CHAPTER 25

*

*

-:-:-:-:-:-

*

*

Chanyeol membawa langkahnya menaiki anak tangga dengan Jiwon yang berada didalam gendongannya yang kini tertidur dengan lelap, sedangkan Baekhyun ia berjalan dengan mengekori Chanyeol. Saat laki-laki bertelinga lebar itu berdiri tepat didepan pintu kamar, Baekhyun membantu Chanyeol membuka pintu itu. Keduanya masuk dan Chanyeol menidurkan Jiwon diatas ranjang dengan sangat pelan agar tidak menganggu tidur anaknya. Baekhyun langsung menyelimuti Jiwon agar malaikat kecilnya merasa nyaman dan hangat. Tak lupa, Baekhyun mengecup pucuk kepala anaknya dengan sayang dan Chanyeol pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Baekhyun.

"Aku harus pulang sekarang, tapi aku ingin memelukmu dulu sebentar."

Kini kedua tangan Chanyeol melingkar dipinggang Baekhyun, sedangkan kedua tangan Baekhyun melingkar dileher Chanyeol. Keduanya saling menempelkan kening dengan deru nafas hangat keduanya yang menerpa wajah masing-masing.

"Baek, aku menginginkan hari itu cepat terjadi. Dimana hanya ada diriku, dirimu dan Jiwon dirumah kita."

"Akupun Chanyeol, aku menantikan hari itu."

"Aku sangat menantikan dimana setiap pagi ku, saat aku terbangun ada dirimu disampingku dengan keadaan terlanjang." ucap Chanyeol dengan kekehannya. Baekhyun sontak langsung mencubit perut sempurna Chanyeol, namun sosok tinggi itu bukannya merintih kesakitan melainkan terkekeh tanpa merasa berdosa.

"Baiklah, aku akan pulang. Tidurlah yang nyenyak."

Cuppp

Chanyeol mengecup kening Baekhyun dengan sangat lembut, membuat sosok Baekhyun memejamkan matanya oleh kecupan lembut itu. Baekhyun mengantar kepulangan Chanyeol hingga kedepan pintu utama, hingga sosok tampan itu meninggalkan halaman rumahnya.

.

.

.

Siang ini Baekhyun hendak pergi ke B'Cafe bersama Jiwon. Namun saat Baekhyun hendak masuk kedalam mobilnya, tiba-tiba sebuah mobil hitam terparkir tepat disamping mobil miliknya. Baekhyun jelas bisa mengenali siapa pemilik mobil hitam itu, dan benar saja itu calon mertuanya turun dari mobilnya dengan senyuman hangat milik mereka.

"Eommonie, aboeji."

"Glandma, glandfa." teriak Jiwon dengan lucu, bahkan bibirnya pun tampak tersenyum dengan lebar.

"Astaga, kami sangat merindukan cucu tampan kami." ucap nyonya Park dan langsung menggendong Jiwon begitu saja.

"Apa kau mau pergi, Baekhyun?" itu tuan Park yang bertanya.

"Aku bisa pergi nanti, abeoji."

"Lihat, grandma membawa sesuatu untuk Nji." nyonya Park memberikan paper bag yang ia bawa pada Jiwon. Anak kecil itu turun dari gendongan nyonya Park dan membuka isi paper bag itu dengan tidak sabaran. Matanya langsung berbinar saat melihat robot mainan yang cukup besar itu.

"Mommy, lihat Nji punya mainan balu." pekik Jiwon dengan melompat-lompat kegirangan, membuat orang-orang disekelilingnya merasa gemas.

"Ayo ucapkan terimakasih pada grandma." Jiwon mengangguk dengan semangat.

"telimakacih glandma, Nji cuka." anak itu berucap dengan senyuman lebarnya, bahkan mainannya sampai ia peluk dengan erat.

Ketiganya melangkah masuk dan duduk disofa ruang tamu dengan kopi dan kue yang terhidang diatas meja sejak beberapa menit yang lalu. Sedangkan Jiwon, anak kecil itu diasuh oleh seorang maid yang kini tengah memainkan mainan robot barunya dengan girang.

"Eommonie dan abeoji datang menemui mu bukan hanya karena merindukan Jiwon, tapi kami juga ingin membicarakan tentang pernikahanmu bersama Chanyeol. Eommonie tahu kau dan Chanyeol sudah melakukannya kemarin. Eomma melihat sesuatu dileher Chanyeol." Baekhyun hanya diam, ia bahkan tidak bisa menyahut ucapan nyonya Park. Tangan Baekhyun hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia lupa jika dirinya meninggalkan bekas dileher Chanyeol.

"Yeobo, jangan membuatnya malu. Cepatlah menikah dengan Chanyeol, dan berikan abeoji cucu yang tampan seperti Jiwon."

"Yang tampan sudah ada, kita membutuhkan cucu yang cantik."

"Keluarga Park membutuhkan cucu laki-laki sebagai penerus perusahaan, Yeobo."

"Cucu perempuan lebih menggemaskan." Baekhyun lagi-lagi hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, melihat perdebatan tuan dan nyonya Park dihadapannya saat ini. Sedangkan maid yang tengah mengasuh Jiwon hanya terkikik geli mendengarnya.

.

Setelah kepulangan calon mertuanya, kini Baekhyun berada diperjalanan dengan Jiwon yang sibuk menjilati lolipopnya, sedangkan sebelah tangannya memeluk mainan barunya. Baekhyun mengemudikan mobilnya dengan senyuman gelinya saat ia ingat kembali dengan perdebatan kedua orangtua Chanyeol.

"Bayi kembar? astaga, bahkan aku tidak bisa membayangkannya." kikik Baekhyun, membuat Jiwon menghentikan jilatannya dan menoleh kearah Baekhyun.

"Bayi? Mommy, bayi itu apa? Ayo kita beli, apa nji bica memainkannya?" Baekhyun ingin sekali tertawa saat itu juga dengan lontaran polos Jiwon, namun Baekhyun akhirnya hanya menggelengkan kepalanya.

Anak kecil itu langsung menekuk wajahnya, saat melihat gelengan Baekhyun. Jiwon menunduk dengan mata berkaca-kacanya yang hampir saja menangis "Mommy, tidak mau membelikannya untuk Nji?"

Sebelah tangan Baekhyun langsung mengelus kepala Jiwon karena merasa sangat gemas. "Mommy tidak bisa membelinya, karena bayi itu bukan mainan Nji sayang. Tapi bayi itu akan ada disini.." Baekhyun menunjuk perutnya sendiri.

"Mommy memakannya? Mommy tidak boleh memakannya, nanti mommy cakit pelut." astaga, Baekhyun benar-benar merasa gemas. Ia rasanya ingin sekali mencubit pipi Jiwon hingga anaknya itu menangis, namun Baekhyun dengan jelas tidak akan pernah melakukannya karena ia sangat menyayanginya.

.

Kini mobil hitam milik Baekhyun terparkir tepat diparkiran B'Cafe. Ia keluar dengan Jiwon yang berada digendongannya. Seperti biasa saat Baekhyun memasuki Cafenya, ia akan menyapa para pegawainya dengan ramah.

"Ku kira kau tidak akan datang hari ini Baek?"

"Bawakan aku kopi, ok!" bukannya menjawab pertanyaan Kris, Baekhyun malah memerintah laki-laki tinggi itu dengan kedipan matanya. Kris hanya mengangguk tanpa membantah permintaan Baekhyun.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Kris datang dengan dua cangkir kopi dan meletakannya diatas meja. Dan Kris bisa melihat Jiwon duduk diatas sofa tengah memainkan robot mainannya.

