28 Juli 2013

HAPPY ANNIVERSARY!

It's been a year since I posted this fanfic! A YEAR! 365 days! Oh god!

26 chapters, 200k+ words, 400 reviews, 74 favorites, 56 followers, 27k+ views—HOW CAN I THANK YOU GUYS? TELL ME HOW!?

Entah bagaimana caranya berterimakasih pada para pembaca sekalian, mungkin ucapan 'terima kasih' saja tidak akan cukup. But, thank you, guys! ;')

Semoga kalian tidak bosan membaca cerita ini dan selamat menikmati~

Disclaimer: D.C/Case Closed bukan milik penulis dan merupakan sebuah mahakarya dari Gosho Aoyama, di sini penulis hanya memiliki hak penuh atas fanfic ini dan akun di mana fanfic ini berada.


.

.

Case 26: Dead-End Street

"I think that people who get to a certain position, and then try to ferociously defend it or build on it, it's kind of a dead-end street. You see people becoming miserable that way."
Viggo Mortensen

.

.

"Itu perintah terbodoh yang seharusnya tidak kuucapkan," Heiji menggerutu pelan. Kedua tangan mengacak rambut hitamnya dengan kesal, mengabaikan tatapan datar dari Shinichi.

Detektif dari timur itu menghelakan nafasnya. Menenggak segelas ocha yang mulai dingin jauh lebih menarik perhatiannya daripada melihat sesosok Hattori Heiji yang tidak berhenti menggerutu sejak 10 menit yang lalu.

Melirik ke arah dimana kekesalan Heiji berasal, detektif dari timur itu lalu menopangkan dagunya. Diperhatikannya bagaimana Kuroba Kaito, seorang pelajar kelas 3 SMA Ekoda yang awalnya berencana untuk makan malam di sebuah kedai Yakitori, kini berakhir menjadi seorang penghibur sekumpulan pekerja yang tidak berhenti memberikan pujiannya pada pesulap muda itu. Satu per satu trik sulap dilakukan pemuda itu; dimulai dari yang sangat simpel seperti memunculkan setangkai mawar, hingga membuat salah satu pelayan kedai tersebut memakai sebuah kostum ayam. Sepertinya kostum itu dipinjam dari manajer kedai yang juga ikut menonton pertunjukan kecil Kaito.

"Itu pertama kalinya putaran botol ini mengarah kepadanya," Shinichi berucap datar sembari memerhatikan bagaimana seorang pelayan kembali dijadikan bahan eksperimen pesulap Ekoda itu. "Dan kau suruh ia menggoda pekerja di sana."

"Kuharap kau tidak lupa kalau Kaito punya bakat terpendam dalam hal menggoda orang lain," detektif itu menyelesaikan komentarnya sebelum menjejalkan satu tangannya pada saku celana seragamnya. Ia tidak lupa memberi penekanan khusus pada kata 'menggoda' yang ia ucapkan.

Heiji berdecak. Diambilnya botol plastik kosong yang kini tergeletak di atas meja, masih dalam posisi mengarah ke tempat kosong di samping Heiji, dan ditatapnya tajam botol itu. "Aku curiga ia melakukan trik rahasia. Dari 20 kali permainan, ini pertama kalinya ia mendapat giliran!"

"Lima belas," sebuah suara yang berasal dari samping Shinichi mencoba mengingatkan. "Lima giliran sebelumnya dianggap hangus karena kau dan Kuroba-kun memberi perintah yang tidak masuk akal."

"Cih, aku lupa pemuda ini ada bersama kita," Heiji membuang pandangannya ke arah lain yang akhirnya jatuh pada sosok Kaito yang asyik berbincang dengan seorang wanita yang menjadi salah satu penontonnya.

Melirik sekilas ke arah Hakuba, Shinichi pun membuka mulutnya. "Keributan di stasiun tadi, apakah serius?"

"Hm? Ah, tidak juga," Hakuba menjawab santai. "Hanya kesalahpahaman antara seorang pria pemabuk yang kehilangan cincinnya dan seorang penumpang yang berdiri di sampingnya selama perjalanan. Mereka bertengkar begitu kereta berhenti dan kalian datang tepat di saat pria itu mendapatkan kembali cincinnya."

"Bagaimana dengan kalian? Maksudku, kau dan Kuroba-kun, Kudo-kun. Kalian tampak sedang terburu-buru dan jika melihat dari arah perjalanan kalian, sepertinya kalian berniat pergi ke arah lain," Hakuba menambahkan tanpa memerdulikan tatapan sebal Heiji yang terarah padanya. Sepertinya detektif Osaka itu sadar bahwa ia tidak disebut sebagai salah satu dari 'pejalan kaki yang terburu-buru'.

Raut wajah Shinichi berubah menjadi datar. Tatapan matanya kini terarah pada sosok Kaito yang masih memperlihatkan trik sulapnya pada pengunjung kedai lainnya. "Kaito menyeret kami—kuralat—memaksa kami berlari demi selembar uang seribu yen."

"Oh?"

"Ia menemukan uang itu terjatuh di bawah mesin penjual minuman, begitu diambil, uang itu diterbangkan angin. Kami bersyukur bertemu denganmu di stasiun tadi, Hakuba, jika tidak mungkin saat ini kami harus mengikuti Kaito ke arah Rumah Sakit Beika."

Hakuba memiringkan kepalanya, menahan niatannya untuk tersenyum mendengar cerita dari rekan sesama detektifnya. "Aku cukup paham kondisi kalian, tetapi … seribu yen?"

"Aku tahu itu terdengar konyol," Shinichi berkomentar setelah menghelakan nafasnya. "Tetapi ia berkeras harus mendapatkannya. Ia bahkan sempat merengek pada kami agar membantunya."

"Dan mengancam akan mengubah rambut warna rambut kami jika menolak," Heiji menambahkan dengan nada seolah ingin menakut-nakuti dan usahanya berhasil membuat Hakuba sedikit gelisah.

Ya, bagi seorang yang cukup sering merasakan perubahan warna rambut tiba-tiba, ancaman dari seorang Kuroba Kaito itu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sebagai sebuah gertakan semata. Ugh, ya … tidak perlu dibahas.

"Sepertinya ia datang ke Beika tanpa membawa uang," Shinichi kembali menenggak ocha dinginnya, kali ini hingga habis. "Atau mungkin uangnya ia habiskan untuk suatu keperluan."

"Keperluan?" Hakuba menoleh, sepenuhnya memerhatikan Shinichi dengan rasa penasaran yang tidak bisa ia sembunyikan.

Sebuah anggukan dilakukan oleh Shinichi dan untuk memperjelas jawabannya, ia berdeham pelan.

"Itu yang ia katakan padaku."

"Hei, bukankah tadi kau bilang Kuroba ada di rumahmu karena kau mengajaknya?"

Menoleh ke arah pembicara yang baru saja menyuarakan pikirannya, Shinichi kembali menganggukan kepalanya. Sekali lagi ia melirik ke arah dimana Kaito berada lalu ke arah pelanggan yang baru saja datang ke kedai tersebut sebelum kembali menatap lawan bicaranya.

"Begitulah," jawabnya pelan. "Kami bertemu di taman, saat itu ia bersama Sato-keiji dan Yumi-san. Aku mengajaknya karena—" ia nampak ragu sesaat. "—kupikir ia bisa membantu dalam penyelidikan. Kau tahu, 'kan? Ia yang menemukan dogtag itu pertama kali dan ia juga yang berhadapan langsung dengan Odagiri Nao."

Heiji menggelengkan kepalanya secepat mungkin. "Tidak, tidak. Aku hanya mendengar kalau kau dan Kuroba berhasil menangkap komplotan itu—bahkan informasi itu kubaca di koran—dan tidak ada yang pernah bercerita tentang penemuan—Hei! Hei! Kau merahasiakan sesuatu lagi dariku, ha?"

"Eh?" Shinichi mengerjapkan matanya. "Aku belum menceritakannya?"

Mendengar dari cara detektif dari timur itu bertanya dan jika dlihat dari ekspresi wajahnya, jelaslah sudah kenyataan bahwa detektif itu benar-benar terkejut. Tetapi, Heiji nampak tidak menggubrisnya dan hanya berdecak pelan. "Entah apa yang terjadi padamu, Kudo."

Detektif berkulit gelap itu mengangkat tangannya, melipat keempat jemarinya dan membiarkan bolamata Shinichi melihat jari telunjuknya. "Pertama, kau menelponku hanya untuk menyuruhku mencari seorang pengrajin besi. Kedua, kau menelponku untuk—" jari tengah Heiji terangkat sembari melirik ke arah dimana Hakuba berada. "—me, membantumu menyingkirkan bebek-bebek itu. Ketiga," Heiji menyipitkan matanya. "Kau menelponku dan memintaku membantumu menyelesaikan kasus di hotel kemarin."

"Ah, benar juga. Kau pernah menelponku untuk membahas tentang skandalmu dengan pencuri itu; keempat!"

"Kau yang menyuruhku menelponmu, Hattori," Shinichi meralat tanpa ada rasa bersalah dari caranya berujar.

Berdeham untuk mendapatkan perhatian dari rekan sesama detektifnya, Hakuba kemudian menoleh ke arah Shinichi. Ditatapnya bergantian sosok Shinichi dan Heiji sebelum ia angkat bicara.

"Maaf, bukan maksudku untuk memotong. Aku yakin sekali pemuda Osaka ini menyebutkan sesuatu tentang 'skandal dengan pencuri', hm?" Ia melirik sekilas ke arah Heiji yang mencibir. "Apakah aku melewatkan sesuatu, Kudo-kun?"

"Itu," Shinichi membuka mulutnya dan siap untuk memperjelas suasana yang mulai keruh. Namun, saat kata pertama hendak ia ucapkan, perhatiannya teralihkan pada sosok anak kecil yang berdiri di tempat dimana tempat duduk Kaito berada.

Sosok itu—seorang gadis kecil yang memakai sebuah jaket diatas baju tidurnya—hanya diam sambil memerhatikan Shinichi tanpa berkedip. Bola mata bulat besarnya dengan jelas memperlihatkan aura keingintahuan dan menyelidik yang kemudian membuat, tidak hanya Shinichi, terdiam bingung dan saling bertukar pandangan.

"Halo?" Shinichi berhasil menjadi orang pertama yang mengajak sosok kecil itu berbicara. "Ada yang bisa kubantu?"

Tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Shinichi, sosok gadis kecil yang mengenakan topi beruang itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Menatap bergantian ketiga pemuda di hadapannya sebelum akhirnya kembali menatap Shinichi. Satu tangan gadis kecil itu lalu terangkat, menunjuk ke arah Shinichi dan berseru, "Kau kenalan Pangeran!"

