Author : #bersin. Haduh... maafkan Author karena harus keluar di Author Note dalam keadaan sakit begini. Terlalu banyak pikiran dan sibuk dengan Real Life sampe lupa makan dan tidur dengan teratur, akhirnya harus membuat Author merasakan yang namanya sakit. Brr... badan menggigil, kepala pusing kayak ditabokin Yuuma, terus bersin bahkan ampe pilek. Jadi, tolong maapkan dan maklumi penampilan Author saat ini.
Yuki : Duh, makanya. Kan udah kubilang, mending aku aja yang keluar di Author Note buat balas review minna. Author-san udah tidur aja sana. Terus sembuhin tuh sakitnya, biar bisa lanjut lagi nulis.
Author : Nggak mau... akhirnya Author bisa ketemu lagi ama minna, masa iya harus mundur hanya karena sakit begini aja #batuk. Po-pokoknya, langsung aja deh kita balas review dari minna.
Yuki : #menghela napas. Kok bisa ya aku punya Author-san keras kepala begini? Ya udah. Biar aku aja yang balas. Etto... review yang pertama... #ngeliat note Author.
HayaaShigure-kun : Yaps. Semua masalah yang ada asalnya dari bapak tua nyebelin itu. Jadi, salahkanlah si Karl Heinz. Sabar Hayaa-san, nanti juga bakal ada kok moment mereka berdua. Sabar dan tunggu aja tanggal mainnya hehehe.
mawarputih : Reviewmu membuat Author tersentuh hiks hiks, mawarputih-san. Terima kasih banyak buat perhatiannya #peluk. Setuju pake banget, mawarputih-san. Kok ya nggak ada perlawanan gitu padahal heroine. Tapi yah, kembali lagi sama gamenya karena DL itu kan asalnya dari game. Terus kayaknya emang sengaja dibuat ama pembuatnya cowok vampire yang semuanya do-S. Sebenarnya di gamenya heroine bisa kita buat jadi do-M ato do-S. Cuman kalo heroine kita jadiin do-S nanti malah dapetnya bad ending. Kalo mau dapet happy ending, yah mau nggak mau harus kita jadiin do-M heroine-nya. Mungkin yah, jadinya begitu buat setting karakter Yui-chan.
Apakah semuanya akan mati? Nggak perlu mikir pusing – pusing, langsung baca aja chapter dibawah ini. Ada kok jawabannya hehehe. Bagus ato enggaknya itu tergantung penilaian mawarputih-san dan minna #ditabok Yuki. Tapi, yah diliat aja deh nanti gimana akhirnya. Iya, makasih semangatnya mawarputih-san. Author akan terus semangat buat mengakhiri penderitaan casting EN ini huahaha.
Seenaa : Hehehe, siapa dulu dong penciptanya #ditimpuk Yuki
nayla : Bapak tua itu ngerti cinta? Nggak mungkin pake banget nayla-san. Semuanya dia lakukan itu cuman karena penasaran. Jadi, intinya ini semua salah bapak vampire tua itu. Yaps, ini udah dilanjut nayla-san. Langsung aja deh dibabat abis chapter kali ini.
nana : Yaps, betul sekali nana-san. Chapter kali ini Author buat khusus pov Karl Heinz seorang. Berterima kasihlah dirimu, bapak tua! #dilempar Karl. Makasih udah nunggu, silahkan langsung dibaca chapter dibawah ini.
Silvia-Ki chan : Aih, kau berlebihan Silvia-chan #malu - malu. Author cuman nambahin beberapa fakta dari game DL ini berhubung OC tercinta kita, Yuki-chan, Author buat sebagai anak dari Karl Heinz. Aduh, jangan memuji Author lagi, Silvia-chan #sembunyi dibalik meja saking malunya. Author tak pantas menerima pujian seperti itu.
rizee : Yak, ini udah diupdate, rizee-san. Silahkan langsung dilanjutkan.
hikari uta : Sangat disayangkan mereka berdua jadi saudara. Bagaimanakah kelanjutan pairing utama kita? Kita saksikan dengan sabar aja hikari-san hehehe #ditabok hikari-san dan reader.
Haruno Bara0201 : Ini udah dilanjut Haruno-san, langsung capcus aja dibaca.