"Kau tidak menjawab pertanyaanku yang tadi?"

"Ah, aku tadinya sudah mau berangkat sejak dua jam yang lalu. Tapi orangtuanya Chanyeol mendadak datang kerumahku."

"Orangtua Chanyeol?" Baekhyun mengangguk sebagai jawaban.

"Tapi mereka malah membuatku pusing! Mereka berdebat memperebutkan calon cucu mereka. Dan pada akhirnya aku bergurau jika aku akan memberikan mereka bayi kembar."

Tawa Kris meledak saat itu juga, membuat Jiwon yang duduk tenang diatas sofa langsung menoleh kearah sosok Kris. "Astaga Baek, aku bahkan tidak bisa membayangkan kau menyimpan dua bayi didalam perut kecilmu."

"Aish, bukankah sudah ku bilang jika itu hanya gurauan ku saja." sahut Baekhyun dengan memutar bolamatanya.

"Tapi itu akan terlihat lucu Baek, saat kau membawa dua bayi didalam perutmu." kekeh Kris.

.

Hingga beberapa jam Baekhyun dan Kris mengobrol tanpa merasa bosan. Sesekali terdengar tawa nyaring dari keduanya, membuat Jiwon yang duduk diatas sofa menolehkan tatapannya kearah dua sosok laki-laki dewasa itu, namun hanya seperkian detik Jiwon kembali sibuk dengan robot mainannya lagi. Hingga obrolan keduanya terintrupsi oleh dering nyaring yang berasal dari ponsel milik Baekhyun.

Drrrtt.. Drrrtt..

"Sehun." gumam Baekhyun, saat satu nama tertera dilayar ponselnya.

"Hallo Sehun."

"Benarkah?"

"Baiklah."

Pippp

Hanya obrolan singkat, namun sudut bibirnya tampak terangkat dengan binaran matanya.

.

.

.

.

.

Hari ini Baekhyun pulang lebih cepat dari biasanya. Saat dirinya sampai dihalaman rumahnya, Baekhyun menggendong Jiwon masuk kedalam rumah dan langsung membawa langkahnya kearah dapur. Kedua tangannya menurunkan anak kecilnya itu dari gendongan dan mendudukkannya dikursi makan. Baekhyun membuka lemari es dan mengambil sekotak puding pisang kesukaan Jiwon.

"Nji tidak boleh nakal, mommy mau masak dulu. Ini puding kesukaan Nji dan habiskan pudingnya, ok?" ucap Baekhyun dengan mengusak rambut Jiwon, sedangkan anak kecil itu mengangguk dengan ucapan Baekhyun.

Baekhyun dan maidnya kini tengah menyibukan diri dengan beberapa bahan untuk dimasaknya memenuhi pantry dapur, namun Baekhyun sangat bersemangat hari ini dengan pisau yang ia genggam ditangan kanannya.

"Apa daging sapi dan tahunya habis?" tanya Baekhyun pada maidnya, saat ia membuka lemari es untuk mengambil bahan makanan yang ia butuhkan.

"Benarkah? Kalau begitu ahjumma akan membelinya." Baekhyun tampak mengangguk.

"Apa ada bahan lain yang harus ahjumma beli?"

"Sepertinya aku membutuhkan sawi."

"Baiklah, ahjumma akan pergi sekarang." namun saat maid itu melangkah untuk pergi, langkahnya terhenti saat Jiwon merengek untuk ikut dan akhirnya Baekhyun mengijinkan maidnya untuk membawa Jiwon.

"Ahjumma kembali, apa ada sesuatu yang ketinggalan?" tanya Baekhyun tanpa menolehkan tatapannya. Namun...

Greppp...

Tanpa Baekhyun duga, seseorang memeluknya dari belakang dengan deru nafas hangatnya tepat menerpa leher sensitifnya. Baekhyun jelas kaget pada awalnya, namun saat orang itu berbisik ditelinganya Baekhyun jelas tahu siapa tersangka itu.

"Aku ke Cafe mu, tapi Kris bilang kau sudah pulang."

"Chanyeol, lepaskan. Aku sedang memasak."

"Tidak, aku merindukan mu." bisik Chanyeol kembali dan mengendus leher Baekhyun dengan iseng. Namun apa yang dilakukan Chanyeol membuat Baekhyun melenguh tanpa sadar, membuat laki-laki tinggi itu terkekeh dan alhasil ia mendapatkan cubitan ditangannya yang kini melingkar diperut Baekhyun.

"Lihatlah, kau mengacaukan pekerjaan ku!" decak Baekhyun, namun Chanyeol lagi-lagi hanya terkekeh tak berdosa. Dengan jahilnya tangan besar Chanyeol mulai naik keatas dan dengan perlahan ia mengelus nipple Baekhyun yang masih terbungkus oleh kemeja hitamnya.

"Chanhh, henti aughh." Chanyeol merasa menang saat ia lagi-lagi mendengar lenguhan dan desahan indah keluar dari mulut mungil Baekhyun. Sebelah tangannya sibuk membuka kancing kemeja Baekhyun dan sebelah tangan yang sedari tadi sibuk menggoda nipple itu langsung masuk dan semakin menggoda nipple merah muda itu. Tanpa terasa pisau yang sedari tadi Baekhyun genggam kini sudah tergeletak diatas pantry, sedangkan kedua tangannya kini mencengkram sisian pantry itu dengan kuat. Chanyeol terus mengelus dan sesekali memilin nipple Baekhyun dengan kuat hingga Baekhyun lagi-lagi mendesah nikmat. "Aoughhh, Chanhh"

Chanyeol langsung membalik tubuh Baekhyun yang kini tengah menatapnya dengan mata sayunya. Chanyeol langsung mendaratkan bibir tebalnya tepat diatas bibir tipis Baekhyun yang selalu menjadi candunya. Kedua tangan Baekhyun kini melingkar dileher Chanyeol dengan kakinya yang tampak menjinjit, sedangkan sebelah tangan Chanyeol terus menggoda nipple Baekhyun tanpa lelah.

"Eumpphhh"

"Astaga!" pekikan seseorang benar-benar membuat Baekhyun dan Chanyeol terkejut. Baekhyun langsung mendorong tubuh Chanyeol begitu saja, hingga...

Brukkkk

Chanyeol mendaratkan bokongnya tepat keatas lantai dengan desisan sakitnya. Sedangkan Baekhyun ia sibuk mengancingkan kemejanya karena ulah Chanyeol. "A-ahjumma sudah pulang?"

"Kenapa mata Nji ditutupi?" Wanita itu berdehem dan melepaskan tangannya yang menutupi kedua mata Jiwon. Chanyeol tampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sedangkan Baekhyun ia menatap maidnya itu seperti maling yang tertangkap basah.

"Ahjumma membeli bahan makanan di supermarket terdekat, jadi ahjumma kembali dengan cepat. Maaf ahjumma mengagetkan kalian berdua." kekeh maid itu, sedangkan keduanya semakin salah tingkah.

.

Baekhyun dan maidnya kembali sibuk diarea dapur, sedangkan Jiwon kini tengah menonton layar datar bersama Chanyeol diatas karpet berbulu tebal. Sesekali terdengar pekikan heboh dari Chanyeol dan Jiwon, membuat Baekhyun yang sibuk memasak menolehkan tatapannya dengan menggelengkan kepalanya. Hingga satu jam berlalu, semua hasil masakan Baekhyun dan maidnya kini sudah tersaji diatas meja makan. Saat Baekhyun hendak melangkahkan kakinya untuk mengecek Chanyeol dan Jiwon, terdengar suara bel pintu yang dibunyikan oleh seseorang. Baekhyun melangkah kepintu utama, dan saat ia membuka pintu itu sudut bibirnya langsung terangkat.

