.

.

.

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Accidentally in Love

Story by Icha-Icha Fairy

Gender : Romance, Humor, Friendship

Rate : M

Part 26

'Having Flown'

enjoy


"Huaaaaaaaaaaaaaahhh..."

Naruto menguap seperti mulut kuda Nil yang menganga lebar. Sakura yang berdiri disampingnya juga merasakan kantuk yang sama, tapi setelah melirik Sasori, Sakura tidak yakin dirinya bisa mendaratkan diri di ranjang begitu saja. Shannaro.

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai empat belas. Naruto melambaikan tangan mengucapkan selamat malam. "Sweet dream guys..." Tidak ada yang merespon salam Naruto. Pintu lift tertutup, pria pirang itu naik ke lantai dua puluh sembilan.

Klek.

"Sakura, duduk di sofa."

Baru saja Sasori menutup pintu apartemen, acara tanya jawab segera dimulai. Sakura menghempaskan bokongnya di sofa sambil berdengus kesal. Ia melepas jaket lalu melemparnya ke sembarang arah. Kalau sudah begini alasan apapun tidak akan mempan untuk menghindari Sasori, jadi Sakura malas berdalih apapun.

"Sakura, letakkan jaketnya yang benar." Sakura melirik Sasori dan menendang jaket itu lebih jauh. "Sakura." Tegur Sasori sekali lagi, kali ini nadanya lebih tegas.

"Kak, aku bukan anak kecil lagi."

"Orang dewasa tidak akan melakukan seperti yang kau lakukan barusan." Sasori bersedekap, ia berdiri tepat di depan Sakura yang cemberut. Sakura duduk di sofa kembali, menatap wajah Sasori yang tenang, auranya seperti mengatakan 'Jangan melawanku.'

"Kak, aku lelah. Jika kau berharap aku akan menceritakan tentang apa yang kau curigakan terhadapku, jawabannya adalah, tidak ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Sasuke di LA."

"Bagaimana aku bisa memegang ucapanmu? Kau bisa saja berbohong."

"Untuk apa aku berbohong? Lagi pula aku dan Sasuke sudah berpacaran. Kau tidak perlu selalu tahu seluk beluk hubungan kami." Sakura tegas. Sasori terdiam pada ketenangan yang dalam.

"Tidak perlu tau huh? Kau seperti habis mengatakan kejujuran. Aku semakin tidak yakin jika kau dan Sasuke tidak melakukan apapun. Aku memberimu ijin pergi ke LA dan kau sudah berjanji padaku. Jika kau berbohong, apa aku harus menerimanya?"

"Sudah kubilang tidak terjadi apapun di sana!" Nada suara Sakura naik. "Sasuke-kun, tidak melakukan apapun."

"Tidak melakukan apapun?" Sasori tersenyum tipis. Sakura, sebaiknya hati-hati dengan alur introgasi ini. "Bagaimana aku bisa mempercayai Sasuke? dia itu seorang pria, berduan dengan kekasihnya adalah suatu ujian."

"Buktinya dia bisa menahan diri." elak Sakura.

"Benarkah? bahkan saat dia satu kamar denganmu?"

"Ya."

"Berarti di sana kau satu kamar dengannya!"

Shannaro! Ketahuan..., Sakura tidak sadar Sasori sudah menjebaknya, gadis itu terdiam seperti maling yang terbukti bersalah di persidangan.

"Sasuke akan menjelaskan ini." Ucap Sasori kemudian.

"Kak! kau berlebihan sekarang." Sakura mencoba membela diri. "Jangan membuatku malu di depan Sasuke. Kau seperti tidak pernah berpacaran."

Sasori langsung menautkan alisnya. "Sakura, Kita sedang membicarakan hal yang berbeda."

"Apa? tidak ada yang melarangmu tinggal dengan mantan kekasihmu di apartemen ini. Itu tidak sebanding dengan tidur semalam di kamar hotel yang sama. Kenapa kau mempersalahkan hal ini?"

"Itu beda urusannya, kau itu seorang gadis. Berpacaran denganmu bukan berarti si Raven bisa seenaknya!"

"Kau pikir berapa umurku sekarang? aku sudah dewasa. Kau memperlakukanku seolah aku anak SMA yang pertama kali pacaran. Sudah kubilang Sasuke tidak melakukan apa-apa. Titik." Sakura beranjak dari sofa, sudah malas berdebat dengan Sasori.

"Kau mau kemana? kita belum selesai bicara."

"Aku lelah. Jika kau mau mengomel sambil memijat kakiku, aku akan bersedia diomeli sampai pagi."

"Sakura kembali ke sini!" Perintah Sasori. Kali ini Sakura melawan, gadis itu acuh masuk ke dalam kamar. Baru saja Sakura menutup pintu, Sasori sudah membukanya kembali.

BAAK!

"Kak!" Bentak Sakura setelah pintu mendarat di hidungnya cukup keras. Rasa Kesal menumpuk di kepalanya saat ini. Sasori menahan omelannya, melihat Sakura menyentuh hidung sambil merintih kesakitan.

"Sakura kau..."

Sakura langsung meninggalkan kamar, menuju pintu apartemen. "Kau mau kemana?" Tanya Sasori. Sakura diam tidak menjawab, rasa lelah yang ia rasakan sudah tercampur aduk dengan emosinya.

"Aku akan menguncimu di luar jika tidak kembali dalam lima belas menit." Acam Sasori tapi Sakura tidak perduli.

Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong!

Bel pintu Naruto menjadi pelampiasan kekesalan Sakura. Naruto yang sedang melakukan telpon romantis dengan Hinata langsung melonjak dari sofa. Terpikir olehnya untuk memaki orang di balik pintu itu. Tapi, tidak ada orang selain Sakura yang berani melakukannya. Dan ternyata benar, Naruto menautkan alisnya saat Sakura menerobos masuk begitu pintu dibuka.

"Kau kenapa? Bertengkar dengan Sasori?"

Sakura diam tidak menjawab, ia terbaring di sofa masih dengan raut wajah kesal. Ponsel Naruto lalu berdering, bukan Hinata yang menelpon tetapi Sasori. Pria itu menanyakan apakah Sakura ada di sana dan menutup telpon setelah Naruto menjawab ada hantu Pinky yang sedang terbaring di sofanya.

"Kali ini apa?" Naruto duduk di karpet memandang Sakura.

"Dia sangat berlebihan, dia pikir berapa umurku sekarang? selalu ada aturan untukku! Aturan ini aturan itu! Kenapa dia bersikap seperti itu? kenapa dia begitu protektif?! Sikapnya itu sangat menyebalkan!" Omel Sakura. Naruto diam mendengarkan.

"Sasori hanya mengkhawatirkanmu, bukan berarti dia tidak paham." Naruto maklum dengan sikap Sasori, pria itu menjadi protektif pada Sakura sejak ibu mereka meninggal.

"Dia sendiri yang pernah bilang akan berhenti mengkhawatirkanku jika ada seorang pria bisa menjagaku. Dia seperti tidak mempercayai hubungan kami. Dia seperti tidak mempercayai Sasuke. Sikapnya itu berlebihan!"

"Sudah..., mungkin Sasori cemburu pada Sasuke. Kau harus maklum. Ini juga pertama kalinya kau berpacaran." Naruto meraih remote dan menghidupkan televisi. Chanel National Geographic sedang membahas tentang fenomena segitiga bermuda. Siaran itu menarik perhatian Naruto. Sakura sudah berhenti mengomel, ia meringkuk menenggelamkan wajahnya ke sudut sofa selama lima menit lalu ikut menonton televisi.

"Memangnya Sasori marah karena apa?" Tanya Naruto kemudian.

"Dia mengira aku dan Sasuke melakukan sesuatu." Naruto memperjelas perkataan Sakura dengan membentuk segitiga melalui kedua jarinya yang bergerak, lalu menunjuk segitiga bermuda di layar televisi. Sakura menaikkan kedua alisnya sekali, mengiyakan.

"Mungkin kau tidak mau jujur dengan Sasori. Tapi bagaimana denganku?" Naruto menatap Sakura. "Jadi, apa kalian benar-benar membuat zona segitiga di sana?" Naruto tersenyum penuh arti, Sakura spontan melemparnya dengan bantal sofa tepat di wajah.


.

"Selamat pagi." Mukade menyapa tuan muda Uchiha yang tiba di ruang makan tepat waktu.

"Aa. Pagi." Sasuke menggeret kursi makan lalu duduk. Sarapan sudah terjadi di atas meja. Sasuke memandang sup bewarna hijau muda pekat di hadapannya. Mungkin Sasuke belum pernah menyantap sup itu karena perhatiannya terpusat cukup lama.

"Sasuke, cobalah sup Chickpie ini." Ucap Mukade. Sasuke mengangkat sendok lalu mencicipi sup kacang polong itu. Rasanya enak dipadukan dengan roti garlic. Tapi sup tomat tetap tidak ada tandingannya, apalagi sup tomat buatan Sakura.

"Apa kau menyukainya?" Tanya Mukade. Pria itu selalu mengatur sarapan bergizi untuk keluarga Uchiha.

"Aa." Sahut Sasuke. Terbesit sosok Sakura yang lama-kelamaan menuju pada Gaara saat Sasuke menyantap sup itu dengan tenang. "Mukade, aku ingin tahu bagaimana koki membuat sup ini." Mukade tidak meragukan pendengarannya tapi ia cukup heran dan bertanya-tanya.

"Ada apa Sasuke-san? apa ada yang salah dengan sup-nya?"

"Tidak. Aku ingin mencoba membuatnya sendiri. Akan kuberitahu jika waktunya senggang."

Mukade pun semakin bingung, ia merasa Sasuke cukup berubah. Pikiran Mukade langsung tertuju pada Sakura, gadis itu sedang membuat Sarapan pagi di dapur saat ini. Sasori datang lima menit setelahnya, pria itu usai melakukan rutinitas jogging.

Keheningan terjadi saat Sasori menuju kulkas, mengambil minuman. Tidak ada percakapan yang terjadi. Sisa-sisa ketegangan masih terasa ketika Sasori melihat Sakura bungkam menggerakkan spatula dengan wajah datar seperti mengacuhkannya. Semalam Sakura tidur di tempat Naruto, ia kembali subuh-subuh saat Sasori pergi berolahraga.

"Kau jadi ambil ijin hari ini?" Sasori memecah keheningan. Sakura hanya menjawab 'hem' sambil meniriskan telur goreng setengah matang.

Hari ini Sakura mengambil ijin libur. Sesuai rencana sebelumnya, Sakura akan membayar waktu luang bersama Sasori yang terpotong karena ia pergi bersama Sasuke. Hari ini Sakura akan menghabiskan waktu seharian bersama Sasori karena besok kakaknya itu akan kembali ke LA.

"Kita mau kemana hari ini?" Sasori mencairkan suasana. Pria itu bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun semalam. Sakura menjawab dengan mengedikkan bahu.

"Bagaimana jika kita melihat-lihat mobil hari ini?" Tanya Sasori dan Sakura langsung menoleh. Upan berhasil dimakan. Sasori menahan senyuman saat melihat ekspresi Sakura yang berubah.

.

.

"Selamat pagi Sasuke-san." Hanya segelintir orang yang menyapa Sasuke secara lisan. Semenjak ia resmi berpacaran dengan Sakura, kadar wanita genit yang menyapanya menjadi berkurang. Kebanyakan dari mereka hanya mengangguk pada Sasuke, tapi lirikan mata mereka masih tersirat kekaguman yang tidak akan pernah punah. Bayangkan berapa banyak doa tidak baik dipanjatkan agar hubungan Sakura dan Sasuke tidak berjalan lancar? Sudah tidak bisa terhitung lagi selama Sasuke menelusuri taman dengan pesonanya yang abadi.

"Sasuke." Seperti biasa Jugo menyapa Sasuke di ruang kerjanya sambil membawa beberapa laporan untuk diperiksa. "Sasuke aku sudah menyelediki apa yang kau minta."

"Aa. Bagaimana?"

"Sasuke, sepertinya rapat umum pemegang saham akan diadakan dalam waktu dekat ini dan penjamin emisi perusahaan sepertinya sudah diberitahu sebelumnya, semuanya sudah diatur."

"Underwriter? Saham akan go public ke pasar modal?" Sasuke mengerutkan dahinya.

"Aku menyelidiki konsultan hukum dan notaris yang terkait. Semua akan terlihat seperti pelepasan saham yang wajar. Tiga pemegang saham Gamabunta sudah siap melepas saham mereka. Dan sepertinya Sasuke, Teuchi-sama yang..."

"Aa." Potong Sasuke, ia cukup paham. "Jugo, aku akan keluar sebentar, sampikan pada serketaris Itachi aku akan tiba di sana jam sepuluh. Dan..." Sasuke menggantungkan kalimatnya, ia memikirkan sesuatu tapi niatnya diurungkan. "Aku akan kembali setelah makan siang." Sasuke beranjak pergi.

.

.

Mobil antik Camaro milik Sasori melaju sangat pelan bahkan pelan sekali di sepanjang jalan lurus pinggiran landasan pesawat kawasan bandara Konoha. Saking pelannya sampai mobil itu terlihat seperti siput berjalan. Sasori memasah wajah malas di samping Sakura yang sedang fokus menyetir. Raut wajah Sakura sangat serius, posenya kaku mengendalikan kemudi.

"Sakura, injak gasnya..." Omel Sasori. Sakura menginjak gas dan mobil itu terpantul ke depan lalu ter-rem kembali. "Pakai perasaan, injak gasnya dengan benar."

"Ini sulit! aku belum terbiasa." Sakura balik mengomel.

"Kau sudah dua jam seperti ini, orang lain akan gila mengajarimu." Sasori membuang muka ke arah jendela.

"Siapa yang menyuruhmu mengajariku? kau bilang mau pergi beli mobil tapi nyatanya tidak. Kau membohongiku..." tampang Sakura berubah snewen.

"Aku harus mengujimu terlebih dahulu. Lihat, progresmu sangat lambat. Kau seperti Spongebob." Sakura tidak terima dikatai Spongebob dan dia menginjak gas lebih kedalam, mobil Sasori langsung melaju seperti macan tutul.

"Kau puas sekarang?!"

"Sakura! Pelankan mobilnya!" Sasori berpegangan pada grip handle bagian atas. Mobil itu melaju pada kecepatan tujuh puluh km/jam. Tidak pelan dan cukup membuat Sasori gugup karena Sakura yang mengendarainya. Mobil itu melaju lurus di jalanan sepi sunyi sampai mereka berpapasan dengan pengembala kambing yang sedang menggiring belasan kambing-kambing miliknya. Sakura spontan panik.

"Awas!" Seru Sasori.

