Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings
Warning: Slash, AU, OOC, OC, Mpreg, typo, etc
Rating: M
Genre: Romance, Adventure
Pairing: DMHP, BZNL, OCHG, LMNM, etc
CHASING LIBERTY
By
Sky
Hogwarts, Britannia Raya
Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore adalah individual yang sangat menarik. Ia adalah kepala sekolah Hogwarts tereksentrik yang dimiliki Hogwarts setelah Elianna Ravenstone pada tahun 1678, dan juga orang kepala sekolah Hogwarts kedua yang melakukan kudeta besar-besaran di dalam sejarah dunia sihir dengan dalih ingin melawan pihak kegelapan. Dalam artian singkat Dumbledore adalah orang yang menarik, begitu manipulative demi kepentingannya sendiri namun mampu menyedot perhatian banyak publik untuk bersimpati padanya.
Rencana yang ia buat untuk mengambil alih kekuasaan yang saat ini ia jalankan telah ia rencanakan sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Entah apa yang menyebabkan seorang pemuda yang cinta damai menjadi seperti ini tidak ada yang tahu, mungkinkah ia marah pada dunia atas ketidakadilan yang terjadi di masa kecilnya? Atau ia ingin menunjukkan pada dunia kalau dia adalah penyihir yang paling besar? Namun yang mungkin terjadi adalah apakah ia ingin membalas dendam akan ketidak adilan yang diterima seseorang yang sangat ia cintai di masa lalu? Hal ini juga tidak diketahui banyak pihak kecuali dirinya sendiri. Apapun alasan Dumbledore melakukan ini masih menjadi misteri, ia hanya mengatakan kalau ini semua demi kebaikan mereka bersama, untuk menghilangkan kejahatan yang telah diciptakan oleh mantan muridnya, Tom Marvolo Riddle yang saat ini dikenal sebagai Voldemort.
Kepala sekolah yang kini telah berusia 115 tahun tersebut menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kepala sekolah yang ia duduki, kedua mata biru cemerlangnya terlihat begitu lusuh di balik kacamata setengah bulan yang selalu ia kenakan di puncak hidungnya. Dumbledore menatap ke arah mentari yang sebentar lagi mulai tenggelam di kaki bukit, dari balik jendela kantornya yang ada di Hogwarts. Kepala sekolah itu menghela nafas untuk kesekian kalinya setelah perang yang kedua kalinya meletus dengan begitu dahsyatnya, ia ingin semua ini berakhir dan kemenangan berada di dalam genggamannya.
Mungkin ada pertanyaan mengapa ia tidak turun tangan untuk memimpin perang yang saat ini tengah terjadi, jawabannya sangatlah singkat yaitu ia akan menunggu saat yang tepat untuk melancarkan aksi berikutnya, rencananya tidak hanya satu maupun dua buah banyaknya, ia tahu apa yang bisa Tom lakukan untuk memukul mundur pasukannya, dan dua buah rencana tidaklah cukup untuk mengalahkan mantan muridnya itu. Dumbledore harus mengatur ulang rencananya, dan rencana terakhirnya inilah yang akan mengantarkannya pada pintu kejayaannya, yang sebenat lagi akan berada di dalam genggamannya.
Dumbledore adalah seorang Gryffindor, ia tahu itu dengan baik. Seperti karakteristik Gryffindor yang diturunkan dari pendiri mereka, Godric Gryffindor, ia sangat berani untuk mengambil segala risiko demi sebuah kejayaan yang akan ia peroleh nantinya. Bahkan untuk mengambil sesuatu yang bernama kemenangan itu Dumbledore tidak segan-segan untuk melakukan segala cara, bahkan dengan cara licik yang sering dilakukan oleh Slytherin sekalipun. Ada satu kalimat yang bisa menggambarkan kepala sekolah Hogwarts yang berusia 115 tahun ini, ia begitu cerdik dan berani serta berambisius tinggi.
"Bahkan Gellert pun mengatakan hal yang sama mengenai diriku." Gumam Dumbledore, ia tertawa kecil ketika ingatannya membawa laki-laki berusia senja tersebut ke masa lalu. Di mana ia masih bisa bersama dengan sang kekasih sebelum ia menghabisi nyawanya untuk yang terakhir kalinya. "Gellert, aku merindukanmu."