Yuki : Lalu, Author-san juga mengucapkan banyak terima kasih hadiah bearhug buat Otaku Sesat45667-san yang sudah mau mem-favorite-kan EN season 2 ini. Tentunya terima kasih tak akan pernah aku dan Author-san tentunya berhenti ucapkan kepada silent reader yang masih senantiasa menunggu kelanjutan chapter serial EN ini.
Yuki : Ah, iya tambahan dari Author-san. Kayaknya Author-san lupa ngasih tau sesuatu yang penting mengenai chapter kemarin. Mungkin bagi minna yang nggak main gamenya fakta kebenaran yang Author-san jelaskan di chapter kemarin itu benar ADA, kecuali fakta mengenaiku tentunya. Dan itu katanya benar – benar dijelasin sendiri ama Karl Heinz loh. Emang nggak langsung dan berbeda tiap rute/cowok yang kita , intinya dan kalo disatukan yah jadinya seperti yang Author-san jelaskan di chapter kemarin.
Author : Terus ya, Yuki-chan! Dengerin deh curcol Author. Pas main gamenya dan tahu kalo semua masalah drama di DL itu rencana Karl Heinz, rasa benci terhadap bapak tua itu makin max. Melebih batas pula! Sampe rasanya pengen nyekik tuh vampire tua, saking keselnya. Sayang, nggak bisa sih ya. Apalagi begitu tahu kalo Mukami bersaudara itu cuman dijadiin alat ama tuh bapak tua. Ukh! Padahal, Author itu penggemar berat Mukami bersaudara #mendadak semangat.
Yuki : #sweatdrop. Waduh, kok Author-san jadi semangat gitu sih?
Author : Abis sebel. Jadi, Author-san minta maaf pake banget bagi minna yang main gamenya dan belum sempet menyelesaikan semua rutenya karena udah spoiler. Tapi, kalo misalkan emang meragukan dan masih tetep pengen nyoba nyelesaiin rute dan memastikannya sendiri, silahkan. Author nggak akan melarang malah nyaranin untuk main. Mungkin minna akan merasakan pengalaman yang sama kayak Author. Bencilah Karl Heinz! #ditabok pembuat game DL. Ng? Kenapa mukamu merah, Yuki-chan?
Yuki : A-abisnya, ba-banyak yg pengen liat moment YukixSubaru... Jadi...
Author : Oh iya ya. Aduh, bertambah lagi alasan Author harus bersujud didepan minna. Yah, Author akui, Author sedikit merasa bersalah. Pasalnya mereka pairing utama, tapi kok jarang banget ada moment berdua. #bersujud. Author benar – benar minta maaf. Eits, tapi jangan salah minna. Author pastinya akan dan memang pengen buat moment YukixSubaru. Udah ada rencana dan coret – coret bakal kayak gimana, malah sampe disaranin berbagai macam adegan ama partner Author sampe Author sendiri meleleh dan ketawa sendiri ngebayangin. Author akan usahain cepat dan tentunya semoga bikin minna senyum – senyum sendiri, macam Author. Pokoknya, ditunggu aja deh.
Yuki : Oh... jadi itu alasannya Author-san sering ketawa sendiri padahal cuman coret – coret note doang. Kimochi warui!
Author : Suka – suka Author. Pokoknya, bagaimanakah moment Yuki-chan dan Subaru nanti, mari kita saksikan bersama – sama.
Yuki : Langsung aja deh, dibaca chapter dibawah ini. Selamat menikmati~
.
.
.
Warning : karakter OOC, ada OC, typo, susunan kalimat yang tidak sesuai EYD, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author
Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~
The End
Dentingan piano bergema menyeramkan didalam ruangan yang Raito tempati saat ini, mengabaikan alunan melodi indah yang tercipta. Seringai bulan yang mengintip dari balik jendela disebelah grand piano hitamnya, semakin memperkeruh suasana malam itu, membuat manusia tak akan bisa tidur dengan tenang. Tangannya begitu lihai kendati tak ada buku partitur musik untuk membimbingnya menciptakan sebuah melodi indah. Dirinya bagaikan diserap oleh permainannya sendiri. Jika sedang tak ada hal menyenankan atau urusan penting, Raito akan pergi ke ruangan ini dan memainkan grand piano hitam tersebut. Awalnya hanya sebatas mengisi waktu luangnya, lambat laun sudah menjadi kebiasaan tersendiri seorang Sakamaki Raito.
Tanpa menghentikan permainannya, Raito membuka kelopak matanya. "Apa kau datang kesini karena merindukan diriku ataukah karena terpesona akan permainanku, Kanato-kun?"
