dahi, 'Apa itu suara penghuni air terjun?' pikir mereka.

"Yap, betul!" seakan membaca pikiran mereka, Jiraiya tiba-tiba saja menjelaskan, "Mereka adalah penghuni air terjun yang aku maksud, nah sekarang kalian akan aku izinkan melihat mereka, tapi hanya 5 menit saja, setelah itu aku akan mewawancarai kalian."

Jiraiya tampak siap dengan sebuah notebook dan bolpoinnya. Di salah satu semak-semak terdapat sebuah lubang kecil yang menembus langsung ke bawah air terjun. Jiraiya pun menyuruh Pein lebih dulu melihat penghuni air terjun.

"A-apa? Kenapa harus aku dulu, apa penghuni air terjun itu menyeramkan?" tanya Pein dengan raut wajah yang sedikit ketakutan. Dalam bayangannya, penghuni air terjun adalah hantu orang-orang yang bunuh diri di air terjun ini.

"Tidak menyeramkan, lihat saja sendiri," ucap Jiraiya sambil mempersilahkan Pein untuk mengintip di celah semak-semak. Pein pun memfokuskan penglihatannya pada celah tersebut.

"Astagaa!" pekik Pein sambil tetap pada posisi yang sama.

"Hah? Ada apa Pein? Apa hantunya menyeramkan?" tanya Naruto penasaran. Itachi dan Hidan pun ikut mendekati Pein.

"Astaga, ini begitu indah!" ucap Pein dengan penuh suka cita. Air matanya jatuh saking bahagianya.

"Hah? Apa menurutmu hantu itu cantik?" tanya Hidan heran.

"Mungkin bukan hantu, tapi bidadari," Itachi berpendapat.

"Masa sih?" Naruto tidak percaya.

"Yak! Waktumu habis!" ucap Jiraiya sambil mencolek bahu Pein, menyuruhnya berbalik. Namun pria oranye itu tetap pada posisinya.

"5 menit lagi, ini sebagai ganti karena aku tidak menonton konser Mei Terumi!"

"Tidak bisa! Cepat menyingkir dari sana!" bantah Jiraiya.

"Iya, Pein, minggir! Kami juga penasaran!" desak Itachi. Naruto dan Hidan mengangguk setuju seraya berkata "Hm!"

"Tidak mau! Aku tidak mau berhenti melihatnya, ini adalah tontonan tiga dimensi yang nyata! Ini lebih mendebarkan dari pada membaca majalah Playman dan novel Icha-Icha Paradise!"

"Wah, rupanya kau ini pembaca bukuku, ya? Aku sudah bisa menebaknya dari wajahmu makanya aku memilihmu."

Ucapan Jiraiya sukses membuat Pein menyingkir dari sana dan beralih menatap Jiraiya dengan tatapan berbinar-binar, "Ja-jadi kau adalah Jiraiya yang menulis novel Icha-Icha Paradise?! Astagaa! Kenapa aku baru menyadarinyaa!" Pekik Pein heboh. Jiraiya tersenyum angkuh sambil menggosok hidungnya, "Hoho, tentu saja, siapa lagi kalau bukan aku yang menulisnya."

"Aku adalah penggemar beratmu! Tolong angkat aku sebagai muridmu!" Pein tiba-tiba saja menyembah Jiraiya.

"Jangan berlebihan begitu, tapi karyaku memang tidak ada duanya sih! HAHHAHA" ucap Jiraiya, entah ia berniat merendah atau menyombongkan diri.

Itachi dan Naruto pun saling berbisik apa yang mereka bicarakan, Icha-Icha Paradise itu sepertinya mereka pernah dengar. Selagi mereka berdua berpikir dan Pein bersama Jiraiya sedang berbincang, Hidan pun merayap mendekati celah semak-semak. Melihat kesempatan emas itu pun, ia segera mengintip di celah kecil itu. Betapa kagetnya ia begitu melihat apa yang ada di balik semak-semak. Ia bahkan tidak kuat untuk menutup mulutnya.

"ASTAGA! Ya Dewa Jashin, ini pemandangan yang sangat indah! aku tahu ini dilarang dalam ajaran dewa Jahsin. Tapi izinkan aku melihatnya beberapa menit!" racau Hidan. Ke empat pria yang sedang bercengkerama itu pun segera menengok ke sumber suara. Itachi dan Naruto pun mendesak Hidan untuk menyingkir dari sana karena mereka pun penasaran dengan apa yang ada di balik semak.

