Sabtu, 17 September 2016
.
.
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
Pairing: Naruto x Koneko
Rating: M
Genre: romance/adventure
Setting: zaman heian
.
.
.
THE WANDERERS
By Hikasya
.
.
.
Chapter 26. Pindah ke rumah baru
.
.
.
Bola mata hitam naga bergerak untuk melihat serangan itu. Dia pun membuka mulutnya lebar-lebar untuk memunculkan serangan api hitamnya.
BWOOOOOSH!
Bola api hitam besar meluncur dari dalam mulut si naga dan langsung menerjang serangan Kurama begitu saja.
Terjadilah peristiwa yang tidak disangka-sangka. Ternyata serangan Kurama diserap oleh kekuatan bola api hitam tersebut!
"A-Apa!?"
Naruto dan Koneko tampak kaget saat menyaksikan pertarungan ini. Terlebih bagi Kurama yang bertarung dengan naga tersebut.
"Dia bisa menyerap kekuatanku...," Kurama menatap tajam ke arah sang naga."Apa yang harus kulakukan, Naruto?"
"Serang dia terus, Kurama! Keluarkan semua kekuatanmu!"
"Baiklah!"
Dengan cepat, sang musang berekor sembilan mengangguk. Dia sedikit mencondongkan badannya ke bawah. Kepalanya terangkat untuk terus mengamati pergerakan sang naga.
HUP!
Dalam hitungan detik, Kurama menghilang dari tempatnya berdiri. Melompat tinggi untuk menyerang naga secara langsung.
"GROAAAAAAR!"
Naga hitam itu menyadari pergerakan Kurama yang melompat ke arahnya. Dia langsung menembakkan serangan apinya ke arah Kurama.
BWOOOSH!
Dengan gesit, Kurama mampu menghindari serangan api itu. Serangan api itu meluncur dan mengenai dinding pelindung yang dibentuk oleh Naruto.
BLAAAAR!
Terjadilah ledakan besar yang cukup menggetarkan tempat itu. Koneko melindungi dirinya dalam pelukan Naruto. Naruto terus memperhatikan pertarungan dua makhluk itu dengan serius.
GREGEK! GREGEK! GREGEK!
Gempa bumi berlangsung sebentar saja. Setelah itu, Kurama berhasil menyeruduk sang naga. Sang naga terpelanting dan terseret beberapa meter di tanah.
DUAAAK!
Tidak hanya itu, Kurama terus berlari cepat dan langsung mengarahkan sembilan ekornya ke depan saat naga hitam itu kembali berhasil bangkit. Naga hitam terbang sambil mengepak-ngepakkan kedua sayapnya.
Kumpulan energi cahaya berkumpul di sepanjang ekor sembilan Kurama, membentuk tembakan pilar cahaya yang sangat besar. Mengarah tepat pada sang naga yang hendak menyerangnya secara langsung.
DWOOOONG!
Serangan Kurama berhasil dihindari oleh sang naga. Lagi-lagi serangan itu mengenai dinding pelindung dan berakhir dengan ledakan dahsyat yang disertai gempa bumi.
DHUAAAAAAR!
GREGEK! GREGEK! GREGEK!
Untung saja, pelindung itu dibuat dengan kekuatan yang sangat kuat dan besar sehingga mampu bertahan meskipun diterjang berbagaimacam serangan apapun. Apalagi dua makhluk raksasa sedang bertarung di dalamnya, untuk menghindari dampak kerusakan di lingkungan sekitar akibat pertarungan ini.
Naga itu terbang menuju Kurama. Menyemburkan serangan api ke segala arah.
GROOOO!
Api hitam dengan cepat menyebar ke segala arah. Kurama terjebak dalam lautan api. Namun, hal tersebut tidak membuat nyalinya menciut.
Sekali hentakan satu ekornya yang sakti, memunculkan gelombang air dari dalam tanah. Air muncul dengan cepat dan menyebar ke permukaan tanah serta memadamkan api yang terus terkobar. Bahkan air terus mengalir ke atas bagaikan air mancur.
Tempat itu digenangi oleh air, hanya di dalam arena pertarungan yang ditutupi oleh dinding pelindung. Kurama terus menyerang naga itu dengan kecepatan yang sangat kilat. Menghindari setiap serangan bola api sang naga.
Naga itu tetap terbang mengambang. Sesekali hendak menyeruduk si musang berekor sembilan, namun si musang berekor sembilan langsung membalasnya dengan serangan bola hitam yang sangat besar. Bola hitam itu keluar dari mulut si musang berekor sembilan, lalu meluncur cepat bagaikan pilar cahaya.
DWOOOOONG!
Pada akhirnya, sang naga hitam sukses terkena serangan Kurama yang sangat kuat. Meledakkan tubuhnya hingga berkeping-keping. Tanpa tersisa sedikitpun.