"Bisakah kau tidak mengatakan sesuatu yang menjijikan, Raito?" tukas Kanato.
Sudut bibir Raito tertarik keatas membentuk seringai. "Lalu, ada apa sampai membawamu kesini?"
"Ayato dan Yui-san... pergi ke istana ayahanda," ucap Kanato, tak peduli jika saudara kembarnya itu sudah mendengar berita tersebut atau belum. "Subaru juga pergi menyusul."
Raito bergumam. Melodi yang mengalir lembut kini berubah sedikit cepat temponya. Ia tidak menanggapi ucapan Kanato maupun melanjutkan percakapan mereka, hanya diam dan menikmati dentingan piano yang dimainkan. Kanato sendiri sama sekali tidak keberatan justru menyamankan dirinya diatas kusen jendela sembari memeluk erat boneka beruang kesayangannya.
"Nee, Raito," panggil Kanato. "Menurutmu, apa Ayato dan Subaru pergi untuk menghabisi Mukami bersaudara?"
Raito kembali bergumam. "Entahlah. Tapi, jika memang begitu, aku sungguh berterima kasih," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari tuts piano. "Dengan begini, penganggu menyebalkan akan musnah."
"Sou desu ne," sahut Kanato menyetujui.
Suasana kembali hening, membiarkan alunan melodi dari permainan Raito mengisi keheningan tersebut. Tak seperti biasanya, Kanato memilih untuk berada disana dan menikmati lagu yang tercipta. Sesekali menggumamkan lagu dengan suara indah kebanggaannya, mengingat sejak kecil ia sering bernyanyi untuk Cordelia. Suasana didalam ruangan begitu damai hingga rasanya seperti berada di dunia mimpi. Akan tetapi, mereka kembali disadarkan bahwa tak selamanya kedamaian itu berlangsung lama. Jemari panjang Raito berhenti menekan tuts piano, begitu pula dengan Kanato yang langsung diam dan memeluk erat boneka beruangnya. Dingin menyesakkan mendadak hadir, membuat siapapun akan merasa gugup atau ketakutan. Sebuah berita yang baru saja disampaikan sukses membungkam mereka berdua.
Dunia Bawah telah hancur.
xxx
Gila.
Hanya satu kata itu yang bisa diucapkan terhadap situasi ini. Kata gila pun rasanya kurang tepat untuk menggambarkan semua hal. Semuanya, sejak awal sudah diperhitungkan dan direncakan oleh Karl Heinz. Tak hanya ketika ia memutuskan untuk menciptakan ras baru, Adam and Eve, bahkan sampai akhir hidupnya dengan mewariskan kekuatannya pada calon Adam buatannya. Itu artinya pada Ayato, sang Adam yang telah dipilih oleh Yui sang Eve.
Semuanya hanya karena dirinya takut kekuatan dan pengetahuan yang telah dikumpulkan ribuan tahun hilang akibat penyakit Endzeit.
Semua-nya.
Yuki ingin muntah saat itu juga. Meskipun ia sudah mengetahui kebenaran itu berkat kekuatannya, yang ternyata keturunan dari ibunya, dirinya tetap merasa mual. Mendengar langsung semua kebenaran dari mulut sang pencipta mimpi buruk, sukses membuat Yuki tak bisa berpikir ataupun melakukan apa – apa. Tubuhnya membeku ditempat begitu pula dengan suaranya yang tak mau keluar padahal pikiran maupun hatinya berteriak, mengamuk tiada henti.
"Kau... hanya memanfaatkan kami semua... untuk tujuanmu sendiri?" Yuki menoleh ketika mendengar pertanyaan Ayato yang ditujukan kepada Karl Heinz. Tangannya terkepal erat dikedua sisi tubuhnya diikuti dengan raut amarah yang belum pernah Yuki lihat. Ia bahkan sedikit tersentak melihat iris hijau cowok penyuka takoyaki tersebut, menusuk tajam, mengingatkannya kepada Cordelia.
"Apa kau kini membenciku, Ayato?" suara Karl Heinz entah mengapa terdengar menggema didalam ruangan yang sebenarnya tidak terlalu besar tersebut.
"Sejak awal, aku sudah membencimu," dengus Ayato. "Egois, seenaknya, dan masih banyak lagi yang rasanya tak akan membuatku puas jika kusebut satu per satu. Tapi, yang paling tidak bisa kuterima adalah kau memanfaatkan dan memainkan perasaan kami semua."
