"...siapa?"

.

.

Anggun...

Sosok yang begitu anggun...

.

.

"..ka—kau...! !"

.

.

"Pintar...sungguh pintar...betapa cerdasnya dia..."

.

.

...ja—jangan..

mendek—at..!

.

.

"...Wadah Roh Api itu benar-benar cerdas...

Anak yang menarik..."

Sosok itu menatap Pansy.

Menunjukkan siapa yang ia maksud.

.

.

...takut...

.

.

Sepasang permata merah terang itu sama sekali tak menunjukkan belas kasih.

Tak ada apa pun di sana.

Wujudnya hanyalah sesuatu yang tak berperasaan.

Tak berbelas kasih...

.

.

"...tolong..."

Gadis itu berucap lirih.

Angin bergegas dengan kabarnya.

Pedang meminta darah.

Pedang telah terasah oleh tulang.

Pedang telah tumpul oleh darah.

Perak tak lagi meminta merah.

Sang pemilik menjatuhkan apa yang ia genggam.

Pedang itu hanya berteman dengan pemilik yang ketakutan.

.

.

Four Souls

Taion91

Harry Potter © J. K. Rowling

Line 26 : Stood in Fear

.

.

"Granger."

Suara itu lagi. Hermione sudah cukup pusing untuk berurusan dengan orang itu. Ia menghela nafas panjang dan menoleh dengan senyum dingin. Bagaimanapun juga, ia masih dendam dengan tamparan yang diberikan laki-laki itu kemarin.

"Malfoy," ucapnya dengan nada tidak suka. Di sampingnya, berdiri Draco Malfoy yang sedang menyeringai. Jelas sekali bahwa ia merasa senang sudah membuat hati Hermione semakin bertambah kacau.

'Konyol,' Hermione mendecih di dalam hati.

"Kau tak ada acara malam ini, kan?" tanyanya sambil memilin ujung rambut gadis itu. Hermione memutar bola matanya dan kembali meneruskan kegiatan tulis menulisnya. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu," ia menggantungkan kalimatnya. Hermione waspada. "Tentang Pansy," pena bulunya terjatuh bersamaan dengan Draco yang melepaskan tangannya dari rambut gadis itu. Hermione diam sesaat sebelum kembali menulis. Berusaha setenang mungkin meredam getaran kecil di kedua tangannya.

"Apa yang terjadi padanya?" tanyanya seperti tak mengetahui apa yang terjadi pada gadis Slytherin itu. Draco menyipitkan kedua matanya penuh selidik.

"Akhir-akhir ini dia tak kelihatan. Di kelas, di asrama, dan di manapun. Nah, pertanyaannya," iris abu-abu berkilat misterius, "dia di mana, Granger?"

"Aku tak tahu. Lagipula, kenapa bertanya padaku? Bukankah, kau temannya?"

"Dia lebih sering terlihat bersama kalian."

"Tapi, bukan berarti dia hanya berteman dengan kami."

"Suaramu bergetar, Granger." Draco Malfoy menatapnya tajam dan Hermione menelan ludah.

"Tak bisakah kau biarkan aku sendirian, Malfoy?" Draco menyeringai licik. Hermione tak menyadari bahwa ada kobaran amarah yang mulai memanas di dalam lubuk hati laki-laki itu. Draco setia kawan. Perasaan khawatir sekaligus marah akan firasat yang didapatnya 2 hari yang lalu cukup membuatnya jadi tak sabaran.

Ia menghela nafas gemetar. Cukup pelan. Bahkan Hermione pun tak menyadarinya.

"Kau terikat denganku, Granger. Di sini, di jari manis tangan kirimu," ia menyentuh jari manis di tangan kiri Hermione.

"… lalu?"

Ekspresi gadis itu berubah datar.

Draco Malfoy tak memedulikannya.

"Kau terlalu banyak menyimpan rahasia. Apa yang sedang kau lakukan?"

"Bukan urusanmu. Pergilah!" gadis bermata coklat itu berdiri saat menyingkirkan tangan Draco dengan kasar. Pemuda bermata kelabu itu terkejut. Tak ada yang berani melakukan hal itu padanya apalagi mengusirnya.

"Ap-"

DEG!

