Author : Melody-Cinta

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Sai x Ino Y.

Genre : Romance/Angst?

Singer : Astrid

Tittle : Tentang Rasa

Request By : Mamehatsuki

A/N : Maaf ya, Mame-chan, aku gak buat pair KakaSaku. Gak apa-apa 'kan?

.

...

.

Ino menatap wajahnya di cermin. Pucat. Itulah hal yang ia temukan pertama kali. Hal kedua yang ia temukan adalah, wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Sangat mendalam. Sakit. Itu yang ia rasakan sekarang ini.

Ia menghela nafasnya. Ia pun mengambil sebuah botol kecil. Membukanya dan menuangkan dua pil kecil berwarna biru. Dengan segera, ia memasukkan dua pil itu ke dalam mulutnya dibantu dengan air putih.

Ino Yamanaka. Seorang gadis berumur 18 tahun. Duduk di bangku 3 SMA Konoha. Berparas cantik, berbadan proposional, anggun, dan mempunyai senyum yang manis. Serta otak yang cukup pintar.

Sekilas, hal itu memang membuat seorang Ino Yamanaka terlihat sempurna. Tapi, tak ada yang tahu bahwa sebenarnya gadis sempurna ini mengidap penyakit kanker paru-paru. Hal yang membuatnya hanya bisa bertahan hidup dengan obat.

Tak seorang pun.

Bahkan kekasihnya, Sai, sama sekali tidak mengetahui penyakit ini. Tentu saja karena Ino selalu menyembunyikan hal ini. Tersenyum manis sambil berkata semua baik-baik saja.

Ino tersenyum kepada pantulan dirinya di cermin. Tangannya mengelus pelan pipinya yang berada di cermin. "Kau bukan orang lemah. Kau harus tetap tersenyum, ok?" Ino menyemangati dirinya sendiri. Dengan bergegas, ia berangkat menuju sekolahnya.

. . .

"Pelajaran olahraga kali ini adalah berlari. Kalian harus berlari dari sini sampai sana. Oke?" Guru Guy, sang guru olahraga memberitahu kepada murid-muridnya. Mereka disuruh berlari dari lapangan sekolah mereka hingga ke depan gerbang sekolah mereka. Tapi jangan salah sangka, sekolah mereka itu sangat besar. Lapangan terletak di belakang sekolah sedangkan pintu gerbang di depan. Jadi bisa kau bayangkan betapa lelahnya mereka nanti 'kan?

Ino mengurut dadanya. Ino, kau harus kuat. Jangan buat penyakitmu sebagai alasan kau bisa bermanja-manja! Ino kembali menyemangati dirinya. Paru-parunya harus kuat kali ini.

"Ino, kau tidak apa-apa?" Sai bertanya dengan cemas. Ino menggeleng sambil sekali lagi tersenyum manis. "Syukurlah." Sai membalas senyuman itu dengan tulus.

DOR!

Dan olahraga lari pun dimulai. Semua murid telah berlari mendahului satu sama lain. Begitu juga Ino. Walaupun ia tidak bisa dibilang dalam baris pertama.

"Ino! Larinya jangan pelan-pelan, dong! Ayo kejar aku kalau bisa!" Sai menyemangati Ino.

Ino tersenyum, "Aku bisa kok mendahuluimu! Wek!" dan ia pun mempercepat larinya. Dan otomatis mempercepat kerja paru-parunya dalam mendapat oksigen.

"Ayo, ayo kejar aku!" Sai kembali berteriak. Ino dengan susah payah mengejar Sai. Dan terus-menerus mempercepat larinya.

"Ayo, Ino.. Kau belum mendahuluiku dari ta.."

"UKH!" Ino terhenti. Ia memegang dadanya. Napasnya terdengar tak beraturan. Dan mukanya terlihat sangat kesakitan. Badannya pun mulai sedikit limbung.

Semua anak langsung panik. Apalagi mengingat teriakan Ino yang tidak bisa dibilang pelan. Satu persatu dari mereka mulai melihat kearah Ino dengan tatapan cemas dan heran. Apa yang terjadi pada Ino? Itu yang ada di benak mereka.

"INO!" Sai dengan sigap menggendong tubuh Ino. "Pak, saya izin membawa Ino ke UKS!" Sai teriak dengan lantang kearah guru Guy yang lumayan jauh darinya. Guru Guy hanya bisa mengangguk.

