aku cuma mau mengamankan cerita shiro agar tidak hilang di dunia fanfiction, aku tidak yakin aku mampu menulis sebaik shiro kalau mau baca kelanjutannya kita harus nunggu yang mampu dan mau melanjutkan cerita ini

berdoa lah agar ada yang mau mengadopt cerita ini ok

nah yang mau mengadopt cerita ini silakan

"Aku menemukanmu,...Naruto~"

Ucapan Amaterasu kepada Naruto.

[...The Last Adventure...]

Kyoto. Kota yang terletak di tengah pulau Honshu dengan sebutan sebagai kota dengan ribuan kuil dan pusat peradaban tradisional Jepang dengan mitologi Shinto yang menguasai penuh daerah ini.

Kota dengan keindahan tiada tara yang masuk dalam warisan dunia. Kota dengan keanggunan dan kelembutan yang terlihat indah di pandang mata. Serta kota yang menjadi tempat persinggahan pemuda yang sudah membunuh naga jahat Baleur di tanah kerajaan Olympus. Kota di mana disini, di tempatnya berpijak kini; pemuda tersebut harus menguak misteri lagi tentang apa yang ditinggalkan leluhurnya dengan misteri kata Tamamo no Mae.

Langkah kakinya yang mantap membuatnya menelusuri jalanan perfektur Nishiki dengan satu tas punggung kecil di belakang punggungnya. Dengan berbalut sebuah jaket putih yang terbuka risletingnya, celana jeans panjang dan sepatu kets hitam, dia bertingkah layaknya seorang turis.

Atau memang dia menyamar sebagai seorang turis.

Perbuatannya di Olympus mengundang banyak perhatian. Mata-mata dari berbagai pihak supernatural mulai terlihat mencari-cari dirinya. lepas setelah dia pergi dari tanah Olympus yang dia temui adalah mata-mata untuk malaikat jatuh yang mana dia harus membunuh malaikat jatuh tersebut sebelum dia mengatakan dimanakah dia berada.

Dan menyamar adalah jalan yang terbaik yang bisa dia lakukan sekarang. Rambut putihnya di cat dengan warna hitam. Mata sebiru lautan miliknya dia pakaikan kontak lensa hingga mengubah warna matanya menjadi kecoklatan dan ditambah sepasang kacamata bening yang terpasang di wajah sebagai penipuan.

Katakanlah dia terlihat sangat-sangat berbeda. Seperti seorang Clark Kent yang menyamar untuk merahasiakan bahwa dia adalah seorang Superman. Perfect! Just perfect!...

Hanya mereka yang pernah dekat dengannya saja yang bisa mencium siapa dirinya sebenarnya; seperti Artemis atau para pemburunya... Ah...mengingat dewi itu sedikit membuat pemuda itu merasa sedikit tak enak; seperti sebuah rasa merinding yang tiba-tiba menjalar di belakang punggung dan itu terasa berbahaya. Maa...dia tak terlalu peduli itu.

Aura yang dia miliki adalah aura manusia tanpa kekuatan apapun jadi ini tambah memudahkannya berbaur. Dan dengan membuat identitas baru menggunakan uang...Naruto sudah menjadi orang yang terlihat berbeda.

Tangannya yang keriput sudah kembali seperti semula. Dia sudah menyerap esensi dari pohon besar yang ada di Amerika ditambah dengan esensi dari malaikat jatuh mata-mata yang harus tewas di tangannya, katakanlah dia sudah kembali lagi seperti semula.

Ditangannya dia memegang kue mochi yang baru dia beli. Memakannya pelan sembari berjalan menyusuri jalanan ini. Ada youkai-youkai yang berkeliaran, berbaur dengan para manusia dengan menyembunyikan siapa mereka sebenarnya. Ada youkai anjing wanita yang terlihat berjualan di pinggir jalan sana tempatnya melangkah; terlihat berjualan makanan khas perfektur daerah ini. Youkai tersebut mengulas senyum sembari terlihat menarik dirinya untuk membeli dagangannya dan Naruto hanya memberikan gestur menunjukkan apa yang berada di tangannya sembari tersenyum dan dibalas dengan senyuman pula dari Youkai anjing tersebut dengan maklum.

Naruto bisa melihat mereka para Youkai tapi mereka yang melihatnya tak sadar siapa dia. Sebuah langkah yang bagus dan sangat mengurangi resiko ketahuan atau berbuat masalah di Kyoto sini.

