"Seekor tikus yang mengerat ekor seekor kucing selalu mengundang kehancuran."
FINAL FANTASY VERSUS
BUKU DUA
KEHANCURAN
026
NYX
20.08.756 M.E. | 04.55 PM
"Seluruh regu bergerak menuju dinding. Kalau sampai dinding ditembus, tamatlah kita."
Pengumuman dari Luche yang disampaikan melalui transceiver secara akurat menggambarkan kondisi pertempuran sengit yang terjadi di Cavaugh Bridge. Matahari mulai terbenam karena warna langit berangsur menguning. Debu bercampur pasir padat bertiup kencang ke timur, mengikuti laju antek-antek Niflheim yang berhasil menerobos pertahanan ganda Kingsglaive di jembatan batu itu. Kau bisa mengartikan tamat sebagai kematian para Glaive atau kehancuran dinding. Tidak perlu pusing karena keduanya sama-sama berakibat buruk bagi Insomnia. Dan sebagai seorang Glaive andalan Raja Regis, Nyx tidak dapat membiarkan hal itu terjadi.
Giliran kerja kedua dimulai dari tengah hari sampai larut malam. Dibandingkan dengan giliran pagi, bertempur di Tembok ketika matahari kembali ke liangnya jauh lebih berbahaya karena Niflheim bisa mulai memanfaatkan keliaran daemon untuk menumbangkan Kingsglaive. Daemon tak bisa muncul di pagi sampai sore karena tubuh mereka tidak mampu menahan terpaaan mentari.
Menggunakan sihir pengurai tubuh menjadi transparan, Nyx menyergap setiap lawan tepat ke titik letal mereka, yaitu leher. Mengoptimalkan setiap energi adalah kunci bertahan hidup. Sebisa mungkin Nyx berusaha membunuh lawan dalam sekali serang. Itulah yang dia lakukan di daratan seberang jembatan bersama para rekannya di Regu A sejak tadi pagi.
Daratan seberang tersebut berjarak sekitar dua puluh meter dari kastil yang memanjang di pertengahan Cavaugh Bridge. Konon katanya, ratusan tahun silam, lokasi ini penuh oleh kehidupan. Para Lucian di Cavaugh mendirikan rumah yang dikelilingi oleh hutan tropis dan air sungai yang bersih. Tapi perang melawan Niflheim memaksa mereka meninggalkan area ini dan berlindung ke balik Tembok. Dipandu oleh Raja Mors, mereka membangun kembali peradaban yang terisolir dari wilayah Lucis lainnya, dan orang-orang mengenalnya sebagai Kota Insomnia.
Nyx meratapi kehancuran total kehidupan di Cavaugh. Sepanjang mata memandang, dia hanya menemukan reruntuhan rumah bergaya medieval. Tidak ada satu pun yang masih utuh. Semuanya berupa dinding yang berdiri sendiri-sendiri. Lubang-lubang menganga menjadi satu-satunya penghias deretan dinding itu. Bongkahan batu bata berserakan di lantai rumah yang tertutup oleh pasir. Kalau pondasi rumah saja sudah hancur tak berbentuk, jangan berharap ada perabotan yang tersisa. Semuanya telah hancur dan menyatu kembali bersama alam, menjadi seonggok pasir yang tidak bernilai.
Tidak membiarkan ratapan masa lalu menyita perhatiannya terlalu lama, dia melangkah hati-hati, berpindah dari satu dinding ke dinding lain sambil mengamati pergerakan musuh di dekatnya. Ada empat Imperial Rifleman yang berada di lingkup serangannya. Para tentara itu mengangkat senapan dan menembak secara membabi-buta ke udara kosong. Mereka tampak tidak peduli akan pemborosan peluru. Dari pengalaman pertama ketika bertarung di Tembok, Nyx tahu bahwa terdapat kemungkinan ada manusia di balik armor logam tentara Niflheim berjenis IT atau Imperial Troopers. Sedangkan bisa dipastikan semua MT alias Magitek Troopers adalah robot, dilihat dari mata mereka yang mengilat merah seperti darah dan pergerakan mereka yang selalu sama hingga mudah ditebak jika dia berurusan terus-menerus dengan mereka.
Ketika satu IT melintas di hadapannya, Nyx menyabet kukri ke leher lawan. Kukri beradu dengan armor yang sama-sama terbuat dari logam, menimbulkan suara gesekan melengking yang tidak sedap didengar. Setiap kali Nyx menyerang, tubuhnya otomatis akan memadat. Dan di saat itu pula, didorong oleh naluri membunuh, tiga IT lain mengarahkan pistol ke arah Nyx.