Hermione membelalakkan kedua matanya sebelum meringis kesakitan. Suara Draco tak lagi terdengar. Suara gendang seolah memenuhi kedua telinganya. Mata kirinya menyipit menahan sakit.

DEGUP! ! !

Sontak gadis itu terjatuh di lututnya seraya mencengkeram kain baju di bagian dada kirinya. Jantungnya berdetak dengan keras, seperti meledak-ledak. Matanya terbelalak keras tatkala merasakan pukulan bertalu-talu di rongga dadanya. "Kh…!" rintihnya. Ia tak mendengar suara Draco yang bertanya bingung padanya.

Hanya satu hal yang bisa gadis itu pastikan sekarang.

Hanya satu orang yang berhak ia salahkan.

Giginya bergemeletuk geram.

Si—apa?!

SIAPA YANG MENDOBRAK GERBANGKU? ! !

.

.

Bulan memancarkan sinarnya dengan lembut. Awan-awan gelap berusaha menutupi cahaya itu ketika mereka berhasil menutupi cahaya bintang. Cahaya bulan menyilaukan permukaan air yang begitu tenang di Danau Hitam. Tuan Gurita pun enggan mengacau. Meninggalkan berbagai ketenangan itu, di tepi Danau Hitam yang terhubung dengan daratan Hutan Terlarang, tertelungkup seorang gadis berambut hitam pendek sebahu. Tubuhnya basah kuyup. Punggungnya naik turun tak beraturan. Tampak luka-luka mengerikan di sekujur tubuhnya. Luka yang disebabkan oleh pedang mereka yang ingin mengambil paksa pengisi sang wadah. Luka yang masih belum kering. Luka yang masih mengalirkan darah.

"Hhh…hahh… Uhhukk! Uhhukk!"

.

.

"Granger, kau kenapa?" gadis yang mengepang rambutnya itu terus terduduk di lantai. Ia bernafas tak beraturan. Peluh menetes dari pelipisnya. Siapa yang bisa mendobrak gerbangnya? Sqied pernah mencobanya dan berhasil. Tapi, buat apa Sqied memakai gerbangnya?

BRAKK!

Pintu terbuka dengan kasar dan menarik perhatian Madam Pince yang siap melabrak siapa pun yang telah melakukannya. Hermione dan Draco sebagai dua orang yang tersisa di ruangan itu menoleh. Wajah Sqied yang tampak sedang terburu-terburu membuat Hermione membelalakkan matanya. Jika bukan Sqied, maka orang yang mendobrak itu, pastilah Pansy!

Tanpa mempedulikan panggilan Draco, ia berlari menuju Sqied dan menghilang di balik pintu perpustakaan sebelum Madam Pince sempat berteriak. Draco masih belum tersadar sebelum ia membuntuti kedua orang pelaku keributan itu.

Drap! Drap! Drap!

Derap langkah kedua orang itu telah menarik perhatian murid-murid yang sedang berlalu lalang di koridor yang mereka lewati. Ekspresi mereka berdua sama, cemas dan tergesa-gesa.

"Aku tak menyangka bahwa dia bisa mendobrak gerbangmu," pemuda bermata emerald itu terus berlari. Hermione memiringkan badannya, menghindari seorang murid yang terkejut melihat Hermione seperti hendak menerjangnya. Terdengar suara makian setelah Hermione melewati murid yang disinyalir sebagai anak Ravenclaw temperamental.

"Aku juga. Tapi, di mana dia?"

"Hutan Terlarang sebelah Timur, di tepi Danau Hitam."

"Itu jauh, Sqied. Kita akan sampai setelah Pansy membiru di sana! Lewat sini!" Hermione membelok di pertigaan koridor yang yang kosong.

"Hei!" Sqied memanggil heran. Bukankah melewati rute itu akan lebih lama?

"Kita gunakan Raven!" Hermione menaiki jendela di dinding koridor itu. "Raven!" panggilnya. Sqied mengikuti gerakan Hermione, turun dari jendela saat melihat sosok berwarna hitam pekat terbang turun dengan cepat dari atas dan menukik tajam tepat di bawah mereka.

"Cih! Sial!" pemuda berambut perak mengutuk. Ia mencari rute lain untuk mengejar mereka setelah mengagumi hewan sihir yang digunakan Sqied dan Hermione. Langkahnya berpacu setelah menetapkan arah yang dituju oleh makhluk sihir aneh itu.