Mungkin berharap jika dia tak terlibat masalah lagi sepertinya tidak mungkin; menggelengkan kepala pelan Naruto bergumam; "Jangan berharap...keberuntunganku kalau menyangkut masalah kelihatannya buruk" katanya pelan.

Oh...Naruto yang malang. Apa yang dia katakan memang ada benarnya.

Ada banyak; begitu banyak kuil di sini. Tapi mungkin dia akan pergi ke Istana Imperial yang lama. Langkah kakinya membawanya menuju stasiun dan dia menikmati udara Kyoto yang tenang dengan mendengarkan musik.

Perjalanan menuju ke istana Imperial lama tidaklah lama, sekitar lima belas menit semata dia sudah menjejakkan kaki di wilayah dimana Istana Imperial Lama Kyoto berada. Suasanan yang sangat ramai dengan banyak orang lalu lalang dan banyak turis yang juga berdatangan ke kota ini membuatnya betah menyaksikan mereka dengan berjalan kaki sembari mendengarkan musik dari sebuah pemutar musik dengan Headshet di telinga hingga langkah kaki yang membawanya berjalan terhenti karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak berada di sini justru terlihat di pandangan matanya yang melihat ke arah mereka yang berada di sana tengah tertawa dengan bahagia dan sedang menikmati Kyoto.

Astaga...harusnya kemungkinan dimana mereka berada di sini itu kecil!

Dan Naruto merasa ingin mengutuk keberuntungannya yang selalu berlebihan.

Mereka disana. Iblis, para gerombolan iblis yang memakai seragam akademi Kuoh berada di sana. Naruto bisa melihat rambut merah panjang milik adik dari Maou Lucifer yang pernah dia temui bersama sang Kaichou mantan sekolahnya dimana dia memang keluar dari sekolah tersebut tanpa pemberitahuan apapun bersama para mereka yang mereka sebut keluarga. Jangan lupakan dengan rambut pirang yang diikat twintal samping macam bor, Ravel Phenex; nama itu setidaknya yang diingat Naruto.

Tapi dipandangan Naruto mereka yang disebut keluarga tak lebih dari mereka yang terampas kebebasannya.

Mereka terlihat menikmati suasana wilayah di Kyoto. Wajah senang mereka terlihat bahkan Naruto bisa melihat beberapa kali wajah Hyoudou Issei, orang yang lahir sebagai manusia namun dengan hanya mengandalkan nafsunya malah membuang kebebasan yang dia miliki.

Naruto tak menyalahkannya. Manusia pada dasarnya memang mempunyai nafsu yang mengekang akal pikiran mereka. Itu normal dan itu terkadang yang membuat semua terasa lebih manusiawi. Pandangan Naruto melihat mereka yang berfoto di depan sebuah tugu besar merah di sana dan kemudian dia melihat dua orang yang terasa tak asing di ingatannya.

Mereka terlihat tambah cantik. Rambut pirang panjang itu kini tergerai; dia yang memakai seragam akademi Kuoh terasa bertambah cantik saja. Sama dengan dia yang duduk di sebelahnya dengan rambut hitamnya yang diikat dengan ikat rambut bunga di belakang leher.

Jeanne dan Raynare...mereka tengah asyik bercengkrama dan berbicara satu sama lain. Sepertinya aliansi terlihat benar-benar menjaga mereka.

Senyum tipis itu muncul di bibir Naruto sebelum kemudian dia berbalik dan melangkah pergi. Mereka tak perlu tahu dia di sini dahulu. Mereka tak perlu tahu untuk apa dirinya di sini.

Para iblis, perwakilan malaikat dan setengah malaikat jatuh berkumpul dan tertawa tanpa tahu status mereka dan bercengkrama satu sama lain tanpa memandang siapa mereka...pemandangan itu terasa menyenangkan untuk dilihat oleh Naruto.

Dengan langkah kaki yang berbalik dari tujuan awal dia berjalan hingga tanpa sadar dia berjalan melewati seseorang.

Berpakaian formal layaknya seorang guru wanita di akademi Kuoh yang dia ingat, dia yang terlihat berambut pirang bergelombang dengan mata biru cerah yang sekilas terlihat Naruto berjalan ke arah para gerombolan mereka yang berasal dari mantan sekolahnya. Dia terlihat begitu cantik dan menarik banyak perhatian laki-laki sekitar. Sebuah kecantikan murni dari wanita yang berusia sekitar dua puluh tahunan yang begitu memikat.

