DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, Ojamajo Doremi 16 Naive, Ojamajo Doremi 16 Turning Point & Ojamajo Doremi 17 (light novel) © Kodansha, 2011-2013. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini, dan semua lagu yang judulnya tercantum dalam fic ini juga bukan punya saya.

Catatan Author: Well, chapter yang satu ini mungkin nggak akan menceritakan tentang pairing romance (otak romance saya mau istirahat dulu di chapter ini), tapi tentu saja, chapter ini akan mengedepankan unsur friendship yang memang menjadi genre utama di fic ini.

Warning: Maybe, there would be some violence words here.

.

Intro: Akari terlihat sedang mencoba menelepon seseorang dengan wajah cemas. Kelihatannya, orang yang diteleponnya tak kunjung menjawab, padahal sudah berkali-kali Akari mencoba menghubungi orang itu.

Setelah mencoba untuk yang keduapuluh kalinya, ia menggeram dengan cemas, "Oh, Aleyna-chan, kumohon jawab teleponku. Jangan buat aku cemas begini."

.

(Opening Song 'Ojamajo Girlband': 'Egao no Mirai he' by MAHO-Do – Original Version by Yuki Matsuura)


Ojamajo Girlband

.

The Kidnapping


"Akari-chan?"

"…"

Sekarang, para personil MAHO-Do dan 'The Sweet Notes' (minus Aleyna) sedang berada di bus MAHO-Do untuk pergi ke kampus mereka, Universitas Tokyo, untuk mengikuti semester baru mereka disana. Sebelumnya, sejak hari dimana para personil MAHO-Do – Doremi dan Aiko – memberikan oleh-oleh kepada para personil 'The Sweet Notes', Melissa, Yumi dan Karen memang menginap di rumah Akari sampai hari ini, supaya mereka bisa dengan mudah berlatih bersama Doremi dan yang lainnya disana.

Sayangnya, sejak hari itu juga, Aleyna sudah tidak bisa lagi dihubungi, entah karena apa, dan hal itulah yang terus dipikirkan oleh Akari sampai-sampai ia tidak menjawab panggilan Doremi.

Momoko lalu menghampiri Akari dan menepuk bahunya, "Akari-chan, Doremi-chan memanggilmu tadi."

"Eh?" Akari tersadar dari lamunannya, "Ah, maafkan aku, Doremi-chan. Aku tidak tahu kalau kau memanggilku."

"Pasti kau masih memikirkan Aleyna-chan ya?" tanya Doremi yang sedang duduk dibelakang kemudi, sambil terus berkonsentrasi mengemudikan bus tersebut, "Sampai sekarang, kau masih belum bisa menghubunginya?"

Akari menggeleng dan menjawab dengan murung, "Entah kenapa, sampai sekarang aku masih belum bisa menghubungi Aleyna-chan lagi, sama sekali. Aleyna-chan sendiri juga… sampai sekarang masih belum menghubungiku lagi."

"Mungkin Aleyna-chan masih butuh waktu untuk berpikir…"

"Tapi tetap saja, Onpu-chan. Semua ini tetap saja membuatku khawatir," potong Akari, "Apalagi, Aleyna-chan itu anggota termuda dari 'The Sweet Notes'. Aku takut terjadi apa-apa dengannya."

"Don't you worry about her, Akari-chan," ujar Momoko, mencoba menenangkan Akari, "Aku yakin Aleyna-chan baik-baik saja sekarang. Dia hanya butuh waktu untuk berpikir."

"Mudah-mudahan saja," Akari menghela napas, "Habisnya, akhir-akhir ini, kami menerima beberapa pesan ancaman dari para haters, dan mereka bilang… mereka ingin mencelakai kami."

"Ayolah, Akari-chan. Mereka kan hanya mengancam kalian, dan tidak lebih dari itu," sahut Aiko, "Kalau nanti mereka tahu bahwa kalian sudah bisa tampil live dengan baik – dan tanpa lipsing, mereka pasti tidak akan berani mencelakai kalian. Bahkan mungkin… suatu saat nanti mereka malah akan menjadi penggemar kalian. Lagipula, aku juga yakin kalau mereka tidak akan berani melakukannya, kecuali kalau memang mereka berotak kriminal."

"Kau salah, Ai-chan. Mereka berani melakukan apapun untuk mencelakai kami," balas Yumi, "Begini, kau… ingat kan, tentang apa yang terjadi saat kau dan Doremi-chan menolongku di gang dekat rumah Akari-chan?"

"Eh?" Aiko memandangi Yumi dengan terkejut, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, "Jadi… mereka itu beberapa diantara para haters kalian yang dimaksud oleh Akari-chan?"