Ya.

Hutan Terlarang.

.

.

"Merendah!" ucap Sqied setengah berteriak. Hermione mendelik saat mendengar nada suaranya yang terdengar seperti perintah itu. Ia mengelus lembut bulu lebat di sekitar punggung Raven.

"Di sana!" seru Sqied. Ia menunjuk sesosok tubuh yang tergeletak di tepi danau saat Raven terbang merendah. Ia segera meloncat turun diikuti Hermione bersamaan dengan tubuh Gagak besar itu yang perlahan menghilang.

"Pansy!" Kaki gadis itu berhenti tepat di samping tubuh Pansy bersamaan dengan ia berlutut di sampingnya. "Kita harus segera membawanya ke Hospital Wing!" serunya panik seraya mengecek urat nadi gadis itu, tanpa melihat ke arah Sqied yang memandang tubuh Pansy dengan raut wajah horor.

Kedua alisnya menekuk dalam.

Sorot matanya berubah tajam.

"Ein..." geraman pelan keluar tanpa didengar oleh siapa pun, kecuali dirinya.

"Naikkan ke punggungku!" perintahnya. Hermione menuntun Pansy yang sedang tidak sadarkan diri ke punggung Sqied.

"Raven!"

Hermione menyeru. Suaranya terdengar mendesak. Membuat Raven melesat cepat bagai bayangan ke arah mereka. Sementara, kedua permata coklat Hermione memandang khawatir sosok gadis di punggung Sqied.

Pansy...

.

.

BLAAKK!

Poppy Pomfrey terlonjak kaget.

"Madam Pomfrey!" teriak Hermione saat membukakan pintu Hospital Wing untuk Sqied. Sang matron yang tadinya masih mengelus dada itu kini menghampiri mereka. Bersiap menegur, namun terdiam saat matanya menangkap pemuda berambut kuning cerah yang tengah membopong seorang gadis di punggungnya. Oh, ingin rasanya wanita itu memijit-mijit pangkal hidungnya—jika saja ia diberi waktu untuk melakukan itu. Ia tidak akan heran saat menghadapi keributan yang disebabkan oleh dua anak itu—terutama si gadis anti-sosial.

"Baringkan dia di sana!" perintahnya segera tanpa banyak bertanya. Sqied segera menurunkan Pansy ke tempat tidur dan menarik tangan Hermione keluar pintu. Madam Pomfrey tak memperhatikannya.

"Jaga Pansy," Hermione mencegatnya sebelum laki-laki itu sempat melangkahkan kakinya.

"Kau mau ke mana?"

"Aku harus memeriksa segel."

"Segel?"

Banyak bertanya!

"Nanti saja kuceritakan!" tukasnya sambil berlari pergi. Hermione hanya menatap heran. Kakinya melangkah ragu saat mencoba mengikuti jejak pemuda itu. Namun—

"Sebanyak apa rahasia yang kau simpan, Granger?"

—suara seorang pemuda yang sangat ia kenal mencegatnya di tempat. Ia berbalik dan mendapati Draco Malfoy yang sedang mengatur nafasnya. Tampak jelas keringat yang bertengger di wajahnya di bawah sinar api yang menghiasi dinding depan Hospital Wing itu.

"Kau mengikutiku?" gadis itu melipat tangannya di depan dada. Draco tak mengacuhkannya. Ia menghampirinya dengan gurat-gurat kemarahan yang tampak jelas di wajahnya. Hermione mencurigai laki-laki itu mengetahui sesuatu yang seharusnya tak boleh ia ketahui.

"Mengapa? Mengapa kau tak pernah menceritakan apa yang sedang kau lakukan?" ia mencengkeram kedua pergelangan Hermione dengan kuat sehingga membuat gadis itu mengerang kesakitan. Gadis berambut coklat itu menghindari untuk bertatapan langsung dengan Draco. Ia tak akan mampu berbohong jika hal itu terjadi.

"Tak ada yang perlu diceritakan," Draco mempererat cengkeramannya. " Lepaskan! Kau menyakitiku!" Hermione berusaha menarik tangannya dari genggaman besi pemuda itu.

"Tatap aku," gadis itu masih bergeming. Wajah Draco memerah geram. "TATAP AKU!" bentaknya keras. Otot-otot Hermione bereaksi dengan suara pemuda itu. Iris coklat itu bertemu pandang dengan pertama biru kelabu, bagai warna awan sesudah hujan turun.

