Author : Ya, maaf, ternyata ada part yang hilang dan baru diupload sekarang. Sekalian update yang barunya…
Yan He : Author payah ya?
Author : Maaf, saya soalnya sibuk ama ini dan itu, apalagi lagi deg-degan sama pengumuman UN. Bersyukur lulus SNMPTN-nya
Disclaimer : Vocaloid bukan punya author, kalau punya juga pasti Af*an punya Vocaloid sendiri
Warning : Aman!
Tangan Teru sekarang memegang sebuah buku dengan sampul paling tebal yang pernah ia lihat. Dilihat dari warna kertas, buku tersebut masih asli dan uniknya tidak sampai ada kecatatan walaupun telah melewati banyak waktu.
Mereka kembali ke ruang depan. Kali ini Bruno kembali pingsan dan sedang berada di sofa. Terlihat Yukari menggunakan sihir pada Bruno, mungkin sedang memanipulasi ingatan selama berada di mansion tersebut. saat perhatian lebih tertuju pada Yukari, seseorang dengan langkah tertatih-tatih mendatangi mereka. Laki-laki berambut merah muda terlihat menyedihkan dengan noda darah hampir mengotori semua permukaan baju.
Teru melihat kejanggalan dari noda darah yang anehnya bertumpuk di sekitar bahu kanan dekat leher. Semoga apa yang ia pikirkan hanyalah kemungkinan terburuk dan tidak terjadi.
"Yuuma-san! Ka-kau tidak apa-apa?" Mizki mendekat, Yuuma memberi pandangan dingin pada perempuan rambut hitam yang menghampiri.
Teru hanya memutar bola matanya melihat respon laki-laki tak tahu diri.
"Jadi kita membersihkan kekacauan lalu kembali ke Madrid. Setelah itu pulang." Gakupo melihat beberapa koleganya. Ia hanya menggaruk kepala yang tak gatal.
Teru memandang ke belakang dengan perasaan marah.
"Mereka tidak akan pernah bisa kumaafkan."
Beberapa jam kemudian
Landasan bandar udara Narita sudah terlihat dengan jelas jika melihat dari jendela pesawat. Perlahan-lahan ketinggian pesawat semakin rendah dan pada akhirnya bagian roda menyentuh landasan pacu. Kiyoteru yang sejak tadi sibuk membaca buku tua dari mansion penuh misteri. Ia juga penasaran, wanita cantik bernama Maika sebenarnya makhluk apa, kalau vampire atau manusia yang bisa berubah menjadi monster atau binatang buas sepertinya jauh. Aura yang dipancarkan lembut.
"Hei, apa kau akan tetap seperti orang hilang? Kita sudah sampai, tahu!" Leon menepuk pundaknya, ia terperanjat.
"Ya, ya Leon…"
"Masih kepikiran soal di mansion? Sama saja, nanti dipikirkan lagi kalau sudah sampai di tempat asosiasi"
"Ya."
Teru berjalan pelan keluar dari pesawat. Ia menghela nafas panjang.
Semua anggota asosiasi yang berjalan masuk ke bandara hanya bisa menatap tersebut dengan mulut terbuka. Sesampainya di sana, mereka sudah disambut oleh banyak penggemar Ice Mountain. Ia tidak mengerti, dari mana mereka tahu info kalau vokalis (Ia tidak terlalu mengaku sebagai vokalis karena orang yang sebenarnya sedang hilang) Ice Mountain pergi ke luar negeri dan hari ini pulang.
Jawabannya ada pada Piko yang sedang nyengir dan kedua tangan menunjukkan gestur meminta maaf. Teru hanya bisa menepuk dahi.
Diantara kerumunan terdapat dua orang paling terlihat jelas, ia kenal dengan baik keduanya. Mereka adalah Akito dan sang manajer, ia yakin kalau sahabat Kiyo akan membentaknya ketika mendengar berita buruk yang keluar dari mulutnya. Helaan nafas pasrah terdengar jelas.
"Teruuu! Oi, sini! Gue nggak nyangka lo ke luar negeri, curang!" suara kencang Akito terdengar jelas, Teru hanya berjalan pelan dengan rasa malas.
