"HATSYIIIII!!!!"

"Buset! Heh! Lu kalo bersin laporan dulu napa???"
"Plissss dehhh, Yu-chan! Ini pesti gara-gara ada yang ngomongin eike… Apa mau dikata… seleb sih…"
"Jijay bajay!"
"What?"
"Kaga…"

"Yugi… Anzu… ada pengunjung…!" Seorang pria setengah baya memanggil kedua makhluk yang lagi ngupas kentang didapur.
"Iya, bos!"
Keduanya kini sibuk melayani pelanggan yang datang untuk makan di restoran kecil itu.
Duo makhluk ini memang selalu mencari kerja part time bareng. Dan kini mereka part time di sebuah restoran kecil.
Matahari udah tenggelam, Yugi dan Anzu pamit pulang.
"Bos! Balik dulu, ye!"
"Iye! Iye! Ati-ati di jalan! Hari gini banyak copet!"
"Hari geneee…? Tenang aja! Gue bawa piaraan singa… Yo, Anzu! Hus, hus!"
"HEH!!! Lelaki kurang dihajarrr! Masa ikke yang super kece nan cucok begini dikatain singa???"
Sang pemilik restoran cuma geleng-geleng kepala ngeliat dua karyawan part timenya ninggalin restoran sambil cekakakkan, kejar-kejaran kayak anak TK.

---

"Gue dateeeeng!"
"Yuuugi… Pas sekali… kita baru mau makan…" Jii-chan menyapa cucunya yang baru ngelompat masuk kayak kelinci kepeleset dari pintu depan.
Atem menaruh lauk di tengah-tengah meja makan. Yugi yang langsung duduk sambil petentengan, mau langsung nyomot lauk dari piringnya.
"Yugi, cuci tangan dulu! Jorok, ih!"
Yugi-pun ngingsot menuju bak cuci. Setelah cuci tangan yang kilat kayak bebek abis mandi, Yugi kembali menuju meja makan.
"Makaaaaan…!"
"Itadakimasu…"
Keluarga kecil itu menikmati makanan dengan nikmat. Yugi lagi… lahap banget. Selama part time tadi, doi nahan cacing-cacing yang sedang goyang dangdut dalem perutnya sambil ngupasin kentang dan cuci piring.
Setelah makan malam, Jii-chan duduk-duduk diruang tamu. Atem membereskan dan mencuci alat makan. Yugi langsung cabut kekamar mandi.

"Segerrrr benerrrrr…! Aduh! Badan serasa dipijat! Nikmat, choy…! Lalalaaaa! Aku seorang raja gaaaaame…! Mempuuuuunyai kartu banyaaaaak! Kalo berjalan… prok! Prok! Prooook! Aku seorang raaajaaaa gaaaaameeee!!!"
Atem mungutin baju kotor Yugi yang berserakan didepan kamar mandi. Gadis itu geleng-geleng kepala ngedenger suara nyaring kakaknya yang lagi asik cibang-cibung di bak mandi.

Tiba-tiba suara deringan telepon memanggil Atem. Gadis itu buru-buru melempar baju Yugi ke bak cuci dan berlari mengangkat telepon.
"Halo…?"
"Selamat malam… Atem…?"
Suara rendah, tegas, dingin, dan bahasa yang resmi…
"Kai… Seto…? Selamat malam… mau bicara dengan Yugi ya? Dia lagi man…"
"Oh, nggak bukan… aku mau bicara denganmu…"
"Eh? Ada apa…?" Atem mendengar suara barang-barang bergeser dan berjatuhan dari telepon, gadis itu agak penasaran.
"Ng… Atem, waktu di café… apa buku notes hitamku kebawa kamu…?" Seto menggenggam handphonenya, sedangkan tangan yang satu lagi berusaha mengangkat dan menaruh barang-barang dimeja kantornya. Ia sedang mencari sesuatu diantara buku-buku dan file-file laporannya.
"Notes hitam? Maaf, nggak ada tuh…"
"Oh, kalau begitu terima kasih… Maaf mengganggu malam-malam begini…" Seto menghela napas dan menghentikan pencariannya. Dia berkacak pinggang sambil tetap menelepon dan matanya berkeliling mencari barang yang dicarinya diantara buku dan file yang bertumpuk dimejanya.
"Oh, iya, tak apa-apa…"
"Ngomong-ngomong bagaimana pelajarannya? Apa kau bisa mengerti apa yang kuajarkan?" CEO tampan itu merenggangkan dasi yang melingkar di lehernya. Dia merebahkan tubuhnya pada sofa empuk dikantornya.
"Tentu, kau guru yang baik…" Atem tersenyum sambil menarik tempat duduk. Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Seto tersenyum mendengar suara halus Atem. Pria itu tahu, gadis ditelepon itu sedang tersenyum. Hati Seto merasa nyaman dan hangat begitu mendengar suara Atem.
Kedua remaja itu mengobrol dan bercanda ditelepon. Hingga…