Dan Naruto hanya tetap tersenyum kecil ketika tahu siapa yang melewatinya.

Dia mungkin tak tahu siapa pemuda yang sudah melewatinya berjalan, tapi Naruto tak akan bisa dibodohi. Bahkan ketika dia yang berjalan melewatinya tersebut menyembunyikan aura suci yang terlihat sangat meluap-luap di dalam dirinya dan Naruto tahu siapa baru saja melewatinya.

Lagipula dia juga melihatnya sekilas di pertemuan antara tiga fraksi dahulu. Adik dari sang Archangel agung Michael.

Gabriel...salah satu dari para Archangel surga.

Yare, yare...sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi dan Naruto berharap dia tak akan terlibat di dalamnya.

Karena kini dia akan bersembunyi dan bermain dalam bayangan.

Tanpa Naruto sadari, saat dia pergi melangkah menjauh, gadis pirang dengan rambut depan sebahu dan rambut belakang yang panjang tergerai yang duduk bersama Raynare melihat ke arah sang Malaikat yang sudah mengubahnya menjadi salah satu Brave Saint, Joker dari sang Malaikat perempuan yang berhati lembut, Gabriel yang tengah berjalan mendekat dengan senyum yang menawan di bibirnya hanya untuk senyum itu tertahan ketika dia merasakan sebuah deja-vu saat melihat sosok laki-laki berjalan melewati sang malaikat perempuan yang menjadi tuannya tersebut.

Apa yang dilihat Jeanne yang membawa jiwa dari Jeanne d'Arc adalah pemuda yang berambut hitam yang terlihat punggungnya yang yang terasa seperti seseorang yang sangat dia kenal; seseorang yang berjanji sesuatu tapi tak dia ingat dan itu... Bayangan seseorang dengan rambut putihnya dan mata biru cerahnya yang tersenyum singkat langsung menyeruak ke kepala Jeanne dan...

"!...ah!"

Rasa pusing menyerang kepalanya dan membuat sahabatnya yang berada di sampingnya langsung menoleh.

"Jean-chan! Jean-chan! Kau kenapa?!" tanya gadis di sampingnya dengan terlihat khawatir

Gadis pirang yang memegang kepalanya yang sakit itu menggeleng saat sakit kepalanya mereda. "Uummm... Aku tak apa-apa, Rayna-chan..." balas Jeanne sambil melihat ke arah laki-laki yang sudah menghilang dalam kerumunan

"Siapa itu tadi?" batin Jeanne pelan.

[Line Break]

"Nona Yasaka. Perwakilan dari aliansi tiga fraksi sudah datang ke wilayah Kyoto. Mereka meminta pertemuan dengan anda."

Suara pembawa berita yang tengah menunduk di depan sang Youkai ekor sembilan yang tengah duduk dengan posisi anggun seiza-nya di atas tahtanya duduk yang berundak langsung menjawab. "Siapa saja yang datang?"

"Lapor nona! Yang datang adalah Gubernur malaikat jatuh Azazel bersama dengan salah satu Youndai Maou, Seraffal Leviathan dan Archangel Gabriel. Selain itu adik-adik Maou, Rias Gremory beserta Sona Sitri dan para budak mereka, salah satu exorcist Jeanne yang membawa jiwa Jeanne d'Arc dan salah satu malaikat jatuh hybrid manusia Raynare juga datang bersama mereka." balas youkai dari ras kelinci yang tengah menunduk tersebut yang membuat Yasaka menaikkan alis.

"Hooo... Mereka datang dengan membawa yang masih muda kemari huh?" kata Yasaka. Ekornya yang berjumlah sembilan bergerak bebas di belakangnya. "Apa maksud mereka dengan membawa yang masih muda ke dalam Kyoto? Memamerkan kekuatan para mereka yang muda dengan Sekiryutei mereka yang kabarnya sudah mengalahkan Fenrir yang menyerang di pertemuan mereka dengan dewa Norse, Odin. Dewi Amaterasu tak akan menyukai hal ini. Ada kabar lain yang kau bawa?"

"Mereka sudah masuk ke dalam wilayah Kyoto, nona Yasaka. Sang pemilik tombak suci dan komplotannya sudah bergerak di bawah tanah."

"Benarkah? Lalu bagaimana dengan sang kuda bersama anaknya?"

"Mereka mengintai. Aliansi membawa Hakuryukou yang tengah berada di salah satu hutan di wilayah Kyoto dan terlindungi oleh perisai yang kuat. Salah satu pemilik Caliburn juga ada bersama pemilik Durandal."