Secepat cahaya, Nyx menusukkan kukri ke leher satu IT lainnya. Percikan listrik kebiruan dari luka di leher membuat IT bergetar tidak karuan seperti mengalami korsleting. Oh, jadi kali ini lawanku adalah robot. Baguslah, aku tidak perlu segan-segan menghancurkan mereka, batin Nyx. Robot itu berhenti bergerak, senapan luput dari tangan, dan terjerembab ke tanah. Listrik adalah kelemahan IT, jadi sihir Thunder efektif untuk membunuh mereka. Nyx menyemburkan petir pada satu IT lain di depannya. IT itu terhempas beberapa senti ke belakang, menggeliat-geliat selama tiga detik sebelum mati total.
Sebuah peluru hampir menembus helm Nyx. Dalam gerakan seolah diperlambat, Nyx memutar badan dan membentuk bola magis, menangkis serangan mematikan itu. Serpihan-serpihan kaca dinding pelindung bergemericing, mengiringi tubrukan rentetan peluru padanya. Nyx melempar kukri ke dahi musuh. Dalam sekejap dia berteleportasi ke titik kukri tertancap dan melancarkan serangan pamungkas.
"Kenapa lama sekali, Crowe?" Nyx mendengar suara Libertus. Nyaring dan berintonasi mendesak.
"Crowe, status," Luche menimpali, intonasi suaranya jauh lebih tenang dari Libertus.
"Sebentar lagi," rintih Crowe.
Tidak lama kemudian, Nyx melihat pusaran awan hitam pekat memenuhi satu titik di langit. Pusaran itu bergulung diiringi bunyi gemuruh seakan ada bom nuklir yang meledak di dalamnya. Sang mage membentuk tornado untuk menyapu bersih serbuan Niflheim yang kian mendekat ke kastil. Dampak sihir itu masif, tapi sayangnya membutuhkan waktu merapal mantera yang cukup lama.
Segerombol mesin MA-X meluncurkan misil menghujani enceinte kastil. Regu A tidak bisa menghalau serangan jarak jauh itu. Menghancurkan MA-X bukan perkara mudah di kala MT menyibukkan para Glaive.
"Aku butuh bantuanmu, Pelna. Enceinte timur akan runtuh," kata Luche. Tanpa membuang waktu banyak, Nyx memutuskan mundur ke enceinte dan membantu Regu B mengikuti permohonan tersebut.
Pelna segera membalas. Napasnya tersengal-sengal, menandakan bahwa dia sedang berlari. "Lucis tidak cukup memberi kita kekuatan untuk serangan ini!"
Nyx melewati jarak dua puluh meter di antara tempatnya berpijak dan enceinte menggunakan teleportasi sebanyak tiga kali. Perpindahan instannya hampir tersusul oleh seekor Behemoth yang sedang berlari searah Nyx. Sang monster buas itu bisa diibaratkan sebagai anjing versi mimpi buruk. Dia menjulang tiga meter di atas permukaan. Sekujur tubuhnya berupa otot menyembul. Kuku panjang dan runcing tumbuh di keempat kakinya, siap merobek apapun yang menghalangi jalannya. Mulutnya menganga, menampilkan deretan gigi setajam kukri dalam genggaman Nyx. Di salah satu tanduk si monster terpasang mesin kecil berlogo khas Niflheim, memanjang melalui kabel yang menusuk ke saraf otaknya. Semua orang dapat menebak bahwa Niflheim mengendalikan Behemoth menggunakan mesin itu.
Behemoth mengaum. Dia berderap semakin kencang menuju Pelna dan seorang Glaive yang tersungkur di tanah. Tampaknya Pelna baru saja melakukan aksi heroik karena dia mendekap Glaive itu dan ada sisa pecahan dinding magis pelindung mengitari mereka berdua. Menyadari dirinya terhimpit oleh kedatangan Behemoth, mata Pelna mengerjap, tangannya merangkak ke belakang dan dia berseru, "Mana bisa ini dibilang sepadan?"
Nyx bertindak cekatan sebelum Behemoth menelan dua rekannya itu. Dia melempar Wolverine—sebutan khusus untuk sepasang kukri miliknya—pada Behemoth, berteleportasi sambil menyayat leher sang monster seakan-akan membelah agar-agar yang kenyal. Luka di leher selalu mujarab membuat lawanmu tidak berkutik. Darah memuncrat dari sayatan lebar itu, membuat Behemoth terjerembab kasar ke tanah. Sang monster berguncang dan berdesis, menggerapai-gerapai kedua kaki depannya dalam usaha menghentikan pendarahan di lehernya. Tak lama kemudian, anjing neraka itu mati.
Nyx membuka helm. Dia tersenyum puas melihat bangkai Behemoth. Pikiran aneh melintas di benaknya. Kalau saja dia tidak sedang berperang, dia bisa mengadakan pesta barbekyu daging Behemoth sebagai menu utama. Sayangnya dia tidak punya banyak waktu untuk merayakan hasil prakaryanya.
