Leeteuk hanya bermaksud mengisi perutnya setelah membersihkan diri di kamar mandi umum terdekat. Dia masuk di sebuah kedai yang masih nampak sepi, ada satu dua tempat yang sudah ditempati memang. Dia disambut seorang pegawai wanita yang sudah baya, dipersilahkan duduk. Tapi fokus Leeteuk justru tertuju pada salah satu meja yang dihuni tiga orang yang tidak sengaja tertangkap matanya. Satu perempuan dan dua lelaki muda.
Mengabaikan si Leeteuk melangkah mendekati meja tersebut dengan syok. Ada semacam kemarahan yang tiba-tiba muncul melihat satu sosok yang dicari-cari selama ini. Belum lagi dua orang lain yang dia kenal bersamanya. Apalagi yang bisa dia pikirkan kecuali satu. Dan pikiran itu terucap begitu saja.
"Kalian yang menyembunyikan Kyuhyun?!" Leeteuk tidak ingin menahan rasa geram yang menguar.
Dia melihat mereka terkejut kecuali satu yang menatap bingung nan polos. Leeteuk sedikit heran, dan kembali fokus saat pemuda satunya bangkit.
"Leeteuk saem."
Leeteuk meraih kerah Zou Mi, mencengkramnya begitu kuat hingga pemuda itu merasa tercekik. "Sejak awal kau bersamanya?!"
Jaerim berdiri menghampiri dengan cemas. "Jung Soo oppa, jangan sakiti Zou Mi."
Leeteuk menatap Jaerim juga dengan tajam. "Kau juga terlibat Jaerim-ah. Jangan membela diri setelah menyusahkan kami seperti ini!"
"Appa!"
Leeteuk terdorong mundur dan cengkeramannya di kerah Zou Mi lepas begitu saja. Sejenak ketiga orang itu bengong melihat Kyuhyun mengusukkan kepalanya di dada Leeteuk, tersenyum senang seolah menemukan sesuatu yang berharga.
"Appaaa." kata Kyuhyun lagi mendongak menatap Leeteuk dengan mata berbinar.
"APA?!"
0o0o0o0o0o0
"Kau seharusnya lebih lama lagi disini, sayang." nyonya Shim merangkul putranya seakan tidak rela. Shim Changmin menghabiskan waktu liburannya dan masih bertahan meski sekolah sudah dimulai, ibunya masih belum puas.
Changmin terkekeh. "Seharusnya eomma yang sering pulang. Bukan mengirimiku tiket." hanya sindiran.
Ibunya tersenyum malu. Wanita itu cukup tahu kekesalan Changmin karena orang tuanya jarang pulang tapi Changmin sendiri yang menolak untuk pindah. Meski begitu dia sebagai orang tua merasa bersalah juga.
"Kami akan usahakan, jadi jangan salahkan eommamu." kata sang ayah, bukan memarahi hanya mencoba memberi mereka pengertian.
Changmin mengangguk. "Aku mengerti."
Tuan Shim menepuk bahu Changmin. "Jangan khawatir, temanmu pasti baik-baik saja. Kau bilang dia sangat kuat, kan. Jangan terlalu mencemaskannya."
Changmin sudah menceritakan apa yang terjadi pada Kyuhyun. Karena alasan itu juga ibunya sampai mengiriminya tiket, merasa khawatir Changmin akan terlena dalam kesedihannya. Dalam beberapa minggu liburan Changmin merasa terhibur dan terpuaskan. Dia tahu dan yakin bahwa orang tuanya, sesibuk apapun mereka, tetap ada waktu untuk memikirkan dirinya. Dia ingin lebih lama, tapi sekolah masih menjadi tanggung jawabnya juga.
Pengumuman keberangkatan pesawat menuju Korea terdengar. Changmin menerima ranselnya yang dibawakan sang ibu. Mereka berpelukan lagi. Nyonya Shim nampak masih berat namun tetap melepas Changmin dengan senyum.
Changmin melambaikan tangan untuk terakhir kali, menggeret koper yang berisi oleh-oleh dan beberapa bajunya. Dia tidak membawa banyak baju, karena nyonya Shim sudah menyiapkan baju sejak awal dia merencanakan liburan sang putra.
Kembali ke Korea, hanya satu yang diharapkan Changmin. Kyuhyun. Dia merindukan sahabatnya. Ingin sekali melihatnya, dalam keadaan apapun asalkan dia mengetahui dengan pasti sosok sang sahabat, semua hal tidak akan jadi soal lagi.
0o0o0o0
30 menit kemudian, Leeteuk masih tidak percaya bahwa Kyuhyun masih menggelayut manja di lengannya. Bersikap menjadi anak 5 tahun yang merindukan orang tua.
Jaerim dan Zou mi saling melempar tatapan. Seolah berdiskusi apa yang harus mereka katakan jika nanti Leeteuk bertanya banyak hal.
"Kalian, ada yang bisa menjelaskan kelakuan bocah ini?" desak Leeteuk sudah tidak tahan lagi.
"Appa, eomma punya pacar baru. Kyunie tidak mau appa baru." kalimat Kyuhyun lebih dulu menjeda mereka.
Jaerim tersedak ludahnya sendiri. Zou Mi memalingkan wajah, menahan tawa.
Wajah Leeteuk memerah. Dia ingin berteriak mendapati Kyuhyun berkelakuan seperti ini. Tapi kalau dipandang terus Kyuhyun terlihat manis. Terlebih lagi kedua pipinya yang sekarang cabi. Baru kemudian Leeteuk sadar Kyuhyun terlihat jauh lebih sehat dengan tubuh ini.
"Mereka menjagamu dengan baik, eoh?"