"Huh, dasar tidak sabaran," gerutu Jiraiya.

"Woi, ada apaan sih di sana, Hidan? Minggir dong, kami juga ingin lihat!" desak Itachi. Namun Hidan tetap berada disana dan tidak bergerak sedikit pun. "Akhirnya dia sudah kembali lurus," ucap Jiraiya lega.

Hidan yang mendengar itu pun segera berbalik menghadap Jiraiya seraya berkata "AKU MEMANG TIDAK BELOK, SIALAN!"

Melihat celah kecil yang kosong, Naruto dan Itachi pun berebut untuk melihat duluan. Mereka saling mendorong untuk menyingkirkan satu sama lain.

"Minggir kau, Itachi! Kau harus mengalah pada orang yang lebih muda!"

"Tidak bisa! Kau yang harus mengalah pada orang tua!"

"Kalau sudah merasa tua, sebaiknya kau diam saja di panti jompo!"

"Apa kau bilang?"

"Hei, hentikan! Teriakan kalian bisa saja kedengaran sampai ke sana," lerai Pein.

Akhirnya Pein menyarankan untuk memutuskan pertikaian ini secara gentle. Itachi dan Naruto pun setuju. Mereka berdua berdiri saling berhadapan. Di tengah-tengah mereka, Pein berdiri sebagai wasit.

"Kau akan menyesalinya, bocah ingusan!" kata Itachi. Naruto tersenyum meremehkan, "Aku tidak akan segan-segan meskipun kau orang tua!"

"Baiklah, saat hitungan ke 3, silahkan mulai," ucap Pein. Ia pun menghitung aba-aba.

"Satu..."

Naruto mulai bersiap dengan memasang kuda-kuda. Begitu juga dengan Itachi.

"Dua..."

Itachi menggertakkan buku-buku jarinya, sementara Naruto memberikan napas pada kepalan tangannya, "Hah! Hah! Rasakan ini!"

"Tigaa!"

"HYAAAAAA!"

.

.

.

Gunting dan batu.

Itachi membentuk gunting dengan jari telunjuk dan jari tangahnya sementara Naruto mengepalkan tangannya alias memasang batu.

"Yak! Sudah di tetapkan! Itachi pemenangnya!" seru Pein heboh. Hidan bertepuk tangan atas kemenangan Itachi. Sementara Jiraiya hanya bisa menganga karena mengira mereka akan berkelahi.

"Apaa? Tentu saja yang menang adalah batu! Jika gunting menggunting batu, maka gunting itu akan rusak!" protes Naruto tak terima.

"Kalau gunting raksasa menggunting batu kecil, bisa-bisa saja tuh," elak Pein tidak bermutu.

"Mana bisa begitu, dimana-mana jelas gunting yang kalah melawan batu!"

"Aku adalah jurinya, jadi aku yang menentukan!" tandas Pein.

Naruto mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya karena sebal, ia tidak menyangka akan kalah telak melawan Itachi. Apa lagi dengan alasan yang sangat tidak masuk akal. Jelas-jelas dia yang harusnya menang. Huh, hidup kadang memang tidak adik!

Sulung Uchiha itu kini berbinar menuju celah semak-semak. Hidan dan Pein mengantarnya seraya mengucapkan selamat. Sungguh perayaan yang tidak penting.

Itachi memfokuskan penglihatannya pada celah kecil itu. Ia melirik ke sana kemari mencari sumber keindahan yang Pein dan Hidan maksud.

"Bagaimana? Kau sudah melihatnya kan?" tanya Pein. Tapi Itachi masih biasa saja, tidak heboh seperti Pein dan Hidan.

"Apa dia sudah terbiasa melihatnya jadi reaksinya biasa saja?" tanya Pein pada Hidan. Pria klimis itu hanya mengangkat bahu menanggapi pertanyaan Pein.

Setelah beberapa detik, akhirnya Itachi pun buka suara. "Hmm, pemandangannya cukup indah."

"Apa? Cukup indah kau bilang? Coba lihat baik-baik lekukannya!" ujar Jiraiya. "Apa jangan-jangan mereka sedang menyelam?" gumamnya penasaran.

"Air terjunnya rata, tidak berlekuk-lekuk," ucap Itachi.

