Tittle: Brand New World

Disclaimer: Naruto dan High school DxD bukan punya saya

Genre: Adventure, Friendship

Pairing: nanti aja hehehe

Rated: M (jaga-jaga)

Summary: Naruto dan madara yang telah mati dalam perang dunia Shinobi keempat kini sedang menghadapi putusan dari hakim dunia akhirat untuk memasuki neraka atau surga, tanpa diduga, madara melakukan hal diluar dugaan yang membuat raja dunia akhirat menjatuhi mereka berdua hukuman aneh nan unik. More friendly madara! Strong-Naru!

Warning: OOC (Amat sangat),Typo, Miss Typo, Adult theme, violence, gore,etc.

Chapter 26

"Mokuton: Jukai Kotan!" akar pepohonan perlahan menyembuldari tanah dan menjulang tinggi ke langit mencoba menangkap naga yang masih terbang melayang di atas kepala Naruto. Pemuda pirang itu sendiri masih berdiri di permukaan tanah sambil memamerkan telapak tangannya keudara untuk menjerat naga tadi.

Bwosh!

Naga itu tak mau kalah. Dengan sigap ia menembakkan belasan bola api kearah Naruto. Sembarimelayang ia juga masih sempat memberikan balasan mematikan. Namun, sebelum bola-bola api itu mencapai tujuannya, sebuah dinding air terbentuk dan menghalangin bola tadi.

"Suiton: Suijinheki." Madara telah bersiaga memberikan bantuan kepada Naruto. Dari balik tubuhnya perlahan Susano'onya menampakkan diri dan melemparkan sebuah cakram biru ke arah naga tadi.

Bwush!

Namun, dengan mudah naga itu menukik ke bawah dan menghindari serangan tadi. "Hah, kalian pikir bisa melukaiku dengan serangan buta arah semacam tadi?" Ujarnya dengan nada merendahkan.

Namun, mendengar itu malah membuat keduanya tersenyum tipis. Dengan segera, akar-akar pohon milik Naruto berhasil menjerat tubuh naga tadi.

"Sial! Ternyata ini yang kalian rencanakan." Rutuk naga tadi. Dirinya dengan segera menembakkan nafaas apinya untuk membakar akar tadi dan menambah ketinggian terbangnya. Namun, dari belakang tiba-tiba saja cakram biru tadi muncul lagi dari kejauhan dan menghantam punggung makhluk berkulit keras tadi hingga mendorongnya jatuh ke tanah.

Bruakh!

Debu beterbangan akibat jatuhnya sang naga. Naruto sendiri yang tidak mau kehilangan kesempatan segera menjerat tubuh naga tadi dengan akar-akarnya.

"Kurang ajar! Beraninya kalian mengikatku seperti ini! Kalian belum tahu berhadapan dengan siapa kalian!" Mulut naga tadi kembali terbuka lebar dan ia menembakkan nafas apinya untuk membakar akar-akar tersebut.

Naruto yang melihat naga itu mulai mengamukpun hanya bisa menghela nafas sedalam-dalamnya. "Tuan naga, justru kami yang mau bertanya balik kenapa kau menyerang kami tiba-tiba tadi? Kau bisa lihat kan kalau kami tidak berbuat yang macam-macam sedari tadi." Mendengar ucapan Naruto, Madara mengerti maksud perkataan pemuda pirang itu.

"Dengar, kami tidak ingin main kasar di sini. Kenapa kita tidak bicara dulu sebelum semuanya jadi semakin runyam?" Mendengar ucapan Madara yang cukup masuk akal, naga itu akhirnya menurunkan kewaspadaannya dan memilih duduk di depan mereka sembari menatap keduanya secara intens.

"Sebelum kita berbicara terlalu jauh, perkenalkanlah dulu siapa diri kalian." Naga itu menggerakkan lehernya ke arah mereka secara bergantian menatap mereka satu persatu secara tajam.

"Namaku Naruto, aku kebetulan datang ke sini karena orang di sebelahku ini mengajakku untuk melihat reruntuhan tadi." Sahut Naruto sembari membuang mukanya kea rah Madara untuk memberi isyarat untuk memperkenalkan diri.