"Embeeeek..." Kambing bubar jalan termasuk sang pengembala yang melompat ke arah got namun gagal.

Shhhiiiiiiiiiitttt...

Mobil meraungkan kata Shit saat Sakura menginjak rem dan kopling penuh, membuat ban bergesekan dengan aspal sampai mengeluarkan asap. Camaro Sasori melakukan drift, mobil itu setengah berputar seakan Vin Diesel yang mengendarainya. Mobil berhenti menghempaskan tubuh Sasori dan Sakura ke depan. Sabuk pengaman bekerja dengan baik. Thanks God. Sakura tidak berkata apapun, tangannya gemetaran, ia dan Sasori saling bertatapan lalu menoleh ke belakang. Sasori langsung turun dari mobil untuk melihat kondisi si pengembala itu. Sakura panik dan ikut melihat, meninggalkan mobil di tengah-tengah jalan yang sepi.

.

.

"Uhuk!"

Entah angin darimana Sasuke tiba-tiba tersedak saat meneguk wine. Pria itu sedang berada di ruang kerja Itachi membicarakan sesuatu. Sasuke mengusap mulutnya dengan tisu, batuknya sudah berhenti. Itachi tenang memandang adiknya yang jarang tersedak. Sasuke berdeham lalu meletakkan gelas di atas meja kembali. Sesaat ia merasakan firasat yang buruk.

"Kau akan membeli saham dengan nama orang lain?" Sasuke melanjutkan obrolan.

"Tidak ada pilihan lain. Teuchi melakukan ini secara rapi dan aku juga akan memainkannya secara rapi." kata Itachi. "Teuchi akan kalah dalam pembelian saham Gamabunta, aku buat seolah-seolah orang lain mengalahkannya. Dia tidak membuka kartu begitu juga denganku."

"Itachi, apa kau yakin membeli semuanya? aku tidak meragukanmu tapi itu saham yang lumayan besar."

"Apa menurutmu aku akan membiarkan Otousan turun tangan dalam masalah ini?"

"Aa. Kurasa tidak." Jawab Sasuke. "Aku sedikit tidak menyangka tiga pemegang saham itu bisa dipengaruhi olehnya."

"Selamat datang di dunia bisnis Sasuke. Pelajari hal ini, kau akan terjun sebentar lagi." Ucap Itachi.

Sasuke terdiam memikirkan sesuatu. "Lalu bagaimana dengan kekurangannya? Jual saja sahamku di perusahaan ini."

"Aku sudah memikirkan itu. Aku ingin seluruh saham studio berada di bawah nama Uchiha. Kita akan membuat perusahaan itu sepenuhnya milik kita."

"Kau jadi membeli saham Teuchi? Bukankah kau akan menunggu dia melepas sahamnya sendiri?"

"Rencana selalu berubah untuk yang terbaik. Teuchi, dia sudah tidak sehat. Aku tidak ingin hal seperti ini terulang lagi. Aku tidak suka permainanya untuk memegang kendali saham Gamabunta. Kita akan menyingkirkannya secara perlahan." jawab Itachi. Sasuke terdiam, ia setuju tapi Lehernya sedikit menegang.

"Maaf Sasuke, jika Ayame tahu hal ini mungkin dia akan kecewa. Tapi ini harus terjadi, studio prioritas utama."

"Tidak masalah. Kurasa Ayame akan paham kenapa kita melakukannya." Suasana hening sejenak, Itachi meneguk wine kembali sementara Sasuke memikirkan sesuatu. "Aa. Itachi, nama siapa yang akan kau pakai untuk membeli saham-saham itu? Bagaimana juga dengan kekurangannya?"

"Aku sudah membicarakan ini dengannya. Saatnya dia bergabung."

.

.

"Ino, apa Sakura belum kembali dari LA?" Tanya Konohamaru saat Ino menempelkan memo assignment baru di layar komputernya.

"Sudah, tapi hari ini dia mengambil ijin." Jawab Ino. Konohamaru tampak kesepian karena bukan hanya Sakura yang tidak masuk hari ini. Obito juga mengambil ijin kerja. Sekejap Konohamaru memandang dua meja kerja kosong di sampinya lalu kembali fokus pada pekerjaan.

Naruto sedang membahas hasil pekerjaan animator 2D, ia berdiri di meja kerja salah satu artist dan mengarahkan sesuatu tentang gerakan animasi serta angle kamera yang tepat. Wajah Naruto begitu serius jika sedang berhubungan dengan pekerjaannya. Semenit kemudian ia melihat jam tangan dan waktu menunjukkan jam istirahat pegawai. Naruto menyudahi kegiatan review Leader, lalu mengirim pesan untuk Hinata.

To Hinata : 'Hinata, apa meetingmu masih lama? aku akan pergi keluar sebentar.'

Saat ini Hinata sedang meeting bersama para koordinator dan supervisor 2D. Pesan Naruto diterima dan Hinata langsung membalas pesan itu.

Hinata : "Mungkin beberapa menit lagi Naruto-kun, ada hal penting yang harus dibahas. Mau kemana?"

To Hinata : 'Ke studio foto. Sudah membuat janji bersama Sasori dan Sakura.'

Naruto mengirim pesan itu lalu keluar dari ruang animator 2D.

Sakura dan Sasori tiba di sebuah studio foto. Dilihat dari kondisi saat ini, insiden mobil tadi cukup membekas di kepala mereka, apalagi Sakura memasang wajah cemberut sambil menutup pintu mobil dengan sedikit penekanan, membuat Sasori menghentikan langkah dan menoleh kebelakang. Adik kakak ini malah tidak harmonis padahal besok sudah berpisah. Semoga foto keluarga mereka jadinya bagus.

To Sasuke-kun : 'Sedang sibuk? Jangan lupa makan. Nanti bisa gila.'

Sakura mengirim pesan untuk Sasuke saat mereka menunggu di lobi. Sasori duduk tenang di sofa, gayanya santai, karismatik dan ia menjadi pusat lirikan pegawai pelayanan serta kasir. Naruto menampakkan batang hidungnya dari pintu masuk lima belas menit kemudian. Disaat bersamaan balasan pesan Sasuke masuk.

Sasuke-kun : 'Tidak akan gila jika masih ada kau.'

Sakura tidak terlalu yakin Sasuke sedang menggombal tapi pesan itu cukup membentuk lengkungan senyum di bibirnya.

"Kau tidak mengajak Hinata?" Tanya Sakura saat Naruto mendekat.

"Hinata sedang meeting." Padahal Naruto ingin sekalian foto romantis dengan Hinata. Mereka dipersilahkan masuk ke ruang foto setelah itu.

"Bagaimana pelajaran mobilnya? semua lancar?" Tanya Naruto saat mereka manelusuri koridor. Sakura memutar bola mata dan Sasori diam malas menjawab. "Apa yang terjadi? apa Sakura mengacaukan Camaro-mu?"

"Dia mengacaukan para kambing." Jawab Sasori.

"Kambing itu yang jalan menengah." Elak Sakura.

"Itu karena kau sembarangan."

"Kau yang menga..." Sakura menghentikan kalimat karena sadar situasi setelah memasuki ruang foto. Seorang Fotografer berperawakan sedikit melambai menyambut mereka dengan ramah. Tampaknya, fotografer itu naksir dengan kegagahan Naruto pada pandangan pertama, ia menunjukkan gelagat serta memancarkan tatapan yang tersirat akan sesuatu, membuat Naruto bergidik lalu memasang wajah galak. Sakura dan Sasori bisa merasakan hawa yang terpancar dan mereka hanya membatin.

"Selamat siang, tampan... cantik... ayo ambil tempat di sini." Fotografer melambai itu mengarahkan mereka untuk mengambil pose di depan background berwarna putih polos. Naruto dan Sasori duduk di kursi yang berbeda dan Sakura berdiri diantara mereka.

"Apa kau merasakan sinyal-sinyal keanehan?" Bisik Sakura. Naruto memasang wajah malas yang datar.

"Kalian belajar mobil dimana? Kenapa bisa menabrak kambing? apa kambingnya baik-baik saja?" Naruto melanjutkan cerita tadi dengan guyonan. banci fotografer yang sedang menyeting kamera melirik sekejap.

"Aku bersyukur kita masih bisa mengambil foto keluarga." Sahut Sasori. Sakura malas menanggapinya.

"Baiklah, tampan... cantik... Kita siap ya..." Fotografer memberi kode sambil mengedipkan mata. Ia menghampiri ketiganya bermaksud membenarkan penampilan mereka. Sekalian cari kesempatan saat merapikan rambut Sasori dan merapikan kerah jaket coat Naruto sambil memancarkan tatapan mendalam, membuat Naruto lebih memasang wajah galak.

"Ok... Smile..."

Jepret!

"Okeeey... kembali ke sini lagi ya tampan... Cantik..." Fotografer itu melambaikan tangan usai pemotretan. Sakura membalas senyum, ekspresi Sasori biasa-biasa saja dan Naruto memasang wajah malas. Mereka keluar dari ruang foto.

"Naruto, Sepertinya dia naksir denganmu." goda Sakura.

"Pria jadi-jadian seperti dia sebaiknya dikarantina." Sahut Naruto.

"Kita makan siang sekarang?" Tanya Sasori.

"Aku akan kembali ke studio sekarang. Waktunya mepet." Naruto memastikan waktu pada jam tangan. Tersisa beberapa menit sampai jam istirahat pegawai habis. Naruto berencana makan siang di kantin studio saja atau membungkus burger.

"Bagaimana jika nanti malam kita makan malam bersama?" Ide Naruto. "Sepulang kantor aku akan menyusul ke tempat lokasi."

"Makan malam di luar?" Tanya Sakura. Naruto mengangguk, mereka menunggu respon Sasori dan pria itu setuju.

"Baiklah. Sampai jumpa nanti." pamit Naruto. Mereka lalu masuk ke dalam mobil masing-masing. Sakura pergi makan siang bersama Sasori sekalian cari oleh-oleh sedangkan Naruto kembali ke studio.

.

.

"Hinata kita makan di luar." Naruto menghampiri meja kerja Hinata tepat jam pulang kerja pegawai.

"Kita mau makan dimana Naruto-kun?" Hinata bersiap-siap.

"Makan malam bersama Sasori dan Sakura. Kita sudah membuat janji."

Naruto dan Hinata meninggalkan ruangan. Sepanjang perjalanan mereka bertemu dengan para artist 2D. Mereka menyapa Naruto setiap kali berpapasan. Hampir semua di studio ini mengenal Naruto, pria itu pandai bergaul dan punya banyak teman. Bahkan seorang Uchiha Sasuke bisa dekat dengannya. Aku juga heran.

"Hei." Kiba menepuk pundak Naruto dari belakang, ia berjalan bersama pria background 2D termasuk Konohamaru. Mereka mengobrolkan banyak hal, terutama kabar kemenangan Greenoch di acara penghargaan Annie Award. Penyiar radio sudah berkoar tadi pagi memberitakan hal itu.

"Naruto, futsal seperti biasa jam delapan." Ucap Kiba saat mereka menelusuri taman.

"Aku absen." Jawab Naruto. "Berkencan man..." Candanya. Kiba hanya tersenyum paham dan tidak berkomentar. kebetulan Hinata dan Naruto berpapasan dengan gengster Yakuza saat menuju parkiran basement. Gaara berhenti ketika Naruto menyapanya.

"Dude, selamat." Gaara bertos ala anak muda dengan Gaara lalu berpelukan, begitu juga dengan Hinata yang hanya bersalaman. Terbesit di kepala Naruto untuk mengajak Gaara makan malam bersama.

"Ah! Bagaimana jika kau ikut kami? Kita akan makan malam bersama Sasori dan Sakura."

.

.

Kakak beradik, Sakura dan Sasori tiba di salah satu restauran kota Konoha. Mereka menjadi pendatang pertama karena Naruto dan lainnya belum tiba di sana. Sakura mengirim pesan untuk menanyakan posisi Sasuke saat inj. Sasori menikmati Green tea-nya dengan tenang, menunggu Naruto yang menampakkan batang hidungnya lima belas menit kemudian dari jalan masuk restoran. Sosok Gaara menarik perhatian Sasori apalagi Sakura yang menoleh sekejap, disaat bersamaan ponselnya bergetar membawa pesan balasan dari Sasuke.

Sasuke-kun : 'On the way.'

Gaara memberi salam pada Sasori. Begitu pula dengan Sakura, gadis itu sedikit canggung menyapa Gaara karena otomatis kepalanya mengingat salam Marvin Gaye yang pernah ia utarakan, sangat memalukan. Suasana membaur, mereka bersapa ria basa-basi setelah memesan makanan. Sasori juga memberi ucapan selamat untuk Gaara atas prestasi yang diraihnya di acara Annie Award. Sasuke tiba beberapa menit kemudian, di saat bersamaan menu hidangan yang datang. Onyx Sasuke langsung menatap sosok Gaara, mungkin ia membatin ternyata Gaara juga diundang. Sedangkan Sasori, pria itu memandang Sasuke dalam ketenangan, ia mengingat pembahasannya dengan Sakura kemarin malam.

"Teme!" Naruto hanya akan memanggil Sasuke dengan sebutan Teme di hadapan kerabat dekat. Suasana tetap aman terkendali, tetap mencair selama ada Naruto.

Sasuke mengambil tempat duduk di samping Sakura. Kekasihnya itu dengan sigap langsung melayani, menanyakan menu apa yang akan dipesan. Sasuke meminta Sakura memilih menu untuknya. Sakura memesan satu set Teishoku terdiri dari nasi, tumisan daging Shoga-yaki, sup tahu, sayur sawi dan irisan tomat. Cukup lama menyeleksi menu itu sampai Sasori membatinnya. Bagaimana dengan Gaara? pria itu tenang-tenang saja melahap makanan, pastinya juga membatin tapi Gaara menyikapi secara santai dan rasional. Pria tahu caranya.

"Aku penasaran bagaimana nasib-nasib kambing itu." Naruto mengangkat topik itu kembali, membuat Sakura menatapnya dengan wajah malas seakan mengatakan 'kenapa kau membahasnya lagi?'

"Nasibnya baik-baik saja." Sahut Sakura. Sasori langsung menoleh.

"Maksudmu nasib si pengembala?" Sindir Sasori. Wajah Sakura semakin malas. Percakapan tentang kambing dan pengembala itu akhirnya menarik perhatian Sasuke.

"Apa yang terjadi?" firasat Sasuke tentang hal tidak baik memang benar. Naruto tersenyum, ia mengangkat dagu ke arah Sakura sambil menunggu cerita lebih lanjut.

"Bukan masalah besar. Aku latihan mengendarai mobil dan tidak berjalan dengan lancar." Sakura santai.