Kedua mata Dumbledore beranjak dari pemandangan sore yang indah dan berganti ke arah papan catur penyihir yang tergeletak dengan rapi di atas meja kerjanya. Di atas papan catur tersebut sudah terpasang bidak-bidak yang tersusun dengan rapi seperti layaknya akan dimainkan oleh dua orang pemain. Dumbledore menggeser bishop-nya yang berada di pihak putih untuk menumbangkan bidak ratu di pihak berwarna hitam. Bidak ratu tersebut terguling dari singgasananya dan saat itulah kedua mata Dumbledore berkilat penuh ambisi, sebuah kilatan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun kecuali pada sang kekasih yang ia habisi pada duel puluhan tahun yang lalu.
"Gellert, my dear…Aku harap kau melihat apa yang aku lakukan, sayang. Semua ini kulakukan untukmu." Ujar Dumbledore lagi, ia melepaskan bishop warna putihnya sebelum jemari tangannya berpindah ke arah bidak sang ratu hitam yang saat ini telah berada di dalam genggamannya.
Dengan hati-hati kepala sekolah Hogwarts tersebut membelai bidak sang ratu, senyuman kecilnya muncul di wajahnya yang sudah keriput tersebut. Dibelainya bidak itu dengan lembut untuk beberapa saat.
"Harry Potter, kau ada dalam genggamanku sekarang. Kunci dari perang ini akhirnya jatuh ke dalam genggamanku. Mungkin kau dapat meloloskan diri dariku beberapa saat yang lalu dan bergabung dengan Tom, namun di akhir cerita kau akan kembali padaku." Kata Dumbledore, suaranya begitu ramah namun semua itu menutupi maksud yang tersembunyi. "Tidak sia-sia rencana yang aku buat, mungkin aku harus berterima kasih pada Cassandra Trelawney 70 tahun yang lalu saat ia memberitahuku ramalan yang menarik itu, tapi sayang…aku sudah menutup mulutnya lebih dulu untuk selama-lamanya. Saatnya menjalankan rencana berikutnya."
Dumbledore terkekeh pelan ketika beberapa formula kembali terbentuk di dalam benaknya, ia meletakkan bidak yang tadi ia ambil secara sembarang di atas papan caturnya, membiarkan bidak sang ratu tumbang dan berguling di depan bidak sang raja hitam. Penyihir yang dikenal sebagai Chief Warlock of the Wizengamot tersebut beranjak dari tempat duduknya.
Aku penasaran bagaimana Tom menghadapi Chimera yang aku summon itu. Pikir Dumbledore, sebuah seringai kecil muncul di bibirnya. Chimera adalah makhluk sihir yang dikenal sebagai makhluk mitos, hanya sebuah legenda yang tidak nyata lebih tepatnya. Namun legenda bukanlah sebuah legenda kalau mereka tidak nyata.
Dalam sejarah masyarakat penyihir Yunani kuno, Chimera adalah makhluk yang sangat ditakuti, putra dari Echidna yang tidak bisa dikalahnya. Tidak banyak orang yang bisa memanggil makhluk itu, sebab untuk memanggilnya saja mereka harus melakukan persembahan 200 nyawa manusia serta memiliki sihir yang kuat. Namun dengan kepintarannya itu Dumbledore bisa mengakalinya dengan mudah, ia berhasil memanggil makhluk menakutkan dan sangat berbahaya tersebut sebelum mengirimnya ke tempat Tom, menghancurkan tempat itu sampai sedetail-detailnya dan kalau bisa makhluk itu dapat membunuh mantan muridnya dengan beringas akan lebih baik, namun Dumbledore tahu kalau mengirim Chimera dan yang lainnya tidak akan mengalahkan Tom dengan mudahnya, oleh karena itu ia mempersiapkan mereka sebagai pengalih perhatian. Seperti apa yang Dumbledore katakan tadi, kunci dari semuanya adalah anak yang bernama Harry Potter.
Sebuah bunyi yang berasal dari perapiannya kembali menarik perhatian Dumbledore dari lamunannya, kepala sekolah Hogwarts tersebut mengenali bunyi tadi. Sebuah Firecall yang berasal dari Grimmauld Place, sepertinya salah satu dari anggota Order memanggilnya. Dengan langkah singkat ia pun beranjak dari tempatnya untuk menghampiri perapian yang tidak jauh dari letak meja kerjanya, ia mendapati wajah Mundungus berada di sana.