Pelna buru-buru berdiri dan berkata, "Nyx, aku berhutang padamu. Lagi." Dia menarik jubah seorang Glaive di dekatnya, menyeretnya ke balik bongkahan batu untuk bersembunyi.
"Kau dan semuanya!" seru Nyx penuh kebanggaan. Dia turut bersembunyi di balik dinding di seberang Pelna. Membiarkan diri terekspos di hadapan lawan adalah perbuatan terbodoh yang patut dihindari siapapun di medan perang.
"Kita perlu memberi bantuan ke sisi timur. Nyx, di mana kau?" tanya Luche.
"Dalam perjalanan," jawab Nyx. Dia menoleh kepada temannya. "Pelna, mundur dan bergabung dengan yang lain!"
"Berhati-hatilah dengan sihir, pahlawan. Keluargamu menantimu di rumah," ujar Pelna.
Nyx memahami bahwa keluarga yang dimaksud Pelna tidak lain adalah para rekan sesama Glaive. Khususnya para sahabatnya: Libertus, Crowe, Luche, dan Pelna sendiri. Setiap kali bertempur, dia bersumpah akan pulang dalam keadaan hidup untuk sekedar berkumpul kembali bersama mereka. Tentu saja mereka juga harus selamat seperti Nyx. Salah satu cara bagi Nyx demi menggapai tujuan itu adalah terus berusaha menyelamatkan nyawa mereka apapun risiko yang harus dihadapinya. Dia tertawa terkekeh. "Aku memang pantas dinanti." Dengan satu lemparan kukri di tangan kanan, dia meninggalkan Pelna dan segera pergi ke lokasi yang dipinta Luche.
Dalam perjalanan, Nyx membunuh sekumpulan Stileonachda. Nyx malas menghitung, dia sudah terlalu sering menghadapi monster laba-laba menjijikkan itu. Semakin cepat monster itu menghilang dari pandangannya, semakin baik. Memandang bulu-bulu di kaki sang monster hanya membuat kulit Nyx gatal-gatal.
"Hati-hati, Libertus. Musuh makin banyak berdatangan." Nyx mendengar suara Luche lagi. Lokasi Luche dan Libertus pasti berdekatan karena Luche bisa mengomentari tindak-tanduk sahabatnya itu. Bagus. Ini akan memudahkan dirinya untuk melindungi Libertus alih-alih sahabatnya itu tersudut oleh Niflheim atau tertimpa kesialan lain.
"Kita tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi!" seru Libertus. "Crowe, cepatlah!"
Formasi Regu A dan B memang sudah tidak terorganisir lagi. Bahkan Nyx tidak bisa membedakan apakah para Glaive yang dilewatinya sepanjang jalan tergolong Regu A atau B. Biasanya Regu A berurusan dengan Imperial Rifleman dan MA-X, sedangkan Regu B berhadapan dengan Stileonachda dan terkadang Behemoth. Tapi sekarang semua antek Niflheim telah membaur menjadi satu di dekat einceinte. Memperburuk kondisi, beberapa Stileonachda lolos dari barikade Regu B, terbang cepat seperti nyamuk menuju keep, tempat Crowe berdiri.
Nyx ingin mengomentari Libertus bahwa mendesak Crowe tidak ada gunanya. Kebutuhan waktu merapal mantera sifatnya tetap. Sesuai pengakuan Crowe, dia memerlukan sekitar lima belas menit sampai tornado terbentuk sempurna. Sihir tornado berlangsung selama sepuluh menit. Setelah berakhir, ada penangguhan selama lima menit sebelum dia merapal mantera susulan. Memang tidak praktis, namun satu serangan Crowe setara dengan, katakanlah, kombinasi dua puluh personil Glaive. Kekisruhan ini membuat para Glaive menaruh harapan besar pada Crowe. Wanita itu bisa membuat keadaan mereda. Berselang tiga menit, Crowe akhirnya membalas, "Sudah siap!"
Tornado berselimutkan lidah api berputar-putar di tengah jembatan. Petir membahana di sekitar tornado seolah menunjukkan betapa dahsyatnya sihir sang mage itu. Temperatur meningkat drastis hingga membuat Nyx seketika banjir oleh peluh. Ratusan Stileonachda tertarik ke dalam tornado. Mereka mencicit ketika berusaha melawan tiupan angin kencang. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan terbang mereka malah menjadi senjata makan tuan. Sayap mereka mengepak-ngepak tiada henti. Tubuh mereka hangus terbakar menjadi abu, tertelan dalam lidah api membara. Tak cuma Stileonachda, sekumpulan Behemoth, para Imperial Trooper dan MA-X ikut berputar-putar di udara. Mereka bercampur menjadi satu olahan dalam pengaduk gigantis di jembatan tersebut.