Kyuhyun mengangguk lucu. "Tapi eomma memaksaku memakan sayuran." merengut Kyuhyun menatap tidak suka pada Jaerim. Leeteuk menatap Jaerim penuh tanya. 'Eomma?!'
Zou Mi sudah tidak tahan. Tangannya terulur begitu saja untuk mencubit gemas kedua pipi Kyuhyun, yang membuat pemuda itu menjerit protes, memukul tangan Zou Mi sekeras-kerasnya.
"Kyunie, main dengan eomma dulu, ne. Mimi mau bicara dengan Leeteuk saem. Ehem, maksud Mimi, appa." Zou Mi melirik Leeteuk yang ujung matanya berkedut disebut appa.
Jaerim segera beralih menarik Kyuhyun yang sempat menolak pergi. Namun akhirnya setelah diimingi dengan sesuatu dia mau keluar juga.
Tinggallah hanya berdua. Masih duduk di meja kedai. Zou Mi dan Leeteuk berpandangan. Leeteuk bergerak, menegakkan punggung menuntut penjelasan.
Zou Mi tidak tahu harus memulainya dari mana, tapi yang jelas dia harus membuat Leeteuk mengerti kondisi ini. Leeteuk muncul untuk membawa kembali Kyuhyun, itu pasti. Masalahnya Kyuhyun yang sekarang bukan Kyuhyun yang dulu. Bagi mereka mungkin bukan masalah tapi ingatan Kyuhyun bukan untuk selamanya menghilang. Jika dia kembali dan menjalani kehidupannya dengan ingatan seperti itu, entah untuk berapa lama, begitu ingat dia akan kembali merasa kecewa. Atau setidaknya gejolal batin yang akan muncul.
"Kyuhyunie sudah menjalani operasi jantung. Jadi kondisinya jauh lebih baik sekarang."
"Baguslah. Tapi bukan itu sekarang yang penting. Aku butuh penjelasan kenapa dia bersikap menjadi bocah."
"Setelah menjalani operasi, terjadi komplikasi yang cukup parah. Dia masuk kondisi koma 40 hari." Zou Mi menjeda kalimatnya melihat Leeteuk yang sedikit tegang. Dia tahu guru itu pasti khawatir. "Tidak apa, dokter bilang kondisinya akan pulih. Sekarang masih tahap pemulihan. Dia akan sesekali mendapat serangan kecil, tapi akan sembuh segera."
Leeteuk mengangguk lega. Kemudian pembicaraan kembali pada inti pertanyaan Leeteuk.
"Saat bangun dia mendapati Jaerim menungguinya. Tahu-tahu Kyuhyun memanggilnya eomma."
Dahi Leeteuk berlipat mendengar hal itu. Ada yang tidak beres. Pantas melihat kelakuan Kyuhyun yang seperti itu. "Jadi itu Kyuhyun yang sekarang?"
Zou Mi mengangguk. Dia sudah kira, Leeteuk akan mengerti hanya dengan sedikit penjelasan saja. Leeteuk adalah lulusan psikiater, jadi apa yang tidak dia mengerti dengan kondisi Kyuhyun saat ini? Mengingat apa yang terjadi terakhir kali yang berujung hilangnya Kyuhyun, guru itu pasti sudah punya gambaran.
Menghela nafas. Leeteuk masih mengurut kening. Dia pusing sekarang. Dia datang kelaparan, butuh sarapan, tapi dihadapkan dengan kenyataan ini. Pertemuannya dengan Kyuhyun patut disyukuri, karena yang dicari akhirnya bisa dia temukan tapi apa-apaan dengan mental anak itu. Dia jadi harus berfikir dua kali untuk menyeretnya kembali.
Tapi,
Kyuhyun harus kembali!
Ada seseorang yang menunggunya hampir gila selama 5 bulan ini.
"Aku akan membawanya pulang."
Zou Mi terkejut saat Leeteuk bangkit dan berjalan keluar. Buru-buru dia menyusul sang guru. Sampai di luar dia sudah melihat Leeteuk menarik lengan Kyuhyun berjalan menuju mobil yang diparkir di halaman kedai.
"Tunggu, saem!" cegah Zou Mi menghadang jalan Leeteuk. Melihat Kyuhyun yang kebingungan dan Jaerim yang sama cemas dengan dirinya. "Kita masih butuh waktu untuk membuat Kyuhyun ingat lebih dulu."
"Aku tahu kondisi ini Zou Mi. Ingatan dan mental Kyuhyun tidak bisa diprediksi kapan akan kembali. Bisa cepat bisa lambat. Cepat dengan kondisi tertentu dan sangat lambat karena pasien sendiri tidak ingin mengingatnya. Semua orang tidak bisa menunggu hal itu terjadi."
"Jangan egois!" seru Zou Mi kembali menghadang Leeteuk. "aku mohon. Biarkan aku berusaha lebih dulu. Aku juga tidak bermaksud menyembunyikanya selamanya. Kupikir dia akan sembuh setelah operasi jantung, maka aku bisa membawanya kembali. Tapi justru ini yang terjadi. Jadi aku mengambil keputusan untuk menyembunyikannya lebih lama."
Leeteuk memandang Zou Mi sejenak. Tapi wajah tuan Kim yang menyedihkan terbayang membuatnya tidak tega membiarkan lelaki tua itu kembali menyusuri jalan untuk menemukan putranya. Dia tidak begitu perduli dengan tuan Choi dan keluarganya dia hanya butuh menenangkan tuan Kim yang terpuruk oleh penyesalan.
"Kau tidak mengerti bagaimana kondisi disana, Zou Mi. Biarkan aku membawa pulang Kyuhyun. Hanya untuk satu orang."