"Begitulah…" Yumi menghela napas, "Saat itu, kebetulan mereka melihatku berjalan sendirian menuju ke rumah Akari-chan, dan… mereka memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk…"

"Ah, mungkin kau tidak perlu meneruskannya lagi, Yumi-chan," ujar Aiko, "Sekarang aku mengerti, kenapa kalian merasa sangat khawatir begini. Kelihatannya, apa yang terjadi dengan kalian hampir sama dengan apa yang terjadi pada kami setahun yang lalu."

"Walaupun begitu, kami semua janji akan menolong kalian supaya para haters itu tidak bisa mencelakai kalian. Mereka harus tahu kalau kalian sedang berusaha untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya," sahut Momoko, "Mudah-mudahan, kita semua sudah bisa meyakinkan mereka sebelum mereka dapat melakukan hal yang lebih jauh lagi."

"Semoga saja…" balas Akari yang kembali menghela napas, "Sekarang, aku benar-benar mencemaskan keadaan Aleyna-chan."

Tak lama setelah itu, ponsel merah milik Akari berdering. Seseorang meneleponnya.

"Mungkin ini Aleyna-chan," tanpa pikir panjang, Akari menjawab telepon itu, "Aleyna-chan, sekarang kau ada dimana? Sudah beberapa hari ini aku mencoba menghubungimu, tapi kau malah…"

"Dasar bodoh. Lihat dan dengar dulu siapa yang meneleponmu, sebelum kau menyimpulkan bahwa temanmu itu yang meneleponmu."

'I-Ini… bukan Aleyna-chan?' pikir Akari yang kemudian menyahut, "Sebenarnya kau ini siapa sih?"

"Pertanyaan yang bagus, Natsumi Akari," sahut suara itu, "Kau masih ingat kan, dengan ancaman yang kami berikan kepadamu, juga teman-temanmu yang lain? Atau mungkin… soal temanmu yang bernama Taneshiro Yumi yang mungkin sekarang sudah hancur, kalau Aiko dari MAHO-Do tidak menolongnya dan ikut campur urusan kita."

"Kau?!" geram Akari, "Sekarang, apa yang membuatmu meneleponku?"

"Sederhana saja. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa salah satu temanmu yang bernama Aleyna Robinson sekarang sudah berada di tangan kami," ujarnya, "Kelihatannya, hubungan kalian dengannya sedang ada masalah ya? Tapi untungnya, kami bisa memanfaatkannya untuk menemuinya dan menyekapnya sejak kemarin."

"Apa?! Jadi Aleyna-chan…"

"Kami tidak akan berbuat macam-macam terhadapnya, kalau nanti sore, kalian sepakat untuk kesini dan memutuskan untuk membubarkan girlband kalian."

"Eh? Tapi, kami tidak mungkin membubarkan 'The Sweet Notes' dengan cara seperti ini."

"Sebenarnya, semuanya terserah kau, Akari. Kalau kau ingin temanmu selamat, kau harus rela membubarkan girlbandmu, tapi kalau kau masih bersikeras untuk mempertahankan girlbandmu, aku tidak akan menjamin keselamatan temanmu ini."

"Jangan sakiti Aleyna-chan!"

"Kan sudah kubilang, semuanya terserah padamu, Akari," ulang suara itu, "Ya, kalau kau masih saja tidak ingin melakukan apa yang kami mau, kurasa aku tidak akan segan-segan untuk menikmati tubuh temanmu sedikit… atau mungkin, aku akan membunuhnya dan memutilasinya, kalau aku mau."

"Jangan lakukan itu atau aku akan melaporkanmu ke polisi!"

"Silakan saja kau melapor. Toh, aku juga bisa melaporkanmu karena telah melakukan kebohongan publik. Kalian tak henti-hentinya tampil lipsing."

"Baiklah," Akari mencoba menenangkan diri menghadapi sang penelepon, "Sekarang, dimana kalian menyekap Aleyna-chan? Kami akan datang kesana dan memenuhi permintaan kalian nanti."

"Siang ini? Atau sore ini?"

"Sore ini," jawab Akari mantap, "Jadi, dimana kalian sekarang?"

Setelah mendapatkan penjelasan yang dibutuhkannya, Akari lalu membicarakan tentang hal itu kepada Melissa, Yumi, Karen dan para personil MAHO-Do yang berada disana.

"Jadi… Aleyna-chan benar-benar sedang disekap oleh mereka?" tanya Momoko.

"Iya, sejak kemarin," jawab Akari, "Karena itulah, sore ini kami harus menemui mereka dan mengumumkan kalau… 'The Sweet Notes' akan kami bubarkan."