:Aku tersesat menuju hatimu,

Beri aku jalan yang indah:

Sai merebahkan tubuh Ino diatas ranjang UKS. Dan hal selanjutnya yang ingin ia lakukan adalah mengambil kursi dan duduk di dekat Ino. Tapi, hal itu ia urungkan karena Ino lebih dulu mencegatnya.

"Kumohon, tetap disini.." suara Ino terdengar lemah. Namun di ruangan yang sepi seperti UKS, Sai masih bisa mendengar suara lemah Ino tersebut. Sai pun kembali duduk di ranjang. Disamping Ino.

"Sai," panggil Ino pelan. Ia merubah posisi menjadi duduk dan menyandarkan kepalanya di dinding UKS.

"Ada apa, Ino?" Sai menatap Ino masih dengan raut khawatir.

"Bolehkah aku bersandar di bahumu?" tanya Ino memohon. Sai tersenyum lembut. Tangan kirinya menuntun kepala Ino bersandar di bahunya. Dan mengelus-elus rambut pirang Ino.

Mata Ino terpejam. Damai. Berada dengan Sai memang membuatnya sangat damai. Sai, aku tidak ingin meninggalkanmu. Aku ingin kita selalu bersama hingga tua nanti. Ino menutup matanya. Dan dengan cepat ia terlelap karena kedamaian yang ia dapat dari Sai.

:Izinkanku, lepas penatku,

'Tuk sejenak lelap di bahumu,

Dapatkah selamanya kita bersama,

Menyatukan perasaan,

Kau dan Aku,

Semoga cinta kita kekal abadi,

Sesampainya akhir nanti,

Selamanya:

Keesokan harinya Ino terdiam di kamarnya. Setelah kejadian kemarin, Ibunya melarang Ino untuk pergi ke sekolah. Yah, hanya sekedar untuk memulihkan kembali keadaan Ino.

"Tapi kondisi kamu tidak normal seperti anak lainnya, Ino. Kau harus benar-benar pulih baru ibu izinkan keluar, atau ibu akan memasukkanmu ke rumah sakit!" ujar Ibunya tegas. Dan itu sukses membuat Ino memilih pilihan pertama.

Alasan utamanya tetap Sai. Ia tidak mau, setelah sekian lama ia menganggumi Sai, dan akhirnya menjadi kekasihnya, sekarang kandas hanya karena ia harus tinggal di rumah sakit yang mungkin selamanya. Kanker paru-paru bukanlah penyakit yang mudah di sembuhkan. Bahkan mungkin pemilik penyakit tersebut bisa meninggal. Jadi, Ino tidak mau membuat hidupnya sendirian di sisa hidupnya. Apalagi tanpa orang yang dicintainya.

Ino berjalan keluar dari kamarnya. Berniat untuk mengambil minum dan mengambil handphone yang masih berada di saku tasnya.

Tuut.. Tuut…

"Halo?"

"Halo, Sai?" jawab Ino sambil memegang handphonenya.

"Iya, ada apa Ino? Apa kau baik-baik saja? Aku khawatir."

Ino tersenyum kecil. "Iya, aku baik-baik saja. Tapi akan jauh lebih baik jika kau menemaniku hari ini. Kau mau kan datang ke rumahku?" tanya Ino penuh harap.

"Tentu saja, sayang. Wait for me, Ok?"

"Ya." jawab Ino dengan senyumannya manisnya. Dan pembicaraan pun di tutup.

Alasan Ino mengajak Sai ke rumahnya adalah, dia ingin selalu bersama Sai. Ia tak mau bila di sisa hidupnya ini ia tidak bisa bersama Sai. Tidak bisa menerima kasih sayang Sai. Hanya Sai. Ya, hanya dia. Alasan yang lain adalah, ia tidak mau Sai melupakannya. Ia ingin di sisa hidupnya ini, Sai mengingat dan selalu mengenangnya. Karena ia yakin, di dunia sana, pasti ia akan selalu mengingat kebersamaannya dengan Sai.

:Tentang cinta,

Yang datang perlahan,

Membuatku takut kehilangan,

Ku titipkan cahaya terang,

Tak padam di derai goda dan masa:

Ting.. Tong..

Bel berbunyi. Ino bergegas membukakan pintu dan mendapati Sai yang tengah berdiri dengan menggenggam sebuket bunga lili kesukaan Ino. Tak lupa dengan senyum kedamaian yang selalu diperlihatkannya pada Ino. Senyum cinta yang tulus kepada kekasih yang mencintai dengan tulus.

"Semoga kau suka, Ino." Sai masih tersenyum saat ia memberikan sebuket bunga lili itu ke Ino. Ino pun menerimanya dengan senang hati.