Zou Mi menggeleng. Merebut tangan Kyuhyun, menariknya mendekat padanya. "Kondisi yag kau bicarakan, aku tahu semuanya. Tapi jika kau masih bersikeras untuk membawa pulang Kyuhyun, aku juga tidak yakin bisa memberi ijin." kata Zou Mi dengan tegas.
"Pulang? Appa?" bingung Kyuhyun. Dia menatap Zou Mi dan Leeteuk bergantian. Dan berakhir menatap Jaerim yang berdiri tidak tenang. Saat Jaerim balik menatapnya, wanita itu tersenyum lembut.
Jaerim sungguh tidak tega melihat mata polos itu kebingungan. Dia mendekat pada Kyuhyun, mengusap pipinya.
"Jung Soo oppa, biarkan kami merawatnya lebih lama. Beri kami waktu. Kyuhyun, ingatannya harus kembali, baru bisa melihat kenyataan yang sebenarnya. Membawanya seperti ini, kita hanya akan berbuat curang lagi kepadanya. Kumohon bersabarlah lagi." pinta Jaerim menatap penuh permohonan pada Leeteuk.
Leeteuk memperhatikan Kyuhyun, tidak rela namun memikirkan kalimat Jaerim dengan sepenuhnya. Setelah diam cukup lama, dia menghela nafas sangat panjang. Dengan berat hati, dia mengangguk.
"Tapi dengan satu syarat. Aku akan memberitahu tuan Kim. Dan kalian harus terus menginformasikan apapun kepadaku."
Zou Mi terlihat puas dengan keputusan Leeteuk. Sama sekali tidak keberatan dengan syarat yang diajukan. "Jangan khawatir saem. Kami akan berusaha keras untuk Kyuhyun."
"Apa kau harus memberi tahu tuan Kim?" Jaerim masih khawatir. Dia sudah tahu bagaimana kondisi tuan Kim melalui Zou Mi. Zou Mi selalu memantau keadaan di Seoul selama ini. Jadi dia tahu semuanya. "Maksudku apa tidak masalah? Lihat bagaimana tuan Kim sekarang. Begitu dia tahu keberadaan Kyuhyun, dia pasti akan langsung berlari untuk menemukannya."
Leeteuk nampaknya tahu apa yang dikhawatirkan Jaerim. "Aku akan menanganinya. Demi menebus semua penyesalannya, tuan Kim pasti mau untuk bersabar lebih lama. Asalkan dia tahu saja Kyuhyun dalam keadaan baik, itu sudah cukup."
0o0o0o0o
Leeteuk menatap lama foto yang dia ambil sebelum pergi, ini akan ditunjukkan pada tuan Kim agar lelaki itu berhenti menggila di jalanan. Foto Kyuhyun yang terlihat jauh lebih sehat dan ceria pasti akan membuat hati tua itu tenang. Mengetahui anaknya baik-baik saja akan cukup untuknya.
Foto Kyuhyun sempurna. Tidak menunjukkan secuil kepedihan pun. Dia seperti baru. Sosok yang ceria dan sangat bahagia. Kyuhyun menunjukkan senyum lebarnya saat Leeteuk mengambil satu jepretan. Namun merengek kemudian saat dia berpamitan akan pergi. Kyuhyun masih mengira dia ayahnya. Dan semua orang membiarkan sangkaan semu Kyuhyun.
"Hahhh. Aku pasti ikut gila seperti mereka." Leeteuk terkekeh kecil mengingat kedua orang yang tidak dia sangka-sangka mampu melakukan hal ini. Menyembunyikan Kyuhyun sekaligus masuk dalam kondisi tidak wajar ini. Lebih buruk lagi dia ikut terseret dengan arus.
Leeteuk kembali menjalankan mobilnya yang sempat dia tepikan di tengah perjalanan. Dia butuh bernafas lebih panjang setelah sadar dia masuk dalam rangkaian sandiwara Zou Mi dan Jaerim. Dia pasti akan mengutuk dua orang itu jika tidak ingat merekalah yang menolong Kyuhyun.
"Hangeng harus tahu dimana hati adiknya berlabuh sekarang." Leeteuk terkekeh geli hanya dengan membayangkan bagaimana Hangeng, temannya akan mencak-mencak mengetahui Jaerim berhubungan khusus dengan Zou Mi, muridnya.
Rasa-rasanya Leeteuk sudah cukup lega. Hingga bisa membayangkan hal-hal lainnya. Dia bukannya tidak paham interaksi Zou Mi dan Jaerim yang terlihat sedikit manis. Dia tahu saat Kyuhyun terus menempel bersamanya, yang otomatis membuat ruang dan waktu bagi Jaerim dan Zou Mi hanya berdua. Dia tidak sengaja melihatnya. Mereka yang berbicara dan saling memegang tangan. Mau disembunyikan bagaimanapun akhirnya ketahuan juga. Tapi Leeteuk masih diam dan menunggu waktu sampai entah kapan. Atau sampai dia keceplosan kepada Hangeng.
0o0o0o0
"Kau datang untuk kerja atau tamu?" tanya Donghae melihat Kibum datang ke café sore itu.
Eunhyuk menepuk keras bahu Donghae. "Dingin sekali. Selain adikmu dia masih rekan kerja. Sopanlah." Eunhyuk berlalu setelah mengucapkan itu. Donghae hanya memutar mata. Melihat Kibum sekilas lalu pergi, dia tidak butuh jawaban lagi kalau sudah begitu.
Ryewook menghampiri Kibum. "Bagaimana ujianmu?"
"Biasa." jawab Kibum singkat. Dia berjalan untuk meletakkan ransel dan mengganti seragamnya.
"Kudengar kau tidak ikut Suneung, jadi akan ke luar negeri?" tanya Ryewook mengikuti Kibum.