"Luhan!" pekik Baekhyun dan langsung memeluk sosok itu.

"Jadi sekarang aku di nomor dua kan, Baek?" itu Sehun yang tampak protes, Baekhyun hanya memutar bolamatanya, sedangkan Luhan ia tampak terkikik dengan lontaran Sehun.

"Aku akan memelukmu, kau jangan protes!"

Baekhyun tersenyum saat kedua mata sipitnya melihat Chanyeol tertidur dengan memeluk Jiwon, itu terlihat sangat manis menurut Baekhyun. "Jangan menatapku, aku tahu seorang Park Chanyeol itu sangat tampan."

Baekhyun dibuat gelagapan saat Chanyeol berucap dengan mata tertutup. Bukankah laki-laki itu tertidur, tapi kenapa dia bisa mengetahui dirinya yang sedang sibuk memandangi wajah tampan Chanyeol. Saat Baekhyun hendak mengeluarkan suaranya, tiba-tiba tubuhnya ditarik begitu saja hingga wajah Baekhyun kini tepat menatap wajah Chanyeol dengan matanya yang masih terpejam. Namun saat mata besar milik Chanyeol terbuka, sebelah tangannya langsung menarik tengkuk Baekhyun dan melumat bibir tipis itu membuat Baekhyun membolakan mata sipitnya.

"Kau bisa melanjutkannya nanti." suara seseorang membuat lumatan itu terhenti begitu saja, dengan terpaksa Chanyeol melepaskan pagutan itu dan membawa tatapannya kearah sumber suara. Ia bisa melihat Luhan yang terkikik dan Sehun yang berkacak pinggang dibalik sofa.

"Sehun, sejak kapan kau dan... Luhan ada disini?"

"Sejak tadi!" sahut Sehun dengan memutar bolamatanya.

"Kau dua kali membuatku malu." desis Baekhyun dan mencubit perut Chanyeol dengan kuat hingga laki-laki tinggi itu mendesis nyeri karena cubitan Baekhyun. Baekhyun mengangkat tubuh Jiwon yang masih tertidur untuk ia pindahkan kekamarnya.

.

.

"Woh, kau membuat ma yi shang shu dan galbitang?" pekik Luhan dengan binaran matanya.

"Bukankah itu kesukaanmu? Aku membuatnya untuk mu." Luhan mengangguk dengan senyuman lebarnya.

Kini ke empat laki-laki itu duduk dikursi makan, menatap hidangan yang nampak membuat perut kosongnya tergoda oleh aroma dari masakan yang kini tersaji dihadapan mereka.

"Apa ini semua kau yang memasaknya?" tanya Luhan.

"Tentu tidak, ahjumma membantu ku."

ke empatnya menikmati makan malam bersama saat ini dengan sesekali Chanyeol, Sehun maupun Luhan berdecak kagum dengan rasa masakannya. Setelah ke empatnya menyelesaikan makan malamnya, mereka menghabiskan waktunya untuk berbincang dengan secangkir kopi. Hingga tak terasa jam yang tergantung di dinding sudah menunjukan pukul 10.05 malam, Sehun dan Luhan akhirnya berpamitan untuk pulang. Baekhyun dan Chanyeol mengantar kepulangan dua laki-laki itu hingga mobil Sehun menghilang dari halaman rumah Baekhyun.

"Kau juga harus pulang Chanyeol." tapi laki-laki bertelinga lebar itu malah menggelengkan kepalanya dan langsung memeluk tubuh Baekhyun.

"Aku merindukanmu Baek." bisiknya.

"Jangan memulai Chanyeol!" decak Baekhyun dan melepaskan pelukan itu dengan paksa. Laki-laki cantik itu membawa langkahnya kelantai atas meninggalkan Chanyeol dengan wajah memelasnya. Namun laki-laki tinggi itu tentu tidak putus asa, ia mengikuti Baekhyun dengan suara rengekannya, membuat seorang maid yang tidak sengaja melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Baekhyun hendak menutup pintu kamarnya, namun sayang ia urungkan saat Chanyeol menghalanginya. Dan dengan terpaksa Baekhyun membiarkan kekasih tingginya itu memasuki kamarnya.

"Seharusnya kau pulang bukan malah masuk ke kamarku."

"Baek..."

"Astaga, Chanyeol! Kau bukan Jiwon yang harus merengek karena ingin dibelikan lolipop."

"Tapi lolipopku yang menginginkanmu Baek, lihatlah." ucap Chanyeol dengan membawa tatapannya kearah bawah dan sontak Baekhyun pun mengikuti tatapan laki-laki tinggi itu. Ia mengutuk dirinya sendiri, saat kedua mata sipitnya melihat sesuatu mengembung dibalik celana hitamnya.

"Aish, kenapa aku mengikuti tatapanmu!" Chanyeol hanya terkekeh dengan lontaran Baekhyun.

"Hanya sebentar saja Baek, ku mohon." Chanyeol mencoba membujuk kekasihnya dengan wajah memelasnya kembali, namun laki-laki cantik itu malah berdecak mendengarnya. Tanpa Baekhyun duga Chanyeol langsung mengangkat tubuh mungil Baekhyun dan menjatuhkannya keatas sofa dekat jendela kaca. Baekhyun hendak mengeluarkan suara nyaringnya, namun Chanyeol langsung mendaratkan kecupan lembutnya diatas bibir tipis Baekhyun.

"Jangan berteriak nanti anak kita bisa terbangun." bisik Chanyeol, sedangkan sebelah tangannya menarik tirai hingga terbuka lebar dan membuat cahaya bulan menerangi kamar itu.

Sebelah tangan Chanyeol ia bawa untuk mengelus surai Baekhyun dengan lembut hingga turun kewajah dan semakin turun hingga jari-jari besarnya membuka setiap kancing kemeja Baekhyun. Nipple merah muda yang selalu membuat Chanyeol tergoda akhirnya ia kulum, membuat yang berada dibawahnya mencengkram surai hitam milik Chanyeol dengan diiringi desahan indah Baekhyun.

"Oughhhh Chanyeolhh kau benar-benar aughh, kauhh." laki-laki tinggi itu terus mengulum nipple merah muda Baekhyun dengan senyuman kemenangannya.

"Kau masih tidak menginginkannya?"

"Kau menang Chanyeol." laki-laki tinggi itu langsung mendaratkan bibir tebalnya dan melumat bibir tipis Baekhyun dengan rakus. Laki-laki cantik itu berusaha mengimbangi permainan Chanyeol hingga hampir kewalahan, namun beruntunglah Baekhyun bisa mengimbanginya. Sebelah tangan Chanyeol turun kebawah untuk membuka resleting celana Baekhyun, hanya beberapa detik dan celana itu Chanyeol lempar kesembarang arah. Kini lidah panas Chanyeol tengah menggoda leher sensitif Baekhyun, hingga laki-laki cantik itu terus melenguh dengan pasrah.

"Kauhh memang aughh kau brengsekhh Chanhh yeolhh."

"Aku brengsek karena dirimu juga, Baek." bisik Chanyeol dengan suara sexy nya.

"Cepat yeolhh, masuki aku."

"Aku akan segera memasuki mu, Baek. Tahan sebentar lagi."