"Apa kau akan membunuhku?" tanya Karl tanpa memedulikan alasan Ayato membenci dirinya.
Sebuah senyum lebar menghiasi wajah tampan Karl Heinz, puas akan hasrat dendam yang dipancarkan oleh Ayato. Inilah yang ia tunggu sejak ribuan tahun lalu, sejak penelitiannya dimulai. Ia sengaja menghancurkan ketiga istrinya dengan harapan anak – anaknya akan sangat membencinya hingga ingin membunuh dirinya. Ia sudah cukup menunggu dan inilah akhir dari penantian panjangnya. Ah, betapa bangga dirinya melihat anak-nya, subjek percobaannya telah tumbuh menjadi sosok yang ia inginkan sejak dulu namun tak pernah bisa diraih. Ternyata pilihannya menanam jantung Cordelia di tubuh Komori Yui berhasil membawanya kepada kesuksesaan besar. Ia sudah menduga jika Komori Yui akan menjadi wadah yang tepat bagi Eve dan membimbing Adam lewat darahnya untuk mendapatkan sebuah perasaan, layaknya seorang manusia.
"Aku tak peduli dengan impian bodohmu itu," tandas Ayato. "Tapi, satu hal yang pasti adalah aku akan melindungi apa yang seharusnya kulindungi."
Senyum Karl Heinz semakin mengembang yang membuat Ayato semakin kesal. Sebuah pedang dilemparkan kearahnya dan berhasil ditangkap. "Sa, Adam! Kita selesaikan pertarungan terakhir ini!" serunya.
"He-hentikan!" seruan Yuki berhasil menghentikan Ayato untuk maju dan menyerang ayahnya sendiri. Ia tidak memedulikan apa – apa, termasuk saudaranya karena terlalu terfokus untuk menghentikan semua kegilaan ini. "Kalau kau melakukannya, bukankah itu sama saja membiarkan rencana si vampire busuk itu berjalan sempurna? Kau ingin menjadi bonekanya seumur hidupmu?!"
"Yuki, apa yang kau katakan?" tanya Ruki. "Menyukseskan rencana Karl Heinz-sama adalah tujuan kita diberi kesempatan kedua untuk hidup. Apa kau sudah lupa?!"
Yuki mencengkram kuat ujung sweater hitamnya. Untuk saat ini, biarkan ia memberontak agar mimpi buruk ini berakhir. Sudah cukup dengan mimpi buruk yang dihasilkan oleh keegoisan seorang Karl Heinz. "Aku tahu, kau membencinya dan ingin membunuhnya. Aku pun sama denganmu," lanjutnya mengabaikan protesan Ruki. "Tapi, itu hanya akan membuktikan bahwa ucapannya be-!."
Ucapan Yuki terputus yang disambung kembali dengan suara dentuman keras. Tubuh Yuki terpental ke belakang dan menciptakan retakan besar di dinding. Nampak belum selesai, ia bisa merasakan tangan dan kaki kanannya yang seperti diremukan oleh sesuatu. Teriakan penuh kesakitan keluar dari mulutnya, mengundang rasa horror diwajah semua orang, termasuk dari Azusa yang paling menyukai rasa sakit sekalipun berubah semakin pucat.
"Kuberitahu kalian satu hal," ucap Karl Heinz dingin. "Aku bisa dengan mudah melenyapkan satu nyawa dengan satu sentilan. Tak peduli dia putri kesayanganku atau bukan, orang yang menghalangi jalan menuju impianku akan kumusnahkan."
"Itu pun berlaku kepadamu juga, Adam. Jika kau ingin melindungi apa yang harus kau lindungi, bunuh aku!" lanjut sang penguasa Dunia Bawah.
Meskipun tidak separah Yuki, Mukami bersaudara serta Subaru terlempar keluar, meninggalkan Ayato dan Yui didalam ruangan bersama Karl Heinz. Yuuma segera menghampiri Yuki dan memeriksa kondisi adiknya. Memang jika dilihat dari luar, luka yang didapatkan Yuki tak begitu parah. Namun, melihat kaki dan tangan kanannya yang terkulai tak berdaya membuktikan bahwa luka tersebut cukup parah. Ia berani bersumpah melihat air mata keluar dari sudut mata adik perempuannya.