"Mana coba aku ingin lihat!" Naruto pun menyingkirkan Itachi dari lubang tersebut dan benar saja, disana hanya ada air terjun yang cukup indah, di bawahnya terdapat kubangan air yang di penuhi bebatuan.

Baru saja beberapa detik Naruto mengintip, tiba-tiba saja aura horror terasa kentara di tempat itu di susul dengan suara gemeretak buku-buku jari yang di rasa berasal dari belakang mereka.

Kelima pria sejati itu pun kompak berbalik untuk melihat siapa yang datang. Begitu mengetahuinya, Jiraiya dan Pein langsung mimisan. Hidan menganga lebar, Itachi biasa saja, sementara Naruto berseru heboh, "YAAA! KALIAN PASTI SILUMAN! JANGAN SENTUH AKUU! AKU MASIH PERJAKAA!" pekiknya panik sambil menunjuk lima orang wanita yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Mereka berlima memasang wajah marah dan bersiap mengumpulkan kekuatan masing-masing. Saat tengah asyik bermain air, mereka mendengar suara ribut-ribut di balik semak-semak dan langsung mendatangi tempat ini.

Seorang wanita yang berada di tengah memberi aba-aba, mereka berlima pun segera menghajar kelima pria yang mengaku pria sejati itu dan melemparkannya ke ngarai.

"PERGILAH KALIAN KE NERAKA, DASAR MESUM!"

Byuuurrr!

"Buaaahh! TOLOONGG!"

"TOLOONGG!"

"TOLONG!"

Kelima pria itu pun hanyut terbawa aliran ngarai yang cukup deras.

.

.

.

"Haduuh, lama sekali sih mereka. Kira-kira apa yang mereka lakukan ya?" gerutu Sasori.

"Paling hanya hal bodoh," Sasuke menanggapi dengan malas.

Tobi pun berpendapat, "Mungkin mereka memancing buaya di ngarai, itu kan sangat macho! Tobi pernah lihat di acara tv. Dan orang yang memancing itu mati karena di makan buaya."

"Apa iya ada acara TV yang menampilkan acara mengerikan begitu, un?" pikir Deidara. Saat sedang berbincang, sayup-sayup mereka mendengar suara seseorang minta tolong. Semakin di dengarkan, suara itu semakin mendekat. Asalnya dari ngarai yang berada di depan mereka. Akatsuki pun segera mendekati ngarai.

Rupanya, itu suara teriakan 5 orang yang tadi katanya akan melakukan sesuatu untuk membangkitkan jiwa laki-laki mereka. Sekilas mereka berpikir mungkin ucapan Tobi ada benarnya juga. Buktinya mereka hanyut di sungai.

"Woii! Tolong kamii!" teriak Naruto yang posisinya paling dekat dengan tepi sungai.

"Cepat tolong mereka! Cari kayu atau apapun!" titah Sasori. Akatsuki pun berpencar mencari apapun yang bisa menjadi alat untuk membantu Jiraiya dan yang lainnya. Mereka membawa sebuah ranting yang cukup panjang untuk membawa Jiraiya dan yang lainnya ke pinggir ngarai.

Setelah bersusah payah menarik mereka berlima, akhirnya penyelamatan mereka sukses. Kini mereka sedang terbaring diatas rumput untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sejak tadi heboh bergerak di bawah air.

"Kenapa kalian bisa sampai hanyut begitu?" tanya Sakura.

"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Tiba-tiba saja ada 5 orang wanita dengan memakai handuk datang dan menghajar kami lalu melemparkan kami ke sungai. Padahal kami hanya sedang mengintip celah semak-semak untuk melihat air terjun yang berlekuk-lekuk. Benarkan, Pein?" jelas Itachi seraya meminta pembenaran dari Pein.

"Ahaha, ahaha, iya benar! Kami hanya melihat air terjun kok," ucapnya kikuk.

Sakura dan Konan menyipitkan mata mereka setelah memikirkan baik-baik perkataan Itachi. Wanita dengan memakai handuk? Sudah dipastikan mereka pasti menghajar 5 orang ini karena ketahuan mengintip.

Konan dan Sakura saling pandang kemudian mengangguk, seakan memberi aba-aba untuk bertindak. Dan sejurus kemudian kelima pria itu pun kembali hanyut di ngarai.

"PERGI KALIAN, DASAR MESUM!"