"Cepat brengsekhh." Chanyeol malah terkekeh dengan umpatan Baekhyun, tangannya dengan segera melepaskan celana miliknya hingga terjatuh tepat keatas lantai. Dengan sekali dorongan Chanyeol memasukan kejantanan besarnya hingga Baekhyun meremas punggung Chanyeol dengan kuat, sedangkan bibir tipisnya yang kini bengkak ia gigit agar tidak berteriak dan membangunkan anak kecilnya yang tertidur dengan lelap.

"Sakithh bodoh."

"Bukankah kau yang sudah tidak sabar untuk segera ku masuki, Baek. Eughhhh, kau selalu sempithh." Chanyeol menghujam hole sempit Baekhyun dengan tempo cepat, hingga membuat sosok yang berada dibawahnya terus mendesah dengan nikmat.

"Aughhh oughh kau selalu hebathh Chanyeolhh."

"Mom.." suara tiba-tiba Jiwon membuat keduanya menolehkan tatapannya dengan terkejut.

"Jiwon mengigau?" tanya Chanyeol namun hujaman dibawahnya terus berlanjut.

"Sepertinya begitu." dan keduanya kemudian terkekeh.

.

.

.

.

.

Hingga pagi tiba, bahkan matahari sudah bersinar cerah dilangit biru. Sedangkan Baekhyun ia masih terlelap diatas tempat tidurnya dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Namun tidur lelapnya terusik saat ia merasakn kecupan bertubi-tubi diwajahnya. Saat mata sipitnya terbuka ia melihat tawa kecil Jiwon yang sangat manis "Pagi mommy."

"Pagi kembali anak mommy yang tampan." namun Baekhyun langsung tersadar, ia menengok jam yang tergantung di dinding dan benar saja pagi ini ia terlambat bangun beberapa jam dari biasanya. Baekhyun langsung beranjak dari tempat tidurnya dan membawa langkahnya ke arah kamar mandi bersama Jiwon. Keduanya kini mandi bersama didalam bathup.

"Mommy cakit?" namun Baekhyun menggelengkan kepalanya.

"Apa nyamuk menggigit mommy?"

"Nyamuk?" dan tangan Jiwon langsung ia bawa ke leher Baekhyun yang terdapat bekas kissmark disana. Baekhyun hanya terkekeh dan mengutuk Chanyeol.

"Ya, mommy di gigit nyamuk besar."

"Nyamuk besal? Mommy pacti kecakitan digigit nyamuk becal. Nanti Nji akan memukul nyamuk nakal itu kalena udah belani menggigit mommy nya Nji." Baekhyun langsung terkikik dan mengusak gemas rambut Jiwon.

.

Keduanya kini sudah siap dengan pakaian rapihnya seperti biasa. Baekhyun menuruni anak tangga dengan menggendong Jiwon dan membawa langkahnya kearea dapur, lalu mendudukan anak kecilnya diatas kursi makan.

"Sepertinya aku kesiangan hari ini dan tidak sempat membantu ahjumma."

"Tidak apa-apa, ahjumma mengerti kau pasti kelelahan karena semalaman menghabiskan waktu bersama Chanyeol."

"Ahjum..."

"Di lehermu terlihat sangat jelas, Baek."

"Kau membuatku malu untuk yang kesekian kalinya, Park Chanyeol." gumam Baekhyun dengan desisannya.

.

.

Saat Baekhyun memarkirkan mobilnya tepat diparkiran B'Cafe. Ia memandangi seseorang dari dalam mobilnya, mata sipitnya melihat seseorang tengah berdiri memandangi B'Cafe dengan ponsel digenggaman tangannya. Akhirnya Baekhyun keluar dari dalam mobilnya dengan menggendong Jiwon dan menghampiri sosok asing itu.

"Apa kau sedang mencari seseorang?" orang itu mengangguk dengan senyumannya.

"Aku mencari salahsatu karyawan disini."

"Siapa?"

"Aku sedang mencari Wu Yifan."

"Apa kau... Zitao?" orang itu langsung mengangguk dengan senyuman lebarnya. Baekhyun langsung membawa tatapannya untuk menatap sosok yang kini berdiri dihadapannya.

'Jadi ini kekasihnya Kris' batin Baekhyun dan ia langsung tersenyum kearah sosok Tao.

"Kenalkan aku Byun Baekhyun, pemilik Cafe ini sekaligus teman Kris. Ah.. Maksudku Yifan."

"Ayo masuklah." lanjut Baekhyun. Kini keduanya membawa langkahnya untuk masuk ke B'Cafe. Baekhyun bisa melihat Kris yang tengah berdiri membelakanginya yang kini tengah asik berbincang bersama salahsatu bawahannya. Tangan mungilnya menepuk pundak Kris dan sosok itu langsung menolehkan tatapannya.

"Bae.. Zitao!" Kris benar-benar dibuat terkejut oleh kedatangan kekasihnya hari ini. Kris langsung memeluk Zitao tanpa malu.

"Astaga, kau benar-benar datang ke Korea?"

"Aku mengambil cuti dan datang ke Korea untuk menemui mu, karena aku merindukanmu Yifan." keduanya kini berpelukan kembali untuk melepaskan rasa rindunya. Baekhyun yang sadar keduanya menjadi tontonan pengunjung Cafenya, akhirnya ia berdehem untuk menyadarkan keduanya.

"Sebaiknya kau ajak duduk Zitao, nanti aku akan menyuruh Kyungie untuk membawa kopi untuk kalian berdua." Kris mengangguk dan ia membawa Zitao untuk duduk dikursi kosong. Hingga beberapa menit, akhirnya Kyungsoo membawa dua cangkir kopi panas dan dua vanilla cake. Kris dan Zitao melanjutkan obrolannya kembali.

"Kau beruntung Yifan mempunyai atasan sekaligus teman seperti Baekhyun."

"Kau sudah berkenalan dengan Baekhyun?" Zitao mengangguk.

"Kami bertemu didepan Cafe dan dia langsung mengenaliku, saat aku berkata jika aku mencari dirimu."

"Apa itu... Anaknya?" lanjut Zitao dan Kris mengangguk sebagai jawaban.

"Baekhyun seperti dirimu." ucap Kris tiba-tiba, namun Zitao hanya mengangguk mengerti dengan apa yang dilontarkan Kris.

.

.

Langit bahkan sudah menggelap, pertanda malam sudah datang. Cahaya bulan dan ribuan bintang menerangi langit malam. Baekhyun, Chanyeol dan malaikat kecilnya Jiwon kini berada dirumah keluarga Park. Mereka tengah berbincang bersama sejak beberapa menit yang lalu.

"Kalian pergilah dan bersenang-senang, biar eomma yang menjaga cucu eomma yang tampan ini."

"Apa itu tidak merepotkan eommonie?"

"Tentu tidak! Kenapa kau berbicara seperti itu Baekhyun?"

"Nji, tinggal bersama grandma ok? Nanti kita beli mainan baru, Nji mau?" Jiwon tentu mengangguk dengan semangatnya, saat nyonya Park mengiming-imingi mainan baru untuknya.

Baekhyun akhirnya membawa langkahnya untuk menghampiri Jiwon. "Nji jangan nakal bersama grandma, Nji harus jadi anak yang baik dan Nji tidak boleh menyusahkan grandma. Nji harus janji pada Mommy."

anak kecil itu mengangguk dengan polosnya, lalu Baekhyun mengangkat kelingkingnya dan menautkannya dengan kelingking mungil milik Jiwon.