"Mungkin."
"Mungkin?" heran Ryewook. Namun kemudian dia berseru. "Oh! Kau pasti dapat pinangan dari universitas terkemuka? Jadi tidak perlu ikut Suneung. Benar benar." Ryewook merasa puas dengan tebakannya sendiri.
Kibum tidak berkomentar juga tidak berusaha meralat pikiran Ryewook. Seniornya itu keluar dari ruang karyawan. Kibum selesai mengganti seragamnya dan terdiam di depan loker.
Pinangan dari universitas, dia dapat banyak. Yang dari luar kota, dari luar negeri juga ada. Tapi bukan itu yang membuatnya malas ikut Suneung. Dia berencana menghentikan pendidikannya sampai semua masalah kelar. Setidaknya sampai mereka menemukan Kyuhyun. Baginya terlambat satu tahun untuk masuk universitas tidak masalah. Dia bisa melanjutkan kuliah kapan saja dia mau.
Kibum keluar, menghampiri meja kasir. Berdiri disana mengawasi pintu yang dijaga Donghae.
"Kalian masih belum bisa membujuknya pulang?" tanya Heechul di belakang.
Kibum menggeleng.
"Mau kubantu?"
Kibum menggeleng lagi. Terdengar desisan Heechul, kesal karena dijawab dengan gelengan sampai dua kali. Heechul memilih mengelap gelas.
"Heechul hyung."
"Heumm." jawab Heechul ogah-ogahan kali ini.
"Apa Kyuhyun cocok menjadi adik kami?" tanya Kibum lirih. Dia tahu Heechul sudah tahu banyak hal mengenai kemelut di keluarganya dan keluarga Kim.
Untuk sejenak Heechul menghentikan gerakannya. Melirik Donghae yang menyambut tamu dan menggiringnya ke meja kosong, lalu melayani pemesanan. "Cocok tidaknya tergantung hati kalian. Jika bisa menyayangi, yang tidak berhubungan darahpun bisa jadi saudara. Kami di café ini merasa sudah menjadi keluarga. Kami memperhatikan satu sama lain, bersikap baik dan saling memahami."
Kibum menatap lantai mendengarkan baik-baik ucapan Heechul.
"Apa kau keberatan Kyuhyun menjadi saudaramu?" tanya Heechul kemudian. Meletakkan gelas yang sudah bersih. Donghae selesai dengan pesanan pelanggan, berbalik untuk mengorder pesanan di bagian dapur.
"Tidak sama sekali. Tapi jika dia merasa tidak bahagia bersama kami, bagaimana?" satu-satunya yang dikhawatirkan Kibum adalah Kyuhyun menolak mereka.
Donghae hampir sampai di tempat Heechul. Heechul menepuk bahu Kibum dari belakang. "Kau sama seperti Donghae. Tidak apa, lakukan saja perlahan. Luka di hati hanya bisa sembuh oleh ketulusan. Jangan terlalu memaksa."
Kibum tertegun sejenak mendengar nasihat Heechul, seraya menatap Donghae yang sudah berdiri di depannya. Kibum menyingkir, Donghae maju menyerahkan catatan kepada Heechul, yang kemudian akan dialihkan ke dapur melalui portal di belakang kasir. Dan seperti biasa Heechul yang akan menyiapkan minumannya.
"Hae hyung." panggil Kibum saat Donghae akan beranjak. "Aku tidak pernah memaksamu pulang. Tapi bisakah kau memikirkannya?"
Donghae menoleh pada Kibum.
"Kibum,"
"Aku tahu kau baik." sela Kibum memotong ucapan Donghae. "Kau kekanakan dan sangat cerewet. Tapi sebenarnya kau adalah kakak yang baik dan anak yang membanggakan. Kyuhyun bilang, 'Donghae hyung berlaku sebagai kakak yang mecemaskan adiknya. Dia mengatakan agar aku menerima ajakanmu, sunbae. Ah aku jadi iri denganmu'." cerita Kibum meniru perkataan Kyuhyun sewaktu dulu. Kibum tersenyum tipis. "Aku hanya ingin kakakku kembali. Dukung aku lagi."
Donghae menatap Kibum dengan sulit. Dia menyayangi Kibum. Dia adalah seorang hyung, dia selalu berfikir untuk melindungi Kibum. Kakak manapun pasti berfikir seperti itu. Tapi menggunakan kelemahan itu untuk membawanya kembali, rasanya sedikit curang.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku sudah cukup memberimu banyak waktu luang, jadi sekarang pulanglah. Kau masih memiliki adik yang perlu kau lindungi."
Kibum tidak memperpanjang lagi, dia segera pergi untuk menggantikan Eunhyuk berdiri di pintu café. Siap menerima pelanggan dan melayani mereka.
Donghae menghela nafas dalam. Adiknya sampai memohon seperti itu. Membuatnya jadi gelisah dan tidak sampai hati mengabaikan. Dia seorang Kibum, berbicara sepanjang dan sedikit dalam begitu pasti sudah sangat tidak tahan.
Tuk.
Heechul meletakkan minuman pesanan, seraya menatap Donghae yang masih berdiri disana. "Kau perlu memikirkannya, Hae-ya." sarannya. Mengerling pada gelas yang sudah siap. Donghae mengerti dua maksud itu, menarik nampak bersih dan mengambil minuman tersebut, meletakkan di atas nampan, menunggu makanan dari dapur yang kemudian juga sudah siap. Setelah semua pesanan lengkap Donghae berlalu dari sana dengan sedikit senyum pada Heechul.
0o0o0o0o0
Tuan Kim melihat foto yang ditunjukkan Leeteuk. Kemudian menatap Leeteuk ragu.