"Terima kasih, Sai." balas Ino terharu. Tak terasa, setitik air mata telah jatuh dari mata indahnya. Air mata haru. Ia ingin selalu mendapatkan hal ini di sisa hidupnya. Mendapatkan hal ini dari Sai. Karena ia yakin, sisa hidupnya tak akan membosankan jika ia bersama Sai. Tapi, apakah ia akan bisa terus bersama Sai? Kematiannya kelak akan membuat mereka terpisah.

Air mata yang terus-menerus mengalir dari mata Ino sontak membuat Sai khawatir. Ia mengelap air mata Ino dan berkata lembut, "Jangan menangis, Ino. Aku ada disini." dan memeluknya dengan hangat. Pasangan yang sangat romantis dan penuh dengan cinta.

Diperlakukan seperti itu, Ino semakin merasa takut. Takut kalau saja nanti ia akan pergi meninggalkan Sai yang tulus mencintainya.

:Dapatkah selamanya kita bersama,

Menyatukan perasaan,

Kau dan Aku,

Semoga cinta kita kekal abadi,

Sesampainya akhir nanti,

Selamanya:

Sekarang Ino dan Sai tengah berada di bagian belakang dari rumah Ino. Tepatnya di dekat kolam berenang. Mereka membiarkan kaki mereka berada di air sambil mengobrol ringan. Suasana sore yang indah di tambah dengan burung-burung yang terbang sangat terlihat di belakang rumah Ino yang tak beratap.

"Kamu sebenarnya sakit apa sih? Aku khawatir." Sai bertanya dengan penasaran. Mimik mukanya menunjukkan bahwa dia benar-benar khawatir akan kesehatan Ino yang akhir-akhir memburuk. "Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu, Ino." sambungnya menggenggam tangan kanan ini dengan tangan kirinya.

Ino tersentak. "Ah.. Eum.. Itu.." Ino gelagapan. Tidak mungkin ia bercerita tentang penyakitnya sekarang. Ini bukan waktu yang tepat. Sai bisa jadi makin khawatir. Atau mungkin.. Sai akan meninggalkannya saat ini juga. Dan itu semua hanya karena penyakit yang dideritanya.

"Ayolah Ino, jujur padaku.." Sai semakin tidak sabar. Ia mengguncang tangan kiri Ino dengan kedua tangannya. Ia yakin, ada sesuatu yang tidak beres disini.

"Tidak.. apa-apa kok.." jawab Ino ragu. Ia menatap mata Sai dengan takut-takut. "Kamu harus percaya sama aku." sambungnya balik menggenggam kedua tangan Sai. Senyumnya pun terukir dengan manis.

"Oh, begitu, baiklah." Sai nampak pasrah walaupun masih ada yang mengganjal hatinya. Ia pun kemabli melihat kearah depan. Melihat pemandangan sore yang indah. Lagipula, memaksa bukanlah hal yang ia suka lakukan. Jika seseorang tidak mau menceritakan sesuatu, semua itu pasti ada alasannya. Dan mungkin, alasan itu, tidak semua orang boleh ketahui.

Ino memeluk Sai dari samping. Melingkarkan kedua lengannya yang panjang di leher kekasihnya. Keadaan itu berlangsung dengan damai sebelum Ino mengerang kesakitan sambil memegang dadanya dengan satu tangan. Sedangkan tangan satunya masih di leher Sai.

"Ino? Ada apa denganmu Ino?" tanya Sai kaget mendengar erangan Ino. Ia pun memegang pundak Ino khawatir.

"Sa.. Sakit.. Sai.. Ukh.." ujar Ino masih memegang dadanya. Ia menangis. Tapi bukan tangisan sakit, melainkan tangisan sedih. Ia tidak mau kalau ia harus meninggalkan dunia ini sekarang. Meninggalkan Sai, meninggalkan semuanya. Dan ia juga tidak mau saat-saat damai seperti tadi tak pernah ia rasakan lagi. Ia tidak mau.

Lambat laun kesadaran Ino pun menghilang. Dan menimbulkan kecemasan yang luar biasa bagi Sai sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memanggil ambulans.

:Dapatkah selamanya kita bersama,

Menyatukan perasaan,

Kau dan Aku,

Semoga cinta kita kekal abadi,

Sesampainya akhir nanti,

Selamanya:

Ino membuka matanya perlahan. Dilihatnya ayah dan ibunya tengah memandangnya cemas. "Ngh.." Ino mencoba mengeluarkan suaranya yang terdengar lemah.