"Ateeeeeemmmm! Kaos gue manaaaaa…?"
Atem tersentak mendengar suara Yugi dari lantai atas.
"Seto… sepertinya aku harus membantu Yugi mencari kaosnya…"
"Oh, ya… baiklah… Maaf jadi mengganggumu…"
"Tidak, aku senang sekali kau menemaniku mengobrol… Selamat malam…"
"Baiklah… selamat malam…"
Keduanya menutup telepon. Dan Atem bergegas menuju ruang cuci untuk mengambil kaos Yugi.
"Yugi, ini…"
"Tengkyuh…!" Yugi langsung nyamber kaos gambar bishoujo yang moe abis koleksinya. Atem masih nggak ngerti sama selera abangnya yang otaku abis itu. Atem nganggep kaos itu buat anak cewek, tapi abangnya tetep pake tu kaos dengan cuek nan bangganya.

---

Malemnya, Seto berusaha untuk tidur. Tapi cowok itu hanya bisa bolak-balik guling-guling di tempat tidur tanpa bisa menutup mata. Akhirnya Seto nurutin saran yang pernah Jou kasih. Cowok itu berjalan menuju dapur, dan dia menemukan dua makhluk yang asik nonton tivi sambil mangku semangkok pop corn, burger, plus cola.
"Mo, Mo, Mokuba… ganti acaranya dong…"
"Ah, ntar dulu! Lagi seru ini…!"
Tiba-tiba wajah keriput seorang nenek dengan mata yang nggantung muncul di layar tivi, membuat Noa jejeritan dan berlindung di balik sofa. Mokuba tersentak dikit sambil lanjut makan burger-nya. Matanya tetep melototin tivi dengan serius.

"Kalian belum tidur?"
Noa dan Mokuba noleh ke arah pintu dimana Seto senderan sambil bersila tangan.
"Lo? Seto-nii sendiri?" Mokuba tetep lanjut makan burgernya.
"Nggak bisa tidur… Aku mau cari makanan kecil…" Akhirnya Seto melanjutkan perjalanannya menuju dapur. Doi nemu roti isi di lemari es. Noa yang akhirnya ngikutin abang tertuanya, ikut duduk di deket meja dapur yang mewah banget itu.
"Kalo Nii-san laper kenapa nggak minta dibuatin makan aja sama maid?"
"Mereka lagi tidur, aku males bangunin orang…" Seto nyari gelas di lemari dan mengisinya dengan air mineral.
"Mmm, note book nii-san udah ketemu…?" tanya Noa.
"Belum… besok aku mau ke café tempat aku ngajarin Atem buat nyari…"
Seto nggak perhatiin adeknya yang senyum-senyum. "Aku boleh ikut…?"
"Nggak usah, cuma sebentar kok… lagian aku langsung ke kantor…"
Noa agak kecewa denger jawaban abangnya, akhirnya ia berjalan balik menuju kamarnya.
Mokuba malah masih asik nontonin film horor.