"Ada apa kau memanggilku, Mundungus? Apa misi yang kuberikan padamu dan Ronald sudah selesai?" Tanya Dumbledore dengan nada penuh kesabaran, namun di balik nada tersebut tersembunyi sebuah perintah yang jelas kentara.
Mundungus terlihat begitu gugup ketika berhadapan dengan pemimpinnya tersebut, sebab tidak setiap hari penyihir kikuk ini bisa berhadapan secara langsung dengan seorang Albus Dumbledore, penyihir terhebat sepanjang masa yang rumornya dapat disejajarkan dengan Merlin sendiri.
"Aku dan Weasley berhasil menyusup ke dalam Hammond Manor, sir, mengambil Harry Potter dari tangan mereka sangat mudah, namun kita memiliki masalah." Jawab Mundungus, ia mencoba untuk menyembunyikan perasaan gugupnya tersebut.
"Masalah? Kalau boleh aku tahu, masalah apa yang kau bicarakan?" tanya Dumbledore, ia kelihatan tidak sabaran.
Dari balik bayangan Mundungus yang tampak di perapian itu, Dumbledore bisa melihat Mundungus tampak ragu untuk mengatakannya.
"Katakan saja, Mundungus, mungkin kita bisa memperbaikinya menjadi lebih baik. Dunia membutuhkan Harry Potter di sisi kita." Bujuk Dumbledore dengan nada seorang kakek yang begitu ramah.
"Er.. sepertinya Potter dalam pengaruh sihir yang kuat, ia tidak bisa bangun dari tidur panjangnya. Kelihatannya seseorang telah menaruhnya dalam kondisi begitu, bahkan dengan cara apapun kami tidak bisa membuatnya bangun."
Jawaban dari Mundungus Fletcher tadi membuat Dumbledore menyipitkan matanya. Harry Potter berada dalam keadaan koma yang disengaja, namun alasan dan siapa yang melakukan itu masih tidak jelas.
"Aku akan ke Grimmauld Place untuk melihatnya sendiri." Kata Dumbledore setelah ia memikirkan kemungkinan siapa yang melakukan ini semua pada Harry.
"Baik, sir." Sahut Mundungus sebelum ia memutus firecall di antara mereka berdua.
Ini benar-benar masalah, kalau Harry tidak sadar dari kondisinya maka aku tidak bisa menggunakan sihirnya untuk melawan Tom dan pengikutnya. Terlebih lagi Harry adalah icon pihak Order dan kementrian. Dumbledore memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat sebelum membukanya, sakit kepala mulai ia rasakan lagi, namun ia tidak bisa berdiam terus di dalam kantornya yang ada di Hogwarts. Ada tempat yang harus ia kunjungi.
Grimmauld Place
Perapian yang ada dalam rumah besar keluarga Black yang bernama Grimmauld Place itu berpendar kehijauan sebelum sesosok manusia keluar dari sana. Sosok manusia itu adalah seorang pemuda berbadan kekar dan memiliki rambut pendek berwarna merah, kedua mata biru milik pemuda berambut merah tersebut jatuh pada sosok pemuda yang bertubuh jauh lebih kecil darinya dan tengah berada di dalam gendongannya. Pandangan yang diberikannya bukanlah pandangan biasa, namun sebuah pandangan penuh kemenangan dan kesombongan di dalamnya, tapi ada satu perasaan yang terlihat jelas selain apa yang sudah disebutkan, tatapan penuh nafsu yang begitu besar diberikan oleh pemuda berambut merah tersebut.
Pemuda berambut merah bernama Ronald Weasley, biasa dipanggil Ron oleh keluarga dan kawan-kawannya, sementara pemuda manis yang saat ini berada dalam gendongannya adalah mantan kawannya yang juga sekarang menjadi objek nafsunya, ia bernama Harry Potter.
Aku akan membuatmu jadi milikku, Harry. Pikir Ron secara singkat, entah apa yang menyebabkan perasaannya berubah begitu drastis pada Harry, ia sendiri tidak tahu.
Sesaat setelah Ron muncul bersama Harry, perapian floo itu bercahaya lagi dan tidak lama setelah itu sesosok pria pun muncul di sana. Pria itu bernama Mundungus Fletcher, seorang pengkhianat dan juga mata-mata dari pihak Dumbledore.
"Aku tidak percaya kalau kita bisa melakukan misi ini dengan sukses…" Mundungus tiba-tiba memulai sebuah pembicaraan dengan Ron, membuat orang yang bersangkutan langsung menulikan pendengarannya untuk sementara. Ia malas mendengarkan ocehan Mundungus yang tidak bermutu.