"Oi, kau baik – baik saja?!" tanya Subaru sedikit panik begitu mengetahui kondisi Yuki.
Yuki tak menanggapi dan justru berusaha bangun, memeroleh protesan dari kedua cowok didepannya. Ia mencoba melangkahkan kakinya yang berujung pada kegagalan. Dirinya hampir saja jatuh jika Subaru tidak cekatan menahan tubuh gadis itu. "Oi, apa yang kau lakukan, hah?!"
"Meng... hentikan... Ayato-kun..." jawab Yuki sedikit terengah.
"Dengan tubuhmu yang terluka seperti itu bagaimana caranya, bodoh?!"
Yuki kembali diam. Ia berusaha lepas dari cengkaraman Subaru, namun tetap gagal mengingat kekuatan cowok itu cukup kuat. Iris birunya mendelik tajam pada sosok Ruki yang berdiri didepannya, menghalangi Yuki untuk melangkah jauh. "Minggir, Ruki nii," titahnya dingin, tak peduli jika cowok didepannya adalah orang yang paling ia hormati.
"Harusnya kau tahu, kalau kau tak bisa berbuat apa – apa untuk menghentikan rencana Karl Heinz-sama. Berjalan saja sudah kepayahan seperti itu," tukas Ruki tajam. "Lagipula, apa kau lupa tujuan awal kita berada disini?"
Demi Medusa dan ular – ular imutnya, apakah kakaknya itu memang bodoh ataukah ia dibutakan oleh kesetiaannya terhadap Karl Heinz. Ingin sekali ia menampar wajah tampan Ruki untuk membangunkannya dari mimpi indahnya. Ia menggeram. Rasa sakit di kaki dan tangannya hilang begitu saja digantikan dengan amarah kepada kesetiaan yang dimiliki kakaknya. Hal yang sebenarnya begitu ia puja dari seorang Mukami Ruki.
"Apa Ruki nii menerimanya begitu saja? Setelah mendengar semua alasan dibalik rencana indah Karl Heinz?" ketus Yuki, menekankan kata indah dengan sarkastik.
"Ya, aku tak keberatan sama sekali," tandas Ruki. "Asalkan tujuan Karl Heinz-sama tercapai, aku tak peduli pada apapun."
Cukup sudah! Batin Yuki. "Ruki nii! Dia hanya memanfaatkanmu, memanfaatkan kita semua semata untuk menyukseskan rencana gilanya itu!" semburnya frustasi. Astaga, jika saja tubuhnya tidak ditahan oleh Subaru, mungkin ia sudah menerjang dan memukul barang satu atau dua kali di wajah kakaknya. Ide gila itu begitu memikat hingga ia pun berusaha memberontak dari Subaru, walaupun tetap tak berhasil. "Aku tahu kalian menghormatinya! Aku pun berterima kasih padanya karena mau menolongku saat putus asa kehilangan kalian. Tapi... tapi..."
Yuki berhasil lepas dari Subaru dan dengan susah payah berjalan kearah Ruki. Tamparan lemah mendarat di pipi Ruki, mengingat tangan kanan yang selalu ia pakai terluka parah. Ia menarik kaus hitam Ruki, mencengkramnya kuat hingga buku jarinya memutih. "Setelah mendengar semua kebenaran itu, apa orang itu masih layak untuk dihormati, hah?! Buka matamu, Ruki nii!" racaunya.
"Yu-chan..."
"Kalau Ruki nii tetap mendukung rencana vampire sialan itu, apa itu artinya Ruki nii rela mati ditangannya?" ancam Yuki.
"O-oi, apa maksudmu, Yuki?" tanya Yuuma.
"Demi menciptakan ras baru hanya dibutuhkan Adam dan Eve. Dengan kata lain, hanya Sakamaki Ayato dan kachiku saja," jawab Ruki menghela nafas. "Berarti, makhluk lain selain mereka berdua sama sekali tidak diperlukan untuk mencapai dunia impian Karl Heinz-sama."
"Artinya... jika Ayato berhasil menang melawan kuso oyaji..." sahut Subaru.
"Kita semua akan mati dibunuh?!" lanjut Kou.
"Mati..." ucap Azusa pelan.