"Bukan masalah besar jika pengembala itu tidak terluka parah karena ia masuk ke dalam got setinggi satu meter." Sakura langsung menyenggol kaki Sasori.

"Kau menabrak pengembala kambing?" Sasuke menautkan alisnya. Sakura menatap sekitar dan tersenyum kaku saat bertatapan dengan Gaara.

"Aku tidak menabraknya, dia hanya jatuh ke dalam got karena kaget dengan laju mobilku."

"Memangnya kau melaju secepat apa?" tanya Naruto. Sakura menjawab ia melaju dengan kecepatan biasa. Sasori tampaknya tidak terima tapi pria itu memilih diam.

"Kau berlatih mengendara dimana?" Gaara masuk ke dalam obrolan.

"Di pinggir landasan pesawat terbang." Jawaban Sakura. Sasuke pun membatin sesuatu sedangkan Gaara tersenyum tipis.

"Dia juga tahu tempat itu." Sakura mengarahkan sumpitnya ke arah Sasori. Naruto bertanya-tanya dimana ketak landasan itu karena dia cukup bingung kenapa ada kambing dan pengembala di sana. Sakura enggan menjawab seputar bandara lebih jauh karena tidak enak dengan Sasuke.

"Lokasinya dekat dengan landasan pesawat, mungkin jalan itu bekas jalan masuk utama ke bandara Konoha. Aku menemukannya saat tersesat. Di sana sepi, jarang kendaraan melintas." jelas Gaara. Sakura ingin mengatakan bahwa Sasori juga menemukan tempat itu saat tersesat tapi sebaiknya tidak usah dibahas lebih dalam. Sasuke memancarkan aura berbeda level 1.

"Lalu bagaimana dengan mobilnya? Kalian jadi beli?" tanya Naruto.

"Dia bahkan bingung mengoprasikan antar rem dan kopling." Jawab Sasori.

"O ya? dan ingat aku baru pertama kali belajar." Sakura membela diri.

"Aku akan mengajarimu jika kau mau." sahut Gaara. Sasuke langsung menoleh. Gaara tersenyum seolah-olah Sasuke adalah patung pajangan restaurant, mungkin ia sedang menggoda Sasuke. Sakura sedikit canggung dan dia hanya tersenyum kaku pada Gaara.

"Kau akan mengajari Spongebob. Itu ide yang buruk." Sasori sepertinya tidak setuju Sakura belajar berkendara lagi.

"Kak, berhenti mengataiku Spongebob."

"Spongepink lebih cocok" timpal Naruto, Sakura langsung mengerutkan alisnya. "Sepertinya kau bisa mengajari Spongepink. Iya kan Sasuke?"

"Tidak."

"Kenapa?" Sakura menoleh.

"Karena kau Spongepink."

Dahi Sakura menyerngit. Mungkin semua orang menganggap Sasuke sedang menggoda Sakura tapi jika diteliti lagi, tampaknya ada sedikit kecemburuan yang terselubung. Mereka masih melanjutkan obrolan dengan pembahasan yang sama seputar kambing dan malah merambat kemana-mana. Naruto yang paling semangat menggoda Sakura, suasana mencair sampai hidangan mereka habis tersantap.

"Ah! bagaimana jika satu foto dulu sebelum pulang?" Ide Naruto. Sakura sangat setuju, ia semangat mengeluarkan ponselnya dan meminta pelayan restaurant untuk mengambil foto mereka.

"Ok..., satu...dua...smileeeee..."

Krek!

Satu moment kebersamaan bersama Sasori terabadikan.

.

.

Sakura sedang mengepak barang-barang bawaan Sasori untuk dibawa ke LA. Sebagian besar isi koper itu isinya jajanan khas Jepang semua. Sasori menghampiri Sakura di ruang tengah sambil membawa gitar, ia duduk di atas karpet bersandar pada kaki sofa. Sakura hanya melirik sekejap dan tidak berkomentar apa-apa, ia mengepak barang diiringi petikan gitar acountic Sasori yang merdu. Malam ini Sasuke tidak mengapel karena ia memberi waktu Sakura quality time bersama kakaknya.

"Kak, pesawatmu take off jam berapa?" Tanya Sakura kemudian.

"Jam setengah 9." Pandangan Sasori tertuju pada objek lain sambil menghkayati petikan gitarnya.

"Sakura.." Panggil Sasori kemudian. "Apa kau jujur dengan apa yang kau ucapkan kemarin malam?" Sasori kembali membahas soal LA dan Sakura menghela napas panjang.

"Tidak." Jawab Sakura dan jari Sasori merosot pada senar gitar menimbulkan suara Jreng yang cukup keras.

"Sakura." Wajah Sasori menegang.

"Apa? bukankah itu yang ingin kau dengar? Aku sudah jujur berulang kali dan kau masih tidak mau percaya. Memangnya aku harus menjawab apa?" Sakura menghempaskan pakaian Sasori ke dalam koper.

"Aku hanya memastikannya."

"Memastikan... Memastikan..., kau memastikan terus! aku sampai kesal!" Omel Sakura. Sasori memilih diam. "Aku akan mengatakan ini untuk terakhir kalinya. Sasuke tidak melakukan apa-apa. Kenapa kau tidak mempercayaiku?"

"Mungkin kali ini dia tidak melakukan apa-apa, tapi bagaimana dengan besok? Dia itu seorang pria."

Kali ini Sakura memilih diam. Pembicaraan ini membuatnya canggung. Suasana menjadi hening. Sasori meletakkan gitarnya lalu memandang Sakura.

"Sakura. Aku tahu kau sudah dewasa. Tapi terlalu dini untuk berhubungan seks." Ucap Sasori dan Sakura langsung menghentikan kegiatannya.

"Kak, apa yang kau bicarakan?" Sakura Canggung mendengar Sasori tiba-tiba blak-blakan.

"Kenapa? Kita akan membicarakan ini. Pendidikan seks sudah dijelaskan sejak remaja, bahkan Self-touch sudah dijelaskan pada anak umur sembilan tahun. Aku tidak mau kau asal melakukannya tanpa tahu apa-apa."

"Aku cukup paham. Ya itu jika kau ingat berapa umurku sekarang."

"Sakura, umur tidak membatasi seseorang untuk melakukan hubungan seks. Siapapun bisa melakukan itu. Tapi hal yang terpenting adalah kita harus sadar dengan siapa, atas dasar apa dan mengapa kita melakukannya." Ucap Sasori. Sakura diam mendengarkan.

"Sakura, aku hanya tidak ingin sesuatu melukaimu." Sasori mengusap kepala Sakura, tatapannya melembut.

"Kau tidak mempercayai Sasuke?" Tanya Sakura,

"Aku percaya padanya, dia pria baik-baik, aku tahu itu. Aku ini kakakmu, tidak mungkin aku mempercayakanmu pada orang sembarangan."

"Lalu kenapa kau masih mengkhawatirkanku?" Spontan usapan lembut tangan Sasori berubah menjadi pukulan membelah kepala.

"Kau tidak dengar apa yang kubilang tadi? Ini semua tentang kesiapanmu menjalin hubungan."

"Kurasa aku sudah siap menjalin hubungan serius kak." Sakura mengusap kepalanya.

"Kita tidak pernah tahu masa depan. Kenali dia baik-baik. Tidak usah terlalu terburu-buru."

"Ah, ya..." Sakura mengangguk.

"Jangan iya-iya saja. Kau mengerti tidak?"

"Aku mengerti..., kau menasehatiku seolah-olah aku gadis labil." Sakura melempar pakaian ke arah Sasori, lalu tersenyum tipis.

"Kau itu tergolong masih labil. Di usiamu saat ini pola pikirmu masih berubah-ubah." Sasori balik melempar pakaiannya ke arah Sakura. "Sekarang aku tanya, apa definisimu tentang berkencan?"

"Em, hubungan mendalam antara dua manusia berbeda gender yang saling tertarik. Membentuk komitmen?"

"Komitmen tidak dibentuk dengan mudah, bahkan untuk orang yang sudah berpacaran selama sepuluh tahun. Jangan memberikan segalanya sebelum komitmen itu ada. Cerna itu baik-baik."

"Lalu menurutmu hubungan itu hanya bersosialisi dengan kekasih? Kau mengucapkan seolah-olah kau tidak pernah berpacaran, kak.

"Aku tidak memungkiri bahwa kebayakan hubungan melibatkan seks. Hanya saja, saat ini aku bicara dengan adikku sendiri. Kau itu seorang gadis. Kewajibanku untuk memberitahumu. Apa kau pikir percakapan seperti ini akan terlontar dari mulut ayah? Tidak ada toleransi seks untuk anak gadisnya." Sasori meraih gitarnya kembali. Suasana menjadi hening, Sasori memetik gitar dan Sakura mencerna semua perkataan Sasori sambil melipat baju.

"Kak, Pola pikirku akan berubah seiring aku beranjak semakin dewasa." Ucap Sakura kemudian. "Percayalah padaku."

Sasori hanya tersenyum. Petikan gitarnya mengiringi Sakura melanjutkan pekerjaan mengepak barang kembali. Lima menit kemudian Naruto bertamu mengenakan piayama putih bergaris, pria itu bermaksud mencari sebotol susu lalu terbaring di sofa mendengarkan alunan gitar Sasori. Sakura bergerak mengambil ampop di samping akuarium lalu menyodorkannya pada Naruto.

"Naruto. Kau mendapat salam dari seseorang."

"Siapa?"

"Banci studio foto." Sakura terkekeh sedangkan Sasori tersenyum tipis. Naruto memasang wajah datar malas menanggapi. Ia membuka amplop hasil cetakan foto tadi siang dan tersenyum.

"Lihat gayamu? Kau berlagak cool. Apa karena banci foto itu?" sindir Sakura.

"Aku memang cool kan? tidak jauh beda dari Sasuke." Sahut Naruto. Sakura hanya memutar matanya saja. "Kau lihat Sasori, posenya ini mirip boy band." Naruto terkekeh. Sasori tampaknya tidak sudi dibilang mirip boy band karena ia menautkan alisnya tidak senang. Mereka pun saling mengejek pose sambil bercanda gurau. Ponsel Sakura lalu bergetar, ia mendapat satu pesan masuk dari Sasuke.

Sasuke-kun : (Foto sup Chickpie buatan Sasuke)

Caption : Jika kau mau, aku akan membuatkannya lagi.

Sakura tersenyum lalu menunjukkan foto itu pada Naruto. Sasori tidak ingin kepo tapi Sakura juga menunjukkan hasil karya Sasuke padanya. Ternyata si Raven semakin antusias meningkatkan khualitasnya menandingi shef Gaara.

"Ah! Kak, aku ingin bernyanyi. Sudah lama kita tidak berduet." Pinta Sakura kemudian. Sasori menoleh tidak yakin ke arah Sakura. "Suaraku sudah berkembang, tidak sebagus Hinata tapi lumayan." Ucap Sakura dengan yakin. Naruto hanya berdengus geli. Sasori akhirnya duduk bersila bersama gitarnya menghadap Sakura.

"Lagu apa?" Tanya Sasori.

"Cinta dan Rahasia." Sakura menggerakkan alisnya naik turun sementara Sasori menautkan alisnya.

"Lagu siapa itu?"

"Lagu penyanyi Indonesia, penyanyinya Yura feat Glenn Fredly. Ada yang mengcover lagu itu di youtube dengan lirik Jepang, lagunya bagus" Sakura menunjukkan lagu itu pada Sasori. Ngomong-ngomong Kenapa dulu kau tidak melihat mv Marvin Gaye?

"Lagu merana?" Tanya Naruto. "Liriknya menggalau."

"Sudah..., yang penting irama lagunya bagus." Sakura tetap pada pendiriannya. Sasori memperhatikan lagu itu dan langsung menguasai cord gitarnya dengan cepat. Boy Avenue Sunagakure siap berduet dengan..., entahlah siapa.

Petikan gitar Sasori merdu mengalunkan irama lagu Yura feat Glenn Fredly, berjudul Cinta dan Rahasia. sakura mengambil napas lalu mulai bernyanyi.

"Terakhir...kutatap mata indahmu di bawah bintang-bintang... Terbelah hatiku antara cinta dan rahasia..."

Suara Sakura standar tapi enak didengar, Suara Sasori yang memperdalam lagu itu. Naruto memejamkan mata mengkhayati irama lagu. Semoga jangkrik-jangkrik malam ini tidak terbawa perasaan karena lagunya begitu dalam teralun pada heningnya bulan menyanding bintang-bintang. Konoha dengan sejuta cinta dan rahasianya.

Good Night.. Sleep tight...


.

"Hati-hati kak. Sampai jumpa lagi." Sakura memeluk Sasori sebelum kakaknya masuk ke ruang tunggu pesawat. "Sampaikan salamku untuk LA." Sakura mencium pipi Sasori.

"Hem. Jaga dirimu baik-baik." Sasori mengusap kepala Sakura.

"Bro..." Naruto betos ala anak muda dengan Sasori lalu berpelukan. "Kabari kami jika sudah sampai. Kami akan menunjungimu sesekali. Aku memberimu waktu mencari pendamping untuk datang di.." Naruto tersenyum mengisyaratkan sesuatu, Sasori cukup paham artinya.

"Sampaikan salamku pada Hinata. Baik-baik dengannya." Sasori menepuk bahu Naruto.

Kini giliran Sasuke, Sasori bertatapan dalam dengan calon adik iparnya selama tiga detik lalu mereka bersalaman. Sasori mendekatkan tubuhnya dan berbisik sesuatu.

"Kekasihmu itu adikku."

"Aa."

Sasori menepuk lengan Sasuke dua kali. "Sampaikan salamku untuk Itaru dan keluarga." Sasori menarik gagang kopernya ke atas, siap melangkah ke dalam. Sakura ingin menangis tapi ia tahan. "Kak, kau akan pulang menjenguk kami kan?"

"Jarak LA ke Jepang tidak sebanding dengan jarak bumi ke luar angkasa. Tentu saja aku akan pulang menjenguk kalian." Sasori membelah kepala Sakura lalu melambaikan tangan. "Aku pergi. Sampai jumpa." Dan Astronot tampan pun pulang ke LA.

.

.

Usai mengantar Sasori ke bandara, Sakura, Sasuke dan Naruto langsung menuju studio. Mobil Sasuke berhenti di parkiran basement, ia dan Sakura melepas sabuk pengaman bersiap untuk turun. "Sasuke-kun, jangan lupa makan siang tepat waktu. Selamat bekerja pak CEO." Sakura menepuk pundak Sasuke sambil tersenyum. Sasuke spontan bergerak condong ke samping bermaksud ingin mengecup tapi Sakura menghindar.

"Area studio." Peringat Sakura. Sasuke menarik tubuhnya kembali, ekspresinya datar mengetuk kening Sakura lalu keluar dari mobil. Sakura hanya tersenyum tipis.