"Anak pintar." ucap Chanyeol dan mengusak gemas rambut Jiwon.

Setelah Baekhyun dan Chanyeol menitipkan Jiwon pada nyonya Park, kini keduanya meninggalkan rumah besar itu dengan mengendarai mobil hitam milik Chanyeol. Namun jalanan kota Seoul malam ini terlihat cukup ramai, membuat Chanyeol menghela nafas pelannya. Baekhyun yang mendengar helaan nafas dari seseorang disampingnya, ia langsung menjatuhkan kepalanya tepat dibahu Chanyeol. Dan sebelah tangan kanan Chanyeol langsung mengelus kepala Baekhyun.

Setelah hampir setengah jam Chanyeol dan Baekhyun menempuh perjalanan, kini mobil hitam itu terparkir disalah satu restoran italia. Namun saat Chanyeol dan Baekhyun hendak membawa langkahnya, tiba-tiba seseorang memanggil dari arah belakang. "Chanyeol, Baekhyun."

Laki-laki cantik itu langsung melambaikan tangannya dengan senyuman lebarnya. "Sehun, Luhan."

Ke empatnya membawa langkahnya bersama memasuki restoran itu. Mata mereka menelusur untuk mencari sahabatnya yang lain, dan disana seorang wanita nampak melambaikan tangannya dengan senyuman lebarnya. Akhirnya langkah kaki ke empatnya mereka bawa untuk menghampiri Minah yang sudah menunggu dengan suaminya.

"Kris belum datang?"

"Ah, itu dia Baek." sahut Minah.

"Maaf aku datang terlambat, jalanannya sangat macet malam ini."

Baekhyun menepuk pundak Kris "Tidak apa-apa, aku pun baru sampai beberapa menit yang lalu."

"Luhan, kau ada di Korea?"

"Bukankah kau.. Zitao. Astaga, kau?"

"Kalian sudah saling mengenal?" sambung Baekhyun, Luhan dan Zitao pun mengangguk.

"Kami teman saat masih satu sekolah, namun sayang sejak kami masuk kampus yang berbeda kami tidak saling menghubungi lagi." sahut Luhan.

Setelah saling memperkenalkan diri, kini delapan orang itu melingkar untuk menikmati makan malam dengan perbincangan hangat dan santai. Sesekali terdengar tawa dari mereka.

"Kapan kalian akan menikah?" tanya Minah tiba-tiba.

"Secepatnya."

Baekhyun memutar bolamatanya saat mendengar sahutan Chanyeol "Apa kau pikir, Minah bertanya padamu."

Minah terkikik dengan ucapan Baekhyun "Tentu aku bertanya pada kalian, Baek."

"Kalian akan menikah, apa aku akan diundang?" itu Zitao. Dan Baekhyun langsung mengangguk dengan pertanyaan Zitao.

"Tentu, kau harus datang bersama Kris. Karena sekarang kau temanku juga."

"Dan kau.. Sehun bagaimana hubunganmu dengan Luhan?"

Sehun langsung merengkuh bahu Luhan "Kami akan pergi ke Manhattan setelah pernikahan mu selesai Baek, aku akan berbicara pada daddy. Setelah itu kami baru akan pergi ke Cina."

Kedua tangan Baekhyun langsung menggenggam tangan Luhan dengan erat "Aku yakin, semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja. Dan aku cukup mengenal tuan Oh, selama aku tinggal disana. Dia adalah seorang daddy yang akan mengutamakan kebahagiaan anaknya."

"Lalu, kapan kau akan menikah dengan Zitao, Kris?" lanjut Baekhyun.

"Tentu setelah kau, Baek." dan sosok Zitao langsung merona saat mendengar lontaran sederhana dari kekasihnya.

.

.

Chanyeol kini memarkirkan mobil miliknya dihalaman rumah besarnya. Saat pintu utama ia buka, hanya sunyi yang menyambut keduanya. Langkah kakinya mereka bawa kearah lantai atas dimana letak kamar yang pernah Baekhyun tinggali saat ia menginap dirumah keluarga Park. Namun saat pintu itu Baekhyun buka, kamar itu nampak kosong tanpa ada siapapun.

"Dimana Jiwon?"

"Sepertinya Jiwon tidur dikamar eomma dan appa." sahut Chanyeol.

"Lalu bagaimana bisa aku mengambil Jiwon, aku tidak mungkin mengganggu tidur eommonie dan abeoji."

"Kau bisa pulang besok, Baek. Sekarang bahkan hampir tengah malam. Kita bisa tidur malam ini dalam satu ranjang." bisik Chanyeol diakhir kalimatnya, namun Baekhyun langsung mencubit perut sempurna Chanyeol hingga laki-laki tinggi itu berdesis nyeri namun dibarengi dengan kekehan tak berdosanya.

.

Sedangkan ditempat lain Sehun dan Luhan kini berbaring disatu ranjang empuk sejak beberapa menit yang lalu dalam keadaan bertelanjang dada. Keduanya tengah melepaskan rindu mereka dalam ciuman dan lumatan basah. Sosok Luhan yang kini berada di kungkungan Sehun hanya pasrah menikmati apa yang dilakukan laki-laki tampan yang berada diatas tubuhnya. Tangan Sehun terus bergerak menelusuri setiap kulit mulus Luhan untuk menggoda kekasih cantiknya itu. Dengan perlahan tangan Sehun membuka resleting celana Luhan dan menjatuhkannya tepat keatas lantai. Lidah basah yang sedari tadi bermain dengan lidah kekasihnya kini ia bawa untuk menggoda leher mulus Luhan, hingga suara lenguhan mulai terdengar.

"Shhh, aughhh"

Sehun semakin bersemangat saat mendengar suara lenguhan dan desahan keluar dari mulut yang kini berada dibawahnya. Entah sejak kapan kini keduanya sudah bertelanjang bulat, sebelah tangan Sehun menggoda lubang sempit Luhan dengan menubrukkan kepala kejantanannya hingga laki-laki bermata rusa itu lagi-lagi melenguh dan mendesah.

"Eughhh aughhh Hunhh oughh masukhh kanhh."

.

"Jadi seperti itu hubungan yang Baekhyun dan Chanyeol lalui dimasa lalu?" tanya Zitao yang kini berada dipelukan Kris yang berbaring diatas ranjang.

Keduanya tengah berbincang saat ini, dan Kris pun mengangguki pertanyaan kekasihnya itu.

"Mereka berdua cukup menjalani semuanya dengan rumit, Baekhyun ataupun Chanyeol. Walau aku tidak terlalu tahu tentang Chanyeol waktu itu, tapi aku tahu bagaimana dengan perasaannya. Menurutku bukan hanya Baekhyun yang tersakiti, tapi Chanyeol juga. Chanyeol hanya pura-pura straight agar tidak mengecewakan orangtuanya dengan mengorbankan perasaannya sendiri. Sedangkan Baekhyun, dia menyayangi sahabatnya Minah dan dia mengorbankan perasaannya untuk melihat Chanyeol dan Minah bahagia. Bahkan Baekhyun sampai ikut andil dalam rencana Chanyeol menyatakan cintanya hingga acara pertunangan keduanya."

"Benarkah?"

"Astaga, aku tidak bisa membayangkan perasaan Baekhyun waktu itu." lanjut Zitao.

"Maka dari itu Baekhyun selalu datang padaku." Zitao langsung menjatuhkan kepalanya diatas dada Kris dan laki-laki itu langsung mengelus kepala Zitao dengan sayang.

.