"Seluruh Glaive, mundur. Kuulangi, seluruh Glaive mundur!" perintah Luche.
Sayangnya instruksi itu datang terlambat. Beberapa Glaive yang berada terlalu dekat dengan tornado turut terhisap ke dalam pusaran angin itu. Mereka melempar kukri untuk menghindari maut, tapi usaha mereka sia-sia. Daya teleportasi terlalu lemah jika dibandingkan dengan kekuatan tornado .
Nyx segera berlari ke balik reruntuhan dinding yang sekiranya kuat menahan arus tornado. Dia sabar menunggu sampai efek tornado berhenti. Sambil menunggu, Nyx mengintip ke belakang. Dia melihat pasukan Niflheim bergerak mundur serentak. Tidak biasanya mereka mundur di saat kemenangan hampir mereka raih. Mungkin mereka menghindari tornado, tapi Nyx merasakan ada maksud lain di balik itu. Dan ketika matahari terbenam sepenuhnya, firasat buruk Nyx menjadi kenyataan.
Dia mendengar suara lolongan panjang di kejauhan, mengalahkan debuman tornado Crowe. Lolongan itu buas, mengerikan dan sarat akan amarah. Sesosok daemon raksasa ditarik paksa oleh rantai-rantai yang terikat pada selusin kapal udara Niflheim. Asap tebal dari tornado membungkus sekujur tubuh daemon itu. Tapi dari siluet yang tampak, daemon itu berpostur humanoid. Ada kepala, sepasang tangan dan kaki. Sepasang mata dan jantungnya yang bundar merah mengilat. Tingginya berkisar antara dua puluh hingga tiga puluh meter. Enceinte kastil tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan daemon itu.
Sang daemon melepas paksa jeratan rantai, membuat kapal-kapal udara kehilangan keseimbangan. Kapal udara terjatuh ke permukaan, menimpa para MT maupun IT dan meledak berkeping-keping. Dengan satu tebasan tangan berat, dia menghempas para Stileonachda yang lalu-lalang di jalannya. Setiap langkah membuat tanah bergetar seperti gempa bumi. Tidak jarang dia menginjak Behemoth yang sedang berusaha kabur. Dari observasi singkatnya, Nyx menyimpulkan bahwa daemon itu tidak mengenal kawan dan lawan.
Apakah kesabaran Niff telah habis sampai mereka akhirnya melepaskan superweapon? Apakah ini alasan Niff mengulur-ulur waktu untuk meluluhlantakkan Tembok karena mereka sibuk mengembangbiakkan daemon superweapon ini? Nyx bertanya-tanya akan berbagai kemungkinan dalam benaknya.
Kehadiran sang daemon melenyapkan tornado seakan dia menghisap sihir itu ke dalam jantungnya. Nyx mengerlingkan pandangan ke arah enceinte. Dia melihat para Glaive tercengang. Beberapa tidak sengaja menjatuhkan kukri. Beberapa lainnya membuka helm untuk mengamati lebih jelas sosok daemon itu. Nyx dapat merasakan semangat tempur mereka sirna, digantikan oleh kecemasan bukan kepalang karena dia tidak mendengar satu patah kata terlontar melalui transceiver. Dia menyipitkan mata untuk melihat lebih jauh ke arah keep. Crowe menurunkan kedua tangan, tubuhnya merosot mengikuti lutut yang terpaku di sana.
Nyx mengembalikan perhatian pada sang daemon. Kedua bahu daemon itu membuka seperti sepasang rahang ikan paus. Terdapat bola-bola api di balik rahang sang daemon. Dia menembakkan ratusan bola api ke langit hingga tampak bagaikan hujan meteor. Jembatan berguncang dan mulai runtuh terkena meteor-meteor itu. Beberapa meteor menimpa bongkahan batu besar yang melengkung di atas jembatan. Bongkahan-bongkahan seukuran rumah jatuh ke Cavaugh Bridge. Nyx beserta para Glaive melejit waspada dan buru-buru mundur. Beberapa terjatuh. Dalam hitungan detik, jurang sebesar lima belas meter terbuka di antara kastil dan daratan seberang.
"Kita takkan bisa mengalahkan daemon itu. Aku perintahkan semua regu untuk mundur ke titik penjemputan. Kembalilah hidup-hidup. Itu perintah," kata Kapten Drautos. "Demi rumah dan tanah air!"
Beberapa bongkahan batu saling bertabrakan, terpental melewati jurang, dan siap menghantam siapa saja yang ada di bawah. Kematian sedang mengejar para Glaive tanpa ampun. Ada tiga cara bagi mereka untuk mati di momen ini: diinjak oleh daemon raksasa itu, jatuh ke jurang sedalam puluhan meter, atau tertimpa bongkahan batu besar dari langit.