Sejak dulu Ron memang tidak menyukai pria ini, ia terlihat terlalu lemah dan ditambah posisinya yang menghabiskan waktunya di pihak Voldemort membuat pemuda berambut merah tersebut semakin tidak mempercayai kesetian Mundungus. Tapi harus ia akui kalau Mundungus bisa diandalkan pada saat-saat seperti ini, pria kikuk yang mudah diperalat.
"Aku akan menempatkan Harry ke ruangan khusus yang dibuat oleh Dumbledore, kau hubungi kepala sekolah sekarang juga!" Perintah Ron tanpa menatap orang yang diperintahnya.
"Baiklah, Weasley." Jawab Mundungus.
Sebuah seringai muncul di bibir Ron karena itu. Biarkan pria kikuk itu yang mengurus semuanya, saat ini ia ingin bersenang-senang dengan mantan sahabatnya sebelum Dumbledore datang. Dengan pikiran yang sudah dibutakan oleh nafsu pekat, Ron berjalan dari ruangan itu untuk menuju kamar khusus yang telah dibuat oleh Dumbledore untuk mengurung Harry.
Sepanjang perjalanan ia menyusuri koridor Grimmauld Place, ia tidak menemukan satu orang pun anggota Order, kemungkinan besar mereka berada di medan perang saat ini, dan kalaupun ada yang masih di tempat ini pasti mereka tengah mengurung diri di kamar masing-masing. Dengan langkah pelan Ron pun membawa Harry menuju ke dalam kamar khusus yang dimaksud, ia menutup pintu kamar itu setelah ia masuk ke dalamnya.
"Kita akan bersenang-senang, Harry… meskipun kau menyebalkan, tapi harus kuakui kalau kau memiliki tubuh dan wajah yang memikat."Gumam Ron pada Harry yang masih tertidur di dalam gendongannya. "Mungkin kau tidak akan sadar dengan apa yang akan kulakukan, tapi kau harus berterima kasih padaku karena aku akan memberimu kesempatan agar bisa terjamah olehku."
Ruangan tempat mereka berada adalah sebuah ruangan yang sederhana, namun Ron tahu kalau barrier sihir melekat begitu kuat di ruangan ini, tidak membiarkan siapapun kabur dari dalam tempat ini. Perlahan-lahan Ron membaringkan tubuh Harry di atas tempat tidur, ia menyibak selimut yang ada di sana dan membiarkan tubuh mantan sahabatnya merasa nyaman.
Tatapan yang diberikan Ron kepada remaja manis yang tengah tertidur itu bisa dideskripsikan sebagai tatapan seekor serigala yang lapar, dan sosok manis milik Harry itu bisa diibaratkan sebagai mangsanya yang tidak berdaya. Entah sihir apa yang membuat Harry tertidur seperti ini, Ron tidak peduli, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah ia bisa memuaskan hasratnya dan Harry yang merupakan sumbernya harus bertanggung jawab akan semua ini.
"Baiklah, Harry… aku akan memulainya." Bisik Ron di telinga Harry.
Anak laki-laki termuda di keluarga Weasley itu membelai wajah mulus Harry dengan sensual, diikutinya lekukan leher yang jenjang namun begitu menggiurkan milik Harry dengan sapuan lembut jari telunjuknya. Tanpa ragu-ragu lagi Ron memberikan ciuman panas pada leher korbannya yang tidak berdaya itu. Kedua mata biru Ron menyipit saat ia menemukan sebuah tanda ciuman di leher Harry yang tidak ia buat, sepertinya ada seseorang yang sudah menyentuh tubuh anak ini.
"Dasar murahan, sepertinya tubuhmu itu memang telah disentuh oleh para pelahap maut, Harry… Sudah berapa banyak laki-laki yang telah menikmati kemolekanmu di atas ranjang?" Tanya Ron, seringai tipis menghiasi wajahnya. Ia membuka atasan piyama yang dikenakan oleh Harry. Kedua mata Ron terbelalak ketika ia melihat bekas ciuman juga ada di dada Harry, tepatnya di dada sebelah kiri tepat jantungnya terletak.
"Julukan pelacur sepertinya cocok untukmu." Kata Ron lagi, tangannya membelai dada Harry dengan kasar, ia tidak peduli kalau tindakannya itu membekas pada tubuh putih Harry.