"Huaaa! TOLONGG!"

"TOLOONGG!"

"HUAAA! Kenapa kami di lempar lagi ke ngarai?!" pekik Naruto.

"Itu salah Itachi, ini semua gara-gara dia!" teriak Hidan.

"Aku hanya menjelaskan, memang apa yang salah?"

"Berhenti berdebat bodoh, cepat pikirkan cara untuk berhenti hanyut!" tandas Jiraiya.

Tobi, Sasori, Deidara, Zetsu, Kisame dan Sasuke hanya bisa terdiam sambil berpikir 'Ujung ngarai ini dimana ya?'

.

.

.

Malam ini Akatsuki cs berjalan sambil terseok-seok menuju pesawat mereka. Setibanya di bandara, mereka segera berpamitan dengan Jiraiya dan tak ingin berbasa-basi lagi. Mereka semua kelelahan, terutama 4 orang pria yang kehabisan tenaga karena terbawa arus sungai.

Setelah memasuki pesawat, mereka semua segera melemparkan diri ke atas ranjangnya masing-masing untuk sekedar meluruskan punggung mereka. Tak butuh waktu lama, mereka pun terlelap.

.

.

.

Hari baru telah tiba, langit yang tadinya gelap kini berganti biru dengan beberapa bentuk awan yang menghiasinya. Akatsuki kembali pada rutinitas mereka, ada yang melakukan ritual pagi, ada yang menghitung uangnya karena takut ada yang mengutilnya selagi ia tidur, ada yang melakukan perawatan wajah, ada yang memandikan boneka, dan masih banyak lagi. Satu-satunya kegiatan normal hanyalah menyiapkan sarapan yang dilakukan Konan dan Sakura. Serta Sasuke yang sedang bersiap untuk melakukan perjalanan.

"Oh ya, Naruto, hari ini kita akan pergi kemana? Tolong katakan pada tourguidenya untuk tidak mengajak kita ke tempat yang melelahkan," tanya Sakura yang terdengar seperti sebuah omelan. Ia sekalian bertanya saat membagikan sarapan untuk Akatsuki.

"Kita akan ke Brazil. Iya-iya aku juga tidak mau kalau harus berwisata seperti kemarin," sahut Naruto.

Setelah beberapa jam mengudara, akhirnya mereka tiba di Brazil dengan mulus. Mereka semua kembali menggunakan baju setelan kemeja dan jas hitam karena jubah Akatsuki sudah compang-camping karena perjalanan kemarin.

Mereka pun kini berkumpul di ruang tunggu untuk bertemu dengan tour guide mereka. Setelah Naruto menghubungi tour guide tersebut, datanglah seorang pria tinggi dengan tubuh tegap berambut pirang.

"Rupanya kalian disini," ucap nya angkuh sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.

"Perkenalkan, aku adalah Naruto dan ini Akatsuki yang akan berjalan-jalan di brazil," jelas Naruto memperkenalkan diri dan yang lainnya.

"Namaku Temujin. Ayo cepat kita harus pergi sekarang, limosinku sudah menunggu!" ucapnya sambil berjalan mendahului Akatsuki.

"Li-limosin? kita akan naik limosin?" tanya Kakuzu tak percaya.

"Iya, limosin. Apa kalian tidak pernah naik limosin sebelumnya?" tanya Temujin dengan nada meremehkan.

"Cih, dasar sombong," umpat Sasuke.

"Tentu saja kami pernah naik limosin! Iya kan teman-teman?" ucap Pein sambil meminta persetujuan teman-temannya.

"Iya, kita pernah kok," ucap Sasori berbohong.

"Senpai, limosin itu apa? Apa itu jenis lemon baru?" tanya Tobi polos.

"Pffff!" Temujin menahan tawanya begitu mendengar kepolosan Tobi. Deidara dan Sasori pun mencoba menjelaskan apa itu limosin sambil berbisik pada Tobi.

"Nah, jika ada yang tidak tahu apa itu limosin, inilah dia mobilnya!" seru Temujin sambil menunjuk sebuah mobil yang cukup panjang berwarna hitam mengkilat.

"Woaaah! Ini terlihat mahal!" ucap Kakuzu berbinar-binar.

"Biasanya kita naik bus, kenapa harus naik limosin segala?" tanya Hidan.

"Haha! Bus itu hanya untuk orang-orang miskin! Ayo masuk," ujar Temujin sambil membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya.