DHUAAAAAAAR!
Ledakan begitu besar disertai gempa bumi kecil berakhir dengan hilangnya Kurama dan dinding pelindung itu. Malam yang datang tiba-tiba, berubah menjadi siang kembali. Sisa-sisa ledakan meninggalkan kepulan asap yang membubung tinggi ke udara. Perlahan-lahan menghilang karena ditiup angin yang lalu.
Suasana yang tegang dan penuh bahaya itu, kembali sunyi dan sepi. Hanya tinggal Naruto dan Koneko di sana.
Gadis berambut putih itu membuka kedua matanya yang sedari tadi ditutupnya, untuk memastikan keadaan sudah kembali seperti semula. Dia masih dipeluk Naruto dengan erat. Lalu memperhatikan keadaan sekitar, dialihkan pandangannya pada Naruto.
"Kita sudah aman...," kata Naruto yang menatap Koneko."Naga hitam itu berhasil dikalahkan oleh Kurama. Kita selamat, Koneko-chan."
Koneko mengangguk pelan. Dia pun tersenyum.
"Syu-Syukurlah... Kalau begitu... Dengan begitu, anak kita juga selamat, Naruto-kun."
"Iya... Aku juga sangat bersyukur."
Naruto juga tersenyum dan melonggarkan pelukannya. Salah satu tangannya mengelus perut Koneko. Koneko kembali tersenyum.
"Ah, hari sudah siang lagi... Mungkin Sai dan Ino sudah menunggu kita di dekat bukit monumen patung wajah Hokage itu."
"Sai dan Ino? Siapa mereka?"
"Nanti kamu tahu sendiri. Aku akan mengenalkanmu pada mereka."
Dengan lembut, Naruto mengelus puncak rambut Koneko. Koneko cuma mengangguk pelan.
"Ayo, kita pergi!" sahut Naruto kemudian.
Dia menggandeng tangan istrinya. Istrinya pun berjalan mengikutinya dari belakang.
Mereka pergi meninggalkan tempat itu, tanpa menyadari sama sekali bahwa ada seseorang yang sedang mengintai mereka dari balik sebuah pohon rindang. Dia menggeram kesal karena naga hitam suruhannya tidak mampu untuk menghabisi Naruto dan Koneko. Tapi, justru kalah telak oleh Kurama, hewan peliharaan sang dewa matahari yang sesungguhnya.
"Sial! Rencanaku gagal total! Percuma saja aku meminjam kekuatan mengendali dimensi dari Yami. Tapi, justru kalah...," seseorang itu meninju-ninju batang pohon itu berkali-kali."Mungkin lebih baik, aku mencari taktik lain untuk membunuh mereka. Terutama janin yang sedang dikandung oleh gadis Matatabi itu. Lihat saja nanti, cepat atau lambat, aku akan kembali menyerang kalian berdua."
Setelah mengatakan itu, seseorang itu menghilang dari tempat itu. Entah kemana perginya. Namun, yang pasti dia akan mencari cara untuk melakukan rencana selanjutnya.
.
.
.
"Hei, aku Yamanaka Ino dan ini Sai, pacarku...," sahut seorang gadis berambut pirang panjang yang diikat satu dan berpakaian kimono terusan selutut berwarna ungu tua yang dilapisi dengan jubah coklat."Senang bertemu denganmu, Koneko-san."
"Iya. Senang bertemu dengan kalian, Ino-san, Sai-san."
Dua gadis itu saling membungkukkan badan masing-masing. Sementara dua lelaki itu saling memperhatikan mereka dengan seksama.
Lalu dua gadis itu saling tersenyum antara satu sama lainnya. Naruto mengawali pembicaraannya dengan Sai.
"Jadi, kau adalah pelukis, Sai-san?"
Sai, seorang laki-laki berambut hitam dan bermata hitam. Berkulit putih pucat. Menjawab pertanyaan Naruto dengan senyumannya yang ramah.
"Ya, itu benar."
"Kebetulan sekali, aku ingin kau melukisku dengan istriku di sini. Apa kau bisa membuatnya sekarang?"
"Kurasa bisa. Kebetulan aku juga membawa perlengkapan lukis atas permintaan Ino."
"Itu bagus sekali," Naruto tertawa lebar dengan perasaan senang."Terima kasih. Mohon bantuanmu ya."
"Ya, baiklah."
Sekali lagi Sai tersenyum ramah. Dia segera mempersiapkan peralatan lukisnya yang sempat dibawanya di tas kulit yang disandang di bahu kanannya. Naruto memperhatikannya dengan seksama.
Selagi dua lelaki itu sedang berbicara, Ino dan Koneko juga terlibat dalam pembicaraan yang sangat serius.