Pikiran jernih Ron kini sudah dibutakan dengan nafsu, bahkan ia sendiri bisa merasakan miliknya mulai menegang dengan keras gara-gara menyentuh kulit Harry yang mulus. Ia tidak tahan lagi, masa bodoh dengan konsekuensinya nanti yang jelas Ron mau bersenang-senang dengan tubuh Harry yang masih tidak sadarkan diri itu.
Ron mulai membubuhi tubuh Harry dengan ciuman, bahkan ia tidak segan untuk meninggalkan gigitan kecil di sana-sini, menutupi bekas yang Draco berikan pada tubuh suami tercintanya. Ada secercah perasaan kecewa yang dirasakan oleh Ron, ia mengharapkan Harry mengeluarkan suara-suara penuh kenikmatan saat ia melakukan ini padanya, atau mungkin malah pemberontakan karena ia mau diperkosa. Tapi sayang, Harry Potter berada di dalam kondisi koma oleh sihir, entah oleh sihir apa Ron sendiri tidak tahu dan tidak mau peduli. Dalam perlakuannya ini Harry hanya diam, ia tidur serasa tidak terjadi apa-apa.
Baru saja Ron akan melepaskan celana piyama yang dikenakan oleh Harry, tiba-tiba tubuhnya ditarik keras dari belakang dan ia terlempar sampai punggungnya menabrak dinding ruangan.
"BRENGSEK!" Umpat Ron, ia merasa murka karena seseorang berani-beraninya menganggu aktivitasnya yang menyenangkan itu.
Namun umpatan yang ingin keluar dari mulut Ron selanjutnya langsung tertahan di ujung lidahnya saat ia melihat siapa yang menariknya dengan kasar tadi. Berdiri di hadapannya adalah seorang Remus Lupin yang murka, mantan professor pertahanan terhadap ilmu hitam yang terkenal begitu baik itu terlihat sangat marah. Kedua mata kecoklatannya yang biasanya terlihat hangat dan ramah, kini berubah warna menjadi keemasan sementara amarah yang terlihat begitu jelas pada kedua mata tersebut menusuk begitu dingin ke arah Ron. Dalam artian singkat Remus seperti seekor induk serigala yang marah karena anak-anaknya diganggu oleh hewan pengusik, dan di sini secara tidak langsung "hewan pengusik" itu adalah Ronald Weasley sendiri.
"Berani-beraninya kau melakukan perbuatan bejat itu pada keponakanku, Ronald." Kata Remus, suaranya terdengar begitu dingin, seperti sayatan es yang berasal dari kutub selatan.
"Pro-profesor… i-ini tidak sep-seperti yang kau lihat." Kata Ron dengan terbata-bata, ia merasa takut dengan profesornya. Tidak hanya Remus begitu protektif pada Harry, namun aura yang keluar dari tubuh laki-laki berambut kecoklatan itu sangat berbahaya.
"Tidak seperti kelihatannya? Lalu apa kau bisa menjelaskannya padaku akan mengapa kau berada di atas tempat tidur bersama Harry, dengan mulut kotormu itu berada di tubuhnya… oh… jangan lupakan tangan milikmu mencoba untuk menelanjanginya." Ujar Remus, membuat Ron bungkam seribu bahasa. "Katakan padaku, Ronald… apa yang kau lakukan tidak seperti kelihatannya?"
Remus berjalan mendekat, menghampiri mantan muridnya yang masih terduduk di sana setelah ia lempar tadi. Sebuah perasaan jijik ia rasakan ketika ia menatap pemuda berambut merah. Berani-beraninya Ron menyentuh Harry yang tidak sadarkan diri itu, sebuah tindakan bejat yang tidak terpuji membuat rasa hormat Remus kepada Ron hilang secara sekejap.
Tubuh Ron bergetar hebat, ia tidak akan menang melawan Remus. Meski pria ini berada di pihak Dumbledore, tapi Remus begitu menyayangi Harry seperti seorang ayah yang menyayangi puteranya, dan melihat tindakan kurang ajar Ron kepada "putera"nya itu tentu membuat Remus naik pitam begitu saja.
Sebuah tangan kekar menarik kerah kemeja yang Ron kenakan dan membuatnya maju ke depan, lehernya terasa tercekik oleh tarikan kerah yang Remus lakukan.