"Hai guys!" Suara Sakura memecah ketenangan ruang background 2D saat dirinya tiba di sana.

"Sakuraaaaa..."

Sambutan meriah tertuju padanya. Beberapa hari tidak bertemu wakil ketua geng membuat sosok Pinky dirindukan. Jika Sakura wakil ketua geng, lalu siapa ketuanya? Tentu saja Neji, karena dia Leader devisi Background 2D. Dan Iruka dianggap sebagai sesepuh berhubung usianya paling tua, padahal usia Iruka baru 30 tahun.

"Eaaaa..."

Dua hari ambil ijin kerja kata 'cie' sudah berevolusi menjadi kata 'eaa..' , Sakura digoda dengan latar belakang kepergiannya bersama Sasuke ke LA. Berita memang menyebar lebih cepat daripada virus influenza dan Sakura sudah tidak heran lagi akan hal itu. Ia memasang wajah datar menuju meja kerjanya. Menyapa Obito yang memandang dirinya secara anggun dan Konohamaru yang sangat bersemangat karena kesepian hatinya terisi kembali, tapi jika dilihat lebih seksama, sepertinya terpancar aura kebahagian yang lebih pada diri Konohamaru. Ada apa gerangan?

"Jadi, apa kau mendapatkan tanda tangan penyanyi Marvin Gaye?" Bisik Konohamaru dengan nada menggoda serta tatapan mata 17 tahun keatas. Sakura malas menanggapi, ia acuh mengerjakan assignment-nya yang menumpuk dengan pipi yang mulai merenora seiring dengan icon Spark-nya yang berkedip-kedip. Sakura membuka pesan spark itu setelah Konohamaru kembali fokus ke layar monitornya. Ada chatting terbuka devisi background 2D.

Obito : guys, Konohamaru ulang tahun hari ini. Aku merencanakan kejutan untuknya.

Dan semua artist background memasang senyuman iblis mereka, kecuali Neji.

Lima belas menit lagi menuju jam istirahat pegawai. Suasana ruang devisi background 2D aman-aman saja. Semua tampak baik-baik saja terekam pada kamera sisi TV di sudut ruangan. Satpam yang sedang mengunyah burger di pusat keamanan yang menjadi saksinya. Awalnya, tingkah beberapa artist seperti Kiba dan tiga pria lainnya wajar-wajar saja saat mereka melihat background milik Obito. Yang lain juga melakukan aktifitas seperti biasa, termasuk Sakura yang sedang fokus melukis.

Lima menit berlalu. Obito memberi kode dengan menggambar tanda silang merah pada layar Photoshop-nya menandakan esekuji dimulai. Komplotan Kiba perlahan bergerak ke arah meja Konohamaru dan suasana damai berubah dalam sekejap saat mereka serempak menyekap target. Akting artist background 2D langsung terbongkar.

"Aaaaarrrgggggg...!"

Konohamaru berusaha merontak, mereka berusaha mengikat tangan dan kaki Konohamaru dengan tali rafia. Sakura ikut membantu menahan kaki Konohamaru, yang lainnya menonton sambil terkekeh. Konohamaru berusaha memberontak tapi dia kalah tenaga. Mereka menjunjungnya ke bawah lantai. Mengikat tangan Konohamaru dengan kencang, mengeluarkan ponsel dari saku celana dan melepas sepatunya.

"Tolongggg...!" Teriak Konohamaru. Suasana ramai, Neji hanya memperhatikan dengan tenang sambil tersenyum tipis. Leader mereka itu diam tapi kompak. Konohamaru dijunjung keluar ruangan seperti tangkapan buruan suku pedalaman. Kejadian itu tidak terlepas dari pandangan Naruto yang berjalan bersama para pria animator. Naruto langsung ikut bergabung. Semua perhatian pegawai tertuju pada keramaian yang diciptakan devisi background 2D sepanjang perjalanan keluar gedung menuju sport center.

Konohamaru dibawa ke kolam renang indoor milik sport center, tidak ada lagi tujuan lain selain menyeburkan pemuda itu. Mereka menurunkan Konohamaru di tepi kolam, melepas ikatan pada kaki dan tangannya.

"Sialan kalian!" Konohamaru terus memohon serta memaki secara bersamaan. Tidak ada ampun ketika Obito yang mengambil alih. Sakura terkekeh sambil ikut melepas tali.

"Pinky! Awas kau, aku akan mengingatmu!" Ancam Konohamaru. "Kiba! hentikan! Kalian!"

"Adukan pada ibumu!" Obito berseringai puas. Menahan rontakan Konohamaru.

Saat tali pengikat terlepas, mereka mengangkat tubuh Konohamaru dan siap melemparnya ke kolam. Konohamaru tidak tinggal diam, dia tidak mau terjun sendiri. Pada detik-detik kesialannya, tangan Konohamaru berhasil menggeret jaket Sakura dan kejadian terjadi begitu cepat sampai tidak bisa menghindar.

"KYAA...!"

BYUUUUURRRRRR...!

Konohamaru terlempar bersama Sakura dan seorang artist pria. Semua artist background 2D tertawa terbahak-bahak. Tenten sampai bersujud-sujud menahan perutnya yang sakit di samping Neji yang tenang sambil tersenyum tipis.

"Hahahahahahah..." LOL (Laugh of Loud)

"Kurang ajar!" Seru Sakura, wajahnya gelagapan tertepa air kolam.

"Rasakan itu!" Seru Konohamaru, dia berenang menuju ke tepian dan spontan semua orang bubar jalan menyelamatkan diri masing-masing jika tidak akan digeret ke kolam.

Tiga orang yang menjadi korban ulang tahun termasuk Konohamaru sendiri, pergi ke kamar mandi umum sport center setelahnya. Beruntung bagi Konohamaru dan satu artist pria lainnya karena Obito sudah menyiapkan baju ganti dari rumah, satu baju ganti untuk Konohamaru dan satu baju ganti untuk berjaga-jaga. Tapi bagaimana nasib Sakura? ia meringkuk kedinginan di depan wastafel kamar mandi menungu Ino dan Tenten mencarikan baju ganti ke kelas fitnes dan yoga.

"Ah Lee!" Panggil Tenten. Lee yang mau masuk ke ruang fitness pun menoleh.

.

.

"Dari mana kalian mendapatkan pakaian ini?" Sakura mengangkat pakaian olahraga ketat model terusan berwarna hijau. Pakaian itu terbuat dari bahan fiber elastis.

"Ini punya Lee, sudah... ganti pakai ini. Tidak ada pakaian lain." Suruh Tenten dan dugaan Sakura benar.

"Apa kau gila? aku tidak mau memakainya." Tolak Sakura mentah-mentah.

"Berhenti manja, kau mau mengigil kedinginan? sementara dilapisi dengan jaket Tenten. Sampai ruangan kau ganti dengan coat panjangku." Ujar Ino. Tidak ada pilihan lain dan Sakura pada akhirnya terpaksa memakai baju olahraga Lee.

"Pfft...!" Ino dan Tenten menahan tawa melihat penampilan Sakura bak ketimun hijau.

"Ingatkan aku tanggal hari ini." Sakura menatap malas dua rekannya itu. Tenten menyodorkan jaketnya dan sialnya jaket itu cuma sepanjang pinggang. Penampakan kaki Sakura terlihat, ia seperti memakai legging hijau ketat, terihat sangat lucu.

.

.

Ino dan Tenten mengimbangi langkah cepat Sakura saat mereka keluar dari sport center. Sakura tidak mengenakan alas kaki, ia menjinjing sepatunya yang basah, holly craps, penampilan freak-nya itu mulai mencuri perhatian para pegawai yang berlalu lalang, secepatnya harus menggati jaket Tenten dengan jaket Ino jika ingin mengisi perut di kantin. Lahkah Sakura semakin cepat saat menelusuri taman dan sialnya... oh tidak! malah berpapasan dengan gengster Yakuza. Shannaro!

"Sakura?" Gaara tidak mungkin melewatkan Sakura begitu saja apalagi penampilan Sakura yang aneh, tapi seorang Gaara sudah tidak terkejut lagi jika gadis itu tampil aneh, pasti ada alasannya.

"Pinky-head, kau usai berenang? musim dingin seperti ini?" goda Deidara, gengster Yakuza terus berjalan sambil senyum-senyum melihat Sakura, gadis itu menggeleng dan tersenyum malu, kemudian ia dan Gaara berjalan di belakang Ino, Tenten dan lainnya.

"Apa kau masuk tong sampah petugas kebersihan lagi?" tanya Gaara.

"Tidak. Aku terjebur ke dalam kolam renang. Konohamaru ulang tahun tapi aku kena sialnya juga." jawab Sakura. Gaara tersenyum mendengarnya.

"Kau ingin kupinjamkan treningku lagi?" Gaara mungkin prihatin dengan penampilan Sakura.

"Ah, tidak terimakasih Gaara-san." Sakura menolak, bisa panjang urusannya jika pinjam trening Gaara. Kau benar Sakura, Sasuke tidak akan keberatan jika kau memakai pakaian Lee daripada pakai trening Gaara.

Sakura ingin mempercepat langkah saat ia mulai menjadi pusat perhatian, seakan-akan gadis itu adalah model fashion musim dingin yang mengenakan baju bertema urban winter."Gaara-san aku duluan ya." Sakura mempercepat langkah tapi Oh man! malah berpapasan dengan Sasuke dan Jugo, padahal dua orang ini yang paling Sakura hindari. Tenten dan Ino spontan menoleh kebelakang dan mereka tersenyum.

Sasuke mengerutkan alisnya sambil melihat penampilan Sakura dari atas sampai bawah. Jugo mungkin sedang menahan senyum karena wajahnya itu kentara sekali. Sudah Juugo... tertawa saja, tidak usah ditahan.

"Sasuke." Gaara melewati Sasuke sambil menyapa.

"Aa." sahut Sasuke, mereka bertatapan sekejap sampai Gaara berlalu pergi. Perhatian Sasuke kembali tertuju pada Sakura, pria itu tidak banyak bertanya, ia hanya melepas jas coat-nya lalu menyodorkannya pada Sakura.

"Aku akan menghubungimu nanti." Sasuke melangkah pergi. Jugo mengangguk pada Sakura dan beranjak mengikuti Sasuke.

.

.

Sakura meletakkan nampan makanan di hadapan Ino dan Tenten. Setelah berganti jaket dan mengambil sandal Ino, gadis itu mengisi perutnya yang keroncongan ke kantin. Mereka duduk di pojokan, Sakura menatap malas Konohamaru yang tersenyum tipis padanya di seberang sana. Kenapa Kesialan ini selalu menimpa dirinya?

"Kau memakai coat Sasuke?" Ino memperhatikan Sakura, kekasih Sasuke itu sudah terbungkus rapi dengan coat hitam yang kebesaran di tubuhnya, menutupi tubuh hijau Sakura hingga selutut. Tenten tersenyum geli, ia menggoda penampilan Sakura dan mereka harus mendengar omelan Sakura selama lima menit sampai gadis itu terdiam setelah satu suapan masuk ke dalam mulutnya, mengubah mood dalam sekecap lidah.

"Jadi bagaimana?" Tenten membelah sumpitnya dan Sakura merasakan firasat tidak enak kembali. "Semalam di LA. Apa power ranger hitam sudah bersatu dengan power ranger pink?"

Spontan Sakura menautkan alisnya, istilah Tenten semakin imajinatif. "Tenten, kadang aku berpikir kau tidak tepat kondisi dan waktu." jawab Sakura.

"Lalu kapan? tunggu kau mengundang kami minum teh di apartemenmu? bahkan kita tidak akan mendapatkan kesempatan itu karena mulai malam ini kau tidak akan pernah free sepulang kantor. Lagu Marvin Gaye akan selalu diputar setiap malam."

"Tenten..." Sakura mendelik, wajahnya merona, tangannya bergerak cepat memukul-mukul ke arah Tenten namun tidak sampai kena. Ino terkekeh melihat ekspresinya. "Tega-teganya kalian berdua menjebakku." Sakura menuding dengan sumpit.

"Kami tidak menjebakmu, kami membantumu menuju kebahagiaan. Ya walau sedikit diluar dugaan kami kalau istilah itu cukup menginspirasimu sampai kau menjadikannya sebagai kata magic."

"Kalian gila. Kau kira aku hanya menjadikannya kata magic? aku juga menjadikannya sebagai kata salam. Aku mengucapkannya di depan Gaara dan Deidara." Sakura lebih merendahkan suaranya. Tenten dan Ino anatara terkejut dan ingin tertawa. Sakura menusuk lauknya dengan ganas, ia mengomel selama makan.

"Sudah. Berhenti mengomel. Wajahmu bisa jelek saat bertemu Sasuke pulang kerja nanti." Ucap Ino. Sakura lalu terdiam, ia memikirkan sesuatu dan raut wajahnya kembali ke bentuk normal. Ino berhasil.

"Ah, ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaan kami." Sambung Tenten. "Terjadi sesuatu di LA atau tidak?"

"Tidak."

"Serius? Lalu apa saja yang kalian lakukan di sana? Saling bercerita dongeng?"

"Rahasia." Sakura menjulurkan lidahnya. Tenten semakin penasaran.

"Kalau Rahasia berarti terjadi sesuatu." Goda Ino. "Atau..., kalau tidak terjadi sesuatu sat itu, berarti malam ini terjadi sesuatu. Kakakmu sudah pulang kan?"

Sakura tidak menjawab dan ia memalingkan wajahnya ke samping. Pikirannya mengembara liar. Benar juga, Sasori sudah kembali ke habitatnya. Bukankah ia dan Sasuke bisa bebas di apartemennya?

"Woi." Tenten memetik jari di depan wajah Sakura, membuyarkan lamunan gadis itu. "Simpan imajinasi liarmu untuk nanti, habiskan makan siangmu agar tenagamu fit." Goda Tenten. Sakura malas menanggapi, ia berlagak santai walau otaknya sedang berdiskusi.

.

.

Sakura memandang wajah Sasuke yang fokus saat menyetir. Dilihat dari sudut manapun kekasihnya itu selalu terlihat artististik. Sakura jadi penasaran pose apa yang bisa membuat seorang Uchiha Sasuke tampak aneh. Kesempurnaan bentuk fisiknya itu sangat cocok dijadikan model anatomi di kelas seni rupa. Pasti semua gadis akan mendapatkan nilai A, bahkan A++ jika lebih konsentrasi memperhatikan setiap lekukan tubuh Sasuke secara mendetail. Jangan lupakan tisu.

"Apa memandangiku begitu menyenangkan?" suara Sasuke membuat sosoknya semakin seksi. Hei, apa yang sedang kau pikirkan Sakura? jangan mesum!