"Namaku Madara. Aku datang kemari karena reruntuhan ini. Tidak ada tujuan lain selain itu." Jawabnya singkat.

Naga itupun menjadi lebih tenang setelah mendengar penjelasan keduanya. Dirinya kemudian mengepakkan kedua sayapnya sembari menatap keduanya. "Namaku Tannin, Sang Blaze Meteor Dragon."

"Tannin…. Oh! Aku ingat sekarang! Kamu memiliki wilayah kekuasaan tak jauh dari sini. Ya, ya, ya. Aku ingat sekarang!" Naruto menepuk telapak tangannya dengan nada riang sembari tersenyum lebar melihat naga itu.

Sementara itu, Madara tampak bingung dengan penjelasan Naruto. "Bocah,kalau kamu bilang wilayahnya berada di 'dekat' sini, itu berarti ini masih bukan wilayah kekuasaannya kan? Lalu kenapa ia berada di sini?"Pria itu mendongakkan kepalanya ke atas menatap Tannin dengan tatapan penasaran. "Akan lebih menyenangkan jika kamu menjelaskan kenapa kamu berada di sini setelah hampir memanggang kami berdua jadi daging panggang." Ancamnya sembari memamerkan mata saktinya.

Tannin hanya tertegun sejenak melihat kedua mata Madara. "Aku kebetulan sedang terbang ke sini menuju kediaman keluarga Gremory. Ada seseorang di sana yang memintaku untuk melatih Sekiryuutei." Ujarnya dengan nada pelan.

"Hn, jadi kamulah pelatih Issei? Tak kusangka Azazel bisa memilih pelatih yang benar-benar tepat untuk bocah itu." Ucapan Madara tadi membuat Tannin mendelikan mata besarnya.

"Kau mengenal Azazel? Siapa kalian sebenarnya?" Tanya naga itu kembali dengan tatapan bingung.

"Aku kenalan Azazel, sedangkan pria sinis di sebelahku ini merupakan pelatihku untuk rating game nanti. Nah, bisa dibilang aku juga merupakan salah satu peserta rating game yang kebetulan mengenal Issei." Jelas Naruto.

Tannin yang telah mengenal keduanya kemudian meminta maaf karena menyerang mereka tadi. "Sebelumnya aku minta maaf karena kelancanganku tadi. Namun, kalian sebenarnya telah memasuki wilayah terlarang." Naga itu menunjuk sebuah segel yang menempel di sebuah pintu. Dari luarnya saja sudah ketahuan bila umur segel tadi mencapai usia ribuan tahun.

Naruto yang bingung kemudian bertanya kepada Tannin. "Wilayah terlarang? Apa maksudnya?" Pemuda pirang itu menatap bingung.

"Wilayah ini terlarang karena tempat ini merupakan sebuah gerbang menuju dimensi lain. Namun, tidak ada yang mengetahui hal ini kecuali para iblis-iblis awal. Bahkan para maou sekarangpun tidak tahu apa-apa mengenai tempat ini. Akupun terkejut kalian bisa masuk ke sini padahal sudah kupasangi wilayah ini dengan kekkai." Madara sendiri yang mendengar penjelasan Tannin menjadi bertambah bingung.

"Kekkai? Kekkai apa? Aku bisa masuk dengan mudahnya kemarin dulu. Rasanya tidak ada benda yang kau sebutkan tadi di sini." Uchiha itu memang tidak merasakan adanya semacam penghalang di tempat itu, bahkan ia sendiri pun bisa mendeteksi adanya benda semacam itu menggunakan Sharingannya bila memang ada.

Tannin yang mendengar perkataan Madara seolah menyadari sesuatu. " Kamu benar. Kekkai yang ku pasang sudah tidak ada lagi. Siapakah yang bisa berbuat hal seperti ini. Mereka tidak tahu betapa berbahayanya tempat ini bila sampai segel itu terlepas. " Naga ungu itu kemudian segera merapalkan beberapa mantra. Namun, sebelum mantranya selesai tiba-tiba saja Naruto berteriak memanggilnya dari arah tempat bersegel itu.