"Ino, kau sudah bangun?" tanya ibunya dengan wajah gembira. "Ibu pikir kamu tidak akan bangun lagi, Nak. Ibu sangat bersyukur!" ujar Ibunya dengan antusias. Dan langsung memeluk Ino seketika itu juga.

Ino tersenyum lembut. "Bu.." ujarnya lemah. Ibunya pun melihatnya dengan tatapan ada-apa? "Dimana Sai? Aku.. ingin bicara dengannya hanya berdua.." pinta Ino kepada sang Ibu.

"Sai? Oh, pria yang berambut hitam itu? Ada. Dia ada diluar. Tapi.. kau yakin sudah cukup sehat untuk bicara padanya?" tanya Ibunya dengan sangat cemas. Ia tak mau ada sesuatu apapun pada putri kesayangannya itu.

Ino mengangguk lemah. "Iya, Bu. Aku ingin bicara dengannya saja." jawab Ino menyakinkan Ibunya yang bisa dibilang overprotective.

Setelah beberapa lama diam, akhirnya Ibunya pun mengangguk dan keluar bersamaan dengan Ayah. Tak berapa lama, Sai masuk dan langsung menghampiri Ino. Mencium dahinya singkat dan menatap wajahnya dengan raut sangat khawatir.

"Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah baikan?" tanya Sai dengan cepat. Ino mengangguk lemah. Tangan Ino berusaha menggapai tangan besar Sai dengan susah payah. Dan akhirnya ia pun berhasil.

"Sai.." ujar Ino sedikit menggantung. Namun setelah beberapa helaan nafas, ia melanjutkan perkataannya. "Maaf jika aku belum pernah cerita hal ini padamu. Aku.. sebenarnya punya penyakit kanker paru-paru. Dan dokter bilang bahwa umurku tak akan panjang lagi." ujar memberanikan diri.

Sai membelalak kaget. Namun ia dapat kembali mengontrol dirinya. Dan menggenggam tangan Ino erat. "Kenapa kau sembunyikan hal itu Ino? Aku akan tetap mencintaimu walau kau sakit sekalipun. Aku janji." ujar Sai dengan cepat. Ia nampak shock.

"Maafkan aku. Tapi, syukurlah jika kau masih tetap mencintaiku. Kata dokter, umurku tak akan panjang lagi, jika saat ini aku harus meninggalkanmu, aku berpesan, jangan pernah lupakan aku. Kumohon." Ino menatap Sai dengan tatapan sedih. Air mata pun pelahan-lahan mulai jatuh dari matanya.

Sai dengan segera memeluk erat tubuh Ino. "Aku tidak akan melupakanmu, Ino. Aku sangat mencintaimu. Kau tidak akan meninggalkanku sekarang, bukan?" tanya Sai menahan tangis yang akan keluar.

"Sai.." Ino berkata dengan lemah. Ia merasa kesadarannya sedikit demi sedikit menghilang. "Aku.." walaupun ia harus meninggal sekarang. Ia sangat rela. Karena apa? Karena ia sudah menghabiskan sisa hidupnya dengan damai dengan Sai. Tak ada kata bosan. Semua yang Sai lakukan padanya sangat membuat Ino senang. Dan berjanji akan terus mencintai Sai. "Mencintaimu.. Selamanya.." dan mata Ino yang sedari tadi sudah terasa berat mulai tertutup rapat. Nafasnya pun mulai terhenti. Tangannya yang memeluk Sai pun terkulai dengan lemah ke samping.

"Aku juga mencintaimu, Ino." balas Sai sambil menangis. "Ino! Ino! Bangun, Ino! Ino!" Sai mengguncang-guncang tubuh Ino. Tapi itu semua tidak ada gunanya. Karena sang pemilik raga telah meninggalkan raganya. Pergi ke tempat yang damai dan aman.

"Sai, aku akan selalu mencintaimu. Kuharap begitu juga dengan kau."

:Dapatkah selamanya kita bersama,

Menyatukan perasaan,

Kau dan Aku,

Dapatkah selamanya kekal abadi,

Sesampainya akhir nanti,

Selamanya..:

.OWARI.

Kyaa! Akhirnya fic ini selesai juga walaupun sudah terbengkalai dalam beberapa minggu.. ehehe. SaiIno memang pair yang cocok untuk adegan yang mesra dan romantis menurut Mel. So, gimana menurut reader sekalian? Apakah ceritanya bagus? Review please!