"Sasuke-kun, apa kau bisa melukis?"

Sepertinya kita melewatkan sesuatu di kepala Sakura.

Sasuke menoleh sekejap, "Memangnya kenapa?"

"Tidak, hanya ingin tahu saja. Selama ini aku sering melukis orang-orang tapi aku sendiri jarang dilukis. Aku ingin tau seperti apa bentukku di dalam karya orang lain."

"Kau ingin aku lukis?"

"Ya. Jika kau mau. Kalau sedang lelah juga tidak apa." Sakura berharap Sasuke mengatakan 'baiklah.'

"Kau tidak keberatan menjadi salah satu karya Pablo Picasso?" Tanya Sasuke.

"Tidak masalah, asalkan letak hidungku tidak terlalu aneh." Sakura terkekeh.

Usai makan malam, Sakura mengambil satu buku sketsa dan satu kotak pencil di kamarnya. Peralatan gambar itu sudah lama tidak difungsikan lagi semenjak ia pindah ke Konoha. Sakura lebih sering berurusan dengan kanvas dan cat air. Di studio pun begitu, kesehariannya berkutat dengan background membuat ia tidak begitu berselera menyentuh peralatan menggambar setiba di rumah. Sakura sejenak berpikir apakah mereka akan melakukan adegan Titanic, Rose dan Jack tapi setelah dipikir-pikir sekali lagi sebaiknya jangan. Tunggu. Di pikir sekali lagi? Berarti dari tadi Sakura memikirkan itu!

"Sasuke-kun, ini..." Sakura menyodorkan peralatan menggambar pada Sasuke, pria itu sedang duduk di sofa menikmati segelas ocha panas sambil menonton TV. Sasuke menerimanya lalu membuka buku sketsa milik Sakura bersampul merah tua. Sasuke melihat gambar demi gambar karya Sakura. Kebanyakan Sakura menggambar seorang anak kecil. Sasuke membuka halaman selanjutnya dan terpampang wajah Utakata. Shannaro!

Sketsa itu dibuat tiga tahun yang lalu, tertera pada tanggal yang ditulis Sakura di dekat parafnya. Sasuke tidak berkomentar apapun dan Sakura sendiri bingung mau mengatakan apa. Lukisan itu hanyalah sebuah karya yang menyimpan masa lalu. Sasuke hanya memandang Lukisan sekejap lalu menuju ke lembar terakhir. Gambar seorang anak kecil perempuan berambut pendek yang cantik.

"Siapa dia?" Tanya Sasuke.

"Dia anak dosenku, namanya Sarah. Beberapa kali dia ikut saat ayahnya mengajar di kelasku. Umurnya delapan tahun. Sangat cantik bukan?"

"Aa." Sasuke memandang sketsa anak perempuan itu cukup lama lalu membuka lembar selanjutnya. Kosong. Saatnya diisi dengan wajah Sakura.

"Kau tidak mau mandi atau bersih-bersih dulu Sasuke-kun? Santai saja, ini bukan tugas akhir kuliah. Hahaha..." Canda Sakura. Sasuke mengatakan ia mandi nanti saja setelah menggambar. Mereka pun bersiap-siap.

"Enaknya aku duduk dimana?" Sakura mengeret kursi makan ke ruang tengah. Sasuke menunjuk sofa dan Sakura berpose terbaring seperti Rose setelah Sasuke duduk di kursi berjarak satu meter darinya. Sasuke siap menggambar.

Sakura tersenyum melihat ekspresi Sasuke yang serius, ini pertama kalinya ia melihat pria itu melakukan sesuatu di luar aktifitasnya. Rasanya sangat menyenangkan dan menghibur walau entah bagaimana hasil karya Sasuke nanti. Sakura sendiri tidak sabar menunggu hasilnya.

"Sasuke-kun, kalau hasilnya bagus kau akan kuberi hadiah."

"Aa. Aku pegang ucapanmu." Dengarkan itu Sakura. Hati-hati.

Setengah jam kemudian.

Sakura tidak yakin setelah melihat gambar dirinya sendiri. Ekspresi wajahnya sulit diartikan. Mungkin saking terpesona dengan hasil karya Sasuke, gadis itu tidak berkomentar apapun. Sakura hanya mengucapkan satu kalimat tanya untuk mewakili apa yang ia rasakan saat ini.

"Sasuke-kun, ini aku?"

Lukisan Sasuke menunjukkan sebuah karya seni bernilai tinggi. Saking tingginya sampai para arwah pelukis terkenal akan mengadakan rapat untuk membahas bagaimana caranya menerjemahkan lukisan itu agar bisa dianggap mirip Sakura. Penasaran? aku akan mendeskripsikannya tapi ijinkan aku tertawa terlebih dahulu.

Sepuluh menit kemudian.

Lukisan Sakura. Bentuknya seperti boneka berbie yang terbuat dari marshmallows. Lekukan tubuhnya meliuk-liuk bagai akar pinang. Rambut Sakura terlihat normal tapi seperti habis diribonding dengan obat pengeras berkadar tinggi. Mata Sakura indah walau sedikit tidak simetris. Satu hal yang Sakura syukuri, hidungnya tidak mirip Dora Maar. Secara keseluruhan Lukisan itu masih layak dibilang manusia. Tidak begitu mengubah persepsi tentang keindahan suatu seni tapi cukup membuat orang lain tertawa.

"Bagaimana?" Sasuke merengkuh pinggang Sakura, gadis itu terarah untuk duduk di pangkuan Sasuke.

"Lukisanmu bagus Sasuke-kun." Sakura ingin tertawa tapi ditahan. Walau Sasuke bisa dibilang tidak mahir dalam melukis, Sakura menganggap semua gambaran itu bernilai, termasuk gambaran anak kecil yang sangat absurd namun sangat berseni. Anak kecil adalah pelukis terhandal di dunia. Hasil karya Sasuke ini menjadi karya favorit Sakura. Coba kalau Gaara yang melukismu...

"Mana hadiahku?" Sasuke mempererat rengkuhannya dan Sakura mulai bergerak gelisah.

"A-Aku akan gantian menggambarmu." Sakura tersenyum. "Dan..., tanpa pakaian." Ide liar Sakura terlontar begitu saja, lidahnya sudah tidak bisa membendung setiap niat yang terimpan. Sakura cukup ragu tapi ia menginginkan hal itu terjadi, malam ini mood-nya untuk menciptakan hasil karya sedang ditantang. Ekspresi datar Sasuke pun sedikit berubah.

"Tanpa pakaian?" Sasuke memastikannya. Sakura mengangguk yakin walau malu-malu. "Itu hadiahku?" Sasuke menyisir ujung rambut Sakura dan gadis itu mengangguk kembali. "Itu seperti hadiahmu, bukan hadiahku." Sasuke tersenyum samar.

"Tidak Sasuke-kun. Itu hadiahmu. Ini eksklusif." Sakura tahu ini ide buruk tapi Sasuke akan menjadi objek gambar yang sempurna, dan sekalian mencari kesempatan agar bisa menikmati kesempurnaan tubuh Sasuke. Siapa yang mau menyia-nyiakannya? apalagai Sasuke adalah kekasihnya sendiri.

"Baiklah, tapi kenapa harus telanjang?" Pertanyaan Sasuke menyimpan banyak arti tersirat walau otak Sakura hanya mampu mengartikan seadanya.

"Karena anatomi tubuh manusia itu seni. Pelajaran saat kuliah. Kami sering menggambar model pria bertelanjang dada."

"Kalau begitu ulang. Aku akan menggambarmu lagi." Goda Sasuke.

"Lain kali saja. Waktunya mepet." Tolak Sakura Lagi pula dia enggan tubuhnya digambar seperti akar pinang lagi. Sia-sia jika harus telanjang. Tapi, ngomong-ngomong kenapa wajahmu memerah Sakura? sudah terima saja tawaran Sasuke itu.

"Kita mulai sekarang, bersiaplah Sasuke-kun..." Sakura merangkul leher Sasuke, tatapannya melembut. Kalau sudah siap berdirilah, kenapa malah bertengger di pangkuan Sasuke.

"Sebaiknya kau menggambarku dengan bagus. Atau tidak aku akan menuntutmu." Sasuke mengetuk dahi Sakura lalu bangkit dari kursi.

Sakura melakukan persiapan. Ia mengambil bed cover dari kamarnya, menyeting tempat di sofa, meredupkan lampu ruang tengah, mematikan televisi. Sakura mengeluarkan semua pencil dari dalam kotak, banyak sekali jenis pensilnya, dari pensil B, 1B sampai EE yang sangat tebal seperti spidol. Sakura duduk di kursi mengatur nafas, mempersiapkan mental sebelum model gambarnya tiba. Tisu sudah siap di samping kiri. Sasuke kemudian keluar dari kamar hanya mengenakan boxer biru.

Wow...

hanya kata wow yang terlintas ketika Sakura dihadapkan susunan tubuh seorang kaum Adam yang jantan. Nyaris sempurna. Nyaris, Karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Tercengang untuk kedua kalinya. Sakura terpaku, berjuang mempertahankan akal sehatnya agar tidak mengeluarkan cairan darah dari hidung. Emerald-nya bergerak mengikuti gerak Sasuke menuju sofa.

"Duduk di sini?" Tanya Sasuke. Sakura mengangguk, ia mengalihkan pandangan sambil bertanya dalam hati kenapa Tuhan menciptakan tubuh sefantastis seperti itu. Sasuke mengambil pose duduk santai, punggunganya ia sandarkan pada tumpukan bantal di tepi sofa, satu kakinya terangkat dan membelah selimut bed cover yang menutupi bagian tengahnya, bagian tertentu yang bisa merusak keimanan Sakura. Selimut itu mengkerut-kerut secara artistik. Memperindah keseluruhan tubuh bagian atas Sasuke dan sebagian otot betisnya fantastis. Ia benar-benar tampak seperti malaikat tanpa sayap yang jatuh ke bumi, tepatnya ke apartemen Haruno Sasori. Tubuh Sasuke sangat atletis. Otot-otot lengannya seksi, perutnya ramping, dadanya bidang seperti landasan pesawat terbang, sangat cocok untuk mendaratkan bibir ke sana. Saraf-saraf Sakura tergelitik, ia mengamati Sasuke dalam kebisuan. Tapi ada yang harus ia lakukan saat ini, ya, menggambar Sasuke. Jangan lupakan tujuan untamanya. Profesionalah.

"Ada apa? Kau tidak jadi melukisku?" Sasuke tersenyum tipis. Sakura memusatkan kefokusannya kembali sambil berdeham. Wajah Sakura berubah serius mengamati Sasuke sekejap dan ia mulai menggores pensiln di atas lembar kosong. Dimulai dari garis wajah Sasuke yang tegas, tangan Sakura seakan tidak ragu menuangkan setiap goresan membentuk wajah sempurna itu. Mata Sasuke tajam, menyimpan pesona sang raja malam yang abadi.

"Serius sekali."

Suara Sasuke membelah keheningan. Sakura mengamatinya secara seksama, setiap detail wajah Sasuke membuatnya tidak pernah mengurangi rasa takjub sedikit pun saat goresan demi goresan terbentuk. Sakura mulai khawatir bahwa ia tidak akan pernah bisa berhenti merasa takjub mengingat wajah tampan kekasihnya.

"Sakura, tadi kau memakai pakaian siapa?"

Pertanyaan Sasuke membuat goresan garis hidungnya sedikit melenceng. Sakura kehilangan kendali atas tangannya saat mengingat kostum freak tadi. "Itu baju olahraga milik Lee, tadi siang saat devisi kami menjahili Konohamaru yang berulang tahun, aku ikut terjebur ke dalam kolam." Jawab Sakura sambil menghapus hidung Sasuke yang salah.

"Lalu kenapa sampai kau bisa memakai baju Lee?" Sasuke tidak akan cemburu pada seorang Lee tapi mungkin dia heran kenapa Sakura bisa berakhir memakai baju itu. Memangnya kau akan mengijinkan Sakura memakai trening Gaara?

"Ino dan Tenten yang mencarikan baju ganti untukku, beruntung mereka mendapatkannya, jika tidak aku bisa masuk angin." Sakura ragu menyebutkan itu sebagai keberuntungan. Sasuke tidak mengulasnya lebih jauh, ia terdiam sambil memandang ke arah jendela. Tidak bisa banyak bergerak selama Sakura masih menggores.

"Sasuke-kun kau terlihat sibuk hari ini. Apa kegiatan sedang padat?"

"Aa." Sasuke hanya menjawab singkat dan Sakura tidak bertanya lebih jauh, ia berpikir membuat Sasuke menjadi terbuka membutuhkan proses.

Sakura kembali fokus. Emerald-nya bergerak secara bergantian antara memandang tubuh Sasuke lalu menuangkannya kedalam goresan. Bukan matahari yang begitu gumintang, bukan rembulan atau bintang yang begitu tinggi, atau untauan spoi yang tak pernah habis saat berhembus. Tubuh Sasuke memang menawan, Sakura memperdalam goresannya, memberi dimensi pada tubuh fantastis itu hingga Sakura mampu melihat selaksa keindahan dari anugrah terindah yang membalut jasad Sasuke.

'Kau laksana sepenggal kisah yang takkan punah.'

Sakura menulis tanggal dan paraf di ujung lukisan. Ia berdiri lalu menghampiri Sasuke, memperlihatkan hasil karyanya. Para roh pelukis terkenal tidak akan melakukan rapat untuk mendeskripsikan bahwa sosok yang Sakura gambar adalah Sasuke.

"Kau suka?" Sakura duduk di tepi sofa. Jantungnya bergetar menghirup aroma tubuh Sasuke. Aromanya begitu nikmat, sangat menggoda untuk mendekat lalu mencium kelembaban tubuh yang tercipta usai aktifitas sepanjang hari itu.

Sasuke cukup lama memandang lukisan dirinya, ia tersenyum tipis lalu menutup buku sketsa dan menarik tangan Sakura untuk mendekat. Sialnya, Sakura tidak bisa mengelak, ia bergerak maju, menindih tubuh Sasuke saat tangan kekar itu menuntunnya naik ke atas. Sakura duduk di pusat tengah tubuh Sasuke. Darahnya berdesir seperti air yang mengalir ke samudera gairah. Sakura menopang dirinya, memberi jarak karena ia perlu bernafas, tangannya menyentuh kulit perut Sasuke. Darah dan daging. Nyata. Daya tariknya begitu kuat menghisap udara dari paru-paru Sakura.

"Mau hadiah?" Sasuke berseringai. Suaranya menyiratkan sesuatu yang menggoda.

"Maaf, aku profesional." Tolak Sakura.