"Tannin-Ossan, coba lihat. Segel ini sepertinya sudah rusak. Lihat saja, ada bekas sayatan di bagian tengahnya." Tunjuk pemuda pirang itu pada bagian tengah segel kertas itu. Tampak sebuah sayatan vertikal tipis telah terukir di sana.

Tannin yang melihatnya langsung berubah raut wajahnya. "Gawat, ini benar-benar terjadi." Ujarnya dengan nada panik.

"Memangnya kenapa kamu jadi begitu panik?" Naruto tampak bingung melihat perubahan raut wajah Tannin yang begitu jelas terlihat saat mengetahui segel itu telah rusak.

"Kalian tidak tahu kalau segel itu rusak maka akan terjadi sebuah bencana." Dirinya benar-benar panik sekarang. Ia tak habis pikir bagaimana bisa segel sekuat itu dapat rusak seperti tadi.

"Bencana? Maksudmu?" Madara tampak tertarik dengan pembicaraan ini.

Tannin yang sudah panik akhirnya memilih membuka mulut. "Dahulu kala, saat semua fraksi masih hidup dalam keharmonisan,terjadi sebuah malapetaka besar. Pada waktu itu muncullah sesosok monster jahat yang berniat memakan isi alam semesta ini. Pada waktu itu, aku dan para naga lainnya bersama dengan Tuhan para pengikutnya untuk menghabisinya. Kami tidak tahu ia berasal dari mana dan kenapa ia bisa berada di sini. Namun, setelah pertempuran selama berbulan-bulan akhirnya kami berhasil membunuhnya." Tannin mengambil nafas panjang sejenak.

"Meskipun begitu, kami tidak mampu membinasakannya. Akhirnya, Tuhan membuat sebuah keputusan dengan membagi jiwa makhluk tersebut ke beberapa bagian. "Satu bagian ia taruh di ujung alam semesta di mana ia menjelma menjadi 666, dan satu bagian lainnya ia buang ke dimensi lain, dan bagian terakhir yang merupakan bagian inti makhluk itu ia segel di sebuah dimensi yang sekarang sudah rusak segelnya." Tannin mengakhiri penjelasannya yang membuat Naruto berkeringat dingin.

"J-jadi, kau mau bilang kalau sekarang jiwa itu sudah lepas dari segelnya?" Pemuda pirang itu ngeri membayangkan kalau dirinya harus berhadapan dengan sosok yang bahkan mampu membuat Tuhan sekalipun kewalahan.

"Sayangnya iya. Dan aku sekarang bingung harus berbuat apa. ini benar-benar berada di luar perkiraan-" BUMM!

Belum selesai Tannin berucap, tiba-tiba saja terdengar suara ledakkan besar yang memekakkan telinga terdengar dari arah wilayah Gremory. Asapnya begitu besar hingga dapat terlihat dari kejauhan sekalipun.

"Madara, sebaiknya kita pergi sekarang. Kurasa akan ada hal buruk yang terjadi." Tanpa banyak bicara, ketiganya segera pergi ke arah asap tersebut di mana mereka menunggangi Tannin agar dapat sampai lebih cepat.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Setelah beberapa menit mengudara, akhirnya mereka tiba di tempat tadi. Suasana mencekam terasa sekali. Apalagi mereka sedang berada di wilayah pusat kota yang seharusnya padat. Namun sekarang hanyalah tinggal puing-puing hancur dari bangunan yang terkena ledakkan tadi.

Naruto yang melihat hal ini hanya bisa menahan amarahnya. Giginya gemertak menahan emosinya. "Apa yang sedang terjadi di sini…"Ujarnya dengan penuh emosi tak kala ia melihat mayat-mayat iblis bergelimpangan di jalanan kota.

Sementara itu, Madara lebih fokus pada keadaan sekitarnya karena ia merasakan sebuah sensasi aneh saat berada di kota tersebut. "Bocah, rasanya ada yang aneh dengan kota ini. Coba kau lihat, waktu seolah terhenti di sini."