"Kenalan—"

"Pangeran?" Heiji dan Hakuba berseru bersamaan. Keduanya kemudian menoleh ke arah Shinichi yang terlihat sama bingungnya dengan mereka.

Gadis itu mengangguk pelan. "Apa pangeranku ada disini juga?"

"Siapa?"

"Apa mungkin kau salah orang, Nona Kecil?"

Gadis kecil itu menggeleng pelan. "Pangeran bilang kau adalah kenalannya. Ia juga menyimpan fotomu di ponselnya."

Ponsel? "Maksudmu Kaito?" Shinichi mengangkat satu alisnya. Ia sendiri tidak yakin dengan tebakannya, apalagi setelah melihat kerutan di kening gadis kecil itu serta sebuah gumaman yang dengan jelas menandakan keasingan nama Kaito di telinga gadis itu. Sepertinya mereka sedang membahas 'pangeran berponsel' yang berbeda. Atau mungkin—

"Ia memakai seragam seperti itu, benar?" tanya detektif itu sekali lagi. Satu jarinya menunjuk ke arah Heiji sementara tangan lainnya bergerak mengacak rambutnya. "Dan rambutnya seperti ini?"

Gadis itu membulatkan mulutnya lalu mengangguk penuh semangat. Ada sedikit rona merah pada pipinya saat ia mengangguk.

Shinichi tertawa pelan melihat reaksi gadis kecil itu dan mengarahkan pandangannya dimana ia terakhir melihat Kaito berada. Dengan satu jari telunjuk terarah pada sesosok pemuda yang masih melakukan pertunjukan kecil, ia berkata, "Ia ada di sana."

Menoleh ke arah yang ditunjuk, gadis itu lalu berlari meninggalkan tiga detektif tersebut. Membiarkan dua orang detektif saling bertukar pandangan dan menatap bingung seorang Shinichi yang sedang merapihkan kembali rambutnya.

Detik berikutnya, dari arah dimana Kaito dan beberapa penontonnya berada, dapat terdengar teriakan keras yang diyakini oleh ketiga detektif muda itu berasal dari mulut sang pesulap muda.

.

.

.

.

"Aku tidak tahu kau punya minat terhadap anak kecil, Kuroba," Heiji berkomentar disela tawa gelinya menatap bagaimana Kaito merajuk di tempat duduknya sambil menggoyangkan tangannya yang terlihat sedikit memerah, yang menurut cerita Kaito, disebabkan oleh gigitan seseorang.

Seorang gadis kecil berambut kemerahan dengan anggun terlihat duduk di pangkuannya, tampak asyik menenggak jus jeruk yang baru saja diantar oleh seorang pelayan.

Ini … sangat-sangat-sangaaaaat menyebalkan!

Bagaimana tidak?

Ia sedang asyik memperlihatkan trik sulapnya pada sekelompok pelanggan yang duduk di seberang meja tempat mereka duduk dan tiba-tiba saja sesuatu datang, menarik satu tangannya dan menggigitnya. Beruntung tangannya tidak putus karena gigitan itu.

Hanya terasa sedikit perih dan entah mengapa rasa perih itu tidak bisa hilang. Cih!

"Hime-chan bilang, kalau ada anak nakal aku harus menggigitnya."

Dan kau golongkan aku sebagai 'anak nakal'!? batin Kaito yang semakin merajuk akibat ledakan tawa Heiji. Bahkan Shinichi dan Hakuba terlihat berusaha menyembunyikan fakta bahwa mereka tertawa.

"Hime-chan?" tanya Shinichi setelah berhasil menguasai dirinya. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin rambutnya berubah warna secara tiba-tiba karena amukan seorang pesulap hiperaktif di hadapannya.

Menoleh ke arah Shinichi, gadis itu lalu mengangguk. "Dia kakak cantik yang tinggal di apartemen dekat rumahku. Tetapi ia sangat sibuk, selalu pulang malam dan berangkat pagi-pagi sekali. Masakan buatannya juga tidak enak. Kami sering makan kue bersama di toko paman!"

Kembali ia menenggak jusnya. "Siapa nama kalian?"

"Namaku—"

"Heiji, Hattori Heiji!" Heiji menyahut cepat dengan penuh rasa bangga. Menyelak pembicaraan Hakuba membuat rasa bangganya semakin meningkat! "Dia adalah Kudo Shinichi dan pemuda pirang menyebalkan ini adalah … siapa namamu? Ah, ya, benar! Hakuba!"

"Tori, Ichi, Hakuba," gumam gadis kecil itu sembari melayangkan pandangannya pada ketiga pemuda yang dimaksudkan. Kaito yang bisa mendengar dengan jelas gumaman itu hanya bisa terkikik geli.

Ia hanya mengingat nama Hakuba.

"Dan kami adalah detektif!" Sekali lagi Heiji berujar bangga dengan dada membusung.

"Detektif? Apa itu nama makanan?" gadis kecil itu mendongak, menatap Kaito yang dengan refleknya membalas tatapan gadis kecil itu. Ya! Benar! Tatapan menyebalkan yang sukses membuatnya luluh!

"Kritikus," Shinichi menjawab pelan namun cukup untuk membuat yang lain mendengarnya. "Detektif hanyalah seorang kritikus. Itu yang seseorang katakan padaku."

Mendengar penjelasan singkat dari pemuda berseragam biru itu membuat gadis kecil di pangkuan Kaito menganggukan kepalanya. Ia tidak begitu paham apa yang dikerjakan kritikus, tetapi jika melihat mereka cukup dekat dengan sosok pangeran dambaannya, pastilah mereka bukan orang jahat.

"Apa kau sendirian, Odio-chan?" tanya Kaito kemudian sebelum topik mengenai detektif-kritikus itu mulai merambat. Heiji dan Hakuba pasti sangat ingin tahu bagaimana dan siapa yang telah mengatakan kalimat itu di hadapan Shinichi, semuanya terlihat dari cara mereka menatap sang detektif dari timur.

Dan jika mengingat ia sedang berada dalam kondisi 'dicurigai', mungkin ada baiknya topik itu dihilangkan saja.

Atau setidaknya dialihkan ke topik lain.

Gadis itu menganggukan kepalanya. "Kakek sedang kedatangan tamu penting, jadi aku tidak boleh menganggunya. Karena bau makanan dari tempat ini sangat wangi, aku datang."

Mengangkat satu alisnya, Kaito kemudian memiringkan kepalanya. Nampak berpikir sembari menatap bagaimana gadis kecil di pangkuannya berbincang dengan tiga pemuda yang duduk bersamanya. Pesulap muda itu kemudian mengerutkan keningnya, "Shinichi, bukankah rumahmu di blok 2?"

"Hm? Ya. Ada apa?"

"Dari sini ke rumahmu, 10 menit?"

Shinichi mengangkat satu alisnya. "Dengan jalan kaki. Ada apa?"

"Lalu dari blok 3?"

"Kira-kira 15 hingga 20 menit," Shinichi mengangkat tangannya untuk menghitung. "Hei, kau belum menjawab!"

"Nona kecil! Disitu kau rupanya. Ini pesananmu!" seorang pelayan, pria yang sempat menjadi korban keusilan Kaito dan saat ini masih mengenakan kostum ayamnya, berjalan menghampiri meja dimana mereka berada, ia terlihat membawa sebuah map hitam kecil yang kemungkinan berisi nota dan sebuah plastik yang mengeluarkan aroma sedap. "Kau bersama kakak-kakakmu rupanya!"

"Dia pangeranku! Dan mereka kenalan pangeran!" sanggah gadis kecil itu saat kedua tangannya sibuk mencari sesuatu dalam tas ransel berbentuk beruang yang dipakainya. Begitu ia menemukan apa yang dicarinya, gadis itu lalu mengeluarkannya dan menyerahkannya pada sang pelayan yang kemudian terlihat sangat terkejut.

Keempat pemuda yang berada di dekat gadis kecil itu pun ikut membelalakan matanya, menatap takjub sebuah kartu kredit berwarna hitam yang digenggam oleh tangan mungil gadis tersebut.

"Oi, oi … Kartu itu—"

"Visa signature," Hakuba—satu di antara mereka yang cukup sadar dari keterkejutannya—menyelesaikan ucapan Shinichi. Kedua detektif itu saling pandang sebelum memerhatikan bagaimana reaksi si pelayan yang saat ini mencoba menjelaskan bahwa untuk membayar tagihannya, gadis itu hanya perlu selembar uang pecahan 5000 yen dan beberapa koin receh.

"Odio-chan, kartu itu … milikmu?"

Gadis itu menatap Kaito sesaat sebelum mengangguk kecil. Ia lalu berdiri dari tempat duduknya—pangkuan Kaito—dan kembali menyerahkan kartu itu pada pelayan yang mulai mengalami kesulitan menjelaskan guna kartu itu pada sang gadis kecil.

"Anak seumurannya memegang kartu seperti itu, seperti apa orang tuanya?" komentar Hakuba sambil berbisik yang kemudian diangguki oleh rekan-rekannya. Bahkan Heiji juga ikut menyetujui ucapan detektif pirang itu.

Merasa kasihan pada sang pelayan yang terus menerus didesak oleh gadis kecil itu, Kaito kemudian menepuk pundak gadis itu dan tersenyum saat gadis itu menoleh ke arahnya. "Simpan saja kartumu, Odio-chan."

Gadis itu mengerutkan bibirnya. "Tapi kakek tidak memberiku uang selain ini."

"Tenang saja. Aku yakin Shinichi membawa dompetnya!" Ujar Kaito memberi solusi dengan sebuah senyum lebar yang menampakan gigi putihnya.

Shinichi mengangguk pelan.

"Dan dua pemuda tampan lainnya juga pasti tidak keberatan menambahkan jika uang Shinichi kurang!"

Hakuba dan Heiji mengangguk setuju.

...

"HEI!" Seru ketiga detektif itu bersamaan. Kaito hanya terkekeh geli melihat kekompakan tiga detektif yang nampaknya baru sadar dengan solusi yang ia berikan, yang tentu saja tidak akan membuat mereka rugi besar.

Mereka bahkan menggebrak meja bersamaan!

"Ojiisan, apa tawaran tadi masih berlaku?"

Menoleh ke arah Kaito, pelayan berkostum ayam di hadapan pesulap itu menganggukan kepalanya. Membuat jengger merah di kepalanya bergerak naik turun. Hal ini membuat Kaito tersenyum kecil karena mengingatkannya pada hiasan pada dashboard mobil.

