A Little Secret

Disclaimer : I own the story. Others? Not mine. Secret Garden © SBS

Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst

.

.

Enjoy It!

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

.

.

Tidak ada yang berani memecahkan keheningan yang melingkupi koridor rumah sakit selama hampir satu jam belakangan.

'Sasuke' masih berdiri tak jauh dari pintu ruang rawat dengan wajah cemas, sama seperti Itachi. Sementara itu Shikamaru dan Gaara tampak lebih tenang, namun mata mereka tidak berhenti terfokus pada sang 'Uchiha bungsu'.

'Sasuke' dan Itachi bergegas mendekati pintu ketika seorang suster membukanya.

"Bagaimana keadaannya?" tanya kedua lelaki itu bersamaan.

Sang dokter yang baru saja keluar dari dalam ruangan menatap doa sosok di hadapannya dengan seksama.

"Siapa anggota keluarganya?"

"Aku walinya."

"Aku tunangannya."

Itachi dan 'Sasuke' saling melemparkan pandangan setelah mendengar ucapan masing-masing. Shikamaru dan Gaara melemparkan tatapan terkejut kepada Uchiha bersaudara yang beridiri beberapa langkah di depan mereka.

"Baiklah. Kalian berdua bisa ikut denganku."

Naruto menatap pintu ruang rawat beberapa saat sebelum berbalik dan melemparkan pandangan kepada kedua rekannya.

"Kalian bisa jaga dia untukku?" tanyanya yang hanya dibalas anggukkan sang Nara.

Setelah suster mempersilakan, Shikamaru dan Gaara masuk ke dalam ruangan.

'Naruto' masih terlelap di atas tempat tidur dengan selang infus yang tertancap di tangan kirinya. Gaara berdiri di samping tempat tidur yang ditempati sahabatnya dan menatap sosok si pemuda berambut pirang.

"Sejak kapan Itachi menjadi wali dan Sasuke menjadi tunangan Naruto?" gumamnya pelan, namun masih sampai di telinga seorang pemuda lain yang tengah bersamanya.

Shikamaru menarik sebuah kursi ke sisi lain tempat tidur dan duduk di sana. Ia memperhatikan wajah tenang 'Naruto'. Melihat sang 'adik' tertidur di ruangan bernuansa putih ini membuatnya merasa gagal sebagai seorang 'kakak' yang baik.

Keheningan kembali terpecah dengan suara pintu ruangan yang terbuka sebelum akhirnya kembali tertutup. Shikamaru dan Gaara sama sekali tidak terusik, mereka bahkan tidak menolehkan kepala sedikit pun.

"Apa yang terjadi padanya?"

Itachi menatap sang 'adik' dan memberikan raut yang menyuruh 'Sasuke' menjawab.

Naruto menatap Itachi tajam. Bukankah tadi lelaki ini mengaku sebagai wali'nya'? Kenapa sekarang dia malah melemparkan tanggung jawab?

"Dia hanya perlu istirahat. Dokter berkata kalau kemungkinan 'Naruto' tidak akan sadar selama beberapa hari," jawab Naruto setenang mungkin.

Shikamaru langsung melemparkan pandangan kepada pemuda yang baru saja selesai bicara. Dengan mudah Naruto bisa mengetahui kalau lelaki itu mengkhawatirkan'nya'. Sangat mengkhawatirkan'nya'.

"Dokter berkata kalau 'Naruto' menolak untuk sadar," ucap Naruto lagi.

"Dia menolak untuk sadar? Kenapa?"

Untuk yang satu ini Naruto tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia lebih memilih untuk diam.

Shikamaru langsung mengalihkan pandangan kepada sosok yang berdiri di dekat 'Sasuke' dan melemparkan tatapan yang memaksa Itachi untuk buka mulut.

"Naruto mengalami serangan jantung di kantorku. Dia tidak sadarkan diri sebelum sempat meminum obatnya. Penyebab serangan jantung itu sendiri adalah karena Naruto mengalami shock. Dan alasan Naruto 'menolak' untuk sadar berkaitan dengan penyebab serangan jantung tadi."

Pemaparan Itachi dihadiahi tatapan terkejut dan tidak percaya dari dua kerabat terdekat sang 'Uzumaki'. Naruto mengalami serangan jantung? Sejak kapan pemuda pirang itu mempunyai masalah dengan jantungnya? Kenapa baik Gaara ataupun Shikamaru tahu tentang hal ini?

Itachi memperhatikan ekspresi dua orang yang tidak begitu dikenalnya beberapa saat sebelum beralih memperhatikan 'Sasuke' yang kini sudah berdiri tepat di samping tepat tidur 'Naruto'.