"Kau pasti sedang membodohiku. Kalau sudah bertemu Kyuhyun, ayo ajak dia pulang." tuan Kim hendak pergi. Leeteuk buru-buru mencegah.
"Aku sudah katakan padamu tuan Kim. Kyuhyun belum bisa kembali. Dia belum siap."
"Tapi kau bisa menunjukkan fotonya kepadaku! Kenapa dia belum siap kembali? Dia hanya tidak ingin bertemu denganku! Itu masalahnya! Ayo, kita menemuinya, aku yang akan bicara. Akan kukatakan semua penyesalanku." tuan Kim memelas di akhir kalimatnya. Foto Kyuhyun sudah dia lihat, tidak ada yang salah dari foto itu, justru semakin lebih baik terlihat. Tapi tuan Kim tidak mungkin percaya begitu saja.
"Tuan Kim, tolong mengertilah." pinta Leeteuk. "Tidak mudah untuk Kyuhyun. Beberapa waktu lagi. Biarkan dia tenang."
Tuan Kim menggeleng. "Tapi aku tidak sabar bertemu dengannya. Aku sudah seperti ini, aku hanya ingin memeluknya. Sekali saja setelah itu tidak apa jika dia ingin pergi lagi. Aku mohon."
Leeteuk hampir kehabisan ide untuk membujuk tuan Kim. Mata lelaki baya itu sudah mulai basah. Memendam penyesalan dan kerinduan sungguh menyakitkan untuknya.
"Tuan Kim, menurutlah, ini permintaan Kyuhyun. Begitu dia siap dia sendiri yang akan pulang tanpa dijemput sekalipun." Leeteuk meminta lebih lembut dan penuh penekanan. Dia menarik ponselnya yang masih dibawa tuan Kim, sekaligus meminta ponsel tuan Kim. Dia mengirim foto Kyuhyun di ponsel tuan Kim. "Untuk sementara tenangkan dirimu dengan memandangi sepuasnya gambar ini." tunjuk Leeteuk selesai mentranfer gambar Kyuhyun. "Dia sudah sehat. Operasinya berjalan dengan baik, tapi dia masih perlu memulihkan diri. Jika kau bisa tenang dan sabar menunggu, itu akan lebih baik."
Tuan Kim tidak membalas. Memegangi ponselnya dengan pandangan sendu. Matanya tidak berkedip menatap gambar Kyuhyun yang tersenyum dengan lebar.
"Tuan Kim, aku janji akan mengabarimu tentang Kyuhyun."
"Kau memiliki akses kepadanya? Berikan aku juga." tuan Kim kembali mendesak.
"Tuan Kim, kumohon~" melas Leeteuk.
Tuan Kim memejamkan mata, meneguk ludahnya dengan perasaan terpaksa. "Baiklah. Lebih lama lagi, jika akhirnya aku bisa bertemu dengannya, aku akan sabar. Aku akan menunggunya."
Leeteuk tersenyum lega.
0o0o0o0o0
Henry menutup bukunya setelah membaca beberapa bab pelajaran. Mematikan lampu baca lalu beranjak keluar kamar. Ibunya berada di dapur, membersihkan beberapa peralatan makan.
"Kau tidak ke kedai hari ini?"
"Mian." Henry sedikit merasa bersalah. Setelah pergi dari rumah Kim Young Woon, dia tidak langsung pulang atau pergi ke kedai seperti biasa. Dia pergi berjalan kemana saja, bertemu temannya dan menghabiskan waktu dengan mereka hingga sore. Dia butuh mengalihkan pikiran, bukan ide bagus jika dia langsung bertemu Hera. Dia menghindari eommanya yang tidak tahu dia pergi menemui Kim Young Woon, bahkan menginap di rumah orang itu.
"Eomma bertemu dengan Minho,"
Henry terkejut. Menatap ibunya yang masih sibuk di dapur.
"Jadi kau menginap dimana?"
Henry sedikit gelagapan. "Taemin."
"Heum," Hera mengangguk-angguk. "Taemin bersama Minho."
Henry mendesah tanpa suara. Dia ketahuan sedang berbohong. Salahnya juga tidak meminta kedua temannya itu untuk membantu kebohongannya.
Hera selesai dengan kegiatannya, mengelap tangan lalu berjalan ke ruang yang biasa mereka gunakan untuk makan dan menonton TV. Dia duduk di depan Henry, menatap putranya yang sudah ketahuan.
Henry menunduk menghindari hujaman sang eomma. "Aku pergi ke tempatnya."
"Siapa?"
"Kim Young Woon." jawab Henry lirih.
Hera mengepalkan tangannya dipangkuan. "Kau ada perlu dengannya?" nada bicara ibunya sudah berubah.
Henry menggeleng. "Leeteuk saem meminta tolong, dia memesan makanan."
Hera mengangguk, dia juga tahu bagian itu. "Jadi itu bukan untuk Leeteuk-ssi? Untuk Kim Young Woon?"
Henry mengangguk. Hera diam. Sejenak dalam kesunyian, Henry melirik diam-diam raut wajah ibunya. Ibunya meraih remote TV, menyalakannya. Kesunyian diisi oleh suara TV. Henry masih memandang ibunya, kali ini dengan kepala tegak.
"Eomma tidak marah?"
"Sedikit. Seharusnya kau jujur saja."
"Mianhe."
Hera nampak menghela nafas kecil. "Bagaimana dia?"
"Eh?"
"Kim Young Woon, bagaimana dia terlihat?" tanpa mengalihkan mata dari layar TV, Hera memperjelas pertanyaannya.