"Kau benar-benar menyedihkan, Ronald. Segera pergi dari hadapanku dan Harry, kalau kau berani melakukan hal seperti ini lagi pada keponakanku, aku tidak segan-segan untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri." Ancam Remus, suaranya begitu dingin.
"Dum-….."Kalimat Ron terputus.
"Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan atau dilakukan Dumbledore. Aku tidak akan membiarkan kalian merenggut kebebasan Harry begitu saja!" Kata Remus lagi, ia semakin mempererat jeratannya pada kerah Ron. "Apa kau mengerti dengan yang kukatakan, Ronald?"
Ron pun dengan susah payah mengangguk singkat, ia takut dengan apa yang akan Remus lakukan padanya saat ini kalau ia tidak menurut. Merasa puas karena Ron menuruti perintahnya, Remus langsung melempar tubuh pemuda itu ke arah pintu, bahkan rasa puas yang dirasakan Remus semakin berlipat saat ia mengetahui lemparannya membuat Ron menghantam pintu dengan keras. Mungkin tidak akan mematahkan tulang pemuda berambut merah tersebut, namun cukup untuk memberikan rasa sakit yang tidak akan dilupakan.
Layaknya anjing yang merasa kalah, Ron pun langsung pergi dari dalam kamar tersebut dan meninggalkan bantingan pintu keras di belakangnya.
"Untung saja aku segera ke sini setelah Mundungus memberitahuku dia membawa Harry ke tempat ini. Kalau aku terlambat sedikitpun, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan pemuda bejat itu pada keponakanku." Gumam Remus pada dirinya sendiri.
Remus beranjak dari tempatnya untuk melihat kondisi Harry, ekspresinya berubah sedikit seperti tengah menahan rasa jijik saat ia melihat bekas ciuman berwarna merah yang Ron berikan pada tubuh Harry. Amarahnya kembali memuncak ketika ia mengingat apa yang Ron lakukan pada Harry, bukankah mereka sahabat? Tega-teganya berbuat sesuatu yang tidak bermoral seperti itu pada Harry yang tengah tidak sadarkan seperti ini.
"Aku akan melindungimu, Harry. Aku sudah berjanji pada James, Lily, dan Sirius untuk menjagamu dengan hidupku." Kata Remus lagi, ia mengeluarkan tongkat sihir dan melambaikannya ke kanan.
Detik berikutnya bekas luka yang ditinggalkan Ron pada tubuh Harry menghilang, dan tubuh Harry yang setengah telanjang pun tertutup oleh sebuah kemeja longgar berwarna biru langit dan celana putih. Remus mengambil selimut yang tergeletak di bawah tempat tidur, ia pun meletakkan benda hangat itu di atas tubuh Harry, membuatnya merasa nyaman.
"Sebenarnya apa yang direncanakan Dumbledore?" Gumam Remus, ia harap semua ini segera berakhir dan kedamaian bisa menyelimuti mereka semua seperti dulu.
Nearby Hammond Manor, North England
Neville Longbottom bukanlah pemuda yang memiliki keberanian besar seperti rekan-rekannya, bahkan bila dibandingkan dengan kekasihnya sendiri ia saja masih kalah, padahal Neville adalah seorang Gryffindor. Sebagai seorang Gryffindor harusnya Neville tidak takut pada apapun, ia harusnya bisa berperang seperti Blaise, Draco, Daphne, Alex, dan Hermione serta turun ke medan pertempuran. Namun semua itu tidak bisa ia lakukan, sejak dulu Neville selalu terkenal dengan jiwa loyalitasnya daripada keberanian yang ada di dalam dirinya. Mungkin topi penyeleksi salah memasukkan Neville ke dalam asrama, mungkin seharusnya ia tidak berada di asrama Gryffindor namun berada di Hufflepuff.
"Tapi berpikiran seperti itu tidak ada gunanya." Gumam Neville lagi. Ia melihat banyak korban bergelimpangan di hadapannya, bersimbah darah yang banyak dan Neville berterima kasih pada apapun yang memberinya kekuatan untuk tidak berjengit pada pemandangan mengerikan yang ada di hadapannya itu.
"Expelliarmus!" Sebuah mantra pelindung ia gumamkan saat ia mengacungkan tongkat sihirnya ke arah dua penyihir yang mencoba menyerangnya. Membuat dua penyihir tadi terlempar seperti sebuah kertas tipis yang terhempas oleh angin.