"Umurmu berapa, Koneko-san?"
"Ah, sekarang... Enam belas tahun..."
"Oh, berarti Naruto jauh lebih tua darimu ya. Sekitar tiga tahun."
"Hn... Begitulah."
"Ngomong-ngomong, apa yang kamu sukai dari Naruto sih? Sehingga kamu mau menikah dengannya di usia muda begitu...," tanya Ino sambil melirik ke arah Naruto."Menurutku... Tampangnya tampan juga. Ada tanda lahirnya berupa tiga garis di dua pipinya. Tubuhnya tinggi dan tegap. Ya, lebih tampan si Sasuke daripada dia sih. Tapi, aku sudah patah hati karena Sasuke menyukai orang lain. Sampai membuatku sedih juga sih... Bertahun-tahun lamanya... Terus Sai muncul dan datang ke desa ini. Wajah Sai mirip sekali dengan Sasuke. Karena itu, aku memilih menjadikan Sai sebagai pengganti Sasuke, tapi bukan berarti aku melampiaskan perasaan cinta sebelah tanganku pada Sai. Aku cinta Sai dengan tulus dan berharap sekali Sai juga menikahiku secepatnya. Aku ingin menjadi seorang istri yang baik dan patuh pada suami. Itulah harapanku..."
Tatapan Ino beralih pada Sai. Kedua matanya memancarkan rasa cinta yang begitu mendalam. Koneko dapat melihatnya dengan jelas, hingga tatapan Ino tertuju lagi padanya.
"Ayo, jawab pertanyaanku yang tadi!"
"Yang mana?"
"Apa yang kamu sukai dari Naruto?"
"Hah? I-Itu ya...," kedua pipi Koneko sedikit memerah."Yang aku sukai dari Naruto itu... Senyumnya, perhatiannya, kelembutannya, kebaikannya dan semuanya. Pokoknya aku menyukainya apa adanya. Karena itulah aku mau menikah dengannya di usia muda. Aku dan dia hidup di dunia sendirian. Sama-sama yatim piatu. Kami saling menjaga antara satu sama lainnya, meskipun Naruto-lah yang lebih banyak berjasa dan melindungiku selama ini. Dia adalah guruku dan sosok laki-laki yang kuidamkan selama ini. Aku sangat mencintainya."
Ino terpana mendengarkan perkataan Koneko yang penuh perasaan. Sedetik kemudian, dia tersenyum.
"Kamu memang beruntung mendapatkan dia. Naruto adalah sosok suami yang sempurna."
"Iya. Banyak yang bilang begitu. Aku senang bisa mempunyai suami seperti Naruto."
"Hehehe... Yang pasti, banyak gadis yang tertarik padanya. Kamu harus berhati-hati."
"Heh? Ti-Tidak mungkin... Naruto... Tidak... Aku pasti akan menjaga Naruto agar tidak digoda oleh gadis lain. Aku juga merasa was-was jika memikirkan itu. Apalagi dia mengajar sebagai guru di perguruan itu. Pasti banyak gadis cantik yang menyukainya diam-diam."
"Hehehe... Maaf, aku cuma bercanda. Jangan dimasukkan ke hati, Koneko-san. Ternyata kamu cemburu juga kalau aku mengatakan hal itu padamu."
"Ah, tidak. Aku tidak cemburu..."
Sambil terus berbicara dengan akrab, Ino tertawa kecil bersama Koneko yang sudah dianggapnya sebagai teman baik. Diperhatikannya, wajah Koneko memerah dan sedikit manyun. Dia sedikit kesal ketika Ino sudah mengatakan hal-hal memancing sikap cemburunya.
Kemudian Naruto datang ke arah mereka, yang berdiri di dekat pagar pembatas tebing, di dekat bukit monumen patung para Hokage. Dia terheran-heran ketika menghampiri Koneko yang kelihatan sewot, sementara Ino yang tersenyum. Lantas Koneko menatap tajam ke arah Naruto.
"Ada apa sih?"
"Tidak ada."
Koneko menyahut dengan wajah yang sedikit manyun. Naruto semakin keheranan. Hingga terdengarlah suara Sai yang mengarah pada mereka.
"Baiklah... Persiapan sudah selesai. Naruto-san, Koneko-san, ayo kita mulai proses pelukisan ini."
Dengan cepat, Naruto menggandeng tangan Koneko. Dia mengangguk sambil berseru keras.
"YA, SAI-SAN!"
Dia menyeret Koneko ke salah satu sudut tempat yang telah ditetapkan oleh Sai. Berhenti dan berdiri di sana, tepatnya dengan latar belakang pemandangan bukit monumen patung wajah Hokage. Mereka berdua saling bergandengan tangan.
"Bagus. Ekspresi kalian harus ceria ya!"
"Baiklah, Sai-san."