Dari sekian banyak Glaive, Libertus mendapatkan jackpot. Dalam larinya, Nyx mendengar suara sahabatnya berteriak meminta tolong. Dia langsung menghentikan langkah. Pandangannya mencari-cari lurus ke belakang. Dia menemukan Libertus tersungkur di tanah. Kakinya terjepit bongkahan batu besar. Dan beberapa meter di depan Libertus, ada seekor daemon berspesies Cerberus menghampirinya. Cerberus berbentuk seperti anjing berkepala tiga dengan ukuran dan anatomi tubuh menyerupai Behemoth. Tidak aneh melihat daemon mulai berseliweran mengingat tak ada cahaya matahari yang tersisa di medan tempur itu.
Tidak ada satu pun Glaive di dekat Libertus yang berniat menolong. Mereka terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri. Hujan meteor masih berlangsung. Api berkobar di jembatan. Nyx membayangkan kemungkinan terburuk. Satu meteor bisa saja mengenai Libertus atau Cerberus membakar sahabatnya hingga gosong. Kalau itu terjadi, tidak ada harapan bagi temannya untuk selamat. Nyx harus secepatnya menolong Libertus.
Dia membalikkan badan, hendak melawan arus Glaive yang tengah menuju area pertemuan, tapi Luche yang berlari di dekatnya menarik seragamnya. "Nyx, kita harus segera keluar dari sini!" serunya, ludahnya hampir tersemprot ke wajah Nyx.
"Libertus membutuhkan pertolongan!" Nyx memberontak.
Luche tampak tidak peduli. Dia malah mengecam, "Kita sudah diperintahkan Kapten untuk kembali!"
Nyx pernah sekali melakukan pelanggaran dengan merusak formasi baku yang disusun Luche sang pemimpin. Kali itu, Kapten Drautos mengampuninya karena tindakan Nyx berhasil menurunkan tingkat kasualtis. Namun keberuntungan tidak datang dua kali. Jika Nyx melanggar lagi, Kapten memastikan bahwa Nyx akan dialihtugaskan ke gerbang kota.
Lalu Nyx membayangkan kebersamaan dia dengan Libertus dan Crowe. Mereka bertiga saling mengobrol, bercanda, mengejek, dan bermain bersama. Libertus dan Crowe adalah keluarganya yang berharga. Apalagi Crowe akan tersiksa apabila pria yang dicintainya diam-diam meninggalkan dia selamanya.
Tolong! Nyx mendengar suara Selena melintas begitu saja di benaknya. Dia termenung sesaat. Memori kematian ibunya dan Selena terekam jelas dan semakin jelas setiap kali dia menyaksikan rekan-rekannya berada di ambang kematian. Jenazah ibu yang terjepit di reruntuhan rumahnya begitu mirip dengan Libertus sekarang. Persetan dengan perintah. Persetan pula dengan hukuman. Dia tidak boleh mengulangi musibah yang sama terulang dua kali.
"Hei, Bung! Turuti perkataanku!" teriak Luche, berusaha menggoyahkan pendirian Nyx.
"Oh, si bodoh itu," gerutu Nyx. Dia tidak mau repot-repot merespon Luche. Dirinya sudah memutuskan sebelum kata-kata meluncur dari mulutnya. Apapun ancaman Luche tak akan membuat perbedaan. Nyx menepis tangan kiri Luche, membuat pria berdahi lebar itu tersentak. Secepatnya Nyx menerobos arus balik para Glaive. Sebilah kukri dilempar sejauh-jauhnya. Tubuhnya berteleportasi ke dekat Libertus dalam hitungan detik.
Cerberus meredam api di dalam tiga mulutnya. Kemunculan Nyx berhasil mengalihkan perhatian Cerberus dari Libertus.
"Hei, sebelah sini!" seru Nyx.
Cerberus berderap seperti banteng menuju Nyx seolah seragam yang dikenakan Nyx berwarna merah. Padahal kenyataannya seragam dia berwarna hitam pekat. Ketika tersisa beberapa senti di antara mulut Cerberus dan Nyx, dengan lihai dia berteleportasi ke atas leher tengah sang daemon. Kedua leher lainnya berupaya menggigit Nyx, tapi dari posisi buta ini, mereka kesulitan menggapai dia. Cerberus bergerak semakin liar, membuat Nyx terombang-ambing.
Nyx mencoba menikam leher yang ditungganginya, tapi si Cerberus mengibaskan ekornya. Dia terhempas beberapa meter ke sebuah batu solid, tubuhnya merosot cepat dari ketinggian. Di saat itu, Cerberus membuka rahangnya untuk meremukkan Nyx.