"Aku tidak meragukannya." Sasuke menangkup pipi Sakura. Sentuhannya membuat kepala Sakura bergerak merasakan permukaan telapak tangan gagah itu. Matanya terpejam melawan godaan gairah dalam dirinya sendiri. "Tapi Kau tidak bisa menolak hadiah dariku." Ketegasan Sasuke menarik Sakura lebih dalam. Sentuhannya memancarkan kekuatan yang nyata. Tangannya menarik lengan Sakura, sekujur tubuhnya tertarik ke depan. Kenyataan bahwa Sasuke memiliki pengaruh yang besar begitu mengesalkan dan menggiurkan disaat bersamaan.

"Kau menjebakku." Sakura memberengut, wajahnya memanas ingin pecah.

"Kau yang menempatkanku dalam situasi ini. Kau harus menerima kosenkuensinya." Sasuke menekan tengkuk Sakura. Pipi mereka saling menempel, tangan Sakura bergerak menyentuh permukaan dada Sasuke yang keras. "Ini adalah hadiah kita berdua." Bisik Sasuke, matanya terpejam merasakan telapak tangan Sakura bergerak menyentuh lehernya.

"Berarti kita impas?" Gumam Sakura. Bibirnya menyapu telinga Sasuke, membuat ia dapat merasakan leher Sasuke yang menegang melalui sentuhan tangannya.

"Hn." Sasuke menempelkan bibir ke leher Sakura. Menyesap aroma gadisnya yang begitu menggiurkan. Sakura terpejam saat bibir itu mengecup lehernya, tangannya menyisir lembut rambut Sasuke, dan mencengkram ketika ciuman itu berubah sedikit nakal.

"Ugh." Erang Sakura. Kedua tangan Sasuke menekan punggungnya lebih posesif, bibirnya ditarik dan berpindah tempat, memiringkan kepala, menempelkan mulutnya ke mulut Sakura. Bekecupan mesra sambil tersenyum, saling memancing untuk tidak menyudahi kecupan itu, gairahnya terasa saat mereka melepas ciuman mereka beberapa kali.

"Emmm!" Sakura mengerang dalam menciuman Sasuke yang lebih dalam. Bibir mereka menyatu cukup kuat, lidah Sasuke menyelinap masuk, mencicipi Sakura dengan belaian panjang dan perlahan. Ciumannya penuh pecaya diri, ahli, dan agresif. Cukup membuat Sakura lebih bergairah dan merasa khawatir. Merasa ini cukup, Sakura pun menarik kepalanya sebelum semuanya menjadi lebih dari cukup.

"Dasar." Sakura menepuk dada Sasuke lalu mengusap bibirnya. Sasuke berseringai seksi, parasnya lebih menggoda untuk melanjutkan adegan tadi.

"Kenapa?" Tanya Sasuke, tangannya masuk ke dalam kaos Sakura, menyentuh kulit punggung dengan lembut. Membuat bulu kuduk Sakura langsung bergidik.

"Hadiahnya sudah lebih dari cukup. Sekarang saatnya kau membersihkan diri lalu kembali ke rumah." Sakura menepuk bahu Sasuke.

"Kau mengusirku?" Sasuke memasang wajah cemberut yang menggoda. Arg!

"Aku tidak mengusirku. Mukade-san akan khawatir jika kau tidak pulang." Canda Sakura.

"Mukade tahu dimana dia bisa menemukanku." Sasuke menarik tali mengait bra lalu menghempaskannya. Bunyi Tak! terdengar mengiringi keterkejutan Sakura.

"Sasuke-kun!" Sakura memukul dada Sasuke, dengan lemah lembut tentunya, karena jika tidak dada Sasuke bisa bolong. "Kau seperti remaja mesum. Mereka suka menarik bra anak perempuan."

"Mereka pernah menarik bramu?" Sasuke menautkan alisnya.

"Ya. Waktu di SMP dan mereka habis ditanganku." Sakura mengepalkan tangannya.

"Kau mengancamku?" Tak! Sasuke menarik tali bra Sakura untuk kedua kalinya.

"Hentikan itu!" omel Sakura, ia menyaut buku sketsa yang tenggelam di pinggiran sofa lalu beranjak dari tubuh Sasuke dengan wajah cemberut tapi menggemaskan. Aww... Sudah sikat saja dia Sasuke, pertahanannya itu sudah melemah.

Sasuke pergi membersihkan diri sementara Sakura membereskan ruang tengah setelah mengulurkan baju ganti Sasuke. Diselang-selang kesibukannya Sakura duduk di sofa melihat hasil lukisannya kembali. Memandangi keindahan Sasuke di dalam sketsa seni. Sakura tersenyum. Ini sempurna, apa dia harus memajang lukisan itu pada pertunjukan seni tahunan di kampusnya? alumni boleh ikut berpatisipasi menyumbangkan karya. Tapi Sakura juga tidak rela jika wanita lain melihat keindahan Sasuke. Tidak. Lebih baik disimpan saja. Sakura menutup buku sketsa lalu beranjak dari sofa, langkahnya terinterupsi saat ponsel Sasuke yang diletakkan di meja akuarium bergetar. Seseoarang menelpon.

Sakura mendekat. Dia tidak berniat mengangkat telpon itu tanpa seijin Sasuke. Tapi secara naluriah dirinya menengok.

Ayame calling...

Deg.

'Kenapa Ayame menghubungi Sasuke?' itu yang menjadi pertanyaan Sakura saat ini. Ia tahu Ayame dan Sasuke masih berteman, tapi masih menjalin komunikasi adalah sesuatu yang tidak Sakura ketahui. Ponsel itu berhenti bergetar. Sakura masih berdiri memandang layar ponsel Sasuke sampai satu pesan masuk diterima dan Sakura berani bertaruh bahwa Ayame yang mengirim pesan itu. Jangan dibuka. Itu yang Sakura pikirkan saat ini, menjadi seorang kekasih bukan berarti bisa seenaknya melanggar privasi pasangannya tanpa ijin. Tapi, rasa penasaran seorang wanita lebih besar dari pada sekedar menerapkan untaian kata sikap. Mengendalikan diri. Sakura meletakkan ponsel itu kembali lalu membereskan alat gambar dalam keheningan. Merasakan sesuatu yang aneh menjalar dalam dadanya.

Sasuke keluar dari kamar mandi, wajahnya segar dan rambutnya setengah basah. Sakura selesai membereskan ruang tengah, saat ini ia sedang menonton televisi, melihat acara komedi yang menghibur tapi wajah Sakura tidak menampakkan ekspresi yang sedang terhibur. Raut wajahnya lebih pantas dibilang sedang berpikir. Sasuke meraih ponselnya di atas meja akuarium lalu ikut duduk di samping Sakura, di atas karpet, bersandar pada kaki sofa.

"Tadi Ayame menghubungimu." Sakura Langsung ke intinya. Mengucapkan pemberitahuan itu tanpa memandang wajah Sasuke, padangannya menetap pada layar televisi.

"Aa." Sasuke melihat satu misscall dan satu pesan masuk. Suasana hening. Sakura tidak berkomentar apapun, bersikap acuh saat Sasuke membaca pesan masuk dari Ayame walau sebenarnya cukup penasaran dengan isi pesan itu. Sasuke tidak membalas pesan Ayame, ia meninggalkan ponsel allu mengalihkan perhatiannya pada Sakura yang serius menonton siaran televisi, terlalu serius untuk menonton acara komedi yang dipenuhi canda tawa itu dan Sasuke menebak sesuatu sedang dipikirkan Sakura. Tangan Sasuke lalu bergerak menyentuh kepala Sakura.

"Ayo istirahat." ajak Sasuke.

"Kau menginap?" Seharusnya Sakura senang saat Sasuke mengatakan 'Hn'. Wajah datar Sakura menampakkan mood-nya memang sedang terganggu. "Mungkin Mukade-san akan benar-benar mencarimu."

"Berarti kita akan kedatangan tamu malam ini." Sahut Sasuke, ia melihat televisi lalu menoleh memandang Sakura kembali. "Aku mengantuk."

"Ah. Kau bisa tidur duluan Sasuke-kun. Aku mau mandi dulu setelah melihat ini." Sakura mengarahkan remote ke arah televisi. Sasuke diam, masih memandang Sakura, mungkin sedang membaca pikiran gadis itu.

"Jam berapa acara tv ini selesai?" tanya Sasuke.

"Mungkin setengah jam lagi." Sakura mengedikkan bahu.

"Aku tidak bisa menunggu selama itu. Apa aku harus membawamu ke kamar mandi sekarang?"

Sakura langsung menoleh. Wajah datarnya sedikit berubah, tidak banyak karena ketidak stabilan mood gadis itu masih mendominasi. Tapi, tatapan intens Sasuke berhasil membuatnya sedikit gugup. "Tidak perlu. Aku bisa ke kamar mandi sendiri." Kalimat itu lebih berpihak pada mood Sakura.

"Kuhitung sampai lima. Jika kau belum beranjak dari sini, aku akan memandikanmu." Belum sempat Sakura menyaut, Sasuke sudah mulai dari angka satu. Merasa terancam, ekspresi Sakura berubah gelisah. "Dua..., Tiga..., em..." Sakura langsung berlari menuju kamar mandi. Sasuke tersenyum tipis lalu meraih ponselnya kembali.

Ayame : 'Sasuke, apa kau sedang sibuk? Aku akan ke Konoha dalam waktu dekat ini.'

Sasuke membaca pesan itu sekali lagi, lalu menghubungi Ayame.

.

Sakura merendam tubuhnya di bak. Mengambil napas dalam, gadis itu bergerak menenggelamkan kepala ke dalam air. Melarutkan pikirannya yang mulai teracuni oleh pemikiran-pemikiran negatif yang terlintas di otaknya. Mengulas kembali tentang sosok Ayame yang pada akhirnya mengusik ketenangan masa lalu. Sakura tahu tidak ada gunanya mengingat hal itu tapi tidak bisa dipungkiri kalau Ayame dan Sasuke mempunyai kedekatan, semua orang punya masa lalu. Memangnya kenapa? Selama dunia ini masih berputar, selama masih ada kata pertemanan, Sakura bisa memakluminya, asalkan 'pertemanan' itu tidak disalah gunakan. Lagipula Yamae sudah bertunangan. Sakura mengenal Sasuke dan dia percaya pria itu. Sama seperti Sasuke yang mempercayainya.

"Haaaaaaa..." Sakura kehabisan udara, ia mengangkat kepalanya dari dalam air, mengusap wajah dengan kedua tangan lalu bangkit dari bak.

.

Padangan Sasuke teralih dari layar televisi saat Sakura keluar dari kamar mandi. Gadis itu memakai handuk kimono , membungkus rambutnya yang basah dengan handuk yang dililit. Sakura bejalan sedikit grogi saat melintasi Sasuke. Onyx kelam itu bergerak mengikuti langkah Sakura menuju kamar. Beberapa menit kemudian Sakura keluar, sudah mengenakan baju tidur, ia mengenakan kaos longgar Sasori berwarna putih dipadu short pant ketat. Sakura mungkin tidak sadar Sasuke sedang terpaku melihat penampilannya karena ia sibuk mengusap rambutnya yang basah di depan pintu kamar. Bagaimana Sasuke? Jagoan masih aman?

"Sasuke-kun, tidur duluan saja jika sudah mengantuk. Aku mau mengeringkan rambut dulu."

"Sakura, kemarilah." Panggil Sasuke. Sakura lalu mendekat, masih menggosok-gosok rambut. "Duduk." Sasuke memerintahkan untuk duduk di depannya. Sakura menuruti saja dan dia duduk bersila membelakangi Sasuke. Handuk yang dipegangnya diambil alih. Sasuke mengusap rambut Sakura. Perlakuannya lembut pada mahkota merah muda itu. Merasa kagum. Karena jika diperhatikan, Sasuke memang tertarik dengan rambut merah muda Sakura sejak lama.

Suasana hening, Sakura mengangkat kedua lututnya yang merapat dalam rengkuhan tangan. Mereka terhanyut kedalam pikiran masing-masing sampai Sakura memutuskan untuk berkomunikasi dengan Sasuke.

"Sasuke-kun..." Panggil Sakura. Seperti biasa Sasuke hanya menyaut dengan kata 'Hn' . Pria itu sedang asik mengusap rambut Sakura. "Bagaimana kabar Ayame?" Gerakan tangan Sasuke sedikit melambat dan Sakura cukup paham dengan respon itu.

"Kabarnya baik." Jawab Sasuke. Sakura memikirkan pertanyaan selanjutnya.

"Apa Ayame sudah tahu tentang hubungan kita?"

"Kurasa belum." Tidak sesuai dugaan. "Sakura, aku dan dia berteman." Sasuke menggaris bawahi kalimatnya sebelum Sakura bertanya lebih jauh. Seakan tahu apa yang Sakura pikirkan.

"Aku tahu itu. Bukankah kau memang berteman dengannya dari dulu." Sakura mengangkat bahu. Bersikap menutupi kekhawatirannya.

"Sudah kering. Ayo tidur." Sasuke mengerudungkan handuk pada kepala Sakura lalu berdiri.

"Ah, ini masih lembab. Kau duluan saja Sasuke-kun..." Sakura ikut berdiri. "KYAA!" Sasuke menjunjung tubuh Sakura tanpa peringatan. Sudah cukup mengulur-ngulur waktu. "Turunkan aku!" Seru Sakura. Tubungnya dihempasakan ke ranjang, tidak sempat bangkit karena Sasuke langsung mengurungnya. Satu tangannya melintang menindih perut Sakura, tangannya yang lain menjadi bantalan kepalanya sendiri. Posisi Sasuke menyamping, kakinya menindih kedua kaki Sakura yang tegak dan rapat. Sentuhan kulit kaki mereka membuat pori-pori kulit Sakura terbuka.

"Kau ini." Sakura berdengus. Kepalanya menoleh memandang Sasuke yang sudah terpejam. Sepertinya memang lelah. Wajar saja Sasuke tidak bisa menahan kantuk saat jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Sakura ingin bangkit meraih selimut tapi tekanan tangan dan kaki Sasuke begitu kuat. "Sasuke-kun, selimutnya..." Erang Sakura. Sasuke membuka mata kembali lalu bangkit menaraik selimut menutupi tubuh mereka berdua hingga atas.

"Hari yang melelahkan?" Sakura memijat kening Sasuke, onyx-nya sudah bersembunyi di balik kelopak mata. "Akhir-akhir ini kau terlihat lebih sibuk dari biasanya. Jangan lupa menjaga kesehatan."

"Hn..." Sahut Sasuke. "Kau bertugas menjaga kesehatanku." Sasuke lebih merapatkan tubuhnya. Mata Sakura terbelalak lima detik kemudian.