"Kalau begitu kuterima tawarannya!" Seru Kaito dengan sebuah seringai lebar dan satu ibu jari mengacung. "Dan bisakah tagihan anak ini dianggap lunas juga?"

Ayam, err, pelayan itu tertawa sebelum kembali berdiri dari posisi duduk bersilanya. Dengan satu tangan menepuk punggung Kaito—pesulap itu meringis karena tepukannya lebih pantas disebut pukulan—dan mengacak rambutnya yang sudah berantakan sejak awal, pelayan itu berkata dengan suara kerasnya, "tagihan teman-temanmu pun sudah kuanggap lunas tanpa kau minta!"

Pelayan itu menambahkan sambil berbisik, "semuanya langsung kupotong dari gaji pertamamu."

"Tidak, mereka akan membayar makanan mereka sendiri. Aku hanya akan membayar porsiku, Shinichi dan anak ini," pesulap itu dengan cepat mengibaskan tangannya, raut wajahnya terlihat sangat serius dengan apa yang ia ucapkan.

"Oi, Kuroba! Anak ini—siapa dia sebenarnya?" Heiji yang tidak begitu mendengar ucapan Kaito mencondongkan tubuhnya. Kedua bolamata hijaunya dengan intens menatap penuh selidik sosok gadis kecil yang duduk bersama mereka. Dari ujung rambutnya yang berwarna kemerahan hingga ujung kaus kakinya yang berwarna merah muda.

Uwaah, anak ini dipenuhi warna merah muda! Batin detektif Osaka itu setengah meringis.

Kaito menggaruk pipinya, merasa sedikit ragu untuk memulai penjelasannya. "Dia anak yang kuajak bermain di taman tadi. Rumahnya di blok 3."

Blok ... Tiga? Shinichi melirik ke arah anak tersebut setelah mendengar ucapan Kaito. Ah, itu sebabnya ia bertanya tadi.

"Lalu, kenapa ia memiliki visa signature? Apa orangtuanya sangat kaya?" Heiji kembali bertanya dan nada bicaranya mulai membuat Kaito merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap. Ups! Kaito KID tidak akan pernah tertangkap!

"Sebenarnya," Kaito mengangkat satu alisnya sebelum menatap gadis kecil yang sedang memakai kembali topi beruangnya yang juga berwarna merah muda. "Ia tidak punya ibu dan ayahnya kuliah lagi di luar negeri. Itu yang kudengar dari kakeknya. Odio-chan, kau bilang kakekmu memberikan kartu itu? Untuk apa?"

Gadis kecil bernama Odio itu mengangkat kepalanya, menatap Kaito sesaat lalu menatap kartu yang masih dipegangnya. Dengan sedikit rona merah pada wajahnya ia mulai menjelaskan.

"Saat pulang tadi, kakek bilang aku harus main di luar karena akan ada tamu penting. Ia bilang kakek tidak akan menjemput, tetapi kalau tersesat dan kelaparan aku boleh memakai kartu ini," ia berhenti sejenak dan melihat ekspresi penasaran para pemuda di hadapannya. "Kakek juga bilang dengan kartu ini aku bisa menikah dengan pangeran."

Oi, oi ... Yang benar saja! Batin Kaito dengan tatapan sebal pada kartu kredit hitam di tangan gadis itu. Kakek itu berpikir bisa—

"Membeli," gumam Hakuba pelan yang kemudian membuat Kaito menoleh ke arahnya.

Pesulap muda itu mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan raut wajah serius yang tiba-tiba saja ditunjukan oleh detektif pirang itu. Bahkan Shinichi dan Heiji juga nampak berpikir keras, seolah sedang dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai.

Ah, tidak. Sepertinya ekspresi mereka lebih terlihat seperti saat mereka memilih menu di kedai yakitori tersebut. Nampak seperti orang kebingungan yang mencoba mencari jalan keluar. Ekspresi mereka saat menangani kasus pembunuhan jauh lebih menyeramkan daripada itu.

"Tidak salah lagi," Shinichi ikut berkomentar sambil mengarahkan pandangannya pada sosok Kaito, memejamkan matanya lalu menggeleng pelan. Membuatnya seperti sedang prihatin dengan nasib sang pesulap muda itu. "Gadis kecil ini ingin membelimu."

"Hei, Shinichi—"

"Kalau begitu sudah diputuskan!" Heiji memukul telapak tangannya. Aneh. Kaito bisa melihat lampu dinding di atas kepala detektif Osaka itu menyala saat ia berbicara dan kenapa mereka bertiga saling bertukar pandang? Dan senyuman licik mereka ... O, oh ... Tidak — j, jangan-jangan ...

"Kuroba Kaito: Sold Out!" Seru Heiji riang dengan satu tangan menarik kartu kredit hitam dari tangan gadis kecil itu dan tangan lain mendorong pemuda itu ke arah dimana gadis bernama Odio itu berada.

Oi! Yang benar saja!

.

.

.

.

"Maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu, Miwako-san."

"Eh?" Sato Miwako menoleh, menarik satu alisnya ke atas saat menatap lawan bicaranya yang berjalan di belakangnya menuju lift terdekat.

Hatsune Ema, wanita yang pertama kalinya ditemui Sato di rumah Kudo Shinichi itu terlihat menyunggingkan senyuman lemahnya. Lingkaran hitam pada bagian bawah matanya memang tidak begitu saja menutupi kecantikannya, tetapi cukup jelas memerlihatkan bagaimana lelahnya wanita itu.

Rambut merah gelapnya masih dalam posisi terikat di belakang kepalanya. Polesan make up serta parfum yang dipakainya pun masih sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. Yang membuatnya terlihat berbeda hanyalah raut wajahnya dan kerutan pada blouse yang dikenakannya.

Dengan sebuah gelengan pelan dan seulas senyum menenangkan, Sato menjawab, "sudah menjadi kewajiban kami untuk melayani masyarakat."

"Lagipula, kalau aku terus berdiam diri, kasus ini tidak akan selesai dan semakin banyak korban yang berjatuhan," wanita itu melanjutkan sebelum melangkahkan kakinya memasuki lift begitu pintunya terbuka. Hatsune Ema terlihat berjalan mengikutinya, walaupun sedikit ragu untuk melangkah.

Begitu pintu kembali menutup, suasana dalam ruang kecil itu berubah menjadi hening. Hanya suara mesin lift yang bergerak menuju lobi saja yang bisa didengar. Keduanya terlalu sibuk pada pikiran masing-masing.

"Sebelum pulang dari rumah pemuda itu," Hatsune Ema kembali berbicara, membiarkan suaranya terdengar seperti bisikan dalam ruangan kecil tersebut. "Pemuda itu mengatakan untuk tidak mengungkit masalah Conan-kun lebih jauh. Apa Conan-kun sedang mengikuti program perlindungan saksi?"

Terkejut mendengar pertanyaan tersebut, Sato menoleh ke arah lawan bicaranya yang kini bersandar pada dinding lift. Detektif polisi wanita itu nampak mengerutkan keningnya sebelum mengangkat bahunya. "Conan-kun adalah anak pemberani dan sangat pintar. Beberapa kali ia menangkap pelaku kriminal sebelum kami para polisi sempat bergerak. Ia bahkan menjinakan bom seorang diri."

Hatsune Ema mengangkat kepalanya, menatap takjub cerita yang didengarnya dari mulut polisi di hadapannya.

"Bom?"

"Mm-hm, Takagi-kun juga bersamanya. Mereka terjebak di dalam lift saat itu."

"Sudah kuduga polisi kikuk itu tidak berguna," gumam Hatsune Ema pada dirinya sendiri. "Lalu?"

"Yah, begitulah. Ia cukup sering berada di lokasi kejadian. Terkadang hanya sendiri, terkadang bersama grup detektif cilik, atau bersama Mouri-san. Kau tahu? Detektif yang cukup terkenal itu."

Wanita berambut merah itu menggelengkan kepalanya. "Lama aku tidak kembali ke Jepang, jadi banyak hal luput dari perhatianku. Kalau tidak salah, ia pria yang menyelesaikan kasusku semalam, benar? Yang hanya duduk dan menyuruh-nyuruh orang lain untuk memperagakan reka ulangnya?"

"Kurasa itu orangnya," Sato tertawa kecil. "Conan-kun tinggal bersamanya selama ia di Jepang, kudengar orangtuanya di luar negeri dan beberapa bulan lalu mereka kembali untuk menjemputnya. Sejak saat itu kami tidak mendengar berita apapun tentang anak itu.

"Rasanya sedikit tidak mungkin anak seperti dia ikut program seperti itu. Mungkin saja Kudo-kun memintamu untuk tidak mengungkitnya agar tidak menimbulkan keributan. Kau tahu? Saat kau katakan pada Takagi bahwa kau bersama Conan di hotel semalam, ia sangat terkejut."

Begitu pintu lift terbuka, dua wanita dewasa itu melangkah keluar.

"Pemuda detektif itu sepertinya tahu banyak tentang Conan-kun."

"Kudo-kun?" Sato tampak menyipitkan matanya sebelum menjepit dagunya dengan dua jarinya. "Menurut apa yang kudengar, keluarga mereka masih bersaudara. Conan-kun belajar banyak hal dari Kudo-kun. Termasuk pengetahuan seputar dunia kriminal.

"Jika mengalami kesulitan pun anak itu selalu menelpon Kudo-kun untuk meminta bantuan. Kau dengar sendiri tadi, 'kan? Kembalinya Conan-kun ke Jepang karena Kudo-kun yang memintanya untuk menggantikannya."

Wanita berambut merah itu mengangguk pelan. "Itu artinya tidak masalah menyerahkan kasus ini pada pemuda itu, benar?"

Sato memiringkan kepalanya, menatap lawan bicaranya yang terlihat gelisah di hadapannya. Ini sudah—entah ke berapa kalinya—wanita itu mengatakannya. Sesuatu tentang memercayakan kasus yang sedang mereka hadapi pada Kudo Shinichi, yang dalam pandangan Sato, adalah sangat tepat untuk dipercayakan pada pemuda SMA itu.

Mengapa?

Karena pemuda itu, Kudo Shinichi, hingga saat ini adalah—berdasarkan petunjuk dan spekulasi yang ada—satu-satunya target komplotan misterius itu. Ia yang sejak awal berhadapan dengan komplotan itu dan sepertinya meminta bantuan detektif lain hanya akan berakhir sia-sia.