Tepat ketika sebuah kebenaran lain terungkap, suara ledakan terdengar dari dalam bersama dengan tanah yang ikut bergetar. Tak berhenti sampai disitu, istana Karl Heinz mulai mengeluarkan api yang berkobar panas bagaikan api neraka. Anehnya lagi, api itu berjalar keluar dan melahap apa yang saja disentuh. Pohon, tanah, hewan, apapun. Yuki mulai panik karena itu artinya pertarungan Ayato dengan Karl Heinz akan segera berakhir dengan kekalahan Karl Heinz. Ia harus menghentikannya sebelum Ayato benar – benar membunuh vampire sialan itu. Ia tak sudi membiarkan rencana gila Karl Heinz tercapai. Mati terdengar menggiurkan saat ini jika rencana itu sungguh terlaksana. Namun, itu artinya ia masih bergerak sesuai dengan prediksi Karl Heinz tanpa adanya perlawanan. Ia tak sudi menerimanya.
Terima kasih kepada luka yang dibuat oleh Karl Heinz, ia jadi tak sanggup berjalan lebih jauh. Dirinya bahkan harus menerima sebuah pukulan telak diperutnya, membuat kesadarannya menghilang. Yuki hanya berharap, jika ia memang harus mati saat ini, setidaknya biarkan ia bertemu dengan saudaranya lagi di kehidupan selanjutnya. Masih ada banyak hal yang ingin ia lakukan, termasuk menggoda kakaknya yang patah hati akibat cintanya tak terbalaskan. Ia juga masih memiliki janji tersendiri dengan Yuuma yang sampai saat ini belum bisa dilaksanakan.
Oh iya, jika di kehidupan selanjutnya aku bertemu dan menyukai cowok itu lagi, akan kunyatakan perasaanku padanya, batin Yuki.
xxx
"Yuki!" seru Yuuma. Ia menarik kerah kaus Ruki, tak terima karena telah memukul Yuki dan membuatnya tak sadarkan diri. "Apa maksudmu melakukan itu, hah?!"
Ruki menepis pelan tangan Yuuma. "Akan lebih baik kubuat dia pingsan jika ingin kabur dari tempat ini."
"Maksudnya?" tanya Kou bingung.
"Tak ada waktu lagi. Yuuma bawa Yuki. Kita kabur dari sini jika masih ingin hidup," perintah Ruki. Ia kemudian menoleh pada Subaru yang menatap pintu ganda besar didepannya, perlahan mulai terbakar oleh api. "Apa kau akan berada disini menunggu mereka, Sakamaki Subaru?"
"Tidak. Ayato pasti bisa menjaga Yui," jawab Subaru. Ruki mengangguk pelan. Mereka berenam, dengan Yuki dalam bopongan Yuuma, berlari dan menghindari api yang berkobar tanpa ampun. Meski samar dan terdengar sangat jauh, mereka masih bisa mendengar suara jeritan kesakitan dan teriakan minta tolong dari orang – orang yang terjebak didalam api. Neraka. Dunia Bawah, tempat tinggal dan dunia kelahiran makhluk bernama vampire menjadi neraka yang dibuat oleh penguasa mereka sendiri. Obsesi Karl Heinz terhadap ras baru impiannya membuat Dunia Bawah yang telah ia pimpin ribuan tahun lalu terbakar oleh api neraka. Anehnya lagi, api tersebut seolah hidup dan siap membakar siapa saja yang masih hidup. Meskipun mereka berlima sudah menggunakan kekuatannya untuk menghindar, tetap saja cukup sulit. Ditambah dengan jarak istana Karl Heinz dan pintu menuju Dunia Manusia lumayan jauh, semakin membuat mereka kewalahan.
Pelarian yang terasa seperti bertahun – tahun itu akhirnya berakhir. Mereka berlima selamat dari kobaran api neraka, mengabaikan pakaian yang hangus terbakar dan untunglah tidak sampai menimbulkan luka bakar. Subaru baru sadar jika dirinya tidak berada di ruang bawah tanah mansion Sakamaki. Ia menatap Yuki yang masih tak sadarkan diri dipelukan Yuuma, terlihat begitu damai.
"Yu-chan! Luka Yu-chan harus segera diobati!" seru Kou.
"Mau diobati bagaimana jika kita tidak tahu apa yang terluka, bodoh," sergah Yuuma.
"Kurasa Reiji bisa mengatasinya," sahut Subaru tiba – tiba, membuat Mukami bersaudara menoleh padanya seolah baru sadar jika cowok itu masih bersama mereka.
"Aku tak ingin membuat hutang kepada Sakamaki Reiji, tapi apa boleh buat," ucap Ruki.