"Terlalu banyak pertanyaan yang muncul, tapi kurasa 'Sasuke' bisa sedikit memberikan titik terang pada kita tentang semua hal yang saat ini sedang terjadi."

Naruto tahu pasti apa maksud dari ucapan 'kakaknya'. Ia juga tahu kalau suatu saat rahasia kecilnya dengan Sasuke pasti akan terbongkar, tapi ia tidak pernah tahu kalau dirinya lah yang harus meluruskan semuanya. Sendiri.

"Untuk pertama kalinya aku benci karena kau tidak ada di sini bersamaku, Teme," ucap Naruto sembari melemparkan tatapan teduh kepada satu-satunya pemuda yang sedang beristirahat di ruangan itu.

.

-0-

.

Entah sudah berapa kali Naruto mengerang frustasi sejak ia berada di kafetaria rumah sakit.

Sudah lebih dari dua jam ia berada di sana, sudah hampir dua puluh kali ia mengulangi cerita tentang pertukaran jiwa yang terjadi padanya dan Sasuke, dan sudah lebih dari dua puluh kali juga ia mendapatkan tatapan 'apa-kau-gila-?' dari tiga orang yang sedang bersamanya.

Naruto menghela napas dan menempelkan dahinya ke atas permukaan meja. Ia menarik napas panjang, lelah dan bingung harus berkata apa lagi agar bisa membuat Itachi, Shikamaru dan Gaara mempercayai ucapannya.

Ia tahu kalau ceritanya memang tidak masuk akal. Hell no! Ia yakin tidak akan ada orang rasional yang dengan mudahnya percaya dengan cerita yang diungkapkannya—pada kenyataannya Naruto sendiri masih tidak percaya kenapa hal 'seajaib' ini menimpanya dan Sasuke. Tapi memang inilah kenyataannya! Semua yang dikatakannya memang nyata, tidak peduli sefiktif apapun kedengarannya.

"Kalau kalian tetap tidak percaya, aku menyerah," gumam Naruto ke atas permukaan meja.

Gaara menaikkan sebelah alis dan menatap Shikamaru. Apa yang dilakukan 'Sasuke' dihadapan mereka sama persis seperti apa yang akan dilakukan Naruto kalau dia sudah putus asa.

Itachi menggelengkan kepala dan memijit pelipisnya pelan. Baru kali ini ia dipusingkan oleh hal yang sama sekali tidak bisa ia cerna. Semua hal yang diceritakan 'Sasuke' memang tidak bisa dicerna oleh otaknya. Sedikit pun.

"Berikan fakta yang bisa membuat kami mempercayai semua ucapanmu... Sasuke."

Shikamaru mengerutkan dahi ketika ia bingung menentukan panggilan untuk sosok di hadapannya. Well, physicly he's Sasuke, but he said that mentally he's Naruto, right? Crap, it's so confusing.

Naruto mengangkat kapala dan melemparkan tatapan kepada lelaki di hadapannya yang duduk di sisi paling kiri.

"Seiring berjalannya waktu, kurasa ucapanmu hari itu benar, Shika. Aku tidak keberatan dengan ucapannya—aku tidak keberatan diklaim olehnya. "

Shikamaru menatap 'Sasuke' dengan sorot terkejut yang kentara. Ia tentu masih ingat ucapannya ketika Naruto datang dan tiba-tiba meminta izin untuk menginap di apartemennya malam itu.

"Karena aku tidak menemukan nada tidak suka di ucapanmu tadi. Itu sudah cukup menjadi bukti kalau kau tidak keberatan dengan ucapan Sasuke."

Naruto menyeringai tipis. Ia yakin Shikamaru sudah mendapatkan pesannya dengan jelas. Kini si pemuda berambut raven menatap sosok yang duduk tepat di sebelah Shikamaru.

Gaara berhenti menatap lelaki di sampingnya yang masih terkejut. Ia melemparkan tatapan lurus kepada sang 'Uchiha bungsu'. Ia sama sekali tidak tahu apa yang akan dikatakan pemuda di hadapannya.

"Aku memang 'jatuh' padanya, tapi itu tidak berarti dia juga harus 'jatuh' padaku. Aku malah berharap hal itu tidak akan terjadi padanya."

Seringai di wajah sang 'Uchiha' nampak makin jelas ketika Gaara menatapnya dengan sorot terkejut dan tidak percaya.