---

Paginya… Anzu nyamperin Yugi mau berangkat ke sekolah. Cewek itu berdiri dibawah jnedela kamar Yugi.
"Yuuuuuuuuu-chaaaaaannn!! Udah morning boooooo! Ntar telat gitu loooooohhh…!"
"Woooi! Masih subuh udah treak-treak! Brisik lu!"
Atem yang lagi sarapan sama Jii-chan di bawah, cuma geleng-geleng kepala ngedenger saut-sautan Yugi versus Anzu. Tiba-tiba terdengar teriakan "Anjrittt!!!" dari kamar Yugi. Pasti tu cowok akhirnya nyadar setelah liat jam yang udah nunjukkin jam 7 kurang. Setelah suara gradak-gruduk, jebyar-jebyur, dan grusak-grusuk, akhirnya Yugi muncul diruang makan sambil berusaha masangin iket pinggangnya. Sambil nyomot roti dan nyambar susu kotak dari kulkas, ia langsung menuju pintu depan.
"Gue berangkaaaaaaaatttt!!!"
"Ih! Lama kali! Ikke udah nungguin seabad disini ampe lumutan!"
"Alaaa, baru seabad, sennen puzzle gue dong… lima abad, choy!"
"Wedew… bukan punya dikau juga… Itu'kan punya At… eh, iya… dikau belum kasih tau At-chan tentang sennen puzzle tu…?" bisik Anzu. Yugi kediem, doi cuma geleng-geleng kepala. Anzu jadi ikut nginyem.
"Puzzle itu masih tercerai berai… Kita harus tunggu Atem buat menyusunnya…"
"Mending bilang sama dia deh… Kalo nggak, dia nggak bakal nyadar, Yug…"
"Aku udah cerita tentang Yami Yugi ke Atem berkali-kali tauuu…? Dia cuma bilang… 'Yug, kayaknya Yugi kecapean, deh…' Sambil matanya natap gue kayak gue orang sinting…!" ujar Yugi sambil ngikutin gaya bicara cewek.
"Wew… kalo gitu… kita mesti nemuin cara lain supaya dia inget…!"
"Misal…?"
"Ngg… apa yah…? Oh, kalo Tem-chan sering-sering diajak duel, gimandang…? Sapa tau inget…!"
"Ui, non… Kalo lagi lowong kita juga maen M&W kaleee… Si Atem cepet bisanya… Gak kayak eluuu…"
"Iiiih… Please deh, Yu-chan… daku ini bukan duelist murni kayak yey… Eike'kan jabatannya cheer leader… Jadi kalo yey pada sedang tanding duel, daku memeriahkan susana agar semangat… Gitchuuu…"
Anzu lompat-lompat niruin gaya cheer leader. Si Yugi cuma ngingsot ninggalin dia. Alhasil Anzu sewot-sewot ke Yugi.

Honda dan Otogi yang udah ngeliatin Yugi dan Anzu debat dari jauh, cuma bisa cekikikan.
"Hoi, udah hoi… Berangkat yuk… Ntar telat lo…"
"Yo'iiiiiiiiiiiii…!"

Akhirnya keempat anak itu melanjutkan perjalanan mereka ke sekolah, sembari melewati rumah Ryo.
"Oi, maling… Pagi-pagi udah nangkring di pager aja, lu… Ryo-nya mana?" sapa Yugi pada Bakura yang lagi ngejongkrok di pager rumah Ryo yang nian tinggi.
"Lagi sarapan… Paling tinggal 2 baskom lagi…" Begitu penjelasan Bakura selesai, Ryo muncul dari pintu rumah sambil ngelus-elus perutnya. "Kenyaaaang… kenyaaaang… Papih, Mamih! Aku berangkat dulu, ya…! Eh, Lu… Jaga rumah… kalo ada maling, gigit aja…!"
"Heh! Emang gue anjing???" Bakura kontan kesel denger perintah si anak papi-mami itu.
"Lagian, malingnya dia sendiri kok…" sindir Honda.
"Wah… Parah si Ryo… ngumpetin maling dirumah…" sindir Yugi juga.

Akhirnya kelima anak itu kembali berjalan, melewati SMP Domino.
"Eh, itu Jou dan Shizu-chan…" Honda menunjuk ke arah dua orang di depan gerbang SMP.

Shizuka turun dari boncengan sepeda abangnya. Anak cewek itu cium tangan abangnya, pamitan (ini mah kebiasaan di Indo, yah… Tambahin aja, ah… biar lucu xD). "Bang, ati-ati di jalan, ya…! Daaah!"
Jou ngayuh sepedanya lagi ninggalin gerbang SMP.
Tiba-tiba Yugi manggilin Jou sambil ngejar tu cowok.
"Joooooooouuuu!!! Tungguuuuuuuuuu!!! Boncengin gueeeee!"
Jounouchi jadi nge-rem mendadak begitu denger suara Yugi. "Buset… ogah, ah!"
"Ah, si Jou pelit…"

Tiba-tiba mobil mewah berhenti di depan gerbang SMP. Dan keluarlah Noa dan Mokuba yang keliatan teler banget. "Mokuba…! Banguuun! Udah di sekolah iniiii…!" Noa berusaha bantu Mokuba berdiri.
"Ngggggggrooookkkk… ngantuuuuuukkk…"
"Lagian, siapa suruh kamu nonton film horor sampe jam 2 pagi…?" omel Seto dari dalam mobil.