"Kau masih menganggapku ada, 'kan? Jelaskan padaku, apa arti dari ikatan kita? Apa kau masih menganggapku ada, hah? Jika kau tak ingin berbagi apa pun, Granger, seharusnya kau tak mengikatku-"

Diam…

"—dengan ikatan yang sepertinya tak kau butuhkan ini! Aku bahkan tak bisa menerka apa arti diriku ini bagimu. Kau tahu, jika kau muak, hentikan saja sampai di sini. Jangan-"

Diam…

"—membuatku gila dengan sifat keras kepalamu itu. Ooh, atau kau memang sengaja, hah? Dari awal kau menginginkan ini? Kau mau membuatku tersakiti, hah? Jangan bodoh, Granger. Kau tak berarti apa-apa bagiku. Ingat, kau-"

Diam!

"—tak berarti apa-apa bagiku. Kau puas? Sekarang kau mau apa? Mengadu pada duo sahabatmu itu? Atau… dua orang yang sudah membuatku harus mengatakan bahwa kau tak berarti bagiku? Jawab aku. JAWAB AKU!"

DIAAMM! ! !

"BERISIK! ! ! KAU PIKIR KAU SIAPA, HAH? ! ! ! !" permata biru kelabu itu melebar. Ekspresi marah dan tersakiti tampak jelas di wajahnya. Sementara Hermione hanya bisa menghindari untuk bertatapan dengan pemuda itu. Darco melepas tangannya dengan kasar.

"Terserah. Aku tak peduli lagi. Hiduplah sesukamu, Mudblood," dia kembali memakai sebutan itu lagi di dalam nada suaranya yang ditekan, jelas amarahnya tertahan. Hermione hanya bisa terdiam dengan perasaan shock tertanam di dadanya. Nafasnya tercekat. Draco berpaling, ia melangkah pergi dengan kening bertaut dan wajah memerah. Langkahnya terhenti.

"Kau sendiri yang memilihnya. Salahkan dirimu sendiri—"ia tak berpaling, "—Darah-Lumpur." Tanpa menyadari air mata terjatuh di kedua pipi gadis itu, ia tetap melangkah dengan hati yang merapuh karena paksaan yang disertai tekanan untuk menguatkan hati itu.

.

.

Dengan bodohnya,

ia membiarkan dirinya tenggelam dalam asmara.

Dengan bodohnya,

ia membiarkan gadis itu menyimpan rahasia di belakangnya.

Dan sungguh bodoh,

laki-laki itu menunggu saat dimana gadis itu menceritakan segalanya.

Sungguh bodoh,

laki-laki itu mengutuk dirinya sendiri yang masih menunggu.

Gejolak amarah membakar kesabarannya.

Ah, ia tak lagi bersabar.

Apalagi, untuk mencobanya.

.

.

Pemuda berambut perak itu meninju dinding batu di sampingnya sehingga membuat buku-buku jarinya terluka. Dengan tangan yang lain, ia menyeka air bening yang mengalir di pipinya. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Kedua matanya yang memerah menatap langit-langit koridor. Sorot matanya terlihat seolah ia tengah meminta pertolongan. Sayang sekali, ia tidak tertolong. Dan Draco sangat tahu itu.

Hermione masih berdiri mematung. Tak ada minat baginya untuk menyeka air mata yang terus jatuh dari kedua pipinya. Matanya masih terpaku pada jalan yang telah dilewati lak-laki itu saat meninggalkannya. Seperti kaca yang telah hancur, ia seperti merasa telah membuat kesalahan.

"Semakin jauh kau melangkah, semakin besar pula tantangannya. Di antara banyaknya tetesan darah yang terjatuh, ini adalah salah satu tetes darah yang harus dikorbankan oleh seorang wadah, wadahku."

Terdengar. Terdengar suara roh udara yang semakin membuatnya tak berdaya.

Ah, jangan menyesal...

Sejak awal, sebuah jalan telah ditetapkan atas wadah Roh.

Dan wadah Roh tak punya hak untuk mengingkarinya.

Sedikitpun.

Tak ada hak yang dimiliki oleh wadah Roh.

.

.