Gaara tidak pernah menceritakan masalah pribadinya kepada orang selain Naruto—dan Sasuke, mungkin, ketika sang Uchiha tengah menjadi 'Naruto'—dan kenyataan itu mempermudah Naruto untuk meyakinkan sang sahabat tentang kebenaran bahwa ia adalah Naruto.

Kini iris onyx sang Uzumaki memandang iris onyx lain yang ada di hadapannya.

"Bisa kuralat jawaban yang kuberikan sewaktu kau 'mengunjungiku' di kampus, Itachi-san? Kurasa sekarang aku akan menggantinya dengan jawaban yang sangat ingin kau dengar saat itu; Ya, aku memiliki hubungan khusus dengan Sasuke."

Setelah sepuluh menit berlalu, Naruto sedikit menggembungkan pipi ketika tidak ada satu orang pun dari ketiga sosok di hadapannya yang membuka mulut untuk berkomentar.

"Mungkin kalian butuh waktu lebih lama untuk memahami semuanya. Aku akan menemani Sasuke," tuturnya sebelum bangkit dan melangkah kembali ke kamar rawat.

"Kalau benar dia adalah Naruto, berarti yang sedang tidak sadarkan diri adalah Sasuke, bukan?" tanya Gaara sembari menolehkan kepala ke arah Itachi.

Itachi menutup mata rapat-rapat dan mengangguk membenarkan. Jika jiwa yang berada di tubuh adiknya tadi adalah Naruto, maka bisa dipastikan kalau yang sedang 'beristirahat' di ruang rawat adalah adiknya.

"Apa Sasuke memiliki penyakit jantung, Itachi?" tanya Shikamaru.

"Tidak."

"Lalu kenapa dia bisa terkena serangan jantung? Kenapa dia bisa mengalami shock?"

Itachi membuka matanya tiba-tiba dan mematung ketika mengingat kejadian sebelum 'Naruto' tidak sadarkan diri di kantornya.

"Kau baik-baik saja, Itachi-san?" tanya Gaara ketika menyadari kalau wajah sang Uchiha sulung lebih pucat dari sebelumnya.

Itachi mengumpat kesal dan meremas rambutnya pelan. Apa yang sudah ia lakukan?

Itachi tidak bisa percaya kalau ia sudah mengatakan hal yang 'tabu' dibicarakan oleh semua orang di hadapan Sasuke. Ia sudah membenarkan semua kabar tentang kecelakaan itu kepada adiknya. Ia sudah membuat sang adik shock dan mendapatkan serangan jantung hingga menolak untuk sadar seperti sekarang.

"I'm a terrible brother," bisiknya.

.

-0-

.

Fugaku menolehkan kepala dan menatap putra bungsunya yang tertegun di ambang pintu kamar.

"Kenapa..." Naruto tidak menyelesaikan pertanyaannya.

Ia sama sekali tidak tahu kenapa Fugaku bisa berada di rumah sakit. Yang lebih ia tidak tahu adalah kenapa 'ibunya' menangis sembari menggenggam sebelah tangan'nya'.

"Dia pasti seperti ini karena ucapanku," ucap Mikoto disela isakannya.

Fugaku melingkarkan lengannya ke bahu sang istri dan menyandarkan kepala Mikoto ke dadanya.

Tatapan mata Naruto melembut. Ia tersenyum tipis melihat hal yang sedang terjadi di hadapannya. Kini ia bisa menjawab pertanyaan yang sebelumnya pernah terlintas di kepalanya mengenai alasan wanita sebaik Mikoto memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama lelaki dingin seperti Fugaku. Dan jawaban dari pertanyaan itu ternyata amat sederhana.

Karena Fugaku sangat mencintai Mikoto.

"Dia pasti sangat terkejut ketika aku menceritakan semuanya. Ini salahku, seharusnya aku lebih bisa menahan diri dan menceritakan semuanya perlahan," ucap Mikoto lagi.

Naruto menatap Mikoto dengan pandangan tanda tanya. Apa maksud ucapan 'ibunya' tadi? Memang apa yang sudah dilakukan 'ibunya' sampai bisa membuat Sasuke shock dan collaps seperti ini?

Sang Uzumaki menarik napas panjang. Ia memilih untuk masuk ke dalam ruangan dan mendudukkan diri di tepi tempat tidur 'Naruto'.

Fugaku menatap lekat 'putra bungsunya'. Tatapan teduh yang diberikan 'Sasuke' kepada 'Naruto' membuat sang kepala keluarga Uchiha yakin dengan keputusan yang diambilnya beberapa saat setelah melihat sang 'putra' di ambang pintu.