Mendengar ucapan Madara, Naruto akhirnya menyadari bahwa memang benar apa yang Uchiha itu katakan. Dirinya pun mencoba berbalik memanggil Tannin namun alangkah terkejutnya ia saat melihat sang naga telah membatu tak bergerak.

"T-Tannin-Ossan, ada apa denganmu?!" Naruto dengan panik mencoba memanggil sang naga namun tidak mendapat balasan sama sekali.

Tiba-tiba saja, dari atas langit terdengar suara tawa dingin yang membuat Naruto beserta Madara langsung menoleh sembari memasang sikap siaga.

"Siapa kau?" Madara memicingkan matanya mengamati sang lawan. Ia berwujud layaknya manusia namun dari sorot matanya sudah jelas menandakan bahwa ia bukan manusia. Tubuhnya memiliki tinggi tak jauh beda dengan Madara namun rambutnya berwarna putih panjang dengan mengenakan pakaian pertapa berwarna hitam.

"Hmm, tampaknya kalian bukan berasal dari dunia ini. Sepertinya kalian sama denganku." Ujar sosok tadi sembari menurunkan ketinggiannya. Namun, ia tidak mau menapakkan kakinya ke daratan.

"Siapa kau?" Tanya Naruto dengan nada penasaran.

"Aku? Kalian bisa memanggilku Tenma." Dirinya memperkenalkan dirinya dengan sopan namun tetap saja aura berbahaya menyeruak dari sekujur tubuhnya.

"Kau, sebenarnya apa?" Madara kali ini yang bertanya, ia memberikan aba-aba agar Naruto bersiaga.

Mendengar pertanyaan Madara, Tenma hanya tersenyum sinis saja. Diacungkannya jari telunjuk kanannya ke arah Pria Uchiha itu.

Wush!

Sebuah sinar laser meluncur dengan kecepatan yang tak tergapai oleh mata manusia biasa menuju ke arah Kepala Madara.

BUM!

Seketika ledakkan terjadi saat serangan itu menghantam tubuh pria itu. Naruto sendiri yang menyaksikan Madara terbunuh dengan mudahnya menjerit histeris. "Madara!"

"Kau juga, berisik sekali."Tenma mengacungkan jari telunjuknya juga kea rah pemuda pirang itu dan menembakkan lasernya. Namun, Naruto masih sempat menghindar dengan menggunakan Hiraishinnya.

"Hooo, kamu lincah juga." Tenma yang melihat Naruto masih belum berada pada posisinya yang paling waspada kemudian mengacungkan kembali jari telunjuknya untuk kembali menembak pemuda itu. Namun, tiba-tiba saja sebuah katana berhasil melubangin dadanya.

Tenma kemudian menoleh ke belakang dan menyaksikan bahwa seorang Pria berambut raven panjang tengah berdiri di belakangnya sembari menancapkan Katana tadi kepadanya. "Uhuk!" Pria berambut putih tadi terbatuk dan memuntahkan darahnya yang berwarna putih.

"Ya, tak kusangka Mokubunshinku mempan juga di saat-saat terakhir." Pria yang ternyata adalah Madara itu kemudian mencoba merapalkan sebuah segel. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara tawa pelan dari Tenma

"Tidak kusangka…ternyata kalian memiliki teknik semacam ini." Ujarnya sembari tersenyum tipis. "Namun, ini hanyalah awal dari permainan yang kuinginkan." Tiba-tiba saja tubuh Madara terpental ke belakang seolah ada tekanan kuat yang menghantamnya dan membuatnya menghantam sebuah bangunan

Naruto yang melihat hal itu membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "I-itu, Shinra Tensei!" Ujarnya tak percaya. 'Aku harus menolong kakek tua itu!' Naruto segera mengigit kunainya dan melempar kunai lain dari kantongnya menuju ke arah Tenma yang tengah melayani Madara.

Wush!

Kunai tadi melesat menuju kea rah Tenma, namun dengan mudah senjata itu ia pantulkan ke atas. "Hm, sebaiknya kamu menunggu untuk giliran bermainmu." Ia terus berjalan menuju ke arah Madara yang masih kepayahan berusaha bangkit dari timbunan bangunan yang menimpa tubuhnya menggunakan Susano'o.

