[ Pemilik Karakter Anime Naruto ]
[ Masashi Kishimoto ]
#Romance
#School
#Rated [ M = Dewasa ]
[ GUARDIAN ANGEL ]
BAGIAN KEDUAPULUH'ENAM
- Pukul 08.08 pagi -
"Sasuke-kun!"
"Kakoi!"
Di mall terbesar yang ada di Konoha. Sasuke sedang berjalan-jalan bersama Sakura yang kini menjadi assisten Uchiha muda itu. Sakura kelihatan kesusahan saat membawa barang dan pakaian yang Sasuke pilih.
"Be-beraaat..." gumam batin Sakura.
"Kau lambat sekali," gumam Sasuke, saat dia berhenti melangkah dan menoleh Sakura yang berada dibelakang.
"Maaf, tapi ini lumayan be-beraat" balas Sakura.
"Aku tidak menyangka, Sasuke-kun memintaku jadi assisten nya." kata batin Sakura.
Sasuke memandang remeh dengan mata kanan yang menatap tajam, surai hitam menutup mata kirinya. Style rambut yang terlihat cocok dengan karakter Uchiha yang sangat dingin itu membuat daya tarik tersendiri mengakibatkan pengunjung mall seperti tertarik untuk memperhatikan sosok Sasuke Uchiha itu.
Sakura membawa begitu banyak barang ditambah pakaian ber'merk mahal di kedua tangan didalam kantung. Sasuke hanya sesekali melirik sembari tersenyum penuh kepuasan menunjukkan bahwa dia sangat terhibur melihat kesusahan Sakura.
Saat mereka berdua keluar dari mall, Sakura meletakan barang belanjaan ke bagasi mobil dengan bantuan supir.
Sasuke dengan santainya masuk kedalam mobil. Sakura mulai ter'enggah-enggah mengatur nafas, saat dia ingin masuk langsung disambut tatap tajam Sasuke. Onyx hitam kelam mata kanan yang begitu mengerikan sampai membuat Sakura menelan ludahnya sendiri.
Glekh.
"Kau, naik taksi saja.." ucap Sasuke.
"Ba-baik.." balas Sakura lirih.
Sang supir hanya merasa kasihan sekaligus kagum dengan kesabaran Sakura yang diperlakukan seperti mainan tepatnya babu Uchiha.
"Tutup pintunya.."
"I-iya Sasuke-kun.."
Blamm.
Brummmm..
"Goblok dasar goblok, kau jidat sampai kapan kau mau jadi wanita yang goblok!"
Kata-kata yang sangat kasar itu membuat Sakura berbalik. Di depan pintu masuk mall, Ino menatap tajam sembari bersendekap angkuh.
"Pig, kata-katamu kelewatan!"
"Terserahku! Kau ini mau sampai kapan mengejar Uchiha sombong itu, kau semakin direndahkannya apa kau tidak sadar hah?!"
"Mau bagaimana lagi asalkan Sasuke-kun membutuhkanku.."
".. Terserahmu sajalah.. Dasar kepala batu.." gumam Ino.
Ino yang sejak tadi melihat Sakura bersama Sasuke. Ino sangat kesal dengan apa yang dia lihat namun Sakura melarangnya saat Ino mengirim pesan untuk menghampiri Sakura agar Sakura pergi dan jangan lagi menjadi budak bagi Sasuke.
Sakura menyetop taksi. Ino yang berdiri disebelah Sakura, kini dia melirik Sakura dengan tatapan simpati karena usaha Sakura sangat keras agar Sasuke berbalik untuk mencintainya, paling tidak ada harapan kecil agar Sakura mendapatkan balasan.
"Kau mau kemana sekarang?"
"Aku akan ke rumah Sasuke-kun, dia menyuruhku menyusul," balas Sakura lirih.
"Aku sampai ingin menangis melihatmu, jidat..."
"Pig, kau pasti ingat sejak SMA, Sasuke-kun selalu memilih sendirian walaupun begitu banyak yang mengangguminya. Kau ingat itukan?"
"Aku tidak ingat hal itu, kau saja yang berlebihan memujanya, dia itu hanya manusia, bukan dewa yang kau puja-puji dalan do'amu!" balas tegas Ino.
Ino menyuruh taksi yang berhenti untuk meninggalkan mereka berdua. Ino mengajak Sakura untuk ikut bersamanya. Di troatoar pejalan kaki depan pertokoan, mereka berdua hanya saling bicara ditengah kerumunan orang yang berlalu lalang.
Tring!