"Wadah Roh adalah orang-orang yang menyendiri. Kami tak berteman, karena temanlah yang pertama kali akan menemui maut."

.

.

Sqiedefs Knightsroot hanya diam berdiri di depan pintu Hospital Wing. Ia mengusap wajahnya yang tampak frustasi. Tangannya memutar ganggang pintu. Dibukanya pintu dengan pelan dan mendapati seorang gadis yang tengah duduk di samping pembaringan Pansy. Kakinya melangkah mendekati pembaringan Pansy. Si gadis berambut coklat menoleh ke arahnya.

"Hai, Sqied." Gadis itu tersenyum kecil dan langkah Sqied terhenti. Tampak ia menyadari perubahan yang ada pada gadis itu. Hermione mengelus lembut rambut Pansy.

"Madam Pomfrey bilang kalau Pansy akan baik-baik saja," ucapnya tenang sebelum bangkit dari duduknya. "Maafkan aku. Aku tak bisa berlama-lama di sini. Ada tugas yang harus dikumpulkan besok." Kedua matanya terpatri pada wajah Pansy yang dipenuhi luka dan perban. "Maafkan aku," katanya lagi seraya beranjak pergi melewati Sqied yang hanya diam dengan ekspresi yang tak bisa dibaca. Gadis itu tak menyadari sepasang permata emerald pemuda itu berkilat aneh tatkala ia melewatinya.

Sqied beranjak dari tempatnya dan menduduki kursi yang sebelumnya digunakan Hermione untuk duduk. Ia menatap lama wajah perempuan yang tertidur di atas pembaringan. Bibirnya terbuka.

"Aa...kau selamat."

Suaranya terdengar seolah ia sedang mengatakan sesuatu yang mengagumkan. Bibirnya berkedut. Kelopak matanya sedikit turun. Membuat sinar matanya tampak meredup.

"Apa yang sebenarnya telah Ein tarik dari dalam dirimu?" tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.

Mendadak iris hitam kebiruan terbuka lebar.

Sqied terdiam.

Sepasang permata itu bergerak pelan menatap tepat ke arahnya. Padanya.

Si pemuda Ravenclaw tersenyum.

Dan Pansy Parkinson merasakan darahnya membeku.

Aa,

gawat.

Pemuda itu menyadari ketakutannya.

"Kau..." ia mencengkeram erat selimut di tangannya. "—J-Jack...JACK!" raungnya seraya bergerak menjauh. Nyaris terjatuh di lantai.

Senyum pemuda di hadapannya mendadak lenyap. Air mukanya berubah beku. Dan betapa dinginnya sepasang bola mata emerald yang menatap langsung kedua mata Pansy yang membelalak ketakutan.

Bodoh...

Jangan seenaknya memanggil nama itu...

Aa...

Apa boleh buat...

"...'Jack', Pansy?" suaranya terdengar bermelodi. Seolah ia tengah menahan tawa. Tubuh Pansy bergetar hebat. Bulir-bulir keringat memenuhi wajahnya. Bibirnya terbuka dan menutup dalam gerakan kaku. Ia mencoba berbicara, namun tak ada kata-kata lengkap yang keluar. Malah ia terdengar seperti orang gagap.

"—lius...J-Ja...Ves..lius!"

"Aku, Pansy?"

"...nuh...PEMBUNUH! ! ! PEMBUNUH! !"

Sang pemuda tersenyum. Sepasang permata emeraldnya berkilat keji.

"Kau butuh pembunuh, Pansy?"

Bibirnya menyeringai.

"PERGI! ! MENJAUHLAH! !"

Seringainya melebar.

Memperlihat deretan gigi putihnya yang rapi.

"Hihihi..."

Pemuda itu menutupi bibirnya dengan tangannya, sementara bahunya bergetar akibat tawa kecilnya. Kedua matanya yang melengkung itu sama sekali tak menunjukkan bahwa ia tampak terhibur. Tidak. Dia memang sedang terhibur. Hanya saja, bukan dalam arti yang positif. Membuat Pansy menutupi kedua telinganya.

"PERGIIIIIII! ! !" teriaknya ketakutan.

"Hei, Pan-"

Grep!

Sepasang permata emerald bergerak ke sudut mata.

Sorot matanya begitu dingin.

Dan Viktor Krum menolak untuk terintimidasi.