"...*Sighhh*... Mereka berniat sungguh-sungguh mencoba untuk menunjukkan kekuatan mereka huh? Para pahlawan itu. Apa mereka punya kejutan di dalam kelompok mereka?"

"Pemilik Dimension Lost kabarnya ada dalam kelompok mereka nona..." kata pembawa kabar yang membuat Yasaka terlihat senang.

"Ara~" kata Yasaka dengan menaikkan senyumnya. "Pemilik sacred gear dimensi... Suatu koleksi item yang sangat menarik. Dewi pasti tertarik. Assasins...apa mereka sudah bergerak?"

"Tuan Alucard sudah mengintai mereka yang berniat membuat suatu perubahan besar di dunia nona."

"Baguslah kalau begitu..." kata Yasaka dengan tenang. "Kau boleh pergi, Usagi"

Youkai dengan nama Usagi tersebut yang memakai topeng putih seputih salju tersebut hanya mengannguk dan menghilang dalam lingkaran salju putih. Meninggalkan Yasaka yang berdiam sendiri di ruangan besar dimana tempatnya berada menenangkan diri.

"Dewi...semua sudah di set. Anda sudah meng-skak raja. Mereka sudah bergerak. Giliran kita mengambil langkah selanjutnya." kata Yasaka dalam tempatnya berada.

"Biarkan mereka bergerak dahulu...kita akan menunggu dalam diam. Yasaka" sebuah suara muncul dari belakang Yasaka dengan memakai lingkaran teleportasi khas Shinto yang berisi ukiran segel rumit. "Temui Azazel dan biarkan dia bicara. Aliansi yang berniat membuat dirinya berjaya di atas mitologi lain. Permainan politik besar-besaran sudah terjadi. Indra yang berniat menentang Shiva sudah bergerak dalam bayangan. Satu buah potongan terakhir dari dia yang licik melebihi bangsa iblis itu sendiri tengah berdiam. Yasaka...apapun yang terjadi jangan serahkan Kuroka."

"Hamba mengerti dewi." kata Yasaka hormat kepada sang dewi yang berjalan turun melalui tangga yang menuju tahta tempat Yasaka duduk. Rambut hitam panjang sang dewi terlihat mengkilap dan kimono bunga emas yang dia kenakan tampak terlihat serasi dengan keanggunan sang dewi.

"Biarkan Kunou berinteraksi dengan para mereka yang muda dari aliansi. Kita gunakan aliansi untuk menekan mereka para pahlawan sementara assasins akan mengambil sacred gear dari Dimension Lost." kata Amaterasu melihat Yasaka yang masih duduk di atas.

"Sacred Gear itu akan berguna nanti dewi?"

"Aku butuh sacred gear itu untuk sesuatu. Biarkan sang kuda dan anaknya menyerang naga putih dan pemilik Caliburn terlebih dahulu. Naga melawan naga dan pedang melawan pedang. Naga putih dengan jiwa yang kuat itu hanya akan menjadi koleksi Jin semata."

"Anda sangat memikirkannya dengan matang dewi... Rencana anda terasa sangat brilian."

"Fufufu~ tentu saja..." Amaterasu berujar dengan senang. Kubus kecil yang dia pernah tunjukkan kepada Yasaka kini keluar dan berada di telapak tangannya, bergetar kecil dengan cahaya putih redup seperti terlihat senang akan kedatangan sesuatu yang berada dekat dengannya. Dan Amaterasu tak bisa memungkiri kemungkinan dia yang sudah ditunggu-tunggu telah tiba. "Dia sudah datang Yasaka" Amaterasu berkata sembari menggenggam kubus itu dimana kubus itu menghilang kembali. "Dia berada di sini... Aku bisa merasakannya."

"Dewi..."

"Tsukoyomi sudah mengambil pusaka dewa yang sudah ditempa ulang Yasaka. Susano'o sudah mengumpulkan mereka berdelapan para youkai terkuat. Kita sepertinya perlu menggunakan banyak sekali kekuatan untuk bisa pergi ke dunia baru. Dimensi dimana kita para mitologi Shinto akan pergi ke tanah mereka yang merupakan leluhur sebelum ayah dan ibu datang. Tanah yang terlupakan yang tertera di teks kuno yang sudah terlampau usang. Tanah dimana sang naga pembawa mimpi menjadi penjaganya yang sebenarnya dan dia yang membawa kekuatan yang tak pernah terdengar menjadi kunci pembawa masuk.

