Fugaku mendesis marah seraya mengepalkan tangan ketika ia melihat layar televisi. Ia menahan diri untuk tidak membanting remote televisi yang sedang dipegangnya. Dan sebagai gantinya,ia meremas remote itu kuat-kuat.
"Bangsat!" maki Fugaku sambil mengepalkan tangan dengan marah. Pada akhirnya ia melemparkan remote TV itu ke sofa.
Mikoto yang kebetulan memang akan menuju ruang keluarga segera bergegas begitu ia mendengar suara sang suami. Ia segera duduk di samping sang suami dan bertanya, "Ada apa?"
"Lihat saja kelakuan anak itu di televisi," ucap Fugaku dengan wajah memerah karena marah.
Malam ini Fugaku memutuskan untuk menonton acara talk show di televisi karena mendengar bahwa putra bungsunya akan menjadi bintang tamu di salah satu acara. Ia merasa penasaran karena Sasuke yang tak begitu menyukai publisitas dan tak pernah menerima undangan untuk mengisi acara talk show tiba-tiba saja berniat melakukannya.
Dan Fugaku mendelik ketika menyadari bahwa acara itu bertema mengenai kekerasan seksual pada anak-anak dan Sasuke memutuskan untuk menceritakan masa lalunya sebagai 'pelajaran' untuk para orang tua bahwa anak mereka yang mengalami kekerasan seksual dapat hidup dengan normal sekaligus meminta orang tua lainnya untuk berhati-hati meski pada orang yang mereka kenal sekalipun.
Mikoto menyadari kalau suaminya marah karena tindakan Sasuke yang tidak menjaga imagenya, namun ia sendiri tidak keberatan dengan apa yang dilakukan Sasuke. Toh Sasuke adalah korban, kenapa dia harus disalahkan?
"Cepat hubungi anak itu setelah siaran live berakhir! Minta dia untuk datang! Aku akan memberinya pelajaran secara langsung!" teriak Fugaku dengan marah pada istrinya.
Mikoto tahu apa yang bisa dilakukan suaminya jika sudah marah. Suaminya adalah tipe orang yang bisa melakukan kekerasan fisik jika sudah marah, terbukti dari tindakannya saat menghajar pelaku pemerkosaan Sasuke.
Dan untuk pertama kalinya Mikoto memutuskan untuk berkata, "Jangan lukai Sasuke, sayang. Aku tahu kalau kau berniat memukulnya. Iya, kan?"
Emosi Fugaku meningkat. Ia berkata dengan suara yang meninggi, "Kau tidak tahu bagaimana sulitnya membangun sebuah perusahaan kecil yang hampir bangkrut menjadi seperti sekarang hingga kau bisa seenaknya bilang begini. Kau ingat ketika kita harus tinggal di apartemen tua kecil sewaan yang bocor dimana-mana karena menjual rumah dari orang tuaku untuk modal perusahaan? Kau mau kembali hidup seperti itu di masa tuamu, hah?!"
Mikoto masih ingat jelas bagaimana susah kehidupannya saat itu. Di tahun-tahun awal pernikahannya, ia bahkan harus bekerja paruh waktu di dua tempat meski sudah memiliki anak. Ekonomi keluarganya mulai agak meningkat ketika Sasuke lahir dan sejak itu semakin meningkat hingga berhasil memiliki sebuah perusahaan besar dengan beberapa anak cabang yang bergerak di berbagai bidang.
"Bagaimana kau tahu kalau perusahaan akan terkena imbasnya? Anak kita hanya korban. Dan kau terus menekannya untuk terlihat sempurna meski mentalnya tidak sehat. Kalau saja dia tidak bertemu dengan istrinya, aku yakin dia sudah gila sekarang."
Pada akhirnya Mikoto memutuskan untuk melawan suaminya. Ia sudah tak tahan lagi dengan tindakan sang suami yang tidak sejalan dengan pikirannya.
Fugaku terdiam sesaat. Ia masih ingat beberapa tahun yang lalu ketika Sasuke datang ke rumah dan memperkenalkannya dengan seorang wanita yang merupakan calon istrinya. Perempuan itu berasal dari keluarga sederhana, namun ia tidak keberatan karena ia bisa melihat Sasuke yang berubah menjadi positif berkat wanita itu. Dan ia juga merasa lega karena pada akhirnya putra bungsunya bisa hidup normal dan menikah serta memiliki anak. Namun ia tetap menganggap anak itu sebagai sebuah 'aib' dalam keluarga.