Jrash!

Tiba-tiba saja Naruto muncul dari atas kepala Tenma sembari menebas punggungnya menggunakan kunai yang telah ia aliri dengan cakra angin. Rupanya ia melemparkan kunai yang telah beri segel Hiraishin sebelumnya ke arah musuhnya itu dan berpindah tempat tepat saat senjata tersebut terpantulkan ke atas.

"Hmm, tidak buruk juga. Sepertinya kalian berdua ini kombo yang merepotkan bila aku harus menghadapi kalian berdua pada saat yang sama." Tanpa menghiraukan lukanya, tangan kanan Tenma terangkat ke atas dan memunculkan sebuah bola hitam yang amat mereka kenal.

'Celaka! Godoudama!' Naruto yang melihat hal tersebut mencoba untuk segera kabur menggunakan Hiraishinnya. Namun, tiba-tiba saja ada semacam sesuatu yang menahannya agar tidak bergerak.

"Celaka, dia bisa menggunakan Limbo." Madara yang amat familiar dengan jurus tadi segera bergegas menolong Naruto. Namun, ia tidak dapat berbuat apa-apa saat sebuah pukulan yang tidak jelas arah datangnya mencoba menhajarnya. Namun, untung saja ia bisa menggunakan Susano'o miliknya untuk bertahan dari serangan musuh.

"Ukh! S-sial! Kenapa ia bisa punya kekuatan Rinnegan?!" Naruto yang merasa tercekik hanya bisa merontah tak berdaya. Sementara itu, tangan Tenma yang memegang Godoudama menyentuh jidat Naruto dan saat itu pula bola hitam tadi berubah menjadi semacam tombak dan menembus kepala pemuda malang itu.

"Hanya segitukah?" Tenma menatap remeh sang lawan, Namun dirinya sukses di buat terkejut saat tubuh Naruto yang tidak berdaya lagi itu mengeluarkan semacam bunyi mesiu dan kemudian meledak.

BUM!

Ledakkan tadi memang tidak menimbulkan luka apapun bagi Tenma. Namun, saat itu dari belakangnya muncul sebuah bola biru besar dengan pinggirannya yang nampak tajam hingga membuatnya kelihatan seperti sebuah Shuriken terbang menuju ke arahnya. Itulah Rasenshurikken berukuran raksasa yang terbang menuju ke arahnya.

"Terima itu!" Ternyata, Naruto terlebih dahulu menyerang menggunakan bunshinnya. Ia tidak pernah melupakan perkataan Madara bahwa mengenal musuh adalah cara terbaik untuk memenangkan pertempuran.

Tenma yang melihat serangan tersebut hanya tersenyum pelan sembari merentangkan salah satu tangannya. "Begitukah taktikmu? Menarik. Tidak kukira kalian memiliki kemampuan menggunakan Ninshuu sama sepertiku." Ujarnya sembari menyerap teknik Naruto.

Namun, senyum Tenma terlihat sedikit pudar saat dirinya yang janggal dari jurusnya. "Apa? cuma segini saja? Ini mengecewakan." Ucapnya secara tidak jelas. Namun, ucapan tadi membuat Madara yang berlari menujunya menyadari sesuatu.

'Limbonya menghilang.' Tanpa membuang waktu, Pria Uchiha itu mengeluarkan api hitam Amaterasunya dan membakar Tubuh Tenma.

"Percuma saja, serangan kalian tidak akan mempan terhadap-" Buakh! Sebuah tinju keras tiba-tiba saja tercipta dari sebuah tangan kebiruan yang muncul secepat kilat dari samping Tenma. Pria berambut putih itu menoleh sejenak dan menyaksikan bahwa Madara telah berada di sampingnya sembari memberikan sebuah hantaman keras ke tubuhnya.

"Ohok!" Tenma terpental jauh ke belakang menabrak sebuah bangunan. Tak jauh dari situ juga telah menanti Naruto yang bersiap menghajarnya menggunakan patung Mokujin No Jutsu. Tenma yang menyadari bahwa kondisinya dalam bahaya dengan segera merentangkan kedua tangannya dan mementalkan semua benda yang berada di sekitarnya.