Nampaknya, kehadiran mereka seperti ditunggu oleh Sakamaki bersaudara, terlebih Reiji yang terlihat sekali meminta penjelasan secara detail. Beruntung cowok berkacamata tersebut tidak bertanya lebih lanjut dan menyanggupi permintaan Mukami bersaudara. Tak lama setelah Reiji memeriksa keadaan Yuki yang diketahui menderita patah tulang di kaki dan tangan kanannya, Ayato datang membawa Yui dalam keadaan tak sadarkan diri. Tubuh Ayato dipenuhi luka meski berangsur sembuh berkat kekuatannya, berbeda dengan Yui yang sama sekali tidak terluka karen cowok itu melindunginya. Reiji tak menyita banyak waktu lagi dan menuntut cowok bersurai merah itu untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Ayato melirik kearah Yuki yang terbaring di atas sofa panjang, sedikit merasa bersalah telah membuat gadis itu terluka hanya karena dirinya sempat ragu untuk melawan Karl Heinz. Ia menggelengkan kepalanya pelan, mengesampingkan hal itu dan merasa bodoh karena mengkhawatirkan gadis menyebalkan tersebut. "Kau pasti tahu kemana aku pergi membawa chichinashi," ucap Ayato. "Kami bertemu dengan kuso oyaji dan bertarung. Lalu, seperti yang kau dengar, Makai hancur dan kuso oyaji akhirnya mati."
Reiji mendengus, tak percaya dengan apa yang dikatakan Ayato. "Tidak mungkin. Ini ayahanda yang kita bicarakan," tukasnya. "Tak mungkin beliau mati dengan mudah."
"Tapi, kenyataannya dia mati," bantah Ayato.
"Jika kau berhasil menang melawan Karl Heinz-sama, itu artinya kau telah menjadi Adam seutuhnya," sahut Ruki tiba – tiba.
Alis Reiji berkerut. "Apa maksudmu dengan Adam?"
Ruki menatap Ayato, seolah meminta izin darinya untuk menjawab pertanyaan Reiji. Ayato hanya balas menatap dan mengedikkan bahunya, tak peduli. Ruki kemudian menceritakan semua kebenaran pahit yang disusun sempurna oleh ayah Sakamaki bersaudara. Begitu rinci dan tak melupakan satu pun, entah itu hal penting atau tidak. Tak ada yang menyela ucapan Ruki, reaksi yang cukup aneh mengingat bagaimana sifat Sakamaki bersaudara. Mereka menyimaknya dengan serius, seolah informasi yang disampaikan adalah surat wasiat seorang ayah kepada anaknya.
Setelah mendengar semua hal itu, tak ada satu pun yang berniat untuk membuka mulutnya. Reiji pun menelan dan memilah informasi tersebut dalam kepalanya, masih sedikit tak percaya. Ia yang selalu berada didepan dan mampu mengolah informasi terkini hingga memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, hanya bisa terdiam ditempat. Tak akan pernah ada yang menyangka obsesi seorang Karl Heinz telah membuat banyak jiwa terluka dan tersakiti. Yah, sejak awal memang tak pernah ada yang bisa mengerti jalan pikiran penguasa Dunia Bawah tersebut, bahkan Reiji maupun saudara – saudaranya.
"Lalu, sekarang bagaimana?" suara Shuu memecah keheningan. Ia melirik kearah Ayato yang perhatiannya masih tertuju pada Yui. "Jika kau telah menjadi Adam, seperti yang direncanakan orang tua itu, apa kau akan memulihkan Makai dan membuat keturunan ras baru apalah itu namanya?"
Ayato mendecakkan lidahnya. "Sejujurnya, aku tak peduli dengan Adam, Eve, ataupun rencana si kuso oyaji. Aku juga tak ada niatan untuk memulihkan Makai," tukasnya. "Ore-sama adalah ore-sama dan chichinashi adalah chichinashi. Itu sudah cukup."
"Itu baru namanya Ayato-kun yang kukenal," ucap Raito sedikit mengejek.
"Tapi, kita tidak bisa begitu saja membiarkan Makai dalam keadaan hancur," sergah Reiji. "Tempat tinggal vampire adalah Makai, bukan Dunia Manusia."
"Berisik! Aku juga tahu itu!" sembur Ayato kesal. "Bukan keinginanku mendapatkan kekuatan kuso oyaji!"