"Sasuke-kun!" Sakura menepuk lengan Sasuke. Mulai lagi...

"Sakura, untuk beberapa hari kedepan aku banyak urusan jadi kemungkinan waktu kita akan tersita."

"Hm." Sakura mengangguk, ia mengerti posisi Sasuke. "Yang penting kau selalu sehat. Jangan lupa istirahat yang cukup. Ah! Sasuke-kun.!" Sakura bergerak gelisah. Sebenarnya apa yang Sasuke lakukan di balik selimut itu?!

.

.


.

"Hei, apa kau sudah dengar kabar bahwa studio Gama akan mengurangi tenaga kerja?"

Pagi tidak selalu cerah dan sesuatu tidak selalu berjalan baik. Sebuah rumor beredar dan mejadi perbincangan hangat pagi ini. Darimana rumor ini bersumber? tanyakan saja pada dinding-dinding bangunan karena kabar kadang berhembus dan mengalami penambahan kata dari mulut ke mulut. Dan apa yang Sakura dengar saat ini, di kafetaria, saat ia dan Naruto menjemput minuman penyambut pagi mereka, kabar itu terlontar dari mulut pegawai yang sedang menunggu pesanan di depan meja counter. Serempak Sakura dan Naruto saling bertatapan.

"Ya, aku juga mendengarnya, bisa jadi pengurangan pegawai banyak ditujukan untuk unit 2D karena proyek film kita sudah mau jadi."

"Siapa bilang? unit 3D juga beresiko tinggi. Proyek mereka baru selesai, tidak begitu banyak pekerjaan saat ini, maksudku belum terlalu sibuk dengan film baru mereka."

"Hei, kalian. Dengar kabar dari mana?" Naruto masuk ke dalam obrolan dua pegawai pria itu yang tampaknya berasal dari unit 2D. Sakura hanya menyimak sambil menunggu Izumo menyiapkan pesanannya.

"Kau baru dengar? Gamabunta akan melepas tiga saham, belum diketahui siapa yang akan membelinya." Ucap salah satu dari dua pegawai itu, disaat bersamaan Izumo dan Genma datang membawa pesanan.

"Dua green tea-latte..." Izumo menyodorkan pesanan Naruto dan Sakura.

"Pagi yang cerah tapi tidak terlalu cerah." Sakura mengucapkan kata magic yang boros tapi Izumo terima-terima saja. Naruto masih mengobrol dengan dua pegawai itu ditambah Genma yang sekarang ikut menyimak.

"Ah, ya!" Perhatian Naruto terinterupsi saat Sakura menepuk bahunya, ia berbalik lalu mengambil minuman setelah mengucapkan kata magic asal-asalan. "Perdamaian." Keduanya lalu pergi dari kafetaria.

"Sakura, apa Sasuke pernah menyinggung masalah studio padamu?" Tanya Naruto, mereka berjalan menuju gedung unit 2D.

"Aku baru mendengar kabar itu. Sasuke tidak pernah menceritakan masalah pekerjaan atau sejenisnya padaku." Jawab Sakura. "Apa menurutmu terjadi sesuatu diantara pemegang saham Gamabunta?"

"Entahlah." Naruto mengedikkan bahu, wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu.

.

.

Sakura tiba di ruang background 2D. Sebagian artist sudah datang. Beberapa dari mereka sedang mengobrol di salah satu meja kerja dan Sakura menebak mereka sedang membicarakan isu studio. "Pagi." Salam Sakura pada Konohamaru yang baru saja duduk di meja kerjanya, salah satu dari mereka yang sedang mengobrol melihat ke arah Sakura.

"Ah, pagi Pinky." Konohamaru sedang serius mencari berita di mesin pencarian Google. Sakura penasaran setelah melihat kata kunci yang Konohamaru tulis, ia pun menarik kursi kerjanya mendekat. "Kau pasti sudah dengar beritanya dari Sasuke."

"Belum." Sakura menggeleng. "Aku juga baru tahu." Perhatian Sakura terfokus lada layar monitor Konohamaru. "Ah itu!" Sakura menuding berita yang masuk ke dalam salah satu hot news situs di internet. Disaat bersamaan Obito dan beberapa artist lain berdatangan.

"Kalian berdua serius sekali." Obito mengusap kepala Sakura dan Konohamaru. Dua orang yang dirusak tatanan rambutnya itu tidak merespon. Mereka serius membaca artiket pengalihan saham studio animasi Gamabunta dan Obito hanya memandang mereka sambil menghidupkan PC.

"Obito, kau sudah tahu beritanya?" Tanya Konohamaru kemudian.

"Oh, saham? Sudah..." Jawab Obito santai. Artist background yanglain lalu ikut bergabung di meja kerja Konohamaru, menarik perhatian Ino dan Tenten yang baru saja tiba di depan pintu masuk.

"Sakura, pasti kau lebih tahu detail seluk beluknya." Ucap salah satu artist dan Sakura menggeleng. "Sasuke tidak memberitahumu sesuatu?"

"Tidak guys, aku saja baru dengar hari ini."

"Mereka bilang akan ada pengurangan tenaga kerja."

"Tapi pengurangan tenaga kerja terjadi jika studio sedang dilanda krisis, bukankah mereka hanya menjual saham? Sudah pasti ada konflik di dalam sana." Ucap Kiba dan semua mengangguk setuju.

"Kau benar, menurutmu apa yang dipikirkan ketiga pemegang saham Gamabunta? Berinvestasi di studio ini tidaklah sia-sia guys."

"Tapi siapa yang tahu jika studio ini sedang mengalami kerugian? tiga orang memilih menjual saham dan cabut dari sini." Sahut Salah satu artist. "Secara tidak langsung, perusahaan ini memang sedang merugi, pengurangan tenaga kerja sangat masuk akal guys..."

"Lihat, contohnya Dreamworks. Perusahaan animasi sebesar itu pernah mengurangi sekitar ratusan karyawan mereka karena kerugian penjualan. PHK mencangkup animator, artist layout dan pesonil produksi lain." Ucap salah satu artist lainnya.

"Kau pikir apa? Geenoch mencetak box office tahun ini." Sahut Konohamaru.

"Kau kira studio hanya membiayai unit 3D? Unit 2D juga termasuk tanggungan man. Memproduksi film animasi dananya tidak main-main."

"Bukankah masing-masing unit sudah ada tanggungannya sendiri? berada di jalur dana yang berbeda. Sudah ada yang mengatur sistem finansial." Sahut Tenten.

"Tidak begitu Tenten, memang benar tanggungannya dibagi. Tapi semua jalur itu berasal dari satu titik. Biaya pemeliharaan studio ini tidak bisa dibandingkan dengan hasil penjualan per film." Jelas Ino, ia lulusan manajemen Ekonomi jadi sudah pasti paham.

"Dengar ini, studio melepas tiga investor. Kita tidak tahu alasan pastinya tapi hipotesis sementara menjuru ke arah kerugian perusahaan." Analisis salah satu artist background. Gayanya sudah mirip ditective conan. "Sampai sekarang kita belum tahu pemegang saham selanjutnya. Untung-untung jika pemegang yang saham baru menanamkan modal tinggi? Kalau tidak bagaimana? Dampaknya ke siapa?" Ucap Salah satu artist, dia sangat kritis dan Sakura heran kenapa dia bisa menjadi artist background.

"Tapi analisimu itu masih meragukan man..." Sanggah Kiba. "Ini studio animasi terbesar di Jepang. Terbesar. Mengalami kerugian sudah pasti ada tapi memilih melepas saham? Pasti ada sesuatu yang tidak beres." Kiba bersedekap. Ino dan beberapa orang setuju, ada juga yang tidak bersependapat. Mereka jadi sibuk berdiskusi, sementara Sakura dan Obito hanya menyimak.

"Ah! Guys, bukankah ada lima pemegang saham di perusahaan ini?" Tanya salah satu artist, ia juga bergaya seperti ditective. "Pemegang saham tertinggi menjabat sebagai presiden, sedangkan hampir sebagian saham akan terjual. Kita belum tahu siapa pembeli saham selanjutnya, jika pembeli itu satu orang, bukankah dia bisa menjadi pemegang saham tertinggi?"

"Itu tergantung berapa harga saham yang terjual nantinya." Sahut Ino.

"Man... Sudah pasti saham menjadi rebutan. Ingat, ini studio terbesar di Jepang."

"Berarti aku benar kan? Sudah pasti ada faktor konflik di dalamnya.." Sahut Kiba.

"Ya. Tapi aku belum selesai." Ucap artist itu. Semua kembali menyimak ditective. "Jika masalah kerugian ini disangkut pautkan oleh penjualan saham, dan jika benar-benar hanya satu orang yang membeli saham itu dengan harga tinggi, pasti akan ada pergantian presiden. Dan kalian tahu apa dampaknya?" Semua tahu dampaknya tapi siapa tahu pria ini punya dampak lain.

"Dampaknya adalah perubahan sistem, beberapa kebijakan untuk menangani kerugian. Pengurangan tenaga kerja."

"SAMA SAJA...!" Seru semua artis serempak. Hei... sejak kapan diskusi ini bertambah personilnya? Seluruh artist 2D sudah berkumpul di kawasan meja kerja Konohamaru.

"Tunggu dulu, aku belum selesai!" Artist pria itu berusaha mempertahankan argumen. "Kalau presidenya diganti dan sistem berubah, bukan kita saja yang terancam diberhentikan. Bagaimana jika presiden yang baru menunjuk CEO baru?!" Semua langsung menoleh ke arah Sakura.

Suasana menjadi hening. Sakura bingung mau berkomentar apa jadi dia hanya mengedikkan bahu.

"Bagaimana menurutmu Obito?" Tanya Konohamaru. Patner sehidup sematinya itu harus diajak berdiskusi.

"Ya, menurutku apapun yang terjadi kita harus tetap berkarya." Obito tersenyum. Semua menautkan alisnya termasuk Sakura.

"Sudah! Pembicaraan ini membuatku bingung. Benar kata Obito, kita berkarya saja. Kalau di PHK ya kita melanjutkan berkarya di tempat lain." Ucap salah satu artist. Semua setuju dan mereka menyudahi diskusi berat itu. Aku sendiri bingung dengan apa yang mereka bicarakan. Serius.

"Ingat guys! Mr Krab mengatakan semua masalah dapat dikerjakan dengan kerja keras!" Seru Obito. Semua hanya memasang ekspresi datar sambil kembali ke meja kerja masing-masing.

Sakura memandang mainan Spongebob Obito. Saat ini ia memikirkan Sasuke. Isu yang beredar dan semua pembicaraan bersama rekan-rekannya barusan membuat ia khawatir. Sedang apa Sasuke sekarang? Sakura ingin bertemu dengannya, sudah empat hari ini mereka jarang bersama. Terakhir kali ia melihat Sasuke saat pria itu menelusuri taman bersama Jugo kemarin siang. Terus terang Sakura juga merindu, ia lalu mengirim pesan untuk Sasuke, ingin memberi dukungan walau ia sendiri tidak yakin sedang apa yang terjadi.

To Sasuke-kun : 'Have a good work. Jangan lupa makan siang. Kalau kau sakit, aku akan menghukummu.

"Tidak usah khawatir..., Sasuke tidak akan akan digantikan." Obito menepuk bahu Sakura. Memecah lamunan gadis itu pada layar ponsel.

"Aku juga tidak berpikir ke arah situ." Sahut Sakura, ia memandang wajah Obito sekejap lalu tersenyum. "Semua akan baik-baik saja kan?"

"Tidak tahu. Aku bukan peramal." Shannaro!

.

.

BRAK!

Sakura membanting nampan makanannya di depan tiga wanita yang sedang mengobrol sambil makan siang. Mereka tersentak kaget lalu menatap Sakura yang tengah memasang ekspresi marah. Semua perhatian pegawai di kantin langsung tertuju pada mereka, termasuk Naruto dan kawan-kawan. Deidara yang sedang mengambil makanan di etalase langsung menoleh ke sumber suara lalu menyikut tangan Gaara.

"Ada apa denganmu?! Sopan sedikit!" Salah satu wanita berdiri dan bersedekap, ia tidak terima dengan perlakukan Sakura menggebrak meja..

"Tarik ucapanmu yang tadi." Sakura menuding jari telunjuknya tepat di depan wajah wanita itu. Ino menyentuh lengan Sakura untuk meredam amarahnya. Tenten bediri di belakang.

"Yang mana? Oh... tentang pengurangan tenaga kerja? Kau tidak suka kami menyebut namamu sebagai pegawai spesial?" Wanita itu menatap Sakura dengan tatapan merendahkan. Sakura menyerngitkan dahi.

"Dengar. Apa kalian tidak pernah menggunakan otak kalian sebelum mengoceh?" Sakura menunjuk keningnya sendiri. "Ucapan kalian sangat tidak senonoh. Kalian pikir ini dimana? apa seperti itu sikap orang berpendidikan?"

"Sakura, sudah..." Ino berusaha menenangkan Sakura tapi tidak berhasil. Amarah sedang menyelimuti gadis itu. Naruto yang melihat situasinya menegang langsung menghampiri, begitu pula Gaara.

"Kau menggurui kami? tidak usah sok begitu. Kau pikir kau siapa? wanita berkelas?"

"Hei kau! jaga mulutmu." Tegur Tenten. Wanita itu menatap Tenten sepele, begitu pula dua rekannya yang berdiri di sampingnya. Sakura mengepalkan tangan menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.

"Dengar ya, Jangan membawa-bawa namaku dalam hal ini. Hubunganku dengan Sasuke tidak ada sangkut pautnya."

"Tentu saja ada. Kau mau mengelaknya? atau.., kau mau menyangkal kenyataan ini? Kami tidak keberatan jika kau tidak di PHK, kenapa kau harus semarah ini?" Wanita itu memasang wajah lebih menyebalkan.

"Alasanmu itu bodoh. Kau lupa apa yang kau ucapkan tadi? tarik ucapanmu." Sakura menuding wanita itu lebih dekat, memancing amarah lawannya. Merasa diremehkan wanita itu pun membals.

"Kenapa? Bukankah kenyataanya seperti itu? siapa yang mau memecat wanita yang sudah ditiduri seorang CEO?"

Plak!

Sakura langsung menampar wanita itu dengan sekuat tenaga. Merasa harga dirinya dihina di depan orang banyak. Tidak terima, wanita itu mendorong Sakura ke belakang. Spontan keduanya langsung dilerai. Naruto merengkuh tubuh Sakura ke belakang. Dua Gadis itu siap berkelahi. Suasana kantin menjadi ramai. Keduanya saling memaki dan berusaha meraih untuk memukul.

"Bajingan!" Sakura sudah tidak bisa menahan kalimatnya. "Sini aku robek mulutmu!" Sakura merontak di dalam rengkuhan Naruto.