Ino sudah berdiri di dekat Sai. Sai berdiri di depan kanvas putih yang ditegakkan dengan kayu khusus. Sai mulai melukis dengan cekatan dan teliti.
"Koneko-chan, kamu harus menunjukkan senyummu ya."
"Hn."
Dengan suara yang datar dan dingin, Koneko menjawab perkataan Naruto. Dia merapatkan badannya dengan badan Naruto. Bergandengan tangan erat dengan Naruto. Senyuman manis pun terukir di wajahnya.
Begitu juga dengan Naruto. Dia juga tersenyum. Perasaannya sangat senang karena dilukis seperti ini bersama orang yang dicintainya. Inilah bukti nyata yang akan ditunjukkannya pada semua orang bahwa dia sudah menikah dengan Koneko.
Sore yang indah, menemani kebersamaan keempat manusia di dekat bukit monumen patung wajah Hokage. Melukiskan kenangan terindah selama hidupnya di bumi ini.
.
.
.
Lukisan yang menampilkan diri Naruto dan Koneko dengan latar belakang monumen bukit patung wajah para Hokage itu, sudah selesai dibuat oleh Sai. Kini lukisan itu dibawa pulang oleh Naruto dan Koneko. Lalu digantung di dinding, persis di samping lukisan diri Minato dan Kushina.
Naruto yang memasang lukisan itu setelah tiba di kamarnya. Sedangkan Koneko sedang duduk di dekat meja. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Tersenyum lebar ketika menatap lukisan dirinya dan istrinya, Naruto benar-benar merasa bahagia. Dipandanginya lukisan orang tuanya dan lukisan dirinya dengan Koneko, secara bergantian. Menambah kebahagiaan yang tiada tara di hatinya. Wajahnya berbinar-binar mencerminkan perasaan yang sebenarnya. Begitu sangat bahagia.
"Akhirnya lukisanku dan Koneko sudah selesai... Aku kelihatan tampan seperti Tousan. Koneko tampak manis seperti Kaasan...," Naruto tetap saja tersenyum."Dua lukisan ini akan kujaga dengan baik dan akan kutunjukkan pada anakku yang lahir nanti. Supaya anakku tahu tentang gambaran keluarganya. Benarkan, Koneko-chan?"
Mata biru sang dewa matahari melirik ke arah istrinya yang sedang duduk di dekat meja. Membelakanginya sedari tadi setelah tiba di kamar ini. Dia mengangkat salah satu alisnya karena merasakan sikap istrinya yang mendadak diam. Lantas dihampirinya istrinya itu.
Begitu dekat, dia duduk bersila di samping Koneko. Koneko duduk bersimpuh sambil melipat tangan di atas meja, membuang muka begitu saja ketika mengetahui Naruto menghampirinya.
Naruto memiringkan kepalanya ke kanan dan memandang Koneko serta bertanya.
"Ada apa, Koneko-chan?"
Koneko tetap berpaling darinya. Dia tidak mau menunjukkan wajahnya yang manyun pada Naruto.
"Tidak ada."
"Kalau tidak ada, kenapa kamu membuang mukamu seperti itu?"
Koneko terdiam sejenak. Tidak menjawab perkataan Naruto. Kedua tangannya diletakkan di atas dua pahanya.
"...?"
Muncul tanda tanya besar di atas kepala Naruto. Dia heran. Kemudian menghembuskan napasnya.
"Sebenarnya... Apa yang membuatmu marah seperti itu? Ayo, jelaskan padaku! Apa Ino mengatakan yang bukan-bukan padamu?"
Menunggu. Naruto menunggu jawaban Koneko dengan sabar. Masih memperhatikan Koneko yang masih membuang mukanya. Lantas Naruto menghembuskan napasnya lagi.
"Baiklah... Jika kamu tidak mau menjawabnya, aku tidak akan memaksamu," Naruto beranjak bangkit berdiri dari duduknya."Kalau begitu, aku keluar dulu."
Laki-laki berambut pirang itu hendak melangkah untuk meninggalkan istrinya. Istrinya melihat ke arahnya.
"Kamu mau kemana, Naruto-kun?"
Naruto tidak jadi melangkah. Dia menolehkan kepalanya di sudut bahu kanannya.
"Aku mau keluar rumah sebentar."
"Tapi, sebentar lagi malam akan tiba. Lagipula cuaca di luar sangat dingin. Jangan keluar. Temanilah aku di sini."
Koneko mengatakannya dengan raut wajah yang kusut. Kedua mata kuningnya meredup. Membuat Naruto terpaku memandanginya.
"Kamu mencemaskan aku?"
"Te-Tentu saja... Aku sangat mencemaskanmu. Akukan istrimu. Aku sangat cemas jika kamu keluar nanti. Kamu kedinginan dan bertemu dengan gadis cantik yang..."