"Sekarang memang mustahil, kenapa tidak secara perlahan saja dilakukan?" saran Ruki. "Aku yakin, kekuatan Karl Heinz-sama begitu dahsyat hingga bisa menghancurkan Dunia Bawah dengan mudah. Pastinya akan sulit untuk mengendalikannya, kan?"
Reiji mengamit dagunya. "Kau benar. Setidaknya, kita masih bisa membangun ulang Dunia Bawah."
"Tanpa membiarkannya dalam keadaan hancur," lanjut Shuu menarik kesimpulan.
Kanato menyeringai senang. "Membayangkan Ayato menjadi penguasa Dunia Bawah memang menyebalkan, tapi melihatnya menjalani latihan neraka dari Reiji pastinya akan menyenangkan."
"Ah, aku baru saja memikirkan hal yang sama," ucap Raito senang.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Subaru pada Mukami bersaudara.
Selain Ruki serta mengabaikan bahwa Yuki masih tak sadarkan diri, mereka hanya diam dan menunggu keputusan akhir dari si sulung. Di keluarga mereka yang memegang perintah mutlak adalah Ruki. Mereka bisa saja membantu Ayato untuk menjadi penguasa Dunia Bawah jika itu memang yang diperintahkan Ruki, meskipun akan meninggalkan rasa pahit dimulut mereka. Atau membubarkan dan menyuruh mereka untuk hidup sendiri yang mana sangat mustahil, mengingat sudah cukup lama mereka hidup bersama.
Ruki menghela nafas panjang dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada. "Pertanyaan bodoh, Sakamaki Subaru," dengusnya sedikit sombong yang dibalas dengan seruan tak terima dari si bungsu Sakamaki. "Tentu saja kami berlima akan hidup di Dunia Manusia, sebagai keluarga."
Kou berteriak girang sementara Yuuma menghela nafas dalam diam, merasa semua beban dipundaknya telah diangkat. Azusa tersenyum pelan sembari menguatkan genggamannya pada tangan Yuki. "Yokatta ne... Yu-chan..." bisiknya.
"Setidaknya, aku berharap hal ini bisa kulakukan sebagai penebusan dosaku terhadapnya," lanjut Ruki berbisik dengan suara pelan.
Sou desu nee : Benar juga ya
Makai : Dunia Bawah
kuso oyaji : bapak tua sialan
Author : #ketawa terus bersin.
Yuki : #nyerahin tisu. Aduh makanya jangan sering bikin orang lain jantungan Author-san. Liat sendiri akibatnya.
Author : Gomen gomen. Habis, judul kali ini pas banget buat chapter ini. Bener – bener the end loh. Karl Heinz mati, Makai hancur, dan pemain cast EN masih hidup sehat walafiat. Yah, belom akhir juga sih. Author masih punya tanggungan moment kamu dan Subaru, terus happy moment-mu dan Mukami bersaudara. Yah, walaupun kita tidak tahu apakah akan menjadi happy ending atau tidak #ketawa evil.
Yuki : Aduh mulai kambuh lagi dah. Padahal lagi sakit loh, Author didepanku ini.
Author : Lalu, Author juga ingin meminta maaf lagi karena tidak menyantumkan scene pertarungan Ayato dan Karl Heinz. Jujur, Author paling nggak bisa nulis scene begitu. Udah nyoba bikin, malah ditolak mentah – mentah ama partner Author. Katanya ini lah itu lah dan bla bla bla~ Akhirnya, Author singkirkan dan lebih memfokuskan interaksi Yuki-chan dkk.
Yuki : Tapi, aku seneng! Hebat loh, walopun nggak seberapa tapi bisa nampar Ruki nii! Itu hebat, kan?! Kalo nggak ada scene itu, sampe kapanpun nggak akan pernah berani aku ngelakuinnya.
Author : Jangan salahkan Author kalo abis ini kamu dihukum ama Ruki. Baiklah. Author rasa cukup sampai sini aja Author Note-nya. Kalo kepanjangan malah bikin kesel sendiri nantinya. Author akan usahakan update cepat chapter berikutnya. Pastinya setelah sakit ini hilang dan tenaga Author kembali lagi.
Yuki : Obat ampuhnya tentu saja review dari minna. Ditungguh loh kesan, pesan, saran, kritik, dll, dikotak review.
Author/Yuki : Akhir kata, bye bye