Henry mengulum senyum yang hampir lepas. "Sangat kacau. Dia melepas pekerjaannya, dan menghabiskan sepanjang waktu dengan mencari Kyu hyung. Mobilnya sudah dijual untuk membuat selebaran dan yang lainnya. Rumah itu cukup berantakan, tapi Leeteuk saem sering datang untuk membersihkannya, tapi di kamarnya lebih berantakan lagi."
Henry memperhatikan sebentar tangan ibunya yang meremas remote lebih kuat.
"Dia mencoba bunuh diri." lanjut Henry. Hera melepas remote begitu saja menatap Henry dengan cepat. "Tapi Leeteuk saem menggagalkan, itu hanya jadi luka gores."
Hera tidak sadar jika dirinya masih mencemaskan lelaki yang dalam proses cerai dengannya. Mengalihkan diri Hera kembali meraih remote dan fokus pada layar TV.
"Eomma," Henry kembali bicara. "Bisakah eomma memaafkan dia?"
Hera tidak menjawab. Henry bersabar. "Dia sudah banyak berubah. Melihat sendiri bagaimana dia sekarang, aku merasa dia pantas dimaafkan."
"Bukan kita yang harus memberinya maaf, Henry-ah." kata Hera menutup pembicaraan anak dan ibu itu.
Henry mengangguk paham. Dia beralih pada TV, ikut melihat tayangan. Namun baru sejenak dia menoleh kembali pada sang eomma. "Dia menanyakanmu."
"Hem." balas Hera asal-asalan.
"Dia sungguh menanyakanmu, eomma."
Hera beralih menatap Henry. "Aku sudah mendengar kau mengatakannya."
Henry berdecak. Eomma benar-benar tidak mengerti apa yang dia maksud atau pura-pura? Menghela nafasnya Henry kembali menatap TV. "Jika dia meminta eomma mencabut pengajuan cerai, bagaimana?"
0o0o0o0o0
O0o0o0
0o0
0
Changmin memarkir motornya di halaman rumah tuan Kim. Setelah melepas helm dia pergi mengetuk pintu. Tidak lama tuan Kim sudah muncul membuka pintu. Tersenyum melihat Changmin.
"Kau sudah kembali dari Jepang?"
Changmin mengangguk namun berwajah terkejut juga. Ada yang berbeda dengan tuan Kim. "Kemarin aku sampai. Ahjussi, itu…" telunjuk Changmin menunjuk wajah tuan Kim.
"Oh, aku mencukurnya. Ini terlihat rapi?" tuan Kim mengusap janggutnya yang sudah bersih dari bulu. Wajahnya kembali bersih dan segar. Dia mengajak Changmin masuk. Lagi-lagi Changmin dibuat terkejut begitu masuk kediaman Kim.
Dia hanya pergi beberapa minggu, tapi apa yang terjadi sampai tuan Kim banyak berubah. Selain dirinya kembali bersih, rumahnya juga bersih. Changmin masih ingat saat dia pergi tuan Kim masih sangat berantakan dan jarang pulang. Berkeliaran di jalan sambil menenteng setumpuk selebaran. Tapi hari ini?
"Ahjussi, apa yang terjadi?" tanya Changmin tidak sabar memendam keheranan.
"Aku ingin berubah. Semua sudah kurapikan. Aku tidak tidur semalaman untuk merapikan semuanya. Semua kamar sudah kubersihkan."
Changmin kembali memperhatikan sekitar. Saat itulah dia menangkap potret yang sebelumnya belum pernah dia lihat. Didinding terpajang potret tuan Kim beserta Kyuhyun dan eomma Kyuhyun. Di sebelah lain terpasang juga potret keluarga bersama Hera.
"Aku ingin memajanngnya." kata tuan Kim melihat kemana arah tatapan Changmin.
"Itu terlihat bagus." ucap Changmin jujur.
Selanjutnya Changmin duduk meletakkan oleh-oleh yang dia bawa. Beberapa makanan jepang dan syal untuk tuan Kim. Hubungan mereka sudah baik, sejak beberapa bulan lalu. Kegigihan tuan Kim membuat hati Changmin luluh dan berbalik mendukungnya. Dia juga ingin Kyuhyun segera ditemukan.
"Minumlah." tuan Kim muncul lagi membawa nampan berisi teh.
Baru saja tuan Kim akan duduk pintu rumahnya sudah ada yang mengetuk lagi. Dia permisi untuk membuka pintu. Changmin kembali memperhatikan sekitar, tersenyum. Meski tidak tahu apa yang membuat tuan Kim berubah menjadi lebih bersih dan teratur lagi, tapi di merasa lega. Dia jadi tidak sabar menunggu Kyuhyun kembali.
"Masuklah nak. Ada teman Kyuhyun juga disini. Dia baru pulang dari Jepang."
Changmin menoleh saat mendengar tuan Kim kembali. Sedetik kemudian raut wajahnya mengeras melihat siapa orang yang dibawa tuan Kim. Reflek dia berdiri menatap tajam lelaki yang lebih tua beberapa tahun darinya.
"Choi Donghae."
0o0o0o0
"Kyuhyun hentikan!" seru Jaerim lelah melihat Kyuhyun melemparkan semua barang di atas ranjang tidurnya.
Kyuhyun berhenti. "Aku tidak mau appa baru!"
Jaerim mengusap kening, merasa pening menghadapi anak ini. "Kau masih menganggap itu serius?"
Kyuhyun menelengkan kepala tidak paham.
Jaerim mendekat. Menarik tangan Kyuhyun yang berdiri untuk membuatnya duduk. Begitu Kyuhyun duduk Jaerim ikut duduk menghadap padanya. "Jadi mau Kyunie, apa heum?"
"Ikut appa! Mau appa!"