Bukan ingin merendahkan detektif lain yang mungkin, katakanlah, jauh lebih senior dibandingkan pemuda itu. Tetapi hingga saat ini, nama Kudo Shinichi sendiri sudah tercatat sebagai seorang detektif ternama dari timur, benar?

Jadi—tentu ini bukan sebuah masalah, 'kan?

"Pemuda itu," Hatsune Ema menggumam pelan. Satu tangannya mengusap leher bagian belakangnya. "Sepertinya sudah memiliki banyak sekali masalah yang harus diurusnya."

Mendengar hal ini membuat Sato terdiam.

Wanita berambut pendek itu terus menatap lawan bicaranya yang belum juga melanjutkan ucapannya. Dengan teliti, ia perhatikan air muka wanita berambut merah gelap itu, bagaimana ia menggigit bibir bawahnya, bagaimana keningnya mengerut, dan gerak tubuhnya yang memperlihatkan apa yang saat ini wanita itu rasakan.

Seulas senyum dengan tegas kembali terukir di wajah Sato Miwako, memberikan sebuah kepastian yang mungkin akan membuat lawan bicaranya merasa sedikit lebih lega. Ia tertawa kecil sebelum mulai kembali bicara.

"Beberapa hari lalu seorang wanita yang sangat mirip denganmu juga mengatakan hal yang sama."

Hatsune Ema mengangkat kepalanya, mengarahkan matanya tepat pada manik mata Sato Miwako.

"Ia juga mengkhawatirkan Kudo-kun seperti halnya dirimu dan bisa dibilang karena wanita itu kami sadar bahwa kami terlalu mengandalkan Kudo-kun hingga tidak menyadari kondisinya," jelas Sato tanpa mengalihkan pandangannya dari sepasang mata yang menatapnya dengan sedikit kelegaan dari caranya menatap.

Dan menurut apa yang dilihatnya, pundak Hatsune Ema yang semula tegang kembali melemas seusai ia hembuskan nafas leganya.

"Tunggu," pundak Hatsune Ema terlihat kembali tegang. "Apa maksudmu wanita yang ada di koran itu? Oh, tidak! Aku benar-benar lupa tentang itu! Jam berapa sekarang?"

Dengan satu alis terangkat, Sato menjawab, "pukul 7 lewat 15. Apa yang kau lupakan, Hatsune-san?"

"Wanita itu!" jawab Hatsune Ema tidak sabar. Kedua tangannya kini merogoh isi tasnya sebelum ia keluarkan agenda kecil miliknya. "Tujuan utamaku menemui pemuda itu adalah untuk membicarakan tentang pemberitaan di koran tempo hari dan aku benar-benar lupa! Apa kau punya nomor telpon pemuda itu? Berita itu harus secepatnya diluruskan."

"SATO-SAN!"

"Takagi-kun? Ada apa?"

Takagi yang berlari, berhenti tepat di hadapan dua wanita dewasa tersebut. dengan nafas terengah-engah ia memegangi dadanya dan berusaha mengucapkan sesuatu yang pada akhirnya menambah kebingungan dua wanita tersebut.

Menarik nafas panjang, pria itu kemudian mengatur kembali nafasnya dan mengulang ucapannya. Kali ini dengan lebih jelas.

"—tembak. Sakuragi Riikai berhasil melarikan diri!"

.

.

.

.

Shinichi mengangkat kepalanya, menatap seorang pemuda dalam balutan gakuran hitam dan seorang gadis kecil dengan pakaian serba merah muda yang berjalan dengan riangnya di jalanan malam. Lampu-lampu penerang jalan sudah menjadi satu-satunya pencahayaan yang bisa diharapkan setelah cahaya dari rumah-rumah warga dan kendaraan yang sesekali lewat. Keningnya kemudian mengerut, mata menyipit tajam dan tatapan dengan teliti mengamati gerakan pemuda yang berjalan beberapa langkah di depannya.

Sudah beberapa jam berlalu sejak ia pertama kali melihat pemuda itu di taman—yakni saat ia mendapati burung merpati yang semula tersebar di seluruh taman secara tiba-tiba terbang menuju satu arah dan setelah beberapa menit, dari arah yang sama merpati itu terbang membelah angkasa untuk kembali ke alam mereka. Hanya ada dua kemungkinan; seseorang sedang membagikan makanan untuk merpati-merpati itu atau ada seseorang yang cukup 'dekat' dengan merpati yang tiba-tiba meminta mereka berkumpul. Semuanya terjawab ketika ada seorang anak kecil dengan lugunya berteriak ke arah mereka yang mengintip dari balik air mancur dan disanalah Kaito terlihat dengan seringai lugunya—dan ia sama sekali belum sempat berbicara empat mata dengan pemuda itu, untuk membahas ... Entahlah.

Ia sendiri, jika boleh jujur ia katakan, tidak yakin dengan apa yang ingin ia bicarakan dengan pemuda itu.

Secara reflek ia merangkul pemuda itu dan mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus mereka bicarakan—ia bahkan tidak pernah berencana untuk berbicara dengan pemuda itu. Semuanya ia lakukan di luar kesadarannya. Suara dalam kepalanya seolah berteriak untuk menahan pemuda itu dan jangan biarkan ia lari … Tetapi, kenapa?

Kenapa ia tidak bisa lagi menatap Kaito seperti ia menatap pemuda itu sebelumnya? Semua yang dilakukan pemuda itu dihadapannya, yang semula cukup menghiburnya, ia akui itu, kini tampak seperti sebuah peran yang dimainkan di atas panggung.

Tidak.

Lebih tepatnya seperti gulungan film pada sebuah alat proyeksi usang. Terus berputar tetapi tidak menampakan apapun.

"Lihat! Sama dengan strap ponsel pangeran, 'kan?" suara gadis kecil itu terdengar samar di telinga Shinichi, membuat detektif itu, mau tidak mau, memerhatikan percakapan seorang pemuda dan gadis kecil yang meributkan masalah strap ponsel.

Ah, ya.

Ponsel.

Ingatannya kembali berputar. Ke waktu dimana, malam itu, ia menemukan sebuah ponsel tergeletak di atas permukaan karpet yang membentang di lorong hotel. Sebuah ponsel hitam yang terlihat sangat familiar dimatanya itu kemudian dipungutnya dan disimpannya dalam saku bajunya untuk diperiksa begitu penyelidikannya selesai.

Dan malam itu, saat ia kembali dihadapkan pada keadaan terombang-ambing antara hidup dan mati, ponsel itu menyelamatkan nyawanya dari seorang wanita yang tidak dikenalnya—yang, setelah diingatnya kembali, telah menembakan sebutir peluru bius yang membuatnya melupakan rasa sakit pada tubuhnya untuk sementara waktu dan dua butir peluru yang ditembakan ke arah kepala serta dadanya. Peluru pertama meleset, melukai lengannya sementara yang lain berhasil melubangi ponsel dalam saku bajunya—dan menjadi saksi bisu pengakuan kecilnya.

Ya, pengakuan bodoh yang seharusnya tidak ia katakan—bahwa ia adalah Kudo Shinichi—yang mati-matian ia upayakan agar tetap menjadi rahasia yang pada akhirnya ia ucapkan di hadapan seorang wanita asing yang mengincar nyawanya.

Ia tidak bisa mengingat apapun setelahnya. Yang bisa ia ingat hanyalah; ia melihat seseorang datang menghampirinya, menertawakannya, dan akhirnya ia terbangun di atas tempat tidurnya. Lengkap dengan sebuah kemeja putih yang basah oleh keringat, celana panjang hitam entah milik siapa, dan sebuah ponsel hitam yang tergenggam erat hingga membuat telapak tangannya memutih. (Ia juga menemukan sepasang piyama putih bermotif bebek kuning yang diyakininya disediakan oleh seseorang di atas kursi di samping tempat tidurnya, sebotol obat penurun demam, dan kartu pesan dari Heiji yang mengatakan bahwa ia akan kembali besok untuk memberitahu hasil penyelidikannya)

Ia tidak tahu lagi apa yang telah terjadi. Ingatannya menjadi samar, tertutup oleh rasa sakit yang kembali menyerangnya dari luka di lengannya yang ternyata sudah dibalut rapih dengan perban luka serta nyeri pada dadanya yang membuatnya kembali tidak sadarkan diri hingga pagi menjelang.

Dan ketika bangun ia merasa seperti baru saja dilahirkan menjadi individu baru. Segar dan cukup sehat untuk bisa beraktifitas.

Yah, tidak hingga Haibara menyambutnya di depan lorong rahasia menuju rumah profesor dan terus menginterogasinya.

Topeng itu … apa hanya perasaanku saja?

Mengepalkan tangannya, kedua alis Shinichi yang tersembunyi dibalik helai rambutnya saling bertautan. Kedua matanya menyipit saat ia coba untuk mengingat kembali momen-momen dimana ia merasakan tangannya memegang wajah seseorang—sangat panas—yang menertawakannya dan merasa seperti telah menguliti wajah orang tersebut. Namun, belum sempat ia menarik tangannya, tangan lain yang terasa basah dan panas mencengkram pergelangan tangannya, membuatnya menghentikan gerakannya dan menyunggingkan seulas senyum lemah di antara usahanya untuk bisa bernafas.

You know who I am—

Dan sesuatu menyentuh keningnya. Sesuatu yang lengket, berbau manis seperti kue, dan hangat.

—and I know who you are.

"Akan kurobek seringai bodohmu dan kukirim kau ke penjara," gumam detektif itu pada dirinya sendiri dengan tangan terkepal saat ingatannya mengenai apa yang ia ucapkan malam itu kembali melintas dalam kepalanya.

Dan apa jawaban lawan bicaranya?

"Ba'arou! Apa serunya melakukan itu?"

Eh?

"Hee? Jadi tidak bisa?" Odio, gadis kecil yang kini sudah berada di punggung Kaito merengek. Kedua tangan mungilnya terlihat melingkari leher Kaito dan kepalanya ia miringkan agar bisa dilihatnya wajah pemuda yang menggendongnya. "Tapi kakek bilang kalau berjalan kaki akan sangat melelahkan dan butuh waktu lama."

Kaito terkekeh pelan. "Tentu saja kakek tua itu akan bilang seperti itu. Mendaki gunung itu lebih menyenangkan dengan berjalan kaki. Memang melelahkan, tetapi disitulah bagian paling menyenangkannya! Lain kali, kalau ingin mendaki, ajaklah seseorang yang jauh lebih muda dan sehat."

Odio menggembungkan pipinya. "Tapi kakek masih sangat muda! Itu yang ia katakan setiap bibi pemotong bunga datang."