"Bitch! Kau pikir aku takut padamu?!" Wanita itu juga berusaha merontak, namun ditahan Gaara dan pegawai yang lain.

"Sakura! Sudah!" Naruto berusaha menahan Sakura, ia mengangkat tubuh gadis itu keluar kantin. Ino, Hinata dan Tenten mengikuti. Yang lainnya menjadi penonton, bingung dengan situasinya.

"Lepaskan aku!" Sakura menarik tubuhnya dengan kuat. Naruto melepas rengkuhannya setelah mereka menjauhi kantin. Para pegawai yang berlalu lalang melihat ke arah mereka.

"Sakura. Jaga sikapmu." Tegur Naruto.

"Sikap apa? dengan perempuan itu? Tidak sudi!" Sakura mengambil langkah cepat. Ino dan Tenten mengikutinya. Naruto dan Hinata memandang Sakura, begitu pula dengan Gaara yang menghampiri dan berdiri di belakang.

Ino dan Tenten menenangkan Sakura saat mereka tiba di ruang background 2D. Ruangan itu masih sepi, sebagian masih makan siang. Kecuali dua orang yang memilih tinggal seperti Iruka yang sedang asik melukis serta satu orang yang sedang asik online sambil mendengar musik dengan volume keras.

"Ssshhhh..." Sakura mengipas wajahnya. Merasakan emosi yang memuncak. Gadis itu memukul-mukil pahanya sendiri. Bingung melampiaskan amarahnya. Kejengkelan terhadap wanita tadi menguasai energi positifnya. Sakura menarik nafas beberapa kali. Mencoba melupakan perkataan wanita itu. Tidak mudah. Sakura semakin kesal. Rasanya ingin menendang galon sejauh puluhan meter. Ino menyodorkan segelas air putih, mereka menemani Sakura dan tidak banyak bercakap. Gadis itu menumpahkan seluh air ke telapak tangan. Tenten dan Ino merasa aneh, tapi mereka memilih diam memberi waktu temannya itu meredakan emosinya sendiri.

Perhatian Iruka langsung tertuju pada Sakura, pria itu menghampiri, menatap tenten seakan bertanya apa yang sedang terjadi ketika melihat Sakura, gadis itu duduk di meja kerjanya sambil mengusap air mata atas bentuk emosi yang meluap karena saking kesalnya. Beberapa menit kemudian Naruto datang bersama Hinata. Mereka tidak mengatakan apapun, hanya melihat kondisi Sakura.

Naruto mendekat. "Sudah..." Naruto mengusap lengan Sakura. Yang lain hanya memperhatikan dalam keheningan. Gadis itu mengusap sisa air matanya, lalu mengambil nafas dalam.

.

.

Sesampainya di apartemen, Sakura langsung merebahkan diri di sofa. Melepas penat yang masih terbayang-bayang di dalam kepala selama mata belum tertutup. Menghela nafas dalam. Sakura membuka ponselnya, mencari tahu apakah Sasuke mengingatnya selama ia sibuk. Rasa khawatir seharian ini diperburuk dengan kejadian tadi siang. Saat ini Sakura ingin bertemu Sasuke. Merindu. Itulah kata yang tepat ketika ia memandang ponsel dan mendapati satu balasan pesan dari kekasihnya. Sakura tersenyum tipis. Sasuke mengatakan akan berkunjung ke apartemen nanti malam. Pesannya terkirim dua jam yang lalu, baru terbaca sekarang. Sakura bangkit, mood-nya tidak terlalu baik untuk memasak makan malam. Ia akan mengajak Sasuke makan di luar setelah pria itu tiba. Sakura masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dan menyapa air untuk merelaksasi pikirannya.

Hal yang paling menyebalkan adalah menunggu, apalagi menunggu seseorang yang sangat diharapkan. Pikiran itu runtuh dalam sekejap saat Sakura keluar dari kamar mandi dan mendapati sosok Sasuke duduk di sofa ruang tengah. Perasaan terkejut, bertanya-tanya dan senang tercampur menjadi satu.

"Hei." Sakura tersenyum dalam balutan handuk kimono. Menghampiri Sasuke yang duduk tenang, pria itu tidak berucap apapun. Onyx-nya yang tajam memancarkan rasa lelah dan Sakura merasakan sedikit aura dingin saat mata kelam itu memandangnya. "Bagaimana harimu? apa semua berjalan baik?" Sakura duduk, tangannya mengusap paha Sasuke menyalurkan kekuatan dalam bentuk sentuhan perhatian.

"Aa." Sahut Sasuke. Wajahnya yang lelah tidak mengurangi ketegasan yang ia pancarkan saat ini. Sakura jadi berpikir apa ada masalah yang ingin Sasuke sampaikan padanya.

"Aku akan membuatkan teh. Berbaringlah." Sakura pergi ke dapur. Masih dalam balutan handuk kimono. Pikirannya hanyut bersamaan air teh yang teraduk, memikirkan saat yang tepat untuk berkomunikasi dengan Sasuke. Membahas segala Hal yang terjadi. Sasuke merilekskan diri, kepalanya bersandar sambil terpejam. Sakura duduk di sampingnya, menyentuh bahu Sasuke secara perlahan sampai Kedua mata itu terbuka kembali. Sasuke duduk menegak, menerima teh dari Sakura lalu mengambil satu tegukan.

"Sakura, apa yang terjadi di studio tadi siang?" Pertanyaan Sasuke mengurungkan niat Sakura untuk beranjak dari sofa. Keduanya bertatapan. Sasuke memancarkan aura tegas meminta penjelasan. "Aku dengar kau berkelahi dengan seorang pegawai wanita." Perkataan Sasuke selanjutnya membuat topik pembicaraan semakin jelas. Sakura membuang nafas, tidak ada orang lain lagi yang bisa Sakura tebak selain Naruto.

"Dia yang memulainya. Aku sampai memikirkan cara untuk melupakan wanita bodoh itu dari kepalaku."

"Seharusnya kau bisa menjaga sikap." Tegur Sasuke dan Sakura langsung mengerutkan dahinya."

"Kau tahu apa yang dia katakan padaku?" Sakura tidak terima Sasuke menegurnya. Kejadian tadi siang benar-benar menyebalkan dan Sakura enggan untuk disalahkan sedikit pun. "Dia mengatakan hal yang tidak senonoh tentangku. Juga Tentangmu. Dan itu diucapkan untuk kedua kalinya di depan para pegawai."

"Sakura, semarah apapun dirimu, kau harus bisa mengendalikan diri. Pahami posisimu."

"Posisiku? apa yang kau maksud itu posisimu?"

"Sakura." Nada Sasuke tegas.

"Mereka boleh mengataiku bodoh atau apa saja selama tidak menjatuhkan harga diriku. Sebuah tamparan bahkan tidak pantas. Bersyukur aku tidak merobek mulutnya." Sakura berdiri. Pembahasan ini menyulut emosinya kembali.

"Tch." Sasuke bedecak. "Belajarlah menempatkan diri. Lihat kondisinya terlebih dahulu."

"Apa maksudmu? Kau memintaku melihat kondisinya? dia bahkan tidak melihat kondisi saat membuka mulut kotornya itu di depan para pegawai. Seharusnya kau mengerti Sasuke-kun. Apa kau akan membiarkan seseorang mengataiku wanita jalang di depan banyak orang?"

Sakura bersedekap lalu membuang muka ke arah samping. "Jangan menegurku sebelum mengerti alasannya."

"Sakura." Rahang Sasuke menggertak dan keras. "Aku tahu alasanmu, tapi tidak mengoreksimu adalah sesuatu yang salah."

Sakura menghela napas. "Baiklah. Aku terima koreksimu. Cukup pembahasan ini." Sakura beranjak dari ruang tengah, ia menuju ke kamar meninggalkan Sasuke dalam keheningan.

Sakura keluar ketika Sasuke masuk ke dalam kamar mandi. Baru saja kaki Sasuka menginjak ruang tengah ponsel Sasuke bergetar. Sakura menengok dan nama Ayame keluar dari layar. Intensitas komunikasi yang sering. Itu yang muncul di pikiran Sakura saat ini. Kegiatan Sasuke di kamar mandi menyita banyak waktu sampai panggilan itu berhenti. Sakura masih berdiri memandang ponsel Sasuke. Dua menit kemudian satu pesan masuk. Rasa penasaran Sakura meningkat dan dia memberanikan diri membuka pesan itu.

Ayame : 'Sasuke, apa kita jadi bertemu malam ini?'

Deg. Sakura kaget. Ia tidak tahu jika Ayame ada di Konoha. Merasa curiga Sakura melihat list pesan masuk lainnya. Memastikan apakah ada pesan-pesan Ayame yang lain.

"Sakura."

Saking serius, Sakura tidak menyadari Sasuke keluar dari kamar mandi dan mendapati apa yang tengah dilakukannya. Sakura tersentak kaget, bingung harus bagaimana.

"Apa yang kau lakukan?" Sasuke mendekat, melihat ponselnya berada dalam genggaman Sakura. Sasuke mengulurkan tangan meminta ponsel itu. Sakura menyerahkan dengan ekspresi musam.

"Kau membaca kotak masukku?" Sasuke melihat menu pesan yang belum ditutup. "Apa aku memberimu ijin melihatnya?"

"Aku tidak tahu Ayame ada di Konoha." Sakura berdiri. "Dan aku tidak tahu jika kau akan bertemu dengannya malam ini."

Sasuke diam menatap Sakura. Jika saja emosi Sakura sedang stabil, mungkin Sasuke akan menjelaskan sesuatu. Tapi berhubung Sasuke sendiri tampaknya dalam kondisi mood yang terganggu, pria itu diam saja, membiarkan Sakura berpikir sendiri, menghindari perdebatan.

"Aku pergi." Sasuke pamit setelah meraih jas coatnya.

"Bertemu Ayame?"

"Kami ada urusan. Aku akan menghubungimu lagi."

Sakura merasa diabaikan dan dia tidak suka. "Baiklah, selamat makan malam bersama mantan kekasih." Kalimat itu melesat begitu saja dari mulut Sakura. Sasuke mengerutkan dahi, ia tidak menanggapi ucapan emosi itu dan melangkah pergi.

"Jangan lupa mengantarnya pulang." Sambung Sakura dan Sasuke langsung berbalik menatapnya.

"Sakura. Apa maksudmu?"

"Tidak ada. Kau pikirkan saja sendiri."

Sakura berbalik menuju kamar. Sasuke masih memandang sampai gadis itu masuk dan menutup pintu dengan keras.

.

.

"Sasuke..." Ayame berdiri memeluk Sasuke saat pria itu muncul di hadapannya. Mereka membuat janji di salah satu restaurant hotel bintang lima Konoha. Mereka duduk di ujung dekat jendela ruangan yang menampakkan pemandangan kota Konoha pada malam hari.

Penampilan Ayame itu tampak berbeda, ia memotong rambutnya sependek pria, hampir sama dengan rambut Konan. Senyuman hangat Ayame masih sama seperti dulu, terukir manis diwajah anggunnya yang tampak berbeda. Ada beban di wajah itu. Ketegasan tulang pipinya membuktikan bahwa Ayame terlihat lebih kurus.

"Bagaimana kabarmu Sasuke? Kau terlihat semakin tampan saja." Canda Ayame.

"Baik." Sasuke sedang tidak mood menanggapi candaan Ayame tapi ia tetap tersenyum samar. "Bagaimana denganmu? apa kau baik-baik saja?" Sasuke memandang Ayame cukup dalam karena ia bisa merasakan sesuatu sedang terjadi pada wanita itu.

"Aku baik." Ayame tersenyum. "Ah, benar.. Selamat atas kesuksesan Greenoch. Aku turut bahagia."

"Aa. Terimakasih. Ini semua atas kerja sama team, atas kerja samamu juga."

Pelayan restauran datang menuangkan minuman untuk Sasuke. Mereka memesan menu makan malam lalu mengobrol kembali.

"Apa kau datang ke sini bersama ayahmu?" Tanya Sasuke.

"Tidak, aku bahkan tidak tahu dia kesini." Ayame menggoyang gelas tangkai lalu meneguk wine putih-nya. "Aku ke sini untuk urusan bisnis." Ayame meletakkan gelas. "Sasuke aku akan menikah."

"Ayahmu sudah merestui hubungan kalian?"

"Belum." Ayame tersenyum tipis, terpancar kesedihan namun wanita itu menyembunyikannya. "Tapi jika banyi ini lahir, mungkin dia akan menerima kami." Ayame mengusap perutnya. Sasuke tampak terkejut namun wajahnya masih datar. "Sudah tiga bulan." Ayame tersenyum. Sasuke tidak menanyakan lebih jauh hubungan mereka karena ia cukup paham kondisinya.

"Aku akan menjadi paman." Respon Sasuke dan Ayame tersenyum. Mereka lalu menyantap hidangan makan malam. "Ayame, Bisnis apa yang kau jalani?" Tanya Sasuke kemudian.

"Aku ke sini bertemu temanku, dia mengajakku membuka restaurant di Konoha. Ya, kau tahu sendiri aku sekarang sangat free, tidak menutup kemungkinan untuk berbisnis." jawab Ayame, ia meletakkan sendok dan garpunya lalu meraih air minum."Bagaimana pak CEO, apa studio baik-baik saja? Kudengar tiga saham akan dijual apa itu benar?"

"Aa." Sasuke tidak berniat memberitahu masalahnya secara mendalam, apalagi Teuchi berada di balik semua itu. "Kapan kau akan kembali?"

"Sepertinya Lusa." Ayame memainkan jarinya pada ujung gelas tangkai sambil memandang Sasuke yang tengah meneguk brandy. Ayame lalu tersenyum. "Sasuke, bagaimana kabar Sakura? apa dia jadian dengan pria lain?"

Sasuke langsung meletakkan gelas, perhatiannya tertuju ke Ayame.

.

Sakura meringkuk di atas ranjang Sasori. Mengkaji sikapnya di depan Sasuke. Sedikit rasa bersalah terbesit di hatinya, tapi kecemburuan yang ia rasakan saat ini jauh lebih besar adanya dan Sakura membuang rasa bersalahnya itu jauh-jauh walau lima menit kemudian perasaan itu kembali lagi. Dibingungkan antara mengoreksi sikap dengan meredam emosi yang belum hilang. Ditambah Sakura juga penasaran apa yang sedang dilakukan Sasuke dan Ayame saat ini. Makan malam? benar. Makan malam berduaan saja. Sakura jadi kalut sendiri, ia melempar ponselnya ke samping lalu menutup wajahnya dengan bantal. Menunggu apakah ia dan Sasuke akan bertahan dalam kondisi seperti ini sampai esok hari.

.


to be continued :)