...dan tanah yang mana semua legenda dari dewa dewi ini berasal dan Kami-sama yang menciptakan kita semua berada untukku mempunyai jawaban dari apa yang telah lama kupikirkan."

[Line Break]

"Ayah...kita akan menemui mereka di sini?" ujar seorang pemuda dengan rambut coklat dan sebuah garis luka di bawah mata kanannya berjalan dengan menyusuri jalan setapak hutan dengan lelaki yang tengah terlihat merokok di sampingnya.

"...fyuuuuhhhh..." hembusan asap keluar dari lelaki yang berjalan di samping pemuda yang bertanya padanya ini ketika rokok yang dia sedot dia hembuskan kembali. "Mereka berada di sini. Naga-ku yang mengatakan hal tersebut, hanya saja mereka terlihat bersembunyi dalam sebuah pelindung khusus buatan Gubernur gagak yang tengah akan bernegosiasi dengan Yasaka." kata lelaki itu sambil melihat ke depan. "Mattaku, dewi Amaterasu selalu menyuruh hal yang rumit-rumit..."

"Tapi ini adalah perintah bukan ayah?" kata pemuda yang berada di samping ayahnya menemaninya berjalan jauh lebih masuk ke dalam hutan di wilayah gunung di daerah Kyoto. "Apa kita akan bertemu dengan mereka yang kuat nanti?"

Mengangkat bahu, si lelaki hanya berkata santai. "Aku tak tahu, Basara" kata lelaki tersebut sambil merokok kembali. "Perintah yang kuterima hanya untuk mengambil si putih dari tangan aliansi"

"Dan apakah aku boleh mengambil sesuatu nanti jika ada yang menarik?"

"Kau mungkin bisa mengambil pedangnya" ucap lelaki tersebut lagi sambil menoleh melihat sang anak yang tengah memasang wajah biasa saja. "Atau mungkin kau ingin tombak sebagai koleksi baru setelah kita selesai dengan ini? Tuan Assasins akan mengambil pemilik dimensi seperti yang diberitahukan oleh sang dewi."

"Wohoo...jadi yang katanya membawa tombak terkuat di jajaran Longinus sudah datang? Mungkin tombaknya akan menarik nanti menjadi musuhku"

"Kau bisa memusuhinya setelah naga merah iblis itu bertarung dengannya nanti." ujar lelaki tersebut yang berhenti tepat di sebuah pohon besar. "Kita sudah sampai." lelaki itu berkata pada anaknya yang juga berhenti. Mereka saling berpandangan kemudian. "Jadi...lakukan secara aman atau kasar?" tanya si ayah.

"Yang manapun boleh!" kata pemuda bernama Basara tersebut pada ayahnya sambil mengepalakan tangan dan meninju telapak tangan di depan dada. "aku lebih suka kita terjang langsung ayah!"

"Aku-pun juga suka seperti itu anakku!" balas sang ayah dengan semangat. Namun lelaki itu kemudian berbalik dan melihat ke arah lain. Arah lain dimana sebuah pohon besar berdiri di sana dan seorang gadis mungil dengan pakaian Lolita yang berwarna hitam berdiri di sana memandang sangat datar dengan satu tangannga menyentuh batang pohon. "Tapi sepertinya tamu tak diundang datang kemari. Yare, yare...sang dewi naga telah muncul..." kata lelaki tersebut dengan santai sambil membuang puntung rokoknya dan menginjak sisanya. "Sampai menemuiku yang rendah ini, dewi naga Ophis apa yang bisa kubantu?"

"Kau pemilik jiwa para naga yang telah tersegel dalam Lacrima. Apa kau berniat mengambil jiwa si putih?" tanya gadis yang berada di sebelah pohon itu dengan datar. Sangat datar tanpa ekspresi apapun hanya sebuah pemandangan blank yang terlihat di raut wajahnya.

Raut wajah yang tak tertebak apa maunya dan apa keinginannya. Raut wajah yang siapapun mengerti bahwa Ophis sang dewi naga yang adalah seseorang yang tak pernah diketahui tujuan pasti dan kejelasannya. "Dewi-mu yang berniat membuka pintu terlarang yang dijaga oleh naga merah yang membawa mimpi sebagai kekuatannya; sebagaimana ketidakbatasan yang menjadikan diriku sang naga dewi." kata Ophis ambigu. "Rencana dewimu akan berubah banyak, Toujou Jin"

"Aku tahu..." kata lelaki bernama Jin tersebut. "Tapi perintah adalah perintah dan aku harus melaksanakannya. Lagipula ini tak ada hubungannya denganmu bukan, Ophis?"