"Itu karena aku punya urusan penting, Hiyama-kun. Dan maaf saja, orang yang kau cari tidak ada di sini. Mereka menculiknya"
Manajer mereka menatap bingung, "umm… etto… ada apa ya? Hiyama-san, tidak ada di sini?"
Tapi keduanya tidak merespon sama sekali, Akito hanya mengepalkan tangan.
"Apa yang kau lakukan!? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak membunuhnya!? Memang iblis tidak bisa dipercaya"
"Aku tidak membunuhnya, Akito! mereka melakukan suatu hal sehingga kami 'terpisah' sekarang!"
"Urusai! Memangnya aku harus percaya dengan kata-katamu!? Buktinya dia tidak ada di sini, kan? Tch, seharusnya sudah sejak dulu ayahnya Teru meng-exorcist dirimu sehingga semuanya tidak runyam begini!"
Gakupo dan Leon dengan cepat mendekat, para penggemar hanya terdiam karena kebingungan. Bagaimana bisa mereka berdebat satu sama lainnya.
"Hiyama-kun, sudahlah hentikan perdebatannya" Gakupo mencoba menenangkan.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Memukulku? Sahabatmu tidak ada di sini dan melawanku sama saja menggali makammu sendiri, Akito. Tolong, perasaanku sedang buruk sekarang dan aku tidak ingin terlibat pertarungan tak bermakna apalagi banyak penggemar di sini. Kutebak, perdebatan kita akan masuk artikel gossip."
Tanpa mempedulikan semua orang, ia berjalan. Bahkan beberapa penggemar yang meminta tanda tangan dilewati. Para penggemar makin bingung, biasanya idola mereka tidak seperti sekarang, ada yang meminta tanda tangan sampai berfoto sekali pun akan diladeni. Untungnya mereka maklum dengan berasumsi kalau si vokalis sedang memiliki perasaan buruk walaupun ada beberapa saling berbisik entah membicarakan apa perihal Teru.
Keluar dari bandara ia langsung menaiki taksi. Butuh beberapa menit sampai ke apartemen.
Ia selesai membereskan bawaan di koper setelah sampai di apartemen. Pakaian bernoda darah sekaligus ada bagian sobek tidak ia pikirkan dan langsung saja dilempar ke tempat sampah. Jika ada yang menemukan berarti orang tersebut kurang beruntung. Semoga saja reaksinya tidak berlebihan sampai menelepon polisi , akan sangat merepotkan kalau ia berurusan dengan pihak berwenang.
Ia rebahkan badan ke tempat tidur ukuran satu orang. Matanya memandang langit-langit kamar. Makin lama kelopak mata terasa berat hingga akhirnya ia tertidur.
Apa tujuanku, apa!? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Kenapa hanya aku yang memiliki sayap hitam ini. Aku… aku bukan pembawa kehancuran, kan? Aku pasti punya tujuan bermakna berada di dunia. Tapi, tapi aku tidak mengingatnya sama sekali.
"Sang malaikat jatuh, terpilih sebagai pengantar kematian kepada jiwa terkutuk"
Suara? Suara apa? Malaikat? Bagaimana bisa aku yang telah menumpahkan darah sejak dulu bisa disebut seperti itu.
Aku…
Cahayanya terlalu menyilaukan dan…
Tempat apa ini? Kenapa semuanya gelap dengan hawa dingin menusuk kulit nan menyeramkan. Tunggu, ini adalah di mana nyawa-nyawakurang beruntung karena tubuhnya ku bunuh, bukan? Kiyo pernah datang secara tidak sengaja tapi kenapa berbeda? Kenapa membuatku benar-benar takut?
Ada jalan, aku harus mengikuti jalannya. Kenapa harus mengikuti jalan setapak ini? Kaki milikku berjalan dengan sendirinya.
"Apakah dikau masih tak mengingatnya?"
Pohon, besar sekali. Ada lubang besar di tengahnya. Terdapat juga rantai namun tergeletak begitu saja. Ada bekas seperti kristal pernah menutupi lubang tersebut. oh, sulur dengan duri besar juga. Untuk apa semua benda mengerikan ini?
"Tugasmu, ingatlah tugasmu!"
Aku tidak ingat.
"Tugasmu membawa jiwa terkutuk ke sini"
Siapa?