Mendadak Koneko memutuskan perkataannya, dia menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Otomatis tingkahnya ini membuat Naruto tersenyum.
"Oh... Jadi begitu... Kamu cemburu karena takut jika aku tergoda dengan gadis-gadis cantik di luar sana. Sehingga membuatmu marah padaku. Ya, ya, aku mengerti sekarang."
Wajah Koneko memerah karena malu. Naruto berjalan mendekatinya lagi. Naruto berlutut dan memegang dua pipinya dengan erat. Kepala Naruto sudah miring ke kanan. Wajahnya perlahan-lahan mendekati wajah Koneko.
Kedua mata Koneko menutup rapat disertai wajah yang memerah padam. Ketika merasakan sentuhan bibir Naruto yang menempel di bibirnya. Sangat lembut sehingga membuat jiwanya melayang-layang entah kemana. Merasakan sensasi manis yang tidak pernah dia rasakan selama sebulan ini karena dia selalu mengeluh mual akibat efek kehamilannya. Sehingga Naruto tidak pernah menciumnya seperti ini.
Hal ini yang dirindukan oleh Naruto. Merasakan ciuman ini. Dia sangat menikmatinya hingga tidak ingin melepaskannya. Namun, dia membutuhkan jeda untuk bernapas, dia memilih mengakhirinya. Dapat dirasakannya, wajahnya memerah. Begitu juga dengan Koneko.
Mereka saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Apalagi kedua pipi Koneko masih dipegang oleh Naruto.
"Koneko-chan... Aku..."
Bibir Naruto menyentuh pipi kanan Koneko. Koneko merasakan jantungnya berdebar-debar tidak karuan.
"Sudah lama, kita tidak merasakan ini...," Koneko berbicara ketika Naruto mencium pipi kanannya."Maafkan aku, jika aku terus menghindar saat kamu mendekatiku. Aku benar-benar masih merasakan mual dan muntah sampai saat ini. Apalagi umur kehamilanku menginjak dua bulan sekarang. Aku harap kamu lebih bersabar lagi untuk menungguku."
Naruto melepaskan ciumannya dari pipi kanan Koneko. Dipandanginya Koneko dengan serius.
"Tidak perlu meminta maaf begitu. Kamu sedang hamil. Aku tidak ingin menyakiti anak kita. Aku akan bersabar menunggu anak kita lahir. Yang penting saat ini, kita bisa terus seperti ini. Tanpa melakukan itu. Kita akan saling mencintai seperti hubungan kekasih. Itu sudah cukup."
"Aku mengerti. Aku juga berusaha agar menjadi lebih baik. Tidak akan cemburu lagi. Aku akan berusaha belajar menjadi lebih dewasa dan belajar menjadi seorang ibu. Mulai detik ini, aku tidak akan marah lagi padamu jika melihatmu didekati gadis-gadis lain. Aku tidak akan cemburu dan ngambek lagi."
"Tetap saja bersikap seperti itu. Jangan pernah berubah."
"Eh?"
"Tetaplah cemburu seperti itu. Itu tandanya kamu benar-benar mencintaiku dan takut kehilanganku, kan?"
Naruto tersenyum. Koneko terpaku dengan wajah yang sedikit memerah. Lalu dia menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"I-Iya."
"Dasar, kamu itu lucu ya."
"Eh, lu-lucu?"
Naruto mengangguk sembari kembali mengecup bibir Koneko. Koneko membalasnya dengan penuh perasaan.
Mereka berciuman lagi. Menghabiskan waktu bersama di kamar itu, tepatnya di rumah Jiraiya. Saling memberikan sinyal kasih sayang mereka yang begitu besar. Ketulusan cinta mereka tidak akan pernah hancur meskipun banyak halangan yang akan menimpa hubungan mereka ini. Tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh siapapun.
.
.
.
Dua bulan kemudian.
Sejak kejadian diserang naga hitam itu, Koneko benar-benar dijaga ketat oleh Naruto. Dia menyuruh Hellscythe untuk datang ke rumah Jiraiya dan menemani Koneko ketika dia pergi untuk bekerja. Hellscythe dengan senang hati menuruti permintaan kakak kembarnya itu. Bersama Konan, dia mengabdikan dirinya untuk menjaga istri kakaknya itu.
Apalagi Sasuke juga sedang sibuk berkeliling desa Konoha untuk mencari keberadaan tanda-tanda suruhan sang dewa kematian yang mungkin saja menyelinap sebagai warga biasa. Dia akan segera menghabisi suruhan sang dewa kematian itu jika ditemukan nantinya. Demi melindungi Naruto dan Koneko.