Kyuhyun merajuk bukan pertama kali, tapi yang ini dia dibuat pusing. Bagaimana menurutinya jika permintaannya saja seperti itu.
"Dengar, Kyu belum bisa sekarang. Appa saaaangat sibuk. Jika kita ikut appa nanti akan mengganggu. Appa kerja, saat ada waktu pasti appa datang lagi. Jadi Kyunie sabar, ne?"
Kyuhyun masih belum luluh. Merengut membuang muka. Dia terlihat sangat kesal. Jaerim menarik dagu Kyuhyun, menatap kedua mata caramelnya. "Appa kerja untuk kita sayang. Kyunie harus jadi anak baik, baru appa senang. Kyunie mau jadi anak baik, kan?"
Kekesalan Kyuhyun perlahan pudar. Manyunnya masih ada tapi itu jauh berkurang. "Tapi masih ingin bersama appa~"
Jaerim mengangguk. "Sabar, ne."
Jaerim meraih kepala Kyuhyun, perlahan dengan berhati-hati merebahkannya di pangkuan. Kyuhyun meluruskan kaki.
"Kyunie tidak lelah merajuk dari kemarin? Eomma saja lelah."
"Huh Kyunie tidak boleh minta appa. Eomma jahat."
Jaerim terkekeh kecil, mengusap rambut depan Kyuhyun ke belakang. Menyentuh luka yang ditutup kapas dan plester. "Masih sakit?"
Kyuhyun menggeleng. Memainkan jarinya. "Eomma."
"Ye?"
Mata Kyuhyun menatap ke atas, ke wajah Jaerim. "Kyunie sakit?"
Ada lipatan terbentuk di kening Jaerim. "Kyunie merasa sakit?"
Kyuhyun menggeleng. "Tapi Mimi bilang harus ke rumah sakit Rabu depan. Kyunie tidak mau kesana lagi."
Itu mengenai terapi yang akan dijalani Kyuhyun. Dalam kondisi Kyuhyun dokter bilang akan dilakukan terapi hipnotis. Menggali alam bawah sadar untuk memancing ingatannya. Terus terang Jaerim merasa itu akan berhasil, namun juga khawatir.
Kasus hilang ingatan yang dialami Kyuhyun termasuk yang berat. Bukan hanya hilang sebagian atau sepenggalan, dia kehilangan segalanya sekaligus perubahan mental.
"Kyunie menurut sama Mimi, ne eomma juga akan menemani."
"Janji?"
Jaerim mengangguk. Menangkup wajah Kyuhyun, menunduk dan mengecup kilat keningnya. "Kau lapar?"
Kyuhyun mengangguk semangat, memeluk perutnya. "Lapar. Lapar. Lapar. Pet Kyunie minta makan!"
Jaerim tertawa, menepuk pelan tangan diatas perut Kyuhyun. "Cacing rakus!"
Jaerim mengalihkan kepala Kyuhyun ke kasur. Dia harus menyiapkan makan malam mereka. Sedangkan Kyuhyun bergulingan diatas kasurnya. "Rapikan kembali tempat tidurmu, Kyu atau eomma tidak akan memberi jatah untuk cacingmu!"
"Siap Captain!"
Jaerim masih tertawa hingga dia menutup pintu Kyuhyun. Saat berbalik dia cukup terkejut mendapati Zou Mi berdiri. "Ada apa?" tanya Jaerim menyadari tatapan pemuda jangkung itu. Tidak segera dijawab membuat Jaerim lekas melangkah.
Jaerim mengeluarkan beberapa bahan untuk makan malam. Zou Mi juga disana, masih dengan tatapan yang sama. Jaerim jadi bertanya-tanya apa ada kesalahn yang dia lakukan?
"Apa maksud tatapanmu itu, Zou Mi?"
"Karena aku jadi selingkuhanmu. Dan selingkuhan selalu banyak menuntut. Dia selalu merasa dinomor duakan."
Jaerim bengong. Perkataan ambigu apa yang diucapkan Zou Mi. "Eee aku tidak mengerti." berbalik Jaerim segera bekerja untuk memasak makan malam.
Zou Mi mendengus, mendekat di sebelah Jaerim yang sedang mengupas wortel. "Aku sedang merajuk kenapa kau abaikan? Kyuhyun saja kau bujuk-bujuk sampai kau lelah hati."
"Kalau kau tahu aku lelah hati, jadi jangan tambah kesulitanku. Oke?"
Zou Mi memasang wajah tidak percaya. Jaerim mengacuhkannya kali ini. Pemuda jangkung itu mencebik kasar. Meraih sebatang bayam dan memukul-mukulkan ujungnya di tepian konter dapur.
"Yak! Apa yang kau lakukan?!" Jaerim merebut bayam tersebut dan mengembalikannya ke tempat asal. "Jangan bertingkah seperti Kyuhyun. Kau tidak ada manisnya sama sekali."
"Bicaramu kasar sekali, Jaeie~." Zou Mi bahu Jaerim dan memeluknya dari belakang. Menyandarkan dagu di pundak Jaerim yang hanya setinggi dagunya.
Sejenak Jaerim tertegun dengan perlakuan Zou Mi, namun kemudian senyuman lembut terulas di bibir tipisnya. Mengusap lengan kurus yang melingkar di bahunya, Jaerim tentu tahu apa yang dimaksud Zou Mi. Dia hanya main-main. Salah siapa Zou Mi yang pencemburu.
"Karena kau meragukanku, aku jadi malas menanggapimu." kata Jaerim.
"Kau sangat menikmati peranmu sebagai eomma dan mau-mau saja jika Leeteuk saem dipanggil appa. Padahal sudah kupancing Kyuhyun dengan mengatakan soal appa baru. Itu maksudnya aku. Kenapa jadi dia bersugesti lelaki itu sebagai appa."