Menghindari serangan fatal itu, Nyx segera melempar kukri lurus ke atas. Kepala Cerberus menubruk batu, sedangkan Nyx meluncur di udara, di atas tiga kepala daemon itu. Cerberus mengaum marah, lalu tampak berniat menghembuskan napas api dari tiga mulutnya. Nyx mengikuti gerak refleks tubuhnya yang telah terlatih bertahun-tahun. Dia mengubah tubuh menjadi transparan. Sang daemon tampak kebingungan melacak keberadaan Nyx. Ketiga lehernya bergoyang ke sana kemari mencari mangsa.
Setelah mendarat aman di permukaan, dia melihat seekor Stileonachda merayap cepat menghampiri Libertus. Laba-laba itu melontarkan batu yang menghimpit kaki Libertus semudah melempar sehelai kertas. Libertus berguling-guling di udara beberapa detik, lalu punggungnya yang lebar mendarat duluan di permukaan.
Nyx melempar kukri pada Stileonachda itu. Setelah dia berteleportasi tepat ke bawah Stileonachda, dipotongnya tiga kaki kanan sang monster. Stileonachda itu mendesis kesakitan. Mulut bergeriginya ingin mencaplok wajah Nyx. Sekali lagi Nyx berpindah ke samping laba-laba itu. Percikan cahaya biru menyembur dari seragamnya. Telapak tangan kiri terangkat sejajar dengan bahunya, lalu dia menembakkan Thunder bervoltase tinggi. Asap mengepul dari sarung tangan hitamnya. Stileonachda menggeliat dan tidak lama kemudian dia pun mati.
Tanpa berpikir panjang, Nyx berlari menuju Libertus. Dia membalik tubuh Libertus yang terjengkang di tanah. Seragam temannya kotor ternodai debu, begitu pula dengan seluruh wajahnya yang hitam belepotan.
"Wow, wow, wow. Aku bisa muntah kalau pakai gerakan itu," kata Libertus. Nyx membantu Libertus bangkit, tapi temannya itu mengerang kesakitan, "Aku nggak bisa menggerakkan kaki kiriku!"
Cerberus mengaum di hadapan mereka berdua. Deretan kuku panjangnya menyala kemerahan seperti sepasang mata di kepalanya dan buih api di mulutnya. Timbul retakan di tanah antara Nyx dan Cerberus, semakin lama semakin lebar. Cerberus mengangkat kedua kaki depannya. Tanah berguncang tidak santai. Lagi-lagi Libertus terlempar ke langit. Menyadari bahwa titik bertumpu Cerberus tidak lama lagi akan runtuh, Nyx cepat-cepat melempar kukri untuk menangkap Libertus. Mereka berdua terhempas ke daratan kokoh, sedangkan Cerberus termakan kecerobohannya sendiri, jatuh ke jurang yang dalam.
Diseretnya Libertus ke dinding reruntuhan rumah terdekat. Terdengar lolongan buas dan suara langkah berat di dekat mereka. Nyx mendongak, memandang sang daemon raksasa yang terus melangkah menuju keep kastil. Dari jarak dekat, Nyx bisa melihat jelas sosok daemon itu. Tubuhnya tidak proporsional: kepalanya kecil, tapi bagian tubuh sisanya besar sekali. Menyebut sang daemon sebagai Diamond Weapon sepertinya akurat karena armor tebal yang tampak terbuat dari intan keabuan menjadi bagian tubuhnya yang tidak terpisahkan. Senjata sembarangan tidak akan mampu menembus pertahanan daemon itu.
Diamond Weapon sepertinya tidak menyadari keberadaan mereka, jadi Nyx membopong Libertus ke titik pertemuan Kingsglaive. Libertus tidak bisa berhenti meringis saat kaki kirinya terseok-seok dengan permukaan berbatu.
"Tahan sebentar lagi, kawan. Aku akan mengeluarkanmu dari neraka ini," Nyx berjanji. Dengan itu, mereka terus berjalan sampai akhirnya tiba di titik pertemuan Kingsglaive.
Langit menggelap dan udara mendingin saat Nyx dan Libertus sampai di tujuan. Crowe berderap cepat mengunjungi mereka. Debu hitam mengotori wajahnya yang pucat pasi. Seragamnya sama dekilnya dengan Nyx dan Libertus.
"Syukurlah kalian selamat," gagap Crowe. Suaranya terdengar lemah seolah dia hampir tenggelam dalam keputusasaan.
"Jadi kau mengkhawatirkanku?" balas Libertus. Dia memaksakan tawa di balik rintihannya.
Crowe menendang satu kaki Libertus. "Tentu saja, bodoh. Aku lega kau nggak mati."
"Aduh, kakiku bisa potong!" teriak Libertus.