"Semua saling berhubungan dan terpaut satu sama lain dalam untaian takdir yang tertera. Kalian para pengikut dewa dewi yang merasa maha kuasa hanyalah tak mengerti alur yang tertulis dalam sebuah hal." kata Ophis dengan masih raut wajah datarnya. "Penjaga dengan pembawa mimpi telah merasakan sang pembawa kunci telah dikirim oleh Kami-sama dalam perjalanan terakhirnya. Semua yang ada akan berubah, tertulis kembali dalam sebuah awalan baru. Kami bertiga yang merupakan naga dengan entititas tertinggi akan menjadi sumber dari pembukaan hal baru."

"Kalimat yang kau ucapkan terasa ambigu dan penuh misteri, dewi Naga...jadi apa tujuanmu datang kemari? Berniat membunuhku? Bukankah itu mudah dan bisa kau lakukan sejak tadi?" tanya Jin dengan melirik Basara sedikit khawatir.

Apa yang ada di hadapan mereka adalah entitas naga yang berada di puncak rantai makanan. Puncak kekuatan yang mampu menghancurkan dimensi ini dengan kekuatannya yang mengerikan. Julukan ketidakbatasan dan Ouroboros bukanlah julukan dan gelar semata. Itu adalah sebuah penghormatan gelar yang dihadiahkan dengan rasa hormat dan ketakutan.

"Membunuhmu hanya akan menghalangi sebentar yang sudah tertulis." kata Ophis dengan pelan. "Si putih adalah anggota organisasi yang kudirikan dia akan menjadi persembahan pertama dalam hal ini." tambah Ophis lagi dengan bagian tubuhnya yang mulai memudar. "Sampaikan ini pada dewi-mu, Toujou Jin. Apa yang akan dia buka akan membawa seluruh mitologi membenci satu orang. Tak pernah ada dewa-dewi yang ingin kehilangan kekuatan."

"?"

Jin dan Basara hanya bisa terlihat bingung dengan ucapan sang dewi naga yang memang terasa sangat ambigu sekali di dalamnya. Dan lagi...apa yang dikatakan dewi naga tersebut lebih kepada sebuah misteri.

Pembawa kunci? Semua akan tertulis ulang? Apa maksudnya?

Jin mencerna dalam-dalam kata-kata dari sang dewi naga tersebut. Ini...mungkin dia memang harus memberitahukan hal ini kepada sang dewi.

"Basara..." panggil Jin kepada anaknya yang kini melihatnya, tatapan lelaki bernama Jin itu terasa sangat serius. "Kembalilah ke Kyoto. Kabarkan kata-kata ambigu sang dewi naga kepada dewi Amaterasu."

"Tapi ayah! Bagaimana dengan perintah sang dewi?" tanya Basara dengan sedikit bingung.

"Perubahan rencana, Basara." Kata Jin dengan tegas. "aku yang akan mengambil jiwa si putih berserta tubuh pemiliknya, tapi kali ini aku hanya akan mengalahkannya dan menyeretnya ke penjara sampai kata-kata ambigu dari dewi naga itu terpecahkan. Untuk saat ini turuti kata ayahmu."

"Oke! Baiklah ayah. Hati-hatilah!" ujar Basara yang memperingati ayahnya. "Ya tentu saja" balas Jin kemudian. Dengan itu, pemuda tersebur berbalik arah dan berjalan turun ke arah Kyoto. Sementara Jin kemudian menaruh tangannya di pohon besar yang menjadi Ilusi dari sebuah pelindung besar dan memompa kekuatannya keluar. Aura putih bercampur kebiruan keluar dari tubuhnya dan dengan satu gumaman pelan dia berujar.

"Pecah"

Lalu apa yang terjadi selanjutnya adalah pohon besar dihadapannya retak, layaknya sebuah kaca yang jatuh, pohon itu meretak dan retakan itu menjalar dengan cepat secepat gelas yang diisi air es lalu dituang air mendidih, retakan itu kemudian pecah seperti kaca yang pecah dan dengan hentakan kaki yang cepat, Jin menghilang ditelan pepohonan dalam sebuah garis lurus laju yang cepat melaju ke depan.