Namun, pada saat jurusnya tersebut hampir selesai, tiba-tiba saja dari atas Naruto yang lain muncul sembari meembuat sebuah bijuudama berukuran besar yang kemudian ia tembakkan kepada Tenma. "Itulah yang aku tunggu tahu!" Teriaknya dengan nada senang. Ternyata Pemuda pirang ini telah terlebih dahulu membuat bunshinnya berperan sebagai umpan dengan menggunakan Mokujin No Jutsu untuk alih-alih memaksa Tenma menggunakan kekuatan Rikudounya.

BUM!

Ledakkan besar tercipta dan entah kenapa tiba-tiba saja sensasi waktu yang terhenti itu perlahan menghilang. Naruto sendiri kemudian menemui Madara setelah ia merasa yakin bahwa serangannya tadi telak mengenai lawannya.

"Madara, ternyata benar katamu. Kekuatan Rikudounya masih belum sempurna. Ia harus membagi tenaganya untuk mengeluarkan lebih dari satu tenaga Rikudou." Naruto kagum dengan ketepatan pria Uchiha satu itu menganalisa situasi lapangan. Ia sendiri mendapat wejangan darinya agar tidak turun langsung ke pertempuran tadi dan menggunakan bunshin semaksimal mungkin untuk menjaring informasi mengenai kekuatan lawan.

"Ya, memang benar begitu adanya. Tapi, aku masih penasaran tentang siapa dia sebenarnya. Kenapa ia bisa Ninjutsu Rikudou dan kenapa ia berada di sini?" Ia masih mencoba merangkai kemungkinan yang ada. Baginya mungkin saja ini bisa menjadi salah satu jawabannya baginya untuk kembali pulang ke dunia Shinobi.

Namun, saat keduanya sedang tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba saja Tenma muncul dan melayang di hadapan mereka sembari memasang senyum sinisnya. "Ha,ha, ha. Tak kusangka kalian mampu memojokkanku dengan kekuatan kalian berdua. Namun, aku tidak akan bisa mati. Aku akan tetap hidup hingga aku berhasil menghancurkan seisi dunia ini! Lihat saja! Setelah aku mengambil kembali sumber kekuatanku, aku akan mencabik-cabik tubuh kalian menjadi potongan kecil." Dalam sekelebat mata muncullah sebuah pusaran air yang kemudian menariknya masuk ke dalam sana. "Lihat saja, ha, ha, ha." Ia terus saja tertawa dengan nada jahat.

Naruto dan Madara yang menyaksikan hal tadi hanya bisa mengeluarkan keringat dingin membayangkan lawan seperti apakah Tenma itu.

"Ya, tapi coba perhatikan sekitarmu bocah. Semua kembali seperti sedia kala layaknya tak pernah terjadi sesuatu apapun." Madara kemudian mengalihkan pandangan mereka dan menyaksikan bahwa ia dan Naruto tengah berada di tengah jalan disaksikan oleh para iblis yang melintas di jalanan dengan tatapan aneh.

Sementara itu, Tannin tiba-tiba saja muncul dalam wujud naga kecilnya dan menarik mereka berdua. "Apa yang kalian lakukan?! Katanya kalian mau menemaniku menemui Azazel." meskipun tubuhnya mungil namun ia mampu menarik keduanya tanpa merasa terbebani sedikitpun.

Naruto dan Madara masih terdiam karena memikirkan kejadian yang mereka alami tadi. Kenapa semuanya kembali baik-baik saja? Kenapa Tannin tidak mengingat apapun?

"Naruto, kurasa kita harus menyelidiki hal ini cepat atau lambat." Gumam Madara dengan pelan kepada Naruto.

"Ya, kau benar. Perkataannya tadi kesannya bukan main-main lagi." Balas Naruto. Mereka berdua sendiri hanya bisa berdiam diri menahan malu saat Tannin menyeret paksa keduanya sepanjang jalan sembari menerima gelak tawa para iblis yang menertawakan keduanya karena diseret naga kecil.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Pagi dengan cepat melesat hingga akhirnya sang senja kembali tiba. Madara beserta Naruto yang telah kembali ke kediaman Gremory masih tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Keduanya masih mencari pen jelasan terlogis mengapa pertempuran tadi seolah dilupakan atau dianggap tidak pernah terjadi. Namun, mereka tidak mungkin membicarakannya kepada siapapun.