"Biarkan dia, Jack." Ia menatap tajam pemuda yang setahun lebih muda darinya itu. Jack menelengkan wajahnya. Mencoba menekan pemuda di hadapannya. Sayang sekali, Viktor membalasnya dengan menarik kasar kerah kemeja laki-laki itu. Mau tak mau, si pemuda Ravenclaw terpaksa berdiri. Viktor mendorongnya kasar ke arah pintu.

"Keluar atau Cheshire akan memangsamu saat Raja Ein kembali dan mengetahui tentang hal ini," desis Viktor. Lawan bicaranya tak menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya. Viktor tak menurunkan intesitas tatapannya hingga membuat lawannya gerah dan berpaling pergi. Ia menghela nafas lega setelah melihat punggung pemuda itu lenyap di balik pintu. Ia memasang senyum lembut saat berpaling ke arah gadis di seberang tempat tidur. Gadis itu tampak tengah berjongkok seraya mencengkeram kepalanya dengan tubuh gemetar. Dengan langkah hati-hati—agar gadis itu tidak berjengit takut, Viktor berjalan mendekatinya. Ia memandangnya dengan sorot mata was-was, seolah ia siap menyergap gadis itu jika ia menunjukkan ciri-ciri hendak mengamuk atau melarikan diri. Dengan lembut, ditaruhnya kedua tangannya di kedua lengan gadis itu. Sekilas alisnya menekuk waspada saat merasakan pundaknya menegang.

"...Pansy..." ucanya pelan setengah berbisik, "Jack sudah pergi—" Jari-jari tangan gadis itu tampak mencakar semakin dalam di rambutnya. Viktor menelan ludah. "—dia tak akan mengganggumu lagi. Aku jamin itu," bujuk Viktor dengan sungguh-sungguh. Pansy tak meresponnya. Perlahan, ia sedikit menolehkan wajahnya yang tertutupi oleh rambut hitamnya yang berantakan. Kedua permata hitamnya melirik Viktor di balik helaian-helaian rambutnya. Bibirnya bergetar terbuka. Suaranya terdengar lirih.

"—Benarkah?"

Viktor diam menatapnya.

Tampak kedua kelopak matanya terbuka lebar.

Kebenaran terkuak hanya dengan kontak mata yang tak disengajai.

Atau memang itulah yang diinginkan oleh seorang Viktor Krum?

Kontak mata telah membuka jalan pada masa lalu.

"...Ya."

xxx

Viktor berjalan anggun di lorong lantai 2 yang gelap. Bibirnya mengulas senyum simpul saat kakinya berhenti tepat di depan patung emas Gargoyle.

Waktunya untuk mengunjungi sang Assassin.

Cklek.

Viktor menutup pintu di belakangnya. Ia menatap datar laki-laki yang sedang duduk di kursi berlengan di depan perapian. Laki-laki bermata emerald itu menyilangkan kedua kakinya, sementara siku kanannya bertumpu di lengan kursi dan menyandarkan pipinya di punggung tangannya itu. Sorot matanya tampak malas.

"Kau sudah tenang." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang tak meminta protes ataupun keganjilan di dalamnya. Si pemuda berambut kuning cerah tak menanggapinya. Kedua matanya fokus menatap perapian.

"...Bagaimana keadaannya?" tanyanya pada akhirnya, tanpa melirik pemuda yang tengah berjalan mengamati rak-rak buku di sampingnya. Viktor Krum meliriknya sekilas. Sorot matanya berubah sendu. Sinar matanya meredup.

Bibirnya mengulas senyum getir.

"Kabar buruk."

Dua permata emerald lantas berkilat saat bergerak ke sudut mata. Mencari sosok Viktor di balik bahu sang pemilik. Cahaya api membuat tatapannya tampak tajam.

"Benar-benar suatu keajaiban bahwa anak itu berhasil selamat sampai ke dalam lindungan Gerbang Agung Britania Raya."

"Apa maksudmu, Viktor?" nadanya begitu rendah dan terdengar seolah mengancam. Viktor membalas tatapan tajam si emerald dengan seulas senyum iba.

"Anak itu telah disapa oleh 'dia'."

Kedua bola mata si rambut kuning cerah melebar.

"'dia'?...Jangan-jangan...maksudmu...!" giginya bergemeletuk geram.