Selama dua bulan itu, tidak ada tanda-tanda penyerangan yang tertuju pada Koneko hingga usia kehamilan Koneko menginjak sekitar 4 bulan. Perut Koneko sudah sedikit membesar dan mulai merasakan pergerakan janinnya yang diperkirakan oleh Sakura, terlahir kembar nantinya.
Semua perasaan tidak enaknya selama awal kehamilan, tidak dirasakannya lagi. Bahkan sekarang dia mulai terbiasa dengan kehamilannya dan mulai beraktifitas seperti biasanya.
Hubungannya dengan Naruto, semakin mesra dan hangat. Sehingga membuat Naruto selalu ingin cepat pulang ke rumahnya jika sudah pergi mengajar di perguruan. Menemui istrinya dan merasakan pergerakan calon anaknya di perut istrinya. Mencintai istrinya yang selalu membuat jiwanya melayang-layang ke langit ketujuh karena istrinya yang memintanya. Sungguh membuat kehidupannya semakin bahagia saja.
Ditambah Naruto harus melatih seorang gadis yang berasal dari keluarga keturunan bangsawan yaitu klan Hyuga. Gadis berambut hitam pendek model bob dan bermata lavender gelap. Berumur sekitar 16 tahun. Bernama Hyuga Hanabi.
Hanabi merupakan pewaris terakhir dari klan Hyuga dan diharapkan menjadi ketua bagi klan Hyuga lainnya. Kakak perempuannya yang bernama Hyuga Hinata, sudah lama meninggal dunia karena sakit. Sedangkan kakak laki-laki sepupunya yang bernama Hyuga Neji, juga sudah meninggal dunia karena diserang oleh makhluk misterius ketika pergi keluar dari desa Konoha. Membuat klan Hyuga kehilangan dua sosok terkuat yang bisa menggantikan kepemimpinan klan Hyuga itu sendiri. Hingga menjadikan keberadaan mereka hampir tersingkirkan dari pemerintahan desa Konoha.
Namun, hal tersebut tidak mempengaruhi mereka agar tidak mundur untuk melangkah dan tetap berjalan untuk membuktikan diri mereka sebagai klan terkuat setelah klan Uchiha. Mereka harus mempersiapkan kekuatan dan kemampuan mereka sedini mungkin melalui pedang. Semua klan Hyuga muda dididik untuk menjadi pendekar pedang dan samurai yang siap sedia dalam membantu desa jika desa ini dilanda bahaya. Maka klan Hyuga yang memiliki kekuatan elemen alami, diharapkan belajar di perguruan pedang elemen alam dan samurai di Konoha serta belajar khusus pada guru-guru yang ditetapkan oleh keluarga mereka.
Atas dasar itu, Hanabi muda memilih Naruto yang membimbingnya dan melatihnya dalam kemampuan berpedang dengan kekuatan elemen cahaya karena klan Hyuga terkenal mempunyai kekuatan elemen cahaya sejak zaman dahulu kala. Naruto menerima Hanabi sebagai muridnya atas rekomendasi khusus dari sang Hokage. Naruto melatih Hanabi seorang saja. Waktu latihannya hanya berlangsung selama lima hari.
Begitulah, kehidupan Naruto dan Koneko di desa Konoha semakin berkembang pesat. Naruto yang mengajar sebagai guru yang melatih kemampuan berpedang, membuahkan hasil yang nyata. Dia berhasil membeli rumah yang besar dan sederhana di pusat desa. Rumah hasil jerih payahnya yang dipersembahkan untuk istri dan anaknya. Dibelinya rumah itu secara diam-diam tanpa diketahui oleh siapapun.
Hari ini, di akhir musim dingin yang menyejukkan, Naruto mengajak Koneko untuk melihat rumah baru mereka. Hellscythe, Sasuke, Konan, Yahiko, dan Nagato, tidak terlihat ikut menemani mereka saat pergi ke kawasan perumahan yang berada di pusat desa tersebut.
Rumah itu besar, cantik dan sederhana. Berdesain klasik dan tradisional. Berpagar kayu setinggi dua meter. Memiliki tiga kamar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar mandi dan sebagainya. Memiliki halaman yang cukup luas yang mengelilingi rumah. Banyak tanaman bonsai dan tanaman hias lainnya diletakkan sedemikian rupa di halaman depan dan halaman samping. Halaman belakang dibiarkan tidak ditanami apapun, hanya rumput hijau segar yang membentang. Sehingga cocok dijadikan untuk tempat latihan dan bercengkerama di alam terbuka.
Ketika memasuki rumah ini untuk pertama kalinya, Koneko sungguh kagum. Dia tertarik untuk tinggal di sini. Ditelusurinya berbagai sudut rumah itu, sudah ada perabotan-perabotan yang mengisi berbagai sudut rumah itu. Naruto yang membelinya secara diam-diam dan memberitahukannya pada Koneko dengan sikap yang malu-malu. Koneko tersenyum, mengucapkan terima kasih, dan merangkul lengan Naruto dengan eratnya.