"Oi, Naruto. Kenapa dari tadi siang rasanya kamu melamun terus? Apa yang mengganjal di pikiranmu?" Suara itu menayadarkan Uzumaki Naruto yang tengah termenung di b alkon kediaman Gremory. Dirinya hanya menatap kosong hamparan hutan milik keluarga bangswan iblis itu.

Tersadar dari lamunannya, pemuda pirang itu membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang gadis berambut merah panjang tengah berdiri di belakangnya dengan tatapan khawatir. Menerima reaksi semacam itu, dirinya segera memasang senyum lebarnya. "Tidak, tidak ada apa-apa. aku cuma sedang memikirkan strategi untuk melawan kalian ini bagaimana." Tentu saja ia berbohong.

"Oh, benarkah? Tampaknya ada hal lain yang lebih dari pada itu. Tidak biasanya kamu yang kurang serius tampak seperti orang yang sedang tertekan saat ini." Gadis itu menatap tajam kedua mata biru safir milik pemuda itu pertanda bahwa omongan lawan bicaranya hanyalah sekedar kebohongan belaka di telinganya.

Naruto tersenyum mendengar perkataan gadis itu. "Rias, tampaknya aku memang seorang pembohong yang jelek. Aku akui bahwa ada hal lain yang mengganjal pikiranku saat ini. Namun, aku tidak bisa memberitahukan padamu mengenai apa itu karena beberapa hal. Kuharap kamu mau memakluminya." Pem uda itu mengulum senyum lembut dari wajahnya yang dibalas dengan dengusan pelan dari Rias.

"Dasar, lagaknya mau main rahasia segala." Dengusnya kesal. "Ya, tapi mau bagaimana lagi. Kalau menurutmu bukan sekarang waktunya maka aku tidak bisa memaksa. Tapi ingat, kamu tidak sendirian kok." Ujarnya sembari terenyum lembut pada pemuda pirang itu.

"Ya,aku tahu itu." Keduanya tersenyum lembut sembari menikmati suasana senja dunia bawah yang memang berbeda dari dunia manusia.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Smentara itu, Madara yang juga sedang memikirkan kejadian yang menimpa mereka tadi juga tenggelam dalam lamunannya. Dirinya memilih mengasiungkan diri di pinggiran hutan milik keluarga Gremory. Hutan itu memiliki sebuah sungai kecil namun lebar yang memiliki arus tenang.

"Apa-apaan orang itu." Gumamnya dengan nada kesal sembari mengambil sebuah batu kecil yang ia kemudian lemparkan ke tepi sungai.

Plung!

Batu tadi segera tenggelam tanpa terlalu banyak memantul hingga membuat Uchiha itu menjadi sedikit kesal karenanya.

"Cih!" Umpatnya pelan. Dirinya kemudian mengambil Batu yang lain. Namun, diirinya terhenti sejenak menatap batu tadi. Dirinya teringat kenangan masa kecilnya saat bermain lempar batu melawan Hashirama sang Shodaime Hokage.

'Arahkan sedikit lebih tinggi dari target yang kamu inginkan.' Ucapan Hashirama kecil tiba-tiba saja terngiang di kepalanya.

"Hn." Ia tersenyum sejenak dan kemudian mencoba melempar batu tadi dengan cara Hashirama.

Tak!

Batu tadi sukses mencapai tepi sungai yang lainnya. Senyum pahit terukir di wajahnya saat melihat batu itu mendarat di tepi sungai tersebut.

"Hashirama, apakah jalan yang kuplilih dulu salah?" Gumamnya lemah. "Apakah seharusnya aku mengikuti kenaifanmu waktu itu?" Dirinya kemudian merebahkan tubuhnya di sebuah batu besar di tepi sungai sembari menatap langit senja. Namun, acxara menikmati kesendiriannya itu harus terusik saat sebuah suara langkah kaki perlahan berjalan menuuju ke arahnya.