"Biar kutebak," Kaito berujar penuh rasa percaya diri. "Kakek tua itu pasti sangat suka mengajakmu ke kolam renang dan menyuruhmu berenang seorang diri sampai ia memanggilmu untuk pulang, benar?"

"Benar!" gadis kecil itu berseru keras. "Ia juga memakai celana aneh dengan motif pelangi. Lalu ia akan duduk di pinggir kolam, memesan minuman pahit, dan memakai kacamata hitamnya. Aku pernah bertanya padanya dan kakek bilang ia sedang menikmati ciptaan Tuhan."

Mendengar hal ini, Kaito tertawa dan merespon dengan komentar-komentar kecil yang pada akhirnya membuat gadis kecil yang digendongnya tertawa geli.

"Kaito—"

Kaito yang mendengar namanya disebut-sebut menghentikan langkahnya dan bersama-sama dengan gadis kecil yang digendongnya menoleh ke arah Shinichi yang tertinggal beberapa langkah di belakang.

Satu alis terangkat. "Ya?"

"—KID."

"Hah?"

"Kau—"

"Apa paman itu teman kalian?" Odio memotong sebelum Shinichi sempat menyelesaikan kalimatnya dengan suara lantang. Satu tangan anak itu menunjuk ke arah Shinichi yang berdiri berhadapan dengan Kaito. Mereka hanya terpisah beberapa langkah.

"Paman? Siapa?" Kaito melirik ke arah gadis kecil di punggungnya sebelum menyipitkan pandangannya ke arah dimana tangan anak itu tertuju; di belakang Shinichi.

"Disana!" Ujar Odio sekali lagi sambil bergerak-gerak bersemangat seolah sedang menunjukan sebuah wahana di taman bermain. "Dia sudah mengikuti kita sejak tadi."

Tersentak mendengar ucapan gadis kecil itu, Shinichi lalu menoleh. Meneliti keadaan di sekitarnya selama beberapa detik dengan mata menyipit dan ya, tepatnya di sebuah pertigaan jalan yang sama sekali tidak mendapat cahaya penerangan, seseorang berdiri membelakangi mereka dan bersandar pada dinding pagar rumah warga.

Detektif itu lalu melirik ke arah cermin besar di persimpangan jalan, mencoba melihat sudut yang tidak dapat dilihatnya hanya dengan sekali lihat. Semakin jelas terlihat seseorang tengah berjalan mundur, mencoba menghindari sudut penglihatan cermin besar itu.

Detektif dari timur itu bergerak mundur perlahan, mensejajarkan langkahnya dengan Kaito, dan memutar tubuhnya ke arah berlawanan.

Berdeham, detektif itu dengan sengaja mengeraskan suaranya. "Mungkin hanya perasaanmu. Kami tidak melihat apapun."

Kaito tetap diam di tempatnya. Perpaduan antara waspada dan bingung tercetak jelas di wajahnya saat dilihatnya Shinichi berjalan seolah tidak ada apa-apa. Dengan satu alis terangkat ia memutuskan untuk mengikuti jejak detektif itu dan mulai mensejajarkan langkah mereka.

"Kau antar anak itu, aku alihkan mereka," ujar Shinichi dengan suara pelan agar hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Detektif itu kembali melirik dari sudut matanya, memastikan bahwa seseorang di belakang sana kembali mengikuti mereka.

"HAH—" Kaito dengan cepat menutup mulutnya, menyadari suaranya terlalu keras. "—apa kau sudah gila? Bagaimana kalau mereka mafia jahat? Atau mereka pembunuh bayaran? Kau bisa mati!"

Shinichi mengerutkan keningnya, menatap datar pemuda di sampingnya. "Kalau begitu kau lebih memilih menghadapi mereka? Kita bahkan tidak tahu jumlah mereka dan apa mau mereka. Lagipula, ada anak kecil disini!"

"Menghadapi mereka seorang diri jauh lebih berbahaya," desak Kaito yang berusaha terdengar penuh logika.

"Odio-chan, kau tunjukan jalan menuju rumahmu pada pangeranmu, oke? Jaga dia baik-baik dan jangan biarkan dia pergi," ujar Shinichi seraya mengusap kepala gadis kecil itu, seutuhnya ia abaikan lawan bicaranya, dan menambahkan, "kau tidak akan tahu apa yang kau miliki hingga akhirnya benda itu hilang dari sisimu."

"Hei!" Kaito memprotes. "Kau titipkan aku pada anak ini? Aku bisa—"

"Baiklah!" Odio menjawab semangat. Dieratkannya pelukannya pada leher Kaito. "Apa Ichi-niichan akan menyusul?"

"Kenapa kau menyetujuinya, Odio-chan!?"

"Karena aku tidak mau pangeranku hilang!"

"Ini bukan masalah hilang—"

"Entahlah," jawab Shinichi pelan dan seketika membuat Kaito beserta Odio menoleh bersamaan ke arahnya. "Mungkin aku akan menyusul."

"Hei, Shin—"

Mengeluarkan ponselnya, Shinichi terlihat mengetik sesuatu di sana dan mengabaikan Kaito yang masih mencoba membujuknya.

"Pergilah, aku sudah biasa melakukannya sendiri."

"Shin—"

"Drama malam mulai dalam 20 menit."

"—cih! Aku membencimu dari lubuk hatiku yang terdalam, Shin! Odio-chan, berpegangan!"

.

.

.

.

"Kau."

Dengan seringai canggung dan sebuah garukan pada pipinya, Heiji menyapa pemilik rumah yang baru saja membukakan pintu untuknya. Detektif dari Osaka itu lalu membungkuk, meletakan kedua tangannya pada lututnya untuk mensejajarkan garis pandang dengan lawan bicaranya yang memiliki tinggi tidak lebih dari pinggangnya.

"Hai!" Sapa pemuda itu riang, bertolak belakang dengan ekspresi lawan bicaranya. "Apa Profesor ada di rumah?"

Ekspresi datar Haibara sama sekali tidak meninggalkan wajahnya. Sebaliknya, tatapan ilmuwan kecil itu semakin tajam dan menancap pada manik mata lawan bicaranya.

"Dimana dia?"

"Siapa? Profesor? Bukankah seharus—"

"Detektif ternama yang tidak bisa menggunakan waktunya dengan efisien dan selalu mementingkan misteri daripada lingkungan sekitarnya."

"Ah! Kudo? Dia dan Kuroba sedang mengantar seorang gadis kecil pulang. Ia bilang akan kembali begitu urusannya selesai," jelas Heiji kembali menegakan tubuhnya. Pemuda itu lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan mendengus. "Ia juga bilang ada yang harus mereka bicarakan. Entah apa. Sepertinya tentang—"

"Profesor ada di ruang tengah," potong Haibara datar. Gadis itu lalu memakai tudung jaketnya dan berjalan melewati Heiji menuju pagar. Ia biarkan Heiji berdiri mematung di depan pintu dengan kening berkerut.

"Kurasa aku paham kenapa Kudo sangat takut padanya," gumam Heiji ketika dilihatnya Haibara membuka pintu pagar dan menutupnya kembali setelah ia berada di luar. Mungkin ia ingin membeli sesuatu di minimarket, karena tidak mungkin gadis kecil itu baru ingin pergi ke pasar untuk membeli makan malam pada jam-jam seperti itu.

Memasuki rumah Profesor Agasa, Heiji tanpa memerdulikan sekitarnya berjalan menuju ruang tengah dimana, menurut apa yang dikatakan ilmuwan kecil itu, Profesor berada. Pria tua gemuk itu terlihat sedang duduk di atas sofa dengan sebuah ... Entah apa yang dipegangnya tetapi semua itu terlihat membingungkan di mata Heiji.

"Yo!" Sapa detektif Osaka itu sambil melambaikan tangannya. Tanpa diminta ia duduki sofa di seberang pria tua itu. "Kau sedang sibuk, Prof?"

"Oh, Hattori-kun," pria tua itu melepas alat yang nampak seperti dua buah lup yang disusun menjadi sebuah kacamata, membiarkannya menggantung di lehernya dan menghentikan kegiatan memutar sekrupnya. "Tidak, hanya memperbaiki lencana detektif milik anak-anak. Kau sendirian? Dimana Shinichi?"

"Dia dan Kuroba sedang mengantar seseorang pulang. Aku datang karena ada yang ingin kubicarakan denganmu," jelas detektif dari Osaka itu seraya mengangkat kakinya untuk disilangkan di atas sofa. Detik berikutnya, pemuda itu merogoh saku celana seragamnya dan mengeluarkan sehelai foto. Diletakannya foto itu di atas meja agar lawan bicaranya juga bisa melihat dengan jelas foto itu. "Kau mengenali foto ini?"

Meraih foto yang diberikan oleh pemuda di hadapannya, Agasa lalu memakai kembali kacamata bulatnya dan mencondongkan tubuhnya untuk memeriksa foto tersebut. Pria tua itu mengerutkan keningnya sesaat sebelum menganggukan kepalanya. "Ya. Ini foto yang diambil saat konvensi para penemu beberapa tahun silam. Darimana kau dapatkan foto ini? Sudah lama aku tidak melihatnya. Oh! Ini George! Dia cukup terkenal di kalangan pria tua karena penemuan obat penumbuh rambutnya dan yang ini kalau tidak salah namanya, hm, Hibiki? Entahlah. Aku lupa, ini sudah lama sekali."

Heiji mengangguk-angguk. "Bagaimana dengan pria yang di tengah foto, dua orang dari sisi kananmu?"

Menyipitkan matanya, Agasa kembali memerhatikan foto yang dipegangnya. Fokus matanya kini terpaku pada sosok seorang pria yang terlihat lebih tua darinya dan berdiri di sisi kanannya.

"Hm, entahlah. Aku tidak ingat pernah bertemu dengannya," jawab pria gemuk itu. "Ah, mungkin kita bisa tahu kalau melihat journal acara konvensi itu. Seingatku aku menyimpannya di kamarku. Sebentar, akan kuambilkan."

Menganggukan kepalanya, Heiji dengan sabar menunggu pria gemuk itu mencari journal yang dimaksudkan dan memutuskan untuk melihat-lihat isi ruang tengah rumah penemu itu.

.

.

.

.

Dengan kedua alis terangkat, Haibara menoleh ke arah kanannya untuk melihat seorang pemuda dengan gakuran hitam. Pemuda itu juga menampakan ekspresi yang sama, kedua alis terangkat dan mata yang memancarkan keterkejutan atas peristiwa yang terjadi.