"Kami sekolah dulu, Nii-san…" pamit Noa sambil tetep bantuin adek kembarnya yang udah KO.
Seto keluar dari mobil buat mbasuh muka Mokuba pake handuk dingin.
"Nah…! Udah sana!"
"SEGERRRRRRRRRRR!!! Tengkyu, Seto-nii! Berangkat dulu!"
Seto cuma geleng-geleng liat Mokuba yang sekarang petentengan menuju kelasnya diikuti Noa.

"Oi, Set! Pageeeee!"
Seto terang aja kaget liat temen-temennya pada kumpul di deket gerbang SMP.
"Lo? Kalian belum berangkat?"
"Kita baru ketemu Jou yang nganterin Shizu-chan… Bareng, yuk!" jawab Honda sambil menawarkan untuk pergi ke sekolah bareng.
"Lu ngomong apa si? Dia naik mobil gitu loh…" sikut Ryo. Meski Ryo anak orang kaya, dia nggak pernah dianter jemput. Kata Ryo sendiri sih karena dia anak yang baek dan tidak manja, serta berbudi baik dan rajin menabung juga cekatan… (lah, kagak ada hubungannya, lagian apa maksudnya coba…?). Padahal temen-temennya tau, kalo Ryo dianter, doi nggak bakal bisa ngelewatin kios-kios kecil buat jajan. Kan nggak enak kalo naik mobil dikit-dikit berhenti buat jajan.

Seto tersenyum pada temen-temennya. Cowok itu mengatakan sesuatu pada Isono selaku supir, dan menutup pintu mobil. Yugi cs cuma bengong liat Isono ninggalin Seto gitu aja. Akhirnya ketujuh anak itu berangkat sekolah bareng. Jounouchi yang naik sepeda, pelan-pelan ngikutin temen-temennya yang jalan kaki. Yugi dengan slebornya numpang bonceng sepeda Jounouchi. Malah sempet-sempetnya ngerjain PR di punggung sobatnya lagi! Anzu yang bukunya PRnya dipinjem Yugi jadi ngoceh.
"Kan susah, bo… kalo you always nyontekkin PR ikke… Ikke tau sih, emang ikke itu jenius dan tulisannya bagus and so wonderful buat dilihat… Tapi, please deh… Yu-chan tiada bisa mencontek tiap hari gitu loh… Apa kata dunia…???"
"Bawel! Ini demi masa depan gue juga…! Kalo gue, sang Raja Game belon ngerjain hal sepele kayak gini… Apa kata dunia…???" bales Yugi. Jounouchi jadi ketawa ngedengernya. "Jou! Jangan goyang! Susah nulis ini!"
"Ah, si Yugi… kalo emang sepele, kenapa gak ngerjain di rumah dari kemaren-kemaren aja…?" sindir Otogi.
"Justru karena ini sepele, aku melakukan hal-hal lain yang tidak sepele dulu… Mana sempet mikirin PR???" jawab Yugi lagi.
Akhirnya, tepat setelah Yugi selese nyontekin PR Anzu, mereka sampe didepan gerbang SMU mereka.
Seto nunggu Jounouchi yang lagi markir sepeda, lalu jalan ke kelas bareng sambil asil ngobrol tentang komputer. Otogi udah duluan karena cewek-cewek kecengannya kebetulan lewat dan doi berusaha mencari perhatian mereka. Honda yang lagi ngobrol sama beberapa teman sekelas mereka di deket loker sepatu akhirnya jalan bareng sama Jou dan Seto yang lewat. Ryo asik duluan di kantin, ibu penjaga kantin yang udah lama jadi langganan Ryo langsung ngluarin sandwich pesenan tu anak. Yugi sama Anzu? Nggak usah ditanya, mereka asik lomba lari menuju kelas, sampe-sampe Tsugi-sensei, wali kelas mereka dari kelas satu udah pasrah ngeliat dua muridnya banyak tingkah. Sebenernya tu guru heran, padahal Yugi dulu kalem banget. Disuruh maju buat ngerjain soal aja malu banget. Sekarang? Dia juga bakal maju meski gak disuru, apalagi kalo disuruh, adanya malah bikin kacau kelas.

Pelajaran sudah berlangsung 5 jam. Semua anak mengikuti pelajaran dengan tenang. Apalagi Yugi, Anzu, dan Ryo yang sedang disetrap di luar kelas gara-gara pada asik sendiri sama hobinya. Main game, dandan, dan makan di kelas… lantas ketauan guru. Ketiganya malah cuma cengar-cengir aja lagi… dasar.