"Pikiran anak kecil. Lebih baik appa sendiri daripada appa baru. Begitu Jung Soo oppa muncul dia menganggap dia appa. Kenapa kau tidak bilang saja kau appanya, mungkin dia akan bersugesti lain." tanggap Jaerim santai.
Zou Mi mengeratkan pelukan. Menyandarkan dagunya lebih dekat lagi hingga kepala Jaerim miring tertekan kepalanya. "Hentikan Zou Mi, aku harus menyiapkan makan malam." Jaerim berontak, namun Zou Mi bertahan.
"Sebentar lagi. Mumpung Kyu masih betah dikamarnya."
Pasrah Jaerim diam membiarkan Zou Mi bermanja padanya. Hanya sebentar. Waktu mereka hanya sedikit. Selain karena Kyuhyun yang menempeli Jaerim terus, juga karena Zou Mi selalu berada di Seoul. Pemuda itu harus menyelesaikan pendidikannya, ingat. Jika mengingat itu Jaerim selalu merasa ragu. Benarkah hubungannya ini? Dia yang sudah menjanda dan sudah dewasa mengikat hubungan romantis dengan pemuda belasan. Sekalipun Zou Mi yang berulang kali bilang mencintainya, tapi Jaerim ragu mengungkapkan seluruh perasaannya. Sebagai wanita hal ini terlalu sensitif. Tapi Zou Mi selalu bisa membuatnya yakin akan keputusan yang sudah diambil dengan susah payah. Jadi Jaerim putuskan untuk menikmati apa yang ada. Setiap ada kesempatan hal yang baik adalah memanfaatkannya. Toh, dia hanya jujur dengan perasaannya. Jaerim mencintai Zou Mi.
0o0o0o0o0
Donghae pikir dia akan ketahuan sebagai anak dari Choi Jung Woon lalu tuan Kim akan menghajarnya habis-habisan. Sama seperti dulu yang dialami ayahnya. Tapi tidak. Benar Changmin menyebut marganya dengan jelas dan fasih. Sejenak ada ketegangan. Namun kemudian tuan Kim mencairkan suasana itu. Lelaki baya yang sekarang terlihat jauh lebih bersih itu menarik Donghae masuk ke dalam rumah. Mempersilahkannya duduk dan menyiapkan teh yang sama dengan Changmin. Bahkan mengeluarkan kue oleh-oleh dari Changmin.
Changmin sendiri masih betah berdiri memandang tajam Donghae.
"Aku tidak melihatmu hari ini, ahjussi. Jadi aku datang untuk mengetahui keadaanmu. Tapi sepertinya kau dalam kondisi yang sangat baik."
Tuan Kim tertawa. Sesuatu yang membuat Changmin juga Donghae menatapnya tidak percaya. Lelaki yang 5 bulan terakhir hanya terpuruk dan memasang wajah menyesal, hari ini tertawa. Sesuatu pasti terjadi.
"Kau terluka?" tanya Donghae melihat perban yang melingkar di pergelangan tangan kiri tuan Kim.
"Hanya luka gores. Leeteuk sudah mengobatiku." tuan Kim beralih melihat Changmin. "Changmin-ah duduklah. Dia adalah Donghae. Dia pemuda baik, selalu membantuku menyebar selebaran untuk mencari Kyuhyun. Dia tidak peduli saat dingin atau hujan salju turun, bahkan hingga tengah malam masih mau menemaniku."
Changmin tidak lantas duduk. Tangannya mengepal sangat kuat. "Dia adalah,"
"Putra dari Choi." potong tuan Kim membuat kedua pemuda itu terkejut. Matanya teduh melihat Changmin. "aku sudah belajar banyak dari masa lalu. Rasanya sangat menyakitkan memendam rasa marah dan benci. Aku hanya ingin Kyuhyun, hanya itu. Aku bisa melupakan segalanya asal putraku kembali."
Donghae menatap tidak percaya tuan Kim. "Ahjussi? Mianhe."
Tuan Kim tersenyum. "Aku tidak memiliki dendam padamu. Appamu memang bersalah, aku juga belum bisa menerima hal itu, tapi untukmu dan saudaramu tidak memiliki kesalahan."
Donghae menunduk dalam. Matanya sudah berair. Tidak menyangka tuan Kim akan bersikap lunak kepada dirinya. Padahal sudah jelas dia adalah putra seorang Choi. Orang yang sudah menghancurkan istri dan hidupnya.
Changmin menjatuhkan diri di single sofa yang dia duduki. "Aku tidak percaya ahjussi bisa begitu santai menanggapinya." ungkap hati Changmin.
Tuan Kim hanya memandang Changmin. Berharap pemuda itu juga bisa memahami bahwa tidak ada hal baik yang akan terjadi dari sebuah kemarahan. Dia sudah mengalamin sendiri dan Kyuhyun menjadi korban. Itu adalah kegelapan, jurang tanpa dasar. Tidak melihat jalan dan menghancurkan segala bentuk hubungan. Tuan Kim tidak ingin terperangkap dalam hal sama, meski ada alasan untuk marah dan benci, sebisa mungkin dia akan mengikhlaskannya. Bukan sekarang, karena luka itu masih terasa, tapi tuan Kim yakin seiring waktu segala hal akan membaik. Dia akan memulainya dengan perlahan. Ya itu lebih baik.
TBC
Wednesday, December 7, 2016
8:03 AM
Monday, December 12, 2016
4:23 AM
Sudah ada yang nebak Leeteuk dipanggil 'appa' oleh Kyuhyun, kan?
Gak mau banyak cuap-cuap, cukup terima kasih dan selamat membaca~
Sima Yu'I
(SY'I)