"Untuk ukuran anak seusiamu, kau memiliki selera yang bagus," pemuda itu berujar dengan nada ramah yang terdengar manis di telinga Haibara. Tangan pemuda itu, yang semula bersentuhan dengan tangannya, bergerak cepat untuk mengambil majalah yang juga diincar oleh Haibara. Dengan seulas senyuman bak pangeran di negeri dongeng, pemuda itu melanjutkan, "kau boleh memilikinya, Nona Kecil."

Haibara, di luar sepengetahuan pemuda di hadapannya, merasakan sudut bibirnya berkedut mendengar julukan yang diberikan oleh pemuda itu, yang mengesankan seolah ia adalah anak kecil. Namun, melihat pemuda itu bersimpuh dan mengulurkan tangannya untuk menyerahkan majalah yang diincarnya, kedutan di bibirnya hilang dan tergantikan dengan sebuah seringai.

"Tidakkah kau terlalu feminine untuk ukuran seorang pria?" Haibara meraih majalah yang diberikan kepadanya dan menatap covernya sesaat sebelum kembali menatap lawan bicaranya.

Pemuda itu hanya tersenyum. Tingkah laku memperlihatkan seolah ia terbiasa dengan komentar-komentar bersifat negatif yang ditujukan padanya.

"Fashion bukanlah sesuatu yang dinilai hanya dari gaun, melainkan sebuah bentuk kebebasan dalam menunjukan apa yang ada dalam diri kita."

Haibara mendengus disela senyumannya, "Coco Chanel, Golda Meir, Stella Blum."

Pemuda itu mengangguk kecil, seulas senyum ramah masih menghiasi wajahnya. "Well, sayang sekali minat seperti ini hanya membuatku mendapat kesan negatif di mata wanita cantik sepertimu," pemuda itu kembali menegakan tubuhnya. "Senang bisa mendapat kesempatan berbincang denganmu—"

"Woman in black dress," Haibara berucap seolah sedang memperkenalkan dirinya dan memutar tubuhnya ke arah dimana kasir berada. "Onnarashi-kun."

"Interesting." Itulah yang didengar Haibara dari mulut pemuda itu saat ia biarkan petugas kasir menghitung total yang ia belanjakan.

.

.

.

.

Sial! Batin Kaito setelah berbelok di persimpangan jalan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh 'penumpang' kecil di punggungnya. Ia tidak menyangka 15 hingga 20 menit yang dikatakan oleh seorang warga Beika akan berakhir seperti berjam-jam hanya karena beberapa rute yang ditunjukan oleh gadis kecil sang pemilik rumah telah dijaga oleh orang-orang berpakaian serba hitam.

Melarikan diri adalah satu-satunya opsi yang ia miliki, mengingat ia tidak membawa banyak perlengkapannya—ditambah ukuran pria-pria itu yang terlihat seperti atlet sumo, beberapa bola bersisi gas tidur dan bom berisi gliter rasanya akan sulit melumpuhkan mereka—dan, seperti apa yang Kudo Shinichi si manusia serba benar itu katakan, ada seorang anak kecil yang harus ia prioritaskan.

Sepertinya benar-benar sudah ketahuan. Apa yang harus kulakukan selanjutnya? Mengakuinya? Mengatakan 'Akhirnya kau tahu siapa aku, bravo, Tantei-kun!'? Itu gila! Atau mengelak saja? Tetapi tatapannya itu … dan semua tingkahnya hari ini … Sial! Sial! Sial!

"Mereka masih mengikuti," sebuah suara kecil di belakang kepala Kaito berujar tenang, membuat Kaito yang mendengarnya harus memperlambat langkahnya dan bersembunyi di sebuah gang kecil untuk mengonfirmasi keberadaan beberapa orang pria yang masih mengejarnya.

Ternyata memisahkan diri dengan detektif itu tidak membuatnya bebas dari kejaran pria-pria besar tersebut.

Dengan nafas terengah-engah pemuda itu melonggarkan kerah kemejanya, membuka dua kancing teratasnya agar ada udara yang menyentuh tubuhnya yang mulai berkeringat. Pemuda itu lalu menggoyangkan sepatunya, memunculkan sebuah cermin tersembunyi pada sepatunya yang biasa ia gunakan untuk mengintip rok para siswi di sekolahnya, dan mengulurkan kakinya ke arah jalanan.

"Dua, tiga—lima?" Kaito dengan cepat menarik kembali kakinya dan merogoh saku celananya, mengeluarkan tiga buah bola pingpong berwarna hijau dan menggenggamnya dengan erat. "Apa kau mengenal mereka, Odio-chan?"

Gadis kecil yang masih digendong oleh Kaito itu menggeleng pelan dan kembali mengeratkan pelukannya pada leher Kaito. "Aku hanya pernah melihat mereka sekali. Dulu."

Merasa tertarik dengan apa yang baru dikatakan oleh gadis kecil itu, Kaito lalu menoleh. "Oh, ya? Dimana?"

"Di rumah," jawab gadis itu berbisik. "Waktu itu kakek kedatangan tamu dan paman-paman besar itu yang mengantarkan. Bibi koki di rumah pernah menceritakannya padaku, bahwa mereka sangat kejam. Mereka suka memarahi kakek dan memukul paman penyiram bunga."

Seperti pemeras, eh? "Apa kau tahu pekerjaan kakekmu?"

Gadis itu mengangguk yakin. "Kakek adalah tukang kebun! Dia sangat suka berkebun dan jika tanamannya sudah tumbuh besar, kakek memasukannya dalam kotak kayu dan menyuruh seseorang membawanya!"

Bisnis tanaman? Tetapi, kenapa orang-orang ini harus mengejar kami? Sial! Seandainya aku membawa sesuatu—"Apa rumahmu masih jauh dari sini?"

Gadis kecil itu terdiam. Kaito bisa merasakan gerakan badan gadis itu yang terasa seolah gadis itu sedang mengelilingkan pandangannya. "Disana! Kita bisa lewat sana!" Bisik gadis kecil itu sembari menarik-narik kerah gakuran hitam Kaito. "Aku dan Hime-chan pernah lewat gang itu saat dikejar tukang pos!"

"Tukang pos?" Kaito menoleh ke arah di mana gadis itu menunjuk dan memang ada celah sempit yang bisa dilaluinya dan jika tebakannya benar, di ujung celah itu pasti ada sebuah pagar beton setinggi 2.5 meter yang harus dipanjatnya agar bisa memasuki jalan utama.

Dengan berat badan Odio-chan, mungkin aku bisa memanjatnya … pikir pesulap muda itu dengan sebuah helaan nafas panjang sebelum ia lemparkan tiga bola pingpong hijau di tangannya ke arah jalanan.

Desisan keras pun terdengar dari tiga bola itu dan dalam waktu singkat, asap hijau tebal menutupi area di sekitar jalanan dimana letak gang tempat Kaito bersembunyi berada. Teriakan keras pria-pria besar itu pun terdengar membahana di kegelapan malam, membuat lampu-lampu rumah warga mulai menyala karenanya.

Memanfaatkan keramaian yang ditimbulkan oleh pria-pria besar itu, Kaito mulai berjalan berjinjit memasuki celah kecil yang membuat tubuhnya terasa seperti ditekan dengan mesin laminating—ah, kurang lebih seperti itu.

"Kau harus diet," komentar gadis kecil yang sudah berada setengah jalan di antara celah sempit itu. Kaito sengaja menyuruh gadis itu berjalan lebih dulu untuk mempermudah langkahnya.

"Berisik," desis Kaito sebal. "Jika dibandingkan dengan si Magnet Mayat, tubuhku jauh lebih bagus!"

"Apa pangeran suka berolahraga?" tanya gadis itu dengan nada riang yang sangat kontras dengan keadaan mereka saat ini. "Dokter bilang kakek harus berolahraga agar ia bisa terus mengantarku sekolah."

"Bukankah kakekmu sehat-sehat saja?" tanya Kaito yang telah berhasil menempuh seperempat jalan kecil tersebut. Permukaan batu bata mulai menggores gakuran hitamnya dan beberapa kali mata kakinya terbentur bebatuan. Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, namun di tengah kegelapan sulit bagi Kaito untuk melihat gelengan tersebut. "Kakek sering mengeluh dadanya sakit. Tetapi setelah itu kakek akan tidur sebentar dan kembali sehat."

Mempercepat langkahnya, Kaito yang akhirnya bisa merasakan udara bersih, menghembuskan nafasnya. Pemuda itu kemudian mendongak, menatap dinding setinggi 2.5 meter yang membatasinya dengan jalan utama blok 3. Hanya tinggal sedikit lagi perjuangannya mengantar gadis kecil itu dan ia bisa, ah, ya. Ia belum bisa bersantai.

Masih ada seorang detektif yang harus ia hadapi saat semua urusan mengantar ini selesai.

Aku bersumpah tidak akan memberi bubuk cabai lagi pada bekal Nakamori-keibu jika kau mau membantuku, wahai Dewi Fortuna ... Kaito membatin penuh aksen yang didramatisasi. Satu tangannya mengeluarkan sebuah pena dari saku seragamnya, memutar bagian ujung tutup pena tersebut dan seketika muncul sebuah cermin lipat yang terpasang pada sebuah batangan kecil yang dapat memanjang.

"Whoaa! Kereen!" Odio berujar dengan rasa takjub yang membuat matanya mengilatkan kilauan kagum pada pemuda yang dipilihnya menjadi pasangan hidupnya itu. Mendengar hal ini membuat Kaito terkekeh pelan dan kembali melanjutkan aktifitas mengintipnya.

Selang beberapa detik, pemuda itu melipat kembali pena multifungsinya dan menyimpannya dalam saku gakuran yang dipakainya. Berjongkok, ia kemudian tersenyum pada sosok Odio.

"Ayo! Kau pasti sudah lapar, 'kan?"

.

.

.

.

"Haaah!" Kaito menghembuskan nafas leganya begitu kakinya menyentuh permukaan beraspal di jalan utama blok 3. Pemuda itu lalu kembali menegakan tubuhnya yang semula membungkuk, melihat ke kanan dan ke kiri, dan siap mengantarkan seorang gadis kecil yang bediri di sampingnya.

"Pangeran seperti pencuri saja, bisa memanjat dinding setinggi itu," komentar gadis kecil itu dengan nada seolah apa yang dilakukan Kaito adalah sebuah akrobat hebat di pertunjukan sirkus.

Ha-ha-ha, kenapa komentar itu terdengar menyedihkan?

Melihat jam pada ponselnya, mata pemuda itu kemudian menyipit tajam dan berdecak kesal sebelum memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana seragamnya. Drama malam sudah memasuki 5 menit pertama, walau biasanya selama 5-7menit awal hanya diisi dengan lagu pembuka dan preview episode sebelumnya. Setelah itu akan ada jeda iklan yang mungkin bisa membuatnya sempat menonton episode untuk malam ini tepat waktu.