- Messenge -
Sasuke : Lambat.
Sakura : Maaf Sasuke-kun aku ada sesuatu yang penting nanti aku akan segera kesana.
Sasuke : Hn, sudah.
"Cih, pesannya saja tidak jelas arahnya" gumam Ino saat melihat layar smartphone milik Sakura.
Sakura dan Ino adalah sahabat yang sangat dekat walapun terkadang mereka memanggil dengan cara saling mengejek tapi dibalik itu semua mereka saling menceritakan beban masing-masing. Ino hanya diam dan terus melihat kedepan diikuti oleh Sakura yang melakukan hal yang sama. Kelopak bunga sakura yang berserakan di trotoar tersapu angin hingga ke jalan aspal membuat mereka berdua tersenyum saat melihatnya.
"Jidat, kau terlindas ban mobil tu!"
"Kau mengejekku ya!"
"He'em, lucu tidak?"
"Sama sekali tidak lucu pig.."
Mereka berdua duduk ditempat duduk halte, tempat favorit kedua pasangan yang kini sedang jauh diluar kota Konoha dengan masalah yang berbeda.
Ino menarik nafas untuk menenangkan diri, sementara Sakura hanya diam bermain dengan pikirannya sendiri.
"Tempat ini, tempat mereka berdua.."
"Hmm?, maksudmu apa pig?"
"Si bakka dan mata hantu mengerikan itu.." gumam Ino membalas.
"Mereka dulu sangat mesra, sampai kau kesal, haha.. Kau sampai marah, aku jadi pelampiasanmu... Huhh mengesalkan kalau di ingat lagi.." ucap Sakura.
"Aku harap mereka tidak akan bersatu lagi..."
"Hah?!, kau keterlaluan pig. Do'a mu sangat kelewatan!" ucap protes Sakura.
"Aku semakin mencintai, Naru-kun. Kau tidak akan mengerti karena kau bodoh.." ucap Ino sembari mengangkat tangan untuk merengangkan ototnya yang pegal.
"Aku mengerti. Aku juga memiliki cinta, bukan kau saja pig.."
"Oohh, iya aku lupa.."
"Iissshh.." gumam Sakura.
"Kau, sadar tidak kalau kita ini wanita paling aneh sedunia, karena mencintai seseorang yang tidak mencintai kita?"
"He'em, kau mungkin benar.. Kita ini aneh, sangat aneh. Aku sering berpikir seperti itu karena cinta pertama sampai-sampai aku lupa semuanya..." balas Sakura.
Taph.
Ino bersandar di pundak Sakura. Sakura hanya menahan tawanya karena melihat Ino sampai separah ini karena cinta dan rasa irinya terhadap Hinata yang lebih dipilih oleh Naruto.
"Semoga saja Naru-kun tidak bersamanya lagi.."
"Pig, kau jahat sekali.." gumam Sakura.
"Biar saja, semua wanita juga akan berdo'a hal kejam karena cintanya bertepuk sebelah tangan.."
"Mungkin kau benar, tapi tetap saja salahkan?"
"He'em salah mungkin.." sahut Ino dengan nada suara yang malas.
"Hoaaaahhhh! Aku ingin bersandar di pundak si bakka!"
"Haha... Belum pernah ya?"
"Dia jahat, selalu bilang tempatku bersandar belum pulang!" balas Ino sembari uring-uringan tidak jelas.
Ino bersandar sambil melirik Sakura yang sedang memejamkan mata, Ino pun ikut memejamkan mata. Mereka berdua hanya berdo'a dalam batin masing-masing agar semuanya akan berjalan lebih baik. Dan ada jalan untuk mereka berdua melewati takdir cinta yang tak pernah ada kepastiannya.
Bis berhenti di halte. Mereka berdua terlelap tidak sadar bahwa bis telah sampai hingga berangkat pergi meninggalkan halte. Berberapa orang yang berada di halte memutuskan membiarkan kedua sahabat itu menghilangkan lelah yang bertumpuk-tumpuk memenuhi batinnya.
BERSAMBUNG
NEXT
BAGIAN KEDUAPULUH'TUJUH
Author : Bayangin aja jadi Ino atau Sakura pasti kalian ngerti, apalagi do'a jahat Ino bisa kita maklumi dari segi manusiawi..
Kali ini Senpai cuma buat tentang dua sahabat yang galau uhh kasihan juga, aslinya males nulis tapi biar pada paham cinta butuh kesabaran dan gak dianggap se'simple kayak membolak-balikkan telapak tangan yakan?