"Oi, kenapa pria sepertimu memasang wajah seperti itu?" Suara tadi membuat Madara menoleh ke belakang dan melihat seorang pria berambut poni emas sedang berjalan menuju ke arahnya sembari membawa sebotol sake. Dia adalah Azazel sang Da-Tenshi.

.Tidak, aku hanya memikirkan beberapa hal yang tidak penting." Ujarnya dengan nada malas.

"Oh, begitukah. kamu ternyata pemikir juga ya. Sampai hal yang tidak pentingpun masih kamu pikirkan." Azazel sedikit bersinisme mendengar ucapan Madara tadi. Namun, ucapannya tidak dibalas dengan respon berarti dari lawan bicaranya.

"Ya, aku memang sangat berhati-hati terhadap segala hal." Ujarnya mengamini ucapan Azazel. Dirinya turub dar batu tadi lalu mengambil botol sake milik Azazel dan menenngaknya.

"Oi, itu baru saja kupanaskan tahu." Protes Azazel yang merasa kesal minumannya dirampas oleh Uchiha satu ini. Namun, Madara tidak menghiraukan ucapna Azazel dan lebih memilih untuk meewnghabiskan minuman tadi hingga tandas isinya.

"Sake yang enak." Madara yang puas meminum sake tadi kemudian kembali berbaring di tumpukan batu tadi sambil menatap langit yang mulai gelap di mana rembulan mulai muncul menampakkan dirinya.

"Ya, kamu benar. Sake adalah teman terbaik untukl kita pada saat –saat sulit. Mereka tidak akan bicara mengenai masalah yang sedang membelitmu dan akan mengajakmu untuk melupakan masalah tadi sejenak. " Azazel tersenyum pelan mendengar ucapan Madara. "Namun, kenyataan tetaplah kenyataan pada akhirnya. Masalah akan terus menjadi masalah kecuali kaklau kita punya keberanian untuk menyelasaikannya." Tambahnya yang membuat Madara tersenyum mendengarnya.

"Ya, kau benar. Kenyataan tetaplah kenyataan dan tidak bisa diubah menjadi apa yang kita inginkan." Dirinya terkenang akan rencana Tsuki no Me miliknya dahulu. Dahulu ia merasa bahwa duinia yang ideal adalah dunia di mana semua orang dapat mendapatkan apa yang ia nginkan, namun ia akhirnya menyadari bahwa semua hanyalah ilusi semata yang membuat manusia menjadi makhluk menyedihkan yang kabur dari kenyataan.

"Kenapa tiba-tiba bicaramu menjadi seperti orang tua?" Azazel melirik heran lawan bicaranya itu. Tidak biasanya ia berbicara dengan makna sedalam ini.

"Tidak apa-apa. cuma membicarakan apa yang kupikirkan tadi saja. Sudalah, aku ingin pergi saja dari sini. aku kehilangan mood gara-gara perkataanmu." Madara yang sedang tidak ingin bicara kemudian melompat dari batu tadi dan menghilang dengan cepat menggunakan Sunshinnya.

Azazel yang melihatnya hanya memasang wajah cemberut mendengar omongan Pria Uchiha itu. "Dia yang sedang banyak pikiran dan aku yang kena batunya. Hadehh." Gumamnya lemah.

TBC

Sekian chapter 26 ini. Mungkin chap ini agak gaje membacanya. Hal ini karena author masih belum dapat mengembalikan kemampuan mengetik author seperti dulu kala. Dita,bah lagi memakai keyboard pc tak seenak keyboard laptop. Jadi intinya di chap ini memunculkan musuh baru yang bisa memanipulasi takdir. Terlihat dari Tannin yang tidak meningat kejadian yang terjadi saat kota itu diserang. Untuk saat inimusuh in I hanya muncul di chap ini saja sebagai pengenalan. Sekian untuk chapnya. Terima kasih banget buat yang udah review, fav, ataupun follow fic ini. Kalian semua luar biasa. Terima kasih.