Aku tidak ingin menyakiti mereka, tapi aku tidak punya pilihan. Pikir Neville, ia mengayunkan tongkat sihirnya secara vertikal ke kanan dan dengan cepat. "Ultima Aquamenti!"
Air yang berasal dari dalam tanah keluar dan langsung menerjang lawan yang Neville hadapi. Ombak yang berasal dari air tersebut begitu deras, membuat yang dilewatinya tersapu seperti hamparan debu, tidak menyisakan apapun setelahnya.
"Maafkan aku." Gumam Neville untuk kesekian kalinya, sebuah perasaan bersalah kini ia rasakan lagi.
"Mr. Longbottom, berhentilah untuk minta maaf seperti orang bodoh." Sebuah suara yang begitu familier terdengar dari samping Neville, membuat remaja laki-laki tersebut menoleh ke arah si pemilik suara.
"Mr. Malfoy." Kata Neville yang terkejut dengan kemunculan Lucius Malfoy di sampingnya.
Lucius menganggukkan kepalanya, kedua matanya menyipit saat ia melihat beberapa musuh kembali mendekat ke arah mereka. Ia merasa kesal, mereka tidak ada hentinya menyerang. Tapi di balik perasaan kesalnya itu Lucius juga merasa gelisah, beberapa saat yang lalu ia merasakan aliran sihir yang begitu besar berasal dari arah tebing yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia sedikit khawatir dengan hal itu. Perasaannya tidak tenang, namun Lucius Malfoy tidak boleh terbawa suasana sebab ia harus fokus menghadang pasukan Dumbledore yang tidak ada habisnya ini.
"Saat ini kita ada di medan perang, Mr. Longbottom, kalau kau terus meminta maaf seperti orang bodoh begitu, kau bisa terbunuh oleh lawanmu." Kata Lucius, ia tidak suka berbasa-basi lagi.
Baru saja Neville mau mengucapkan 'maaf' lagi, Lucius sudah menariknya menjauh dari tempatnya berdiri tadi. Sebuah serangan dari manta pelepuh melunncur ke arah Neville, dan anak itu akan terluka parah bila Lucius tidak segera menariknya.
"Well…Well… bukankah ini sebuah kehormatan bisa bertemu dengan auror Moody yang terhormat." Kata Lucius dengan dingin, ia melepaskan cengkeramannya dari lengan Neville.
Alastor Moody melompat dari atas batu besar tempatnya berdiri tadi, eskpresinya geram ketika ia menatap sosok Lucius Malfoy.
"Mr. Longbottom, aku ingin kau segera pergi ke manor. Lihat bagaimana keadaan istriku di sana." Gumam Lucius dengan dingin, meski ia tengah berbicara pada Neville tapi pandangannya tidaklah beralih dari sosok Moody.
"Tapi bagaimana dengan anda?" Tanya Neville, ia menarik jubah yang ia kenakan semakin erat ke tubuhnya.
"Aku akan mengurus auror ini. Aku punya firasat terjadi sesuatu di dalam manor, cepatlah pergi ke sana, Mr. Longbottom!"
Tanpa diperintah sebanyak tiga kali Neville langsung berlari, menghindari tempat yang nantinya akan menjadi tempat duel antara Alastor Moody dengan Lucius Malfoy.
"Alice dan Frank akan kecewa melihat putera mereka bergabung dengan pihak yang salah." Komentar Moody, mata implannya tersebut mengawasi sosok Neville yang berlari menjauh dari lokasi mereka.
Lucius terkekeh kecil, serasa ada yang lucu dari perkataan Moody. "Tidak ada pihak yang benar maupun salah dalam perang ini, Alastor Moody. Yang ada adalah pihak yang menang dan pihak yang kalah." Jawab Lucius, ia menarik keluar tongkat sihirnya.
"Hoo… Lalu menurutmu siapa pihak yang menang dan kalah itu, Malfoy?" Moody menanggapi perkataan Lucius dengan nada meremehkan.
"Itu sulit ditebak. Tapi kita akan tahu setelah duel ini selesai." Sahut Lucius. "Ah, tapi kau tidak akan tahu karena aku akan membunuhmu di sini."
Moody memberikan glare ke arah Lucius. "Tidak kalau aku membunuhmu duluan, Malfoy!"
Dan duel sampai titik darah penghabisan di antara Lucius Malfoy dengan Alastor Moody pun dimulai.
AN: Terima kasih sudah mampir dan membacanya
Author: Sky