"Eh?! Dibubarkan?!" seru Melissa, "Tapi Akari-chan, kau tidak benar-benar berniat untuk membubarkan 'The Sweet Notes' kan? Kalau kau membubarkannya, sama saja dengan membuat latihan kita sejak liburan musim panas kemarin menjadi sia-sia belaka."

"Entahlah, Mell-chan. Aku hanya tidak ingin mereka mencelakai Aleyna-chan," ujar Akari, "Di satu sisi, aku tidak ingin 'The Sweet Notes' hancur hanya gara-gara masalah ini, tapi disisi lain… aku sudah menganggap kalian semua seperti adikku sendiri, termasuk Aleyna-chan, dan aku tidak ingin melihat kalian tersiksa. Kalian lebih berharga dibandingkan dengan nama 'The Sweet Notes' itu sendiri."

"Tapi Akari-chan, kau tahu sendiri kalau 'The Sweet Notes' adalah impian kita sejak dulu," sahut Yumi, "Kita tidak bisa menyerah begitu saja hanya karena…"

"Jadi kau ingin membiarkan Aleyna-chan disakiti oleh mereka semua, begitu?"

"Tidak begitu juga," sanggah Yumi, "Maksudku, pasti ada cara lain bagi kita untuk menyelamatkan Aleyna-chan, tanpa harus mendeklarasikan kalau 'The Sweet Notes' akan bubar dihadapan mereka. Pasti ada cara lain."

"Iya, tapi apa?" sahut Akari dengan putus asa, "Yumi-chan, kau sendiri tidak tahu kan, bagaimana caranya? Kau sendiri tidak punya ide kan?"

"Aku memang belum punya ide, tapi setidaknya kita harus optimis. Kita harus yakin kalau kita bisa menyelamatkan Aleyna-chan dari tangan mereka tanpa kita harus mengorbankan 'The Sweet Notes'."

"Tapi bagaimana caranya kita bisa menyelamatkan Aleyna-chan tanpa harus membubarkan 'The Sweet Notes'?" balas Akari, "Bagaimana caranya, Yumi-chan?"

"Kalian tidak ingat kalau ada kami disini?" sahut Doremi sambil terus fokus menyetir, "Jangan khawatir, Akari-chan. Kami pasti akan menolong kalian menyelamatkan Aleyna-chan."

"Eh?"

"Ah, kalau yang seperti ini sih, serahkan saja kepada kami," ujar Aiko dengan penuh percaya diri, "Kami lebih berpengalaman dalam hal ini."

"Mereka benar, Akari-chan. Sekarang, kita semua saling bersahabat. Kita bisa saling tolong-menolong untuk menyelamatkan Aleyna-chan," Yumi membenarkan perkataan Aiko, "Kita tidak perlu takut terhadap mereka, Akari-chan."

"Begitu…"

"Tentu saja, Akari-chan. Kita semua bisa memikirkan cara supaya Aleyna-chan bisa selamat," ujar Karen, "Kita semua pasti bisa menghadapi semua ini."

"Baiklah, karena sekarang kita sudah hampir sampai di kampus, bagaimana kalau kita membicarakan hal ini lagi nanti siang, saat semuanya sudah tidak ada kegiatan lagi?" tawar Doremi, "Nanti kita bicarakan apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa menyelamatkan Aleyna-chan. Akari-chan, tadi orang yang meneleponmu memberitahukan lokasinya kan?"

Akari mengangguk, "Aku punya alamatnya, Doremi-chan."

Mereka lalu sepakat untuk meneruskan pembicaraan tentang Aleyna sepulangnya mereka dari kampus.

.

"Hei," protes seorang pemuda yang tadi menelepon Akari saat ia menyambut kedatangan Akari dan yang lainnya – Melissa, Yumi, Karen dan para personil MAHO-Do di 'markas'nya, "Kenapa kalian malah mengajak para personil MAHO-Do kesini juga?"

"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" balas Akari, "Mereka sahabat kami, jadi tidak ada salahnya kalau kami ikut mengajak mereka untuk menjemput Aleyna-chan disini."

"Aku ragu kalau Aleyna ingin kalian menjemputnya bersama dengan mereka," sahutnya sinis, "Kelihatannya, Aleyna sangat membenci mereka."

"Langsung saja. Tujuan kami datang kesini adalah untuk menawarkan solusi alternatif supaya kami bisa menjemput Aleyna-chan pulang tanpa membuat 'The Sweet Notes' hancur," ujar Doremi, mencoba untuk tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh pemuda itu, "Sekarang, aku ingin bertanya padamu. Kenapa kau sangat membenci 'The Sweet Notes' sampai harus menculik Aleyna-chan supaya mereka bisa bubar?"