"Alasan kenapa aku tidak menyukai pemuda pirang itu adalah karena dia berkaitan dengan masa lalumu, Sasuke. Dia sangat berkaitan dengan masa lalumu."

Mikoto menghentikan tangisnya dan melemparkan tatapan terkejut kepada suaminya.

Fugaku sedikit menundukkan kepala dan tersenyum tipis kepada sang istri sebelum kembali menatap 'putranya' yang sedang menatapnya, menunggu sang 'ayah' melanjutkan perkataannya.

"Phobia-mu... Kau memiliki phobia karena kau pernah mengalami penculikan," papar Fugaku.

"Aku tahu."

Pasangan suami-istri itu langsung melemparkan tatapan kepada 'putra mereka', sementara yang ditatap tampak tidak berniat membalas pandangan keduanya.

"Ingat ketika aku pulang dalam keadaan wajah lebam karena berkelahi? Aku tidak sengaja mendengar percakapan kaasan dan Sakura di kamarku," ungkap 'Sasuke'.

"Kau berkelahi?" Fugaku tampak tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Sejak kapan 'putranya' bisa berkelahi?

"Aku memang putramu, tousan, tapi bukan berarti tousan harus tahu semua hal tentangku. Aku merahasiakan hal itu dari semuanya."

Naruto tidak mau kedua 'orang tuanya' tahu kenyataan kalau sebenarnya jiwa yang ada di tubuh putra mereka adalah jiwanya. Berusaha membuat tiga orang yang ditinggalkannya di kafetaria saja sudah sulit, jadi ia tidak mau menambah beban untuk dirinya dengan membongkar kenyataan ini kepada Mikoto dan Fugaku. Lagi pula...

Naruto mengulurkan tangan dan menarik pelan selimut yang menutupi tubuh'nya' agar bisa menghangatkan bagian dada'nya' dengan lebih baik.

Lagipula ia tidak mau membuat 'orang tuanya' khawatir. Ia tidak mau membuat 'ibunya' menangis lagi ketika mengetahui rahasia kecilnya dengan Sasuke.

"Jadi, apa hubungan antara aku, phobia-ku, kecelakan yang tidak kuingat, dan 'Naruto'?" tanya 'Sasuke'.

"Sebenarnya kami tidak diperbolehkan membicarakan hal ini denganmu, tapi kalau kau memang ingin bersama pemuda itu, kurasa sekarang sudah waktunya bagimu untuk mengingatnya."

Fugaku bisa merasakan pelukan sang istri mengencang. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.

"Saat usiamu sepuluh tahun, kau pernah diculik. Saat itu aku baru saja memenangkan sebuah tender, dan lawanku tidak bisa menerima kekalahan. Dia menyuruh beberapa orang untuk menculikmu sepulang sekolah."

Naruto menganggukkan kepala dan menunggu Fugaku melanjutkan ceritanya.

"Mereka berhasil melakukannya, tapi ternyata bukan hanya kau yang mereka tangkap. Mereka juga menangkap seorang guru yang saat itu menemanimu menunggu supir."

"Guruku?" Naruto mengerutkan dahi.

"Ya, gurumu," Fugaku menghela napas.

Naruto masih memperhatikan wajah terlelap pemuda di depannya. Entah kenapa kini ia merasa ragu untuk mendengar kelanjutan cerita masa lalu Sasuke.

"Penculik itu membawamu dan gurumu ke sebuah gudang di pinggiran kota dan menyekap kalian di sana. Beberapa menit setelah penculik menghubungiku dan meminta tebusan, aku langsung menghubungi polisi dan meminta bantuan mereka untuk melacak keberadaanmu. Dan saat kami berhasil menemukanmu..."

Pelukan Mikoto making mengencang dan wanita anggun itu mulai kembali terisak.

"Kami menemukanmu di dalam sebuah ruangan berukuran empat kali empat meter yang gelap dan pengap. Kami menemukanmu dalam keadaan..." Fugaku kembali menarik napas panjang, "kau tengah dipeluk erat oleh gurumu."

"Dipeluk guruku?" tanya Naruto tidak mengerti.

"Ya. Gurumu melindungimu dari para penculik yang hendak menghabisi nyawamu ketika polisi melakukan penyergapan. Saat itu kau baik-baik saja, tidak terluka sedikit pun, tapi gurumu mengalami luka serius. Dan kami tidak berhasil menyelamatkannya. Dia meninggal karena kehabisan darah akibat luka tusuk yang bersarang di beberapa bagian tubuhnya dan luka pukulan di kepala."