Begitu bel istirahat bunyi, sang guru langsung menghadapi ketiga muridnya yang disuruh berjanji untuk tidak asik sendiri ketika pelajaran.
"Okeh, deh pak… saya janji, pak… Sumpah duelist! SATU! Yugi Mutou sang Raja Game! DUA! Raja Game tak pernah berbuat salah! TIGA! Kalo Raja Game berbuat salah, liat peraturan nomer du…!"
"Ih, si Yu-chan apa-apaan sih? Kayak lagi di-mapras ajah! Iya paaaak… Kite-kite janji… Maapin kita pak… Kan kita murid-murid kesayangan bapak… tul gak?"
"Pak, udah boleh jajan belum…?"
Tsugi-san geleng-geleng kepala sambil menghela napas panjang sekali. Akhirnya ketiga murid itu-pun membubarkan diri… tanpa disuruh. Alias kabur gitu aja…

"Dasar anak-anak sableng…" komentar Jou sambil makan bekalnya. Seto cekikikan liat Yugi, Anzu, dan Ryo yang dengan cueknya ikut-ikutan nimbrung sambil buka bekal. Honda dan Otogi yang baru dari kantin ikutan nimbrung.
"Eh, guys… makan ditempat lain yok… disini dingin banget!" Ryo mengeratkan seragam sekolahnya. Emang apa boleh dikata, atap sekolah'kan nggak ada pemanasnya, makanya kalo bukan musim panas, udaranya bakal dingin banget!
"Iya, yuk… Ntar kulit ikke rusak… Perawatan' kan mahalll…. So expensive…!"
"Dimana dong…?"
"Eh, gelar tiker di kebun belakang mau gak…? Aku bisa pinjem tiker dari penjaga sekolah…" tawar Jou.
Yang lainnya setuju.

Akhirnya, ketujuh anak yang hobi maen kartu itu makan bareng dihalaman belakang sekolah. Seto buka bekalnya yang mewah banget. Yugi sama Ryo langsung heboh mintain.
"Ini pada nggak tahu malu banget, sih! Udah punya bekal sendiri juga!" Honda sampe heran ngeliat dua orang yang sama-sama pemilik sennen item itu.
"Nggak apa-apa… lagian makan-ku nggak sebanyak itu' kok… Ini Noa yang bawain…"
"Seto enak ya… ada maid… jadi nggak usah bikin-bikin bekal sendiri…" ujar Otogi dan di-iyain sama Anzu.
"Tapi'kan lebih enak masakan buatan ibu sendiri'kan…" tutur Seto. Anak-anak lain jadi cengar-cengir. Cuma Jou aja yang kediem sambil ngeliat Seto.
Dia yang paling ngerti perasaan Seto, satu-satunya keluarga yang terus bersamanya sejak dulu hanya Mokuba. Dan akhirnya ia bisa bertemu Noa. Bapak tiri-nya dulu membuat kenangan yang nggak enakin banget buat Seto. Dalem hati dia ngerasain yang sama dengan sang CEO itu.

Tapi kini Jou memperhatikan Yugi. Yang selama ini tinggal hanya dengan kakeknya. Tanpa tahu wajah orang tuanya, hingga peristiwa Atem membuatnya kembali mengingat masa lalunya. Yugi kayak nggak ada beban sama sekali. Tapi Jou tahu, sebenernya dia yang paling besar perjuangannya menafkahi keluarganya. Jii-chan udah nggak sekuat dulu untuk jaga toko-nya. Atem, adek cewek yang sangat disayangnya bener-bener dilindungi banget sama Yugi. Akhirnya Yugi-lah yang menjadi penopang keluarga untuk mencari nafkah. Makanya dia 'hobi' nyari kerja apa-pun secara serabutan. Anzu yang sebenernya nggak ada masalah sama keuangan keluarga, cuma ikut-ikutan yugi aja. Kemanapun doi pergi, Anzu setia ngekor. Makanya sering dibilang pasangan paling konyol sejagat.

"Eh, guys… gimana kalo ntar Minggu jalan… mau nggak…? Sekalian ngajak Atem… Dia'kan belum apal sama kota Domino… mau gak…?" Semua cowok setuju sama usul Anzu. Yah, namanya juga cewe'… kan hobinya jalan-jalan… Apalagi si Anzu, jenis cewe' yang hobinya shopping, hang out, dan nggak bisa diem dirumah.
"Boleh…! Ntar lu pada nraktir gue ya…?!" Akhirnya Yugi disorakin sama temen-temennya.

TBC...

----

Maap... kelamaan... maklum baru selese TA jadi males... :D