Hingga penelusuran mereka terhenti di bagian belakang rumah, menemukan beranda yang terhubung dengan halaman belakang yang cukup luas. Suasananya sejuk dan asri. Membuat Koneko merasa senang sekali.
"Wah, indahnya!" seru Koneko yang tersenyum kecil disertai kedua pipinya yang memerah."Aku suka sekali. Aku ingin tinggal di sini secepatnya, Naruto-kun."
Naruto yang berdiri di sampingnya, juga tersenyum dan menatap istrinya dengan lembut.
"Aku senang jika kamu bilang begitu. Ya, tentu saja kita akan pindah ke sini hari ini."
"Hari ini?"
"Iya...," Naruto mengangguk sambil memandang ke arah langit dan memegang rambutnya."Soalnya Yahiko dan Nagato yang akan membantu mengangkatkan barang-barang kita yang masih ada di rumah Jiraiya-sensei. Padahal aku sendiri yang akan melakukannya, tapi mereka malah menawarkan diri untuk membantuku. Awalnya aku menolak, tapi mereka tetap bersikeras untuk membantuku. Yaaah... Terpaksa aku menuruti permintaan mereka itu..."
Wajah Naruto sedikit kusut. Dia menghembuskan napasnya berkali-kali. Rambut pirang jabriknya acak-acakan. Dia memakai kimono santai dengan celana panjang setengah betis serba hitam disertai obi jingga yang melingkari pinggangnya. Hari ini, dia tidak mengajar, melainkan libur sehingga dia bisa mengajak istrinya untuk pindah ke rumah yang baru.
Dia semakin dewasa saja dan semakin rajin untuk bekerja mencari nafkah buat keluarganya. Membanting tulang sebagai guru. Mati-matian membagi waktu untuk menyenangkan hati istrinya di sela-sela kesibukannya yang padat, di mana dia harus mengajar di perguruan pedang itu dan harus melatih Hanabi di dojo klan Hyuga. Membuatnya sering pulang kemalaman. Berakhir dengan Koneko yang merasa sangat cemas dan menyemprotkan segala kemarahan padanya. Namun, setelah itu, dia berhasil membujuk Koneko agar tidak marah padanya dengan berbagaimacam cara.
Tapi, sekarang, keadaan sudah berubah. Koneko kelihatan mulai dewasa dan bersikap seperti seorang ibu. Bahkan dia yang lebih memperhatikan Naruto. Memperlakukan Naruto dengan lembut. Membuat Naruto begitu bahagia selama kehamilannya.
Lalu Koneko tersenyum dan merangkul pinggang Naruto. Naruto sedikit kaget dibuatnya.
"Eh? Koneko-chan... Ada apa?"
"Tidak ada."
"Terus kenapa kamu memelukku?"
"Aku ingin memelukmu saja. Memangnya tidak boleh?"
"Ya, boleh sih," Naruto membalas pelukan Koneko."Akhir-akhir ini, kamu kelihatan sangat manja dan juga agresif. Berbeda sekali daripada sebelumnya, kamu akan menghindar jika aku mendekatimu seperti ini. Sikapmu tidak bisa ditebak. Aku sungguh bingung memikirkannya, tahu."
Di sela-sela pelukan Naruto, Koneko tersenyum dengan rona merah tipis di dua pipinya.
"Ya, namanya juga hamil. Aku merasa tidak nyaman selama tiga bulan itu. Rasanya mau muntah dan mual terus. Jadinya aku tidak berminat untuk bermesraan denganmu. Tapi, untunglah, kamu bisa mengerti keadaanku, Naruto-kun."
"Heh? Tidak berminat untuk bermesraan denganku?"
Muncul sweatdrop di kepala Naruto ketika mengulangi perkataan Koneko. Koneko tersenyum lagi sambil melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Naruto secara langsung.
"Sekarang keadaanku sudah seperti biasa. Aku merasa enteng dan bisa menjalani semua kegiatan dengan baik. Aku bisa membantu Konan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Aku tidak merasa terbebani lagi dengan kehamilanku ini dan aku mulai bisa menerima kehamilanku ini. Gerakan anak kita di dalam perutku ini, sudah dapat kurasakan. Gerakannya begitu banyak. Aku merasa bahagia. Sangat bahagia."
Naruto menatap kedua mata kuning Koneko dengan intens. Wajah Koneko tampak berseri-seri. Senyuman terus muncul di wajahnya. Membuatnya juga ikut tersenyum.
"Ya, aku tahu itu. Kata Sakura, anak kita akan terlahir kembar, kan? Ingatkan... Saat kita pergi untuk memeriksa kandunganmu, seminggu yang lalu."