[Line Break]

Naga besar itu berenang di tempat penuh warna yang tak pernah terbatas akan segala hal. Ilusi terbesar yang terpasang dengan untaian warna untuk menutupi apa yang sesungguhnya berada di sana. Naga itu melayang, sayapnya bergerak pelan. Warna merah besarnya yang agung terlihat begitu megah di antara ruang penuh warna yang dia lalui. Sebuah celah raksasa terbentuk di depannya yang membuat itu masuk ke dalamnya dan mengeluarkannya tepat di batas antara ruang tanpa batasan warna tersebut dengan kegelapan tiada akhir yang terhalang oleh sebuah penghalang besar berbentuk kubus dengan untaian kalimat putih yang bersinar redup dalam balutan simbol-simbol kuno yang tak akan pernah terbaca oleh dewa-dewi di generasi saat ini.

"Saudaraku... Kau datang lagi mengunjungiku" suara geraman berat terdengar dari dalam penghalang kubus besar tersebut. Sama-sama besarnya dengan sang merah agung yang melayang di depan penghalang tersebut dan memandang apa yang disebut dengan saudaranya dengan sembilan kepala naga besarnya yang berwarna hitam legam segelap malam dengan hanya mata reptil biru yang seperti terlihat bersinar. "Berita apa yang kau bawa kali ini, Great Red, saudaraku dari dunia mereka para makhluk yang menganggap diri mereka berkuasa" tanya makhluk besar naga di dalam penghalang yang menghalangi dirinya dengan sang merah agung yang juga adalah sang naga besar.

Trihexa sang pembawa kehancuran dunia. Dia naga yang tersegel di ujung jauh dimensi ketika Great War atau perang besar terjadi berkata dengan nada akrab kepada sang naga merah agung yang merupakan naga pemuncak di dimensi yang dikabarkan sebaga penjaga celah dimensi atau dimensi dengan tanpa batasan warna yang berpadu dengan akrab seolah mereka adalah saudara lama.

"Sang pembawa kunci telah datang dan bertindak, saudaraku" kata Great Red

"Benarkan?" jawab Trihexa dengan nada besar geraman yang memperlihatkan bahwa dia senang. "Apa para mahkluk yang merasa diri mereka maha kuasa atas segala sesuatu sudah bertindak juga?"

"Mereka yang bertindak akan berjalan dalam kesinambungan apa yang telah ditulis oleh Sang Pencipta. Sebagaimana apa yang telah tertulis, ketidakbatasan yang bersandiwara dengan apa yang dia buat dan kita yang memainkan masing-masing daripada peran yang kita jalani akan memasuki babak-babak akhir dari ini semua."

"Babak akhir sudah akan dimulai? Sang penjaga pembawa mimpi sebagai kekuatan, sang pengelana pembawa kehancuran sebagai simbol dan sang perawan pembawa ketidakbatasan sebagai pengetahuan. Tiga kekuatan besar akan bersatu dan menuntun sang pembawa kunci dalam tahap akhir untuk mengakhiri apa yang sudah membuat dimensi ini kacau dan melawan dia yang tersembunyi dalam Oblivion dan membawa kemenangan serta zaman baru. Dimensi dari Kami-sama akan terlihat dan semua keputusan berada di tangan sang pembawa kunci" kata Trihexa. "Dia yang tersembunyi di dalam dunia hitam yang sesungguhnya pembawa kehancuran telah melepas sedikit dari apa yang dia tahu dengan merubah sedikit lampauan masa. Katakan saudaraku. Ucapan dari Ophis, apa Ophis yang mempunyai tugas mengawasi mereka para makhluk yang merasa mereka maha kuasa sudah kembali untuk bertemu denganmu?"

"Dia telah datang menemuiku. Melalui mimpi yang membawa kekuatan kepadaku dari setiap mereka yang hidup para mereka makhluk yang merasa mereka berkuasa; tanah mereka telah akhirnya berguncang. Sang anak dari bintang fajar akan berusaha menipu Ophis yang mana Ophis akan bermain dengan apa yang diniatkan oleh anak dari bintang fajar untuk membebaskan segel yang mengurungmu ini dengan bantuan dari apa yang telah tertulis dalam tulisan kuno yang ditinggalkan oleh generasi mereka yang turun ke dimensi ini. Kau akan terbebas dan peran kita akan dimulai" kata Great Red.