"Bawa jiwa dengan dosa tak termaafkan, biarkan ia tersegel dengan kegelapan tak berdasar. Jangan biarkan ia terbangun sepenuhnya. Jangan biarkan gerhana darah terjadi"
Terbangun?
Terbangun sepenuhnya? Maksudnya, Eve? Tapi dia sayangku, kan? Dia satu-satunya orang yang bisa menyentuhku. Satu-satunya yang sama denganku
Sakit, kepalaku sakit, tidak… semuanya sakit. Hentikan, hentikan semua hal ini.
Mata Teru tebuka cepat, ia merasa seperti kedua bola mata ingin lepas dari tempatnya. Kepalanya terasa seperti ada orang yang memukulnya dengan palu beberapa kali. Ia mengerang dan berakhir terjatuh dari tempat tidur.
"Aku ingat semuanya, cintaku pada Eve selama ini… hanya sebuah kepalsuan"
"Dia menggunakanku, menggunakan kekuatanku yang besar agar semua keinginannya berjalan. Ahh… betapa bodohnya." Ia mengacak-acak rambut dan berbaring telentang di lantai kamar.
Suara telepon genggam berdering beberapa kali. Bukan hanya telepon genggam, dengan langkah pelan karena malas sekaigus kelelahan, ia menjawab panggilan. Suara Akito hanya memperparah perasaannya kala itu.
…
Tidak ada yang bicara selama berada di perjalanan, Akito tiba-tiba sudah menjemput menggunakan mobil pick up dan menunggu di depan apartemen. Sejujurnya ia tidak ingin bertemu siapa-siapa untuk sekarang. Bagian telinga ditutupi oleh headphone dengan music bervolume penuh. Akito juga tidak peduli.
"Hei kita mau ke mana?" pada akhirnya Teru bertanya, Akito memang tidak mengatakan sepatah kata sekali pun sejak awal.
"Ke suatu tempat"
"Tentu saja suatu tempat, kalau bukan ke suatu tempat di bumi memangnya apa? Luar angkasa?"
Akito tidak menganggap pertanyaan selanjutnya.
Laju mobil melambat hingga berhenti, mesin telah dimatikan dan Akito membuka pintu. Teru tidak menyangka kalau laki-laki dengan rambut merah mengajaknya ke tempat awal semuanya. Memang bangunan untuk beribadah tersebut menjadi lebih baik daripada saat terjadi kebakaran. Baguslah, tempat tersebut sudah direnovasi.
"Kau tahu? Sebenarnya ayah Teru yang asli, bukan ayah angkat sering sekali datang ke sini. Karena tempat ini dekat dengan rumahku yang dulu, Teru bertemu denganku sebenarnya sebelum hari di mana tempat ini terbakar dan pastinya tidak ada dirimu. Dia anak yang baik" Ia berjalan, sepertinya ke belakang gereja, Teru mengikuti dan sesampainya di sana berjejer beberapa kuburan.
"Ia mungkin tak tahu kalau orang tua kandungnya dikubur di sini."
Teru hanya mematung mendengarkan omongan Akito, ia memandang ke arah kuburan-kuburan.
"Lalu tujuanmu apa mengajakku ke sini"
Tanpa berbalik ke belakang Akito mulai bicara, "aku… ingin meminta tolong"
"Meminta tolong?"
"Ya, kalau… kalau kau menemukan Teru, kumohon bawa dia kembali dengan selamat. Aku merasa payah tidak bisa menjadi sahabat yang baik dan menjaganya. Padahal saat detik-detik sang ayah akan meninggal, beliau meminta agar aku menjaga Teru"
"Aku berjanji."
Akito hanya menghela nafas panjang.
"Bagaimana kalau kita makan? Aku tebak kau belum sarapan, kan?"
Teru tak menjawab, hanya sebuah senyuman dengan memperlihatkan gigi terlihat. "Tapi traktir, ya?"
Mereka kembali ke mobil, Teru bersyukur hubungan dengan sahabta Kiyo mulai mencair. Mungkin ada baiknya kalau semakin ke depan, semua hal akan lebih baik.
Dan ia berharap hari-hari baik bisa terjadi lebih lama daripada kekhawatirannya akan datangnya hari perang terbesar.
Author : Ahhh, makin mendekat! Terima kasih atas reviewnya!