"Hmm... Aku ingat kok."
"Mungkin saja akan terlahir dua jenis yang berbeda. Laki-laki dan perempuan. Aku berharap begitu."
"Aku juga."
Mereka tersenyum bersama sambil berpelukan kembali. Setelah itu, mereka melepaskan pelukan masing-masing.
Naruto berlutut dan mengelus perut Koneko yang sudah sedikit membesar. Koneko yang berpakaian kimono terusan selutut berwarna hijau disertai obi merah muda yang melingkari bagian bawah dadanya, tersenyum hangat saat perutnya dielus oleh Naruto. Naruto juga tersenyum, kedua matanya melembut dan mengatakan sesuatu pada janin yang berada di dalam perut Koneko.
"Anakku, sekarang kamu sudah hadir di dunia ini. Kamu sudah hidup dan berkembang di dalam perut ibumu. Aku akan menjaga dan melindungimu dengan segenap kekuatanku agar kamu tidak disakiti oleh dewa kematian itu. Kami menunggumu. Ayah dan ibumu menunggumu sampai kamu lahir ke dunia ini. Kami akan menyayangimu dan merawatmu sampai dewasa. Kami tidak akan mati begitu saja. Kami akan selalu hidup dan selalu ada di sampingmu. Tidak akan membiarkanmu hidup sendirian di dunia ini. Itulah janji ayah padamu..."
Sesudah mengatakan itu, kedua tangan Naruto membelit pinggul istrinya dan memberikan ciuman lembut pada perut istrinya. Memberikan sinyal kasih sayang seorang ayah yang ditujukan khusus untuk sang buah hati. Sang buah hati akan terlahir, sekitar lima bulan lagi. Selama itu, Naruto akan terus melindunginya sampai hari tibanya kelahiran itu.
Koneko juga menyipitkan kedua matanya dengan lembut. Memegang puncak rambut Naruto. Kedua tangan Naruto masih membelit pinggulnya. Naruto tidak mencium perutnya dan mendongakkan kepalanya untuk memandang Koneko.
"Sudah selesai?"
Naruto tersenyum ketika Koneko bertanya begitu padanya. Dia bangkit berdiri dan kini merangkul pinggang Koneko sehingga Koneko mendekap pada tubuhnya. Menatap wajah Koneko dengan lembut.
"Terima kasih karena kamu sudah memberikan anak untukku. Aku sudah tidak sabar untuk menunggunya lahir. Aku juga akan melindungi kalian agar tidak disakiti Yami lagi. Aku... Benar-benar senang sekali sekarang."
Koneko mengangguk pelan sambil memegang dada Naruto.
"Ya, Naruto-kun."
Senyuman Naruto menghilang. Dia merangkul pinggang istrinya lebih erat. Koneko membalasnya dengan cara mengalungi lehernya sehingga membuatnya sedikit berjinjit karena Naruto lebih tinggi darinya. Kepala Naruto berada di bahu kanannya. Koneko menutup kedua matanya disertai kemerahan di dua pipinya.
DEG! DEG! DEG!
Jantung Koneko berdebar-debar tidak karuan ketika merasakan sentuhan lembut di sudut leher kanannya. Membuatnya jiwanya melayang-layang saking berdebar-debarnya.
Entah apa yang dilakukan Naruto sehingga wajah Koneko semakin memerah padam begitu. Sampai puncaknya...
"TADAIMA, NARUTO-NII, KONEKO-NEE!"
Suara seseorang memanggil mereka dari luar sana.
Spontan, mereka menyadarinya. Secara refleks, mereka menjauh antara satu sama lainnya. Koneko kelabakan dan segera pergi ke bagian depan rumah.
"Ah, se-sepertinya itu... Su-Suara Hell-chan... A-Aku akan membukakan pintu dulu."
"Tapi, Koneko-chan..."
"Na-Nanti kita lanjutkan lagi!"
Dengan cepat, gadis berambut putih itu berjalan menuju lorong panjang yang mengarah ke ruang tamu. Meninggalkan Naruto yang terbengong-bengong.
"Haaah... Selalu ada gangguan jika aku bermesraan sedikit dengan Koneko...," Naruto menghelakan napasnya sebentar dan tersenyum."Tidak apa. Aku bisa melanjutkannya nanti. Lebih baik aku pergi menemui Koneko sekarang."
Dia pun melangkah kakinya dengan santai menuju ke ruang tamu, di mana Koneko menemui Hellscythe yang datang bersama Nagato dan Yahiko serta Konan. Sasuke menyusul setelah mereka dipersilahkan masuk oleh Koneko.
"Okaeri!" sahut Koneko dengan wajahnya yang ramah dan berseri-seri.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Selesai diketik dan diedit pada hari Jumat, 30 September 2016.