Ah, ya! Benar! Ia bisa menumpang menonton di rumah gadis kecil itu!

"ITU DIA!" Teriak seorang pria dari ujung jalan yang membuat Kaito tersentak.

Pemuda itu menoleh dan terkejut mendapati sekumpulan pria-pria besar berlarian ke arahnya—ya, ya.. Hampir serupa dengan keadaan saat anak buah Nakamori-keibu mengejarnya, hanya saja yang ini memiliki badan dua kali lebih besar.

Insting tajam seorang pencuri dalam kepalanya dengan liarnya kembali membunyikan alarm tanda 'bahaya'. Membuat refleks badannya bergerak dua kali lebih cepat dari biasanya dan dalam satu kedipan mata, tubuh kecil Odio sudah berada di pundaknya dan ia mulai berlari menghindari kejaran pria-pria atlit lari khusus pesumo itu.

"BERHENTI!" Suara yang sama kembali berteriak, sepertinya itu adalah ketua grupnya. Ia terdengar terus memerintah pria-pria lainnya agar berlari lebih cepat dan sesegera mungkin menangkap subjek yang dikejarnya. "JANGAN LARI!"

"Ba'arou!" Kaito menyahut tanpa menghentikan langkahnya yang semakin cepat. "Kalian mengejarku! Tentu saja aku harus lari!"

"KALAU BEGITU BERHENTI!"

"Tidak!"

"KAMI TIDAK AKAN MENGEJARMU LAGI!"

"Kalian masih mengejarku!"

"KARENA KAU MASIH BERLARI!"

"Kalau begitu kalian berhentilah!"

"KAU DULUAN YANG BERHENTI!"

"Tidak mau!"

"BAIKLAH KAMI BERHENTI!"

Dalam hitungan detik, langkah pria-pria besar itu perlahan berhenti. Derap langkah menggebu-gebu mereka tergantikan oleh suara nafas tersengal-sengal yang memburu. Kaito yang melihat kejadian itu dari sudut matanya perlahan menghentikan langkahnya dan benar-benar berhenti ketika jarak di antara mereka terpaut 5 meter jauhnya.

"Apa mau kalian?" Tanya Kaito tanpa basa-basi. Tanpa memberi kesempatan pria-pria besar itu beristirahat sejenak. Fakta bahwa drama malam favoritnya sudah dimulai membuatnya tidak bisa lagi menunggu.

Pria besar yang berada di tengah—ya, sepertinya ia yang terus memberikan perintah pada dua orang lainnya yang berdiri di belakangnya—mengibaskan tangannya. Entah untuk menjawab pertanyaan yang Kaito ajukan atau untuk memberikan udara pada tubuh besar mereka yang dibasahi keringat.

"Kami mengejarmu ... Karena kami lihat ... Kau ... Membawa Nona Odio dan—"

"Kalian pikir aku penculik?" Tandas Kaito dengan nada kesal. Tidak sopan! Kuroba Kaito adalah pesulap—dan, ahem, seorang pencuri—bukan penculik anak kecil! Kenapa akhir-akhir ini ia merasa orang-orang menganggapnya seolah ia adalah pedofil?

"Semacam itu," seseorang di antara dua pria besar yang berada sedikit lebih ke belakang merespon tenang.

"Sejak di taman, kami melihatmu mendekati Nona Odio. Karena itu kami—"

"Kalian mengikutiku sejak tadi sore?" Tanya Kaito dengan nada terkejut yang memang menggambarkan keterkejutannya.

Ketiga pria besar itu saling pandang satu sama lain dan mengangguk. "Tetapi hanya sampai kau pulang bersama mobil patroli."

"Setelah itu kami tidak mengikutimu lagi," salah satu dari ketiga pria besar itu melanjutkan.

"Dan kami kembali mengikutimu karena kau membawa Nona Odio," yang lain, sepertinya ia adalah salah satu dari dua pria di belakang sang ketua, menyelesaikan penjelasannya.

Mata Kaito menyipit tajam. Satu tangannya yang senggang kini bertolak pada pinggangnya—sementara yang lainnya masih menjaga agar tubuh Odio yang ia gendong di pundaknya dalam posisi terbalik tidak terjatuh—terlihat seperti seorang ayah yang ingin memarahi anaknya. "Kau tahu? Aku hanya berniat mengantar anak ini pulang dan menonton drama malam, lalu kalian tiba-tiba muncul dan mengejar kami. Kalian membuat kami panik!"

Salah satu dari tiga pria itu tertawa pelan.

"Tapi Nona Odio tahu kami selalu mengikutinya," si ketua di antara tiga pria itu berujar tenang.

"Hah?" Kaito mendelik. Diturunkannya sosok Odio dari pundaknya agar gadis itu bisa melihat ketiga pria tersebut dan ya! Gadis itu terlihat tenang melihat tiga pesumo yang mengenakan kacamata hitam itu. "Kau bilang kau tidak mengenal mereka, Odio-chan!"

Odio menggeleng pelan. "Aku tidak kenal dengan paman yang mengikuti kita tadi, tapi aku kenal mereka. Mereka sering mengajakku ke taman bermain setiap hari sabtu."

Pesulap muda itu tercengang dan tidak terlihat sedikitpun pemahaman dari caranya menatap gadis kecil di hadapannya.

Melihat ekspresi wajah Kaito, si ketua dari tiga pria besar tersebut kembali mengibaskan tangannya. Dengan senyum ramah pria itu berjalan mendekati Kaito dan mengajak pemuda beserta gadis kecil tersebut ikut bersama mereka menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh tepat di sisi kanan tempat Kaito berdiri.

.

.

.

.

"Maaf, membuatmu menunggu," Agasa—setelah hampir 30 menit mencari—akhirnya kembali ke ruang tengah dengan sebuah journal besar di tangannya. Pria tua gemuk itu hanya tertawa saat dilihatnya Heiji menatapnya dengan tatapan mengantuk dan sedikit noda basah bekas liur di sudut bibirnya. "Karena sudah lama, journal ini terselip di balik lemari."

"Ya, ya," Heiji kembali mengelap sudut bibirnya dengan pergelangan tangannya. Cih, aku bahkan sempat bermimpi ditraktir takoyaki oleh Ohtaki-han.

Mendudukan diri di tempatnya semula, Agasa mulai membuka journal tersebut. Satu per satu foto peserta konvensi yang tertera di sana ia cocokan dengan foto yang diberikan Heiji padanya.

"Aneh," Agasa berkomentar setelah menyibak beberapa lembar halaman journal tua itu dan hampir tiba pada lembaran terakhir. Alis tebal putihnya terangkat sempurna ke atas. "Pria ini tidak ada dalam daftar peserta."

"Bagaimana dengan panitia? Atau sponsor acara?" desak Heiji tidak sabar. Agasa hanya menganggukan kepalanya dan melanjutkan pencariannya. Untunglah journal besar itu tidak memiliki banyak halaman, walaupun data yang tercetak berukuran kecil dan terlihat sangat banyak, tetapi jumlah halamannya meyakinkan pria tua itu bahwa pencariannya tidak akan memakan waktu lama.

Selagi pria gemuk itu sibuk mencari, Heiji mengeluarkan ponselnya dari saku celana seragamnya dan melihat LED pada sudut ponselnya berkedip merah. Dengan mata menyipit, pemuda berkulit gelap itu memeriksa pesan masuk yang diterimanya dan dengan cepat menelpon nomor yang tertera pada badan pesan yang baru saja dibacanya.

"Moshi-moshi?" sapa Heiji dengan kepala yang dimiringkan. Bagaimanapun juga, ia tidak tahu nomor siapa yang diberikan oleh si pengirim pesan yang tiba-tiba memintanya menghubungi nomor tersebut. Bisa jadi orang yang saat ini ditelponnya adalah seorang rentenir, atau layanan bercinta melalui telpon yang dikatakan orang akan membuat tagihan telpon membengkak, atau—

"HEIJIIIIII!" teriak seseorang yang ditelponnya.

Detektif Osaka itu terperanjat mendengarnya dan reflek melempar ponselnya ke sofa kosong di sampingnya. Detik berikutnya, pemuda itu meraih kembali ponselnya dan sekali lagi menempelkannya pada telinganya. Telinga yang berbeda dengan yang sebelumnya, tentu saja.

"Kau siapa?" tanya Heiji dengan suara sedikit meringis. Satu tangannya bergerak mengelus telinganya yang menjadi korban teriakan histeris tadi saat ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju jendela. "Kenapa kau tahu namaku?"

Suara di seberang sana mendengus pelan. Setelah itu terdengar suara dehaman pelan dan kembali terdengar suara lawan bicaranya. "Kau menelponku, tetapi kau tanya siapa aku? Tidak sopan!"

Kening Heiji mengerut saat dikenalinya si pemilik suara yang baru saja berbicara dalam dialek Osaka tersebut. Suara itu sangat familiar dan seingatnya hanya ada beberapa orang yang memiliki suara tersebut di dekatnya. Lalu dialek itu, jelas si pembicara bukanlah orang yang lama tinggal di area Kansai, tetapi ia cukup menguasai dialek khas tersebut. Jelas bukan Kudo Shinichi. Pemuda Tokyo itu selalu saja menggunakan pelafalan aneh saat berbicara dalam dialek Kansai yang terkesan seperti sedang meledekah, itu artinya ... "Kuroba?"

"Ping pong!" suara di seberang sana menjawab riang. "Kenapa kau menelponku? Jangan katakan kalau kau rindu padaku, karena kita baru bertemu setengah, ah, 45 menit yang lalu! Jadi, perjalanan pulangmu menyenangkan?"

Heiji mengerucutkan bibirnya. Benar yang dikatakan Kudo, orang ini seperti tidak pernah kenal lelah. "Aku masih berada di rumah Profesor karena ada sesuatu yang harus kuurus. Aku sendiri tidak mengerti, Kudo tiba-tiba menyuruhku menelponmu." Apa dia sedang menonton tv? "Ada apa?"

Suara di seberang sana terdiam sesaat dan Heiji bisa mendengar ada suara ribut-ribut menjadi latar belakang keheningan lawan bicaranya. Setelah beberapa detik terdiam, suara di seberang sana kembali terdengar. "Sebenarnya, aku terjebak—tidak, tidak—kami terjebak masalah kecil di sini. Apa urusanmu memakan waktu lama? Aku butuh bantuanmu."