Kelopak kedua mata Viktor tampak sedikit turun. Memperlihatkan tatapan iba yang menyayat nadi. Bahkan lidahnya pun telah kelu hanya untuk menjawabnya.

Satu nama.

Hanya satu nama.

Di mana mimpi buruk bersarang dan menebar teror.

Hanya satu nama.

Hanya satu nama.

.

.

"The Crimson Lotus."

Satu nama.

Hanya satu nama.

Dengungkanlah dan ketakutan akan mengguncang jiwamu.

Hanya karena satu nama.

.

.

"Sang Guren telah bangkit dari makamnya.

Mereka berpikir dia tengah mengejar

Padahal, dia hanya menari

Meniru tingkah sang Takdir

Pola yang sama

Ketakutan yang tak berbeda

Apakah kisah lama berbaur tak terlihat?

Atau memang di sanalah keberadaannya?

Berulang-ulang dengan pola yang sama.

Ataukah akan berbeda?

Adakah jawaban Sang Guren?

Jangan tatap matanya.

Dia sama sekali tak berbelas kasih.

.

.

_To be continued_

note: Guren (Japanese) = Crimson Lotus (English) = Teratai Merah (Batak) #eh? ... au ah gelep! #dikeroyok massa

plash bek! plash bek!

Guren = Teratai Merah (Sunda Indonesia) :p

Yosshhaa! *gaya mas Narto :p

Alhamdulillah! Chapter ini telah mendarat dengan selamat di bumi tercinta kita! Jreeng! ! *gulung karpet merah

Sebelumnya, saya minta maaf kepada seluruh pembaca. Saya menyesal karena gak update fic ini selama sebulan lebih. m(_ _)m

#NP. Maafkan, jama'ah—JKT48 *eh?

Yup! Sambil dengerin lagu The GazettE/48fams/YUI/Aqua Timez/Dir'en Grey/Alice Nine/Acid Black Cherry/Kaggra/Miyavi/SCANDAL/DELUHI/instrument a la Yuki Kajiura/ Verssailes/ dan lain-lain, saya akan coba balas review para pembaca yang telah menyumbangkan aspirasinya dalam kotak suara kali ini.

Setel lagu~! Setel Lagu~!

#NP. Maher Zain—Open Your Eyes

Zahra chan : Hai! Saya juga baru kembali! Terima kasih atas review-nya! ^^/

nyan-himeko : _ ("_ _) *gawat! lupa nulis tentang si Jack ama Si Sqied! Cling! #menghilang dalam badai

cla99 : Haha,, terima kasih! Terima kasih! q(^^)p,,, oh iya, nanti 4 jempolnya dipaketin, ya. Mau saya pajang di rumah. *eh?

Baiklah. Saya jawab satu-satu pertanyaan Cla-san. ^^

*Masalah Dramione (mungkin) akan dibahas di chap tersendiri. Jadi, saya gak bisa bongkar di sini. ^^

*Fic ini seharusnya sampai tahun ketujuh. Karena itu, fic ini saya bagi dua dengan dua tema yang berbeda. Mohon bersabar menunggu trolling dari saya. *dikeroyok massa

*Alasan Ein ditempatkan di asrama itu akan dibahas di fic yang kedua, dan tentu saja dengan beberapa clue yang bakal disebar di fic pertama. Andaikan saja Four Souls sebagai fic awal dan ***** *********** sebagai fic akhir. :O

*Alasan Ein tinggal di Hogwarts kemungkinan besar juga akan dibahas di fic kedua. Dan yup! setiap wilayah punya 4 wadah Roh. ^^

Yoshaa! ayo semangat!

WatchFang : haha,,, terima kasih! terima kasih! ^^,, haha iya, fic ini memang fokus ke permasalahan wadah Roh.^^,, Yosshaa! Ayo, semangat!

Yosh! Terima kasih atas review para pembaca sekalian serta para pembaca yang sudah mampir kemari! ! \^^/

Thanks for reading!

Touch of Fire—

_Taion91_

Next:

"Jika aku tak salah ingat," Viktor mengangkat wajahnya lebih tinggi, "terakhir kali kau bertanya seperti ini, Raja Ein nyaris membiarkan Cheshire menerkam kepalamu." Sorot mata Viktor berubah dingin saat mengatakan hal itu.