"Pikir saja dengan otakmu. Apa kata orang jika putra dari pemilik Uchiha Group ternyata korban pemerkosaan? Bagaimana image keluarga dan perusahaan kita? Kau mau saham kita turun dan perusahaan kita kehilangan nilainya?"
Mikoto tak menyahuti ucapan suaminya. Ia sudah lelah mendengar semuanya. Dan ia segera berkata, "Kalau pengakuannya akan merusak image perusahaan, setidaknya itu berarti dia juga menghancurkan perusahaannya sendiri. Lagipula kalaupun perusahaan kita tutup, setidaknya kita masih bisa hidup layak dengan sisa-sisa asset kita."
Fugaku hanya terdiam. Ia merasa sangat gelisah dan nanti malam mungkin ia akan sulit tidur. Besok ia akan mengecek nilai saham perusahaannya serta berbagai portal berita di internet.
.
.
"Sasuke-kun, apakah tidak apa-apa kalau kau bilang begitu di acara talk show? Kupikir kau menerimanya karena berniat memberi peringatan pada orang tua mengenai pelecehan seksual pada anak-anak karena kau juga seorang ayah."
"Hn."
Sakura sudah terbiasa dengan ucapan panjang lebar yang hanya dibalas dengan singkat oleh suaminya. Sudah lima tahun berlalu sejak pernikahan mereka dan Sakura mengetahui sisi baik maupun buruk dari suaminya.
"Bagaimana kalau suatu saat nanti Sarada menemukan berita itu dan mengetahui kalau kau pernah-" Sakura memutus ucapannya sebelum melanjutkannya dengan ragu, "-begitu?"
Sasuke menatap putri nya yang berusia dua tahun dan tengah tertidur di dalam kereta yang didorong Mitsuki. Ia menyentuh pipi Sarada yang tertidur dan mengelusnya dengan lembut.
"Aku tak akan menutupi apapun dari anak-anakku."
Sakura menganggukan kepala. Ia memahami prinsip sang suami dan menghargainya. Ia tidak keberatan dengan apapun keputusan suaminya selama itu bukanlah hal yang negative.
Sasuke beralih pada Mitsuki dan menepuk kepala anak lelaki itu dengan pelan. Ia sama sekali tidak menyesal mengadopsi anak itu dan mengikuti saran Kakashi. Anak itu kini tumbuh dengan baik dan cukup dekat dengannya hingga terkadang mereka pergi berdua saja tanpa Sarada dan Sakura.
Saat menikah dulu, bukan berarti ia benar-benar baik saja. Malam pertamanya dengan Sakura benar-benar gagal total. Sasuke bahkan teringat dengan traumanya dan ia tak bisa melakukannya sehingga harus menunggu lebih dari setengah tahun untuk melakukannya pertama kali, itupun setelah mempelajari buku yang merupakan hadiah dari Naruto yang semula akan ia kirim ke tempat sampah namun tak sampai hati dilakukannya.
Dan akhirnya Sasuke memiliki anak di tahun ketiga pernikahan setelah merasa benar-benar siap untuk memiliki anak serta merasa kalau Mitsuki sudah siap memiliki adik.
Sakura menatap sang suami dan berkata, "Uh.. aku lapar nih. Makan malam lagi, yuk."
Sasuke mengernyitkan dahi. Rasanya ia sudah mengajak istrinya untuk makan malam. Kenapa belakangan ini wanita itu sangat mudah lapar?
"Omong-omong, bukankah onee-san sudah makan dua buah es krim bersamaku tadi?" tanya Mitsuki dengan heran.
Seketika Sasuke tersadar akan sesuatu. Porsi makan istrinya mendadak meningkat berkali-kali lipat ketika sedang hamil. Wanita itu tidak mungkin sedang hamil, kan?
"Kau… hamil?"
Wajah Sakura memerah seketika dan ia menganggukan kepala dengan malu-malu.
Reaksi Sakura membuat Sasuke terkejut setengah mati. Ia secara refleks memeluk istrinya dengan sangat erat, membuat wajah Sasuke semakin memerah.
"Lepaskan, Sasuke-kun. Mitsuki melihat kita," bisik Sakura tepat di telinga sang suami.
Sasuke tak peduli. Ia melonggarkan pelukannya dan mengecup bibir sang istri, membuat jantung wanita itu berdebar ekstra keras dan ia merasa seolah ingin pingsan. Wajahnya benar-benar memerah bagaikan tomat.
Detik berikutnya Sasuke memeluk pinggang Sakura seraya mengelus perut sang istri dengan lembut. Ia merasa bahagia dengan kehadiran calon anggota baru di dalam keluarganya.
-The End-