"Karena mereka telah melakukan kebohongan publik. Mereka telah tampil lipsing lebih dari sekali, dan itu artinya mereka telah berdusta," jawab pemuda itu, "Padahal, mereka tidak bisa menyanyi sama sekali. Koreografi yang mereka tampilkan pun tidak kreatif."

"Siapa bilang?" balas Doremi, "Kau pasti tidak tahu kalau sekarang, mereka sudah berusaha untuk berubah, benar kan? Kau tidak tahu kalau selama beberapa hari ini, mereka semua berusaha keras untuk bisa lepas dari kebiasaan mereka tampil lipsing kan?"

"Yang benar saja?" sahutnya dengan nada sarkastik, "Apa buktinya?"

"Kau masih tidak percaya? Dan sekarang, kau mau bukti? Tentu saja, kami bisa memberikannya sekarang."

"Eh? Doremi-chan…" bisik Akari, "Latihan yang kemarin itu kan…"

"Ah, aku yakin kau dan yang lainnya bisa melakukannya," sahut Doremi, "Penampilan kalian di latihan kemarin juga sudah bagus kok, Akari-chan."

"Oh, baiklah… kalau menurutmu kami bisa melakukannya," simpul Akari yang kemudian berkata, "Ya, kalau kau masih belum percaya, kami bisa membuktikannya sekarang juga."

Melissa, Yumi dan Karen mengangguk, menandakan bahwa mereka sudah siap jika pemuda itu memang menantang mereka untuk tampil bernyanyi disana detik itu juga.

"Baik. Karena kulihat kalian terlalu percaya diri, aku akan memberikan keringanan syarat kepada kalian," simpul sang pemuda, "Kalau kalian bisa membuktikan padaku bahwa kalian bisa tampil dengan baik tanpa lipsing, kalian bisa membawa Aleyna pulang bersama dengan kalian, tapi kalau tidak, aku akan tetap memberlakukan syaratku yang semula – kalian harus bubar. Apa kalian siap menerima tantanganku?"

Akari menghela napas sebelum akhirnya memutuskan, "Kami siap."

"Jujur saja, kami memang berharap kau menantang Akari-chan-tachi untuk tampil," aku Doremi saat Akari, Melissa, Yumi dan Karen sedang bersiap-siap, "Dan kami yakin, mereka akan berhasil menghadapi tantanganmu, Yuzawa Hamada-kun."

"Hei, dari mana kau tahu namaku?" sahut pemuda itu terkejut, "Aku kan tidak bilang kalau…"

"Aku ingat betul kalau kau adalah salah satu dari sepuluh orang yang mendapatkan pink ticket setahun yang lalu kan?" lanjut Doremi, "Aku hapal betul dengan wajahmu, hanya saja, tadi aku hanya ingin memastikannya."

"Ah, begitu…"

Ternyata pemuda itu adalah salah satu dari sepuluh pelanggan Maho-dou yang tahun lalu mendapatkan pink ticket dan menghadiri jumpa fans di hari pertama – jadwal jumpa fans untuk Doremi, karena itulah, Doremi mengetahui nama pemuda itu.

"Baik, sekarang kembali ke penampilan 'The Sweet Notes'," ujar Doremi, "Akari-chan, kau dan teman-temanmu bisa mulai sekarang."

"Oke!"

Hamada terkesiap. Ia tak percaya melihat penampilan 'The Sweet Notes' yang sudah sangat jauh berkembang dari sebelumnya. Suara mereka sekarang saat menyanyikan salah satu lagu yang terdapat di album mereka pun terdengar jauh lebih baik dan lebih merdu jika dibandingkan dengan saat mereka merekamnya dulu.

Hamada akhirnya menyerah dan memutuskan untuk melepaskan Aleyna, yang dalam perjalanan pulang menyadari kesalahannya untuk menjadikan MAHO-Do sebagai musuh.

"Aku tak menyangka, kalau kalian bersedia menemani teman-temanku membebaskanku dari hater kami itu," ujar Aleyna, "Doremi-chan, Hazuki-chan, Ai-chan, Onpu-chan, Momo-chan… maafkan aku…"

"We've already forgive you, Aleyna-chan," sahut Momoko, "Because you are our friend."

Aleyna tersenyum, "Thank you very much, Momo-chan."

.

(Ending Song 'Ojamajo Girlband': 'Zutto Friend' by MAHO-Do – Original Version by Nakatsukasa Masami)


Catatan Author: Ehe, mudah-mudahan chapter yang satu ini friendshipnya kerasa ya… ^^

Chapter selanjutnya akan berisi sebuah kejutan. Mau tahu kejutannya apa? Ditunggu saja ya? ^^