Setelah perdebatan keduanya, akhirnya Chanyeol dan Baekhyun tidur dalam satu ranjang. Keduanya kini tidur dengan saling berpelukan dengan selimut tebal menyelimuti keduanya.

Hingga pagi tiba, bahkan jam di dinding sudah menunjukan pukul 08.10 pagi. Namun dua sosok yang saling berpelukan dalam tidurnya masih terlelap dengan nyaman. Tanpa keduanya sadari dua orang masuk kedalam kamarnya dengan mengendap-endap.

"Ayo bangunkan mereka." bisik nyonya Park dan Jiwon langsung mengangguk dengan semangat. Nyonya Park menurunkan Jiwon dari gendongannya dan mendudukannya diatas ranjang.

Brukkk

Jiwon langsung menerjang tubuh Chanyeol dan Baekhyun, sontak keduanya langsung terbangun dan terkejut. Saat mata keduanya terbuka dengan sempurna, hal pertama yang Chanyeol dan Baekhyun lihat adalah senyuman lebar malaikat kecilnya.

"Astaga Nji, apa yang.. Eo-eommonie." Baekhyun baru sadar jika ada sosok lain didalam kamarnya saat ini.

"Eomma, apa yang eomma lakukan dikamar ku?"

"Lihat ini sudah jam berapa, apa kau tidak akan berangkat kerja Park Chanyeol. Appa mu bahkan sudah berangkat sejak setengah jam yang lalu."

"Baiklah, baiklah. Tapi bisakah eomma memberi ku waktu beberapa menit untuk aku menikmati pagi ku bersama anak dan istriku. "

"Kau berani memanggil Baekhyun istrimu, kau bahkan belum menikahinya Chanyeol."

Laki-laki bertelinga lebar itu langsung merangkul bahu Baekhyun "Aku akan menikahi Baekhyun secepatnya eomma."

"Benarkah?" nyonya Park langsung mendaratkan bokongnya diatas ranjang dengan menatap anak dan calon menantunya itu.

"Eomma benar-benar tidak sabar untuk menggendong cucu kembar yang menggemaskan." ucap nyonya Park dengan membawa langkahnya pergi meninggalkan kamar itu, sedangkan bibirnya tersenyum dengan lebar. Setelah pintu tertutup Chanyeol langsung melipat kedua tangannya didepan dada, sedangkan kedua matanya nampak ia naik turunkan untuk menggoda laki-laki cantik yang kini duduk disampingnya itu.

"Bayi kembar, eoh?" namun Baekhyun hanya memutar bolamatanya.

"Eommonie dan abeoji datang kerumah ku waktu itu, mereka malah memperdebatkan calon cucu mereka dan aku waktu itu hanya bergurau."

"Bagaimana kalau pagi ini kita membuat bayi kembar itu, sebelum aku berangkat bekerja."

"Yakkk!" Baekhyun langsung memukul-mukul dada Chanyeol, sontak laki-laki bertelinga lebar itu terkekeh tak berdosa. Sedangkan Jiwon, anak kecil itu hanya menatap dua sosok dewasa dihadapannya dengan tatapan polosnya.

.

Setelah Baekhyun selesai membereskan tempat tidur Chanyeol, kedua tangannya kini sibuk memilih pakaian untuk Chanyeol pakai hari ini ke tempat kerjanya. Baekhyun meletakan pakaian itu diatas ranjang, namun saat Baekhyun hendak membawa langkahnya untuk keluar dari kamar itu tiba-tiba suara Chanyeol membuat langkah Baekhyun terhenti begitu saja.

"Kau mau kemana, Baek?"

"Aku akan turun kebawah."

"Kau tidak akan memakaikan dasiku?"

Baekhyun hanya memutar bolamatanya "Bukankah kau terbiasa memakai dasi mu sendiri?"

"Tapi setelah menikah kau yang akan melakukannya Baek, kau harus belajar mulai dari sekarang."

Dengan terpaksa Baekhyun menurunkan Jiwon kembali dari gendongannya, sedangkan langkahnya ia bawa untuk menghampiri Chanyeol yang kini sudah berpakaian rapih tengah berdiri menatap kearahnya. Bibir tebal Chanyeol langsung tersenyum dengan tampan saat jari-jari lentik Baekhyun dengan telaten memakaikan dasi itu, sedangkan hidungnya menikmati aroma harum dari surai milik Baekhyun.

"Rambut mu sangat wangi Baek, kau membuat ku ingin menerjangmu sekarang juga ditempat tidur." bisik Chanyeol.

"Aish, cepatlah berangkat bekerja ini bahkan sudah siang Park sajangnim." lontar Baekhyun. Chanyeol lagi-lagi hanya terkekeh tak berdosa dengan lontaran laki-laki cantik itu.

"Ayo kita sarapan jagoan." ucap Chanyeol dan langsung menggendong Jiwon. Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman manis miliknya, laki-laki cantik itu keluar dari kamar dengan berjalan mengekori Chanyeol.

Nyonya Park yang tengah mempersiapkan sarapan dimeja makan untuk anak, cucu dan calon menantunya itu langsung tersenyum dengan lebar saat melihat ketiganya berjalan kearahnya.

"Kau benar-benar pantas saat menggendong Jiwon, Chanyeol."

"Anak dan daddy yang sama-sama tampan." lanjut nyonya Park.

"Sudah jelas ketampanan ku menurun pada Jiwon, eomma." sahut Chanyeol. Namun Baekhyun lagi-lagi hanya memutar bolamatanya, nyonya Park yang melihat respon Baekhyun hanya terkekeh.

.

.

.

.

.

Sudah 2 minggu berlalu, Baekhyun dan Minah kini tengah diperjalanan menuju pulang setelah keduanya menghabiskan waktu mereka di butik baju pengantin untuk mencari tuxedo yang Baekhyun inginkan. Laki-laki cantik itu mengemudikan mobilnya dengan wajahnya yang tampak ia tekuk, sedangkan Minah yang berada disampingnya wanita itu terus menahan tawanya sedari tadi agar tidak meledak dan semakin membuat Baekhyun menekuk wajahnya.

.

Flashback

Minah dan Chanyeol kini duduk diatas sofa dengan sabar menunggu seseorang untuk membuka tirai dihadapannya. Akhirnya setelah lama menunggu seseorang menarik tirai itu dan nampaklah sosok cantik dihadapannya kini dengan mengenakan gaun pengantin dengan memamerkan bahu dan paha mulusnya, sedangkan rambut panjang hitamnya nampak tergerai dengan indah. Namun berbeda dengan wajah cantiknya yang nampak ia tekuk, sedangkan Minah dan Chanyeol mata mereka bahkan tidak berkedip saat melihat sosok Baekhyun mengenakan gaun pengantin yang terlihat sangat cocok ditubuhnya.

"Ba-bagaimana bisa kau terlihat sangat cantik, Baek?" ucap Minah dengan decakan kagumnya.

"Kau benar-benar sangat cantik dengan gaun pengantin, Baek." lanjut Chanyeol.

"Sudah cukup!" desis Baekhyun dan menutup tirai itu.

Flashback end

"Sudahlah Baek, kau akan terus marah seperti ini. Kau memang benar-benar sangat cantik."

"Kalian membuat mood ku buruk hari ini."

"Sepertinya kau sedang sensitif akhir-akhir ini, Baek."

"Aku, benarkah? Entahlah aku merasakan diriku akhir-akhir ini memang berbeda."

"Apa jangan-jangan kau..." keduanya langsung saling pandang dengan mata yang membesar.