"Haha, benar, bus hanya untuk orang-orang miskin!" ucap Kakuzu sambil meniru gaya bicara Temujin yang angkuh.

"Walaupun kau banyak uang tapi kehidupanmu tetap saja miskin, Kakuzu!" sahut Hidan mengingatkan.

Akatsuki pun memasuki limosin milik Temujin. Disana terdapat sebuah kursi yang memanjang kesamping yang sepertinya cukup untuk 8 orang. Di ujung mobil masih terdapat kursi yang cukup untuk 3 orang. Sementara Temujin duduk di kursi supir dan Naruto duduk di sampingnya.

"Maaf, tapi aku tidak biasa duduk bersampingan dengan seorang pria, bisa kau tukar tempat duduk dengan gadis cantik berambut biru itu?" tanya Temujin. Naruto pun memasang wajah dongkol dan keluar dari kursi depan. Bertukar tempat duduk dengan Konan.

Di ujung kursi, Pein menatap Temujun dengan penuh amarah "Grrr! Beraninya dia mendekati Konanku!"

"Konanku? Bukannya dia memang bukan milikmu?" sahut Sakura.

"Memang sih, tapikan-"

"Cukup. Terima saja nasibmu!" potong Sakura.

"Aku akan tetap beri dia pelajaran. Naruto, Kakuzu, kemari!" titah Pein. Mereka bertiga pun membentuk lingkaran sambil berjongkok di depan kursi. Yang diduduki 8 orang Akatsuki.

"Mereka sedang apa sih, un?" tanya Deidara dengan sweatdrop di dahinya.

"Apa lagi kalau bukan hal bodoh," sahut Sasuke malas.

.

.

.

TBC

.

Balas Review :

RendyDP424 : Nyahaha, Deidara kan emang identik dengan burung :v

Tidak. Nagato sudah tenang dengan kehidupannya :v

Loray 29 Alus : Masih berusaha untuk update cepat. Tapi selalu saja ada halangannya. Huhu~

DandiDandi : Aksi mengintip sudah jelas pasti ada! Wkwk

Euraa : Gue juga gak ngerti otak dia isinya apaan :v

Anni593 : Hueee...Gomen ne! Selalu ada halangan setiap kali mau update. Kadang aku ketiduran pas mau ngetik kadang aku keasyikan nonton drama korea -oke stop, aku tahu itu alasan yang tidak bermutu wkwk

Oiya dong, Nagato mah dari orok udah di kasih vaksin, nama vaksinnya adalah vaksin ABN (AntibegoniadanNistania) #oke abaikan 😂😂

Niilaa : Okaay! Semangat!

Honeymoon Hamada : bakar aja gan dokumennya biar gak nyiksa :v

Wkwk, udah gak buka kedai ramen skrg udah ganti profesi jadi penipu ulung XD

Haha, mungkin nagato udah biasa barang2nya ilang kalo deket Akatsuki.. hp Naruto ada lagi karena dia kan beli hp baru pas beli baju. Cuma chargernya kecolong teuchi XD

Nah emang bener begitu si erro-senin mah XD

dila nisa : terimakasih, ini sudah lanjut yaa

UchihawanaChan : Oke gak papa, makasih sudah review. Salam kenal juga yaa, semoga suka dengan ceritanya ^^

Wkwkwk, selamat ya, kamu sudah kena efek samping dari fict ini. Silakan hubungi untuk penyembuhannya XD

Kazumaki Mikushi : Hanya orang-orang pecinta kartun yang pernah mendengarnya XD

Hahaha, tenang aja, biarpun mereka gak selamat, mereka tetep hidup kok :v

Iya gak apa2, terimakasih sudah menyempatkan untuk review *pelukciumdariKisame* XD

Yo! Salam Homina kalau begitu XD

Al FaHmY : Makasih, semoga anda baik2 saja setelah membacanya ya :v

naru230804 : Mereka ke brazil tuh, kalo untuk ketemu Hinata lagi paling di chapter terakhir :')

para THE : Betul sekali :v

Habis Jiraiya yang jadi tour guide nya Temujin XD

.

Okee terimakasih untuk semua yang sudah membaca fict ini. Semoga kalian terhibur dengan humor receh abal-abal ini XD

Sampai jumpa di chapter selanjutnya!

-Masih berusaha untuk update tepat waktu-