Menoleh ke arah Agasa yang masih menyocokan foto yang dibawanya dengan daftar dalam journal, pemuda itu menggedikan bahunya pelan. "Entahlah, kami sedang menelusuri arsip lama. Kalau beruntung mungkin akan cepat selesai. Apa sangat mendesak? Tunggu, bukankah Kudo bersamamu? Apa itu artinya Kudo juga tidak bisa membantumu?"

Suara di seberang sana terdengar seperti sedang menghelakan nafasnya.

"Aku dan Shinichi terpisah saat perjalanan pulang. Saat ini aku berada di rumah Odio-chan dan kakeknya ditemukan tidak sadarkan—"

"Beri aku 10 menit!"

.

.

.

.

Menutup ponsel flipnya, Kaito kembali mengernyitkan dahinya. Satu tangannya yang sejak tadi bertolak pada pinggangnya tanpa ia sadari semakin erat mencengkram bahan celana yang dikenakannya.

Kenapa Shinichi menyuruh Tantei-han menelponku? Dan kalau ingatanku benar, tidak seharusnya Heiji tahu—mungkinkah?

"Apa kau sudah selesai menelpon?" suara manis seseorang terdengar dari bawah kaki Kaito dan saat pemuda itu menunduk, disana telah berdiri Odio-chan dengan sebuah boneka merah seukuran tubuhnya dalam pelukannya. Gadis kecil itu memiringkan kepalanya. "Siapa yang kau telpon?"

Pemuda itu tersenyum tipis lalu berjongkok untuk mengusap kepala gadis kecil tersebut. "Salah satu detektif terbaik negeri ini baru saja menelponku. Dia bilang akan datang untuk menangkap orang yang me—menyuruh pria-pria besar itu mengejar kita."

Gadis kecil itu membulatkan mulutnya. "Apa itu Hakuba-niichan? Aku ingin dia datang dan mengenalkannya pada kakek. Hakuba-niichan sangat tampan dan parfum yang dipakainya sangat wangi!"

"Hei, hei," Kaito memprotes. "Membicarakan pria lain dihadapan pangeranmu itu tidak sopan!"

"Tentu saja pangeran adalah yang paling tampan! Walaupun sedikit bau keringat."

"Heeeei!" Kaito mengeluh. Dibentangkannya kedua tangannya sebelum ia tarik gadis kecil itu dalam pelukannya. Dengan satu tangannya, pemuda itu mulai menggelitik perut gadis kecil dalam pelukannya dan membuat gadis itu tertawa lepas. "Kau pikir salah siapa aku jadi berkeringat, hah?"

"Kyahaha—hentikan! Hahahahah!"

"Apa kau menyerah?"

"Tida—hahahahahah!"

"Menyerah?"

"Hahahahaha—iya! Aku menyerah!"

Menghentikan aksinya, pemuda itu lalu menyeringai lebar penuh rasa bangga. "Anak pintar! Apa kau sudah memakan semua yakitorimu?"

Gadis itu menganggukan kepalanya dengan patuh. "Sebagian kusisakan untuk kakek. Hime-chan menyimpannya dalam kulkas."

"Good! Kalau begitu, sekarang sikat gigimu dan bersiap untuk tidur."

Berdiri dari posisinya, Kaito kemudian mengulurkan tangannya. Siap mengantar gadis kecil itu ke kamarnya karena malam semakin larut dan banyak hal yang harus ia lakukan—jika gadis kecil itu tidak tidur, ia tidak akan bisa melakukannya karena gadis kecil itu pasti akan mengikutinya.

Namun, uluran tangan Kaito sama sekali tidak mendapat respon.

Gadis kecil itu hanya menggembungkan pipinya dan memeluk erat boneka merah—yang ternyata, setelah dilihat lagi, berbentuk seperti sosis gurita dalam kotak bento—yang memiliki ukuran sebesar dirinya. Kaito baru saja akan bertanya saat tiba-tiba tatapan gadis kecil itu menajam penuh ancaman ke arahnya.

"Kalau aku tidur, pangeran akan pergi meninggalkanku, 'kan?"

Eh?

"Aku tidak mau tidur!"

Yang benar saja… "Tapi, ini sudah waktunya—"

"Papa juga melakukannya! Menyuruhku tidur dan saat aku bangun ia sudah pergi. Ia tidak pernah kembali dan meninggalkanku sendirian!"

Mendengar suara anak itu semakin meninggi, Kaito pun kembali berjongkok di hadapan anak itu. Jelas terlihat wajah memerah gadis kecil itu dibalik boneka yang dipeluknya dan di sudut matanya—"Odio-chan."

Gadis itu menggeleng kuat, menolak uluran tangan Kaito yang mencoba menghapuskan noda basah pada sudut matanya.

"Semua orang meninggalkanku. Bahkan kakek pun … aku mendengarnya—hiks—dari paman gemuk k, kalau … kakek … kakek sudah—"

"Sshh," pemuda itu dengan cepat menutup bibir gadis kecil itu dengan jari telunjuknya sebelum ada kalimat lain yang terucapkan disela isak tangisnya. Seulas senyum lemah mengembang di wajah lelahnya dan sebisa mungkin ia pastikan bahwa senyuman itu mampu membuat perasaan gadis kecil di hadapannya sedikit lebih tenang. Dia jarang melakukan ini pada anak kecil, tetapi cukup berhasil untuk orang dewasa—mencoba tidak ada salahnya, 'kan? "Kakekmu diajak pergi oleh dokter karena disini tidak ada peralatan yang memadai. Begitu semuanya selesai, kakekmu pasti akan pulang."

Gadis berambut merah itu mendelik, menatap Kaito tanpa ada sedikitpun tanda bahwa ia mempercayai ucapan pemuda tersebut.

"Kau tidak percaya, eh?" tanya Kaito memastikan dan dijawab dengan sebuah anggukan. Bagaimana ini? Kalau dia tidak tidur, aku tidak bisa … tidak bisa—

Kaito … KID … kau …

Pikiran itu kembali melintas dan dengan cepat Kaito menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan ucapan detektif itu yang, jujur ia katakan, membuatnya merasa gelisah. Entah karena ia terlalu takut—cih! Ia terpaksa memakai kata ini—identitasnya terbongkar dan dijebloskan ke penjara sebelum misi utamanya terselesaikan ataukah ia takut—sekali lagi ditegaskan, pemakaian kata ini terpaksa!—kehilangan ... Teman.

Teman, eh? Teman ... TEMAN!?

Senyum getir Kaito kembali menghiasi wajahnya. Dari jutaan kata yang bisa dipakai untuk menggambarkan hubungannya dengan detektif itu, sekali lagi, hanya kata teman yang mampu muncul dalam benaknya. Sudah sedekat itukah mereka hingga ia bisa dengan mudahnya melabeli hubungan mereka dengan kata itu?

Kemana perginya reaksi meringis, gatal pada lidah, dan jijik yang selalu dilakukannya setiap kali menyebut detektif itu sebagai 'teman'? Kemana harga dirinya sebagai seorang pencuri terkenal, yang sangat tampan dan digilai banyak wanita, yang menjadi musuh setiap anggota kepolisian di Jepang? Bahkan di tingkat internasional!?

Aku pasti sudah gila ...

Memberikan label 'teman' pada seorang rival—Apalagi selanjutnya? Membeberkan semua rahasianya? Berbagi cerita di depan perapian di tengah udara dingin dengan segelas coklat panas? Saling membantu saat terjadi bahaya?

Heh, walaupun ibunya sering mengajarkan untuk saling tolong menolong, tetapi jika mengingat bahwa subjek yang sedang dibahasnya adalah seorang detektif yang berambisi membongkar identitasnya—sepertinya memang berada di dekat detektif itu terlalu lama akan membuatnya kehilangan akal sehat.

Aku beruntung telah mengatur nomor dan email ponselku, setidaknya itu bisa mengurangi kecurigaannya. Sekarang yang harus kulakukan adalah—

"Kau tidak akan pergi, 'kan?"

—menunggu kabar dari rumah sakit dan selagi menunggu mungkin aku bisa membantu Heiji memecahkan kasus ini … Satu tangan pemuda itu kini bergerak menuju kepala gadis kecil di hadapannya, perlahan diusapnya helai rambut berwarna kemerahan itu sambil memperlihatkan seulas senyum sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh gadis kecil itu.

Ya, jika ia tinggalkan gadis itu sekarang, ia akan merasa bersalah tidak hanya pada sosok gadis itu, melainkan pada kakek gadis itu dan juga ... ayahnya.

Bagaimanapun juga, ia tahu bagaimana rasanya saat sesuatu yang sangat dicintainya pergi dari sisinya. Ia tahu bagaimana rasanya merasa kesepian dan merindukan sesuatu, tetapi tidak dapat meluapkannya. Ia juga tahu betul bagaimana rasanya menunggu sesuatu yang tidak kunjung datangdulu sekali, ia melakukannya. Menantikan ayahnya pulang walau ia tahu hal itu tidak akan pernah terjadi.

Kenapa ia harus memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadidalam hal ini adalah ketakutannya akan terbongkarnya rahasia jati dirinya sebagai Kaito KIDsementara di depan matanya, ada sesuatu, seseorang, yang harus ia prioritaskan? Bukankah ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan membiarkan siapapun di sekelilingnya bersedih?

Ah, ya. Benar! Pepatah pernah mengatakan kalau kita mencoba menangkap dua ekor kelinci sekaligus, pada akhirnyanya tidak seekorpun kita dapatkan. Uhm, siapa yang mengatakan kalimat itu? Entahlah, tidak penting.

Dengan pipi menggembung tanda sedang merajuk, Kaito mendengus. "Lagipula Shinichi bilang ia terbiasa mengatasi semuanya sendiri. Si bodoh itu."

"Pangeran … tidak akan pergi … 'kan?"

Menatap gadis kecil di hadapannya sejenak, pemuda itu menggelengkan kepalanya sebelum mengangkat tubuh mungil gadis tersebut dan membawanya menuju sofa terdekat, dimana ia semula duduk di hadapan sebuah tv besar yang masih memperlihatkan tayangan iklan sebuah pasta gigi.

"Apa kau punya cemilan, Odio-chan?"

.

.

.

.


Pointless chapter? I know.

Just, enjoy the last relaxing chapter while I'm working on the case for the next chapter, 'kay? Bring your snacks while you're reading the chapter and give me some loves ;')

Kalau kalian menemukan typo, segera beritahu, ya!

Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^

p.s: Kalau tidak keberatan dalam review kalian berikan harapan untuk cerita ini ke depannya, ya~