Setelah mengantarkan Minah, Baekhyun kembali kerumahnya. Hal pertama yang menyambutnya adalah pekikan riang malaikat kecilnya yang berlari lucu kearahnya. Baekhyun langsung berjongkok dan Jiwon langsung menerjang tubuhnya begitu saja. Laki-laki cantik itu membawa langkahnya kearah lantai atas dengan Jiwon yang berada didalam gendongannya. Hingga sampai dikamar Baekhyun mendudukan dirinya begitu pun Jiwon diatas ranjang. Sebelah tangannya tampak mengelus kepala Jiwon dengan sayang, sedangkan sebelah tangan yang lainnya mengelus perut ratanya.

"Apa secepat ini. Aish, daddy mu benar-benar menanamkan sahamnya lagi dirahim mommy mu." gumam Baekhyun.

"Tapi semuanya akan nampak berbeda, tidak akan sama seperti dulu." gumam Baekhyun kembali dengan senyumannya.

"Baby, kau akan lebih beruntung dari kakak mu Park Jiwon. Baby Jiwon tidak bisa merasakan hangatnya sebuah elusan dari tangan daddy nya saat ia didalam perut mommy, tapi baby kau akan mendapatkan apa yang tidak pernah baby Jiwon dapatkan." Baekhyun terus bergumam dengan mengelus dan menatap perut ratanya. Jiwon yang melihat apa yang dilakukan Baekhyun hanya menatapnya polos.

"Apa mommy cakit pelut?" namun Baekhyun langsung menggelengkan kepalanya dan mengusak rambut Jiwon dengan gemas.

.

.

Hingga hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, saat ini Baekhyun duduk diruang tunggu dengan tarikan napas gugupnya. Sedangkan Sehun ia duduk dihadapan Baekhyun dengan menggenggam kedua tangan laki-laki cantik itu untuk menenangkannya agar ia tidak merasa gugup.

"Aku sangat gugup Sehun." ucap Baekhyun dengan sangat pelan.

"Ini adalah hari yang kau dan Chanyeol tunggu-tunggu bukan, kau bisa melewatinya." namun ditengah-tengah perbincangannya, seseorang masuk untuk memberitahu keduanya jika acaranya akan dimulai. Sehun langsung menjulurkan tangannya dan Baekhyun langsung menggenggam tangan laki-laki albino itu.

"Seharusnya ayahku yang berada diposisi mu, Sehun. Tapi.. Terimakasih."

"Itulah gunanya sahabat, Baek."

Acara pun dimulai, Baekhyun digandeng oleh Sehun berjalan menelusuri altar dan disambut tepuk tangan meriah para tamu yang berada diruangan itu, sedangkan laki-laki tampan Park Chanyeol tengah berdiri menunggu didepan altar. Senyuman tampan Chanyeol langsung terukir saat melihat sosok cantik Baekhyun dengan tuxedo putihnya, laki-laki tampan itu akhirnya menjemput Baekhyun didepan altar dan mengulurkan tangannya pada Baekhyun. Baekhyun pun menyambut uluran tangan Chanyeol lalu melangkah bersama menuju depan altar.

Sehun kini duduk disamping Luhan dengan Jiwon yang berada dipangkuan Sehun. Semuanya saat ini tengah mendengarkan janji suci yang diucapkan keduanya.

Setelah keduanya mengucapkan janji suci, kini Chanyeol dan Baekhyun saling tukar cincin. Chanyeol mengambil cincin pernikahan yang dibawa Minah, lalu menyematkannya dijari manis Baekhyun dengan sempurna. Dan kini giliran Baekhyun, ia mengambil cincin yang ukurannya lebih besar dan disematkan dijari manis Chanyeol dengan senyuman cantik miliknya.

"Nji lihat, itu adalah daddy Nji. Mulai sekarang Nji harus memanggil uncle dengan panggilan daddy." ucap Sehun dengan setengah berbisik pada Jiwon.

"Daddy?"

"Hum, itu daddy Yeol. Daddy Yeol akan sangat menyayangi Nji, seperti daddy Hun menyayangi Nji." anak kecil itu hanya mengangguk dengan lontaran Sehun.

Sehun langsung mengusak rambut anak kecil itu dan mengecup pipi Jiwon "Anak daddy Hun yang pintar dan keren."

Saat Sehun hendak menutupi kedua mata Jiwon agar tidak melihat kedua orangtuanya yang akan berpagut mesra, tanpa dia duga Jiwon turun dari pangkuannya dan berlari lucu kearah dua sosok itu. Sehun langsung menepuk keningnya sendiri dan begitupun dengan Luhan, sedangkan beberapa orang yang berada diruangan itu nampak menahan tawanya saat melihat Jiwon berdiri dan menengadahkan kepalanya menatap dua sosok yang kini tengah berpagut mesra. Anak kecil itu hanya mengerjapkan matanya dengan polos. Kris dan Zitao bahkan mereka menahan tawanya hingga wajahnya memerah.

"Daddy." Jiwon berucap dengan menarik-narik celana Chanyeol. Laki-laki tinggi itu tersadar saat ia merasakan sebuah tarikan di celananya dan keduanya langsung terkejut saat melihat sosok Jiwon berdiri tengah menatapnya. Chanyeol dan Baekhyun melihat kesekeliling orang-orang yang tengah menahan tawanya saat ini, begitupun dengan sahabat dan orangtuanya. Mata sipit itu langsung menatap tajam kearah Sehun, laki-laki albino itu pun langsung menutupi wajahnya.

'Oh Sehun' desis Baekhyun dalam hatinya.

Chanyeol langsung membawa Jiwon kedalam gendongannya. "Nji kenapa ada disini, eoh?"

"Daddy dumbo." ucap Jiwon dengan memainkan telinga Chanyeol. Chanyeol dan Baekhyun langsung saling pandang, saat untuk pertama kalinya Jiwon mengucapkan kata sederhana itu.

.

Setelah acara pernikahan itu selesai, Chanyeol dan Baekhyun hendak meninggalkan gereja itu. Namun nyonya Park terus meminta agar cucu tampannya itu ikut pulang bersamanya, sedangkan Jiwon anak kecil itu terus merengek ingin ikut pulang bersama Baekhyun.

"Nji bersama grandma ya, mommy dan daddy harus bersenang-senang." namun Jiwon terus menggelengkan kepalanya dengan hentakan kaki kesalnya.

"Nji tidak mau, Nji ingin mommy. Pokoknya Nji ingin mommy, Nji tidak ingin glandma." anak kecil itu terus menghentakkan kakinya dengan kesal, sedangkan kedua matanya bahkan sudah berkaca-kaca.

"Eommonie, tidak apa-apa sebaiknya Jiwon ikut pulang bersama kami. Bukan begitu Chanyeol?" ucap Baekhyun dengan membesarkan matanya kearah Chanyeol.

"A-apa?" Baekhyun semakin membesarkan matanya dengan tatapan tajamnya.

Chanyeolpun langsung terkekeh "Ah, maksudku itu bukan masalah eomma. Biarkan Jiwon pulang bersama kami, lihatlah eomma bahkan membuatnya menangis."

Chanyeol langsung menggendong Jiwon yang kini terisak dan anak kecil itu langsung menenggelamkan kepalanya diceruk leher Chanyeol, dan tangan Chanyeol sontak langsung mengelus kepala anak kecilnya dengan sayang. "Nji akan pulang bersama mommy dan daddy, jadi Nji jangan menangis lagi."

"Baiklah." ucap nyonya Park dengan helaan napas pelannya.