Naruto merasa dadanya sesak. Sasuke pernah mengalami kejadian mengerikan seperti itu? Tidak heran kenapa pemuda yang kini terjebak di tubuhnya itu mengalami trauma berat sampai tidak bisa mengingat masa lalunya tadi.

"Kami membawamu ke rumah sakit, dan kau sempat mengalami shock. Kau tidak mau bicara apapun kepada semua orang. Kau hanya menangis dan meminta kami mengantarkanmu kepada guru yang sudah menyelamatkan nyawamu. Kami tidak pernah memberitahumu kalau gurumu meninggal. Kami tidak bisa memberitahukanmu kalau guru yang paling kau sayangi meninggal karena melindungimu."

"Tapi kau kabur dari rumah sakit dan pergi ke rumah gurumu untuk menemuinya. Kau pergi ke sana dan mengetahui kenyataan kalau dia meninggal. Kau datang tepat di saat pemakamannya dilaksanakan," Mikoto melanjutkan cerita suaminya dengan suara yang masih parau.

Naruto bisa membayangkan bagaimana terkejut dan sedihnya Sasuke kecil ketika tahu kalau guru kesayangannya meninggal karena melindungi dirinya. Ia juga pasti akan merasa trauma dan shock jika mengalami apa yang diceritakan Fugaku dan Mikoto.

"Dan hubungan antara semua hal yang sudah kami ceritakan..."

"Guru yang terlibat dalam penculikanmu adalah Uzumaki Kushina. Ibu Uzumaki Naruto."

Ucapan Mikoto tidak hanya sukses membuat 'Sasuke' membeku, tapi juga Itachi, Shikamaru, dan Gaara yang baru saja membuka pintu ruangan.

Setelah menceritakan semua yang diketahuinya kepada sang pengusaha dan juga sang penyanyi muda, Itachi meminta keduanya untuk ikut merahasiakan semuanya—setidaknya hingga 'Naruto' sadar.

Itachi tahu betul kalau kenyataan yang diketahuinya bisa memberikan dampak yang besar kepada sang adik dan juga Naruto, dan ia tidak mau keadaan sekarang menjadi lebih rumit lagi.

Rencananya mereka akan menunggu hingga 'Naruto' sadar sebelum akhirnya mengungkapkan semuanya dan membicarakan hal ini dengan tenang dan perlahan, tapi sepertinya rencana yang dicetuskan putra sulung keluarga Uchiha itu sudah tidak dapat dilaksanakan.

"Orang yang melindungimu adalah orang tua Naruto. Guru yang mengorbankan nyawanya untukmu adalah Namikaze Kushiha, istri Namikaze Minato. Nami-sensei-mu."

.

.

TBC

.

.

A/N: Lebih pendek dari yang sebelumnya -,- Sudah makin mendekati bagian akhir, dan rasanya saya sudah tidak sabar membuat bagian epilognya X3 Ah, ya, waktu nominasi untuk IFA (Indonesian Fanfiction Award) 2011 sudah dimulai~ Ayo mulai nominasikan fanfic favorit kalian~ ^^

.

.

Review Reply:

.

.

Meg chan: Pertanyaannya dijawab sendiri aja yaa, hehe. Maaf juga ga bisa update kilat ^^

nao-chan: Sekarang kayaknya udah bukan 'hampir' lagi deh. Terima kasih sudah menunggu~ ^^

shia naru: Terima kasih sudah mendukung~ Terima kasih juga karena sudah mau 'meninggalkan jejak' di kolom review~ :D Love you too, and I'll love you more if you keep leaving your review for this fic~ ^^

suki teme: Lagi berusaha buat terus update, soalnya mulai akhir bulan ini aku udah mulai sibuk -,- Yep, semangkaaa! ^^

chielasu88: 'Senpai'? O.o Sudah saya update~ ^^

sabishii no kitsune: Ahahahaha, masih belum menyerah berharap buat ending NejiGaa ternyata XD Kita liat nanti ya, hehe ^^

Kyuubi tuh lucu: Akunnya gimana kabar jadi? *masih aja bahas ini topik* Aku ga mau bikin fic ini lebih panjang lagi, jadi diusahain selesai secepatnya. OST yang aku tahu cuma; Appear (Kim Bum Soo), That Man (Hyun Bin, Baek Jiyeong), That Woman (Baek Jiyeong), Here I AM (4MEN & Mi), Why / Reason (Shin Yong Jae), I Can't (Mi), You Are My Everything (Jeong Ha Yun). Nde, hwaiting! ^^

haru minasan: Thank you~ ^^

Lista-SasuNaru4ever: Ga apa-apa telat, yang penting baca plus review~ Sudah dilanjut~~ ^^