Setiap mata di masing-masing kepala Trihexa tertutup dan kemudian sembilan kepalanya merebah turun. "Maka aku akan menunggu itu sembari menunggu pertemuanku dengan dia sang pembawa ketidakbatasan sebagai pengetahuan dalam pertemuanku dengannya setelah belasan milenia berlangsung. Takdir-takdir akan bergerak bergerigi kembali dan dia sang makhluk yang bergelar kegelapan yang menguasai ilmu dimensi dan yang diciptakan untuk membelot oleh Sang Maha Kuasa sebelum terkurung dalam Oblivion dengan sisa kekuatannya yang tersebar yang melayang membentuk kesadaran dan menjalani hidup sebagai wanita bergelar dewi yang memakan buah terlarang dari dimensi Kami-sama yang tumbuh di dunia yang tersebut sebagai dunia mereka pemilik chakra telah bergerak."

"Maka semua akan dimulai pada waktunya, saudaraku. Kita semua yang terlahir dari sisa Oblivion yang mengurungnya akan berperan dalam hal terbesar ini sebentar lagi. Semua akan terungkap dalam perjalanan waktu." sayap dari sang naga merah agung bergerak dan naga merah agung tersebut terlihat naik ke atas dengan celah besar kembali terbuka di atasnya menelannya untuk membawa naga merah agung tersebut ke arah lain dari celah yang mereka namai celah dimensi.

Sedangkan dia yang terkurung dalam segel tersebut hanya diam dan menggeram pelan kemudian setelah kepergian sang merah agung.

Semua telah teratur. Semua akan terbuka satu persatu. Semua akan menyatu berkesinambungan satu sama lain. Menunggu sedikit lagi tak akan menjadi masalah bagi dia yang bergelar sang kehancuran. Karena waktu tak pernah menjadi batasan untuk mereka yang akan mengerti batasan.

[...To be Continue...]

Muahahahaha...Arc baru misteri baru clue baru. Pembuka yang tersaji di interlude kedua hanya satu dari sekian rahasia kecil yang sudah diatur dan jauh lebih besar lagi. Para naga yang terkenal dengan gelar mereka tak luput menjalani apa yang sudah tertulis dan apa lagi ini? Kaitan dengan dunia Chakra...muahahahaha...otakku benar-benar bingung mau bilang apa.

Arc Kyoto yang tersaji dalam rangkaian plot pertama ini menyajikan sesuatu yang akan sangat berbeda. Panggung yang di set Amaterasu masihlah kecil. Alucard ikut andil dalam semua ini dan yah...pada akhirnya mereka para dewa dewi akan mempunyai satu pandangan lurus. Naruto bukanlah orang baik jika dilihat dari sudut pandang berbeda nanti di chapter ini.

Apa yang aku tulis kali ini adalah lanjutan dari Interlude ke dua. Jedanya adalah satu bulan setelah Naruto pergi ke Olympus. Aku pernah bilang pada kalian kan? Reuni besar dengan bumbu drama akan terjadi di Kyoto. Misteri yang mengungkap semua akan terlihat di sini.

Chapter depan akan ku-usahakan menampilkan apa tujuan aliansi. Pelan tapi pasti chapter-chapter akan disusun hinggan the Last Adventure akan saling berkesinambungan. Bahasa yang kugunakan di chapter ini rasanya berat dan banyak misteri ya?

Satu lagi. Jeanne dan Raynare. Mereka akan reuni dengan Naruto dalam konflik mereka dengan para pahlawan. Dan drama! Aku suka drama yang akan kubuat untuk mereka. Dan apa ini pula?! Jeanne diubah menjadi malaikat Brave Saint oleh Gabriel sebagai Joker! Lalu Raynare? Muahahahaha itu tersimpan lagi

Buat para senpai di ffn dan para senpai yang sudah mendukungku. Ini persembahanku untuk kalian. Chapter awal dari Arc yang gila juga jika kupikirkan akan sangat mengubah tatanan dunia DxD. Siapa yang dikurung oleh Kami-sama sebenarnya? Siapa yang sesungguhnya membelot? Fuah...tambah penasaran kali pasti kalian senpai :v =D

Berikan tanggapan kalian untuk chapter ini. Dan sampai jumpa di chapter depan yang terasa mungkin akan sedikit lama karena aku juga sibuk... Maa buat yang terus mendukungku terima kasih banyak dan terima kasih buat siapapun penulis yang karyanya kubaca yang banyak memberikan inspirasi buatku...Jaa nee... :v

P.S ; maaf untuk typo yang selalu menyakitkan mata kalian para senpai