.

Chanyeol dan Baekhyun akhirnya meninggalkan tempat itu menuju rumah yang pernah mereka tempati dulu. Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai ditempat tujuannya. Kini mobil milik Chanyeol terparkir tepat dihalaman rumah itu.

"Jiwon sepertinya kelelahan." ucap Baekhyun saat ia melihat malaikat kecilnya tertidur di kursi belakang.

"Jadi kita bisa melakukannya." bisik Chanyeol, dan sontak Baekhyun langsung mencubit perut rata laki-laki yang kini tengah menggodanya itu.

"Kenapa hanya itu yang ada didalam isi kepalamu." decak Baekhyun.

"Sebaiknya kau bawa Jiwon masuk." Chanyeol hanya menghela napas pelannya. Kedua tangan besarnya langsung mengangkat tubuh Jiwon dengan sangat pelan agar tidak membangunkannya, sedangkan Baekhyun ia berjalan dengan mengekori Chanyeol.

Saat pintu terbuka, hanya hening yang menyapa keduanya. Namun Baekhyun sangat merindukan rumah ini, rumah kenangannya bersama sahabat-sahabatnya.

"Rumah ini nampak sama seperti dulu. Aku sangat merindukannya Chanyeol, merindukan kebersamaan kita berempat. Ah, tapi rumah ini terlihat sangat bersih. Apa seseorang membersihkannya?"

"Aku membayar seseorang untuk merapihkan dan membersihkan rumah ini. Dia akan datang dipagi hari dan pulang setelah semuanya selesai. Tapi ngomong-ngomong dimana kita harus menidurkan Jiwon?"

"Tentu dikamar kita."

"Baek..."

"Astaga, baiklah kau bisa menidurkannya dikamarku. Dan kita bisa tidur dikamar yang pernah kau tempati dulu." Chanyeol langsung tersenyum lebar saat mendengar jawaban Baekhyun.

Chanyeol menidurkan malaikat kecilnya diatas ranjang dan tidak lupa untuk mengecup pucuk kepalanya dengan sayang. "Tidur yang nyenyak, daddy dan mommy harus melakukan sesuatu."

Keduanya langsung keluar dari kamar itu, tanpa Baekhyun duga Chanyeol langsung mengangkat tubuh Baekhyun begitu saja hingga sosok yang kini berada didalam gendongan Chanyeol benar-benar dibuat terkejut. "Chanyeol."

Laki-laki tinggi itu malah menyeringai, namun Baekhyun hanya memutar bolamatanya. Tubuh Baekhyun ia jatuhkan begitu saja diatas ranjang. "Akhirnya kita bisa melakukannya, aku merindukanmu Baek."

Kedua tangan Chanyeol melepaskan pakaiannya hingga ia kini bertelanjang dada dihadapan Baekhyun. Laki-laki tinggi itu langsung menghampiri Baekhyun dan melumat bibir tipisnya tanpa seijin pemiliknya, namun Baekhyun jelas tidak menolaknya ia mengimbangi lumatan itu dengan lembut. Namun sayang saat Chanyeol hendak membuka pakaian Baekhyun, tiba-tiba terdengar isakan dari luar kamarnya. Dengan terpaksa Chanyeol melepaskan pagutan itu dengan helaan napasnya.

"Itu seperti Jiwon." ucap Baekhyun.

"Mommy, mommy." Jiwon terus memanggil Baekhyun dengan isakannya, sedangkan kedua matanya menatap kesekeliling rumah asing itu.

"Mommy." suara isakan Jiwon semakin terdengar nyaring.

"Aish, kenapa kau diam saja. Jiwon sedang ketakutan sekarang, bawa dia kesini. Bukankah sudah ku bilang seharusnya Jiwon tidur bersama kita." desis Baekhyun dengan tatapan tajamnya, Chanyeol hanya menelan ludahnya saat mendengar desisan dan tatapan tajam dari sosok laki-laki cantik itu. Tanpa menyahuti ucapan Baekhyun, Chanyeol langsung membawa langkahnya keluar kamar. Dan saat pintu itu ia buka, kedua mata besarnya bisa melihat malaikat kecilnya terisak dengan tangan memainkan ujung bajunya.

"Nji terbangun?" anak kecil itu langsung menganggukkan kepalanya. Chanyeol langsung membawa Jiwon kedalam kamar dan disambut oleh senyuman bukan lagi tatapan tajam seperti tadi. Baekhyun langsung mengambil alih anaknya dan menidurkan Jiwon. Kedua tangannya langsung mengelus surai anaknya dengan sayang begitupun dengan Chanyeol yang kini berada disamping kiri Jiwon. Kedua mata anak kecil itu dengan perlahan tertutup menuju alam tidurnya.

"Baek."

Chanyeol menarik tubuh Baekhyun agar terbangun. Dan kini keduanya terduduk dengan saling berhadapan. Kedua tangan Chanyeol merengkuh wajah Baekhyun dan mengelusnya dengan lembut, keduanya saling berpandangan dengan dalam hingga Chanyeol dan Baekhyun bisa merasakan deru napas dari keduanya.

"Tolong jangan pernah meninggalkan ku lagi seperti dulu."

Baekhyun tersenyum dengan menganggukan kepalanya "Aku, Jiwon dan.. Baby ini tidak akan meninggalkanmu."

Sebelah tangan Baekhyun membawa tangan Chanyeol untuk mengelus perutnya, sontak mata besar Chanyeol semakin membesar namun seperkian detik senyuman lebarnya tercetak diwajah tampannya. "Kau mengandung lagi?"

"Ini akan menjadi adiknya Jiwon."

Chanyeol langsung merengkuh wajah Baekhyun kembali "Aku mencintai mu, sangat mencintai mu Park Baekhyun. Aku janji akan menjadi daddy yang baik dan keren seperti Sehun untuk Jiwon dan baby yang ada didalam perutmu dan aku akan jadi suami yang baik untukmu Baek yang akan selalu kau banggakan, aku akan selalu membahagiakan kalian."

"Aku lebih mencintaimu Park Yoda." Baekhyun menarik tengkuk Chanyeol dan kini keduanya saling melumat dengan lembut. Namun hanya beberapa detik, pagutan itupun terlepas dan keduanya saling menatap dengan senyuman kebahagiaannya.

Chanyeol dan Baekhyun jelas merasakan kebahagiaan itu. Saat kisah dimasa lalunya yang mereka lewati dengan tidak mudah. Sebuah perasaan yang harus mereka pendam dengan waktu yang lama, saat perasaan keduanya di uji dengan saling menyakiti perasaannya masing-masing dan perjalanan cinta yang membuat keduanya saling menjauh. Namun inilah hasil dari perjuangan keduanya, Chanyeol dan Baekhyun merasakan sebuah kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang mereka dambakan dimasa lalunya.

.

.

.

.

.

END

Akhirnya author bisa nyelesein FF ini ampe Happy Ending. Maaf jika ending nya gak greget, karena author ga pinter buat bikin endingnya :D

Buat Kaisoo, maaf banget author gak masukin otp itu. Karena ide awalnya author memang ga bakalan masukin mereka, termasuk Luhan dan Zitao. Tapi karena kelewat 'basah(?)' yaudah author lanjutin :D

Kecewa ya (?)

Makasih banget buat yang udah follow, fav apalagi yang selalu mampir ke kotak review. Yang siders juga author ucapin makasih. Yang udah ngikutin FF ini dari awal ampe akhir makasih banget.

Kecup manis dari Baekhyun...