Mendengar itu, Crowe terkesiap dan memasang tampang menyesal. "Kau membutuhkan pengobatan," ujarnya. Dia mengangkat tangan, memanggil beberapa Glaive untuk membawakan tandu. Tidak lama kemudian, Libertus dipindahkan ke atas tandu. Dua orang Glaive membawa Libertus ke sebuah van.
"Sepertinya aku berhutang budi lagi padamu," kata Libertus pada Nyx.
"Nanti tagihannya menyusul," balas Nyx tersenyum. "Kau istirahat saja dulu, oke?"
Sang mage memegang erat satu tangan Libertus sampai tandu memasuki van. Kendaraan langsung melaju cepat meninggalkan Nyx dan Crowe. Crowe tidak mengerlingkan perhatian pada van sampai hilang sepenuhnya dari jarak pandangnya. Kedua tangannya terkatup seolah dia sedang mendoakan keselamatan Libertus.
"Aku percaya dia akan baik-baik saja," kata Nyx. "Dia bukan tipe orang yang mudah mati."
Di sebelah Nyx, lutut Crowe jadi lemas. Dia menangkap sebelum sang mage terjatuh. Crowe pasti sangat kelelahan telah mengeluarkan sihir tornado selama berjam-jam. Apalagi baru kali ini sihirnya tidak berkutik di hadapan Diamond Weapon. Namun jauh di atas semuanya, dia nyaris kehilangan Libertus.
"Terima kasih sudah menolong Libertus," kata Crowe lirih. Tubuh kecilnya bergetar kencang. Sebutir air mata mulai mengucur dari sudut matanya.
"Bukan apa-apa."
"Maaf. Lagi-lagi aku menangis di dekatmu."
"Habiskanlah tangisanmu agar kau merasa lebih baik." Kepala Crowe bersandar lemah di dada Nyx. Dipeluknya perempuan itu. Dia mengusap-usap bahu Crowe, berusaha menenangkan.
Semenjak pengakuan Crowe empat tahun yang lalu, Nyx semakin mengenal kepribadian asli perempuan itu. Di depan Libertus, Crowe selalu bertingkah bagaikan perempuan tangguh. Tapi di depan dirinya, ternyata Crowe adalah perempuan yang cukup rapuh. Mungkin Crowe tidak ingin mengecewakan Libertus yang telah membimbingnya menjadi petarung andal sehingga dia menutupi kelemahannya rapat-rapat. Tidak ada setetes pun tangisan yang pernah dia tunjukkan pada Libertus. Namun, Crowe beberapa kali menangis ketika dia membicarakan isi hatinya pada Nyx. Bukan berarti Crowe cengeng. Sebaliknya, Nyx memuji ketegaran perempuan itu. Dia tidak keberatan menjadi pelipur lara Crowe sepanjang dirinya berguna bagi temannya itu.
Mereka berjalan berdua menuju barisan para Glaive mengikuti panggilan Kapten Drautos. Para Glaive memancarkan aura kekalahan. Baru kali ini mereka terpaksa mundur dari medan perang. Kemunduran itu menimbulkan pertanyaan yang meresahkan. Apakah kekuatan sihir yang dipinjamkan Raja Regis pada mereka semakin melemah? Berapa lama lagi mereka bisa mempertahankan Tembok di kala Niff semakin agresif di setiap tambahan waktu?
Kapten berdiri tegap di depan barisan. Dia tampak kecewa dengan hasil pertempuran malam ini, tapi tak dapat dipungkiri dia juga memedulikan nyawa para bawahannya. Dia sendiri yang memerintahkan para Glaive mundur dan kembali hidup-hidup. "Luche, laporan," pinta Kapten.
Luche memberikan teropong genggam pada Kapten. Dia berkata, "Pasukan Niff terlihat… mundur, Sir."
Nyx menoleh ke arah jembatan. Kastil tidak berbekas lagi karena jatuh ke lubang besar yang menganga di antara dua daratan. Kapal-kapal udara Niflheim terbang jauh meninggalkan area tersebut. Diamond Weapon diseret paksa oleh kapal-kapal menggunakan rantai. Suasana di sana hening, tidak ada ledakan, tembakan, dan bunyi-bunyi bising lain yang biasa Nyx dengar.
"Bukankah ini aneh?" tanya Kapten pada diri sendiri. Matanya masih tersembunyi di balik teropong. "Mereka jelas mengungguli kita, tapi mereka melakukan gencatan senjata."
Sang Kapten benar. Dengan superweapon secanggih Diamond Weapon, Niflheim bisa menebang habis barikade Kingsglaive, menerobos dinding dan menghancurkan seisi Kota Insomnia. Kenapa mereka malah mundur? Apa yang mereka pikirkan, atau lebih tepatnya, rencanakan?
"Mereka juga berhenti menyerang, Sir. Menurutku, kita tidak perlu mengerahkan giliran berikutnya untuk bertempur," lanjut Luche.
Kapten menyerahkan kembali teropong pada Tangan Kanannya. Dia diam beberapa detik, terlalu bingung akan hasil pengamatannya. Lantas, dia mengubah topik pembicaraan dengan bertanya, "Bagaimana tingkat kasualtis malam ini?"
"Dari total sembilan puluh Glaive, tujuh tewas, dua belas luka berat, dan tiga puluh tiga luka ringan. Persentase kerusakan mencapai lima puluh delapan persen," jawab Luche, membacakan isi kertas di tangannya.
"Rekor terburuk sepanjang sejarah Kingsglaive. Daemon raksasa itu memberi dampak negatif yang masif pada kita. Kita beruntung Niflheim mundur, kalau tidak tamatlah riwayat kita," keluh Kapten. Dia mendesah panjang, kekecewaan tampak dari wajahnya yang tegas.
Dua kali Nyx mendengar kata "tamat" hari ini. Kalau Kapten saja sudah mengakui kekalahan, bagaimana dengan reaksi Glaive? Secara natural, para Glaive di belakang Nyx menjadi ribut. Semua kalimat yang mereka lontarkan berbunyi mati, mati, dan mati.
Barisan dibubarkan atas komando Kapten. Semua Glaive berbalik dan pergi berdua atau bertiga ke mobil van. Nyx menunggu di dekat van yang akan membawa dia kembali pulang.
Dia duduk termenung di tepi pintu van, sendirian karena membutuhkan waktu untuk memikirkan rentetan peristiwa barusan. Tujuh Glaive tewas. Laporan itu menggoyahkan harga dirinya. Sebagai pahlawan Kingsglaive, dia merasa terhina. Dia tidak berkutik di hadapan Diamond Weapon. Andaikan Kekaisaran mengerahkan Diamond Weapon lagi—dan lebih dari satu ekor—kemungkinan besar semakin banyak Glaive yang tewas. Dirinya sendiri juga bisa menjadi korban. Tingkat kasualtis akan melambung tinggi hingga mencapai seratus persen.
Terdengar suara sepatu bot bergesekan dengan pasir mendekatinya. "Kau melanggar perintah langsung untuk mundur," kata pria di dekatnya. Tanpa menoleh, Nyx mengenal suara tegas itu bersumber dari Kapten Drautos.
"Demi rumah dan tanah air. Begitu 'kan, Sir?" tukas Nyx. Dia memandang lurus ke tanah seakan ada batu berlian tersembunyi di sana. "Selama darah masih mengalir dan jantung masih berdetak, aku akan jalankan perintah itu."
"Jangan terlalu bermimpi, Nyx Ulric," balas Kapten. Nada suaranya sedikit marah sekarang. "Semua kekuatanmu hanya pinjaman dari Raja Regis. Kau tak ada apa-apanya tanpa beliau."
Tiada sepatah komentar terlontar dari mulut Nyx. Dia terlalu lelah untuk berargumen dengan Kapten. Lagipula, dia sudah mempersiapkan diri menerima hukuman apapun. Yang penting, Libertus masih hidup dan itu sudah lebih dari cukup baginya.
"Bersiap untuk rincian lokasi penugasanmu yang baru," tutup Kapten seraya membalikkan badan dan meninggalkan Nyx.
Lima menit kemudian, Crowe, Luche, dan Pelna datang. Mereka berempat masuk ke dalam van. Keheningan mengisi ruang belakang van selama perjalanan pulang ke Kota Insomnia. Konvoi van melewati daratan tandus Cavaugh dan melintasi Tembok barat kota.
Matahari terbit di atas cakrawala. Jalan tol masih lengang. Diamatinya pemandangan dari balik jendela. Dia menemukan sekurang-kurangnya enam patung setinggi menara terselip di distrik kota yang dilalui van. Dinding Lama. Begitulah Insomnian menyebut patung-patung itu. Total Dinding Lama ada dua belas patung. Ratusan tahun silam Insomnian mendirikan Dinding Lama untuk menghormati jiwa leluhur Raja-Raja Lucis terdahulu. Konon katanya, Dinding Lama berfungsi untuk pengamanan ekstra jika marabahaya mengancam Kota Insomnia. Namun, Nyx hanya menganggap cerita itu sebagai dongeng pengantar tidur.
Dia teringat akan perkataan Raja Regis saat melakukan ritual penyaluran sihir. Raja menggunakan kekuatan sihir Kristal Agung untuk membangun Dinding Baru di langit Insomnia. Selama ini, dia yakin bahwa Dinding Baru mampu memberikan perdamaian tanpa batas bagi Insomnian. Tapi untuk pertama kalinya sejak pertempuran mematikan di luar Tembok tadi, keyakinannya menjadi goyah.
